PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (1)
Dalam berita ini kita sampai pada titik pusat, inti dari Injil Yohanes. Pasal 14 adalah bagian pertama berita ini yang Tuhan sampaikan kepada murid-murid-Nya sebelum kematian-Nya. Untuk memahami berita ini, kita harus ingat bahwa Injil ini mewahyukan dua butir utama: pertama, Tuhan datang untuk menjadi hayat kita; kedua, Tuhan akan membangun kita bersama dalam keesaan dengan diri-Nya dan dengan Allah. Sebagaimana telah kita singgung, dua kata yang paling penting dalam Injil ini adalah “hayat” dan “pembangunan”. Kata pembangunan jelas diterangkan dalam pasal 2, sebab di situ kita diberi tahu bahwa Tuhan akan membangun Bait Suci, rumah Allah dalam tiga hari (ayat 19). Kemudian dalam pasal 17, Tuhan berdoa agar mereka yang menerima Tuhan sebagai hayat, bisa bersatu dalam Allah Tritunggal. Kesatuan dalam Allah Tritunggal ini adalah pembangunan rohani. Ketika kita menerima Tuhan sebagai hayat, Tuhan sebagai Roh akan membangun kita bersama menjadi satu dalam Allah Tritunggal. Hayat dan pembangunan, inti pemikiran Injil ini, adalah dua hal yang harus benar-benar kita ingat. Sebagaimana telah kita tunjukkan, Injil ini dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama menunjukkan kedatangan Tuhan dan bagian kedua menunjukkan kepergian Tuhan. Kedatangan Tuhan membawa Allah kepada kita melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Melalui kedatangan Tuhan, kita menerima-Nya sebagai hayat, dan melalui kepergian-Nya, Ia membangun kita ke dalam Allah. Jika kita tidak jelas akan perkara ini, makna sesungguhnya dan inti pemikiran Injil ini takkan dapat kita pahami.
Bagian pertama Injil Yohanes terdiri atas pasal 1-13, yang menunjukkan bagaimana Kristus sebagai Firman kekal datang melalui inkarnasi, membawa Allah ke dalam manusia untuk menjadi hayat dan suplai hayat manusia. Pasal 14 memulai bagian besar yang kedua dari kitab ini. Kita perlu jelas bahwa selama kedatangan Tuhan menjadi hayat kita untuk menghasilkan gereja, segala sesuatu telah disempurnakan pada akhir pasal 13. Kalau Anda mempelajari Injil ini dengan saksama, Anda akan nampak bahwa wahyu tentang Kristus sebagai hayat untuk menghasilkan gereja telah sepenuhnya digenapkan dalam tiga belas pasal ini. Jangan mengira bahwa pasal 14-21 memuat wahyu yang lebih lanjut. Tidak, bagian ini adalah suatu ulangan, perkembangan dari apa yang diwahyukan dalam ketiga belas pasal sebelumnya. Dalam ketiga belas pasal yang pertama kita nampak bahwa Tuhan, sebagai Firman Allah dan Anak Allah, datang untuk menjadi hayat murid-murid-Nya, agar mereka semua memperoleh hidup yang kekal dan menjadi bagian dari gereja. Walaupun perkara ini jelas, namun kita tidak diberi tahu bagaimana caranya Tuhan menyalurkan diri-Nya ke dalam kita sebagai hayat. Selama tiga setengah tahun Tuhan bersama murid-murid-Nya, Ia memberi tahu mereka bahwa kedatangan-Nya kepada umat manusia bertujuan menjadi hayat mereka, sehingga mereka dapat dilahirkan kembali dengan hayat ilahi dan menjadi rumah Allah. Namun, hingga akhir pasal 13, ini tetap hanya sebagai satu wahyu. Bagaimana hal ini dapat digenapkan? Bagaimana Tuhan masuk ke dalam murid-murid-Nya dan menjadi hayat mereka? Meskipun Ia telah mengatakan bahwa diri-Nya ada di dalam mereka sebagai hayat, tetapi pada saat itu Ia hanya menyertai mereka, hanya berada di antara