HASIL DAN PERKEMBANGBIAKAN HAYAT (2)
II. PERKEMBANGBIAKAN HAYAT MELALUI
MATI DAN BANGKIT
Dalam berita ini kita sampai pada Yohanes 12 bagian kedua. Dalam bagian pertama pasal ini kita nampak bayang-bayang bahwa gereja telah muncul melalui Tuhan sebagai hayat kebangkitan. Kita mempunyai gereja oleh hayat kebangkitan-Nya. Tetapi bagaimana Tuhan dapat memperkembangkan gereja? Hal ini ditunjukkan dalam bagian kedua dari pasal ini (ayat 12-36a). Bagian pertama menunjukkan bagaimana gereja itu ada, sedangkan bagian kedua menunjukkan bagaimana Tuhan dapat memperkembangkan gereja melalui kematian dan kebangkitan-Nya.
A. Masa Keemasan bagi Yesus
Pada butir ini, menurut pandangan dunia, Yesus berada dalam masa keemasan-Nya. Kebangkitan Lazarus dari kematian adalah suatu mukjizat yang begitu mengejutkan semua orang. Ini benar-benar suatu mukjizat karena seorang mati yang telah dikuburkan selama empat hari dan bahkan sudah berbau busuk, dapat dibangkitkan kembali. Karena Tuhan telah membangkitkan Lazarus dari kematian, sekelompok orang Yahudi sangat menaruh hormat kepada-Nya dan menyambut-Nya dengan hangat (ayat 12-19). Mereka menyambut-Nya dengan berteriak, “Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Secara manusiawi, saat inilah yang paling mulia bagi Tuhan sejak Ia berada di bumi. Semua orang memuji Dia, menyambut-Nya, menghormati-Nya, dan menghargai-Nya. Bahkan orang-orang Yunani datang mencari Dia (ayat 20-22). Orang-orang Yahudi mengeluelukan-Nya; orang kafir dan orang-orang Yunani ingin mengikuti Dia. Dapatkah Tuhan menghasilkan dan memperkembangkan gereja dengan jalan menerima penyambutan dan penghormatan macam ini? Tidak, ini bukan jalan untuk menghasilkan dan memperkembangkan gereja. Ini bukan cara untuk menghasilkan gereja dan memperkembangkan gereja dalam hayat.
B. Seperti Sebiji Gandum Jatuh ke Dalam Tanah
Pada saat itu, ketika Tuhan disambut dan dihormati oleh orang Yahudi maupun orang Yunani, apa yang Ia katakan? Andaikata kita di sana atau penyambutan demikian itu ditujukan kepada kita, kita akan berkata, “Puji Tuhan! Kini saatnya kita melakukan sesuatu untuk memuliakan Allah.” Namun Tuhan Yesus tidak bergembira. Semakin besar penyambutan itu, semakin tenanglah Dia. Semakin Dia dicari-cari, semakin dingin Dia terhadap mereka yang mencari-Nya. Dia mengatakan kepada pencari-pencari itu bahwa Dia adalah sebiji gandum. Kata-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (ayat 24). Inilah sikap Tuhan terhadap penyambutan manusia. Inilah reaksi-Nya terhadap pemuliaan dan penghormatan manusia. Bagaimana caranya sebiji gandum bisa menjadi berlipat ganda? Bukan dengan disambut atau dihormati, melainkan dengan jatuh ke dalam tanah dan mati. Ini mutlak berlawanan dengan konsepsi manusia. Namun kita harus ingat bahwa inilah satu-satunya jalan untuk menghasilkan gereja dan memperkembangkannya dalam hayat. Bila suatu penyambutan manusia mendatangi Anda, Anda wajib mengatakan, “Aku harus mati.” Bila penghormatan manusia mendatangi Anda, Anda wajib menjawab, “Aku harus dikubur.” Jangan mengatakan, “Haleluya, puji Tuhan!” Ini bukan saat yang terbaik bagi Anda untuk melakukan sesuatu meskipun dengan maksud memuliakan Allah. Cara wajar untuk memuliakan Allah ialah Anda dimatikan dan dikuburkan.
