Daftar isi Dua Belas Bakul (7) · bab 6/12

Tuhan Menguduskan Diri-Nya Sendiri

“Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”

Yohanes 17:16-19

Tuhan berkata, “Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”Perkataan ini istimewa. Tuhan menghendaki murid-murid-Nya kudus, untuk itu Ia sendiri harus menguduskan diri-Nya. Mengapa demikian? Banyak orang begitu membaca sampai di sini, timbul satu pertanyaan: Apakah hakiki asal-Nya tidak kudus? Mengapa Dia harus menguduskan diri-Nya sendiri? Di sini kita akan membicarakan sedikit bagaimana Tuhan menguduskan diri-Nya.

Hakiki asal Tuhan kita adalah kudus. Dia tidak pernah mengenal dosa. Berdasarkan diri-Nya, Dia boleh melakukan banyak perkara; Dia boleh menuruti keinginan-Nya melakukan ini dan itu. Perkara-perkara itu tidak berlawanan dengan sifat kekudusan-Nya. Dia juga adalah Allah, Dia mempunyai kekuatan Allah. Berdasarkan kekuatan-Nya, Ia dapat melakukan banyak perkara. Dia mempunyai kekuatan memutuskan sendiri, tidak perlu menunggu Allah untuk melakukannya. Tetapi kita tidak tampak Tuhan kita berbicara atau bertindak demikian. Dalam segala hal, Dia selalu diatur oleh kehendak Allah, bahkan Dia berkata, “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri” (Yoh. 5:19). Mengapa demikian? Apakah kalau Tuhan kita menurut maksud-Nya sendiri, dengan kekuatan-Nya sendiri berbuat sesuatu adalah dosa, sama seperti yang kita lakukan? Tidak! Sekali-kali tidak. Lalu mengapa Dia tidak menurut maksud-Nya sendiri, tidak dengan kekuatan-Nya sendiri, melakukan sesuatu? Karena Dia menguduskan diri-Nya sendiri. Ini adalah dikarenakan murid-murid-Nya. Di tempat Ia boleh bebas, Ia tidak bebas; di tempat Ia boleh memakai kekuatan, Ia tidak memakai kekuatan. Tujuan-Nya adalah di depan murid-murid-Nya memberi satu teladan yang baik. Orang yang demikian kudus seperti Dia, boleh menuruti maksudnya sendiri, boleh memakai kekuatannya sendiri; tetapi kalau murid-murid-Nya menuruti maksud mereka sendiri, memakai kekuatan mereka sendiri, itu adalah dosa. Dalam banyak perkara Tuhan mempunyai kebebasan; banyak perkara boleh Tuhan lakukan. Tetapi karena murid-murid-Nya, Ia senang menerima pembatasan. Dengan kata lain, karena murid-murid-Nya, Tuhan tidak memakai kebebasan-Nya. Dia telah melepaskan banyak hak yang sah, Dia kehilangan banyak kebebasan yang sah, supaya murid-murid-Nya tahu bahwa di hadapan Allah kita tidak bisa bergerak dengan bebas, tidak boleh memakai kekuatan sendiri. Kalau Tuhan saja tidak dapat demikian, apalagi kita!

Saudara saudari, pernahkah Anda memikirkan kehidupan Tuhan ketika Ia di bumi? Kehidupan-Nya di bumi selalu menerima pembatasan. Dia adalah Allah, tetapi Dia telah menjadi seorang manusia dan bertumbuh menurut perawakan manusia. Seharusnya Dia boleh tidak perlu makan, tidak perlu minum, tetapi Dia sama dengan manusia, bisa lapar, bisa haus. Dia, Allah yang begitu mulia, telah ditaruh di dalam satu “bejana tanah liat”.

Tuhan kita di dunia pasti lebih berlelah daripada orang lain. Pernah sekali Tuhan berkata kepada orang Yahudi, “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita. Lalu kata para pemuka Yahudi itu kepada-Nya: ‘Umur-Mu belum lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?’” (Yoh. 8:56-57). Tahukah Anda, apa arti perkataan orang Yahudi itu? Mereka sengaja mengecilkan usia Tuhan Yesus. Kita percaya apa yang dikatakan Yesaya 52 dan 53, “Begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi.” “Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.” Saat itu Tuhan memang berumur 30-an. Tetapi orang Yahudi sengaja mengatakan umur-Nya lebih kecil, dengan mengatakan bahwa ia belum mencapai umur lima puluh tahun; karena dari penampilan lahiriah-Nya, boleh dikatakan rupa Tuhan sudah tua. Dari raut muka-Nya dapat terlihat bahwa Ia benar-benar telah mengalami banyak kerja keras.

