KEPERLUAN ORANG YANG MATI — KEBANGKITAN HAYAT (2)
Dengan memperhatikan tanda-tanda ajaib dalam Injil Yohanes, kita dapat menyadari bahwa mula-mula Tuhan datang kepada kita sebagai hayat. Kategori pertama dari gangguan yang dialami-Nya adalah agama Yahudi, dan kategori kedua adalah opini yang diajukan oleh mereka yang mengasihi-Nya. Halangan yang berasal dari opini manusia juga terjadi dalam gereja-Nya pada masa kini. Tak terhitung banyaknya opini dari mereka yang mengasihi Tuhan, yang menghalangi Tuhan menjadi hayat kebangkitan dalam gereja. Di luar gereja, agamalah yang mencegah Tuhan menjadi hayat. Tetapi di dalam gereja, opini manusialah yang tak henti-hentinya menghalangi Dia untuk menjadi hayat kita.
Kesembilan peristiwa ini sangat bermakna, karena semuanya menunjukkan Tuhan sebagai hayat, dimulai dengan kelahiran kembali, dan berakhir dengan kebangkitan. Semua peristiwa ini merupakan tanda-tanda yang melambangkan bahwa Tuhan datang kepada kita sebagai hayat dalam berbagai aspek. Pengalaman terhadap Tuhan sebagai hayat kita dimulai dengan kelahiran kembali dan mencapai puncaknya pada kebangkitan.
Tuhan Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25). Kebangkitan lebih unggul daripada hayat. Hayat hanya bisa mempertahankan eksistensinya, tetapi kebangkitan dapat menahan segala macam serangan, bahkan serangan kematian. Tuhan bukan hanya hayat, tetapi juga kebangkitan. Kematian tidak dapat mencengkeram Dia, karena Dia mampu menaklukkan kematian. Kematian tidak dapat menahan Dia, karena Dia bukan hanya hayat, Dia pun kebangkitan. Hayat adalah daya untuk bereksistensi, sedangkan kebangkitan ialah daya untuk menaklukkan segala sesuatu yang bertentangan dengan hayat. Karena itu, kebangkitan dapat mengalahkan setiap serangan terhadap hayat. Kebangkitan lebih hebat daripada hayat.
Menurut Kitab Suci, kematian adalah suatu kuasa yang besar. Ketika kematian menghampiri manusia, manusia tidak dapat mengelakkannya. Bahkan tenaga atom sekalipun tidak dapat mengatasi kematian. Hanya diri Tuhan sendirilah sebagai kebangkitan yang dapat mengalahkan kematian. Dia dapat melepaskan semua orang mati dari kematian, karena Dia bukan hanya hayat, melainkan juga kebangkitan. Karena Dia adalah kebangkitan, Dia dapat menghancurkan kuasa kematian. Bahkan alam maut tidak dapat mengurung Tuhan kita dalam kubur.
Kita harus belajar bagaimana menerapkan hayat kebangkitan ini hari demi hari. Kita tidak seharusnya hidup hanya berdasarkan Tuhan sebagai hayat, tetapi juga harus menang oleh Tuhan sebagai kebangkitan. Sering kali keadaan sekeliling kita mempengaruhi kita seperti kematian. Tetapi puji Tuhan, semua hal (termasuk jamahan kematian) adalah suatu ujian, karena hal-hal tersebut membuktikan benar tidaknya Tuhan sebagai kebangkitan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengurung kita, karena kita memiliki Tuhan sebagai hayat kebangkitan kita. Tak peduli tekanan dan persoalan apa pun yang kita tanggung, kita tidak akan mati, karena kita mempunyai hayat kebangkitan. Menurut Yohanes 11:25, Tuhan tidak mengatakan bahwa kita tidak akan mati, tetapi kita akan membuktikan kepada alam semesta bahwa Tuhan yang kita percayai adalah kebangkitan! Satan (Iblis) berusaha sedapat mungkin untuk menaruh kita selamanya di dalam kematian. Suatu hari, kita semua mungkin mati, tetapi kita akan dibangkitkan. Dalam alam semesta, ini adalah kemenangan yang paling besar, kemenangan yang akan mempersaksikan bahwa Tuhanlah kebangkitan. Bahkan dalam hidup kita sehari-hari, kita dapat mencicipi dulu kemenangan yang terakhir dari kebangkitan itu. Inilah sebabnya Rasul Paulus berkata, “Yang ku kehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya” (Flp. 3:10).