Tuhan Yesus tidak mengunakan kesempatan emas sebagai sarana untuk perkembangan-Nya. Jika demikian, Ia akan melakukan kesalahan besar. Kesempatan emas tidak pernah untuk perkembangan. Kalau Anda membaca sejarah gereja, Anda akan nampak bahwa bila gereja mempunyai perkembangan, itu bukan hasil dari kesempatan gemilang, melainkan karena penganiayaan. Gereja mengalami perkembangan adalah selama penganiayaan, bukan selama penyambutan yang hangat. Ketika musuh menaruh gereja ke dalam maut, itulah saatnya bagi gereja untuk diperkembangkan. Semakin banyak aniaya dan penentangan, gereja akan semakin memperoleh perkembangan. Aniaya yang dilakukan oleh Kekaisaran Romawi tidak menghancurkan pertumbuhan gereja selama dua abad yang pertama, tetapi malah membantunya bertumbuh. Lalu apa yang merusak gereja? Penyambutan Kekaisaran Romawi. Ketika Kekaisaran Romawi mengubah aniaya menjadi penyambutan, hidup gereja hancur. Jangan bergembira karena penyambutan manusia. Penyambutan manusia akan menghancurkan dan merusak kita. Puji Tuhan, aniaya dan penentangan orang adalah kesempatan emas untuk perkembangan Kristus. Dialah sebiji gandum dan tidak ada jalan lain untuk diperkembangkan kecuali jatuh ke tanah dan mati. Inilah jalan pergandaan hayat.
Sebiji gandum, jika tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, akan tetap satu biji dan takkan menghasilkan sesuatu. Tetapi puji Tuhan, setelah biji itu mati dan bertumbuh, biji itu menjadi banyak atau berbuah banyak. Banyak biji atau berbuah banyak ini adalah gereja. Inilah cara gereja dihasilkan. Ini juga cara Tuhan untuk memperkembangkan gereja. Ini harus menjadi jalan kita untuk menghasilkan gereja dan memperkembangkannya. Kita wajib menghadapi sambutan manusia dengan kematian, dengan memikul salib. Gereja dihasilkan dan diperkembangkan bukan oleh kemuliaan manusia, melainkan oleh kematian di atas salib.
Walaupun banyak misionaris yang baik yang diutus ke China oleh suatu misi yang terkemuka, salah satunya yang didirikan oleh Saudara Hudson Taylor, sejarah membuktikan bahwa itu tidak banyak hasilnya untuk hidup gereja yang wajar. Di antara banyak misionaris yang pergi ke China, terdapat seorang saudari bernama Margaret E. Barber yang diutus ke sana oleh suatu misi di Inggris. Kemudian ia dituduh dengan tidak semena-mena dan dipanggil kembali ke Inggris. Namun akhirnya namanya dibersihkan oleh Tuhan. Lalu Tuhan memberinya beban untuk kembali ke China. Kepergiannya kali ini tidak diutus oleh misi mana pun, tetapi bersandarkan iman. Ia menetap di sebuah kota kecil yang disebut Pagoda, yang sangat dekat dengan kampung halaman Saudara Watchman Nee. Ia sengaja menetap di tempat itu tanpa mengunjungi tempat lain. Dalam pengertiannya, Tuhan menaburnya di sana sebagai gandum. Bertahun-tahun ia menetap di sana dan meninggal di sana pada tahun 1929.
Saudara Watchman Nee secara pribadi mengisahkan kepada saya tentang seluruh kisah komunikasinya dengan Saudari Barber ini. Bersama para pemuda lainnya, Saudara Watchman Nee pergi kepadanya untuk menerima bantuan. Ia sangat berbobot di dalam Tuhan, juga sangat ketat. Ia sering menegur kaum muda. Saudara Watchman Nee memberi tahu saya bahwa banyak di antara mereka yang tak tahan terhadap tegurannya. Akhirnya tinggal ia seorang yang tetap pergi kepadanya, menyerahkan diri ke hadapannya sebagai suatu persembahan untuk menerima tegurannya. Ia sengaja berbuat demikian. Setelah sejangka waktu, ia merasa perlu teguran yang lebih lanjut, ia lalu pergi kepada Saudari Barber dan saudari ini melakukannya. Pada tahun 1929, Saudari Barber pergi kepada Tuhan. Tidak banyak peninggalannya, di antaranya sebuah Alkitab yang memuat banyak catatan, yang ia wariskan kepada Saudara Watchman Nee. Saudari Barber adalah satu benih yang ditaburkan dan Saudara Watchman Nee adalah sebiji benih yang tumbuh dari benih itu. Saudara Watchman Nee sebagai benih yang tumbuh dari dia, menjadi suatu bejana yang besar untuk pemulihan hidup gereja yang wajar. Inilah jalan untuk menghasilkan dan memperkembangkan gereja dalam hayat. Ini mutlak bukan kesempatan emas.
