KONSEKRASI PARA FULL-TIMER
(The Consecration of Full-timers)
Dasar Alkitab:
“Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus
dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati” – Rm. 12:1
I. Konsekrasi adalah mempersembahkan diri kita sebagai bejana-bejana kepada Tuhan untuk membiarkan Dia memenuhi kita, menduduki kita, dan agar Dia diekspresikan melalui kita; jika tidak ada konsekrasi, tindakan-tindakan kita hanya sekadar luaran, tidak ada bedanya dengan mereka yang memainkan peran dalam sebuah drama.
II. Lima poin utama yang berhubungan dengan pengalaman konsekrasi:
A. Dasar konsekrasi:
1. Kita harus menyadari bahwa kita telah dibeli oleh Allah dan bahwa hak kepemilikan atas diri kita sudah dipindahkan kepada Allah.
2. Ketika kita menyadari dasar konsekrasi, konsekrasi kita menjadi stabil dan aman.
B. Motivasi konsekrasi:
1. Jika konsekrasi semata berhenti pada dasar konsekrasi, kesadaran akan hak Allah atas kita, konsekrasi ini hanya akan berdasar di atas alasan; kekurangan kemanisan dan intensitas.
2. Ketika Allah menghendaki kita mengkonsekrasikan diri kita kepada-Nya, Dia harus menggerakkan hati kita; Dia harus memberi kita motivasi kasih supaya kita rela mengkonsekrasikan diri kepada-Nya.
C. Makna konsekrasi:
1. Jika seseorang berkata bahwa dia adalah orang yang berkonsekrasi, kita dapat bertanya apakah dia telah mengubah posisi dan kegunaannya; jika tidak, dia bukanlah sebuah kurban, dan di sana tidak ada konsekrasi yang sejati.
2. Tidak ada yang dipersembahkan sebagai sebuah kurban tanpa adanya sebuah perubahan dalam posisi dan kegunaannya; mereka yang sungguh-sungguh mempersembahkan diri, harus seutuhnya keluar dari tangan mereka dan masuk ke dalam tangan Allah bagi kegunaan-Nya.
D. Tujuan konsekrasi:
1. Kita hanya dapat bekerja bagi Allah sampai pada taraf kita membiarkan Allah yang bekerja; jika kita tidak membiarkan Allah bekerja terlebih dahulu, jerih lelah kita tidak akan menyenangkan Dia maupun diterima oleh-Nya, tidak peduli betapa rajin dan tekunnya kita.
2. Obyek konsekrasi adalah membiarkan Allah bekerja di dalam kita sehingga kita dapat bekerja bagi Dia; untuk itu, kita harus tegas, bertanya kepada diri kita apakah konsekrasi adalah untuk bekerja bagi Allah secara langsung atau membiarkan Allah terlebih dahulu bekerja di dalam kita.
E. Hasil konsekrasi:
1. Hasil konsekrasi menyebabkan kita memutuskan segala bentuk hubungan kita dengan manusia, perkara, benda, dan yang terutama adalah kita menyerahkan masa depan kita dan sepenuhnya menjadi milik Allah.
2. Jika konsekrasi kita tidak bergema, cepat atau lambat permasalahan akan muncul di dalam pelayanan dan kondisi rohani kita.
III. Makna yang lebih dalam dari konsekrasi adalah di dalam pembangunan gereja terdapat sebuah keperluan akan konsekrasi seseorang.
IV. Konsekrasi adalah dasar bagi setiap pengalaman setelah kelahiran kembali; seluruh pengalaman rohani setelah kelahiran kembali bergantung pada langkah konsekrasi.
V. Kita harus belajar untuk menjaga sebuah konsekrasi yang segar sepanjang waktu; kita telah mempersembahkan diri kita kepada Tuhan selama bertahun-tahun, namun kita masih perlu mempersembahkan diri kita setiap pagi dan malam.
Cuplikan Berita Ministri:
MEMPERSEMBAHKAN DIRI KITA
KEPADA TUHAN SECARA MENYELURUH
Kita semua seharusnya pergi kepada Tuhan dan mengambil sebuah langkah konsekrasi yang spesifik. Kita perlu memiliki sebuah transaksi dengan Tuhan, mengkonsekrasikan diri kepada Dia. Bahkan jika kita telah berkonsekrasi sebelumnya, kita tetap perlu pergi kepada Tuhan hari ini dan sekali lagi secara menyeluruh memberikan diri kepada Dia. Semakin sering kita memberikan diri kepada-Nya semakin baik, dan semakin secara menyeluruh memberikan diri semakin baik. Kita telah mengatakan bahwa kita seharusnya mengesampingkan diri bagi Tuhan, namun tidak cukup hanya sekadar mengesampingkan diri. Jika tidak ada konsekrasi, tindakan kita hanyalah luaran, tidak ada bedanya dengan mereka yang memainkan peran dalam sebuah drama. Bagaimana pun juga, ketika Paulus mengesampingkan dirinya, itu bukanlah sebuah penampilan belaka. Paulus mengesampingkan dirinya adalah kesejatian; itu berasal dari dalam. Apa yang dari dalam dirinya diekspresikan keluar.
Konsekrasi adalah sebuah perkara serius. Kita harus pergi kepada Tuhan dan berdoa kepada-Nya. Kita telah melihat bahwa Tuhan adalah makna hidup kita, dan makna hidup kita juga adalah makna alam semesta. Jika tidak ada orang Kristen di dalam alam semesta, alam semesta tidak bermakna. Jika sebuah negara tidak memiliki orang Kristen, negara itu tidak bermakna. Jika sebuah kelompok sosial tidak memiliki orang Kristen, kelompok tersebut akan menyedihkan. Jika tidak ada seorang Kristiani di dalam sebuah keluarga, keluarga tersebut akan gelap dan menyengsarakan. Kita adalah makna alam semesta, juga makna di dalam kemasyarakatan.
Bagaimana pun juga, kita tidak dapat mengerjakan ini dengan diri kita sendiri. Tuhan-lah yang mengerjakan ini di dalam kita. Kita memiliki makna di dalam kehidupan manusia kita, di dalam alam semesta, di dalam masyarakat, dan di dalam negara, karena kita memiliki Tuhan Yesus di dalam kita. Jadi, kita harus berkata, “ Tuhan, aku memuji-Mu. Engkau telah membuka mataku untuk melihat bahwa Engkau adalah makna keberadaanku dan bahwa aku adalah makna alam semesta. Tuhan, aku perlu dipenuhi dengan diri-Mu di batinku. Aku berikan diriku, hidupku, masa depanku, apa adanya diriku, apa yang dapat kukerjakan, dan apa yang harus kulakukan. Aku tidak mau mengerjakan apa pun bagi-Mu. Aku ingin menjadi sebuah bejana yang kosong yang sepenuhnya diisi dan diduduki oleh-Mu. “ Kita perlu membuat konsekrasi yang demikian.
Kita tidak akan meminta kaum saleh untuk memberikan diri mereka pergi dan memberitakan Injil di wilayah terpencil. Di dalam Kekristenan, kaum beriman mengkonsekrasikan dirinya untuk memberitakan Injil ke daerah terpencil. Kita tidak mempromosikan ini. Sebaliknya, kita ingin memberikan diri kita seutuhnya kepada Tuhan untuk menjadi bejana-Nya. Apakah kita akan pergi mendaki gunung atau keluar negeri bagi Injil sepenuhnya bukanlah perkara yang berbeda. Kita tidak membicarakan tentang orang-orang di daerah terpencil. Kita seharusnya pertama-tama memperhatikan apakah kita dipenuhi dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus ada di dalam kita. Dia menunggu untuk mendapatkan tumpuan di dalam kita supaya Dia dapat memenuhi seluruh diri kita. Sudahkah kita memberikan Dia tumpuan? Mungkin kita belum memberikan Dia tumpuan apa pun, atau kita belum cukup memberikan Dia tumpuan. Kita telah menerima Tuhan, namun kita belum membiarkan Dia menduduki kita seutuhnya.
Ketika kita sungguh-sungguh melihat makna hidup manusia, kita akan pergi kepada Tuhan di dalam konsekrasi, menempatkan diri kita sepenuhnya di dalam tangan-Nya. Kita tidak seharusnya menjadi doktrinal dengan Tuhan, memberitahu Dia untuk menempatkan kita di atas mezbah. Kita seharusnya sederhana dan memberitahu Dia bahwa kita ingin memberikan diri kepada-Nya. Kita diciptakan menurut gambar-Nya, dan kita adalah bejana-bejana-Nya. Dia sudah di dalam kita. Sekarang, Dia sedang menunggu kita untuk memberikan diri kita seutuhnya kepada Dia. Kita harus membawa perkara ini kepada Tuhan dengan mengatakan, “Tuhan, aku berikan diriku seutuhnya kepada-Mu. Hidupku, masa depanku, apa adanya diriku, dan apa yang dapat kukerjakan seluruhnya adalah milik-Mu. Tuhan, penuhi aku dengan diri-Mu.” i
KONSEKRASI ADALAH MEMBERIKAN DIRI KITA
SEBAGAI BEJANA-BEJANA KEPADA TUHAN
Di dalam bab ini, kita akan bersekutu mengenai konsekrasi. Setiap orang dari antara kita seharusnya memiliki sebuah konsekrasi yang sejati; kita seharusnya meluangkan waktu untuk berdoa dengan sungguh-sungguh dan memberikan diri kita kepada Tuhan. Apa yang dimaksud dengan konsekrasi yang tepat? Seseorang dapat berkata bahwa sejak dia mengkonsekrasikan dirinya kepada Tuhan, dia tidak lagi menginginkan hal-hal tertentu.” Ini bukanlah konsekrasi yang tengah kita bicarakan, karena tidak menginginkan hal-hal tertentu mungkin hanya merupakan sesuatu yang seturut dengan kehendak seseorang. Seseorang mungkin berkata bahwa dia tidak lagi menginginkan sekolah, namun Tuhan mungkin berkata, “ Aku ingin engkau melanjutkan sekolahmu.” Konsekrasi bukan sebuah perkara yang sederhana. Terkadang, konsekrasi kita tidak lah menyeluruh, karena kita masih ingin memiliki perkataan terakhir di dalam segala sesuatu. Pada mulanya, bersekolah adalah keputusan kita, dan sekarang melepaskan sekolah pun adalah keputusan kita. Sebelumnya, meraih gelar sarjana adalah keputusan kita, dan sekarang melepaskan gelar sarjana masih merupakan keputusan kita. Bahkan keinginan kita untuk mendapatkan Tuhan adalah keputusan kita. Ini bukanlah konsekrasi yang tepat.
Konsekrasi berarti kita mempersembahkan diri kita sebagai bejana-bejana kepada Tuhan untuk membiarkan Dia memenuhi kita, menduduki kita, dan Dia diekspresikan melalui kita. Hasilnya, bukan lagi kita yang membuat keputusan. Jika Tuhan berkata bahwa sikap kita terhadap seorang saudara tidak baik, kita seharusnya menanggapinya dengan meminta Dia mengampuni kita karena telah menyinggung saudara ini. Ini adalah hasil dari konsekrasi yang sejati. Jadi, bukan kita yang memutuskan apakah akan bersekolah atau tidak. Sebaliknya, kita bertanya kepada Tuhan apakah Dia menginginkan kita bersekolah atau tidak. Jika Tuhan tidak ingin bersekolah, kita tidak akan melanjutkan bersekolah . Jika Tuhan ingin bersekolah, kita seharusnya sekolah. Konsekrasi tidak berarti bahwa kita harus melepaskan sekolah dan makan, meninggalkan dunia, dan mengasingkan diri ke gunung-gunung. Ini adalah konsep agamis dari konsekrasi. Bahkan berkonsekrasi untuk menjadi seorang penginjil adalah konsep agamis dari konsekrasi. Ini bukanlah hasil dari menjamah dan mendapatkan Tuhan di dalam sebuah jalan yang sejati. ii
DASAR KONSEKRASI – PEMBELIAN ALLAH
Ketika kita memimpin orang lain untuk mengkonsekrasikan diri mereka, atau ketika kita memeriksa konsekrasi kita sendiri, kita harus memperhatikan dasar konsekrasi. Kita harus menyadari bahwa kita telah dibeli oleh Allah dan bahwa hak kepemilikan atas diri kita telah dipindahkan kepada Allah. Jadi, kita tidak lagi berada di dalam tangan kita. Kita bukan lagi milik kita. Ketika kita menyadari dasar konsekrasi, konsekrasi kita menjadi stabil dan aman.
