← Daftar isi Yohanes (3) · bab 3/17

KEPERLUAN ORANG YANG BUTA DI DALAM AGAMA — PENGLIHATAN HAYAT DAN PENGGEMBALAAN HAYAT (1)

Seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya, sembilan peristiwa dalam Injil Yohanes dibagi dalam dua kelompok. Enam peristiwa yang pertama menunjukkan bagaimana Tuhan sebagai hayat kita dapat menanggulangi perkara-perkara positif. Sementara itu, tiga peristiwa yang terakhir menunjukkan bagaimana Tuhan sebagai hayat kita dapat menanggulangi perkara-perkara negatif. Enam peristiwa yang pertama menampakkan Tuhan sebagai hayat adalah untuk melahirkan kembali, memuaskan, menyembuhkan, menghidupkan, merawat, dan meleraikan haus. Keenam tanda ajaib ini menyusun satu kelompok, karena mereka berkaitan dengan aspek-aspek positif hayat-Nya. Ketiga peristiwa terakhir menanggulangi perkara-perkara negatif dari dosa, kebutaan, dan kematian. Dosa menyebabkan kebutaan dan berkesimpulan pada kematian. Karena itu, ketiganya ini dosa, kebutaan, dan kematian bersama-sama membentuk satu kelompok yang menunjukkan bagaimana Tuhan yang adalah hayat kita menanggulangi perkara-perkara negatif. Dalam enam peristiwa yang pertama, Tuhan membawa kita kepada segala sesuatu yang positif, tetapi dalam ketiga peristiwa yang terakhir, Tuhan melepaskan kita dari segala sesuatu yang negatif, karena Ia melepaskan kita dari dosa, kebutaan, dan kematian.

Menurut Yohanes 20:30-31, penulis menyatakan bahwa Yesus membuat banyak tanda mukjizat. Dari semua tanda mukjizat ini, penulis hanya memilih sembilan tanda mukjizat. Karena itu, tanda-tanda mukjizat ini seharusnya sangat bermakna dan urutan penyajian mereka juga sangat bermakna. Sebagai contoh, peristiwa pertama adalah perihal kelahiran kembali, dan peristiwa terakhir adalah perihal kebangkitan dari maut. Jadi, peristiwa pertama membicarakan kelahiran kembali, adalah permulaan hayat; dan yang terakhir membicarakan kebangkitan, adalah setelah berak-hirnya hayat. Lebih jauh lagi, dalam kelompok peristiwa yang terakhir, dosa diletakkan di tempat pertama di antara perkara-perkara negatif lainnya, karena dosa merupakan asal kebutaan dan kematian. Kebutaan berasal dari dosa, dan kematian merupakan akhir dari dosa. Dalam berita ini kita akan membahas masalah kebutaan.

Sejumlah pembaca Alkitab tidak jelas bahwa Yohanes 10 merupakan lanjutan dari Yohanes 9. Akan tetapi, jika kalian membacanya dengan cermat, kalian akan nampak bahwa pasal 10 merupakan sambungan pasal 9. Karena itu, kedua pasal ini membentuk satu bagian dari firman kudus. Yohanes 10:21 membantu kita untuk memahami bahwa pasal 10 merupakan sambungan pasal 9, karena pertanyaannya menanyakan: “Dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?” Akan tetapi, kedua pasal ini mengungkapkan butir yang berlainan. Dalam kedua pasal ini, dua aspek utama yang diwahyukan mengenai diri Tuhan adalah: Tuhan membuat orang yang buta melihat dan Tuhan menggembalakan orang-orang yang percaya kepada-Nya di luar agama.

I. PENGLIHATAN HAYAT BAGI ORANG YANG

BUTA DI DALAM AGAMA

Peristiwa ini membuktikan lebih jauh bahwa agama hukum Taurat sama sekali tidak membantu orang yang buta. Tetapi Tuhan Yesus adalah terang dunia, Dia dengan cara hayat bisa membuat orang yang buta melihat (Yoh. 10:10, 28). Mukjizat ini dibuat pada hari Sabat. Seolah-olah Tuhan sekali lagi dengan sengaja melakukan suatu mukjizat pada hari Sabat untuk menyingkapkan kesia-siaan ritual agama.