Pada tahun 1940, selama peperangan Sino Jepang, Saudara Watchman Nee memimpin suatu sidang pelatihan di Shanghai. Saya menghadiri pelatihan itu. Pada masa itu, di China ada beberapa pengkhotbah China yang terkenal. Mereka selalu mempunyai banyak pengikut, dan banyak orang menghadiri gedung kebaktian mereka. Sebaliknya, Saudara Watchman Nee selalu mengatakan bahwa pekerjaan Tuhan bukan masalah aktivitas lahiriah, melainkan tersalurnya hayat yang di dalam. Pekerjaan yang Tuhan perlukan adalah tersalurnya hayat yang di dalam. Sidang pelatihan Saudara Watchman Nee pada tahun 1940, dihadiri tidak lebih dari 80 orang peserta. Tetapi Saudara Watchman Nee puas dengan jumlah yang kecil itu. Setiap kali ia mengadakan sidang istimewa, yang hadir paling banyak tidak lebih daripada 350 orang. Ia selalu menekankan bahwa pekerjaan Tuhan adalah tersalurnya hayat yang di dalam, bukan aktivitas lahiriah. Hari ini kita nampak hasil ministri Saudara Watchman Nee. Banyak gereja dihasilkan dalam pemulihan Tuhan di seluruh dunia.
Janganlah resah oleh sukses sementara aktivitas lahiriah orang lain. Berikan sejangka waktu kepada Tuhan, Ia akan menyatakan jalan-Nya dalam hayat. Walaupun Saudara Watchman Nee telah meninggal, ministrinya masih tetap menang dan pekerjaannya berlangsung terus. Pekerjaan demikian bukan masalah aktivitas, melainkan hayat. Inilah pekerjaan hayat, untuk menghasilkan dan memperkembangkan gereja.
Kita boleh mengumpamakannya seperti membuat bunga tiruan. Kalau Anda mempekerjakan orang untuk membuat bunga tiruan, sejumlah besar bunga akan dihasilkan dalam waktu singkat. Tetapi kalau Anda ingin menumbuhkan bunga, perlu waktu yang panjang. Anda harus menabur benih dahulu. Benih itu akan tumbuh dan berlipat ganda. Kemudian akan lebih banyak benih jatuh ke dalam tanah dan tumbuh, menjadi berlipat ganda sekali demi sekali. Perbanyakan semacam ini akan berlangsung sangat lama. Perbanyakan macam apa yang Anda harapkan bunga-bunga tiruan yang dihasilkan oleh pekerjaan lahiriah atau bunga sejati yang dihasilkan oleh hayat?
1. Menghasilkan Banyak Buah — Menarik Semua Orang
Tuhan Yesus jatuh ke dalam tanah dan mati sehingga unsur ilahi-Nya, hayat ilahi-Nya, menghasilkan banyak orang beriman dalam kebangkitan (1Ptr. 1:3), sama seperti sebiji gandum yang unsur hayatnya terbebaskan melalui jatuh ke dalam tanah dan tumbuh dari tanah untuk menghasilkan banyak buah, dengan menghasilkan banyak biji. Daripada menerima sambutan yang hangat, Tuhan lebih suka jatuh ke dalam tanah dan mati sebagai sebiji gandum sehingga Ia dapat menghasilkan banyak biji gandum bagi gereja. Tuhan sebagai satu biji gandum yang jatuh ke dalam tanah, Ia kehilangan hayat jiwa-Nya melalui kematian-Nya, sehingga Ia dapat membebaskan hayat kekal-Nya dalam kebangkitan kepada “banyak biji”.
