← Daftar isi Yohanes (3) · bab 13/17

PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (3)

Dalam enam ayat pertama dari Yohanes 14, Tuhan mewahyukan bahwa Dia akan pergi melalui kematian dan kembali dalam kebangkitan untuk membawa murid-murid ke dalam Bapa; Dia adalah jalan dan Bapa adalah tujuan; di mana Dia berada, di sanalah murid-Nya berada. Kemudian ada empat belas ayat yang mewahyukan lebih lanjut rincian mengenai bagaimana Tuhan dapat masuk ke dalam murid-murid serta membawa mereka kepada Bapa.

II. ALLAH TRITUNGGAL MENYALURKAN DIRINYA KE DALAM KAUM BERIMAN

Yohanes 14 menunjukkan bagaimana Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya ke dalam kaum beriman. Dia adalah Allah Yang Maha Esa, namun Dia juga ada tiga Bapa, Putra, dan Roh. Putra adalah jelmaan (wujud nyata) dan ekspresi Bapa (Yoh. 14:7-14), dan Roh adalah realitas dan realisasi (wujud nyata) Putra (Yoh. 14:17-20). Bapa diekspresikan dan ditampak oleh orang di dalam Putra (bahkan Putra disebut Bapa Yes. 9:5); sebagai Roh itu (2Kor. 3:17), Putra diwahyukan dan dinyatakan. Bapa di dalam Putra diekspresikan di antara kaum beriman; Putra sebagai Roh itu ternyata di dalam kaum beriman. Allah Bapa tersembunyi, Allah Putra ternyata di antara manusia, Allah Roh masuk ke dalam manusia menjadi hayat, suplai hayat, dan segala sesuatu manusia. Jadi, Allah Tritunggal Bapa di dalam Putra dan Putra menjadi Roh itu menyalurkan diri-Nya ke dalam kita menjadi bagian kita, agar kita bisa menikmati-Nya sebagai segala sesuatu kita di dalam ke tritunggalan ilahi-Nya.

A. Bapa Terwujud dalam Putra,

Tertampak di Antara Kaum Beriman

1. Putra Adalah Perwujudan dan Ekspresi Bapa

Ketika Tuhan berkata bahwa Dia adalah jalan dan Dia akan membawa kaum beriman ke dalam Bapa, Filipus berkata kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (ayat 8). Jawab Tuhan, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (ayat 9-10). Tuhan sepertinya berkata, “Aku telah bersama-sama kamu selama tiga setengah tahun dan telah sekian lama kamu melihat Aku, masakan masih belum mengenal Bapa? Tidak tahukah kamu bahwa ketika kamu melihat Aku, berarti sudah melihat Bapa? Kamu mengenal Aku, berarti mengenal Bapa. Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.” Bahkan sampai saat ini, firman Tuhan ini tetap merupakan suatu misteri. Sebenarnya apa arti perkataan ini? Di satu pihak, ini menyatakan bahwa Bapa dan Putra adalah satu; di pihak lain, mereka tetap dua. Jika Anda bertanya kepada saya mana mungkin, saya pun hanya bisa menjawab, “Aku tak tahu. Aku hanya tahu bahwa di satu pihak, Bapa dan Putra ialah satu. Begitu Anda melihat yang ini, berarti melihat yang lain, karena Mereka berdua adalah satu. Bapa ada di dalam Putra sehingga ketika Anda melihat Putra, pasti melihat Bapa. Namun di pihak lain, Mereka tetap dua.” Inilah misteri Allah Tritunggal.

Di sini saya perlu mengingatkan: Jangan sekali-kali Bapa dan Putra dipandang sebagai dua Allah yang terpisah. Itu adalah bidah. Kita bukan mempunyai tiga Allah. Kita hanya memiliki Allah Tritunggal Yang Maha Esa, Bapa, Putra, Roh. Kita harus berhati-hati di sini, bahkan kita tidak memakai istilah “persona”. Meskipun adakalanya, untuk pembicaraan dan pengertian kita, kita memakai istilah “persona”, tetapi kita tak boleh terlalu melebarkan istilah ini menjadi triteisme. Kita mustahil menjelaskan tentang Allah Tritunggal secara memadai, tetapi adalah kenyataan bahwa Allah itu Tritunggal. Anda nampak Putra, berarti nampak Bapa, sebab Bapa justru terwujud di dalam Putra, tertampak di antara kaum beriman. Putra adalah perwujudan dan ekspresi Bapa.

