← Daftar isi Doa · bab 15/19

PENERANGAN HAYAT DAN DOA

Dalam dua bab yang lalu kita telah membahas hubungan antara salib dengan doa dan hubungan antara suplai hayat dengan doa. Dalam bab ini kita akan melanjutkan dengan membahas hubungan antara penerangan hayat dengan doa. Ketiga bab ini saling berhubungan atas dasar pelayanan imam-imam dalam Perjanjian Lama yang membakar ukupan di tempat Kudus. Ingatlah, dalam perlambangan Perjanjian Lama, ketika imam-imam masuk ke tempat Kudus untuk membakar ukupan, mereka harus melewati mezbah bakaran. Setelah masuk ke dalam tempat Kudus, pertama- tama mereka menaruh roti sajian di atas mejanya. Kedua, mereka membersihkan kaki dian dan akhirnya, mereka membakar ukupan. Jadi, melewati mezbah, meja roti sajian, dan kaki dian, mutlak berhubungan dengan membakar ukupan di hadapan Allah. Setiap orang yang datang kehadapan Tuhan Allah untuk membakar ukupan harus melewati ketiga tempat itu dalam pengalamannya. Salib dan doa menyatakan hubungan antara mezbah bakaran dengan mezbah ukupan. Suplai hayat dan doa menyatakan hubungan antara meja roti sajian dengan mezbah ukupan. Penerangan hayat dan doa menyatakan hubungan antara kaki dian dengan mezbah ukupan.

Imam-imam yang mendekati mezbah emas untuk membakar ukupan harus melewati mezbah bakaran. Mereka juga harus melewati meja roti sajian dan kaki dian. Ini berarti, siapa saja yang datang ke hadapan Allah untuk berdoa, harus melewati salib. Mereka juga harus mengalami Kristus sebagai hayat sedemikian rupa, sehingga mereka dapat membawa Kristus yang telah mereka nikmati dan mempersembahkan-Nya di hadapan Allah. Mereka juga harus mengalami Kristus sebagai terang sedemikian rupa, sehingga batin mereka diterangi.

Dari pengalaman, kita tahu bahwa orang yang semakin dekat dengan Allah, semakin berdoa, ia akan semakin berada di dalam terang, dan batinnya makin diterangi. Bukan berarti setelah Anda berdoa kepada Allah, batin Anda baru diterangi, melainkan begitu Anda melewati salib dan menikmati Kristus sebagai hayat, hayat ini akan menjadi terang yang bersinar di batin Anda. Hanya orang yang diterangi itulah yang ukupannya diperkenan Allah, dan dengan demikian dapat datang ke hadapan-Nya untuk berdoa.

Tidak ada seorang pun dapat dengan sembarangan datang ke hadapan Allah untuk berdoa ketika sedang berada dalam keadaan gelap, remang-remang, suram, dan berkabut. Kalau kita datang ke hadapan Allah dalam keadaan seperti itu, kita tidak akan memiliki banyak perkataan atau beban yang cukup untuk berdoa. Orang yang dapat datang ke hadapan Allah untuk membakar ukupan adalah orang yang sudah melewati mezbah, sudah menikmati Kristus dan membentangkan Dia sebagai roti di hadapan Allah, sudah menyalakan dian, dan batinnya terang.

Perhatikan, kalau terang kaki dian dipadamkan, maka seluruh tempat Kudus menjadi gelap, tidak ada seorang pun yang bisa membakar ukupan di atas mezbah emas. Karena berada dalam gelap, orang tidak tahu harus mulai dari mana. Karena terang kaki dian sajalah rak dan bertindak serta tahu apa yang harus dilakukan di mezbah ukupan. Ini adalah gambar yang sangat jelas. Acap kali, ketika kita datang ke hadapan Allah untuk berdoa, kita belum menyalakan dian dan tidak ada terang dalam batin. Karena itu, kita hanya dapat berdoa secara sembarangan, meraba-raba dalam kegelapan. Sesungguhnya, kalau kita sedang berada dalam keadaan semacam itu, janganlah mencoba berdoa. Kita perlu berpaling dulu ke dalam untuk membereskan soal terang ini. Bila di dalam Anda telah diterangi, dapat melihat dengan jelas, mengetahui apa yang harus didoakan dan bagaimana berdoa, Anda baru dapat mulai berdoa.

Untuk membereskan soal terang ini, pertama-tama kita harus ditanggulangi lebih dulu di mezbah bakaran. Ini berarti kita menerima peremukan di atas salib. Kemudian kita mengalami Kristus sebagai hayat dan menikmati-Nya sebagai roti sajian. Selanjutnya, berdasarkan yang telah kita alami dan nikmati, kita membawa Kristus sebagai makanan hayat dan meletakkan-Nya di hadapan Allah untuk diapresiasi oleh Allah. Lalu terang di dalam kita akan benar-benar bersinar, karena hayat yang kita alami adalah terang. Kini, ketika kita datang ke hadapan Allah untuk berdoa beberapa menit saja, kita akan merasa bahwa kita diterangi di dalam - pelita di dalam kita menyala. Kristus yang kita alami, yang kita bawa dan letakkan di hadapan Allah untuk diapresiasi oleh-Nya, juga adalah terang hayat yang bersinar di dalam kita. Pada saat ini, kita dengan mudah dapat berdoa di hadapan Allah. Kita juga sangat jelas tentang hal-hal apa yang seharusnya kita doakan atau tidak. Kita dapat menjamah mezbah ukupan dan tahu apa yang seharusnya kita lakukan di sana. Kita tahu bagaimana caranya membakar ukupan. Semua orang yang sudah mengalami hal ini dapat bersaksi. Jadi penerangan hayat mutlak berkaitan dengan doa. Tanpa menyalakan dian, kita tidak dapat membakar ukupan; membakar ukupan mutlak berdasarkan menyalakan dian.

2. PENERANGAN HAYAT

Penerangan di sini bukan dihasilkan dari pengajaran suatu doktrin atau penjelasan/penunjukan suatu kebenaran, melainkan dihasilkan oleh pengalaman subyektif manusia atas hayat. Terang di pelataran luar adalah terang alamiah, sedangkan terang di tempat Kudus terpancar dari kaki dian emas yang padanya ditambahkan minyak zaitun yang telah meialui peremukan dan penekanan. Di satu pihak, ada emas yang ditempa dan dibentuk menjadi kaki dian. Di pihak lain, ada minyak yang dihasilkan dari zaitun yang diremukkan dan ditekan. Ini mutlak adalah suatu pengalaman subyektif atas hayat di dalam. Begitu Anda memiliki pengalaman yang riil dan subyektif atas diri Tuhan, hayat di dalam Anda akan memiliki fungsi memancarkan terang.

