← Daftar isi Kebutuhan akan para Full-timer · bab 3/9

PANGGILAN PARA FULL-TIMER

(The Calling of Full-timers)

Dasar Alkitab:

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” – 1 Petrus 2:9

I. Melayani Tuhan memerlukan visi yang mulia:

A. Setiap orang yang melayani Tuhan harus memiliki visi yang mulia.

B. Bukan perkara melihat yang mulia, melainkan obyek yang kita lihat itulah yang mulia.

II. Melayani Allah adalah perkara amanat:

A. Melayanisepenuh waktu hanyalah untuk satu jenis orang, yaitu orang yang kepadanya Allah memberikan suatu pekerjaan, suatu amanat, yang menuntut seluruh waktunya; orang yang memiliki pengaturan di dalam lingkungannya bagi kehidupannya.

B. Kondisi dasarnya adalah memiliki suatu amanat.

III. Melayani Tuhan memerlukan panggilan Tuhan:

A. Dari keseluruhan Alkitab, kita dapat melihat bahwa setiap hamba Tuhan berawal dari terpanggil

1. Abraham adalah orang yang pertama kali dipanggil di dalam Alkitab; Allah Mahamulia menampakkan diri kepadanya.

2. Rasul Paulus juga dipanggil oleh Tuhan.

B. Penampakkan diri Allah kepada Anda adalah panggilan-Nya atas Anda. Ini menjadikan Anda seorang yang terpanggil:

1. Saya berharap bahwa setiap orang yang melayani Tuhan di dalam pemulihan-Nya dapat memiliki visi ini, yang menembus dan memancar di atasnya minimal sekali.

2. Ini bukanlah perkara penglihatan yang di luaran, melainkan sebuah penglihatan batiniah yang mulia dan pasti.

C. Seturut dengan pengalaman kita, sekali Tuhan menampakkan diri –Nya kepada kita, kita menjadi berbeda:

1. Perihal penampakkan adalah di pihak Allah.

2. Di pihak kita, penampakkan-Nya menjadi visi dan penglihatan - sebuah penglihatan yang begitu khusus, sebuah penglihatan yang belum pernah kita alami sebelumnya.

3. Kita telah melihat gunung, sungai, burung, hewan, bunga, dan banyak hal lain sebelumnya, namun, ini berbeda; suatu ketika ada Seseorang menampakkan diri kepada kita; penampakkan ini adalah panggilan Allah.

D. Begitu kita memiliki penglihatan mulia ini, keseluruhan diri kita akan diubah di dalam konsep, sikap, dan pemikirannya; kita akan sepenuhnya menjadi berbeda.

IV. Ada sesuatu di dalam kita yang tidak bisa kita sangkal atau bantah; yaitu visi yang mulia; kita harus melayani Allah seturut visi ini sepanjang hidup kita.

A. Dalam Perjanjian Baru, setiap orang yang beroleh selamat seharusnya menjadi orang yang telah menerima panggilan mulia Allah; kita semua telah melihat kemuliaan-Nya, telah ditarik oleh Dia, dan ada di bawah pengaruh-Nya.

B. Kita harus memberitahu saudara-saudari muda bahwa apapun yang mereka kerjakan di masa depan, baik itu menjadi guru atau dokter, hanyalah pekerjaan nomor dua; setiap orang dari kita hidup demi satu tujuan, melayani Allah.

V. Kita adalah orang-orang yang istimewa, karena Tuhan telah memanggil kita; kita tidak peduli mengenai surga atau bumi; kemuliaan yang telah kita lihat ini adalah makna hidup kita; itu juga menjadi sasaran, amanat dan beban kita.

Cuplikan Berita Ministri:

MELAYANI TUHAN MEMERLUKAN VISI YANG MULIA

Kita harus memiliki visi yang mulia. Setiap orang yang melayani Tuhan harus memiliki sebuah visi yang mulia. Bukan perkara melihat yang mulia, melainkan obyek yang dilihat itu yang mulia. Inilah yang dimaksud dengan sebuah visi yang mulia.

Kata visi berarti sesuatu yang luar biasa, tidak biasa, tidak umum, dan tidak lazim. Ini juga berarti sebuah tayangan atau pemandangan. Ini adalah sejenis penglihatan khusus. Seseorang melihat karena pemandangannya ada di sini. Beberapa ratus orang di antara kalian yang tengah duduk di sana adalah sebuah pemandangan indah. Jika saya memiliki kamera, saya akan memotret kalian. Jadi, visi adalah sejenis penglihatan yang khusus. Kita harus mengetahui bahwa melayani Tuhan bukanlah perkara yang biasa-biasa saja. Ini dikarenakan Tuhan kita tidak biasa-biasa saja. Jika kita tidak memiliki perasaan apa pun terhadap perkara melayani Tuhan dan menjadi kesaksian bagi-Nya, kita adalah orang-orang yang tanpa visi. i

MELAYANI SEPENUH WAKTU ADALAH PERKARA AMANAT

Hampir segala sesuatu memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada tahun-tahun belakangan ini, sejak tahun 1952 hingga hari ini, kita bahkan telah memiliki hadirat Allah di dalam perkara melayani sepenuh waktu. Banyak saudara-saudari telah menerima anugerah Tuhan yang ajaib dan membawakan berkat yang begitu besar bagi gereja. Bagaimana pun juga, ada beberapa hal yang perlu kita pelajari dengan teliti di hadapan Tuhan. Beberapa hal ini menuntut kita waspada, dan ada hal lainnya yang menuntut kita membuat beberapa penyesuaian.

Tiap-tiap Orang Perlu Melayani

Dari awal, berdasarkan terang yang Allah telah berikan kepada kita, kita telah melihat bahwa setiap orang yang diselamatkan, terlepas dari pekerjaannya, seharusnya melayani Tuhan. Tidak hanya rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita Injil, dan gembala-pengajar yang seharusnya melayani Tuhan, tetapi juga bahkan seorang anggota yang memiliki karunia yang kecil seharusnya melayani Allah. Mereka yang melayani di dalam cara demikian mungkin tidak perlu melepaskan pekerjaannya.

Melayani Allah seharusnya menjadi pertimbangan utama, pekerjaan pokok dari kaum beriman. Bagaimana pun juga, untuk bertahan hidup, kaum beriman juga memerlukan pekerjaan sebagai mata pencaharian mereka.Terlepas dari jenis pekerjaan apa yang mereka miliki, pekerjaan itu hanyalah sebuah pekerjaan sampingan. Bahkan para saudari yang mengurus dan memperhatikan rumah tangga mereka juga tengah melakukan sebuah pekerjaan sampingan. Bagi kita, perkara paling penting di muka bumi adalah melayani Allah. Jadi, jika amanat Tuhan menuntut kita mempergunakan seluruh waktu kita untuk melaksanakannya dan jika lingkungan mengizinkan kebutuhan sehari-hari kita terpenuhi, kita seharusnya melayani sepenuh waktu.

