NAIK KE SURGA DAN DOA 1. PENJELASAN PERJANJIAN LAMA
Dalam perlambangan Perjanjian Lama, ruang Kudus atau ruang Mahakudus selalu mengacu kepada surga, atau mengacu kepada alam surgawi. Mezbah bakaran bukan berada di pelataran luar, ini menyatakan bahwa salib digenapkan di bumi. Mezbah ukupan berada di ruang Kudus, ini menyatakan bahwa kedudukan doa haruslah di dalam alam surgawi. Doa bukan dilaksanakan di bumi, melainkan dilaksanakan di alam surgawi. Meskipun manusia kita herada di bumi, dan juga kita berdoa di bumi, tetapi setiap doa yang bisa diperkenan Allah harusiah dinyatakan di alam surgawi. Di pelataran luar hanya bisa mempersembahkan kurban, tidak bisa mempersembahkan ukupan. Semua ukupan harus dipersembahkan di dalam ruang Kudus. Mezbah ukupan tidak berada di pelataran luar, melainkan di dalam ruang Kudus, ini memberi tahu kita, bahwa berdoa haruslah di alam surgawi.
2. KEDUDUKAN NAIK KE SURGA
Kebangkitan adalah perkara hayat, naik ke surga adalah perkara kedudukan. Setiap kali menyinggung tentang kebangkitan, kita harus memahami bahwa itu adalah perkara hayat. Demikian pula, setiap kali menyinggung tentang naik ke surga, kita harus memahami bahwa ini adalah perkara kedudukan. Efesus 2 mengatakan, bahwa semua orang yang beroleh selamat telah dihidupkan bersama-sama dengan Kristus, bersama bangkit, juga bersama naik ke surga. Dihidupkan berarti mendapatkan hayat, dan berarti hidup di dalam hayat; naik ke surga berarti mendapatkan satu kedudukan surgawi. "Surga" yang dikatakan di sini sulit dijelaskan. Kita, sebagai manusia, jelas-jelas berada di bumi, bagaimana bisa berkata bahwa kita duduk di surga bersama Kristus? Kita harus tahu, bahwa di dalam bahasa Yunani, kata "surga" ini bukan mengacu kepada surga sebagai benda, melainkan mengacu kepada keadaan yang surgawi, suasana surgawi, substansi (unsur) surgawi. Ditinjau dari segi alamat, hari ini kita jelas tidak berada di surga, tetapi ditinjau dari segi keadaan, suasana, karakteristik, kita benarbenar berada di surga. Kata "surga" dalam Efesus 2 justru mengacu kepada makna ini. Di dalam Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga, kita telah mencapai substansi (unsur) surgawi, keadaan surgawi. Inilah kedudukan kita.
"Surga" dalam Efesus 2 bukan mengacu kepada satu alamat, melainkan mengacu kepada atmosfir itu, mengacu kepada substansinya. Tentu, di aspek lain juga mengacu kepada kedudukan. Setiap orang yang berdoa harus nampak, bahwa naik ke surga adalah satu kedudukan. Dan kedudukan naik ke surga ini adalah satu udara surgawi, substansi surgawi.
3. KUASA NAIK KE SURGA
Begitu ada kedudukan naik ke surga, tentu menghasilkan kuasa naik ke surga. Siapa pun dan dalam kedudukan apa pun, tentu memiliki kuasanya. Anda seorang pegawai, juga memiliki kedudukan pegawai dan kuasa pegawai. Sekali pun Anda adalah tukang becak di pinggir jalan, Anda mempunyai kedudukan sebagai tukang becak, Anda memiliki kuasa Anda. Di Taiwan, khususnya di Taipei adakalanya Anda memanggil sebuah becak yang sedang lewat. Segera ada becak lain yang mangkal di sekitar sana datang memburu. Begitu dia datang, becak yang lewat yang Anda panggil tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa membiarkan calon penumpangnya diambil oleh becak yang mangkal tadi. Mengapa bisa demikian? Karena di sana ada satu persoalan kedudukan. Tempat mangkal becak ada satu kedudukan, dan kedudukan ini menghasilkan satu kuasa.
