← Daftar isi Yohanes (3) · bab 14/17

PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (4)

Yohanes 14 terutama mewahyukan Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya ke dalam kita agar Dia dan kita, kita dan Dia, dapat dibangun bersama dalam perbauran ilahi dan insani. Pasal ini menyingkapkan Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh, menyalurkan diri-Nya ke dalam kaum beriman dalam Yesus Kristus agar Allah dan kaum beriman dapat dibangun menjadi satu, yaitu pembangunan antara keilahian dengan keinsanian; hingga pada akhirnya bangunan ini menjadi tempat kediaman bersama, Allah tinggal di dalam manusia dan manusia tinggal di dalam Allah. Inilah dasar perkataan Tuhan dalam Yohanes 15:4, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Inilah saling tinggal satu sama lain, karena kita tinggal di dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita. Karena ada saling tinggal ini, maka ada tempat tinggal (kediaman) bersama. Mungkinkah kita tinggal tanpa tempat tinggal? Pasal 15 memang telah mewahyukan dengan jelas tentang saling tinggal, tetapi di manakah tempat tinggal bersama itu? Dalam pasal 14.

Dalam pasal 15, kita menjumpai kata “tinggal” dan dalam pasal 14, kita menjumpai kata “tempat tinggal”. Saya menyukai kedua kata ini. Dalam bahasa Yunani, sama dengan bahasa Inggris, kata kerja “tinggal” adalah bentuk kata kerja dari kata benda “tempat tinggal”. Dalam bahasa Yunani, kita menemukan kata benda “tempat tinggal” pada pasal 14 dan kata kerja “tinggal” pada pasal 15. Kata yang sama dalam bahasa Yunani bagi “tempat tinggal” terdapat dalam pasal 14 baik dalam bentuk tunggal maupun bentuk jamak. Bentuk tunggalnya terdapat pada ayat 23, di sana kita diberi tahu bahwa Bapa dan Putra akan datang dan mengatur tempat tinggal bersama orang yang mengasihi Tuhan Yesus. Bentuk jamaknya ditemukan dalam ayat 2, di mana Tuhan memberi tahu kita bahwa di rumah Bapa-Nya terdapat banyak tempat tinggal. Ingatlah, tempat tinggal (kediaman) terdapat dalam pasal 14 dan tinggal (mendiami) terdapat dalam pasal 15. Pertama-tama kita memerlukan tempat tinggal, kemudian baru kita dapat tinggal.

Hampir semua orang Kristen membicarakan hal tinggal dalam Yohanes 15 tanpa mengetahui di mana tempat tinggal itu, dari mana asalnya, atau bagaimana terbentuknya. Walaupun pasal 15:4 menyebutkan dengan tegas, ”Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Di manakah tempat tinggal itu, dan bagaimana itu terbentuk? Tempat tinggal terdapat pada pasal sebelumnya, yakni pasal 14, dan terbentuknya itu karena Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya ke dalam orang-orang yang percaya. Dengan jalan inilah, Ia dengan orang-orang yang percaya, ilahi dan insani, terbangun bersama menjadi satu.

Seperti yang telah kita ketahui, Yohanes 14:1-6 memberi tahu kita bahwa Tuhan Yesus akan menyediakan sebuah tempat bagi kita. Sekarang kita paham bahwa Dia bukan akan menyediakan sebuah bangunan gedung di surga. Tidak, Ia akan membukakan jalan dan mempersiapkan kedudukan bagi kita untuk masuk ke dalam Allah. Kita harus sangat jelas akan hal ini. Dalam ayat 6, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia adalah jalan dan Bapa adalah arah tujuannya. Ia mengatakan bahwa Ia adalah jalan bagi kita untuk mencapai Bapa. Jadi, jalan ini merupakan Persona yang hidup, dan tempat tujuannya pun haruslah Persona yang hidup. Putra adalah jalan yang membawa kita kepada Bapa sebagai tempat tujuan.