Ada beberapa cara yang memungkinkan seseorang dapat melayani sepenuh waktu. Beberapa mungkin memliki sejumlah uang yang disediakan oleh Tuhan, baik melalui sebuah warisan atau beberapa sumber lain. Hasilnya, mereka memiliki uang yang cukup untuk menopang kehidupan mereka. Beberapa mungkin terlibat dalam sebuah bisnis yang di dalamnya mereka tidak perlu bekerja terlalu keras, namum mereka masih dapat bertahan hidup. Beberapa mungkin kebutuhannya diperhatikan oleh gereja atau kaum saleh individu seturut pimpinan Tuhan. Beberapa mungkin juga memiliki sebuah iman yang kuat yang memampukan mereka untuk melewati semuanya. Seluruh cara ini memungkinkan seseorang dapat melayani sepenuh waktu. Hasilnya, kaum saleh ini tidak hanya mampu, tetapi juga seharusnya mempergunakan seluruh waktunya untuk melayani Tuhan . Jadi, mempergunakan waktu seseorang untuk melayani Tuhan tidak persis sama dengan diberi amanat oleh Tuhan bagi pekerjaan-Nya. Dengan kata lain, setiap orang seharusnya melayani Tuhan, namun seberapa banyak waktu yang harusnya tiap-tiap orang dedikasikan bagi pelayanan Tuhan tergantung pada seberapa banyak amanat yang orang itu terima dari Tuhan dan penyediaan finansial dari lingkungan mereka.

Bahkan seorang rasul besar seperti Paulus terpaksa membuat tenda (Kis. 20:34; 18:3) dikarenakan faktor lingkungan. Amanat yang Tuhan berikan kepada Paulus menuntut seluruh waktunya; bagaimana pun juga, lingkungan tidak mendukungnya. Akibatnya, Paulus tidak memiliki jalan lain, namun menyisihkan sedikit waktu untuk membuat tenda. Jika lingkungan telah mengizinkan dia, dia pasti akan mempergunakan seluruh waktunya untuk melayani Tuhan. Orang lain yang melayani Tuhan mungkin memiliki amanat yang hanya menuntut sebagian waktunya, bukan keseluruhan waktunya. Jadi, mereka dapat melakukan sesuatu yang lain sebagai sampingan.

Belakangan ini kita memiliki hampir seratus saudara-saudari yang melayani sepenuh waktu di Taiwan. Menurut pengamatan, kita merasa bahwa tidak cocok bagi beberapa orang melanjutkan melayani dengan cara seperti ini. Ini berarti beberapa yang melayani sepenuh waktu seharusnya menemukan sebuah pekerjan. Tidak setiap orang yang melayani sepenuh waktu perlu dipanggil dengan cara demikian, namun setiap orang yang beroleh selamat seharusnya menjadi seorang yang melayani. Jumlah waktu yang dikeluarkan oleh tiap-tiap orang yang melayani adalah berdasarkan jumlah kasih karunia yang dia terima dari Tuhan dan penyediaan yang ada di dalam lingkungannya.

Awalnya, beberapa orang mulai melayani sepenuh waktu karena Tuhan telah mengatur lingkungan, dan mereka sendiri menerima amanat Tuhan. Setelah dua tahun, bagaimana pun juga, pengaturan Tuhan di dalam lingkungan mereka mungkin berubah. Akhirnya, mereka perlu bekerja untuk bertahan hidup. Ini dapat dibandingkan dengan rasul Paulus yang membuat tenda. Bagaimana pun juga, di dalam persekutuan ini, fokus kita bukanlah pada pengaturan lingkungan, melainkan kondisi seorang yang melayani di hadapan Tuhan dan amanat yang telah mereka terima dari Tuhan. Amanat yang telah beberapa orang terima dari Tuhan tidak cukup bagi mereka untuk melayani sepenuh waktu. Jadi, mereka harus bekerja.

Melayani Sepenuh Waktu Berdasarkan Amanat Tuhan

Kita melayani sepenuh waktu bukan berdasarkan perasaan kita, namun berdasarkan jumlah pekerjaan dan cakupan amanat yang Tuhan telah berikan kepada kita. Seluruh saudara-saudari yang melayani sepenuh waktu memiliki sebuah kedambaan yang kuat untuk berbuat demikian, mereka rela membayar harga dan melepaskan masa depan mereka demi kepentingan Tuhan. Sama sekali tidak ada masalah di dalam hati mereka; namun, Tuhan tidak menakarkan di atas diri beberapa orang dari antara mereka sejumlah pekerjaan yang cukup atau memberikan mereka sebuah amanat yang menuntut mereka untuk melayani sepenuh waktu.

Beberapa kaum saleh sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, telah dibelaskasihani oleh Tuhan, telah menerima anugerah Tuhan, dan lelah terhadap dunia dan hal-hal di dalamnya. Mereka memiliki sebuah kedambaan yang kuat untuk datang bersama-sama dengan yang lainnya setiap hari untuk berdoa, membaca Alkitab, dan hidup di hadapan Tuhan. Kedambaan semacam ini unggul, namun, mungkin saja itu bukan kehendak Tuhan, karena ada begitu banyak pelajaran yang dapat dipelajari selagi bekerja.

Jadi, kaum saleh tersebut perlu bekerja di bawah wewenang orang lain, misalnya sebagai perawat, guru, dan pegawai. Meskipun beberapa kaum saleh dapat memperoleh penghasilan yang besar melalui bekerja, mereka memilih untuk tidak memiliki pekerjaan. Meskipun sulit mempertahankan kehidupan mereka, namun, mereka puas dengan melayani sepenuh waktu. Mereka merasa hebat untuk tidak berkontak atau berjuang dengan orang tidak percaya. Jika mereka bekerja sebagai guru, mereka harus mempelajari bagaimana berurusan dengan kepala sekolah, dekan akademik, dan kolega yang lain. Bagi mereka, hal ini terlalu menyulitkan. Daripada bergumul dan berjuang setiap hari, mereka lebih memilih untuk mengontaki kaum saleh, memberitakan Injil, membaca Alkitab, dan berdoa. Sebenarnya, cara hidup ini dapat dibandingkan dengan memasuki sebuah biara. Tanpa amanat Allah, mereka sama saja seperti biarawati dan biarawan.