Beberapa berita mengenal kebenaran tampaknya menghasilkan semacam terang, memberi tahu orang apa yang menyenangkan Allah dan apa yang tidak menyenangkan Allah. Namun, berita-berita itu tidak dapat membuat orang membakar ukupan di hadapan Allah secara mendalam. Hanya terang yang berasal dari pengalaman dalam hayat yang dapat membuat orang datang ke hadapan Allah dan membakar ukupan secara mendalam. Jadi, doa yang sejati bukan dihasilkan dari memelihara doktrin secara luaran, melainkan dihasilkan dari penerangan terang hayat di batin. Saya bisa saja menyampaikan delapan atau sepuluh berita untuk mendorong saudara saudari berdoa puasa. Saya mungkin berbicara dengan sangat logis dan dengan daya pernikat yang kuat. Tetapi saya tahu, setelah saya berbicara, saudara saudari tetap tidak akan mampu berdoa puasa, karena kalaupun mereka melakukannya, itu semata-mata akibat pengaruh doktrin. Yang harus Anda miliki adalah pengalaman di hadapan Tuhan, jika demikian meskipun Anda tidak pernah diajar tentang berpuasa, Anda tidak bisa tidak berpuasa dan berdoa. Itulah baru pengalaman Anda atas hayat. Ada terang batiniah yang memancar dan membuat Anda berpuasa. Ini bukanlah doktrin luaran, melainkan suatu keadaan batin yang tidak bisa melepaskan Anda. Pada saat itu, puasa dan doa Anda adalah hasil penerangan hayat.

Contoh lain, saya mungkin memberitakan firman dalam Matius 5 yang mengatakan, "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." Khotbah saya mungkin hanya berupa doktrin luaran dan bukan penerangan hayat. Anda harus belajar hidup di dalam Tuhan, mengalami Dia sebagai hayat, demikian di dalam Anda akan ada sesuatu yang menerangi Anda. Kalau Anda tidak bisa lewat terhadap seorang saudara, terus menyalahkan saudara tersebut, tidak mau memaafkan dia, sesuatu di dalam Anda akan menyalahkan Anda. Inilah terang hayat. Hanya terang semacam. ini yang dapat.membuat Anda memiliki doa yang sejati.

Contoh lain lagi, misalnya Anda mendengar seorang saudara berbicara tentang cara berdoa. Kalau Anda memiliki pengalaman dalam hayat, Anda akan mampu membedakan, apakah anjurannya hanya berupa doktrin luaran atau pengalaman batiniahnya. Kalau hanya doktrin luaran, mungkin Anda akan terdorong tetapi tidak akan menghasilkan apa-apa. Tetapi kalau itu adalah pengalaman pribadinya, perkataannya akan mampu membuka dan menjamah batin Anda. Sambil mendengar, terang dalam diri Anda akan memancar secara misterius. Anda merasa ada sesuatu dalam diri Anda yang bersinar dan menekan Anda, sehingga ketika Anda pulang, Anda tidak bisa tidak berdoa.

Saya harap atas hal ini saudara saudari mau belajar pelajaran yang dalam. Kemudian bila Anda berdiri menyampaikan firman, perkataan Anda akan mampu menjamah batin manusia. Perkataan itu akan memiliki semacam fungsi hayat yang menghasilkan terang, sehingga di bawah terang hayat itu orang dengan sendirinya akan berdoa.

Hanya orang yang mengalami penerangan hayat yang mampu menerima beban dan amanat di hadapan Allah dan memikul beban dalam doa. Kerap kali dalam doa-doa mereka, mereka hampir- hampir lupa diri, tidak begitu mengingat sedikit keperluan atau persoalan pribadi mereka entah dalam aspek materi, aspek bisnis, atau bahkan aspek rohani. Mereka mungkin memiliki kelemahan tertentu yang tidak dapat mereka atasi, tetapi mereka tidak terlalu memperhatikannya. Semakin besar perhatian seseorang kepada dirinya sendiri, berdoa untuk menanggulangi kelemahannya sendiri, semakin membuktikan bahwa dia tidak berada dalam terang, tidak hidup dalam pengalaman hayat. Orang yang hidup dalam pengalaman hayat, hidup dalam terang, akan lebih banyak berdoa bukan untuk dirinya sendiri. Dia mampu menerima beban yang jelas yang bukan berasal dari anjuran luaran, tetapi hasil penerangan hayat batiniah.

3. PEKERJAAN TERANG HAYAT

PADA SISI NEGATIF

Sudah pasti bahwa orang yang paling murni adalah orang yang paling pandai berdoa. Kalau Anda bertanya kepada saya, "Siapakah orang yang paling murni dalam alam semesta?" Saya akan menjawab, "Orang yang paling murni adalah orang yang pandai berdoa." Taraf kemampuan Anda dalam berdoa di hadapan Allah ditentukan oleh taraf kemurnian Anda. Semakin mahir Anda berdoa, semakin nyata bahwa Anda hidup dalam terang hayat.

Pekerjaan terang hayat di dalam kita selalu dimulai pada sisi negatif. Terang itu menyinari dan menyoroti kita, bukan hanya menyoroti kita di permukaan, tetapi lebih dari itu, menembus ke dalam diri kita. Seakan-akan terang itu mampu membelah bagian- bagian batin kita. Terang ini menembus kedalaman diri kita, bukan hanya menyingkapkan tindakan dan sikap kita, tetapi juga menjamah batin kita yang terdalam. Terang ini menjamah motivasi, maksud, kedalaman roh kita, dan sumber yang ada dalam diri kita. Terang ini dapat menunjukkan apakah roh kita tenang, luwes, atau sebaliknya. Walaupun kita mungkin tidak salah, tidak cemar, atau tidak berdosa secara luaran, kita mungkin tetap tidak tenang atau luwes di batin. Begitu terang hayat menyorot, hal-hal seperti itu segera tersingkap.

Setiap orang yang benar-benar belajar berdoa di hadapan Allah harus dengan hebat menerima sorotan, dan dia harus dengan hebat menanggulangi dirinya di bawah terang itu. Dalam terang hayat itulah kita baru bisa belajar pelajaran yang dalam, halus, dan bernilai di hadapan Tuhan. Pengalaman membed tahu kita, bahwa terang yang menembus diri kita ini akan menyoroti sedemikian rupa sampai kita. merasa dalam alam semesta ini tidak ada tempat persembunyian bagi kita. Setelah itu, barulah kita dapat mengetahui apa artinya tidak memiliki sesuatu untuk dibanggakan atau disombongkan. Hanya dengan demikianlah kita baru menghargai fakta, bahwa satu-satunya tempat pelarian kita adalah darah adi-Nya. Maksud, motivasi, tujuan, roh di dalam kita, sumber batiniah kita, semuanya akan disingkapkan oleh terang. Ketika terang menyorot, timbullah sejumlah perasaan dan pengalaman yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata manusia. Jadi, saudara saudari, doa bukanlah satu hal tentang berapa banyak jawaban yang Anda terima atau berapa besar iman yang Anda miliki. Sebaliknya, doa adalah perihal berapa banyak Anda hidup di dalam sorotan hayat.