Opini manusia selalu menjadi penghalang dalam hal mengalami Tuhan sebagai hayat kebangkitan dalam gereja. Sebab itu, opini manusia harus terlebih dulu disingkirkan, baru kita bisa memiliki hidup gereja. Betapa perlunya kita mempelajari pelajaran berdiam diri di dalam gereja, tidak menyuarakan opini kita! Kita bahkan harus lebih tenang daripada Maria. Kita tidak seharusnya berkata sepatah kata pun. Kita selayaknya dengan sederhana menyampaikan suatu kabar kepada Tuhan, ini sudah cukup. Demikian, Lazarus akan selamat. Baik Tuhan menjawab atau tidak, Dia datang atau tidak, kita seharusnya tenang saja. Kita hanya menyerahkan seluruh perkara ke tangan Tuhan. Dengan demikian, kita tidak akan pernah salah, Tuhan pun tidak akan pernah terlambat. Sewaktu Dia datang, kita tidak seharusnya berkata sepatah kata pun. Kita harus membiarkan Dia berkata-kata dan memberikan Dia kesempatan untuk mengerjakan apa saja yang Dia kehendaki. Kita hanya perlu siap sedia bekerja sama dengan-Nya. Inilah jalan yang tepat untuk menempuh hidup gereja. Jika kita melakukan hal ini, kita akan mengalami Tuhan sebagai hayat kebangkitan.
Yohanes 11 sangat bermakna bila dihubungkan dengan hidup gereja. Tuhan adalah Orang yang datang ke dalam gereja sebagai hayat kebangkitan, tetapi ada dua macam penghalang. Yang pertama adalah agama, dan yang lain ialah opini manusia. Bahkan “kekristenan” sebagai “agama” mutlak merupakan suatu penghalang bagi tujuan Tuhan dalam memberi hayat. Hari ini, banyak yang disebut kelompok bebas dari orang-orang Kristen yang meninggalkan kekristenan sebagai agama. Mereka telah keluar dari denominasi-denominasi dan organisasi Kristen yang lain. Akan tetapi, betapa banyaknya opini manusia yang ada di antara kelompok bebas ini! Di antara mereka mungkin tidak ada barang-barang yang seperti agama, tetapi opini mereka sangat menghalangi jalan Tuhan. Sebab itu, kita harus belajar satu pelajaran yang bukan hanya meninggalkan “agama” Kristen, tetapi juga menolak opini kita sendiri. Dengan demikian, kita akan menyediakan suatu jalan yang bebas bagi Tuhan untuk menjadi hayat di tengah-tengah kita. Begitu Tuhan dapat mengekspresikan diri-Nya, Tuhan akan memperoleh satu gereja yang hidup. Ingatlah, agama dan opini merupakan dua macam penghalang arus Tuhan sebagai hayat kita.