Di dalam gereja Katolik banyak orang memasuki biara karena alasan yang sama. Mereka menganggap bahwa kehidupan manusia yang terbaik adalah menjadi biarawan dan biarawati. Dengan menempuh kehidupan demikian, mereka tidak perlu khawatir akan hidup mereka, tidak perlu bergumul akan harta benda duniawi, dan tidak perlu berjuang dengan orang-orang dunia. Sebaliknya, mereka hanya perlu membaca Alkitab dengan gampang dan nyaman, memiliki sebuah kehidupan yang “melampaui”. Ditinjau dari sudut pandang agama, ini cukup baik, dan dari sudut pandang filosofi manusia, ini juga tidak buruk. Bagaimana pun juga, secara rohani, hidup yang demikian tidak begitu bernilai. Akhirnya, pertanyaannya bukan apakah sebuah jalan hidup lebih baik daripada yang lainnya, melainkan apakah hidup kita seturut kehendak Allah bagi kita dan mengambil jalan yang Tuhan dambakan.

Jika para saudari menyukai tinggal di rumah dan memperhatikan pekerjaan rumah tangga dan melayani keluarga mereka, ini tentu saja sebuah usaha manusia yang wajar. Namun, beberapa saudari merasa terlalu menyulitkan untuk tinggal di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, melayani suami dan anak-anaknya. Mereka lebih memilih melayani Tuhan. Jika ini adalah kasusnya, pelayanan mereka mutlak bukan seturut dengan pimpinan Tuhan, melainkan sebagai sebuah alasan bagi mereka untuk menghindari kewajiban manusia.

Kita mungkin dapat bertingkah-laku di dalam cara tertentu, namun kita seharusnya tidak berlaku seperti mengajar ketika berbicara kepada orang-orang atau memerintah orang lain. Misalnya saja, jika seorang saudari sendiri, dia dapat memberitahu orang lain bahwa yang terbaik bagi perempuan adalah tetap sendiri dan salah bagi mereka untuk tidak sendiri. Kita tidak dapat mengkritik saudari itu karena kesendiriannya. Bagaimana pun juga, dia tidak seharusnya mengambil kondisinya yang sendiri sebagai sebuah doktrin dan memerintahkan yang lain untuk mengikutinya. Ini salah. Seorang saudari tidak seharusnya melayani sepenuh waktu untuk menghindari kesulitan-kesulitan rumah tangga, melayani suami dan anak-anaknya di rumah. Melayani sepenuh waktu dengan cara ini dapat sebanding dengan sebuah kehidupan di dalam biara. Ini mutlak tidak seturut dengan pimpinan Tuhan.

Melayani sepenuh waktu hanya diperuntukkan bagi satu jenis orang, seseorang yang kepadanya Allah telah memberikan sebuah pekerjaan, sebuah amanat, yang menuntut seluruh waktunya dan yang memiliki pengaturan di dalam lingkungannya bagi kehidupannya. Kondisi dasarnya adalah memiliki sebuah amanat. Akibatnya, beberapa yang melayani sepenuh waktu tidak dapat melanjutkan melayani sepenuh waktu karena mereka tidak diberikan amanat yang cukup membebani. Hati mereka terhadap Tuhan sangat baik, kondisi mereka juga sangat tepat, dan tidak ada masalah pada orangnya mereka, namun secara fakta, amanat yang telah mereka terima tidak menuntut seluruh waktu mereka. Jika orang yang demikian dapat bekerja paruh waktu, keuntungan baginya dan bagi gereja akan sangat besar. ii

PELAYANAN TUHAN MEMERLUKAN PANGGILAN TUHAN

Dari keseluruhan Alkitab, kita dapat melihat bahwa setiap hamba Tuhan dimulai dengan terpanggil. Ini seperti kita melamar sebuah pekerjaan dan memperoleh surat penerimaan. Panggilan kita juga seperti itu pada hari ini. Bukan gereja yang memanggil Anda, ataupun pekerjaan tim Injil yang memanggil Anda, melainkan Tuhan sendiri yang telah memanggil Anda. Ketika Anda terpanggil, Anda menerima visi. Panggilan Tuhan adalah penampakkan Allah Mahamulia kepada Anda. Dia tidak menampakkan diri kepada Anda dengan tanpa alasan. Penampakan Allah kepada Anda adalah panggilan-Nya kepada Anda. Ini membuat Anda menjadi seorang yang terpanggil.

Panggilan Abraham

Abraham adalah orang pertama yang terpanggil di dalam Alkitab. Adam, Habel, Enos, Henokh , dan Nuh telah ada sebelum Abraham; namun, Alkitab tidak menyebutkan bagaimana kelima orang ini dipanggil. Contohnya, di dalam kasus Habel, kitab Kejadian hanya memberitahu kita bahwa setelah dia dilahirkan dia mengalami Allah di bawah bimbingan orang tuanya.

Enos mengenal Allah dan melayani Dia, dan Alkitab berkata bahwa sejak waktu itu, manusia mulai memanggil nama Yehovah (Kej. 4:26). Tetapi Alkitab tidak mengatakan bagaimana dia dipanggil. Sama halnya juga dengan Henokh dan Nuh. Sebelum kisahnya sampai pada Abraham, tidak ada hal baru yang disebutkan dalam Perjanjian Lama, yaitu bahwa Allah memanggil Abraham. Pada waktu itu, Abraham tinggal di negeri Ur-Kasdim (11:31). Dia di sana bukan melayani atau menyembah Allah; melainkan, dia di sana menyembah berhala. Tanah Ur-Kasdim adalah tanah penyembahan berhala; penuh dengan berhala. Itu juga merupakan tempat di mana menara Babel didirikan. Jadi, tempat tersebut dipenuhi dengan berhala. Di bawah situasi yang demikian, Allah Maha mulia menampakkan diri-Nya kepada Abraham. Dia adalah orang pertama yang dipanggil di dalam Perjanjian Lama.

Panggilan Rasul Paulus

Di dalam Perjanjian Baru, kita dapat melihat bahwa rasul Paulus juga dipanggil oleh Tuhan. Sebelum dipanggil, namanya adalah Saulus. Di tengah perjalanannya menuju Damsyik dengan membawa surat dari Imam Besar untuk menangkap mereka yang memanggil nama Tuhan, kemuliaan Tuhan tampak kepada-Nya (Kis. 9:2-3). Penampakkan Tuhan adalah kemuliaan Tuhan. Penampakkan ini menangkap Paulus, dan dia dipanggil. Abraham di dalam Perjanjian Lama terpanggil ketika dia menyembah berhala. Paulus di dalam Perjanjian Baru terpanggil ketika dia sedang dalam perjalanan untuk menangkap mereka yang memanggil nama Tuhan. Ini sungguh-sungguh menakjubkan.

