← Daftar isi Yohanes (3) · bab 1/17

KEPERLUAN ORANG YANG DI BAWAH PERBUDAKAN DOSA — PEMBEBASAN HAYAT (1)

Dalam Injil ini tercatat sembilan peristiwa yang membuktikan bahwa Tuhan Yesus adalah hayat dan suplai hayat manusia. Enam peristiwa pertama tercatat dalam Yohanes 3-7, membentuk satu kelompok tanda yang menyatakan bahwa pada aspek positifnya, Tuhan adalah hayat dan suplai hayat kita, agar kita dilahirkan kembali, dipuaskan, disembuhkan, dihidupkan, dirawat, dan dileraikan rasa hausnya. Tiga peristiwa terakhir tercatat dalam Yohanes 8-11, membentuk satu kelompok tanda yang lain, yang menyatakan bahwa di aspek negatifnya, Tuhan adalah hayat kita, untuk menyelamatkan kita terlepas dari tiga perkara negatif utama: dosa, kebutaan, dan kematian.

Sebagai manusia yang telah jatuh, kita selalu diganggu oleh dosa, kebutaan, dan kematian. Kebutaan sesungguhnya berarti kegelapan. Jika Anda buta, Anda berada dalam kegelapan, karena tidak ada sesuatu yang lebih menimbulkan kegelapan, selain kebutaan. Buta, kegelapan, dan kematian berasal dari dosa. Dosa adalah faktor dasar dari kebutaan, kegelapan, dan kematian. Jika kita berdosa, kita pasti buta, sebab kebutaan selalu bersama-sama dengan dosa. Dosa menghasilkan kematian, namun di antara dosa dan kematian selalu terdapat kebutaan. Setelah berdosa dan sebelum menuai kematian, terdapat kegelapan. Karena itu, dosa, kebutaan, dan kematian adalah tiga perkara negatif yang harus ditanggulangi oleh Tuhan. Untuk menanggulangi hal-hal negatif ini, jalan satu-satunya ialah Tuhan menjadi hayat kekal dan surgawi kita.

Peristiwa dalam Yohanes 8, yaitu peristiwa ketujuh di antara sembilan peristiwa, sepenuhnya mengungkapkan masalah dosa. Tidak ada pasal lain dalam seluruh Alkitab yang mengungkapkan masalah dosa seluas dan selengkap Yohanes 8. Dalam pasal ini kita mempunyai jawaban tentang semua masalah dosa. Sebagaimana akan kita lihat, dalam pasal 9 dan 10, masalah kebutaan ditanggulangi secara tuntas. Terakhir, dalam pasal 11, masalah kematian jelas terungkapkan. Setelah pasal 11, tidak ada peristiwa lain lagi karena semua peristiwa yang positif telah diungkapkan dan peristiwa yang negatif telah ditanggulangi. Sekarang, marilah kita melihat bagaimana Tuhan sebagai hayat menanggulangi perkara negatif yang pertama, dosa.

I. AGAMA HUKUM TAURAT BERTENTANGAN

DENGAN “AKU ADALAH” YANG AGUNG

Peristiwa dalam pasal 8 mewahyukan bahwa agama (diwakili oleh Bait Suci Yoh. 8:2, 20) hukum Taurat (Yoh. 8:5, 17), tidak bisa membebaskan manusia dari dosa dan kematian; tetapi Tuhan Yesus, Sang “Aku adalah” ini, telah menjadi Anak Manusia, ditinggikan di atas salib bagi manusia yang diracuni ular, mampu melakukan perkara yang tidak bisa dilakukan baik oleh agama maupun oleh hukum Taurat. Pemelihara agama hukum Taurat bertentangan dengan Sang “Aku adalah” yang agung. Pasal ini mewahyukan bahwa di antara umat manusia di bumi, ada dua hal agama dan persona yang hidup. Agama ini sangat baik, tinggi, dan unggul, bukan agama kafir atau agama takhayul. Inilah agama yang standar, yang membantu orang menyembah Allah, mengenal Allah secara harfiah di luar, membantu orang memelihara hukum Allah agar diperkenan Allah, dan menyempurnakan diri mereka. Agama ini adalah yang paling baik, dan semua orang Yahudi yang standar bangga karenanya. Bila Anda melihat agama Yahudi yang ortodoks, Anda akan menyadari bahwa itulah agama yang tertinggi. Bukan agama palsu, melainkan mutlak riil dan murni. Segala sesuatu yang berhubungan dengan agama ini adalah paling baik. Agama ini mempunyai banyak perkara yang kudus. Di antara banyak perkara yang kudus ini, ada firman kudus Allah. Tak seorang pun dapat menyangkal hal ini.