2. Putra di Dalam Bapa, Bapa di Dalam Putra

Putra di dalam Bapa, Bapa di dalam Putra (ayat 10-11). Sungguh misterius. Kata Tuhan, Putra di dalam Bapa, Bapa di dalam Putra! Karena Bapa di dalam Putra, maka ketika Putra berbicara, Bapa yang tinggal di dalam Putra, melakukan pekerjaan-Nya. Bapa bekerja saat Putra berbicara, karena Mereka saling menghuni satu sama lain.

3. Putra dan Bapa Adalah Satu

Dalam Yohanes 10:30 dengan tegas Tuhan memberi tahu kita bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Sekali lagi, kita tidak mampu menerangkan hal ini sejelas-jelasnya karena amat sukar bagi mentalitas kita yang terbatas untuk memahami bagaimana Mereka berdua itu adalah satu. Dalam pengertian kita yang terbatas, Putra ialah Putra, Bapa ialah Bapa, keduanya jelas terpisah. Namun Tuhan dengan jelas memberi tahu kita bahwa Putra dan Bapa adalah satu. Di sini dengan tegas saya katakan, Tuhan tak pernah berkata bahwa Dia dan Bapa itu dua. Kita seharusnya menerima misteri Allah Tritunggal ini berdasarkan firman Tuhan yang pasti dan tegas, jangan berdasarkan dugaan manusia.

4. Bahkan Putra Disebut Bapa

Yesaya 9:5 mewahyukan bahwa Putra disebut Bapa. “Seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan . . . dan namanya disebutkan . . . Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal.” Seorang Putra diberikan, dan nama-Nya disebut Bapa yang Kekal; sebagai seorang anak yang begitu dilahirkan sudah disebut Allah yang perkasa. Siapakah Dia sebenarnya, Putra atau Bapa? Kita harus menjawab bahwa Dia itu adalah kedua-duanya, sama seperti Dia itu Anak juga Allah yang perkasa. Bagaimana Putra itu bisa juga disebut Bapa? Ini saya tak tahu. Saya hanya tahu bahwa Kitab Suci demikian memberi tahu kita. Puji Tuhan, Kitab Suci memberi tahu kita bahwa Putra disebut juga Bapa, sebagaimana Kitab Suci mengatakan bahwa Anak disebut juga Allah yang perkasa. Jadi, menurut firman Kitab Suci yang tegas, Putra adalah Bapa. Tak satu pun dari kita boleh menjadi Filipus. Malahan pada waktu itu Filipus pun telah menjadi jelas.

5. Putra Bisa Ada di Antara Kaum Beriman, tetapi Tidak Bisa Ada di Dalam Mereka

Ketika Putra bersama-sama dengan murid-murid dan mengekspresikan Bapa, Dia hanya bisa ada di antara mereka, tidak bisa ada di dalam mereka. Karena Dia di dalam tubuh daging sebagai jelmaan Bapa, itulah sebabnya Dia mengekspresikan Bapa di tengah-tengah murid-murid dan dilihat oleh mereka. Namun ketika Dia ada di dalam tubuh daging, Dia tidak bisa masuk ke dalam murid-murid, karena itu masih memerlukan bagian kelanjutan dari pasal ini, yakni ayat 16-20.