Jika kita memeriksa pengalaman-pengalaman konsekrasi para Kristiani, kita seharusnya menemukan bahwa sebagian besar dari mereka didesak oleh kasih Tuhan. Motivasi ini sungguh-sungguh baik dan masuk akal. Namun, jika kita mempersembahkan diri hanya karena desakan kasih Tuhan, akankah konsekrasi ini menjadi cukup stabil? Pengalaman memberitahu kita tidaklah demikian. Alasannya, karena kasih adalah cerita mengenai suasana hati dan kehendak kita. Ketika kita bahagia, kita mengasihi; ketika kita tidak bahagia, kita tidak mengasihi. Hari ini kita di dalam suasana mengasihi, jadi kita mempersembahkan diri kita; esok kita tidak di dalam suasana mengasihi, jadi kita tidak mempersembahkan diri kita. Jadi, jika konsekrasi adalah murni sebuah perkara kasih, konsekrasi tersebut tidak cukup stabil, karena hanya tunduk pada perubahan suasana hati kita yang tidak stabil. Ketika kita memahami dasar konsekrasi dan menyadari bahwa konsekrasi berdasar pada perkara pembelian, konsekrasi kita kemudian akan stabil dan aman. Sebuah pembelian bukan perkara suasana hati, melainkan sebuah perkara kepemilikan. Allah telah membeli kita dan mempunyai hak untuk memiliki kita. Karena itu, apakah kita bahagia atau tidak, kita harus mempersembahkan diri kita.
Saya sungguh-sungguh merasa bahwa tidak banyak saudara-saudari di tengah-tengah kita yang telah mengkonsekrasikan dirinya dengan benar-benar menyadari hak kepemilikan Allah. Kita harus berpaling, kemudian belajar pelajaran ini. Konsekrasi kita tidak seharusnya hanya berdasar pada kasih Tuhan; kita harus menyadari bahwa Allah sesungguhnya telah mempunyai hak untuk memiliki kita. Mengikuti Tuhan tidak selalu menggembirakan, dan melayani Dia tidak selalu menyenangkan. Bahkan beberapa dari mereka yang telah melayani Tuhan selama bertahun-tahun terkadang merasa tidak begitu mudah melayani Tuhan, namun dorongan yang di batin melarang untuk mundur. Kita sering merasa ingin menyerah saja, tetapi tidak bisa. Alasannya adalah karena kita telah menyadari Allah memiliki hak atas diri kita. Kita telah dibeli oleh Allah, dan kita milik-Nya; karena itu, apakah kita menyukainya atau tidak, kita tidak dapat tidak mempersembahkan diri kita dan melayani Dia. Di dalam dunia hari ini, orang-orang menikah ketika mereka merasa menyukainya dan bercerai pun ketika mereka merasa menyukainya. Mereka bertindak seturut suasana hati mereka tanpa mengenal hak kepemilikan apa pun. Konsekrasi kita tidak seharusnya demikian. Konsekrasi yang sejati cepat atau lambat akan berhenti pada kesadaran akan hak Allah atas diri kita, berdasarkan pembelian-Nya. Apakah kita di dalam suasana hati bahagia atau tidak, fakta ini tetaplah sama. Ketika kita berdiri di depan takhta penghakiman untuk dihakimi oleh Tuhan mengenai konsekrasi kita, penghakiman tidak akan terjadi di atas dasar apakah kita mengasihi Dia atau tidak, atau apakah kita suka berkonsekrasi atau tidak; melainkan berdasar pada fakta apakah kita dibeli oleh Dia atau tidak. Jika kita dibeli oleh Dia, kita tidak dapat berbuat apa pun selain mengkonsekrasikan diri kita; kita tidak dapat mengatakan apa pun. Karena itu, mulai sekarang, kapan kala kita membicarakan mengenai konsekrasi, kita tidak boleh mengabaikan dasar ini.
Ketika kita membaca perkataan-perkataan yang menyinggung mengenai dasar konsekrasi, kita mungkin memahaminya dengan pikiran kita dan menerimanya dengan hati kita, namun, ini masih belum cukup. Kita tidak dapat berkata bahwa kita telah memiliki dasar konsekrasi. Kita perlu mengalami dasar ini secara praktis dalam kehidupan sehari-hari kita. Setiap kali ada sesuatu yang terjadi yang menyebabkan kita berbantahan dengan Allah, kita harus berlutut di depan Dia dan berkata, “ Tuhan, aku adalah hamba-Mu yang telah Kau beli. Hak kepemilikanku telah Engkau beli. Aku di sini dan sekarang mendeklarasikan hak-Mu. Bahkan di dalam perkara ini, aku akan membiarkan-Mu menjadi Tuhan dan Sang pembuat keputusan bagiku.” Setiap kali kita beranjak dari posisi konsekrasi, kita seharusnya merasa bahwa kita tengah di dalam keadaan pemberontakan yang serupa dengan Onesimus, seorang hamba yang bebas dari tuannya, Filemon. Kapan pun kita berhadapan dengan kesempatan untuk menentukan sebuah pilihan, kita seharusnya mempertimbangkan dasar konsekrasi ini, pembelian ini, sebagai batu pondasi di bawah kaki kita. Kita harus berdiri dengan aman di atasnya, tidak berani beranjak darinya. Jika kita mengalami konsekrasi dengan cara yang demikian ikhlas, kita sesungguhnya telah memegang teguh dasar konsekrasi.
MOTIVASI KONSEKRASI – KASIH ALLAH
Motivasi konsekrasi mengacu kepada hati seseorang di dalam konsekrasi. Untuk memiliki sebuah konsekrasi yang baik, kita tidak hanya perlu menyadari dasarnya; kita juga perlu memiliki sebuah motivasi. Meskipun seseorang mengenal dasar konsekrasi sebagai yang telah dibeli dan ditebus oleh Allah, namun kesadaran ini mungkin tidak cukup untuk menyentuh perasaannya, menggerakkan hatinya, dan menyebabkan dia mengkonsekrasikan dirinya dengan sukarela kepada Allah. Jika hal-hal yang Allah beli adalah benda mati, seperti sebuah kursi atau sehelai pakaian, Dia dapat langsung memprosesnya untuk digunakan seturut kesenangan-Nya. Tetapi, apa yang Allah tebus hari ini adalah pribadi-pribadi yang hidup, yang memiliki pikiran, kasih sayang, dan tekad. Meskipun Allah ingin memiliki kita, kita mungkin tidak senang membiarkan Dia memiliki kita. Meskipun Allah memiliki hak yang sah dan dasar untuk memiliki kita, kita mungkin tidak ada hati membiarkan Dia melakukannya. Karena itu, ketika Allah menginginkan kita mengkonsekrasikan diri kita kepada Dia, Dia harus menggerakkan hati kita. Dia harus memberi kita motivasi kasih sehingga kita rela mengkonsekrasikan diri kita kepada-Nya.
Di dalam konsekrasi yang normal motivasi kasih ini sangat diperlukan. Jika konsekrasi kita semata berhenti pada dasar konsekrasi, kesadaran akan hak Allah atas diri kita, konsekrasi ini hanya berdasar di atas alasan; akan kekurangan kemanisan dan intensitas. Namun jika konsekrasi kita memiliki kasih sebagai motivasinya, jika perasaan kita telah dijamah oleh kasih Allah, desakan kasih ini akan menyebabkan kita mengkonsekrasikan diri kita dengan sukarela kepada Allah. Konsekrasi ini kemudian akan menjadi manis dan tajam.
Kesimpulannya, sebuah konsekrasi yang stabil dan tajam memerlukan dua aspek ini : satu aspek adalah memiliki sebuah dasar, yaitu menyadari bahwa diriku telah dibeli oleh Allah, sehingga aku menjadi milik-Nya, dan bahwa aku harus mengkonsekrasikan diri ku kepada Dia; aspek yang lain adalah memiliki sebuah motivasi, yaitu melihat bahwa kasih Allah terhadapku bahkan begitu besar, dan bahwa kasih ini mendesak aku sehingga aku dengan sukarela mengkonsekrasikan diriku kepada-Nya.
MAKNA KONSEKRASI – MENJADI SUATU KURBAN
Ketika seseorang melihat dasar konsekrasi dan juga memiliki motivasi konsekrasi, dia rela mengkonsekrasikan dirinya kepada Allah. Kemudian, apa itu konsekrasi? Apa makna konsekrasi? Roma 12:1 mengatakan, “Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup.” Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa makna konsekrasi adalah menjadi suatu kurban.
Ketika kita mempersembahkan diri kita kepada Allah sebagai suatu kurban yang hidup, terdapat dua aspek: pertama, sebuah perubahan di dalam posisi kita, dan yang lainnya adalah sebuah perubahan di dalam kegunaan kita. Ketika kita memahami makna konsekrasi , kita dapat membedakan kesejatian konsekrasi satu dengan yang lainnya. Ketika seseorang berkata bahwa dia telah berkonsekrasi, kita dapat bertanya apakah dia telah berubah di dalam posisi dan kegunaannya. Jika tidak, dia bukanlah sebuah kurban, dan di sana tidak ada konsekrasi sejati. Tidak ada yang dipersembahkan sebagai sebuah kurban tanpa sebuah perubahan di dalam posisi dan kegunaan. Jadi, mereka yang sungguh-sungguh mempersembahkan dirinya, harus seutuhnya keluar melewati tangan mereka sendiri dan masuk ke dalam tangan Allah bagi kegunaan-Nya.
Karena makna konsekrasi adalah mempersembahkan diri kita kepada Allah sebagai suatu kurban yang hidup bagi kepuasan Allah, maka, kita seharusnya menanyakan pertanyaan ini kepada diri kita: Karena konsekrasi, berapa banyak dari kehidupan dan pengalaman kita sehari-hari yang telah membuktikan bahwa kita bahkan meletakkan diri kita di atas mezbah menjadi sebuah kurban bagi Allah? Apakah kita rela menjadi makanan Allah sehingga Dia dipuaskan? Konsekrasi yang sejati tidak pernah dipaksa oleh Allah; melainkan kehendak sukarela kita. Allah tidak mengambil apa pun dengan paksa; segala sesuatu yang dipersembahkan manusia adalah dengan sukarela. Sama halnya juga bahwa konsekrasi kita hari ini harus berasal dari kehendak sukarela kita; kita lah yang dengan rela diletakkan di atas mezbah dan tidak berani bergerak sedikit pun. Orang lain mungkin dapat bergerak bebas, namun kita tidak berani bertindak di dalam cara yang biasa. Orang lain mungkin dapat memperhitungkan dan memilih di antara kemanisan dan kepahitan, namun, ketika kita menghadapi sebuah kesulitan, kita bahkan tidak berani berpikir untuk melarikan diri. Orang lain dapat beralasan dan berbantah-bantahan dengan Allah; kita bahkan tidak berani mengucapkan sepatah kalimat. Orang lain dapat menghindari kehendak Allah dan menghindar untuk menjadi terikat dan dibatasi; kita lebih memilih dibatasi oleh kehendak-Nya dan rela dipenjarakan di dalam tangan-Nya. Semua ini, karena kita telah mempersembahkan diri kita kepada Allah dan telah diletakkan di atas mezbah. Kita telah menjadi orang-orang yang berkonsekrasi. Kita seharusnya dapat berkata terus-menerus kepada Allah, “ O, Allah, aku tidak punya pilihan; aku telah mengkonsekrasikan diriku kepada-Mu; aku ada di dalam tangan-Mu.” Kapan pun sesuatu terjadi di atas diri kita, kita harus mengekspresikan diri kita dengan cara ini kepada Allah. Kita harus tetap tinggal di dalam tangan Allah dan sesungguhnya menjadi suatu kurban kepada Allah. Hanya ini yang merupakan makna dari konsekrasi.
TUJUAN KONSEKRASI – BEKERJA BAGI ALLAH
Makna konsekrasi adalah menjadi suatu kurban, untuk itu, sesuatu yang dipersembahkan seluruhnya adalah bagi Allah. Tujuan konsekrasi, adalah untuk digunakan oleh Allah, bekerja bagi Allah. Namun, agar kita dapat bekerja bagi Allah, kita pertama-tama harus membiarkan Allah bekerja. Hanya mereka yang telah membiarkan Allah bekerja terlebih dahulu yang dapat bekerja bagi Allah. Kita hanya dapat bekerja bagi Allah hingga pada taraf di mana kita dapat membiarkan Allah yang bekerja. Jika kita tidak membiarkan Allah bekerja terlebih dahulu, jerih lelah kita tidak akan menyenangkan Dia maupun diterima oleh Dia, tidak peduli betapa rajin dan tekunnya kita. Hal-hal yang kita lakukan bagi Allah yang menyenangkan Dia dan diterima oleh-Nya tidak akan melampaui bagaimana kita membiarkan Allah bekerja. “Membiarkan” adalah dasarnya, dan “bagi”adalah hasilnya. Ketika kita memiliki dasar “membiarkan”, barulah kita dapat memiliki hasil “bagi”. Ini adalah prinsip yang tidak dapat berubah. Karena itu, ketika kita mengkonsekrasikan diri kita kepada Allah, meskipun itu adalah bekerja bagi Allah, namun dari sudut pandang kita penekanannya adalah membiarkan Allah bekerja. Tujuan dari konsekrasi adalah membiarkan Allah bekerja hingga kita dapat mencapai suatu tahap di mana kita bekerja bagi Allah.