Pada satu aspek, kematian Tuhan adalah jatuhnya Dia ke dalam tanah sebagaimana diwahyukan dalam ayat 24; pada aspek lain adalah terpancangnya Dia di kayu (ayat 32; 1Ptr. 2:24). “Jatuh ke dalam tanah” sebagai sebiji gandum untuk menghasilkan banyak biji, “dipancangkan” di kayu sebagai Anak Manusia untuk menarik semua orang kepada-Nya. Banyak biji yang dihasilkan oleh jatuhnya Dia ke dalam tanah ialah “semua orang” yang tertarik oleh terpancangnya Dia di kayu salib.
Dalam Yohanes 12, kematian Tuhan tidak diwahyukan sebagai kematian penebusan (seperti dalam 1:29), tetapi sebagai kematian yang menghasilkan, melahirkan kembali. Menurut pasal ini, oleh kematian-Nya kelongsong (tempurung) inkarnasi Tuhan telah pecah, sehingga Ia dapat menggenapkan tiga tujuan: menghasilkan banyak biji, menarik semua orang kepada-Nya (ayat 24, 32), membebaskan unsur ilahi, hayat kekal (ayat 23, 28), dan menghukum dunia, serta mencampakkan penguasanya (ayat 31).
2. Membebaskan Hayat Ilahi, Unsur Ilahi — Dimuliakan dan Memuliakan Bapa
Melalui kematian-Nya, Tuhan dimuliakan dan memuliakan Allah Bapa. Dalam ayat 23, Tuhan berkata, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” dan dalam ayat 28 Ia berdoa, “Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Bagaimana Tuhan dimuliakan? Ia dimuliakan melalui kematian dan kebangkitan. Karena melalui kematian dan kebangkitan itulah unsur ilahi-Nya dibebaskan dan diekspresikan. Bagaimana Allah Bapa dimuliakan? Melalui dimuliakannya Anak. Ketika unsur ilahi Anak dibebaskan dan diekspresikan melalui kematian dan kebangkitan-Nya, hayat ilahi Bapa dibebaskan dan diekspresikan. Karena itu, Bapa dimuliakan dalam kemuliaan Anak melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Kematian dan kebangkitan Tuhan memuliakan Allah Bapa karena kematian dan kebangkitan-Nya membebaskan unsur ilahi Allah dari dalam-Nya. Unsur ilahi Allah terkekang dalam tubuh daging-Nya, sama seperti unsur hayat sebiji gandum yang terkekang di dalam kulitnya. Bagaimana unsur hayat sebutir biji itu dimuliakan? Biji itu harus mati sehingga unsur hayat di dalamnya dapat diekspresikan dan dimuliakan. Begitu pula dengan unsur ilahi Allah.
Memuliakan nama Bapa berarti membuat unsur ilahi Bapa terekspresikan. Unsur ilahi Bapa, yaitu hayat yang kekal, berada di dalam Anak yang berinkarnasi. Tempurung yang dikenakan Anak dalam inkarnasi harus dipecahkan melalui kematian, agar unsur ilahi Bapa, yaitu hayat yang kekal, bisa dibebaskan dan diekspresikan dalam kebangkitan-Nya. Seperti unsur hayat sebutir biji gandum yang terbebaskan melalui pecahnya kulit luar bijinya, dan diekspresikan melalui berbunga. Inilah Allah Bapa mendapatkan kemuliaan di dalam Allah Anak.
Misalnya, kita mempunyai sebutir benih bunga. Walaupun banyak keindahan terkandung dalam hayat benih itu, namun bagaimana keindahan itu dapat diekspresikan? Benih itu harus mati. Kalau benih itu jatuh ke dalam tanah, mati, dan tumbuh, keindahan yang penuh di dalamnya akan diekspresikan. Itulah kemuliaan, hayat di dalam benih dimuliakan. Demikian pula, pada suatu saat Allah terbatas dalam tubuh daging Anak. Anak harus mati sehingga Bapa di dalam Dia dapat dibebaskan, diekspresikan, dan dimuliakan dalam kebangkitan.
Dimuliakan semata-mata berarti diekspresikan. Sering kali saya menggunakan listrik dalam lampu sebagai gambaran. Kapan listrik dimuliakan dalam lampu? Ketika listrik dinyatakan, itulah ia dimuliakan. Demikian pula, Allah yang terbatas dalam tubuh daging Yesus diekspresikan ketika Ia dibangkitkan. Ketika Allah diekspresikan di dalam Yesus, Allah dimuliakan.