Banyak orang mernuji George Muller, yang mendirikan panti asuhan dan menerima jawaban sebanyak 1.500.000 kali atas doa- doanya seumur hidupnya. Banyak orang memujinya sebagai manusia iman. Namun, ketika saya membaca catatan harian Muller, saya lebih terkesan dengan fakta bahwa dia sepenuhnya hidup di dalam sorotan Allah daripada terkesan oleh imannya. Kesan pertama saya bukanlah atas hal dia memiliki iman yang besar, tetapi atas adanya satu orang yang setiap kali datang ke hadapan Allah, dia diuji dengan ketat oleh Allah. Ketika Allah menguji dan menyoroti dia, dia mengucapkan doa-doa di bawah terang yang menyorot. Dengan sendirinya dia sangat mudah memiliki iman dan mudah pula doa-doanya dijawab oleh Allah.

Sebab itu, dalam doa, iman bukanlah hal yang paling penting. Hal pertama yang harus dipelajari adalah digarap oleh sorotan hayat. Anda harus membiarkannya menyingkapkan Anda sampai tidak ada satu bagian pun dalam diri Anda yang masih tersembunyi. Ketika terang ini memancar kuat, dalam diri Anda sungguh merasakan bahwa tidak ada tempat untuk bersembunyi bagi Anda; entah itu di bumi, entah di langit, atau, mengunci diri di kamar, atau dibuang di jalan. Anda menyadari bahwa sduruh diri Anda adalah suatu problema. Tidak mungkin Anda membakar ukupan di hadapan Allah karena keadaan batin Anda tidak benar. Saat inilah Anda tahu, bahwa satu-satunya tempat pelarian Anda adalah darah yang dicurahkan di atas salib. Saat ini Anda baru benar-benar mengalami kemustikaan darah. Kemudian, dari pengalaman, Anda baru tahu benar-benar makna perkataan dalam 1 Yohanes 1. Anda tahu apa maksudnya Allah adalah terang, apa artinya memiliki persekutuan dengan Allah, apa artinya dibasuh dengan darah Yesus, Putra Allah. Inilah aspek pertama dari pekerjaan sorotan hayat di dalam kita.

Ingatlah, semua orang yang pandai berdoa adalah orang yang rebah di hadapan Allah. Rebah di sini adalah sepenuhnya karena mendapat sorotan. Di hadapan manusia Anda mungkin sombong dan tidak mau rebah, tetapi Anda tidak bisa tidak rebah di hadapan Allah. Rebah semacam ini bukan hanya karena ditaklukkan oleh Allah secara luaran, atau ditundukkan oleh pendisiplinan Allah melalui lingkungan, melainkan sorotan batiniahlah yang merebahkan Anda. Tegasnya, pendisiplinan Allah melalui lingkungan setiap orang yang masih tidak dapat merebahkan Anda; sorotan cahayalah yang membuat Anda rebah. Memang, ada orang yang juga memerlukan kerja sama dari pendisiplinan luaran, tetapi rebah di hadapan Allah, selalu karena sorotan terang. Sorotan terang ini menyoroti Anda sedemikian rupa sehingga Anda merasa tidak ada tempat persembunyian lagi bagi Anda, di mana pun tidak, tidak ada ternpat untuk menaruh diri Anda. Akibatnya, Anda menemukan bahwa sandaran Anda satu-satunya adalah darah, dan dengan demikian Anda menjadi orang yang rebah ke tanah. Seluruh diri Anda tidak dapat lari dari hadapan Allah, dan Anda hanya dapat bersembunyi di bawah darah. Demikianlah, Anda baru mampu berdoa.

4. PEKERJAAN TERANG HAYAT

PADA SISI POSITIF

Ketika kita hidup dalam terang hayat, pekerjaannya di dalam kita selalu ada dua sisi. Pada sisi negatif, terang itu menanggulangi kita, menguji, menembus, menyingkapkan, membersihkan, menaklukkan, dan akhimya merebahkan kita. Pada sisi positif, terang ini membuat kita memiliki beban doa, bimbingan doa, perkataan doa, dan pengutaraan doa. Beban, bimbingan, perkataan, dan pengutaraan doa itu adalah hasil dari sorotan terang hayat di dalam kita. Sorotan dalam kita ini adalah pengurapan minyak urapan di dalam kita. Begitu Anda memiliki pekerjaam positif dari sorotan terang, belajarlah menghentikan diri Anda dan berdoalah di hadapan Allah menurut sorotan itu. Jangan terlalu mempedulikan keperluan dalam lingkungan di luar atau memperhatikan pokok-pokok doa dalam ingatan Anda. Berdoalah menurut apa saja yang disorotkan oleh terang itu dan apa saja yang diurapkan di dalam Anda.

Saudara-saudara, hanya orang yang sudah belajar pelajaran doa yang dapat mengenal apa yang dimaksud dengan "angin bertiup ke mana ia mau." Hanya orang semacam itulah yang tahu apa artinya roh bergerak dengan leluasa. Pada saat ini, Anda mulai dapat memahami bagaimana roda besar dalam Yehezkiel 1 sepenuhnya mengikuti gerakan roh. Ke mana roh itu pergi, ke situlah roda besar itu pergi. Anda tidak membuat keputusan untuk berdoa bagi pekerjaan anu, berdoa untuk si anu, atau berdoa untuk gereja di suatu tempat. Sebaliknya, sepenuhnya berdoa menurut gerakan roh di batin. Roh di batin bertiup seperti angin. Yang perlu. Anda lakukan adalah mengikuti tiupannya.

Ambillah doa-doa Daniel sebagai contoh, dan Anda akan nampak bahwa Roh Kudus bekerja di dalam dia secara positif maupun secara negatif. Anda dapat melihat bahwa Daniel adalah orang yang rebah di hadapan Allah; bukan hanya dirinya sendiri yang rebah, juga mewakili seluruh rakyat Israel. Setelah dia membiarkan terang hayat itu bekerja di dalamnya, dia mulai mengutarakan doa-doa yang positif di hadapan Allah. Dia dapat berseru kepada Allah "Ya Allah kami buatlah wajah-Mu bercahaya atas tempat kudus-Mu ... demi Tuhan ... Ya Tuhan, dengarkanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri ..." (Dan. 9:17, 19). Lihatlah betapa doa ini menjamah ketinggian dan kedalaman! Inilah yang kita maksudkan dengan pekerjaan positif terang hayat di dalam kita.