Panggilan Kita

Menurut pengalaman kita, sekali Tuhan menampakkan diri-Nya kepada kita, kita menjadi berbeda. Sejak hari itu, kita terpanggil. Ketika Alkitab menyebutkan panggilan Abraham, catatan yang dimuat di sana cukup singkat. Di sana hanya dikatakan bahwa Abraham kemudian tinggal di Mesopotamia, dan bahwa Allah Mahamulia menampakkan diri kepadanya. Di pihak Allah, itu adalah sebuah penampakkan. Di pihak kita, itu merupakan sebuah visi dan pengihatan – sebuah penglihatan yang sangat khusus, sebuah penglihatan yang belum pernah kita alami sebelumnya. Kita telah melihat pegunungan, sungai-sungai, burung-burung, hewan-hewan, bunga-bunga, dan banyak hal lainnya sebelumnya. Tiba-tiba seseorang menampakkan diri-Nya kepada kita. Penampakkan ini adalah panggilan Allah. Dengan kata lain, Anda terpanggil. Jika Anda tidak menerima panggilan ini, Anda menolak visi Allah.

Bagaimana pun juga, Alkitab menunjukkan kita bahwa ketika Allah menampakkan diri-Nya kepada manusia, tidak seorang pun dapat menolak Dia. Visi ini terlalu ajaib. Beberapa berhala yang Abraham sembah berwajah Iblis; yang lainnya berwajah kuda atau burung di bait. Ini adalah hal-hal yang Abraham sembah. Sejarah memberitahu kita bahwa setiap dinding di bait memiliki suatu gambar tertentu. Ketika Abraham menyembah berhala-berhala tersebut, tampaklah kepadanya sebuah pemandangan. Pemandangan ini mutlak berbeda dari seluruh berhala. Pemandangan ini hanyalah Allah sendiri. Allah Maha mulia menampakkan diri kepada-Nya dengan segala keagungan dan kemegahan-Nya, menjadi visi yang menangkap Abraham. Dengan cara ini, Abraham terpanggil. Dengan kondisi yang demikian, Allah memberitahu Abraham, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu (Kej. 12:1). Sejak saat itu, Abraham terpanggil. Dia adalah orang pertama yang terpanggil di dalam Perjanjian Lama. Selain itu, ada juga sedikitnya dua orang lainnya yang terpanggil. Yang seorang adalah Yesaya, dan yang lain adalah Yehezkiel. Keduanya menjadi nabi-nabi setelah mereka terpanggil. iii

SEPATAH KESAKSIAN MENGENAI PANGGILAN TUHAN

Pada musim panas tahun 1933, saya dipanggil oleh Tuhan untuk melayani sepenuh waktu, tetapi saya bergumul dengan Tuhan mengenai perkara ini kira-kira selama tiga minggu. Walaupun saya akhirnya berhenti dari pekerjaan saya, tetapi kadang-kadang masih terdapat pergumulan di dalam diri saya. Pada hari ketika saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya, di malam yang sama setelah sidang doa, saya berbicara kepada seorang saudara dan seorang saudari yang memimpin mengenai keputusan saya untuk berhenti dari pekerjaan saya untuk melayani Tuhan. Walaupun mereka berdua menegaskan keputusan saya, saya masih merasa bahwa saya kekurangan penegasan dari Tuhan. Tetapi ketika saya datang kepada Tuhan di malam hari, saya dimarahi oleh Tuhan karena saya kurang beriman dalam percaya kepada-Nya. Akhirnya, melalui pengalaman ini, saya menjadi jelas bahwa Tuhan benar-benar menginginkan saya untuk berhenti dari pekerjaan saya. Keesokan harinya, penegasan ini datang dalam bentuk surat undangan dari kelompok kaum beriman Presbiterian di Manchuria. Undangan ini sedang menunggu saya di kantor pos tepat pada hari saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya. Ini adalah penegasan yang nyata bagi saya mengenai pimpinan Tuhan. Berdasarkan undangan ini, saya menemui bos saya dan meminta dia untuk mengizinkan saya pergi ke Manchuria selama sejangka waktu dan ketika saya kembali, saya akan mengatur segalanya mengenai pekerjaan saya. Dia menyetujuinya.

Di Manchuria saya membaptis sekitar dua puluh orang kaum beriman, dan kaum beriman ini menjadi permulaan bagi hidup gereja di daerah itu. Ini membuat saya sangat gembira. Ketika saya di Manchuria, datanglah sebuah surat dari bos saya yang dulu yang meminta saya untuk tetap tinggal di perusahaan itu, dan dia juga berjanji untuk menaikkan gaji saya. Juga ada kebijaksanaan dari perusahaan itu untuk memberikan bonus yang besar kepada karyawan-karyawannya di akhir tahun. Bonus ini menjadi godaan yang nyata bagi saya. Saya mulai beralasan dalam diri saya, berkata, “Sekarang bulan September, dan tinggal tiga bulan lagi. Mengapa tidak menunggu sampai akhir Desember baru berhenti dari pekerjaan? Apakah tiga bulan akan membuat banyak perbedaan? Jika saya menunggu sampai akhir Desember, saya akan mendapatkan bonus yang besar.” Karena alasan inilah, saya kembali ke Chefoo dengan beberapa kemungkinan untuk tetap bekerja di dalam perusahaan itu sampai awal Januari. Tapi ketika saya kembali ke rumah dari Manchuria, ada sebuah surat dari Saudara Watchman Nee yang sedang dalam perjalanan pulang ke Cina dari Inggris. Surat itu hanya berisi catatan yang pendek, mengatakan, “Saudara Witness, mengenai masa depan Anda, saya merasa bahwa Anda seharusnya melayani Tuhan sepenuh waktu. Bagaimana perasaan Anda tentang hal ini? Semoga Tuhan memimpin Anda.” Saya sangat terjamah oleh surat yang pendek ini karena saya tahu bahwa bukan kebiasaan Saudara Nee untuk menulis catatan seperti ini kepada seseorang. Saya lebih terjamah lagi ketika saya melihat bahwa tanggal dari suratnya hampir sama dengan waktu pergumulan saya. Ini berarti bahwa ketika saya sedang bergumul, dia sepertinya mengetahui hal ini. Hal ini sangat mengejutkan saya. Surat dari Saudara Nee sangat bertentangan dengan surat dari bos saya, dan sangat memberikan inspirasi dan kekuatan kepada saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke kantor dan mengalihkan pekerjaan saya kepada orang lain secepat mungkin. Saya juga memutuskan untuk pergi kepada Saudara Nee dan mencari tahu bagaimana dan di mana dia menulis surat itu kepada saya. Setelah saya meninggalkan pekerjaan saya, saya pergi ke Shanghai pada musim gugur tahun 1933 untuk menemui Saudara Nee dan bertanya kepadanya mengapa dia menulis catatan itu kepada saya. Dia menjawab bahwa pada hari ketika dia berlayar dari Inggris ke Cina di lautan Mediteranian, saat dia bersekutu dengan Tuhan, Tuhan memberikan dia perasaan bahwa dia harus menulis sebuah catatan kepada saya. Kemudian dia menulis sebuah catatan yang pendek, mengirimnya ke Perpustakaan Injil di Shanghai, dan Perpustakaan Injil itu mengirimkan surat itu ke rumah saya di Chefoo.

