KEPERLUAN ORANG YANG MATI — KEBANGKITAN HAYAT (1)
Bangkitnya Lazarus dari kematian sungguh merupakan suatu peristiwa yang ajaib. Di sini kita nampak seorang yang telah mati, telah dikuburkan selama empat hari dan mulai membusuk, namun ia dibangkitkan. Mengapa ketiga kitab Injil lainnya tidak memberikan catatan tentang peristiwa yang ajaib ini? Sekalipun perkara ini demikian ajaibnya, tetapi Injil-injil lainnya sama sekali tidak menyinggungnya. Ini karena peristiwa kebangkitan tidak sesuai dengan tujuan dari ketiga kitab Injil lainnya. Peristiwa ini hanya sesuai dengan tujuan Yohanes. Injil Matius, Markus, dan Lukas adalah Injil-injil dengan tujuan selain hayat. Injil Yohanes adalah Injil hayat. Karena itu, Roh Kudus mengkhususkan hal ini untuk Yohanes sebagai bukti bahwa Injil Yohanes adalah Injil hayat.
I. ORANG YANG MATI DAN KEPERLUANNYA
Dalam Yohanes 11:1-4, kita melihat orang yang mati dan keperluannya. Lazarus tidak hanya sakit, bahkan telah mati (Yoh. 11:14). Jadi, ia tidak memerlukan penyembuhan, melainkan kebangkitan. Dalam keselamatan Tuhan, Ia tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga memberikan hayat kepada orang yang mati. Karena itu, Ia tetap tinggal selama dua hari sampai si sakit meninggal (11:6). Tuhan tidak membentuk kembali atau membetulkan manusia, tetapi Ia melahirkan kembali manusia dan membangkitkannya dari kematian. Itulah sebabnya peristiwa pertama dari kesembilan peristiwa adalah kelahiran kembali, dan peristiwa terakhir adalah kebangkitan. Ini mewahyukan bahwa berbagai aspek Kristus sebagai hayat kita seperti yang tersingkap dalam ketujuh peristiwa lainnya, semuanya berada dalam prinsip kelahiran kembali dan kebangkitan. Peristiwa terakhir ini benar-benar merupakan mengubah kematian menjadi hayat.
Sebelum kita melihat perkara Kristus membangkitkan Lazarus dari kematian, kita harus mengetahui bahwa Injil Yohanes menyatakan dua hal. Di pihak positif, mewahyukan bahwa Kristus datang sebagai hayat kita. Putra Allah adalah firman Allah, semuanya berada dalam ekspresi Allah. Sebagai ekspresi Allah, Ia datang ke dalam daging untuk menjadi hayat kita. Dasar pemikiran ini dapat kita temukan di setiap pasal dalam seluruh Injil Yohanes. Di pihak negatif, kitab ini juga menunjukkan bahwa agama, bahkan agama Yahudi dari Yudaisme pun sangat menentang Kristus sebagai hayat. Dengan membaca kitab ini secara teliti, Anda akan menemukan bahwa agama yang baik dan murni pun menentang Kristus sebagai hayat. Dalam sepuluh pasal pertama dari Injil ini, satu-satunya tentangan terhadap Tuhan kita berasal dari agama Yahudi. Agama menentang-Nya, menolak-Nya, menyangkal-Nya, dan menganiaya-Nya. Akhirnya, pada akhir pasal 10, Ia dipaksa untuk meninggalkan agama, Ia meninggalkan Bait Allah, kota kudus, dan semua barang yang baik dari agama Yahudi serta datang pada kedudukan yang baru.
Dalam setiap pasal, mulai pasal 1 sampai pasal 10, kita dapat menemukan satu pokok masalah yang berkaitan dengan penentangan agama terhadap Kristus. Dalam Yohanes 1, kita nampak agama sedang mengharapkan kedatangan seorang pemimpin besar. Agama menunggu seorang yang disebut Mesias, Elia, atau Nabi yang dijanjikan. Tetapi Kristus tidak datang sebagai pemimpin besar, melainkan sebagai Anak Domba Allah yang kecil untuk menggenapkan penebusan dan sebagai burung merpati kecil untuk menghasilkan batu-batu yang diubah bagi pembangunan Allah. Jadi, bahkan dalam pasal 1 dari kitab Injil ini, kita telah nampak gejala salah jalan dari agama, jalan yang bukan jalan hayat. Ada perbedaan yang sangat besar antara agama dengan hayat.