Kebutaan, seperti dosa dalam pasal sebelumnya, adalah masalah kematian. Orang yang mati pasti buta “. . . yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini.” Karena itu, mereka memerlukan “cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus” menyoroti mereka (2Kor. 4:4), “untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah” (Kis. 26:18). Menurut prinsip yang ditetapkan dalam pasal 2, ini juga mengubah kematian menjadi hayat.

A. Lahir Buta

Mari kita baca Yohanes 9:1-3, “Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, ‘Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?’ Jawab Yesus, ‘Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia.’” Pertanyaan ini diajukan oleh murid-murid sesuai dengan pengetahuan keagamaan mereka. Mereka mengira bahwa kebutaan pasti disebabkan oleh dosa orang itu atau dosa orang tuanya. Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan dalam Yohanes 4:20-25 dan 8:3-5, yaitu tentang benar atau salah, milik pohon pengetahuan, hasilnya adalah kematian (Kej. 2:17). Tetapi jawaban Tuhan dalam Yohanes 9:3 memalingkan mereka kepada diri-Nya sebagai pohon hayat, hasilnya adalah hayat (Kej. 2:9). Kita telah nampak bahwa dalam Injil Yohanes Tuhan tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini dengan ya atau tidak, benar atau salah. Ini karena Injil Yohanes adalah kitab hayat, bukan buku pengetahuan perihal baik dan jahat. Karena itu, Tuhan berkata bahwa kebutaan orang itu adalah supaya “pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia”.

Mengapa Tuhan tidak pernah menjawab dengan ya atau tidak? Karena jawaban ya atau tidak berasal dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Baik dan jahat sama dengan ya atau tidak. Sementara ya dan tidak adalah milik pohon pengetahuan baik dan jahat, dalam Injil ini Tuhan datang kepada kita sebagai pohon hayat. Pohon hayat adalah Allah sebagai hayat kita. Dengan sendirinya, dalam Injil ini Tuhan tidak pernah menjawab pertanyaan orang-orang dengan ya atau tidak. Ia selalu memalingkan mereka kepada Allah. Tuhan tidak menggunakan kata ya atau tidak sebagai jawaban, melainkan menunjukkan Allah sebagai pohon hayat. Jawaban Tuhan dalam Yohanes 9:3 membawa murid-murid-Nya secara langsung kepada Allah, yaitu membawa mereka kepada pohon hayat. Pada saat itu murid-murid masih sangat agamawi. Mereka dipenuhi oleh konsepsi-konsepsi keagamaan mereka, milik pohon pengetahuan baik dan jahat, tetapi Tuhan berulang-ulang mencoba untuk memalingkan mereka dari pohon pengetahuan kepada pohon hayat. Khusus untuk hal ini murid-murid berada di bawah pelatihan Tuhan selama tiga setengah tahun. Namun ketika waktu itu telah lewat, satu di antara murid-murid Petrus masih belum sama sekali terlepas dari konsepsi-konsepsi agama, karena dalam Kisah Para Rasul 10:9-16 kita mengetahui bahwa Petrus masih agamawi, masih dipengaruhi oleh pengetahuan baik dan jahat. Mungkin saja kita menganggap diri kita bebas dari pohon pengetahuan, tetapi sekarang pun kebanyakan dari kita masih di bawah pengaruh ini.

Ketika kita masih sebagai orang-orang berdosa, kita kehilangan penglihatan kita dan tidak dapat melihat apa pun. Kebutaan kita disebabkan oleh alamiah kita yang berdosa. Dalam Yohanes 9, orang itu dilahirkan buta. Ini menunjukkan bahwa kebutaan sudah ada dalam pembawaan alamiah manusia sejak lahir. Kita, orang-orang berdosa, adalah buta sejak semula karena kita dilahirkan sebagai orang-orang yang demikian. Pernahkah kalian menyadari bahwa setiap orang dosa dilahirkan buta? Karena itu, jika kita mengakui bahwa kita adalah orang berdosa, kita juga harus mengakui bahwa kita adalah orang yang buta.

