← Daftar isi Kebutuhan akan para Full-timer · bab 7/9

ORANGNYA PARA FULL-TIMER

(The Person of Full-timers)

Dasar Alkitab:

“Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu.”—1 Tes. 1:5

I. Hal terpenting yang berhubungan dengan seorang pekerja bukanlah tingkat pengetahuannya melainkan orang dari pekerja itu sendiri; orangnya kita adalah instrumen kita yang sesungguhnya:

A. Sasaran ultima-Nya bukan hanya berhasil di dalam pekerjaan tetapi juga untuk menggenapi sekelompok orang melalui melakukan pekerjaan ini.

B. Karena itu, orangnya kita sangatlah penting; jika orangnya kita salah, maka tidak ada sesuatu yang bekerja; kita adalah bejana Allah; jika sebuah bejana tidak berfungsi dengan tepat, maka Allah tidak dapat memakainya untuk menangani orang lain.

II. Pada awal kita menjadi orang Kristen, kita hanya melihat bahwa tingkah laku kita salah; setelah sejangka waktu, salib melakukan beberapa pekerjaan di dalam kita, dan di bawah pekerjaan pelucutan Allah, kita melihat bahwa tidak hanya tingkah laku kita yang salah, orangnya kita pun salah.

III. Pada tahun 1940, Saudara Nee menunjukkan bahwa kitab 2 Korintus dapat dianggap sebagai autobiografi Paulus:

A. Di dalam pasal 2:11 Paulus berkata, “Supaya Iblis jangan memperdaya kita, sebab kita tahu apa maksudnya.”

1. Di dalam ayat ini, kita melihat bahwa Paulus adalah seorang yang pribadi, rohani dan berwaspada; dia menjaga kaum saleh dengan sangat intim, dia hidup di dalam pedoman dari apa adanya Kristus, dan dia berwaspada terhadap rancangan yang licik dari si musuh yang ada di balik layar dalam kehidupan gereja.

2. Kita semua harus belajar dari Paulus untuk memperhatikan kaum saleh, memperhidupkan Kristus, dan berhati-hati terhadap si musuh yang licik.

B. Dia berkata di dalam pasal 10:1, “Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan...”

1. Paulus tidak terlalu memperhatikan pekerjaan yang dia kerjakan; dia lebih memperhatikan pribadi dan kehidupannya; dia benar-benar adalah seorang pribadi yang esa dengan Kristus, penuh dengan Kristus, dan dijenuhi dengan Kristus.

2. Inilah cara Paulus dalam menghadapi orang-orang di Korintus. Dia memperlakukan mereka melalui Kristus yang lemah lembut dan ramah, dan dia merendah di antara mereka, tetapi dia berani menulis kepada mereka; di dalam ayat-ayat ini kita melihat kelemahlembutan, keramahan, kerendahan hati Paulus, serta keberaniannya yang tepat.

C. Penjelasan mengenai pribadi Paulus sesuai dengan subyek dari 2 Korintus; subyek dari surat kiriman ini adalah pribadi Paulus dan kehidupannya.

IV. Hasil dari pekerjaan kita mutlak berdasarkan bobot pekerjaan kita, dan bobot dari pekerjaan kita mutlak berdasarkan apa adanya kita:

A. Allah lebih memperhatikan apa adanya kita daripada apa yang kita kerjakan; apa adanya kita lebih penting daripada apa yang kita kerjakan.

B. Apa yang kita capai di dalam pekerjaan tidak tergantung pada berapa banyak yang kita harapkan; hal itu tergantung pada apa adanya kita.

V. Hasil dari pekerjaan kita ditentukan oleh jerih lelah kita di dalam kebenaran, doa, penuntutan di dalam kehidupan rohani kita, dan penanggulangan-penanggulangan kita terhadap setiap perkara; karena itu, kita harus terus-menerus menuntut untuk mengenal Tuhan, mengenal hayat, dan mengenal orang.

VI. Kristus harus menjadi yang terutama di dalam setiap hal; Dia harus memiliki tempat yang pertama di dalam segala hal. Kita perlu mengaplikasikan Kristus ini di dalam kehidupan kita, ministri kita dan kehidupan gereja kita. Kristus harus menjadi esens, substansi dari kehidupan Kristen kita dan menjadi realitas dari pekerjaan, pelayanan dan ministri kita.

Cuplikan Berita Ministri:

TIDAK PUTUS ASA TETAPI PERLU BELAJAR DALAM MELAYANI

Persekutuan dari gereja-gereja ini memperlihatkan bahwa ada beberapa poin penting yang benar-benar perlu kita perhatikan. Pertama, di dalam persekutuan para saudara, kita semua harus melihat prinsip umum yaitu pekerjaan kita selalu berdasarkan orangnya kita. Apa adanya kita menentukan pekerjaan yang dapat kita kerjakan. Apa yang kita capai di dalam pekerjaan tidak tergantung kepada berapa banyak yang kita harapkan; melainkan tergantung pada apa adanya kita.

Mohon jangan putus asa. Jangan pernah kita putus asa di dalam pekerjaan kita hanya karena kita belum cukup mengerjakannya atau tidak mengerjakannya dengan baik. Banyak hal yang tidak dapat dilaksanakan atau dikerjakan dengan baik hanya dengan usaha keras kita, dan banyak hal yang tidak dapat dirampungkan hanya dengan perjuangan kita. Melainkan, apa yang kita rampungkan adalah berdasarkan apa adanya kita. Karena itu, walaupun kita belum mengerjakannya dengan baik atau tidak banyak mengerjakannya, kita tidak perlu putus asa, karena putus asa tidak akan memberikan manfaat apapun.

Di sisi lain, kita harus menyisihkan banyak usaha kita bagi diri kita sendiri, termasuk cara kita bertingkah laku dan cara kita mengerjakan hal-hal. Kita perlu pengenalan yang dalam terhadap Tuhan, kita perlu pengalaman hayat, kita perlu keahlian dalam menangani urusan, dan kita perlu mengenal orang dengan cukup memadai. Kita harus banyak berusaha untuk belajar semua aspek ini. Misalkan, seorang saudara yang penuh dengan ambisi, setelah lulus dari pelatihan tahun lalu, baru-baru ini memutuskan untuk kembali ke lokalitasnya dan ingin mengerjakannya lebih baik daripada orang lain. Ambisi ini tidak hanya tidak berguna, tetapi juga harus ditolak. Pekerjaan yang sejati tidak ditentukan oleh ambisi kita tetapi oleh kondisi kita yang sejati di hadapan Tuhan. Hasil dari pekerjaan kita ditentukan oleh usaha kita di dalam kebenaran, di dalam doa, di dalam penuntutan kehidupan rohani, dan di dalam penanggulangan-penanggulangan kita terhadap setiap perkara. Karena itu, kita harus terus-menerus menuntut untuk mengenal Tuhan, mengenal hayat, dan mengenal orang.

HASIL DARI SUATU PEKERJAAN TERGANTUNG

PADA ORANG YANG MENGERJAKANNYA

Saudara dan saudari muda cenderung untuk terfokus pada pekerjaan. Namun, lebih dari sembilan puluh persen dari pekerjaan itu, jika benar-benar dirampungkan, tergantung pada kerajinan kita untuk berada di dalam roh, tingkah laku kita di dalam roh, keahlian kita dalam mengerjakan hal-hal di dalam roh, dan pembelajaran kita untuk mengenal Tuhan dan mengenal orang. Kerajinan semacam ini sepertinya tidak berhubungan dengan melakukan suatu pekerjaan, tetapi hal itu benar-benar dapat membuat kita melakukan pekerjaan dengan tepat. Jika kita mengabaikan hal-hal ini dan tidak berjerih lelah atas hal ini, tetapi sebaliknya kita hanya ingin mengerjakan suatu pekerjaan, maka kita tidak akan merampungkan sesuatu, dan pekerjaan kita tidak akan memberikan hasil apapun. Hasil pekerjaan kita mutlak berdasarkan bobot dari pekerjaan kita, dan bobot dari pekerjaan kita mutlak berdasarkan apa adanya kita. Allah lebih memperhatikan apa adanya kita daripada apa yang kita kerjakan; apa adanya kita lebih penting daripada apa yang kita kerjakan.[xx]

Hal terpenting yang berhubungan dengan seorang pekerja bukanlah tingkat pengetahuannya melainkan orangnya pekerja itu sendiri. Orangnya kita adalah instrument kita. Allah memakai kita untuk mengukur orang lain. Jika orangnya kita salah, maka Allah tidak dapat memakai kita. Kita tidak mengukur orang lain dengan sesuatu yang fisik. Akan sangat mudah jika kita memiliki sesuatu yang fisik untuk mengukur orang lain. Termometer dapat mengukur suhu tubuh seseorang. Tetapi di dalam pekerjaan Tuhan, “termometer” satu-satunya adalah orangnya kita. Kita sendiri yang harus mengenal kondisi orang lain. Karena itu, orangnya kita sangatlah penting. Jika orangnya kita salah, maka tidak ada sesuatu yang bekerja. Kita adalah bejana Allah. Jika sebuah bejana tidak berfungsi dengan tepat, maka Allah tidak dapat memakainya untuk menangani orang lain. Mendengarkan adalah perkara yang penting. Jika kita dapat mendengarkan orang lain, mengetahui kondisi mereka, dan masuk ke dalam pemikiran dan perasaan mereka, maka kita akan memiliki jalan untuk membantu mereka. [xxi]

Seberapa banyakkah orangnya Anda yang telah ditanggulangi di dalam tangan Allah? Ini bukanlah perkara menyelesaikan suatu pekerjaan atau merampungkan suatu hal. Anda harus ditanggulangi dan dilatih oleh Allah. Lebih penting dilatih dengan tepat oleh Allah daripada menyelesaikan dan merampungkan suatu hal. Di mana-mana diaken seringkali tidak menyadari poin ini: Orangnya lebih penting daripada pekerjaannya. Seringkali pekerjaan sudah beres tetapi orangnya rusak. Adalah hal yang menakjubkan jika baik pekerjaannya maupun orangnya dapat sama-sama terjaga, tetapi jika Anda tidak dapat menjaga kedua-duanya, maka lebih baik jika Anda mengorbankan pekerjaan daripada orangnya. Anda harus selalu ingat bahwa pelayanan Anda adalah untuk membangun karakter Anda. Allah tidak terlalu memperhatikan keberhasilan dari pekerjaan sebanyak Dia memperhatikan pelatihan dan penanggulangan yang kita terima dari Dia di dalam proses melakukan pekerjaan. Sasaran ultima-Nya bukan hanya berhasil di dalam pekerjaan tetapi juga untuk menggenapi sekelompok orang melalui melakukan pekerjaan ini. Satu gereja yang masih muda, sering memiliki diaken-diaken dan penatua-penatua yang tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Kadang-kadang perkaranya sudah diselesaikan, tetapi karakter dari orang-orang itu tidak terbangun, dan Allah tidak sepenuhnya dipuaskan. Saya berharap bahwa gereja di Hongkong akan matang. Saya berharap tidak hanya pekerjaannya yang selesai dikerjakan tetapi juga dapat menggenapi sekelompok orang dengan karakter yang tepat. Dengan kata lain, Anda harus dibangun menjadi orang yang tepat.[xxii]

Pada awal kita menjadi orang Kristen, kita hanya melihat bahwa tingkah laku kita salah. Setelah sejangka waktu, salib melakukan beberapa pekerjaan di dalam kita, dan di bawah pekerjaan pelucutan Allah, kita melihat bahwa tidak hanya tingkah laku kita yang salah, tetapi orangnya kita pun salah. Tidak hanya tingkah laku kita yang salah, tetapi hayat Adam di dalam kita pun salah. Hayat kita salah; karena itu, tingkah laku kita salah. Inilah yang diberitahu kitab Roma kepada kita. Tiga pasal pertama kitab Roma memperlihatkan kepada kita bahwa tingkah laku kita salah, sedangkan pasal 5 sampai 8 memperlihatkan kepada kita bahwa orangnya kita salah. Karena orangnya kita salah, apa yang harus kita lakukan? Firman Allah mengatakan bahwa kita harus mati.[xxiii]

Pada tahun 1940 saudara Nee menunjukkan bahwa kitab Ulangan dapat dianggap sebagai autobiografi Musa dan 2 Korintus adalah autobiografi Paulus. Di dalam 2 Korintus Paulus banyak berbicara mengenai dirinya sendiri. Kenyataannya, dia banyak berbicara mengenai dirinya sendiri daripada mengenai Kristus. Di dalam tulisan autobiografi ini Paulus adalah kesaksian Kristus. Di dalam kitab ini kita melihat seorang yang memperhidupkan Kristus menurut apa yang dia tulis mengenai Kristus di dalam 1 Korintus. Paulus hidup di dalam kontak yang paling dekat dan paling intim dengan Kristus, bertindak menurut mata-Nya. Dia benar- benar adalah seorang yang esa dengan Kristus, penuh dengan Kristus, dan dijenuhi dengan Kristus.

Dalam ayat 11 Paulus berkata, “Supaya Iblis jangan memperdaya kita, sebab kita tahu apa maksudnya.” Ayat ini menyingkapkan bahwa si jahat, Satan, ada di belakang layar di dalam setiap hal, dan bekerja di dalam setiap hal. Kata Yunani menerjemahkan kata “maksud” di sini berarti “rencana, rancangan, upaya, desain, tipu muslihat, maksud, dan tujuan.” Bahkan di dalam kehidupan gereja pun, Satan ada di balik layar. Janganlah berpikir bahwa perkara mengampuni seorang saudara hanyalah melibatkan gereja dan tidak melibatkan tipu muslihat Satan. Bahkan di balik perkara ini pun, Satan mungkin sedang mendekam dan mencari jalan untuk melaksanakan rencananya yang jahat dan melahap orang- orang yang lemah.

Di dalam ayat-ayat ini kita melihat bahwa Paulus adalah seorang yang rohani, dan berwaspada. Dia menjaga kaum saleh dengan cara yang intim, dia hidup di dalam pedoman apa adanya Kristrus, dan dia berwaspada terhadap rancangan yang licik dari si musuh yang ada di balik layar dalam kehidupan gereja. Kita semua harus belajar dari Paulus untuk memperhatikan kaum saleh, memperhidupkan Kristus, dan berwaspada terhadap si musuh yang licik.[xxiv]

ORANGNYA PAULUS

Setelah memberitahu kita bagaimana dia memohon, Paulus terus membicarakan tentang orangnya dia. Dia berkata di dalam ayat 1, “Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan...” Penjelasan mengenai orangnya Paulus sesuai dengan subyek 2 Korintus. Subyek dari surat kiriman ini adalah orang Paulus dan kehidupannya. Paulus tidak terlalu memperhatikan pekerjaan yang dia lakukan; dia lebih memperhatikan orangnya dan kehidupannya. Seperti yang telah kita tunjukkan, di dalam pasal 10 dia tidak membahas tentang tujuan dari permohonannya. Dia sangat memperhatikan cara dia memohon, yaitu dia tidak membahas mengapa dia memohon.

