PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (2)
C. Banyak Tempat Tinggal Adalah Banyak Anggota Tubuh Kristus,
dan Tubuh Adalah Gereja
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal (14:2). Frase “tempat tinggal” (jamak) dalam ayat 2, dalam bahasa aslinya sama dengan “tempat tinggal” (Tl.) dalam ayat 23. Apa arti “tempat tinggal” itu? Banyak tempat tinggal mengacu kepada banyak anggota Tubuh Kristus (Rm. 12:5), dan Tubuh ini adalah Bait Allah (1Kor. 3:16-17). Tubuh Kristus memiliki banyak anggota, dan masing-masing anggota adalah sebuah tempat tinggal. Jadi, banyak tempat tinggal berarti banyak anggota Tubuh, hal ini bisa dibuktikan oleh ayat 23 yang mengatakan bahwa Tuhan dan Bapa akan membangun sebuah tempat tinggal bersama orang-orang yang mengasihi Dia. Setiap pencinta Tuhan adalah sebuah tempat tinggal. Kita semua adalah tempat-tempat tinggal yang dibangun oleh Allah. Bangunan ini adalah Tubuh Kristus, dan semua tempat tinggal adalah anggota-anggota Tubuh Kristus.
D. Pergi Melalui Kematian dan Kebangkitan,
Membawa Manusia ke Dalam Allah,
untuk Membangun Tempat Tinggal Allah
“Aku pergi” dalam ayat 2, berarti Tuhan akan pergi melalui mati dan bangkit, membawa manusia ke dalam Allah, untuk membangun tempat tinggal Allah. Inilah pembangunan gereja yang disinggung dalam Matius 16:18. Di sana Tuhan berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Dalam ayat 2 Tuhan berkata, “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Apakah ini merupakan dua hal berlainan? Mustahil. Tuhan hanya mempunyai satu pekerjaan. Dia tidak mungkin menyiapkan bagi kita satu tempat di surga, dan serentak membangun sebuah gereja di bumi. Ini tidak logis. Jika kita menjajarkan kedua bagian firman ini, kita akan nampak bahwa menyediakan tempat tinggal tak lain adalah membangun gereja. Bagi pembangunan gereja, Tuhan harus pergi menyediakan tempat. Dan tahap terakhirnya ialah membangun Yerusalem Baru (Why. 21:2). Kini Tuhan sedang membangun gereja. Pembangunan gereja ini sama dengan pembangunan Yerusalem Baru. Seperti yang telah kita lihat, dalam seluruh alam semesta ini, Allah hanya mempunyai satu pembangunan membangun tempat kediaman-Nya yang hidup dari umat tebusan-Nya.
E. “Menyediakan Tempat” —
Membuka Jalan agar Manusia Dapat Masuk ke Dalam Allah
“Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu”, artinya Tuhan akan menggenapkan penebusan, membuka jalan agar manusia beroleh tumpuan untuk dibangun ke dalam Allah. Berarti Tuhan akan membentangkan jalan agar kita bisa berada di dalam Allah. Inilah inti pemikiran dari pasal ini. Jika kita ingin membiarkan Allah tinggal di dalam kita, kita harus terlebih dulu masuk ke dalam Dia. Jika kita tidak masuk ke dalam Dia, Dia tidak akan bisa masuk ke dalam kita. Begitu kita tinggal di dalam Allah, saat itulah Dia akan tinggal di dalam kita.
Namun, bagaimana mungkin orang dosa seperti kita ini masuk ke dalam Allah? Bagaimana mungkin kita masuk ke dalam Allah yang benar dan kudus? Itu mustahil. Kita adalah orang-orang yang terpisah jauh dari Allah. Tahukah Anda, berapa jauhnya kita terpisah dari Allah? Tentunya jauh sekali. Pernahkah Anda mengukur berapa besar jarak antara Anda dengan Allah? Pernahkah Anda menghitung berapa banyak rintangan (penghalang) yang terletak di antara Anda dengan Allah? Rintangan yang pertama ialah sifat dosa; yang kedua ialah perbuatan dosa; yang ketiga ialah dunia; keempat ialah Iblis penguasa atau penghulu dunia; dan yang kelima ialah maut. Selain itu masih ada tubuh daging, ego, dan manusia lama, juga menambah sekatan antara kita dengan Allah. Kita ini sangat jauh dari Allah. Bagaimana kita bisa dibawa masuk ke dalam-Nya? Bagaimana orang berdosa bisa masuk ke dalam Allah? Semua unsur pemisah: sifat dosa, perbuatan dosa, dunia, Iblis, maut, tubuh daging, dan ego haruslah disingkirkan. Kemudian baru kita bisa mendekati Allah, bukan sekadar ke hadapan Allah, bahkan ke dalam Allah.
