← Daftar isi Matius (4) · bab 7/20

RAJA SURGAWI DIUJI (3)

IV. OLEH MURID-MURID ORANG FARISI DAN

PARA PENDUKUNG HERODES

Setelah Tuhan Yesus diuji oleh imam-imam kepala dan tua-tua tentang sumber kekuasaan-Nya, murid-murid orang Farisi dan para pendukung Herodes (Herodian) bertanya ke-pada-Nya tentang membayar pajak kepada Kaisar (22:15-22). Orang Herodian adalah orang-orang yang memihak rezim Raja Herodes dan bekerja sama dengan dia dalam menyu-supkan cara hidup orang Yunani dan Romawi ke dalam ke-budayaan orang Yahudi. Biasanya mereka memihak orang Saduki tetapi menentang orang Farisi. Tetapi di sini mereka bergabung dengan orang Farisi untuk menjerat Tuhan Yesus.

Orang Herodian menentang orang-orang Farisi sebab orang Farisi amat kolot, sedangkan orang Herodian modern, berpihak pada orang Saduki yang modern pula dalam pemi-kiran mereka. Namun, pada kesempatan ini orang Herodian dan orang Farisi berkomplot ingin menjebak Tuhan Yesus. Mereka mengharapkan Dia jatuh ke dalam perangkap mereka. Dalam ayat 17 mereka berkata kepada Tuhan, “Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Ini benar-benar pertanyaan yang menjerat. Membayar pajak kepada Kaisar ditentang oleh semua orang Yahudi. Jika Tuhan Yesus mengatakan membayar pajak itu diperbolehkan, Dia akan diserang oleh semua orang Yahudi, yang pemimpinnya adalah orang Farisi. Jika Dia mengatakan hal itu tidak boleh, para pendukung Herodes yang memihak pemerintah Romawi akan mendapat dasar yang kuat untuk menuduh-Nya. Masalah membayar pajak kepada Kaisar bagi orang Yahudi sangat tidak menye-nangkan, bahkan mereka membencinya. Terutama orang-orang Farisi sangat menentangnya. Namun, orang-orang Herodian setuju membayar pajak kepada pemerintahan Roma. Sebab itu, salah satu di antara kedua pihak itu menentang perkara ini, dan yang lain menyetujuinya. Menurut konsepsi mereka, tak peduli bagaimana Tuhan menjawab pertanyaan mereka, Ia akan tetap jatuh ke dalam perangkap mereka.

Namun Tuhan Yesus sangat berhikmat dan mengetahui bagaimana mengatasi setiap orang dan setiap situasi. Dalam ayat 19 Ia berkata, “Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang un-tuk pajak itu.” Kemudian mereka membawakan kepada-Nya satu dinar. Tuhan tidak memperlihatkan mata uang Romawi, tetapi meminta mereka memperlihatkannya kepada-Nya. Karena mereka memiliki satu mata uang Romawi, mereka tertangkap oleh Tuhan. Dengan mempunyai sebuah mata uang Romawi, mereka sudah kalah.

Ayat 20-21 mengatakan, “Lalu Ia bertanya kepada mere-ka, ‘Gambar dan tulisan siapakah ini?’ Jawab mereka, ‘Gam-bar dan tulisan Kaisar.’ Lalu kata Yesus kepada mereka, ‘Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan ke-pada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.’” Memberi kepada Kaisar sesuai dengan apa yang menjadi milik Kaisar berarti membayar pajak kepada Kaisar menurut peraturan pemerintahannya. Membayar ke-pada Allah sesuai dengan apa yang menjadi kepunyaan Allah ialah membayar setengah syikal kepada Allah menurut Keluaran 30:11-16, dan mempersembahkan sepersepuluh dari se-muanya kepada Allah menurut hukum Allah. Orang Yahudi pada waktu itu berada di bawah dua kekuasaan, kekuasaan politik Roma dan kekuasaan rohani Allah. Di Yerusalem ti-dak hanya ada pemerintahan Roma, tetapi juga ada Bait Allah. Itulah sebabnya orang Yahudi harus membayar pajak kepada kedua sistem ini. Karena itu, Tuhan memberi tahu mereka untuk membayar kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah. Jawaban ini mengejutkan orang Farisi dan orang Herodian, dan mereka dikalahkan.

