IMAN PARA FULL-TIMER
(The Faith of Full-timers)
Dasar Alkitab:
“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan.” – Flp. 4:12
I. Para full-timer harus hidup oleh iman, bersandarTuhan untuk setiap keperluan mereka:
A. Anda mengambil jalan melayani sepenuh waktu karena Anda percaya bahwa Persona yang Anda layani adalah Persona yang hidup; Anda tidak bersandar manusia.
B. Berjalan dengan iman adalah berjalan dengan sesuatu yang Anda tidak ketahui; beberapa orang muda mungkin berbeban untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, tetapi mereka akan berpikir bagaimana mereka akan ditunjang; jika Anda berpikir demikian, berarti Anda berjalan dengan penglihatan bukan dengan iman.
C. Anda mungkin berpikir bagaimana Anda bisa hidup jika Anda memutuskan untuk menjadi full-timer; jawaban saya adalah ini—jalani saja, jangan bicarakan apapun kepada siapapun tentang keperluan Anda; jalani saja, jika Anda tidak dapat menjalaninya kembalilah bekerja.
D. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa kita akan memiliki suatu kehidupan yang berlimpah dalam hal-hal materi; kita harus mempersiapkan diri kita untuk menderita; penderitaan pertama adalah kemiskinan; kita perlu belajar melayani Tuhan dalam kemiskinan.
E. Sebagai kesimpulan, kita yang mengambil jalan sebagai full-timer tidak memiliki hak untuk meminta gereja memberikan kita apapun; apakah gereja akan memberikan atau tidak, itu terserah gereja; kita tidak memiliki hak untuk bertanya, atau bahkan membicarakannya, meminta atau memohon orang lain untuk memenuhi keperluan kita; kita hanya memiliki satu hak— percaya kepada Tuhan dalam penderitaan kemiskinan.
II. Semua kaum saleh perlu setia untuk memberi, dan seluruh gereja perlu giat memperhatikan keperluan para full-timer:
A. Mereka yang bisa melayani sepenuh waktu harus memberikan seluruh waktu mereka; mereka yang tidak dapat melayani sepenuh waktu harus melakukan yang terbaik untuk menyediakan tunjangan keuangan .
B. Kita harus memiliki beberapa full-timer yang memiliki usaha, menghasilkan emas, menghasilkan uang untuk memenuhi keperluan orang-orang yang keluar bagi penyebaran kerajaan, ekonomi Allah.
C. Jika para full-timer memboroskan tunjangan yang diberikan gereja kepada mereka, dan mereka menghabiskan uang mereka untuk hal-hal yang tidak perlu, ini membuktikan bahwa mereka tidak bersyarat menjadi seorang full-timer dan tidak seharusnya melayani sepenuh waktu.
D. Saat para full-timer mendengar perkataan ini, mereka perlu berlutut untuk memuji Tuhan, dan mereka juga perlu melayani dengan takut dan gentar.
III.Mereka yang menerima suplai harus menyadari bahwa uang yang mereka pakai adalah uang dari hasil kerja keras kaum saleh, yang dipersembahkan karena kasih mereka terhadap Tuhan; kasih yang demikian tidaklah ternilai:
A. Yang menerima tidak boleh menerimanya dengan ringan dan menghabiskan uang itu dengan sembarangan.
B. Di waktu yang sama, ketika mereka berlebih, mereka perlu memperhatikan keperluan kaum saleh yang lain.
C. Para full-timer perlu setia dalam hal mengatur keuangan, dan mereka juga perlu memperhatikan orang lain.
Cuplikan Berita Ministri:
KEHIDUPAN PARA FULL-TIMER
Ada sebuah masalah yang besar mengenai para full-timer yang perlu kita perhatikan—tentang bagaimana menjaga kelangsungan hidup sebagai full-timer. Sungguh aneh, dimulai dari zaman Paulus sampai sekarang masalah ini tidak pernah terpecahkan. Perjanjian Baru tidak memberikan kita jalan keluar apapun untuk masalah ini. Paulus adalah rasul yang penting (1 Kor. 15:10; 2 Kor. 12:11). Dia melakukan pekerjaan yang terbaik, hasil dan berkat yang dia nikmati dari apa yang telah dia kerjakan adalah yang terbaik. Dia sangat dihargai dan dihormati oleh semua gereja. Namun, orang yang demikian, dipaksa mendirikan tenda bukan hanya untuk memberi makan dirinya sendiri tetapi juga memberi makan para rekan sekerjanya (Kis. 18:3; 20:34-35). Tentu saja Paulus sangat bijaksana melebihi kita semua. Mengapa ia tidak melatih kebijaksanaannya dengan memberitahu kepada seluruh gereja yang ada di bawah ministrinya untuk menyumbangkan beberapa bagian dari milik mereka untuk dia? Jika dia melakukannya, dia akan menjadi kaya. Dia tidak perlu membuat tenda. Siapapun dari kita yang akan mengambil jalan full-timer perlu melihat sesuatu di sini. Paulus tidak pernah memberikan usul apapun. Anda mungkin mempertimbangkan bagaimana Anda dapat hidup jika Anda menjadi seorang full-timer. Jawaban saya adalah ini—jalani saja. Jangan bicarakan apapun kepada siapapun tentang keperluan Anda; jalani saja, jika Anda tidak dapat menjalaninya, kembalilah bekerja.
