SUPLAI HAYAT DAN DOA 1. PETUNJUK LAMBANG PERJANJIAN LAMA
Kami menempatkan bab ini setelah bab "Salib dan Doa" atas dasar prosedur di dalam Kemah Suci. Ketika imam hendak masuk ke dalam mezbah ukupan untuk membakar ukupan, dia terlebih dulu harus melalui mezbah bakaran. Melalui hal ini kita dapat melihat hubungan antara salib dengan doa. Setelah melalui mezbah bakaran dan masuk ke dalam tempat Kudus, kita mendapatkan dua macarn perabot selain mezbah ukupan. Di sana ada meja roti sajian dan kaki dian emas. Roti sajian dan kaki dian emas adalah untuk mezbah ukupan. Dengan kata lain, siapa pun yang pergi ke hadapan Allah untuk membakar ukupan, harus terlebih dulu mempersiapkan roti sajian di atas meja dan mengatur dian-dian pada kaki dian. Mengatur dian-dian adalah masalah terang hayat, yang akan kita bahas dalam bab berikutnya. Dalam bab ini kita terlebih dulu melihat suplai hayat dan doa, yaitu hubungan antara meja roti sajian dengan mezbah ukupan.
Lambang Kernah Suci dalam Perjanjian Lama tidak hanya menunjukkan kepada kita bahwa meja roti sajian dan mezbah ukupan saling berhubungan, juga menampakkan kepada kita bahwa mereka yang membakar ukupan pada mezbah ukupan memakan makanan (persembahan) kudus dari mezbah. Kita tahu bahwa makanan kudus itu mengacu kepada Kristus sendiri sebagai makanan orang yang melayani Allah. Semua orang yang membakar ukupan pada mezbah ukupan bersandar pada makanan kudus dari mezbah bakaran sebagai suplai mereka. Selain itu, mereka tidak boleh mengabaikan aspek roti sajian ketika mereka ada di tempat Kudus. Ketika mereka membakar ukupan, mereka tidak hanya bersandar kepada kurban persembahan sebagai makanan mereka, tetapi juga sangat berkaitan dengan roti sajian. Persembahan kudus dan roti sajian yang ditempatkan di hadapan Allah menunjukkan suatu kenyataan, bahwa kepergian imam ke hadapan Allah untuk membakar ukupan dan berdoa berhubungan dengan suplai hayat. Karena itu, jika kita ingin mengerti apa artinya berdoa kepada Allah di dalam tempat Kudus, kita harus mengenal suplai dari makanan kudus dan roti sajian, yaitu hubungan antara suplai hayat dengan doa.
Lambang-lambang itu dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang yang membakar ukupan harus mengambil kurban persembahan sebagai makanan dan menyiapkan roti sajian di hadapan Allah. Setiap orang yang tidak makan kurban persembahan dengan baik dan tidak membawa roti sajian ke dalam tempat kudus, tidak dapat membakar ukupan di mezbah ukupan. Kedua aspek suplai hayat ini, yakni satu yang ada di dalam dan lainnya yang ada di luar adalah syarat mutlak bagi doa kita. Karena itu, orang yang berdoa di hadapan Allah harus mengambil Kristus sebagai suplai hayatnya sehari demi sehari, dari saat ke saat.
2. HAYAT DOA
Dalam bab 4 kita telah secara khusus membahas hayat doa. Hayat ciptaan baru yang kita terima memiliki berbagai ciri dan talenta. Salah satu dari ciri dan talenta ini adalah doa. Kita semua tahu bahwa jika kita dapat berdoa, di dalam kita terasa nyaman, tetapi jika kita tidak dapat berdoa, kita merasa terbelenggu, tidak nyaman, dan tidak wajar. Ini menunjukkan bahwa ciri-ciri dan talenta hayat di dalam kita menuntut kita untuk berdoa. Jika kita membiarkan talenta dinyatakan, talenta ini dengan sendirinya akan membawa kita ke dalam doa, dan karenanya kita akan merasa tentram. Tetapi, jika situasi kita tidak mengiiinkan hayat ini dengan spontan memimpin kita ke dalam doa, kita akan merasakan keadaan yang terbelenggu. Saya percaya anak-anak Allah sedikit banyak memiliki pengalaman ini. Perasaan terbelenggu ketika kita gagal berdoa, dan perasaan tentram ketika kita berdoa membuktikan bahwa hayat ciptaan baru di dalam kita adalah hayat yang berdoa.
