KEPERLUAN ORANG YANG DI BAWAH PERBUDAKAN DOSA — PEMBEBASAN HAYAT (2)
F. Cara Pembebasan
1. Melalui Terang Hayat
Bagaimana Tuhan Yesus membebaskan kita dari dosa? Ia melakukannya melalui masuk ke dalam kita sebagai terang hayat. Terang ini bukan di luar kita, tetapi di dalam kita. Ketika kita menerima Tuhan, Ia masuk ke dalam kita sebagai hayat kita. Hayat yang tinggal di dalam kita ini kini menerangi batin kita. Berangsur-angsur namun dengan spontan, terang hayat yang tinggal di dalam kita membebaskan kita. Dibebaskan dari belenggu dosa bukan perkara satu malam, melainkan memerlukan waktu. Walaupun Anda mungkin dihidupkan dalam satu detik, namun dibebaskan dari dosa tidak sedemikian sederhana.
Sebagai gambaran, kita bisa menggunakan masalah temperamen kita. Setiap orang mempunyai temperamen. Jika Anda tidak mempunyai temperamen, Anda bukan manusia. Meja tidak mempunyai temperamen. Tak peduli berapa kali Anda memukul meja, ia tetap tidak marah, karena meja tidak mempunyai temperamen untuk marah. Namun bagaimana dengan Anda? Setiap orang sedikit banyak mempunyai temperamen, dan temperamen ini adalah ekspresi pertama sifat ular kita. Ekspresi utama Iblis di dalam kita ialah temperamen kita. Ketika seseorang marah, ia berwajah ular. Tidak seorang pun yang kelihatan seperti malaikat bila ia marah. Ketika Anda marah-marah kepada istri Anda, Anda kelihatan seperti setan. Ketika seorang ibu yang baik ma-rah kepada anaknya, si anak akan ketakutan, sebab ibunya kelihatan seperti setan. Ketika kita marah, sifat alami ular diekspresikan. Temperamen kita sangat mengganggu kita, merepotkan kita sepanjang waktu. Selama lima puluh tahun sebagai seorang Kristen yang menuntut, tidak ada hal lain yang menyulitkan saya selain temperamen saya. Betapa sulit lepas dari temperamen saya! Dari pengalaman saya, saya dapat bersaksi bahwa sejak Tuhan Yesus masuk ke dalam saya, Ia menjadi hayat saya. Hayat ini terus-menerus menerangi batin saya. Tuhan Yesus semakin menerangi batin saya, saya makin bebas dari temperamen saya. Kadang-kadang ketika saya marah, terang ini bersinar dengan kuat. Pernahkah Anda mengalami perkara seperti ini? Pada saat Anda marah-marah kepada istri Anda, terang bersinar. Orang yang tidak percaya semakin marah, semakin kehilangan kendali. Namun kita, orang-orang Kristen yang menuntut, ketika ingin marah, kita menemukan bahwa temperamen kita semakin berkurang. Kadang kala seorang saudara atau saudari dihentikan oleh penyinaran batin ketika ia marah. Kadang-kadang penyinaran batin mengalahkannya, membunuh sifat ular. Setelah melewati pengalaman selama lima puluh tahun, saya dapat mengatakan bahwa sekarang saya sulit marah. Selama lima puluh tahun, sinar radium surgawi telah membunuh sifat ular dalam temperamen saya.
Pengobatan dengan sinar radium diterapkan untuk beberapa penyakit. Si pasien duduk di bawah sinar radium, dan sinarnya ditransfusikan ke dalamnya. Kita memiliki sinar radium surgawi di dalam kita, dan sinar radium ini membunuh sifat ular. Inilah terang hayat yang membebaskan kita dari perbudakan dosa.
