← Daftar isi Doa · bab 17/19

DOA PEPERANGAN

Dalam berita ini kita akan melihat doa peperangan. Jika kita nampak bahwa doa yang paling bernilai, doa yang paling tinggi adalah doa di dalam kenaikan ke surga, kita akan mudah memahami bahwa doa adalah suatu peperangan, dan kita baru bisa memiliki doa peperangan. Doa yang disinggung dalam Efesus 6 adalah doa peperangan sedemikian. Ini bukan yang biasa, yang umum, yang lazim, melainkan sangat tinggi, adalah doa yang dipanjatkan dalam alam surgawi.

1. DOA DAN KERAJAAN ALLAH

Kerajaan Allah adalah lingkungan pemerintahan Allah. Secara positif, di satu aspek Alkitab menampakkan kepada kita, bahwa rencana Allah ialah ingin mendapatkan ekspresi di dalam Putra-Nya; secara negatif di aspek lain rencana Allah ialah agar kuasa-Nya bisa terlaksana di seluruh alam semesta, sehingga seluruh alam semesta menjadi ruang lingkup pemerintahan-Nya, menjadi Kerajaan-Nya. Ketika kita membaca Alkitab, kita harus senantiasa memperhatikan kedua aspek dari rencana Allah.

Sejak awal, Kejadian 1 sudah menampakkan kepada kita gambar/rupa Allah dan kuasa Allah. Dalam alam semesta, Allah akan membuat diri-Nya mendapatkan ekspresi, juga akan membuat Kerajaan-Nya tidak menerima pembatasan sedikit pun. Inilah sebabnya kalimat-kalimat awal dalam doa Tuhan Yesus mengatakan, "Dikuduslah nama-Mu" (Mat. 6:9), ini adalah perkara Allah mendapatkan ekspresi; juga dikatakan, "Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga", ini adalah perkara Kerajaan Allah, kekuasaan Allah. Tiga perkataan keinginan dalam doa Tuhan merupakan dua aspek rencana Allah. Sepanjang zaman, hampir semua orang dalam kekristenan memperhatikan teks doa Tuhan ini, setiap hari ada orang yang menghafalnya, tetapi sangat disayangkan, teks doa ini terhadap manusia seolah-oleh tertutup, tidak terbuka. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, menampakkan kepada kita, bahwa teks doa Tuhan berkenaan dengan Kerajaan Allah yang akan dikembangkan di bumi, yang tidak akan mengalami pembatasan di seluruh alam semesta. Tentu, agar rencana Allah ini tercapai, perlu ada doa yang cukup banyak dari umat Allah. Doa yang sejati dari umat Allah di hadapan Allah adalah doa untuk Kerajaan Allah. Anda dan saya boleh berdoa untuk banyak hal, tetapi jika tujuan akhirnya bukan untuk Kerajaan Allah, doa-doa itu di hadapan Allah tidak ada nilainya. Kami mengakui, bahwa dalam teks doa Tuhan ada yang menanggulangi persoalan dosa, juga ada yang menanggulangi persoalan kehidupan, namun kepala dan ekonominya mutlak untuk Kerajaan Allah. Pada pembukaannya dikatakan, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi; terakhir dikatakan, "Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan." Karena itu, berdasarkan teks doa Tuhan kita tahu, bahwa yang Tuhan kehendaki agar kita doakan mutlak adalah Kerajaan Allah.

Dalam Wahyu 12 ada satu keadaan yang menggambarkan apakah sebenarnya doa yang sejati dari kaum saleh. Di sana kita nampak ada seorang perempuan yang melahirkan seorang anak laki-laki. Perempuan itu mengacu kepada seluruh orang yang tertebus, anak laki-laki mengacu kepada bagian yang kuat dari orang-orang yang tertebus, yaitu para pemenang dalam gereja. Anda harus percaya, bahwa perempuan ini dan anak laki-laki yang dilahirkannya pasti memiliki doa. Ada suara dari mereka yang mencapai hadirat Allah. Karena itu, setelah anak laki-laki itu diangkat, di surga segera terjadi peperangan, dan hasilnya, musuh Allah dilemparkan dari surga ke bumi. Bahkan dari sana terdengar suara yang besar berseru, "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya." Jadi, begitu umat Allah menyerukan doa yang sejati, hasilnya pasti mendatangkan Kerajaan Allah. Sebaliknya, jika tidak ada doa umat Allah, Kerajaan Allah tidak bisa datang. Kedatangan Kerajaan mutlak bersangkut paut dengan doa kita.

