Daftar isi Matius (4) · Berita Kelima Puluh Delapan · bab 6/20

Berita Kelima Puluh Delapan

RAJA SURGAWI DIUJI (2)

Dalam berita ini kita akan melihat perumpamaan tentang perjamuan kawin yang tercatat dalam Matius 22:1-14. Perumpamaan ini merupakan kelanjutan jawaban Tuhan kepada imam-imam kepala dan tua-tua. Dalam jawaban Tuhan kepada mereka tentang kuasa-Nya, Ia mengatakan tiga perumpamaan: perumpamaan pengalihan hak kesulungan, perumpamaan kebun anggur, dan perumpamaan perjamuan kawin. Perumpamaan pengalihan hak kesulungan menyingkapkan bahwa hak kesulungan yang menjadi milik bangsa Israel telah diambil alih dari Israel dan diberikan kepada gereja. Perumpamaan kebun anggur menunjukkan bahwa Kerajaan Allah akan diambil alih dari Israel dan diberikan kepada gereja. Jadi, kedua perumpamaan ini sejajar satu sama lain. Jika Anda tidak memiliki hak kesulungan, Anda tidak dapat berbagian dalam kerajaan. Melalui hal ini kita tampak bahwa hak kesulungan dan kerajaan berjalan seiring. Kedua perumpamaan yang pertama ini menerangkan Israel di pihak yang negatif, sebab hak kesulungan dan kerajaan, keduanya sudah diambil dari Israel.

Andaikata jawaban Tuhan hanya berhenti sampai di sini, maka tidak akan lengkap; ini hanya menanggulangi pihak yang negatif tanpa hasil yang positif. Ketika kita sampai pada akhir pasal 21, kita paham bahwa masih ada hal lain. Karena itu, setelah kedua perumpamaan yang pertama, Tuhan menambahkan perumpamaan perjamuan kawin sebagai kegenapan jawaban-Nya. Ketika memberikan perumpamaan ini, Ia berbalik dari pihak negatif ke pihak yang positif.

G. Perumpamaan Perjamuan Kawin

1. Seorang Raja Mengadakan Perjamuan Kawin untuk Anaknya

Matius 22:2 mengatakan, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anak-nya.” Perumpamaan kebun anggur dalam pasal 21 mengacu kepada Perjanjian Lama yang di dalamnya terdapat Kerajaan Allah (21:43), sedangkan perumpamaan perjamuan kawin dalam pasal ini mengacu kepada Perjanjian Baru yang di dalamnya terdapat Kerajaan Surga. Raja di sini ialah Allah dan Putranya ialah Kristus.

Dalam perumpamaan sebelumnya (21:33-46) Tuhan menggambarkan bagaimana orang Yahudi yang sebelumnya ada di dalam Kerajaan Allah, akan dihukum, dan bagaimana Kerajaan Allah akan diambil dari mereka dan diberikan kepada umat kerajaan. Dia memerlukan perumpamaan lain untuk menggambarkan bagaimana umat kerajaan, yang ada di dalam Kerajaan Surga, akan ditanggulangi dengan ketat.

Kedua perumpamaan ini menunjukkan bahwa kerajaan adalah perkara yang serius.

Dalam perumpamaan sebelumnya, Perjanjian Lama digambarkan seperti kebun anggur dengan fokusnya terutama pada perkara berjerih lelah di bawah hukum Taurat; dalam perumpamaan ini, Perjanjian Baru digambarkan seperti perjamuan kawin, dengan fokusnya terutama pada perkara kenikmatan di bawah anugerah (kasih karunia). Kebun anggur terutama bukan untuk kenikmatan, melainkan untuk jerih lelah. Namun dalam suatu perjamuan kawin tidak ada jerih lelah, sebaliknya penuh dengan kenikmatan. Tidak ada orang menghadiri perjamuan kawin dengan tujuan untuk bekerja, semua orang hadir untuk kenikmatan. Jadi, perumpamaan kebun anggur menggambarkan berjerih lelah di bawah hukum Taurat dan perumpamaan perjamuan kawin menggambarkan kenikmatan di bawah anugerah. Kita yang di dalam pemulihan Tuhan bukan berjerih lelah di bawah hukum Taurat, melainkan menikmati di bawah anugerah. Alangkah kontras-nya kedua perumpamaan ini! Hari ini kita bukan di bawah hukum Taurat, melainkan di bawah anugerah. Kita bukan berjerih lelah, melainkan menikmati. Inilah prinsip dasar dalam memahami perumpamaan-perumpamaan ini.

