PEMBASUHAN HAYAT DALAM KASIH UNTUK MEMPERTAHANKAN PERSEKUTUAN (1)
Dalam berita ini kita akan melihat Yohanes 13, sebuah pasal yang sangat menarik dan bermakna. Mungkin semua orang Kristen mengetahui bahwa ada sebuah pasal dalam kitab Injil mengenai Tuhan membasuh kaki murid-murid-Nya. Nampaknya mudah sekali bagi seseorang untuk memahami pasal ini, namun sebenarnya sama sekali tidak mudah untuk mengerti makna sesungguhnya. Pada umumnya orang Kristen hanya percaya bahwa membasuh kaki orang-orang lain itu menunjukkan kasih terhadap mereka. Bahkan ada beberapa orang beriman memegang teguh kebiasaan pembasuhan kaki setiap kali menghampiri meja Tuhan. Di depan meja Tuhan, mereka saling membasuh kaki untuk menyatakan kasih mereka kepada yang lain. Ini tidak salah kecuali jika dijadikan peraturan. Kalau tidak merupakan peraturan, maka kesempatan untuk menunjukkan saling mengasihi dengan jalan saling membasuh kaki itu benar. Pada masa lampau saya telah beberapa kali membasuh kaki orang lain dan orang lain membasuh kaki saya. Sering kali kita wajib membiarkan Tuhan memimpin kita saling melakukan hal ini. Namun perkara pembasuhan kaki ini memiliki arti yang lebih penting. Sebagaimana kita nampak, segala sesuatu yang disebutkan dalam Injil ini adalah tanda yang menunjukkan sesuatu yang lebih dalam dan rohani. Karena itu, pembasuhan kaki juga adalah suatu tanda yang memiliki arti yang lebih dalam dan rohani. Namun untuk menemukan makna rohani dari tanda ini, tidaklah mudah. Apa maknanya yang lebih dalam dan rohani?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita harus mengetahui kedudukan pasal ini dalam Injil Yohanes secara keseluruhan. Kedudukannya ialah sebagai titik putar dalam Injil. Injil Yohanes terutama dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama terdiri atas pasal 1-13, yang memberi tahu kita bahwa Tuhan sebagai Firman yang kekal, yakni Allah sendiri, adalah Putra Allah datang melalui inkarnasi, membawa Allah ke dalam manusia, menjadi hayat manusia, untuk menghasilkan gereja. Bagian kedua terdiri atas pasal 14-21, yang mewahyukan Tuhan sebagai Anak Manusia, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, membawa manusia ke dalam Allah, sehingga manusia dan Allah, Allah dan manusia dapat dibangun bersama, saling menghuni. Yohanes 13, pada akhir bagian yang pertama, merupakan garis pemisah dan titik putar yang memutar catatan dari satu arah ke arah lain.
Apa fokus pemikiran bagian pertama Injil Yohanes itu? Yaitu Tuhan sebagai Firman yang kekal, yang adalah ekspresi Allah, datang menjadi hayat kita, memenuhi seluruh keperluan kita dan menjadikan kita anggota Tubuh-Nya. Yohanes 1 mewahyukan Tuhan sebagai Firman yang kekal, yakni sebagai ekspresi Allah. Kemudian kita nampak Tuhan datang menjadi hayat kita supaya kita dapat menerima-Nya sebagai hayat kita untuk memenuhi semua keperluan kita. Kesembilan peristiwa itu menunjukkan bahwa Tuhan sebagai hayat dapat memenuhi semua keperluan kita. Kemudian Yohanes 12 mewahyukan bahwa Tuhan sebagai sebiji gandum harus melalui kematian dan kebangkitan untuk menghasilkan kita banyak biji; yang sedang diolah bersama menjadi seketul roti, yakni Tubuh-Nya gereja.
