SALIB DAN DOA
Imamat 16:18-19, "Kemudian haruslah ia pergi ke luar ke mezbah yang ada di hadapan TUHAN, dan mengadakan pendamaian bagi mezbah itu. la harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan dan dari darah domba jantan itu dan membubuhnya pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya. Kemudian ia harus memercikkan sedikit dari darah itu ke mezbah dengan jarinya tujuh kali dan mentahirkan serta menguduskannya dari segala kenajisan orang Israel."
Imamat 16:12-13, "Dan ia harus mengambil perbaraan berisi penuh bara api dari atas mezbah yang di hadapan TUHAN, serta serangkup penuh ukupan dari wangi-wangian yang digiling sampai halus, lalu membawanya masuk ke belakang tabir. Kemudian ia harus meletakkan ukupan itu di atas api yang di hadapan TUHAN, sehingga asap ukupan itu menutupi tutup pendamaian yang di atas hukum Allah, supaya ia jangan mati."
Kedua ayat Alkitab di atas menunjukkan, bahwa imam harus mengadakan pendamaian bagi umat Allah di mezbah itu dengan darah kurban penghapus dosa. Kemudian, pada waktu imam masuk ke tempat Mahakudus untuk membakar ukupan, bara api yang dipakainya harus diambil dari mezbah itu.
Keluaran 30:9-10, "Di atas mezbah itu janganlah kamu persembahkan ukupan yang lain ataupun kurban bakaran ataupun kurban saiian, juga kurban curahan janganlah kamu curahkan di atasnya. Sekali setahun haruslah Harun mengadakan pendamaian di atas tanduk-tanduknya; dengan darah kurban penghapus dosa pembawa pendamaian haruslah ia sekali setahun mengadakan pendamaian bagi mezbah itu di antara kamu turun-temurun; itulah barang maha kudus bagi TUHAN"
Ayat Alkitab di atas mengacu kepada mezbah ukupan, bukan mezbah bakaran. Kemah Pertemuan memiliki dua mezbah; di luar adalah mezbah bakaran, dan di dalam adalah mezbah ukupan. Mezbah bakaran terbuat dari tembaga dan mezbah ukupan terbuat dari emas. Kedua mezbah itu adalah tempat diadakannya pendamaian, dan keduanya menggunakan kurban yang sama. Hari kesepuluh dalam bulan ketujuh adalah hari pendamaian bagi bani Israel. Pada hari itu Imam Besar mengambil sedikit dari darah kurban penghapus dosa dan dibubuhkan pada keempat tanduk mezbah yang ada di luar. Dia juga membawa masuk darah itu ke dalam tempat Mahakudus dan membubuhkannya pada keempat tanduk mezbah ukupan, dengan demikian mengadakan pendamaian pada kedua mezbah itu.
Wahyu 8:3 dan 5, "Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi."
"Malaikat lain" di sini mengacu kepada Tuhan Yesus. Dari ayat selanjutnya, ayat 6, kita tahu bahwa ketujuh sangkakala yang mulai ditiup itu adalah akibat dari Malaikat melemparkan api mezbah itu. Dengan kata lain, ketujuh sangkakala itu adalah jawaban atas doa tersebut. Kita perlu memperhatikan, bahwa di sini ada pedupaan, kemenyan, dan doa.
Wahyu 5:8, "Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan; itulah doa orang-orang kudus."
Keempat makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua itu masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas. Kecapi adalah untuk memuji, sedangkan cawan emas yang penuh kemenyan adalah untuk berdoa. Dalam ayat ini, "itulah" mengacu kepada cawan, bukan kepada kemenyan. Ini berarti cawan emas adalah doa orangorang kudus. Penafsiran ini didasarkan pada fakta bahwa dalam, pasal 8, kemenyan dan doa orang-orang kudus adalah dua hal yang berbeda. Kemenyan adalah Kristus yang ditambahkan ke dalam doa orang-orang kudus. Sedangkan, cawan emas di sini mengacu kepada doa orang-orang kudus.
Kitab Keluaran dan Imarnat menunjukkan kepada kita, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat masuk ke dalam Kemah Pertemuan untuk membakar ukupan di hadapan Allah dan menghampiri Allah, tanpa melewati mezbah. Mezbah adalah salib. Ini berarti tanpa melewati salib, tidak ada seorang pun yang dapat datang ke hadapan Allah dan menyampaikan doa sebagai bau-bauan harum yang diperkenan Allah. Karena itu, kita masih harus melihat hubungan antara salib dengan doa.