Mengenai orangnya, Paulus berkata bahwa dia merendahkan diri ketika berada di antara orang-orang Korintus, tetapi menjadi berani ketika dia jauh dari mereka. Rasul berani berbicara di dalam surat kirimannya mengenai situasi yang sesungguhnya di antara orang-orang Korintus. Kita dapat belajar dari Paulus untuk menjadi lemah ketika kita berada di antara orang lain, tapi menjadi berani ketika kita jauh dari mereka. Ketika Anda bersama dengan orang tertentu, Anda seharusnya tidak menjadi terlalu berani. Namun, Anda mungkin berani di dalam menulis surat kepada orang itu. Beberapa orang dapat berkata, “Saya dapat menjadi berani ketika saya bersama dengan seseorang; namun, ketika saya tidak bersama dengan orang itu, keberanian saya sepertinya berkurang.” Ini menunjukkan bahwa keberanian Anda di dalam kehadiran orang itu tidaklah tepat. Jika keberanian Anda tidak berkurang setelah Anda meninggalkan orang itu, maka ini adalah keberanian yang tepat. Paulus sangat berani dalam menulis kepada orang-orang Korintus. Tetapi jika kita ada bersama-sama dengan Paulus, kita akan menemukan dia lemah lembut dan merendah.

Banyak yang dapat kita pelajari dari cara Paulus bertingkah laku. Jika kita ingin memperlakukan seseorang dengan cara yang berani, kita harus menunggu sampai kita tidak bersama-sama dengan orang itu, dan melihat apakah keberanian kita masih tetap ada. Inilah cara Paulus menghadapi orang-orang Korintus. Dia memperlakukan mereka dengan kelemah lembutan dan kesabaran Kristus, dan dia merendah di antara mereka, tetapi dia berani di dalam tulisannya kepada mereka. Di dalam ayat-ayat ini, kita melihat kelemah lembutan, kesabaran, kerendahan hati Paulus, dan keberaniannya yang tepat.[xxv]

DITANGKAP OLEH VISI KRISTUS

Visi yang pertama adalah visi tentang Kristus. Memiliki visi Kristus adalah melihat bahwa Kristus adalah perwujudan dari Allah Tritunggal dan pusat dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah. Kristus adalah pusat dari rencana Allah dan maksud kekal Allah. Kristus juga adalah pusat dari pekerjaan Allah, ciptaan Allah, dan penebusan Allah. Kristus adalah pusat dari segala yang Allah rencanakan. Kristus harus menjadi yang terutama di dalam segala sesuatu; Dia harus memiliki tempat yang pertama di dalam segala sesuatu. Kita perlu mengaplikasikan Kristus ini di dalam kehidupan kita, ministri kita dan kehidupan gereja kita. Kristus harus menjadi esens, substansi dari kehidupan Kristen kita dan menjadi realitas dari pekerjaan, pelayanan dan ministri kita. Ministri kita seharusnya adalah ministri Kristus, penuh dengan Kristus. Selain itu, Kristus haruslah menjadi isi dan ekspresi dari kehidupan gereja. Gereja seharusnya hanya merupakan ekspresi dari Kristus yang almuhit. Kita semua perlu visi tentang Kristus ini.

Untuk melihat visi tentang Kristus, Anda perlu berdoa dengan ngotot untuk sejangka waktu. Anda mungkin perlu berteriak kepada Tuhan hari demi hari, berkata, “Tuhan, wahyukan diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat. Tuhan, aku tidak hanya perlu tahu—aku perlu melihat. Aku perlu terkesan oleh visi mengenai diri-Mu sendiri.” Lalu sesuatu seperti sebuah selubung akan terbuka kepada Anda, dan di dalam Anda akan terdapat wahyu yang batini, suatu penyingkapan yang batini. Kemudian, seperti perkara Paulus, “seolah-olah selaput” (Kis. 9:18) akan gugur dari mata Anda, dan Anda akan dapat berkata, “Sebelumnya aku mengetahui sesuatu tentang Kristus, tetapi aku tidak memiliki visi. Sekarang aku melihat!” Dulu Anda berselubung, tetapi selubung itu telah diangkat dan tirai telah terbuka. Tidak ada perkataan manusia yang dapat menjelaskan hal ini; Anda harus mengalami hal ini.

Anda mungkin mendengar berita-berita tentang Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal, sebagai pusat dari hal-hal Allah, sebagai Yang memiliki tempat yang pertama di dalam segala sesuatu, sebagai esens dari kehidupan Kristen kita, sebagai realitas dari pelayanan kita, dan sebagai isi dan ekspresi dari kehidupan gereja. Anda mungkin mendengar tentang semua perkara ini, tetapi pada suatu hari selubung akan terbuka dan Anda akan melihat visi tentang Kristus. Sekali Anda melihat visi ini, Anda akan ditangkap olehnya. Sejak saat itu, beban Anda adalah meministrikan Kristus kepada orang lain. Jika Anda berbicara sesuatu selain Kristus, maka Anda tidak akan memiliki pengurapan batini. Tetapi semakin Anda berbicara tentang Kristus, Anda akan semakin memiliki pengurapan batini. Sekarang Anda “terkurung” dengan Kristus, dijauhkan dari pengetahuan semata, karena mata Anda telah terbuka dan Anda telah melihat visi mengenai Kristus.

Jika Anda ingin menjadi seorang Kristen yang tepat, Anda tidak hanya perlu melihat visi tentang Kristus tetapi juga visi tentang gereja. Anda perlu melihat bahwa hasrat hati Allah adalah memiliki gereja. Roh Kudus akan menunjukkan kepada Anda bahwa tujuan Allah menciptakan alam semesta adalah untuk menghasilkan gereja. Penebusan juga adalah bagi gereja. Semua yang Allah lakukan adalah untuk gereja, dan segala pekerjaan dan ministri seharusnya adalah bagi gereja. Pemberitaan Injil adalah untuk gereja. Pembinaan kaum saleh adalah untuk gereja. Pengajaran Alkitab adalah untuk gereja. Kita diselamatkan adalah untuk gereja, bukan untuk diri kita sendiri maupun untuk tujuan lain. Hasrat hati Allah adalah memiliki gereja, dan kita diselamatkan untuk terbangun sebagai gereja. Kita harus memiliki visi ini.

Saya percaya bahwa jika Anda benar-benar bersungguh-sungguh terhadap Tuhan dan berpihak kepada-Nya, maka cepat atau lambat Dia akan membuka mata Anda untuk melihat hasrat hati-Nya di alam semesta ini adalah memiliki gereja. Semua hal lainnya adalah hal kedua. Hal yang terutama adalah gereja merupakan hasrat hati Allah.

Melihat hal ini tidak hanya menyelamatkan Anda dari konsep dan pemahaman yang salah; hal ini akan mengubah pelayanan Kristiani Anda. Anda akan melihat bahwa maksud hati Allah adalah memiliki gereja, bukan hanya memiliki pengabaran Injil agar orang lain dibawa kepada Tuhan, juga bukan hanya untuk membantu orang lain mencari Tuhan, mengasihi Tuhan, dan menjadi rohani. Setiap hal yang Anda kerjakan di dalam pekerjaan dan pelayanan Anda kepada Tuhan adalah untuk membangun gereja. Apa adanya Anda dan apapun yang Anda kerjakan adalah untuk gereja.

Perhatikan ministri Paulus. Apa yang Paulus lakukan setelah dia diubah ke jalan visi ini? Setiap hal yang dia lakukan adalah untuk gereja. Tegasnya, dia tidak memiliki apa yang kita sebut “sesuatu yang terkenal.” Dia hanya melakukan segala sesuatu bagi gereja. Selain gereja, Paulus tidak memiliki apa-apa. Apa adanya dia dan apapun yang dia kerjakan adalah untuk gereja. Jika gereja diambil, maka Paulus tidak memiliki apapun yang tersisa.

Saya ingin meminta Anda untuk memeriksa diri Anda sendiri dengan membandingkan diri Anda dengan Paulus. Saya rasa Anda memiliki banyak hal selain gereja. Anda mungkin memiliki pekerjaan-pekerjaan yang baik, tetapi pekerjaan-pekerjaan yang baik ini berada di luar gereja. Ini berarti Anda salah. Gereja adalah ujian yang sesungguhnya yang membuktikan mengenai apakah kita dan di manakah kita. Gereja adalah hasrat hati Allah.[xxvi]

PARA PENATUA DAN ORANG-ORANG YANG MELAYANI

PERLU MENGHINDAR UNTUK MENJADI PUSAT

Para penatua dan mereka yang melayani di dalam pekerjaan ministri perlu berhati-hati terhadap bahaya untuk menjadi pusat di dalam lokalitas mereka atau di dalam pekerjaan. Sebuah pusat adalah seperti bagian tengah roda. Ketika bagian tengah itu dipindahkan, maka bagian roda lainnya akan runtuh. Gereja di dalam lokalitas kita atau daerah dimana kita bekerja seharusnya tidak boleh runtuh atau berhenti ketika kita pergi. Kita perlu menyadari bahwa menjadi pusat dari gereja atau pekerjaan adalah menjadi kanker bagi Tubuh Kristus, yang akhirnya akan membawa kematian bagi Tubuh. Selama bertahun-tahun saya telah melihat banyak kerusakan yang terjadi karena perkara ini.

Mereka yang menerima bantuan dari kita mudah menjadikan kita sebagai pusat. Kita pun mudah menjadikan diri kita sendiri sebagai pusat. Kita harus menyadari bahwa di dalam sifat insani kita yang jatuh, ada suatu kecenderungan suka menjadi pusat. Mungkin kita berkata bahwa kita tidak memiliki maksud atau hasrat hati untuk menjadi pusat, tetapi cara kita memperhatikan gereja atau melakukan pekerjaan seringkali membangun diri kita sebagai pusat. Menjadi pusat adalah suatu hal yang berbahaya khususnya bagi mereka yang berguna di tangan Tuhan, karena orang lain cenderung menganggap orang-orang ini sebagai pusat. Jika kita tidak terlalu dipakai oleh Tuhan, tidak ada seorang pun yang akan menganggap kita sebagai pusat. Namun, ketika kita berguna, kita menjadi sebuah magnet yang menarik orang lain kepada diri kita sendiri. Jika kita dapat melayankan hayat kepada orang lain dan membantu menyelesaikan masalah mereka, maka kita menjadi sangat menarik bagi orang lain; sepertinya kita menjadi denyut nadi kehidupan gereja di lokalitas kita. Menarik orang lain melibatkan daging, tidak peduli akan kemurnian dari maksud atau hasrat hati kita.

Murid Yohanes Pembaptis menjadi sangat iri ketika mereka melihat banyak orang yang pergi kepada Yesus untuk dibaptis (Yoh. 3:23-26). Yohanes berkata kepada mereka, “Kamu sendiri dapat bersaksi bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang punya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (ay. 28-30). Hal ini memperlihatkan bahwa mereka yang berguna di dalam pekerjaan Tuhan mudah menjadi pusat daya tarik. Murid-murid Yohanes menjadikan dia sebagai pusat, tetapi dia mencoba untuk memalingkan mereka kepada Tuhan. Namun, karena orang lain menjadikan dia sebagai pusat, maka Tuhan membiarkan Yohanes dipenjara. Akhirnya, Yohanes mati martir, yang mengakhiri pusat tersebut.

Orang-orang Korintus berkata, “Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas” (1 Kor. 1:12). Hal ini menunjukkan bahwa mereka menganggap Kefas, Apolos atau Paulus sebagai pusat. Menurut catatan dari Perjanjian Baru, Paulus memberikan banyak bantuan bagi mereka, tetapi dia menghindari untuk menjadi pusat. Apolos tidak terlalu berguna seperti Paulus, tetapi Paulus meletakkan dirinya sendiri di tingkat yang sama seperti Apolos dan menjadikan Tuhan sebagai pusat ketika dia menulis, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan” (3:6). Di dalam 4:6, Paul kembali menempatkan dirinya sejajar dengan Apolos untuk terhindar menjadi pusat. Hal ini menyingkapkan kecederungan dari orang-orang yang berguna untuk dianggap sebagai pusat.

Tuhan adalah satu-satunya pusat di dalam pekerjaan dan gereja. Kita jangan membuat diri kita sendiri menjadi pusat. Pekerjaan dan gereja tidak seharusnya diatur di sekeliling kita. Semakin kita berguna dan memiliki kemampuan, kita akan semakin sulit untuk terhindar menjadi pusat. Jika kita menangani perkara-perkara dengan cara yang baik dengan hasil yang baik, maka reputasi kita akan naik, lalu banyak orang dan urusan akan datang kepada kita. Untuk menghindari menjadi pusat, kita harus sering membiarkan orang dan urusan ditangani oleh saudara-saudara yang lain.[xxvii]

Tuhan Sebagai Pusat

Kita harus memusatkan segala sesuatu kepada hal-hal Allah yang rohani. Pusat kita seharusnya bukanlah kehidupan jasmani kita. Hasil dari memiliki pusat yang salah adalah kehilangan segala sesuatu. Misalkan seorang janda hanya memiliki seorang putra. Dia telah mempersembahkan dirinya kepada Tuhan, bersama dengan putra satu-satunya. Jika putranya meninggal, maka persembahan dirinya akan sangat diuji. Dia akan merasa seperti lantai di bawahnya runtuh. Dia akan berkata, “Semua doaku, rasa percaya dan persembahan diriku tidak menghasilkan apa-apa.” Hal ini segera memperlihatkan bahwa seluruh hidupnya hanya berpusat pada putra satu-satunya itu. Demikian pula dengan kehidupan jasmani kita. Jika kita memiliki pusat yang lain selain Tuhan, maka sifat asli kita akan terekspos segera setelah pusat-pusat ini terancam.

Pada dasarnya seorang Kristen harus jelas di mana pusatnya itu berada. Di bawah sadar, pusat dari banyak orang adalah diri mereka sendiri. Jika pusat mereka adalah kehidupan rohani dan Tuhan, maka bukanlah suatu hal yang penting ketika ada sepuluh hal jasmani yang hilang. Ketika kita sakit, kita tidak seharusnya meminta untuk dipulihkan. Sebaliknya, kita seharusnya membiarkan hal ini berlalu. Tidak perlu khawatir atau berharap pada hal apapun. Jika kehidupan kita gagal, biarkan saja gagal. Kita harus dengan rendah hati mengaku dosa bahwa pusat kita salah. Kita harus berpaling kepada Tuhan dan mengenal Dia sebagai satu-satunya pengharapan kita. Setiap kaum saleh harus belajar pelajaran yang dasar ini. Kita harus mengetahui apakah pusat kita adalah Kristus atau bukan. Sebenarnya, kita mungkin memiliki banyak pusat yang lain selain Kristus. Kita dapat bertanya kepada Allah, mengapa Dia tidak berbelaskasihan kepada kita dan mengapa Dia menanggulangi kita. Namun, ketika kematian mengetuk pintu kita, kita akan menyadari bahwa pusat kita bukanlah Tuhan tetapi diri kita sendiri. Inilah sebabnya Anda tidak dapat bangkit. Anda harus menyingkirkan segala sesuatu yang membuat diri Anda sebagai pusat. Sekarang bukan saatnya untuk memulihkan iman dan pekerjaan Anda. Pusat Anda salah. Jika Anda memulihkan iman, pelayanan dan semangat Anda yang semula, hal itu tidak akan membantu Anda. Tujuan Tuhan adalah menyingkirkan orangnya Anda. Banyak orang tidak menjamah pusat Allah, dan mereka berpegang pada setiap hal. Ini salah. Anda harus berkata kepada Allah, “Aku bersyukur kepada-Mu. Aku dapat membiarkan segala hal berlalu. Allah yang aku layani masih tetap ada. Ya Allah, segala hal yang dapat jatuh biarkan terjatuh! Segala hal yang dapat disingkirkan biarkanlah tersingkir! Bahkan jika suatu hal dapat dipulihkan, aku pun tidak menginginkannya. Jika hal ini belum melewati kematian, apa gunanya aku mengejarnya? Ya Allah, hidupku ada di tangan-Mu. Aku akan membiarkan segala hal berlalu!”

