ORGANISME ALLAH TRITUNGGAL DALAM PENYALURAN ILAHI (2)
H. Tinggal
1. Melihat Fakta bahwa Kita
Adalah Ranting-ranting Pohon Anggur
Seperti yang telah saya katakan dalam berita terdahulu, jika kita ingin tetap tinggal pada pohon anggur, kita harus melihat fakta bahwa kita adalah ranting-ranting pohon anggur (ayat 5). Tetap tinggalnya kita di dalam Kristus tergantung pada visi yang jelas bahwa kita adalah ranting-ranting pohon anggur. Jika kita nampak bahwa kita telah di dalam Dia, maka kita akan bisa tetap tinggal di dalam Dia. Kita tidak mau meninggalkan Dia.
2. Berhuni, Tetap Tinggal di Dalam Putra
Segera sesudah kita nampak fakta bahwa kita adalah ranting-ranting pohon anggur, kita perlu memelihara persekutuan kita dengan pohon anggur. Banyak sekatan akan memisahkan kita dari kelimpahan suplai pohon anggur. Sedikit ketidaktaatan, dosa, dan bahkan angan-angan yang berdosa dapat menjadi sekatan yang memisahkan kita dari kelimpahan pohon anggur. Jika kita tidak menolak hal-hal itu, malah mempertahankannya, hal-hal itu akan memisahkan kita dari kelimpahan suplai pohon anggur. Pertama-tama kita harus nampak bahwa kita adalah ranting-ranting. Kemudian kita harus memelihara persekutuan kita dengan Tuhan, tanpa ada barang apa pun di antara Dia dengan kita. Ada sebuah nyanyian di dalam Kidung (No. 284) yang diawali dengan kata-kata: “Tak bersekat, ku dengan Tuhan.” Dari pengalaman kita tahu bahwa perkara-perkara yang kecil sekalipun dapat memisahkan kita dari kelimpahan suplai pohon anggur. Kita perlu berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, kiranya tidak ada sekatan apa pun di antara Engkau dengan aku, yang memisahkan aku dari kelimpahan suplai-Mu.”
3. Membiarkan Putra Tinggal di Dalam Kita
Kita perlu membiarkan Putra tinggal di dalam kita (ayat 4-5). Ini sangat berarti. Kita tinggal di dalam Dia, maka Dia tinggal di dalam kita. Tetapi sering kali kita tidak memberi-Nya tempat, ruang untuk tinggal di dalam kita. Tuhan ingin meluaskan kediaman-Nya di dalam kita, tetapi kita suka membatasi kediaman-Nya. Kita membatasi Dia. Secara terus-menerus ada perebutan yang halus di antara Kristus yang tinggal di dalam kita dengan kita. Ketika kediaman Kristus secara berangsur-angsur meluas di dalam kita, ada sesuatu barang di dalam yang membatasi, Kristus yang berhuni ini. Kristus yang berhuni ini ingin secara berangsur-angsur memperoleh tempat yang lebih luas, sekalipun seinci demi seinci. Tetapi adakalanya terjadi perebutan terhadap perolehan-Nya yang satu inci itu. Kristus ingin memperoleh satu inci lainnya, tetapi kita mencegah Dia melakukan hal itu. Akibatnya, kita mengadakan tawar-menawar dengan-Nya. Jika Anda tidak melakukan tawar-menawar dengan Tuhan, seharusnya Anda adalah seorang Kristen yang berada di langit tingkat ketiga. Bahkan hari ini pun boleh jadi banyak di antara kita yang tawar-menawar dengan Dia. Meskipun kita telah meneriakkan: “Kami telah dihancurkan oleh-Nya,” tetapi boleh jadi di dalam kita masih berkata, “Tuhan Yesus, aku telah memberi-Mu sebanyak ini. Aku tak dapat memberi-Mu tempat lebih banyak lagi. Tuhan, belas kasihanilah aku. Bersabarlah hingga aku siap memberiMu setengah inci lainnya. Sampai nanti ya Tuhan, tinggallah di mana Engkau berada.” Meskipun kita tidak mengatakan ini dengan bersuara, tetapi sering kali kita mempunyai pikiran ini dalam batin kita. Mungkin Tuhan berkata, “Aku ingin memperoleh lima inci lagi.” Tetapi sekali lagi Anda mulai tawar-menawar dengan Dia. Setelah ini, Ia tinggal diam dan memalingkan muka-Nya. Ia menolak berbantahan dengan Anda lagi, dan Anda kehilangan penyertaan-Nya. Meskipun Anda menang atas area itu, yaitu lima inci yang dikehendaki Tuhan, namun Anda kehilangan penyertaan-Nya. Oh, betapa pentingnya kita memelihara persekutuan dengan Dia dan dengan rela membiarkan Dia mengambil lebih banyak tempat serta meluas di batin kita! Biarlah kita dengan senang membiarkan Tuhan memperluas diri-Nya di dalam kita dan mengambil tempat sebanyak yang Dia kehendaki. Jika kita berbuat demikian, kita akan mempunyai realitas pertumbuhan hayat. Kita akan melihat pertumbuhan hayat yang di dalam.