3. DOA HAYAT
Semua doa yang sejati adalah doa hayat. Doa hayat ini berarti doa yang benar-benar berasal dari hayat. Karena doa ini berasal dari hayat, maka doa ini adalah doa yang sejati. Doa apa pun yang bukan berasal dari hayat adalah buatan, tiruan, paksaan, liturgis, dan luaran; dengan kata lain, doa itu palsu.
Misalnya, kita dikunjungi dua tamu, yang satu tua, berusia lebih dari enam puluh tahun, dan yang lain kanakkanak, berusia dua tahun lebih. Ketika kita berkumpul, saya perhatikan adanya perbedaan yang besar di antara kedua tamu tersebut dalam perkataan dan tingkah laku mereka. Kadang kala, tamu yang tua mencoba meniru senyum dari yang kanak-kanak; senyum tersebut adalah pura-pura, palsu. Pada waktu lain, tamu yang kanak-kanak mencoba meniru bahasa orang tua dan sedikit kedengaran seperti orang tua. Tetapi, terkhat bahwa anak itu sedang meniru bahasa lain. Dia belum berusia enam puluh, tetapi dia mengatakan perkataan seorang yang berusia enam puluh. Walaupun dia menirunya dengan baik, Anda masih harus mengakui bahwa itu adalah palsu, karena hayatnya belum mencapai tingkat itu. Jika dia berteriak dan menjerit membalikkan piring-piring, dan orang akan merasa bahwa itulah melemparkan mangkuk, tingkah lakunya yang sesungguhnya, karena tingkah laku itu dengan riil menyatakan tingkat hayatnya.
Ingatlah, doa orang Kristen juga demikian. Doa yang sejati pasti berasal dari hayat. Tidaklah mungkin ada jalan meniru nada, suara, kata-kata, bentuk, dan gaya doa siapa pun. Kalaupun Anda dapat menirunya dengan sangat baik, itu masih yang palsu.
Saudara saudari, saya harap Anda dapat melihat bahwa doa adalah perkara hayat. Terhadap perkara-perkara lain mungkin tidak terlalu ketat, tetapi doa secara unik dan mutlak adalah perkara hayat. Berapa banyak hayat Anda menentukan berapa banyak doa Anda. Hayat Anda adalah faktor penentu doa Anda. Keadaan hayat Anda menyatakan keadaan doa Anda. Jika ada masalah dengan hayat Anda, pasti ada masalah dengan doa Anda. Ini sangat jelas. Tidak mungkin ada orang Kristen yang hayatnya bermasalah namun doanya tidak. Hayat dan doa Anda langsung berhubungan satu sama lain, dan sejajar satu sama lain. Semua doa yang murni adalah doa hayat.
Kita pernah mengatakan, bahwa doa juga tergantung pada kata-kata. Tetapi jangan lupa, bahwa kata-kata adalah ungkapan dari tingkat hayat seseorang. Anda perlu mencapai tingkat hayat tertentu agar dapat mengatakan perkataan pada tingkat hayat itu. Kalau tidak, Anda boleh saja belajar mengatakannya, tetapi perkataan- perkataan itu tidak memiliki tunjangan hayat maupun bobot hayat. Jangan hanya melatih diri dalam doa tetapi mengabaikan perkara pertumbuhan hayat. Jika kita mengabaikan pertumbuhan hayat, doa kita akan mirip sandiwara. Karena itu, kita perlu mengukur doa kita dengan pertumbuhan kita dalam hayat. Ini adalah prinsip yang mutlak.
4. SUPLAI HAYAT
Berapa banyak suplai hayat yang kita terima menentukan berapa banyak bobot doa kita. Orang yang memiliki suplai hayat mungkin tidak berdoa dengan semua suplai hayatnya, tetapi orang yang tidak memiliki suplai hayat tidak mungkin dapat berdoa. Dengan kata lain, suplai hayat selalu melampaui doa; doa tidak pernah melampaui suplai hayat. Setelah ada suplai hayat, baru ada doa; tidak ada suplai hayat, tidak ada doa.
