← Daftar isi Yohanes (3) · bab 7/17

HASIL DAN PERKEMBANGBIAKAN HAYAT (1)

Dalam berita ini kita akan melihat satu subbagian besar dalam Injil Yohanes. Kita telah nampak bahwa Injil Yohanes meliputi dua bagian: firman kekal berinkarnasi, membawa Allah ke dalam manusia (pasal 1-13); dan Yesus disalibkan, Kristus bangkit, pergi mempersiapkan jalan untuk membawa manusia ke dalam Allah, dan menjadi Roh itu, yang tinggal dan hidup di dalam kaum beriman untuk membangun tempat kediaman Allah (pasal 14-21). Kita telah mengungkapkan tiga subbagian pertama dari bagian utama: pendahuluan untuk hayat dan pembangunan (1:1-51); prinsip hayat dan tujuan hayat (2:1-22); hayat memenuhi segala macam keperluan manusia (2:23-11:57). Prinsip hayat ialah mengubah kematian (maut) menjadi hayat (2:1-11); tujuan hayat ialah membangun rumah Allah (2:12-22). Mulai dari pasal 3, kita telah melihat sembilan peristiwa, menyatakan Kristus sebagai hayat mampu memenuhi segala macam keperluan manusia supaya tujuan Allah tercapai. Kesemuanya ini menggiring kita kepada akhir pasal 11. Selanjutnya dalam pasal 12, kitab Injil ini mewahyukan hasil dari Kristus menjadi hayat manusia, yaitu dihasilkannya gereja. Gereja rumah perjamuan, adalah tempat di mana Tuhan dapat mengaso dan memperoleh kepuasan. Hasil dari Kristus menjadi hayat manusia ialah gereja. Lalu apakah perkembangbiakan hayat itu? Dalam pasal 12 kita nampak sebuah gereja yang kecil. Kecil dalam jumlah, ukuran, dan pertumbuhan hayat. Bagaimanakah gereja ini dapat berkembang biak? Melalui perkembangbiakan hayat. Hasil dari hayat ialah menghasilkan gereja dan perkembangbiakan hayat ialah mengembangkan gereja dalam ukuran, jumlah, dan pertumbuhan hayat.

I. HASIL HAYAT

Pasal 12 berdiri sendiri, bukan lanjutan dari sembilan peristiwa yang dibicarakan di depannya, melainkan merupakan kesimpulan dari semuanya itu. Kesimpulan dari sembilan peristiwa itu ialah Kristus sebagai hayat, menghasilkan gereja. Dalam Yohanes 12:1-11 kita nampak jelas bahwa gereja dihasilkan oleh hayat.

A. Rumah Perjamuan

Dalam Yohanes 11, Tuhan membangkitkan Lazarus dari kematian. Kebangkitan ini menghasilkan hidup gereja. Asalnya kita semua adalah orang yang mati. Tuhan datang membangkitkan kita. Setelah kita dibangkitkan, kita menjadi gereja. Sebab itu dalam Yohanes 11 kita nampak Lazarus dibangkitkan, dan dalam Yohanes 12 kita nampak bahwa orang yang telah dibangkitkan menjadi tempat di mana Tuhan memperoleh perhentian dan menemukan kepuasan. Inilah gereja. Sekarang kita harus memandang gereja sebagai rumah perjamuan.

1. Di Luar Agama

Rumah perjamuan ini adalah di luar agama. Ia tidak terletak di Yerusalem, kota kudus, atau di dalam bait kudus, melainkan di sebuah rumah kecil di Betania, di luar Yerusalem, juga di luar agama.

Tuhan menjadi hayat manusia, memenuhi seluruh keperluan mereka. Karena itu, Ia ditolak oleh agama Yahudi. Yudaisme tidak tahan melihat Tuhan menjadi hayat berbagai macam orang. Karena itu para agamawan menolak Tuhan Sang hayat. Penolakan ini dimulai dari Yohanes 5 (ayat 16, 18) dan mencapai puncaknya pada Yohanes 10 (ayat 31, 39). Bahkan dalam Yohanes 11, karena Lazarus bangkit dari kematian, penganut agama Yahudi mengadakan satu rapat, mencari akal untuk membunuh Dia (11:53, 57). Pemimpin-pemimpin Yahudi juga merencanakan pembunuhan terhadap Lazarus dengan alasan yang sama (12:10). Hal ini menunjukkan betapa agama melawan Tuhan sebagai hayat. Mereka bukan hanya menganiaya Tuhan, juga ingin menghancurkan orang-orang yang berbagian dalam Tuhan sebagai hayat. Agama selamanya menentang dan menolak Tuhan Sang hayat.