Mengapa demikian banyak orang beriman hampir-hampir tidak mengalami pertumbuhan hayat? Tak lain karena mereka tidak membiarkan Tuhan meluas di dalam mereka. Mungkin saja tak ada sekatan, tetapi terlalu banyak pembatasan. Masalah tinggal menetap ini sangat lembut dan halus. Ingatlah, kita harus memelihara dua hal jangan ada sekatan dan jangan memberi batasan. Menyingkirkan sekatan lebih mudah daripada membuang batasan. Saya khawatir jangan-jangan ketika Anda membaca berita ini, Anda masih tetap tidak rela membuang setiap batasan. Syukur kepada Tuhan karena Ia sabar dan baik hati. Ia tidak pernah meninggalkan Anda. Ia selalu menunggu. Ia hanya akan memalingkan wajah-Nya. Sejauh seperti itulah yang dilakukan-Nya. Tetapi Ia akan tetap tinggal di sini. Semoga kita menengadah kepada-Nya, memohon rahmat dan anugerah agar kita bisa senantiasa memberi-Nya tempat untuk meluas di dalam kita, membiarkan Dia meluas hingga ke setiap sudut dan setiap lorong di dalam manusia kita. Inilah jalan untuk pertumbuhan hayat.
4. Di luar (Terpisah dari) Putra, Kita Tidak Dapat Berbuat Apa-apa
Kita tak dapat berbuat apa-apa jika terpisah dari Putra (ayat 5). Setiap ranting dari pohon anggur tak dapat hidup secara individual, karena bila ranting itu terlepas dari pohon anggur, ia akan layu dan mati. Hubungan ranting-ranting dengan pohon anggur menggambarkan hubungan kita dengan Tuhan. Kita bukan apa-apa, kita tidak mempunyai apa-apa, dan kita tidak dapat berbuat sesuatu pun di luar Dia. Apa adanya kita, apa yang kita miliki, dan apa yang kita perbuat, harus di dalam Tuhan dan oleh Tuhan yang di dalam kita. Sangat penting bagi kita untuk tetap tinggal di dalam Tuhan dan membiarkan Tuhan tetap tinggal di dalam kita. Kalau tidak, kita akan tamat dan bukan apa-apa lagi. Terlepas dari Dia, kita bukanlah apa-apa, kita tidak mempunyai sesuatu pun, dan kita tak dapat berbuat sesuatu pun. Bagi Tuhan, kita adalah ranting-ranting-Nya; sedang bagi kita, Tuhan adalah pohon anggur. Karena itu, kita harus senantiasa tinggal di dalam Dia dan membiarkan Dia tinggal di dalam kita.
5. Membiarkan Firman Putra
yang Seketika Tinggal di Dalam Kita
Karena kita tinggal di dalam Tuhan, kita harus membiarkan firman-Nya tinggal di dalam kita (ayat 7). Kata “firman” di sini, dalam bahasa aslinya adalah “rhema”, berarti firman yang diucapkan seketika dan sekarang. Sangatlah perlu untuk membiarkan firman Tuhan yang seketika ini tinggal di dalam kita. Putra ingin memperluas kediaman-Nya di dalam kita. Ketika Dia tinggal di dalam kita, Dia selalu berbicara. Berbicaranya Dia ini adalah rhema, firman yang seketika. Kebanyakan Dia mengucapkan satu kata kepada kita, yaitu “tidak”. Akan tetapi, adakalanya ucapan-Nya itu merupakan suatu syarat atau suatu permintaan. Betapa perlunya kita mengasihi Dia dan memelihara firman-Nya yang seketika! Kapan kala Dia mengucapkan firman yang seketika, kita harus mendengarnya dan menerimanya. Jika kita tidak menaati firman yang seketika, kita akan segera dipotong dari persekutuan. Tetapi jika kita menaatinya, kita akan menyerap kepenuhan-Nya, menyerap segala kelimpahan hayat-Nya, serta mempunyai keluapan hayat untuk berbuah.
