PEMBASUHAN HAYAT DALAM KASIH UNTUK MEMPERTAHANKAN PERSEKUTUAN (2)
II. SALING MEMBASUH KAKI
ANTAR ORANG BERIMAN
Kita telah nampak pembasuhan kaki oleh Tuhan sendiri. Sekarang saya ingin membagikan sesuatu tentang saling membasuh kaki antar orang beriman (ayat 12-17). Kita tidak saja perlu pembasuhan kaki yang dilakukan langsung oleh Tuhan sendiri, tetapi juga perlu saling membasuh kaki. Tuhan memberi tahu kita untuk membasuh kaki satu dengan yang lain. Sebagaimana telah saya singgung, kadang kala kita harus mengartikan firman Tuhan secara harfiah, tetapi untuk tingkat lebih tinggi, kita harus mengartikan firman-Nya secara rohani. Kita harus membasuh kaki seorang dengan yang lain melalui pelayanan pekerjaan Roh Kudus, terang firman, dan pergerakan hayat yang di dalam. Dengan cara ini saya membantu Anda, Anda membantu saya, dan kita saling membantu, dibasuh dalam pekerjaan Roh Kudus, dalam terang firman, atau dalam pergerakan hayat yang di dalam. Bila kita berkumpul untuk bersekutu dan berdoa, kita perlu melakukan pembasuhan kaki rohani satu sama lain. Inilah pembasuhan kaki rohani yang dilakukan kepada sesama kita untuk memelihara kita tetap bersih dari sentuhan dunia. Saudara-saudara yang terkasih, sudahkah Anda merenungkan bagaimana Anda perlu saling membasuh kaki seperti ini? Ketika Anda sedang berjalan dan bekerja di bumi, Anda tidak saja perlu pembasuhan kaki oleh Tuhan yang langsung dilakukan di dalam roh Anda, tetapi juga pembasuhan kaki dari saudara saudari.
A. Mengikuti Teladan Tuhan
Ketika Tuhan membasuh kaki murid-murid, Ia menang-galkan jubah-Nya. Kita telah nampak bahwa dalam arti kiasannya, jubah melambangkan kebajikan dan atribut Tuhan dalam ekspresi-Nya. Jadi, menanggalkan jubah-Nya berarti melepaskan apa adanya Dia dalam ekspresi-Nya. Kalau Tuhan mempertahankan ekspresi kebajikan dan atribut-Nya, Ia takkan dapat membasuh kaki murid-murid. Demikian juga, bila Anda hendak membasuh kaki orang lain, Anda perlu mengesampingkan pencapaian Anda, kebajikan, dan atribut Anda. Inilah kerendahan hati yang sejati, kerendahan hati yang murni. Kita perlu merendahkan diri kita sampai taraf demikian supaya kita bisa membasuh kaki orang lain.
Dalam Alkitab, jubah melambangkan apa yang kita lakukan dan bagaimana kita berperilaku (bertindak). Apa pun yang kita lakukan dan bagaimanapun kita bertindak, itulah jubah kita. Kalau Anda berperilaku baik, berarti Anda mengenakan jubah yang indah, sesuatu yang elok dan mulia. Tetapi kalau Anda hendak melayani pembasuhan kaki dalam arti rohani kepada orang lain, Anda harus melepaskan apa yang telah Anda capai, apa yang telah Anda lakukan, dan bagaimana tindakan Anda. Setiap kali Anda berkumpul dengan para saudara untuk melakukan pembasuhan kaki rohani kepada mereka, Anda harus mengesampingkan cara Anda berperilaku. Ini berarti Anda harus merendahkan diri Anda. Jangan mengira perilaku Anda cukup baik. Perilaku dan tindakan Anda mungkin sangat indah dan mulia, karena itu, Anda menjadi sombong. Anda bangga akan jubah Anda, bangga akan apa yang Anda telah lakukan. Di pihak lain, saya mungkin mengira dalam hati saya bahwa saya begitu rendah hati dan Anda terlalu sombong. Dengan sikap dan motivasi macam ini, kita takkan dapat melakukan pembasuhan kaki sedikit pun kepada orang lain. Saya perlu melepaskan semua perilaku saya yang baik dan melupakan semua kebajikan saya. Melepaskan jubah sedemikian ini sangatlah riil. Kapan kala Anda sombong, Anda takkan dapat melakukan pembasuhan kaki rohani kepada siapa pun. Anda harus rendah hati dan menanggalkan jubah Anda. Menanggalkan jubah Anda berarti merendahkan diri Anda, mengosongkan diri Anda, menyingkirkan sesuatu dari diri Anda, mengupas sesuatu dari diri Anda.