Butir inti bagian kedua ialah Tuhan yang berinkarnasi, disalibkan, dan bangkit telah ditransfigurasi dari daging menjadi Roh. Ia telah ditransfigurasi dari ekspresi Allah dalam daging menjadi Roh, sehingga Ia dapat masuk ke dalam kita sebagai hayat. Perhatikan, saya menggunakan ungkapan “transfigurasi”. Tuhan bertransfigurasi dari daging menjadi Roh, sehingga Ia dapat masuk ke dalam Roh kita, di dalam roh kita menjadi hayat kita, dan di dalam roh kita bersatu dengan kita. Sebagai Roh itu, Ia di dalam kita dan kita di dalam Dia. Kini Dia dan kita, kita dan Dia, berbaur bersama menjadi satu.
Dalam bagian pertama Injil Yohanes, Tuhan datang membawa Allah ke dalam kita, dan dalam bagian akhir, Tuhan pergi membawa kita ke dalam Allah. Dalam 12 pasal yang pertama, Tuhan datang melalui inkarnasi, membawa Allah masuk ke dalam manusia. Dalam 8 pasal yang terakhir, Tuhan pergi melalui kematian dan kebangkitan untuk membawa manusia ke dalam Allah.
Di antara dua bagian ini, Yohanes 13 berdiri sebagai titik putar. Ayat 3 mengatakan, “Yesus tahu . . . bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.” Karena itu, saya berkata bahwa pasal 13 merupakan titik putar dalam Injil ini.
Ada sejangka waktu yang cukup lama, saya benar-benar dipersulit oleh pasal ini. Saya tidak mengerti mengapa pembasuhan kaki tidak tercatat sebelum pasal 11 atau setelah pasal 14. Saya tak tahu mengapa pembasuhan kaki terdapat dalam pasal 13. Saya dipersulit oleh kedudukan pasal ini karena mengetahui bahwa dari pasal 1-12, Tuhan sebagai firman telah membagikan diri-Nya sebagai hayat kepada banyak orang dan akhirnya dihasilkan gereja. Gereja terdapat dalam pasal 12. Tuhan ialah Anak Domba Allah yang menghapus dosa, Ia ditinggikan dalam bentuk ular untuk menanggulangi sifat ular, dan Ia juga sebiji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati untuk menghasilkan banyak biji. Di satu aspek, dalam pasal 12, segala sesuatu telah genap. Seolah-olah bagi saya tidak perlu ada pasal 13. Sebab itu saya merasa sulit. Saya mengira pasal 14 harus segera melanjutkan pasal 12, dan pasal 13 sama sekali tidak perlu. Saya menggunakan banyak waktu di hadapan Tuhan untuk mengetahui mengapa diperlukan pasal 13. Akhirnya Tuhan memberi tahu saya, mengapa perlu ada pasal 13 setelah pasal 12. Pembasuhan kaki yang terdapat pada pasal 13 sangat bermakna. Dalam pasal 13, titik putar Injil Yohanes ialah Tuhan membasuh kaki murid-murid-Nya. Ini sangat berarti.
I. DIBASUH OLEH TUHAN SENDIRI
A. Mengasihi Sampai pada Kesudahannya
Ayat 1 mengatakan bahwa Tuhan “. . . mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya.” Karena kasih ini, Tuhan membasuh kaki murid-murid-Nya. Jadi, pembasuhan kaki adalah masalah kasih, kasih yang sampai pada kesudahannya. Tanpa ini, kasih Tuhan terhadap kita tidak sampai pada kesudahannya, tidak cukup untuk memenuhi keperluan kita. Ini menunjukkan pentingnya pembasuhan kaki. Inilah keperluan kita sampai pada kesudahannya. Dalam kesembilan peristiwa yang terdahulu, Tuhan telah memenuhi semua keperluan kita. Setelah semua ini, kita masih perlu ada pembasuhan kaki. Karena itu, Tuhan memperhatikan hal ini dengan menunjukkan kepada kita bahwa kasih-Nya sampai pada kesudahannya.