Polisi memiliki kedudukan polisi, juga memiliki kuasa polisi. Pendidik memiliki kedudukan pendidik, juga memiliki kuasanya. Setiap kedudukan memiliki kuasanya. Jadi Anda harus nampak, naik ke surga adalah satu kedudukan, dan pada kedudukan ini ada satu kuasa. Kehidupan rohani orang Kristen bukan melulu persoalan hayat, juga persoalan kedudukan; karena itu ini juga bukan hanya persoalan kekuatan, melainkan persoalan kuasa. Hayat mendatangkan kekuatan, kedudukan mendatangkan kuasa. Kebangkitan adalah persoalan kekuatan, naik ke surga adalah persoalan kuasa. Anda harus berada pada kedudukan tertentu baru bisa memiliki kuasa tertentu. Anda berada di alam surgawi, dengan sendirinya Anda memiliki kuasa surgawi. Semua doa kita yang sejati pasti berada di dalam kedudukan naik ke surga, memakai kuasa surgawi.
4. KEDUDUKAN DOA
Kedudukan doa adalah kedudukan naik ke surga. Anda hanya bisa berdoa di dalam alam surgawi. Begitu Anda keluar dari alam surgawi, Anda segera kehilangan kedudukan doa. Anda boleh saja tetap berdoa, tetapi doa itu tidak terhitung.
Saya tunjukkan beherapa contoh yang sederhana. Ketika saya masih kanak-kanak, saya bersekolah di sebuah sekolah Kristen, saat itu bertepatan dengan Perang Dunia I. Saya mendengar ada orang- orang yang berpendidikan bertanya kepada pendeta, bahwa di Jerman ada orang Kristen, di Inggris ada orang Kristen, tetapi Jerman dan Inggris saling bermusuhan. Mereka mendengar, bahwa orang-orang Kristen di Jerman berdoa memohon agar Jerman menang; orang-orang di Inggris juga berdoa, memohon Inggris menang. Tolong tanya, sebenarnya Allah akan mendengar doa yang mana? Hari ini saya juga ingin bertanya kepada saudara saudari, bagaimana Anda menjawab pertanyaan ini? Jika saya tidak salah ingat, ada pendeta yang pandai yang menjawab demikian : Allah bukanlah sembrono, Allah itu adil. Ia tidak bisa secara serampangan menjawab satu doa yang tidak adil. Dia tidak menjawab bahwa Allah mendengarkan doa-doa orang Inggris, juga tidak menjawab bahwa Allah menjawab doa-doa orang Jerman. Demikianlah dia menjawab pertanyaan tersebut.
Di kemudian hari, setelah saya beroleh selamat, pertanyaan ini sering muncul di dalam benak saya, dan lambat laun di dalam saya menjadi jelas. Ingatlah, Allah tidak mendengar doa-doa orang Kristen di Jerman juga tidak mendengar doa-doa orang Kristen di Inggris. Semuanya tidak Allah dengar, karena mereka tidak memiliki kedudukan doa. Inggris bukan kedudukan doa, Jerman juga bukan kedudukan doa. Orang yang berdoa di atas kedudukan negara Inggris, atau negara Jerman, selamanya tidak akan didengar oleh Allah. Doa hanya memiliki satu kedudukan, yaitu kedudukan naik ke surga. Anda harus berdoa dalam alam surgawi. Saya ambil contoh lagi. Misalnya, ada sepasang suami isteri yang sering bertengkar. Meskipun mereka telah beroleh selamat, tetapi tabiatnya tidak bisa harmonis. Suatu hari, sang suami berdoa mohon Tuhan menanggulangi sang isteri; sang isteri juga berdoa mohon Tuhan menanggulangi sang suami. Saya ingin bertanya, Allah mendengar doa siapa? Jangan mengira karena ini adalah contoh lalu hanya sekadar contoh saja; benar-benar ada kejadian ini. Ada isteri yang sambil menyeka air matanya berkata kepada Allah, “Ya Allah, Engkau adalah Allah yang menghakimi, bagi-Mu tidak ada sesuatu yang tidak Kauketahui. Engkau tahu bahwa aku menerima perlakuan tidak adil, mohon Engkau menghakimi." Di ruang ini Anda mendengar sang isteri berdoa demikian. Di ruang yang lain Anda mendengar sang suami berdoa yang lain lagi. Saya bertanya, Allah mendengar doa siapa? Keduanya tidak Allah dengar. Karena mereka bukan hanya jatuh dari surga ke bumi, bahkan kebanyakan malah jatuh ke bawah bumi, jatuh ke dalam satu kedudukan yang paling rendah. Mereka telah kehilangan kedudukan doa, karena itu Allah tidak bisa mendengar doa mereka.