Dalam Yohanes 2, kita nampak bahwa agama berusaha untuk menghancurkan hayat, karena agama berusaha menghancurkan Yesus. Tetapi Yesus yang adalah hayat ilahi akan membangkitkan diri-Nya dari penghancuran itu. Hayat tidak hanya dapat melawan penghancuran, juga dapat melepaskan diri keluar dari penghancuran kematian.
Dalam Yohanes 3, kita nampak bahwa Nikodemus, seorang laki-laki yang luhur mempunyai konsepsi agama tentang Tuhan Yesus, menganggap-Nya sebagai Rabi dan memandang-Nya sebagai guru yang diutus oleh Allah. Semua konsepsi ini adalah konsepsi agama.
Dalam Yohanes 4 kita nampak bahwa bahkan seorang perempuan Samaria yang kasihan, hina, amoral, dan rendahan pun mempunyai konsepsi agama. Dalam percakapannya dengan Tuhan, ia menyinggung tentang penyembahan terhadap Allah. Walaupun agama di kalangan orang Samaria tidak asli, itu tetaplah agama. Orang Samaria mempunyai satu tradisi dan warisan agama.
Dalam Yohanes 5, kita nampak timbulnya penentangan yang menyeluruh dari agama terhadap hayat. Ini karena adanya kenyataan bahwa Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang lemah pada hari Sabat. Dalam pandangan orang Yahudi, Ia dianggap telah melanggar peraturan hari Sabat. Akibatnya, mereka mulai menentang Dia. Sesungguhnya, mereka mulai secara menyeluruh menentang Tuhan. Melalui ini kita nampak bahwa peraturan-peraturan agama merupakan lawan Tuhan sebagai hayat bagi orang-orang yang memerlukan. Tuhan sebagai hayat kita adalah satu hal, agama dengan semua peraturannya adalah hal yang lain lagi. Kristus sebagai hayat dan agama dengan peraturannya tidak pernah dapat berjalan seiring.
Kita juga nampak sesuatu dari agama dalam Yohanes 6. Ketika orang-orang melihat bahwa Yesus telah memberi makan orang banyak dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (6:14). Mereka hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja (6:15). Itulah konsepsi agama. Tuhan Yesus menyingkir dari mereka karena Ia ingin tetap tinggal sebagai roti kecil untuk dimakan manusia.
Dalam Yohanes 7, kita nampak konsepsi agama yang lain. Dalam perayaan keagamaan, orang-orang membicarakan tentang Yesus, tetapi Yesus berdiri dan berseru, mengajak mereka untuk berbalik dari agama mereka yang usang kepada sumber air hayat.
Dalam Yohanes 8, kita nampak lebih banyak perkara agama. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mencoba untuk menjebak Tuhan dengan pertanyaan-pertanyaan keagamaan mereka, mengenai cara menghakimi seorang perempuan yang berzina. Tetapi Tuhan menjawab mereka dengan jalan hayat, menyingkapkan kebodohan mereka yang berpegang teguh pada agama mereka, sehingga mereka terbungkam dengan malu.
Penentangan agama terhadap hayat bertambah kuat dalam Yohanes 9. Dalam Yohanes 5, Tuhan menyembuhkan seorang yang lumpuh pada hari Sabat. Dalam Yohanes 9, Ia mencelikkan mata seorang yang buta. Ia sengaja melakukan ini pada hari Sabat. Mengapa Tuhan tidak pergi kepada orang itu pada hari-hari sebelum atau sesudah Sabat? Ia sengaja melakukan ini untuk mendobrak tata cara yang mati dari agama yang mati. Tuhan sengaja mendobrak kebiasaan Sabat di depan mata orang-orang Yahudi, orang beragama. Mata orang yang buta itu tercelik, tetapi mata orang-orang Farisi dibutakan karena penentangan mereka. Orang Yahudi beranggapan bahwa Yesus sangat menentang kepercayaan mereka dengan melanggar peraturan-peraturan agama mereka. Karena itu, mereka sangat marah kepada Tuhan dan mulai menentang-Nya. Bahkan mereka mengusir orang yang disembuhkan oleh Tuhan (9:34). Ketika mereka mengusir orang yang buta itu dari rumah ibadah, mereka mengucilkannya dari agama Yahudi mereka. Waktu itulah Tuhan mengambil kesempatan untuk berkata kepada mereka bahwa Yudaisme tidak lebih daripada sebuah kandang domba yang menampung domba-domba untuk sementara waktu. Sekarang padang rumput telah tersedia, maka domba-domba itu akan dilepaskan dari kandang dan dibawa ke padang rumput. Tuhan Yesus memberi tahu mereka bahwa sejak mereka mengusir orang yang buta itu dari agama mereka, seekor domba telah terbebaskan dari kandang dan dibawa kepada Kristus yang adalah padang rumput yang hidup. Pada akhir Yohanes 10, Tuhan Yesus berjalan keluar dari kandang agama Yahudi.