Jangan menganggap bahwa berkhotbah itu sangat sulit dan berdoa itu sangat mudah. Jika Anda berdoa dengan cara bersandiwara, tentu saja itu sangat mudah. Tetapi bukanlah hal yang mudah untuk memaniatkan doa yang berbeban, doa yang seiati, doa yang dapat menjamah takhta. Doa adalah perkara "menderita". Menurut catatan sejarah umat manusia, tidak pernah ada orang yang menderita sedemikian rupa sampai berpeluh darah. Akan tetapi di taman Getsemani, ada Seorang yang berdoa hingga berpeluh darah. Ketika Musa berdoa di atas bukit. Dia perlu Harun dan Hur menopang tangannya. Mengangkat tangan itu mudah, tetapi mengangkat tangan berdoa tidaklah mudah.
Saudara-saudara, saya tidak menemukan bagian mana pun dalam Alkitab yang mengatakan bahwa kita perlu berkhotbah puasa, tetapi saya menemukan bagian yang mengatakan bahwa kita perlu berdoa puasa. Apa maksud Alkitab mengatakan bahwa kita perlu berdoa puasa? Ini bukan berarti kita memperlakukan tubuh dengan kejam, melainkan melatih seluruh did kita untuk memikul beban atas suatu perkara. Beban itu menekan kita sehingga kita tidak merasa lapar, demikianlah kita berdoa puasa.
Doa dapat menyuplaikan hayat juga dapat menghabiskan hayat. Di satu pihak, doa dapat membuat orang menerima suplaian. Pada pihak lain, doa juga dapat membuat orang menghabiskan hayatnya. Jika doa tidak menyuplaikan hayat kepada Anda, maka doa itu adalah doa yang bermasalah. Di aspek lain, jika doa tidak menghabiskan hayat, doa ini juga bermasalah. Hanya doa-doa sandiwara yang tidak menghabiskan hayat. Doa yang sejati, yang memikul beban pasti akan menghabiskan hayat. Setelah berdoa selama satu jam, Anda perlu memenuhinya kembali dengan sejumiah besar hayat.
Karena itu, orang yang benar-benar mau berdoa harus tahu bagaimana mendapatkan suplai hayat. Sering kali kita menghampiri Tuhan bukan untuk berdoa, melainkan untuk bersekutu dengan-Nya, supaya mendapatkan suplai hayat. Untuk memiliki doa yang sejati, setiap hari, seseorang tidak boleh memikul terlalu banyak beban; kalau tidak, ini akan menjadi suatu kesulitan, juga suatu kerugian. Doa merupakan pekerjaan rohani yang paling tinggi dan yang berlangsung paling lama, karena itu doa benar-benar menghabiskan hayat. Anda dan saya tidak seharusnya bekerja secara berlebihan dengan prinsip yang sama, Anda dan saya tidak seharusnya berdoa secara berlebihan. Ini berarti doa kita tidak boleh melampaui suplai hayat. Setiap hari kita harus memiliki sejangka waktu yang cukup untuk menghampiri Tuhan guna menerima suplai-Nya, tanpa memikul beban doa apa pun.
Saya harap setiap saudara saudari ingat prinsip ini : jika Anda tidak menerima suplai hayat secara teratur setiap hari, doa Anda pasti bermasalah. Jika Anda tidak memiliki suplai hayat, Anda pasti tidak memiliki kehidupan doa. Karena itu, kita harus belajar menerima suplai Kristus sebagai hayat secara berkesinambungan. Terimalah suplai hayat melalui saat teduh, renungan, menyeru nama Tuhan, membaca Firman, dan bersekutu dengan orang-orang kudus. Ini akan membuat kita memiliki doa yang sejati di hadapan Allah. Di pihak lain, kita juga harus belajar menerima beban dalam doa; namun beban itu tidak boleh terlalu berat sehingga kita menderita kerugian. Setiap hari, kita harus menerima suplai hayat secara rutin; ini adalah prinsip doa yang besar.
5. PENANGGULANGAN HAYAT
Sangatlah sulit senantiasa memelihara hayat kita di hadapan Tuhan tetap dalam keadaan yang bebas dari masalah. Biasanya, tanpa kita sadari, hayat kita menghadapi beberapa masalah. Begitu hayat bermasalah, segera kita tidak dapat berdoa. Contohnya, kita mungkin tidak sependapat dengan Tuhan mengenai suatu perkara. Anda tidak mau taat kepada kehendak Tuhan dan sebaliknya Anda bersikeras bertindak menurut kehendak Anda sendiri. Begitu ada pertentangan, segera dalam hayat Anda ada masalah, dan Anda tidak dapat berdoa. Meskipun Anda tetap berdoa, doa-doa Anda tidaklah sejati. Anda harus membereskan pertentangan itu dengan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, aku membiarkan Engkau kembali menang dalam perkara ini. Aku rela Kaukalahkan." Pada saat ini, doa Anda akan dipulihkan.