B. Tahu bahwa Segala Sesuatu
Telah Allah Serahkan kepada-Nya
Ayat 3 menunjukkan mengapa Tuhan membasuh kaki murid-murid-Nya. Sebab Ia tahu “bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah” (ayat 3). Pada saat itu, Ia tahu akan tiga hal: (1) Bapa telah menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya, (2) Ia datang dari Allah, dan (3) Ia kembali kepada Allah. Karena ketiga hal inilah Ia membasuh kaki murid-murid-Nya. “Segala sesuatu” yang Bapa serahkan kepada-Nya terutama adalah murid-murid-Nya. Kedatangan-Nya dari Allah membawa Allah ke dalam murid-murid-Nya; sedangkan dalam kepergian-Nya kepada Allah, Ia harus meninggalkan murid-murid-Nya. Bapa telah menyerahkan murid-murid kepada Tuhan, Tuhan juga telah membawa Allah ke dalam murid-murid; tetapi sekarang Ia akan meninggalkan mereka. Karena Ia datang dari Allah, dan membawa Allah ke dalam mereka, maka di dalam Dia terjalinlah suatu hubungan antara murid-murid dengan Allah. Sekarang Ia akan meninggalkan mereka. Setelah Ia meninggalkan mereka, bagaimana komunikasi antara murid-murid dengan Allah dapat dipertahankan? Dengan pembasuhan kaki. Pembasuhan kaki bertujuan membasuh kaki dari semua nista yang menghalangi persekutuan Allah dengan manusia. Dengan melakukan hal ini, Tuhan menunjukkan kepada murid-murid-Nya jalan untuk mempertahankan komunikasi mereka dengan Allah di dalam-Nya.
Pengertian macam ini dapat dibenarkan dalam suatu arti negatif oleh ayat 2 yang mengatakan bahwa pada saat itu Iblis telah “membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.” Tujuan perbuatan jahat Iblis ialah menjauhkan orang dari Allah. Tetapi apa yang Tuhan lakukan dalam pembasuhan kaki murid-murid-Nya ialah mempertahankan komunikasi murid-murid-Nya dengan Allah di dalam-Nya. Ketika Iblis bekerja menjauhkan orang dari Allah, Tuhan melakukan pembasuhan kaki sebagai suatu jalan untuk mempertahankan komunikasi murid-murid-Nya dengan Allah di dalam-Nya.
C. Menanggalkan Jubah-Nya
Ketika Tuhan Yesus hendak membasuh kaki murid-murid-Nya, Ia menanggalkan jubah-Nya (ayat 4). Jubah di sini melambangkan kebajikan dan atribut Tuhan yang Ia ekspresikan. Jadi, Dia menanggalkan jubah-Nya, berarti Dia meletakkan apa adanya Dia dalam ekspresi-Nya. Kalau Tuhan tetap dalam semua apa adanya Dia dalam kebajikan dan atribut-Nya, Ia takkan dapat membasuh kaki murid-murid-Nya.
D. Mengikat Pinggang-Nya
Ketika Tuhan menanggalkan jubah-Nya, Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya (ayat 4). Mengikat pinggang melambangkan mengekang, membatasi diri dengan kerendahan hati (lihat 1Ptr. 5:5). Dalam kerendahan hati Ia melepaskan kebebasan-Nya sehingga Ia dapat melayani murid-murid-Nya.
E. Membasuh Kaki Murid-murid-Nya dengan Air
1. Air Melambangkan Roh Kudus, Firman, dan Hayat
Tuhan membasuh kaki murid-murid dengan air (ayat 5). Di sini, air melambangkan Roh Kudus (Tit. 3:5), firman (Ef. 5:26, Yoh. 15:3), dan hayat (Yoh. 19:34). Sebagaimana kita akan nampak, Tuhan membasuh kita secara rohani melalui pekerjaan Roh Kudus, penerangan firman, dan pergerakan hukum hayat yang di dalam. Dalam Alkitab, ketiga hal ini masing-masing dilambangkan dengan air.