Demikian juga dengan contoh dalam Perjanjian Lama. Ketika orang-orang Israel menjadi gersang dan ditawan, Yerusalem diruntuhkan, Bait Allah dibakar, negara Israel hancur, saat demikian Allah justru membangunkan beberapa orang yang berdoa di Babel. Daniel dan beberapa orang temannya adalah orang-orang yang pandai berdoa, doa-doa mereka adalah doa-doa yang mendatangkan Kerajaart. Kerajam Allah pemah datang ke bumi melalui Daud, tetapi setelah Salomo, kerajaan itu runtuh. Daniel di Babel justru berdoa untuk hal ini, yaitu agar Kerajam Allah kembali dibawa ke bumi. Allah bisa kembali ke bumi untuk membangun Bait Allah, memulihIcan Yerusalem, kembali memiliki satu ruang lingkup pernerintahan, semuanya dikarenakan doa Daniel. Karena itu kita harus jelas, bisa tidaknya Kerajaan Allah tiba, bisa tidaknya Allah memerintah di bumi, mutlak bergantung pada apakah umat Allah berdoa untuk hal ini. Tujuan akhir dari doa adalah untuk mendatangkan Kerajam Allah.

2. DOA DAN MUSUH ALLAH

Doa sangat erat kaitannya dengan musuh. Dalam alam semesta ini kuasa Allah telah dipukul, karena dalam alam semesta ini ada musuh Allah. Kerajaan Allah adalah satu judul besar dalam Alkitab, musub Allah juga merupakan satu judul besar dalam Alkitab. Dalam alam semesta im kuasa Allah telah diserang, dibatasi, dikarenakan di alam semesta ini ada Iblis yang memberontak.

Dalam alam semesta ini ada satu peperangan yang sangat hebat, yaitu peperangan antara Allah dengan Iblis, musuh-Nya, peperangan antara Iblis dengan Allah. Anda boleh menyebut Alkitab sebagai kitab hayat, juga tidak salah kalau Anda menyebut Alkitab sebagai kitab peperangan. Dalam Alkitab terdapat satu garis yakni garis peperangan. Terlebih dulu Iblis memulai penentangan, pemberontakan, kemudian Allah keluar untuk menanggulangi. Sejak saat itu, dalam alam semesta ini dimulailah suatu peperangan. Hari ini, para politikus dunia, para ahli militer sedang mempelajari bagaimana bisa menyingkirkan peperangan dan mendatangkan perdamaian. Tetapi mereka tidak bisa memahami bahwa segala perkara di bumi ini semuanya bertumpu pada peperangan antara Iblis dengan Allah. Kapan perdarnaian di tengah-tengah umat manusia benar-benar bisa terwujud? Harus menunggu sampai tiba waktunya musuh Allah dibelenggu, dibuang ke dalam lubang tak berdasar; pada hari itu, di langit dan di bumi tidak ada lagi peperangan antara Iblis dengan Allah, bersamaan dengan itu peperangan di antara umat manusia juga akan tersingkir seluruhnya. Hari ini di tengah-tengah umat manusia selalu ada peperangan, ini dikarenakan di alam semesta selalu ada pertentangan. Jika di alam semesta ini tidak ada pertentangan, di tengah-tengah umat manusia tidak akan ada peperangan. Peperangan di antara umat manusia ini justru adalah aliran yang keluar dari peperangan antara Allah dengan Iblis di alam semesta. Begitu peperangan di alam semesta ini usai, peperangan di antara umat manusia juga akan usai. Karena itu kita harus memiliki doa peperangan, di satu aspek mendatangkan Kerajaan Allah, di aspek lain mengusir musuh Allah. Doa, di satu aspek menyatakan bahwa manusia berdiri di pihak Allah, di aspek lain menyatakan bahwa manusia menentang musuh Allah.