Izinkanlah saya berbicara terus terang. Selama kehidupan kristiani saya, saya telah menjumpai banyak saudara saudari dalam kunjungan saya ke berbagai tempat. Banyak yang sangat rohani, tetapi juga sombong. Mereka bangga akan kerohanian mereka. Mereka memakai jubah rohani. Ketika mereka berkumpul, mereka memandang rendah orang lain, mengira bahwa orang lain belum pernah nampak visi surgawi atau mengenal sesuatu yang rohani. Apakah ini? Inilah kesombongan mereka. Mereka sombong karena rohani. Kalau kita bersikap demikian, kita mustahil melakukan pembasuhan kaki bagi orang lain. Kapan kala kita berkumpul dengan kaum beriman, kita harus menanggalkan jubah kita dan melupakan sukses kita. Kita harus sangat berhati-hati terhadap perkara ini. Kita semua bisa bersalah karena sikap ini. Sering kita berpikir, “Oh, mereka tidak mengerti hidup gereja. Mereka tidak tahu bagaimana berjalan di dalam roh. Mereka tidak pernah belajar pelajaran hayat yang di dalam.” Inilah kesombongan. Kalau kita bersikap sombong demikian, kita takkan dapat membantu orang lain. Kita harus menanggalkan jubah kita, sukses kita, kerohanian kita. Kita harus mengesampingkan semua tingkat kerohanian dan menjadi sederhana dan biasa, serta berkata kepada diri sendiri, “Aku bukan apa-apa, dan tak ada sesuatu di dalamku yang istimewa. Aku hanya mempunyai sehelai kain pengikat pinggangku.” Janganlah kita berkumpul dalam seragam polisi. Jika demikian, kita tampak menyeramkan dan menakuti satu sama lain. Kadang-kadang orang datang dengan sikap menakutkan, bersikap seperti seorang polisi yang memakai seragam. Ada yang datang mengenakan seragam rohani, ada yang memakai seragam hayat yang lebih dalam, dan ada juga yang mengenakan seragam anugerah. Mereka semua harus menanggalkan seragam mereka agar mereka dapat membasuh kaki orang lain. Jangan menyampaikan hal ini kepada orang lain, sampaikanlah kepada diri kita sendiri.
Menanggalkan jubah kita dan merendahkan diri kita untuk membasuh kaki orang lain bukan suatu perkara yang mudah. Seandainya seorang saudara dengan tanpa sadar telah menyakiti saya. Walaupun ia tidak sadar telah menyakiti saya, saya merasa tersinggung. Apa yang harus saya lakukan? Saya harus memandang Tuhan, mohon belas kasih-Nya agar saya tidak mengutuk saudara saya, sebaliknya saya perlu membasuh kakinya. Kalau saya mencoba membasuhnya tanpa anugerah, akibatnya terjadi badai yang besar. Mengapa? Karena ia telah menyakiti saya, saya mudah saja menegurnya, walaupun sesungguhnya saya tak berniat melakukannya. Saya perlu menanggalkan jubah saya dan merendah ke tarafnya. Bila kita merasa seseorang telah menyakiti kita, kita selalu menganggap diri kita lebih tinggi daripada orang itu. Kita menganggap ia lebih rendah, bahkan menganggapnya telah merugikan kita, sehingga patut kita tuntut. Di sinilah letak kesukarannya. Anda perlu menanggalkan jubah Anda, merendahkan taraf Anda, dan turun dari takhta Anda. Dalam satu arti, menanggalkan jubah Anda berarti turun dari takhta Anda. Janganlah duduk di atas takhta, menghakimi saudara Anda dengan berkata, “Kamu menyakiti aku. Kamu menyakiti aku.” Selama Anda bersikap demikian, ekor serigala akan muncul. Akhirnya, Anda akan memarahi saudara yang menyakiti dan akibatnya terjadilah pertengkaran, karena ia akan menyangkal bahwa ia telah berbuat sesuatu yang menyakiti Anda. Seluruh situasi menjadi kacau.