Pertentangan bukanlah satu-satunya yang menimbulkan masalah dalam hayat, bahkan mengucapkan perkataan yang tidak perlu dalam kehidupan kita sehari-hari dapat mempengaruhi doa kita. Karena itu, kita harus dengan ketat menanggulangi semua hal yang mempengaruhi doa kita. Kita harus selalu membetulkan hal-hal yang berhubungan dengan keadaan hayat batini kita.
Tidak ada sesuatu pun yang membatasi dan mengendalikan manusia lebih serius daripada doa. Orang yang setiap hari banyak berdoa, atas dirinya pasti banyak pernbatasan. Jika Anda tidak berdoa selarna seminggu, Anda pasti telah jauh dari Tuhan, dan menjadi sangat kendor. Hal yang paling membuat manusia terbatasi adalah doa. Dalam segala hal Anda boleh melakukan sesuai dengan keinginan Anda, hanya doa yang tidak bisa Anda lakukan sekehendak hati Anda. Contohnya, ajaran Tuhan menunjukkan kepada kita, bahwa ketika kita berdoa, kita perlu mengampuni orang lain. Bila kita tidak mengampuni orang lain, kita tidak dapat berdoa. Karena hal inilah ada orang yang telah lama tidak berdoa. Meskipun kadang-kadang mereka juga berdoa, tetapi mereka tahu bahwa mereka berdoa dengan jarak yang amat jauh, mereka tidak berdoa di hadapan takhta Allah. Mereka tahu bahwa ada pernisahan, jarak, di antara mereka dengan Allah, karena mereka belum dapat mengampuni saudara mereka. Ini berarti hayat mereka menghadapi masalah. Oleh sebab itu, jika Anda bisa di dalam hayat membenahi pelajaran doa, Anda akan nampak, bahwa Anda bukan hanya akan belajar banyak dalam hal doa, tetapi juga. akan memiliki pertumbuhan dalam hayat setiap hari. Tidak ada kegiatan apa pun yang menuntut suplai hayat lebih banyak daripada doa, dan juga tidak ada sesuatu pun yang dapat membuat seorang Kristen bertumbuh lebih cepat selain doa. Yang membuat manusia paling cepat mengalami pertumbuhan hayat adalah doa di dalam hayat.
6. HIDUP DALAM HAYAT
Untuk belajar berdoa, terlebih dahulu kita harus belajar hidup dalam hayat, jangan keluar dari dalam hayat. Harus belajar menaati perasaan hayat dan hidup dalam persekutuan hayat. Kapan kala kita keluar dari dalam hayat, kita tidak akan memiliki jalan untuk berdoa. Orang yang paling banyak berdoa, paling tembus, dan paling herbobot dalam doa adalah orang-orang yang hidup dalam hayat secara berkesinambungan. Karena itu pelajaran doa mutlak adalah masalah rohani, masalah hayat. Tak peduli berapa banyak Anda belajar, hal itu selalu berhubungan dengan roh dan di seputar hayat. Semua pelajaran hayat ada di dalam roh, juga. di dalam hayat. Oleh sebab itu, jika kita ingin belajar berdoa, kita perlu menjadi orang yang hidup dalam hayat. Ini adalah butir yang paling riil.
Contoh lagi, gereja mengadakan sidang Pengabaran Injil. Ketika Anda menghadiri sidang itu, beberapa kemungkinan bisa terjadi. Mungkin Anda merasa, karena gereja mengabarkan Injil, maka penting bagi Anda sebagai saudara atau saudari yang melayani Allah turut mengambil bagian. Karena itulah Anda menghadiri sidang. Kemungkinan lain, ada penatua yang terus berbicara kepada Anda bahwa pengabaran Injil ini membutuhkan Anda, dan kehadiran Anda sangatlah penting. Karena tidak ada pilihan, maka Anda datang. Ingatlah, itu semua bukanlah hidup dalam hayat. Begitu Anda tidak di dalam hayat, Anda tidak mampu memanjatkan doa untuk masalah ini. Situasi yang seharusnya terjadi ialah di dalam roh Anda sungguh-sungguh memperhatikan pengabaran Injil, demikian secara otomatis Anda mampu berdoa. Karena itu saudara-saudara, untuk dapat berdoa Anda perlu belajar hidup dalam hayat dalam segala hal.