Dalam alam semesta ini ada tiga tokoh utama, yakni Allah, Iblis, dan manusia. Jangan sekali-kali meremehkan manusia; Allah tidak meremehkan manusia. Allah, Iblis, manusia, boleh dikatakan adalah tiga tokoh utama dalam alam semesta. Iblis ingin menggulingkan kekuasaan Allah; Allah ingin membereskan Iblis yang memberontak. Akan tetapi Allah tidak mau secara langsung menanggulangi Iblis, pada saat yang sama, jika Iblis hanya bersandar kekuatannya sendiri, ia tidak akan berdaya merusak kekuasaan Allah. Allah ingin menanggulangi Iblis, la harus melalui manusia; Iblis ingin merusak Allah, juga harus melalui manusia. Semua persoalan antara Allah dengan Iblis terletak pada diri manusia. Karena itu, dalam alam semesta ini, manusia benar-benar adalah satu pemeran yang sangat penting yang bisa mempengaruhi kedua belah pihak. Jika manusia berdiri di pihak Allah, Allah akan menang; jika manusia berdiri di pihak Iblis, Iblis bisa melaksanakan aksinya.

Jadi, dalam Alkitab terdapat satu garis yang membicarakan tentang peperangan antara Allah dengan Iblis, Iblis dan Allah, di atas diri manusia. Allah ingin mendapatkan manusia, Iblis juga ingin mendapatkan manusia. Allah ingin manusia bekerja sama dengan diri-Nya, Iblis pun ingin manusia bekeria sama dengan dia. Allah ingin masuk ke dalam manusia, Iblis juga ingin masuk ke dalam manusia. Allah ingin berbaur dengan manusia, Iblis juga ingin bercampur dengan manusia. Apakah doa itu? Doa adalah di satu aspek manusia menyatakan kepada Allah bahwa ia mau Allah, ia berdiri di pihak Allah; di pihak lain manusia berkata kepada Iblis, bahwa ia dan Allah berdiri di pihak yang sama dan menentang Iblis. Karena itu, doa adalah untuk mendatangkan Kerajaan Allah, dan mengusir Iblis.

Konsepsi kita umumnya merasa bahwa berdoa bagi orang dosa tidak lain bertujuan supaya jiwa mereka beroleh selamat. Siapa sangka bahwa doa yang benar-benar untuk keselamatan jiwa manusia berarti menanggulangi Iblis dan mendatangkan Kerajaan Allah. Seseorang tidak percaya Tuhan Yesus, bukan hanya perkara jiwanya masuk ke neraka, lebih-lebih perkara atas dirinya Iblis berkuasa. Dia rnasuk ke neraka itu perkara kecil, Iblis berkuasa atas dirinya itu baru perkara yang besar. Karena itu, berdoa bagi orang yang belum beroleh selamat adalah agar Iblis atas dirinya terusir keluar, agar ia terlepas dari kuasa kegelapan dan Kerajaan Allah terbawa ke atas dirinya. Doa yang sejati selalu di satu aspek membawa Kerajaan Allah ke atas diri seseorang, di aspek lain mengusir kuasa Iblis atas diri orang tersebut. Setiap kali ada seorang dosa beroleh selamat, itu berarti sebagian kekuasaan Iblis telah dikalahkan, dan sebagian Kerajaan Allah telah didatangkan. Inilah doa peperangan.