Saya sangat terinspirasi oleh suratnya karena saya tahu bahwa surat itu dikirim bukan karena suatu kebetulan; surat itu pasti berasal dari Tuhan. Saya juga sangat terkesan oleh Saudara Nee, karena hal ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang sangat intim dengan Tuhan. Jika tidak, bagaimana dia dapat memiliki perasaan untuk menulis sebuah catatan kepada saya di Cina sedangkan dia berada dalam perjalanan yang jauh dari Inggris ke Cina? Dia adalah seorang yang sangat intim dengan Tuhan; karena itu, sampai hari inipun saya dapat menyatakan bahwa saya sepenuhnya percaya kepadanya. Saudara Nee juga bukanlah seorang yang selalu memberi tahu orang lain utnuk mengerjakan sesuatu. Seringkali para saudara datang kepadanya dan bertanya kepadanya apakah dia merasa bahwa mereka harus pergi ke suatu tempat untuk mengerjakan pekerjaan atau tidak. Seringkali saudara Nee tidak menjawab mereka karena dia tidak mau menjadi nabi di dalam prinsip Perjanjian Lama. Dia mengajarkan bahwa di dalam Perjanjian Lama, jika seseorang ingin mengetahui sesuatu mengenai Allah, dia harus pergi kepada seorang nabi, seperti Elia, tetapi di dalam Perjanjian Baru, kaum beriman memiliki pengurapan (1 Yoh. 2:20, 27). Karena itu, kita tidak perlu seseorang untuk mengajar kita. Dia mempraktekkan hal ini dengan sangat kuat, tetapi di dalam perkara ini, dia menulis catatan ini kepada saya. Hal ini menegaskan kepada saya bahwa hal ini benar- benar berasal dari Allah. iv

PANGGILAN ALLAH ADALAH WAHYU-NYA SECARA PRIBADI KEPADA KITA

Bagaimana Allah memanggil kita? Dia memanggil kita dengan menarik kita kepada diri-Nya sendiri melalui membukakan diri-Nya sendiri kepada kita. Di beberapa tempat di dunia, ada pasar malam. Para pedagang di sana memamerkan keindahan mereka, menawarkan barang-barang dagangan berupa parsel dan bingkisan di depan pembeli. Hal ini memberikan kesan yang kuat kepada orang. Banyak orang tertarik oleh pasar malam ini dan berbelanja. Saya berharap bahwa beberapa orang di antara Anda akan melihat diri Allah sendiri dengan cara yang sama dan ditangkap oleh visi yang mulia ini.

Saya masih teringat pengalaman akan kemuliaan Allah yang menampakkan diri kepada saya untuk pertama kalinya. Saat itu adalah sore hari ketika saya diselamatkan. Ketika saya berjalan keluar dari balai sidang ke jalan, saya merasa bahwa segala sesuatunya berbeda. Saya berhenti di jalan dan berdoa kepada Allah, “Allah! Aku tidak menginginkan apa-apa lagi. Aku hanya ingin diri-Mu.” Ini adalah kemuliaan Allah yang ditampakkan kepada saya. Saya berharap bahwa di dalam prinsip, Anda semua memiliki pengalaman yang sama. Janganlah seperti para misionaris Kristen. Mereka melayani Tuhan sebagai sebuah profesi. Saya berharap bahwa setiap orang yang melayani Tuhan di dalam pemulihan-Nya dapat memiliki visi yang mulia ini yang menghancurkan dan menyoroti dia setidaknya satu kali. Ini bukanlah sebuah perkara penglihatan yang di luar. Melainkan adalah penglihatan batini yang jelas dan mulia.

SEBUAH VISI YANG MEMALINGKAN SELURUH DIRI

Setelah kita memiliki penglihatan yang mulia ini, seluruh diri kita akan diubah di dalam konsep, sikap, percakapan dan pemikiran. Kita akan sepenuhnya berbeda. Walaupun kita masih makan, minum, beristirahat, dan bekerja, tetapi seluruh orangnya kita akan berubah. Inilah respon terhadap penglihatan kita mengenai sebuah visi. Ketika kita melihat sebuah visi, kita akan memiliki respon. Misalkan, jika Anda pergi ke kebun binatang dan melihat seekor harimau yang buas, Anda pasti akan memiliki sebuah respon. Visi yang Anda lihat akan membuat Anda marah terhadap diri Anda sendiri. Konsep Anda akan berubah, jalan dan kehidupan Anda akan menjadi tidak umum.

Saya masih teringat kondisi saya ketika saya dipanggil segera setelah saya diselamatkan. Orang lain mulai merasakan ada hal yang berbeda dari saya. Tidak hanya orang lain merasakan ada hal yang berbeda dari saya, bahkan keluarga saya sendiri pun merasa bahwa saya berbeda. Mereka berpikir bahwa saya tertekan atau saya tidak tidur dengan baik. Mereka mengamati bahwa saya mulai tidak tertarik akan segala hal. Walaupun Anda semua mungkin tidak seperti saya, tetapi saya percaya bahwa sejumlah saudara saudari memiliki pengalaman yang sama. Orang lain memperhatikan bahwa kita berbeda. Mungkin perubahan itu tidak terjadi pada hari kita diselamatkan. Tetapi tiga hari kemudian, atau tiga bulan, mungkin bahkan tiga tahun kemudian, terdapat suatu perubahan yang menyeluruh. Cepat atau lambat, penampakan Allah dan visi rohani kita akan membuat kita berbeda dengan orang lain. Dunia tidak dapat menjelaskan hal ini. Mereka tidak dapat memahami hal ini, karena mereka belum pernah melihat hal ini.