Ketika Nadab dan Abihu mempersembahkan api asing ke hadapan Allah, mereka kemudian dihanguskan oleh Allah (Im. 10). Persembahan api asing adalah prinsip bekerja langsung bagi Allah. Siapa saja yang belum ditanggulangi oleh Allah dan membiarkan Allah bekerja, namun berusaha bekerja bagi Allah secara langsung adalah mempersembahkan api asing. Itu tidak hanya mentah, belum disepuh, berbau busuk, dan kemudian tidak diperkenan oleh Allah, itu juga berbahaya dan cenderung melibatkan seseorang dalam banyak kesulitan di dalam pekerjaan Allah. Inilah mengapa kita begitu berharap di dalam banyak kesempatan, di satu sisi saudara-saudari mengasihi Tuhan dan mempersembahkan diri mereka kepada Allah, namun. Di sisi lain, kita begitu takut bahwa ketika orang-orang mengasihi Tuhan dan mempersembahkan dirinya kepada Dia, mereka akan ingin bekerja bagi Dia dan melayani Dia secara langsung. Seluruh pekerjaan dan pelayanan yang demikian berbahaya. Saya percaya bahwa jika ada seratus saudara-saudari di tengah-tengah kita yang oleh desakan kasih Tuhan mengkonsekrasikan dirinya kepada Dia, berkeinginan untuk bekerja bagi Dia , namun tidak membiarkan Dia bekerja terlebih dahulu, seratus orang ini akan bertengkar setiap hari. Orang yang ini akan melayani dengan cara ini, dan orang yang lain akan melayani dengan cara lain. Gereja pasti akan terpecah-belah.
Karena itu, kita harus ketat terhadap diri sendiri dan bertanya apakah konsekrasi kita kepada Allah adalah untuk bekerja bagi Allah secara langsung atau membiarkan Allah bekerja di dalam kita terlebih dahulu. Jika kita tidak rela membiarkan Allah bekerja terlebih dahulu, kita tidak dapat memperoleh obyek daripada bekerja bagi Allah. Akibatnya, setelah konsekrasi kita tidak seharusnya menjadi khawatir untuk menyelesaikan sesuatu bagi Allah. Kita perlu tinggal di atas mezbah dan membiarkan Allah untuk bekerja di atas kita dan menghanguskan Konsekrasi ini, pelayanan ini, matang dan dibangkitkan; berkenan kepada Allah dan memuaskan Dia. Kesimpulannya, obyek konsekrasi adalah membiarkan Allah bekerja di dalam kita supaya kita dapat bekerja bagi-Nya.
HASIL KONSEKRASI
Hasil konsekrasi menyebabkan kita memutuskan segala bentuk hubungan dengan orang-orang, perkara, dan benda, terutama melepaskan masa depan kita dan seluruhnya menjadi milik Allah. Kita perlu mempertimbangkan perkara ini juga di dalam terang mengenai kurban persembahan di dalam perjanjian lama. Ketika seekor lembu jantan diambil sebagai kurban dan dipersembahkan di atas mezbah, lembu jantan tersebut langsung terputus dari segala bentuk hubungan sebelumnya. Dia terputus dari tuannya, teman-temannya, dan kandangnya. Setelah dia dihanguskan oleh api, dia bahkan kehilangan bentuk dan perawakan aslinya. Seluruh bagian-bagian pilihannya diubah menajdi bau-bauan yang harum bagi Allah, dan seluruhnya yang tertinggal hanyalah seonggok abu. Segalanya terputus, dan segalanya selesai. Ini lah hasil dari seekor lembu jantan yang dipersembahkan kepada Allah. Konsekrasi kita pun adalah sebuah persembahan kepada Allah, hasilnya pun harus sama. Di sana harus ada melepaskan segala sesuatu untuk dibakar oleh menjadi abu hingga pada titik semuanya telah tamat. Jika bukti dari melepaskan segala nya dan terbakar hingga menjadi abu tidak terlihat pada seorang manusia, pasti ada sesuatu yang keliru dengan konsekrasinya. Beberapa saudara-saudari masih berharap setelah konsekrasi mereka menjadi seseorang yang begini dan begitu. Ini membuktikan bahwa masa depan mereka belum dilepaskan.
Melepaskan masa depan ini bukanlah tindakan yang tidak rela setelah sesuatu terjadi yang merusak harapan masa depan Anda; ini adalah sebuah penyerahan sukarela sebelum terjadinya sebuah peristiwa. Ini bukan menunggu sampai Anda telah kehilangan atau gagal di dalam bisnis , kemudian Anda menyerah. Ini bukan menunggu hingga Anda kehilangan pekerjaan Anda, tidak dapat masuk ke perguruan tinggi, atau hingga Anda gagal meraih gelar Doktoral Anda, baru kemudian Anda melepaskannya. Bukan demikian. Ketika kita membicarakan mengenai melepaskan masa depan, yang kita maksud adalah ketika ada bisnis yang menguntungkan menanti Anda, ketika ada pekerjaan yang luar biasa menanti Anda, atau ketika sebuah gelar doktoral tengah menunggu Anda, Anda dengan sukarela melepaskan semuanya itu demi kepentingan Tuhan. Inilah yang sesungguhnya disebut dengan melepaskan masa depan. Bahkan jika seluruh kemuliaan Mesir ditempatkan di hadapan Anda, Anda dapat berkata, “Selamat tinggal, aku harus pergi ke Kanaan.” Mungkin Satan akan terus memanggil Anda dari belakang, berkata, “ Ayo kembalilah. Kami memiliki gelar doktoral dan sebuah istana Mesir bagimu. Ini adalah kesempatan langka. “ Jika pada saat itu Anda dapat menghadapi dia dan mengatakan dengan tegas, “Pergilah, semuanya itu bukan bagianku, “baru kemudian inilah melepaskan masa depan yang sesungguhnya.
Terdapat suatu situasi yang menyedihkan hari ini – banyak yang melayani Tuhan memiliki sebuah masa depan di dalam dunia Kekristenan. Kita harus memahami bahwa ini adalah suatu kemerosotan yang sangat serius. Jika ini tidak membuktikan bahwa ada sesuatu yang keliru dengan konsekrasi semula dari orang-orang tersebut, ini membuktikan bahwa mereka telah beranjak dari mezbah. Seseorang yang berkonsekrasi dengan sejati mengetahui bahwa dari awalnya masa depannya telah lewat. Jika dia tetap ingin memiliki sebuah masa depan, dia perlu datang ke gereja. Dia menyadari bahwa dia seharusnya tidak memiliki masa depan apa pun, karena dia telah diletakkan di atas mezbah. Terkadang, dia menemui kesulitan dan menemukan bahwa dia memiliki dorongan yang lebih banyak, karena kesulitan ini membuktikan kepadanya bahwa dia masih di atas mezbah dan masih berada di bawah bimbingan Allah. Terkadang dia memasuki jangka waktu yang mudah, dan dia menjadi sedikit ketakutan, berpikir jika mungkin dia telah meninggalkan mezbah dan tidak ada lagi bimbingan Allah. Saudara-saudari, kita perlu bertanya kepada diri sendiri secara berkala: Apa hasil konsekrasi kita? Apakah segala-gala kita telah menjadi abu di atas mezbah? Apakah seluruh masa depan kita telah dilepaskan? Atau apakah kita menyisakan sesuatu yang penuh harapan?
Tiap-tiap orang dari kita harus pergi kepada Allah dan menanggulangi seluruhnya masalah konsekrasi ini. Jika konsekrasi kita tidak bergema, cepat atau lambat permasalahan akan muncul di dalam pelayanan dan kondisi rohani kita. Godaan akan prospek masa depan begitu banyak dan begitu luar biasa, dan godaan-godaan ini secara khusus ditujukan bagi mereka yang terutama berkarunia dan dapat dipakai oleh Allah secara luaran sampai pada taraf tertentu. Ada banyak perkara, lingkungan, dan tarikan yang dapat menyebabkan kita kehilangan konsekrasi kita secara tidak sadar. Hanya ada satu jalan untuk menang atas godaan-godaan tersebut, yaitu melepaskan seluruhnya masa depan kita pada hari pertama kita berkonsekrasi. Ini berarti bahwa sejak kita telah mengkonsekrasikan diri kita, masa depan kita telah lewat.
Saudara-saudari, hasil dari melepaskan seluruh prospek masa depan kita ini perlu selalu dijaga kesegarannya di batin kita. Jangan pernah biarkan konsekrasi kita menjadi usang. Jika menjadi usang, sama saja seolah-olah kita tidak pernah mengkonsekrasikan diri kita. Kita seharusnya selalu menjadi abu di mezbah, seluruh diri kita seluruhnya selalu menjadi kenikmatan bagi Allah, selalu tanpa masa depan apa pun. iii
KONSEKRASI MENJADI DASAR
BAGI SETIAP PENGALAMAN ROHANI KITA
SETELAH KELAHIRAN KEMBALI
Dari pengalaman pribadi kita dapat bersaksi bahwa tanpa konsekrasi, mustahil untuk mengalami ketersaliban Kristus dan bahkan lebih mustahil lagi untuk menyadari kehidupan Tubuh. Konsekrasi adalah dasar bagi setiap pengalaman rohani kita setelah kelahiran kembali. Untuk kelahiran kembali saja, tidak perlu konsekrasi, namun, jika kita tidak mengkonsekrasikan diri kita setelah kelahiran kembali, kita akan menjadi frustasi. Kita akan berada di luar pintu gerbang, tidak memiliki pintu masuk menuju pengalaman yang lebih jauh. Semua pengalaman rohani setelah kelahiran kembali bergantung pada langkah konsekrasi.
Banyak tulisan-tulisan rohani di masa lalu, seperti yang ditulis oleh Andrew Murray mengenai doa, hayat batini, dan tinggal di dalam Kristus, membahas mengenai perlunya konsekrasi. Dalam banyak tulisannya, Murray menunjukkan bahwa untuk mengalami apa yang dia bicarakan di dalam bukunya, kita perlu mengambil langkah konsekrasi dan melewati krisis ini. Untuk memiliki sebuah kehidupan berdoa, kita harus melewati krisis konsekrasi. Untuk memiliki iman, kita harus melewati konsekrasi. Dan untuk tinggal di dalam Kristus, kita harus mempersembahkan diri kita kepada Kristus. iv
MEMASUKI GERBANG KONSEKRASI
DAN MENEMPUH JALAN KONSEKRASI
Setiap pengalaman macam apa pun memerlukan konsekrasi kita. Konsekrasi adalah seperti pintu masuk ke sebuah bangunan, jika kita tidak melewati pintu masuknya, mustahil untuk pergi ke mana pun di dalam bangunan tersebut. Untuk berbagian dalam setiap bagian di dalam bangunan tersebut, kita harus melewati pintu gerbangnya. Mezbah berada tepat setelah pintu masuk pertama kemah suci. Ada banyak hal untuk dialami di dalam tabernakel. Di luar ada bejana pembasuhan, dan di dalam ada meja roti sajian, kaki dian, mezbah ukupan, dan tabut dengan perkakasnya, namun untuk dapat berbagian dalam benda-benda tersebut seseorang harus melewati mezbah dan ditanggulangi olehnya. Tidak ada kemungkinan untuk dapat menyentuh apa pun tanpa melewati mezbah. Pada mezbah terdapat aspek penebusan, tetapi ada juga aspek konsekrasi di sana. Segala sesuatu yang ditempatkan di atas mezbah adalah sebuah persembahan; ini melambangkan konsekrasi.
Tabernakael adalah lambang Kristus dan gereja. Untuk mengalami kekayaan kelimpahan Kristus yang dilambangkan oleh benda-benda di dalam tabernakel, kita perlu melewati krisis konsekrasi. Selain itu, untuk mengalami hidup gereja sebagai bangunan Allah dan tempat kediaman-Nya, kita harus melewati mezbah, yaitu krisis konsekrasi. Untuk memiliki kehidupan Kristiani dan gereja yang sejati, kita semua harus belajar hari demi hari memiliki sebuah hidup konsekrasi.
Hidup konsekrasi dimulai dengan sebuah krisis. Kemudian setelah krisis kita memiliki jalan. Kitab Suci membicarakannya secara berbeda dari pemahaman kita yang umum. Kita sering mengatakan bahwa kita mengambil jalannya dan pergi melewati gerbangnya. Menurut Kitab Suci, bagaimana pun juga, kita terlebih dahulu melewati gerbang, dan kemudian memiliki jalannya. Gerbang, bukan jalan, yang ada terlebih dahulu, seperti di dalam Matius 7:13 dan 14. Dalam perkara rohani, jika kita tidak memasuki pintu gerbang, tidak jalan bagi kita untuk dilewati. Pintu gerbang hal-hal rohani yang berhubungan dengan hayat adalah kelahiran kembali; untuk hayat yang di dalam kita perlu gerbang kelahiran kembali. Setelah kita dilahirkan kembali, setelah kita menerima hayat di dalam kita, kita perlu memiliki sebuah kehidupan, dan bagi kehidupan kita dan hidup sehari-hari kita, pintu gerbannya adalah konsekrasi. Banyak yang telah dilahirkan kembali; artinya, mereka telah memasuki pintu gerbang hayat. Bagaimana pun juga, mereka tidak memiliki kehidupan yang tepat karena mereka belum pernah mengkonsekrasikan dirinya kepada Tuhan. Mereka telah melewati kelahiran kembali, namun, mereka tidak melewati konsekrasi. Meskipun mereka adalah orang-orang yang dilahirkan kembali, mereka tidak hidup sebagai orang-orang yang dilahirkan kembali; artinya mereka memiliki hayat namun bukan kehidupan.