Agama Yahudi adalah satu-satunya agama yang riil. Agama ini membantu orang menyembah Allah, dengan mengajar mereka secara tepat. Dengan demikian, di bumi hanya terdapat satu agama yang khas, murni, dan benar, agama yang dibentuk oleh orang Yahudi menurut Kitab Suci. Agama Kristen termasuk agama Katolik adalah perkembangan agama Yahudi. Jadi, hanya ada satu agama yang khas di bumi ini.

Hanya ada satu Alkitab. Tak seorang pun dapat menemukan sesuatu seperti Alkitab. Siapa yang dapat menulis Alkitab ini? Apakah Plato atau tokoh lainnya? Tidak seorang pun dapat menulis Alkitab lain karena hanya ada satu Allah, dan hanya Allah sendiri yang dapat menulis kitab yang sedemikian ajaib. Karena Allah tidak akan menulis sebuah Alkitab lain, maka tidak akan ada yang lainnya. Tak seorang pun dapat menulisnya. Siapa yang dapat menulis buku seperti Alkitab, bersyarat menjadi Allah. Siapa yang dapat meniru kitab sedemikian? Siapakah yang dapat meniru hikmat yang begitu dalam? Apabila Anda dapat, pasti Anda adalah Allah. Apakah Anda percaya bahwa Injil Yohanes hanya ditulis oleh seorang nelayan Galilea? Percayakah Anda bahwa Yohanes sendiri dapat menulis buku yang demikian? “Pada mulanya ada Firman . . . dan Firman itulah Allah”, “Akulah Terang dunia”, “Akulah Roti hayat”, “Aku dapat memberimu air kehidupan” hanya Yesus yang dapat mengatakan hal-hal ini. Hanya Yesus yang dapat menulis buku seperti Injil Yohanes.

Namun, pilihan Allah, yakni umat pilihan-Nya, mempunyai konsepsi keliru. Mereka tidak sepenuhnya memperhatikan intinya, yaitu Allah sendiri dalam Putra sebagai Roh, ingin masuk ke dalam manusia untuk menjadi hayat dan segala sesuatu manusia. Umat Allah kehilangan sasaran ini, sebaliknya mereka mengumpulkan semua peraturan, hukum, dan hal-hal yang baik, menjadikannya suatu agama yang justru membunuh diri mereka sendiri. Alangkah kasihan! Jadi, pada masa Yohanes 8, ada dua hal di bumi: agama dan persona yang hidup. Kita semua harus nampak hal yang bertentangan ini.

Agama Yahudi itu sejati dan baik. Agama ini baik dalam segala aspek, kecuali satu bertentangan dengan “Aku adalah” yang Agung. Agama mungkin baik, tetapi tidak bisa memberikan hayat kepada Anda. Agama tidak bisa membantu Anda, karena Anda mati. Orang yang mati tidak memerlukan barang yang baik, yang ia perlukan ialah hayat. Hanya hayatlah satu-satunya yang dapat membantu orang yang mati. Misalnya Anda berkata kepada orang yang mati, “Orang yang kasihan, ini emas dan berlian. Anda tidak seharusnya mati. Lihat emas ini, betapa berharganya! Lihat berlian ini, betapa mustika!” Berkata demikian kepada orang yang mati sungguh tolol; ia tidak dapat mendengarnya. Dalam Yohanes 5, kita nampak serambi dekat kolam di mana terdapat orang buta, lumpuh, dan layu. Jika Anda berkhotbah kepada orang-orang ini, mereka akan berkata, “Jangan menyia-nyiakan waktu Anda. Aku tidak perlu sesuatu yang baik, aku perlu hayat.”