Dalam sepuluh pasal pertama Injil ini kita nampak peperangan dan pertentangan antara agama dengan hayat. Akhirnya, Tuhan meninggalkan agama dan keluar darinya. Di manakah Ia sekarang? Ia telah keluar dari agama. Dalam kedudukan-Nya yang baru, tidak ada satu pun unsur agama, semua unsur agama telah disingkirkan.
II. HALANGAN DARI OPINI MANUSIA
Sekarang kita akan melihat peristiwa yang terakhir. Ini tidak terjadi dalam kandang Yahudi, melainkan di luar kandang. Setelah Tuhan keluar dari Yerusalem, Dia pergi ke sebuah rumah di Betania, di mana tinggal seorang saudara dan dua orang saudari yang sangat mencintai Tuhan. Sebelum Dia datang, suatu hal telah terjadi di rumah ini: saudara ini, Lazarus, sakit keras dan saudari-saudarinya mengirim kabar kepada Tuhan, yang berarti mereka berdoa kepada Tuhan (11:3). Tidak ada yang salah dengan doa. Jika Anda dalam kesulitan, Anda harus mengirim kabar kepada Tuhan. Kapan saja Anda boleh memberi tahu Dia, Anda boleh memberitahukan situasi apa pun kepadaNya. Namun, apa yang akan Dia lakukan, itu terserah kepada-Nya.
Yohanes 11 menyajikan suatu tujuan yang sangat khusus: menunjukkan kepada kita bahwa selain penentangan dari agama, opini manusia juga merupakan penghalang paling besar terhadap hayat. Dalam pasal-pasal sebelumnya, masalahnya ialah hayat berhadapan dengan agama. Seperti telah kita ketahui di setiap pasal, hayat selalu ditentang oleh agama. Dalam Yohanes 11 tidak ada unsur agama, tetapi ada satu jenis penghalang yang lain penghalang dari opini manusia. Apakah yang dimaksud dengan penghalang kuasa kebangkitan Tuhan dalam pasal ini? Yang dimaksudkan tidak lain adalah opini manusia. Pasal ini menggambarkan dengan jelas bagaimana opini manusia menghalangi hayat kebangkitan Tuhan. Begitu opini manusia tertaklukkan, hayat kebangkitan segera ternyata. Ini bukan perkara dalam agama, tetapi perkara dalam gereja, dalam rumah Betania yang merupakan miniatur hidup gereja. Di Yerusalem, Anda berada di dalam agama; di Betania, Anda berada di dalam gereja lokal. Di Yerusalem Anda berurusan dengan agama, di gereja lokal Anda berurusan dengan opini manusia. Dalam Yohanes 1-10, Kristus sebagai hayat telah sepenuhnya terwahyukan dan pada waktu yang sama, penentangan agama terhadap-Nya juga tersingkapkan. Sekarang dalam Yohanes 11, Kristus sebagai hayat kebangkitan terwahyukan, tetapi bersamaan dengan itu opini manusia muncul. Walaupun tidak ada masalah agama dalam gereja, tetapi ada penghalang lainnya, yaitu opini manusia. Tuhan adalah hayat kebangkitan, tetapi Dia dihalangi oleh opini manusia. Pasal ini dipenuhi oleh opini manusia.
Marta dan Maria mengira Tuhan akan segera datang. Inilah opini mereka. Tetapi Tuhan tidak pernah bekerja berdasarkan opini siapa pun, Dia selalu bekerja menurut kemauan-Nya sendiri. Mereka mengira Tuhan segera datang, tetapi Tuhan sengaja tinggal lagi selama dua hari.