2. Raja Berkali-kali Mengutus Hamba-hamba-Nya

Memanggil Mereka untuk Menghadiri

Perjamuan Kawin

Ayat 3 mengatakan, “Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.” Hamba-hamba yang disebutkan dalam ayat ini adalah kelompok pertama rasul-rasul Perjanjian Baru. Ayat 4 melanjutkan, “Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.” Hamba-hamba di sini ialah rasul-rasul yang diutus kemudian oleh Tuhan. Ayat ini mengatakan tentang lembu-lembu dan ternak piaraan, keduanya mengacu kepada Kristus, yang disembelih sehingga umat pilihan Allah dapat menikmati-Nya sebagai suatu perjamuan. Kristus mempunyai banyak aspek bagi kenikmatan kita. Sebagai lembu dan ternak piaran, Ia telah dibunuh dan disiapkan untuk kenikmatan kita. Sekalipun segala sesuatu telah disediakan dan walaupun hamba-hamba telah berkali-kali pergi, orang-orang menolak datang, bahkan menangkap hamba-hamba-Nya, menyiksa mereka, dan membunuh mereka (ayat 5-6).

3. Raja Mengutus Pasukan-Nya untuk Membinasakan Para Pembunuh dan Membakar Kota Mereka

Ayat 7 mengatakan, “Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.” Ini adalah pasukan Romawi di bawah pimpinan Titus yang menghancurkan Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Fakta bahwa pasukan di sini dilukiskan sebagai pasukan raja menunjukkan bahwa semua pasukan di bumi adalah pasukan Tuhan. Sebab itu, pasukan Kerajaan Romawi sebenarnya adalah pasukan Allah. Allah mengutus pasukan Romawi sebagai angkatan perang-Nya untuk menggenapkan tujuan-Nya dalam menghancurkan Yerusalem.

Selama masa peralihan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang lama dan yang baru bertumpang tindih. Dalam perumpamaan kebun anggur, pemilik itu membinasakan penjahat-penjahat sebab mereka menolak, menganiaya, dan membunuh hamba-hambanya. Mereka bahkan membunuh Yesus Kristus, Anak Allah. Perumpamaan perjamuan kawin mengatakan bahwa Allah akan menghancurkan kota itu sebab setelah membunuh Kristus mereka pun membunuh rasul-rasul yang diutus untuk mengundang mereka menghadiri perjamuan kawin. Allah tidak segera membinasakan mereka setelah mereka membunuh Putra Allah. Dengan membunuh Kristus, mereka membantu menyiapkan ternak tambun untuk perjamuan. Tetapi setelah rasul ditolak dan dibunuh, Tuhan mengutus pasukan Romawi di bawah Titus untuk menghancurkan Kota Yerusalem. Titus kejam dan tidak berbelaskasihan, merobohkan Bait Suci, dan membakar kota. Sebagaimana Tuhan Yesus berkata, “Tidak satu pun batu dari Bait Suci tinggal tetap di atas yang lain.” Lagi pula, Titus membunuh sejumlah besar orang Yahudi, khususnya para pemimpin. Inilah penggenapan sepenuhnya akan nubuat Tuhan dalam perumpamaan ini.

4. Raja Mengutus Hamba-Nya ke Persimpangan persimpangan Jalan

Mengundang Orang-orang untuk Menghadiri Perjamuan Kawin

Setelah penghancuran Yerusalem, Allah berpaling dari orang Yahudi kepada dunia kafir. Ayat 8-9 mengatakan, “Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.” Karena orang Yahudi menolak Injil, maka mereka tidak layak menikmati Perjanjian Baru (Kis. 13:46). Sebab itu, pemberitaan perjanjian baru beralih kepada orang kafir (Kis. 13:46; Rm. 11:11). Di sini dunia kafir dilambangkan oleh persimpangan-persimpangan jalan. Selama berabad-abad, pemberitaan Injil di dunia kafir telah berhasil, walaupun ada penentangan dan penolakan.

5. Banyak Orang, yang Jahat Maupun yang Baik, Datang ke Perjamuan Kawin

Ayat 10 mengatakan, “Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.” Karena pemberitaan itu begitu kuat, maka perjamuan kawin itu penuh dengan orang-orang yang dipanggil dan yang diundang.

6. Seorang Dijumpai Tidak Berpakaian Pesta

Ayat 11 mengatakan, “Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.” Seorang yang tidak berpakaian pesta ini pasti adalah seorang yang telah beroleh selamat. Bagaimana dapat seseorang menjawab panggilan Allah, namun belum diselamatkan? Asalkan kita telah menjawab panggilan Allah, kita telah diselamatkan. Dalam ayat 14 Tuhan Yesus mengatakan bahwa banyak yang terpanggil; dan dalam Efesus 4:1 Paulus menunjukkan bahwa kita sebagai orang-orang yang telah beroleh selamat adalah orang-orang yang terpanggil. Kita telah dipanggil untuk diselamatkan. Sekalipun orang dalam ayat 11 adalah yang dipanggil dan diselamatkan, namun ia masih belum mengenakan pakaian pesta.