3. Menghukum Dunia dan Melemparkan Iblis si Penguasa Dunia
Dalam ayat 31 Tuhan mengumumkan, “Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar.” Melalui kematian-Nya di kayu salib, Tuhan menghakimi dunia dan melemparkan Iblis, si penguasa dunia. Dunia adalah suatu sistem jahat yang diatur secara sistematis oleh Iblis. Semua benda di bumi, khususnya yang berhubungan dengan manusia, dan semua benda di angkasa, telah disistematisir oleh Iblis menjadi kerajaan gelapnya untuk menduduki manusia, menghalangi manusia merampungkan kehendak Allah, dan menyelewengkan manusia dari kenikmatan akan Allah. Ketika tubuh daging Tuhan disalibkan dan penguasa dunia ini diusir keluar, sistem jahat ini, kerajaan kegelapan ini, juga dihakimi. Tuhan sebagai Anak Manusia (Yoh. 12:23) telah ditinggikan di atas salib dalam bentuk ular (Yoh. 3:14), yaitu dalam rupa tubuh daging yang berdosa (Rm. 8:3). Penguasa dunia ini, Iblis, yaitu ular tua itu (Why. 12:9; 20:2), telah memasukkan dirinya sendiri ke dalam tubuh daging. Melalui kematian-Nya di kayu salib dengan mengenakan rupa tubuh daging yang berdosa, Tuhan telah menghancurkan Iblis yang ada di dalam tubuh daging manusia (Ibr. 2:14). Dengan menghakimi Iblis (Yoh. 16:11) secara demikian, maka dunia yang tergantung pada Iblis pun dihakimi. Jadi, ketika Tuhan ditinggikan, dunia juga dihakimi, dan penguasa dunia ini, Iblis, diusir keluar. Ketika Tuhan Yesus sebagai Anak Manusia ditinggikan dalam bentuk ular, Ia tidak saja menyingkirkan dosa kita dan menghapus sifat ular kita, bahkan menghancurkan Iblis dan sistem dunia Iblis yang tergantung padanya. Kini melalui kematian-Nya, kita ditebus, dipindahkan, dan memperoleh hayat ilahi untuk mengalahkan dunia.
Injil Yohanes adalah sebuah kitab gambaran atau lambang yang menunjukkan banyak perkara yang berkaitan dengan Tuhan sebagai hayat. Kalau kita tidak tahu Injil ini, kita mungkin hanya tahu Tuhan sebagai hayat, tetapi tidak tahu Tuhan sebagai hayat dalam seluruh aspek yang rinci. Kalau kita ingin tahu Tuhan sebagai hayat secara rinci, kita harus memahami Injil Yohanes, yang membukakan hayat dengan gambaran satu per satu. Contohnya, bahkan daun-daun palem dalam pasal ini juga melambangkan hayat yang mengalahkan maut, menggambarkan hayat yang menang atas maut. Pohon palem kebanyakan tumbuh di gurun pasir, yang menandakan maut. Jadi, hayat (pohon palem) tumbuh dari maut (gurun pasir). Ini melukiskan kemenangan hayat atas maut. Inilah makna rohani pohon palem. Karena itu, kalau kita ingin mengerti hayat secara rinci, kita harus mengerti Injil Yohanes sebagai kitab lambang.