Saudara Nee adalah orang pertama dari antara kita yang mengambil jalan full-time. Dia hanya hidup tanpa janji dari siapapun dan dari gereja manapun yang akan menunjang dia. Dia hidup demi iman dan bahkan tidak meminta orangtuanya untuk memperhatikan dia. Siapapun dari kita yang full-time setelah dia, perlu mengikuti teladannya. Saya perlu bersaksi bahwa mengambil jalan ini benar-benar sangat sulit. Kita tidak pernah membuat suatu pengaturan bagi gereja untuk memberikan kita suatu tunjangan tertentu setiap bulannya. Saya mulai menjadi full-timer pada tahun 1933. Tidak sampai tahun 1946, saya pergi ke Shanghai, dan gereja di Shanghai memberikan kepada para full-timer sejumlah uang tunai setiap bulan. Sebelum tahun 1946 saya tidak pernah menerima tunjangan yang tetap dari gereja manapun, bahkan dari gereja di Chefoo, yang secara langsung saya perhatikan. Selama 5 tahun saya tinggal di Chefoo, saya tidak bisa mengingat bahwa saya pernah menerima beberapa suplaian materi dari gereja. Anda sekalian mungkin berpikir bagaimana saya hidup di tahun-tahun itu. Saya hanya hidup. Terkadang saya hidup dalam kemiskinan. Terkadang saya hidup dalam kesengsaraan keluarga saya. Tetapi saya tidak pernah meminta kepada gereja. Saya tidak memberitahu gereja, bahkan ketika saya menjadi full-timer di sana dan memerlukan sesuatu untuk hidup. Sebagai pekerja full-timer, jika kita kekurangan akan sesuatu, kita hanya memberitahu Tuhan akan kemiskinan atau kekurangan kita. Inilah sebabnya kita pasti pernah melihat dan mengalami beberapa mujizat Tuhan yang memperhatikan kehidupan kita.
Suatu kali saya ditunjuk oleh saudara Nee, pemimpin dalam pekerjaan ini, untuk memindahkan keluarga saya dari Chefoo ke kota yang besar di Cina Utara, kota yang dekat dengan ibukota yang lama, Peking. Biaya hidup di sana sangat mahal. Saya pindah ke sana dan tidak ada gereja yang memberikan saya tunjangan. Pekerjaan yang diberikan kepada saya tidak mengatakan apapun mengenai suplaian. Itulah praktek kita. Pekerjaannya, ministrinya hanya menugaskan pekerjaan yang harus dilakukan. Mereka tidak pernah memperhatikan keperluan kita, itulah jalan kita.
Saya pindah ke sana pertama-tama hanya seorang diri, dan ketika saya melihat situasi di kota yang besar itu, saya menyadari bahwa untuk bepergian dan mengunjungi orang lain saya memerlukan sepeda. Saya hanya memiliki kurang lebih empat puluh dolar dalam saku saya, yang harus saya simpan untuk memindahkan keluarga saya, termasuk istri dan tiga anak-anak saya. Saya sangat memerlukan sepeda, lalu saya berdoa kepada Tuhan. Saya ingat ketika saya berlutut berdoa untuk meminta kepada Tuhan agar Dia memenuhi keperluan saya. Dalam doa itu saya sangat jelas bahwa di batin Tuhan memberitahu saya untuk pergi membeli sebuah sepeda walaupun saya hanya memiliki empat puluh dolar, yang hanya cukup untuk membawa istri dan tiga anak- anak saya. Kemudian, seorang saudara pergi bersama saya untuk mengunjungi seorang saudara yang lain. Setelah mengunjungi saudara tersebut, kami berdua pergi ke sebuah restoran. Ketika kami keluar dari tempat tersebut, kami melihat sebuah sepeda ada di sana. Saya memberitahu saudara tersebut bahwa itu adalah sepeda yang ingin saya beli. Tiba-tiba, pemiliknya keluar dan saya bertanya kepadanya di mana saya dapat membeli sepeda seperti itu dan berapa harganya. Lalu dia memberitahu saya tempat dan harganya. Kami pergi ke toko tersebut dan di sana kami melihat sepeda yang sama dijual di sana, sedang dipajang. Penjualnya memberitahu kepada kami harganya tiga puluh dua dolar, termasuk pajak dan izinnya. Saya membayar tiga puluh dua dolar kepadanyadan membawa sepeda tersebut pulang ke rumah.
Setelah kembali ke rumah, saya sangat senang karena saya telah memiliki sepeda yang akan sangat berguna bagi saya di kota besar itu. Saya naik ke atas, ke tempat yang sama ketika saya berlutut berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan. Ketika saya sedang mengucap syukur kepada Tuhan, Dia meminta saya untuk menghitung berapa jumlah uang yang telah saya terima sejak saat Dia meminta saya membeli sepeda tersebut, sampai saya membayar tiga puluh dua dolar itu. Doa saya untuk sepeda itu adalah hari Sabtu, ketika saudara tersebut datang mengunjungi saya. Kami berbicara dalam waktu yang cukup panjang, dan ketika dia meninggalkan saya, dia mengatakan bahwa dia memiliki surat untuk saya. Sebenarnya itu bukan surat, tetapi sebuah amplop yang di dalamnya terdapat sepuluh dolar. Hari berikutnya, ketika hari Tuhan, saya menerima persembahan sebesar dua dolar dari kotak persembahan. Pagi berikutnya, saya menerima pesan dari kota lain. Surat ini berisi surat pengiriman uang sebesar dua puluh dolar. Saya dan saudara yang sama pergi ke kantor pos untuk mencairkan uang tersebut yang telah saya terima dari Tuhan sebagai pemberian. Ketika saya menjumlahkan sepuluh dolar, dua dollar dan dua puluh dolar saya menyadari Tuhan telah menyuplai saya dengan tiga puluh dua dolar, jumlah yang tepat dengan harga sepeda, saya menangis di hadapan Tuhan. Betapa setia-Nya Tuhan! Ini adalah salah satu contoh sederhana dibandingkan contoh yang lain di mana Tuhan memperhatikan keperluan sehari-hari saya. Tuhan dengan berdaulat mengatur saya untuk melihat sepeda tersebut dan menyuplai saya dengan jumlah yang diperlukan. Tuhan saya sangat luar biasa! Ini adalah salah satu pengalaman saya mengenai percaya kepada Tuhan untuk kehidupan saya.