Mulai dari 14:7, Tuhan Yesus meneruskan memberi tahu kita bagaimana kita dapat masuk ke dalam Bapa. Untuk dapat masuk ke dalam Bapa, kita perlu masuk ke dalam Putra, karena Dia ada di dalam Bapa. Begitu kita masuk ke dalam Putra, dengan sendirinya kita berada di dalam Bapa. Tuhan mengatakan bahwa Dia akan menyiapkan sebuah tempat bagi kita agar di mana Dia berada, kita pun di sana. Di manakah Dia? Di dalam Bapa. Tetapi ketika Dia mengucapkan kata-kata ini, kita tidak berada di dalam Bapa. Itulah sebabnya Dia akan mengerjakan semua yang diperlukan untuk membawa kita ke tempat Dia berada. Tempat itu bukan tempat secara fisik, melainkan satu persona, yakni Bapa. Dia ada di dalam Bapa dan Dia akan membawa kita ke dalam diri-Nya. Karena Dia ada di dalam Bapa, maka begitu kita masuk ke dalam Dia, kita pun berada di dalam Bapa. Karena itu, akhirnya di mana Dia berada, kita juga ada di sana. Sekarang kita dapat memahami 14:20 yang mengatakan, “Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Inilah perbauran ilahi dengan insani. Perbauran ilahi dengan insani ini merupakan tempat kediaman bersama. Allah tinggal di dalam manusia dan manusia tinggal di dalam Allah. Inilah tempat kediaman bersama, dan saling mendiami satu sama lain. Inilah inti pemikiran dari Yohanes 14.

Telah kita lihat dalam Yohanes 14 bahwa Bapa adalah sumber, asal mula, esens, dan unsur. Putra adalah ekspresi, manifestasi, dan perwujudan dari segala apa adanya Bapa. Tanpa Putra, Bapa mustahil tertampak. Namun, oleh Sang Putra, Bapa diwujudkan, dimanifestasikan, diekspresikan, dan terlihat oleh manusia. Manusia dapat memandang Putra. Asalkan mereka nampak Putra, pasti akan nampak Bapa, karena Bapa terwujud di dalam Putra. Tetapi, sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, Putra masih belum bisa masuk ke dalam manusia. Dia hanya bisa berada di tengah-tengah manusia dan tertampak oleh manusia, tetapi tak dapat masuk ke dalam mereka. Karena itu, Putra harus tersalib dan melalui proses kematian dan kebangkitan. Melalui proses kematian dan kebangkitan barulah Putra berubah dari bentuk tubuh daging menjadi bentuk Roh.

Ini ibarat perubahan bentuk sebuah semangka besar menjadi jus (cairan) melalui proses pemotongan dan penekanan. Hasil dari proses ini adalah cairan yang mudah masuk ke dalam setiap orang. Sebelum Tuhan melewati proses sedemikian, Roh itu masih “belum ada” (7:39), akan tetapi setelah proses ini terjadi, Roh hayat itu ada di sini. Sama halnya, sebelum semangka diproses, cairan “belum ada”, kecuali sebuah semangka yang besar. Tetapi sesudah melalui proses, kita mempunyai cairan semangka untuk diminum.

Apakah Roh itu? Roh itu adalah realitas, realisasi dari segala apa adanya Allah Bapa dan Allah Putra. Apa adanya Bapa dan Putra terealisasi di dalam Roh itu. Roh ini mendatangi kita, masuk ke dalam kita serta tinggal di dalam kita. Dengan demikian, Allah Tritunggal disalurkan ke dalam kita. Melalui penyaluran inilah kita semua mengetahui bahwa Putra di dalam Bapa, kita di dalam Putra, dan Putra di dalam kita. Dia dengan kita, kita dengan Dia, menjadi suatu wujud yang berbaur. Wujud yang berbaur ini adalah tempat tinggal bersama antara ilahi dan insani. Dengan adanya tempat tinggal ini, ada saling tinggal satu sama lain. Kita tinggal di dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita. Inilah ekonomi Allah.

III. ALLAH TRITUNGGAL MENGATUR TEMPAT TINGGAL BERSAMA KAUM BERIMAN

Sekarang kita perlu memperhatikan Allah Tritunggal yang mengatur tempat tinggal bersama kaum beriman. Ini disinggung dalam ayat 21-24. Namun, sebelum melihat ini, kita perlu melihat beberapa butir yang lain.