1. DUA ASPEK SALIB
Walaupun salib memiliki banyak aspek, namun yang paling berkaitan dengan doa ada dua aspek. Aspek pertama dilambangkan oleh darah yang dicurahkan di atas mezbah, dan aspek lainnya dilambangkan oleh bara api yang ada di atas mezbah. Kurban yang dipersembahkan oleh seseorang di atas mezbah, setelah diperkenan Allah dan dihanguskan oleh api, yang tersisa hanya dua benda, yaitu darah di sekeliling mezbah dan bara api di atas mezbah itu. Karena abu dan bara api bercampur baur, maka yang terlihat oleh orang yang mempersembahkan itu hanya darah dan api.
Darah dan api adalah dua aspek salib yang penting sehubungan dengan doa. Seorang imam diperbolehkan masuk ke dalam tempat kudus untuk membakar ukupan dan berdoa di hadapan Allah berdasarkan dua hal. Pertama, ia membawa darah dari mezbah bakaran di luar dan membubuhkannya di atas mezbah ukupan. Kedua, ia membawa api yang menghanguskan kurban persembahan di atas mezbah bakaran yang di luar dan membubuhkannya pada mezbah ukupan untuk membakar ukupan itu. Darah pada rnezbah ukupan di dalam dan darah pada mezbah bakaran yang di luar adalah sama dan satu. Bara api pada mezbah ukupan yang di dalam dan bara api pada mezbah bakaran yang di luar juga sama dan satu. Dengan kata lain, darah pada mezbah ukupan yang di dalam berdasarkan darah pada mezbah kurban bakaran yang di luar. Api pada mezbah ukupan yang di dalam berdasarkan api pada mezbah kurban bakaran yang di luar. Darah untuk penebusan dosa-dosa; api untuk pengakhiran. Apa pun yang dimasukkan ke dalam api akan diakhiri, perusak yang paling serius atas segala benda adalah api. Begitu sesuatu melintasi api, sesuatu itu pasti terbakar dan rusak. Di atas salib, Tuhan mencucurkan darah-Nya untuk penebusan. Melalui kematian-Nya, Ia juga mendatangkan pengakhiran besar-besaran. Inilah kedua aspek yang paling penting yang Tuhan rampungkan di atas salib. Setiap kurban yang diletakkan di atas mezbah bakaran bukan hanya mengalirkan darah, tetapi juga menjadi abu. Salib adalah penebusan, juga pengakhiran. Inilah kedua aspek salib.
Dalam penebusan Tuhan, di satu pihak salib menebus kita, dan di pihak lain, salib mengakhiri kita. Setiap orang yang berdoa kepada Allah harusiah orang yang sudah ditebus Tuhan dalam kedua aspek itu. Bila seseorang belum dipercik oleh darah, di hadapan Allah, dia sama seperti Kain, tidak bisa diperkenan Allah, juga tidak bisa berdoa. Setiap orang yang diperkenan Allah dan yang mampu berdoa perlu dipercik dengan darah. Tetapi ingatlah, orang yang dapat pergi ke hadapan Allah untuk berdoa, bukan hanya perlu penebusan oleh darah, juga perlu menjadi orang yang diakhiri di atas salib. Nadab dan Abihu mati di hadapan Allah karena masalah api, bukan karena darah. Sebelum diakhiri, ditamatkan di mezbah, mereka pergi ke hadapan Allah untuk berdoa menurut manusia alamiah mereka. Akibamya, bukan hanya doa-doa mereka tidak diterima oleh Allah, diri mereka lebih-lebih dipukul mati oleh Allah. Karena itu, setiap orang yang belajar berdoa bukan hanya harus sudah ditebus dengan darah, tetapi juga harus sudah diakhiri menjadi abu. Hayat alamiahnya sudah sepenuhnya diakhiri oleh salib.