Misalnya lagi, dua sekerja bersama melayani, namun mereka tidak harmonis. Yang seorang berdoa, “Ya Tuhan, aku sungguh merasa sulit, keadaan saudara anu. demikiandemikian, jika Engkau tidak mengulurkan tanganMu, aku sungguh tidak berdaya." Yang lainnya juga berdoa,"Ya Tuhan, aku sungguh sulit, mohon Engkau campur tangan." Saya bertanya kepada saudara saudari, Tuhan mendengar doa siapa? Ingatlah, di sini tidak ada kedudukan doa, karena tidak berada di alam surgawi, seluruhnya merupakan doa yang bumiah.
Bahkan terhadap doa-doa yang dipanjatkan oleh orang-orang bagi gereja tempat mereka berada, atau bagi Injil di sana, yang sebenarnya adalah perkara-perkara yang baik, masih harus dipertanyakan, doa-doa itu dipanjatkan di alam surgawi atau di bumi. Karena banyak orang ketika berdoa untuk perkara-perkara ini, mereka berada di bumi, bukan di alam surgawi.
Ada saudara yang berdoa bagi pekerjaannya, ada saudari yang berdoa bagi usaha suaminya, namun doa-doa itu berada di bumi bukan di alam surgawi. Adakalanya Anda nampak di antara saudara saudari ada kesulitan, lalu Anda berdoa bagi mereka; tetapi Anda menemukan bahwa sebelum Anda mendoakannya, kesulitan yang terjadi di antara mereka telah menjamah Anda, sebelum Anda mendoakannya, di dalam Anda telah tergugah olehnya. Ketahuilah, Anda tidak perlu berdoa, karena Anda telah kehilangan kedudukan doa. Anda tidak berada di alam surgawi, Anda berada di alam bumiah.
Jadi, dalam hal doa, perkara pertama yang harus dibereskan adalah masalah kedudukan. Jika Anda masih berada di bumi, Anda tidak bisa berdoa, karena di bumi tidak ada kedudukan untuk berdoa. Tanpa kedudukan itu, tidak bisa melakukan perkara itu. Sering kali orang bertanya, "Mengapa doaku tidak Allah dengar?" Saya ingin memberi tahu saudara saudari, bahwa penyebab tidak didengarnya doa Anda kebanyakan karena Anda telah kehilangan kedudukan doa. Mungkin pada Anda masih ada sedikit amarah, sedikit rasa tidak terima, masib bergumul untuk diri sendiri, mohon Allah memberikan keadilan, menjelaskan kepada Allah, semuanya itu menyatakan bahwa Anda telah keluar dari alam surgawi.
Perjanjian Baru mengatakan, bahwa anak-anak Allah hanya boleh memberkati, tidak boleh mengutuk. Ketika orang lain mempersulit Anda, menganiaya Anda, jika Anda masih bisa memberikan berkat kepada orang lain, itu membuktikan bahwa Anda masih berada di alam surgawi. Ketika Stefanus mati martir, orang-orang mengambil batu dan melemparinya, namun dia masih bisa berkata, "Ya Allah, ampunilah mereka!" Saat itu wajahnya seperti wajah malaikat, dia benar-benar berada di alam surgawi. Jika seseorang hidup di alam surgawi, dia pasti bisa mengasihi musuhnya; bagaimanapun Anda mempersulit dia, dia tetap bisa mengasihi Anda. Orang Kristen yang bisa membenci musuh, dan yang ketika dianiaya bisa mengucapkan kata-kata kutukan, pasti adalah. orang Kristen yang bumiah.