Kekhawatiran manusia tidak dapat membangkitkan Anda. Pengharapan manusia tidak dapat membangkitkan Anda. Satu-satunya yang dapat membangkitkan Anda adalah Tuhan. Jika pusat Anda adalah Tuhan, maka arah Anda akan lurus. Tuhan adalah segala sesuatu! Semoga Tuhan membebaskan Anda keluar dari pusat-pusat yang lain! Beberapa pekerja menjadikan pekerjaan mereka sebagai pusat mereka. Betapa bodohnya ini! Pekerjaan bukanlah pusat. Tidak ada apapun dapat dijadikan sebagai pusat. Seseorang tidak dapat memiliki pusat yang lain selain Tuhan. Hanya Tuhanlah pusatnya. Hanya hal inilah yang akan memberikan Anda perhentian yang sejati. Segala pusat yang terpisah dari Tuhan akan dihancurkan oleh Dia. Jangan berpikir bahwa ini kejam. Ini adalah perlindungan bagi Anda, yang menjaga Anda tetap berada di jalan yang lurus. Anda tidak seharusnya memiliki pusat yang lan selain Tuhan. Tangan-Nya perlahan-lahan akan menghancurkan segala sesuatu selain diri-Nya sendiri. Dia tidak akan membiarkan hal yang lain tetap ada. Efesus 1:10 berkata, “Sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.” Jika Tuhan belum benar-benar menjadi pusat Anda, maka Anda tidak dapat melayani Dia.[xxviii]

KOMENTAR SAUDARA WATCHMAN NEE

Saudara kita telah mengambil jalan yang lurus. Memang benar bahwa kita menghadapi kesulitan di dalam pekerjaan kita. Tetapi ketika kita menghadapi masalah dan kesulitan di dalam pekerjaan, seperti penentangan dan penolakan, kita menemukan kita sedang melayani siapa, apakah pusat dari pelayanan kita, dan untuk apakah kita melayani. Inilah masalah antara Paulus dan Barnabas. Selama masa kesusahan, daya tarik pekerjaan, unsur manusia alamiah, dan kesukaan kita akan berkurang; pekerjaan kita mulai dimurnikan. Pelayanan kita janganlah berdasarkan daya tarik alamiah, hubungan manusia, kesukaan kita, daya tarik saudara saudari atau pekerjaan itu sendiri. Pelayanan kita seharusnya hanya berdasarkan Allah.

Jika seseorang berhasil di dalam pekerjaannya dan tidak pernah menjumpai kesulitan, melainkan diterima di manapun, di pundaknya tidak memiliki beban terhadap gereja atau tidak ada gesekan dengan kaum saleh di manapun, maka dia akan mudah ditarik oleh pekerjaan, orang dan hal-hal. Dia mungkin berpikir bahwa dia sedang melayani Tuhan dengan tulus. Sebenarnya dia tidak tahu berapa banyak hal yang berasal dari Tuhan dan berapa banyak hal yang berasal dari dirinya sendiri. Namun, akan tiba harinya saat segala sesuatu akan berubah. Pekerjaannya akan runtuh, orang-orang akan menentang dia, dan Tuhan akan membiarkan segala sesuatunya jatuh. Bahkan dia sendiri akan jatuh. Pekerjaan, dirinya sendiri, dan orang lainnya tidak akan lagi menjadi daya tarik baginya. Maka dia akan mengetahui apakah dia sedang melayani Tuhan atau tidak, dan berapa banyak pekerjaannya adalah bagi Tuhan. Ini adalah pekerjaan untuk memurnikan. Ketika daya tarik pekerjaan dan manusia, dan kesukaan diri itu semuanya disingkirkan, maka pelayanan kita akan berada di bawah arahan Tuhan, dan jerih lelah kita bagi-Nya akan murni. Lalu kita tidak akan berani membiarkan “diri” terlibat di dalam pekerjaan lagi. Kita akan mulai berdiri pada tumpuan kebangkitan. Kita harus meletakkan kehidupan kita sendiri pada kematian, dan kita harus meletakkan pekerjaan kita kepada kematian. Setelah segala sesuatu melewati ujian, maka sesuatu akan hilang melalui kematian, dan sesuatu akan tetap ada di luar kematian. Apa yang tetap ada dan bangkit kembali adalah kebangkitan. Jika kita menanam sebuah benih ke dalam tanah, benih itu akan bangkit. Tetapi jika kita menanam batu ke dalam tanah, batu tidak akan bangkit. Apa yang mati akan mati, dan apa yang tidak akan mati akan bangkit di dalam kebangkitan. Ketika kita meletakkan pekerjaan kita di dalam kematian, apapun yang layu akan mati, dan apapun yang rusak akan menjadi rusak. Apapun yang tidak dapat mati adalah kebangkitan. Apapun yang dilakukan Tuhan tidak akan mati; tetapi akan selalu bangkit kembali. Inilah jalan bagi pekerjaan kita hari ini; inilah jalah kematian dan kebangkitan. Kita tidak dapat kembali lagi kepada jalan yang lama. Kita harus meminta Tuhan untuk mematikan unsur-unsur di dalam pekerjaan kita yang patut untuk mati. Apapun yang tidak dibangun oleh Tuhan akan diruntuhkan. Jika suatu hal tidak diruntuhkan pada saat pertama kali, maka akan diruntuhkan pada saat kedua atau ketiga kali. Cepat atau lambat hal itu akan diruntuhkan. Jika suatu hal itu dapat diruntuhkan, ini berarti hal itu berasal dari diri. Apapun yang berasal dari Allah tidak dapat diruntuhkan—tidak untuk satu kali, tidak juga untuk kesepuluh kali. Kebangkitan berarti tidak akan mati. Apapun yang ada di dalam saya yang seharusnya berlalu biarkanlah berlalu; satu-satunya yang harus bangkit adalah apa yang dibangun oleh Tuhan. Apapun yang tertinggal setelah penghancuran adalah pekerjaan Allah. Kita harus meletakkan dan membersihkan diri kita dari banyak hal yang melekat pada kita. Hanya dengan demikianlah, kita baru dapat berkata, “Aku tidak lagi menginginkan pekerjaan. Jika masih ada keinginan di dalamku, maka itu adalah sesuatu yang telah dikerjakan Tuhan.” Segala sesuatu yang telah melewati tungku api Allah akan dimurnikan. Sejak saat itu, setiap pekerjaan akan dikerjakan oleh Tuhan sendiri.[xxix]

KITA HARUS MENJADI JALAN TUHAN

Selama bertahun-tahun saya ingin mengatakan satu perkataan. Sebelum Tuhan masuk ke Yerusalem, banyak orang yang memotong-motong ranting pohon dan melepaskan pakaian mereka serta menghamparkannya di jalan. Jika mereka tidak melakukan hal ini, Tuhan tidak dapat masuk ke Yerusalem. Ini bukan berarti bahwa ranting-ranting dan pakaian adalah jalannya, melainkan berarti bahwa sebelum Tuhan masuk ke dalam kota di dalam kemuliaan, orang-orang ini harus terlebih dahulu memotong-motong ranting dan melepaskan pakaian mereka untuk mengalasi jalan itu. Tuhan menunggangi anak keledai betina masuk ke Yerusalem sebagai Raja. Beberapa orang harus memotong-motong ranting, melepaskan pakaian dan menghamparkannya di jalan sehingga Tuhan dapat melewatinya. Jika Injil akan keluar, kita harus mempersembahkan diri kita sebagai jalan. Hari ini tidak cukup hanya memotong-motong ranting dan melepaskan pakaian. Orangnya kita sendiri harus menjadi jalannya. Jika kita enggan, jika kita menahan sesuatu, atau jika kita tidak mau terjatuh, maka Tuhan tidak akan memiliki jalan. Tuhan harus memiliki jalan melalui kita, barulah Injil akan memiliki jalan di dunia ini. Harus memandang Injil seperti kereta, kuda, dan anak keledai, dan diri kita sendiri harus menjadi jalannya. Injil harus menggulung kita sehingga lebih banyak orang di dunia akan mendengar Injil.

Dalam perkara ini, kita harus sangat ngotot dan kuat. Jika kita cukup ngotot, maka kita akan menyebarkan Injil ke seluruh Cina tidak peduli siapa yang mengendalikan pemerintahan. Jika Tuhan memiliki jalan melalui kita dan Injil memiliki jalan melalui kita, maka Injil akan sangat mudah tersebar ke seluruh Cina. Asalkan suatu hal adalah bagi Tuhan, kita tidak perlu menghitung harga yang harus dibayar. Jangan menyimpan sesuatu apapun dari Tuhan. Bagi kepentingan-Nya, janganlah menyisakan apapun. Tidak ada harga yang terlalu mahal untuk dikeluarkan bagi Tuhan dan Injil-Nya (Yoh. 12:7-8). Kita mutlak tidak boleh enggan. Jangan meninggalkan apapun bagi dunia.

Dunia ini sangat bahaya. Kita harus meminta Tuhan menjaga kita dari menjamah dunia. Semoga Tuhan memberikan karunia kepada kita, dan semoga Dia mengaruniakan sebuah jalan bagi kita. Untuk menjadi seorang Kristen yang tepat, kita harus kuat dan tegas. Mereka yang tidak mempersembahkan diri mereka secara konsisten, akan berakhir dengan penderitaan. Semakin mutlak kita mempersembahkan diri, kita akan semakin memiliki sukacita. Jika kita tidak mempersembahkan diri kita sendiri, maka hayat di dalam kita akan bangkit memprotes kita. [xxx]

i. Witness Lee, Knowing Life and the Church, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2005) 266-268

ii. Watchman Nee, The Character of the Lord’s Worker, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1994) 11

iii. Watchman Nee, Collected Works of Watchman Nee, The (Set 3) Vol. 62: Matured Leadings in the Lord’s Recovery (2), (Anaheim: Living Stream Ministry, 1993) 277

iv. Watchman Nee, The God of Abraham, Isaac, and Jacob, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1993) 103

v. Witness Lee, Life-Study of 2 Corinthians, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1990) 33-34

vi. Witness Lee, Life-Study of 2 Corinthians, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1990) 440-441

vii. Witness Lee, The Heavenly Vision, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1997) 26-28

viii. Watchman Nee, The Importance of Living Christ by Walking According to the Spirit, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2010) 71-72

ix. Watchman Nee, Collected Works of Watchman Nee, The (Set 3) Vol. 58: Spiritual Judgment and Examples of Judgment, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1994) 99-101

x. Watchman Nee, Collected Works of Watchman Nee, The (Set 3) Vol. 58: Spiritual Judgment and Examples of Judgment, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1994) 156-157

xi. Watchman Nee, Collected Works of Watchman Nee, The (Set 3) Vol. 61: Matured Leadings in the Lord’s Recovery (1), (Anaheim: Living Stream Ministry, 1994) 90-91

BabSembilan

KARAKTER PARA FULL-TIMER

Dasar Alkitab:

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda.

Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu,

dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kemurnianmu”—1 Tim. 4:12

I. Saya tekankan lagi dan lagi bahwa selain mengejar kebenaran dan bertumbuh di dalam hayat, Anda juga harus membina sebuah karakter yang ketat:

A.Sifat kita adalah keturunan, sedangkan tingkah laku kita adalah dibina; tiga puluh persen karakter kita adalah bawaan, dan tujuh puluh persen adalah dibina.

B. Kita harus memiliki beberapa pengetahuan dasar mengenai bagaimana kita bertingkah laku.

C. Kita harus rajin, serius, teliti, dan sungguh-sungguh; baik kita mengerjakan sesuatu atau tidak, kita harus tepat; karakter semacam ini harus dibangun di dalam kita, dimulai dari hal-hal kecil di dalam kehidupan kita sehari-hari.

D.Jika kita tidak membangun karakter kita di dalam melayani Tuhan, kita tidak akan berguna.

II. Sebagai orang-orang yang melayani, kita harus meletakkan hati kita di dalam pekerjaan kita dan pelayanan kita siang dan malam, setiap jam, dan setiap waktu; kita harus meletakkan seluruh diri kita ke dalam pelayanan kita:

A.Banyak saudara saudari yang melayani sepenuh waktu memiliki kesulitan untuk melayani dengan baik karena karakter yang tidak memadai, bukan karena mereka tidak tahu bagaimana mengerjakan hal-hal; jika karakter saudara saudari tidak tepat, maka suatu hal tidak akan dikerjakan dengan serius, dan akan dikerjakan dengan sembarangan dan ceroboh.

B. Beberapa kaum saleh yang berprofesi, bekerja di siang hari dan harus terburu-buru untuk bersidang, bahkan sampai tidak makan; namun, mereka yang melayani sepenuh waktu, yang seharusnya tidak ada alasan dan yang memiliki waktu untuk mempersiapkan sidang dan datang ke sidang lebih awal, hampir tidak dapat datang ke sidang tepat waktu; di dalam sidang mereka duduk dengan acuh tak acuh dengan Alkitab dan kidung mereka; ketika sidang selesai, para kaum saleh profesi pulang cepat-cepat, dan sebagian besar para full-timer juga pulang dengan acuh tak acuh.

III. Hal pertama dan yang terutama untuk membina sebuah karakter bagi pelayanan Tuhan adalah melawan watak kita:

A.Jika kita ingin dipakai oleh Tuhan dan menjadi bejana di dalam tangan-Nya, kita tidak hanya perlu memiliki pengetahuan, karakter kita pun perlu dilatih.

B. Jika semua kaum saleh, khususnya mereka yang dilatih untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, membunuh watak mereka, maka segala sesuatu akan menjadi sangat baik; jika tidak, setiap orang yang dilatih itu kemungkinan akan menjadi masalah bagi gereja.

C. Seberapa banyak Anda akan berguna bagi Tuhan atau berapa banyak masalah yang akan Anda buat bagi gereja, tergantung pada berapa banyak watak Anda yang dibunuh; karena itu, penanggulangan watak adalah perkara yang penting.

D.Saya berharap bahwa orang-orang muda…ketika mereka mulai belajar untuk melayani Tuhan, mereka akan menerima pelatihan karakter mereka dengan serius dan ketat, menanggalkan semua pertunjukan dan kepura-puraan dan mendapatkan sesuatu yang sejati di dalam hayat batini mereka.

E. Tidak peduli apakah kita pandai berbicara, atau alamiah kita adalah tenang, dua aspek karakter itu perlu ditanggulangi untuk melayani Tuhan; selain itu, kita perlu melawan segala alamiah kita.

IV. Masalah tersulit adalah berhubungan dengan karakter seseorang:

A.Hati kita bagi Tuhan adalah suatu hal yang mustika, tetapi karakter kita merupakan suatu masalah yang besar; karena itu, kita harus menanggulangi karakter kita dengan ketat.

B. Ketika kita belajar melayani Tuhan, kita perlu banyak memiliki persekutuan dengan Tuhan dan menengadah pada belas kasihan dan anugerah-Nya.