Saudara-saudara, saya percaya bahwa banyak orang di antara kita perlu memasuki pelajaran doa ini. Kita mungkin memberi tahu orang yang baru beriman, "Hari Senin, doakanlah sanak saudara dan sahabat Anda; hari Selasa, doakanlah gereja; hari Rabu, doakanlah Injil. dan hari Kamis, berdoalah untuk pekerjaan di luar negeri." Mungkin tidak salah memberi tahu orang yang baru beriman agar berdoa seperti itu sebagai latihan awal, tetapi pengalaman memberi tahu kita, bahwa doa-doa yang kaku itu perlahanlahan akan menjadi doa-doa yang mati. Semakin Anda berdoa demikian, Anda akan semakin mati, batin Anda semakin hampa, semakin sedikit menjamah realitas, dan perasaan batin Anda semakin buruk. Karena itu, kita perlu belajar diterangi oleh hayat. Kapan saja kita datang ke hadapan Allah untuk membakar ukupan, kita harus belajar menyajikan sesuatu di meja roti saiian. Kita juga harus belajar menyalakan dan membereskan pelita pada kaki dian. Pada sisi negatif kita perlu rebah di bawah sorotan. Pada sisi positif, kita perlu membiarkan terang itu mengurapi kita dengan apa yang Allah inginkan dan yang hendak Dia rampungkan. Kemudian hal-hal itu akan menjadi beban dan bimbingan kita. Sorotan dan pengurapan ini akan memberi kita perkataan dan pengutaraan untuk berdoa di hadapan Allah.

Bacalah doa dalam Daniel 9, dan Anda akan mengakui bahwa Daniel adalah orang yang tidak hanya memiliki beban, tetapi juga pengutaraan untuk berdoa. Perhatikanlah apa yang didoakannya, "Ya Allah ... buatlah wajah-Mu bercahaya atas tempat kudus-Mu demi Tuhan." Perkataannya, ekspresinya, benar-benar penuh pengutaraan yang membuat Allah tidak bisa tidak terjamah. Perkataan itu mampu mengikat Allah dan membuat Allah harus bertindak. Doa itu diutarakan bukan hanya karena seseorang ingin berdoa di hadapan Allah, sebaliknya, karena ada orang yang sudah disoroti secara batiniah, rebah di hadapan Allah, dan pada saat yang sama menerima beban, bimbingan, perkataan, dan pengutaraan yang positif dari Allah. Kemudian dia berdoa menurut sorotan batiniah. Karena itu, doa semacam ini sangat bernilai dan berbobot di hadapan Allah.

Kita semua perlu belajar menghentikan seluruh aktivitas kita. Kita tidak seharusnya membiarkan keputusan kita. ingatan kita, keperluan luaran kita, atau kegelisahan kita mengganggu pekerjaan positif terang hayat di dalam kita. Kita seharusnya hanya berdoa di hadapan Allah berdasarkan apa yang kita lihat dan rasakan di bawah sorotan positif dari terang di dalam kita.

5. PERHENTIAN PENERANGAN HAYAT

Ketika kita menjamah pekerjaan sorotan hayat pada sisi positif dan berdoa berdasarkan sorotan itu, sampai suatu saat kita pasti akan memiliki perhentian dalam batin. Perhentian semacam itu tidak dapat dijelaskan oleh pikiran. Perhentian itu sepenuhnya merupakan sesuatu yang ada di dalam roh. Kerap kali, walaupun pikiran kita diserang dan diganggu, dan emosi kita sedih, tetapi ada suatu perhentian yang tidak dapat dijelaskan dalam diri kita. Secara rasional, gangguan itu mungkin berasal dari pengaruh lingkungan atau serangan Iblis, tetapi kita. hanya perlu percaya kepada perhentian dalam batin kita. Yang jelas, kalau berdasarkan pekerjaan positif sorotan hayat di dalam Anda, Anda mengutarakan semua beban, bimbingan, perkataan, dan pengutaraan yang Anda rasakan, maka Anda pasti penuh perhentian dalam batin. Di luar, Anda mungkin diserang dan diganggu secara mental dan emosional. Belajarlah untuk mengabaikan hal itu. Percayalah saja kepada damai di dalam, lalu beristirahatlah sepenuhnya. Dengan demikian pengalaman akan memberi tahu Anda, bahwa Anda bukan hanya orang yang penuh perhentian, tetapi juga orang yang terang. Anda transparan, penuh perhentian, dan sangat terang. Selain itu, pacia saat ini, Anda dapat mengetahui keadaan batin siapa saja yang datang kepada Anda, apakah terang atau redup. Ini sangat ajaib. Karena Anda ada di dalam terang, maka Anda dapat merasakan berapa banyak terangnya dan berapa banyak gelapnya. Inilah keadaan transparan manusia yang merupakan hasil sorotan hayat dalam doa.

Kiranya gambaran dalam Kemah Perternuan dengan jelas tertera di dalam kita. Saat wangi-wangian membubung dari mezbah pembakaran ukupan, terang di kaki dian selalu. bersinar. Keduanya berbaur dan saling mengisi dengan sempurna. Tanpa kecuali, setiap kali wangi-wangian membubung, terang pun menyorot.

Saudara-saudara, kalau Anda belajar pelajaran doa sampai taraf ini, batin Anda akan terang. Bila Anda berdoa, Anda akan merasakan ada wangi-wangian yang membubung dan Anda akan merasa sangat tenang dan teduh. Pada saat yang sama, Anda juga akan berada dalam terang dan merasa bening, transparan. Karena itu, kita perlu belajar hidup dalam terang agar kita dapat menjadi manusia doa yang sejati.

Mengenai hal doa, hari ini banyak anak Allah yang terlalu memperhatikan jawaban atas doa dan berharap terlIalu banyak untuk memiliki iman yang hidup. Saya harap, mulai hari ini, kita tidak menganggap hal-hal itu terlalu tinggi. Jangan terlalu memperhatikan doa Anda dijawab atau tidak. Jangan pula terlalu memperhatikan yang disebut iman. Belajarlah dengan rajin untuk disoroti oleh hayat. Belajarlah untuk menerima terang dalam batin dan diterangi sampai Anda rebah di bawah sorotan terang itu. Belajarlah untuk berdoa di hadapan Allah berdasarkan pekerjaan positif dari sorotan terang itu. Berdoalah sampai Anda merasa lega dan tenang di batin. Kemudian, Anda penuh perhentian. Itu sudah cukup baik. Praktekkanlah hal itu dan Anda akan nampak, bahwa doa Anda diperkenan Allah, dan bahwa Anda adalah orang yang damai, penuh perhentian, dan juga terang.