Saudara saudari ketika Anda ingin berdoa bagi gereja di tempat Anda berada, berdoa bagi pekerjaan Injil yang Anda lakukan, walaupun itu semuanya sangat baik, tetapi jika Anda belum melalui penanggulangan, merasa ini adalah gereja-"ku", ini adalah pekerjaan-"ku", minta agar gereja-"ku" di sini mengalami kebangunan rohani, ingin agar orang-orang dalam gereja-"ku" di sini banyak, ingin agar pekerjaan-"ku" di sini ada hasilnya, semuanya itu juga membuktikan bahwa Anda tidak berada di alam surgawi, Anda telah jatuh ke bumi. Jika Anda ingin mendoakan perkara-perkara itu, terlebih dulu Anda harus menaruh diri Anda pada kedudukan naik ke surga. Bukan hanya untuk perkara-perkara di atas, bahkan untuk hal sakitnya Anda, kesulitan keluarga, kesulitan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, ketika Anda mendoakannya, terlebih. dulu harus menaruh diri Anda di alam surgawi.
Kedudukan doa mutlak adalah kedudukan surgawi. Sedikit pun Anda tidak seharusnya memiliki rasa iri hati, meremehkan, atau memendam amarah. Begitu ada hal-hal itu Anda segera tidak berada di alam surgawi. Anda bukannya membakar ukupan di ruang Kudus, mungkin Anda sedang membakar ukupan di pinggir jalan, mutlak di bumi, mutlak di dunia. Kita pernah membahas, bahwa pada kesempatan yang lain, di suasana yang lain, mungkin banyak perkara bisa dilakukan, banyak perkataan bisa diucapkan, tetapi saat Anda berdoa, semua itu tidak bisa dilakukan, tidak bisa dikatakan. Berdoa bukan hanya merupakan perkara tempat Kudus, lebih-lebih adalah satu alam yang rohani, karena kedudukan doa adalah yang surgawi. Begitu keluar dari alam surgawi, segera kehilangan kedudukan doa.
5. KUASA DOA
Karena kedudukan doa adalah kedudukan naik ke surga, maka kuasa doa adalah kuasa naik ke surga. Ada kedudukan doa baru ada kuasa doa. Setiap hal yang dilakukan oleh orang Kristen bukan hanya merupakan masalah kekuatan, lebih-lebih merupakan masalah kekuasaan. Misalnya, ketika Anda berkhotbah, Anda tidak hanya memerlukan kekuatan, juga memerlukan kuasa. Adakalanya, Anda mendengarkan seseorang berbicara, Anda merasa hanya ada kekuatan, tetapi tidak ada kuasa; tetapi adakalanya, Anda merasa bahwa di atas diri orang tertentu bukan hanya ada kekuatan, juga ada kekuasaan. Ada orang yang doadoanya di hadapan Allah juga demikian, dia tidak hanya memiliki kekuatan, juga memiliki kekuasaan, karena dia berada pada kedudukan naik ke surga.
Umumnya orang berkata, bahwa ketika berdoa harus menyingkirkan dosa, harus ada iman, harus memegang janji Allah. Tetapi lambat laun Anda akan nampak, bahwa semuanya itu belum tentu manjur. Anda di sana telah mutlak percaya, tetapi Allah tidak mengabulkan; Anda memegang janji Allah, tetapi janji itu tidak tergenap. Jika Anda mau belajar pelajaran berdoa, perlahan-lahan Anda akan nampak, bahwa di sini bukan masalah percaya atau tidak, bukan masalah memegang janji Allah atau tidak, melainkan dipelihara oleh Allah sehingga nampak kedudukan doa. Anda bisa di dalam alam surgawi melakukan pekerjaan doa. Begitu ada kedudukan, Anda berwewenang melakukan perkara ini. Sampai saat demikian, doa Anda adalah suatu kuasa, bukan lagi masalah Anda percaya, bukan lagi masalah memegang janji, melainkan di sini Anda telah memiliki satu kedudukan, memiliki satu kuasa untuk melakukan hal ini. Allah tidak bisa tidak mengakui, Allah harus mengakuinya.