Ketika membaca Injil Yohanes, kita harus bisa membedakan antara agama dengan Kristus Sang hayat. Tuhan Yesus datang ke bumi dalam inkarnasi-Nya bukan untuk menjadi pemimpin agama, melainkan untuk masuk ke dalam manusia dan menjadi hayat manusia. Mulai dari peristiwa pertama mengenai kelahiran kembali dalam Yohanes 3 sampai peristiwa terakhir mengenai kebangkitan dalam Yohanes 11, semua yang Tuhan perbuat adalah memberikan diri-Nya sebagai hayat di hadapan orang-orang yang berada di luar agama Yahudi. Bila kita melihat agama (termasuk agama Kristen), bukan dari sudut pandang hayat, kita pasti akan mudah tertipu dan tersesat, karena agama mengajar orang mengenal Allah dan menyembah Dia, bahkan mengajarkan Alkitab. Kelihatannya tidak ada kejelekan apa-apa. Tetapi, jika Tuhan membelaskasihani kita dan jika Roh-Nya mencelikkan mata kita, kita pasti nampak bahwa apa yang Allah kerjakan di alam semesta ini, bukan hanya menghendaki manusia menyembah Dia atau melayani Dia saja. Dalam zaman ini, kehendak dan tujuan Allah ialah masuk ke dalam manusia, di dalam Putra melalui Roh-Nya dan firman-Nya, agar menjadi hayat manusia, sehingga manusia dapat hidup berdasarkan Dia. Ini mutlak berlawanan dengan agama, juga bertolak belakang sama sekali dengan konsepsi agama.

Ketika Tuhan datang menjadi hayat manusia, Ia ditolak oleh agama Yahudi. Selanjutnya, berabad-abad Ia terus ditolak oleh agama. Tidak peduli “aliran kekristenan” apa pun, asalkan itu agama, pasti tidak mau dan tidak dapat dengan murni menerima Tuhan sebagai hayat. Tentang menerima Tuhan sebagai hayat ini, “aliran-aliran kekristenan” tersebut adalah penghalang besar bagi orang, sama seperti agama Yahudi semasa Tuhan di bumi (bahkan sampai hari ini, agama Yahudi tetap demikian). Karena itu, kita harus berhati-hati dan waspada terhadap agama. Jika tidak, kita pasti akan disesatkan.

2. Tempat Tuhan dan Orang-orang

yang Percaya kepada-Nya Berpesta, Beristirahat, dan Dipuaskan

Tuhan ditolak oleh agama Yahudi merupakan akibat yang negatif. Namun di samping itu, ada juga akibat yang positif dari Tuhan menjadi hayat manusia, yakni ketika Ia ditolak, Ia mendapatkan sebuah rumah. Rumah ini adalah tempat di mana Ia dapat beristirahat, berpesta, bersemayam, dan dipuaskan. Dalam Yohanes 12, kita nampak Tuhan sudah keluar dari agama yang menolak-Nya dan menyembunyikan diri-Nya, sambil memasuki rumah seorang beriman Yahudi di Betania. Dengan membuat diri-Nya sebagai hayat kebangkitan terhadap orang-orang yang percaya kepada-Nya, Ia memperoleh sebuah rumah, tempat Ia bisa bersemayam dan memperoleh perhentian. Dia telah mempunyai tempat yang memberi kesempatan kepada-Nya untuk duduk berpesta dan mendapatkan kepuasan. Dulu Tuhan “tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). Tetapi sekarang, setelah membangkitkan Lazarus, Dia mendapatkan tempat untuk perhentian dan berpesta. Setelah agama Yahudi menolak Dia, Tuhan tidak mau lagi ting-gal di Yerusalem. Dia selalu meninggalkan Yerusalem untuk bermalam di Betania (Mat. 21:17-18). Di sana Dia tidak hanya dapat bermalam dan beristirahat, Ia juga bisa berpesta dan memperoleh kepuasan. Menurut makna rohani, ini menyatakan bahwa Dia sudah mutlak terpisah dari agama Yahudi Perjanjian Lama dan tinggal, bahkan tetap tinggal di dalam gereja sebagai rumah-Nya, di mana Ia bisa memperoleh perhentian, berpesta, dan dipuaskan.