Cuplikan Berita Ministri:

Pekerjaan dari kaum para kaum saleh profesi adalah bagi kelangsungan hidup mereka. Tidak peduli apakah seseorang itu berada di posisi yang tinggi atau di posisi yang rendah, tidak peduli dia makan enak atau tidak, dia selalu sibuk bekerja untuk kelangsungan hidupnya. Namun, kita anak-anak Allah, dan kita milik Allah. Allah tahu yang kita perlukan. Lalu mungkin ada beberapa orang akan berkata, “Jika demikian, apakah ini berarti bahwa saya tidak perlu mengerjakan apa-apa? Mungkin saya harus melayani Tuhan sepenuh waktu.” Kita tidak seharusnya berpikir demikian. Allah tidak pernah menginginkan seorang yang malas melayani Dia. Saudara D.L. Moody, seorang penginjil yang besar di Amerika, pada suatu kali berkata bahwa dia telah menginjil selama beberapa dekade dan telah melihat beribu-ribu dan berjuta-juta orang diselamatkan, tetapi dia tidak pernah melihat seorang yang malas diselamatkan. Karena itu, Allah tidak menghendaki seorang yang malas. Semakin rajin seseorang, Allah semakin menyukainya. Allah memperhatikan keperluan kita, tetapi Dia tidak ingin kita menjadi malas dan menganggur.[xxxi]

ORANG YANG MALAS ATAU MENGANGGUR

TIDAK DITUNJANG OLEH GEREJA

Sebagai seseorang yang mengusulkan untuk memiliki lima ratus orang full-timer setiap tahunnya di Taiwan, saya cukup khawatir bahwa jika hal ini dipraktekan terlalu lama akan muncul orang-orang yang malas, menganggur, orang-orang yang hanya tahu makan, tetapi tidak tahu bagaimana bekerja. Saya telah melihat beberapa orang seperti ini. Jika Anda mendorong seluruh kaum saleh untuk melayani sepenuh waktu, orang-orang ini akan mulai berkata, “Saya akan menjadi seorang full-timer; luar biasa! Saya tidak perlu bekerja. Saya tidak perlu pergi ke kantor untuk jam-jam tertentu. Saya dapat tidur sebanyak yang saya suka. Tidak ada yang mengganggu saya dan tidak ada yang memecat saya, karena tidak ada yang menggaji saya. Sekali saya menyatakan bahwa saya seorang full-timer dan gereja menyetujuinya, maka hal ini adalah untuk seumur hidup saya.” Jangan menjamin gereja akan memperhatikan orang-orang seperti ini, jika tidak Anda akan memanjakan mereka.[xxxii]

Saya perlu meluangkan waktu untuk bersekutu mengenai perkara ini. Para pewajib dan orang-orang yang melayani berhutang terhadap gereja. Mereka yang melayani sepenuh waktu telah menyerahkan seluruh hidup mereka untuk melayani Tuhan. Mereka telah meninggalkan masa depan mereka dan dunia, dan memisahkan diri mereka untuk melayani Tuhan. Berdasarkan istilah dunia, mereka telah menjadi profesional; ini adalah pekerjaan mereka. Walaupun demikian, menurut kondisi sidang-sidang kita mereka tidak terlihat bekerja dengan profesional. Banyak di antara mereka tidak memperhatikan sidang-sidang dan bersikap acuh tak acuh saat sebelum dan sesudah sidang. Beberapa kaum saleh yang berprofesi, bekerja di siang hari dan harus terburu-buru untuk bersidang, bahkan sampai tidak makan. Namun, mereka yang melayani sepenuh waktu, yang seharusnya tidak ada alasan dan yang memiliki waktu untuk mempersiapkan sidang dan datang ke sidang lebih awal, hampir tidak dapat datang ke sidang tepat waktu. Di dalam sidang mereka duduk dengan acuh tak acuh dengan Alkitab dan kidung mereka. Ketika sidang selesai, para kaum saleh profesi pulang cepat-cepat, dan sebagian besar para full-timer juga pulang dengan acuh tak acuh.

Situasi semacam ini sulit untuk membawa masuk berkat Tuhan. Setiap pengusaha tahu bahwa tidak ada seorangpun yang dapat berhasil jika ia hanya bekerja selama delapan jam satu hari di kantor. Bahkan setiap pengusaha yang baik bekerja di dalam mimpinya. Ketika dia sedang berjalan atau minum kopi di kedai kopi, dia memikirkan bisnisnya. Demikianlah bisnisnya dapat berhasil. Seorang pengusaha yang hanya bekerja delapan jam di kantor tidak akan pernah berhasil. Hal ini berlaku di setiap profesi. Setiap orang yang berhasil di dalam bisnis akan mencurahkan seluruh diri mereka di dalam bisnisnya.

Para pekerja mungkin hanya melayani berdasarkan pengaturan, mengatur kapan seorang saudara harus memikul beberapa tanggung jawab di suatu tempat atau kapan saudara yang lain harus membawakan berita. Jika demikian, pekerjaan kita tidak akan memiliki penyertaan Tuhan, dan hal itu hanyalah sekedar sebuah pekerjaan. Semua pekerjaan kita seharusnya berasal dari sebuah beban, seperti seorang ibu yang memperhatikan anak-anaknya akan memusatkan hatinya kepada mereka siang dan malam, setiap jam, dan setiap saat. Hanya ibu yang demikianlah yang dapat merampungkan sesuatu di dalam anak-anaknya. Demikian pula, sebagai orang-orang yang melayani kita, harus meletakkan hati kita di dalam pekerjaan kita siang dan malam, setiap jam, dan setiap waktu. Kita harus meletakkan seluruh diri kita di dalam pelayanan kita. Ketika kita memiliki kesempatan untuk bertemu seseorang, kita harus segera memberi dia satu “tembakan” sehingga dia dapat tersuplai. Kita harus selalu melayani orang, baik atau tidak baik waktunya, baik mereka merasa senang atau tidak. Semua orang yang melayani sepenuh waktu harus seperti ini. Jika semua orang yang melayani sepenuh waktu dan para saudara pewajib mau melakukan hal ini, maka tingkat kerohanian kita akan bertambah dengan luar biasa.[xxxiii]

BELAJAR BAGAIMANA BERTINGKAH LAKU

DAN MENGERJAKAN HAL-HAL

Kita tidak seharusnya berpikir bahwa memberikan waktu kita berarti kita dapat bekerja. Kita harus banyak belajar sebelum kita dapat bekerja. Khususnya, para saudara muda harus belajar. Jika seorang saudara muda yang melayani sepenuh waktu tinggal di balai sidang, dia seharusnya menjaga kebersihan balai sidang itu sehingga dia dapat dengan berani memberitahu kaum saleh, “Saudara saudari terkasih, saya sudah melakukan pembersihan, tetapi saya tidak dapat melakukan banyak hal lainnya, karena itu tolong datang dan bantu saya.” Jika demikian, tidak ada seorangpun di dalam gereja akan berkata, “Mengapa orang-orang muda yang melayani tidak mengerjakan apa-apa tetapi hidup dengan tunjangan gereja?” Ketika semua kaum saleh mengerjakan sesuatu, tetapi kita hanya berdiri dan tidak mengerjakan apa-apa, bagaimana dengan perasaan mereka? Ketika mereka datang ke sidang hari Tuhan dan melihat kita sedang membaca Kejadian 28, di dalam diri mereka akan berkata, “Mengapa dia tidak bekerja? Mengapa dia hanya menerima tunjangan keuangan dari gereja?” Ini memperlihatkan bahwa kita tidak matang dan tidak tahu bagaimana bertingkah laku di dalam gereja. Pada suatu waktu saya benar-benar terganggu. Di dalam balai sidang beberapa kaum saleh sedang melakukan pembersihan, beberapa orang sedang mempersiapkan ruang sidang, dan beberapa orang sedang mempersiapkan makanan. Walaupun setiap orang sedang sibuk, seorang saudara yang melayani sepenuh waktu sedang duduk dan bermain piano. Setiap orang sedang sibuk dan berkeringat, tetapi dia duduk dengan nyaman dan bermain piano dengan riang. Apakah orang yang demikian dapat benar-benar bekerja bagi Tuhan? Janganlah kita berpikir bahwa kita dapat melayani Tuhan jika kita tidak nonton bioskop, main mahyong atau bertengkar dengan orang. Bukan itu masalahnya. Jika keringat kaum saleh tidak dapat mempengaruhi kita, bagaimana kita dapat melayani Allah?

Doktrin maupun teologi tidak terhitung; hanya kehidupan kita yang sebenarnya yang terhitung di hadapan Tuhan. Kita harus memiliki beberapa pengenalan dasar mengenai bagaimana kita harus bertingkah laku. Ketika para saudari sedang sibuk mempersiapkan makanan, pantaskah kita menikmati aktivitas dengan santai? Ketika para saudara sedang berjerih lelah dan berkeringat selama pembersihan, apakah kita tidak memiliki perasaan yang tepat terhadap hal itu? Ini menunjukkan bahwa kita kekurangan perasaan mengenai bagaimana kita bekerja, bagaimana memperhatikan perkara-perkara, dan bagaimana bertingkah laku. Saya membahas situasi ini sehingga kita dapat memiliki perasaan terhadap perkara ini. Kita perlu berlatih setiap hari. Saya banyak berbicara akan hal ini karena saya berharap bahwa kita tidak hanya mendengar doktrin tetapi bisa benar-benar belajar sesuatu. Dengan demikian kita akan berguna.[xxxiv]

Banyak saudara saudari yang melayani sepenuh waktu memiliki kesulitan untuk melayani dengan baik karena karakter yang tidak memadai, bukan karena mereka tidak tahu bagaimana mengerjakan hal-hal. Jika karakter saudara saudari tidak tepat, suatu hal tidak akan dikerjakan dengan serius, dan akan dikerjakan dengan sembarangan dan ceroboh. Setelah mengulangi perkataan ini, saya berharap kita dapat belajar pelajaran-pelajaran ini secara praktis. Di dalam tiga sampai lima bulan, saya tidak berharap melihat orang-orang yang melayani di tengah-tengah kita menjadi malas, tidak peduli, dan ceroboh. Kita harus mengerjakan sesuatu dengan tuntas dan serius, dan kita harus menghadapi orang di dalam roh dan kejujuran. Jika kita tidak membangun karakter kita di dalam melayani Tuhan, kita tidak akan berguna. Karena itu, kita harus mempelajari Firman kebenaran dan akrab dengan Alkitab. Selain itu, kita harus rajin, serius, teliti dan bersungguh-sungguh. Tidak peduli kita melakukan sesuatu atau tidak, kita harus tepat. Karakter ini harus dibangun di dalam kita dimulai dengan hal-hal kecil di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kita dapat menggunakan rumah para pekerja sebagai sebuah ilustrasi. Ketika saya berada di sana selama beberapa hari, saya melihat bahwa kadang-kadang saudara saudari tidak menutup pintu ketika mereka meninggalkan rumah. Jika kita tidak belajar akan hal ini, bagaimana kita dapat melayani dan memimpin kaum saleh? Di dalam ruang tamu mereka yang kecil, terdapat nampan dan cangkir di dekat kursi sofa. Namun, setelah nampan dan cangkir-cangkir itu digunakan, mereka tidak mengembalikannya ke tempat semula; semuanya berantakan. Saya dapat memberikan banyak contoh yang memperlihatkan bahwa kita belum mempelajari pelajaran-pelajaran ini dengan tepat dan karakter kita belum terbangun. Karena itu, saya tidak percaya bahwa kita dapat mempelajari Alkitab dengan baik, dan bahwa pelayanan kita berada di jalur yang tepat.

Jika kita mau berlatih dan membangun karakter kita, kita pasti akan memiliki terang ketika kita membaca Alkitab, dan pelayanan kita pasti akan efektif. Sebaliknya, jika kita tidak mau belajar banyak hal dengan tepat, maka pikiran kita akan kendur, bingung dan tidak berguna. Sejak sekarang, dengan pimpinan dan rahmat Tuhan, kita harus belajar dengan serius, sehingga ketika kita menghadapi perkara tertentu, kita tidak akan bingung atau takut, tetapi kita akan memiliki penilaian yang baik dan keberanian. Jika pikiran kita sudah terlatih terhadap hal-hal kecil, maka kita akan menjadi seorang yang akurat. Jika kita ingin dipakai oleh Tuhan dan menjadi bejana di dalam tangan-Nya, kita tidak hanya perlu memiliki pengetahuan, karakter kita pun perlu dilatih.[xxxv]

Kita harus belajar melawan watak dan karakter kita. Apakah kita menggunakan waktu kita dengan tepat atau tidak, hal itu akan mengekspos watak dan karakter kita. Sebagai full-timer, sangat mudah untuk tidak membagi waktu dengan bijaksana. Ketika kita bekerja di dunia bisnis, selalu ada jadwal tertentu yang akan membantu kita untuk mengatur waktu. Sebagai karyawan, kita tidak dapat pergi bekerja hanya ketika kita senang saja. Jika Anda melakukan hal ini walau hanya sebentar saja, Anda akan menerima surat peringatan dan Anda akan dipecat. Sebagai full-timer, sepertinya Anda tidak memiliki seorang bos karena Anda telah keluar dari pekerjaan Anda. Anda mungkin berkata bahwa Tuhan adalah bos Anda, tetapi sebenarnya, Anda adalah bos Anda. Hari ini, Anda mungkin bekerja tepat waktu, tetapi besok, jika Anda merasa agak lelah, Anda mungkin bekerja lebih sedikit. Siapakah bos Anda? Yesus Kristus atau diri Anda sendiri? Sebenarnya, Andalah bosnya. Saya tahu bahwa mudah untuk memanjakan Anda sebagai peserta pelatihan sepenuh waktu, karena saya pernah berada di jalur ini selama bertahun-tahun, dan saya telah banyak melihat para full-timer. Kita mungkin berkata bahwa kita hidup, berjalan dan menempuh kehidupan kita di dalam nama Tuhan. Tetapi sebenarnya, kita sering hidup, berjalan dan menempuh kehidupan kita sepenuhnya berdasarkan watak kita.

Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, kita memiliki pelatihan mengenai tiga puluh macam karakter. Pada waktu itu ada seratus dua puluh orang yang mengikuti pelatihan itu. Mereka yang dulu berusia dua puluh lima tahun, sekarang sudah hampir berusia enam puluh tahun. Namun, dalam kesan saya, karakter mereka sekarang tidak banyak berbeda seperti pada saat mereka berusia dua puluh lima tahun. Beberapa orang dari mereka sekarang telah menikah dan memiliki anak, dan beberapa anak-anak mereka telah lulus dari universitas. Namun, karakter mereka tidak banyak berubah; sebagian besar hampir sama. Awalnya mereka kendur, dan sekarang mereka masih kendur. Inilah yang harus kita perhatikan. Saya berharap bahwa orang-orang muda, termasuk peserta pelatihan sepenuh waktu, ketika mereka mulai belajar untuk melayani Tuhan, mereka dapat menerima pelatihan karakter dengan serius dan ketat, menanggalkan semua pertunjukan dan kepura-puraan serta mendapatkan sesuatu yang sejati di dalam hayat batini mereka.[xxxvi]

Sulit bagi para peserta pelatihan untuk tinggal bersama beberapa ratus orang, dan dilatih selama dua puluh empat jam sehari. Namun, ini untuk melatih karakter mereka dan membantu mereka untuk melatih roh mereka dalam beradaptasi dengan lingkungan. Mungkin beberapa orang dari mereka adalah anak tunggal, dan mereka dimanjakan oleh orangtua mereka dan diperbolehkan untuk mengerjakan apapun yang mereka suka. Namun, hari ini karena mereka telah memilih untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, mereka harus tahu bahwa dalam melayani Tuhan tidak ada satu hal yang akan berjalan menurut kehendak mereka. Mereka harus dipersiapkan untuk memiliki pikiran menderita.[xxxvii]

Seorang yang mudah pecah seperti telur tidak dapat melayani Tuhan. Setiap orang yang melayani Tuhan harus seperti batu marmer, bahkan harus seperti baja yang tahan terhadap serangan nuklir. Hanya orang yang kuat seperti inilah yang dapat melayani Tuhan. Jika kita mendengar perkataan yang menyalahi kita atau tidak menyenangkan hati kita, lalu kita menjadi sakit hati dan kecewa, maka kita tidak akan diterima di mana-mana. Karena itu, kita perlu belajar untuk kuat di dalam roh kita dan lembut di luar untuk beradaptasi dengan segala lingkungan. Hal ini adalah untuk melatih karakter yang tepat. Jika orang-orang mengatur kita untuk tidur di satu ruangan seorang diri, kita akan baik-baik saja. Jika kita diaturkan satu kamar dengan orang lain, bahkan dengan dua atau tiga orang, kita tetap baik-baik saja. Jika kita harus bangun pagi-pagi, kita baik-baik saja, dan jika kita harus bangun agak telat, kita juga baik-baik saja. Kita harus beradaptasi dengan segala hal, baik kasar atau lembut, persegi atau bulat. Dengan demikian kita akan berguna di dalam tangan Tuhan.[xxxviii]

SEBUAH PERINGATAN MENGENAI WATAK KITA

Jika semua kaum saleh, khususnya mereka yang dilatih untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, membunuh watak mereka, maka segala sesuatu akan menjadi sangat baik. Jika tidak, setiap orang yang dilatih kemungkinan akan menjadi masalah bagi gereja. Jika kita mengambil pelatihan dan mempraktekkannya dengan ambisi dan kapasitas kita, maka hasilnya adalah suatu masalah. Jika setiap peserta pelatihan tidak membunuh watak mereka masing-masing, maka setiap orang adalah masalah dan akan menjadi masalah. Seberapa banyak Anda akan berguna bagi Tuhan atau berapa banyak masalah yang akan Anda buat bagi gereja, tergantung pada berapa banyak watak Anda yang dibunuh; karena itu, penanggulangan watak adalah perkara yang penting.[xxxix]

Harapan kita adalah setiap tahun menghasilkan dua ratus orang-orang muda yang melayani sepenuh waktu di Taiwan. Jika Tuhan menggenapkan perkara ini, maka kita akan memiliki seribu orang full-timer dalam waktu lima tahun. Walaupun hal ini kedengarannya mendorong, saya khawatir bahwa ketika Anda orang-orang muda masuk ke dalam pekerjaan Tuhan, Anda akan menjadi seribu “kentang-kentang panas (arti: masalah atau kesulitan)” jika karakter Anda tidak dilatih dengan tepat. Jika hal ini terjadi, maka kita tidak dapat mengerjakan pekerjaan Tuhan. Karena itu, saya tekanlah lagi dan lagi bahwa selain mengejar kebenaran dan bertumbuh di dalam hayat, Anda juga harus membina sebuah karakter yang ketat. Jika Anda tidak mengejar kebenaran atau bertumbuh di dalam hayat, hal itu tidak akan terlalu menjadi masalah yang besar. Anda mungkin tidak memiliki tingkat kegunaan yang besar, tetapi setidaknya Anda masih dapat melatih bagian Anda. Namun, jika Anda belajar kebenaran dan bertumbuh di dalam hayat dengan sangat baik, tetapi karakter Anda tidak dibangun, maka akan menjadi sebuah masalah yang besar[xl].

Hal ini memperlihatkan bahwa karakter mencakup pembinaan. Menurut perkiraan saya, karakter seseorang terdiri dari tiga puluh persen adalah sifat bawaan dan tujuh puluh persen adalah pembinaan. Apakah kita dapat mengerjakan sesuatu dengan tepat dan berhasil sepenuhnya tergantung pada karakter kita. Kemampuan kita adalah hal kedua; karakter kita adalah faktor pertama. Semoga kita semua memperhatikan perkara ini. Di satu sisi, kita tidak seharusnya membiarkan orang lain memandang rendah karena kita muda; di sisi lain, kita harus membina karakter yang tepat.[xli]

MEMBANGUN KARAKTER KITA BAGI PELAYANAN TUHAN

DENGAN TIDAK BEROPINI

Ketika kita melayani berkoordinasi dengan para saudara di dalam gereja, kita harus menjaga prinsip untuk tidak beropini. Sejak saat ini, kita harus mulai membangun karakter kita. Sifat kita adalah keturunan, sedangkan tingkah laku kita adalah dibina. Tiga puluh persen dari karakter kita adalah pembawaan, dan tujuh puluh persen adalah pembinaan. Ketika kita mulai melayani Tuhan, kita jangan hanya membaca Alkitab dan mempelajari kebenaran, melainkan juga melatih karakter bagi pelayanan Tuhan. Karakter yang dibutuhkan bagi pelayanan Tuhan lebih tinggi daripada pekerjaan apapun.

Kondisi yang pertama dan terutama dalam membina karakter bagi pelayanan Tuhan adalah melawan watak kita. Jika watak kita suka berbicara, maka kita harus melawan pembicaraan kita. Kita semua memiliki watak yang umum yaitu memiliki opini. Kita perlu memperhatikan perkara ini.

Untuk membangun karakter kita bagi pelayanan Tuhan, kita harus belajar untuk tidak beropini. Ketika kita mempelajari kebenaran, kita harus rajin tanpa beropini, dan ketika kita melayani Tuhan, kita harus berjerih lelah dengan rajin tanpa beropini. Kita harus selalu belajar bekerja dengan tidak beropini. Jika kita membersihkan sebuah ruangan, kita harus mengerjakannya dengan menyeluruh dan tidak mengkritik, yang mengekspresikan opini. Saya berharap bahwa ketika kita melayani, kita tidak memiliki opini apapun. Kita hanya tahu untuk rajin berjerih lelah dengan mengerjakan lebih banyak dan belajar lebih banyak. Kita semua harus membangun karakter semacam ini.[xlii]

KARAKTER YANG TEPAT

Tidak Berbicara Terlalu Banyak atau Terlalu Sedikit

Sebuah karakter yang tepat adalah perkara lain yang ingin Tuhan dapatkan di dalam kita selama masa pelatihan sepenuh waktu. Bagian karakter kita yang ingin Tuhan tanggulangi seringkali merupakan bagian yang terhebat. Karena itu, kita harus melatih pikiran kita dengan tekad kita untuk menghindari karakteristik itu. Misalkan, mereka yang kuat tetapi memiliki karakter yang kendur akan berbicara dengan bebas. Sangat mudah bagi mereka untuk berbicara. Jika kita adalah orang yang mudah untuk mengungkapkan sesuatu, maka kita harus belajar untuk melatih pikiran kita dan menentukan untuk tidak berbicara dalam beberapa saat. Jika kita tidak mau melakukan hal ini, maka karakter kita tidak akan pernah berhasil ditanggulangi oleh Tuhan. Ini cukup serius.

Walaupun pelatihan ini mendorong orang-orang untuk mengungkapkan sesuatu bagi Tuhan dan dari Tuhan, beberapa orang dari kita perlu menanggulangi perkara berbicara terlalu cepat. Jika kita mau ditanggulangi dan bahkan diremukkan oleh Tuhan dalam aspek karakter kita ini, maka kita akan menjadi sangat berguna. Bagi kita penanggulangan di aspek karakter ini adalah yang paling sulit.

Kita harus memiliki sebuah pikiran yang jernih dan tenang serta tekad yang kuat untuk memberikan diri kita sendiri kepada Tuhan dan meninggalkan diri kita di dalam tangan-Nya. Ketika kita ingin berbicara, kita harus ingat bahwa ini adalah alamiah kita. Jika kita tidak menanggulanginya dengan tuntas, kita tidak dapat mengetahui apakah inspirasi Tuhan dan apakah alamiah kita, karena kita terlalu bebas berbicara. Karena kita terlalu mudah berbicara, maka orang lain sulit membedakan apakah perkataan kita adalah hayat alamiah kita atau inspirasi Tuhan. Kita semua harus menyadari bahwa di dalam melayani Tuhan, hal yang terutama adalah perkataan kita. Pada saat kita mengabarkan Injil, menyuplai orang-orang yang baru beroleh selamat, atau menggenapi kaum saleh, apapun yang kita lakukan di dalam pekerjaan Tuhan selalu tergantung pada perkataan kita.

Saudara Watchman Nee pada saat masih muda, mendengar sebuah cerita mengenai seorang penyanyi Italia yang terkenal. Seorang muda yang mendengar kemasyurannya, datang kepada dia dan ingin diajar oleh dia. Walaupun penyanyi itu setuju untuk mengajar dia, tetapi dia ingin orang muda itu berjanji untuk tidak meyanyi selama tiga tahun. Orang muda ini hanya boleh mendengar saja. Itu sangat sulit. Orang muda itu merasa bahwa tidaklah logis diterima sebagai seorang murid yang belajar menyanyi tetapi tidak boleh menyanyi selama tiga tahun. Dalam prinsipnya, ini adalah penanggulangan karakter kita.

Ada kaum saleh yang perlu berbicara dua kali di dalam setiap sesi pelatihan dan di setiap sidang gereja. Mereka harus melatih tekad mereka yang kuat yang telah diperkuat oleh Roh itu. Mereka harus melatih pikiran mereka yang tenang untuk berbicara di setiap sidang. Bagi beberapa orang, berbicara itu sangatlah mudah, sedangkan bagi orang lain, berbicara sangatlah sulit. Selama bertahun-tahun beberapa orang dari kita tidak pernah berada di dalam lingkungan yang memaksa kita untuk berbicara. Jika tidak, kemudahan alamiah kita atau kesulitan alamiah kita dalam berbicara akan memanjakan kita. Karena itu, ketika kita melayani Tuhan, kita semua harus belajar berbicara. Selain itu kita jangan berbicara dari diri kita sendiri, melainkan dari Tuhan. Tidak peduli apakah kita pandai berbicara, atau alamiah kita adalah tenang, dua aspek karakter itu perlu ditanggulangi untuk melayani Tuhan. Selain itu, kita perlu melawan segala alamiah kita.[xliii]

KARAKTER DAN WATAK

Dalam prinsipnya, karakter seseorang menentukan apakah pekerjaan atau aktivitasnya akan berhasil dan efektif. Ini berarti bahwa apapun yang dikerjakan seseorang tidak dapat lepas dari pengaruh karakternya. Karakter seseorang menentukan bagaimana dia bertingkah laku dan bagaimana dia bekerja. Banyak masalah di antara orang-orang yang melayani Tuhan berhubungan dengan karakter mereka. Beberapa orang memiliki masalah rohani dan beberapa orang lainnya memiliki masalah psikologis. Namun, masalah yang paling sulit adalah berhubungan dengan karakter seseorang. Karena itu, ketika kita belajar untuk melayani Tuhan, kita perlu banyak bersekutu dengan Tuhan dan menengadah kepada belas kasihan dan anugerah-Nya. Karena itu, kita harus menanggulangi karakter kita dengan ketat.

Jika diri kita sendiri tidak memikul tanggung jawab untuk menanggulangi masalah dalam karakter kita, maka Roh Kudus akan sulit untuk mengerjakan sesuatu di dalam kita. Cara kita bertingkah laku dan cara kita mengerjakan sesuatu berhubungan dengan karakter kita. Kita tidak dapat mengatakan bahwa Roh Kudus tidak pernah menentang dan campur tangan, tetapi jika kita berharap Roh Kudus membangun karakter yang baik di dalam kita, maka kita salah. Roh Kudus tidak melakukan hal semacam ini. Walaupun Roh Kudus akan melakukan hal ini, Dia tetap akan menuntut kerjasama kita, dan kita tetap harus memikul tanggung jawab yang penting. Masalah saudara seringkali terletak pada karakternya. Ketika sesuatu diberikan ke tangan beberapa orang saudara, pasti hancur. Apapun yang mereka kerjakan tidak pernah tuntas dan solid. Kelihatannya apapun yang mereka kerjakan, mereka selalu meninggalkan sesuatu untuk diselesaikan oleh orang lain. Ini adalah perkara karakter, atau kita dapat mengatakannya sebagai perkara kebiasaan.

Seorang yang melayani Tuhan seharusnya juga memiliki watak yang menyenangkan; yaitu dia harus menikmati saat berkontak dengan orang. Beberapa orang secara alamiah suka berkontak dengan orang, tetapi ini tidak berguna karena ini adalah alamiah dan bukan kebangkitan. Hanya yang berada di dalam kebangkitanlah yang berguna. Di dalam pelayanan kita, kita harus ditanggulangi oleh Tuhan sampai pada satu taraf kita menikmati saat berkontak dengan orang. Setidaknya kita harus menanggulangi diri kita dan memaksa diri kita untuk mengontaki orang.

Selama pelatihan di Kuling dari tahun 1948 sampai 1949, Saudara Nee berkata bahwa untuk menjadi berguna di dalam tangan Tuhan, seseorang yang melayani Tuhan harus tertarik kepada orang. Ketika seseorang itu melihat orang, dia suka untuk mempelajari dan mengontaki mereka. Ketika dia melihat orang-orang baru di dalam sidang, dia akan mengontaki mereka dan berbicara dengan mereka. Seseorang yang melayani Tuhan, harus memiliki watak yang demikian; jika tidak, pelayanannya akan menderita banyak kerugian.

Misalkan, ada satu orang baru datang ke sidang pemecahan roti dan dia membawa seluruh keluarganya, tetapi tidak ada saudara saudari yang berbicara kepada keluarga ini setelah sidang. Inilah kelemahan kita. Setiap hamba Tuhan harus memegang kesempatan untuk mengontak orang. Kita harus datang ke sidang lebih awal untuk mengontak orang. Ini bukan berarti bahwa kita hanya datang lebih awal lima atau sepuluh menit; melainkan, kita juga harus mengontak orang ketika selesai sidang. Jika setiap orang dari kita mengontak satu orang sebelum dan sesudah sidang, maka kita masing-masing dapat mengontak dua orang setiap kali sidang. Kalau demikian, jika kita menghadiri tiga sidang setiap minggunya, maka kita masing-masing dapat mengontak enam orang setiap minggu. Beberapa orang berkata bahwa ini tidak alami. Namun, jika memiliki watak yang ramah dan suka bersosialisasi, yaitu suatu watak yang suka mengontaki orang, maka kita akan merasa bahwa hal ini mudah dan spontan.