Demikian juga mengenai hubungan Anda dengan saudara saudari. Anda mungkin mempunyai banyak alasan untuk memelihara hubungan Anda dengan saudara saudari. Tetapi jika alasan-alasan itu tidak dalam hayat, selamanya tidak akan pernah dapat membuat Anda berdoa bagi saudara saudari. Anda dan saya perlu. belajar pelajaran yang hebat, menghakimi setiap hal yang bukan hayat. Bagaimana Anda tahu bahwa sesuatu itu berasal dari hayat? Anda harus bertanya apakah ada doa atau tidak. Jika hubungan Anda dengan saudara saudari berasal dari hayat, maka Anda akan banyak berdoa. Ini bukan karena saudara atau saudari meminta Anda berdoa bagi mereka, melainkan karena hubungan Anda dengan mereka adalah dari hayat, sehingga Anda tidak bisa tidak mendoakan mereka. Jika hubungan tersebut bukan dari hayat, walaupun Anda berminat untuk berdoa, di dalam batin Anda tidak akan merasa hal itu penting, dan karena itu Anda akan dengan mudah melupakannya setelah sejangka waktu.
Jadi ingatlah, di mana ada hayat, di sana ada doa; di mana tidak ada hayat, di sana tidak ada doa. Jika kita tidak hidup dalam hayat, maka doa kita bagi keluarga tidak akan bertahan lama, mungkin hanya berdoa sekali saja. Hanya dalam hayatlah doa yang sejati dan yang bertahan lama itu ada.
Saudara-saudara, belajarlah hidup dalam hayat. Kita harus mengakui, bahwa tidak begitu banyak orang yang berdoa di antara kita, sejumlah saudara saudari malah memiliki masalah dalam kehidupan doa mereka. Penyebab tidak adanya doa yang memadai ialah adanya masalah dalam hayat. Setiap kali ada masalah dalam hayat, pasti timbul juga masalah yang berhubungan dengan doa. Karena itu, untuk dapat berdoa, seseorang perlu belajar selalu hidup dalam hayat. Kajian, diskusi, anjuran, dorongan, dan pemberesan kesulitan, semua ini tidak berguna, karena tidak ada doa yang sejati. Hanya dengan belajar hidup dalam. hayat, barulah seseorang dapat memiliki doa yang sejati.
Misalnya suatu gereja lokal sedang bermasalah. Anda mungkin dengan maksud baik ingin meniadi juru-damai untuk membereskan semua masalah dengan mengatasi semua konsepsi dan pemikiran mereka yang berbeda, kemudian mempersatukan mereka. Semua cara itu berada di luar hayat, tidak ada gunanya, dan Anda juga tidak bisa memiliki doa yang sejati. Hanya ada satu jalan bagi Anda, untuk memiliki doa sejati yang menjamah takhta bagi masalah-masalah gereja, yakni atas hal itu Anda harus belajar hidup dalam hayat. Pernecahan masalah gereja tergantung pada doa Anda. Begitu ada doa hayat, masalah dalam gereja terbereskan. Tanpa hidup dalam hayat, doa Anda tentu tak bertahan lama, tidak sejati, dan tidak berguna.
Mengapa ada orang yang berdoa bagi Injil dan segera beberapa jiwa diselamatkan, sementara ada orang lain yang berdoa terus-menerus, tetapi tak seorang pun diselamatkan? Persoalannya, orang yang berdoa itu hidup dalam hayat atau tidak. Ada orang berkata kepada kita, "Kalian harus pergi dan bekerja di antara orang-orang tertentu" Saudara saudari, Anda mungkin mengatakan hal ini ribuan kali, tetapi ini masih tidak berguna. Di sini kita memerlukan orang yang hidup dalam hayat dalam, segala hal. Bukan pandangan alamiah, bukan pengamatan umum, melainkan belajar hidup dalam. hayat. Sebagai hasilnya, baru ada doa-doa dalam hayat. Doa-doa semacam itu adalah dari Tuhan, dan akan sangat efektif Kalau tidak, tak peduli betapa kerasnya Anda mencoba membereskan suatu masalah, semuanya akan sia-sia.