Secara luaran, dalam rumah kecil ini tidak ada satu pun yang menarik, akan tetapi di dalamnya penuh dengan perjamuan, perhentian, dan kepuasan. Bukan hanya Tuhan Yesus sendiri yang berjamu dan memperoleh perhentian, tetapi juga setiap orang yang berada di sana. Hidup gereja seharusnya demikian. Dipandang dari luar, tidak ada sesuatu pun yang menarik. Bentuk gedungnya, perabotnya, tidak kelihatan bagus. Secara lahiriah, segala sesuatunya mungkin kurang; namun secara batiniah, segalanya mustika, manis, dan mesra. Kita mempunyai perasaan yang mesra bahwa kita bersama-sama dengan Tuhan dan Tuhan bersama-sama dengan kita. Dia berpesta bersama kita dan kita berpesta bersama Dia. Kita dan Dia bersama-sama beroleh perhentian. Setiap orang menikmati perhentian dan setiap orang dipuaskan. Inilah hidup gereja.

B. Miniatur Hidup Gereja

1. Dihasilkan oleh Hayat Kebangkitan

Sekarang mari kita melihat beberapa hal mengenai miniatur hidup gereja yang terdapat dalam Yohanes 12. Pertama-tama, hidup gereja dihasilkan oleh hayat kebangkitan. Kehadiran Lazarus menyatakan bahwa gereja dihasilkan oleh hayat kebangkitan. Gereja bukan dihasilkan oleh organisasi, hikmat, usaha, atau pengajaran manusia, melainkan dihasilkan oleh hayat kebangkitan.

Di Betania, Tuhan merampungkan mukjizat-Nya yang terakhir, yakni membangkitkan Lazarus dari kematian. Jadi, Betania ialah tempat Tuhan membangkitkan orang mati. Adanya orang-orang beriman di sana adalah karena hayat kebangkitan Tuhan. Di sinilah justru tempat gereja berada. Di tempat kebangkitan, di mana Tuhan sebagai hayat kebangkitan membangkitkan orang-orang dari kematian. Awalnya, kita ini mati karena kita telah mati dalam dosadosa (Kol. 2:13). Namun Tuhan sudah membangkitkan kita dari kematian; Ia telah memulihkan kita dan melahirkan kita kembali. Hasilnya, kita yang telah mengambil bagian dalam hayat kebangkitan-Nya menjadi gereja. Gereja adalah hasil produksi dari hayat kebangkitan Tuhan. Dalam hayat alamiah, tidak ada gereja. Gereja bisa ada hanya melalui hayat kebangkitan Tuhan. Gereja dalam hayat kebangkitan inilah tempat di mana Tuhan bisa menemukan perhentian, kepuasan bersama kita, dan kita berjamu bersama Tuhan.

2. Tersusun dari Orang-orang Dosa yang Dibasuh Bersih

Gereja terdiri atas orang-orang dosa yang dibasuh ber-sih, seperti yang diwakili oleh Simon si kusta (Mrk. 14:3). Ketika muda, saya mengira bahwa rumah di Betania di mana mereka berpesta dengan Tuhan itu adalah rumah Lazarus. Akhirnya saya menyadari bahwa itu bukan rumah Lazarus, melainkan rumah seorang penderita sakit kusta yang telah disembuhkan oleh Tuhan. Menurut Markus 14:3, pesta yang disinggung dalam Yohanes 12:2 telah disediakan bagi Tuhan di rumah seorang penderita kusta yang bernama Simon. Rumah Simon si kusta yang telah ditahirkan, menjadi tempat gereja bersidang (berhimpun). Ini sangat bermakna. Di satu pihak, kita tadinya telah mati; di pihak lain, kita tadinya orang yang menderita kusta. Anggota-anggota di dalam gereja dulunya mati dan terkena kusta (berdosa). Di satu pihak, kita ini seperti Lazarus, telah mati dan telah dibangkitkan. Di pihak lain, kita ini seperti Simon, telah terjangkit kusta dan telah ditahirkan. Haleluya, Tuhan telah membangkitkan kita dari kematian dan telah mentahirkan kita dari kusta kita, yakni dosa-dosa kita! Kini, tempat kita berada menjadi tempat gereja bersidang.