Dalam ayat 4 dan 5, Tuhan memberi tahu kita bahwa Dia tinggal di dalam kita, tetapi dalam ayat 7, Dia meng-ubah perkataan-Nya sedikit, yaitu firman-Nya tinggal di dalam kita. Bukan diri Kristus yang tinggal di dalam kita, melainkan firman-Nya yang tinggal di dalam kita. Mengapa Tuhan mengubah: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” menjadi “tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”? Karena tinggalnya diri Tuhan itu terlalu misterius dan terlalu obyektif. Mengatakan Tuhan tinggal di dalam kita merupakan sesuatu yang terlalu jauh, di luar pengertian kita. Sebagai contoh, ketika Tuhan memberi tahu orang Yahudi bahwa Dia adalah makanan dan roti hidup, orang-orang Yahudi merasa heran dan takjub, mereka tak habis mengerti. Mereka bertanya-tanya sendiri, apakah artinya makan dan hidup oleh Dia. Kemudian Tuhan Yesus memberi tahu mereka bahwa daging-Nya benar-benar makanan dan darah-Nya benar-benar minuman (6:55). Yang Tuhan maksud adalah bahwa Dia harus mati karena darah-Nya harus terpisah dari daging-Nya. Dia harus mati sehingga melalui kematian dan kebangkitan, Dia dapat menyalurkan diri-Nya kepada kita. Tuhan mengatakan semuanya dengan latar belakang perayaan Paskah orang Yahudi. Pada waktu perayaan Paskah, orang-orang Yahudi selalu menyembelih domba, mengoleskan darahnya pada ambang pintu dan makan dagingnya. Tuhan mengetahui adanya latar belakang seperti itu di antara orang-orang Yahudi, Tuhan berpikir mereka tentunya mengerti apa yang Dia katakan. Karena itu, Tuhan berkata bahwa daging-Nya dapat dimakan dan darah-Nya dapat diminum. Akan tetapi, bagaimanapun juga, mereka tidak bisa mengerti dan bertanya kepada satu sama lain, bagaimana mungkin Orang ini memberikan daging-Nya kepada mereka untuk dimakan. Karena itu, Tuhan kemudian menunjukkan kepada mereka bahwa daging sama sekali tidak berguna, Rohlah yang memberi hidup (6:63). Tuhan juga berkata bahwa perkataan yang Dia katakan adalah Roh dan hidup (hayat).
Melalui ini kita dapat melihat di mana Tuhan berada dan apakah Dia itu. Boleh jadi Anda berkata bahwa Tuhan ada di surga dan Dia adalah Roh dan hayat. Anda benar, tetapi ini masih terlalu rohani, misterius, dan obyektif. Masalahnya adalah bagaimana membuat keadaan ini menjadi sesuatu yang riil bagi kita, bagaimana membuat hal ini menjadi subyektif dan praktis bagi kita. Untuk ini kita perlu sesuatu yang berwujud (substansial) sebagai pengganti yang rohaniah; perlu yang praktis sebagai pengganti yang misterius, perlu yang berfaedah sebagai pengganti yang doktrinal. Ya, kita tahu bahwa Tuhan adalah pohon anggur dan kita adalah ranting-rantingnya, dan jika kita tetap tinggal di dalam Dia, Dia tentu tinggal di dalam kita. Tetapi masalahnya adalah di mana dan apakah Tuhan hari ini. Dengan kata lain, bagaimanakah Dia dapat dengan praktis tersedia bagi kita?
