Jangan Marah
Setelah beroleh anugerah, perbuatan dan sikap seseorang seharusnya mengalami perubahan yang sangat besar. Di dalamnya termasuk amarahnya atau mudah marahnya, harus berubah juga. Ada orang sudah percaya Tuhan Yesus, bahkan sudah percaya beberapa tahun, tetapi sifat mudah marahnya masih tetap seperti sebelum ia percaya Tuhan Yesus. Ini sangat disayangkan dan sangat tidak memuliakan Tuhan. Begitu seseorang percaya Tuhan Yesus, ia harus segera membereskan sifat mudah marahnya. Anda tidak bisa membiarkan sifat mudah marah yang banyak itu tetap tinggal dalam diri Anda, apalagi sampai bertahun-tahun masih belum juga berubah.
BEBERAPA EKSPRESI KEHIDUPAN ORANG KRISTEN
Kehidupan orang Kristen memiliki beberapa ekspresi yang mencolok; dan orang yang telah percaya Tuhan Yesus seharusnya mempunyai beberapa ekspresi yang mencolok ini.
Dalam Yohanes 15:12 Tuhan berpesan kepada murid-murid-Nya, “Supaya kamu saling mengasihi”. Ekspresi kehidupan orang Kristen adalah kasih. Kita harus mengasihi orang. Kita harus mengasihi saudara, juga mengasihi semua orang.
Di samping itu, ada ayat Alkitab yang juga diucapkan oleh Tuhan sendiri, “Berbahagialah orang yang lemah lembut” (Mat. 5:5). Sikap orang Kristen adalah lemah lembut, bukan keras. Kita harus belajar bersikap lemah lembut. “Lihat Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai betina, seekor keledai beban yang muda” (Mat. 21:5). Sikap Tuhan adalah lemah lembut, Dia dengan lemah lembut mengendarai seekor keledai.
Lukas 9:23 mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya . . . dan mengikut Aku.” Kehidupan orang Kristen adalah menyangkal diri sendiri, tidak berbicara bagi diri sendiri, tidak merebut untuk diri sendiri, tidak membangun dirinya sendiri, melainkan menyangkal atau mengorbankan diri sendiri.
Surat 1 Korintus 13:7 mengatakan, “ . . . sabar menanggung segala sesuatu.” Kehidupan orang Kristen tidak seharusnya suka gusar melainkan sabar menanggung segala sesuatu.
Surat 1 Tesalonika 5:16 mengatakan, “Bersukacitalah senantiasa.” Kehidupan orang Kristen seharusnya bersukacita senantiasa, tidak seharusnya membiarkan perkara apa pun mengganggu sukacitanya atau memadamkan sukacitanya.
Filipi 4:7 mengatakan, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Orang Kristen tidak seharusnya membiarkan perkara apa saja mengganggu damai sejahteranya, sehingga ia kehilangan damai sejahtera. Anak-anak Allah harus mempertahankan damai sejahtera mereka.
Matius 11:29 juga sangat penting. Itulah firman Tuhan sendiri. Kata-Nya, “Aku lemah lembut dan rendah hati.” Orang Kristen seharusnya rendah hati. Sikap orang Kristen bukan berada di tempat yang tinggi, melainkan sering menaruh diri di tempat yang rendah, sering merendahkan diri.
MARAH-MARAH TIDAK SESUAI
DENGAN KEHIDUPAN ORANG KRISTEN
Kasih, lemah lembut, menyangkal diri, sabar, sukacita, damai sejahtera, rendah hati, dan lain sebagainya yang dibicarakan di atas, semuanya adalah ekspresi normal bagi kehidupan orang Kristen. Mudah marah-marah, tidaklah sesuai dengan ekspresi-ekspresi ini.