Untuk ini, perlu beberapa pekerjaan, beberapa persiapan. Tuhan perlu melakukan pekerjaan persiapan. Dia harus pergi, bukan ke surga, tetapi ke salib untuk menyingkirkan semua aral rintangan. Semua rintangan telah disingkirkan oleh kematian Tuhan yang almuhit. Di atas salib, Tuhan telah menyingkirkan segala rintangan di antara kita dengan Allah. Dia telah menanggulangi sifat dosa dan perbuatan dosa, dunia, penghulu dunia, tubuh daging, ego, manusia lama, bahkan maut. Melalui mati dan bangkit, Tuhan telah membentangkan jalan, telah menyediakan tempat, agar membawa kita ke dalam Allah. Saya percaya, inilah arti yang tepat dari kalimat “Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu”.
Di Amerika Serikat banyak jalan raya dan jalan bebas hambatan. Kematian dan kebangkitan Tuhan telah menyediakan jalan raya untuk membawa kita ke dalam Allah. Sebelum Tuhan disalibkan, ada banyak rintangan, hambatan yang menghalangi kita masuk ke dalam Allah; kita tidak mempunyai jalan untuk masuk ke dalam Dia. Namun melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan telah membuka, menyiapkan jalan, bahkan membentangkan jalan raya yang bisa membawa manusia ke dalam Allah. Tuhan telah memindahkan semua gunung, meratakan semua lekukan, membentangkan jalan raya, dan melunasi semua bea pemakai jalan. Kita tak perlu membayar apa-apa, kita boleh langsung masuk ke dalam Allah.
Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan tidak hanya telah membuka jalan yang menuju ke dalam Allah, tetapi juga telah menyediakan suatu tumpuan bagi kita di hadapan dan di dalam Allah. Dengarkanlah kabar baik ini: suatu tempat di hadapan dan di dalam Allah telah tersedia bagi kita. Asalkan kita percaya kepada nama Tuhan Yesus, kita pasti mendapatkan tumpuan di hadapan dan di dalam Allah. Kita harus bersorak, “Haleluya! Aku mempunyai tumpuan di hadapan Allah, bahkan di dalam Allah. Allah sendiri mustahil menolak aku. Oh, karena pekerjaan persiapan Kristus, Allah yang adil selamanya tidak mungkin bisa mengusir aku. Di dalam Allah, aku mempunyai tumpuan yang sekokoh ini!” Saya bisa bersaksi kepada Anda bahwa mengenai fakta saya di dalam Allah, saya sangat yakin. Tanpa Kristus mati dan bangkit, kita takkan pernah mempunyai jaminan yang demikian. Tetapi karena Tuhan telah melewati salib, dan bangkit dari antara orang mati, maka kita tahu bahwa kita telah beroleh kedudukan di depan Allah, dan juga beroleh tumpuan di dalam Allah.