Pakaian pesta ini dilambangkan dengan pakaian bersulam dalam Mazmur 45:15 dan dilambangkan dengan kain lenan halus dalam Wahyu 19:8. Inilah kebenaran yang unggul dari kaum beriman pemenang dalam Matius 5:20. Orang yang tidak berpakaian pesta itu sudah beroleh selamat, karena ia sudah datang ke perjamuan kawin. Dia telah menerima Kristus sebagai kebenarannya sehingga dia dapat dibenarkan di hadapan Allah (1 Kor. 1:30; Rm. 3:26), tetapi dia tidak memperhidupkan Kristus sebagai kebenaran subjektifnya (Flp. 3:9), dia tidak dapat berbagian dalam kenikmatan atas Kerajaan Surga. Dia telah dipanggil kepada keselamatan, tetapi dia belum dipilih untuk menikmati Kerajaan Surga, yang hanya diberikan kepada kaum beriman pemenang.

Pakaian pesta melambangkan bahwa kita bersyarat berbagian dalam perjamuan kawin. Perjanjian baru menyinggung hal ini paling tidak dua kali, dalam Matius 22 dan dalam Wahyu 19. Menurut Wahyu 19, mereka yang diundang ke perjamuan kawin berpakaian lenan halus putih. Lenan halus putih dalam Wahyu 19 ialah pakaian pesta dalam Matius 22. Lenan halus putih melambangkan kebenaran yang unggul. Matius 5:20 mengatakan, “Aku berkata kepadamu: Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Tl.). Kebenaran yang lebih inilah yang membuat kita bersyarat untuk berbagian dalam manifestasi kerajaan pada zaman yang akan datang yang dilambangkan dalam Mazmur 45, di mana kita diberi tahu bahwa raja mempunyai dua jubah. Kita, kaum beriman juga harus mempunyai dua jubah. Kita semua telah memiliki jubah yang pertama, jubah yang membuat kita bersyarat untuk diselamatkan. Jubah ini ialah Kristus yang objektif yang kita terima sebagai kebenaran kita di hadapan Allah. Di dalam Kristus yang adalah kebenaran kita, kita dibenarkan dan diselamatkan. Tetapi setelah menerima Kistus kita perlu memperhidupkan-Nya. Kita perlu hidup oleh Kristus sehingga Kristus dapat menjadi kebenaran kita yang subjektif. Kebenaran yang subjektif ini diperhidupkan Kristus melalui kita dalam kehidupan kita tiap hari, adalah lenan halus putih, jubah yang kedua, pakaian pesta yang menyebabkan kita bersyarat berbagian dalam perjamuan kawin.

Dalam perumpamaan kebun anggur, Tuhan bertindak ketat terhadap hamba-hamba-Nya dengan menuntut mereka berjerih lelah mencapai standar tertentu. Kita perlu membuang pikiran yang menganggap bahwa karena kita berada di bawah anugerah Tuhan, maka Tuhan tidak akan bertindak ketat terhadap kita. Banyak orang yang salah paham terhadap Tuhan dan menyalahgunakan anugerah-Nya. Kebanyakan orang Kristen mengira bahwa Tuhan tidak ketat terhadap kita dan asalkan kita memiliki anugerah-Nya, segala sesuatu akan beres. Namun sebenarnya Tuhan bertindak lebih ketat terhadap mereka yang berada di bawah anugerah. Perumpamaan kebun anggur dan perumpamaan perjamuan kawin mewahyukan betapa ketatnya Tuhan terhadap umat-Nya, baik orang Yahudi yang di bawah hukum Taurat maupun kaum beriman yang berada di bawah anugerah. Jangan mengira karena kita telah diundang ke perjamuan kawin, kita dapat berlaku ceroboh. Sebaliknya, Tuhan akan masuk ke dalam perjamuan dan mengeluarkan Anda yang tidak berpakaian pesta, pakaian kedua. Tidak salah, Anda telah menerima Kristus sebagai kebenaran Anda untuk dibenarkan di depan Allah. Tetapi apakah Anda hidup oleh Kristus? Apakah Dia itu kebenaran Anda yang subjektif?