Di mana ada kasih, di sana tidak ada marah-marah. Di tempat kasih berada, tidak ada marah-marah. Anda tidak bisa mengatakan kasih sambil marah-marah. Terhadap orang lain, tak peduli dia tidak percaya Tuhan atau saudara saudari yang percaya Tuhan, perintah Tuhan menghendaki kita mengasihi mereka. Kalau kasih memenuhi hati Anda, marah-marah akan keluar dari diri Anda. Anda tidak bisa mengasihi seseorang sambil marah-marah terhadapnya; tidak mungkin demikian. Anda harus tampak, bila ingin menjadi anak-anak Allah, mengasihi orang adalah perkara yang sangat penting. Bukan hanya dalam perbuatannya ada kasih, bahkan kasih juga menjadi sikap Anda. Bukan sekali, dua kali, kebetulan Anda mengasihi orang, melainkan kasih menjadi sikap Anda. Jika demikian, Anda tidak bisa marah.
Perintah Tuhan mengatakan, kita harus lemah lembut. Tuhan sendiri di bumi juga lemah lembut. Dia sendiri datang dengan mengendarai keledai, menyatakan Ia menjadi Raja bukan begitu serius, melainkan lemah lembut. Ketika Tuhan di bumi, Ia mudah berbicara, mudah diundang orang, mudah didekati orang, mudah dimintai tolong oleh orang. Ada orang tidak baik dalam hal berbicara, tetapi orang Kristen bukan orang yang tidak baik dalam hal berbicara, ia mudah didekati orang. Orang Kristen seharusnya orang yang lemah lembut. Kalau kita memiliki sikap dan sifat yang lemah lembut, dengan sendirinya kita akan tampak bahwa kita tidak mudah marah-marah. Semua amarah adalah kekerasan. Bagian emosi manusia yang paling halus adalah kasih. Bagian emosi manusia yang paling kasar adalah marah-marah. Kalau seseorang di depan Tuhan menjadi orang yang lemah lembut, ia tidak akan menyisakan kedudukan untuk marah-marah. Mudah marah-marah, mudah bertengkar, adalah ekspresi kasar yang tidak sesuai dengan lemah lembut.
Tuhan menyuruh kita berkorban, belajar menjadi orang yang menyerahkan diri. Kalau seseorang mau mengorbankan diri, mau melepaskan hak perorangannya, ia tidak akan sampai marah-marah. Orang yang marah-marah itu selalu untuk kepentingan diri sendiri. Kalau seseorang tidak berebut untuk dirinya, ia tidak akan marah-marah. Saudara saudari, kita yang menjadi anak-anak Allah harus belajar menyangkal diri, mengorbankan diri, tidak seharusnya mempertahankan diri.
Ada kalanya, memang ada orang yang benar-benar tanpa alasan berlaku kasar kepada Anda; ada kalanya banyak urusan betul-betul merangsang Anda. Tetapi Alkitab memberi tahu kita, “Kasih itu tidak terangsang” (1 Kor. 13:5 Tl.). Di samping itu Tuhan juga memperlihatkan kepada kita, kita harus sabar. Kalau Tuhan membiarkan suatu perkara terjadi di atas diri kita, kita bisa sabar. Perintah Tuhan mengatakan, kehidupan orang Kristen adalah kehidupan sabar. Kalau kita sabar, kita tidak mungkin bisa marah-marah.
Orang Kristen harus senantiasa bersukacita. Bersukacita adalah satu kehidupan. Seseorang tidak mungkin marah-marah sambil bersukacita. Itu mustahil. Kalau tidak bersukacita pasti marah-marah. Saat Anda marah-marah pasti tidak ada sukacita. Anda tidak bisa bersukacita sambil marah-marah. Kalau sukacita Tuhan memenuhi hati Anda, maka dalam hidup Anda tidak ada kedudukan bagi marah-marah. Tuhan tidak menyisakan kedudukan bagi kita untuk marah-marah. Saudara saudari, kalau hidup Anda penuh sukacita, temperamen jelek Anda dengan sendirinya akan tersingkir.
Tuhan menghendaki hati kita penuh damai sejahtera. Tidak ada satu perkara pun yang boleh mengganggu damai sejahtera kita. Seharusnya dalam setiap perkara, tak peduli itu perkara apa, kita bisa damai sejahtera. Damai sejahtera Tuhan akan memelihara hati dan pikiran kita. Jangan membiarkan hati dan pikiran kita mendapat serangan. Kalau hati kita penuh damai sejahtera, seperti yang dikatakan di depan, kita tidak mungkin marah-marah.