Pintu gerbang bagi kehidupan rohani kita adalah konsekrasi. Kemudian setelah kita memasuki pintu gerbang konsekrasi, kita melanjutkannya dengan menempuh jalan konsekrasi. Konsekrasi memiliki dua aspek : sebuah krisis untuk dilalui dan sebuah jalan untuk ditempuh. Krisisnya berlangsung sekali untuk selamanya, namun jalannya tidak sekali untuk selamanya. Banyak yang tidak dapat berjalan di jalan konsekrasi karena mereka belum memasuki pintu gerbang konsekrasi. Apakah Anda telah melewati pintu gerbangnya? Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, sdr. Watchman Nee mengadakan sebuah pelatihan di Shanghai pada tahun 1939 dan 1940 terutama bagi para sekerja. Di tahun pertama dia paling sering menekankan perkara konsekrasi. Setiap minggu ketika kita datang bersama-sama, dia akan terlebih dahulu meminta seseorang memberikan kesaksiannya mengenai konsekrasi. Sdr. Dia akan menunjukkan sesuatu di setiap kesaksian yang membuktikan bahwa konsekrasi tersebut tidak sejati, tidak mutlak, tidak lengkap dan usang.
MAJU SELANGKAH DEMI SELANGKAH DI DALAM KONSEKRASI KITA
Kita mungkin telah mengkonsekrasikan diri kita kepada Tuhan setelah kita dilahirkan kembali, namun masalahnya adalah apakah kita akan melanjutkan konsekrasi kita atau tidak. Ketidaksetiaan akan konsekrasi kita adalah alasan mengapa banyak dari antara kita tidak begitu bertumbuh dan maju di dalam jalan Tuhan. Kita mungkin dapat membandingkan ini dengan seseorang yang berjalan sepanjang waktu, namun bukan di jalan yang benar. Kita mungkin datang ke sidang-sidang gereja, bersekutu dengan kaum saleh, dan melakukan banyak hal dalam kehidupan Kristiani kita, namun, mungkin kita tidak berada di jalan yang tepat. Untuk terus berjalan adalah perkara konsekrasi. Tiap kali Tuhan menunjukkan sesuatu kepada kita, kita perlu berkata , “ Tuhan, aku membiarkan Engkau yang memilikinya.” Jika kita melakukan ini, kita maju dengan sebuah langkah, namun jika kita tidak membiarkan Tuhan yang menang, kita tidak berada di jalannya, tidak peduli berapa banyak hal yang kita lakukan. Tetap menempuh jalan Kristiani yang tepat adalah mengambil langkah demi langkah di dalam konsekrasi kita.
Kita harus menempuh jalan konsekrasi hari demi hari. Satu hari tanpa konsekrasi adalah satu hari yang terbuang. Jika kita memiliki sebuah pergumulan dengan Allah Tuhan dan kita menang, menjadikan Tuhan sebagai pihak yang kalah, kemudian tidak peduli berapa banyak yang kita lakukan bagi Tuhan, kita hanya akan membuang waktu kita. Ukuran kehidupan dan kelanjutan ita adalah konsekrasi kita.
Jika kita ingin sekali lagi menanggulangi konsekrasi kita, kita akan memiliki sebuah kebangunan. Pencapaian kita untuk membawa orang-orang kepada Tuhan dan konsekrasi kita berjalan bersamaan. Jika kita tidak memiliki pengalaman yang riil akan konsekrasi, kita tidak memiliki kekuatan untuk membawa orang-orang kepada Tuhan. Kekuatan kita untuk membawa orang-orang kepada Tuhan bergantung pada konsekrasi kita. Jika kita bergumul dengan Tuhan dan menang, menyebabkan Tuhan berada pada pihak yang kalah, kita menjadi lemah, dan kita kehilangan kekuatan untuk membawa orang-orang kepada Tuhan. Bagaimana pun juga, jika kita selalu mengambil tumpuan pada konsekrasi dan terus melanjutkannya setahap demi setahap, kita akan memiliki kekuatan untuk membawa orang kepada Tuhan.
KEPERLUAN AKAN KURBAN BAKARAN YANG TETAP
Seperti yang telah kita katakan, krisis konsekrasi adalah kunci bagi pengalaman-pengalaman yang lain, dan ini akan menjadi pengalaman seumur hidup, bukan sekali untuk selamanya. Di dalam perlambangan umat Israel, mereka harus mempersembahkan kurban bakaran hari demi hari, pagi dan malam (Im. 6:9, 12-13). Mezbahnya disebut mezbah kurban bakaran. Kurban bakaran adalah kurban tetap, dan api untuk membakarnya tidak boleh padam; harus tetap menyala siang dan malam. Perlambangan ini menunjukkan kita bahwa kita harus memiliki sebuah kehidupan kurban bakaran, sebuah kehidupan dengan api yang terus-menerus menyala di atas mezbah sepanjang hari. Sebagai seorang Kristiani kita seharusnya mengkonsekrasikan diri kita setiap pagi dan sekali lagi di malam hari setelah beraktivitas seharian. Kita mungkin berpikir ini terlalu berlebihan, bahwa kita telah mempersembahkan diri kita kepada Tuhan selama bertahun-tahun, namun kita masih perlu mempersembahkan diri kita di setiap pagi dan malam hari. Selain itu, meskipun tidak sah, sudah sewajarnya kita mempersembahkan diri kita terutama pada hari Tuhan, bagi pelayanan dan penyembahan pada hari itu.
SEBUAH PERKATAAN LEBIH LANJUT MENGENAI KONSEKRASI
Banyak orang mengatakan bahwa konsekrasi adalah bagi sebuah tujuan untuk dipakai oleh Allah, melakukan sebuah pekerjaan bagi Allah. Untuk taraf tertentu ini adalah sebuah pemahaman yang salah. Jika kita kembali kepada Kitab Suci, kita akan menemukan bahwa konsekrasi adalah sesungguhnya untuk kehidupan, bukan pekerjaan. Kita mengkonsekrasikan diri kita kepada Tuhan bukan untuk bekerja bagi Dia, tetapi untuk Dia bekerja di dalam kita. Melakukan sesuatu bagi Tuhan adalah sebuah perkara pekerjaan, namun ditempa oleh Allah adalah sebuah perkara kehidupan. Yang paling kita perlukan adalah digarap oleh Tuhan. Kita bukan para pekerja, tetapi kita adalah hasil karya di dalam tangan Tuhan (Ef. 2:10). Agar Tuhan dapat bekerja di dalam kita , Dia memerlukan kerjasama kita. Jika kita tidak bekerja sama dengan Dia, Dia tidak dapat bekerja di atas kita. Allah memiliki begitu banyak hal yang ingin Dia masukkan ke dalam kita dan banyak hal pula yang ingin Dia keluarkan dari kita, namun ini memerlukan kerjasama kita, yang adalah konsekrasi kita. Kita perlu mengkonsekrasikan diri kita kepada Tuhan, dengan berkata, “ Tuhan, aku di sini. Aku menerima apa yang Engkau terima dan menolak apa yang Engkau tolak.”v
Konsekrasi
Daud menyiapkan bahan-bahan bagi pembangunan bait suci. Di dalam 1 Tawarikh 29:3 dan 5 Daud berkata, “Lagipula oleh karena cintaku kepada rumah Allahku, maka sebagai tambahan pada segala yang telah kusediakan bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah Allahku dari emas dan perak kepunyaanku sendiri... yakni emas untuk barang-barang emas dan perak untuk barang-barang perak dan untuk segala yang dikerjakan oleh tukang-tukang. Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan 1persembahan kepada TUHAN?" Daud menyiapkan bahan-bahan, dan persiapan ini menjadi persembahannya. Bahan-bahan yang dia persiapkan selebihnya dipersembahkan olehnya, namun dia menyuruh umat Israel memberikan persembahan juga. Umat Israel digerakkan untuk memberikan sesuatu kepada Allah. Di dalam ayat-ayat ini pemikiran mengenai konsekrasi bagi pembangunan gereja tidak seturut dengan pemahaman umum kita akan konsekrasi, yaitu memberikan harta benda kepada Allah. Pemahaman semacam ini dangkal. Makna yang lebih dalam dari konsekrasi adalah bahwa di dalam pembangunan gereja, adanya suatu keperluan akan orang-orang yang berkonsekrasi. Pembangunan gereja tidak hanya memerlukan harta benda yang dipersembahkan, terlebih lagi konsekrasi dari orangnyakita.
Prinsip pembangunan gereja adalah konsekrasi. Tanpa konsekrasi, pembangunan gereja tidak akan rampung. Konsekrasi tidak melulu mengacu kepada mempersembahkan harta benda. Mempersembahkan harta benda menduduki hanya sebagian kecil. Bagian yang lebih besar dari konsekrasi adalah mempersembahkan diri kita kepada Allah. Ketika Daud tengah menyiapkan bahan-bahan bagi pembangunan bait suci, dia mendeklarasikan di tengah-tengah umat Israel, “ Maka siapakah pada hari ini yang rela mempersembahkan dirinya kepada Tuhan?” (ay.5). Ini mengindikasikan bahwa hasrat hati Allah adalah tiap-tiap orang mempersembahkan dirinya dan berpartisipasi di dalam pembangunan bait suci. Begitu Daud memproklamirkannya, umat Israel pun pada saat itu mempersembahkan diri mereka (ay. 6-9). Jadi, pembangunan gereja ada di dalam kebangkitan dan konsekrasi. Jika konsekrasi di dalam sebuah gereja lokal kuat, pembangunan gereja lokal tersebut juga kuat, jika konsekrasinya solid, pembangunan gereja pun menjadi solid. Sebaliknya, jika konsekrasi lemah, pembangunan gereja lokal akan lemah, dan jika konsekrasinya kurang, pembangunan gereja pun akan menjadi kurang.
Jalan untuk membangun gereja bukanlah dengan menggunakan metode-metode tertentu untuk menarik dan menambah jumlah orang. Pembangunan gereja memerlukan konsekrasi. Jika beberapa orang yang bergabung dengan kita dikarenakan metode-metode yang mendorong dan menarik, kita harus sangat berhati-hati. Kita perlu memohon Tuhan untuk membelas-kasihani mereka sehingga mereka rela mencurahkan hati mereka di atas Dia. Pekerjaan kita di dalam semua lokalitas harus memimpin orang-orang kepada konsekrasi. Hanya jalan ini yang akan mendatangkan pembangunan gereja yang sejati. Contohnya, jika motivasi dari perjamuan kasih adalah untuk menambah jumlah orang, kaum saleh lambat laun akan menjadi dingin, meskipun pada awalnya mereka datang karena perjamuan kasih. Mereka yang ditambahkan dengan jalan ini belum melewati konsekrasi, akhirnya mereka tidak bertahan lama di dalam hidup gereja. Kita harus berhati-hati dan hanya memperhatikan konsekrasi. Jalan untuk membangun gereja adalah melalui konsekrasi, bukan dengan metode manusia.vi
MENJAGA SEBUAH KONSEKRASI YANG SEGAR
Watchman Nee : Hari ini adalah hari-hari yang serius. Beberapa dari Anda telah menyerahkan diri kepada Tuhan dan rela bangkit melayani Dia. Anda mungkin sedikit bergumul pada awalnya. Selama pergumulan Anda, mungkin Anda telah mengalami luka dan kesedihan, namun sekali Anda mempersembahkan diri Anda, Anda akan dipenuhi dengan sukacita. Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. Banyak orang yang telah mengisi lembar konsekrasi dan menunjukkan kerelaan untuk mempersembahkan segala sesuatu, termasuk masa depan, karir, waktu, dan tubuhnya kepada Tuhan. Namun, hari ini saya ingin menanyakan sebuah pertanyaan : “ Apakah perasaan Anda pada hari ini berbeda dari ketika Anda menyerahkan diri Anda kepada Tuhan sepuluh atau dua puluh tahun lalu? Tampaknya seolah-olah perasaan Anda malam ini tidak sekuat beberapa hari yang lalu. Kapan saja kita mundur di dalam konsekrasi kita, kita pun mengalami kemunduran di dalam kehidupan Kristiani kita. Setiap hari kita harus bertanya kepada diri sendiri, “ Apakah aku masih segar?”Apakah aku masih bercahaya secara batini?” Kehidupan Kristiani diibaratkan seperti menyemir sepatu, harus disemir lagi dan lagi untuk menjaganya agar tetap mengkilap. Jika kita merasa sudah tidak lagi bercahaya di batin, kita harus bertanya kepada Tuhan jika memang ada yang keliru dengan diri kita. Kita harus menemukan mengapa kita telah kehilangan citarasa surgawi. Kita harus belajar menjaga konsekrasi yang segar sepanjang waktu.