V. OLEH ORANG-ORANG SADUKI

Dalam 22:23-33 kita nampak Tuhan diuji oleh orang-orang Saduki. Orang-orang Saduki adalah orang-orang modern zaman kuno yang tidak percaya akan adanya malaikat atau kebangkitan (Kis. 23:8). Mereka serupa dengan kaum modern dan kritikus kelas tinggi hari ini yang tidak percaya akan Alkitab, malaikat, atau mukjizat. Kaum modern kuno ini datang kepada Tuhan dengan pertanyaan tentang kebang-kitan. Seolah-olah nampaknya mereka amat pandai. Mereka berkata kepada Tuhan tentang seorang perempuan yang telah menikah dengan tujuh orang saudara, dengan pertanyaan, “Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristrikan dia” (ayat 28). Dari pandangan manusiawi ini merupakan sebuah pertanyaan yang sulit. Tidak disangsi-kan lagi bahwa bagi orang Farisi, yaitu kaum fundamentalis, pertanyaan ini sulit dijawab. Namun, Tuhan Yesus memberi orang Saduki jawaban yang tegas.

Ayat 29 mengatakan, “Yesus menjawab mereka, ‘Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!’” Mengerti Kitab Suci adalah satu hal, mengenal kuasa Allah adalah hal yang lain. Kita perlu mengenal keduanya. Kitab Suci di sini mengacu kepada ayat-ayat Perjanjian Lama yang menyinggung perkara kebangkitan, dan kuasa Allah mengacu kepada kuasa kebangkitan. Dalam jawaban-Nya kepada orang Saduki, Tuhan melakukan empat perkara: per-tama, Ia mempersalahkan mereka; kedua, Ia menegur mereka; ketiga, Ia mengajar mereka; dan keempat, Ia membungkam mulut mereka. Ia mempersalahkan mereka dengan berkata bahwa mereka sesat. Setiap orang dari aliran modern adalah sesat. Karena itulah mereka perlu dipersalahkan. Kaum mo-dern hari ini harus dipersalahkan karena mereka menyangkal kebangkitan, malaikat, dan mukjizat. Ketika saya masih mu-da, pengajaran-pengajaran seperti ini tersebar luas di daratan China. Sebagai contoh, kaum modern mengatakan bahwa air Laut Merah tidak terbelah dan orang-orang ketika itu tidak menyeberang melalui tanah yang kering. Mereka mengatakan bahwa air laut menjadi dangkal hanya tertiup oleh angin ken-cang dan ini membuat orang dapat berjalan menyeberang. Ini sungguh-sungguh ajaran setan! Kaum modern kuno justru sama seperti kaum modern hari ini, mengira diri sendiri pandai, tetapi sebenarnya mereka sesat. Karena itu, Tuhan mencela mereka dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengenal Kitab Suci atau kuasa Allah.

Setelah Tuhan mempersalahkan dan menegur orang Saduki, Ia mengajar mereka. Dalam ayat 30 Ia berkata, “Ka-rena pada waktu kebangkitan, mereka tidak kawin dan ti-dak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga.” Ini berarti bahwa dalam kebangkitan tidak akan ada laki-laki atau perempuan. Sebab itu tidak ada perkawinan. Ini akan terjadi oleh kuasa Allah. Mereka yang menyangkal kebangkitan tidak mengenal kuasa Allah.

Untuk membantu orang Saduki mengenal kedalaman fakta yang terkandung dalam firman Alkitab, Tuhan berkata, “Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.” Karena Allah adalah Allah orang hidup dan disebut Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, maka tiga orang yang telah mati ini akan bangkit. Inilah cara Tuhan Yesus menerangkan Kitab Suci — bukan hanya berdasarkan huruf, tetapi juga berdasar-kan hayat dan kuasa yang tersirat di dalamnya.