2. Membasuh Cemar Sentuhan Duniawi
Tuhan telah datang melalui inkarnasi untuk membawa Allah ke dalam kita, dan Ia pergi melalui kematian dan kebangkitan untuk membawa kita ke dalam Allah. Kedua-duanya terlaksana di dalam roh kita. Mengenai roh kita, Allah dibawa ke dalam kita melalui kedatangan Tuhan dan kita dibawa ke dalam Allah melalui kepergian Tuhan. Namun mengenai tubuh jasmani kita, kita masih tetap di bumi ini. Dalam roh, kita telah dihubungkan kepada sesuatu yang surgawi, rohani, dan kekal; namun dalam tubuh kita, kita tetap berada di bumi. Dalam roh kita, Tuhan membawa Allah ke dalam kita dan kita ke dalam Allah. Dalam roh kita, kita ini satu dengan Allah. Dalam roh kita, kita berada di surga, sebab kita di dalam Allah. Tetapi dalam tubuh kita, kita tetap berada di bumi. Mengenai roh kita yang dilahirkan kembali, kita bukan lagi ciptaan lama, melainkan ciptaan baru. Tetapi, mengenai tubuh kita, kita tetap dalam ciptaan lama dan berada di bumi. Di satu pihak, kita adalah ciptaan baru, kita di dalam Allah, dan kita pun berada di surga. Ini benar dan riil. Di pihak lain, kita tetap dalam ciptaan lama, tetap berada di bumi ini.
Walaupun kita telah memiliki hayat ilahi dan menjadi gereja, kita masih hidup di bumi, dalam tubuh daging yang telah jatuh ini. Melalui sentuhan dunia, kita sering menjadi cemar. Ini tak dapat dielakkan, karena kita tak dapat menghindari sentuhan dunia. Kaki kita adalah anggota tubuh kita yang menyentuh bumi. Hari demi hari kita menyentuh bumi dengan kaki kita. Pada zaman dahulu, orang-orang Yahudi pergi ke mana pun dengan berjalan kaki, sehingga dengan sendirinya kaki mereka selalu menyentuh bumi. Bila mereka menyentuh bumi, kaki mereka pasti kotor. Maka, pembasuhan kaki betul-betul mereka perlukan. Secara rohani, ini sama halnya dengan kita.
Cemar berbeda dengan dosa. Berdosa adalah suatu perkara dan cemar adalah perkara lain. Mungkin Anda mutlak tak berdosa, namun sangat cemar. Mungkin tidak ada sesuatu yang salah, namun Anda cemar hanya karena sentuhan duniawi. Apakah Anda menyadari bahwa kita masih tetap berada dan berjalan di bumi? Kita selalu menyentuh bumi dan ini membuat kita cemar. Akibatnya, kita sering kali tidak bersih. Karena itu kita perlu pembasuhan kaki.
3. Memelihara Persekutuan dengan Tuhan dan dengan Satu Sama Lain
Tahukah Anda kapan orang Yahudi membasuh kaki mereka? Mereka khususnya membasuh kaki mereka ketika datang ke suatu perjamuan. Suatu perjamuan ialah pusat persekutuan. Pada saat itu, orang Yahudi memakai sandal, dan karena jalan berdebu, kaki mereka mudah kotor. Kalau mereka datang ke suatu perjamuan tanpa membasuh kaki lebih dulu, mereka akan duduk dengan kaki yang kotor. Kotoran dan bau kotoran itu akan mengganggu persekutuan. Sebab itu, untuk melangsungkan suatu perjamuan yang menyenangkan, mereka perlu pembasuhan kaki. Ketika para tamu diundang ke pesta di mana mereka saling bersekutu, mereka harus membasuh kaki mereka sebelum bersekutu. Tanpa pembasuhan, persekutuan akan terhalang. Sebelum mereka berkumpul di perjamuan dan bersekutu di depan meja, mereka harus dibasuh. Jika tidak, mereka takkan mempunyai persekutuan yang menyenangkan. Lagi pula, pada waktu itu mereka tidak duduk di kursi seperti kita, tetapi mereka duduk di lantai dengan menyelonjorkan kaki mereka. Kalau kaki mereka kotor, bau busuk itu akan sangat menusuk hidung. Kadang perjalanan mereka sangat jauh dan menempuh jalan yang berlumpur. Akibatnya, kaki mereka sangat kotor dan baunya menyengat. Kalau mereka berkumpul dan menyelonjorkan kaki mereka, persekutuan mereka takkan menyenangkan.