Kedua aspek salib sesungguhnya tidak sulit untuk dipahami, karena lambang-lambang dalam Perjanjian Lama telah disajikan dengan gambar yang jelas. Kita nampak, bahwa tidak ada seorang pun dapat masuk ke dalam tempat Kudus untuk membakar ukupan dan berdoa kepada Allah, selain dengan darah dan api dari mezbah di luar. Bila seseorang hendak masuk ke dalam tempat Kudus untuk membakar ukupan tanpa membawa api yang telah menghanguskan kurban di atas mezbah, nasibnya pasti akan berakhir seperti Nadab dan Abihu. Jadi, tanpa darah dan api, tidak ada seorang pun yang dapat masuk ke hadirat Allah. Tanpa penebusan dan pengakhiran salib, tidak ada seorang pun yang dapat menghampiri Allah. Orang mungkin dapat berdoa sebanyak-banyaknya di hadapan Allah, tetapi jangan terlalu yakin bahwa doanya yang banyak diperkenan Allah. Kisah Nadab dan Abihu adalah contoh yang sangat baik. Jangan sekali-kali berpikir, "0, bukankah kami berdoa di hadapan Allah?" Tidak! Anda masih perlu bertanya, "Bagaimana dengan penebusan dan pengakhiran salib?" Kalau Anda tidak melalui kedua aspek salib ini, Anda tidak akan ada jalan untuk datang ke hadapan Allah.
Dalam kekristenan yang telah merosot dan menyimpang hari ini, pada umumnya orang berpikir bahwa Allah mendengar semua doa kita. Namun saudara saudari, ketahuilah, Allah adalah Allah yang mendengar doa, tetapi lebih sering lagi, Allah adalah Allah yang tidak mendengar doa. Hari ini banyak orang berkata, "Doakanlah saya." Ini adalah slogan dari banyak orang Kristen hari ini. Anda mungkin melihat seseorang yang baru saja keluar dari tempat dansa, tetapi masth bisa berkata kepada Anda, "Berdoalah untukku" Dia mungkin mengenakan pakaian yang modis dengan hiasan aneka warna. Mungkin Anda melihat seseorang yang sedang bersiap-siap menghadiri pesta malam Natal. Saat berangkat, dia mungkin berkata kepada temannya, "Berdoalah untukku." Menurut Anda, apakah Allah akan mendengar doa semacam itu? Tidak! 0, jangan merasa yakin bahwa Allah akan mendengar semua doa kita. Sering kali, bukan saja doa kita di hadapan Allah tidak didengar, malah dalam pandangan-Nya kita telah berdosa terhadap-Nya. Kita telah melihat betapa ketatnya Allah menanggulangi imam-imam yang datang ke hadapan-Nya untuk mempersembahkan kurban di tabernakel pada saat itu. Jika Allah menanggulangi gereja hari ini dengan cara yang sama, bukan hanya banyak orang akan menderita kematian rohani, bahkan akan mengalami kematian jasmani di hadapan Allah.
Pada permulaan Allah melakukan sesuatu, Ia selalu melakukannya dengan serius, agar menjadi satu prinsip untuk selanjutnya, menjadi satu hukum yang paten. Pada hari Pentakosta, Ananias dan Safira berdusta kepada Roh Kudus dan karena itu mereka mati di hadapan Allah. Bukan berarti sejak saat itu siapa saja yang berdusta kepada Roh Kudus akan mati. Di kemudian hari, banyak orang yang berdusta tetapi tidak mati. Namun dalam pandangan Allah, mereka sudah mati. Nadab dan Abihu mati karena melanggar prinsip salib. Sampai hari ini, banyak orang yang masih berdoa dan melanggar prinsip salib. Mereka pun akan bernasib sama. Bukan hanya doa mereka tidak diperkenan Allah, bahkan diri mereka pun tidak diakui oleh Allah. Doa yang tidak dijawab dan penolakan Allah pada prinsipnya sama dengan mengalami kematian jasmani dalam zaman Perjanjian Lama. Karena menentang prinsip Allah, mereka menderita penentangan Allah.
2. PENEBUSAN SALIB
Semakin Anda menjadi orang yang berdoa, Anda akan semakin merasa bahwa Anda penuh dosa dan menyadari keperluan akan penebusan. Misalnya, kita dapat melihat hal itu dalam kitab Daniel. Salah satu doanya tercatat dalam Daniel 9. Dalam doa itu dia sangat sedikit menyinggung hal-hal yang didoakannya. Sebaliknya, sebagian besar doanya adalah pengakuan dosa, bukan hanya dosanya sendiri, tetapi juga dosa-dosa seluruh bangsa Israel. Dia benarbenar mengerti apa yang dimaksud dengan berdoa di hadapan Allah bersandar darah kurban penghapus dosa.