Kita yang menjadi anak-anak Allah adalah orang yang merendahkan diri. Allah tidak menyuruh kita menjadi orang yang tinggi hati, yang besar; Allah tidak menyuruh kita mencapai kedudukan yang tinggi. Putra Allah dengan rendah hati datang ke dunia. Allah menghendaki kita menjadi orang yang rendah hati, di samping itu juga bisa prihatin dan menerima orang yang rendah. Marah-marah tidak sepadan dengan rendah hati. Kita harus belajar terus mengikuti Tuhan yang rendah hati, menempuh satu jalan yang rendah.
Dalam Matius 5:22 Tuhan berkata, “Setiap orang yang tanpa alasan marah terhadap saudaranya, harus dihukum” (Tl.). Tuhan tidak senang ada orang milik-Nya tanpa alasan marah-marah, sembarangan marah-marah. Khususnya marah-marah terhadap saudara, ini adalah perkara yang tidak baik. Sebab itu setiap anak Allah harus belajar tidak marah-marah, tidak sembarangan marah-marah.
AKAR PENYAKIT MARAH-MARAH — EGO
Marah-marah adalah satu kesulitan yang umum. Sangat banyak orang yang mudah marah-marah, suka marah-marah. Tetapi kita harus mengakui bahwa marah-marah adalah kesulitan yang paling dangkal. Seharusnya begitu seseorang percaya Tuhan, ia segera membereskan marahmarahnya; bukan menunggu sampai sepuluh tahun lebih baru menemukan bahwa dirinya mempunyai satu temperamen yang tidak bisa dikendali, tidak bisa diatasi. Mengapa begitu banyak orang mudah marah-marah? Mengapa banyak orang Kristen belum menanggulangi temperamennya yang suka marah-marah? Kalau masalah ini tidak dapat dibereskan dengan baik, kita tidak bisa menjadi orang Kristen yang baik. Kita harus mengerti mengapa orang mudah marah-marah, barulah kita mengetahui bagaimana menyelesaikan kesulitan ini.
Marah adalah satu persoalan yang sangat besar, tetapi kalau Anda membuka kitab Perjanjian Baru, Anda tidak akan menemukan kata marah-marah. Penyakit yang kita anggap paling umum, dalam Alkitab tidak di perhatikan. Mengapa? Karena marah-marah bukan suatu penyakit melainkan suatu gejala penyakit. Penyakit berbeda dengan gejala penyakit. Radang usus buntu adalah satu penyakit; suhu badan yang tinggi adalah suatu gejala penyakit. Karena ada penyakit baru ada gejala penyakit. Kalau hanya menyembuhkan gejala penyakit tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya, itu tidak berguna. Mungkin kita bisa sementara menurunkan panas, tetapi penyakitnya tetap ada, sebentar lagi akan panas kembali. Marah-marah bukan suatu penyakit, melainkan suatu gejala penyakit. Sebab itu, kita harus mencari akar penyakit itu. Setelah menemukan akar penyakitnya dan menanggulanginya, dengan sendirinya tidak marah-marah lagi. Setelah penyakitnya tidak ada, gejala penyakitnya dengan sendirinya akan hilang. Kita harus tampak bahwa marah-marah bukan akar penyakit, melainkan gejala penyakit. Kalau kita menganggap marah-marah sebagai penyakit, itu salah. Tak heran kalau kita tidak mampu membereskannya.
Banyak saudara berkata, Roma 6:11 tidak dapat diterapkan di atas diri mereka karena masalah marah-marah. Roma 6:11 mengatakan, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: Bahwa kamu telah mati terhadap dosa.” Tetapi banyak orang terbentur kesulitan ketika menerapkan ayat ini. Ketika sedang marah-marah, banyak orang cepat-cepat menghafalkan Roma 6:11, “Aku sudah mati. Kalau aku sudah mati, aku tidak bisa marah-marah.” Nyatanya tidak berguna. Roma 6:11 bukan untuk menyelamatkan seseorang dari gejala penyakit, melainkan untuk menyelamatkan seseorang dari penyakit. Kalau Anda menaruhnya pada gejala penyakit, itu tidak akan berguna. Ketika Anda marah-marah, lalu memandang diri sendiri sudah mati, Anda masih akan marah-marah. Kalau pun tidak marah-marah di luar, masih marah-marah di dalam.