Bab16

KEHARUSAN BERDOA

DI DALAM KEBANGKITAN

1. PERNYATAAN LAMBANG PERJANJIAN LAMA

Mulai berita ketiga belas kita membicarakan beberapa aspek doa berdasarkan lambang Perjanjian Lama. Berdasarkan hubungan antara mezbah bakaran dengan mezbah ukupan, kita membicarakan salib dan doa; berdasarkan hubungan antara meja roti sajian dengan mezbah ukupan, kita membicarakan suplai hayat dan doa; juga berdasarkan hubungan antara kaki dian emas dengan mezbah ukupan, kita membicarakan terang hayat dan doa. Sekarang kita masih akan dari mezbah ukupan membicarakan bahwa berdoa haruslah di dalam kebangkitan.

Mezbah ukupan mutlak adalah sesuatu yang ada di dalam kebangkitan. Kita semua jelas, bahwa dalam pengalaman rohani, pelataran dari Kemah Pertemuan mengacu kepada bumi, aspek bumiah; ruang Kudus dan ruang Mahakudus mengacu kepada surga, aspek surgawi. Semua yang surgawi berada di dalam kebangkitan. Roti sajian mengacu kepada Tuhan sebagai makanan hayat kita, ini di aspek surgawi, di dalam kebangkitan. Kaki dian emas mengacu kepada Tuhan sebagai terang hayat kita, juga di aspek surgawi, dan di dalam kebangkitan. Mezbah ukupan mengacu kepada manusia berdoa di hadapan Allah, hal ini lebih-lebih di aspek surgawi, berada di dalam kebangkitan.

Dalam seluruh Alkitab, begitu menyinggung seseorang datang ke hadapan Allah untuk membakar ukupan, selalu mengacu kepada manusia datang ke hadapan Allah untuk berdoa. Misalnya, dalam permulaan Injil Lukas dikatakan tentang Zakharia, bapa Yohanes Pembaptis, masuk ke dalam Bait Allah untuk membakar ukupan, ketika ia membakar ukupan, rakyat di luar sedang berdoa. Dalam Wahyu 5 dan 8 juga disinggung tentang membakar ukupan di hadapan Allah, itu adalah doa-doa kaum saleh yang sampai di hadirat Allah. Membakar ukupan berarti berdoa.

Di antara benda-benda yang ditaruh di atas mezbah ukupan, atau di antara rempah-rempah yang dibakar, ada satu benda yang paling utama yaitu kemenyan. Kemenyan dalam Alkitab mutlak mengacu kepada kebangkitan, sebagaimana mur dalam Alkitab mutlak mengacu kepada kematian. Kemenyan yang dibakar di mezbah ukupan ini adalah satu tanda kebangkitan; bahkan ketika bau harum kemenyan yang terbakar ini membubung ke atas, aromanya itu mutlak adalah satu suasana kebangkitan. Karena itu menurut lambang Perjanjian lama, begitu seseorang datang ke hadapan Allah untuk membakar ukupan, ini mutlak adalah kisah di dalam kebangkitan. Ini juga berarti bahwa doa manusia di hadapan Allah harusiah di dalam kebangkitan.

Meskipun hari ini kita berdoa di bumi, tetapi sesungguhnya, setiap doa haruslah berada di atas kedudukan naik ke surga. Meskipun hari ini manusia kita berada di sini berdoa, tetapi setiap doa, juga harus di dalam kebangkitan. Setiap doa yang bisa diperkenan Allah, yang bisa dipandang sebagai bau-bau harum oleh Allah, haruslah di atas kedudukan naik ke surga, juga berada di dalam kebangkitan. Semakin kita mempelajari pelajaran berdoa, kita akan semakin tahu bahwa tuntutan doa adalah agar kita mutlak berada di dalam kebangkitan. Di mezbah bakaran tidak ada pembakaran ukupan, tidak ada doa; semua bau-bau harum ukupan harus dibakar di mezbah ukupan. Hanya di dalam kebangkitan baru bisa mempersembahkan bau harum ukupan doa, baru bisa memiliki doa yang diperkenan Allah. Saya rasa, gambaran atas lambang ini sangatlah jelas.

Seluruh gambaran tentang Kemah Perternuan, mulai dari mezbah bakaran di pelataran luar, bejana pembasuhan, roti sajian di ruang kudus, mezbah ukupan emas, adalah untuk satu perkara yaitu agar manusia bisa datang ke hadapan Allah untuk membakar ukupan, bisa datang ke hadapan Allah untuk memanjatkan doa yang menghampiri Allah dan menjamah Allah. Dan doa ini mutlak berada di dalam kebangkitan.

2. MAKNA KEBANGKITAN

Sebenarnya apakah kebangkitan itu? Kita akan melihatnya dari tiga aspek:

a. Kebangkitan Adalah Mati dan Bangkit

Kebangkitan berarti bahwa seluruhnya telah melewati mati, tetapi hidup kembali dari kematian. Makna kebangkitan adalah mati dan bangkit. Ingatlah, segala yang disalahkan Allah, yang tidak diinginkan Allah, begitu melewati mati, pasti tamat. Kematian membuat segala sesuatu tidak bisa tinggal kekal, yang tidak bisa serasi dengan Allah, yang berasal dari manusia, tentu akan tamat. Sedangkan kebangkitan membuat segala yang mirip Allah, yang bisa serasi dengan Allah, terekspresi keluar. Kebangkitan yang disinggung dalam Alkitab mengacu kepada telah dibereskennya segala yang bukan berasal dari Allah dan telah diekspresikannya segala yang berasal dari Allah. Inilah arti yang murni dari mati dan bangkit. Bangkit berbeda dengan bidup, hidup adalah keadaan yang ada, yang tidak melewati mati; bangkit adalah melewati mati dan hidup kembali. Semua yang tidak bisa serasi dengan Allah, bukan berasal dari Allah, tidak bisa tinggal kekal, begitu masuk ke dalam mati akan tamat, berakhir. Namun yang berasal dari Allah, yang bisa serasi dengan Allah, yang bisa tinggal kekal, meskipun melewati mati masih bisa bangkit kembali. Jadi, arti berdoa di dalam kebangkitan adalah manusia tidak berdoa berdasarkan diri sendiri, tidak berdoa berdasarkan alamiah, tidak berdoa berdasarkan yang tidak bisa tinggal kekal, tidak berdoa berdasarkan yang tidak bisa serasi dengan Allah. Manusia mutlak melewati salib, melewati kematian, dan berdoa di dalam kebangkitan.