Jangan sekali-kali mengira bahwa Tuhan pergi menuju ke surga untuk menyiapkan sebuah gedung yang megah di sana, sehingga kelak kita boleh masuk surga dan tinggal di dalam gedung megah itu. Pemikiran demikian itu terlalu rendah dan dangkal. Itu tidak berbeda dengan agama berhala (kafir). Pemikiran ini dipegang oleh ajaran Katolikisme, bahkan juga sangat diterima oleh ajaran Protestanisme. Kita semua harus membuang pemikiran ini. Dalam menerjemahkan Ibrani 9:24 dan 1Petrus 3:22, bahasa Mandarin telah memakai ungkapan “bangunan (gedung) di surga” untuk istilah “surga”. Semua orang China tahu bahwa ungkapan “bangunan (gedung) di surga” itu adalah ungkapan yang berasal dari agama kafir. Itu adalah ciptaan agama kafir. Saya amat prihatin karena umat Kristen mau menerima pemikiran ini. Inilah yang disebut ragi dalam Matius 13:33, di mana Tuhan telah memberi tahu kita tentang perempuan yang menaruh ragi ke dalam tepung yang baik. Tepung yang baik dalam perumpamaan ini mengacu kepada Putra Allah sebagai roti hayat yang menjadi suplai kita; sedangkan perempuan itu mewakili aliran kekristenan tertentu, dan ragi yang dibawanya itu melambangkan dosa, barang-barang najis seperti agama kafir dan berhala. Aliran-aliran kekristenan tertentu ini memasukkan barang-barang agama kafir ke dalam ajaran-ajaran mengenai doktrin Kristus. Pemikiran akan masuk ke dalam gedung di surga ini tidak lain adalah ragi yang dimasukkan ke dalam tepung yang baik.
Penebusan Tuhan bukan untuk menyediakan tempat bagi kita di surga. Penebusan Tuhan justru menyediakan tempat bagi kita di dalam Allah. Alangkah ilahinya pemikiran ini! Pemikiran ini berada pada level yang paling tinggi. Tuhan menebus kita untuk membawa kita ke dalam Allah dan menyediakan tempat bagi kita di dalam Allah. Setelah Anda membaca seluruh Perjanjian Baru, coba katakan, di manakah kita berada? Di manakah kita berada setelah kita ditebus, diselamatkan, dan dilahirkan kembali? Di dalam Kristus, juga di dalam Allah. Surat Yohanes yang pertama juga mewahyukan bahwa kita tinggal di dalam Allah dan Allah tinggal di dalam kita (4:13). Inti pemikiran dalam seluruh Perjanjian Baru adalah setelah kita disela-matkan dan dilahirkan kembali, kita berada di dalam Allah dan di dalam Kristus. Allah dan Kristus adalah tempat tinggal kita. Sebaliknya, kita pun menjadi tempat tinggal Allah. Jadi, Allah dengan kita dan kita dengan Allah saling menghuni. Dengan jelas Tuhan menegaskan bahwa Dia akan menyediakan tempat bagi kita di dalam Allah, bukan di surga. Dia pergi menyediakan tempat supaya kita bisa masuk ke dalam Allah, sehingga melalui penebusan-Nya, Tuhan bisa membawa kita ke dalam Allah. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia telah membawa kita ke dalam Allah. Puji syukur kepada Tuhan, kita masing-masing mempunyai tempat di dalam Allah! Anda lebih senang tempat di surga atau di dalam Allah?
Kepergian Tuhan adalah untuk membawa manusia ke dalam Allah, untuk pembangunan tempat tinggal-Nya (kediaman-Nya). Dia pergi ke atas salib untuk menggenapkan penebusan, menyingkirkan segala rintangan di antara ma-nusia dengan Allah, agar membuka sebuah jalan bagi manusia, dan membuat suatu tumpuan bagi manusia untuk bisa masuk ke dalam Allah. Setelah tumpuan di dalam Allah diperluas, menjadilah tumpuan di dalam Tubuh Kristus. Orang yang tak mempunyai tumpuan di dalam Allah, juga tidak ada tumpuan di dalam Tubuh Kristus, yang adalah tempat tinggal Allah. Maka, penebusan yang dirampungkan oleh Tuhan bertujuan menyediakan tempat di dalam Tubuh-Nya bagi murid-murid.