Dalam Alkitab ada satu prinsip yang sangat besar, yaitu Allah sendiri tidak secara langsung menanggulangi Iblis, Allah ingin melakukannya melalui manusia. Mungkin ada yang berkata, bukankah Allah menanggulangi Iblis di dalam Putra-Nya? Karena Alkitab berkata, "Anak Allah datang untuk menghancurkan perbuatan Iblis." Tidak salah, namun penanggulangan Putra Allah terhadap Iblis masih tetap di dalam tubuh daging manusia. Ia datang menjadi manusia dan dengan status manusia, mengenakan manusia, Dia menanggulangi Iblis. Untuk menanggulangi musuh-Nya, Allah harus melalui manusia; jika manusia tidak bekerja sama dengan-Nya, Allah tidak akan berdaya. Demikian juga untuk menyelamatkan manusia, Allah memerlukan doa manusia. Jika tidak ada orang yang berdoa bagi keselamatan jiwa orang dosa, Allah selamanya tak berdaya menyelamatkan manusia. Atas setiap orang yang telah beroleh selamat, pasti ada orang yang berdoa untuknya, ini tidak bisa dihindarkan. Allah tak berdaya secara langsung menyelamatkan seseorang, keselamatan Allah senantiasa memerlukan perantara, harus melalui manusia. Di sini kita nampak betapa pentingnya manusia. Pernyataan bahwa manusia berdiri di pihak Allah atau berdiri di pihak Iblis dinyatakan melalui doa. Begitu Anda berlutut berdoa kepada Allah, itu menyatakan bahwa dalam peperangan alam semesta Anda berdiri di pihak Allah, Anda mutlak menentang musuh Allah. Doa Anda di satu aspek mendatangkan Kerajaan Allah, di aspek lain menentang musuh Allah.

Tidak ada satu doa yang sejati yang tidak mengusir Iblis. Ketika dalam keluarga seorang saudara tidak ada damai sejahtera, suami istri bertengkar; jika Anda mengenal apakah doa itu, Anda bisa memanjatkan doa peperangan bagi mereka, mengusir Iblis pertengkaran dari keluarga mereka. Ini bukan lelucon. Sepasang suami isteri bisa bertengkar dikarenakan di tengah-tengah mereka ada kedudukan Iblis. Anda berdoa untuk mereka, di satu aspek mendatangkan Kerajaan Allah, di aspek lain mengusir musuh Allah, agar di tengah-tengah mereka terdapat kedaulatan Allah dan tidak ada kekuatan Iblis. Inilah doa yang sesungguhnya.

Berdoa bagi gereja juga demikian. Bila di tengah-tengah gereja timbul opini, perdebatan, itu berarti telah ada kedudukan Iblis. Kita berdoa untuk gereja juga berarti berdoa untuk mendatangkan Kerajaan Allah dan mengusir kuasa Iblis. Semua doa yang sejati di satu aspek selalu mendatangkan Kerajaan Allah, di aspek sebaliknya selalu mengusir kekuasaan Iblis. Doa yang demikian mempengaruhi keberhasilan Allah, juga mempengaruhi kegagalan Iblis. Semakin banyak doa yang demikian, maka kekalahan Iblis makin hebat, dan Kerajaan Allah makin dinyatakan.

3. KEDUDUKAN MUSUH ALLAH

Kita masih perlu melihat kedudukan musuh Allah. Efesus 6 menyinggung tentang peperangan rohani, memperlihatkan kepada kita bahwa musuh Allah, yakni kuasa kegelapan, berada di udara (angkasa). Banyak bagian dalam Efesus maupun Kolose yang memperlihatkan kepada kita tentang pemerintah atau penguasa di angkasa. Jadi, kedudukan keberadaan musuh Allah adalah di angkasa. Di satu pihak, Alkitab juga memperlihatkan kepada kita bahwa ruang lingkup pergerakan musuh Allah adalah di bumi. Iblis menduduki angkasa sebagai tempat kediamannya, dan mengendalikan bumi sebagai ruang lingkup pergerakannya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyuruh kita berdoa agar Kerajaan Allah datang, agar kehendak Allah bisa dilaksanakan di bumi seperti di surga. Hari ini segala sesuatu di satu pihak bisa dikatakan berada di bawah kekuasaan Allah; tetapi di pihak lain, jika Anda sejenak memperhatikan keadaan sekeliling, Anda merasakan tidak ada orang yang memperhatikan kehendak Allah, tidak ada orang yang memperhatikan wewenang Allah, semuanya telah diduduki oleh Iblis.