Supaya Tuhan tinggal di dalam kita, kita perlu membiarkan firman-Nya tinggal di dalam kita. Jalan satu-satunya yang paling mungkin supaya Tuhan tinggal di dalam kita adalah melalui firman-Nya. Dengan cara apa kita mendengar Injil dan menerima Tuhan sebagai Juruselamat kita? Tidak lain melalui firman-Nya. Ketika kita menerima firman-Nya, kita sesungguhnya menerima diri Tuhan sendiri, karena Tuhan ada di dalam firman-Nya dan Dia sendiri adalah firman. Dengan prinsip yang sama, jika kita mau Tuhan tinggal di dalam kita, kita harus membiarkan firman-Nya tinggal di dalam kita. Sekarang, karena kita telah mempunyai Alkitab di tangan kita, yang di dalamnya penuh dengan firman Tuhan, tak seharusnya kita berkata bahwa Tuhan itu jauh dari kita, Dia itu misterius, atau Dia itu masih sedemikian rohaniah, abstrak. Puji Tuhan, kita mempunyai sesuatu yang berwujud, praktis, dan riil di tangan kita. Kita mempunyai firman. Kita dapat membaca firman dan menerimanya dengan hati dan roh kita. Kita dapat berhubungan dengan firman Tuhan di dalam roh kita setiap hari dan bahkan setiap saat. Asal kita bersentuhan dengan firman Tuhan, kita berhubungan dengan diri Tuhan sendiri.
Seperti yang telah kita tunjukkan dalam ayat 7, kata “firman” dalam bahasa Yunani adalah rhema, bukan logos. Logos adalah firman yang tertulis, sedang rhema adalah firman yang seketika, yang Tuhan katakan kepada kita secara langsung pada saat itu juga untuk tujuan khusus. Menurut pengalaman kita, jika kita memelihara diri kita dalam persekutuan dengan Tuhan, sepanjang hari kita akan mempunyai rhema di dalam yang berasal dari Tuhan. Logos adalah firman yang di luar, sebagai suatu berita yang diucapkan atau tertulis; sedang rhema adalah firman pada waktu sekarang, firman yang di dalam. Kita mempunyai logos di tangan kita, tetapi kita mempunyai rhema di roh kita. Logos adalah firman yang tertulis sebagai ekspresi dari Kristus yang hidup; sedang rhema adalah firman yang diucapkan oleh Roh Kristus di dalam kita tepat pada waktu yang kita perlukan. Sebagai contoh, mungkin sewaktu Anda bersekutu dengan saudara lain, sesuatu dalam batin Anda menyuruh Anda berhenti berbicara. Inilah rhema. Atau boleh jadi Anda memikirkan suatu perkara yang ingin Anda lakukan hari ini, tetapi sekali lagi sesuatu di dalam Anda memberi tahu Anda untuk tidak melakukannya. Itu juga rhema.
Janganlah Anda secara kabur (tidak jelas) mengatakan bahwa kita tinggal di dalam Kristus dan Kristus tinggal di dalam kita. Kita harus lebih jernih dan pasti menyadari bahwa kita harus menghadapi dua macam perkataan perkataan yang di luar dan perkataan yang di dalam; perkataan di dalam Alkitab adalah yang di luar kita, sedang perkataan di dalam roh adalah yang di dalam kita. Jika kita berkata kita ingin tinggal di dalam Kristus dan membiarkan Kristus tinggal di dalam kita, kita harus menghadapi dua macam perkataan ini. Jika kita tidak memahami kedua perkataan yang berbeda ini, kita tidak mungkin memelihara diri kita dalam persekutuan dengan Tuhan, dan mutlak tidak mungkin tinggal di dalam Tuhan, dan membiarkan Tuhan tinggal di dalam kita. Jadi, kita harus menghadapi firman yang tertulis di luar, dan firman yang hidup di dalam; karena dari firman yang tertulis di luar kita memiliki penjelasan, definisi, dan ekspresi Tuhan yang misterius, dan melalui firman hidup yang di dalam, kita mengalami Kristus yang berhuni dan menikmati penyertaan Tuhan yang riil.
