Daftar isi Dua Belas Bakul (7) · bab 7/12

Mengukur dan Mengalir

“Pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru, ‘Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.’”

Yohanes 7:37-38

“Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. Lalu diiringnya aku ke luar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, sungguh, air itu membual dari sebelah selatan. Sedang orang itu pergi ke arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya, ia mengukur seribu hasta dan menyuruh aku masuk dalam air itu, maka dalamnya sampai di pergelangan kaki. Ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku masuk sekali lagi dalam air itu, sekarang sudah sampai di lutut; kemudian ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku ketiga kalinya masuk ke dalam air itu, sekarang sudah sampai di pinggang. Sekali lagi ia mengukur seribu hasta lagi, sekarang air itu sudah menjadi sungai, di mana aku tidak dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat berenang, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi. Lalu ia berkata kepadaku: ‘Sudahkah engkau lihat, hai anak manusia?’ Kemudian ia membawa aku kembali menyusur tepi sungai. Dalam perjalanan pulang, sungguh, sepanjang tepi sungai itu ada amat banyak pohon, di sebelah sini dan di sebelah sana. Ia berkata kepadaku: ‘Sungguh ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup. Maka penangkap-penangkap ikan penuh sepanjang tepinya mulai dari En-Gedi sampai En-Eglaim; daerah itu menjadi penjemuran pukat dan di sungai itu ada berjenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan di laut besar, sangat banyak. Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.’”

Yehezkiel 47:1-10, 12

AIR DAN ALIRAN

Dalam Alkitab, air merupakan suatu benda yang sangat penting; air mempunyai arti yang sangat penting. Dalam Kejadian 2, setelah Allah menciptakan manusia, ditaruh-Nya manusia itu di Taman Eden. Ada suatu sungai mengaliri dan membasahi taman itu. Di sini kita tampak air. Kalau Anda meneruskan pembacaan Alkitab Anda, Anda akan menemukan bahwa Alkitab sering menyinggung tentang air dan sungai. Mazmur 36:9 memberitahu kita, umat Allah akan “mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu.” Kitab nabi-nabi juga membicarakan sungai, khususnya dalam Yehezkiel 47 memberi gambaran yang sangat jelas, sehingga kita tampak bagaimana air itu mengalir keluar sampai menjadi sungai. Dalam kitab Injil, khususnya Injil Yohanes — kitab yang membicarakan tentang hayat — Tuhan Yesus sering menyinggung tentang air. Tuhan berkata, “Siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selamalamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai pada hidup yang kekal.” Tuhan juga berkata, “Siapa saja yang haus baiklah ia datang kepada-Ku dan minum. Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

Pasal yang terakhir dalam Alkitab, yaitu Wahyu 22, mengatakan tentang kota Yerusalem Baru, ada sungai hayat yang mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba. Air yang disebut dalam pasal-pasal di atas adalah lambang yang dipakai Alkitab untuk menyatakan hayat Allah. Ketika kita menerima hayat Tuhan, hayat Tuhan masuk ke dalam kita, seperti sebuah sumber air yang berhubungan dengan kita. Kita mendapatkan hayat Tuhan, berarti kita berhubungan dengan sumber hayat. Yohanes 7:37-38 mengatakan bahwa sewaktu air ini masuk ke dalam kita, akan menjadi aliran-aliran air hidup. Masalahnya di sini ialah, bagaimana hayat yang ada di dalam kita ini dapat mengalir, bahkan mengalir seperti aliran sungai air hayat.

PENGUKURAN

Yohanes 7 mengatakan tentang “aliran”, Yehezkiel 47 juga mengatakan tentang “aliran”. Injil Yohanes mengatakan bahwa air itu akan menjadi aliran sungai, Yehezkiel juga mengatakan bahwa air itu akan menjadi sungai. Kalau kita menggabungkan apa yang dikatakan oleh Yehezkiel dan Yohanes, kita akan tampak bagaimana air ini mengalir keluar. Bagaimanakah air ini mengalir keluar? Tak lain karena adanya “pengukuran”. Dalam kitab Yehezkiel, Anda tampak pertama kali diukur, dalamnya air sampai di pergelangan kaki; diukur lagi, air sampai di lutut; diukur lagi, air sampai di pinggang. Pada pengukuran yang keempat kalinya, air sudah menjadi sungai sehingga orang tidak dapat berjalan lagi. Dari sini kita tampak satu perkara, yaitu kalau kita ingin memiliki aliran air seperti yang dikatakan dalam Injil Yohanes 7, terlebih dulu kita harus melalui “pengukuran” yang dikatakan dalam Yehezkiel 47. Kalau kita menggabungkan kedua bagian Alkitab ini, kita akan tampak kunci pengaliran air hayat ialah “pengukuran”.