Sebelum melangkah lebih lanjut menyusuri peristiwa yang terakhir ini, kita perlu melihat suatu prinsip. Dalam Yohanes 2, kita telah melihat bahwa tanda pertama ialah mengenai mengubah air menjadi anggur. Tanda kedua dalam pasal 4 ialah mengenai menghidupkan putra seorang pegawai istana yang hampir mati. Telah kita sebutkan beberapa kali bahwa maksud Roh Kudus dalam Injil ini ialah membuat Tuhan Yesus menjadi hayat, untuk memenuhi semua keperluan kita. Kedua tanda dalam pasal 2 dan 4 ini mewahyukan prinsip hayat yang keluar dari kematian. Dalam kesembilan peristiwa terdapat prinsip hayat dalam lingkungan kebangkitan untuk memenuhi setiap keperluan manusia. Sekarang kita dapat mengerti mengapa mengubah air menjadi anggur merupakan “permulaan dari segala tanda”. Hal ini mengandung prinsip yang betapa penting mengenai membawa hayat keluar dari kematian. Inilah prinsip dasar dari kesembilan peristiwa itu. Dalam setiap peristiwa tidak ada apa pun selain air yang melambangkan kematian. Semua hakiki kita dan milik kita, tak lain adalah air kematian. Dengan kata lain, kita tidak lebih daripada air kematian dan kita tidak mempunyai apa pun selain air kematian.
Jika Anda memperhatikan keadaan manusia dalam setiap peristiwa, Anda akan menemukan bahwa dalam setiap peristiwa itu, manusia tidak mempunyai apa-apa selain kematian. Lihatlah orang yang bernama Nikodemus. Dia tidak memiliki apa pun selain air kematian. Lihatlah perempuan Samaria itu. Rasa hausnya menyatakan bahwa dia ada di bawah ancaman kematian. Lihatlah putra pegawai istana yang hampir mati itu, dia berada di bawah kekejaman kematian. Lihatlah orang yang menderita sakit selama 38 tahun. Apa yang dimilikinya? Kematian. Pandanglah orang banyak sebelum mereka diberi makan oleh Tuhan. Mereka lapar, karena mereka tidak mempunyai apa-apa selain air kematian. Lihatlah para agamawan yang haus. Kesia-siaan yang mengakhiri hari raya mereka juga menyangkut kematian. Lihatlah, perempuan berdosa yang dibawa oleh orang Farisi ke hadapan Tuhan. Dia pun hanya mempunyai air kematian. Secara rohani dapat dikatakan, bahkan orang yang buta pun hanya mempunyai kematian. Lazarus berbau karena kematian. Semua orang yang terlibat dalam kesembilan peristiwa ini tidak mempunyai sesuatu apa pun selain air kematian. Menurut Yohanes 2, enam tempayan suatu lambang keinsanian, telah dipenuhi dengan air kematian sampai bibirnya. Demikian pula, setiap orang yang berada dalam setiap peristiwa, dipenuhi dengan kematian. Kematian tersingkapkan dalam setiap peristiwa.
Namun, Tuhan datang ke dalam situasi kematian ini untuk menjadi hayat dalam prinsip kebangkitan. Dia mengubah kematian dari setiap situasi menjadi hayat, dan membawa hayat keluar dari kematian.
Mari kita terapkan prinsip hayat dalam kebangkitan ini pada setiap peristiwa. Pertama-tama Tuhan berkata kepada Nikodemus mengenai kelahiran kembali. Tahukah Anda apa itu prinsip kelahiran kembali? Kelahiran kembali berarti bahwa Tuhan telah datang menjadi hayat kita dalam kebangkitan. Bagaimanakah Tuhan dapat melahirkan kembali orang-orang atau menyebabkan mereka dilahirkan sekali lagi? Mudah saja, yakni dengan menjadi hayat mereka dalam prinsip kebangkitan.
Dalam peristiwa perempuan Samaria, Tuhan berkata kepadanya mengenai kepuasan dari air hayat. Bagaimanakah seorang berdosa yang malang dapat dipuaskan dengan air hayat? Hanya dengan prinsip hayat dalam kebangkitan. Ketika Tuhan masuk ke dalam kita sebagai hayat dalam kebangkitan, kita akan mempunyai air hayat yang memuaskan kita.
Pada prinsipnya, penyembuhan putra pegawai istana yang hampir mati juga berarti hayat disalurkan kepadanya. Untuk menyembuhkan luka akibat kematian, diperlukan penyaluran hayat dalam kebangkitan.