F. Kepergian Tuhan Adalah Kedatangan-Nya
Dalam ayat 3 Tuhan berkata, “Apabila Aku telah pergi . . . Aku akan datang kembali.” Saya sungguh menyukai kalimat ini. Perkataan ini membuktikan bahwa kepergian Tuhan (melalui mati dan bangkit) adalah kedatangan-Nya kembali (kepada murid-murid-Nya, ayat 18, 28). Ini berarti kepergian-Nya itu sama dengan kedatangan-Nya. Dengan kata lain, Dia datang dalam kepergian-Nya. Kepergian Tuhan bukanlah perpisahan-Nya, melainkan langkah lain dari kedatangan-Nya. Kematian dan kebangkitan Tuhan merupakan langkah selanjutnya dari kedatangan-Nya. Kepergian-Nya kepada maut merupakan kedatangan-Nya ke dalam kita. Tujuan Tuhan adalah masuk ke dalam murid-murid-Nya. Ia datang di dalam tubuh daging (1:14), juga berada di tengah-tengah murid-murid-Nya, tetapi di dalam tubuh daging, Dia tidak dapat masuk ke dalam mereka. Dia perlu mengambil langkah lebih lanjut dengan melewati mati dan bangkit agar Dia ditransfigurasi dari daging menjadi Roh, demikian Dia bisa masuk dan tinggal di dalam murid-murid, seperti yang diwahyukan dalam ayat 17-20. Setelah kebangkitan-Nya, Dia benar-benar datang dan menghembuskan diri-Nya sendiri, yaitu Roh Kudus, ke dalam murid-murid (20:19-22). Jadi, kepergian-Nya justru adalah kedatangan-Nya. Izinkanlah saya menggunakan ilustrasi dari cerita yang pernah terjadi di Taiwan beberapa tahun yang lalu. Pada suatu hari, saya membeli sebuah semangka yang besar. Saya membawanya ke rumah dan meletakkannya di atas meja makan; semua anak saya tergiur. Kemudian semangka ini kami bawa ke dapur. Salah seorang di antara anak-anak saya berteriak, “Semangka itu jangan dibawa pergi!” Saya menyuruh mereka untuk tenang, karena dibawa perginya semangka itu memungkinkan mereka untuk memakannya, sehingga semangka yang besar itu bisa masuk ke dalam mereka. Semangka tersebut harus melalui suatu proses, dipotong-potong. Beberapa menit kemudian, semangka yang besar itu datang kembali kepada mereka dalam bentuk potongan-potongan kecil. Semua anak merasa gembira. Tidak lama kemudian, semangka itu telah habis sama sekali. Ke mana perginya? Ke dalam anak-anak. Akhirnya, semua anak menjadi “anak-anak semangka”. Diambilnya semangka itu bukanlah kepergiannya saja. Kepergian itu justru adalah kedatangannya yang lebih lanjut ke dalam anak-anak. Yesus ibarat buah semangka tadi. Bagaimana murid-murid dapat menelan Dia? Itu mustahil? Dia harus melalui suatu proses, dipotong menjadi potongan-potongan. Dia pergi ke atas salib dan di sana Dia dipotong, juga proses, bukan saja sampai berupa irisan-irisan, tetapi juga berupa sari buah semangka yang baik untuk diminum. Kini, Yesus bukan sekadar buah semangka, tetapi juga sari buah. Siapa saja yang minum Yesus, Yesus akan masuk ke dalamnya. Yesus pergi melalui kematian supaya Dia bisa datang kembali sebagai Kristus di dalam kebangkitan.
G. “Membawa Kamu ke Tempat-Ku”
Tuhan berkata, “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku” (ayat 3). Ini bukan berarti Tuhan menyambut kita ke dalam suatu tempat, melainkan membawa kita ke dalam diri-Nya sendiri. Tuhan membawa murid-murid-Nya kepada diri-Nya itu berarti Dia menaruh mereka ke dalam diri-Nya, seperti yang ditunjukkan dengan kalimat “kamu di dalam Aku” dalam ayat 20.
H. “Di Tempat di Mana Aku Berada, Kamu pun Berada”
Dalam ayat 3, Tuhan mengatakan bahwa Dia akan membawa kita kepada diri-Nya “di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Di manakah Tuhan? Apakah Dia di surga? Tidak, Dia berada di dalam Bapa. Tuhan menginginkan murid-murid-Nya juga berada di dalam Bapa (ayat 17, 21). Karena Tuhan berada di dalam Bapa, maka Ia pun akan membawa kita masuk ke dalam Bapa. Dengan adanya kita di dalam Tuhan, kita (murid-murid), juga berada di dalam Bapa. Tuhan ada di dalam Bapa. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan telah membawa kita ke dalam diri-Nya. Dengan berada di dalam Dia, kita pun di dalam Bapa, karena Dia di dalam Bapa. Di mana Dia berada, di sana juga kita berada. Hal ini dimungkinkan oleh kematian dan kebangkitan Tuhan. Sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus sudah berada di dalam Bapa, namun murid-murid tidak. Setelah kematian dan kebangkitan-Nya, semua murid masuk ke dalam Bapa, sama seperti Tuhan telah dan tetap berada di dalam Bapa. Sampai saat itu, Tuhan bisa mengucapkan “di mana Aku berada, kamu pun berada”.