Tidak peduli kita berada di sidang apa, kita perlu mengontak orang setelah sidang; selain itu, kita jangan berbicara dengan mereka secara acuh tak acuh, tetapi kita harus meministrikan kasih karunia kepada mereka secara batini. Kita semua harus memiliki watak seperti ini—seorang yang memiliki keinginan untuk mengontak orang dan mengenal kondisi rohani orang-orang itu di hadapan Tuhan. Hal ini tidak akan membuang banyak waktu, cukup lima sampai sepuluh menit. Beberapa orang saudara saudari mungkin harus segera pulang setelah sidang, tetapi kita dapat berjalan bersama mereka dalam jarak tertentu atau mengantar mereka ke halte bis. Ketika kita berjalan bersama mereka, kita dapat berbincang-bincang dengan mereka. Ini bukan berarti kita semua harus mengatakan, “Saudara, apa kabar? Anda tinggal di mana?” Janganlah menyepelekan efek dari perkataan yang sederhana ini. Kadang-kadang sedikit perkataan yang sederhana dapat memberikan penghiburan dan dorongan yang besar kepada orang lain. Sebagian besar pengusaha menyadari bahwa kontrak bisnis tidak dilakukan di dalam kantor melainkan di lapangan tenis atau di kedai kopi. Karena itu ketika kita mengontak orang, kita tidak boleh terlalu formal.

Kontak kita dengan Tuhan adalah satu hal, dan kontak kita dengan orang adalah hal yang lain. Hal yang pertama itu tidak dapat digantikan oleh hal yang kedua. Ketika Tuhan Yesus di muka bumi, Dia berkontak dengan Allah dan manusia. Kita tidak dapat menemukan satu peristiwa di dalam Alkitab dimana Tuhan pergi suatu tempat tetapi tidak mengontak orang. Dia mengontak orang ke manapun Dia pergi. Terkadang, menurut pimpinan Allah, Dia berpindah dari satu tempat tertentu untuk menyendiri dan sengaja tidak mengontak orang. Di luar hal itu, Dia selalu berkontak dengan orang tidak peduli di manapun Dia berada. Selain itu, pemberitaan-Nya selalu fleksibel. Dia membicarakan perkataan tertentu kepada orang-orang tertentu dan di waktu-waktu tertentu. Perkataan-Nya tidak pernah monoton, membosankan ataupun formal. Dia mengontaki orang setiap waktu dan di setiap tempat sehingga Dia dapat menyuplaikan kasih karunia kepada mereka. Tidak peduli orang macam apakah mereka, Dia dapat meministrikan kasih karunia kepada mereka di saat yang tepat.

Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Dia berkontak dengan Allah dan manusia. Dia bersatu dengan Allah sepanjang waktu dan di setiap tempat, dan Dia juga mengontaki orang setiap waktu dan di setiap tempat. Jika kita setiap orang, entah usia berapa, dapat belajar dan berlatih mengontaki orang maka gereja akan sangat diberkati. Secara luaran, mengontak orang sepertinya adalah suatu perkara yang kecil, tetapi kita tidak tahu berapa banyak orang yang akan dibawa masuk.

Seringkali setelah sidang, kita melihat kaum saleh, entah usia berapa, hanya bangun dan pergi meninggalkan. Kita jarang melihat dua orang dari mereka yang tetap tinggal dan saling membagikan kenikmatan mereka di dalam sidang atau saling terbuka mengenai kondisi orangnya mereka. Inilah kelemahan dan kekurangan yang besar di tengah-tengah kita. “Talk shop” berarti berbicara mengenai jalur pekerjaan seseorang. Apakah jalur pekerjaan kita? Kita telah menelantarkan masa depan kita, meninggalkan dunia, dan melepaskan ketenaran dan reputasi. Kita melayani Tuhan dengan waktu kita, jerih lelah dan kekuatan kita, tetapi kita tidak membicarakan atau melakukan hal-hal yang berhubungan dengan jalur pekerjaan kita. Apakah kita benar-benar menuntut akan hal itu ketika kita mengatakan bahwa kita tertarik kepada orang?

Mohon amati kaum saleh yang berprofesi. Setelah mereka pulang kerja, mereka cepat-cepat pulang ke rumah, makan, merapikan diri mereka, dan cepat-cepat pergi bersidang. Sebaliknya, orang-orang yang melayani sepenuh waktu datang bersidang dengan sikap yang tidak terburu-buru dan mengatur waktu dengan sangat tepat sehingga mereka tiba di sidang tepat sesuai dengan waktu yang ditentukan, tidak terlambat dan tidak lebih awal. Lalu, seperti Maria, mereka hanya menikmati Tuhan di dalam sidang. Setelah sidang, seperti halnya kaum saleh profesi, mereka hanya bangun dan pergi meninggalkan balai sidang. Kaum saleh profesi tidak memperhatikan orang lain, demikian pula mereka yang melayani sepenuh waktu. Saya ingin bertanya: Apakah sikap ini berdasarkan jalur pekerjaan kita? Jika kita adalah nelayan dan kita tidak dapat menangkap kita, maka kita hanya bisa menyerah, tetapi bagaimana bisa kita tidak bergerak ketika beberapa ekor ikan datang kepada kita dengan sukarela dan melompat ke dalam perahu kita?

Ketika kita melihat kaum saleh yang lebih tua, kita perlu belajar dari mereka, dan ketika kita melihat mereka yang lebih muda, kita perlu menyuplai mereka. Balai sidang adalah kolam ikan kita—mereka yang datang adalah ikan-ikan, dan kita adalah nelayan. Karena menangkap ikan adalah jalur pekerjaan kita, maka kita harus mengerjakan pekerjaan dari nelayan. Kita tidak boleh melupakan jalur pekerjaan kita. Sangatlah menyedihkan melihat bahwa di antara banyak orang-orang yang melayani sepenuh waktu tidak banyak yang mengerjakan “mata pencaharian” mereka. Di dalam kehidupan gereja, semua saudara saudari harus belajar mengontak orang. Hati kita bagi Tuhan adalah hal yang mustika, tetapi karakter kita merupakan suatu masalah yang besar. Inilah sebabnya sidang-sidang kita lembam, dan kehidupan gereja kita itu mati dan membosankan. Kita tidak bisa membiarkan diri kita sendiri menjadi kendur. Kita harus mengikat diri kita. Semoga Tuhan berbelas kasihan kepada kita.[xliv]

i. Witness Lee, Being Up-to-date for the Rebuilding of the Temple, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2002), 52

ii. Witness Lee, Elders’ Training, Book 08: The Life-pulse of the Lord’s Present Move, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1986), 102

iii. Witness Lee, The Church as the Body of Christ, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2005), 61-62

iv. Witness Lee, Knowing Life and the Church, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2005), 283-284

v. Witness Lee, Knowing Life and the Church, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2005), 222-223

vi. Witness Lee, The Exercise and Practice of the God-ordained Way, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1990), 259

vii. Witness Lee, Bearing Remaining Fruit, Vol. 2, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2004), 288

viii. Witness Lee, Bearing Remaining Fruit, Vol. 1, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2004), 142

ix. Witness Lee, The Experience and Growth in Life, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1989), 161

x. Witness Lee, Vessels Useful to the Lord, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2003), 146

xi. Witness Lee, The Proper Aggressiveness of the Lord’s Serving Ones, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2008), 15

xii. Witness Lee, The Proper Aggressiveness of the Lord’s Serving Ones, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2008), 23-25

xiii. Witness Lee, Instruction and Exhortation to the Trainees, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1990), 7-9

xiv. Witness Lee, Three Aspects of the Church: Book 3, The Organization of the Church, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2007), 143-147

BabSepuluh

PENUNTUTAN ROHANI PARA FULL-TIMER

(The Pursuit of Full-timers)

Dasar Alkitab:

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna,

melainkan aku mengejarnya” (Flp. 3:12a)

I. Pelayanan kita bukanlah perkara karunia, pengetahuan, atau kemampuan; sepenuhnya adalah perkara penuntutan kita:

A. Jika kita adalah orang yang demikian, maka kita akan selalu efektif, tidak peduli situasi apapun; di dalam pelayanan kita akan terdapat realitas, isi, vitalitas, dan kekuatan.

B. Selain itu, pelayanan dan pekerjaan kita akan segar; penuntutan seperti ini perlu dibangkitkan di antara kita.

II. Kita harus mengejar pertumbuhan di dalam hayat. Keselamatan dan pertumbuhan hayat kita tergantung pada hayat. Demikian pula, untuk berguna di dalam tangan Tuhan juga tergantung pada hayat:

A. Pertama, kita memiliki aspek hayat, kemudian aspek pelayanan; pertama-tama, kita memiliki perkara hayat terlebih dahulu, kemudian, berdasarkan fakta itu, kita memiliki perkara pelayanan; tanpa hayat dan pertumbuhan hayat yang memadai, kita tidak bisa memiliki pelayanan.

B. Memiliki penuntutan yang sejati adalah ngotot di hadapan Tuhan, sampai pada satu taraf kita tidak memperhatikan apapun selain berjumpa dengan Tuhan.

III. Rendah diri dan sombong menghalangi kita dan menghentikan penuntutan rohani kita yang sejati:

A. Mereka yang memiliki perasaan rendah diri tidak akan mengejar Tuhan, demikian pula dengan mereka yang dangkal dan puas diri.

B. Selain itu, kita tidak boleh sombong, karena kesombongan mencegah kita untuk mengejar; mereka yang sombong itu penuh; karena mudah bagi mereka untuk mendapatkan perkara-perkara rohani, maka mereka tidak mengejar dengan agresif.

C. Putus asa menyebabkan kita berhenti mengejar, dan puas diri juga menyebabkan kita berhenti mengejar; keperluan kita yang mendesak adalah mengejar Tuhan.

IV. Paulus berlari di dalam perlombaan; dia mengejar dengan melupakan apa yang di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya:

A. Pengalaman rohani yang sejati mencakup meninggalkan di belakang apa yang telah kita dapatkan; ketika kita melewati sesuatu, kita harus mengesampingkannya; inilah berlari di dalam perlombaan.

B. Jika kita tidak berlari seperti ni, kita akan berlari di dalam lingkaran dan tidak akan maju.

C. Kita harus menjadi orang-orang yang berlari di dalam perlombaan, melupakan apa yang di belakang kita dan mengarahkan diri kepada hal-hal yang di depan kita, karena tidak ada batasan di dalam Kristus.

V. Kidung Agung adalah sebuah kitab di dalam Alkitab yang terfokus pada pengejaran:

A. Dari pasal pertama, Kidung Agung membicarakan tentang pengejaran.

B. Di dalam orang yang mencari, ada kerinduan untuk mengejar.

C. Kita memperlukan kasih yang segar dan pengejaran yang sejati terhadap Tuhan; jika kita mendapatkan sesuatu di dalam penuntutan rohani kita, kita tidak boleh stagnan atau stop.

VI. Kita perlu memahami bahwa kita tidak dapat dan tidak mampu, tetapi ada satu yang dapat kita lakukan: kita dapat mengejar Tuhan, ditarik oleh-Nya, dan memiliki kasih yang segar bagi-Nya; ini berharga di pandangan Allah.

Cuplikan Berita Ministri:

DUA SITUASI YANG MENGHAMBAT PENUNTUTAN ROHANI KITA

Ada dua situasi yang membuat kita membatasi Allah. Dalam situasi pertama, orang-orang yang melayani memiliki perasaan bahwa mereka tidak bisa mendapatkan Tuhan dan bahwa mereka tidak dapat melihat hasil di dalam pelayanan mereka. Dengan kata lain, kelihatannya orang lain diterangi dan tahu bagaimana untuk bekerja, tetapi mereka tidak menerima terang, dan pekerjaan mereka tidak memiliki hasil. Karena itu, mereka menjadi putus asa. Bertahun-tahun yang lalu situasi ini tidak umum di antara kita, tetapi hal ini menjadi lebih jelas pada tahun-tahun terakhir ini. Dalam situasi kedua, orang-orang yang melayani tahu bagaimana untuk membaca Alkitab. Alkitab terbuka bagi mereka, dan mereka selalu menerima terang. Namun, mereka sering menjadi sombong dan angkuh ketika mereka menerima wahyu dan terang dari Allah.

Prinsip yang sama berlaku pada perkara rohani lainnya. Ketika beberapa orang kaum saleh mengejar suatu pengalaman rohain, lalu mereka mendapatkannya dan segera bersaksi mengenai wahyu yang mereka terima atau pengalaman mereka. Namun, kaum saleh lainnya tidak menerima pengalaman seperti itu, tidak peduli berapa banyak penuntutan mereka. Sepertinya kaum saleh ini tidak tahu bagaimana untuk menuntut dan bagaimana untuk bekerja. Inilah dua kelompok dari orang-orang yang melayani. Hal ini dapat dibandingkan dengan orang-orang yang belajar atau berolahraga. Beberapa orang kelihatannya tidak memiliki masalah dalam memahami suatu subyek atau permainan olahraga, sedangkan orang lainnya harus berjuang.

Beberapa orang sekerja tidak memiliki kepandaian untuk memiliki pencapaian di dalam Injil, di dalam meministrikan firman, atau dalam menjenguk kaum saleh. Semakin mereka melihat diri mereka sendiri, semakin terlihat seakan-akan mereka tidak memiliki kemajuan di dalam penuntutan rohani mereka atau di dalam pekerjaan. Karena itu, mereka sepenuhnya putus asa. Mereka ingin terus melayani, tetapi mereka merasa tidak memiliki kemampuan. Tidak mudah bagi mereka untuk mundur, karena mereka telah membayar harga untuk melayani Tuhan. Hasilnya, orang-orang ini merasa sengsara. Ini adalah satu situasi.

Di dalam situasi yang lain, para sekerja mendapatkan apa yang mereka kejar di dalam Tuhan dan di dalam pekerjaan. Jalan terbuka bagi mereka dan mereka mudah mendapatkan hasil. Kelompok sekerja yang pertama cenderung untuk putus asa, tapi kelompok yang kedua cenderung untuk sombong. Dua kondisi ini tidak dapat dihindari. Kita tidak dapat mengatakan, satu kelompok itu dalam dan kelompok yang lainnya dangkal. Sebenarnya, kedua sejenis sekerja ini berada di dalam “diri”.

RENDAH DIRI DAN SOMBONG

Beberapa orang sekerja kecewa dan putus asa karena mereka berpikir bahwa mereka tidak tahu bagaimana menuntut Tuhan, mereka tidak tahu bagaimana bekerja, karunia mereka tidak ternyatakan, dan mereka tidak melihat hasilnya. Para sekerja ini merasa malu, merasa dipermalukan, dan putus asa ketika mereka melihat sekerja lainnya maju di dalam pekerjaan. Perasaan malu ini menunjukkan bahwa mereka berada di dalam diri mereka sendiri. Hasilnya, mereka memiliki perasaan rendah diri dan berpikir bahwa mereka tanpa harapan. Memang benar untuk tidak menganggap diri sendiri memiliki kemampuan, tetapi tidak benar untuk menjadi rendah diri. Seorang yang rendah diri yang kehilangan keberaniannya, tidak dapat mengontak orang lain dan tidak dapat berdoa. Seorang yang memiliki perasaan rendah diri terkubur di dalam dirinya sendiri.

Dalam situasi yang lain, seorang sekerja dapat menjadi angkuh. Ini adalah ekspresi dari kesombongan. Ketika seorang yang melayani dipenuhi dengan kesombongan, dia menjadi dangkal. Mereka yang memiliki perasaan rendah diri sepertinya tenggelam di dalam dasar laut, tetapi mereka yang sombong sepertinya mengapung seperti selembar kertas yang tipis di udara.