B. Menerima Terang

1. Melalui Terang Hayat

Ketika Tuhan Yesus melihat orang buta ini, Ia berkata, “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia” (Yoh. 9:5). Tuhan adalah terang hayat (Yoh. 8:12 Tl.). Kebutaan berasal dari tidak adanya terang hayat. Setiap orang yang mati adalah orang yang buta. Tidak diragukan lagi, orang yang mati tidak dapat melihat apa pun. Karena itu, kebutaan menunjukkan tidak adanya hayat. Jika Anda mempunyai hayat, Anda mempunyai penglihatan, karena terang-Nya telah mencelikkan mata Anda. Jadi, mula-mula Tuhan menunjukkan bahwa orang yang buta memerlukan terang hayat.

2. Melalui Pengurapan Firman Hayat Berbaur dengan Sifat Insani

Ayat 6 sangat menarik. “Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan membuat lumpur dengan ludah itu, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi.” Ketika saya masih sebagai seorang Kristen muda, saya tidak mengerti makna ayat ini, dan geli dengan apa yang Tuhan perbuat. Apa yang diperbuat-Nya sangat aneh. Tak seorang pun suka berkontak dengan ludah seseorang, tetapi Tuhan Yesus justru mencampur ludah-Nya dengan tanah dan menjadikannya suatu lumpur, kemudian Ia menggunakan lumpur ini untuk mengolesi mata orang buta itu. Injil Yohanes adalah kitab yang berisi suatu gambaran. Janganlah kita memahaminya hanya berupa huruf hitam di atas kertas putih. Kita harus berdoa dan menengadah kepada Tuhan agar kita boleh mendapatkan makna yang sebenarnya.

Saya tidak dapat memberi tahu kalian, berapa banyak waktu yang telah saya gunakan untuk mempelajari hal ini. Dalam upaya saya untuk memperoleh suatu penjelasan, saya memeriksa bermacam-macam buku, tetapi tidak sebuah buku pun yang menyinggung soal ini. Suatu hari, kira-kira tahun 1949, saya nampak masalah perbauran hayat ilahi dengan insani. Kata “perbauran” (mingling) ini telah kita pakai sejak saat itu. Jika Anda ke toko buku Kristen, Anda tidak akan mendapatkan satu buku pun yang membicarakan tentang perbauran. Kebanyakan buku-buku itu membicarakan kesatuan dengan Kristus. Tak satu buku pun yang membicarakan masalah perbauran ini. Pada tahun 1958, kali pertama saya mengunjungi Amerika Serikat, saya menyampaikan berita perihal perbauran hayat ilahi dengan insani. Seorang pengkhotbah lulusan Oxford, segera mengoreksi bahasa Inggris saya. Ia mengatakan perbauran bukanlah kata yang tepat, seharusnya memakai kata-kata “bergaul bersama” (comingling). Saya menjawab, “Apakah kata ini merupakan kata yang tepat dalam bahasa Inggris, aku tidak begitu pasti karena bahasa Inggris bukan bahasa ibuku. Tetapi aku tahu bahwa ada fakta yang demikian antara hayat ilahi dengan insani.” Di kemudian hari, saya memperoleh konfirmasi (penegasan) dari Kitab Imamat bahwa “perbauran” adalah kata yang tepat.

Istilah “perbauran” ini dipakai dalam Imamat 2:5, “Jikalau persembahanmu merupakan kurban sajian dari yang dipanggang di atas panggangan, haruslah itu dari tepung yang terbaik, diolah (dibaurkan) dengan minyak, berupa roti yang tidak beragi.” Ini merupakan suatu lambang. Tepung yang terbaik melambangkan keinsanian Tuhan Yesus; minyak melambangkan Roh Kudus, yaitu keilahian Tuhan Yesus. Karena itu, dalam persona Tuhan Yesus ada perbauran antara keilahian dan keinsanian. Jadi, kali kedua saya mengunjungi Amerika Serikat, saya mulai dengan berani membicarakan perihal perbauran hayat ilahi dengan keinsanian kita. Ada orang mengingatkan saya untuk tidak mengatakan lebih banyak tentang ini, melainkan tetap pada batasan tentang persamaan dan persatuan. Saya berkata, “Saudarasaudara, aku tidak mau konsepsi manusia. Aku hanya mau firman yang murni. Bagaimana tentang Imamat 2:5 tepung yang terbaik yang dibaurkan (Tl.) dengan minyak? Janganlah datang kepadaku. Kalian harus pergi kepada Musa. Ia adalah orang pertama yang memakai istilah ini.” Mulai tahun 1963, Tuhan memberi saya beban untuk menerbitkan majalah yang berjudul “The Stream”. Berulang-ulang kami dalam majalah tersebut membicarakan perihal perbauran. Sekarang banyak orang yang menerima pemikiran ini.