Apakah yang terjadi pada orang yang lemah yang sakit selama 38 tahun? Sekali lagi prinsipnya adalah sama, karena Tuhan datang kepadanya sebagai hayat yang menghidupkan dalam kebangkitan. Karena Tuhan datang untuk menjadi hayatnya dalam kebangkitan, Tuhan menjadi tenaga yang menghidupkan sehingga membuatnya kuat.
Dalam peristiwa kumpulan orang yang lapar, Tuhan datang sebagai roti hidup mereka. Jika Tuhan tidak mati dan dibangkitkan, Dia tidak dapat menjadi roti hidup kita. Karena Dia telah mati dibunuh di atas salib dan telah dibangkitkan dalam kuasa hayat kebangkitan, maka Dia dapat merawat dan memuaskan kita dengan roti hidup. Kita bisa terawat oleh Dia dan dengan Dia. Ini juga merupakan prinsip hayat dalam kebangkitan.
Dalam peristiwa orang yang haus dalam Yohanes 7, Tuhan merupakan air hidup untuk meleraikan haus mereka. Bagaimanakah Tuhan dapat menjadi air hidup kita? Yohanes 7 dengan jelas memberi tahu kita bahwa setelah Tuhan dimuliakan, Roh pemberi hayat menjadi air hayat. Apakah artinya Tuhan dimuliakan? Ini berarti Tuhan harus disalibkan dan dibangkitkan, dan dalam kebangkitan-Nya itu Tuhan telah menjadi air hidup yang meleraikan haus kita.
Dalam peristiwa perempuan yang berdosa, Tuhan melepaskannya dari kekangan dan perbudakan dosa. Tuhan mati, kemudian Dia menjadi Sang “Aku adalah” yang Agung bagi orang dosa. Tuhan menguatkan dan memberi kita tenaga dengan hayat-Nya dalam kebangkitan, yang membebaskan kita dari belenggu dosa. Tanpa hayat-Nya dalam kebangkitan, kita tidak akan dapat dibebaskan dari perbudakan dosa.
Peristiwa orang yang buta sejak lahir juga mewahyukan prinsip hayat dalam kebangkitan. Bagaimana mungkin Tuhan memberinya penglihatan dan terang hayat? Yohanes 10, yang melanjutkan peristiwa dalam pasal 9, mengatakan bahwa Tuhan, selaku gembala yang baik, harus mati untuk memberikan hayat ilahi-Nya kepada domba-domba-Nya. Tuhan harus mati dan menjadi hayat kebangkitan dalam Roh. Sekarang Dia datang kepada kita sebagai hayat dalam kebangkitan.
Sudahlah jelas bahwa peristiwa yang terakhir, bangkitnya Lazarus dari kematian, berdasar pada Kristus sebagai hayat dalam lingkungan kebangkitan. Tanda yang pertama, tanda yang kedua, dan kini tanda yang terakhir, mewahyukan maksud dan prinsip Injil Yohanes: mendapatkan hayat melalui membangkitkan orang mati.
Mengapa Tuhan menunggu dua hari setelah mendengar kabar tentang sakitnya Lazarus dan bukannya segera pergi? Dengan tegas dikatakan bahwa Tuhan menunggu selama dua hari karena Dia bukan hanya ingin menyembuhkan orang, melainkan juga ingin menghidupkan orang. Tuhan tidak pernah menyembuhkan seturut dengan pengertian kita. Dia menyembuhkan dengan menghidupkan. Dapatkah Anda menemukan kata “menyembuhkan” dalam pasal 5 mengenai orang yang menderita sakit selama 38 tahun? Tidak, dalam pandangan Tuhan, orang itu bukan sakit, melainkan sudah mati. Tuhan tidak menyembuhkan penyakit orang itu, Dia menghidupkan orang itu. Jadi, prinsip hayat melalui kebangkitan adalah Tuhan selalu menghidupkan orang yang mati.