Jika Anda menggambar suatu gambar untuk menyatakannya, Anda akan nampak, bahwa Allah berada di surga, Iblis berada di angkasa, dan manusia di bumi. Seluruh bumi telah berada di bawah kendali angkasa; manusia berada di bawah pengendalian Iblis. Daniel 10 memperlihatkan kepada kita, ketika Daniel dengan tekun berdoa, dengan tulus hati mohon hikmat untuk mengetahui perkara yang akan datang, maka Allah mengutus malaikat-Nya dari surga untuk memberitakan kabar baik bahwa doanya telah didengar Allah. Tetapi begitu utusan itu sampai di angkasa, ia dihadang si jahat, tidak bisa lewat, selama tiga minggu berperang, untunglah Mikhael datang membantunya sehingga dia bisa dengan leluasa menembus angkasa dan tiba di bumi. Bagian-bagian dari Alkitab ini memperlihatkan kepada kita perkara rohani dalam alam semesta. Iblis menduduki angkasa dan mengendalikan bumi, jika ditambah lagi dengan alam maut di bawah bumi, maka tiga dari empat tempat di alam semesta ini berada di bawah tangan Iblis, hanya tersisa surga bagi Allah. Inilah kedudukan Iblis.

4. KEDUDUKAN DOA

Kedudukan doa adalah kedudukan naik ke surga. Doa dari orang yang jatuh ke bumi adalah jatuh di bawah pengendalian Iblis. Doa yang sejati selalu berada di alam surgawi. Nyonya Penn-Lewis berkata, bahwa orang yang ingin memiliki doa peperangan dalam Efesus 6 terlebih dulu harus melihat jelas kedudukan naik ke surga dalam Efesus 2. Begitu Anda jatuh ke bumi, Anda berada di bawah tangan Iblis, Anda tidak berdaya menanggulanginya. Doa Daniel di satu aspek berada di bumi, di aspek lain juga berada di alam surgawi, keadaan dirinya, hakikinya, mutlak surgawi, karena itu doanya bisa menanggulangi musuh.

Misalnya, ada satu keluarga yang suami istrinya adalah orang- orang yang tidak mendapatkan kasih karunia. Namun pada suatu hari, saudara yang sebagai suami bertengkar dengan saudari yang sebagai istri; bertengkar dan tidak mau saling mengalah. Kedua orang itu kemudian datang ke hadapan saudara pewajib untuk saling mendakwa. Sang suami berkata bagaimana dia dipersulit oleh sang istri, sang istri juga berkata bagaimana sang suarni tidak benar terhadap dirinya. Saudara saudari yang memperhatikannya dan mendengar hal ini segera berkata, bahwa saudari tersebut keterlaluan, sungguh tidak patut, tidak mau bertudung kepala, tidak memelihara kedudukan. Yang berdiri di pihak saudari itu berkata, bahwa saudara itu begitu tidak bersimpati, tidak bertenggang rasa!. Saya ingin bertanya, begitu keluarga saudara saudari ini bertengkar, mereka berada di surga, di bumi, atau di angkasa? Saya yakin semuanya tahu, begitu bertengkar, setiap orang telah jatuh menggelinding dari surga. Mungkin satu mingp sebelumnya mereka masih memuji Allah dan berkata, "Kami duduk di surga bersama Kristus, haleluya." Namun tidak lama berselang setelah menyanyikan haleluya, semuanya jatuh menggelinding dari surga. Seluruhnya jatuh ke bumi. Bukan hanya demikian, orang-orang yang mendengar mereka juga terseret, jatuh bersama mereka. Ada yang jatuh ke bumi mengikuti saudari, ada yang jatuh ke bumi mengikuti saudara. Ada yang tidak terima bagi saudari, ada yang tidak terima bagi saudara, semuanya berdoa. Orang-orang yang membela saudari itu datang ke hadapan Allah dan berkata, “Ya Tuhan, lihatlah betapa tidak pantasnya saudara itu, tidak disangka orang yang melayani Engkau bisa demikian." Orang-orang yang membela saudara itu juga berdoa, “Ya Tuhan, bagaimana ini? Lihatlah, saudari yang melayani-Mu pun demikian, selanjutnya bagaimana gereja bisa memimpin para saudari?" Saya ingin bertanya, doa-doa apakah itu? Jika Anda mengizinkan saya mengucapkan kata-kata gurauan, saya akan berkata, semuanya itu adalah doa yang bergulingan di bumi. Itu adalah doa darah daging, itu adalah doa karnal. Darah dan daging dan yang bersifat karnal adalah bumiah. Semuanya berada di bumi.