B. Putra Terwujud Menjadi Roh Itu Tinggal di Dalam Kaum Beriman

Kita telah melihat bahwa di antara kaum beriman, Bapa terwujud di dalam Putra serta diekspresikan di dalam Putra. Sekarang kita harus nampak bahwa Putra terwujud menjadi Roh itu, masuk dan tinggal di dalam orang beriman. Perhatikan, kita tidak mengatakan terwujud di dalam Roh itu, melainkan terwujud menjadi Roh itu. Untuk tinggal di dalam kita, Tuhan perlu mengalami transfigurasi, yakni pengubahan dari bentuk tubuh daging ke dalam bentuk Roh itu. Dia datang ke tengah-tengah kita di dalam tubuh daging, namun Dia harus ditransfigurasikan ke dalam Roh itu barulah dapat masuk ke dalam kita. Setelah Ia datang ke tengah-tengah kita di dalam tubuh daging, tujuan-Nya yang selanjutnya ialah masuk ke dalam kita. Bagaimanakah Tuhan ditransfigurasikan? Melalui mati dan bangkit, Ia mengalami transfigurasi dari tubuh daging menjadi Roh itu. Kepergian-Nya itu bukanlah meninggalkan; itu adalah langkah lain dari kedatangan-Nya. Dia datang dalam bentuk yang lain, yaitu Roh. Langkah pertama atas kedatangan-Nya ialah di dalam tubuh daging; langkah kedua-Nya ialah menjadi Roh itu. Pasal ini mencantumkan kepergian Tuhan dan kedatangan-Nya. Kepergian-Nya ialah melalui mati dan bangkit, dan kedatangan-Nya ialah sebagai “Penolong yang lain”. Penolong yang lain ini merupakan bentuk-Nya yang lain. Melalui kedatangan-Nya sebagai Roh itu, Dia masuk ke dalam kita dan membuat kita menempuh hidup seperti Dia. Hayat yang Dia perhidupkan adalah hayat kebangkitan. Setelah Dia bangkit, Dia menjadi Roh itu, masuk ke dalam kita. Dia hidup dan kita pun hidup oleh-Nya. Dia hidup oleh hayat kebangkitan, dan kita hidup oleh Dia, menikmati Dia sebagai hayat kebangkitan.

1. Penolong yang Lain

Dalam ayat 16-17a Tuhan berkata, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh kebenaran.” Pertama-tama Roh itu adalah “Penolong yang lain”. Bahasa Yunaninya, istilah penolong di sini adalah Paracletos, berarti pengacara, orang disamping kita yang menangani kasus kita, urusan kita. Dalam bahasa Yunani, kata ini sama dengan kata pengantara dalam 1Yohanes 2:1. Hari ini kita memiliki Tuhan Yesus yang berada di surga, dan Roh itu (penolong) di dalam kita sebagai pengacara kita yang menangani urusan kita. Roh Kudus, yaitu realitas Yesus dan perwujudan Tuhan, justru adalah Yang selalu mendampingi kita, melayani kita, dan menangani segala keperluan kita.

2. Roh Realitas

Roh ini, Penolong ini, adalah Roh realitas (ayat 17 Tl.). Mengapa Dia adalah Roh realitas? Karena segala apa adanya Bapa dan segala apa adanya Putra terealisasi di dalam Roh. Roh itu adalah realisasi dari segala apa adanya Allah Bapa dan Allah Putra. Allah Bapa itu terang dan Allah Putra itu hayat. Realitas hayat dan terang ini ialah Roh itu. Tanpa Roh itu, Anda takkan memiliki terang Allah Bapa. Tanpa Roh itu, Anda takkan memiliki Allah Putra sebagai hayat Anda. Realitas segala atribut ilahi dari Allah Bapa dan Allah Putra adalah Roh itu.

3. Roh Tuhan Yesus yang Telah Dimuliakan

Roh realitas ialah Roh yang oleh Yohanes 7:39 disebut Roh Tuhan Yesus yang dimuliakan. Waktu itu “belum ada” Roh ini, karena Tuhan Yesus belum disalibkan dan bangkit. Bahkan ketika Tuhan Yesus sedang berbicara di dalam pasal ini pun Roh ini “belum ada”. Sampai setelah Tuhan menempuh kematian dan dimuliakan di dalam kebangkitan, barulah Roh ini dibawa kepada murid-murid.

4. Hembusan Nafas sebagai Roh Hayat

Roh yang dijanjikan di sini dan yang disinggung dalam 7:39 adalah suatu hembusan, yaitu yang oleh Roma 8:2 disebut Roh hayat (Tl.). Janji Tuhan ini tergenapi pada hari kebangkitan Tuhan. Pada hari itu, Tuhan menghembuskan Roh Kudus ke dalam murid-murid sebagai hembusan hayat (20:22). Hembusan ini ialah Roh hayat, yakni Roh Yesus yang telah dimuliakan.