2. Melalui Putra sebagai Realitas
Kita dibebaskan dari dosa bukan hanya oleh sinar terang hayat, tetapi juga oleh Putra sebagai realitas (kebenaran, Yoh. 8:32, 36 Tl.). Kebenaran di sini bukan sebutan kebenaran secara doktrin, melainkan realitas perkara ilahi, yaitu Tuhan sendiri (Yoh. 14:6; 1:14, 17). Dalam Yohanes 8:32 kita diberi tahu bahwa “kebenaran (realitas) itu akan memerdekakan kamu”. Dalam Yohanes 8:36 dikatakan, “Jadi, apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” Ini membuktikan bahwa Putra, yaitu Tuhan sendiri, adalah kebenaran. Karena Tuhan adalah penjelmaan Allah (Kol. 2:9), Dia adalah realitas apa adanya Allah. Jadi, realitas adalah unsur ilahi Allah yang ternyatakan oleh kita. Ketika Tuhan Sang “Aku adalah” yang Agung ini masuk ke dalam kita sebagai hayat, Dia di dalam kita menyorotkan terang, membawakan unsur ilahi ke dalam kita sebagai realitas. Realitas ini adalah unsur ilahi yang disalurkan ke dalam kita, ternyata konkret oleh kita, melepaskan kita dari perbudakan dosa melalui hayat Allah sebagai terang manusia. Anak Allah sebagai kepenuhan ke-Allahan adalah realitas. Ketika Ia bersinar di dalam kita sebagai hayat, Ia menggarapkan realitas-Nya, unsur ilahi-Nya, ke dalam manusia kita. Ini bukan sekadar penyinaran, lebih-lebih penyinaran yang membawakan realitas apa adanya Allah ke dalam manusia kita. Pada akhirnya, hari demi hari dan tahun demi tahun, unsur ilahi ini akan tersimpan dalam manusia kita. Dengan demikian, dalam manusia kita akan terdapat sejumlah realitas ilahi. Tak seorang pun dapat menyangkal hal ini.
Sebagai seorang Kristen yang menuntut selama lima puluh tahun lebih ini, saya tidak mengatakan bahwa saya tidak dapat jatuh atau tersandung. Boleh jadi, besok saya akan tersandung oleh istri saya yang tercinta atau oleh salah seorang saudara. Tetapi tak peduli berapa banyak saya dapat tersandung, unsur ilahi yang telah tergarap ke dalam saya puluhan tahun yang lampau tidak akan hilang. Bahkan jika saya tersandung, saya akan tersandung dengan sejumlah besar unsur ilahi.
Melalui penyinaran hayat yang di dalam dan melalui penggarapan unsur ilahi ke dalam manusia kita, kita dibebaskan dari perbudakan dosa. Hal ini sama dengan pengobatan medis yang bertujuan untuk menyembuhkan penyakit dalam darah kita. Menyingkirkan penyakit dari darah kita sangat sulit. Kita perlu obat. Jika saya minum obat beberapa kali sehari, di satu pihak obat akan memusnahkan bakteri, di pihak lain akan menambahkan unsur positif ke dalam tubuh organik saya. Unsur positif ini akan menyuplaikan gizi ke jaringan tubuh saya. Pada akhirnya, penyakit akan tersingkirkan. Melalui proses metabolisme ini, unsur yang usang disingkirkan dan diganti dengan unsur yang baru. Inilah cara hayat ilahi membebaskan kita dari belenggu dosa, bukan masalah mengganggap diri Anda sudah mati menurut Roma 6. Banyak di antara kita yang telah mencoba hal ini pada masa lampau, namun tidak berhasil. Anda harus mengalami Yesus yang hidup di dalam Anda sebagai terang hayat dan sebagai unsur surgawi yang bekerja di dalam. Pada akhirnya, unsur surgawi yang ilahi akan ditambahkan ke dalam diri Anda. Inilah penyelamatan kita.