Pada kedudukan ini, Anda baru tahu bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa Anda doakan, karena Allah tidak menyuruh Anda melakukannya. Paling banyak Anda hanya bisa berunding dengan Allah dan berkata, “Ya Allah, bolehkah aku berdoa untuk hal-hal ini? Jika Engkau mau, mohon Engkau menggenapkan hal-hal ini." Paling jauh Anda hanya bisa berdoa demikian. Anda tidak bisa berkata, "Ya Allah, Engkau harus melakukan ini, aku memegang janjiMu." Ketahuilah, Anda memegang dan memegang, tetapi janji itu telah lepas; sekalipun Anda dapat memegangnya, yang Anda pegang adalah yang palsu. Bagi Allah adalah sejati, tetapi bagi Anda adalah palsu, karena Allah sama sekali tidak memberi janji tersebut. Ini bukan hanya masalah menanggulangi dosa, bukan hanya masalah mengaku salah, tetapi di manakah manusia Anda? Apakah hakiki manusia Anda? Anda berada di atmosfir apa? Jika Anda berada di alam surgawi, saya sangat percaya, dari sepuluh macam doa Anda akan tertanggal delapan macam, itu tidak memerlukan doa, tidak bisa didoakan, dan tidak mungkin didoakan. Anda tahu bahwa hal-hal itu bukanlah perkara yang harus dilakukan di atas kedudukan ini.
Jarang ada satu perkara atas diri kita yang menuntut kita melebihi doa. Anda orang yang macam apa, bagaimana keadaan Anda, di mana Anda berada, semuanya itu tidak terkhat jelas dalam perkara lain, hanya di dalam doa, hal-hal itu terlihat jelas. Sering kali Anda berada dalam suasana yang lain, Anda tidak bisa nampak di mana Anda berada, namun begitu Anda berdoa, Anda segera nampak, mungkin Anda sama sekali mutlak tidak berada di alam surgawi, Anda berada di luar alam surgawi. Karena alasan inilah maka orang-orang yang baru beroleh selamat bisa mendoakan apa saja. Namun lambat laun, setelah seseorang mengikuti Tuhan, maka ruang lingkup doanya akan semakin sempit, keberaniannya untuk berdoa juga semakin kecil, tidak berani mendoakan hal ini, tidak berani mendoakan hal itu. Semakin Anda bertumbuh di dalam Tuhan, Anda semakin tahu bahwa doa memiliki kedudukannya, juga memiliki alamnya. Di dalam kedudukan ini, di dalam alam ini, baru ada kuasa.
6. DOA YANG BERKUASA
Semua doa yang berada dalam kenaikan ke surga adalah doa- doa yang berkuasa. Di sini kita baru mengerti, bahwa berdoa adalah suatu perintah kepada Allah. Doa-doa kita bukanlah permohonan yang memelas, melainkan suatu perintah. Kita semua ingat, bahwa dalam kitab Yesaya tercantum satu perkataan Allah, bahwa kita boleh memerintah Dia. Perintah ini, ada yang langsung memerintah Allah, ada yang tidak langsung melalui memerintah suasana. Seperti Musa di tepi laut Merah memerintahkan air laut terbelah; Tuhan Yesus di atas perahu memerintahkan agar angin dan badai menjadi teduh, atau memerintahkan suatu penyakit meninggalkan seseorang. Jika Anda telah belajar berdoa di alam kenaikan ke surga, Anda bisa memerintahkan kemiskinan meninggalkan Anda. Anda bukannya di sana memohon dengan memelas, mohon Allah membelaskasihani Anda, memelihara Anda, seolah-olah seperti seorang pengemis meminta uang receh. Jika Anda telah menjamah kedudukan surgawi, telah menjamah kuasa itu, Anda bisa berkata, "Aku memerintahkan kemiskinan ini meninggalkan diriku." Semua ini bukan khayalan kami, ada orang yang benar-benar memiliki pengalaman demikian.
Di satu pihak, Alkitab memberi tahu kita untuk berdoa dengan tak putus-putusnya, di pihak lain Alkitab tidak memperlihatkan kepada kita doa-doa yang begitu banyak dari pengharapan manusia. Adakalanya, ada saudara atau saudari yang datang menemui saya, belum juga berkata sepatah dua kata, sudah meminta saya mendoakannya. Saya sungguh-sungguh tidak tahu harus bagaimana berdoa baginya, karena saya tidak tahu apakah dia berada di surga atau di bumi. Ketahuilah saudara saudari, semua orang yang bisa berdoa dengan begitu sederhana dan leluasa, tidak mengerti apakah berdoa itu. Jika Anda benar-benar mengerti kedudukan doa dan kuasa doa, Anda baru tahu bahwa berdoa tidak sesederhana itu.