Karena Injil Yohanes adalah sebuah kitab lambang, catatan mengenai pembasuhan kaki di sini, harus pula dipandang sebagai lambang yang memiliki makna rohani. Jangan mengartikan pembasuhan kaki hanya dalam arti jasmaniah, melainkan juga arti rohaniahnya. Karena ini adalah suatu lambang, makna pembasuhan kaki ialah demi persekutuan dengan Tuhan dan dengan satu sama lain. Kalau Anda datang dan menelonjorkan kaki Anda tanpa membasuhnya, persekutuan antara Anda dengan yang lain akan terhalang. Dalam dunia ini, kita setiap hari menyentuh bumi. Bumi yang kita sentuh ini membuat kita kotor dan menghalangi persekutuan dengan Tuhan dan dengan satu sama lain. Jadi, pembasuhan kaki berarti ketika masih berada di bumi ini, Tuhan sebagai Roh pemberi hayat membasuh kaki kita, yakni Tuhan selalu memelihara jalan kita bersih dari setiap macam kotoran yang disebabkan oleh sentuhan dunia. Hari ini kita harus menyadari bahwa Tuhan damba membasuh dan memelihara kita agar bersih dari cemar yang kita peroleh dari sentuhan kita dengan dunia.
Dalam Yohanes 13, Tuhan memberikan sebuah contoh melalui pembasuhan kaki murid-murid agar mereka dapat memiliki persekutuan yang menyenangkan, sambil menikmati Tuhan satu sama lain. Hari ini kita perlu pembasuhan kaki yang demikian. Pembasuhan kaki harus kita lakukan tidak hanya secara jasmaniah, lebih-lebih harus secara rohaniah, yang sangat berarti dalam hayat rohani kita. Hari ini dunia ini kotor dan kita, kaum beriman, mudah sekali terkena kotoran. Untuk memelihara persekutuan yang indah dengan Tuhan dan dengan satu sama lain, kita perlu pembasuhan kaki rohaniah.
4. Berbeda dengan Pembasuhan Dosa oleh Darah
Sebagaimana kita telah tunjukkan, menjadi kotor bukan berarti berdosa. Sering kali Anda tidak berdosa, tetapi Anda kotor. Di mana-mana ada debu. Alangkah mudahnya terkena kotoran. Ketika Anda hidup di bumi, walau Anda duduk, tidak bergerak, juga bisa menjadi kotor. Bumi ini penuh dengan kotoran. Maka dalam melakukan apa pun, Anda akan terkena kotoran. Bahkan ketika Anda mengendarai kendaraan di jalan menuju balai sidang pun, mata Anda mungkin secara tak sengaja melihat sesuatu yang menyebabkan Anda menjadi kotor. Sebelum Anda masuk ke dalam mobil, roh Anda hidup dan membubung, tetapi setelah mengendarai mobil selama sepuluh menit, walaupun Anda tidak ingin melihat sesuatu, namun hanya dengan melihat beberapa hal dalam perjalanan menuju balai sidang, Anda akan tercemar dan roh Anda tenggelam. Kadang kala bahkan dalam persekutuan kita pun kita dapat menjadi kotor.
Untuk perkara dosa kita perlu pembasuhan darah, tetapi untuk perkara yang kotor dan bukan dosa, kita perlu pembasuhan rohaniah. Kita perlu pembasuhan oleh Roh Kudus, firman hidup, dan hayat yang di dalam.