Apakah Anda berpikir bahwa Tuhan akan menyembuhkan Anda? Tidak! Tuhan akan menghidupkan Anda. Menurut konsepsi yang usang, menyembuhkan berarti memulihkan atau memperbaiki Anda. Tetapi Tuhan tidak pernah datang untuk memperbaiki Anda atau membetulkan perilaku Anda. Dia senantiasa datang untuk menghidupkan Anda. Maksud Tuhan satu-satunya adalah menyalurkan diri-Nya kepada Anda sebagai hayat yang menghidupkan.
Karena alasan inilah Tuhan tidak mau pergi kepada Lazarus dengan segera untuk menyembuhkannya dari penyakitnya. Dia menunggu hingga Lazarus benar-benar mati dan dikuburkan. Dia menunggu hingga hayat insani Lazarus tamat dengan mutlak. Lazarus benar-benar mati, bahkan membusuk di dalam kubur. Pada saat inilah Tuhan datang. Dia tidak datang sebelum waktu ini, karena Dia menolak untuk datang dalam prinsip penyembuhan. Dia hanya datang dalam prinsip hayat, dalam kebangkitan.
Misalnya, kisah seorang saudara yang agamawi merasa bahwa dia mempunyai suatu temperamen yang buruk. Kita dapat mengatakan bahwa dia menderita penyakit temperamen yang buruk. Atau misalnya, ada seorang anak laki-laki yang setelah diselamatkan menyadari bahwa dirinya nakal. Maka, dia juga adalah orang yang sakit, dia menderita penyakit nakal. Seorang beriman lainnya mungkin terlalu senang bergurau, ia menderita penyakit bergurau. Setelah menemukan penyebab penyakit masing-masing, mereka menyampaikan mengenai penyakit mereka kepada Tuhan. Sama seperti Marta yang mengabarkan bahwa Lazarus sedang sakit. Mereka pun mengatakan bahwa mereka sakit oleh karena temperamen yang buruk, perilaku yang tidak baik, atau karena senda gurau. Mereka mau Tuhan menyembuhkan mereka dengan memperbaiki temperamen mereka, sehingga mereka memiliki temperamen yang baik; memperbaiki perilaku mereka, sehingga mereka memiliki perilaku yang baik; dan membetulkan penyakit senda gurau mereka. Saudara yang menginginkan senda guraunya dibetulkan berdoa, “Oh Tuhan, jagalah mulutku!” Dengan kata lain, orang-orang ini sedang sakit dan meminta Tuhan menyembuhkan mereka. Akan tetapi Tuhan tidak pernah menyembuhkan Anda. Semakin Anda berdoa untuk penyembuhan temperamen Anda, semakin buruklah temperamen Anda. Tuhan tidak akan datang menyembuhkan Anda, tetapi Dia menunggu terus sampai Anda mati. Dia tidak akan menjawab doa Anda untuk penyembuhan, tetapi Dia akan menunggu sampai penyakit Anda berubah menjadi kematian. Dia akan menunggu sampai Anda menyadari bahwa Anda bukan saja menderita sakit, tetapi juga mati. Tuhan akan menunggu sampai Anda mengatakan kepadaNya bahwa Anda sudah tidak tertolong lagi, Anda telah putus asa terhadap diri Anda sendiri.
Apakah Anda masih mengharapkan ada perbaikan? Sungguhkah Anda telah putus asa terhadap diri Anda sendiri? Saya khawatir, Anda masih menaruh pengharapan pada diri Anda sendiri. Sering kali Anda masih seperti Marta dan Lazarus. Di satu pihak, Anda adalah Lazarus yang sakit, di pihak lain, Anda adalah Marta yang memberi kabar kepada Tuhan. Anda menyampaikan kabar kepada Tuhan mengenai segala penyakit Anda dengan harapan Dia akan datang untuk memperbaiki keadaan Anda. Tetapi kita semua dapat bersaksi bahwa Tuhan tidak pernah menjawab doa semacam ini. Semakin Anda menuntut perbaikan, semakin jauhlah Dia.