Kita tidak saja perlu menanggalkan jubah sukses kita, kita juga perlu diikat dengan kain. Ini berarti kita harus diikat, kita harus kehilangan kebebasan kita. Kaki dibasuh dengan air dan diusap oleh kain yang Tuhan pakai untuk mengikat diri-Nya. Dengan perkataan lain, semakin kita mau diikat untuk kepentingan orang lain, kita akan semakin dapat melayani orang lain, dan membasuh kaki mereka. Kalau tidak, semakin bebas kita, kita akan semakin mencelakakan orang lain. Saudara-saudara, ketika kita berkumpul, kita tidak saja harus menanggalkan sukses kita, kita pun harus diikat dan mau kehilangan kebebasan kita. Kita melepaskan kebebasan kita untuk melayankan sesuatu kepada saudara saudari kita yang terkasih. Kita harus mau diikat dan terikat untuk melayani saudara saudari.
Bukan hanya saudara yang perlu pembasuhan kaki, saudari pun perlu. Maafkan saya mengatakan bahwa saudari mudah tersinggung. Namun dalam hidup gereja kita tak dapat saling terpisah. Dalam kehidupan keluarga, orang yang paling banyak bekerja, paling banyak terkena kotoran. Fakta yang sama ini terdapat pula dalam hidup gereja. Semakin berat tanggung jawab Anda, semakin banyak pula kotoran yang melekat kepada Anda, karena semakin banyak orang yang harus Anda hubungi. Semakin banyak orang yang Anda hubungi, semakin kotorlah Anda. Cara terbaik untuk memelihara diri Anda tetap bersih ialah tidak menghubungi orang, sama seperti cara terbaik untuk memelihara tangan Anda tetap bersih adalah dengan tidak menjamah apa pun. Beberapa di antara Anda mungkin ada yang berharap menjadi pemimpin dalam hidup gereja. Secara manusiawi, kalau Anda bijaksana, Anda takkan terlibat dalam kepemimpinan, karena itu suatu pekerjaan yang sulit dan membuat Anda mudah menjadi kotor. Sebagai seorang pemimpin, penatua dalam hidup gereja, Anda tidak dapat menghindar dari menjamah situasi-situasi tertentu dan berbicara kepada orang-orang tertentu. Orang-orang akan terus mendatangi Anda. Percayalah, tidak seorang pun yang datang kepada Anda itu bersih. Orang yang bersih takkan datang, karena mereka tidak mempunyai masalah. Siapa pun yang datang kepada Anda, pastilah orang yang mempunyai masalah. Kadang-kadang seorang saudari tidak mau meninggalkan Anda sampai ia membuat Anda kesal kepadanya. Beberapa saudari dengan membawa masalah akan berkali-kali datang kepada Anda, dan tidak akan meninggalkan Anda sebelum mereka membuat Anda marah. Begitu mereka meninggalkan Anda, Anda menemukan bahwa Anda kotor seluruhnya. Antara Anda dengan mereka ada keperluan pembasuhan kaki yang besar. Tanpa pembasuhan kaki demikian, persekutuan indah antara kalian takkan pulih.
Inilah sebabnya mengapa suatu gereja lokal mungkin sangat sukacita pada saat-saat permulaan, namun setelah satu jangka waktu, beberapa orang di antaranya mungkin menjadi kotor. Walaupun mereka masih bersidang, mereka tidak akan datang dengan senang hati dan dengan roh yang menyenangkan. Boleh jadi mereka akan mengingat bahwa beberapa saudara atau saudari telah melukai hati mereka. Mereka mungkin mencoba tersenyum dan berpura-pura menyukai yang lain, tetapi persekutuan macam apakah yang ada di antara mereka. Mereka perlu pembasuhan kaki. Mereka perlu pelayanan hayat.