Saya menghargai cara Tuhan menerangkan Alkitab. Ia berkata bahwa Allah adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Jika tidak ada kebangkitan yang akan datang, maka Allah akan menjadi Allah orang mati. Fakta bahwa Allah adalah Allah orang hidup dan Ia adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, membuktikan bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub akan dibangkitkan. Jika mereka tidak dibangkitkan, bagaimana Allah dapat menjadi Allah orang hidup? Inilah penyingkapan Alkitab secara lurus, jujur, hidup, dan dapat dipercaya. Dengan memberi jawaban yang demikian kepada orang Saduki, Tuhan telah membungkam mulut mereka.

VI. OLEH SEORANG AHLI TAURAT FARISI

Ketika orang Farisi mendengar bahwa Tuhan telah mem-buat orang Saduki bungkam, berundinglah mereka tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Kemudian se-orang di antara mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Tuhan mengenai hukum mana yang terutama da-lam hukum Taurat. Ahli Taurat ialah orang yang ahli dalam hukum Taurat Musa, seorang penafsir profesional hukum Taurat Perjanjian Lama. Tuhan mengatakan bahwa hukum yang terbesar dan terutama ialah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi kita (ayat 37-38). Kemudian Ia melanjutkan, “Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia se-perti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Kedua perintah ini, perintah untuk mengasihi Allah dan perintah untuk me-ngasihi manusia, adalah perkara kasih. Kasih adalah roh dari perintah Allah.

Dalam semua pengujian ini, Tuhan Yesus ditanyai ten-tang empat hal: agama, politik, kepercayaan, dan hukum Taurat. Mengenai agama, Ia ditanyai tentang sumber keku-asaan dalam aktivitas agama. Mengenai politik, Ia ditanyai tentang pembayaran pajak kepada pemerintahan Roma. Me-ngenai kepercayaan, Ia ditanyai tentang kepercayaan dalam kebangkitan. Mengenai hukum Taurat, Ia ditanyai hukum mana yang terbesar di antara hukum Taurat. Mulut orang-orang yang menguji Tuhan Yesus dari empat arah ini terbungkam dan mereka tidak dapat mengatakan apa-apa lagi.

VII. MEMBUNGKAM SEMUA PENGUJI

DENGAN PERTANYAAN ATAS PERTANYAAN

Setelah Tuhan Yesus ditanyai, Ia bertanya kepada orang-orang Farisi. Ayat 41-42 mengatakan, “Ketika orang-orang Fa-risi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, ‘Apa-kah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?’” Dari 21:23—22:46, selama kunjungan terakhir-Nya ke Yerusalem, pusat Yudaisme, Kristus dikelilingi oleh imam-imam kepala, tua-tua, orang-orang Farisi, orang-orang Herodian, dan orang-orang Saduki, juga ahli Taurat, yang berkomplot untuk men-jerat-Nya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memusingkan dan menjebak. Pertama, imam-imam kepala yang mewakili wewenang agama Yahudi, dan tua-tua, yang mewakili wewenang orang Yahudi mengajukan pertanyaan kepada-Nya tentang kuasa-Nya (21:23). Pertanyaan mereka sesuai dengan konsepsi agamawi mereka. Kedua, orang-orang Farisi, kaum fundamentalis, dan orang-orang Herodian yang bergairah dalam politik, mengajukan pertanyaan yang ber-hubungan dengan politik. Ketiga, orang-orang Saduki, kaum modernis, mengajukan pertanyaan kepada-Nya mengenai ke-percayaan dasar. Keempat, seorang ahli Taurat yang meng-anggap dirinya benar, mengajukan pertanyaan kepada-Nya tentang hukum Taurat. Setelah menjawab semua pertanya-an mereka dengan penuh hikmat, Dia mengajukan pertanya-an kepada mereka tentang Kristus. Ini adalah pertanyaan atas segala pertanyaan. Pertanyaan mereka berhubungan dengan agama, politik, kepercayaan, dan hukum Taurat. Pertanyaan-Nya adalah mengenai Kristus, pusat segala se-suatu. Mereka mengetahui agama, politik, kepercayaan, dan hukum Taurat, tetapi mereka tidak memperhatikan Kristus. Karena itu Dia bertanya kepada mereka, “Apakah pendapat-mu tentang Mesias?” Pertanyaan atas segala pertanyaan ini harus dijawab oleh setiap orang.