Apakah artinya “pengukuran” di sini? Menurut kitab Yehezkiel, pengukuran ini berarti dipisahkan. Orang yang dilihat oleh Yehezkiel dalam penglihatannya telah mengukur banyak tempat. Yehezkiel 42:20 mengatakan, “Keempat sisinya diukur. Sekeliling lingkungan itu ada tembok: panjangnya lima ratus hasta dan lebarnya lima ratus hasta, untuk memisahkan yang kudus dari yang tidak kudus.” Pengukuran di sini berarti pemisahan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, yaitu dari dalam yang tidak kudus dipisahkan yang kudus. Setelah sebidang tanah itu diukur, berarti tanah itu adalah tanah kudus, bukan lagi tanah yang umum (tidak kudus), tanah itu telah dikuduskan bagi Allah. Allah mau menguduskan kita bagi diriNya, tetapi terlebih dulu Dia harus mengukur kita. Bagian mana di atas diri kita yang pernah diukur Allah, bagian itu tidak lagi umum, bagian itu telah kudus. Asalnya adalah milik dunia, tetapi setelah diukur, menjadi milik Allah.

Ketika Yehezkiel bersekutu dengan Allah, dalam penglihatannya dia melihat orang pengukur itu. Rupa orang itu seperti tembaga (Yeh. 40:1-3). Dalam Alkitab, saat menyinggung peristiwa bertemunya manusia dengan Allah atau malaikat-Nya, selalu disinggung juga rupa persona yang dilihatnya. Seperti dalam Wahyu 4 dikatakan, Yohanes melihat Allah duduk di atas takhta, rupa-Nya seperti permata yaspis dan sardis. Di sini, orang pengukur yang dilihat oleh Yehezkiel, rupanya seperti tembaga. Dalam Alkitab tembaga berarti penghakiman. Mezbah terbuat dari tembaga, yang berarti penghakiman. Ular tembaga terbuat dari tembaga yang melambangkan Tuhan Yesus di kayu salib menggantikan manusia menerima penghakiman. Rupa orang yang mengukur itu seperti tembaga, artinya dia adalah hakim. Ketika mengukur, di satu pihak memisahkan, di pihak lain juga menghakimi. Dalam mengukur ada standarnya yang pasti, ada ukuran yang pasti. Orang yang sembarangan tidak dapat mengukur; orang yang tidak dapat memisahkan yang baik dengan yang jahat tidak dapat mengukur; orang yang tidak mengerti ketentuan sistem ukuran juga tidak dapat mengukur. Ketika kita bersekutu dengan Allah, menerima penerangan Allah, kita akan bertemu dengan orang yang mengukur itu. Ketika Allah mengukur kita, akan ternyatalah bagian mana pada diri kita yang tidak memenuhi standar Allah, yang tidak diperkenankan Allah, yang tidak dikehendaki Allah. Inilah penghakiman Allah.

MENGALIR

Yehezkiel 47:1 mengatakan, “Ada air mengalir keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci.” Pada pengukuran pertama, air sudah mencapai pergelangan kaki; pada pengukuran kedua, air lebih dalam; ketiga, lebih dalam lagi; keempat, air telah menjadi sungai. Apakah Bait Suci? Bait Suci adalah roh manusia kita. Roh kita menjadi Bait Suci karena Roh Allah tinggal di dalam roh kita, sebab itu air hayat mengalir keluar dari dalam roh kita. Bagaimana supaya air ini dapat mengalir, makin lama makin dalam? Kuncinya ialah pengukuran.

Misalnya, setelah Anda beroleh selamat, suatu pagi Anda berlutut di sisi tempat tidur berdoa, Anda datang ke hadapan Tuhan dan menjamah Allah. Saat itu, seolah-olah ada seorang turun dari surga, menghakimi mulut dan lidah Anda dan berkata kepada Anda, “Betapa najisnya mulutmu, betapa tajamnya lidahmu.” Demikianlah mulut dan lidah Anda menerima penghakiman Allah. Seperti dalam Yesaya 6:5 yang mengatakan tentang Yesaya dalam penglihatan bertemu dengan Allah; dia berkata, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” Anda berjumpa dengan Allah, mulut dan lidah Anda menerima penghakiman. Selanjutnya Anda akan berdoa, “Tuhan, sungguh najis mulutku, mohon darahMu menyucikan aku. Mulai hari ini, mulut dan lidahku kupersembahkan kepada-Mu, biarlah Engkau yang memakainya.” Sejak saat itu, mulut dan lidah Anda telah dipisahkan. Kalau Anda mengucapkan lagi perkataan yang sia-sia, yang menyakiti orang lain, di dalam Anda tidak akan melewatkannya. Anda tidak dapat seperti dulu lagi dengan seenaknya berbicara, karena mulut dan lidah Anda telah dikuduskan untuk Allah.