Bila seorang saudara atau saudari sama sekali tidak mengaku dosa dalam doanya, sangat diragukan apakah ia sudah masuk ke hadirat Allah atau tidak. Orang yang tidak sadar akan dosa bukan hanya berada di luar tempat Kudus, bahkan mungkin belum masuk ke Pelataran Luar. Dia masih berada di luar tabir yang terbuat dari kain lenan putih. Jika tidak dia tidak dapat menghindar dari mengaku dosanya. Inilah yang dikatakan dalam 1 Yohanes 1, bahwa Allah adalah terang, dan jika kita bersekutu dengan Allah, dan tinggal di dalam terang, kita pasti akan melihat dosa-dosa kita sendiri dan menerima darah Yesus, Anak Allah, untuk membasuh kita.
Pengalaman doa yang sejati adalah seperti ini. Setiap kali Anda datang ke hadirat Allah, Anda perlu mengalami penebusan salib dan pembasuhan darah. Semakin dalam masuk ke hadirat Allah, perasaan Anda terhadap dosa akan semakin peka, dan pengenalan terhadap dosa pun semakin dalam dan jelas. Hal-hal yang dahulunya Anda pikir baik dan pantas, sekarang terlihat bahwa semuanya itu dosa. Pada saat itulah Anda berkata kepada Allah, "Ya, Allah, aku hanya dapat datang ke hadirat-Mu untuk berdoa di bawah darah Anak-Mu dan dengan darah Anak-Mu. Kalau tidak, aku tidak dapat datang ke sini, lebih-lebih berdoa." Ingatlah selalu, setiap kali Anda berdoa, Anda perlu mengalami penebusan salib. Kalau tidak, Anda najis, cemar, dan penuh pelanggaran.
Satu hal yang pasti: jika Roh itu hendak berdoa melalui Anda mengenai satu hal penting, pertama-tama ia akan datang menerangi Anda dan menyucikan diri Anda. Setiap kali Roh itu hendak membawa Anda berdoa bersama-Nya, Dia perlu menyucikan Anda sekali lagi. Penyucian-Nya mula-mula akan menunjukkan dosa-dosa dan pelanggaran Anda, lalu memimpin Anda untuk menerima pembasuhan darah. Di bawah darah adi Anda mengakui dosa satu per satu kepada Allah. Anda mungkin mengaku dosa selama satu jam dan akhirnya ada doa selama tiga atau lima menit untuk memohon. Anda perlu mengaku dosa dengan tuntas sampai Anda tidak merasa takut, tetapi murni dan terang di dalam. Saat itulah Anda dapat berdoa, “Ya Allah, di sini gereja menghadapi masalah, di sini pekerjaan menemui kesulitan. Saya menaruh semua hal ini di hadapan-Mu." Sebelum doa ini, sembilan puluh lima persen dari perkataan Anda merupakan pengakuan dosa. Inilah artinya Anda menerima penebusan salib, dan menerapkannya dalam pengalaman doa Anda.
Bahkan dalam pengucapan syukur dan puji-pujian kita selama sidang pemecahan roti, kita harus mengalami penebusan salib. Sebelum Anda masuk ke hadirat Tuhan untuk menyembah dan mengingat-Nya, Anda harus pergi ke atas salib. Tidak ada seorang pun yang dapat masuk ke dalam tempat Kudus sebelum melewati mezbah. Anda tidak dapat mengatakan, "0, beberapa hari yang lalu, aku sudah melewati mezbah, maka hari ini aku dapat langsung masuk ke dalam." Kalau Anda berbuat demikian, Anda akan jatuh rebah di hadapan Allah. Walaupun kemarin Anda telah mengaku dosa dan juga pagi ini ketika berdoa, Anda masih perlu mengaku dosa sore ini saat Anda berdoa. Tidak ada gunanya mengaku dengan kata-kata yang kosong. Anda harus mempunyai perasaan akan dosa, itu baru terhitung. Begitu menjamah Allah, seseorang pasti memiliki perasaan akan dosa. Ketika Petrus melihat Tuhan Yesus melakukan mujizat dan menyatakan diri-Nya sebagai Allah, dengan segera dia berkata, "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa" (Luk. 5:8). Petrus tidak lagi berdiri di hadapan Tuhan. Di sinilah perlunya penebusan. Hari ini kita dapat berdiri di hadapan Allah, bukan bersandar diri kita sendiri, melainkan bersandar darah dan salib.