b. Kebangkitan Adalah Allah

Dalam Yohanes 11:25, Tuhan Yesus dengan jelas berkata, "Akulah kebangkitan." Allah adalah kebangkitan. Bukan hanya ketika sampai pada Perjanjian Baru, bahkan dalam Perjanjian Lama, Allah sudah sebagai kebangkitan. Mungkin ada orang berkata, bahwa dalam zaman Perjanjian Lama, saat Allah belurn berinkarnasi menjadi manusia, bagaimana bisa mengatakan bahwa Dia adalah kebangkitan? Ingatlah, pada Allah tidak ada seluk-beluk waktu lebih dahulu atau belakangan, hanya ada persoalan substansi (unsur). Allah itu hayat, hayat ini adalah kebangkitan. Ini berarti bahwa hayat ini tidak takut melewati mati, sekalipun melewati mati, akan tetap ada. Semua hayat makhluk hidup di bumi ini, begitu melewati mati, tamatlah ia. Karena itu, semua hayat itu bukanlah kebangkitan. Tetapi substansi (unsur) hayat Allah ini tidak bisa ditamatkan oleh kematian, sekalipun melewati mati, masih akan tetap tinggal, karena itu hayat Allah adalah kebangkitan.

Seorang saudara mengucapkan perkataan yang sangat berarti. Bila sebutir pasir ditanarn ke dalam tanah; begitu ditanam segera tamat, tidak bisa keluar lagi. Tetapi sebutir benih, tidak takut ditanam ke dalam tanah; karena begitu ditanam, dia menjamah kematian lalu bangkit kembali. Inilah keadaan yang sesungguhnya. Begitu orang kafir tiba pada kematian, tamatlah ia. Namun orang Kristen tidak demikian. Begitu kita sampai pada kematian, fungsi hayat yang ada di dalam kita segera berdaya guna. Orang kafir takut kepada kematian, orang Kristen tidak. Kapan kala seorang Kristen jatuh ke dalam kematian, saat itu juga ada kesempatan untuk hidup, bahkan bangkit. Hayat Allah adalah kebangkitan. Dia selamanya tidak takut mati. Dia menyambut kematian, karena kematian justru mengekspresikan bahwa Dia adalah kebangkitan. Jadi, apakah berdoa di dalam kebangkitan? Berdoa di dalam kebangkitan adalah berdoa di dalam hayat, berdoa di dalam Allah yang tidak takut kepada kematian, berdoa di dalam Allah yang telah melewati mati namun masih bisa bangkit.

c. Kebangkitan Adalah Roh Kudus

Di dalam kebangkitan juga adalah di dalam Roh Kudus. Tuhan Yesus masuk ke dalam alam kebangkitan berarti masuk ke dalam Roh Kudus. Pengalaman Anda dan saya hari ini di dalam Roh Kudus adalah di dalam kebangkitan. Dengan kata lain, orang yang berada di dalam Roh Kudus baru bisa menjamah realitas kebangkitan. Roh Kudus adalah realitas kebangkitan. Tuhan Yesus masuk ke dalam kebangkitan, perkataan ini sangat sulit dipahami. Namun, jika Anda nampak bahwa di dalam kebangkitan adalah di dalam Roh Kudus, menjamah Roh Kudus berarti menjamah kebangkitan, Anda akan memahaminya. Berdoa di dalam kebangkitan adalah berdoa di dalam Roh Kudus.

Di dalam Roh kebangkitan ini terkandung kadar Allah juga terkandung kadar manusia. Dulu telah kita lihat bahwa ukupan dan wangi-wangian yang ditaruh di mezbah ukupan dalam Keluaran 33 bukan hanya ada kemenyan, juga ada beberapa macam rempah- rempah lainnya. Demikian juga, di dalam cara pembuatan minyak urapan, menyatakan di dalamnya ada kadar Allah dan kadar manusia. Ukupan sulit dipisahkan dengan minyak urapan. Dalam realitas rohani, realitas ukupan adalah minyak urapan, realitas minyak urapan adalah ukupan. Dengan kata lain, realitas kebangkitan adalah Roh Kudus, Roh Kudus adalah hakiki kebangkitan. Menjamah Roh Kudus berarti menjamah kebangkitan. Namun jangan sekali-kali mengira, bahwa dalam hal ini insaninya sama sekali telah disingkirkan. Insaninya tidak disingkirkan, melainkan berada di dalam kebangkitan. Tak peduli bagian mana dari manusia, misalnya pikiran, angan-angan, emosi, kesenangan, pandangan, daya untuk memutuskan atau memilih, semuanya bisa diperbarui dalam Roh Kudus, bisa dibaurkan di dalam doa kebangkitan. Pikiran, emosi, tekad dari doa yang kita singgung dalam berita ini semuanya adalah hal-hal di dalam kebangkitan.

Jadi, makna kebangkitan bukan hanya membuat segala yang berasal dari manusia dibereskan, membuat segala yang berasal dari Allah diekspresikan, bahican kebangkitan adalah Allah menjadi hayat manusia, dan kebangkitan juga adalah Roh Kudus. Berdoa di dalam kebangkitan adalah berdoa di dalam Roh Kudus. Jika kita telah mengenal makna doa, kita baru bisa memahami mengapa berdoa harus di dalam kebangkitan.

3. BERDOA DI DALAM KEBANGKITAN

Setiap kali kita berdoa di hadapan Allah, perlu dengan sangat hebat mengalami mati dan bangkit. Misalnya, Anda berdoa bagi gereja, atau berdoa bagi pekerjaan Allah. Jika Anda tidak kasar, Anda sedikit tenang di hadapan Tuhan, batin Anda akan tahu, bahwa di dalam doa Anda terdapat banyak kadar alamiah, kadar manusia. Jika Anda memperhatikan dengan baik, ketika Anda berdoa, batin Anda pasti bisa menganalisis, bahwa ada banyak kadar alamiah, pikiran, hobi, kecenderungan, pilihan, dan permintam manusia. Saat demikian, jika Anda kasar dan ceroboh tetap mengumbar keinginan sendiri, dan memanjatkan doa di hadapan Allah, Anda akan merasa bahwa Anda bagaikan mempersembahkan api asing. Atau boleh dikatakan, seperti mempersembahkan ukupan asing. Itu bukanlah rempah-rempah ukupan yang Allah kehendaki. Anda bisa merasakan bahwa itu tidak benar; jangankan Allah tidak mendengar, di dalam diri Anda sendiri pun menghakiminya. Jika Anda telah belajar dengan baik, begitu mengalami.hal ini, Anda segera tidak bisa berdoa, satu patah kata pun tidak bisa keluar, saat itu Anda perlu membiarkan salib terlehih dulu mengerjakan beberapa hal. Anda memerlukan salib melakukan pekerjaan pemisahan, melakukan pekerjaan pembersihan, agar barang-barang alamiah disaring bersih, kalau tidak, Anda tidak bisa berdoa.