Sebenarnya di manakah akar marah-marah seseorang? Ada satu jawaban yang sederhana: semua marah-marah itu berhubungan dengan ego seseorang. Kalau seseorang tidak membereskan ego lalu ingin membereskan marahmarahnya, itu telah salah sasaran. Semua orang marah-marah karena egonya. Ego seseorang itulah penyakitnya; marah-marah bukan penyakitnya. Karena orang mempunyai ego, maka ia mempunyai amarah. Kalau ego seseorang di depan Tuhan sudah dibereskan, dengan sendirinya amarahnya akan berlalu. Sebab itu Alkitab memperhatikan ego, tidak memperhatikan amarah. Kalau masalah ego sudah dibereskan, dengan sendirinya masalah amarah bisa beres. Kalau ego tidak dibereskan, masalah marah-marah dengan sendirinya tidak bisa dibereskan.
Menyinggung ego di sini kita akan sepintas lalu menyinggung beberapa aspek:
1) Ada orang yang bersifat terlalu subjektif. Orang yang subjektif pasti orang yang penuh ego. Perkara apa saja harus dia yang mengusulkan, urusan apa saja harus dia yang menentukan. Dia mengira pandangannya selalu benar, pendapatnya tidak bisa salah. Tidak hanya demikian, ia selalu ingin melaksanakan pendapatnya, selalu ingin melaksanakan opininya. Dia tidak bisa dihalangi, dia tidak tahan gejolak, dia tidak tahan dibongkar. Pendapatnya harus terlaksana, keputusannya harus tercapai. Suatu hari, kalau ada orang lain tidak menyetujui pendapatnya, tidak melakukan menurut maksudnya, kesubyektifannya tidak akan tahan. Hasilnya, ia akan marah, bahkan sangat marah.
Saudara saudari, kalau Anda terus memperhatikan amarah Anda, sampai kapan pun Anda tidak akan bisa menyembuhkan penyakit ini. Penyakit ini berada pada kesubyektifan Anda, penyakit ini berada pada tekad Anda yang kaku; penyakit ini bukan pada amarah Anda. Ketika kesubyektifan Anda diremukkan, ketika tekad dan pandangan Anda dilukai, di depan Tuhan Anda akan berkata, “Tuhan, ini adalah pekerjaan-Mu, aku tunduk.” Kalau demikian, apakah Anda bisa marah lagi? Ketika pendapat Anda dipatahkan, dan Anda berlutut berkata, “Tuhan, ini adalah pekerjaan-Mu, ini adalah perbuatan-Mu.” Masihkah Anda bisa marah-marah kepada orang lain? Anda tidak mungkin marah-marah. Mengapa Anda bisa marah-marah? Karena Anda mau mempertahankan pendapat Anda, Anda ingin melaksanakan opini Anda. Aku mempunyai suatu cara yang harus dilaksanakan, egoku menerjang keluar, kemudian marah-marah. Tidak ada seorang pun yang bisa marah-marah, kalau egonya sudah dibereskan. Akar dari marah-marah itu adalah ego. Anda mengeluarkan banyak tenaga untuk membereskan marah-marah tetapi lupa membereskan ego, itu adalah perkara yang bodoh. Orang yang percaya Tuhan harus segera meremukkan egonya. Ego kita di depan Tuhan tidak seharusnya dipertahankan, ego kita di depan Tuhan tidak patut disayangi. Meskipun kita diganggu orang, dirangsang orang, disiksa orang, kalau tidak ada ego, kita tidak akan marah.