A. Putra Telah Datang, Hidup oleh Bapa, dan Melakukan Perkara-perkara dalam Nama Bapa

Putra telah datang dan hidup oleh Bapa (5:43; 6:57), serta telah melakukan perkara-perkara dalam nama Bapa (10:25). Bapa telah bekerja di dalam Dia (14:10) agar Bapa dimuliakan di dalam Putra (14:13). Sewaktu Putra berbicara, Bapa pun bekerja. Saya menyinggung hal ini karena saya ingin memperlihatkan kepada Anda bahwa Bapa adalah sumbernya, dan Putra adalah ekspresinya. Putra datang dalam nama Bapa dan Bapa bekerja melalui Putra. Putra adalah ekspresi Bapa Sang sumber itu.

B. Kaum Beriman Hidup oleh Putra dan Melakukan Perkara yang Lebih Besar dalam Nama Putra

Kini umat beriman perlu hidup oleh Putra (6:57). Dalam 6:57 Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Kita perlu makan Yesus. Kata “makan” di sini dalam bahasa Yunaninya berarti “memamah” atau “mengunyah”. Jangan makan Yesus dengan cara yang biasa, kita harus makan Dia dengan cara yang khusus, yakni mengunyah atau memamah. Jangan makan Yesus dengan kasar kunyahlah Dia sampai lembut.

Dalam 14:12, Tuhan berkata bahwa mereka yang percaya ke dalam Dia, akan mengerjakan perkara yang lebih besar daripada yang telah Dia lakukan. Dalam ayat 13 dan 14, Dia mengatakan bahwa jika kita meminta sesuatu dalam nama-Nya, Dia akan melakukannya. Dalam nama Tuhan berarti menjadi satu dengan Tuhan, hidup berdasarkan Tuhan, dan membiarkan Tuhan hidup di dalam kita. Tuhan datang dan melakukan perkara-perkara dalam nama Bapa (Yoh. 5:43; 10:25), ini berarti Dia adalah satu dengan Bapa (10:30), hidup oleh Bapa (Yoh. 6:57), dan Bapa juga bekerja di dalam Dia (Yoh. 14:10). Dalam kitab-kitab Injil, Tuhan adalah ekspresi Bapa, bekerja dalam nama Bapa. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, murid-murid adalah ekspresi Tuhan yang bekerja dan bahkan melakukan perkara yang lebih besar dalam nama-Nya (Yoh. 14:12). Mereka memerlukan Putra hidup di dalam mereka (14:19), agar Putra dapat diekspresikan sebagai Roh.

C. Putra Hidup dan Berbicara di Dalam Kaum Beriman

Putra hidup dan berbicara di dalam kaum beriman. Inilah butir yang sangat penting. Kristus yang hidup terus-menerus berbicara di dalam kita. Ia tak akan pernah berhenti bicara. Karena keadaan kita yang masih dipenuhi dengan hal-hal yang negatif, maka kebanyakan yang dibicarakan oleh Kristus yang hidup ini hanya satu kata “tidak” (“jangan”). Dari pagi hingga malam, dari malam hingga pagi, hampir satu-satunya kata yang Dia katakan adalah “tidak”. Seorang saudari mungkin berkata, “Aku akan pergi membeli sepasang sepatu ke toserba.” Namun Tuhan berkata, “Tidak.” Seorang saudara mungkin sedang ingin berbincang-bincang dengan seorang saudara tertentu, namun Kristus yang tinggal di dalam berkata, “Tidak.” Bukankah ini pengalaman Anda? Saya tahu bahwa Kristus yang berhuni ini sering kali mengucapkan kata ini kepada Anda.

D. Kaum Beriman Mengasihi Putra, Menuruti

Perintah-Nya, Dikasihi oleh Bapa dan Putra, dan Beroleh Pernyataan Putra

Jika kita mengasihi Tuhan, kita akan menuruti perintah-perintah-Nya (14:15, 21, 23). Dalam 14:21, Tuhan berkata, “Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Jika kita memegang perintah-perintah Tuhan, kita akan dikasihi oleh Bapa dan Putra, dan Putra akan menampakkan diri-Nya kepada kita. Coba katakan, menurut pengalaman, sewaktu Tuhan berkata, “Tidak,” dan Anda menaatinya, apakah akibatnya? Anda segera menemukan bahwa Anda berada dalam penyertaan Tuhan. Tetapi jika kita tidak mempedulikan bisikan “tidak” ini, pastilah kita kehilangan penyertaan-Nya. Kapan kala kita mendengarkan perkataan-Nya dan memegang perintah-perintah-Nya, penyertaan-Nya segera diperkuat sehingga menjadi manis, berharga, mendiris, menguatkan, menerangi, dan merawat. Inilah pernyataan Kristus yang berhuni.