Kalau Anda ingin berdoa bagi orang lain, Anda harus merupakan orang yang naik ke surga. Jika Anda sendiri telah terangsang oleh perkara, juga telah tergerak oleh temperamen Anda, Anda telah jatuh dari surga ke bumi, Anda tidak bisa berdoa. Harus menunggu sampai Tuhan membelaskasihani dan memulihkan keadaan kenaikan ke surga Anda, barulah Anda bisa berdoa untuk hal itu. Orang yang tidak bisa berdoa pasti berada di bumi. Ketika orang lain bertengkar dan Anda terperangkap di dalamnya, berarti Anda telah kehilangan kedudukan doa. Di bawah keadaan sedemikian, Anda tidak bisa menanggulangi musuh Allah.

Jika Anda membaca doa Daniel, Anda tidak bisa tidak mengakui bahwa Daniel adalah pendoa yang naik ke surga, masuk ke ruang Mahakudus dan menjamah takhta. Meskipun dia adalah orang yang hidup di bumi, tetapi dia hidup di alam surgawi, karena itu doanya sangat hebat, bisa membereskan kesulitan umat Allah di bumi.

Prinsip doa sedemikian bukan hanya untuk perkara-perkara besar seperti kehendak Allah atau pekerjaan Allah, juga untuk diri kita sendiri, kesehatan, keluarga, pekerjaan kita, semuanya berada dalam prinsip ini. Kita harus senantiasa nampak, bahwa kedudukan Iblis adalah di angkasa, jika Anda dan saya berdoa di bumi, pasti terkena pengendaliannya. Namun, jika Anda dan saya pindah ke surga untuk berdoa, berarti kita berdoa dari atas ke bawah. Inilah pelajaran kemiliteran menduduki tempat yang tinggi untuk mendapatkan tempat yang rendah. Seperti pula doa-doa dalam Wahyu 8. Meskipun dari segi persembahan ukupan dikatakan bahwa doa-doa membubung ke hadapan Allah, tetapi disinggung dari penggenapan Allah, itu digenapkan dari surga ke bawah, dari surga turun ke bawah, karena doa-doa itu berada di alam surgawi. Dikatakan dari perkenan Allah, semua doa kita harusiah seperti bau-bauan wangi yang membubung mencapai takhta, tetapi dikatakan dari pihak musuh, doa kita harusiah tercurah dari takhta ke bawah. Orang yang memiliki doa yang sejati pasti duduk bersama Kristus di surga, berdoa dari atas takhta.

5. DOA DI ATAS TAKHTA

Doa yang demikian adalah doa di atas takhta, juga adalah doa yang berdaulat. Di sini emosi manusia, hawa nafsu, daging, opini, gejolak, telah ditanggulangi bersih. Kapan kala di dalam kita ada sedikit gejolak, amarah, nafsu, segera kita jatuh dari surga ke bumi, kehilangan kedudukan doa, dan kita tidak bisa berdoa.