Siapakah Tuhan Yesus? Dia adalah Yehova, Sang “Aku adalah” itu. Menurut Kejadian 1, nama Allah yang berkaitan dengan ciptaan-Nya ialah Elohim, yaitu “Allah”. Tetapi setelah penciptaan, sampai Kejadian 2, ketika Allah hendak menjalin hubungan dengan manusia, nama Allah yang lain disebutkan, yaitu “Yehova” (LAI: TUHAN) yang berarti “Aku adalah Aku adalah itu”. “Yehova” adalah nama Allah dalam hubungannya dengan umat manusia. Pada masa Yohanes 8, Yehova terwujud dalam seorang manusia yang bernama Yesus, yang berarti Yehova Juruselamat. Sekali lagi saya katakan, Anda harus mempelajari satu pelajaran, yaitu jangan mementingkan penampilan lahiriah. Jika Anda hanya memperhatikan penampilan lahiriah, Anda pasti akan kehilangan sasaran. Kaum agamawan Yahudi pada saat itu kehilangan sasaran karena mereka meremehkan Yesus yang kecil. Yesus tidak elok atau menarik. Namun Ia adalah Sang “Aku adalah” yang Agung.

A. Menjadi Anak Manusia

Sang “Aku adalah” yang Agung ini, yaitu Allah sendiri yang berhubungan dengan manusia, menjadi Anak Manusia. Ini sangat bermakna. Karena Yehova menjadi Anak Manusia, berarti Ia harus merendahkan diri-Nya sendiri. Ini mutlak perlu, karena banyak masalah negatif yang terdapat dalam manusia. Dosa ada dalam manusia. Si ular, Iblis, juga di dalam manusia. Manusia adalah inti semua masalah. Jika Allah ingin membereskan semua masalah dosa manusia, Ia sendiri harus menjadi manusia. Iblis tahu akan hal ini. Iblis tidak takut Tuhan Yesus menjadi Putra Allah. Ia takut Tuhan Yesus menjadi manusia. Sebab itu, Allah Yehova menjadi seorang manusia.

B. Ditinggikan di Atas Salib bagi Manusia untuk Menyingkirkan Iblis

Sebagai seorang manusia, Ia rela ditinggikan (Yoh. 3:14), seperti ular tembaga di padang gurun (Bil. 21:4-9). Ketika kita mengatakan Tuhan Yesus dipaku di atas salib, maksud kita terutama adalah Ia mati untuk menebus kita dan menyingkirkan dosa kita. Tetapi apa kata Alkitab mengenai ditinggikannya Kristus? Alkitab terutama mengatakan bagaimana Ia menanggulangi ular, si Iblis. Banyak orang kurang mengerti ketika membaca kata “ditinggikan”. Anak Manusia ditinggikan seperti ular tembaga, bukan hanya untuk menanggulangi dosa, bahkan untuk menanggulangi ular. Yohanes 12:31-32 menunjukkan bahwa ketika Anak Manusia ditinggikan, Iblis, penguasa dunia ini, dihukum dan disingkirkan. Kristus bukan hanya disalibkan, Ia juga ditinggikan. Melalui Ia ditinggikan, ular disingkapkan, dihukum, dan disingkirkan. Dalam tubuh daging Yesus, Allah menggantung ular di atas tiang dan membuat pernyataan universal agar alam semesta dapat nampak bahwa ular, musuh-Nya, tergantung di atas tiang. Jadi, Yesus ditinggikan untuk menghukum dan menyingkirkan Iblis.

II. ASPEK-ASPEK YANG BERSANGKUTAN DENGAN DOSA

A. Siapa yang Tanpa Dosa?

Para agamawan berusaha mencari kesalahan Tuhan Yesus. Setelah pasal 5 dan 7, mereka mencoba mempersulit Yesus. Mereka menangkap seorang perempuan yang berdosa dan membawanya kepada Tuhan Yesus. Menurut hukum Taurat, perempuan berdosa yang demikian harus dilempari dengan batu hingga mati, namun para agamawan tidak melakukannya. Mereka membawanya kepada Tuhan, mencoba menjebak-Nya. Mereka berkata, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berzina. Musa dalam hu-kum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Para agamawan sangat berani. Mereka mengajukan pertanyaan yang sangat licik kepada Tuhan. Jika Ia berkata bahwa mereka harus melempari dia dengan batu sampai mati, maka Ia akan kehilangan kedudukan-Nya sebagai Juruselamat dan Penebus. Dapatkah seorang Juruselamat mengatakan bahwa perempuan berdosa yang demikian harus dilempari batu sampai mati? Sudah tentu sebagai Penebus dan Juruselamat, Tuhan tidak dapat berkata demikian. Tetapi di pihak lain, jika Ia mengatakan bahwa mereka tidak boleh melemparinya dengan batu hingga mati, mereka akan mengatakan bahwa Ia melanggar hukum Taurat. Pertanyaan ini suatu tipu muslihat musuh yang licik. Para agamawan mengira mereka sangat berhikmat, namun sesungguhnya mereka itu bodoh. Mereka mengira Tuhan Yesus akan sulit menjawab, dan mereka mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk menangkap-Nya.