Bukankah kedengarannya tidak logis kalau mengatakan Kristus yang berhuni akan dinyatakan (di manifestasikan)? Mungkin Anda bertanya, “Kalau Dia sudah tinggal di dalamku, Dia tentu sudah ada di sini. Mengapa Anda mengatakan bahwa Dia akan menyatakan diri-Nya?” Karena Kristus yang berhuni itu sering kali menghilang. Meskipun Dia tinggal di dalam Anda, namun muncul dan hilangnya Dia di dalam perasaan Anda, tergantung pada taat tidaknya Anda terhadap perkataan-Nya. Semua saudara saudari, tua maupun muda, sedikit banyak mempunyai pengalaman semacam ini. Pernah sekali ketika saya merasa agak kesepian, saya berkata kepada diri saya, “Aku ingin pergi mengunjungi Saudara Yohanes dan bercakap-cakap dengan dia.” Tetapi Kristus yang berhuni di dalam mengatakan “jangan”. Kemudian saya berkata, “Bagaimana kalau aku menjenguk Saudara Francis?” Ketika Sang Penghuni itu mengatakan lagi “jangan”, saya lalu bertanya, “Apa yang harus kulakukan?” Tuhan berkata, “Tinggal saja bersama-Ku.” Siapakah “Aku” ini? Dia adalah Kristus yang berhuni. Begitu saya menjawab, “Amin, Tuhan,” penyertaan Tuhan yang berhuni ini menyorot dan menjadi demikian manis dan kuatnya. Ia akan mendatangkan banyak terang. Akan tetapi, jika setelah saya mendengar Ia mengatakan “jangan”, namun saya tetap acuh tak acuh terhadap perkataan-Nya dan tetap pergi menjenguk saudara-saudara, pasti penyertaan-Nya akan menghilang, dan kegelapan di dalam saya akan menguasai saya, sehingga saya kehilangan arah dan tidak damai.

Kita semua harus belajar satu hal: Taat kepada perintah-perintah Tuhan adalah berdasar pada kasih kita terhadap Dia. Jika Anda mengasihi Tuhan, Anda pasti akan mengatakan “amin” saat Ia mengatakan “jangan”. Jika Anda benar-benar mengatakan “amin”, Anda pasti mengalami penyataan-Nya. Tuhan akan menyatakan diri-Nya kepada siapa yang mengasihi Dia dan memelihara perintah-Nya. Ini bukan berarti sebelum Tuhan menyatakan diri-Nya kepada kita, Ia berada di surga tingkat ketiga. Bukan. Dia ada di dalam kita, namun karena ketidaktaatan kita, penyertaan-Nya hilang, terang menjadi gelap, kuat menjadi lemah, dan hayat menjadi maut.

Dalam seluruh Injil Yohanes, hanya ada dua permintaan: yang pertama adalah percaya ke dalam-Nya dan yang kedua ialah mengasihi Dia. Percaya ke dalam-Nya adalah menerima Dia, dan mengasihi Dia adalah menikmati Dia. Kita semua telah percaya ke dalam-Nya. Berarti kita semua telah menerima Dia. Tetapi masalahnya sekarang ialah kita mengasihi Dia atau tidak. Boleh saja Anda telah menerima Tuhan Yesus dan sekarang Dia ada di dalam Anda, namun belum tentu Anda mengasihi Dia. Kita perlu menjadi pencinta Tuhan Yesus sepanjang hari. Inilah aspek yang paling mencolok atas miniatur hidup gereja dalam pasal 12, yaitu kasih yang menuangkan minyak urapan ke atas diri Tuhan. Kita semua harus mengasihi Dia. Penyertaan-Nya selalu berhubungan dengan kasih kita kepada-Nya. Semakin kita mengasihi Dia, semakin kita menikmati penyertaan-Nya. Apakah penyertaan-Nya itu? Tak lain adalah kenikmatan atas diri-Nya. Asal kita memiliki penyertaan-Nya, kita menikmati-Nya. Semakin kita mengasihi Dia, semakin pula kita memiliki penyertaan-Nya. Semakin kita berada dalam penyertaan-Nya, semakin kita menikmati segala apa ada-Nya terhadap kita. Kita hanya perlu mengasihi Dia. Pengetahuan tidaklah terhitung, hanya mengasihi yang berarti. Alangkah perlunya kita mengasihi Dia! Saya telah mengasihi-Nya lebih dari 50 tahun, dan hari ini saya merasa Dia lebih menarik daripada yang lalu. Tak seorang pun lebih menarik daripada Dia. Kitab Kidung Agung mencantumkan bahwa Dia itu seluruhnya menarik (5:16). Pemulihan Tuhan adalah pemulihan mengasihi Tuhan Yesus. Bila kita tidak mengasihi Dia, kita sudah tamat dari pemulihan-Nya.