Saya dan keluarga saya hidup di kota yang besar selama satu tahun sampai akhir tahun 1936. Pada akhir tahun, saya menerima kabar dari saudara Nee untuk bergabung bersama dengannya dalam sidang istimewa bagi rekan sekerja. Saya datang dalam sidang istimewa dan setelah itu mengunjungi beberapa kota. Saya bepergian selama Januari dan Februari, tidak dapat pulang ke rumah sampai bulan Maret. Saya meninggalkan rumah dan keluarga saya tanpa uang yang banyak. Saat itu saya memiliki empat orang anak. Suatu hari ketika saya pergi, istri saya menyadari bahwa keesokan harinya mereka tidak memiliki apapun untuk hidup. Istri saya bukan orang yang sering berkontak dengan orang, sehingga tidak ada orang lain yang berdoa bersama. Dia hanya meminta anak perempuan tertua kami, yang pada saat itu berumur tujuh tahun, dan adiknya yang berumur 5 tahun untuk berdoa bersamanya. Mereka berlutut dan berdoa, “Tuhan, kami ada dalam situasi ini dan Engkau tahu kami tidak tahu bagaimana hidup untuk hari esok.” Pada saat itu adalah musim dingin. Malam itu salju turun sangat lebat. Pada jam sepuluh malam ada seorang saudari tua datang ke rumah kami dengan mengendarai mobilnya dan mengetuk pintu rumah. Dia datang dan berkata kepada istri saya ada sesuatu yang mengganggunya dan menyuruh dia untuk datang kepada istri saya malam itu. Lalu dia berkata, “Tuhan ingin saya datang dengan ini,” lalu dia memberikan kepada istri saya sejumlah uang yang cukup banyak untuk menjaga hidup istri saya dan anak-anak kami. Saudari tua ini tidak pernah berkontak dengan saya. Dia hanya datang dalam sidang-sidang gereja. Bahkan, dia juga tidak sering berbicara dengan istri saya saat itu, dan dia tidak pernah datang mengunjungi rumah kami. Tetapi ketika hari sangat malam dan salju turun sangat lebat, dia datang dalam keadaan yang mendesak. Apakah ini bukan mujizat? Ini adalah jalan yang kami lalui selama menjadi full-timer bagi Tuhan.
Sebagai kesimpulan, kita yang mengambil jalan sebagai seorang full-timer tidak memiliki hak untuk meminta kepada gereja agar memberikan kita sesuatu. Apakah gereja akan memberikan atau tidak, itu terserah gereja. Kita tidak memiliki hak untuk meminta, bahkan mengatakan atau meminta orang lain untuk mencukupi keperluan kita. Kita hanya memiliki satu hak—percaya kepada Tuhan dalam penderitaan kemiskinan.
Saya sakit TBC selama dua setengah tahun pada saat penjajah Jepang menduduki Cina. Cina ada dalam masa yang sulit pada tahun 1943. Perang sudah terjadi selama lebih dari enam tahun, situasi ekonomi di Cina juga menjadi sangat miskin. Saat itu saya sakit dan sangat memerlukan perawatan. Istri dan anak-anak saya ada dalam masa sulit. Mereka mulai makan makanan yang hanya cocok untuk diberikan kepada babi. Orang yang paling miskin di Cina Utara terkadang makan makanan sejenis ini. Keluarga saya saat itu juga terpaksa makan makanan babi karena kekurangan suplaian makanan. Di Cina Utara kami juga memerlukan arang untuk membakar tungku untuk memasak. Saya dan istri saya pergi ke pesisir pantai seperti orang yang miskin untuk memungut barang yang terbawa oleh ombak ke pesisir. Ombak membawa banyak barang yang baik sebagai bahan bakar. Ketika kakak perempuan saya mendengar hal ini, dia menasihati istri saya untuk tidak melakukannya karena hanya orang msikin yang melakukannya. Tetapi inilah penderitaan yang kita alami dalam melayani Tuhan sepenuh waktu. Kita hanya memiliki hak untuk memberitahu Tuhan apa yang menjadi keperluan dan kemiskinan kita.
Ketika saya diutus ke Taiwan dari Shanghai, gereja di Shanghai tidak memberi saya satu dolar pun. Saudara Nee secara pribadi memberi saya kira-kira tiga ratus dolar, dan itulah seluruh uang yang saya miliki ketika saya pergi ke Taiwan. Ketika saya pergi ke Taiwan, saya membawa isri saya, delapan orang anak saya, dan dua orang pembantu. Pembantu yang lebih tua telah melayani keluarga saya selama tiga generasi. Dia adalah seorang janda dan sulit bagi kami untuk meninggalkan dia. Pembantu yang kedua, seorang saudari yang lebih muda, telah melayani keluarga saya di Nanking selama beberapa tahun. Dia bercerai ketika masih muda. Ketika kami meninggalkan Shanghai, dia menangis. Kami adalah orang-orang yang membawa dia kepada Tuhan. Istri saya dan saya memutuskan bahwa selama kami bisa pergi ke Taiwan, kami juga harus membawa dia. Kami membawa dua pembantu ini bersama-sama dengan kami, bukan untuk membantu, melainkan karena mengasihi mereka. Karena itu, kami dua belas orang tinggal bersama di satu tempat. Tiga ratus dolar yang saya miliki hanya cukup bagi kami untuk hidup selama tiga bulan. Inilah yang saya miliki ketika saya mulai bekerja di Taiwan. Saya tidak pernah memberitahu para sekerja tentang kebutuhan saya. Saya tidak pernah memberitahu gereja tentang kebutuhan saya. Anda semua akan mengira bahwa saya adalah orang kedua setelah Saudara Nee, yang paling diperhatikan oleh kaum saleh di dalam pemulihan, tetapi inilah kondisi keuangan saya.
Jika Anda menuntut, mengharapkan, atau bahkan meminta orang lain untuk menyuplai kebutuhan Anda, ini sangat memalukan. Ini bukan hanya salah, ini adalah hal yang memalukan. Jika Anda tidak dapat melayani sepenuh waktu dengan jalan seperti ini, kembalilah bekerja. Di satu sisi, saya mendorong banyak orang di antara Anda untuk melayani sepenuh waktu; tetapi di sisi lain, saya ingin menasihati Anda bahwa jika Anda mengambil jalan ini, Anda hanya memiliki hak untuk memberitahu kebutuhan Anda kepada Tuhan dan kemiskinan Anda. Tolong kembalilah kepada pekerjaan Anda yang tetap jika Anda tidak dapat mengambil jalan ini. Siapapun yang melayani sepenuh waktu harus jelas bahwa kita tidak memiliki hak untuk meminta orang lain menyuplai kita. Saya datang ke negara ini dan bekerja keras bagi gereja di Los Angeles pada tahun 1964. Sepanjang tahun itu, gereja di Los Angeles mungkin hanya memberi saya tidak lebih dari delapan ratus dolar. Saya mengetahui hal ini karena pada tahun 1965 saya meminta seorang saudara untuk memastikan pajak pendapatan saya. Dia memberitahu saya bahwa sepanjang tahun 1964, gereja di Los Angeles memberi saya tidak lebih dari delapan ratus dolar.