mereka; Ia belum dapat masuk ke dalam mereka. Andai kata kita ada di sana, kita mungkin akan bertanya kepada-Nya, “Tuhan, mohon beri tahu kami, bagaimana Engkau dapat menjadi hayat kami. Bagaimana kami dapat memiliki hayat ilahi itu? Karena hayat ilahi itu ada di dalam Allah, bagaimana hayat Allah dapat masuk ke dalam kami? Tuhan, Engkau mengatakan bahwa Engkaulah hayat dan bahwa Engkau datang agar kami memperoleh hayat dan memilikinya dengan berkelimpahan. Tetapi bagaimana kami dapat memilikinya? Tuhan, Engkau telah mengatakan bahwa kami semua akan menjadi perkembangan-Mu, tetapi bagaimana kami dapat menjadi perkembangan-Mu? Nampaknya Engkau adalah Engkau dan kami adalah kami. Engkau berada di antara kami, tidak hanya di surga, tetapi Engkau tetap Engkau dan kami tetap kami. Bagaimana kami dapat menjadi sebagian dari Engkau dan Engkau menjadi satu dengan kami?” Kalau Anda seorang yang pandai berpikir, pasti Anda akan mengajukan pertanyaan demikian. Jawaban pertanyaan ini terdapat dalam bagian kedua Injil ini, karena bagian kedua adalah perkembangan penuh dari wahyu yang terdapat dalam bagian pertama. Jangan mengira ini sebagai bagian wahyu yang lain.
Marilah sekarang kita melihat isi bagian yang kedua ini. Bagian ini terdiri atas pasal 14-21, yang menunjukkan kepada kita Yesus yang tersalib dan Kristus yang bangkit, pergi menyiapkan jalan untuk membawa manusia ke dalam Allah, dan sebagai Roh datang dan tinggal di dalam kaum beriman sebagai hayat mereka bagi pembangunan tempat tinggal (kediaman) Allah. Di sini kita akan nampak kepergian dan kedatangan Kristus. Dalam penyaliban dan kebangkitan-Nya, Ia pergi untuk menyiapkan jalan agar manusia dapat dibawa ke dalam Allah. Kemudian, sebagai Roh, Ia datang, tinggal, dan berhuni di dalam kaum beriman sebagai hayat mereka untuk pembangunan tempat tinggal Allah. Kita perlu menggunakan sangat banyak waktu untuk memasuki seluruh perkara ini.
Pasal 14-16 mewahyukan berhuninya (tinggalnya) hayat untuk pembangunan tempat tinggal Allah. Tak peduli berapa banyak waktu yang telah Anda gunakan untuk membaca atau mempelajari pasal-pasal ini, saya sangsi kalau Anda telah nampak apa yang diwahyukan di sana. Apakah Anda telah nampak perkara pembangunan tempat tinggal Allah dalam pasal-pasal ini? Secara amat rinci, ketiga pasal ini mengungkapkan bahwa Kristus, sebagai hayat yang berhuni (tinggal) di dalam adalah untuk pembangunan tempat tinggal Allah.
Kini kita sampai pada pasal 14. Pasal ini memuat suatu perkara yang sangat penting: Penyaluran Allah Tritunggal untuk menghasilkan tempat tinggal-Nya. Di sini kita nampak dua butir: Penyaluran Allah Tritunggal dan dihasilkannya tempat tinggal-Nya. Katakan dengan jujur kepada saya, sebelum membaca berita ini, pernahkah Anda menyadari bahwa Yohanes 14 mengatakan tentang penyaluran Allah Tritunggal untuk menghasilkan tempat tinggal-Nya? Tiga ke-Allahan Bapa, Anak (Putra), dan Roh, jelas disebutkan dalam pasal ini. Walaupun banyak orang Kristen mengatakan tentang Allah Tritunggal, namun tidak banyak yang mengetahui wahyu yang penuh tentang Allah Tritunggal dalam pasal ini. Pasal 14 tidak hanya suatu wahyu tentang Allah Tritunggal, tetapi juga wahyu tentang penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kaum beriman untuk pembangunan tempat tinggal-Nya. Dalam berita ini kita hanya akan membahas beberapa ayat permulaan.