E. Bapa dan Putra Datang sebagai Roh kepada Kaum Beriman

Bapa dan Putra datang sebagai Roh kepada orang beriman. Mungkin Anda bertanya, “Bukankah mereka sudah ada di sini?” Ya, memang Mereka ada di sini, tetapi Mereka belum ternyatakan. Kedatangan Mereka adalah penyataan Mereka. Ketika Tuhan mengatakan bahwa Bapa dan Putra akan datang kepada orang beriman, itu bukan berarti Mereka jauh dari pencinta Yesus. Mereka ada di sini bersama dengan pencinta Yesus, hanya saja Mereka belum ternyatakan. Kedatangan Mereka adalah penyataan Mereka.

F. Allah Tritunggal Mengatur Tempat Tinggal

Bersama Kaum Beriman

Allah Tritunggal mengatur tempat tinggal bersama kaum beriman. Dalam ayat 23 Tuhan Yesus tidak berkata, “Bapa dan Aku akan tinggal bersamanya,” tetapi Ia berkata, “Kami akan datang kepadanya dan mengatur tempat tinggal bersama dia” (Tl.). Ada perbedaan antara dua kalimat “tinggal bersamanya” dan “mengatur tempat tinggal bersama dia”. Perbedaan ini lebih dari sekadar ungkapan bahasa. Mengatakan “Bapa dan Aku akan datang kepadanya dan tinggal dengannya” ini sudah benar dari segi bahasanya. Akan tetapi mengatakan “Bapa dan Aku akan datang kepadanya dan mengatur tempat tinggal bersamanya” ini mengandung makna yang lebih. Dalam hal apa lebih bermakna? Dalam hal Bapa dan Putra akan mengambil pencinta Yesus sebagai tempat tinggal Mereka, kaum beriman akan menjadi tempat tinggal Mereka. Tuhan seolah berkata, “Kami akan mengatur tempat tinggal bersama dia sehingga dia dan Kami akan mempunyai sebuah tempat tinggal. Dia akan menjadi tempat tinggal Kami dan Kami akan menjadi tempat tinggalnya.”

Ayat ini adalah dasar dari 15:4-5 “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Kebanyakan orang Kristen kurang menyadari bahwa dasar dari 15:4-5 adalah 14:23, di sana dikatakan bahwa Bapa dan Putra menjadi Roh, menyatakan diri kepada orang beriman yang mengasihi Dia, dan mengatur tempat tinggal bersama. Dengan kata lain, tempat tinggal ini disediakan oleh kunjungan Allah Tritunggal. Ketika Allah Tritunggal mengunjungi Anda, kunjungan-Nya akan menjadikan Anda tempat tinggal-Nya dan Dia menjadi tempat tinggal Anda. Akhirnya, Anda dengan Dia, Dia dengan Anda, menjadi tempat tinggal bersama. Anda akan tinggal di dalam Dia, dan Dia akan tinggal di dalam Anda. Ini sangat menakjubkan. Dia bukan hanya menjadi Penghuni di dalam Anda, Dia pun menjadi tempat tinggal Anda. Meskipun hal berhuninya Dia di dalam kita sudah cukup menakjubkan, saya lebih suka memiliki Dia sebagai tempat tinggal saya. Kita dapat tinggal di dalam Dia, dan Dia tinggal di dalam kita. Dalam situasi yang seperti ini, tidak ada tempat bagi dosa, dunia, Iblis, manusia lama, atau tubuh daging. Semua hal itu telah terusir.