Dalam Injilnya, Yohanes mengunakan bermacam-macam kiasan untuk melukiskan berbagai aspek tentang kematian Tuhan. Yohanes 1:29 mengatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Dalam Yohanes 3:14, Tuhan Yesus berkata bahwa Ia harus ditinggikan di kayu salib seperti ular tembaga ditinggikan di atas tiang oleh Musa. Kini dalam Yohanes 12, Tuhan mengatakan bahwa Ia adalah sebiji gandum. Di sini kita nampak tiga gambaran: Anak Domba Allah, ular, dan biji gandum. Kematian Tuhan mempunyai tiga aspek. Dalam aspek yang pertama, Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa kita dengan mencucurkan darah-Nya. Dalam aspek yang kedua, Dia adalah ular tembaga yang menghancurkan ular tua dan sifat ular di dalam kita. Dalam aspek yang ketiga, Dia adalah biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati untuk menghasilkan banyak biji. Satu kematian Tuhan Yesus mempunyai tiga aspek ini: aspek penebusan, aspek menghancurkan Iblis, aspek pembebasan hayat. Ketika Ia dipaku di kayu salib, Ia adalah Anak Domba Allah yang menanggung dosa-dosa kita dan mencucurkan darah-Nya untuk menebus kita. Inilah aspek yang pertama, dan setiap orang Kristen yang murni sangat paham hal ini. Namun tidak banyak orang Kristen memahami aspek yang kedua dari kematian Tuhan bahwa Tuhan Yesus disalibkan di kayu salib dalam bentuk ular untuk menghancurkan si ular tua dan sifat ular yang ada di dalam kita. Inilah aspek menghancurkan Iblis. Aspek ketiga kematian Tuhan ialah aspek pembebasan hayat. Hayat ilahi yang ada dalam Yesus, orang kecil itu, sama seperti hayat yang terbungkus oleh kulit dalam sebutir biji gandum. Karena hayat tertutup dalam biji, kulit itu harus dipecahkan sehingga hayat yang di dalam dapat dibebaskan. Demikian juga, ketika Kristus di atas salib, Ia adalah Anak Domba, Ia dalam bentuk ular, dan Ia juga sebutir biji gandum. Melalui satu kali kematian, Ia menggenapkan tujuan rangkap tiga: menghapus dosa kita, menghancurkan Iblis, dan membebaskan hayat ilahi dari dalam-Nya, untuk menghasilkan banyak biji. Haleluya! Melalui kematian-Nya, dosa-dosa kita telah dihapuskan. Melalui kematian-Nya, sifat ular kita telah ditanggulangi. Melalui kematian-Nya, hayat ilahi telah dikaruniakan kepada kita. Kita tidak lagi berdosa dan tidak lagi bersifat ular. Hayat ilahi telah disalurkan ke dalam kita dan kini kita adalah banyak biji yang dihasilkan dari sebutir biji itu. Banyak biji diolah menjadi seketul roti, yakni Tubuh Kristus (1Kor. 10:17). Dahulu kita adalah orang dosa yang bersifat ular, tidak ada sangkutpautnya dengan hayat ilahi. Tetapi melalui kematian Tuhan yang almuhit, dosa-dosa kita telah dihapus, sifat ular kita telah ditanggulangi, dan hayat ilahi disalurkan ke dalam kita. Kini kita telah menjadi butir-butir hidup yang diolah bersama menjadi seketul roti, yakni gereja. Puji Dia!
Berdasarkan prinsip ini, kalau kita ingin menghasilkan gereja, kita harus mati. Kalau kita hendak memuliakan Allah agar Allah terekspresi melalui kita dan dimuliakan di tengah-tengah kita, kita harus mati. Kalau kita ingin menanggulangi Iblis dan dunianya, kita harus mati. Melalui saliblah, gereja dihasilkan; melalui saliblah, Allah dimuliakan; dan melalui saliblah, Iblis serta dunianya ditanggulangi. Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa ketika Ia mati, Ia akan menghasilkan banyak buah; dan ketika Ia mati, Bapa akan dimuliakan; dan ketika Ia digantungkan, Ia akan menghukum dunia dan melemparkan Iblis, penguasa dunia ini. Ini sangat singkat dan sederhana, tetapi begitu dalam dan bermakna. Ketiga hal ini sudah tercakup gereja dihasilkan, Bapa dimuliakan, dan Iblis diusir. Tidak ada yang tertinggal lagi. Kalau kita ingin menghasilkan gereja, memuliakan Allah, dan menanggulangi Iblis, tidak ada jalan lain selain kematian di atas salib. Kita selalu membicarakan tentang jalan gereja: jalan gereja adalah jalan salib. Kita selalu membicarakan bagaimana memuliakan Allah: jalan untuk memuliakan Allah adalah jalan salib. Dan lagi, jalan untuk menanggulangi Iblis, musuh Allah itu, juga jalan salib. Hanya ada satu jalan salib. Kita wajib mengalami salib. Bukan masalah berapa banyak orang yang menyambut kita, atau bagaimana cara mereka menyambut kita, melainkan kita wajib menyadari bahwa semakin mereka menyambut kita, kita semakin harus mati.