Sewaktu membasuh kaki satu sama lain, kita tidak perlu berkata, “Saudara, aku mengasihimu. Aku akan membasuh kakimu.” Pembasuhan kaki memerlukan sejumlah besar hayat. Kita perlu hayat untuk membasuh kaki orang lain. Pembasuhan kaki perlu banyak hayat untuk menyuplai orang lain. Ini sangat sulit. Ingatlah, pembasuhan kaki adalah dengan air, bukan dengan darah. Kita perlu banyak air. Air itu Roh, firman hayat, dan hayat yang di dalam. Kita perlu dipenuhi air hayat. Kalau kita penuh dengan air hayat, secara otomatis kita akan membasuh kaki orang lain begitu kita berada bersama mereka, tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Ketika kita berada bersama orang lain, air mengalir. Bahkan mengalir tanpa kita sadari. Ketika kita beserta orang beriman lain, air akan berkali-kali mengalir kepadanya, dan kakinya akan terbasuh. Kotoran dan bau yang tidak sedap di antara kita akan lenyap. Kita akan dibawa ke dalam persekutuan yang menyenangkan. Betapa kita perlu hal ini!
Saya ulangi, bila kita berkumpul, kita perlu menanggalkan jubah kita. Jangan mempertahankan standar Anda, posisi Anda. Jangan menganggap diri Anda berada di tingkat lebih tinggi daripada yang lain. Anggapan itu harus dikesampingkan. Pergunakanlah air hidup dan alirkanlah air itu agar kaki orang lain terbasuh.
Kita telah nampak bahwa Injil Yohanes itu mutlak sebuah kitab hayat dan segala sesuatu di dalamnya berkaitan dengan hayat. Pembasuhan kaki itu masalah hayat. Bukan hanya praktek jasmani seperti yang dilakukan beberapa kelompok orang Kristen pada tiap kebaktian Persekutuan Kudus. Namun kalau Tuhan betul-betul memimpin kita, adakalanya kita boleh saling membasuh kaki secara jasmaniah. Pada tahun 1952, di Taipei, keempat penatua membasuh kaki paling sedikit lima ratus saudara pada suatu malam. Hal itu sungguh menjamah hati dan roh mereka. Sungguh suatu bantuan. Tetapi kita tidak perlu melakukannya dalam cara yang formal dan kaku.
Segala sesuatu dalam Injil ini adalah perkara hayat, dan kita harus mempraktekkan hayat sampai sedemikian rupa sehingga di antara kita ada air hidup yang berlimpah untuk saling membasuh kaki. Beberapa orang beriman memang penuh dengan air hidup. Ketika Anda datang dan duduk bersama mereka setengah jam, kaki Anda sudah terbasuh. Mereka mungkin tidak mengatakan kepada Anda tentang kaki Anda yang kotor, bahkan tidak menjamah masalah pembasuhan kaki, namun kalau Anda berada dalam hadirat mereka selama setengah jam, kaki Anda telah terbasuh. Sesudah setengah jam itu Anda akan begitu dekat dengan Tuhan. Persekutuan Anda dengan-Nya akan sangat intim dan menyenangkan. Begitu pula persekutuan Anda dengan yang lain akan manis. Di antara kita perlu banyak orang yang penuh dengan air hidup yang dapat membasuh orang lain.