Sungguh mengherankan bahwa pesta yang disediakan bagi Tuhan diselenggarakan di rumah Simon si kusta dan Yohanes 12 tidak mengatakan apa-apa tentang yang dilakukan oleh Simon. Pestanya disiapkan di rumah Simon, tetapi segala urusan ditangani oleh dua saudari dan satu saudara. Di Betania, di rumah penderita kusta, segala sesuatunya diurus oleh Marta, Maria, dan Lazarus. Meski gereja adalah tempat Tuhan membangkitkan dan melahirkan kembali orang yang mati, serta mentahirkan orang yang terkena kusta, tetapi pelayanan dalam gereja bukan dipikul oleh orang-orang yang berpenyakit kusta. Inilah makna dari fakta dalam Yohanes 12 bahwa Simon tidak ikut melayani.

3. Luarnya Miskin dan Menderita

Arti Betania ialah rumah miskin atau rumah penderitaan. Dipandang dari luar, gereja boleh jadi miskin, menderita. Gereja di bumi mungkin saja tidak kaya atas materi, tetapi di hadapan Tuhan, atas kenikmatan terhadap Tuhan, gereja seharusnya kaya. Orang-orang di luar gereja sering memandang remeh gereja, mengatakan gereja itu miskin dan penuh penderitaan. Mereka tidak memiliki roh yang memahami betapa kayanya kita dalam hal menikmati segala apa adanya Tuhan terhadap kita.

4. Di Dalamnya Berpesta di Hadirat Tuhan dan Bersama Tuhan

Secara batiniah, hidup gereja (church life) adalah hidup berpesta di hadirat (penyertaan) Tuhan dan bersama Tuhan (Yoh. 12:2). Tuhan datang ke rumah itu dan di sana Tuhan hadir. Dalam hidup gereja, perkara pertama yang kita perlukan ialah hadirat Tuhan. Kedudukan dan keadaan kita haruslah membiarkan Tuhan bisa datang dan menyertai kita. Penyertaan-Nya mempunyai arti yang sangat besar terhadap hidup gereja. Hidup gereja sepenuhnya tergantung pada penyertaan Tuhan. Tanpa penyertaan Tuhan, hidup gereja itu sia-sia belaka.

Secara batiniah, hidup gereja adalah perjamuan. Hidup gereja seharusnya selalu merupakan perjamuan, sehingga Tuhan sendiri dapat menikmati dan juga beserta dengan umat-Nya. Di dalam gerejalah Tuhan bisa memperoleh perhentian, kepuasan, dan kenikmatan. Di sana selalu tersedia perjamuan bagi Tuhan dan umat-Nya. Bukan hanya Tuhan sendiri yang menikmati, melainkan juga orang-orang yang beserta dengan-Nya. Gereja adalah tempat Tuhan menikmati bersama umat-Nya dan di sana pula umat-Nya dapat menikmati hadirat-Nya. Gereja adalah tempat Tuhan berkumpul sambil berpesta bersama umat-Nya, bahkan saling menikmati satu sama lain.

Orang luar tidak seorang pun memahami perkara ini. Orang luar tidak ada yang mengetahui apa yang kita lakukan di dalam gereja. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, ketika saya masih di Taipei, seorang misionaris perempuan dari Denmark berbicara lama dengan saya, menanyakan tentang gereja. Dia sangat tertarik kepada gereja, namun karena dipengaruhi oleh kabar-kabar angin, maka ia masih ragu-ragu. Saya lalu berkata kepadanya, “Saudari, sekalipun aku berbicara dengan Anda sampai berhari-hari, Anda akan tetap tidak dapat memahami apa yang kami lakukan di sini. Cara yang terbaik dan cara satu-satunya untuk memahami apa yang kami lakukan di sini ialah datang dan tinggal bersama kami selama dua setengah tahun. Selama jangka waktu ini, jangan ke mana-mana, atau berbuat apa-apa, selain berkumpul dengan para saudari siang dan malam. Ikutilah setiap sidang. Anda harus mengikuti segala sidang, baik yang besar maupun yang kecil, di rumah atau di balai sidang. Jangan ada yang Anda lalaikan. Selain itu, Anda harus membaca semua buku yang telah kami terbitkan. Semuanya dua ratus lebih. Bila Anda menetap di sini selama dua setengah tahun, mengikuti semua sidang, membaca habis buku-buku kami, aku berani jamin Anda akan mutlak jelas. Saudari yang terkasih, maukah membayar harga ini?” Dia segera menjawab, “Aku mau mengikuti perkataan Anda.” Lalu dia mengunci rumahnya sendiri dan pindah ke rumah penampungan saudari. Dia benar-benar taat kepada perkataan saya. Ia tidak pergi ke mana-mana, kecuali hanya tinggal bersama saudari-saudari sambil mengikuti semua sidang dan membaca hampir semua buku ba-hasa Mandarin. Belum sampai dua setengah tahun mungkin hanya beberapa bulan saja ia datang mencari saya dan berkata, “Saudara Lee, puji syukur kepada Tuhan, aku sekarang sudah jelas akan apa yang kita lakukan di sini.” Dia tidak mengatakan apa yang “kalian” lakukan di sini, melainkan apa yang “kita” lakukan di sini. Dia melanjutkan, “Sejak hari ini, tidak ada sesuatu yang dapat membuatku meninggalkan gereja.” Dia tinggal lama di sana, kemudian baru kembali ke Denmark. Di Denmark, dia mengalami banyak kesulitan, tetapi tidak ada sesuatu pun yang dapat membuat dia meninggalkan gereja.