Bagian yang telah mengalami penghakiman, bagian yang telah diukur; bagian itulah yang akan ada aliran air hayat. Sering kali Anda tidak mempunyai kekuatan ketika memberitakan Injil. Hal itu disebabkan mulut dan lidah Anda belum pernah diukur. Karena itu, air hayat tidak dapat mengalir keluar dari mulut dan lidah Anda. Kalau Anda telah diterangi Allah, telah dihakimi, maka air hayat akan mengalir keluar dari diri Anda. Allah tidak cukup hanya mengukur Anda sekali, masih perlu kedua, ketiga, banyak kali mengukur Anda. Kali pertama Allah mengukur mulut Anda dan lidah Anda. Kali kedua, Allah mungkin mengukur baju dan penampilan Anda. Setelah Anda diukur oleh Allah, dan orang lain berjumpa lagi dengan Anda, seolah-olah dari rambut Anda menetes air hayat, dari pakaian Anda juga menetes air hayat. Orang yang batinnya lapar dan dahaga, karena penampilan Anda, segera terleraikan lapar dan dahaganya; orang yang batinnya kering layu, karena penampilan Anda, segera mendapat penyegaran; orang yang batinnya gelap, karena penampilan Anda, segera mendapatkan penerangan. Penampilan Anda telah melalui penghakiman Allah, telah melalui pengukuran Allah, telah dikuduskan! Berapa banyak Allah mendapatkan diri Anda, berapa banyak pula Anda dapat mengalirkan air hayat. Kalau Anda membiarkan Allah mendapatkan lebih banyak, maka air hayat akan mengalir makin jauh dan makin dalam. Aliran air jauh atau tidak, dalam atau tidak, semuanya tergantung pada berapa banyak yang telah diukur oleh Allah.

MENGUKUR DARI DALAM

Air mengalir keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci. Anda telah beroleh selamat, hayat Allah telah ada di dalam roh Anda; sekarang ia mau mengalir keluar dari dalam roh Anda. Allah mengukur kita adalah mengukur mulai dari dalam kita. Suatu hari, ketika Anda mendekati Allah, dan Allah menjumpai Anda, Allah akan menghakimi kasih Anda. Allah menyoroti dengan terang-Nya, membuat Anda tampak bahwa Allah belum mendapatkan kasih Anda. Walaupun Anda telah menerima kasih Allah, tetapi kasih Anda masih melekat pada orang-orang, benda-benda, dan perkara-perkara di luar Allah. Karena itu Allah mau menghakimi kasih Anda, membuat Anda tahu bahwa sampai saat ini Anda masih belum memberikan kasih Anda kepada Allah. Saat ini dengan spontan Anda mengaku dosa Anda, menegur diri sendiri, dan Anda berkata, “Ya Allah, mulai hari ini, aku menyerahkan semua kasihku kepada-Mu.” Begitu kasih Anda telah diukur Allah, hayat akan mengalir ke dalam kasih Anda.

Suatu hari, ketika Anda mendekati Allah, Allah mau menghakimi pikiran Anda. Dia menampakkan kepada Anda bahwa pikiran Anda seperti kuda liar tanpa kekang, pikiran Anda belum untuk Allah. Kalau kita belum pernah belajar hidup bersandarkan Roh untuk mengendalikan pikiran kita, belum pernah membiarkan Allah mengukur pikiran kita, maka pikiran kita sepertilah kuda liar, berlari ke sana ke mari. Ketika Allah menampakkan ini kepada Anda, Anda pasti akan mengaku dosa Anda. Setelah Anda berdoa, datanglah suatu tekad, berkata kepada Allah, “Mulai hari ini, segala pikiranku juga tersembahkan untuk-Mu.” Setelah diukur demikian, hayat segera mengalir ke dalam pikiran Anda.

Suatu hari, Anda berjumpa dengan Allah, Allah mau menghakimi tekad Anda. Betapa kuatnya tekad Anda, belum pernah belajar taat. Ketika itu Anda akan mengaku dosa Anda, dan tekad Anda ditaklukkan di hadapan Allah. Anda berdoa, “Ya Allah, mulai hari ini, aku tidak memilih apa yang kupilih, aku hanya memilih apa yang Kau pilih.” Setelah Allah mengukur tekad Anda, hayat akan mengalir ke dalam tekad Anda.