Di satu sisi, jalan ini seharusnya dilaksanakan oleh para full-timer. Tetapi di sisi lain, seluruh gereja, dengan seluruh kaum saleh, harus setia dalam perkara memberi. Ini adalah dua sisi. Gereja-gereja dengan seluruh kaum saleh harus berhati-hati, harus rajin, dan harus setia dalam memberi untuk memperhatikan kebutuhan. Paulus mengatakan bahwa semua orang yang bekerja bagi Injil harus hidup dari pemberitaan Injil itu (1 Kor. 9:14), bukan berdasarkan cara yang tradisional. Kita di sini adalah bagi pemulihan Tuhan. Walaupun kita tidak mempraktekkan hal-hal tertentu secara umum, tetapi kita mempraktekkan kesetiaan kita bagi tujuan-Nya yang unik di muka bumi ini.
Saya percaya bahwa para penatua harus sering mengajarkan kaum saleh mengenai hal-hal ini untuk membawa mereka kepada pengetahuan yang penuh akan pergerakan Tuhan. Saya memberitahu para kaum saleh di Taipei bahwa dari antara dua puluh kaum saleh di sana harus ada satu orang yang melayani sepenuh waktu. Jika gereja Anda memiliki seratus kaum saleh, Anda harus memiliki paling sedikit lima orang full-timer, tetapi bukan secara resmi atau legal. Seorang yang melayani sepenuh waktu tidak memiliki hak meminta sembilan belas orang lainnya untuk memperhatikan dia. Sekali saya menemukan hal seperti ini, saya akan menasihati saudara itu untuk kembali bekerja. Sangatlah memalukan jika Anda memberitahu orang-orang yang menunjang Anda mengenai berapa banyak yang Anda butuhkan. Ini adalah mengemis. Kita mengambil jalan untuk hidup oleh iman. Anda mengambil jalan full-timer karena Anda percaya Yang Anda layani ini adalah Yang hidup. Anda tidak perlu bersandar kepada manusia. Di sisi lain, semua kaum saleh harus setia untuk memberi, dan seluruh gereja harus berjerih lelah untuk memperhatikan kebutuhan para full-timer. Saya mendorong banyak orang di antara Anda untuk melayani sepenuh waktu, tetapi sekali Anda mengambil jalan ini, Anda tidak memiliki hak untuk meminta gereja menunjang Anda. Ini benar-benar memalukan. Di sisi lain, setiap gereja dengan setiap kaum saleh harus setia dalam menghasilkan lebih banyak uang bagi kepentingan Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan itu hidup dan Dia riil. Pada suatu hari kita akan berdiri di depan takhta penghakiman-Nya dan Dia akan menghakimi kita (2 Kor. 5:10). Marilah kita memperhidupkan suatu kehidupan yang disebut kehidupan kerajaan. Kita harus bersungguh-sungguh dengan Tuhan.
Jika gereja merasa tidak ingin memperhatikan seorang saudara tertentu karena dia tidak setia, maka hal itu tidak perlu. Saudara itu juga tidak perlu melayani sepenuh waktu. Dia seharusnya kembali bekerja. Dia tidak seharusnya menempuh jalan yang memaksa orang lain membicarakan dia secara negatif. Ini sangat kasihan dan sangat memalukan di hadapan manusia dan bahkan di hadapan malaikat dan satan.
Kita harus mulia; kita harus bermartabat. Saya tidak akan pernah mengemis. Mengemis adalah hal yang memalukan. Selama lebih dari lima puluh tiga tahun, saya tidak pernah mengemis. Melainkan, saya menggunakan uang saya dengan sangat menakjubkan. Ketika saya memberi, saya memberi dengan sangat menakjubkan. Orang-orang heran dari mana saya menerima uang itu; Tuhan selalu menyuplai saya. Saya menderita kemiskinan dan seluruh keluarga saya menderita kemiskinan sampai pada puncaknya karena kepentingan-Nya. Hari ini kami gembira akan hal itu. Inilah jalan kita. Di sisi lain, kita harus ingat bahwa kaum saleh dan gereja harus sangat setia dalam memberikan segalanya kepada Dia bagi pergerakan-Nya yang terkini.[vi]
MENGIKUTI TUHAN DAN PERCAYA KEPADA-NYA
DALAM HAL KEHIDUPAN KITA
Ketika Anda melayani sepenuh waktu, kadang-kadang Anda juga akan dipimpin oleh Roh itu ke dalam kelaparan, tidak ada makanan dan tidak ada yang dapat disandari untuk bertahan hidup. Pada waktu itu Anda akan dicobai oleh si Iblis yang akan berkata kepada Anda, “Engkau adalah hamba Allah. Engkau pasti dapat berdoa agar Allah melakukan suatu mujizat untukmu.” Makan selalu merupakan sebuah perangkap yang dipakai oleh si Iblis untuk menjerat manusia. Dilihat dari pandangan manusia, Tuhan Yesus terutama ditunjang oleh para pengikutnya yang adalah para perempuan. Para perempuan ini tidak hanya menunjang Dia, tetapi mereka juga menunjang para pengikut-Nya yang lain (Luk. 8:2-3). Petrus, Yakobus, dan Yohanes semuanya melepaskan pekerjaannya sebagai nelayan dan menjadi “gila” dalam mengikuti Yesus. Mereka berkeliling, pergi dari desa ke desa tanpa memiliki tempat tinggal tertentu dan tidak memiliki jaminan makanan.
Mereka hanya ingin bersama Pribadi ini. Tuhan Yesus seperti sebuah magnet yang menarik mereka kepada diri-Nya. Tuhan Yesus berkata bahwa “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). Walaupun Dia tidak memiliki tempat untuk beristirahat, para murid hanya ingin bersama Dia di manapun Dia berada. Nasib mereka hanyalah bersama-sama dengan Dia, tanpa mempedulikan kehidupan mereka.