Seorang yang melayani yang memiliki perasaan rendah diri hanya melukai dirinya sendiri, tidak melukai orang lain. Ketika dia menyadari bahwa dia tidak memiliki kemampuan di dalam pekerjaan dan bahwa dia tidak dapat berdoa, membaca Alkitab, atau membawakan berita, dia menjadi tidak ingin memberitakan Injil, mengunjungi kaum saleh, atau berbicara bagi Tuhan. Orang seperti ini terkubur di dalam kerendahan dirinya. Tetapi masalah ini hanya terbatas bagi dirinya sendiri. Namun, seorang yang melayani yang sombong dapat mempengaruhi orang lain karena dia berpikir bahwa dia memiliki sesuatu. Ini adalah sisi lain dari “diri.”

RENDAH DIRI DAN SOMBONG MENGHENTIKAN PENUNTUTAN ROHANI

Karena tidak banyak orang-orang yang melayani yang bertumbuh di dalam hayat, memberikan suplaian, atau efektif di dalam pekerjaan, maka pekerjaan dan pelayanan kita menjadi stagnan. Beberapa sekerja kita terjerumus di dalam kerendahan diri. Sekerja yang lain, yang dibutakan oleh pandangan mereka yang dangkal, berpikir bahwa mereka mampu, tetapi mereka hanya memiliki hasil yang sedikit karena kedangkalan mereka.

Seorang yang sempit dan dangkal adalah sombong. Mudah bagi seseorang yang sempit menjadi sombong. Dan mudah bagi seorang yang dangkal menjadi sombong. Sebenarnya, menjadi sempit sama dengan menjadi sombong. Seorang saudara yang lapang seperti sebuah cangkir yang besar dengan kapasitas yang besar. Tidak peduli berapa banyak yang telah dia kerjakan, dia tidak merasa sempurna atau sombong. Namun seorang saudara yang sempit seperti sebuah cangkir yang kecil berisi air. Jika satu tetes air ditambahkan ke dalam cangkir, ia akan meluap. Seorang yang adalah sebuah bejana yang besar dengan kapasitas yang besar menerima lebih banyak kasih karunia, tetapi dia tidak pernah merasa dia adalah seorang yang spesial. Sebaliknya seorang yang adalah bejana yang kecil dengan kapasitas yang kecil mudah dipenuhi dengan kasih karunia yang sedikit, dan dia merasa bahwa dia adalah sesuatu yang spesial. Ini adalah indikasi dari kesempitannya, dan kesempitan ini berhubungan dengan kedangkalannya. Orang yang dalam memiliki kapasitas yang besar, tetapi orang yang dangkal memiliki kapasitas yang kecil.

Seorang yang sombong dan puas diri adalah seorang yang dangkal dan kecil. Menjadi dangkal sama dengan menjadi kecil. Seorang yang dangkal sangat mudah menjadi sombong. Orang lain mungkin tidak menjadi sombong tetapi mudah bagi mereka merasa puas diri. Seorang yang menjadi sombong dan puas diri tidak efektif di dalam pekerjaan, dan karena dia dangkal dan hanya di permukaan, dia tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang berbobot dan dalam. Hanya seorang yang telah melewati kegagalan, penderitaan, diakhiri dan yang telah diremukkan, baru dapat mengerjakan pekerjaan yang berbobot dan dalam. Orang yang demikian tidak memiliki banyak perasaan akan puas diri atau cukup diri. Dia terus maju dan bekerja dengan setia. Orang demikian tidak menjadi masalah di dalam pekerjaan dan efektif.

Rendah diri dan sombong menghentikan penuntutan rohani kita. Mereka yang memiliki perasaan rendah diri tidak akan menuntut Tuhan, demikian pula dengan mereka yang dangkal dan puas diri. Sulit bagi mereka yang merasa rendah diri dan mereka yang dangkal dan puas diri untuk belajar sesuatu. Penuntutan rohani kita dipengaruhi oleh perasaan rendah diri. Selain itu, kita tidak boleh sombong, karena kesombongan mencegah kita dari penuntutan. Mereka yang sombong merasa penuh. Karena mereka mudah mendapatkan perkara rohani, maka mereka tidak menuntut dengan agresif. Baik rendah diri maupun sombong dapat menghalangi kita dan menghentikan penuntutan rohani kita yang sejati.

KEKURANGAN PENUNTUTAN ROHANI

Walaupun kita melayani dengan teratur dan berkoordinasi, kita hanya memiliki penampilan luar. Kehidupan rohani kita juga hanya suatu penampilan luaran. Pengalaman kita dalam bersekutu dengan Tuhan dan menjamah Dia melalui doa-baca dan berdoa, dapat menjadi suatu penampilan luaran. Penampilan luaran ini adalah sebuah cangkang yang kosong karena kita kehilangan kehidupan yang mengejar Tuhan. Alkitab memperlihatkan bahwa kita tidak dapat berhenti mengejar Tuhan, karena Tuhan sangat limpah (Ul. 8:7-9; Ef. 3:8). Kekayaan-Nya tidak terhingga dan tidak terbatas, serta lebar, panjang, tinggi, dan dalam-Nya tidak terukur seperti alam semesta (ay. 18).

Ketika Paulus berada di dalam penjara, dia berkata, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya” (Flp. 3:12a). Di dalam ayat 13 dia berkata, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” Penuntutan rohaninya yang segar dan tidak terbatas membuat dia melepaskan segala sesuatu yang telah dia dapatkan di masa lampau dan segala yang usang, sehingga dia bisa mendapatkan Kristus sampai pada taraf kepenuhan-Nya. Paulus tidak hanya melepaskan pengalaman-pengalamannya yang lampau mengenai Yudaisme; dia juga tidak tetap berada di dalam pengalaman-pengalamannya yang lampau mengenai Kristus. Sebagai orang yang berlari di dalam jalur perlombaan, Paulus hanya tahu berlari ke depan. Dia tidak melihat ke belakang.

Masalah kita adalah kita tetap berada di dalam apa yang kita capai, dan kita memustikakan pengalaman-pengalaman kita. Misalkan, seorang saudara yang mendapatkan beberapa pengetahuan mengenai salib, dia tetap berada di dalam pengetahuan itu. Namun, pengalaman-pengalaman rohani yang sejati, mencakup meninggalkan di belakang apa yang telah kita dapatkan. Ketika kita melewati sesuatu, kita harus mengesampingkan hal itu. Ini adalah berlari di dalam perlombaaan. Jika kita tidak berlari seperti ini, kita akan berlari di dalam lingkaran dan tidak akan maju. Rasul ini berlari di dalam perlombaan; dia mengejar dengan melupakan apa yang di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya.

Beberapa kaum saleh telah melihat dan mendapatkan sesuatu, tetapi nada bicara mereka berbeda dengan rasul Paulus. Paulus berkata, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini,” tetapi beberapa orang yang melayani dengan berani menyatakan bahwa mereka telah mendapatkan sesuatu, seolah-olah mereka telah mencapai tujuan akhir, dan mereka tidak memiliki sasaran-sasaran lainnya. Di dalam kitab Efesus, Paulus melihat sebuah visi yang sangat tinggi, tetapi setelah itu, dia tetap berkata, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya.” Walaupun Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya adalah topik-topik yang terkenal dalam berita-berita kita, kita perlu berjerih lelah untuk mengejar dan mengalami pengalaman-pengalaman yang tidak terduga ini.

Kita harus melihat dua ganda tujuan jahat dari musuh. Pada satu sisi, dia menggunakan keputusasaan untuk menghancurkan selera kita dalam mengejar, dan di sisi lain dia menggunakan kesombongan diri dan rasa puas diri untuk menghentikan kengototan kita. Pada akhirnya, tidak ada penuntutan yang sejati. Gejala utama dari masalah kita adalah kita kekurangan penuntutan yang sungguh-sungguh karena kita rendah diri dan puas diri.

Kitab Kidung Agung adalah sebuah kitab di dalam Alkitab yang menekankan pengejaran. Dari pasal pertama, Kidung Agung berbicara mengenai pengejaran. “Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!” (1:4). Di dalam ayat 7, si pencari berteriak dari kedalaman hatinya, dan berkata, “Ceriterakanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana kakanda menggembalakan domba?” Di dalam diri si pencari ada kedambaan untuk mengejar. Perdebatan dan penelitian tidak dapat membantu kita untuk mengejar. Para penatua perlu memimpin kaum saleh untuk memiliki penuntutan yang hidup. Kita harus mengejar Tuhan dengan sejati. Keputusasaan menyebabkan kita berhenti mengejar, dan rasa puas diri juga menyebabkan kita berhenti mengejar. Keperluan kita yang mendesak adalah mengejar Tuhan. Jika kita tidak mengejar Tuhan, kita tidak dapat memberikan berita-berita mengenai mengejar Tuhan.

MEMILIKI KENIKMATAN YANG SEGAR DAN HIDUP

Mereka yang memiliki penuntutan rohani yang sejati mengesampingkan diri mereka. Pagi-pagi benar di hari kebangkitan Tuhan, Maria pergi ke kuburan untuk menemukan Tuhan. Dia tidak memiliki pengetahuan yang jelas seperti Petrus dan Yohanes. Ketika Petrus dan Yohanes pergi ke kuburan dan melihat bahwa kuburan itu kosong, mereka jelas bahwa Yesus telah bangkit, dan mereka meninggalkannya dan pulang ke rumah mereka masing-masing. Namun, Maria hanya tahu mencari Tuhan; dia tidak peduli akan kuburan yang kosong atau kain peluh. Dia tahu bahwa Tuhan tidak ada di sana, dan dia ingin melihat Tuhan (Yoh. 20:1-13). Sepertinya ini adalah sebuah pengejaran yang bodoh. Namun, pengejaran yang sejati itu bodoh. Memiliki pengejaran yang sejati adalah ngotot di hadapan Tuhan sampai pada satu taraf kita tidak peduli apapun selain berjumpa dengan Tuhan.

Seorang saudara yang mengejar Tuhan dengan sejati akan berdiri di sebuah sidang dan berkata bahwa kaum saleh lainnya bisa mendapatkan sesuatu ketika mereka mengejar Tuhan, tetapi dia seakan-akan tidak mendapatkan sesuatu. Perkataan ini berbobot. Atau dia mungkin berkata bahwa dia telah mengejar Tuhan tetapi tidak dapat menjamah Dia dan dia tidak dapat memberikan sebuah berita yang baik, tetapi dapat mempersaksikan kasih Tuhan. Perkataan seperti ini membawa masuk sebuah atmosfir dari pengejaran rohani dan perasaan akan kasih Tuhan. Pada suatu kali saya mendengar seorang saudara memberikan sebuah berita, dan dengan sombong ia memberitahu jemaat bahwa mereka tidak rohani. Ketika kita berbicara mengenai kondisi rohani orang lain, kita harus memiliki sedikit harapan. Tidak benar jika hanya menjabat tangan seseorang dan berkata, “Kita tidak mengerjakan dengan baik; kita tidak mengerjakan dengan baik.”

Pembicaraan kita seharusnya membuat kaum saleh mencucurkan air mata sehingga mereka dapat menjamah Tuhan. Janganlah berpikir bahwa menyatakan, “Aku telah melihat Kristus!” akan membuat kaum saleh menjamah Dia. Kita harus dapat memimpin kaum saleh menjamah Tuhan walaupun tanpa membahas Kristus. Jika kita melihat bahwa doa kita tidak ada kuasa, bahwa kita tidak tahu memimpin sidang, dan bahwa penuntutan rohani kita kelihatannya sia-sia, kita akan memiliki sebuah beban yang berat ketika kita berbicara mengenai kondisi kita. Inilah jalan untuk memimpin kaum saleh untuk menjamah Kristus.

Jika kita benar-benar ingin orang lain menjamah Tuhan, kita tidak perlu berteriak bahwa kita telah melihat Kristus. Demikian pula, dengan menyatakan bahwa kita perlu hidup di dalam Kristus tidak akan membuat orang lain memperhidupkan Kristus. Ini bukanlah perkara meneriakkan slogan atau membuat pernyataan. Jika seorang saudara tidak merasa bahwa dia telah melihat banyak, jika dia memiliki hati untuk mengejar dan tidak rendah diri atau sombong, maka ketika dia memberitahu kaum saleh bahwa dia masih tidak mengenal Tuhan kita yang mulia, kaum saleh akan berjumpa dengan Kristus dan menjamah sesuatu yang rohani.

Kesaksian kita tidak harus menjamah orang lain. Melainkan, perkataan kita akan menunjukkan bahwa ada sesuatu di dalam kita. Perkataan kita akan memperlihatkan bahwa kita memiliki keinginan untuk melupakan apa yang di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang di depan sehingga kita dapat mengenal Kristus. Prinsip ini dapat diaplikasikan kepada seluruh pelayanan kita.

JATUH KE DALAM FORMALITAS

Dulu, setelah seseorang memiliki respon terhadap Injil, kita akan membicarakan baptisan kepadanya, tapi kekurangan penuntutan rohani. Para saudara yang akan membaptis perlu menuntut Tuhan mengenai baptisan. Mereka harus memiliki penuntutan mengenai bagaimana membawa kaum beriman baru masuk ke dalam pengalaman mati bersama Tuhan. Hal ini menuntut para saudara yang memimpin dan mereka yang bertanggung jawab untuk membaptis harus berdoa bersama-sama dan menuntut Tuhan. Dengan demikian, perkataan singkat yang mereka bicarakan kepada orang-orang baru sebelum baptisan akan berbobot.

Kita tidak memiliki praktek semacam ini. Melainkan, kita memberikan sebuah berita kepada orang-orang baru di dalam sidang pembaptisan. Misalkan, kita membaca Roma 6:3-5: “Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian,... Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Kita berbicara kepada mereka yang akan dibaptis mengenai dibaptis di dalam kematian Tuhan, dikubur dan dibangkitkan bersama-sama dengan Tuhan. Kita juga berkata bahwa setelah mereka dikuburkan di dalam air, mereka akan keluar dari air di dalam kebangkitan. Kemudian kita membaptis mereka satu per satu. Ritual ini memang alkitabiah, tetapi kekurangan realitas rohani. Para saudara pewajib dan mereka yang membaptis harus memiliki realitas. Jika mereka berada di dalam realitas, maka pelayanan mereka akan membawa orang-orang baru ke dalam realitas.

Walaupun pelayanan kita tidak dapat dipungkiri dan dilaksanakan dengan tepat, namun kekurangan sesuatu yang rohani. Saya berharap bahwa orang-orang yang melayani akan menerima sebuah beban mengenai kekurangan kita dalam penuntutan rohani. Pelayanan-pelayanan itu sudah menjadi rutinitas, dan kekurangan realitas rohani; karena itu tidak ada realitas dan kuasa. Sebagai sekerja, kita harus bangkit untuk menanggulangi situasi ini. Kita tidak boleh berpikir bahwa kita tidak dapat melakukan hal-hal tertentu, dan kita tidak boleh rendah diri dan terkubur di dalam rasa rendah diri. Kita perlu menang atas perkara ini. Bahkan walaupun kita tidak mampu, kita bisa terus mengejar Tuhan. Kita perlu kasih yang segar dan penuntutan yang sejati akan Tuhan. Jika kita mendapatkan sesuatu di dalam penuntutan rohani kita, kita tidak boleh menjadi stagnan atau berhenti. Kita harus menjadi orang-orang yang berlari di dalam perlombaan, melupakan hal-hal yang di belakang dan mengarahkan diri kepada hal-hal yang di depan, karena tidak ada batasan di dalam Kristus.