I. YESUS PERGI MELALUI KEMATIAN DAN
KRISTUS DATANG DALAM KEBANGKITAN
UNTUK MEMBAWA KAUM BERIMAN KE DALAM BAPA
Dalam 14:1-6, kita nampak Yesus pergi melalui kematian dan Kristus datang dalam kebangkitan untuk membawa kita, kaum beriman, ke dalam Bapa. Perkara ini sangat penting. Perhatikanlah bahwa bukan Kristus pergi dan Yesus datang, melainkan Yesus pergi dan Kristus datang. Ini bukan menerangkan kepergian Yesus ke surga dan kembali pada kali yang kedua. Bukan, tetapi menerangkan kepergian Yesus melalui kematian dan kedatangan Kristus dalam kebangkitan membawa kaum beriman ke dalam Bapa. Perkara yang sangat besar ini tercatat dalam keenam ayat pertama pasal ini.
Yohanes 13:3 maupun 14:2-3 mengatakan tentang kepergian Tuhan. Pada saat itu, Tuhan memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Ia akan pergi. Menurut konsepsi alamiah, kepergian Tuhan berarti Ia meninggalkan murid-murid untuk pergi ke suatu tempat. Murid-murid tidak mengerti maksud Tuhan. Sesungguhnya, selama dua ribu tahun ini, kaum beriman telah salah paham terhadap pasal ini. Bahkan hari ini tidaklah mudah untuk mengerti apa maksud Tuhan ketika Ia mengatakan bahwa Ia akan pergi. Kini, dengan bantuan Roh Kudus, kita telah menemukan makna yang tepat: Tuhan akan pergi melalui kematian dan kebangkitan. Ketika Ia mengatakan bahwa Ia akan pergi, yang dimaksud-Nya ialah bahwa Ia akan mati dan dibangkitkan.
Ke manakah Tuhan Yesus pergi? Murid-murid tidak jelas akan hal ini. Kalau Anda membaca pasal 12-16, Anda akan mengetahui bahwa seolah-olah Tuhan tidak memberi tahu murid-murid dengan jelas dan pasti ke mana Ia pergi. Saya telah menggunakan banyak waktu untuk mengetahui firman dalam bagian ini, ke mana Tuhan Yesus akan pergi. Saya tetap masih ingat ketika saya duduk di depan seorang guru besar dari Kaum Saudara lebih dari 40 tahun yang lampau. Pada suatu malam ia menyampaikan berita seluruhnya tentang ke mana Tuhan Yesus pergi. Dia berbicara banyak, tetapi sampai akhirnya dia tidak memberi tahu kita ke mana Tuhan pergi. Seolah-olah Tuhan tidak mengatakan ke mana Ia pergi, tetapi sebenarnya, Ia sudah menyatakannya dengan jelas. Lalu, mengapa tidak jelas bagi kita? Karena meskipun perkataan Tuhan sendiri sangat jelas, tetapi tidak dikatakan menurut konsepsi alamiah kita.
Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Ia akan pergi kepada Bapa (ayat 12, 28). Tak seorang pun mengerti apa yang Ia katakan. Menurut konsepsi manusia, kepergian-Nya kepada Bapa berarti Ia pulang ke surga. Tetapi Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Ia pergi ke surga. Dalam ayat 4, Ia mengatakan sesuatu yang sangat ajaib, “Ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Segera setelah Tuhan mengatakan demikian, Tomas menjawab, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (ayat 5). Sepertinya ini adalah suatu perdebatan. Tuhan mengatakan bahwa murid-murid-Nya tahu jalan ke situ, tetapi Tomas berkata, mereka tidak tahu. Kemudian Tuhan berkata kepada Tomas, “Akulah jalan” (ayat 6). Andaikan saya Tomas, saya akan mengatakan, “Tuhan, apa yang Engkau bicarakan? Apa artinya bahwa Engkaulah jalan?” Tuhan tidak saja mengatakan Dialah jalan, Ia berkata, “Akulah jalan dan kebenaran (realitas) dan hidup (hayat). Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Jika saya adalah Tomas, saya akan berkata, “Tuhan Yesus, semakin Engkau berkata, semakin Engkau membawa kami ke dalam hutan. Kami tidak jelas tentang jalan dan kini Engkau membicarakan tentang realitas dan hayat. Apa itu realitas? Apa itu hayat? Apa artinya Engkau mengatakan bahwa Engkaulah jalan, realitas, dan hayat; juga berkata tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Engkau. Engkau pergi kepada Bapa atau ke surga?” Tuhan tidak mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang datang ke surga kalau tidak melalui Aku.” Seandainya Ia berkata demikian, setiap orang akan jelas. Murid-murid pun akan berkata, “Sekarang kita tahu apa yang Ia katakan. Ia pergi ke surga.” Namun Tuhan tidak mengatakan bahwa Ia pergi ke surga, tetapi mengatakan bahwa Ia pergi kepada Bapa. Jika saya berada di sana, saya akan berkata, “Tuhan Yesus, di manakah Bapa?” Dalam ayat 10, Tuhan berkata, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” Bapa di dalam Dia. Tuhan mengatakan bahwa Ia pergi kepada Bapa, namun Ia sudah berada di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia. Betapa membingungkannya hal ini! Tak seorang pun dapat memahaminya.