Bagaimana Tuhan menjaga kita agar tidak berdosa lagi? Bagaimana Ia membebaskan kita dari perbudakan dan belenggu dosa? Hanya karena Sang “Aku adalah” yang Agung telah menjadi hayat kita dan hayat ini adalah terang hayat. Ketika kita menerima-Nya, Ia menjadi hayat kita, dan hayat ini menjadi terang yang membawa kita keluar dari kegelapan dosa. Hanya terang hayat yang dapat membebaskan kita dari belenggu dan perbudakan dosa. Tuhan dapat mengampuni dosa kita, karena Ia adalah Anak Manusia yang mati bagi kita dengan ditinggikan di atas salib. Kini Tuhan dapat menyelamatkan kita, membebaskan kita dari perbudakan dosa, karena Ia adalah Sang “Aku adalah” yang Agung yang hidup di dalam kita. Kini Ia menjadi hayat, yakni terang dalam kita. Terang hayat ini dapat membebaskan kita dari perbudakan dosa dan menyelamatkan kita dari kegelapan dosa. Jadi, kita mengetahui bahwa kita dibebaskan hanya dengan Kristus menjadi hayat dan terang kita. Lagi pula, hayat dan terang ini juga akan membawa kita ke dalam kebenaran, yakni ke dalam realitas. Setelah Anda menerima dan menikmati Tuhan Yesus sebagai hayat dan terang Anda, Anda akan menemukan bahwa hayat ilahi dan terang ini akan membawa Anda ke dalam realitas. Setelah Anda dibawa ke dalam realitas, Anda akan terselamatkan dari kepalsuan. Manusia mudah berbuat dosa karena mereka dilahirkan dalam kepalsuan. Karena mereka dilahirkan oleh Iblis, musuh Allah, mereka semua dilahirkan sebagai pendusta. Iblis, bapa pendusta, adalah pendusta yang terbesar. Sebab itu bapa pendusta telah membawa semua orang dosa ke dalam kegelapan dan kepalsuan. Hayat Iblis telah membawa mereka ke dalam kegelapan, dan kegelapan telah membawa mereka ke dalam kepalsuan. Dengan demikian, asal seseorang berada dalam kepalsuan, ia mudah sekali berbuat dosa. Tetapi puji Tuhan, kini kita telah menerima Tuhan di dalam kita sebagai hayat dan terang kita. Hayat dan terang ini membawa kita ke dalam realitas yang akan membebaskan kita dari belenggu dan perbudakan dosa.
Dalam bagian ini ada perbandingan antara dua bapa. Satu adalah bapa pendusta, bapa kepalsuan, pembunuhan, dan perzinaan. Semula kita dilahirkan oleh bapa ini. Janganlah kita mengira bahwa kita hanya dilahirkan oleh orang tua kita. Di satu pihak kita dilahirkan oleh orang tua kita, namun di pihak lain, kita dilahirkan oleh bapa jahat yang pendusta. Dia adalah pendusta besar, dan kita, pendusta-pendusta kecil, dilahirkan olehnya. “Kamu berasal dari bapakmu, yaitu Iblis” (Yoh. 8:44). Kita dilahirkan dari bapa pendusta ini. Maka sejak lahir, kita adalah anak-anak pendusta. Jangan mengira kita dilahirkan sebagai orang Amerika atau China. kita masing-masing dilahirkan sebagai pendusta.
Terpujilah Tuhan bahwa ada bapa lain, Bapa Surgawi, Bapa terang dan kebenaran. Dia adalah Sang “Aku adalah” yang Agung yang berinkarnasi menjadi manusia. Sebagai Anak Manusia, Ia ditinggikan di atas salib karena dosa kita dan mati bagi kita. Kini, jika kita percaya kepada-Nya dan percaya kepada apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita, Ia sebagai Sang “Aku adalah” yang Agung, Bapa hayat, akan masuk ke dalam kita, menjadi terang dan hayat kita. Kemudian, Ia akan menyelamatkan kita dari kepalsuan, masuk ke dalam realitas; dan dari kegelapan masuk ke dalam kerajaan terang, di mana kita akan dibebaskan dari belenggu dan perbudakan dosa.
IV. PERSONA TUHAN
Dalam pasal ini tidak hanya membicarakan hal ini, karena pasal ini juga mewahyukan tentang persona Tuhan. Pasal ini menunjukkan kepada kita siapakah Tuhan itu.
A. Sang “Aku Adalah” yang Agung
Tuhan adalah Yehova, Sang “Aku adalah” yang Agung (Yoh. 8:24, 28, 58 Tl.). “Aku adalah” ialah arti nama “Yehova” (Kel. 3:14). Yehova adalah nama Allah dalam hubungan-Nya dengan manusia (Kej. 2:7). Dia, yang ada dan yang sudah ada, dan yang akan datang, yaitu yang swaada dan kekal ada (Why. 1:4; Kel. 3:14-15). Nama ini dipakai dalam hubungan-Nya dengan manusia. Karena itu, nama ini menyatakan bahwa Tuhan adalah Allah Sang kekal selamanya, yang berhubungan dengan manusia. Ia tidak berawal maupun berakhir. Sebagai Sang “Aku adalah” yang Agung, Dialah yang ada dengan sendirinya, kekal selamanya. Ia bukan hanya Yesus, orang dari Nazaret; Dia pun Sang “Aku adalah” yang Agung.