3. PENGAKHIRAN SALIB
Orang yang pandai berdoa dan dapat berdoa pastilah orang yang telah ditebus di bawah darah dan diakhiri di atas salib. Ketika menghampiri Allah untuk berdoa, pertama-tama Anda perlu bertanya, apakah Anda sudah diakhiri atau belum. Misalnya, Anda hendak berdoa untuk keluarga Anda, terlebih dulu Anda harus bertanya, dalam hal keluarga, sudahkah Anda diakhiri? Atau Anda ingin berdoa bagi persembahan harta, Anda harus bertanya atas hal ini, sudahkah Anda diakhiri? Demikian juga dalam Injil, maupun pernikahan. Dalam setiap hal, Anda perlu bertanya apakah Anda sudah diakhiri dalam hal itu. Apa pun yang Anda doakan, Anda perlu diakhiri dalam hal itu.
Ingatlah selalu, bahwa api yang membakar di atas mezbah bakaran adalah api yang membakar ukupan di atas mezbah ukupan. Hanya api yang membakar kurban menjacii abu itulah yang dapat membakar ukupan. Jika api itu belum membakar kurban menjadi abu, lalu dibawa ke mezbah ukupan untuk membakar ukupan, itu adalah api asing. Dari nasib Nadab dan Abihu, Anda dapat melihat betapa seriusnya hal ini. Kalau Anda belum diakhiri dalam suatu hal, lalu membawa hal itu ke hadapan Allah dalam doa, itu adalah pelanggaran yang hebat terhadap Allah.
Tegasnya, kalau seseorang belum diakhiri oleh dalam hal tertentu, atas hal tertentu itu ia sungguh tidak ada jalan mendoakannya. Kalau Anda belum diakhiri oleh salib dalam hal suami atau istri Anda, terus terang, Anda tidak memenuhi syarat untuk mendoakan suami atau istri Anda. Mengapa Tuhan sering kali tidak mendengar doa kita bagi keluarga kita? Jawabannya adalah karena kita belum menjadi abu. Doa-doa itu hanyalah doa alamiah, doa api asing. Sering kali ketika kita berdoa bagi gereja Allah dan bagi pekerjaan Tuhan, Tuhan tidak menjawab. Anda berdoa mohon berkat Tuhan, namun Anda tidak melihat berkat. Anda sudah berdoa bertahun-tahun, mohon Tuhan menumbuhkan gereja, tetapi gereja masih tidak berturnbuk Doa-doa Anda tidak dijawab karena doa-doa itu adalah api asing, doa yang alamiah. Sebagai orang yang berdoa, jika dalam hal berdoa Anda tidak melewati kematian, bukan orang yang telah melewati pengakhiran mezbah, maka semua doa yang Anda persembahkan sama dengan mempersembahkan menggunakan api asing. Ini sungguh serius. Konsepsi kita selalu mengira, bahwa Allah akan benar-benar mendengar doa kita karena Dia penuh rahmat dan pernurah bagi kita. Konsepsi ini keliru. Tuhan adalah Allah yang mendengar doa, juga adalah Allah yang tidak mendengar doa. Penyebab seringnya Allah tidak mendengarkan doa adalah karena kita, orang-orang yang berdoa, belum melewati mezbah. Ada orang yang hanya membawa darah dari mezbah, tetapi tidak membawa api. Mereka hanya melalui penebusan, tetapi tidak melalui pengakhiran mezbah.
Ingatlah, setiap kali manusia hendak membakar ukupan di atas mezbah ukupan, ia harus memenuhi dua syarat dasar. Ia harus mengalami darah yang menunjukkan bahwa semua orang yang datang untuk berdoa sudah ditebus dan dibasuh; ia juga harus mengalami api yang menunjukkan bahwa semua orang yang datang untuk berdoa telah dibakar habis menjadi abu.