Sekarang kita kembali ke Yohanes 9 dan menerapkan padanya perihal konsepsi perbauran keilahian dengan keinsanian. “Lumpur” dalam 9:6, dalam bahasa aslinya sama dengan “tanah liat” dalam Roma 9:21, melambangkan sifat insani. Manusia adalah tanah liat. Kita semua adalah tanah liat. Apakah ludah itu? Ludah di sini “keluar dari mulut” Tuhan (Mat. 4:4), melambangkan “Perkataan-perkataan yang . . . adalah roh dan hidup” (Yoh. 6:63). Jadi, secara kiasan, ludah adalah firman, juga adalah roh dan hayat yang keluar dari mulut Tuhan. Perkataan (firman) yang keluar dari mulut Kristus adalah roh. Jadi, mencampur ludah dengan tanah liat menyatakan membaurkan sifat insani dengan firman Tuhan yang hidup. Kata “mengoleskan” bisa membuktikan ini. Karena Roh Tuhan adalah Roh yang mengurapi (Luk. 4:18; 2Kor. 1:21-22; 1Yoh. 2:27). “Ludah” menyatakan firman (perkataan) Tuhan, yang keluar dari unsur atau esens diri Tuhan sendiri. Tanah liat dibaurkan dengan ludah. Ini berarti Tuhan membaurkan esens-Nya dengan kita melalui (bahkan dengan) firman-Nya. Hakiki kita adalah tanah liat, dan esens Tuhan di dalam firman adalah ludah. Dulu, ketika kita adalah orang dosa, kita mati. Tetapi ketika kita mendengar firman Tuhan, firman-Nya masuk ke dalam kita, manusia tanah liat. Ketika kita mendengar dan menerima Injil, itu berarti ludah Tuhan masuk ke dalam kita, manusia tanah liat. Dengan kata lain, tanah liat menerima sesuatu yang keluar dari mulut Tuhan dan berbaur dengannya.

Perbauran keilahian dengan keinsanian merupakan minyak urapan yang paling mujarab di seluruh bumi. Tidak ada minyak urapan lain yang bisa mengunggulinya. Tuhan mengolesi mata orang buta ini dengan tanah liat yang dibaurkan ludah. Ini menunjukkan pengurapan Roh hayat. Pengurapan Roh hayat menyertai perbauran Tuhan di dalam firman-Nya dengan tanah liat. Segera sesudah Anda menerima Tuhan melalui firman-Nya, terjadi pengurapan Roh hayat. Pengurapan (pengolesan) Tuhan pada mata yang buta dengan tanah liat yang dibaurkan dengan ludah-Nya menunjukkan bahwa melalui pengurapan firman Tuhan, yang adalah Roh-Nya yang berbaur dengan keinsanian kita, mata kita yang dibutakan oleh Iblis akan dapat melihat.

3. Melalui Taat kepada Firman Hayat dan Membasuh Bersih Keinsanian yang Usang

Setelah mata orang yang buta itu diolesi dengan tanah liat, ia menjadi lebih buta daripada sebelumnya. Sekarang, suatu lapisan tanah liat yang tebal menutupi matanya. Tuhan berkata kepadanya, “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam” (Yoh. 9:7). Orang itu pergi, membasuh dirinya, lalu kembali dan dapat melihat lagi. Membasuh di sini adalah membersihkan tanahnya. Ini melambangkan membersihkan sifat insani kita yang lama, seperti yang kita alami ketika dibaptis (Rm. 6:3, 4, 6). Orang buta itu pergi membasuh dirinya, ini menyatakan bahwa ia menaati firman pemberi hayat Tuhan. Demikianlah ia melihat. Jika setelah ia diolesi tanah, ia tidak mau membasuh tanah itu, maka ia akan lebih buta daripada sebelumnya. Ketaatan kita terhadap pengurapan Tuhan, bisa membersihkan, dan membuat kita dapat melihat.