5. Roh Yesus Kristus, Roh Kristus

Roh hayat ini ialah Roh Yesus yang telah dimuliakan, juga adalah Roh Yesus Kristus, dan Roh Kristus (Flp. 1:19; Rm. 8:9). Sesudah Kristus bangkit, Roh Allah menjadi Roh dari Kristus yang menjadi daging, disalibkan, dan bangkit. Roh Allah sekarang adalah Roh Yesus Kristus dan Roh Kristus. Roh Yesus Kristus menyiratkan Yesus dalam penderitaan-Nya dan kebangkitan-Nya, sedangkan Roh Kristus hanya menekankan Kristus yang di dalam kebangkitan. Roh Allah hanya mengandung sifat Allah, namun Roh Yesus Kristus mengandung sifat ilahi juga sifat insani; ada kematian di kayu salib juga ada kebangkitan. Semua unsur ini tercakup di dalam Roh Yesus Kristus. Dia adalah Roh yang almuhit yang mempunyai suplai yang limpah ruah, sanggup memenuhi setiap macam keperluan kita.

6. Adam yang Terakhir Menjadi Roh Pemberi-hayat

Dalam Yohanes 14:16-20, Tuhan pertama-tama menyebut Roh realitas (Tl.) sebagai “Dia” (ayat 17). Selanjutnya Tuhan segera menyinggung diri-Nya (ayat 18). Roh realitas yang disebut “Dia” dalam ayat 17 menjadilah sebutan “Aku” dalam ayat 18, yaitu Tuhan sendiri. Ini berarti, Kristus yang di dalam tubuh daging melalui mati dan bangkit, telah menjadi Roh hayat, yaitu Kristus yang adalah Roh (pneumatik). Satu Korintus 15:45 menegaskan hal ini. Berkenaan dengan kebangkitan, ayat ini mengatakan, “Adam yang terakhir (Kristus yang di dalam tubuh daging) menjadi Roh pemberi hayat” (Tl.), Penolong.

Roh realitas, Roh hayat yang adalah hembusan nafas, Roh Yesus Kristus, dan Roh pemberi hayat, semuanya mengacu kepada Roh yang sama. Hari ini, Roh Allah adalah Penolong, Penolong adalah Roh realitas. Roh realitas adalah Roh hayat yang adalah hembusan nafas, Roh hayat yang adalah hembusan nafas adalah Roh Yesus Kristus, dan Roh Yesus Kristus adalah Roh pemberi hayat.

7. Tuhan Adalah Roh Itu

Akhirnya, Tuhan adalah Roh itu (2Kor. 3:17). Hari ini, banyak orang Kristen memfitnah kita menyebarkan bidah, karena kita percaya dan mengajarkan bahwa Tuhan Yesus adalah Roh itu. Tetapi ini bukanlah pemikiran kita, melainkan wahyu yang jelas dari firman yang tegas dalam 2Korintus 3:17. Orang-orang yang menuduh kita itu hanya memikirkan konsepsi tradisional mereka terhadap ketritunggalan sehingga mengabaikan, bahkan tak mempedulikan, firman yang tegas tertera dalam 2Korintus 3:17, yang bunyinya: “Sebab Tuhan adalah Roh.” Karena belas kasihan dan kemurahan Tuhan, kita tidak memperhatikan konsepsi tradisional mana pun, kecuali firman Kitab Suci yang murni. Kita yakin sepenuhnya dan menandaskan dengan tegas bahwa menurut Alkitab, Tuhan Yesus hari ini adalah Roh itu.

8. Roh Itu Tinggal Bersama dan di Dalam Orang Beriman

Yohanes 14:17 juga mewahyukan bahwa Roh itu tinggal bersama dan di dalam orang beriman. Roh itu tidak hanya tinggal bersama orang beriman tetapi juga tinggal di dalam mereka. Seperti yang telah kita lihat ketika Tuhan di dalam tubuh daging, Dia hanya ada di tengah-tengah murid-murid-Nya, bersama mereka. Tetapi setelah menjadi Roh pemberi hayat, Roh realitas di dalam kebangkitan, sekarang Ia bukan saja bisa bersama kita, tetapi juga bisa tinggal di dalam kita. Tuhan dapat masuk dan tinggal di dalam kita, karena Dia adalah Roh.