2) Ada orang marah-marah karena menganggap dirinya luar biasa. Ia memandang dirinya terlalu tinggi, menganggap dirinya istimewa. Dengan kata lain, ia sombong. Semua orang yang sombong, tidak hanya melihat dirinya tinggi, juga menghendaki orang lain menghargai dia, memandang dia tinggi. Tidak ada orang yang sombong yang merasa puas dalam memandang dirinya tinggi. Orang yang sombong tidak puas kalau ia sendiri yang mengatakan dirinya baik; orang yang sombong menghendaki orang lain juga mengatakan terhadap dirinya bahwa ia baik. Jika demikian, baru ia puas. Dengan kata lain, ego orang yang sombong tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ego orang yang sombong akan mencapai diri orang lain, menghendaki orang lain menghargai dia, menghendaki saudara saudari memandang dia tinggi. Kalau ada seorang saudara belum menemukan “nilai” dirinya, belum mengetahui dia adalah orang yang “sangat penting”, belum memahami “kedudukan rohani”-nya betapa tinggi, belum merasakan “kehebatan”-nya, ia akan merasa tersiksa, lalu marah-marah! Dari mana asalnya marah-marah? Dari kesombongan. Orang marah-marah karena ia sombong.
Saudara saudari, singkirkanlah kesombongan Anda, maka Anda bisa menyingkirkan amarah Anda. Kalau Anda ingin menyingkirkan amarah Anda tanpa menyingkirkan kesombongan Anda, itu satu hal yang mustahil. Akar amarah adalah kesombongan. Kalau Anda di depan Allah adalah seorang yang rendah hati, kalau Anda tampak bahwa ditertawai orang, diremehkan orang, difitnah orang, semua itu adalah pengaturan atau pendisiplinan Roh Kudus, Anda akan menerima pengaturan itu dan berkata, “Tuhan, Engkau selalu untuk kebaikanku. Semua yang menimpa aku adalah untuk membereskan kesombonganku. Tuhan, aku berterima kasih kepada-Mu, karena Engkau membina aku melalui hal-hal ini.” Anda tidak akan marah-marah. Kalau demikian, meskipun ada saudara tidak menuruti Anda, melukai kedudukan Anda, Anda akan merasa bahwa Anda tidak seharusnya sombong, Anda seharusnya dilukai, dan Anda tidak akan marah-marah. Sebaliknya, Anda akan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, perbuatan-Mu menanggulangi kesombongan ini benar.” Kalau Anda belajar mengenal tangan Tuhan, Anda tidak akan marah-marah.
Saudara saudari, marah-marah bukan suatu sakit. Kalau Anda menanggulangi marah-marah Anda seperti meanggulangi penyakit, Anda tidak akan mampu dan tidak akan bisa menanggulangi. Anda harus belajar di depan Tuhan, merebahkan diri dan berkata, “Tuhan, terserah Engkau mau melakukan apa, jadilah.” Kalau Anda mau mengesampingkan diri, mau mengorbankan diri, mau menanggulangi diri, Anda akan tampak bahwa beberapa hari ini Anda tidak memiliki kekuatan untuk marah-marah, Anda tidak ingin marah-marah. Di atas diri Anda, marah-marah telah kehilangan kekuatannya.
3) Dalam hal meninggikan diri sendiri, ada satu konsepsi, yaitu orang lain tidak seharusnya setara dengan dirinya; hanya mengharapkan dirinya naik, mendapat promosi, tidak mengharapkan orang lain naik, mendapatkan promosi; hanya mengharapkan dirinya mendapatkan, tidak mengharapkan orang lain mendapatkan; senang bila melihat orang lain gagal; tidak senang melihat orang lain sukses. Konsepsi atau angan-angan demikian adalah iri hati. Bukan hanya dalam perkara dunia demikian, dalam perkara rohani pun demikian. Orang yang sombong, begitu melihat saudara lain gagal, ia merasa gembira; melihat seorang saudara berdiri teguh, ia malah tidak gembira. Sikap ini adalah sikap yang paling rendah, tidak ada sikap lain yang lebih rendah daripada ini. Kalau seseorang senang melihat orang lain jatuh, ini sama dengan sikap Iblis. Iblis senang kalau semua orang jatuh. Kalau anak-anak Allah mempunyai perasaan Iblis, melihat saudara jatuh dia tidak merasa sedih, malah merasa senang, itu adalah perasaan yang paling rendah, paling hina! Mengapa ada perasaan semacam itu? Sebab ia mau meninggikan diri. Ia mengharapkan orang-orang di sekelilingnya jatuh, biar dia seorang diri yang membubung tinggi.