Kata ‘Siloam’ berarti “diutus”. Ini sangat bermakna. Menerima pengurapan Roh hayat berarti Anda selalu berada pada kedudukan sebagai orang yang diutus. Pengurap-an menaruh kita pada kedudukan sebagai orang utusan. Karena itu, kita harus taat. Tuhan sendiri selalu berdiri pada kedudukan orang yang diutus Bapa dan Ia selalu taat. Sekarang Tuhan menaruh kita pada kedudukan yang sama seperti Dia sebagai seorang utusan. Setelah kita menerima Tuhan dalam firman-Nya dan menerima pengurapan-Nya, Ia menaruh kita pada posisi seorang utusan. Kita sekarang harus taat kepada perintah-Nya. Setelah Anda menerima Tuhan dalam firman-Nya, langkah pertama apakah yang Anda ambil untuk menjadi taat? Begitu Anda percaya kepada Tuhan dan menerima-Nya dalam firman, Tuhan akan menyuruh Anda pergi ke “kolam”. Langkah pertama adalah Tuhan akan menyuruh Anda ke “kolam”. Ia akan menyuruh Anda membasuh dan dibaptis. Sejak itu, Anda harus setiap hari dan sepanjang hari menerapkan pembasuhan ini. Hari demi hari Anda harus menyadari bahwa Anda adalah orang yang dibasuh sepanjang hari. Bahkan hari ini pun, saya telah dibasuh beberapa kali. Setiap perintah dari Tuhan selalu diikuti dengan pengurapan Roh hayat di batin Anda, “Pergilah dan basuhlah.”

Pasal ini mencatat kisah seorang buta. Tuhan membaurkan ludah-Nya dengan tanah liat. Kemudian mengoleskannya pada mata si buta. Tuhan menyuruhnya pergi dan membasuh diri di kolam Siloam. Ketika orang buta itu membasuh matanya, tanah liat itu terlepas. Apakah tanah liat itu? Tanah liat menunjukkan hayat alamiah atau diri (ego) manusia itu sendiri. Saat Anda dibaptis, manusia lama, tanah liat yang lama itu dibasuh bersih. Setelah pembasuhan, manusia lama ini dikubur di dalam air. Manusia lama Anda dikubur di dalam air setelah Anda dibaptis. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa Anda juga harus menerapkan pembasuhan baptisan ini setiap hari? Dalam kehidupan kristiani Anda setiap hari, Anda harus menerapkan pembasuhan baptisan ini dengan menaruh diri sendiri dan sifat alamiah manusia lama Anda di dalam air kematian.

Anda harus ingat bahwa pengurapan yang di dalam selalu menuntut Anda menerapkan pembasuhan baptisan atas diri Anda. Jika Anda tidak melakukan hal ini, Anda tidak akan pernah dapat menjadi orang yang taat untuk mengikuti pengurapan itu. Pengurapan di dalam selalu menuntut Anda pergi ke Siloam dan menaruh diri Anda kepada kematian. Anda harus mengubur diri Anda seperti tanah liat di dalam air kematian. Boleh jadi Anda telah menerima pengurapan pagi ini. Jika Anda mengabaikan pembasuhan baptisan terhadap diri Anda sendiri, Anda tidak dapat menaati pengurapan tersebut. Perintah untuk menaruh diri Anda di dalam air kematian segera diikuti dengan pengurapan. Pengurapan menuntut Anda membersihkan tanah liat usang. Ketika Anda melakukan ini, Anda akan menerima penglihatan dan terang. Menurut pengalaman kita, setelah kita menuruti tuntutan pengurapan untuk menaruh diri kita ke dalam air kematian, kita akan menerima terang dengan penglihatan. Setiap hal menjadi sangat jelas, karena kita sekarang mempunyai penglihatan dan terang. Sinar matahari yang sejati ada di dalam kita. Mata kita terbuka dan kita dapat melihat dengan jelas, karena kita telah menerima penglihatan dan sekarang berada di dalam terang.