9. Putra di Dalam Bapa, Orang Beriman di Dalam Putra, dan Putra pun di Dalam Orang Beriman

Dalam ayat 20 Tuhan berkata, “Pada waktu itulah ka-mu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” “Pada waktu itulah” dalam ayat ini mengacu kepada hari kebangkitan Tuhan. Pada hari kebangkitan-Nya, murid-murid pasti mengetahui bahwa Tuhan di dalam Bapa, murid-murid di dalam Dia, dan Dia di dalam mereka. Kita perlu nampak ayat 17 mengatakan bahwa Roh itu akan berada di dalam kita; ayat 20 mengatakan bahwa Putra akan berada di dalam kita. Roh dan Putra ada di dalam kita, menurut Anda, berapakah yang ada di dalam kita, satu atau dua? Jawabannya adalah satu. Di dalam kita bukan ada dua. Bukan Roh ditambah Putra, atau Putra ditambah Roh. Kita hanya memiliki satu, yaitu Sang ajaib yang adalah Putra dan Roh. Sebagaimana telah kita lihat bahwa Paulus mengatakan, “Sebab Tuhan adalah Roh itu.” Asal Roh itu ada di dalam kita, Putra pasti ada di dalam kita; asal Putra ada di dalam kita, Roh itu pasti ada di dalam kita. Sekarang kita bisa nampak bahwa Dia telah membawa diri-Nya ke dalam kita. Sebelum ayat-ayat ini, dalam paruh pertama pasal ini, Tuhan masih belum ada di dalam murid-murid. Namun sampai pada ayat 20, Dia sudah ada di dalam murid-murid dan murid-murid ada di dalam Dia. Karena Dia ada di dalam Bapa, pasti murid-murid juga ada di dalam Bapa. Sekarang, di mana Dia berada, di sana murid-murid juga berada. Kematian-Nya menyediakan jalan, tumpuan, agar kita bisa masuk ke dalam Allah dan Allah masuk ke dalam kita. Kemudian, dengan berada di dalam kita dan membawa kita ke dalam Bapa, Tuhan di dalam Allah Tritunggal dapat membangun kita menjadi satu tempat kediaman kekal-Nya.

10. Allah Tritunggal Disalurkan ke Dalam Orang-orang Beriman

Dari dua bagian dalam Yohanes 14, nampak ketritunggalan Allah adalah untuk menyalurkan Allah Tritunggal ke dalam kita. Bapa terwujud di dalam Putra, Putra diwujudkan sebagai Roh itu, dan Roh itu masuk ke dalam kita menjadi hayat kita dan segala yang kita perlukan. Melalui proses ini, Allah Tritunggal tersalur ke dalam kita, dan menjadi bagian kekal kita.

11. Berhuninya Roh Kudus Dikembangkan Sepenuhnya di Dalam Surat-surat Kiriman

Dalam Yohanes 14:17, kita menemukan sebutan pertama dalam Alkitab mengenai berhuninya Roh Kudus. Hal berhuninya Roh Kudus ini terlaksana dan berkembang di dalam Surat-surat Kiriman (1Kor. 6:19; Rm. 8:9, 11). Konsepsi utama dari Surat-surat Kiriman ialah kini Kristus adalah Roh pemberi hayat berhuni (tinggal) di dalam roh kita, menjadi hayat dan segala keperluan kita bagi pembangunan Tubuh-Nya.