Dalam menjawab pertanyaan, “Di manakah Bapa?” orang Kristen teologis telah memberi jawaban yang baik. Mereka mengatakan bahwa Bapa ada di dalam surga, dan ketika Tuhan mengatakan bahwa Ia pergi kepada Bapa, berarti Ia pergi ke surga. Kalau masalahnya demikian sederhana, pasti takkan membingungkan setiap orang. Tetapi masalahnya tidak begitu sederhana. Inilah sebabnya pada saat itu tak seorang murid pun yang tahu ke mana Tuhan akan pergi dan mengapa pula di antara kita banyak yang tidak dapat memahami hal ini ketika kita membacanya.
Lalu, ke manakah tujuan kepergian Tuhan? Sebagaimana kita nampak, kebanyakan orang Kristen mengira bahwa tujuan kepergian-Nya ialah ke surga. Namun setelah membaca pasal ini dengan saksama, Anda akan menemukan bahwa tujuan kepergian Tuhan bukanlah surga. Tuhan tidak bermaksud membawa kaum beriman-Nya dari satu tempat ke tempat lain. Bukan masalah tempat, melainkan masalah Persona hidup, yaitu Bapa sendiri. Tuhan pergi kepada Bapa dan tujuan-Nya ialah membawa murid-murid-Nya ke dalam Persona ilahi, Bapa. Pasal 13 memberi tahu kita bahwa Tuhan datang dari Bapa (ayat 3). Di sini, dalam pasal 14, kita nampak Ia pergi kepada Bapa. Tuhan datang dari Bapa, melalui inkarnasi, membawa Allah ke dalam manusia. Kini Tuhan pergi kepada Bapa untuk membawa manusia ke dalam Allah. Pemikiran dalam pasal ini bukanlah Tuhan pergi ke surga, melainkan Ia pergi kepada Bapa untuk membawa mereka semua yang percaya, yang menerima-Nya sebagai hayat, ke dalam Allah. Jalan kepergian-Nya adalah melalui kematian dan kebangkitan, dan maksud kepergian-Nya ialah membawa manusia ke dalam Allah. Dalam ayat 3, Tuhan mengatakan, “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Di manakah Dia? Ia jelas memberi tahu kita jawaban pertanyaan ini dalam ayat 20 “Aku di dalam Bapa-Ku.” Sebab itu, melalui kepergian-Nya, kita pun akan berada dalam Bapa, karena Ia membawa kita ke dalam Bapa. Maka di mana Ia berada, kita pun akan berada di tempat itu. Tujuan kepergian-Nya kepada Bapa ialah membawa kita ke dalam Bapa, sama seperti tujuan kedatangan-Nya membawa Allah ke dalam manusia.
A. Putra Sama dengan Allah, Hadir di Mana-mana, Tidak Ada Batas Waktu dan Ruang
Dalam ayat 1, Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Ayat ini mewahyukan dua hal yang sangat penting. Pertama ialah Tuhan sama dengan Allah. Kalau seseorang percaya kepada (ke dalam) Allah, ia pun harus percaya ke dalam Tuhan, karena Tuhan sama dengan Allah sendiri. Pada hakikatnya, Tuhan adalah Allah sendiri. Sampai saat itu, murid-murid masih tidak cukup mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah sendiri.