Tuhan sangat misterius. Karena inilah, kita tidak akan pernah dapat memahami-Nya dengan daya khayal kita. Tentu saja kita harus membaca keenam puluh enam kitab dalam Alkitab. Kita harus membaca keenam puluh enam kitab ini kata demi kata karena seluruh perkataan itu menjelaskan, menerangkan, dan mendefinisikan Tuhan kita yang misterius. Jika kita ingin mengenal Dia, kita harus mengenal firman dan tahu bagaimana menjamah firman. Tetapi di pihak lain, Roh itu ada di dalam kita, memberi kita beberapa firman hidup pada waktu yang tepat untuk memenuhi keperluan kita. Pada saat kita memerlukan firman untuk menghadapi situasi yang khusus, maka Roh itu di dalam kita bisa memberi kita firman yang tepat pada waktunya. Rhema yang di dalam selalu seiring dengan logos yang di luar. Rhema yang dikatakan oleh Roh itu tidak pernah berlainan dengan logos yang tertulis. Logos yang di luar dan rhema yang di dalam selalu seiring, dan sering kali rhema di dalam malah menjelaskan logos yang di luar. Mungkin Anda membaca logos tertulis pagi ini, tetapi Anda tidak memahaminya, juga tidak menerapkannya dalam kehidupan Anda. Sewaktu Anda bekerja, Roh itu mengurapi Anda dari dalam dengan firman, memberi Anda arti yang tepat dan bahkan penjelasan yang tepat. Anda merasakan rhema yang hidup dengan penjelasan yang hidup oleh Roh itu. Alhasil, Anda bukan hanya mengerti di dalam pikiran Anda, tetapi juga mengerti di dalam roh Anda. Sekarang, firman yang di luar, firman yang tertulis, menjadi firman yang hidup di dalam roh Anda. Anda dapat mengalaminya dan menerapkannya dalam kehidupan Anda. Dengan jalan ini logos menjadi rhema; perkataan yang di luar menjadi perkataan yang di dalam. Kita perlu mengikuti rhema hidup yang di dalam, membiarkan rhema ini mempunyai jalannya yang leluasa di dalam kita. Agar firman hidup ini mempunyai kebebasan di dalam kita, kita harus bergerak mengikuti-Nya. Dengan kata lain, kita harus sangat hormat dan patuh kepada rhema hidup yang sedang berbicara di dalam kita. Memusatkan perhatian pada rhema yang di dalam akan membuat Tuhan yang hidup menjadi sangat riil di dalam roh kita. Kristus menjadi demikian praktis dan riil. Kita bisa merasakan bahwa Tuhan yang menguatkan di dalam kita, sedang bergerak dan bekerja.
6. Berdoa agar Berbuah Banyak sehingga Bapa Dimuliakan
Sementara Tuhan bergerak, bekerja, mendorong, dan menambah tenaga di dalam kita, apa yang kita perbuat? Apakah kita akan tutup mulut diam seribu bahasa? Tidak, sudah tentu kita akan merasa terdorong untuk mengutarakan sesuatu. Pasti kita akan mengekspresikan apa yang kita rasakan di dalam. Inilah doa yang rohani, doa di dalam roh. Doa yang rohani mengekspresikan pergerakan Kristus di dalam kita. Kristus di dalam, melalui, dan sebagai firman bergerak, bekerja, mendorong, dan menambah tenaga di dalam kita. Saat ini terjadi, kita tidak dapat berdiam diri. Saya yakin kita semua pernah mengalami ini. Adakalanya pada malam hari saya tidak dapat tidur dan harus bangun, karena ada sesuatu yang bergerak dan menambah tenaga di dalam saya. Saya harus bangun dan berkata, “Tuhan, aku di sini. Aku memuji Engkau.” Apakah doa sedemikian ini hanya merupakan ekspresi dari opini, konsepsi, pemikiran, perasaan, atau angan-angan kita? Tidak! Kita mengekspresikan apa yang Tuhan gerakkan dan dorong di dalam kita. Kita menjadi penyambung lidah Tuhan yang mengutarakan apa yang ada di dalam batin kita saat itu.
Dalam ayat 7, Tuhan berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Ketika kita tinggal di dalam Tuhan dan membiarkan firman-Nya tinggal di dalam kita, secara riil kita esa dengan Dia, dan Dia akan bekerja di dalam kita. Karena itu, apa pun yang kita minta, bukanlah kita sendiri yang berdoa, melainkan Dia yang berdoa di dalam doa kita. Doa semacam ini berkaitan dengan hal berbuah (ayat 8), dan pasti doa ini akan digenapi. Kita tidak dapat mempunyai doa semacam ini berdasarkan diri kita sendiri. Doa di dalam roh semacam ini berasal dari Kristus yang berhuni, melalui Roh itu, dan berdasarkan firman-Nya. Jika kita tinggal di dalam Tuhan dan senantiasa memelihara hubungan dan persekutuan dengan Tuhan, serta membiarkan Tuhan beserta firman-Nya tinggal, bergerak, mendorong, dan menambah tenaga di dalam kita, pasti kita tidak akan sanggup membungkam mulut kita. Pasti kita akan mengutarakan sesuatu. Apa yang kita katakan akan menjadi suatu doa yang riil di dalam roh. Inilah ekspresi dari Kristus yang berhuni yang berbicara sebagai Roh dengan firman-Nya.