Apa yang terjadi seandainya orang buta itu tidak menaati perintah Tuhan yang menyuruhnya pergi dan membasuh matanya? Sekalipun matanya telah diolesi dengan tanah liat, namun penolakannya untuk mematuhi perintah itu akan membuatnya semakin buta. Apa yang Tuhan perbuat hingga saat itu malah akan menjadi sebuah selubung atau penutup, bukan penanggalan selubung itu. Demikian juga, jika kita tidak menaati pengurapan Roh hayat, pengurapan itu malah akan menjadi suatu selubung yang menutupi mata kita, bukannya mencelikkan mata kita. Akan tetapi, jika kita menaati pengurapan Roh hayat dan mengubur diri kita ke dalam kematian, mata kita akan dicelikkan. Singkatnya, kita akan mempunyai penglihatan dan akan ada di dalam terang. Jika tidak, ketidaktaatan kita akan menyebabkan pengurapan Roh hayat menjadi suatu selubung yang menutupi mata kita, dan kita akan menjadi lebih buta dan akan dibawa ke kegelapan yang lebih dalam.

Kali pertama saya menerima penafsiran ini, saya tertawa. Kata saya, “Ah! Mencampur tanah liat dengan ludah sudah cukup aneh. Sekarang aku mendapatkan penjelasan yang juga aneh.” Mula-mula saya tidak dapat mempercayai ini. Namun, ketika saya berdoa dan memeriksa pengalaman-pengalaman saya, saya menjadi percaya. Jika Anda melakukan hal yang sama, Anda akan melihat bahwa ini adalah suatu penafsiran yang benar. Sering kali Anda menerima penglihatan melalui Roh ilahi yang berbaur dengan keinsanian Anda. Untuk sejangka waktu, mata Anda ditutupi, dan untuk sementara Anda akan lebih buta daripada biasanya. Tetapi akhirnya, setelah Anda menaati firman pemberi hayat, sifat usang Anda akan dibasuh bersih, lalu Anda mempunyai langit yang cerah. Silakan mencocokkannya dengan pengalaman Anda. Inilah prosedur setiap kali Anda menerima terang.

Hanya membaca atau mempelajari Alkitab tidaklah cukup. Tanpa membaurkan hayat ilahi dengan keinsanian Anda, Anda tidak akan pernah dapat nampak terang dari firman itu. Mungkin saja Anda telah membacanya, tetapi Anda tidak dapat melihatnya. Boleh jadi Anda telah berulang-ulang membaca kalimat tertentu di dalam Alkitab, tetapi Anda tetap tidak dapat melihat terang yang ada di dalamnya. Suatu hari, Anda mulai nampak. Dengan segera mata Anda tertutup, dan sejenak kemudian mata Anda bahkan lebih buta. Akan tetapi, bila Anda menaati firman hidup dan berkata, “Amin, Tuhan Yesus.” Segera Anda mempunyai perasaan adanya sesuatu yang tertanggalkan dari mata Anda, sehingga Anda bisa melihat. Sifat manusia lama Anda telah ditanggalkan dan Anda dapat melihat ke dalam surga. Inilah jalan untuk menerima terang.