Saudara saudari, orang yang mengenal Allah adalah orang yang mengharapkan dirinya membubung tinggi, juga mengharapkan orang lain membubung tinggi. Orang yang tidak mengenal Allah mengharapkan dirinya mendapatkan promosi, tetapi tidak mengharapkan orang lain mendapatkan promosi, bahkan mengharapkan orang lain jatuh, agar dirinya ternyata lebih tinggi. Perasaan ini adalah perasaan yang paling rendah. Banyak amarah bersumber dari iri hati. Kalau Anda meninggikan diri sendiri, dan Anda bertemu dengan seorang yang berbuat lebih baik daripada Anda, yang mendapatkan promosi yang lebih tinggi daripada Anda, Anda akan marah. Iri hati membuat seseorang marah-marah. Kalau Anda lupa membereskan iri hati, tetapi ingin membereskan marah-marah, itu tidak akan sukses. Anda harus mencabut iri hati dari diri Anda, baru Anda bisa tidak marah-marah. Kalau iri hati masih tetap beroleh tempat di dalam Anda, Anda akan selalu marah-marah.
4) Ada orang yang egonya terekspresi dalam aspek yang lain — mengasihi diri sendiri. Oh, di antara sekian banyak orang, yang paling ia senangi adalah diri sendiri, yang paling ia perhatikan adalah diri sendiri, yang paling ia hargai adalah dirinya sendiri. Ia makan, yang penting adalah untuk dirinya sendiri; ia tinggal, yang penting adalah untuk dirinya sendiri; ia tidur, yang penting adalah untuk dirinya sendiri. Segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan manusia, yang paling penting adalah untuk dirinya sendiri. Ia mengharapkan keuntungannya bisa bertambah-tambah, ia mengharapkan dia bisa lebih nyaman. Semua pikirannya mengitari dirinya sendiri. Ia memperhatikan dirinya sendiri, ia menghargai dirinya sendiri. Sebab itu, begitu menjumpai perkara yang menyebabkan dia tidak nyaman, dia segera marah-marah. Banyak orang marah-marah karena sayang dirinya telah dilukai. Karena ia begitu mengasihi dirinya sendiri, ia tidak rela dirinya menderita sedikit kerugian, ia tidak rela dirinya menderita sedikit sengsara, ia tidak rela dirinya menderita sedikit kesulitan. Kalau ada orang melukai hatinya, ia segera merasa tidak enak, ia merasa sudah dirugikan, merasa tidak tahan, lalu marah-marah bahkan sangat marah.
Orang yang telah mendapat pengajaran di depan Allah tentu mengetahui: aku hidup untuk Tuhan. Aku di bumi ini adalah untuk Tuhan. Aku bersandar karunia Tuhan hidup di bumi, bukan bersandar hati yang mengasihi diri sendiri; adalah anugerah-Nya, bukan mengasihi diri sendiri. Karena belas kasihan-Nya memelihara aku, barulah aku bisa hidup, bisa berdiri teguh. Jadi, meskipun ada banyak alasan yang merangsang dia marah, dia tetap tidak marah. Karena hatinya yang mengasihi diri sendiri sudah ditanggulangi.
Saudara saudari, semoga Anda tampak bahwa semua amarah berasal dari diri sendiri. Kalau ego tidak dibereskan, sifat suka marah pasti tetap di atas diri Anda. Tidak ada seorang pun yang egonya tidak ditanggulangi, bisa menghentikan amarahnya. Orang yang tidak menanggulangi egonya, tetap akan memiliki temperamen suka marah.