Orang-orang yang melihat gereja dari luar, hanya nampak satu hal. Mungkin kelihatannya hitam dalam pandang-an mereka (catatan: mengacu kepada kulit lumba-lumba). Namun, bila Anda masuk ke dalamnya, pasti berbeda sama sekali. Pasti kelihatan kuning emas.

5. Saudari Lebih Banyak daripada Saudara

Seperti keadaan di Betania, lebih baik gereja memiliki saudari lebih banyak daripada saudara (Yoh. 12:2-3). Apabila jumlah saudari lebih sedikit daripada saudara, gereja itu pasti tidak begitu hidup. Gereja yang hidup memerlukan saudari lebih banyak daripada saudara, lebih banyak lebih baik. Bila Anda nampak saudari lebih banyak daripada saudara, Anda akan nampak bahwa gereja itu hidup. Sebaliknya, jika saudari lebih sedikit daripada saudara, maka gereja itu tidak akan begitu hidup.

6. Fungsi yang Berlainan

a. Melayani

Dalam hidup gereja ada fungsi yang berbeda-beda. Pelayanan gereja terbagi atas tiga macam fungsi, masing-masing diwakili oleh ketiga orang di dalam rumah itu. Yang pertama adalah fungsi pelayanan yang diwakili oleh Marta (Yoh. 12:2). Dari abad ke abad, Marta mendapat perlakuan yang kurang adil. Sepanjang sejarah, orang-orang Kristen umumnya meremehkan dia. Jangan menyalahkan Marta. Itu tidak adil. Kita tidak seharusnya menganggap Marta itu tidak baik, karena pasal ini mengatakan “Marta melayani”. Ini amat baik, karena dalam pelayanan gereja, tata usaha dan urusan-urusan gereja harus diperhatikan. Bisakah kita mendapat makanan tanpa Marta? Kita memerlukan dia untuk mengurusi makanan. Saya sendiri menghargai pelayanan Marta. Kita harus mengubah konsepsi kita terhadapnya dan tidak meremehkan dia. Kita malah perlu menganjuri saudari-saudari untuk menjadi Marta. Mungkin kalian, para saudari, pendiam secara rohani dan agamawi, tetapi saya sangat riil. Saya tidak mau rohani semacam itu. Misalkan semua saudari menjadi Maria, semua rohani dan duduk diam saja, lalu siapa yang harus menyediakan makanan? Kita memerlukan beberapa Marta yang rajin, cekatan, aktif, hidup, dan riil. Boleh saja kita rohani, tetapi kita harus riil dalam pelayanan. Pelayanan Marta sangat diperlukan di dalam rumah itu. Begitu pula dalam pelayanan gereja, fungsi yang pertama ialah menangani urusan tertentu dengan memperhatikan perkara-perkara yang riil.

b. Bersaksi

Fungsi jenis kedua dalam pelayanan gereja adalah yang diwakili oleh Lazarus. Kelihatannya Lazarus tidak berbuat apa-apa. Ia hanya duduk di depan meja bersama-sama Tuhan sambil menikmati perjamuan dengan Tuhan. Namun kita harus ingat bahwa Lazarus merupakan kesaksian hidup bagi hayat kebangkitan. Dia tidak bersaksi melalui berbuat sesuatu, melainkan melalui hidup dalam hayat kebangkitan. Kesaksiannya bukan terletak pada jerih payahnya atau pekerjaannya, melainkan terletak pada kenikmatannya akan hayat kebangkitan. Dia adalah saksi terhadap kuat kuasa kebangkitan Tuhan. Di mana ia berada, di sana ada kesaksian hayat kebangkitan.