Saya harap Anda mau secara jujur merenungkan pengalaman Anda pada masa silam. Tidakkah Anda mempunyai pengalaman ini pada masa lampau? Dalam lubuk batin Anda terdapat apresiasi atau penghargaan yang manis terhadap Tuhan Yesus, dan Anda berkata, “Tuhan, aku cinta kepada-Mu.” Kemudian Tuhan berkata, “Karena engkau mengasihi Aku, maka perintah-Ku ialah jangan melakukan ini dan itu.” Anda menjawab, “Amin, Tuhan Yesus.” Mungkin Anda mengatakan “amin” dengan berlinang air mata, tetapi segera Anda memiliki perasaan bahwa Tuhan telah ternyatakan dalam batin Anda. Anda benar-benar berada dalam penyertaan-Nya. Pada saat itu, Anda memiliki perasaan bahwa Ia sedang memenuhi Anda dengan diri-Nya sendiri sehingga Anda tertarik ke dalam-Nya. Anda tinggal di dalam Dia, dan Dia tinggal di dalam Anda. Anda menjadi tempat tinggal-Nya dan Ia menjadi tempat tinggal Anda. Saya yakin kita semua pernah mengalami hal seperti ini, baik secara mendalam maupun secara dangkal, baik dalam waktu yang panjang maupun hanya beberapa menit. Kita perlu mengalami hal demikian sepanjang hari.

G. Tempat Tinggal Ini Adalah Salah Satu dari Banyak Tempat Tinggal

Tempat tinggal bersama ini adalah salah satu dari antara banyak tempat tinggal yang semacam ini. Tempat tinggal yang dikatakan dalam ayat 23 adalah salah satu dari antara banyak tempat tinggal dalam ayat 2. Jangan lupa bahwa Anda ini hanya satu dari antara banyak tempat tinggal.

H. Ini untuk Pembangunan Tempat Kediaman Allah

Allah Tritunggal mengatur tempat tinggal bersama kaum beriman adalah untuk pembangunan tempat kediaman-Nya. Setiap kali Anda memiliki perasaan yang manis bahwa Anda berada dalam penyertaan Tuhan, dan Tuhan dengan sangat limpah tinggal di dalam Anda, saat itu Anda juga mempunyai perasaan bahwa Anda mengasihi semua orang beriman. Menurut pemahaman Anda saat itu, Anda tidak ada masalah apa pun dengan setiap orang beriman, dan Anda selalu siap mengampuni kesalahan setiap saudara dan saudari. Apakah ini? Ini adalah keinginan bersatu dengan kaum beriman bagi pembangunan Allah. Setiap kali Anda berada dalam situasi sedemikian ini dengan Tuhan, Anda pasti ingin dibaurkan dengan kaum beriman, tidak suka menyendiri. Pembangunan tempat kediaman Allah di antara manusia di muka bumi hari ini, seluruhnya berdasar pada pengalaman ini. Mungkin ada dua saudara bersengketa satu sama lain. Apa yang dapat menyelesaikannya? Itu tidaklah mudah. Pada suatu hari, kedua orang itu mulai mengasihi Tuhan, dan mereka mempunyai apresiasi yang manis dan dalam terhadap Dia. Tuhan memberi satu perintah dan mereka melaksanakan. Maka segera keduanya berada dalam penyertaan Tuhan, sengketa pun berlalu. Inilah cara Tuhan melakukan pekerjaan pembangunan ilahi di antara kita. Ini bukan perkara organisasi, peraturan, atau pengajaran yang di luar. Ini mutlak perkara kita mengasihi Tuhan, mengalami penyataan-Nya, dan tinggal bersama Dia.