Apakah sudah cukup diukur sampai di sini saja? Tidak! Allah masih mau mengukur lagi! Allah masih mau mengukur tubuh Anda, mengukur kaki Anda, mengukur tangan Anda, mengukur mulut Anda, mengukur telinga Anda, mengukur mata Anda. Semua bagian dari tubuh Anda adalah baik, sangat berguna, tetapi Anda belum dengan baik-baik memberikannya kepada Allah untuk kemuliaan Allah. Karena itulah Allah mau mengukur Anda. Ada orang tua yang berumur lima puluh tahun lebih. Kalau orang-orang memberitakan firman Allah kepadanya, dia tidak mendengar. Tetapi kalau anaknya dan menantunya dengan suara kecil berbicara kepadanya, dia mendengar; telinganya adalah telinga yang tidak pernah diukur. Ada orang yang matanya sangat liar, melihat ke kanan, melihat ke kiri. Tetapi begitu diminta membaca Alkitab, ia tidak mampu. Matanya hanya dapat digunakan di jalanan, tidak dapat digunakan di Alkitab; matanya belum pernah diukur. Suatu hari, Allah menjumpai dia, Allah mau menghakimi matanya. Dia segera mengaku dosanya dan berkata, “Dalam mataku, entah berapa banyak nafsu, mohon Tuhan dengan darah adi mencuci aku. Mulai hari ini, ya Allah, aku menguduskan mataku untuk-Mu.” Ada saudara, begitu matanya sekilas memandang Anda, tanpa berkata apa-apa, hayat telah mengalir ke dalam Anda; karena matanya telah menerima penghakiman, telah diukur oleh Allah.

Allah tidak hanya mengukur sukma dan tubuh kita, juga mau mengukur kehidupan kita, mengukur keluarga kita, mengukur ilmu kita, mengukur harta kekayaan kita, mengukur segala sesuatu kita, supaya hayat-Nya dapat mengalir dengan limpahnya dari setiap bagian diri kita.

SETELAH DIUKUR, BARU DAPAT MENGALIRKAN HAYAT

Saudara saudari, kalau kita mau mengalirkan hayat Allah, kita harus terlebih dahulu diukur Allah. Allah mengukur kita adalah dari dalam mengukur keluar, setindak demi setindak mengukur. Menurut kitab Yehezkiel, pengukuran ini sedikitnya ada empat tahap. Pertama kali diukur 1.000 hasta, air sampai di pergelangan kaki. Begitu kaki kita tercelup ke dalam air, jalan kita tidak dapat leluasa seperti dulu lagi. Seorang yang telah didapatkan Allah, kakinya tidak leluasa berjalan lagi. Banyak saudara saudari yang kakinya senang sembarangan berjalan, tidak senang menerima batasan hayat Allah, itu berarti mereka tidak senang diukur oleh Allah. Orang yang pernah diukur oleh Allah, kakinya tidak dapat lagi berjalan dengan sembarangan. Pengukuran kedua, airnya makin dalam, makin terasa tidak leluasa. Pengukuran ketiga, air sampai di pinggang, diri Anda telah dikurung oleh air. Seorang Kristen yang telah mencapai tahap ini, boleh dikata ia sudah tidak mempunyai gerakan sendiri. Di hadapan Allah, dia diterangi, dihakimi, diukur, dan didapatkan oleh Allah sedemikian rupa sehingga hayat telah membatasi dia. Saudara saudari, pengalaman demikian adalah pengalaman yang berharga. Kalau Anda bertemu dengan saudara saudari yang demikian, bola matanya tidak lagi liar, tutur katanya tidak lagi runcing dan menusuk orang, kaki dan tangannya juga tidak ringan lagi. Semua itu dikarenakan di dalam hayat Allah ia telah makin dalam; atas dirinya telah lebih banyak bagian yang didapatkan Allah. Tahap terakhir, datanglah sungai yang dikatakan oleh Yohanes 7, orang ini berenang di air. Pada tahap ini, orang ini mutlak bergerak mengikuti aliran air. Inilah pengalaman Madame Guyon yang terakhir, dia hilang di dalam Allah. Ini adalah tahap yang paling dalam.

Saudara saudari, kunci mengalirnya air hayat dari dalam Anda adalah pengukuran. Sewaktu Anda bersekutu dengan Allah, Allah mau mengukur Anda. Persembahan yang diucapkan mulut Anda, masih belum merupakan persembahan yang sejati. Hanya setelah diterangi Allah, diukur Allah, barulah dapat dikuduskan, barulah benar-benar persembahan. Dalam keinginan hati Anda, Anda mau untuk Allah, Anda ingin menyerahkan segalanya untuk Allah, ini masih belum berguna. Haruslah Allah menerangi Anda, menghakimi Anda, mengukur Anda, menguduskan Anda bagi Allah, barulah ada pelayanan yang sejati. Semakin banyak diukur, air hayat akan mengalir makin luas makin dalam. Sampai di mana air hayat ini mengalir, di sanalah akan ada buah hayat yang dapat menyuplai hayat kepada orang lain. Oh saudara saudari, kiranya kita sekali demi sekali diukur oleh Allah, agar hayat Allah mengalir keluar dari diri kita, makin mengalir makin dalam, makin mengalir makin jauh, menjadi sungai air hayat.