PENUNTUTAN BERSAMA-SAMA REKAN ROHANI

Sebagai tambahan di dalam penuntutan pribadi kita, kita harus menuntut bersama-sama rekan-rekan kita. Kita sering jatuh ke dalam situasi yang tidak dapat kita kendalikan. Untuk alasan ini, kita perlu rekan-rekan rohani. Situasi yang muncul di antara kita menunjukkan bahwa kita individualistis dan tidak memiliki rekan. Karena itu, kita harus mencari rekan-rekan untuk menuntut bersama-sama. Dua Timotius 2:22 mengataka, “...kejarlah... bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Inilah jalan yang harus kita tempuh. Sangat sedikit sekerja yang mau menuntut Tuhan dengan dua atau tiga orang lainnya. Dengan kata lain, sangat sedikit sekerja yang memiliki rekan; sebagian besar menuntut sendiri-sendiri. Kita tidak dapat melarikan diri dari kenyataan bahwa kita perlu rekan. Dua atau tiga orang harus berkumpul bersama beberapa kali dalam satu minggu untuk menuntut Tuhan bersama-sama. Perlu adanya atmosfir yang segar akan penuntutan rohani di antara kita.

Oleh belas kasihan Tuhan, para sekerja perlu memiliki penuntutan yang segar. Tidak peduli berapa banyak berita yang telah kita dengar atau berapa banyak pelajaran yang telah kita pelajari, kita harus menyadari bahwa Kristus dan Tubuh-Nya adalah jalan yang harus kita tempuh. Karena itu, kita harus bangkit dan mengejar Tuhan dengan jalan yang segar. Inilah kuncinya. Apapun yang kita kerjakan tergantung dari hal ini. Mungkin beberapa orang dari kita memiliki tekad yang lemah atau tidak memiliki karakter yang tepat. Apapun masalah kita, ada satu obatnya, yaitu memiliki penuntutan yang segar, hidup, dalam dan serius terhadap Tuhan. Tidak setiap fungsi dari orang-orang itu ternyatakan, tetapi jika kita memiliki rekan, setiap orang akan memiliki penuntutan yang dalam terhadap Tuhan.

Galatia 6:7 mengatakan, “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Dua Korintus 9:6 mengatakan, “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Ini adalah prinsip. Besarnya usaha kita menentukan manfaat yang kita tuai. Kita tidak boleh berpikir bahwa para sekerja yang pandai atau yang memiliki tekad yang kuat akan memiliki keuntungan. Perkaranya adalah berapa banyak usaha yang kita lakukan untuk mengejar Tuhan. Seorang saudara yang pandai yang memiliki tekad yang kuat tidak seharusnya berpikir bahwa dia dapat diterangi dengan cepat. Bahkan walaupun dia memiliki keuntungan, hal itu hanyalah sementara, karena tindakan yang terburu-buru akan menjadi tidak berguna. Semakin cepat kita dapat masuk ke dalam sesuatu, maka semakin cepat kita keluar dari hal itu. Fakta bahwa kita telah mendapatkan sesuatu, tidak dapat menghentikan kita untuk terus maju. Hal itu terlalu dangkal.

Seorang pemain musik suatu kali berkata bahwa jika satu hari dia tidak latihan, hanya dia yang tahu akan hal itu. Jika dua hari dia tidak latihan, keluarganya akan mengetahuinya. Jika dia tidak latihan selama tiga hari, teman-temannya akan mengetahuinya, dan jika dia tidak latihan selama satu minggu, maka dia tidak dapat mengadakan pertunjukan. Hal ini memperlihatkan bahwa taraf pengaruh kita terhadap orang lain tergantung pada penuntutan kita terhadap Tuhan.

Orang-orang yang melayani yang menganggap diri mereka tidak mampu tidak perlu merasa rendah diri atau putus asa. Perasaan-perasaan seperti ini tidaklah berguna. Kita perlu memahami bahwa kita tidak dapat dan tidak mampu, tetapi ada satu hal yang dapat kita kerjakan: kita dapat mengejar Tuhan, ditarik oleh-Nya, dan memiliki kasih yang segar bagi-Nya. Kita dapat berdoa karena kita memiliki hati yang mengejar, bukan karena kita tahu kata-kata yang benar atau memiliki nada bicara yang benar. Penuntutan ini tidak pernah berakhir dan selalu segar. Inilah yang dikatakan Paulus di dalam Filipi 3:12 dan 13: dia melupakan hal-hal yang di belakang dan mengarahkan diri kepada hal-hal yang di hadapannya sehingga dia dapat menangkap Tuhan. Hal ini dapat dibandingkan dengan perkataan dari sang pengasih di dalam kitab Kidung Agung 1:2 dan 4: “Kiranya ia mencium aku dengan kecupan!... Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi!” Pelayanan kita bukanlah perkara karunia, pengetahuan, atau kemampuan; melainkan sepenuhnya adalah perkara penuntutan kita. Jika kita adalah orang-orang yang demikian, maka kita akan selalu menjadi efektif, tidak peduli dalam situasi apapun. Kemudian pelayanan dan pekerjaan kita bukan lagi sebuah cangkang atau penampilan luaran. Di dalam pelayanan kita akan terdapat realitas, isi, vitalitas, dan kuasa. Selain itu, pelayanan dan pekerjaan kita akan segar. Penuntutan seperti ini perlu bangkit di antara kita![xlv]

MENGEJAR PERTUMBUHAN HAYAT

Pertama-tama, kita harus mengejar pertumbuhan hayat. Baik keselamatan maupun pertumbuhan kita tergantung pada hayat. Demikian pula, untuk menjadi berguna di dalam tangan Tuhan juga tergantung pada hayat. Agar dapat memberikan bantuan pada orang lain tergantung pada hayat, dan agar dapat berbuah di dalam memberitakan Injil juga tergantung pada hayat. Kita ambil mengetuk pintu dari rumah ke rumah sebagai contoh. Kita dapat melihat bahwa apakah hal itu efektif atau tidak, sepenuhnya tergantung pada hayat. Adalah satu hal bagi seorang yang berpakaian sembarangan pergi mengetuk pintu; adalah hal yang lain bagi seorang yang berpakaian sopan untuk melakukannya. Merupakan perkara yang besar jika seorang presiden dari suatu negara pergi mengetuk pintu. Karena itu, nilai dari suatu hal itu akan berubah menurut orang yang melakukannya. Jika hari ini rasul Paulus mengabarkan Injil tentang pengampunan, pasti akan sangat berbobot. Namun, jika kita yang melakukannya, hasilnya akan sangat berbeda karena hayat kita tidak semaju Paulus. Karena itu, kita harus memperhatikan perkara menuntut hayat dan mengejar pertumbuhan hayat.[xlvi]

MENGEJAR KEMAJUAN DI DALAM HAYAT

Hal ketiga yang harus dikerjakan oleh orang-orang yang melayani di dalam pemulihan adalah mengejar kemajuan di dalam hayat. Ini berarti bahwa Anda pertama-tama harus berjerih lelah untuk mengenal Roh itu, Kristus, hayat, salib, dan kebangkitan. Kemudian Anda harus memiliki pengalaman yang praktis akan hal ini. Selama Anda memiliki hati untuk mengerjakannya, maka tidak akan sulit untuk mempraktekkan perkara ini. Ada banyak buku di antara kita mengenai pengenalan dan pengalaman hayat. Jika tulisan-tulisan ini sudah ada enam puluh tahun yang lalu, saya akan menghabiskan seluruh waktu saya untuk menceritakan seluruh kekayaan ini di dalam saya. Sayangnya, pada waktu itu saya tidak dapat menemukan satu buku pun yang menjelaskan kebenaran tentang kelahiran kembali. Namun, kita telah mempelajari perkara kelahiran kembali secara menyeluruh. Tentu saja, kita menerima bantuan dari tulisan Saudara T. Austin-Sparks. Dia mengatakan bahwa kelahiran kembali adalah menerima sebuah hayat selain hayat yang telah kita terima. Berdasarkan perkataan ini, kita mengembangkan perkara ini lebih jauh lagi. Di antara buku-buku Kekristenan hari ini, yang memberikan penjelasan yang paling jelas mengenai kelahiran kembali adalah buku-buku kita.

Untuk mengejar kemajuan di dalam hayat, Anda harus membaca Pengenalan Hayat. Lebih sering Anda membacanya, itu lebih baik. Kemudian Anda perlu membaca buku Pengalaman Hayat. Akan lebih baik jika Anda dapat membaca buku ini satu kali setiap dua tahun dan benar-benar mempraktekkan apa yang diajarkan mengenai penanggulangan-penanggulangan di dalam hayat dan pembelajaran di dalam hayat. Dua kitab ini berisi berita-berita yang saya berikan selama pelatihan-pelatihan pada tahun 1953 dan 1954. Mereka pertama kali diterbitkan di dalam seri Ministri Firman. Saudara yang menulis kata-kata pendahuluan mengatakan bahwa sepanjang generasi banyak orang yang telah berbicara mengenai hayat dan telah mengajarkan tentang hayat, tetapi tidak tahu apa itu hayat, terlebih lagi pengalaman hayat. Saya menggunakan metode ilmiah untuk menyajikan secara menyeluruh mengenai apa yang telah diajarkan dan dialami oleh banyak orang di sepanjang generasi, ditambah dengan pengalaman saya sendiri. Karena itu saya berharap Anda semua dapat mempelajarinya dengan rajin.

Saya tidak akan melatih Anda seperti yang saya lakukan di hari-hari sebelumnya. Kita telah memiliki kebenaran-kebenaran yang paling kaya dan paling lengkap di antara kita. Karena itu, saya tidak perlu berbicara banyak kepada Anda. Sebaliknya, saya akan menggunakan metode perguruan tinggi untuk mengajar Anda, yaitu membiarkan Anda mempelajari buku-buku referensi dan kemudian menguji Anda. Akan lebih dari cukup jika Anda mengoleksi semua buku yang diterbitkan di tengah-tengah kita dari zaman Saudara Nee sampai sekarang dan mempelajari satu demi satu dengan sungguh-sungguh.

Satu hal yang benar-benar mengkhawatirkan saya adalah Anda semua yang dilatih di sini ingin mengerjakan sesuatu yang spesial. Hal ini benar-benar menyedihkan hati saya. Saya bekerja dengan Saudara Nee di Cina selama delapan belas tahun. Saya sepenuhnya esa dengan dia. Saya membicarakan apa yang dia bicarakan, dan saya memberitakan apa yang dia beritakan. Saya bahkan meniru gerakan tubuhnya. Di antara kami tidak ada yang berbeda. Setiap orang dapat bersaksi bagi saya bahwa ke manapun saya pergi, saya tidak membicarakan topik yang lain, melainkan hanya mengulangi berita-berita yang telah dilepaskan oleh Saudara Nee kepada saudara saudari. Saya bangga akan hal ini. Namun, saya menemukan bahwa ini bukanlah situasi di antara para sekerja saya. Melainkan, setiap orang ingin memiliki “trik-trik baru” dan “taktik-taktik baru” mereka masing-masing, tanpa menyadari bahwa hal-hal baru ini menghambat pekerjaan Tuhan.

Saya tidak pernah bermain trik atau menggunakan taktik. Melainkan, saya hanya bekerja dengan segala usaha saya untuk membandingkan dan mempelajari Alktiab dalam bahasa asli, bahasa Mandarin, dan bahasa Inggris, lalu mendapatkan kebenaran-kebenaran dasar dan menyajikan mereka. Saya berharap bahwa Anda juga jangan mencoba menciptakan hal-hal yang baru. Hanya dengan sederhana menyerap kebenaran-kebenaran dasar ini dan mengajarkannya. Mengenai penuntutan hayat, apakah ada buku lainnya yang lebih mendasar dari buku Pengenalan Hayat dan Pengalaman Hayat? Apakah ada buku lainnya yang sejelas dan mudah dimengerti seperti topik tentang tiga hayat dan empat hukum di dalam buku Pengenalan Hayat? Buku-buku ini seperti daftar perkalian; mereka sangat dasar dan tidak dapat digantikan dengan taktik-taktik yang baru. Jika Anda mengajar perkalian, Anda harus menggunakan daftar perkalian. Janganlah berpikir bahwa Anda tidak perlu mengajarkan hal itu karena hal itu telah diajarkan oleh orang lain. Pemikiran seperti ini benar-benar menyakitkan hati saya.

Saya tidak memiliki waktu untuk membicarkan hal-hal ini lagi kepada Anda. Anda harus mengerti bahwa semua hal-hal dasar ada di dalam buku-buku itu. Yang harus Anda lakukan adalah mempelajari mereka dengan menyeluruh. Khususnya, Anda harus meluangkan waktu dan menggunakan tenaga Anda untuk memasuki Pengenalan Hayat dan Pengalaman Hayat. Saya telah memutuskan untuk menggabungkan seluruh poin yang ada di dalam dua buku ini ke dalam empat puluh delapan pelajaran dari buku Pelajaran Kebenaran. Saya berharap bahwa Anda dapat memiliki penuntutan yang solid dan kemajuan di dalam hayat.[xlvii]

PERTUMBUHAN DI DALAM HAYAT

Pertama-tama, kita memiliki aspek hayat, kemudian aspek pelayanan. Kita harus memiliki perkara hayat terlebih dahulu, kemudian, berdasarkan fakta itu, kita memiliki perkara pelayanan. Tanpa hayat dan pertumbuhan hayat yang memadai, kita tidak dapat memiliki pelayanan. Anak-anak kecil dapat melakukan banyak hal, tetapi mereka tidak dapat melayani, karena mereka tidak memiliki pertumbuhan hayat yang memadai.

Untuk melayani Allah, syaratnya adalah bertumbuh di dalam hayat. Pelayanan tidak dibahas di dalam Roma 6 atau 7, juga tidak dibahas sampai pasal 12, dimana orang dosa telah ditebus, dibenarkan, dan dibebaskan dari sifat lama, dan mereka hidup di dalam Roh. Mereka memiliki pertumbuhan hayat yang riil. Sekarang mereka adalah anggota-anggota Tubuh yang praktis dan berfungsi. Pelayanan orang Kristen adalah hasil dari pertumbuhan hayat.

Jika Anda tidak memiliki hayat, maka Anda tidak dapat melayani. Bahkan walaupun Anda memiliki hayat tetapi Anda kurang bertumbuh di dalam hayat, masih muda, kekanak-kanakan, dan bahkan seperti seorang bayi, Anda tidak dapat melayani. Pelayanan menuntut adanya hayat dan pertumbuhan hayat, kematangan hayat. Ini adalah perkara hayat, dan ini adalah perkara pertumbuhan hayat. Kita tidak dapat melayani Tuhan tanpa bertumbuh di dalam hayat Tuhan. Ini adalah sesuatu yang mendasar. Inilah sebabnya kita menekankan perkara hayat dengan harapan memiliki kehidupan gereja dan pelayanan. Tanpa pertumbuhan hayat, gereja tidak mungkin terbangun, dan tanpa pembangunan gereja, tidak mungkin memiliki pelayanan gereja, pelayanan orang Kristen.[xlviii]

i. Witness Lee, The Sufficiency, Pursuit, and Learning of the Lord’s Serving Ones, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2011) 49-58

ii. Witness Lee, The Economy of God and the Mystery of the Transmission of the Divine Trinity, (Anaheim Living Stream Ministry, 2001) 149

iii. Witness Lee, Vessels Useful to the Lord (Anaheim: Living Stream Ministry, 2003) 64-66

iv. Witness Lee, Basic Principles for the Service in the Church Life, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1999) 9-10