Karena menjadi kotor sangat dekat dengan menjadi berdosa, maka sangat sulit membedakan antara keduanya. Tidak mudah memberi gambaran yang jelas. Boleh jadi pada suatu hari Anda tidak senang terhadap istri Anda. Seorang suami tidak senang terhadap istrinya itu bukan berdosa. Ia tidak membencinya atau mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya atau kepadanya. Ia tidak marah terhadapnya. Ia hanya sedikit tidak senang terhadapnya. Sering kali istri mengasihi suami mereka secara berlebihan. Suami memerlukan kasih istri mereka, tetapi kadang kasih istri itu berlebihan. Kadang istri mengasihi suami dengan semacam kasih yang sedang tidak diperlukan pada saat itu. Pada saat diperlukan, kasih itu manis, tetapi kalau kasih diberikan terlalu banyak, itu berlebihan. Kasih yang terlalu banyak dapat menjadi suatu gangguan. Misalnya, seorang istri terlalu memperhatikan kesehatan suaminya, menghendaki suaminya memakai mantel ketika suaminya tidak benar-benar memerlukan. Ia takut kalau suaminya akan terkena flu dan ingin suaminya memakai baju ekstra. Perhatian yang sedemikian akan mengganggu suaminya dan membuatnya tidak senang. Ketidak senangan yang demikian bukan berdosa. Suaminya tidak mengatakan sepatah kata pun, tidak mengutarakan apa pun. Suaminya hanya sedikit tidak senang kepadanya. Sedikit rasa tidak senang itu akan menghalangi persekutuan indah antar mereka.
Apa yang harus kita lakukan dalam hal demikian? Mungkin Anda akan menggunakan darah, dengan berkata, “Tuhan, aku tidak senang karena istriku terlalu mengasihi aku. Aku menggunakan darah-Mu pada situasi ini.” Namun itu percuma. Anda perlu pembasuhan yang lain, bukan pembasuhan oleh darah, namun pembasuhan oleh Roh, firman hidup, dan hayat yang di dalam. Siapa yang mampu memberi Anda pembasuhan macam ini? Pertama, Tuhan Yesus sendiri; dan kedua, orang saleh yang memiliki banyak (penuh) hayat. Anda perlu mengeluarkan sejangka waktu untuk berada di hadirat Tuhan, menetap di hadirat Tuhan, maka Tuhan akan datang dan membasuh Anda. Bukan dengan darah, melainkan dengan Roh, firman hidup, dan hayat yang di dalam. Sulit mengatakan secara tepat kapan Ia menyelesaikan pembasuhan ini. Kadang kita hanya memerlukan beberapa menit untuk membasuh cemar itu, kadang mungkin setengah hari. Bila Anda memerlukan pembasuhan demikian, bukalah diri Anda kepada Tuhan. Ketika Anda mengeluarkan sejangka waktu untuk berada di hadirat-Nya dan membiarkan hayat yang di dalam mengalir, mengairi, dan mencuci Anda, Anda akan menjadi bersih lagi. Roh Anda akan ditinggikan dan seluruh insan Anda akan begitu indah dan menyenangkan di hadirat Tuhan. Inilah pembasuhan dengan air hidup di hadirat Tuhan.
Saudara saudari yang tinggal dan melayani bersama, tanpa disadari mudah sekali menyinggung perasaan orang lain. Mereka tidak saling bertengkar, karena bertengkar itu dosa. Mereka hanya menyakiti orang lain secara tanpa sadar. Mungkin Anda menyinggung perasaan saya tanpa menyadarinya. Namun saya sangat merasakan bahwa Anda telah melanggar saya. Akibatnya, di antara kita timbul sedikit kecemaran. Dengan demikian, kita sulit untuk memelihara persekutuan yang menyenangkan satu dengan yang lain. Bahkan walaupun kita tidak mengatakan apa pun dan berusaha belajar pelajaran salib, kita tetap menemukan bahwa persekutuan kita menjadi lembam. Kita perlu dibasuh.
Boleh jadi saudara yang tinggal bersama dalam Perumahan Saudara datang berdoa bersama. Beberapa di antara mereka sangat hidup dan yang lain sama sekali tidak hidup karena mereka telah menjadi kotor dan roh mereka tenggelam. Kadang semua saudara mungkin mati rasa dan roh mereka tenggelam. Itu bukan karena mereka semua telah berdosa. Mereka tidak saling mengkritik atau bertengkar satu dengan yang lain. Namun, semua saudara menjadi kotor karena mereka telah tinggal bersama selama sejangka waktu tanpa mengalami pembasuhan kaki yang wajar. Jadi, kaki mereka juga perlu dibasuh.