Mengatakan Tuhan adalah Sang “Aku adalah” yang Agung berarti Dia adalah segala sesuatu yang kita perlukan. Sama seperti Anda memiliki sebuah buku cek yang belum diisi angkanya, yang boleh Anda isi dengan jumlah uang yang Anda perlukan. Jika Anda perlu terang, isi saja “terang”, dan Tuhan akan menjadi terang Anda. Jika Anda perlu penghiburan, Tuhan akan menjadi penghiburan Anda. Cek semacam ini tidak akan ditolak, deposito dalam rekening surgawi tidak akan negatif. Beranikanlah menulis dalam jumlah yang besar. Terserah apa yang Anda tulis. Tuhan adalah segala keperluan Anda. Sekarang terserah kepada Anda, mau menulis apa yang benar-benar Anda perlukan. Dia adalah Sang “Aku adalah” yang Agung.
B. Sebelum Abraham dan
Lebih Besar daripada Abraham
Sebagai Sang “Aku adalah” yang Agung, Allah yang kekal, Tuhan ada sebelum Abraham dan lebih besar daripada Abraham (Yoh. 8:53). Orang Yahudi tidak mengerti hal ini dan bertengkar dengan Tuhan. “Lalu kata para pemuka Yahudi itu kepada-Nya, ‘Umur-Mu belum lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?’ Kata Yesus kepada mereka, ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada’” (Yoh. 8:57-58). Menurut bahasa aslinya, kata-kata “Aku telah ada” seharusnya diterjemahkan “Aku adalah”. Menurut tata bahasanya, terasa aneh, karena Tuhan berkata, “. . . Aku adalah” ini dalam bentuk kala kini (present tense) bukan dalam bentuk kala lampau. Namun, Dia adalah Sang masa kini, Sang “Aku adalah” yang Agung. Baik lampau, kini, atau kelak, Dia selalu Sang sekarang ini.
C. Putra sebagai Realitas
Sebagaimana telah kita tunjukkan melalui apa yang tercantum dalam ayat 32 dan 36, Putra adalah realitas. Tuhan adalah Putra sebagai realitas untuk menyalurkan semua unsur ilahi ke dalam orang-orang yang percaya kepada-Nya.
D. Anak Manusia
Aspek lain Tuhan ialah Dia adalah Anak Manusia. Di satu pihak, Dia adalah Sang “Aku adalah” yang Agung; di pihak lain, Dia adalah Anak Manusia (Yoh. 8:28). Orang Yahudi meninggikan Anak Manusia, namun mereka tidak dapat meninggikan Sang “Aku adalah” yang Agung. Ini ke lihatannya aneh, tetapi menurut ayat 28, hanya ketika mereka meninggikan Anak Manusia, mereka akan mengenal-Nya sebagai Yehova, Sang “Aku adalah” yang Agung. Ia ditinggikan dalam bentuk ular bagi orang-orang berdosa yang dipagut ular dengan maksud untuk mengusir ular tua itu (Yoh. 3:14; 12:31, 34; Why. 12:9; 20:2). Ia ditinggikan untuk menanggulangi sifat ular dan ular itu sendiri.
Bagaimana Tuhan dapat menjadi orang yang tidak berdosa? Karena Dia adalah Yehova, Sang “Aku adalah” yang Agung. Bagaimana Tuhan dapat menghakimi dosa? Juga karena Dia adalah Sang “Aku adalah” yang Agung. Tetapi bagaimana Ia dapat bertindak sebagai Yehova yang mengampuni dosa? Anda harus ingat bahwa Yehova tidak akan bisa mengampuni dosa. Jika Yehova mengampuni dosa, Ia membuat diri-Nya tidak benar. Hanya ada satu jalan bagi-Nya untuk mengampuni dosa, melalui menjadi Anak Manusia dan disalibkan di atas salib. Dengan kata lain, Ia hanya dapat mengampuni dosa melalui penebusan. Tanpa penebusan, Allah tidak dapat mengampuni dosa. Tanpa penebusan, tidak akan ada tumpuan untuk pengampunan dosa. Karena Ia ditinggikan di atas salib sebagai Anak Manusia, menanggung dosa-dosa kita, dan menebus kita dari segala dosa kita, Ia memiliki tumpuan untuk mengampuni dosa.