Tuhan adalah kebangkitan. Karena itu, hidup atau mati bukanlah masalah bagi-Nya. Sangat mudah bagi-Nya untuk menelan kematian. Kematian memang merupakan masalah bagi kita, tetapi bukan masalah bagi Kristus. Sebagai kebangkitan, Dia dapat menanggulangi dan menelan kematian. Walaupun demikian, ketika kita menerapkan Dia sebagai kebangkitan, kita menghadapi masalah dari opini manusia. Dalam berita ini, saya ingin saudara saudari memiliki suatu kesan yang dalam terhadap opini kita. Masalah dalam gereja lokal yang membuat kita tidak nampak kebangkitan Kristus adalah opini kita.
Jika Anda membaca pasal ini dengan teliti, Anda akan nampak bahwa kematian Lazarus pun ada di bawah pengaturan Allah. Dengan kedaulatan-Nya, Allah menyediakan keadaan lingkungan yang menyebabkan pengikut-Nya meninggal. Kuasa kedaulatan Allah telah mengatur situasi kematian yang sedemikian rupa supaya kekuatan kebangkitan Tuhan ternyata. Tanpa adanya kematian, tidak ada jalan untuk menyatakan kebangkitan. Kebangkitan memerlukan kematian. Bagaimana kebangkitan dapat terekspresi tanpa adanya kematian? Kita harus memuji Tuhan atas kematian Lazarus. Seandainya Marta dan Maria paham bahwa kebangkitan tidak dapat terekspresi tanpa kematian, mereka pasti akan memuji Tuhan ketika saudara mereka meninggal. Mereka akan nampak bahwa kematian ini akan mengekspresikan kebangkitan Tuhan. Jika demikian halnya, tidak akan ada opini manusia.
Kita dapat menerapkan situasi ini dalam gereja lokal. Dalam gereja lokal selalu ada seseorang atau sesuatu yang mati. Setiap kali para pewajib nampak situasi kematian yang sedemikian, mereka akan dengan gelisah berkata kepada Tuhan, “Ya Tuhan, bukankah ini gereja-Mu? Tidakkah Engkau mencintai gereja? Tidak tahukah Tuhan bahwa ada sesuatu yang mati di dalam gereja? Tuhan, datanglah segera.” Doa ini memang baik, namun berdoa seperti ini adalah menurut opini manusia. Semakin Anda berdoa demikian, Tuhan akan semakin tinggal diam. Ia menunda kedatangan-Nya untuk menanggulangi opini manusia.
Kali pertama saya nampak terang dalam pasal ini, saya tertawa. Sebelumnya saya tidak tahu, betapa banyaknya opini dalam pasal ini. Sebenarnya Tuhan tahu bahwa Lazarus sakit, Dia pun tahu benar harus bagaimana mengatasi keadaan itu, sekalipun mereka tidak mengirim kabar kepada-Nya. Mereka mengabarkan hal itu kepada-Nya, tetapi Dia tidak tergerak oleh berita itu. Adakalanya sangat sulit untuk menggerakkan Tuhan. Dalam Sidang Doa, Anda dapat berkata, “Tuhan, kami menggerakkan tangan-Mu.” Tetapi semakin Anda berusaha menggerakkan tangan-Nya, tangan-Nya semakin menolak untuk digerakkan. Tuhan tidak akan pernah bergerak oleh opini Anda. Ketika Dia mendengar kabar itu, hati-Nya tetap bergeming dan tidak tergerak. Dia tetap tinggal di tempat-Nya selama dua hari.
A. Opini Murid-murid-Nya
Dalam Yohanes 11:8-16, kita nampak opini murid-muridNya. Ketika kabar tentang sakitnya Lazarus datang, hati Tuhan tidak tergerak. Murid-murid-Nya tentu merasa heran dan bingung. Dapatkah Anda bayangkan betapa kecewanya murid-murid-Nya. Setelah berselang dua hari, tiba-tiba Tuhan menyatakan keinginan-Nya untuk melihat Lazarus. Katanya, “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya” (11:11). Murid-murid-Nya segera berkata kepada-Nya, “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh” (11:12). Di sini kita nampak opini murid-murid-Nya. Ketika Tuhan menyatakan keinginan-Nya untuk pergi melihat Lazarus, murid-murid-Nya mengeluarkan opini mereka. Mereka memberi tahu Tuhan bahwa berbahaya jika Tuhan pergi, karena orang-orang Yahudi berusaha melempari Dia dengan batu (11:8). Inilah opini manusia yang selalu bertentangan dengan kehendak Tuhan. Bagaimanapun, sekali Tuhan memutuskan untuk pergi melihat Lazarus, tidak ada satu orang pun yang dapat mencegah-Nya. Akhirnya murid-murid-Nya setuju pergi, tetapi mereka pergi dengan sikap yang siap untuk mati martir menghadapi penganiayaan orang Yahudi. Ini dapat diketahui karena salah seorang dari murid-murid-Nya berkata, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (11:16). Sering kali keadaan di setiap gereja lokal tepat seperti ini, yaitu dipenuhi banyak opini.