IV. PERINGATAN PENGHIBUR DAN KEDAMAIAN HAYAT

A. Penghibur, yaitu Roh Kudus,

Diutus oleh Bapa dalam Nama Putra

Dalam ayat 26, Tuhan berkata, “Tetapi Penolong (Penghibur), yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Di sini nampak bahwa Penghibur, yaitu Roh Kudus, telah diutus oleh Bapa dalam nama Putra. Roh Kudus tidak hanya diutus oleh Bapa, tetapi juga datang dari dan bersama Bapa (15:26). Dalam bahasa Yunani, kata sambung “dari” dalam 15:26 adalah “para”. Kata ini berarti “di samping” dan sering kali diartikan “dari dengan”. Hal yang sama dapat dilihat di tempat lain dalam Injil Yohanes. Contohnya, dalam 6:46 Tuhan berkata, “Hal itu tidak berarti bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.” Kata “dari” dalam ayat ini ialah “para” dalam bahasa Yunani. Arti di sini ialah “dari dengan”. Tuhan tidak hanya datang dari Allah, tetapi juga dengan (bersama) Allah. Tuhan bukan hanya datang dari Allah, Dia pun tetap bersama Allah (8:16, 29; 16:27). Contoh lain yang juga mengandung arti “para” dapat kita jumpai dalam 17:8, di sana Tuhan berkata kepada Bapa-Nya tentang murid-murid-Nya, bahwa mereka “tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau.” Kata “dari” di sini, artinya juga adalah “dari dengan”. Begitu juga, Penghibur, Roh Kudus, diutus “dari dan dengan” Allah Bapa. Berarti, Roh itu bukan hanya datang dari Bapa, tetapi juga dengan Bapa. Ketika Bapa mengutus Roh itu, Dia pun datang bersama dengan Roh itu. Penghibur datang dari Bapa dan bersama dengan Bapa. Bapa itu sumber-Nya. Sewaktu Roh itu datang dari sumber, itu tidak berarti Dia itu lepas dengan sumber-Nya, melainkan Dia datang bersama dengan sumber-Nya.

Penghibur, Roh Kudus, diutus Bapa dalam nama Putra. Maka, Roh Kudus datang dalam nama Putra untuk menjadi realitas nama-Nya. Apakah artinya “di dalam nama-Ku”? Nama itu adalah Putra sendiri, dan Roh itu adalah persona-Nya, apa adanya Sang Putra. Ketika kita menyeru nama Putra, kita mendapat Roh itu (1Kor. 12:3). Putra datang dalam nama Bapa (5:43) karena Putra dan Bapa adalah satu (10:30). Kini, Roh itu akan datang dalam nama Putra karena Roh dan Putra adalah satu juga (2Kor. 3:17). Inilah Allah Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh Kudus akhirnya mendatangi kita sebagai Roh itu.

Roh itu datang dalam nama Putra. Saat Anda menyeru nama Yesus, Roh itu datang. Nama Putra ialah Yesus, dan Persona-Nya ialah Roh itu. Allah Bapa mengutus Roh itu dan Roh itu datang dalam nama Putra. Akhirnya, Allah Tritunggallah yang datang. Ketika Roh itu mendatangi kita, Bapa juga datang. Putra pun ada di sini, karena Roh itu datang bersama Bapa dalam nama Putra. Bapa mengutus Roh itu dari dan dengan diri-Nya, dan Roh itu datang dalam nama Putra. Roh itu datang sebagai Putra. Dia adalah Putra yang datang, dan Putra ini datang dari dan dengan Bapa. Jadi, ketika yang satu datang, ketiga-tiganya ikut hadir.

Izinkan saya mengulanginya. Bapa mengutus Roh itu bersama diri-Nya. Roh itu datang dengan Bapa, maka Bapa datang bersama dengan Roh itu. Roh datang dalam nama Putra dan sebagai Putra. Ketika Roh itu datang, itu adalah Putra yang datang. Jadi, saat Roh itu datang, ketiga-tiganya serempak datang.

Roh datang sesudah kebangkitan Tuhan untuk mengingatkan murid-murid tentang segala perkara yang telah Tuhan beri tahukan kepada mereka sebelum Ia disalibkan. Ini adalah peringatan kembali dari Roh itu, yang diutus dari dan bersama Bapa dan yang datang sebagai Putra dalam nama Putra. Nama adalah Putra sendiri, dan Roh itu adalah apa adanya dan persona Putra. Ketika murid-murid menyeru nama Putra, mereka menerima Roh itu yang mengingatkan mereka akan apa yang telah diberitahukan Putra kepada mereka sebelum kematian-Nya.

B. Damai Sejahtera Hayat

1. Berbeda dengan Damai Sejahtera Dunia

Dalam ayat 27, Tuhan berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Di sini kita nampak damai sejahtera hayat. Ini berbeda dengan damai sejahtera dunia.