Pelayanan Marta itu baik, tetapi tidak menarik orang. Yang menarik orang ialah kesaksian Lazarus. Ini bukan berarti bahwa pelayanan Marta tidak baik atau tidak diperlukan, malah dalam hal-hal tertentu sangat diperlukan. Bahkan Lazarus sendiri juga memerlukan pelayanan Marta. Karena itu, kita harus tahu bahwa meskipun kita telah mempunyai kesaksian hayat yang baik, kita masih tetap memerlukan pelayanan Marta. Tanpa itu, kita tidak akan ada makanan.

Fungsi kedua dalam pelayanan gereja adalah kesaksian hayat. Bukan dengan berbuat atau bekerja, melainkan melalui memperhidupkan. Bukan semacam pekerjaan, melainkan semacam hayat. Bukan dengan berjerih lelah, melainkan melalui menikmati Tuhan. Kesaksian ini membuat orang merasakan kuat kuasa kebangkitan, ekspresi hayat kebangkitan, dan kenikmatan terhadap Tuhan Yesus sebagai hayat. Ini merupakan kesaksian yang kuat bahwa Tuhan dapat mengubah orang yang mati menjadi begitu hidup, serta memungkinkan dia berpesta bersama Tuhan. Di dalam gereja harus ada kesaksian yang hidup semacam ini, fungsi hayat semacam ini. Bukan saja ada pelayanan yang menangani urusan-urusan riil, tetapi juga ada ministri hayat. Pelayanan Marta itu sangat diperlukan, namun ministri Lazarus lebih-lebih tidak boleh kurang.

c. Mengasihi Tuhan

Maria mewakili fungsi jenis ketiga (Yoh. 12:2-3). Ia mewakili orang-orang yang sangat mengasihi Tuhan dan mereka yang rela menuangkan barang yang mereka anggap paling berharga ke atas diri Tuhan. Mereka sangat mengasihi Tuhan, sehingga rela memberikan yang paling baik kepada Tuhan. Inilah yang dilakukan oleh Maria. Ia telah menuangkan minyak narwastu yang mahal harganya untuk meminyaki kaki Tuhan, sambil menyeka kaki Tuhan dengan rambutnya. Dalam hatinya, tidak ada barang yang begitu intim, mustika, dan berharga seperti Tuhan. Dia, beserta banyak orang yang seperti dia, mencintai Tuhan dengan barang miliknya yang terbaik. Dalam penilaiannya, Tuhan lebih berharga, lebih patut dikasihi daripada apa pun. Bagi dia, Tuhanlah yang paling mustika dan paling berharga.

Maria menuangkan minyak narwastu yang mahal ke atas diri Tuhan Yesus, ini adalah satu tanda hidup gereja yang wajar. Mungkin Anda telah nampak Maria mengurapi Tuhan Yesus dengan minyak narwastu yang terbaik, tetapi mungkin Anda masih belum mengetahui bahwa inilah tanda hidup gereja. Ciri-ciri utama hidup gereja ialah mengurapi Tuhan dengan kasih kita yang paling baik. Ekspresi dan ciri-ciri utama hidup gereja ialah kita menuangkan minyak narwastu kita ke atas Tuhan. Gereja di sini diibaratkan sebuah rumah, begitu minyak narwastu dituangkan ke atas diri Tuhan Yesus, semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu, suatu aroma yang menyenangkan orang. Inilah seharusnya ekspresi utama dari gereja lokal. Ketika Anda memasuki gereja lokal, pertama-tama yang seharusnya tercium oleh Anda ialah minyak urapan kasih yang dituangkan ke atas Tuhan Yesus. Maria bukan hanya mengasihi Tuhan, ia juga telah menuangkan miliknya yang terbaik ke atas Tuhan. Ini menjadi tanda hidup gereja yang wajar. Dalam hidup gereja yang wajar, kita wajib mengasihi Tuhan sampai tingkat sedemikian.