Allah itu hadir di mana-mana, Ia tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Di satu pihak, Tuhan adalah daging, yang terbatas oleh unsur waktu dan ruang. Di pihak lain, Tuhan bukanlah daging, melainkan Allah sendiri. Bagi Allah, tidak ada unsur waktu dan ruang. Dalam kitab ini kita diberi tahu bahwa Ia terbatas oleh waktu dan ruang, di samping itu Ia pun tidak begitu terbatas. Dalam 7:6, Ia berkata, “Waktu-Ku belum tiba.” Ini menunjukkan bahwa walaupun Ia adalah Allah yang kekal, tak terhingga, tak terbatas, tetapi Ia hidup di bumi sebagai manusia, terbatas dalam masalah waktu. Dalam 3:13, Ia berkata, “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia yang tetap ada di surga.” (Tl.) Ayat ini menunjukkan bahwa ketika Tuhan berada di bumi, Ia masih tetap berada di surga. Ini berarti sebagai Allah yang sejati, Ia senantiasa hadir di mana-mana. Pada-Nya tidak ada batas waktu dan ruang.
Mengapa Tuhan mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia sama dengan Allah? Sebab ketika Ia memberi tahu murid-murid bahwa Ia akan pergi, mereka mempunyai konsepsi manusia bahwa kepergian-Nya berarti Ia akan meninggalkan mereka. Karena murid-murid tahu bahwa Allah itu hadir di mana-mana, Tuhan memberi tahu mereka bahwa Ia sama dengan Allah, maka Ia pun hadir di mana-mana. Sebagaimana pada Allah tidak ada unsur waktu dan ruang, Ia pun tidak ada unsur-unsur ini. Tidak peduli Ia pergi atau tinggal, sama saja, karena Ia adalah Allah yang ada di mana-mana. Karena kepergian-Nya sesungguhnya adalah kedatangan-Nya, seharusnya hati mereka tidak perlu gelisah oleh kepergian-Nya itu. Ia sama dengan Allah yang mereka percayai. Kalau mereka percaya Allah, mereka pun wajib percaya Dia, karena Dia sama dengan Allah yang selalu hadir. Seolah-olah Tuhan memberi tahu murid-murid-Nya, “Janganlah gelisah karena kepergian-Ku. Janganlah hatimu resah. Kalau kamu percaya ke dalam Allah, kamu juga harus percaya ke dalam-Ku. Allah itu maha ada. Pada-Nya tidak ada batas waktu dan ruang. Demikian juga Aku. Aku akan pergi, tetapi Aku akan tetap bersamamu. Dan ketika Aku bersamamu, Aku akan pergi. Aku maha ada. Kalau kamu percaya ke dalam Allah, kamu pun harus percaya ke dalam-Ku, sebab Aku sama dengan Allah.”
Butir penting kedua dalam ayat 1 ialah percaya “kepada” Allah itu berbeda dengan percaya “ke dalam” Allah. Anda boleh mengatakan bahwa Anda percaya kepada Allah, tetapi apakah Anda percaya ke dalam Allah? Dalam bahasa Yunani, kata depan “kepada” di sini berarti “ke dalam” (into), yakni percaya ke dalam Allah. Dengan kata lain, ini bukan kepercayaan obyektif, melainkan kepercayaan subyektif. Pemikiran dasar dari pasal ini ialah Tuhan bermaksud membantu atau mengajar murid-murid masuk ke dalam Allah. Kita harus ingat bahwa percaya kepada Allah bersifat obyektif, tetapi percaya ke dalam Allah itu bersifat subyektif. Kepercayaan subyektif inilah yang membawa kita ke dalam Allah. Pada hakikatnya Tuhan mengatakan, “Kalau kamu percaya ke dalam Allah, kamu pun wajib percaya ke dalamKu.” Kata depan “ke dalam” sangatlah penting. Sangat disesalkan bahwa banyak orang mempunyai konsepsi yang keliru, mengira bahwa percaya ke dalam Allah berarti percaya kepada Allah. Kita tidak boleh menghilangkan kata depan itu. Bukan masalah percaya fakta itu secara obyektif, melainkan masalah kepercayaan subyektif yang membawa kita ke dalam Allah. Fokus pemikiran pasal ini adalah kita harus percaya ke dalam Allah.