Ada tiga langkah yang harus kita ambil supaya mata kita bisa melihat. Pertama-tama, tanah liat harus diterima dan dibaurkan dengan ludah. Dengan kata lain, Anda, manusia lama, tanah liat, harus menerima firman Tuhan sebagai ludah, dan dibaurkan dengan Tuhan di dalam firman-Nya. Kemudian langkah kedua menyusul, yaitu setelah Anda menerima Tuhan dalam firman-Nya, Anda akan mempunyai pengurapan. Terakhir, langkah ketiga, mengikuti pengurapan ada tuntutan, yaitu meletakkan manusia lama ke dalam maut. Tanah liat yang usang itu harus ditaruh ke dalam air kematian. Melalui ketiga langkah ini, mata Anda akan dicelikkan. Lalu Anda akan mempunyai penglihatan dan akan selalu di dalam terang. Saudara saudari, bahkan hari ini, jika Anda ingin mempunyai penglihatan dan berada di dalam terang, pertama-tama Anda harus menerima Tuhan di dalam firman-Nya. Meskipun Anda sudah dilahirkan kembali, Anda harus menerima Tuhan di dalam firman-Nya dan semakin berbaur dengan-Nya. Anda tetap masih adalah tanah, dan Anda memerlukan ludah yang keluar dari mulut Tuhan, yang menunjukkan esens diri Tuhan. Setiap kali Anda menerima Tuhan di dalam firman-Nya, pengurapan akan menyusul. Kemudian pengurapan akan menyuruh Anda, sebagai orang yang berasal dari tanah liat, untuk menaruh diri Anda ke dalam air kematian dan berdiri pada kedudukan seorang utusan. Seorang utusan tidak bertindak menurut kehendaknya sendiri, melainkan menurut kehendak orang yang mengutusnya. Sebagai seorang utusan, ia harus bekerja dan bertindak menurut pengutusnya. Apa yang dilakukan seorang utusan bukanlah sesuatu yang menurut kehendaknya sendiri, melainkan menurut orang yang mengutusnya.

Jangan menganggap kisah penyembuhan orang yang buta ini sebagai sesuatu yang biasa. Ketika saya masih muda, saya mengira kisah ini adalah sesuatu yang biasa dan bahkan lucu. Seandainya saya ada di sana, mungkin saya tidak akan membiarkan Tuhan melakukan hal itu. Saya akan berkata, “Perbuatan ini sangat tidak sehat dan tidak bersih. Betapa menjijikkan! Bukan main kotornya! Lumpur dan ludah, keduanya kotor. Anda telah menaruh barang-barang yang kotor pada matanya. Tidak, tidak! Aku tidak ingin mengerjakan ini!” Kisah ini nampaknya lucu, tetapi dengan pertolongan Roh Tuhan, kita dapat mengerti prinsip yang mengagumkan, yang terkandung di dalamnya. Agar kita dapat nampak, pertama-tama kita harus menerima dan berbaur dengan Tuhan di dalam firman-Nya. Kemudian kita akan memiliki pengurapan Roh hayat di dalam kita, yang akan menaruh kita pada kedudukan seorang utusan. Kita akan rela mengesampingkan diri sendiri, dan menyisihkan tanah liat yang ada di dalam kita. Kita akan rela dikubur dalam air kematian, menaruh diri di dalam kematian. Akhirnya penglihatan kita akan dipulihkan, dan kita akan menikmati terang. Kita harus setiap hari hidup berdasarkan prinsip ini, yaitu mengubah kematian menjadi hayat.

C. Dianiaya oleh Agama

Memperoleh penglihatan merupakan perkara yang baik. Akan tetapi, bersiaplah untuk menghadapi penganiayaan agama yang buta. Orang buta yang memperoleh penglihatannya itu diusir (Yoh. 9:34), berarti memecat, mengasingkan dia dari perhimpunan orang Yahudi. Ini justru melepaskan dia dari kandang, seperti yang diucapkan Tuhan dalam Yohanes 10:3-4. Meskipun ia dipecat dari agama Yahudi, tetapi ia diterima oleh Tuhan Yesus.