Para full-timer yang melepaskan profesi mereka harus jujur terhadap orangtua mereka. Beritahu mereka bahwa Anda tidak bisa memastikan dari mana tunjangan Anda. Beritahu mereka perasaan Anda bahwa Tuhan ingin Anda melayani sepenuh waktu, dan bahwa Anda akan mengikuti Yesus dan melayani Dia. Para suami yang berbeban untuk melayani sepenuh waktu juga harus bersekutu dengan para istri mereka dengan jujur. Mereka tidak seharusnya memberikan kepastian kepada istri-istri mereka dengan janji-janji adanya jaminan. Anda tidak dapat meyakinkan istri Anda dengan jaminan apapun. Yang dapat Anda lakukan adalah meminta dia juga melayanisepenuh waktu bersama Anda.
Apakah perkataan ini mengecewakan Anda? Jika ya, Anda seharusnya kembali kepada profesi Anda… Apakah Anda masih mau mengambil jalan ini?... Kerjakanlah di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepada Anda.
Ketika saya menjadi seorang full-timer, tidak ada orang yang menggaji saya. Gereja terlalu kecil dan tidak dapat menunjang saya… Saya membuat keputusan untuk hidup dengan cara yang sangat sederhana. Selama saya dapat hidup, saya tidak peduli. Itu adalah kehendak saya. Saya berbeban untuk melepaskan profesi saya hanya untuk memberitakan Yesus…[vii]
1 Timotius 6: 17 berkata, “Peringatkanlah orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” Jika Anda percaya kepada Dia, Anda akan menerima lebih banyak kekayaan dan juga meletakkan sebuah dasar yang baik bagi masa depan Anda (ay. 19). Anda harus berbagian di dalam kemajuan pergerakan Allah di bumi ini. Ada keperluan yang besar akan kebenaran. Banyak orang lapar akan kebenaran dan banyak orang yang berada di dalam kegelapan. Terang kebenaran ada di tengah-tengah kita. Siapa yang pergi keluar untuk menyebarkannya? Kita memerlukan beberapa orang full-timer yang melepaskan pekerjaan, profesi, dan bisnis mereka untuk pergi keluar. Namun, mereka masih perlu memenuhi kebutuhan hidup mereka. Karena itu, kita harus memiliki beberapa orang yang setia untuk bekerja, menghasilkan emas, menghasilkan uang untuk menunjang orang-orang yang pergi keluar menyebarkan kerajaan, ekonomi Allah. Selain itu, ketika mereka pergi keluar, mereka tidak mengambil apapun dari orang yang tidak percaya, orang yang menyembah berhala (3 Yoh. 5-8). Anda harus membantu mereka untuk terus maju. Mereka adalah para pengembara bagi penyebarluasan kerajaan. Mereka memerlukan tunjangan Anda untuk bepergian dan untuk kehidupan mereka. Saya berharap bahwa di dalam pelatihan anda, Anda bisa memiliki waktu untuk membaca dan membicarakan semua ayat ini kepada kaum saleh sehingga mata mereka dapat terbuka dan memiliki suatu pandangan, menurut ekonomi perjanjian baru Allah, mengenai situasi dunia, usaha mereka, dan cara mereka menghasilkan uang. Kemudian mereka akan menyadari bahwa mereka tidak boleh menghamburkan satu sen pun, tetapi menyimpan setiap dolar untuk diberikan bagi kerajaan di dalam ekonomi Allah. Ini adalah persekutuan bagi Injil.[viii]
Saya juga berharap bahwa kita dapat menambah tunjangan bagi para full-timer, anggaran bagi mereka terlalu sedikit. Mereka telah melepaskan masa depan mereka, kedudukan mereka, dan mempersembahkan segala sesuatu kepada Tuhan dan gereja. Gereja harus memperhatikan kebutuhan mereka. Kita tidak perlu takut memberikan mereka terlalu banyak. Kita tidak takut menghabiskan terlalu banyak uang untuk hal-hal yang lain. Mengapa kita takut menghabiskannya untuk menunjang para full-timer? Ini adalah serangan dari Satan. Hal ini akan memperlambat pekerjaan pembangunan Tuhan. Kita tidak perlu takut secara berlebihan, kita hanya takut kalau kita belum cukup melakukannya. Jika para full-timer memboroskan tunjangan yang diberikan gereja kepada mereka, dan jika mereka menghabiskan uang mereka untuk hal-hal yang tidak penting, ini membuktikan bahwa mereka tidak bersyarat untuk menjadi para full-timer, dan mereka seharusnya tidak melayani sepenuh waktu. Ketika para full-timer mendengar hal ini mereka harus berlutut untuk menyembah Tuhan, dan mereka juga harus melayani dengan takut dan gentar.
…saya mengatakan hal ini kepada orang-orang muda yang menerima lebih banyak suplaian dari Tuhan, mereka harus belajar memberi. Jika kita menyimpan segala sesuatu untuk diri kita sendiri, kita tidak layak menjadi seorang full-timer. Kita harus belajar memperhatikan orang lain.
Saudara-saudara biarkan saya berkata dengan adil. Mereka yang menerima suplaian harus menyadari bahwa uang yang mereka pakai adalah uang dari hasil kerja keras kaum saleh, yang mencurahkan kasih mereka kepada Tuhan. Kasih yang demikian tidak ternilai. Mereka yang menerimanya tidak seharusnya mengambilnya dengan ringan atau menghabiskan uang itu dengan sembarangan. Di saat yang sama, ketika mereka memiliki kelebihan, mereka harus memperhatikan kebutuhan kaum saleh lainnya. Gereja harus bermurah hati dalam menunjang para full-timer, tetapi harus berhati-hati dalam pengeluarannya. Di sisi full-timer, mereka seharusnya setia dalam mengatur uang mereka, dan mereka harus memperhatikan orang lain.[ix]
Jika Tuhan memberikan amanat yang lebih kepada Anda, sehingga Anda tidak memiliki waktu lagi untuk bekerja, Anda harus mengikuti pimpinan Tuhan dan memandang Tuhan dengan iman dan melayani Dia sepenuh waktu. Jika di dalam lingkungan Anda tidak ada kaum saleh atau gereja yang dapat menunjang Anda, Anda harus belajar dari teladan Paulus. Pada waktu itu, dia bekerja dengan tangannya sendiri untuk menyuplai dirinya sendiri dan kebutuhan rekan-rekannya (Kis. 20:34). Di tengah-tengah kita tidak ada profesi sebagai penginjil. Jika Anda merasa bahwa Anda tidak berguna di tangan Tuhan, Anda dapat meluangkan setengah waktu Anda untuk bekerja, untuk mencari nafkah, sehingga Anda tidak menjadi beban bagi orang lain. Mungkin setelah dua tahun pelatihan, Tuhan akan memimpin Anda untuk melanjutkan pendidikan Anda. Mungkin Tuhan mengatur Anda untuk bekerja terlebih dahulu. Setelah dua atau tiga tahun, menurut perasaan batini Anda dan pimpinan Tuhan di dalam lingkungan yang di luar, Anda dapat melayani sepenuh waktu lagi.