Ketika firman Tuhan tinggal di dalam kita, persekutuan, dan ekspresi-Nya akan tinggal di dalam kita. Karena itu, kita boleh “meminta apa yang kita kehendaki”. Melalui doa, kita akan mengekspresikan apa yang telah kita terima dari Tuhan, dan ini akan digenapi bagi kita. Doa ini bukan doa manusia yang alamiah, melainkan doa yang ilahi, ekspresi dari komunikasi ilahi. Ketika Tuhan tinggal di dalam kita, mengekpresikan pemikiran, keinginan, pendapat, dan kehendak-Nya, kita pun menerima firman-Nya dan mengekspresikannya melalui berdoa. Doa sedemikian ini sangatlah ilahi, karena doa ini mengutarakan dan mengekspresikan kehendak, keinginan, dan maksud hati dari Persona yang tinggal di dalam kita dan yang menyalurkan diri-Nya kepada kita.
Ayat 8 mengatakan: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Doa dalam ayat 7 berhubungan dengan hal berbuah dan kemuliaan Bapa yang dikatakan dalam ayat 8. Kita perlu berdoa agar berbuah banyak sehingga Bapa bisa dimuliakan, yaitu diekspresikan di dalam Putra. Dalam hal berbuah, hayat ilahi Bapa diekspresikan dan dengan demikian Ia dimuliakan. Hanya ketika Bapa diekspresikan, Dia dimuliakan. Listrik dapat menggambarkan apa yang dimaksud dengan dimuliakan. Listrik yang tidak diekspresikan adalah listrik yang tidak dimuliakan. Hanya sewaktu listrik diekspresikan, listrik itu dimuliakan. Listrik di dalam lampu dimuliakan karena listrik itu diekspresikan. Demikian juga, ketika hayat ilahi Bapa diekspresikan, yaitu organisme dari anggur dan ranting-rantingnya berbuah, Dia dimuliakan.
Doa-doa yang riil seharusnya diikuti oleh hidup dan perilaku kita. Hidup kita, perilaku, dan aktivitas kita selalu mengikuti doa-doa kita. Kita harus bergerak, hidup, dan bekerja menurut apa yang kita doakan. Ini sangat dalam. Ketika Tuhan tinggal di dalam kita. Dia mengekspresikan diri-Nya, pikiran-Nya, maksud hati-Nya, dan kehendak-Nya kepada kita. Ketika kita mengutarakan ini dalam doa serta bergerak, hidup, dan bekerja menurut apa yang kita doakan, Allah diekspresikan dan dimuliakan.
Agar Tuhan bersemayam di dalam, kita harus memperhatikan firman Tuhan dalam dua aspek firman yang di dalam dan firman yang di luar. Kita harus mengontak Tuhan melalui firman yang di luar, sehingga firman ini menjadi firman yang di dalam kita. Firman yang di luar yang berhubungan dengan kita dalam bentuk tulisan akan menjadi firman yang hidup, firman yang di dalam roh kita. Demikian Tuhan akan mengekspresikan diri-Nya melalui firman Tuhan ini, dan kita akan mengerti kehendak, maksud hati, keinginan, dan pikiran Tuhan. Kita juga bisa menjadi satu dengan Tuhan, sehingga kita akan mengutarakan pikiran Tuhan di dalam doa kita. Apa yang kita doakan juga adalah kehidupan yang kita perhidupkan. Doa-doa ini menjadi ekspresi, perwujudan yang sempurna dari Allah Bapa. Allah Bapa akan diekspresikan dan dimuliakan melalui kita.
Sebelum kita melanjutkan, saya perlu membahas sedikit tentang membaca Alkitab. Kita sering memberi nasihat kepada orang-orang beriman baru untuk membaca firman Tuhan sebanyak mungkin. Akan tetapi, terhadap beberapa orang, tidaklah baik membaca Alkitab terlalu banyak, karena hal ini seperti menjejali mereka dengan terlalu banyak makanan. Banyak orang Kristen yang mempunyai banyak sekali timbunan firman, tetapi sangat sedikit yang dicerna. Sekarang inilah saatnya mereka mencerna firman sedikit demi sedikit setiap hari. Kita perlu berdoa dengan dan melalui firman, sekalimat demi sekalimat, anak kalimat demi anak kalimat, susunan kata demi susunan kata, dan bahkan kata demi kata, mencerna apa yang kita baca. Jika kita mendoabacakan apa yang kita baca, suplai rohani pun akan datang, dan roh kita akan dikenyangkan dan dikuatkan.