Ketika Tuhan dihujani dengan pertanyaan ini, Ia tidak mengucapkan satu kata pun. Cara yang paling berhikmat dalam menghadapi suatu pertanyaan ialah tidak menjawabnya, atau menjawabnya kemudian, atau menjawab dengan lambat. Reaksi Tuhan yang pertama terhadap pertanyaan mereka ialah tidak segera menjawabnya. Kita harus belajar tentang hikmat ini. Pada saat orang datang kepada Anda dengan pertanyaan yang mendesak, Anda harus belajar dari Tuhan. Ia hanya membungkuk, menulis di tanah. Dengan berdiam diri Ia mendinginkan orang, seperti air dingin mendinginkan air yang mendidih. Ketika Tuhan membungkuk dan menulis, Ia sedang mendinginkan situasi yang panas, perempuan berdosa itu juga terhibur. Saya percaya bahwa dengan membungkuk menulis di tanah, Tuhan Yesus bermaksud agar para agamawan jangan begitu sombong. Mereka harus merendahkan diri. Mereka harus menyadari bahwa mereka pun berdosa, seperti perempuan itu.

Ketika muda, saya mencoba mengetahui apa yang ditulis Tuhan Yesus di tanah. Dari generasi ke generasi, tak seorang pun dapat mengatakan apa yang Ia tulis. Saya menduga Tuhan mungkin menulis, “Siapa di antara kamu yang tidak berdosa?” Ketika orang Farisi bertanya, apa yang harus mereka perbuat terhadap perempuan itu; Tuhan Yesus mungkin menulis huruf besar “Siapa yang tidak berdosa?”. Setiap orang memperhatikan Tuhan ketika Ia membungkuk dan menulis di tanah. Kemudian Tuhan berdiri dan berkata, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh. 8:7). Seolah-olah Tuhan berkata, “Kalian boleh melemparinya dengan batu hingga mati, tetapi harus ada seorang yang mendahuluinya. Tak seorang pun berhak bertindak duluan, kecuali orang yang tidak berdosa. Silakan seorang yang tidak berdosa di antara kalian yang pertama melemparkan batu kepadanya.” Perkataan ini menusuk hati nurani mereka. Saya percaya, bahkan sebelum Tuhan mengucapkan perkataan ini, ketika Ia sedang menulis di tanah, hati nurani mereka sudah tersentuh. Apa yang dilakukan para agamawan? Mereka pergi seorang demi seorang, mulai dari yang tertua sampai yang termuda (Yoh. 8:9). Yang tertua, sebagai yang paling pandai, pergi lebih dulu. Mereka tahu bahwa mereka tidak layak melempari perempuan itu hingga mati, namun mereka layak pergi lebih dulu. Semua yang muda mengikuti mereka.

Siapa yang tidak berdosa? Tak seorang pun. Jangan menyalahkan orang lain, sebab ketika Anda menyalahkan orang lain, Anda pun sama seperti mereka. Anda tidak layak menyalahkan orang lain. Burung gagak di bawah kolong langit ini sama hitamnya. Jika Anda menyalahkan burung gagak lain terlalu hitam, itu sama dengan menyalahkan diri Anda sendiri. Hanya Sang “Aku adalah” yang Agung yang tidak berdosa, dan hanya Dia yang layak menyalahkan orang. Betapa berhikmatnya Tuhan Yesus! Setelah para agamawan itu pergi, lihatlah, Tuhan dengan penuh kasih dan lemah lembut berkata kepada perempuan yang berdosa. Ia berta-nya, tidak adakah seorang pun yang menghukum dia dan jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau” (Yoh. 8:11). Ini bagaikan musik yang terindah bagi perempuan yang sangat ketakutan itu.