B. Opini Marta
Ketika Tuhan datang, Martalah yang menjumpai-Nya lebih dulu (Yoh. 11:20). Tetapi sebelum Tuhan sempat berbicara, Marta telah membuka mulutnya dan mengeluarkan opini yang lain: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (11:21). Ia menyesali Tuhan terlalu lambat datang. Tuhan berkata kepadanya, “Saudaramu akan bangkit” (11:23). Ini berarti Tuhan akan segera membangkitkannya. Tetapi Marta berkata, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman” (11:24). Marta menanggapi perkataan Tuhan dengan menunda kebangkitan sekarang menjadi kebangkitan pada akhir zaman. Penjelasan yang sangat menyimpang terhadap perkataan Tuhan! Beberapa pengetahuan dari pengajaran fundamental benar-benar merusak orang, menghalangi orang menikmati kebangkitan hayat Tuhan pada masa kini! Kemudian Tuhan berkata kepadanya, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (11:25-26). Tuhan seolah-olah berkata kepadanya, “Itu bukanlah masalah waktu. Tidak ada masalah waktu bagi-Ku. Tidak ada yang terlalu lambat dan tidak ada yang terlalu cepat. Asal Aku ada di sini, semuanya akan beres, karena Aku akan membangkitkan saudaramu.” Bertanyalah Tuhan kepada Marta, “Percayakah engkau akan hal ini?” Jawab Marta, “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia” (11:27). Apa yang dijawabnya bukan yang ditanyakan Tuhan. Marta tidak mengerti akan apa yang dikatakan Tuhan. Pengetahuannya yang usang yang telah menduduki dirinya, menghalangi dia untuk mengerti perkataan Tuhan yang baru. Pengetahuan usang manusia, opini usang, semuanya merupakan selubung bagi manusia untuk mengetahui wahyu Tuhan.
Marta, seperti juga kebanyakan orang Kristen hari ini, mempunyai banyak pengetahuan dan doktrin. Marta berkata, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Ini kedengarannya cukup alkitabiah dan tepat. Kemudian Tuhan bertanya kepadanya, apakah ia percaya bahwa Tuhan akan membangkitkan Lazarus, Marta menjawab, “Aku percaya bahwa Engkaulah Mesias (Kristus), Anak Allah.” Ia percaya suatu doktrin bahwa Tuhan adalah Kristus dan Anak Allah. Ia percaya doktrin bahwa di kemudian hari Tuhan akan membangkitkan semua orang kudus yang telah mati. Ia mempunyai semua pengetahuan itu, tetapi semua itu bukan pengetahuan yang hidup yang Tuhan ajarkan. Semua opininya tidak lain berasal dari pengetahuan-pengetahuan yang ia miliki. Hari ini, banyak orang Kristen mempunyai opini-opini karena mereka mempunyai begitu banyak pengajaran. Ketika orang berkata kepada mereka tentang hayat batiniah, segera mereka mengeluarkan opini-opininya. Pengetahuan dan doktrin yang begitu banyak menghasilkan opini-opini yang tak habis-habisnya.
Setelah Marta menyatakan bahwa ia percaya Tuhan adalah Kristus, Anak Allah, ia pergi dan memanggil saudara perempuannya, Maria. Marta berkata, “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” Namun, saya tidak dapat menemukan satu kata pun yang menunjukkan bahwa Tuhan telah memanggil Maria. Itu adalah pendapat Marta, perkiraan opininya sendiri. Sekali lagi kita nampak dalam diri Marta, satu orang yang penuh dengan opini pribadi. Ia begitu aktif sehingga tidak dapat tenang. Mungkin juga Anda sangat mencintai Tuhan, tetapi Anda seperti Marta, tidak dapat diam dan tenang.
C. Opini Maria
Maria datang kepada Tuhan sesuai dengan perkataan Marta. Ia mengulangi apa yang dikatakan Marta kepada Tuhan, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (11:32). Ini juga opini, suatu penyesalan terhadap Tuhan.