Saya berharap persekutuan yang sedikit ini akan menjadi jelas bagi Anda semua dan akan memberikan Anda keberanian untuk mempersembahkan diri Anda. Janganlah berkata bahwa menjadi full-timer adalah benar dan tidak menjadi full-timer adalah salah. Tidak perlu ada perasaan seperti ini. Jika Anda bisa melakukannya, melayanilah sepenuh waktu. Jika Anda tidak bisa, bekerjalah. Di sisa waktu Anda, Anda harus tetap mengasihi Tuhan dan mengejar Dia. Menjadi full-timer hanyalah suatu sebutan; ini bukanlah perkara menjadi seorang full-timer atau tidak. Bagaimanapun juga, kita semua harus mengejar Tuhan dan diperlengkapi di dalam kebenaran dan bertumbuh di dalam hayat.[x]
Mereka yang dapat melayani sepenuh waktu, harus mempersembahkan seluruh waktu mereka. Mereka yang tidak dapat melayani sepenuh waktu harus melakukan yang terbaik untuk menunjang kebutuhan keuangan mereka.[xi]
TIDAK MEMILIKI PEMIKIRAN UNTUK MENGAMANKAN POSISI
Janganlah memiliki pemikiran untuk menjamin posisi Anda. Selama saya berjerih lelah di dalam Firman, memberikan pengajaran kepada kaum saleh, dan membukakan Firman kepada semua orang yang mencari, saya tidak perlu menjaga posisi saya. Beberapa orang-orang muda di antara kita mungkin berpikir bahwa jika mereka tidak bisa mendapatkan sekelompok kaum beriman yang dapat menunjang untuk terus maju, maka mereka tidak memiliki jaminan terhadap kehidupan mereka. Mereka mungkin berpikir, “Jika tidak ada gereja yang dapat menunjang saya, apa yang harus saya lakukan? Lalu, bagaimana saya dapat mencukupi kebutuhan hidup saya dan melayani sepenuh waktu?” Saya menasihati Anda semua, khususnya orang-orang muda untuk membuang pemikiran ini. Jika Anda berpikir seperti ini, saya akan menasihati Anda untuk kembali bekerja dan mencari nafkah bagi kehidupan Anda. Janganlah melayani sepenuh waktu dengan pemikiran seperti ini. Ketika Anda melayani sepenuh waktu, Anda harus memberikan kehidupan Anda “kepada udara.” Ketika saya mengatakan hal ini, maksud saya adalah Anda tidak akan pernah mati kelaparan. Tuhan akan memberi Anda makan dan Dia memiliki banyak cara untuk memberi Anda makan. Jika Anda bersungguh-sungguh terhadap Dia, Anda tidak perlu memperhatikan posisi Anda, dan Anda tidak perlu berpikir mengenai kehidupan Anda. Tuhan akan memberikan Anda makanan.[xii]
Lebih dari lima puluh tahun yang lalu, Tuhan meminta saya untuk melepaskan pekerjaan saya dan melayani Dia sepenuh waktu. Ketika saya dipanggil oleh Tuhan, saya menggunakan cara alamiah saya untuk membayangkan kehidupan saya. Saya berkata, “Tuhan, aku bersedia makan daun-daun dari pohon dan minum air dari mata air di pengunungan. Aku puas untuk hidup seperti ini, tetapi Engkau harus menjaga istri dan anak-anakku.” Tentu saja, Allah tidak membiarkan saya hidup seperti itu. Dia memperhatikan kebutuhan saya dan keluarga saya. Di sini poinnya adalah walaupun kita mungkin tidak memiliki iman terhadap Bapa kita, Dia adalah setia.
Beberapa orang dari Anda mungkin berpikir untuk melayani Tuhan sepenuh waktu. Jika Anda memiliki kecenderungan yang dalam di batin Anda untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, saya mendorong Anda untuk lakukan itu. Keluarlah dari “perahu” pekerjaan Anda, lompatlah ke dalam air, dan lihatlah apakah Anda akan “tenggelam.” Pengalaman saya adalah setelah saya meninggalkan perahu, Tuhan tidak membiarkan saya tenggelam. Pertama-tama saya memberitahu Tuhan bahwa saya berada di dalam perahu yang baik. Saya berkata bahwa saya percaya kepada-Nya tetapi tetap memerlukan sebuah perahu. Namun, Tuhan memberitahu saya untuk melompat keluar dari perahu itu. Kemudian saya memberitahu Dia bahwa saya tidak memiliki iman sebesar itu. Tetapi ini bukanlah perkara iman kita; ini adalah perkara kesetiaan Dia.