Di dalam Perjanjian Lama, api di pelataran luar hanya dinyalakan sekali. Setelah itu, diperlukan kayu dan kurban untuk menjaga agar apinya tetap menyala-nyala siang dan malam (Im. 6:12). Apinya hanya dapat dinyalakan sekali. Tidak ada seorang pun yang dapat menunggu apinya padam kemudian menyalakannya lagi. Api di mezbah adalah api yang tak pernah padam. Untuk menjaganya tetap menyala, harus ada kurban yang dipersembahkan setiap hari. Di dalam Perjanjian Baru kita mempersembahkan diri kita sebagai sebuah kurban yang hidup (Rm. 12:1). Untuk menjaga apinya tetap menyala, kita perlu mempersembahkan diri kita terus-menerus sebagai sebuah kurban. Sebuah kurban yang hidup berarti kita mempersembahkan diri kita kepada Allah selagi kita masih hidup. Jika ada dosa, keusangan di dalam kita, atau jika kita meninggalkan konsekrasi kita, api ilahi di atas mezbah akan padam. Jika kita tidak melakukan apa pun yang melukai diri kita, jika kita tidak pernah mengalami luka pada perasaan, kasih, kehendak, ambisi, aspirasi manusia, kedambaan, dan harapan, kita telah menghentikan persembahan diri kita sebagai sebuah kurban yang hidup. Jika kita tidak pernah sekalipun menyakiti diri kita, kita dapat mengklaim bahwa kita dipenuhi oleh sukacita, namun sukacita ini tidak dapat diandalkan. Sekali kita mempersembahkan segala sesuatunya sebagai sebuah kurban persembahan, kita telah mempersembahkan diri kita. Kita akan menderita kerugian, penderitaan, dan luka, tetapi Allah akan mendapatkan sesuatu. Karena itu, jika Anda merasa bahwa sukacita Anda dalam beberapa hari terakhir ini telah hilang, Anda dapat mencoba sekali lagi memberikan beberapa hal-hal yang menjadi sukacita Anda. Ketika Anda memberikan hal-hal itu dengan satu tangan, Anda mungkin dipenuhi dengan penderitaan dan kesakitan, namun Anda akan mendapatkan sukacita di tangan yang lainnya. Tampaknya seolah-olah Anda tengah melawan diri Anda sendiri, tetapi hanya ini satu-satunya jalan untuk memastikan sukacita Anda akan tetap bertahan. vii
i Witness Lee, The Meaning of Human Life and a Proper Consecration, (Anaheim: Living Stream Ministry,
2010), 34-36
ii Witness Lee, The Meaning of Human Life and a Proper Consecration, (Anaheim: Living Stream Ministry,
2010), 41-42
iii Witness Lee, The Experience of Life, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1973), 27-43
iv Witness Lee, Practical Lessons on the Experience of Life, (Anaheim: Living Stream Ministry), Chapter 3
v Witness Lee, Practical Lessons on the Experience of Life, (Anaheim: Living Stream Ministry), Chapter 4
vi Witness Lee, Three Aspects of the Church: Book 1, The Meaning of the Church, (Anaheim: Living Stream
Ministry), Chapter 16
vii Witness Lee, The Collected Works of Watchman Nee, Vol. 62: Matured Leadings in the Lord's Recovery (2), (Anaheim: Living Stream Ministry, 1989), 353-354
BabLima
VISI PARA FULL-TIMER
(The Vision of Full-timers)
Dasar Alkitab:
“ Sebab itu, ya Raja Agripa, kepada penglihatan yang dari surga itu
tidak pernah aku tidak taat.”—Kis 26:19
I. Menurut Alkitab, seorang hamba Allah harus dikendalikan oleh sebuah visi.
A. Ketika Paulus melayani Allah di dalam agama Yahudi, dia melayani dalam tradisi, bukan oleh visi.
B. Dari hari Allah bertemu dengannya, memanggil dia, dan memilih dia di jalan menuju Damsyik, dia menjadi orang dengan sebuah visi; sejak saat itu, pelayanannya dikendalikan oleh visi tersebut.
II. Kita melihat wahyu Perjanjian Baru dengan jelas, ketika Tuhan Yesus berada di atas bumi, Dia bertindak di bawah visi:
A. Pelayanan imam-imam di dalam bait tidak dilaksanakan di bawah sebuah visi, melainkan dilaksanakan dalam tradisi.
B. Tuhan Yesus dan mereka yang mengikuti Dia, melayani di bawah visi, dan pelayanan mereka berkenan kepada Allah.
III. Nama-nama dari semua orang yang tidak menggabungkan dirinya dalam visi Paulus akhirnya dihapus dari catatan Alkitab:
A. Barnabas adalah seorang yang membawa Paulus ke dalam pelayanan, tetapi karena dia berbeda pendapat dengan Paulus, akhirnya namanya tidak tercatat lagi di dalam Alkitab.
B. Apolos ahli dalam menjelaskan Alkitab, tetapi 1 Korintus 16 mencatat, dia berkata pada Paulus bahwa dia tidak ingin pergi ke Korintus dan dia akan pergi jika ada kesempatan. Sejak saat ini Alkitab tidak lagi menyebutkan apapun mengenai dia.
C. Barnabas bergairah dalam pelayanannya, dan Apolos ahli dalam menjelaskan Alkitab, tetapi Allah tidak memakai mereka lagi karena pelayanan mereka tidak lagi berada di bawah visi.
D. Jika Anda tidak berada di dalam visi ini, Anda dapat menjadi seorang Apolos yang menjelaskan Alkitab dengan kuat; Anda dapat menjadi seorang Barnabas, yang mengunjungi gereja-gereja; Anda dapat menjadi seorang Yakobus, yang melayani dengan saleh; dan Anda bahkan dapat menjadi seorang Petrus, yang melayani sebagai rasul yang memimpin; namun, Anda tidak berada di dalam visi.
IV. Walaupun kita jauh di belakang banyak orang yang berantusias dalam memberitakan Injil, walaupun banyak orang lebih bergairah dan lebih membara di dalam roh daripada kita, dan walaupun kita miskin, tetapi visi masih bersama dengan kita.
A. Hari ini kita bisa sehati karena kita hanya memiliki satu visi dan satu pandangan. Kita semua berada di dalam visi yang terkini, visi yang mewariskan segala sesuatu.
B. Kita membicarakan hal yang sama dengan satu hati, satu mulut, satu suara, dan satu nada, bersama-sama melayani Tuhan.
V. Ada satu Allah, satu Tuhan, satu Roh, satu gereja, satu tubuh, satu kesaksian, satu jalan, satu aliran, dan satu pekerjaan; kalau Anda tidak menempuh jalan ini, Anda tidak akan memiliki jalan yang lain.
VI. Kita harus jelas mengenai posisi yang kita ambil; sasaran dari semua pelayanan kita, termasuk memberitakan Injil dan membina kaum beriman, pada akhirnya harus terampung dalam Yerusalem Baru.
A. Hari ini kita memperjuangkan peperangan yang baik bagi kebenaran; kita memikul amanat zaman ini di pundak kita.
B. Kita perlu jelas akan hal ini, dan kita perlu melayani Allah menurut visi ini.
Cuplikan Berita Ministri:
KEPERLUAN VISI DI ANTARA ORANG-ORANG YANG MELAYANI
Menurut Alkitab, seorang hamba Tuhan harus dikendalikan oleh sebuah visi. Kita sudah berbicara tentang poin ini bertahun-tahun lamanya. Sejak hari pertama pekerjaan di Taiwan dimulai, kita sudah berbicara mengenai visi. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, perkara ini mempengaruhi beberapa orang muda. Mereka merasa bahwa mereka sudah melihat visi, dan mereka menyebut diri mereka “kelompok visi.” Mereka menyalahkan kaum saleh yang lebih tua tidak memiliki visi.
Pemahaman seseorang atas istilah tertentu dalam Alkitab adalah perkara yang penting. Bahkan ketika seseorang memahami sebuah istilah, sangatlah penting untuk mengetahui apabila dia memahaminya secara tepat dan akurat. Amsal 29:18 mengatakan, “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.” Ini berarti tanpa visi, orang-orang akan menjadi kendur, seperti kuda-kuda liar di dalam kondisi yang tidak jinak. Contoh yang paling jelas di dalam Perjanjian Baru dimana kata visi disebutkan adalah di dalam kasus Paulus. Dalam Kisah Para Rasul 26:19, ketika dia membela dirinya di depan Raja Agripa, dia mengucapkan kata ini : “Kepada penglihatan yang dari surga itu tidak pernah aku tidak taat.” Untuk memahami arti dari kata visi, kita harus memahami konteks pembicaraan Paulus di dalam ayat 4 sampai 23.
Sebelum ayat 19, Paulus berkata bahwa dia adalah seorang penganut Yahudi yang giat, bergairah bagi agama dan tradisi nenek moyangnya. Dia begitu bergairah sehingga tidak bisa membiarkan adanya pengajaran dan kepercayaan yang berbeda di antara kaum Yahudi. Namun pada saat itu ada sekelompok orang Kristen yang memiliki perkataan, pengajaran, tindakan, dan pekerjaan yang berbeda dengan tata cara dan agama Yahudi Paulus yang sangat berakar itu. Tarsus, kota asal Paulus adalah persimpangan antara Asia kecil dan Siria; merupakan pusat komunikasi dan sebuah kota akademik yang terkenal secara sejarah, sebuah kota budaya. Di Tarsus ada sekolah Yunani dimana Paulus menerima pendidikan tertinggi. Pada saat yang sama, dia bergabung dengan salah satu sekte terketat agama Yahudi, dan menjadi seorang Farisi, duduk di bawah guru yang paling terkenal, Gamaliel. Kita bisa melihat dia adalah seorang yang terpelajar, ambisius, aktif dan bercita-cita tinggi.
Ketika dia masih muda, dia menerima kuasa dari kepala imam agama Yahudi untuk memasukkan banyak kaum beriman ke dalam penjara. Dia bahkan memberikan suara untuk menghakimi mereka dan membunuh mereka. Beberapa kali dia menganiaya kaum beriman dalam sinagoga dan memaksa mereka untuk menghujat. Dia sangat marah kepada mereka dan menganiaya mereka sepanjang kota-kota bukan orang Yahudi. Dia bahkan mengajukan sebuah surat dari kepala imam dan mengambil alih untuk menangkap dan membelenggu orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan. Tetapi ketika dia berada di jalan menuju Damsyik, Tuhan menjumpai dia dan berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menentang Dia yang berkuasa atasmu” (ay. 14). Paulus bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan ?” Tuhan berkata, “Akulah Yesus, yang kauaniaya itu” (ay. 15). Lalu Tuhan berkata kepadanya bahwa Tuhan memilih dia menjadi seorang minister dan seorang saksi tentang segala sesuatu yang telah dia lihat dari Tuhan dan tentang apa yang akan Tuhan perlihatkan kepadanya nanti. Dia akan mengutus Paulus kepada orang-orang dan orang bukan Yahudi untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari gelap kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Nya memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan. Setelah mempersaksikan hal ini, Paulus menyimpulkan dengan perkataan, “Sebab itu, …. kepada penglihatan yang dari surga itu tidak pernah aku tidak taat” (ay. 19). Ketika Paulus melayani Allah dalam agama Yahudi, dia melayani dalam tradisi, bukan dengan sebuah visi, tetapi dari hari Tuhan bertemu dengannya, memanggil dia, dan memilih dia di jalan menuju Damsyik, dia menjadi seorang dengan sebuah visi. Sejak saat itu, pelayanannya dikendalikan oleh visi itu.[i]
BERGERAK DI BAWAH SEBUAH VISI DAN MENGIKUTI
ORANG-ORANG SIAPA YANG MEMPUNYAI VISI
Ketika Yesus orang Nazaret datang, Dia juga melayani Allah, dan sekelompok nelayan mengikuti Dia sebagai murid-Nya. Di pandangan manusia, orang-orang Galilea ini hanya seperti anak-anak kecil yang nakal. Secara luaran, Yesus adalah orang Galilea; Dia tidak bergerak jauh dari Nazaret pada tiga puluh tahun pertama dalam hidup-Nya, dan dia menerima pendidikan yang tidak formal dalam melayani Allah. Namun saat berusia tiga puluh tahun Dia memulai sebuah ministri, dan sekelompok orang-orang yang tidak terpandang mengikuti Dia. Bahkan beberapa perempuan melayani keperluan-Nya. Mereka mengikuti Tuhan Yesus tiga setengah tahun. Menurut Anda, bagaimana pemikiran orang-orang Farisi, imam kepala, ahli-ahli taurat dan tua-tua pada waktu itu? Di antara orang-orang ini adalah nelayan-nelayan, pemungut-pemungut cukai, dan saudara Tuhan Yesus. Bahkan ada seorang perempuan yang pernah dirasuki oleh tujuh setan. Bukankah mereka kelihatannya seperti anak-anak kecil sedang bermain ketika mereka menyatakan bahwa mereka melayani Allah ?
Pada waktu itu di antara bangsa Yahudi, masih ada sebuah bait yang indah. Dibangun lebih dari empat puluh tahun. Orang-orang Lewi terbagi menjadi dua puluh empat perintah dan mempersembahkan kurban dan melayani menurut perintah-perintah mereka. Mereka juga memelihara perkakas-perkakas, membunuh binatang-binatang, atau mempersembahkan kurban-kurban seperti kurban-kurban harian yaitu kurban bakaran dan kurban penghapus dosa, dan kurban-kurban Sabat yang mingguan di atas mezbah tembaga. Di pandangan manusia, pelayanan yang demikian sangatlah penting dan terhormat, tetapi apakah mereka melaksanakannya di bawah sebuah visi? Kita semua jelas bahwa pelayanan para imam di dalam bait tidak dilaksanakan di bawah sebuah visi; melainkan dilaksanakan menurut tradisi. Tetapi Tuhan Yesus dan mereka yang mengikuti Dia, melayani di bawah sebuah visi dan pelayanan mereka berkenan kepada Allah.