Tentu, ditinjau dari satu aspek, atas setiap hal Allah memelihara kita, sering mendengar doa kita, ini saya akui. Tetapi Allah juga menampakkan kepada kita, bahwa berdoa adalah satu cerita naik ke surga. Jika Anda benar-benar ingin di hadapan Allah memiliki satu doa yang bernilai, Anda harus bisa di hadapan Allah mengeluarkan satu perintah yang berkuasa. Saya bisa di hadapan Allah memberi tahu kalian, dalam beberapa tahun yang lampau di tempat tertentu, ketika atas pekerjaan kami di dalam gereja menjumpai kesulitan, kami memiliki doa yang memerintahkan semacam ini. Dengan hebat kami menyatakan di hadapan Allah, “Ya Allah, kami tidak bisa menyetujui hal ini." Jika kedudukan Anda tidak benar, keadaan Anda tidak di alam surgawi, maka doa Anda yang demikian berarti menghina Allah. Akan tetapi bila kedudukan Anda benar, keadaan Anda juga berada di dalam alam surgawi, doa yang demikian tidak hanya tidak menghina Allah, bahkan sangat disenangi Allah. Perkataan doa Anda sama dengan pemerintahan Allah, sama dengan melaksanakan perintah-Nya. Saya bisa bersaksi, doa sedemikian pasti didengar oleh Allah.
Tidak semua orang begitu berdiri di tengah jalan dan mengangkat tangannya dapat menghentikan mobil-mobil, tetapi polisi lalu lintas, begitu mengangkat tangannya, semua kendaman akan berhenti. Karena polisi memiliki kedudukan itu, juga memiliki kuasa itu. Doa yang paling sederhana dan mudah adalah doa yang memerintah semacam ini,doa yang berkuasa. Akan tetapi doa semacam ini harus memiliki kedudukan naik ke surga. Apakah doa yang berkuasa? Doa yang berkuasa adalah bisa mengeluarkan perinah di atas kedudukan naik ke surga.
Hari ini, keadaan kerohanian kita sangat rendah, karena itu sedikit sekali dia antara anak-anak Allah yang mengerti doa semacam ini, lebih-lebih sedikit sekali yang melaksanakan doa semacam ini. Namun, jika kita baik-baik maju di hadapan Tuhan, kita akan menemukan, bahwa kita berada di dalam ruang Kudus, bukan di pelataran luar; kita akan menemukan, bahwa kita berada di alam surgawi, banyak perkara yang tidak bisa menjamah kita. Kita berada di dalam surga bersama Tuhan, bersama-Nya duduk di takhta, karena itu kita bisa mengeluarkan perintah menurut maksud hati Tuhan, memerintah segala sesuatu. Semua yang kita doakan di sini adalah satu komando, satu perintah.
7. DOA DI ATAS TAKHTA
Setelah memiliki kedudukan naik ke surga, memiliki kuasa naik ke surga, juga bisa mengeluarkan doa yang berkuasa, Anda adalah orang yang duduk di atas takhta, bersama Tuhan pada kedudukan yang memerintah sebagaimana Dia memerintah di sebelah kanan Allah; Anda juga memerintah bersama dengan Dia di alam kenaikan ke surga. Pada saat demikian, doa Anda bukan hanya doa yang berkuasa, juga doa yang memerintah. Doa Anda adalah melaksanakan kekuasaan, melaksanakan perintah Allah. Pada saat demikian seluruh doa Anda menjadi pernerintahan Allah, menjadi satu pelaksanaan pengaturan Allah. Mungkin yang saya bicarakan terlalu tinggi, tetapi saya tahu, jika kita mau belajar sedemikian rupa, kita bisa menjamah doa yang demikian.
Akhirnya, berdoa hanya memiliki satu kedudukan, yaitu di alam kenaikan ke surga. Begitu keluar dari sini, tidak ada lagi kedudukan berdoa. Berdoa bukan hanya menanggulangi perkara, lebih-lebih menanggulangi kedudukan. Haruslah berada di alam kenaikan ke surga baru ada kedudukan berdoa, baru bisa mengeluarkan doa yang berkuasa, barulah menjadi seorang yang berada di atas takhta, yang memanjatkan doa di atas takhta.