2. Mengatasi Semua Persoalan dan Ketakutan

Damai sejahtera hayat mengatasi semua persoalan dan ketakutan. Semua persoalan dan ketakutan yang ada dalam potongan firman ini datangnya dari agama penganiaya. Pada masa itu mengikuti Tuhan Yesus bukan perkara kecil. Murid-murid menanggung risiko kehilangan nyawa mereka atau setidaknya akan kehilangan nafkah mereka. Karena murid-murid di bawah ketakutan terhadap agama penentang dan penganiaya, Tuhan memberi tahu mereka bahwa di dalam Dia mereka mempunyai damai sejahtera. Dia meninggalkan damai sejahtera-Nya kepada mereka. Damai sejahtera ini justru Tuhan sendiri. Tak peduli tentangan, aniaya, desas-desus fitnahan, dan perusakan reputasi yang dilontarkan oleh agama kepada kita, Tuhan Yesus di dalam kita menjadi hayat kita dan damai sejahtera kita. Kini, kita boleh menikmati Tuhan sebagai hayat kita, tempat tinggal kita, dan damai sejahtera kita. Puji syukur kepada Tuhan, Dia adalah segala sesuatu bagi kita. Dia adalah hayat kita, tempat tinggal kita, dan damai sejahtera kita.

3. Penguasa Dunia Bukan Apa-apa dalam Sang Pemberi Damai Sejahtera Ini

Penguasa dunia ini tak berkuasa sedikit pun atas Pemberi Damai Sejahtera ini (14:30). Dalam ayat ini Tuhan mengatakan, “Penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku.” Penguasa dunia ini adalah Iblis. Saatnya akan tiba di mana Iblis akan menyerang Tuhan. Tetapi Tuhan berkata bahwa di dalam Dia, Iblis itu bukan apa-apa. Dalam ayat berikutnya Tuhan berkata, “Tetapi dunia harus tahu bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku.” Perintah Bapa di sini adalah agar Dia mati dengan tujuan membawa kita ke dalam Allah. Tuhan telah mematuhi perintah ini serta menunjukkan kepada dunia bahwa Dia mengasihi Bapa. Tuhan bukan memasuki kematian dengan maksud menunjukkan bahwa Iblis telah gagal dalam hal mengalahkan Dia, atau Iblis bukan apa-apa di dalam Dia. Tetapi Tuhan mati karena Ia ingin membuktikan kepada dunia betapa Dia mengasihi Bapa.

Saya yakin bahwa sampai pada butir ini kita sudah jelas akan makna dari pasal ini. Tuhan akan mati, dibangkitkan, dan diubah ke dalam bentuk Roh itu sebagai bentuk yang lain, sebagai Penolong yang lain, sehingga Ia dapat masuk ke dalam kita serta membawa kita ke dalam Allah. Dengan hayat kebangkitan, kita disatukan dengan Allah. Hanya melalui kematian Tuhan dan kebangkitan-Nya, kita dapat disatukan dengan Allah, dan dibawa masuk ke dalam-Nya. Dengan kematian-Nya, Tuhan telah menyingkirkan sifat dosa, perbuatan dosa, ego, manusia lama, tubuh daging, dunia, penguasa dunia, dan maut. Tuhan telah menghapuskan semua jarak atau pemisah ini melalui kematian-Nya. Dengan kebangkitan-Nya, Ia kini menjadi Roh itu dan sebagai Roh itu, Ia masuk ke dalam kita, serta membawa kita ke dalam keesaan dengan Allah. Sekarang, Dia di dalam Bapa, kita di dalam Dia, dan Dia di dalam kita. Akhirnya, kita pun di dalam Bapa. Jika kita mengasihi Dia dan bekerja sama dengan Dia, pasti Ia akan lebih banyak menyatakan diri-Nya kepada kita. Semakin kita mengasihi Tuhan, semakin Allah Tritunggal masuk ke dalam kita, bersemayam bersama kita, dan mengatur tempat tinggal bersama dengan kita. Tempat tinggal bersama ini adalah perbauran antara Allah dengan manusia. Keesaan perbauran ini ialah tempat tinggal rohani, tempat tinggal ilahi, tempat tinggal bersama. Kita adalah tempat tinggal Allah, Allah juga adalah tempat tinggal kita. Inilah pembangunan yang sejati. Inilah arti yang tepat atas firman Tuhan yang terdapat dalam pasal ini.