Hari ini orang-orang mempunyai banyak pertanyaan, tetapi semua pertanyaan mereka dapat digolongkan menjadi empat kategori: agama, politik, kepercayaan, dan hukum Taurat. Sama seperti pada zaman kuno, hari ini pun orang-orang memperhatikan perkara-perkara ini, bukan memper-hatikan Kristus. Mereka sama sekali tidak memiliki kon-sepsi tentang Dia. Tetapi yang Allah perhatikan hanya Kristus, dan yang Kristus perhatikan adalah diri-Nya sendiri. Sebab itu Ia bertanya, “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?” Pertanyaan ini menjamah persona Kristus, yang merupakan sebuah misteri, masalah yang paling sulit dijelaskan dalam alam semesta.

Kristologi adalah pelajaran tentang persona Kristus. Se-jak abad kedua, guru-guru Kristen bertengkar satu dengan yang lain tentang Kristologi. Hari ini peperangan di antara kita dengan kaum penentang pun berhubungan dengan masalah ini. Sebagai contoh, seorang pemimpin di antara kaum penentang mengajarkan bahwa Kristus tidak berada di da-lam kita, melainkan semata-mata diwakili oleh Roh Kudus di dalam kita. Menurut dia, Kristus ada di sebelah kanan Allah di surga tingkat tiga dan Roh Kudus mewakili Dia di dalam kita. Konsepsi ini berhubungan dengan aliran ketri-tunggalan, yang mengatakan bahwa tiga ke-Allahan masing-masing terpisah. Mereka yang mengajarkan bahwa Kristus hanya diwakili oleh Roh Kudus di dalam kita sesungguhnya mempunyai tiga Allah. Dalam lubuk batin banyak orang Kristen fundamental, di bawah kesadaran, mereka mempu-nyai pendapat ini. Akhir-akhir ini, beberapa penentang me-ngatakan bahwa keilahian Kristus berada di dalam kaum beriman, sedangkan keinsanian-Nya berada di surga. Alang-kah mustahilnya! Sekarang ada sejumlah orang, tidak hanya mempunyai tiga Allah, tetapi juga dua Kristus, satu Kristus yang bersifat materi, satu lagi Kristus yang bersifat rohani. Konsepsi yang aneh ini adalah hasil mentalitas yang telah jatuh. Betapa jahatnya memisahkan insani Kristus dengan ilahi-Nya! Hal ini menggambarkan fakta bahwa pertanyaan tentang Kristus masih merupakan pertanyaan atas perta-nyaan hari ini.

Ketika orang-orang Farisi ditanyai pertanyaan ini oleh Tuhan, mereka menjawab bahwa Kristus adalah anak Daud (ayat 42). Memang, menurut Alkitab jawaban ini benar. Kemudian Tuhan berkata, “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Jadi, jika Daud menyebut Dia ‘Tuan’, bagaimana mungkin Ia anak-Nya pula?” (ayat 43-45). Pertanyaan ini berarti bagaimana mungkin seorang kakek buyut menyebut cicitnya, “Tuhan”. Ini adalah sebuah perta-nyaan yang orang-orang Farisi tidak tahu bagaimana men-jawabnya. Kristus adalah Allah; dalam keilahian-Nya Dia adalah Tuhan Daud. Dia juga seorang manusia; dalam ke-insanian-Nya Dia adalah Anak Daud. Orang-orang Farisi ha-nya memiliki separuh pengetahuan Alkitab mengenai persona Kristus, yaitu Dia sebagai Anak Daud berdasarkan keinsanian-Nya. Mereka tidak memiliki separuh yang lain, yaitu Dia sebagai Anak Allah berdasarkan keilahian-Nya. Penyebutan roh dalam ayat 43 menunjukkan bahwa Kristus dapat kita kenal hanya di dalam roh kita melalui wahyu Allah (Ef. 3:5).