5) Ada saudara saudari mengasihi diri sendiri sebegitu rupa, sehingga hanya mempedulikan perkaranya, hanya merasa tertarik akan perkaranya. Terhadap perkara orang lain, ia sama sekali tidak tertarik, sama sekali tidak mau membantu orang lain. Semua perbuatannya, semua pikirannya selalu berpusat pada diri sendiri. Dia adalah orang yang paling penting, urusannya adalah urusan yang paling penting di dunia. Yang ia pikirkan hanya untuk dirinya sendiri, yang ia lakukan hanya untuk dirinya sendiri, yang ia repotkan hanya untuk dirinya sendiri. Ia selalu untuk dirinya sendiri, sehingga tidak ada waktu yang sisa untuk orang lain. Kalau orang terlalu sering mencari dia, dia akan merasa jemu, lalu marah-marah. Semua aktivitasnya berpusat pada dirinya. Dia tidak bersimpati kepada orang lain. Dia mengasihi diri sendiri begitu rupa, sehingga tidak ada waktu dan tenaga untuk bersimpati kepada orang lain. Dia repot untuk diri sendiri begitu rupa, sehingga tidak ada kekuatan untuk merasakan penderitaan orang lain. Banyak temperamen mudah marah orang terjadi karena orang lain melanggar kasih egosentrisnya, sebab itu ia merasa sebal, merasa gusar, emosi, lalu marah-marah. Akar semua amarah terletak pada ego manusia.
Kalau kita tidak egosentris, bisa bersimpati kepada orang, belajar mengasihi orang, dengan sendirinya ketika orang lain mengganggu kita, kita tidak merasa kesal dan tidak akan marah-marah. Kita akan merasa bahwa membantu orang lain adalah perkara yang menyenangkan; membantu orang lain adalah melayani Allah. Sebab itu, jangan sekali-kali hanya membereskan amarah, karena akar penyakitnya tidak di sana. Harus membereskan akar penyakitnya, baru berguna. Kalau masalah ego manusia sudah ditanggulangi, masalah marah-marah akan beres. Semakin masalah egonya dibereskan, semakin tuntas juga masalah marah-marahnya dibereskan.
6) Ada orang yang tidak hanya mengasihi diri sendiri, juga memiliki kasih yang lain: mengasihi benda-benda, mengasihi harta. Ada orang belum pernah tertolong dari sikapnya terhadap materi. Baginya uang sangatlah berharga; benda-benda materi di atas dirinya berharga; bermacam-macam barang baginya semuanya berharga. Egonya adalah ego yang menyenangi barang-barang, menyenangi materi. Ego orang semacam ini terekspresi pada mengasihi barang-barang. Jika suatu hari ada seseorang merusak barangnya, menjatuhkan barangnya, atau menghilangkan barangnya, dia segera marah-marah. Karena hal itu telah melukai egonya, melukai hatinya yang menyenangi barang, maka dia tidak bisa tidak marah-marah. Sebab musabab kemarahannya ada di dalam egonya, bukan pada diri orang lain. Kalau Anda dengan tangan mengetuk kayu, suara apa yang terdengar? Suara kayu. Kalau Anda mengetuk tembok, suara apa yang terdengar? Suara tembok. Kalau Anda mengetuk kaca, suara apa yang terdengar? Suara kaca. Tangan Anda tetap sama, ketukan Anda juga sama, tetapi suara yang ditimbulkan tidak sama. Sebatang kayu mengeluarkan suara kayu. Sebidang tembok mengeluarkan suara tembok. Sebidang kaca mengeluarkan suara kaca. Setiap benda mengeluarkan suara yang berbeda, karena sifat benda-benda itu berbeda. Gejala yang di luar memberi tahu kepada kita sifat barang itu apa.
Marah-marah kita ada di dalam kita, bukan di dalam situasi lingkungan. Kalau di dalam kita tidak ada ego, situasi lingkungan tidak bisa membuat kita marah. Orang marah karena di dalamnya ada ego. Karena di dalamnya ada ego, maka begitu bertemu dengan situasi yang cocok, keluarlah amarahnya. Situasi tidak bisa membuat Anda marah, situasi hanya membuat amarah yang di dalam Anda itu terlampiaskan.