Para pengikut Tuhan Yesus adalah orang-orang yang diberkati. Di antara mereka ada Petrus, yaitu seorang pemimpin dan yang memimpin mengatakan hal-hal yang bodoh. Ada Maria Magdalena yang pernah kerasukan tujuh setan. Juga ada Maria yang lain, yang mengasihi Tuhan dengan membara dan memecahkan botol pualam yang seharga tiga puluh keping perak untuk mengurapi Tuhan Yesus. Secara luaran mereka semua mengikuti Tuhan dengan membabi buta karena Tuhan Yesus adalah satu-satunya Orang yang memiliki visi. Petrus, Yakobus, Yohanes, Maria, dan semua orang lainnya tidak menerima visi itu. Tetapi mereka jelas bahwa jalan Tuhan adalah benar dan memutuskan untuk mengikuti Dia. Ketika Tuhan ke arah timur, mereka ikut ke arah timur. Ketika Tuhan ke arah barat, mereka ikut ke arah barat. Ketika Tuhan pergi ke laut, mereka mengikuti Dia ke laut. Ketika Tuhan pergi ke gunung, mereka mengikuti Dia ke gunung. Ketika Tuhan berada di Galilea, mereka mengikuti Dia berada di Galilea. Ketika Tuhan pergi ke Yerusalem, mereka mengikuti Dia ke Yerusalem. Mereka memiliki keteguhan hati bahwa selama mereka mengikuti Tuhan, arah mereka tidak akan salah.
Di dalam Yohanes 11 Lazarus meninggal. Ketika Tuhan mendengar hal ini, Dia tidak melakukan apa-apa. Dua hari kemudian, Tuhan memberitahu para murid bahwa Dia akan pergi melihat Lazarus. Para murid berkata kepada-Nya, “Baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” (ay. 8). Tuhan menjawab, “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” (ay. 11). Ayat 1 hingga 16 memperlihatkan bahwa para murid benar-benar mengikuti dengan membabi buta. Mereka sama sekali tidak jelas akan apa yang sedang mereka lakukan, tetapi mereka mengikuti Dia dan pergi ke manapun. Mungkin di pandangan manusia, ini adalah mengikuti dengan mata yang buta, tetapi mengikuti dengan cara seperti ini menyenangkan Allah, dan hal ini dilakukan dengan sebuah visi. Mereka tidak menerima visi ini secara individu, tetapi Dia yang mereka ikuti memiliki visi, dan itu sudah cukup. Selama mereka bertindak menurut Dia yang memiliki visi, mereka benar di mata Allah.[ii]
MELAYANI MENURUT MEREKA YANG MEMILIKI VISI
ADALAH MELAYANI DI BAWAH VISI
Dari wahyu Perjanjian Baru kita jelas bahwa ketika Tuhan Yesus di bumi, Dia bertindak di bawah visi. Di luar pimpinan-Nya tidak ada visi. Orang lain mungkin berada di dalam tradisi atau pengetahuan. Gamaliel adalah seorang yang sangat berpengetahuan; dia sangat mengenal prinsip-prinsip Allah, tetapi dia tidak berada di bawah visi. Perkataannya tidak berada di bawah visi, melainkan hanyalah perkataan pengetahuan. Setelah kenaikan Tuhan, ada Petrus dan para sekerjanya yang berada di bawah visi. Kita tidak mengatakan bahwa Petrus memiliki satu visi, lalu Yohanes, Yakobus, dan rasul-rasul lainnya memiliki visi yang lain. Hanya ada satu visi, yaitu visi Petrus. Visi ini menjadi visi bagi para pengikutnya. Ketika Paulus dibangkitkan di dalam ministrinya, dia menerima sebuah visi yang menjamah surga, bumi, dan Firdaus (2 Kor. 12:2-4). Walaupun Paulus memiliki banyak sekerja, tidak ada orang kecuali dia yang melihat visi yang lain. Mereka semua memiliki satu visi, yaitu visi yang dilihat Paulus.
Terdapat suatu pertentangan yang besar di dalam Kekristenan mengenai perkara satu visi untuk satu zaman. Namun, Firman Allah dengan jelas mewahyukan kepada kita bahwa di setiap zaman hanya ada satu visi. Pada zaman Habel, Kain tidak menyembah berhala dan tidak membangun tempat penyembahan. Dia melakukan hal yang sama yang dilakukan Habel, yaitu mempersembahkan kurban kepada Allah. Namun, di bawah visi ini, Habel mempersembahkan sebuah kurban yang diterima oleh Allah, tetapi Kain mempersembahkan kurban yang terlepas dari visi. Jika Anda lahir di zaman Habel, Anda harus mengambil jalan Habel; jika tidak, Anda akan terpisah dari visi dan berada di jalan Kain. Pada zaman Enos, yaitu seorang yang berada di bawah visi, dia memanggil nama Tuhan. Orang lain mungkin takut akan Allah dalam hal yang lain, tetapi ketakutan ini tidak berdasarkan visi. Demikian pula, pada zaman Nuh terdapat lebih dari delapan orang yang takut akan Allah; pada waktu itu, mungkin ada seratus atau bahkan seribu orang yang takut akan Allah. Mereka mungkin tidak berbuat dosa seperti orang-orang lainnya; bahkan mereka mungkin melayani dengan cara yang sama. Tetapi pelayanan mereka tidak diatur oleh sebuah visi. Delapan orang dari keluarga Nuh, melayani menurut teladan Nuh, menjadi hamba-hamba yang melayani menurut sebuah visi. Apa yang dilihat Nuh menjadi apa yang mereka lihat.
Visi yang dilihat Nuh adalah visi tentang bahtera. Bagi manusia, hal ini sangat aneh dan tidak masuk akal. Bagaimana seseorang dapat melepaskan segala sesuatu yang sedang dia kerjakan dan menghabiskan seluruh waktunya untuk membangun sebuah bahtera? Pembangunan ini memerlukan seratus dua puluh tahun (Kej. 6:3). Di satu sisi, selama seratus dua puluh tahun itu, Nuh memberitakan firman keadilbenaran, dan di sisi lain, dia membangun bahtera (2 Ptr. 2:5). Bagi orang lain, dia sedang memboroskan usaha dan uangnya; dia terlalu bodoh. Ketika waktu seratus dua puluh tahun itu hampir berakhir, masih belum ada tanda-tanda hujan dari surga. Ketika orang-orang mengatakan “damai dan aman,” dan ketika mereka sedang makan dan minum, kawin dan mengawinkan, banjir kebinasaan tiba-tiba melanda, seperti seorang perempuan yang hamil tiba-tiba ditimpa oleh sakit bersalin (Mat. 24:38-39; 1 Tes. 5:3). Pada akhirnya, hanya keluarga Nuh yang masuk ke dalam bahtera dan diselamatkan.
Kita menemukan prinsip yang sama di dalam Perjanjian Baru. Pekerjaan Allah di dalam Perjanjian Baru adalah untuk menghasilkan dan membangun gereja. Visi ini diberikan kepada Paulus. Karena alasan inilah, sekali Paulus muncul, ministri Petrus pun hilang. Di masa tuanya, Petrus berkata, “Seperti yang telah dituliskan kepada kamu oleh Paulus, saudara kita yang terkasih, sesuai dengan hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dilakukannya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang hal-hal ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar dipahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka lakukan dengan tulisan-tulisan yang lain” (2 Ptr. 3:15-16). Ini berarti, bahkan Petrus yang lanjut usia pun harus tunduk kepada visi Paulus. Dia tahu bahwa perkataan Paulus begitu mustika seperti Perjanjian Lama dan harus diperhatikan oleh kaum beriman.
Berdasarkan hal ini, nama-nama dari semua orang yang tidak menggabungkan dirinya dalam visi Paulus akhirnya dihapus dari catatan dalam Alkitab. Misalkan, Barnabas yang membawa Paulus masuk ke dalam pelayanan, tetapi karena berbeda pendapat dengan Paulus, akhirnya namanya tidak dicatat lagi dalam Alkitab. Apolos sangat pandai dalam menjelaskan Alkitab, tetapi 1 Korintus 16 mencatat bahwa dia memberitahu Paulus, dia tidak ingin pergi ke Korintus dan akan pergi jika ada kesempatan. Setelah itu, Alkitab tidak lagi membahas apapun mengenai dia. Barnabas bergairah dalam pelayanannya, dan Apolos ahli menjelaskan Alkitab, tetapi Allah tidak lagi memakai mereka karena pelayanan mereka tidak lagi berada di bawah visi. Ini adalah perkara yang sangat serius.
MELAYANI DI BAWAH VISI BERARTI
MELAYANI MENURUT WAHYU ALKITAB
Alkitab dengan jelas memperlihatkan bahwa di setiap zaman Allah hanya memberikan satu visi kepada manusia. Kita tidak dapat menemukan di dalam Alkitab bahwa ada dua visi di dalam suatu zaman. Bagaimana dengan orang-orang setelah zaman rasul-rasul itu? Bagaimana mereka melayani Allah menurut visi yang tepat? Hari ini Paulus sudah tidak ada. Jika melayani Allah hari ini, apakah visi kita? Hari ini dunia yang kita diami lebih luas daripada zaman Nuh; hari ini sudah lebih banyak orang. Di seluruh enam benua di dunia ini terdapat lebih dari satu milyar orang Kristen. Mereka berasal dari denominasi-denominasi yang berbeda seperti Gereja Katolik dan gereja-gereja Protestan. Di dalam gereja-gereja Protestan ada Gereja Anglikan, Gereja Luther, Gereja Metodis, Gereja Baptis, dan Gereja Presbitarian. Di antara gereja-gereja ini dan seluruh orang-orang Kristen ini, siapakah yang melayani menurut visi? Kita dapat menanyakan pertanyaan yang sama kepada diri kita sendiri: Apakah kita adalah orang-orang yang melayani menurut visi; jika ya, apakah visi kita?
Mengenai perkara visi, banyak orang Kristen tidak bertindak menurut kebenaran. Melainkan, mereka bertindak menurut citarasa dan kesukaan mereka. Beberapa orang menghadiri sidang-sidang kita karena mereka berpikir bahwa saudara-saudara dan saudari-saudari di sini sangat bergairah, mengasihi Tuhan, dan berita-beritanya sangat baik. Inilah alasan mereka menghadiri sidang-sidang kita. Dulu, mereka hanya tahu menghadiri “kebaktian hari Minggu pagi.” Ketika mereka mendengar bahwa kita pergi ke sidang-sidang gereja, mereka juga mengubah istilah mereka dan berbicara mengenai menghadiri “sidang-sidang gereja.” Namun, sangat sedikit kaum saleh yang jelas mengenai apa itu bersidang dan melayani menurut visi. Anda semua di sini adalah para penatua dan para sekerja. Penting bagi Anda untuk memperhatikan perkara ini dengan seksama. Apakah visi kita? Apakah visi yang mengendalikan pelayanan kita? Kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini dengan cara yang umum melalui beberapa istilah rohani. Jawaban kita harus berdasarkan suatu pondasi yang kokoh.[iii]
PEMULIHAN TUHAN BERADA DI BAWAH VISI DARI WAHYU ILAHI
Pengenalan dan penemuan wahyu ilahi semakin maju dan berkembang dari zaman ke zaman. Hari ini kita tidak berada di zaman Martin Luther. Kita tidak berada di zaman Zinzendorf atau zaman John Wesley. Pada zaman Reformasi di tahun 1520-an, ketika Luther dibangkitkan, setiap orang yang ingin melayani di bawah satu visi harus menggabungkan dirinya sendiri dengan Luther. Di abad tujuh belas, setiap orang yang ingin melayani di bawah satu visi harus menggabungkan dirinya sendiri dengan Madame Guyon. Di abad sembilah belas, setiap orang yang ingin melayani di bawah satu visi harus menggabungkan dirinya sendiri dengan Zinzendorf. Bahkan John Wesley menerima bantuan dari Zinzendorf. Di abad Sembilan belas, J. N. Darby mengambil pimpinan di antara Kaum Persaudaraan, dan visi itu ada bersama dengan dia. Di abad dua puluh, visi itu datang kepada kita.
Saya tidak “menjual” diri saya di sini, tetapi saya ingin membuat sebuah pernyataan. Saya mulai berhubungan dengan pemulihan Tuhan pada tahun 1925. Saya sepenuhnya setuju dengan pemulihan Tuhan, tetapi selama tujuh setengah tahun pertama saya tidak berada di pemulihan Tuhan tetapi di perkumpulan Kaum Persaudaraan. Pada tahun 1932 saya secara resmi masuk dalam pemulihan Tuhan. Sekarang, sudah lima puluh empat tahun berlalu. Selama enam puluh tahun ini, menurut pengamatan saya dan menurut pengetahuan saya tentang Alkitab, pengalaman saya sebagai seorang Kristen, dan pembelajaran saya tentang sejarah Kekristenan dan kondisinya pada saat ini, saya dapat berkata dengan penuh keyakinan bahwa pemulihan Tuhan sedang melayani di bawah visi. Tidak ada keraguan akan hal ini.