Semua doa sejati yang menjamah takhta berasal dari hayat. Maafkan saya, di banyak lokal saya melihat banyak problema pada saudara saudari, tetapi saya jarang berdoa bagi mereka, karena hayat saya tidak menjangkau lokalitas tertebut. Dengan kata lain, saya tidak memiliki kapasitas untuk memikul beban itu. Memikul beban, berarti bahwa dalam perkara itu Anda hidup dalam hayat. Berdoa syafaat bagi orang lain bukanlah perkara yang mudah dan ringan. Bukannya saya memberi tahu Anda, "Saudara, berdoalah untuk gereja ini atau gereja itu." Dan Anda menjawab, "Baiklah". Kemudian segera setelah Anda pulang, Anda berlutut dan berdoa, "0 Tuhan, belas kasihanilah gereja anu." Demikian tidak begitu berguna dan Anda tidak akan memiliki banyak doa. Kalaupun mungkin setelah berdoa dua atau tiga kali, Anda akan dengan mudah melupakannya dan mungkin setelah sebulan, Anda telah lupa bahwa Anda pernah berdoa untuk masalah itu.
Memiliki doa yang sejati berarti Anda mampu menerima masalahnya ke dalam hayat Anda. Seharusnya ketika Anda pergi dan mengontaki gereja yang mundur itu, di dalam batin menjamah persekutuan dan perasaan, Anda yakin bahwa Tuhan telah menempatkan beban masalah gereja itu ke dalam Anda. Karena Anda memiliki perasaan ini dalam Anda, maka Anda memiliki pengutaraan doa. Doa semacam ini tidak dapat Anda lupakan, karena jika Anda tidak berdoa, Anda akan memikul beban dan merasa tidak bebas; Anda merasa tertekan dan terbakar di dalam. Doa semacam ini baru berasal dari hayat.
Mohon Tuhan menutupi saya dengan darah-Nya, saya sangat tidak menyukai ungkapan umum dalam kekristenan, "Doakanlah saya." Suatu hari ketika saya mengantar seseorang di bandar udara, saya melihat beherapa orang yang dandanannya sangat modern, modis, dan bergaya masa kini. Percakapan dan tindakan mereka menimbulkan suasana yang membuat orang lain merasa tidak nyaman. Tetapi ketika tiba waktunya mereka berpisah saling berjabat tangan, dan memberi salam, mereka masih mengatakan kepada satu sama lain, "Doakanlah saya." Ketika saya mendengarnya, saya merasa muak. Dalam kekristenan, ini adalah frasa umum yang kurang berguna. Setiap doa yang sejati berasal dari hayat. Seseorang yang tidak di dalam hayat, pastilah tak dapat berdoa.
Dalam Perjanjian Lama, Daniel adalah seorang pendoa yang hidup dalam hayat, dan hayat itu merupakan doanya. Bacalah doa- doa Daniel, semuanya dalam hayat. Kehidupan dan hayatnya sampai sedemikian rupa sehingga dia dapat memiliki doa yang berbobot di hadapan Allah. Demikian pula, setelah kenaikan Tuhan, ada seratus dua puluh orang berdoa sdama sepuluh hari dan membawa pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Hari ini banyak orang membicarakan hal ini dan mendorong orang lain untuk berdoa seperti mereka. Tetapi untuk apa dorongan itu? Anda perlu menyadari bahwa mereka mampu berdoa sepuluh hari terua- menerus karena mereka hidup dalam hayat itu. Doa Tuhan Yesus dalam kitab Injil juga menurut prinsip yang sama. Dia sering naik ke atas gunung untuk berdoa, karena Dia hidup dalam hayat itu.
Doa adalah perkara hayat. Karena itu, untuk mempelajari pelajaran doa, seseorang perlu belajar pelajaran hayat. Harus belajar memiliki lebih banyak penanggulangan dan pengoreksian dalam hayat, juga belajar hidup dalam hayat dan menerima beban hayat. Jika demikian, tidak perlu orang lain menganjuri Anda berdoa, Anda akan dengan spontan berdoa. Berapa banyak seseorang di dalam hayat, sebanyak itu pula doanya.