Singkatnya, amarah berasal dari ego manusia. Siapa saja yang marah-marah, tentu ada aspek tertentu dari egonya yang belum dibereskan. Mungkin banyak aspek yang belum dibereskan, mungkin hanya satu aspek yang belum dibereskan. Jadi, terbereskannya masalah marah-marah tergantung pada berapa banyak egonya dibereskan di depan Allah. Semakin jelas egonya dibereskan, semakin banyak ia terlepas dari amarahnya. Kalau egonya tidak dibereskan dengan baik, maka amarahnya masih akan tetap di sana. Janganlah kita sebodoh itu, hanya membereskan amarah kita. Kita harus ingat, masalah ego jauh lebih dalam daripada masalah marah. Kalau egonya tidak dibereskan, amarahnya selamanya tidak bisa dibereskan. Ketika kita belajar merebahkan diri di depan Allah, di satu pihak, kita mendapatkan penerangan agar kita tampak bagaimana keadaan ego kita; di pihak lain, ini juga adalah belas kasihan Allah yang dalam lingkungan mengatur banyak urusan bagi kita. Setiap hari banyak perkara menimpa kita. Ketika perkara ini satu per satu datang, kalau kita di depan Tuhan telah mendapat sedikit pelajaran, kita akan tunduk dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, semua yang Kau atur adalah yang terbaik. Engkau membereskan egoku demikian adalah yang terbaik. Aku terima. Aku taat.” Anda akan tampak bahwa Anda tidak bisa marah lagi. Kalau Anda tidak mengenal tangan Tuhan, Anda seperti kuda bebal yang bodoh, yang tidak mengenal tangan tuannya. Anda mengira ini karena orang, ini karena lingkungan. Mata Anda terus melihat orang, terus melihat lingkungan; maka pikiran yang tidak terima akan timbul di dalam Anda, hati yang gelisah timbul pula, lalu Anda menentang, Anda tidak terima dan Anda marah-marah. Orang yang tidak membereskan diri sendiri, tidak membereskan ego, tetapi ingin membereskan kemarahan, itu tidak berguna. Ketahuilah, akar kemarahan ada pada diri sendiri. Bila seorang Kristen marah-marah, itu menyatakan bahwa ia tidak menerima pengaturan Roh Kudus, menyatakan bahwa ia tidak puas terhadap pengendalian, pengaturan Roh Kudus dalam situasi lingkungan. Kita harus belajar menerima pengendalian Roh Kudus, belajar mengesampingkan diri sendiri, tampak betapa tidak bergunanya ego, lalu dengan sendirinya amarah kita terbereskan.
Begitu kita percaya Tuhan, kita harus menyelesaikan masalah amarah kita. Kita tidak seharusnya membiarkan hal ini tinggal terus sampai bertahun-tahun, baru membereskannya. Kita yang menjadi orang Kristen haruslah orang yang mengorbankan diri, tidak subjektif, tidak sombong, tidak iri hati, tidak mengasihi diri sendiri, tidak hanya memperhatikan diri sendiri, tidak mengasihi harta. Kita harus tampak, ego kita harus ditolak. Kita juga harus tampak bahwa segala perkara yang menimpa kita adalah pengaturan Roh Kudus untuk kebaikan kita, sebab itu kita harus belajar menerimanya. Jangan membereskan marah-marah, gejala penyakit itu. Bereskanlah sumber penyakit itu. Jangan hanya membereskan amarah kita, tetapi tidak membereskan ego kita. Ada kemarahan, pasti ada ego. Anda tidak bisa mengelak dengan berkata, “Sifatku memang tergesa-gesa, sebab itu mudah marah.” Jangan mengira orang yang pelan tidak bisa marah. Ia tetap bisa melampiaskan kemarahannya, hanya caranya berbeda. Ada ego, ada kemarahan. Saudara saudari, kalau Anda ingin tidak marah-marah, Anda harus membereskan ego Anda. Kalau Anda telah mendapatkan penerangan atas masalah ego Anda, Anda baru bisa terlepas dari amarah Anda.