Jadi, kita mempunyai tiga macam fungsi: melayani, bersaksi, dan mengasihi. Kita memiliki pelayanan, kesaksian, dan kasih yang tertuang ke atas diri Tuhan. Ketiga hal ini harus terlihat dalam hidup gereja. Setiap kali orang datang kepada kita, dia harus bisa merasakan bahwa di tengah-tengah kita ada pelayanan bagi Tuhan, kesaksian akan Tuhan, dan kasih yang tertuang ke atas diri Tuhan. Ketiga hal ini harus terlihat dalam hidup gereja. Setiap kali orang datang kepada kita, ia harus bisa merasakan bahwa di tengah-tengah kita ada pelayanan bagi Tuhan, kesaksian akan Tuhan, dan kasih yang tertuang ke atas diri Tuhan. Ketiganya ini harus kita miliki. Kita harus senantiasa mempunyai pelayanan. Lebih dari itu, kita harus memiliki kesaksian yang mempersaksikan bahwa Tuhan adalah hayat kebangkitan terhadap kita; di aspek kesaksian ini, tidak memerlukan jerih payah kita. Kita hanya memerlukan hayat kebangkitan. Setelah kita dibangkitkan bersama-sama dengan Dia, kita tidak perlu berjerih payah. Cukup duduk bersama dengan Dia, berjalan seiring dengan Dia, serta menikmati perjamuan bersama Dia. Inilah kesaksian yang benar dan hidup yang harus dimiliki oleh gereja, dan ini justru adalah ekspresi Tuhan. Lagi pula kita harus menunjukkan kasih yang mutlak kepada Tuhan. Ketika orang datang ke tengah-tengah kita, mereka harus bisa berkata, “Oh, orang-orang ini mengasihi Tuhan tanpa memperhitungkan harga. Mereka berani membayar harga apa pun untuk mengasihi Tuhan. Dalam hati mereka tidak ada sesuatu apa pun yang demikian berharga, demikian bernilai, patut dikasihi, dan demikian mustika seperti Tuhan sendiri.” Kita harus memberi kesan semacam ini kepada orang lain.

Kita sepatutnya menjadi anggota gereja yang bersisi ti-ga. Kita harus mempunyai tiga sisi. Dulu, saya pernah men-dengar beberapa saudari berkata, “Saudara, aku ini bukan Marta. Oleh belas kasihan Tuhan, aku ini Maria kecil.” Pernah seorang saudara yang sangat lincah berkata kepada saya, “Saudara, dalam gereja banyak Martanya, tetapi Lazarusnya hanya beberapa orang saja. Oleh belas kasihan Tuhan, aku justru adalah Lazarus. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku duduk di sini untuk bersaksi bagi Tuhan Yesus.” Saya ragu, apakah saudara ini benar-benar Lazarus. Kita semua harus menjadi Marta, Lazarus, dan Maria. Bila orang menanyakan nama Anda, haruslah Anda jawab, “Namaku Marta Lazarus Maria.” Inilah nama yang seharusnya dimiliki oleh kita semua.

Sekali lagi saya katakan, dalam hidup gereja, sedikitnya harus ada tiga macam hal: rajin melayani Tuhan, kesaksian yang hidup atas hayat kebangkitan Tuhan, dan kasih yang mutlak tertuang kepada Tuhan. Apabila kita benar-benar melaksanakan hidup gereja, kita harus memiliki pelayanan, kesaksian, dan kasih terhadap Tuhan. Kita semua harus menjadi Marta, Lazarus, dan Maria. Gereja seperti ini adalah hasil dari Tuhan menjadi hayat kita. Yohanes 12 adalah hasil dari pasal 11. Pelayanan, kesaksian, dan kasih semacam ini adalah karena Tuhan menjadi hayat kebangkitan. Dengan fungsi-fungsi ini barulah ada hidup gereja yang sejati. Dalam hidup gereja yang sejati, pelayanan ditujukan kepada Tuhan, kesaksian Tuhan tertampak, dan kasih terhadap Tuhan tertuang mutlak. Di sini kita dapat menikmati Tuhan bersama kaum beriman lainnya dan Tuhan sendiri bisa tinggal, istirahat, dan berjamu dengan sepuasnya. Inilah ekspresi yang sejati dari Tubuh Tuhan, yang merupakan wadah yang terisi oleh Tuhan dan mengekspresikan Tuhan.

7. Dinodai oleh Si Munafik

Tetapi, dalam lukisan hidup gereja ini, terdapat sesuatu yang negatif, yakni noda hitam dari Yudas (Yoh. 12:4). Bahkan di antara dua belas rasul yang dipilih oleh Tuhan Yesus, terdapat Yudas, yang menjadi noda hitam. Dari zaman ke zaman, gereja tidak luput dari noda. Hidup gereja yang mulia sering dinodai oleh orang yang munafik. Akan tetapi, yang menghibur kita ialah di dalam gereja kecil yang didirikan oleh Tuhan sendiri pun, terdapat noda yang sama.