Peristiwa ini menyatakan hikmat Tuhan. Orang-orang datang untuk menyalahkan perempuan yang berdosa, na-mun pertanyaan Tuhan menyalahkan dosa-dosa mereka sendiri. Ketika orang bertanya kepada Anda, Anda harus berhati-hati dan balik bertanya kepada mereka. Anda harus menjawab mereka dengan bertanya tentang diri mereka sendiri. Demikian Anda akan menyentuh hati nurani mereka dan menaklukkan mereka. Akhirnya, mereka akan mencela diri sendiri dan pergi.

B. Sumber Dosa — Iblis

Iblis adalah sumber dosa (Yoh. 8:44). Dosa itu sifat Iblis, dan sifat Iblis dosa, adalah bohong. Dosa adalah suatu kebohongan, kepalsuan. Segala sesuatu yang berdosa tidaklah sejati. Akibat kebohongan adalah kematian dan kegelapan. Kematian dan kegelapan sebagai kepalsuan berlawanan dengan realitas. Karena Iblis itu bapa pembohong, maka ia adalah sumber dosa. Unsur ilahi Allah yang bekerja sebagai hayat dan terang dalam manusia, membebaskan manusia dari perbudakan dosa. Namun unsur jahat Iblis yang bekerja sebagai dosa melalui manusia dan kegelapan di dalam manusia, menjadikan manusia budak dosa. Sifat Iblis adalah bohong, mendatangkan kematian dan kegelapan. Kegelapan itu kepalsuan, lawan dari kebenaran (realitas).

Iblis adalah bapa kejahatan yang melahirkan anakanak dosa (1Yoh. 3:10). Anak-anak dosa adalah pengikut Iblis. Karena itu, dalam 1Yohanes 3:10 terdapat ungkapan “anak-anak Iblis”. Karena Iblis adalah bapa orang berdosa, maka orang-orang berdosa adalah “anak-anak Iblis”. Iblis itu ular tua (Why. 12:9; 20:2) dan orang berdosa adalah “keturunan ular beludak” (Mat. 23:33; 3:7). Karena itu, Tuhan perlu ditinggikan bagi mereka dalam bentuk ular di atas salib (Yoh. 3:14), bukan hanya untuk menolong mereka terlepas dari dosa, juga menolong mereka terlepas dari sumber dosa Iblis (Ibr. 2:14).

C. Budak Dosa

Siapa saja yang berbuat dosa adalah budak dosa (Yoh. 8:34). Seorang budak selalu terbelenggu. Satan, Iblis, menaruh seluruh umat manusia di bawah belenggu dosa dengan menempatkan dirinya ke dalam manusia sebagai sifat dosa, yang memaksa orang untuk berdosa. Siapa pun tidak berdaya membebaskan diri dari perbudakan ini.

D. Akibat Dosa — Kematian

Akibat dosa adalah kematian (Yoh. 8:24, 51-52). Dalam ayat 24 Tuhan berkata, “Sebab jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Maut (kematian) masuk melalui dosa. “Maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 5:12). Asalkan seseorang berdosa, ia ditentukan untuk mati. Jadi, akibat dosa adalah kematian.

E. Butir Utama Dosa

Tiga butir utama dosa ialah percabulan (perzinaan), pembunuhan, dan kebohongan (Yoh. 8:3, 41, 44). Ketiga hal ini adalah aspek-aspek dosa yang paling jahat. Dapatkah Anda menemukan aspek dosa lain yang lebih jahat daripada perzinaan, pembunuhan, dan kebohongan? Tidak ada yang lebih jahat daripada ketiga aspek ini, yang mewakili seluruh hubungan dosa. Ketiga golongan ini mencakup semua hal dosa. Percabulan atau perzinaan berarti kekacauan. Segala sesuatu yang mengacaukan umat manusia adalah semacam percabulan atau perzinaan. Pembunuhan adalah membunuh, mencelakai orang; dan berbohong adalah menipu orang. Semua hal dosa, jika bukan mengacaukan, membunuh, pastilah menipu orang.