7. Menuruti Perintah Putra Melalui Menaati
Firman-Nya yang Seketika, Agar Kita Tinggal di Dalam Kasih-Nya
Kita perlu menuruti perintah Putra melalui menaati firman-Nya yang seketika, agar kita tinggal di dalam kasih-Nya (ayat 10-11). Mula-mula, kita tinggal di dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita. Kemudian firman-Nya akan tinggal di dalam kita dan kita akan tinggal di dalam kasih-Nya. Di satu pihak, kita harus tinggal di dalam diri Tuhan; di pihak lain, kita harus tinggal di dalam kasih-Nya. Sebagaimana kita membiarkan firman Tuhan tinggal di dalam kita, agar Tuhan terus tinggal di dalam kita, demikian pula dengan prinsip yang sama, untuk tetap tinggal di dalam Tuhan, kita harus tinggal di dalam kasih Tuhan. Jika Anda tidak merasakan kesegaran, kemanisan, dan kelembutan kasih Tuhan, saya khawatir sekalipun Anda berupaya untuk tetap tinggal di dalam-Nya, Anda akan gagal. Masalah secara berkesinambungan tinggal di dalam Tuhan adalah masalah kasih. Kita harus mengerti dan merasakan kasih-Nya yang demikian segar, manis, dan baru. Kita harus tinggal di dalam kasih-Nya, agar kita dapat mempertahankan tinggalnya kita di dalam-Nya. Sebagai contoh, jika dua orang saudara tidak mempunyai perasaan kasih satu sama lain, bagaimana mungkin mereka dapat mempertahankan hubungan erat mereka? Demikian juga, kita harus tinggal di dalam kasih Tuhan dan merasakan kasih-Nya, agar kita dapat tinggal di dalam persekutuan dengan-Nya. Ketika Anda membaca ini, boleh jadi Anda berkata, “Saudara, aku tak merasakan kasih-Nya.” Jika demikian keadaan Anda, seharusnya Anda berdoa, “Tuhan, belaskasihanilah aku. Mengapa aku tidak merasakan kasih-Mu pada hari-hari ini? Oh Tuhan, mengapa?” Jika Anda berdoa demikian, saya yakin Anda akan mengalami kasih Tuhan yang segar, kasih-Nya akan membuat Anda merasa demikian segar. Kemudian Anda akan tinggal di dalam kasih Tuhan. Kasih ini akan memelihara Anda untuk tetap tinggal di dalam diri Tuhan.
Jika kita mau tinggal di dalam kasih Tuhan, kita harus menuruti perintah-Nya. Ketika kita tinggal di dalam Tuhan, Dia akan mengutarakan firman-Nya yang seketika di dalam kita. Firman-Nya yang seketika ini adalah perintah-Nya kepada kita. Jika kita menaati perintah-perintah ini, berarti kita mengasihi-Nya. Karena itu, kita harus tinggal dalam kasih-Nya. Mula-mula Tuhan tinggal di dalam kita; kemudian firman-Nya tinggal di dalam kita. Mula-mula Ia menanggulangi kita dengan diri-Nya sendiri; kemudian Ia menanggulangi kita dengan firman-Nya dan dengan kasih-Nya. Ini sangat bermakna. Mula-mula Ia tinggal di dalam kita dan selanjutnya firman-Nya tinggal di dalam kita. Mula-mula kita tinggal di dalam Dia dan selanjutnya kita tinggal di dalam kasih-Nya. Misalnya dua orang yang bersahabat. Dalam persahabatan seperti ini, yang seorang harus mau memperhatikan yang lain. Bukan hanya masalah diri teman itu sendiri, tetapi juga perkataannya. Jika yang seorang tidak mau memperhatikan yang lain, ia akan kehilangan persahabatannya. Tetapi jika ia mau memperhatikan temannya, ia akan mendapatkan dirinya setahap demi setahap di dalam kasih temannya; bahkan akan mempererat persahabatan dan menjadikan persahabatan itu semakin akrab dan erat. Tetapi jika seseorang tidak mau memperhatikan temannya, ia bukan saja tidak akan berada di dalam kasih temannya secara akrab, malahan akhirnya persahabatan itu akan berantakan.