Selain itu, kita tahu bahwa setelah melihat visi seperti ini, seluruh gaya hidup kita akan berubah. Misalkan, dulu saya mungkin sangat mengasihi dunia, tetapi sekarang saya dengan senang hati melepaskannya. Uang menjadi terasa hambar. Mode menjadi terasa hambar, dan penghiburan menjadi terasa hambar. Segala sesuatu menjadi terasa hambar. Tetapi ini belum semuanya. Hal yang menakjubkan di sisi positif adalah kita menjadi berselera terhadap firman Tuhan, dan Allah menjadi menarik. Mereka yang tidak memahami hal ini mungkin berpikir bahwa kita memiliki masalah kejiwaan, karena reaksi kita terlalu berbeda dan terlalu aneh! Namun, kita tahu bahwa tidak ada yang salah dengan kita. Satu-satunya hal yang terjadi adalah seluruh diri kita memiliki perpalingan yang batini. Sejak hari itu, bagi kita dunia berubah warna. Ini adalah perubahan yang sejati. Dunia menjadi benar-benar hambar bagi kita. Di sisi positif, karena Tuhan, kehidupan kita menjadi penuh dengan makna, kemulian dan tujuan. Ini membuktikan bahwa kita telah melihat visi yang mulia.

Ketika Allah yang mulia ini menyatakan diri-Nya sendiri kepada kita, kehidupan kita pun berubah. Hal ini tidak dapat ditiru atau disangkal. Pada suatu waktu, Anda mungkin menjadi agak dingin, atau lemah, atau agak mundur, atau tertekan. Tetapi Anda tidak dapat melupakan visi ini. Walaupun Anda kembali ke dunia dan menginginkan dunia, tetapi perasaan di dalam Anda tidak akan sama. Anda tidak akan merasakan apapun. Allah akan membangkitkan lingkungan untuk membawa Anda kembali. Dia akan menyatakan kemuliaan-Nya kepada Anda kembali dan akan membuat Anda mempersembahkan diri Anda kembali kepada Allah yang mulia ini. v

SEPANJANG HIDUP MELAYANI ALLAH BERDASARKAN VISI

Ketika rasul Yohanes sudah tua, dia diasingkan di pulau Patmos. Di sana dia melihat pemandangan demi pemandangan mengenai visi. Seluruh kitab Wahyu dari pasal pertama hingga pasal terakhir. Pemandangan terakhir adalah Yerusalem Baru (Why. 22). Karena itu, Anda dapat melihat bahwa apa yang dibicarakan Yohanes adalah visi-visi yang dia lihat. Dia tidak sedang bercerita, melainkan dia membicarakan setiap aspek yang dia lihat. Ini adalah kitab Wahyu. Ini benar-benar sebuah penyingkapan.

Dua Petrus 1:3 berkata bahwa Allah “telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” Di dalam Yerusalem Baru, setiap orang yang diselamatkan seharusnya adalah orang-orang yang telah menerima panggilan Allah yang mulia. Kita semua telah melihat kemuliaan-Nya, telah ditarik oleh-Nya, dan berada di bawah pengaruh-Nya. Kita tidak bisa lagi sama seperti kita yang dulu, yaitu orang-orang dunia yang umum. Kita adalah orang-orang yang khusus, karena Tuhan telah memanggil kita. Kita tidak peduli akan surge atau bumi. Kemuliaan yang kita lihat ini adalah makna hidup kita. Hal ini juga menjadi sasaran kita, amanat kita, dan beban kita. Kita tidak peduli akan lingkungan atau apa yang dipikirkan orang lain mengenai kita. Ada sesuatu di dalam kita yang tidak dapat kita sangkal atau tidak dapat kita tidak taati. Ini adalah visi yang kita lihat. Kita harus melayani Allah berdasarkan visi ini sepanjang hidup kita. vi

KESAKSIAN YANG KUAT MEMBUAHKAN HASIL YANG KUAT

Di abad pertama, orang-orang tidak dapat memberitakan Injil dengan bebas. Mereka tidak pergi ke gedung-gedung gereja. Pada waktu itu orang-orang percaya karena mereka melihat Injil dan melihat orang-orang Kristen. Orang-orang Kristen pada waktu itu bersembunyi di dalam rumah mereka. Ketika mereka digantung di tiang api, itulah pertama kalinya mereka dilihat dan didengar. Efek dari melihat Injil lebih kuat dibandingkan mendengar Injil. Injil ini memperlihatkan kepada manusia bahwa keselamatan itu tidak murahan. Doa-doa para martir selama jam-jam itu menjadi berita bagi Injil mereka. Sejarahwan memberitahu kita bahwa kaum beriman di Roma dibunuh pertama kali, dan mereka yang tidak dibunuh akan diasingkan.

Kekristenan hari ini lemah bagi orang lain karena di dalam kita lemah. Selama abad pertama, orang-orang merasa takut, tetapi mereka tetap datang. Hari ini orang-orang Kristen yang suam-suam kukuh adalah orang-orang yang tidak berguna. Di satu sisi, kesaksian kaum beriman sebermula membuat banyak orang menjadi takut. Tetapi di sisi lain, Injil yang seperti ini juga membuat banyak orang menjadi takut untuk melarikan diri. Di mana ada pelayanan dari para rasul, di sana ada berkat para rasul. Hari ini, seluruh tanggung jawab tergantung pada pekerjaan kita. Jika Tuhan tidak memiliki jalan di atas kita, maka Dia tidak akan memiliki jalan di mana-mana. Dua puluh tahun yang lalu, ketika kita sedang berdoa dan mencari, Tuhan menampakkan diri-Nya kepada kita. Namun, jika seorang pemimpin muda datang hari ini, dia tidak akan tinggal lebih lama. Hari ini kita harus mempersembahkan seluruh uang, waktu, dan hati kita. Hanya demikianlah Allah baru memiliki jalan, dan hanya demikianlah kita dapat mencapai takdir kita. Kita tidak dapat membiarkan uang membuat hati kita susah, dan kita tidak boleh membiarkan uang menghalangi jalan manusia kepada Allah. Semua saudara dan saudari harus ikut serta dalam pekerjaan rohani, dan semua harta milik harus dipersembahkan. Jika kita melakukan hal ini, Tuhan akan memiliki jalan yang leluasa di antara kita.

KONSEKRASI MEMBAWA PELAYANAN YANG TUNGGAL

Kita harus memberitahu saudara saudari muda bahwa apapun yang mereka lakukan di masa depan, apakah itu berkaitan menjadi seorang guru atau seorang dokter, hanya dapat dilakukan sebagai pekerjaan sampingan. Setiap dari kita hidup untuk tujuan melayani Allah. Kita memberitahu orang-orang untuk mempersembahkan milik mereka karena kita tidak dapat melayani Allah tanpa mempersembahkan milik kita. Tuhan berkata bahwa seorang manusia tidak dapat melayani dua tuan; ia tidak dapat melayani Allah dan mamon dalam waktu bersamaan (Mat. 6:24). Keledai betina harus dilepaskan (21:2), dan segala sesuatu harus dipersembahkan dan dilepaskan sebelum seseorang dapat melayani. Orang-orang yang tidak dilepaskan tidak dapat melayani.