I. “Jalan” Adalah Putra Sendiri
Jalan untuk kita memasuki Allah adalah Tuhan sendiri. Karena jalan itu adalah Persona yang hidup, maka tempat ke mana Tuhan membawa kita pun haruslah adalah Persona yang hidup, yakni Allah Bapa sendiri. Tuhan sendiri adalah jalan yang hidup yang membawa manusia ke dalam Allah Bapa, tempat yang hidup. Sama seperti kita, murid-murid juga mengira bahwa tempat dan jalan itu kedua-duanya berupa tempat, bukan persona. Namun Tuhan berkata kepada mereka, “Akulah jalan.”
J. “Realitas” Menjadi Jalan
Dalam ayat 6, Tuhan Yesus pun mengatakan bahwa Dia adalah realitas (LAI: kebenaran). Jalan memerlukan realitas. Jika Tuhan bukan realitas Anda, Dia takkan menjadi jalan Anda. Realitas menjadi jalan.
K. “Hayat” Mendatangkan Realitas
Realitas memerlukan hayat. Tuhan sendiri adalah hayat di dalam kita. Hayat ini mendatangkan realitas kepada kita, dan realitas ini menjadi jalan yang membuat kita bisa masuk ke dalam Bapa. Pertama-tama Kristus adalah hayat kita. Kemudian hayat ini mendatangkan seluruh realitas ke-Allahan kepada kita. Akhirnya, realitas ke-Allahan ini adalah jalan bagi kita untuk masuk ke dalam Bapa. Ketika Tuhan menjadi hayat bagi kita, kita pun memiliki realitas. Ketika Tuhan menjadi realitas kita, kita pun menemukan jalan untuk masuk ke dalam Bapa.
Bertahun-tahun saya tak paham mengapa Tuhan lebih dulu mengatakan “jalan”, kemudian baru “kebenaran” (realitas), dan menempatkan “hayat” (hidup) sebagai yang terakhir. Akhirnya saya paham makna urutan ini. Untuk menjadi jalan kita, Tuhan harus menjadi realitas kita; dan untuk menjadi realitas kita, Dia harus menjadi hayat kita. Mendapatkan Dia sebagai hayat berarti mendapatkan Dia sebagai realitas kita; mendapatkan Dia sebagai realitas kita, berarti mendapatkan Dia sebagai jalan kita untuk masuk ke dalam Allah Bapa. Tuhan sendiri adalah jalan, jalan ini adalah realitas, dan realitas ini berada dalam hayat.
Dalam ayat 6, Tuhan tidak mengungkapkan, “Tidak ada seorang pun yang mencapai surga kecuali melalui Aku.” Tidak, melainkan Ia berkata, “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Tujuan Tuhan bukan membawa kita ke dalam surga, melainkan ke dalam Allah, yakni ke dalam Bapa. Tuhan bukanlah jalan untuk membawa kaum beriman ke dalam surga, melainkan membawa mereka ke dalam Bapa.
L. “Kepada Bapa”
Bapa, Persona yang hidup adalah tujuan; sedangkan Putra, Persona yang hidup adalah jalan. Baik jalan maupun tujuan bukanlah tempat. Jalan itu Putra dan tujuan itu Bapa. Melalui Putra, kita masuk ke dalam Bapa. Jalan maupun tujuan kedua-duanya adalah Persona yang hidup. Melalui kematian dan kebangkitan Putra, kita semua telah masuk ke dalam Bapa. Sekarang, Putra di dalam Bapa, kita juga di dalam Bapa, karena kita di dalam Putra.