B. Melalui Saling Mengasihi
Kita masing-masing harus belajar bagaimana mengasihi saudara saudari dengan jalan melakukan pembasuhan kaki rohani kepada mereka. Kadang-kadang, ketika saya mengunjungi Anda, Anda dapat melakukan suatu pembasuhan kaki kepada saya dengan menunjukkan kasih Anda kepada saya, dan saya harus menunjukkan kasih yang sama kepada Anda, juga melakukan suatu pembasuhan kaki kepada Anda, membersihkan Anda dari sentuhan dunia. Kita harus melakukan hal ini, jika tidak, persekutuan di antara kita tak dapat dipertahankan. Persekutuan satu sama lain dapat dipertahankan hanya melalui adanya di dalam kasih melakukan pembasuhan kaki kepada orang lain. Sering kali saya menikmati pembasuhan kaki rohani dari beberapa saudara saudari. Mustahil saya dapat memberi tahu Anda berapa banyak saya mengalami pembasuhan kaki semacam ini. Tahun 1930-an, pada saat saya bekerja sama dengan sekerja terkemuka seperti Saudara Watchman Nee dan yang lain, saya menerima banyak bantuan dari pembasuhan kaki semacam ini dari mereka. Setiap kali saya menghubungi mereka, saya merasakan suatu pembasuhan kaki yang memelihara saya tetap bersih dari sentuhan dunia. Mereka mengasihi saya dan menunjukkan kasih mereka kepada saya melalui pelayanan pembasuhan kaki rohani untuk membersihkan saya dari sentuhan dunia.
Jika kita melaksanakan prinsip-prinsip ini, kita akan nampak betapa riil prinsip-prinsip ini. Sejak saat ini, Anda boleh menerapkan ini dalam kehidupan keluarga Anda dan dalam hidup gereja Anda. Segera Anda bisa melakukan suatu pembasuhan kaki dan penyekaan kaki kepada saudara saudari. Inilah yang kita perlukan. Inilah kasih yang sesungguhnya untuk mempertahankan persekutuan di antara kita. Melalui pembasuhan dan penyekaan kaki macam inilah persekutuan rohani dapat mempertahankan hidup gereja. Tanpa itu, hidup gereja tak dapat dipertahankan, karena persekutuan bisa dirusak oleh sentuhan dunia. Kita perlu pembasuhan kaki rohani untuk membersihkan kita dari sentuhan dunia dan memelihara persekutuan rohani kita dalam kondisi baik sehingga memungkinkan kita mewujudkan hidup gereja. Kalau kita ingin memelihara hidup gereja senantiasa segar, menyenangkan, dan lincah, kita perlu pembasuhan kaki ini secara terus-menerus. Setiap gereja lokal perlu hal ini. Dalam gereja-gereja di daerah Pantai Barat, Tuhan telah sangat merahmati kita. Walaupun kita tidak menggunakan istilah “pembasuhan kaki”, tetapi Tuhan telah memelihara hidup gereja di sana segar melalui pembasuhan kaki dengan hayat yang terkandung dalam air hidup. Kita tidak membicarakan hal ini dan kita tidak menggunakan istilah ini, tetapi dengan sendirinya terdapat realitas pembasuhan kaki dalam air hayat secara terus-menerus. Dengan demikian, kita dapat membanggakan karunia-Nya bahwa gereja-gereja di sini selalu baru, selalu segar, dan selalu lincah. Dalam hal persekutuan, tidak ada kegagalan di antara kaum beriman. Setiap gereja perlu mendoakan hal ini sehingga gereja akan bertahan dalam kebaruan dan kesegaran.
Tuhan datang membawa Allah ke dalam kita dan Ia pergi membawa kita ke dalam Allah. Kini terdapat perba-uran yang riil antara Roh ilahi dengan roh insani kita. Insani berbaur dengan ilahi, dan ilahi berbaur dengan insani. Inilah gereja, Tubuh Kristus. Dalam roh, mereka orang Kristen surgawi, kekal, dan rohani, tetapi dalam tubuh jasmani, mereka tetap berada di bumi ini dan dalam ciptaan lama. Karena itu, mereka perlu dipelihara bersih dari semua sentuhan dunia, agar persekutuan Tubuh dan persekutuan dengan Tuhan dapat dipertahankan. Persekutuan ini dipertahankan melalui pembasuhan kaki. Hal ini sangat penting karena persekutuan dengan Tuhan dan persekutuan satu sama lain takkan bertahan tanpa ini. Tanpa ini, hidup gereja takkan termanifestasikan, bahkan realitas hidup gereja pun akan hilang. Jadi, di satu pihak, tiap hari benar-benar perlu pembasuhan kaki oleh Tuhan sendiri, di pihak lain perlu saling membasuh di antara kaum beriman. Demikian, kita dapat mempertahankan persekutuan yang indah dan kita pun akan mempunyai hidup gereja yang riil.