D. Percaya kepada Putra Allah

Orang buta itu percaya kepada Yesus sebagai Putra Allah (Yoh. 9:35-38). Ia menerima penglihatannya karena suatu “kepercayaan yang tidak jelas”. Ia percaya, tetapi tidak jelas. Ia polos dan apa adanya. Ia percaya, namun tidak benar-benar mengenal siapa Yesus itu. Ia percaya secara polos. Meskipun ia tidak cukup mengenal siapa Yesus, namun ia percaya bahwa Yesus adalah seorang yang istimewa. Karena itu, ia berbantahan dengan orang-orang Farisi tentang hal ini. Dan akhirnya orang-orang Farisi mengusirnya. Kemudian Tuhan Yesus menemuinya dan bertanya, “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” (Yoh. 9:35). Jawab orang buta itu, “Siapakah Dia, Tuan? Supaya aku percaya kepada-Nya” (Yoh. 9:36). Ia percaya, namun ia tetap tidak mengenal Tuhan Yesus. Kemudian Tuhan berkata kepadanya, “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” (Yoh. 9:37). Kemudian orang buta itu berkata, “‘Aku percaya, Tuhan!’ Ia pun sujud menyembah-Nya” (Yoh. 9:38). Ia percaya Yesus itu Putra Allah. Jadi, orang buta itu bukan hanya menerima penglihatannya, dirinya pun diterima Tuhan Yesus.

Ini berarti bahwa Tuhan sebagai gembala, masuk ke dalam kandang, melihat seekor domba kecil yang buta, kemudian mencelikkan matanya, dan memimpin domba itu keluar dari kandang. Di satu pihak, domba itu diusir, tetapi di pihak lain, Tuhan membawanya keluar. Tuhan bukannya membawa dia keluar dari neraka, melainkan dari kandang. Seperti yang akan kita lihat lebih lanjut dalam berita berikutnya, kandang ini adalah agama Yahudi, agama yang memelihara hukum Taurat. Orang yang buta itu, seperti orang-orang yang buta dan timpang di serambi dalam Yohanes 5, terus berada di dalam serambi memelihara hukum Taurat. Kemudian Tuhan Yesus datang, bukan hanya sebagai hayat, tetapi juga sebagai gembala, memimpinnya keluar dari kandang domba.

Tuhan itu berdaulat atas segala sesuatu. Banyak di antara kita yang dulu berada di dalam kandang agama. Boleh jadi Anda berada di sana sebagai salah seorang yang timpang. Kita semua berada di dalam serambi itu. Syukur kepada Tuhan Yesus atas kuasa kedaulatan-Nya, Ia datang sebagai hayat yang menyembuhkan kebutaan kita dan sebagai gembala yang memimpin kita keluar dari kandang.

E. Dihakimi oleh Hayat

Dalam Yohanes 9:39-41 Yesus berkata, “‘Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya siapa saja yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya siapa saja yang dapat melihat, menjadi buta.’ Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya, ‘Apakah kami juga buta?’ Jawab Yesus kepada mereka, ‘Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena sekarang kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.’” Tuhan berkata kepada orang-orang Farisi, Ia datang untuk menghakimi. Tetapi Ia memberi tahu Nikodemus bahwa Ia datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan dunia (Yoh. 3:17). Pada diri Nikodemus, Dia nampak sebuah hati yang menuntut, karena itu Dia datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkan dunia. Akan tetapi, pada diri orang-orang Farisi, Dia nampak kesombongan mereka, karena itu Dia datang untuk menghakimi mereka. Apakah Tuhan datang untuk mengadili atau menyelamatkan Anda, tergantung pada sikap Anda. Jika sikap Anda seperti Nikodemus, Dia akan datang untuk menyelamatkan Anda. Tetapi jika sikap Anda seperti orang-orang Farisi, Dia akan datang untuk menghakimi Anda. Apakah Tuhan akan menjadi hakim atau Juruselamat, tergantung pada sikap Anda.

Bila seseorang angkuh dan menganggap diri sendiri memiliki sesuatu yang cukup lumayan, berarti ia tidak memerlukan Tuhan; akibatnya, Tuhan Yesus akan membiarkan orang semacam ini dalam kebutaannya. Kita harus berhati-hati, jangan dengan sombong berkata bahwa kita dapat melihat. Jika kita menyatakan bahwa kita melihat, Tuhan akan membiarkan kita buta. Tuhan berkata bahwa Ia akan memberikan penglihatan kepada mereka yang buta, tetapi Ia akan menjadikan buta mereka yang merasa dirinya melihat. Inilah pernyataan Tuhan yang serius. Jadi, kita harus rendah hati dan jangan sombong. Kesombongan berarti kebutaan dan kegelapan.