Pada suatu hari, akhirnya Anda akan menyadari bahwa Anda benar-benar tidak berpengharapan. Anda akan menemukan bahwa Anda tidak lain dari sebuah wadah yang berisi air kematian. Segala sesuatu penuh dengan kematian, tidak ada satu pun yang hidup. Anda adalah salah satu dari keenam tempayan yang penuh dengan air kematian. Ketika Anda menyadari bahwa Anda benar-benar berada dalam kematian dan tidak mempunyai apa pun selain air kematian di dalam Anda, barulah Tuhan akan datang untuk menghidupkan Anda. Bila Anda menyadari bahwa Anda sudah mati, dikubur, bahkan berbau busuk, maka Tuhan akan datang untuk menghidupkan Anda. Betapa seringnya kita berusaha untuk menjadi lebih baik dan memperbaiki diri kita! Akan tetapi Tuhan akan menunggu sampai kita berbau busuk dan bahkan menyebarkan bau busuk kepada orang lain. Tuhan akan menunggu sampai orang lain mencium bau busuk Anda. Lalu Dia akan datang kepada Anda dalam prinsip hayat, dalam kebangkitan, untuk menghidupkan Anda.
“Kekristenan” bertindak berlawanan dengan prinsip ini, karena kekristenan merupakan suatu “agama” yang berusaha memperbaiki orang, membenahi orang, membetulkan perilaku orang. Tetapi Kristus adalah hayat dan Dia datang untuk menghidupkan orang dengan hayat-Nya. Dia datang untuk melahirkan kembali orang, membangkitkan orang dengan diri-Nya sendiri sebagai hayat. Apakah artinya memperbaiki, membenahi, atau membetulkan perilaku seseorang? Itu tak lain berarti membuat manusia yang semula menjadi lebih baik melalui diri sendiri yang semula. Tetapi Kristus datang untuk melahirkan kita kembali dan membangun kita kembali seturut diri-Nya sendiri. Tuhan tidak ingin menyembuhkan manusia yang semula; Dia menunggu sampai manusia yang semula mati. Karena itu, apabila Anda telah penuh dengan air kematian, berbau busuk dengan bau kematian, Tuhan akan datang untuk menciptakan Anda kembali dan membangkitkan Anda dari kematian, masuk ke dalam diri-Nya sebagai hayat dalam kebangkitan.
Prinsip Injil Yohanes ialah Kristus menjadi hayat dalam kebangkitan. Maksud Injil ini bukan untuk memperbaiki atau membenahi kita dengan membetulkan perilaku kita. Maksud Tuhan satu-satunya ialah membawa hayat kepada kita. Hayat ini akan menghidupkan, melahirkan kembali, membangkitkan, serta menciptakan kita kembali. Jika kita dapat memahami prinsip Injil ini, rasa haus kita akan dileraikan, lapar kita akan dipuaskan, kegelapan kita akan diterangi, kekang dosa kita akan dihancurkan, dan kematian kita akan ditelan oleh kebangkitan kesemuanya ialah melalui mengalami Kristus sebagai hayat kebangkitan kita dalam Roh dan melalui firman. Kita tidak akan dapat mengalami Kristus yang hidup berdasarkan segala sesuatu yang berasal dari diri kita atau segala yang kita lakukan. Kristus yang hidup hanya dapat dialami dalam Roh dan melalui firman. Roh dan firman akan membawa kita kepada prinsip hayat dalam kebangkitan. Jika kita menerima Dia dalam Roh dan melalui firman, kita akan dipuaskan, diterangi, dibebaskan, dan dibangkitkan. Ketika kita dibangkitkan dari kematian, kita dilepaskan dari semua aspek kematian. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menindas kita, tidak ada sesuatu pun yang membatasi kita, dan tidak ada sesuatu pun yang menawan kita, karena kita hidup di dalam kebangkitan.