B.”Rumah Bapa-Ku” Adalah Tubuh Kristus, Gereja, Rumah Allah
Menurut konsepsi alamiah, kebanyakan orang Kristen mengira bahwa rumah Bapa yang disebutkan dalam ayat 2 pasti mengacu kepada surga tingkat ketiga di mana Allah Bapa tinggal. Tetapi kita tidak boleh menafsirkan Alkitab menurut konsepsi alamiah kita, melainkan harus menerangkan Alkitab dengan Alkitab. Kita harus menjelaskan Alkitab menurut dan dengan Alkitab. Frase “rumah Bapa-Ku” digunakan dua kali dalam Injil Yohanes. Kali pertama digunakan dalam 2:16, di sana jelas mengacu kepada Bait Suci, mengacu kepada tempat tinggal Allah di bumi. Bait ini adalah lambang tubuh Yesus (2:21). Kita telah nampak bahwa bait ini dalam kebangkitan telah diperbesar menjadi Tubuh Kristus. Kita harus memperhatikan sepenuhnya hal ini. Dalam 2:16, “rumah Bapa-Ku” adalah Bait Suci di bumi, bukan mengacu kepada suatu tempat di surga, melainkan Bait Allah di bumi. Oleh karena Bait Suci itu adalah lambang Tubuh Kristus, maka tubuh Yesus itulah Kemah (tabernakel) (1:14 Tl.), yaitu Bait Suci, menjadi tempat kediaman Allah di bumi. Penjelasan frase “rumah Bapa-Ku” telah jelas ditunjukkan dalam pasal 2. Kita harus menerapkan penjelasan ini pada 14:2, di mana terdapat frase yang sama. Kita tidak seharusnya menganggap bahwa frase dalam 14:2 berbeda arti dengan frase yang sama yang terdapat dalam 2:16, itu tidak logis. Karena digunakan untuk kali kedua dalam Alkitab yang sama, tentu frase ini mempunyai definisi yang sama sebagaimana digunakan pada kali pertama. Karena itu, rumah Bapa dalam pasal 14 harus juga berarti tempat kediaman Allah di bumi, tidak dapat diartika surga tingkat ketiga. Dalam pasal 2, pada akhirnya rumah Bapa adalah Tubuh Kristus dan dalam pasal 14 harus juga Tubuh Kristus. Tak seorang pun dapat menyangkal hal ini. Kini kita mendapat penjelasan yang tepat dan benar tentang “rumah Bapa-Ku”, yaitu Tubuh Kristus, gereja. Kita perlu menjaga diri kita dari ajaran yang keliru, yang mengatakan bahwa rumah Bapa di sini adalah surga.
Dalam Surat-surat Kiriman, wahyu tentang Tubuh Kristus adalah gereja dan gereja adalah rumah Allah, disempurnakan sepenuhnya. Satu Timotius 3:15 memperlihatkan bahwa gereja adalah rumah Allah yang hidup. Karena itu, rumah Bapa harus berarti rumah Allah yang hidup di bumi bukan di surga. Satu Korintus 3:16 memberi tahu kita bahwa kaum beriman, sebagai suatu keseluruhan, adalah Bait Allah. Satu Petrus 2:5 mengatakan bahwa kita adalah batu-batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani. Rumah rohani itu pasti adalah rumah Bapa, rumah Allah. Di samping itu, Ibrani 3:6 juga mengatakan bahwa kita adalah rumah Allah, dan Efesus 2:21-22 mengatakan bahwa kaum beriman dibangun bersama sebagai tempat kediaman Allah, bukan di surga, melainkan di dalam roh. Kemudian, seluruh Perjanjian Baru mengukuhkan keterangan bahwa pada akhirnya rumah Bapa adalah Tubuh Kristus sebagaimana terdapat dalam Injil Yohanes sendiri. Rumah Bapa dalam Injil Yohanes dan dalam seluruh Perjanjian Baru bukan surga, melainkan Tubuh Kristus, yakni gereja sebagai tempat kediaman Allah di bumi.