Ayat 46 mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang da-pat menjawab-Nya, dan sejak hari itu tidak ada seorang pun yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya.” Pertanyaan dari segala pertanyaan yang diajukan oleh Kristus mengenai persona-Nya yang ajaib, membungkam mulut semua penen-tang-Nya. Orang-orang Farisi telah mempelajari Perjanjian Lama dan mereka telah nampak jelas bahwa Kristus adalah Anak Daud. Tetapi mereka tidak nampak bahwa Kristus pun adalah Anak Allah.

Bahkan mereka yang mengakui Kristus adalah Anak Allah dan Anak Daud berdebat apakah kedua sifat-Nya terpi-sah atau terbaur. Kita tidak seharusnya berdebat mengenai persona Kristus, kita harus berkata, “Haleluya, kita memiliki persona yang mulia dan misterius! Ia begitu ajaib sehingga kita tidak dapat dengan sepenuhnya memahami-Nya.” Per-timbangkanlah Yesaya 9:5: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita; . . . dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai.” Kita memerlukan waktu sampai kekekalan untuk memahami ayat ini. Kristus adalah seorang anak, namun Ia juga disebut Bapa yang ke-kal. Jangan mengira kita mampu memahami Kristus hari ini. Tidak, Ia terlalu ajaib dan terlalu jauh di luar pemahaman kita. Kita bahkan tidak sepenuhnya mengerti diri kita, lebih-lebih Kristus. Tahukah Anda di manakah beradanya roh Anda atau di manakah beradanya jiwa Anda? Dapatkah Anda me-nempatkan hati Anda? Semakin Anda menganalisis diri sen-diri, akan semakin bingung. Selagi saya masih muda, saya me-ngira bahwa saya mengenal diri saya. Tetapi semakin lama saya hidup, saya semakin mengetahui betapa sedikitnya yang saya ketahui. Jika kita tidak mampu memahami diri kita, bagaimana kita mampu dengan sepenuhnya memahami Kristus, perwujudan Allah Tritunggal?

Alangkah ajaib-Nya Kristus itu! Dia adalah Allah juga manusia, Anak Allah juga anak Daud. Selain itu, Ia berada di surga, Ia juga berada di dalam kita. Ia di dalam juga di luar; Ia di atas juga di bawah; Dialah yang terbesar tetapi juga yang terkecil. Oh, Kristus itu segala sesuatu! Kita perlu me-ngetahui-Nya sampai taraf sedemikian. Kemudian kita akan berkata, “Oh, Tuhan Yesus, aku tak habis mengerti Engkau. Tuhan, Engkaulah Sang mustika unik. Jika ada Allah, Allah ini pastilah Engkau. Tuhan, Engkaulah Penyelamat, Penebus, hayat, dan terang.” Hari ini kita harus mengetahui betapa limpahnya dan takkan habisnya Tuhan Yesus sebagai Anak Daud dan Anak Allah. Baik pengalaman maupun pengeta-huan tentang Dia takkan habis. Oleh karena Kristus adalah Sang almuhit, maka kenikmatan akan Dia takkan habis.

Janganlah kalian sampai terseret ke dalam perangkap Iblis dengan memperdebatkan persona Kristus. Mengira bah-wa Anda mengetahui segala sesuatu tentang persona Kristus sudah menunjukkan bahwa Anda telah masuk perangkap. Sekalipun kita bisa mengenal Kristus, kita tidak dapat me-mahami-Nya secara menyeluruh. Kita tahu bahwa Yesus Kristus ialah Anak dan Ia pun disebut Bapa, sebab Alkitab memberi tahu kita demikian. Tetapi kita tidak mampu memahami hal ini. Kita juga mengenal bahwa Kristus ialah Anak Allah, juga Anak Manusia dan Ia memiliki baik sifat ilahi maupun insani dalam satu persona. Jadi, Ia adalah satu persona dengan dua sifat dan dua hayat. Namun, hal ini di luar kemampuan kita untuk memahaminya secara me-nyeluruh. Kita hanya percaya apa yang dikatakan Alkitab, seraya memuji Dia yang begitu ajaib! Kita perlu menyembah Dia, menerima Dia masuk, menikmati Dia, dan mengalami Dia sebagai Yang ajaib.