IV. PERSEKONGKOLAN AGAMA DAN
KEMATIAN PENGGANTI HAYAT UNTUK BERHIMPUNNYA ANAK-ANAK ALLAH
Tuhan membangkitkan orang mati hanya di antara mereka yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Inilah gambaran gereja hari ini, karena Dia menjadi hayat kebangkitan hanya bagi mereka yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Namun, begitu kabar tentang kebangkitan-Nya tersebar ke kelompok agamawan, seperti agama Yahudi, timbullah suatu reaksi. Kelompok agamawan tadi menjadi marah kepada Tuhan dan memutuskan untuk menangkap Dia dan membunuh Dia. Agama Yahudi dalam Yohanes 11, menyiratkan bahkan “kekristenan” hari ini, juga sangat menentang kehendak Tuhan yang ingin membawa hayat kebangkitan ke dalam orang. Dalam banyak peristiwa, “agama” Kristen telah menolak Tuhan sebagai hayat. Pada hari-hari terakhir ini, Tuhan semakin bertambah di dalam kelompok orang yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Alhasil, Dia akan melakukan banyak perkara untuk membangkitkan orang dari kematian mereka. Tetapi begitu kabar ini sampai ke kelompok agamawan, mereka bisa marah, dan menentang Kristus Sang hayat kebangkitan.
Layak diperhatikan bahwa saat kebangkitan Lazarus berdekatan dengan waktu Paskah. Menurut Kitab Suci, kita tahu Kristuslah hari Paskah kita (1Kor. 5:7), akan tetapi kelompok agamawan itu ingin merayakan Paskah yang lain. Dengan memelihara Paskah milik mereka sendiri, kelompok agamawan itu telah membunuh realitas Paskah. Dengan kata lain, Kristus sebagai Paskah yang sejati adalah realitas Paskah. Di satu pihak, kelompok agamawan ingin memelihara Paskah; di pihak lain, mereka ingin membinasakan realitas Paskah. Prinsip ini sama juga dalam “kekristenan” hari ini. Meskipun kekristenan memiliki hubungan yang erat dengan Kristus, tetapi sebenarnya kekristenan menyingkirkan realitas Kristus. Kekristenan hari ini di satu pihak memberitakan Kristus, tetapi di pihak lain menghancurkan realitas Kristus.
A. Persekongkolan Agama
Menggenapkan Tujuan Allah
Sebagaimana telah kita lihat, suasana kematian yang disiapkan Allah justru memungkinkan Kristus mengekspresikan kuasa kebangkitan-Nya, dan hasil dari kuasa kebangkitan ini ialah membuat orang bangkit. Tetapi hal bangkitnya Lazarus ini menimbulkan beberapa masalah. Begitu berita ini tersebar luas sampai kepada orang-orang Farisi dan setelah mereka mendengarnya, mereka menganggap bahwa situasinya sangat gawat. Karena itu mereka bersekongkol untuk membunuh Yesus (Yoh. 11:45-57). Ketika orang-orang Farisi bersekongkol untuk menentang Tuhan Yesus, Kayafas, yang adalah Imam Besar pada tahun itu bernubuat: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa” (Yoh. 11:49-50). Ayat berikutnya mengatakan, “Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai” (Yoh. 11:51-52). Ungkapan “mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah” yang disebutkan di sini menyiratkan bahwa bukan hanya kematian Tuhan, tetapi juga hayat kebangkitan Tuhan, adalah untuk membangun anak-anak Allah. Apa arti semuanya ini? Ini berarti hayat kebangkitan akan membangkitkan suatu situasi yang melaluinya umat Allah yang tercerai-berai dapat dikumpulkan untuk dibangun menjadi tempat kediaman Allah di bumi. Persekongkolan kelompok agamawan membantu penggenapan tujuan Allah.