Seluruh Injil Yohanes juga mewahyukan bahwa Tuhan adalah firman dan Roh. Konsepsi demikian terdapat di seluruh kitab Injil. Begitu Anda nampak persona Tuhan yang ajaib dalam Injil ini, Anda akan bertanya, “Di manakah Dia dan bagaimana aku dapat menjamah-Nya?” Puji Tuhan, Dia ada di dalam firman dan Dialah Roh. Kini Anda memiliki keduanya firman dan Roh. Jika Anda menjamah Roh itu dan menerima firman, Anda akan memperoleh Tuhan sendiri. Anda memiliki segalanya dengan cara berdiam dan terus-menerus tinggal dalam firman Tuhan (Yoh. 8:31). Jika Anda terus berkontak dengan firman Tuhan, berarti Anda tinggal di dalam Tuhan sendiri. Dengan menjamah firman, Anda menjamah sumber hayat yang kekal dan tidak berkesudahan.
Akibatnya, karena Anda selalu berkontak dengan Tuhan sendiri, Anda tidak akan pernah mengecap maut (Yoh. 8:51). Ini dibuktikan oleh sejarah. Ada beberapa orang ber-iman, menjelang meninggal, mereka tidak mengecap rasa maut. Sebagai contoh, menjelang D.L. Moody meninggal, ia meninggal dengan gagah berani. Ia meninggal tanpa mengecap rasa maut, karena ia tinggal di dalam Tuhan dan menjamah sumber hayat. Demikian pula, bila kita mau berdiam dan terus tinggal dalam firman Tuhan, kita pun akan menjamah sumber hayat sepanjang waktu. Kita tidak akan pernah mengecap rasa maut. Kita akan melampaui maut, tanpa mengecapnya.
Injil Yohanes adalah sebuah kitab hayat. Sering kali dalam Injil ini orang bertanya kepada Tuhan dengan maksud untuk mendapat jawaban ya atau tidak. Tetapi Tuhan tidak pernah menjawab ya atau tidak. Misalnya dalam Yohanes 4, perempuan Samaria itu bertanya, “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah” (Yoh. 4:20). Dengan kata lain, ia menanyakan kepada-Nya, tempat mana yang benar untuk menyembah. Tuhan Yesus tidak mengatakan tempat mana yang benar, Dia mengatakan, Allah itu Roh dan kita harus menyembah-Nya di dalam roh (Yoh. 4:24). Bukannya di sini atau di sana, melainkan di dalam roh, kita dapat menjamah Allah, pohon hayat itu. Tuhan Yesus tidak menjawabnya dengan ya atau tidak, melainkan memalingkan dia kepada roh manusia untuk menjamah Allah, pohon hayat itu. Sama prinsipnya dengan Yohanes 8, ketika orang Farisi membawa seorang perempuan berdosa dan bertanya kepada Tuhan, apakah ia harus dilempari batu. Sekali lagi Tuhan tidak memberi jawaban ya atau tidak. Dia berkata, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh. 8:7). Jawaban Tuhan memalingkan mereka kepada Tuhan, pohon hayat. Kemudian, sampai pada Yohanes 9 nanti, kita akan nampak bahwa murid-mu-rid bertanya kepada Tuhan tentang seorang yang buta sejak lahir, itu karena dosa siapa, dia atau orang tuanya. Tuhan menjawab dengan berkata, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia” (Yoh. 9:3). Sekali lagi, Tuhan menjawab dengan memalingkan mereka kepada Allah, pohon hayat. Injil Yohanes adalah kitab hayat, dan ia tidak pernah memberi jawaban-jawaban menurut pohon pengetahuan baik dan jahat, melainkan selalu memalingkan orang kepada pohon hayat. Tidak ada jawaban benar atau salah, baik atau buruk, ya atau tidak. Hanya ada satu hal hayat. Anda tidak perlu benar, sama seperti Anda tidak perlu salah. Anda hanya perlu memperhatikan hayat. Ketika Anda mempunyai hayat, semuanya akan baik.