6. DOA PEPERANGAN

Semua doa yang berada di alam surgawi, yang berasal dari takhta Allah, adalah doa peperangan. Orang yang memiliki doa ini adalah orang yang telah melewati salib, bangkit, naik ke surga, duduk di atas takhta, jauh melampaui bumi, tidak membiarkan barang-barang bumiah menjamahnya. Doa yang kita panjatkan dari alam ini adalah doa yang mengusir kuasa jahat di angkasa dan mendatangkan kekuasaan Allah. Doa yang demikian sepertilah doa Daniel yang membawa hal-hal surgawi ke bumi, agar kuasa surgawi menembus angkasa dan mencapai bumi. Inilah doa peperangan.

Renungkanlah, siapakah orang dosa yang tidak ingin beroleh selamat? Adakah orang saleh yang tidak ingin cinta Tuhan? Semua orang dosa tentu ingin beroleh selamat dan semua orang saleh tentu ingin mengasihi Tuhan. Akan tetapi, di angkasa ada oknum yang mendudukinya, oknum ini mengendalikan manusia di bumi, membuat manusia di bumi tidak menerima Injil, membuat orang saleh tidak menuntut Tuhan. Karena itu Anda dan saya tidak cukup hanya memberitakan Injil, tidak cukup hanya berkhotbah, masih perlu bangun, hidup di alam surgawi, menjamah takhta Allah, seperti Daniel yang berdoa kepada Allah selama dua puluh satu hari, mohon kuasa Allah di surga bisa terlaksana di bumi. Jika demikian, Anda akan nampak, bahwa satu per satu orang dosa akan diselamatkan, satu per satu orang sakh akan bangun menuntut Tuhan, mengasihi Tuhan; karena di sini telah ada doa peperangan yang mengusir kuasa kegelapan dan mendatangkan Kerajaan Allah. Alhasil, Allah di bumi bisa melaksanakan kehendak-Nya, melaksanakan karunia keselamatan-Nya, juga bisa menurut perkenan-Nya yang indah memberkati anak-anak-Nya.

Karena itu, setiap orang yang berdoa harusiah berada di alam surgawi, menjamah takhta Allah, mencurahkan doa dari surga. Anda melampaui bumi, melampaui angkasa, melampaui kuasa kegelapan, bersama Kristus Yang telah melampaui segala langit Anda duduk di takhta Allah, saat ini semua doa yang Anda paniatkan adalah doa peperangan. Setelah memahami hal ini, maka semua sasaran Anda akan beralih dari diri manusia kepada diri Iblis. Orang dosa tidak beroleh selamat, Anda bisa berkata, "Ya Allah, bukan dia tidak mau bertobat, melainkan setan menduduki dirinya, mohon Engkau mengusir setan yang di dalam dirinya." Terhadap satu keluarga yang bertengkar Anda juga tidak bisa berkata, "0, saudara itu tidak bersimpati, tidak bertenggang rasa"; atau berkata, "Saudari itu tidak bertudung kepala, tidak mau memelihara kedudukan." Anda akan nampak bahwa di balik saudara saudari tersebut, di atas diri mereka, terdapat kuasakuasa kegelapan yang sedang mencengkeram. Sasaran doa Anda tidak lagi tertuju kepada saudara atau saudari, melainkan tertuju kepada kuasa kegelapan yang ada di balik mereka. Inilah pergumulan yang disinggung dalam Efesus 6. Ini bukan bergumul dengan orang yang berdarah daging, melainkan bergumul dengan Roh-roh jahat yang di angkasa. Sasaran penanggulangan doa kita bukanlah manusia, melainkan Iblis. Semua kesulitan di dalam gereja bukan pada diri saudara atau saudari, melainkan pada diri Iblis. Kesulitan dalam keluarga juga bukan terletak pada suami, istri, atau anak-anak, melainkan pada Iblis. Sasaran doa peperangan rohani sedikit pun bukan pada manusia darah daging, melainkan pada rohroh jahat di angkasa. Begitu kita berada di alam surgawi, kita bisa memiliki doa kenaikan ke surga yang berkuasa. Inilah doa peperangan. Doa peperangan ini adalah untuk mengusir Iblis dan mendatangkan Kerajam Allah.