Kita semua perlu diselamatkan dari kehidupan yang penuh kekhawatiran. Kita tidak perlu khawatir akan makanan dan pakaian. Dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan ini tergantung pada kesetiaan Allah. Dia adalah setia, dan kita harus memandang kepada Dia atas kebutuhan kita.[xiii]
Berjalan dengan iman adalah berjalan dengan sesuatu yang kita tidak tahu. Beberapa orang muda mungkin berbeban untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, tetapi mereka mungkin berpikir bagaimana mereka dapat ditunjang. Jika Anda berpikir seperti ini, berarti Anda sedang berjalan dengan penglihatan, bukan dengan iman. Selama bertahun-tahun, saya telah berjalan dengan iman, tetapi akhirnya segala sesuatu datang kepada saya. Saya diselamatkan oleh Tuhan dari tangan tentara Jepang. Jika tidak, mereka mungkin telah membunuh saya. Tuhan juga menyelamatkan saya dari kematian karena penyakit TBC. Inilah berjalan dengan iman. Orang-orang dunia tidak memiliki Allah. Mereka hanya memiliki apa yang mereka lihat. Tetapi karena kita memiliki Allah, kita tidak berjalan dengan sesuatu yang kita lihat. Kita berjalan dengan Allah yang tidak kelihatan. Akhirnya, segala sesuatu yang kita perlukan datang kepada kita. Iman ini menghubungkan kita kepada Allah sepanjang waktu.[xiv]
Menurut pengamatan saya, paling sedikit ada lima ribu orang anggota-anggota yang aktif di dalam gereja di Taipei. Jika setiap seratus orang dari Anda bertanggung jawab untuk satu orang full-timer, minimal ada lima puluh orang yang dapat melayani sepenuh waktu. Tidak peduli apakah Anda layak atau tidak; Tuhan segera datang, karena itu mari kita melayani dengan sepenuh waktu kita. Ketika saya masih muda, saya memiliki satu pekerjaan yang baik. Pendapatan bulanan saya lebih dari cukup untuk memenuhi biaya hidup lima keluarga. Pada suatu hari, Tuhan datang kepada saya. Dia memanggil saya dan memaksa saya untuk meninggalkan pekerjaan saya untuk melakukan pekerjaan-Nya. Saya berkata, “O Tuhan! Apa yang dapat saya sandari untuk kehidupan saya?” Tuhan berkata, “Saya akan bertanggungjawab.”
…Poin saya adalah ini, saudara saudari: Allah kita adalah Allah yang dapat dipercaya, Dia nyata dan hidup. Orang muda, Anda tidak perlu khawatir akan masa depan Anda. Masa depan yang paling mulia adalah melayani Dia. Tidak ada masa depan yang lebih terhormat daripada ini. Jangan lihat yang sekarang ini. Sekarang, Anda mungkin bertanya apa yang akan Anda perbuat tanpa sebuah pekerjaan. Secara bumiah tidak ada jalan, secara surgawi pasti ada jalan. Tidak ada jalan untuk manusia, tetapi ada jalan untuk Allah. Saya mendorong Anda untuk mengenal jalan ini; waktu itu pendek. Takhta ada di dalam gereja, dan tujuh pelita di depan takhta sedang menyala, tidak hanya menerangi dan membakar kita, tetapi lebih memotivasi kita, mendorong kita. Betapa bahagianya saya melihat banyak orang muda bangkit menjadi generasi-generasi yang berhasil! Saya bukan hanya ingin menyenangkan hati Anda, tetapi saya berharap bahwa di antara kita tujuh pelita itu sedang menyala. Tuhan ada di sini dan Dia sedang berbicara. Janganlah khawatir akan masa depan dan lingkungan Anda; lingkungan berada di tangan Dia.[xv]
PARA FULL-TIMER HIDUP OLEH IMAN,
MEMPERCAYAKAN KEBUTUHAN MEREKA KEPADA TUHAN,
DAN MENERIMA SUPLAIAN TUHAN MELALUI KAUM SALEH
DAN GEREJA-GEREJA
Para full-timer harus hidup oleh iman, mempercayakan kebutuhan mereka kepada Tuhan dan menerima suplaian Tuhan melalui kaum saleh dan gereja-gereja. Jika kita merasa dipimpin dan diberikan beban oleh Tuhan untuk melayani sepenuh waktu, kita tidak perlu takut mengenai kebutuhan kita. Kita harus percaya kepada Tuhan dan meletakkan kepercayaan kita di dalam Dia. Kita tidak boleh berpikir bahwa kita akan memiliki hidup yang makmur di dalam hal-hal materi. Kita harus mempersiapkan diri kita untuk menderita. Penderitaan yang pertama adalah kemiskinan. Kita perlu belajar melayani Tuhan di dalam kemiskinan. Beberapa orang berpikir bahwa jika mereka melayani Tuhan di dalam kemiskinan, ini adalah suatu tanda bahwa mereka belum dipilih dan dipanggil oleh Tuhan. Namun, rasul Paulus berada di dalam kemiskinan (2 Kor. 6:10; 11:27). Karena gereja-gereja yang dia dirikan tidak cukup menunjang dia, dia terpaksa membuat tenda (Kis. 18:3). Di waktu yang sama, dia memenuhi kebutuhan dari para sekerjanya (20:34).
TIDAK DIGAJI OLEH SESEORANG ATAU GEREJA
Ketika kita melayani Tuhan, kita tidak boleh memiliki pemikiran bahwa kita digaji oleh seseorang atau oleh gereja. Jika gereja menyuplai kita, ini bukan berarti bahwa gereja menggaji kita. Itu bukan gaji melainkan suplai Allah melalui gereja. Kita harus sepenuhnya menyadari bahwa untuk menopang kita, Tuhan butuh Tubuh-Nya (gereja) dan anggota-anggota Tubuh-Nya untuk bekerjasama dengan Dia. Dia tidak menyuplai kita secara langsung oleh diri-Nya sendiri tetapi secara tidak langsung melalui Tubuh-Nya dan anggota-anggota-Nya.[xvi]
Saya percaya bahwa banyak orang-orang muda yang membara melayani Tuhan sepenuh waktu mereka. Beberapa orang terhalang untuk melakukan demikian karena berpikir tentang kesulitan yang akan mereka hadapi untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Tetapi biarkan saya memberitahu Anda bahwa kapankala kita memikirkan perkara mencukupi kebutuhan hidup, berarti kita agamawi. Walaupun tidak ada laut, walaupun kita berada di daratan, jika kita memerlukan ikan, ikan akan berada di sana. Itu semua tergantung apakah Tuhan Yesus bersama dengan kita atau tidak. Jika kita memiliki Kristus yang bangkit bersama kita, kita akan melupakan semua perkara agama dan tentang kehidupan kita. Yesus yang hidup tidak hanya memperhatikan kebutuhan rohani kita, tetapi juga kebutuhan jasmani kita. Dia bukanlah agama yang mati; Dia bukanlah sebuah kapal misi yang mati. Dia adalah Kristus yang hidup. Semua ikan berada di bawah perintah-Nya.