Ketika kita baru beroleh selamat, kita mudah sekali membuka mulut di hadapan Allah, sepertinya penuh keberanian, apa pun boleh didoakan dan berani mendoakannya. Tetapi lambat laun, setelah kita belajar pelajaran, banyak hal yang tidak lagi bisa kita doakan di hadapan Allah. Mulanya, kelihatannya kita berdoa, tetapi setelah kita berlutut, di dalam kita merasa bahwa atas hal-hal tertentu masih ada kecenderungan, kesenangan, pilihan, pandangan, pendapat sendiri, dan opini diri sendiri.

Adakalanya kita melihat ada masalah di antara dua saudara, lalu kita ingin berdoa bagi mereka. Namun begitu kita mau membuka mulut, segera menemukan bahwa di dalam diri kita sudah tidak benar, temperamen kita muncul, telah terjamah oleh perkara tersebut. Jika kita tidak membereskan keadaan ini, kita tidak bisa berdoa di hadapan Allah. Bahkan doa untuk keperluan material pun sering kali tidak bisa kita ucapkan. Karena kita menemukan bahwa berdoa untuk hal itu sangatlah di dalam diri sendiri, tidak di dalam kebangkitan, sehingga kita merasa bahwa doa ini tidak bisa kita ucapkan. Semua pengalaman itu membuktikan bahwa kita telah belajar di hadapan Allah.

Orang yang tidak pernah belajar, begitu berdoa ke hadapan Allah, sungguh sangat berani, apa pun berani didoakan. Saya tahu ada orang yang berdoa demikian di hadapan Allah, “Ya Allah, libatlah orang itu demikian bersalah kepadaku, Engkau harus mengulurkan tanganmu untuk memukul dia lebih hebat daripada dia memukul aku." Juga ada saudari yang karena kesal kepada suaminya, Ialu sambil menangis ia berdoa, “Ya Tuhan, Engkau harus membelaku, Engkau harus mengulurkan tangan-Mu untuk menanggulangi suamiku." Mendengar doa sedemikian Anda tahu, mereka bahkan mungkin belum memasuki pelataran luar dari Kernah Pertemuan, karena itu mereka sangat berani. Orang yang benar-benar telah masuk ke ruang kudus, menjamah mezbah ukupan, dan telah belajar sedikit pelajaran, tidak bisa memiliki doa semacam itu. Sering kali dia tidak bisa berdoa, hanya bisa mengeluh.

Saudara saudari, saya sangat yakin, bahwa "Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan", yang dikatakan dalam Roma 8, adalah dikarenakan kita tidak bisa mengerti prinsip kebangkitan. Sering kali doa kita berada di dalam diri kita sendiri, begitu Roh Kudus melarang di dalam kita, kita segera tidak tahu harus bagaimana berdoa. Misalnya, kita menjenguk seorang saudara yang sakit. Di dalam kita jelas, bahwa tangan Allah di atas dirinya tidak ada tujuan lain selain menginginkan dia meninggalkan dunia ini. Namun istrinya yang adalah seorang saudari, mengharapkan suaminya sembuh. Saat ini kita merasa sulit untuk berdoa. Ada kalanya kita mau tak mau menjadi orang yang "baik hati" dan berkata, “Ya Tuhan, bagi-Mu tidak ada yang mustahil, Engkau bisa membuat orang mati bangkit; ya Tuhan, Engkau adalah pemberi damai sejahtera, Engkau tidak memberikan malapetaka, Engkau. pasti bisa menyembuhkan saudara anu." Saat Anda berdoa demikian, Anda tahu bahwa ini adalah doa yang untuk menyenangkan orang saja. Secara umum, di sana kita tidak bisa berdoa. Kita tidak bisa berkata, “Ya Tuhan, kami bersyukur dan memuji-Mu, Engkaulah yang bekerja di sini, akan menjemput saudara ini." Kita tidak berani berdoa demikian; kita hanya bisa mengeluh. Sering kali, Roh Kudus di dalam kita berdoa dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan karena kita tidak bisa menjangkau prinsip mati dan bangkit. Yang negatif tidak bisa kita doakan, yang positif juga tidak bisa kita doakan, karena itu kita hanya bisa membiarkan Roh Kudus di dalam kita berdoa dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Saudara-saudara, tengoklah dan periksalah sejarah penuntutan Anda terhadap Tuhan, Anda akan nampak, bahwa pada permulaan Anda baru beroleh selamat, keberanian Anda terhadap hal doa sangat besar, tidak ada perkataan yang tidak berani Anda ucapkan, tidak ada perkara yang tidak berani Anda minta, setiap kali datang ke hadapan Allah, apa yang dipikirkan itulah yang didoakan. Tetapi lambat laun, Anda nampak nyali Anda semakin kecil, ini tidak berani Anda doakan, itu juga tidak berani Anda doakan. Semuanya itu membuktikan bahwa Anda telah memiliki kemajuan di hadapan Tuhan.

Saya pernah berjumpa dengan banyak saudara saudari yang sangat berani berdoa, untuk keluarga, untuk pekerjaan, untuk anak- naknya, semua isi doanya tidak lain mohon berkat, mohon umur panjang, mohon damai sejahtera, bahkan masih disertai dengan dasar Alkitab dan berkata, “Ya Allah, Engkau penuh belas kasihan dan rahmat, Engkau tidak pernah menyuruh manusia menderita. EngIcau. pernah memberikan Putra-Mu kepada kami. Tidak ada satu pun yang baik yang tidak Kauberikan kepada kami." Ketika saya masih muda dan mendengar doa ini, di dalam terasa tidak nyaman, tetapi tidak bisa menyebutkan penyebabnya. Lambat laun baru mengerti bahwa itu mutlak bukan membakar ukupan di mezbah ukupan, itu adalah doa yang tidak melewati mati, yang tidak pernah belajar, dan yang dengan sembarangan datang ke hadapan Allah. Semakin Anda belajar pelajaran ini, ruang lingkup doa Anda akan semakin kecil, nyali Anda pun semakin kecil. Adakalanya kita merasakan membuka mulut di hadapan Allah itu hampir sama dengan menghina Allah. Kita tidak berani mendoakannya, karena di dalam kita ada satu larangan, ada satu yang menghakimi. Ini bukan karena orang lain memberi tahu kita, melainkan ketika kita ingin berdoa, di dalam kita dengan spontan timbul perasaan itu. Adakalanya begitu mau membuka mulut, di dalam merasakan bahwa di sini ada kesenanganku, tujuanku, pilihanku. Begitu ada perasaan ini, segera tidak berani melanjutkan berdoa.