Menjadi kotor sangat dekat dengan berdosa. Kalau Anda melangkah lebih jauh lagi dalam kekotoran, Anda akan berdosa. Kecemaran macam ini mengganggu persekutuan kita. Semakin saya memandang Anda, roh saya semakin tidak dapat bangkit. Semakin Anda memandang saya, roh Anda semakin tenggelam; bahkan kalau kita berbicara satu dengan yang lain, kita tak dapat berbicara dengan nyaman. Kita tak dapat berpura-pura menjadi apa yang bukan apa adanya kita. Kalau roh kita menyenangkan, maka kata-kata kita pun akan menyenangkan. Namun, kalau kita tidak mempunyai roh yang menyenangkan, sebaliknya berpura-pura menyenangkan dalam kata-kata kita, situasi itu akan menjadi semakin buruk. Tahukah Anda mengapa begitu sering saudara dan saudari tidak dapat berdoa ketika mereka datang bersama? Sebab mereka semua telah menjadi kotor. Mereka semua perlu pembasuhan kaki satu sama lain.
Tuhan sekali lagi membasuh kaki kita melalui pekerjaan Roh Kudus, sorotan firman, dan pergerakan hukum hayat di dalam kita. Mungkin Tuhan membasuh kita bebe-rapa kali sehari. Saya dapat bersaksi bahwa Tuhan membasuh saya beberapa kali sehari dengan Roh, firman, dan hayat yang di dalam. Saya harus berjalan di bumi karena saya hidup di bumi. Saya tidak dapat menghindari sentuhan bumi. Saya harus bergaul dengan keluarga saya, dengan saudara dan saudari yang terkasih. Kadang seorang teman datang mengunjungi saya. Saya tak dapat menghindari pertemuan dengan dia, tetapi setelah kunjungannya, saya merasa kotor. Inilah sentuhan dunia. Lagi pula, saya bersentuhan dengan toko bila saya pergi berbelanja. Setelah saya ke toserba, saya merasa seakan-akan berada di dalam neraka. Ketika saya keluar dari toko tersebut, saya perlu segera dibasuh. Setiap kali saya pergi berbelanja, kaki saya menyentuh bumi dan menjadi sangat kotor. Tetapi Roh Kudus, firman Allah, dan hayat yang di dalam terus-menerus bekerja dan beroperasi untuk membasuh saya. Jika tidak, saya tak dapat mempertahankan persekutuan saya dengan Tuhan.
Setelah satu minggu berulang-ulang menyentuh dunia, apakah Anda merasa perlu pembasuhan ketika Anda datang ke meja Tuhan pada hari Tuhan? Tentu Anda merasa perlu pembasuhan kaki untuk membersihkan Anda dari cemar yang telah Anda timbun dari sentuhan dunia selama satu minggu. Kita perlu pembasuhan, tidak hanya pembasuhan darah yang adalah untuk dosa, tetapi juga pembasuhan oleh pekerjaan Roh Kudus, oleh sorotan firman, dan oleh pergerakan hayat di dalam untuk mencuci cemar yang ada karena sentuhan dunia.
5. Bukan Hanya Jasmani, Lebih-lebih Rohani
Sekarang kita tahu akan makna sesungguhnya mengenai pembasuhan kaki, yaitu suatu tindakan untuk mempertahankan persekutuan dalam hayat. Bukan hanya masalah jasmani, lebih-lebih harus merupakan pelaksanaan rohani. Kita harus mengartikan tanda ini dan bukan hanya memahaminya secara jasmani. Menurut makna rohani lambang ini, kita perlu membiarkan Roh, firman hidup, dan hayat yang di dalam untuk membasuh semua cemar yang tertimbun pada kita ketika kita menempuh hidup dalam tubuh daging dan berjalan di bumi yang berdebu ini.