Jika seseorang bertanya kepada saya, berapa banyak yang harus ia persembahkan, saya akan menjawab, “Semuanya.” Saudara Lee berkata bahwa gereja akan meletakkan ke samping hal-hal yang dipersembahkan bagi kita. Tetapi apa yang kita lakukan jika gereja tidak meletakkan hal-hal tersebut ke samping? Jika kita mau melayani Allah, kita harus melayani-Nya dengan ngotot. vii

MENYALURKAN TUHAN

Beberapa kaum beriman berpikir bahwa seseorang dapat melayani Tuhan sepenuh waktu baik untuk seumur hidup atau hanya sementara untuk sejangka waktu. Meskipun demikian, menjadi full-timer adalah selalu untuk seumur hidup. Apakah seseorang yang akan menikah berunding dengan pasangannya untuk menikah hanya untuk dua tahun? Pernikahan adalah seumur hidup. Seperti halnya demikian, percaya ke dalam Tuhan Yesus adalah tidak hanya seumur hidup tetapi juga untuk kekekalan. Meskipun adakalanya kita memiliki pemikiran-pemikiran kedua, Allah memilih kita dan memanggil, dan hal ini dapat dibatalkan (11:29). Oleh karena itu, dalam apapun yang kita lakukan, kita tidak boleh lupa panggilan kita. Panggilan kita bukanlah untuk menikah atau menghasilkan uang, melainkan untuk menyalurkan Yesus. Seorang ibu dengan delapan anak harus tetap menyalurkan Yesus kepada orang lain. Ini adalah visi surgawi yang telah kita terima. Kita harus seperti Paulus dan berkata bahwa kita tidak bisa tidak taat pada penglihatan yang dari surga. Apakah kita kuat atau lemah, menang atau gagal, itu tidak penting; satu hal yang pasti – kita harus menjadi penyalur Yesus selama kita hidup. viii

PERLUNYA DIIKAT KEPADA TUHAN

Seseorang yang melayani Tuhan harus melakukan segala sesuatu melalui diikat pada Tuhan, melalui berada dalam kesatuan dengan Tuhan. Dengan kata lain, ia harus melayani dengan bersandarkan Tuhan. Kita sering tidak mampu bangkit untuk menjawab tuntutan Tuhan dan memenuhi keperluan Tuhan, namun ketika kita mampu bangkit untuk memenuhi keperluan Tuhan, ada resiko untuk tidak bersandarkan Tuhan. Adalah hal yang mungkin untuk tidak bersandar Tuhan atau memandang kepada Dia, karena kita mampu bekerja menurut kemampuan, kerajinan, dan kesungguhan kita. Setiap orang yang melayani Tuhan harus menghindari tindakan sendiri. Bertindak sendiri adalah mengesampingkan Tuhan, tidak bergantung pada Dia, tidak berdoa pada Dia, tidak diikat kepada Dia, tetapi melakukan pekerjaan seluruhnya oleh kita sendiri.

Sebagai pelayan yang tepat, kita harus menghentikan pemikiran, pandangan, dan konsep kita, karena tidak seharusnya satu pun pelayanan keluar dari diri kita. Seluruh pelayanan kita harus dari Tuhan; oleh karena itu, kita harus menghentikan diri kita sendiri. Kita dapat menerima perintah dan wahyu Tuhan hanya ketika kita menghentikan diri kita sendiri.

Ketika seseorang memiliki perintah Tuhan dan menerima wahyu Tuhan, ia harus segera bangkit untuk bekerjasama dengan Tuhan. Beberapa orang tidak bangkit karena mereka belum dipersiapkan dengan cukup. Misalkan, beberapa orang memiliki karakter yang cepat puas, dan yang lainnya tidak mengenal Alkitab. Kedua alasan tersebut menghalangi kita untuk dapat bangkit. Yang lain tidak dapat bangkit karena istri, anak-anak, dan orang tua. Ketika Tuhan datang untuk memanggil orang-orang, beberapa orang tidak dapat menjawab panggilan-Nya karena mereka harus memperhatikan istri, anak-anak, orang tua, dan bahkan kehidupan dan keamanan mereka (Ul. 13:6; 24:5; Luk.14:17-20,26). Demikian pula, banyak orang memiliki panggilan Tuhan hari ini, tetapi mereka tidak bangkit karena kepentingan pribadi mereka.

Orang-orang yang dapat menjawab panggilan Tuhan adalah sederhana. Ketika Yakobus dan Yohanes sedang memperbaiki jala mereka di tepi laut Galilea, mereka meninggalkan perahu dan ayah mereka dan mengikut Tuhan segera setelah mereka mendengar panggilan-Nya (Mat. 4:21-22). Jawaban mereka terhadap panggilan Allah adalah standar. Tidak ada indikasi bahwa mereka membuat pengaturan bagi ayah, perahu dan jala mereka. Jawban mereka cepat, sederhana, dan tanpa peduli terhadap konsekuensinya. Ini sungguh adalah sebuah pola. Sulit untuk menemukan seseorang yang bangkit untuk menjawab panggilan Tuhan tanpa memikirkan keperluannya terlebih dahulu. Banyak saudara saudari menjawab panggilan Tuhan, tetapi mereka melakukannya dalam jalan yang mengulur-ulur; mereka perlu membuat pengaturan bagi ”perahu” mereka dan “jala” mereka, dan mereka juga perlu memilki rencana yang tepat untuk merawat “ayah” mereka, sehingga sahabat dan teman-teman mereka tidak akan menyalahpahami dan kesaksian Tuhan tidak akan rusak. Namun anehnya, kelompok orang-orang Galilea ini tidak memiliki pertimbangan-pertimbangan ini. Mereka meninggalkan perahu dan jala mereka dan bahkan tidak peduli mengenai ayah mereka; mereka dengan sederhana bangkit untuk memenuhi keperluan Tuhan. Dalam Injil Matius seorang murid berkata kepada Tuhan, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Dan Tuhan berkata, “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (8:21-22). Kapansaja Tuhan memanggil seseorang, Ia tidak mengizinkan orang tersebut untuk membuat pengaturan. Jika Tuhan tidak memanggil, tidak ada yang dapat kita lakukan. Meskipun demikian, sekali Ia memanggil, kita harus segera menjawab panggilan-Nya dan tanpa syarat, inilah yang diperlukan bagi seseorang untuk bangkit. Meskipun banyak saudara saudari memiliki panggilan Tuhan, mereka tidak dapat bangkit. Pertama kali Ia memanggil, kita mempertimbangkan; kedua kali Ia memanggil, kita tetap tidak dapat bangkit; ketiga dan keempat kali Ia memanggil, semakin sulit bagi kita untuk bangkit. Melalui kehidupan mereka, beberapa orang Kristen dipanggil terus-menerus, tetapi mereka tidak dapat bangkit. Saat terakhir menjelang kematian mereka, mereka hanya memiliki penyesalan. Kita harus melihat dengan serius ketika panggilan Tuhan datang, kita harus bangkit secepatnya untuk menjawab panggilan-Nya dan memenuhi keperluan-Nya hari ini.