Ini belum semua. Selama lima puluh empat tahun ini berada di dalam pemulihan Tuhan, saya telah melihat banyak orang dari Cina bagian utara dan selatan yang memiliki standar moral yang tinggi dan karakter yang mulia, yang telah belajar pelajaran di dalam hayat dan memiliki kondisi rohani yang baik. Ketika mereka berada dalam pemulihan Tuhan atau bertemu dengan kami dan kemudian meninggalkan, mereka selalu menemukan bahwa pelayanan rohani mereka menjadi kabur dan goyah. Ini sangat luar biasa. Mereka yang tidak pernah menjamah pemulihan Tuhan masih dapat terus maju, tetapi mereka yang pernah berada di dalam pemulihan Tuhan lalu meninggalkan, mereka menemukan bahwa akhir mereka selalu tidak menyenangkan. Tidak ada yang terkecuali. Ini membuktikan bahwa pemulihan memikul visi yang telah dipercayakan Tuhan di zaman ini.
Pada zaman Nuh, visi itu adalah membangun bahtera. Pada waktu itu, setiap orang yang tidak membangun bahtera tidak dapat melayani berdasarkan visi. Pada zaman Paulus, visinya adalah memberitakan Injil dan membangun gereja. Setiap orang pada zaman itu yang tidak melayani menurut visi ini akan terhapus. Ini mencakup orang-orang seperti Apolos yang ahli dalam menjelaskan Alkitab, dan Barnabas yang bergairah dalam pelayanannya. Apakah visi kita hari ini? Hari ini pada tahun 1986, visi kita juga “membangun bahtera.” Jalan untuk membangun bahtera ini adalah memberitakan Injil, mendirikan sidang-sidang rumahan, mengajar kebenaran, dan setiap orang bertutur sabda. Semua orang yang tidak mempraktekkan empat hal ini tidak melayani menurut visi ini. Mungkin Anda menjelaskan Alkitab, dan mungkin Anda bergairah melayani, tetapi pelayanan Anda tidak “membangun bahtera.” Pelayanan seperti ini tidak diterima Allah.
MELAYANI MENURUT VISI YANG DIBERIKAN TUHAN HARI INI
Saya berharap bahwa seluruh saudara saudari yang mengikuti pelatihan sepenuh waktu dapat membaca bab ini agar mereka dapat melihat perkara ini dengan jelas. Kita tidak mencoba untuk memerintah seseorang, dan kita tidak sedang mengucapkan selamat kepada diri kita sendiri di belakang pintu-pintu yang tertutup. Kita sedang mengatakan hal ini berdasarkan pergerakan sejarah dan wahyu yang murni dari Alkitab. Lihatlah seluruh situasi Kekristenan hari ini. Di manakah wahyu dan visi itu? Kita memiliki Alkitab yang sama di tangan kita, tetapi beberapa orang tidak memiliki terang walapun mereka telah membaca seratus kali. Di dalam pemulihan Tuhan, setiap halaman, setiap ayat, setiap kalimat, dan bahkan setiap kata bersinar dengan wahyu dan terang. Saya percaya bahwa di luar pemulihan Tuhan sulit untuk mendengar sepatah kata mengenai Apolos seperti yang tercatat di dalam bab ini. Alasannya adalah karena tidak ada terang.
Jika kita mempelajari surat-surat dalam Alkitab, kita dapat menyimpulkan bahwa Apolos tidaklah terlalu penting. Di dalam 1 Korintus 3 Paulus berkata bahwa Apolos menyiram, tetapi di dalam ayat yang sama dia memberitahu orang-orang Korintus bahwa dialah yang menanam (ay. 6). Apakah ada penyiraman atau tidak, itu tidaklah terlalu penting, tetapi penanam sangatlah penting (lih. Mrk. 4:26-28). Walaupun Paulus sangat rendah hati dalam menunjukkan perbedaan dengan Apolos, di dalam ayat yang sama, dia menambahkan, “Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya… Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan…” Ini berarti bahwa seseorang yang tidak melayani di atas dasar Paulus adalah tidak melayani berdasarkan visi itu. Di dalam pandangan manusia, hal ini terlalu sombong, tetapi Paulus tidak menyesalinya. Dia berkata bahwa dia adalah seorang ahli bangunan yang terampil. Dia telah memberikan setiap orang cetak biru dari pembangunan, dan dia mengawasi pekerjaan pembangunan. Frase ahli bangunan di sini adalah architekton di dalam bahasa Yunani; ini mengacu kepada seseorang yang memiliki cetak biru, yang membangun dan mengawasi pembangunan menurut cetak biru itu. Kata itu diinggriskan menjadi architect. Kita tahu bahwa di dalam suatu konstruksi, satu-satunya orang yang perkataannya terhitung adalah arsitek. Inilah kedudukan Paulus. Tidak ada perkataan seorang pun yang terhitung; hanya perkataan Paulus yang terhitung karena dia memiliki cetak biru.
Kita melihat hal yang sama di zaman Musa. Musa menerima pola tabernakel dari Allah, dan dia mengawasi pekerjaan pembangunan. Musa adalah orang yang tahu ukuran tabernakel dan cara untuk membangunnya dengan segala perkakas. Di dalam pembangunan tabernakel, hanya perkataannya yang terhitung; tidak ada perkataan orang lain yang terhitung. Jika setiap orang memiliki perkataannya sendiri di dalam pekerjaan itu, saya khawatir akan terdapat seratus atau dua ratus macam tabernakel yang berbeda. Inilah situasi Kekristenan hari ini, terdapat beribu-ribu gereja. Masing-masing berbeda, dan setiap orang ingin membangun kelompoknya sendiri. Gereja Anglikan membangun gerejanya sendiri. Gereja Presbitarian membangun gerejanya sendiri. Gereja Katolik membangun gerejanya sendiri, dan aliran karismatik membangun gereja berbahasa lidah. Di manakah ada satu gereja yang dibangun menurut pola yang tepat? Tidak ada. Tidak ada seorang pun yang membangun menurut cetak biru yang diterima oleh Paulus; tidak ada seorang pun yang membangun menurut wahyu Alkitab. Setiap orang sedang membangun menurut kesukaannya masing-masing.
Hanya ada satu cetak biru dan satu ahli bangunan di dalam pembangunan yang tepat dan benar. Satu-satunya ahli bangunan adalah arsitek dan memiliki cetak biru di tangannya. Inilah yang benar di setiap zaman. Tuhan memberikan cetak biru, wahyu, dan segala pembicaraan, dan melalui seseorang Dia mengawasi dan menyelesaikan pekerjaan pembangunan itu. Semua orang yang tidak membangun, berbicara, atau melayani menurut cetak biru yang diberikan Tuhan melalui orang itu, berarti tidak memiliki terang dan wahyu dan tidak sedang melayani menurut visi itu. Hari ini di dalam pemulihan Tuhan, beberapa orang berkhotbah dan menerbitkan berita-berita. Bagian-bagian di dalam berita-berita mereka yang mengandung terang, wahyu, dan suplai hayat haruslah tetap bersumber dari ministri di dalam pemulihan Tuhan. Di luar bagian-bagian ini, tidak ada wahyu atau visi di dalam tulisan-tulisan mereka.
Beberapa orang mengkritik kita karena tidak membaca berita-berita dari luar atau denomasi-denomasi. Tetapi saya ingin bertanya, mengapa banyak orang menikmati membaca berita-berita di luar ministri ini? Ministri ini tidak menghasilkan apapun selain emas dan batu-batu permata. Anda dapat membandingkannya dan melihat. Saudara saudariku yang terkasih, karena itulah, kita sedang memperjuangkan peperangan yang baik untuk kebenaran. Kita sedang memikul amanat zaman ini di pundak kita. Inilah visi kita. Kita perlu jelas akan hal ini, dan kita perlu melayani Allah menurut visi ini.[iv]
MELAYANI ALLAH MENURUT VISI YANG LENGKAP
Sejak rasul Yohanes menyelesaikan kitab Wahyu hingga hari ini, sembilan belas abad sudah berlalu. Selama seribu sembilan ratus tahun ini, orang Kristen yang melayani Allah sudah tak terhitung banyaknya. Selain banyak orang Kristen yang melayani Allah ini, ada orang Yahudi yang juga melayani Allah. Tentu saja, orang Yahudi hanya melayani menurut visi Perjanjian Lama. Beberapa orang Kristen hanya melayani menurut visi yang diwahyukan di dalam kitab Injil Perjanjian Baru, yang hanya berisi tentang ministri Yesus yang bumiah. Beberapa orang melayani tanpa visi sama sekali. Untuk melayani Allah menurut visi masa kini, kita perlu memasuki surat kiriman Paulus yang terakhir. Sebenarnya, kita perlu memasuki surat-surat kiriman kepada tujuh gereja di dalam kitab Wahyu dan wahyu yang mencakup seluruh zaman, termasuk kerajaan, langit baru dan bumi baru, dan perampungan akhir gereja—Yerusalem Baru. Dengan kata lain, agar kita dapat melayani Allah hari ini, visi kita harus mencakup seluruh visi dari visi pertama Adam di dalam kitab Kejadian sampai visi terakhir mengenai manifestasi gereja, Yerusalem Baru. Inilah dan hanya inilah visi yang lengkap. Visi ini sampai hari ini belum sepenuhnya terbuka kepada kita.
Di dalam Museum Istana Nasional di Taipei ada sebuah gulungan lukisan yang sangat panjang bernama “Pemandangan Sungai di Hari Raya Cengbeng.” Lukisan itu melukiskan secara terperinci mengenai kebudayaan, kehidupan dan apa yang dikerjakan oleh orang Cina pada saat itu. Tidak cukup hanya melihat beberapa bagian dari gulungan lukisan yang panjang itu. Seseorang harus mengamati seluruh gulungan lukisan itu dari awal hingga akhir sehingga dia dapat memiliki lukisan yang jelas, atau “visi,” dari seluruh warna kehidupan di Cina. Demikian pula, kita memiliki lukisan kita sendiri, “Pemandangan Sungai di hari Ceng Beng” kita, di dalam pelayanan kita kepada Allah, yang dimulai dari visi Adam mengenai pohon hayat di taman Eden hingga visi mengenai Yerusalem Baru dengan pohon hayat. Yerusalem Baru adalah pemandangan terakhir dari visi itu. Setelah itu tidak visi lainnya yang dapat dilihat.
Masalahnya hari ini adalah, siapakah yang telah melihat visi yang lengkap ini, dan siapakah yang hidup di dalam visi ini? Selama seribu sembilan ratus tahun ini, banyak orang telah melayani Tuhan, tetapi bagaimanakah mereka melayani? Dapatkah kita mengatakan bahwa lima ratus tahun yang lalu Martin Luther melihat visi ini dan melayani menurut visi ini? Sepanjang zaman banyak orang melayani Allah hanya menurut beberapa pemandangan yang pertama. Saya berharap bahwa semua saudara saudari memiliki sebuah pandangan yang diperluas dan jauh. Saya berharap mereka menyadari bahwa seluruh buku yang telah kita keluarkan adalah mencakup seluruh pemandangan dari pemandangan pertama sampai pemandangan terakhir. Kita tidak melayani Allah hanya menurut beberapa pemadangan pertama saja. Kita melayani Allah menurut pemandangan terakhir yang mencakup seluruh pemandangan yang sebelumnya.
Hari ini banyak orang tidak melihat apa yang telah kita lihat. Mereka hanya melayani menurut beberapa pemandangan pertama, dan mereka bahkan saling berdebat. Orang Yahudi adalah orang-orang yang saleh; mereka bergairah dalam menjelaskan Kitab Suci dari kitab Kejadian sampai Maleakhi, tetapi mereka hanya memiliki Perjanjian Lama. Banyak orang Kristen mengasihi Tuhan dan bergairah bagi Injil. Tetapi mereka hanya memberitakan kisah tentang Yesus Kristus. Mereka tidak pernah maju melampaui empat kitab Injil. Beberapa orang hanya melihat visi dari kitab Kisah Para Rasul. Beberapa orang lainnya melihat visi dari surat-surat kiriman. Semuanya ini tidak lengkap atau terpisah-pisah, tetapi kita harus melayani Allah menurut seluruh pemandangan, dari pemandangan pertama Adam sampai pemandangan terakhir di dalam kitab Wahyu. Karena itulah kita menghadapi banyak penentangan. Banyak orang mengatakan bahwa kita salah. Mereka mengkritik kita “mencuri domba.” Ini bukan karena mereka tidak mengasihi Tuhan atau melayani Allah; melainkan karena mereka mengasihi Tuhan dan melayani Allah hanya menurut visi yang telah mereka lihat sendiri. Hari ini kita harus jelas mengenai posisi kita. Sasaran dari seluruh pelayanan kita, termasuk memberitakan Injil dan membina kaum beriman, akhirnya harus rampung di dalam Yerusalem Baru. Hanya dengan demikian kita tidak akan goyah dalam menghadapi kritikan apapun.