III. DIBASUH, TETAPI TIDAK BERADA DI DALAM PERSEKUTUAN
Sekalipun pembasuhan kaki adalah untuk persekutuan dalam hayat, tetapi tidak demikian dengan Yudas. Ia dibasuh, namun ia tak pernah di dalam persekutuan, sebab ia seorang yang palsu (ayat 18-31a). Sebelum Tuhan membasuh kaki murid-murid, Iblis telah memasukkan pengkhianatan terhadap Tuhan dalam hati Yudas (ayat 2). Setelah pembasuhan Tuhan, Iblis bahkan masuk ke dalamnya (ayat 27). Setelah itu Yudas pergi, dan hari sudah malam (ayat 30). Ia pasti telah masuk ke dalam malam gulita untuk masa kekekalannya. Sejak awal ia tidak dalam persekutuan dengan Tuhan, dan ia tak pernah berada di dalamnya, sekalipun ia dibasuh berkali-kali (ayat 10-11). Ini memperingatkan kita bahwa pembasuhan kaki yang riil hanyalah bagi orang yang murni dalam persekutuan dengan Tuhan.
IV. TELAH DIBASUH, DAN INGIN TINGGAL
DALAM PERSEKUTUAN, TETAPI GAGAL
A. Anak Manusia Dipermuliakan
Setelah pembasuhan kaki, Tuhan akan menerima kematian. Karena itu, Ia berkata, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan” (ayat 31). Bagi-Nya, dimuliakan adalah membebaskan unsur ilahi-Nya dari dalam insani-Nya melalui kematian dan kebangkitan. Inilah artinya Dia dimuliakan.
B. Allah Dipermuliakan di Dalam Anak
Di sini Tuhan juga berkata, “Allah dimuliakan di dalam Dia” (ayat 31). Ini berarti Allah Bapa dimuliakan di dalam kemuliaan Anak, yaitu unsur ilahi-Nya dibebaskan dalam Anak. Yang Tuhan bebaskan dalam kematian dan kebangkitan-Nya adalah unsur hayat ilahi Allah Bapa. Allah Bapa dimuliakan di dalam Anak secara demikian, dan Ia pun akan memuliakan Anak dalam diri-Nya dan Ia akan segera melakukannya (ayat 32).
C. Pada Saat Itu Petrus Tidak Dapat Mengikuti
Tuhan dalam Penderitaan-Nya
Pada saat itu, Tuhan sudah siap untuk menderita kematian di salib, tetapi murid-murid-Nya belum diperlengkapi untuk mengikuti Dia dalam penderitaan-Nya. Karena itu, Tuhan berkata kepada Petrus bahwa ia tak dapat mengikuti Dia sekarang ini (ayat 36-37), karena Petrus belum menerima-Nya sebagai hayat kebangkitan. Tetapi Petrus akan mengikuti-Nya (ayat 36; 21:18-19) setelah Ia menyalurkan diri-Nya ke dalam Petrus sebagai hayat kebangkitan melalui kebangkitan-Nya.
D. Petrus Akan Gagal
Petrus benar-benar berada dalam persekutuan dengan Tuhan dan pembasuhan Tuhan juga sungguh-sungguh memeliharanya dalam persekutuan ini. Ia mau tinggal di dalam persekutuan dengan Tuhan ini, tetapi ketika Tuhan sedang dihakimi, Petrus menyangkal Tuhan tiga kali dan gagal. Petrus ingin tinggal di dalam persekutuan, tetapi ia tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya, karena sebelum kebangkitan Tuhan, hayat kebangkitan-Nya belum disalurkan ke dalamnya. Untuk tetap berada dalam persekutuan Tuhan yang dipertahankan oleh pembasuhan kaki, kita memerlukan kekuatan hayat kebangkitan. Kita takkan dapat melakukannya berdasarkan manusia alamiah kita.