Karena itu saudara saudari, jika terang Tuhan menyoroti Anda dengan kuat, Anda segera tidak mampu berdoa untuk banyak hal. Menurunnya jumlah doa Anda membuktikan bahwa Anda sedang dimurnikan. Kalau Anda mengenal bahwa banyak doa sebenarnya adalah api asing, Anda tentu nampak bahwa doa-doa itu tidak perlu, juga tidak benar. Anda tidak akan berani mendoakannya, karena itu bagi diri Anda dan bukan bagi kepentingan Allah; karena doa-doa itu diprakarsai oleh Anda, bukan oleh Allah. Begitu Anda diakhiri oleh salib, doa Anda mengalami pemurnian yang besar.
Mungkin ada yang bertanya, "Kalau kita sudah di akhiri, mengapa kita masih perlu berdoa? Kita sudah menjadi abu, tidak bisa berbicara atau berpikir, segalanya sudah habis. Lalu, berdoa untuk apa lagi?" Abu memang berarti segalanya sudah habis. Tetapi jangan lupa, api yang membakar abu itu masih ada untuk membakar ukupan di hadapan Allah. Ketika kita mempelajari lambang- lambang Perjanjian Lama, kita menjadi jelas bahwa ukupan mengacu kepada kebangkitan Tuhan dan keharuman Tuhan dalam kebangkitan-Nya. Di mana ada Tuhan, di situ ada kebangkitan. Di mana pun Anda dan saya diakhiri, di situ ada penyertaan Kristus. Mula-mula kita melewati penebusan salib di hadapan Allah, menerima pengakhiran salib, dan seluruhnya menjadi abu di hadapan Allah. Lalu, dengan segera Kristus menjadi ukupan yang kita bakar di hadapan Allah. Begitu Anda menjadi abu, segera Kristus meniadi ukupan di hadapan Allah. Anda harus menjadi abu, baru Kristus bisa menjadi ukupan. Tegasnya, doa adalah Kristus sendiri, doa adalah ekspresi Kristus. Doa yang baik, benar, tepat, sejati, dan diperkenan Allah adalah ekspresi Kristus. Kalau Anda diakhiri di atas salib, Kristus akan diperhidupkan keluar dari pengakhiran itu. Dalam hal doa, Kristus diperhidupkan keluar dari dalam doa. Dalam hal kehidupan, Kristus yang bangkit adalah kehidupan itu. Dalam ministri, Kristus yang bangkit adalah ministri itu. Hanya doa yang demikian yang diperkenan di hadapan Allah dan terhitung sebagai doa bau-bauan yang harum. Inilah doa dari orang yang telah melalui pembasuhan darah, juga pengakhiran api, dan dengan demikian membiarkan Kristus tampil dari batin.
Karena itu saudara-saudara, kalau Anda sungguh-sungguh nampak visi ini, Anda akan menyembah di hadapan Allah, mengakui kenajisan dan kealamiahan Anda. Anda tidak akan mampu memprakarsai doa lain. Anda akan nampak perlunya dibasuh oleh darah dan dibakar oleh api. Anda akan berkata kepada Allah, "Aku adalah orang yang najis, dan juga manusia yang alamiah. Sampai hari ini, aku masih di dalam diri alamiahku. Aku memerlukan darahMu untuk membasuhku dan api-Mu untuk membakarku. Saya perlu salib untuk menebus dan juga mengakhiri aku." Saudara-saudara, bila Anda mengijinkan salib mengakhiri Anda, Anda baru dapat secara riil mengalami Kristus tertampil dari diri Anda, dan bahkan Kristus yang bangkit inilah yang menjadi doa Anda, ukupan yang harum. yang Anda bakar di hadapan Allah. Doa Anda mungkin tidak banyak, tetapi hal-hal yang Anda doakan akan dijawab oleh Allah.
4. UKUPAN DITAMBAHKAN KEPADA DOA
Wahyu 8 dengan jelas menunjukkan dua hal : doa orang-orang kudus, dan Malaikat, yaitu Tuhan Yesus, membawa banyak ukupan. Ukupan itu ditambahkan kepada doa orang-orang kudus, keduanya berbaur menjadi satu, tersembah ke hadapan Allah. Ukupan mengacu kepada Kristus yang bangkit.