Pada satu hari, di padang gurun, orang-orang yang mengikut Tuhan Yesus selain perempuan dan anak-anak, ada empat ribu orang. Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan” (Mrk. 8:2). Orang-orang tidak mempunyai makanan, Tuhan juga tidak. Kalau untuk diri-Nya sendiri, Tuhan bisa menyuruh murid-murid membeli sedikit makanan, itu sangatlah benar/ sah. Tetapi yang Tuhan perhatikan bukan diri-Nya mempunyai makanan atau tidak, melainkan semua orang tidak mempunyai makanan. Kalau saat itu Tuhan hanya memperhatikan makanan untuk diri-Nya sendiri, mungkin pada hari raya Pentakosta akan timbul beberapa Ananias dan Safira, yang menyisakan sesuatu untuk diri sendiri. Bagi murid-murid-Nya, Tuhan telah menguduskan diri-Nya sendiri. Hal-hal itu masih merupakan pembatasan bagi tubuh daging-Nya. Betapa lagi penderitaan yang ditanggung-Nya atas pembatasan terhadap kerohanian-Nya.

Begitu juga saudara saudari yang maju di dalam Tuhan. Karena mereka mendapat pengajaran yang lebih dalam, mempunyai pengalaman yang lebih banyak, hati nuraninya lebih kuat, pengenalan terhadap Allah juga lebih jelas, maka banyak perkara yang sebenarnya boleh dengan bebas mereka lakukan (tidak hanya tidak berdosa, bahkan mutlak benar/sah), tetapi karena saudara saudari yang muda, mereka tidak mau melakukannya. Sering kali ketika Anda bersama saudara saudari muda, Anda perlu menerima pembatasan ini. Mungkin Anda karena kelemahan tubuh, perlu lebih banyak istirahat, tetapi karena takut bisa mempengaruhi mereka menjadi malas, lebih baik tidak banyak beristirahat. Malam hari Anda tidak dapat tidur, seharusnya boleh bangun agak lambat sedikit. Tetapi karena khawatir kalau saudara saudari yang lemah, karena keterlambatan Anda, mereka akan kehilangan pembacaan Alkitab dan doa pagi hari, Anda rela menahan sakit dan bangun pagi-pagi. Sebenarnya pencernaan Anda kurang baik, Anda boleh lebih memperhatikan makan dan minum Anda. Tetapi karena takut saudara saudari muda terpengaruh oleh Anda, Anda lebih baik tidak memperhatikan makan atau minum apa. Menguduskan diri sendiri bagi orang lain sedemikian, adalah hal yang sangat penting.

Seorang ibu mempunyai empat anak. Keempat anaknya suka minum minuman keras, bermabuk-mabukan. Pada satu hari, ibu ini memberitahukan hal itu kepada seorang penginjil, dan mohon penginjil itu menasihati anaknya untuk melepaskan kebiasaan bermabuk-mabukan itu. Penginjil itu bertanya kepadanya, “Apakah Anda minum minuman keras?” Si ibu menjawab, “Setiap kali makan, aku minum sedikit, suamiku juga minum sedikit. Tetapi tidak pernah sampai mabuk.” Penginjil itu berkata, “Kalau Anda tidak bisa menghilangkan secangkir minuman keras, janganlah mengharap anak-anak Anda juga bisa menghilangkan secangkir minuman kerasnya.” Ini memperlihatkan kepada kita, orang tua memang hanya mempunyai sedikit kegemaran, tetapi anak-anaknya akan melipatkan kegemaran itu. Sebab itu, orang tua juga harus menerima pembatasan demi anak-anak.

Tuhan menghendaki murid-murid-Nya menjadi kudus, sebab itu Ia menguduskan diri-Nya sendiri. Tuhan telah memberi kita satu teladan, kita harus mengikuti jejak-Nya. Sebenarnya Tuhan tidak perlu terbatasi, tetapi Dia mau menerima pembatasan. Tuhan menghendaki murid-murid-Nya kudus, sebab itu Dia menguduskan diri-Nya sendiri. Tahukah Anda, ketika tinggal bersama murid-murid, Tuhan sangat sengsara, sangat terbatas. Kalau mengatakan letih, Ia lebih daripada murid-murid; kalau mengatakan lapar, Ia lebih lapar daripada murid-murid; kalau membicarakan perlu istirahat, Ia lebih perlu istirahat daripada murid-murid. Tetapi selain seorang diri naik ke gunung untuk berdoa, Dia belum pernah meninggalkan murid-murid. Dia terbatas bagi murid-murid. Sampai akhirnya, murid-murid tidak bisa mengatakan bahwa pada diri-Nya ada suatu kesalahan. Semua murid bisa bersaksi, Dia tidak berdosa. Petrus berkata, “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya” (1 Ptr. 2:22). Petrus adalah orang yang sering tinggal bersama Dia, yang paling tahu maksud hati-Nya. Orang yang sering tinggal bersama-Nya ini bersaksi, Dia tidak ada cacat cela dan tidak ada noda.

Tuhan itu suci. Tetapi karena murid-murid, Ia masih perlu menguduskan diri-Nya. Di tengah-tengah saudara saudari, kita juga perlu demikian. Allah menghendaki kita menjadi terang. Kita harus belajar menerima pembatasan. Kalau tidak, jangan mengharapkan orang lain menjadi kudus. Kita harus karena orang lain menguduskan diri sendiri. Kita tampak jejak kaki Tuhan begitu indah, kita harus mengikuti jejak kaki-Nya.