Percayakah Anda bahwa di alam semesta ini Allah mempunyai dua pembangunan sebuah gedung yang indah dan megah di surga dan gereja di bumi? Allah hanya mempunyai satu pembangunan. Tidak logis mengatakan Ia memiliki dua rumah. Walaupun Anda mungkin menyukai surga, tetapi Allah tidak puas dengannya. Kalau Anda membaca Yesaya 66, Anda akan mengetahui bahwa Allah mendambakan suatu tempat kediaman di dalam manusia. Ia tidak begitu menyukai surga seperti Ia menyukai manusia menjadi tempat kediaman-Nya. Allah ingin bersemayam di dalam manusia. Sementara banyak orang Kristen begitu damba pergi ke surga, Allah justru damba turun dari surga dan tinggal bersama manusia di bumi. Banyak orang Kristen memberi tahu kita bahwa ketika Tuhan mengatakan bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita, maksud-Nya adalah Ia pergi untuk menyediakan rumah surgawi yang indah dan megah. Tetapi mereka semua setuju bahwa surga yang mereka perbincangkan kelak adalah kota dengan dasar yang telah disediakan oleh Allah sebagaimana tercantum dalam Ibrani 11:10, kota yang akan menjadi Yerusalem Baru yang terdapat dalam Wahyu 21. Namun Yerusalem Baru tidak bisa tetap berada di surga, sebaliknya, turun dari surga (Why. 21:2). Anda mungkin ingin naik ke surga, tetapi Allah ingin turun dari surga.
Allah hanya mempunyai satu pembangunan di alam semesta. Pada zaman Perjanjian Lama, pembangunan Allah menyertai umat Israel, yang dilambangkan oleh Kemah Pertemuan dan Bait Suci. Kemah Pertemuan dan Bait Suci, kedua-duanya adalah lambang umat Allah sebagai tempat kediaman-Nya di bumi. Pada zaman Perjanjian Baru, gereja dibangunkan. Dalam arti rohani, gereja adalah kelanjutan Kemah Pertemuan dan Bait Suci. Dalam Perjanjian Lama kita memiliki Kemah Pertemuan dan Bait Suci; dalam Perjanjian Baru kita memiliki gereja sebagai Bait Suci Allah. Hari ini, kita adalah Bait Allah. Pada akhirnya, pembangunan dengan kaum beriman Perjanjian Baru akan disempurnakan dalam Yerusalem Baru, yang akan menjadi kemah kekal, tempat kediaman Allah di antara manusia hingga kekal. Inilah pembangunan Allah. Kalau Anda membaca Wahyu 21 dan 22 dengan teliti, Anda akan menemukan bahwa Yerusalem Baru bukanlah sebuah kota jasmani, melainkan suatu kota hidup yang terdiri atas orang-orang yang hidup. Kita mengetahui hal ini karena nama kedua belas suku Israel dan nama kedua belas rasul Anak Domba akan ada di sana (Why. 21:12, 14). Kita pun akan berada di sana sebagai batu yaspis yang dibangun menjadi tembok (Why. 21:11, 18). Yerusalem Baru adalah susunan hidup dari orang-orang hidup yang dibangun bersama menjadi tempat kediaman Allah yang kekal.
Percayakah Anda bahwa pada zaman gereja hari ini, Allah tidak mempunyai tempat kediaman di tengah-tengah manusia di bumi? Ia tentu mempunyainya! Tempat kediaman ini adalah gereja. Di manakah gereja? Di bumi. Kediaman Allah hari ini adalah suatu susunan yang hidup dari kaum beriman yang hidup di bumi. Di mana saja kita, kaum beriman yang hidup, dibangun bersama, Allah memiliki suatu kediaman di bumi. Inilah pembangunan Allah hari ini di bumi. Setelah ditebus, dibasuh dalam darah, dan dilahirkan kembali oleh hayat ilahi, kita telah dijadikan suatu bagian yang hidup dari pembangunan yang hidup ini, yakni tempat di mana Tuhan pergi untuk menyediakannya bagi kita, seperti yang Ia katakan dalam Yohanes 14:2.