Tuhan tidak pernah membantahnya, tetapi juga tidak menerima opini mereka. Mereka tidak mengerti bahwa asal ada Tuhan, semuanya akan beres. Mereka tidak memahami hal ini; karena mereka sangat berdukacita, mereka menangis. Karena alasan inilah Tuhan mengeluh dalam roh dan sedih (11:33 Tl.). Ia tidak bersedih karena kematian Lazarus, tetapi karena kenyataan bahwa tidak ada seorang pun dari antara mereka yang berdukacita itu mengetahui bahwa Ia adalah kebangkitan yang sekarang. Ia sedih karena ini. Kemudian Tuhan bertanya kepada mereka di mana Lazarus dibaringkan. Kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, marilah dan lihatlah!” (11:34). Jawaban ini sungguh sangat baik. Opini ini adalah yang terbaik. Ketika dalam gereja timbul masalah, jangan terlalu banyak bicara; katakan dengan sederhana, “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Pada saat inilah, Tuhan menangis karena bersimpati kepada dukacita mereka atas kematian Lazarus.
D. Opini Orang-orang Yahudi
Dalam 11:36-38, kita nampak opini orang-orang Yahudi. Mereka mengira Tuhan menangis (11:35) karena kasih-Nya kepada Lazarus. Ada beberapa orang berkata, mengapa Tuhan tidak dapat berbuat sesuatu agar Lazarus tidak mati. Opiniopini ini ditambah lagi dengan ketidaktahuan orang Yahudi akan kesanggupan Tuhan untuk membangkitkan Lazarus dari kematian, itulah yang menyebabkan Tuhan sekali lagi sangat sedih.
E. Marta Beropini Lagi
Ketika Tuhan tiba di depan kubur itu, Dia menyuruh orang-orang mengangkat batu itu. Sekali lagi Marta beropini, menghalangi Tuhan. Katanya, “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati” (ayat 39). Maria merasa tidak ada gunanya mengangkat batu itu. Dalam pasal ini tidak ada perkara agama, tetapi terlalu banyak opini menghalangi Tuhan. Meskipun dalam gereja, Tuhan adalah hayat manusia, tetapi pada diri orang-orang gereja, Dia menghadapi banyak opini, seperti opini murid-murid-Nya, Marta, Maria, dan teman-teman Yahudi mereka yang Dia jumpai.
F. Opini Milik Pohon Pengetahuan Berlawanan dengan Pohon Hayat
Semua opini berasal dari pikiran manusia, karena itu, opini adalah milik pohon pengetahuan, berlawanan dengan hayat. Pohon hayat sesungguhnya adalah diri Tuhan sendiri menjadi kenikmatan kita. Bila kita mempertahankan opini kita, kita tidak dapat menikmati Tuhan sebagai hayat kebangkitan. Bila opini kita ditaklukkan, kita pasti dengan mudah masuk ke dalam kenikmatan yang penuh terhadap diri Tuhan sendiri.
III. KEBANGKITAN HAYAT
A. Memberi Hayat kepada Orang yang Mati
Tuhan sebagai kebangkitan memberi hayat kepada orang yang mati. Ia adalah kebangkitan dan hidup. Dalam kebangkitan, hayat ini diberikan kepada orang yang mati untuk mengangkat mereka dari kematian. Inilah kebangkitan hayat.
B. Perlu Ketaatan dan Kerja Sama dari Manusia
Di sini kita harus nampak satu hal, yaitu Tuhan sanggup membangkitkan Lazarus dari kematian. Tetapi Ia tidak akan dapat berbuat sesuatu pun jika Ia terus-menerus dihalangi oleh opini-opini manusia. Ia akan terhalang oleh opini-opini itu sampai saat di mana opini-opini itu ditaklukkan. Akhirnya Marta tertaklukkan oleh sejumlah ketaatan tertentu. Tuhan mempunyai hayat kebangkitan, kuasa kebangkitan, tetapi semuanya itu memerlukan kerja sama kita, memerlukan ketaatan kita. Apakah ketaatan itu? Singkatnya, ketaatan adalah pelepasan (penyingkiran) opini kita. Anda harus melepaskan opini Anda dan membiarkan Tuhan berbicara. Ketika Ia menyuruh kita, “Angkatlah batu itu,” kita harus segera mengangkatnya. Kita harus taat, bekerja sama, dan berkoordinasi dengan-Nya. Kita perlu taat akan perkataan-Nya, bekerja sama, dan berkoordinasi dengan kuasa kebangkitan. Mengapa Tuhan yang sanggup membangkitkan orang mati tidak mengangkat sendiri batu itu? Karena kuasa kebangkitan-Nya memerlukan kerja sama kita. Segera setelah mereka mengangkat batu itu, Tuhan berseru dengan suara keras, “Lazarus, marilah keluar!” (11:41-43), dan Lazarus bangkit dari kematian. Begitu Lazarus mendengar suara Tuhan yang hidup, ia dihidupkan dan bangkit dari kematian. Setelah Lazarus keluar dari kubur, masih perlu kerja sama dari manusia. Tangan kaki Lazarus masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Ketika mereka melakukan itu, maka sempurnalah pekerjaan kebangkitan.