Bagaimana kita mati? Dalam ayat 25, Tuhan memberi tahu kita untuk kehilangan nyawa kita. “Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Kedua kata “nyawa” yang pertama pada ayat ini dalam bahasa Yunani berarti “jiwa” atau “hayat jiwani”. Kata yang sama terdapat dalam Yohanes 10:11, 15, 17. Ini pun dibuktikan oleh Injil Matius dan Markus (Mat. 16:24-26; Mrk. 8:34-35). Apa artinya mati dan mengalami salib? Tidak lain berarti menyangkal dan menolak jiwa Anda, hayat alamiah Anda. Anda harus kehilangan jiwa Anda, hayat alamiah Anda, diri Anda, barulah gereja akan dihasilkan, lalu Allah akan dimuliakan, dan Iblis akan ditanggulangi, dilemparkan, karena ia akan diusir oleh gereja.
Tuhan adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke dalam tanah, melalui mati, kehilangan hayat jiwani-Nya, agar dalam kebangkitan-Nya Ia bisa membebaskan hayat kekal-Nya kepada “banyak butir”. Kita adalah banyak butir itu, kita juga harus kehilangan hayat jiwa melalui mati, demikian kita baru bisa menikmati hayat kekal ini di dalam kebangkitan. Inilah yang dikatakan dalam ayat 26 bahwa kita harus mengikuti Dia baru bisa melayani Dia. Tidak hanya demikian, banyak butir ini perlu dihancurkan dan di-giling menjadi tepung, demikian baru dapat dibawakan bersama menjadi roti.
III. KETIDAKPERCAYAAN DAN KEBUTAAN AGAMA
A. Dinubuatkan oleh Yesaya
Ayat 36b hingga 43 mengatakan tentang ketidak percayaan agama dan penghakiman Allah atas ketidakpercayaan itu. Tak peduli berapa banyaknya Tuhan sebagai hayat melakukan keajaiban, mukjizat, dan tanda-tanda, para agamawan tidak mau mengikuti-Nya. Tak peduli berapa banyak yang Tuhan lakukan, para agamawan tidak mau menanggapi-Nya. Mereka tidak mau menerima-Nya, sebaliknya, mereka menolak Dia. Yesaya telah menubuatkan hal ini. Ia berkata, “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?” (Yes. 53:1). Tangan kekuasaan Tuhan adalah Tuhan Yesus sendiri. Tuhan adalah tangan kekuasaan Allah untuk bertindak dan menyelamatkan, tetapi tak seorang pun dalam kalangan agama mengenal tangan ini. Tak seorang pun mau menanggapi, menerima tangan ini. Mereka justru menolaknya. Walaupun tangan ini adalah penyelamatan, bahkan Juruselamat dan Penolong itu sendiri, para agamawan menolak-Nya.
B. Dihakimi Allah
Akibatnya, buta dan keras hati telah menimpa mereka (ayat 40; Yes. 6:10). Inilah hukuman Allah yang dikenakan atas mereka yang menolak Tuhan karena ketidakpercayaan. Buta dan keras hati adalah suatu hukuman bagi orang yang tidak percaya. Jadi, dalam agama tidak ada percaya, hanya ada kebutaan.
C. Mereka Nampak Kemuliaan Tuhan, tetapi Tidak Memustikakannya
Ayat 41 mengatakan bahwa Yesaya telah melihat kemuliaan-Nya dan telah berkata-kata tentang Dia. Kata “kemuliaan-Nya” menegaskan bahwa Tuhan Yesus adalah Allah, Yehova (TUHAN) semesta alam. Yesaya pernah melihat kemuliaan-Nya (Yes. 6:1, 3). Meskipun kemuliaan ini pernah dilihat dan diapresiasi oleh Yesaya, tetapi tidak dimustikakan oleh kaum beriman Tuhan yang lemah (ayat 42-43). Mereka menyukai kehormatan manusia lebih daripada kehormatan Allah. Kemuliaan ini adalah Yesus yang hidup yang ada di hadapan mereka. Andaikata mereka mengapresiasi dan memustikakan Tuhan Yesus sebagai kemuliaan Allah, mereka tidak akan mempedulikan kemuliaan manusia atau takut dikucilkan dari tempat ibadah Yahudi.