Secara khusus, sekarang kita hidup di malam hari. Sepanjang malam kita harus dijaga dari usaha-usaha agama, cara-cara agama untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan. Jangan hitung dolar Anda. Jangan lihat rekening bank Anda. Jangan memperkirakan berapa banyak ikan yang Andabutuhkan.[xvii]
PARA FULL-TIMER YANG MELEPASKAN
PEKERJAAN DAN YANG MENGHASILKAN UANG
Apakah yang harus kita lakukan? Setiap orang yang mengambil jalan baru ini harus menjadi seorang full-timer. Ada dua jenis full-timer—full-timer yang melepaskan pekerjaan dan full-timer yang menghasilkan uang. Semuanya harus full-timer; baik Anda melepaskan pekerjaan Anda untuk menginjil, mengajar, menjenguk, dan bekerja bagi gereja sepenuh waktu, atau Anda tetap bekerja menghasilkan uang bagi pergerakan Tuhan. Walaupun Anda menghasilkan dua juta dolar satu tahun, pengeluaran Anda tidak boleh melebihi biaya kebutuhan hidup Anda yang seharusnya. Misalkan, Anda dan keluarga Anda hanya membutuhkan dua ribu lima ratus dolar satu bulan atau tiga puluh ribu dolar satu tahun untuk biaya hidup Anda yang seharusnya, maka Anda seharusnya hanya mengeluarkan biaya sebanyak itu dan memberikan sisanya bagi pergerakan Tuhan. Ini bukanlah suatu peraturan dan tidak ada orang yang akan mengatur Anda. Dengan hati nurani Anda yang murni dan Roh yang berhuni, Anda harus mengatur diri Anda sendiri menjadi full-timer yang menghasilkan uang. Bahkan seorang ibu yang memiliki enam anak pun harus menjadi seorang full-timer. Dia harus melakukan yang terbaik dalam membantu suaminya, menjaga keluarganya, menghasilkan lebih banyak uang, dan memberikan setiap sen di luar kebutuhan keluarganya bagi pemulihan Tuhan.[xviii]
MASALAH TUNJANGAN KEUANGAN
Mengenai melayani sepenuh waktu, walaupun tidak setiap kaum saleh setuju, namun sebagian besar kaum saleh menyadari bahwa gereja disuplai oleh orang-orang yang melayani sepenuh waktu. Hari ini saya harus berkata terus terang: Karena kita semua mengasihi Tuhan dan melayani Tuhan bersama-sama, dan kita setuju bahwa melayani sepenuh waktu adalah jalan yang tepat untuk memberikan banyak suplaian kepada gereja-gereja, maka kita tidak boleh mengesampingkan atau mengabaikan kebutuhan sehari-hari dari orang-orang yang melayani sepenuh waktu. Ini tidak boleh menjadi situasi kita yang normal.
Karena kita memerlukan pelayanan dari orang-orang yang melayani sepenuh waktu, maka kita harus menyuplai kebutuhan mereka. Beberapa orang saudara pewajib dari lokalitas tertentu datang kepada saya dan berkata, “Kami telah mempertimbangkan perkara ini dengan serius dan mengambil keputusan bahwa gereja di lokalitas kami hanya dapat menunjang dua orang saudara yang melayani sepenuh waktu.” Walaupun perkataan ini terdengar tidak terlalu baik, tetapi itu adalah situasi yang sebenarnya. Kita tidak dapat mengharapkan orang untuk melayani jika tidak tidak memperhatikan kehidupan mereka; ini tidak adil. Satu Korintus 9:14 berkata, “Demikian pula Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” Selain itu, di dalam hukum Perjanjian Lama tertulis, “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik” (Ul. 25:4).
Ketika kita melihat bahwa mereka yang melayani sepenuh waktu sepanjang hari sibuk memperhatikan urusan gereja, kita tidak seharusnya hanya mengucap syukur kepada Tuhan dan berkata bahwa ini sangat menakjubkan, tetapi kita mengabaikan kebutuhan mereka. Jika kita demikian, hal ini seperti kaki mereka terus-menerus mengirik, tetapi mulut mereka terberangus. Ini tidak adil. Para saudara pewajib, para saudara yang mengasihi Tuhan, dan bahkan semua saudara saudari di seluruh gereja harus memikul beban di hadapan Tuhan untuk menyuplai kebutuhan sehari-hari mereka yang melayani sepenuh waktu. Walaupun orang-orang yang melayani sepenuh waktu dapat memiliki sebuah pekerjaan dan penghasilan yang baik, tetapi mereka telah mengesampingkan kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang besar karena mereka mengasihi Tuhan dan gereja. Karena itu, ketika kita menuai manfaat dari pelayanan mereka, kita tidak bisa hanya mengapresiasinya tanpa memperhatikan kehidupan mereka secara praktis.[xix]
i. Witness Lee, Elders’ Training, Book 05: Fellowship Concerning the Lord’s Up-to-Date Move, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1985), 136-144
ii. Witness Lee, Elders’ Training, Book 08:The Life-pulse of the Lord’s Present Move, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1986), 98-99
iii. Witness Lee, Elders’ Training, Book 08:The Life-pulse of the Lord’s Present Move, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1986), 120-121
iv. Witness Lee, Crucial Words of Leading in the Lord’s Recovery, Book 1: The Vision and Definite Steps for the Practice of the New Way, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2004), 276-277
v. Witness Lee, The Vision of the Divine Dispensing and Guidelines for the Practice of the New Way, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2004), 276-277
vi. Witness Lee, The Economy of God and the Mystery of the Transmission of the Divine Trinity, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2001), 140
vii. Witness Lee, Elders’ Training, Book 04: Other Crucial Matters Concerning the Practice of the Lord’s Recovery, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1985), 96
viii. Witness Lee, Life-study of Luke, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2001), 248-250
ix. Witness Lee, Crystallization-study of the Epistle to the Romans, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2003), 96
x. Witness Lee, The Ultimate Significance of the Golden Lampstand, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1998), 57-59
xi. Witness Lee, The World Situation and the Direction of the Lord’s Move, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1991), 54-56
xii. Witness Lee, Christ vs. Religion, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1996), 127
xiii. Witness Lee, Elders’ Training, Book 07: One Accord for the Lord’s Move , (Anaheim: Living Stream Ministry, 1986), 125-126
xiv. Witness Lee, Three Aspects of the Church: Book 3, The Organization of the Church, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2007), 135-141