III. BAGAIMANA MEMBERESKAN MASALAH DOSA?

A. Hanya Seorang yang Tanpa Dosa

Yohanes 8 menunjukkan beberapa hal positif, sebab kita diberi tahu bagaimana kita dapat dibebaskan dari dosa. Mula-mula pasal ini mewahyukan satu-satunya Orang yang tak berdosa. Di alam semesta ini, siapakah yang tidak berdosa? Hanya Tuhan Yesus sendiri. Ia tidak berdosa (Yoh. 8:7, 9).

B. Hanya Yesus yang Bersyarat Menghukum Dosa, tetapi Ia Tidak Menghukum

Siapa yang layak menghukum Anda? Siapakah yang mempunyai kedudukan ini? Hanya seorang yang tidak berdosa. Satu-satunya orang yang layak dan berkedudukan untuk menghukum Anda adalah Tuhan Yesus sendiri, sebab Ia tidak berdosa sedikit pun. Walau Ia layak menghukum Anda, Ia tidak melakukannya.

C. Ditinggikan bagi Dosa Orang Berdosa

Tuhan Yesus ditinggikan bagi dosa orang berdosa (Yoh. 8:28). Dosa adalah penjelmaan ular dan dosa orang berdosa ialah racun ular. Demi penebusan, Tuhan Yesus harus menjadi Anak Domba Allah. Tetapi demi menanggulangi sifat ular, Tuhan Yesus harus ditinggikan dalam bentuk ular. Untuk menanggulangi sifat jahat ular dalam umat manusia, Ia harus ditinggikan di atas salib dalam bentuk ular.

D. Layak Mengampuni Dosa Manusia dan Dapat

Membebaskan Manusia dari Perbudakan Dosa

Tuhan layak mengampuni dosa manusia dan membebaskan manusia dari perbudakan dosa (Yoh. 8:32-34). Tuhan tidak hanya memberi kita hayat, Ia pun masuk ke dalam kita sebagai hayat kita. Tipu muslihat Iblis bukan hanya menyuruh kita berbuat salah, tetapi juga menginjeksikan dirinya ke dalam kita. Dengan demikian, dosa tidak hanya bersifat obyektif suatu perbuatan lahiriah, dosa pun ada di dalam sifat kita, sangat subyektif. Dosa tidak lagi di luar diri kita, melainkan di dalam kita. Bahkan sudah menjadi diri kita, di dalam sifat kita. Segala sesuatu yang di luar sifat kita, tidak dapat membantu kita menanggulangi dosa yang ada dalam sifat kita. Kita memerlukan hayat yang lain masuk ke dalam kita. Dalam sejarah manusia, hanya ada satu Orang yang dapat masuk ke dalam kita, menjadi hayat kita, guna melawan sifat ular yang ada di dalam kita. Konghucu atau Plato tidak bisa melakukannya. Yang bisa hanyalah Yehova, Sang “Aku adalah” yang itu. Hanya Dia sendiri yang bisa masuk ke dalam kita sebagai hayat untuk melawan sifat ular yang ada di dalam kita. Perbudak-an atas diri kita bukan sesuatu yang lahiriah, melainkan sesuatu yang batiniah, bahkan dalam sifat kita. Kita memerlukan satu hayat yang lain, hayat yang lebih kuat, limpah, dan unggul untuk membebaskan kita dari perbudakan ini. Hanya Tuhan yang dapat menjadi hayat yang demikian dan Dia memang adalah hayat yang demikian itu, sebab Dia adalah hayat yang ilahi. Hayat yang ilahi ini lebih tinggi daripada hayat manusia. Ia pun lebih tinggi daripada hayat Iblis. Ketika masuk ke dalam kita, hayat ilahi ini mengalahkan hayat dan sifat ular.

E. Dapat Menyelamatkan Manusia dari Akibat Dosa — Mati

Tuhan dapat menyelamatkan manusia dari akibat dosa, yaitu mati (Yoh. 8:24, 51-52). Begitu dosa ditanggulangi, dengan sendirinya akibat dosa pun akan tersingkir. Agama hukum Taurat tidak dapat melakukan hal ini, sebab hukum Taurat itu milik pohon pengetahuan yang menghasilkan kematian (Kej. 2:17). Yesus adalah pohon hayat yang menghasilkan hayat (Kej. 2:9). Pada prinsipnya, menyelamatkan manusia terlepas dari akibat dosa adalah mengubah maut menjadi hayat.