IV. DEKLARASI HAYAT TERHADAP AGAMA
YANG TIDAK PERCAYA
Dalam ayat 44-50, kita nampak deklarasi hayat terhadap agama yang tidak percaya. Di sini Tuhan menyatakan deklarasi yang terakhir kepada para agamawan. Setelah deklarasi ini, dalam bagian Injil Yohanes selanjutnya, Tuhan tidak berurusan lagi dengan para agamawan.
A. Sebagai Allah yang Dinyatakan kepada Manusia
Pertama-tama, Dia mendeklarasikan bahwa Dia adalah manifestasi Allah yang hidup itu (ayat 44-45). Dia adalah Anak Allah, ini berarti, Dialah manisfestasi Allah. Siapa saja yang melihat Dia berarti melihat Allah; dan siapa saja yang menerima Dia berarti menerima Allah, sebab Ia adalah manifestasi Allah kepada manusia.
B. Sebagai Terang, Datang ke Dalam Dunia
Kedua, Ia mendeklarasikan bahwa Ia datang ke dunia sebagai terang, agar manusia jangan tinggal dalam kegelapan (ayat 46, 36). Kalau orang mau menerima terang ini, ia akan mempunyai Allah. Dia adalah ekspresi Allah sebagai terang, dan kalau Anda menerima Dia sebagai terang, Anda akan memiliki Allah. Kalau orang percaya kepada-Nya, ia takkan tinggal dalam kegelapan. Tetapi, kalau Anda menolak-Nya sebagai terang, berarti Anda menolak Allah, dan Anda akan ditimpa kegelapan. Dia datang sebagai terang. Kalau Anda menerima Dia, Anda akan memiliki Allah dan akan menjadi anak terang.
C. Datang kepada Manusia dengan Firman yang Hidup
Ketiga, Ia mendeklarasikan bahwa Ia datang kepada manusia dengan firman yang hidup; siapa saja menerima perkataan-Nya, ia mempunyai hidup yang kekal, sekarang dan selamanya; siapa saja menolak firman-Nya, akan dihakimi oleh firman-Nya itu pada akhir zaman (ayat 47-50).
Apa makna deklarasi ini? Ini berarti Tuhan memberi tahu orang-orang Yahudi bahwa Dialah manifestasi Allah yang datang kepada mereka sebagai terang. Kalau mereka menerima Dia, mereka akan mempunyai Allah dan menjadi anak-anak Allah. Tetapi kalau mereka menolak Dia, mereka akan ditimpa kegelapan. Di samping itu, perintah yang Allah berikan kepada-Nya untuk dikatakan adalah hidup yang kekal bagi mereka yang menerima. Jika tidak, firman itu akan menjadi hakim mereka pada akhir zaman. Inilah deklarasi Tuhan yang terakhir kepada para agamawan. Pada saat inilah Tuhan putus hubungan dengan para agamawan. Mulai dari Yohanes 13, Tuhan Yesus selalu beserta dengan murid-murid-Nya, tidak lagi bersangkutpaut dengan orang-orang Yahudi.
Jadi, ada empat hal dalam pasal ini. Yang pertama, menunjukkan hidup gereja yang sesungguhnya. Yang kedua, menunjukkan bagaimana Tuhan menghasilkan dan memperkembangkan gereja. Yang ketiga, memperlihatkan bahwa para agamawan tidak mau mengikuti Tuhan, tak peduli berapa banyak Ia berlaku sebagai hayat dalam tanda-tanda untuk mereka. Kemudian, yang terakhir menunjukkan bagaimana Tuhan terpaksa mendeklarasikan kepada kelompok agamawan bahwa Dia adalah manifestasi Allah yang datang kepada mereka sebagai terang; kalau mereka menerima Dia, mereka akan menjadi anak-anak terang; dan kalau mereka tidak menerima Dia, mereka akan ditimpa kegelapan. Dia datang kepada mereka dengan perintah Allah untuk mengatakan firman yang hidup kepada mereka, supaya kalau mereka menerima firman-Nya, firman itu akan menjadi hayat yang kekal bagi mereka; tetapi kalau mereka menolaknya, firman itu akan menghakimi mereka pada akhir zaman.