Pekerjaan kita seharusnya merupakan kerja sama dengan Tuhan untuk membebaskan orang-orang lain dari perbudakan yang mengikat mereka. Ketika Tuhan membangkitkan orang-orang dari kematian dalam gereja, kita perlu bekerja sama dengan-Nya untuk membebaskan mereka dari perbudakan dunia. Melalui kerja sama inilah gereja menjadi kesaksian Tuhan yang adalah hayat. Tuhan sendiri bisa saja mengangkat batu itu dari gua dan melepaskan ikatan Lazarus, tetapi Ia tidak berbuat demikian. Ia lebih senang meminta kita untuk bekerja sama dengan-Nya. Bagaimanapun, sebelum kita dapat bekerja sama dengan-Nya, kita harus terlebih dulu melepaskan opini-opini kita dan berbuat menurut kehendak-Nya. Dalam hidup gereja, kita harus membuang opini kita, menyerahkan diri kepada pekerjaan Tuhan, dan bekerja sama dengan kuasa kebangkitan-Nya.
Ini adalah pelajaran serius yang harus dipelajari oleh setiap orang dalam gereja lokal. Khususnya Marta-Marta dan Maria-Maria pemimpin, pewajib haruslah belajar melepaskan opini, menyerahkan diri dan opini mereka kepada Tuhan, bekerja sama dengan-Nya dan kuasa kebangkitan-Nya. Jika para pemimpin di setiap gereja lokal mau melepaskan opini mereka, tunduk kepada Tuhan, dan bekerja sama dengan kuasa kebangkitan Tuhan, gereja itu akan melihat hayat kebangkitan. Ini merupakan sebagian besar dari wahyu dalam pasal ini, yaitu pelepasan opini-opini manusia dan kerja sama pencinta-pencinta Tuhan dengan kuasa kebangkitan-Nya. Hari ini Tuhan sedang menanti kesempatan untuk mengekspresikan kuasa kebangkitan-Nya; tetapi Dia sulit mendapatkan ketaatan, kerja sama, dan koordinasi. Sebagai pemimpin dalam gereja lokal, kita mungkin sibuk dengan doa dan permintaan kepada Tuhan untuk melakukan hal-hal menurut opini kita. Kita harus melepaskan opini kita, menyerahkan setiap opini ke dalam pertimbangan-Nya, dan bekerja sama dengan-Nya. Ketika Ia menyuruh Anda mengangkat batu itu, angkatlah! Ketika Ia memberi tahu Anda untuk melakukan sesuatu, lakukanlah! Anda akan melihat hayat kebangkitan, Anda akan nampak kuasa kebangkitan. Inilah sebagian wahyu dalam pasal 11. Kebanyakan orang hanya nampak cerita tentang Lazarus yang dibangkitkan dari kematian. Mereka tidak nampak wahyu dalam pasal ini, yang ada di luar agama. Dalam gereja-gereja lokal, penghalang terhadap hayat Kristus berasal dari opini kita.
C. Perubahan yang Riil
dari Kematian kepada Hayat
Membangkitkan orang yang mati sesungguhnya adalah mengubah dari kematian kepada hayat. Makna ini sama dengan yang dinyatakan dalam mengubah air menjadi anggur. Opini Maria waktu itu menghalangi Tuhan untuk mengubah air menjadi anggur. Kali ini, opini Marta dalam peristiwa ini menghalangi kuasa kebangkitan Tuhan. Ketika opini Maria tertaklukkan, kekuatan pengubahan terekspresikan. Ketika opini Marta tertaklukkan, kuasa kebangkitan Tuhan pun menang.