Pada mulanya, kita tinggal di dalam Tuhan dan Dia tinggal di dalam kita. Di dalam kita, Dia mengutarakan firman-Nya yang seketika kepada kita. Kita perlu menaati firman ini. Bila kita menaati firman-Nya, berarti kita membiarkan firman-Nya tinggal di dalam kita. Demikian, bukan hanya diri-Nya tinggal di dalam kita, bahkan firman-Nya juga tinggal di dalam kita. Bila kita memelihara firman-Nya, dan membiarkan firman-Nya tinggal di dalam kita, kita segera masuk ke dalam kasih-Nya dan tinggal dalam kasih-Nya. Kita bukan hanya tinggal di dalam Dia, tetapi juga di dalam kasih-Nya. “Tinggal” sedemikian ini menjadi semakin intim, dalam, dan kuat. Jika kita tidak secara demikian tinggal di dalam-Nya, secara berangsur-angsur kita akan terlepas keluar dari fakta saling tinggal ini. Tuhan selalu berbicara. Jika Anda membiarkan Dia tinggal di dalam Anda, Ia akan terus-menerus berbicara kepada Anda. Ketika Ia berbicara, Anda harus berkata, “Amin Tuhan, aku cinta kepada-Mu.” Ketika Anda berkata “amin” dan menaati firman-Nya, Anda akan masuk ke dalam kasih-Nya, sehingga Anda mempunyai perasaan yang manis. Anda merasa Ia demikian manis, indah, dan berharga. Pada taraf ini, Anda bukan hanya tinggal di dalam Dia, tetapi juga di dalam kasih-Nya.
Jika kita tinggal di dalam Tuhan, yaitu tinggal di dalam kasih-Nya, dan jika Tuhan tinggal di dalam kita, yaitu firman-Nya tinggal di dalam kita, maka kita akan mempunyai persekutuan yang akrab dan mesra dengan Tuhan. Dari persekutuan inilah kita akan mempunyai doa-doa di dalam roh yang dapat mengekspresikan Tuhan yang hidup yang tinggal di dalam kita. Melalui berdoa seperti ini kita tahu bahwa Bapa akan diekspresikan dan dimuliakan. Kita selalu berkata tentang memuliakan Allah, tetapi bagaimana kita dapat memuliakan Allah? Melalui tinggal di dalam kasih Tuhan dan membiarkan firman Tuhan tinggal di dalam kita, maka Allah Bapa akan diekspresikan melalui kita dan akan dimuliakan di dalam Putra. Karena keakraban ini, dan saling berhuni yang kuat, tandan-tandan buah akan dihasilkan, karena kita telah dipenuhi dengan segala kelimpahan hayat Tuhan. Luapan kelimpahan hayat ini sedemikian kaya sehingga sanggup berbuah dan Allah Bapa di dalam Putra akan diekspresikan serta dimuliakan.
8. Ada Sukacita Kepuasan
Jika kita tinggal di dalam Tuhan dan tetap tinggal di dalam-Nya melalui tinggal di dalam kasih-Nya, sehingga kita bisa berbuah banyak yang mengekspresikan kelimpahan hayat-Nya bagi kemuliaan Bapa, kita akan dipenuhi dengan sukacita. Sukacita kita berasal dari kita tinggal di dalam Tuhan, tinggal di dalam kasih-Nya, berbuah di dalam kelimpahan hayat-Nya, dan pengekspresian serta pemuliaan Bapa. Di dalam hayat semacam ini kita akan penuh dengan sukacita.
Kita telah melihat perihal tinggal dalam Yohanes 15. Roma 8 merupakan lanjutan Yohanes 15. Tanpa Roma 8 kita masih tidak mempunyai jalan untuk tetap tinggal di dalam Tuhan. Cara untuk tetap tinggal di dalam Tuhan adalah meletakkan pikiran di atas roh (Rm. 8:6). Meletakkan pikiran di atas roh dalam Roma 8 adalah perkembang-an dari tinggal di dalam Tuhan dalam Yohanes 15. Jika kita hanya memiliki Yohanes 15 tanpa Roma 8, kita masih belum memiliki jalan untuk tetap tinggal di dalam Tuhan. Dalam Roma 8 kita mempunyai Kristus sebagai Roh hayat (Rm. 8:2) dan sebagai Roh yang membawakan hayat, yang tinggal di dalam roh kita. Cara untuk mempertahankan tinggal di dalam Tuhan adalah meletakkan pikiran kita, bagian utama dari jiwa kita, di atas roh kita, sehingga kita bisa mengalami Tuhan yang adalah Roh pemberi hayat yang tinggal di dalam roh kita.