Karena itu, orang yang makin belajar hal doa di hadapan Allah, begitu datang ke hadapan Allah, seolah-olah doanya makin sedikit, karena banyak hal tidak bisa didoakan. Melalui penyaringan sedemikian, yang masih tersisa dan berani didoakan barulah merupakan doa di dalam kebangkitan. Hal ini tidaklah mutlak atas diri setiap orang, melainkan relatif. Semakin dalam dan hebat pelajaran yang Anda pelajari, maka ruang lingkup doa yang bisa dan berani Anda doakan semakin kecil. Orang yang paling bisa dan mampu berdoa justru memiliki ruang lingkup yang paling kecil. Hanya orang yang tidak bisa berdoa yang memiliki ruang lingkup doa yang luas.

Adakalanya Anda bertengkar dengan saudara lain, di dalam Anda merasa sangat benar, sangat beralasan, karena itu perkataan Anda sangat nyaring. Tetapi cobalah lihat, bisakah Anda berdoa? Bisakah Anda berdoa dan berkata, "Ya Allah, aku beralasan, perkataanku benar, motivasiku juga benar? Orang yang telah belajar pasti tidak berani berdoa demikian. Bukan hanya perkataan yang tinggi yang tidak berani dibawa ke hadapan Allah, bahkan perkataan yang biasa pun tidak. Orang yang benar-benar telah belajar, begitu datang ke depan mezbah ukupan untuk berdoa, Timur tidak bisa ia katakan, Barat pun tidak bisa ia katakan. Tidak ada satu tempat yang lebih hebat yang menuntut kita untuk melewati mati dan bangkit daripada mezbah ukupan. Inilah permintaan doa.

Saya pernah menjumpai saudara yang demikian. Ketika Anda berdebat dengan dia, dia sungguh tidak kekurangan kata-kata, berdebat dengan sangat hebat, semuanya dia yang beralasan. Namun setelah selesai berdebat, dan semua orang berdoa bersama, kalimat pertama dari doanya adalah mengaku dosa dan berkata, "Ya Tuhan, semua yang kukatakan tadi adalah berdosa kepada-Mu, mohon Engkau mengampuni." Lihatlah, begitu seseorang berdoa, dia segera menjumpai tuntutan mati dan bangkit. Bukan hanya perkataan, bahkan angan-angan di dalam, motivasi, begitu datang pada mezbah ukupan, segera tersingkap. Karena itu, ketika kita membantu orang, tidak perlu berdebat terlalu banyak, paling baik adalah membawa orang itu ke hadapan Allah. Begitu berdoa, di dalam pasti segera tahu bahwa ini belum melewati mati, ini adalah alamiah, ini tidak di dalam kebangkitan.

Terhadap perkara doa ini, saya memiliki perasaan yang sangat dalam. Hari ini di tengah-tengah anak-anak Allah ada satu opini yang sangat salah yang memberi tahu orang, bahwa jika berdoa harus beriman; jika mau doanya didengar oleh Allah, imannya harus cukup. Hari ini, begitu orang membicarakan doa, pasti membicarakan iman. Tetapi saya ingin memberi tahu saudara saudari, iman tidak akan muncul saat Anda ingin beriman. Syarat utama dari doa bukan terletak pada iman, melainkan terletak pada bisa tidaknya Anda melewati mezbah bakaran dan sampai pada mezbah ukupan. Doa adalah cerita mati dan bangkit, doa bukan cerita iman.

Doa sama sekali adalah cerita di antara dua mezbah, yaitu dari mezbah bakaran ke mezbah ukupan. Segala yang harus dihakimi Allah, segala yang tidak bisa sesuai dengan Allah, segala yang tidak bisa tinggal hingga kekal, harus Anda bereskan dengan jelas di mezbah bakaran. Anda harus membakar kurban ukupan Anda di hadapan Allah dengan api mezbah bakaran. Setiap doa yang bisa Anda panjatkan di dalam roh kebangkitan, tidak perlu Anda khawatirkan iman Anda. Allah justru adalah iman Anda. Allah pasti mendengar doa di dalam kebangkitan. Asal Anda telah belajar pelajaran mati dan bangkit, berdoa di bawah prinsip mati dan bangkit, Anda pasti memiliki bimbingan doa, memiliki perkataan doa, dan memiliki iman doa. Di dalam kebangkitan, Anda tidak bisa tidak beriman. Anda tidak perlu membicarakan iman, juga tidak perlu memperhatikan iman, Allah pasti mendengar doa Anda.

Itulah sebabnya ketika Roma 8 membicarakan doa, sama sekali tidak menyinggung tentang iman, hanya mengatakan bahwa Roh Kudus membantu kelemahan-kelemahan kita. Kita tidak tahu bagaimana berdoa, tetapi Roh Kudus dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan berdoa bagi kita. Doa dalam pasal 8 mutlak bukan masalah iman, melainkan masalah doa yang berkeluh-kesah di dalam roh. Keluhan-keluhan itu adalah mati dan bangkit. Misalnya, ada seorang saudara yang memperlakukan Anda dengan tidak baik, mengkritik Anda, mengata-ngatai Anda, menyerang Anda, menyebabkan Anda tidak tahan. Ketika Anda datang ke hadapan Allah untuk berdoa, sepertinya Anda ingin mendakwa dia, tetapi Roh Kudus di dalam Anda tidak mengizinkannya, sebaliknya malah menyuruh Anda berdoa bagi saudara tersebut, mohon Tuhan memberkatinya. Sering kali Anda tidak bisa demikian berdoa, Anda hanya dapat mengeluh. Inilah prinsip mati dan bangkit.

Bukan hanya berdoa harus di dalam kebangkitan, bahkan setelah berdoa masih harus belajar hidup di dalam kebangkitan. Tidak ada sedikit pun ukupan yang Allah perkenan untuk dibakar di luar mezbah ukupan. Semua ukupan hanya bisa dibakar di mezbah ukupan. Ini berarti semua doa manusia di hadapan Allah harus di dalam kebangkitan. Harus senantiasa memegang prinsip ini. Ketika Korah memberontak, Musa berkata bahwa mereka harus membawa perbaraan ukupan mereka yang telah dibubuhi api. Menurut makna rohani, membakar ukupan semacam itu berada di luar kebangkitan, yaitu di dalam alamiah. Doa yang demikian bukan hanya tidak bisa mendatangkan berkat, bahkan menimbulkan penghakiman murka Allah, mendatangkan kematian rohani. Karena itu kita harus belajar mempersembahkan doa di dalam kebangkitan agar berkenan kepada Allah. Hanya doa yang sedemikian inilah baru ada kuasanya, ada nilainya. Inilah makna keharusan berdoa di dalam kebangkitan.