12. Roh Hayat yang Tuhan Janjikan Berbeda dengan Roh Kuasa yang Bapa Janjikan

Roh yang Tuhan janjikan dalam Yohanes 14 berbeda dengan Roh yang dijanjikan Bapa pada Lukas 24:49. Yang Tuhan janjikan itu adalah Roh hayat, sedangkan yang di-janjikan Bapa adalah Roh kuasa. Janji Tuhan mengenai Roh hayat tergenap pada hari kebangkitan-Nya, ketika Dia menghembuskan Roh hayat ke dalam murid-murid (Yoh. 20:22). Ini bukan Roh kuasa yang dijanjikan oleh Bapa, yang terpenuhi pada hari raya Pentakosta, ketika Roh datang seperti tiupan angin yang kuat ke atas murid-murid (Kis. 2:1-4). Pada hari raya Pentakosta, Roh itu adalah Roh kuasa, tetapi Roh yang dibicarakan oleh Kitab Yohanes, adalah Roh hayat. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, tanda dari Roh kuasa ialah hembusan angin yang kuat. Angin melambangkan kuasa atau kekuatan. Namun Roh hayat dalam Injil Yohanes dilambangkan oleh hembusan nafas, karena nafas berkaitan dengan hayat. Karena Injil Yohanes adalah sebuah kitab hayat, maka ia menyinggung Roh hayat, bukan Roh kuasa. Karena Kitab Kisah Para Rasul adalah kitab penginjilan dan pekerjaan, dan pemberitaan atau penginjilan memerlukan kuasa, maka dalam Kitab Kisah Para Rasul kita menjumpai Roh kuasa seperti angin kuat yang bertiup. Dalam Yohanes 14:16 terdapat janji Tuhan, kata-Nya, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain.” Dalam Lukas 24:49 terdapat janji Bapa, “Aku akan mengirim kepadamu (ke atasmu) apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” Pada hari kebangkitan Tuhan, murid-murid telah menerima Roh hayat yang dijanjikan Tuhan dalam Yohanes 14, tetapi me-reka masih harus menantikan janji Bapa sampai mereka menerima Roh kuasa pada hari Pentakosta. Janji Tuhan mengenai Roh hayat dalam Yohanes 14 telah terpenuhi pada hari kebangkitan Tuhan dalam Yohanes 20. Setelah lewat empat puluh hari, yakni pada hari Pentakosta, terpenuhilah janji Bapa mengenai Roh kuasa dalam Lukas 24.

Saya harap mulai sekarang kita semua sudah jelas terhadap wahyu dalam pasal ini. Jangan mengira pasal ini membicarakan mengenai Tuhan pergi ke surga, membangun sebuah gedung besar, dan akan kembali membawa kita ke gedung besar tersebut. Itu mutlak menurut konsepsi manusia yang alamiah. Kita harus membuang konsepsi semacam ini. Tuhan tidak mempunyai dua bangunan yang satu gedung besar di surga dan yang satu gereja di bumi. Tidak, Dia hanya mempunyai satu bangunan di antara dan dengan orang-orang tebusan, tempat kediaman-Nya yang hidup. Pada masa lampau, pembangunan Allah ada di antara orang-orang Israel; hari ini, pembangunan-Nya ada di dalam gereja; dan akhirnya, pembangunan-Nya akan rampung dalam Yerusalem Baru. Ini baru pembangunan Allah. Cara Allah menyelesaikan pembangunan ini adalah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita melalui Dia sebagai Bapa, Putra, dan Roh. Allah Bapa adalah sumber, asal mula, hakiki (substansi), dan unsur. Allah Putra adalah ekspresi, manifestasi, dan jalan yang dengannya Allah dapat mengontak manusia dan manusia dapat mengontak Allah. Akhirnya, Allah Roh adalah realitas dari apa adanya Allah Bapa dan Allah Putra. Apa adanya Allah Bapa dan Allah Putra seluruhnya terwujud di dalam Allah Roh. Bapa di dalam Putra dan Putra menjadi Roh itu mencapai roh kita. Pertama-tama masuk ke dalam roh kita, menjadi hayat kita, kemudian menjadi suplai hayat kita, dan akhirnya menjadi segala-gala kita. Allah Tritunggal ini pertama-tama menyalurkan diri-Nya ke dalam roh kita, kemudian meluaskan diri-Nya dari roh kita ke seluruh diri kita. Dia ingin meluas dari roh kita ke jiwa kita, bahkan meresap ke dalam tubuh kita (Rm. 8:11), hingga seluruh diri kita diresapi serta dimiliki oleh-Nya. Peresapan ini justru membangun secara riil kediaman-Nya yang kekal. Semakin kita membiarkan Dia meresapi dan memiliki kita, semakin Ia akan bisa menyelesaikan pembangunan-Nya melalui kita dan di antara kita. Akhirnya, pada zaman ini Dia akan memperoleh gereja-gereja lokal di masing-masing tempat menjadi ekspresi dari tempat kediaman ini. Akhirnya, ketika kita semua memasuki langit baru dan bumi baru, Allah akan memiliki Yerusalem Baru sebagai tempat kediaman-Nya yang kekal, selama-lamanya mengekspresikan kemuliaan-Nya.