Saudara saudari, ijinkan saya bertanya kepada Anda, dapatkah Tuhan Yesus menambahkan ukupan kepada doa-doa Anda? Tidak. Kalau Anda ingin Tuhan Yesus dalam kebangkitan ditambahkan kepada doa-doa Anda, doa-doa Anda harus melewati penebusan darah dan pengakhiran salib. Hanya setelah orang-orang kudus mengenal rencana kekal Allah, berdiri di bawah penebusan salib, juga berada pada pengakhiran salib, datang kepada Allah dan berdoa, barulah kuat kuasa kebangkitan Tuhan Yesus dapat ditambahkan kepada doa-doa mereka. Doa-doa mereka adalah doa- doa yang mati dan bangkit, maka begitu ukupan doadoa itu dipersembahkan di hadapan Allah, segera guruh dan kilat dicurahkan ke bumi. Ini berarti Allah mendengar doa mereka dan mencurahkan jawaban bagi doa mereka.
Wahyu 8 memperlihatkan kepada kita bagaimana Allah dalam administrasi-Nya hendak menghakimi zaman ini. Tetapi penghakiman ini menunggu doa dari orang-orang yang telah menerima penebusan darah dan pengakhiran salib. Penghakiman itu menunggu doa orang-orang yang dibangkitkan untuk mencari hasrat hati-Nya dan yang berdiri pada posisi mati, sehingga Kristus yang bangkit itu digabungkan dengan doa-doa mereka. Demikian, doa-doa itu baru menjadi doa yang hebat yang dapat menghakimi dan mengakhiri zaman ini. Mereka mampu berdoa untuk hal-hal yang tinggi dan besar itu dikarenakan mereka sudah diakhiri di salib dan mampu membiarkan Kristus yang sudah bangkit ditambahkan kepada doa-doa mereka. Inilah makna ukupan ditambahkan kepada doa-doa.
Kami telah mengatakan, bahwa doa-doa yang sejati adalah Kristus di dalam kita berdoa kepada Kristus yang di surga. Di sinilah persoalannya. Kita adalah orang-orang yang banyak opini, bagaimana Kristus dapat menemukan jalan untuk tertampil keluar dari doa-doa kita. Untuk memberiNya jalan, kita harus melewati pembesuban darah, juga pengakhiran api. Orang yang diakhiri tidak memiliki pendapat apa pun. Di salib, kita menerima penebusan dan pengakhiran. Kemudian Kristus di dalam kita dapat bersatu dengan kita dan membawa kita berdoa. Akibatnya, doa Anda adalah Kristus. Ketika Kristus menyatakan diri-Nya melalui kita sedemikian, itulah ukupan ditambahkan kepada doa-doa kita.
Ada orang mengatakan, bahwa ukupan di sini mengacu kepada hasil karya Kristus. Memang demikian, tetapi ukupan lebih- lebih mengacu kepada Kristus yang bangkit. Ukupan meliputi hasil karya-Nya, segala hakiki-Nya, segala yang telah Dia rampungkan, dan segala yang telah Dia lakukan. Kristus yang bangkit dengan segala pekerjaan dan buah-Nya adalah ukupan. Asalkan kita menerima penebusan darah dan berada dalam pengakhiran salib, Kristus di dalam kita akan bersatu dengan kita. Kemudian, ketika kita berdoa, Kristusiah yang berdoa. Pada saat itulah doa kita menjadi ekspresi Kristus. Hasilnya, di hadapan Allah, doa-doa ini merupakan ukupan yang berkenan kepada Allah dan akan dijawab oleh Allah.
Doa-doa di hadapan Allah harus memiliki dua aspek, yaitu ada doa manusia, juga ada ukupan kebangkitan Kristus yang ditambahkan kepada doa itu. Dalam Wahyu 5 hanya ada doa orang-orang kudus - semata-mata cawan emas, tanpa ukupan ditambahkan kepadanya. Sebab itu, tidak ada jawaban atas doa itu. Jawaban atas doa adalah berdasarkan fakta ukupan telah ditambahkan kepada doa itu. Dalam pasal 8 terdapat gambaran yang lengkap. Ada doa orang-orang kudus, juga ada Kristus yang bangkit yang ditambahkan kepada doa-doa itu sebagai ukupan. Keduanya dipersembahkan di hadapan Allah. Pada saat yang sama, jawaban doa juga dicurahkan. Inilah hasil akhir dari doa yang berdasar pada pengalaman salib.