Yudas mementingkan uang; cintanya kepada uang melebihi cintanya kepada Tuhan. Itulah sebabnya ia tidak menghargai perkara yang dilakukan oleh Maria terhadap Tuhan. Ia menganggap itu suatu pemborosan. Ia berpura-pura prihatin kepada orang miskin. Padahal semua itu palsu. Ia hanya memandang uang. Dalam hidup gereja, selalu saja ada noda semacam ini. Mamon, perwujudan si jahat, bermusuhan dengan Tuhan. Kegagalan untuk mengalahkan mamon sering terjadi di dalam hidup gereja. Cinta Yudas terhadap mamon memberi Iblis kesempatan untuk masuk ke dalamnya, lalu menguasai dia (Yoh. 13:2). Bukannya mengasihi Tuhan, Yudas malah mengkhianati-Nya! Inilah suatu hal yang memalukan yang berulang-ulang terjadi di dalam hidup gereja.

8. Dianiaya oleh Agama

Hidup gereja juga dianiaya oleh agama. Imam-imam agama Yahudi merencanakan siasat pembunuhan terhadap Lazarus (Yoh. 12:10) yang mempersaksikan kuat kuasa kebangkitan Tuhan. Dia merupakan kesaksian yang tegas dan kuat atas kuasa kebangkitan Tuhan. Dia menyebabkan orang-orang agama membenci dan menganiayanya. Keadaan hari ini juga demikian. Semakin kuat kita bersaksi tentang Tuhan sebagai hayat kita, kaum agamawan akan semakin marah, dan gusar terhadap kita.

9. Menguji dan Menyingkapkan Orang

Hidup gereja terhadap setiap orang adalah suatu ujian (Yoh. 12:6-10). Dia dapat menyingkapkan keadaan seseorang yang sebenarnya, menentukan di manakah hati orang itu, dan bagaimana sikap seseorang kepada Tuhan. Tanpa gereja, hati dan sikap seseorang terhadap Tuhan tidak akan terbongkar. Asal ada gereja, setiap perkara pasti akan terkupas. Jika di tempat saudara tidak ada gereja, maka hati dan sikap seseorang terhadap Tuhan dapat disembunyikan. Tetapi di dalam hidup gereja, hati setiap orang akan tersingkap. Gereja akan menyingkapkan pikiran seseorang terhadap Tuhan yang tersembunyi di dalam hatinya.

10. Membuat Banyak Orang Percaya

Dalam ayat 11 kita nampak banyak orang telah percaya karena kesaksian Lazarus. Kesaksian yang hidup dari gereja sering membuat orang percaya kepada Tuhan dan membawa orang-orang masuk ke dalam hidup gereja. Pertumbuhan gereja harus bersandar pada kesaksian gereja yang hidup, bukan sekadar pada penginjilan. Penginjilan yang paling baik yang menumbuhkan gereja ialah kesaksian kita yang hidup tentang mengalami Tuhan sebagai hayat kita.

Ketika kita merenungkan semua aspek ini dalam hidup gereja, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa rumah di Betania ini merupakan bentuk awal dari gereja. Di sana kita telah nampak hidup gereja.

C. Tuhan Adalah Suatu Ujian bagi Orang

Bukan hanya gereja yang merupakan ujian dan suatu penyingkapan bagi orang, Tuhan pun merupakan suatu ujian bagi orang-orang sekelilingnya. Imam besar dan orang-orang Farisi berupaya membunuh Dia (Yoh. 11:47, 53, 57). Berbeda dengan sikap Simon si kusta, ia justru mempersiapkan rumahnya bagi Tuhan (Mat. 26:6). Marta melayani Dia, Lazarus bersaksi bagi Dia, Maria mengasihi Dia, dan Yudas merencanakan akan menjual Dia. Di samping itu, banyak orang telah percaya kepada Dia. Sikap yang bermacam-macam ini ditujukan kepada Yesus yang sama. Di manakah Anda? (Apakah Anda sedang mencoba membunuh Dia, atau melayani Dia, mempersaksikan Dia, mengasihi Dia, atau sedang tergoda untuk mengkhianati Dia?) Anda mustahil netral. Anda harus berbuat sesuatu. Tuhan yang demikian menjadi suatu ujian di dalam gereja, bagi setiap orang di sekitar-Nya.