KESELAMATAN TUHAN MENJADI PANGGILAN-NYA

Dalam penebusan Allah tidak ada yang dapat dilakukan di luar manusia. Allah memerlukan manusia untuk bekerjasama dan bergerak bersama Dia. Hanya Kekristenan yang merosot mengajarkan bahwa hanya beberapa orang dan tidak yang lain, yang dapat melayani Allah. Hanya sedikit dari mereka yang tahu bahwa dalam keselamatan Allah, setiap orang harus melayani Allah. Allah menyelamatkan semua orang dan memanggil semua orang. Selama seseorang mau untuk menerima keselamatan-Nya, Tuhan menyelamatkannya; selama seseorang mau menjawab panggilan-Nya, Tuhan memanggilnya. Masalahnya bukanlah Ia tidak menyelamatkan atau memanggil, tetapi kita tidak mau menerima keselamatan-Nya dan menjawab panggilan-Nya.

Keselamatan Tuhan adalah panggilan-Nya; semua orang yang mengenal Allah mengerti hal ini. Tuhan menyelamatkan kita untuk memanggil kita agar kita melayani Dia. Injil menunjukkan bahwa ketika Tuhan di bumi, setiap orang yang diselamatkan juga dipanggil. Dalam Alkitab tidak ada contoh panggilan Tuhan itu terpisah dari keselamatan-Nya. Alkitab tidak menunjukkan bahwa Petrus percaya tetapi tidak dipanggil. Petrus dipanggil pada saat yang sama ketika ia diselamatkan. Keberadaannya yang diselamatkan adalah keberadaannya yang dipanggil, dan keberadaannya yang dipanggil adalah keberadaannya yang diselamatkan. Seperti halnya demikian, Natanael dipanggil pada saat yang sama dan di tempat yang sama ketika ia diselamatkan (Yoh. 1:47-49). Paulus tidak diselamatkan di Damsyik dan dipanggil di padang belantara; melainkan, ia dipanggil ketika ia diselamatkan.

Dalam Perjanjian Baru tidak ada seorangpun yang panggilannya terpisah dari keselamatannya. Kita tidak dapat menemukan sebuah contoh dalam Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa seseorang diselamatkan tetapi dipanggil kemudian. Jika kita benar-benar telah diselamatkan, panggilan Allah datang di hari kita diselamatkan. Keselamatan dan panggilan adalah satu. Orang yang diselamatkan dengan sungguh-sungguh memiliki hasrat yang dalam untuk melayani Allah ketika ia diselamatkan. Jika seseorang yang diselamatkan dengan sungguh-sungguh tidak mau melayani Allah, maka keselamatan-Nya dipertanyakan. Apakah kita tidak memiliki hasrat melayani Allah pada hari pertama kali kita diselamatkan? Kita memiliki hasrat ini karena panggilan Allah termasuk di dalam keselamatan-Nya. Allah menyelamatkan kita sehingga kita dapat melayani Dia. Allah menyelamatkan semua orang dan memanggil semua orang.

MENJAWAB PANGGILAN TUHAN

Segala sesuatu yang berkaitan dengan penebusan Allah bergantung pada manusia; oleh karena itu, tanpa manusia, Allah tidak dapat melakukan apapun. Seluruh pekerjaan dalam penebusan-Nya dilaksanakan melalui manusia, dengan manusia, dan dalam perbauran dengan manusia, dan Dia menyelamatkan kita sehingga kita dapat melayani Dia. Masalah kita, meskipun demikian, adalah kita tidak dapat bangkit. Kita ingin memelihara istri, anak-anak, orangtua, keluarga, karier, masa depan, reputasi, dan kekayaan kita.Banyak hal yang ingin kita jaga sehingga kita tidak dapat bangkit. Kita dapat menjadi cepat dan tegas. Kita tidak memiliki keberanian dan tidak siap untuk mengambil resiko. Kita hanya ingin menjadi seorang Kristen yang aman. Namun, seorang Kristen yang memenuhi standar, mengambil resiko. Menjawab panggilan Tuhan mengharuskan kita untuk mengambil resiko. Beberapa orang Kristen nampaknya bangkit, tetapi karena mereka belum cukup diremukkan dan ditanggulangi, mereka tidak dapat tahan menderita dan gagal setelah sejangka waktu. Oleh karena itu, kita harus melihat bahwa di antara banyak orang Kristen, bukanlah hal yang mudah bagi Tuhan untuk menemukan beberapa orang yang dapat memenuhi keperluan-Nya. Jarang ada orang-orang seperti itu.

Seseorang yang bangkit bagi Tuhan perlu memiliki keberanian untuk mengambil resiko dan memiliki tekad yang kuat dan teguh. Seorang yang penakut dan pengecut tidak dapat bangkit. Sangat sering, di antara seratus orang yang Tuhan selamatkan, kurang dari lima orang yang mau bangkit bagi Dia. Sebagian orang Kristen itu penakut, lemah di dalam tekad, pengecut dan acuh tak acuh. Orang-orang seperti ini sulit untuk bangkit, dan walaupun mereka bangkit, tidak banyak yang bisa berguna. Mereka yang bangkit harus memiliki keberanian dan talenta tertentu. Setiap orang yang berguna bagi Tuhan harus memiliki tekad yang kuat, keberanian, dan setidaknya memiliki beberapa kemampuan. ix

i.

Witness Lee, The Glorious Vision and the Way of the Cross, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1989), 8

ii. Witness Lee, Three Aspects of the Church: Book 3, The Organization of the Church, (Anaheim: Living Stream Ministry, 2007), 121-125

iii. Witness Lee, The Glorious Vision and the Way of the Cross, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1989), 8-10

iv. Witness Lee, The Experience and Growth in Life, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1990), 177-179

v. Witness Lee, The Glorious Vision and the Way of the Cross, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1989), 10-12

vi. Witness Lee, The Glorious Vision and the Way of the Cross, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1989), 15

vii. Watchman Nee, The Collected Works of Watchman Nee, Vol. 57: The Resumption of Watchman Nee's Ministry, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1989), 204-205

viii. Witness Lee, The Vision, Living, and Work of the Lord’s Serving Ones, p.133

ix. Witness Lee, Knowing Life and the Church, (Anaheim: Living Stream Ministry, 1989), 225-228