B. Pengumpulan Anak-Anak Allah Melalui Kematian dan Hayat Kebangkitan Tuhan
Saya katakan sekali lagi, kematian Lazarus telah dipersiapkan Allah sebagai kesempatan untuk menyatakan hayat kebangkitan. Hayat kebangkitan memerlukan kematian agar hayat dan kuasa kebangkitan dapat diekspresikan. Penyataan kuasa hayat kebangkitan ini menimbulkan suatu reaksi di kalangan penentang, yang kemudian bersekongkol untuk membunuh Tuhan Yesus. Sebagai bagian dari akibat persekongkolan mereka, timbullah suatu nubuat. Ini menyatakan bahwa persekongkolan di kalangan agamawan yang menentang, sebenarnya membantu untuk menggenapkan tujuan Allah. Hal ini membantu dalam mengumpulkan seluruh umat Allah yang tercerai-berai bagi pembangunan Allah. Sebab itu, jangan sekali-kali merasa kecewa atas keadaan gereja di tempat Anda. Jika ada kesulitan di dalam gereja Anda, pujilah Allah karenanya. Hal itu pastilah persiapan-Nya. Dia akan berbuat sesuatu dan kemudian penentangan agama akan dikendalikan. Penentang-penentang itu mungkin bahkan akan membunuh Anda. Tetapi jangan khawatir, persekongkolan semacam itu pun akan dipakai Allah untuk mengumpulkan umat-Nya yang tercerai-berai bagi pembangunan-Nya.
Saya ingin membuat Anda terkesan dengan fakta bahwa asal kita berada dalam pemulihan Tuhan dan asal kita memiliki kebangkitan Kristus, tak peduli bagaimanapun situasi di sekeliling kita atau persekongkolan apa dalam lingkungan kita yang menentang kita, tujuan Allah yang kekal akhirnya pasti tergenapkan. Bahkan kita akan nampak terkumpulnya umat Allah yang telah tercerai-berai bagi pembangunan-Nya. Semua perkara yang negatif, kematian dan penentangan akan menjadi hamba Allah untuk tujuan kekal Allah. Selanjutnya, mereka akan menjadi penggenapan, pelaksanaan dari tujuan Allah. Kita berada di puncak gunung dan air bah ada di bawah kaki kita. Tidak perlu khawatir, asal Anda berada di gereja lokal, asal Anda memiliki Kristus sebagai kuasa kebangkitan Anda dan asal Anda berada di dalam arus ini serta memiliki kesaksian ini, Anda boleh tenang tanpa mempedulikan keadaan yang mati di dalam atau penentangan di luar. Agama, penentangan, persekongkolan yang merencanakan untuk membunuh atau menawan Anda akan menggenapkan tujuan kekal Allah.
Inilah wahyu dari pasal ini. Yohanes 11 bukanlah sekadar cerita mengenai kebangkitan. Ini merupakan suatu wahyu yang lengkap yang mengungkapkan bahwa asal kita bersama Tuhan dan bersama hayat kebangkitan bagi tujuan Allah, segala sesuatu yang menimpa kita adalah untuk penggenapan tujuan-Nya. Sebab itu kita boleh berkata, “Tuhan, jika Tuhan ingin memberikan suatu keadaan yang mati kepada kami, lakukanlah itu. Kami akan senang atas hal tersebut. Biarlah beberapa saudara “Lazarus” mati. Kemudian kuat kuasa kebangkitan akan terekspresikan. Engkau akan melakukan suatu pekerjaan dalam kebang-kitan yang akan mengumpulkan semua anak Allah yang tercerai-berai bagi pembangunan Allah.” Hal-hal ini sedang terjadi di Amerika Serikat. Puji Tuhan! Puji Tuhan atas kuat kuasa kebangkitan-Nya. Puji Tuhan atas pengumpulan-Nya yang berdaulat. Dia membangkitkan orang yang mati dan mengumpulkan umat-Nya bagi pembangunan-Nya yang ajaib!