MENGIKUTI DENGAN KETAT VISI ZAMAN INI YANG LENGKAP
Karena kita memiliki visi masa kini dan ultima, kita seharusnya mengikutinya dengan ketat. Kita mutlak tidak mengikuti seseorang; melainkan kita mengikuti sebuah visi. Sangat salah jika mengatakan bahwa kita sedang mengikuti orang tertentu. Kita mengikuti sebuah visi di zaman sekarang ini. Ini adalah visi Allah yang rampung.
Pemulihan Tuhan dibawa kepada kita melalui saudara Nee kita yang terkasih. Karena itulah dia menjadi sasaran dari penyerangan. Pada 1934 dia menikah di Hangchow. Beberapa orang mengambil kesempatan ini untuk menimbulkan badai. Dia sangat sedih, karena itu pada suatu hari saya pergi kepadanya untuk menghibur dia, berkata, “Saudara Nee, Anda tahu di antara kita berdua, tidak ada hubungan alamiah. Saya menempuh jalan yang Anda tempuh atau memberitakan apa yang Anda beritakan bukan karena hubungan alamiah. Kita berdua terpisah jauh satu dengan lainnya. Saya adalah orang bagian utara, dan Anda adalah orang bagian selatan. Hari ini saya menempuh jalan yang sama bukan karena saya mengikuti orangnya Anda. Saya mengikuti jalan yang Anda tempuh. Saudara Nee, saya ingin Anda mengetahui bahwa jika pada suatu hari Anda tidak menempuh jalan ini, saya tetap akan menermpuh jalan ini.” Saya mengatakan hal ini karena badai itu mempengaruhi beberapa orang, dan mereka memutuskan untuk tidak menempuh jalan ini lagi. Dengan kata lain, banyak orang mengikuti manusia. Ketika orang itu berubah, mereka langsung berpaling dari orang itu. Tetapi saya memberitahu saudara Nee, “Walaupun jika pada suatu hari Anda tidak menempuh jalan ini, saya tetap akan menempuh jalan ini. Saya menempuh jalan ini bukan karena Anda, dan saya tidak akan meninggalkan jalan ini karena Anda. Saya telah melihat bahwa ini adalah jalan Tuhan. Saya telah melihat visi.”
Saya ingin memberitahu satu fakta kepada Anda. Belas kasih Allah telah mewahyukan visi itu kepada saya. Saya menasihati Anda untuk tidak mengikuti saya melainkan mengikuti visi yang telah ditinggalkan oleh saudara Nee dan seluruh hamba Tuhan sepanjang zaman kepada kita, dan yang telah saya serahkan kepada Anda. Ini benar-benar adalah visi yang terbentang dari pemandangan pertama Adam sampai pemandangan terakhir Yerusalem Baru. Lebih dari lima puluh tahun telah berlalu. Saya telah melihat dengan mata saya sendiri bahwa orang-orang yang mengambil jalan Tuhan untuk sejangka waktu dan kemudian meninggalkannya, mereka tidak memiliki akhir yang baik. Hanya ada satu jalan. Semua perkara rohani adalah satu. Ada satu Allah, satu Tuhan, satu Roh, satu gereja, satu Tubuh, satu kesaksian, satu jalan, satu aliran, dan satu pekerjaan. Jika Anda tidak menempuh jalan ini, Anda tidak memiliki jalan lain.
Beberapa orang yang meninggalkan kita pernah berteriak dan dengan berani menyatakan bahwa mereka telah melihat visi. Di manakah visi mereka hari ini? Setelah begitu banyak teriakan, visi itu hilang. Mereka telah kehilangan jalan. Untuk memulai satu peperangan, seseorang harus memiliki pondasi yang tepat. Dengan sebuah pondasi yang tepat, kita memiliki keberanian untuk mengatakan apa yang kita katakan. Jika hari ini kita tidak menempuh jalan ini, jalan apakah yang akan kita tempuh? Saya juga mengatakan hal ini kepada diri saya sendiri. Adakah pondasi yang lain yang dapat kita ambil? Antara tahun 1942 dan 1948 ada sebuah badai yang besar, dan saudara Nee terpaksa tidak melanjutkan ministrinya selama enam tahun. Pada waktu itu beberapa kaum saleh yang sangat mengapresiasi saudara Nee berkata, “Mari kita mulai sidang yang lain.” Saudara Nee berkata, “Anda tidak boleh melakukan hal ini. Gereja adalah gereja; jika dia sesuai dengan saya, dia adalah gereja; jika dia tidak sesuai dengan saya, dia tetap adalah gereja. Kita tidak boleh membuat sidang yang lain yang terpisah dari gereja.”
Paulus memberitahu Timotius, “Semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari aku” (2 Tim. 1:15), tetapi Paulus tidak mengizinkan Timotius untuk memiliki awal yang lain. Demikian pula, pada saat hampir setiap orang di Cina meninggalkan saudara Nee, dia tidak mencoba untuk membuat awal yang lain. Ini membuktikan, bahkan Paulus dan saudara Nee tidak dapat mengubah jalan yang mereka tempuh. Jika mereka mengubah jalan itu, mereka tidak dapat terus maju.
Inilah beban saya. Saya berharap bahwa Anda dapat melihat visi pemulihan Tuhan dengan jelas dan mengikuti visi ini. Anda bukan mengikuti orangnya saya. Saudari Faith Chang dapat bersaksi bagi saya. Dia bersaksi bagaimana saya mengikuti saudara Nee dengan mutlak, tetapi saya tidak mengikuti orangnya; saya mengikuti visi yang dia lihat. Pada zaman itu, visi yang sesuai dengan standar Allah adalah visi yang dilihat saudara Nee. Jika Anda tetap berada di dalam visi itu, berarti Anda sedang melayani menurut visi itu. Jika Anda tidak tetap berada di dalam visi itu, berarti Anda tidak melayani menurut visi itu. Hari ini saudara Nee telah meninggal. Saya tidak bermaksud untuk membuat awal yang baru, tetapi Tuhan telah mengamanatkan saya dengan ministri ini. Saya hanya dapat mengambil pimpinan dengan rela dan taat. Visi yang telah saya berikan kepada Anda hari ini adalah visi Allah untuk zaman ini. Jika Anda tetap berada di dalam visi ini, berarti Anda sedang melayani menurut visi ini. Jika Anda tidak tetap berada di dalam visi ini, Anda harus berhati-hati atas akhir pelayanan Anda.
Karena itu, Anda jangan mengikuti manusia; melainkan Anda harus berdiri dengan ministri Tuhan. Anda mengikuti sebuah visi yaitu sebuah visi yang sesuai dengan zaman itu, sebuah visi yang mewarisi segala hal yang ada di masa lampau dan sebuah visi yang almuhit. Itu adalah visi masa kini, tetapi mencakup hal-hal yang lampau. Jika Anda tetap berada di dalam kitab Kisah Para Rasul, Anda mungkin mewarisi segala hal yang ada pada waktu itu, tetapi bukan yang terkini. Hari ini ketika kita berdiri di sini dan memperhatikan wahyu-wahyu yang disingkapkan di dalam pemulihan Tuhan, ketika kita membaca terbitan-terbitan yang ada di tengah-tengah kita, kita dapat melihat bahwa mereka mencakup segala sesuatu dari gereja bagi ekonomi Allah untuk Yerusalem Baru di dalam langit baru dan bumi baru. Ini adalah visi yang limpah lengkap dan serba cukup. Jika Anda tetap berada di dalam visi ini, maka Anda melayani menurut visi ini. Jika Anda tidak berada di dalam visi ini, Anda dapat menjadi seorang Apolos yang menjelaskan Kitab Suci dengan kuat; Anda dapat menjadi seorang Barnabas yang mengunjungi gereja-gereja; Anda dapat menjadi seorang Yakobus yang melayani dengan saleh; dan Anda bahkan dapat menjadi seorang Petrus yang melayani sebagai rasul yang memimpin; namun, Anda tidak berada di dalam visi.
Saya percaya bahwa terang ini sangat jelas di tengah-tengah kita. Tidak ada orang yang dapat memperdebatkan hal ini. Saya berharap bahwa semua saudara saudari muda dapat jelas akan hal ini. Sejak muda, ketika Anda melayani Tuhan, Anda harus mengerti apa yang sedang kita kerjakan di sini. Ini bukanlah hal pribadi, melainkan mutlak adalah ministri Tuhan. Dia telah menyingkapkan visi-visi generasi demi generasi kepada anak-anak-Nya. Semua orang yang berada di dalam visi ini sekarang sedang melayani menurut visi Allah.
KESEHATIAN YANG SEJATI
Ketika tidak ada visi, menjadi liarlah rakyat, karena tidak ada kesehatian. Memang banyak orang mengasihi Tuhan dan melayani Tuhan, tetapi setiap orang memiliki opininya masing-masing dan visinya masing-masing. Hasilnya, tidak ada jalan untuk sehati. Inilah sebabnya Kekristenan menjadi begitu lemah. Umat Allah terpecah-belah. Di mana-mana terdapat perpecahan. Walaupun setiap orang mengatakan bahwa dia mengasihi Tuhan, namun tidak ada visi yang jelas, dan orang-orang “diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran” (Ef. 4:14). Beberapa orang di antara kita juga tidak yakin, dan berkata, “Apakah kita adalah satu-satunya orang yang benar? Bukankah orang lain juga memberitakan Injil? Bukankah mereka juga membawa manusia kepada Tuhan dan membina mereka? Perhatikanlah zaman Yakobus. Dia lebih saleh daripada Paulus atau saudara Nee. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa dia tidak memiliki visi?”
Saya percaya bahwa perkataan ini akan menjawab banyak pertanyaan di dalam hati Anda. Walaupun kita berada jauh di belakang banyak orang yang berantusias dalam memberitakan Injil, walaupun banyak orang lebih bergairah dan lebih membara dalam roh daripada kita, dan walaupun kita miskin, tetapi visi itu tetap bersama dengan kita. Saya benar-benar berharap bahwa para pekerja muda di tengah-tengah kita dan para peserta pelatihan dapat melatih diri mereka dalam beribadah. Ini bukan berarti bahwa sekali kita memiliki visi, kita tidak perlu beribadah, tetapi saya berharap Anda dapat mengingat bahwa beribadah saja tidak dapat disetarakan dengan visi. Kita benar-benar perlu melatih diri kita dalam beribadah; kita tidak boleh kendur, kepribadian dan karakter kita haruslah baik. Tetapi bukan berarti bahwa sekali kita memiliki karakter yang baik, maka kita berada di dalam visi. Dengan kata lain, visi kita haruslah satu yang sesuai dengan zaman. Dan visi itu juga haruslah satu yang mencakup segala sesuatu yang ada sebelum kita. Visi itu haruslah mencakup ibadah dari orang-orang Yahudi, pemberitaan yang berantusias, dan pelayanan yang sejati. Hanya dengan demikian, kita baru dapat mempraktekkan suatu kehidupan gereja yang almuhit, yaitu kehidupan gereja yang diwahyukan Allah kepada kita (Rm. 14). Kita tidak terpecah ke dalam sekte, dan kita tidak memaksakan praktek-praktek tertentu kepada orang-orang tertentu. Kita hanya memperhidupkan kehidupan gereja yang almuhit. Jika kita melakukan hal ini, kita akan memiliki kesehatian yang sejati.
Hari ini kita dapat berada di dalam kesehatian karena kita hanya memiliki satu visi dan satu pandangan. Kita semua berada di dalam visi yang terkini dan visi yang mewarisi segala sesuatu. Kita hanya memiliki satu sudut pandang. Kita membicarakan hal yang sama dengan satu hati, satu mulut, satu suara, dan satu nada, bersama-sama melayani Tuhan. Hasilnya adalah suatu kuasa yang akan menjadi keyakinan kita yang kuat dan memberi dampak bagi kita. Inilah kekuatan kita. Sekali pemulihan Tuhan memiliki kuasa ini, maka akan terdapat penambahan dan pelipatgandaan yang mulia. Situasi kita hari ini belum mencapai poin ini, belum mencapai puncak. Walaupun kita tidak memiliki perdebatan yang besar, tetapi kita memiliki keluhan-keluhan dan kritikan-kritikan yang kecil. Hal-hal ini akan menurunkan semangat juang kita.[v]
_____________________
i. Witness Lee, Crucial Words of Leading in the Lord’s Recovery, Book 1: The Vision and Definite Steps for the Practice of the New Way, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2004), 8-9.
ii. Witness Lee, Crucial Words of Leading in the Lord’s Recovery, Book 1: The Vision and Definite Steps for the Practice of the New Way, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2004), 14-16.
iii. Witness Lee, Crucial Words of Leading in the Lord’s Recovery, Book 1: The Vision and Definite Steps for the Practice of the New Way, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2004), 21-24.
iv. Witness Lee, Crucial Words of Leading in the Lord’s Recovery, Book 1: The Vision and Definite Steps for the Practice of the New Way, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2004), 27-30.
v. Witness Lee, Crucial Words of Leading in the Lord’s Recovery, Book 1: The Vision and Definite Steps for the Practice of the New Way, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2004), 45-55.