Persyaratan untuk jubah yang kedua itu ketat, lebih daripada masalah menaati beberapa perintah atau peraturan. Sebaliknya, dari hari ke hari kita perlu hidup oleh Kristus dan memperhidupkan Kristus. Ini bukan masalah perbuatan, melainkan kehidupan kita, dengan siapa dan bagaimana kita hidup. Perkara-perkara kecil dalam kehidupan sehari-hari kita menyingkapkan apakah kita hidup oleh Kristus atau tidak. Mudah sekali kita memahami ajaran yang mengatakan bahwa kita telah disalibkan beserta Kristus sehingga bukan lagi kita sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Tetapi apakah kita mengalami hal ini sebagai realitas dalam kehidupan kita sehari-hari? Bila kita ceroboh dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak hidup oleh Kristus. Jika kita hidup dengan kendur dan sembarangan, kita bukan orang yang berpakaian pesta.

Tidak ada lagi masalah mengenai keselamatan kita, sebab kita telah dipanggil dan dibenarkan. Tetapi bagaimana situasi Anda di hadapan takhta penghakiman Kristus? Apakah Anda bersyarat masuk ke perjamuan kawin? Jika Anda percaya bagian Injil yang pertama, Anda pun harus percaya bagian yang kedua. Betapa kita perlu menengadah kepada Tuhan untuk belas kasihan-Nya! Kita perlu berdoa: “Tuhan, belas kasihanilah aku. Aku telah menerima Engkau Tuhan, tetapi aku perlu anugerah yang lebih banyak untuk hidup oleh-Mu. Tuhan, Engkau adalah Juruselamatku, aku tahu bahwa aku selamat selama-lamanya. Tetapi aku memerlukan anugerah-Mu agar aku dapat hidup oleh-Mu sebagai hayatku.” Kita perlu berbicara berdasarkan Kristus dan bahkan kemarahan kita pun harus menurut Kristus. Ketika kita mau marah-marah, kita harus mempertimbangkan apakah kita marah-marah berdasarkan Kristus. Jika kita berlaku demikian, kita akan menempuh kehidupan orang Kristen yang tepat berdasarkan Kristus.

Pakaian yang kedua telah diabaikan oleh orang Kristen hari ini. Martin Luther membantu kita mengetahui pakaian yang pertama, Kristus sebagai kebenaran bagi kita untuk dibenarkan oleh Allah. Kebenaran ini telah dipulihkan lebih dari empat ratus tahun yang lalu. Tetapi dalam pemulihan Tuhan hari ini kita sampai pada pakaian yang kedua. Kita memerlukan kebenaran yang objektif dan subjektif. Ini suatu perkara yang penting dalam Injil Matius, sebab ini merupakan persyaratan kerajaan.

7. Orang yang Tanpa Pakaian Pesta Dicampakkan ke Dalam Kegelapan

Ayat 12-13 mengatakan, “Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Hamba-hamba yang disebutkan dalam ayat 13 pasti adalah malaikat-malaikat (13:41, 49). Dicampakkan ke dalam kegelapan, di luar, kegelapan yang paling gelap, bukan berarti binasa, melainkan ditanggulangi berdasarkan zaman, tidak diizinkan berbagian dalam kenikmatan atas kerajaan selama seribu tahun, karena tidak menempuh hidup yang menang berdasarkan Kristus. Pada masa itu, kaum beriman pemenang akan beserta Kristus dalam kemuliaan kerajaan yang terang (Kol. 3:4), sedangkan kaum beriman yang kalah akan menderita pendisiplinan dalam kegelapan yang di luar.

Karena orang yang tidak berpakaian pesta akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling dalam, banyak guru Kristen mengatakan bahwa orang itu adalah orang beriman palsu. Tetapi bagaimana orang beriman palsu dapat diizinkan masuk ke dalam perjamuan kawin Kristus di angkasa? Banyak guru Kristen mengatakan bahwa orang ini adalah orang yang tidak beriman dengan alasan bahwa orang beriman yang telah selamat tidak akan dihukum dengan dicampakkan ke dalam kegelapan yang di luar. Namun, menurut Injil Matius, kaum beriman dikenakan hukuman khusus, suatu hukuman yang disinggung lebih dari sekali dalam Injil ini. Sangat sedikit orang Kristen yang percaya akan adanya hukuman yang sedemikian bagi orang-orang yang telah selamat. Tetapi lebih dari empat puluh tahun yang lalu kita telah diajar bahwa kita perlu menjadi pemenang. Mereka yang bukan pemenang akan diasingkan dari kenikmatan kerajaan selama masa seribu tahun dan ada kemungkinan dihukum.

Kita telah tampak bahwa orang yang tanpa pakaian pesta dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap. Perhatikanlah bahwa Tuhan Yesus tidak hanya mengatakan kegelapan, tetapi kegelapan yang paling gelap. Alkitab jelas mengatakan bahwa ketika Tuhan Yesus kembali, Ia akan datang dalam kemuliaan. Sebab itu, akan terdapat suatu lingkungan, suatu wilayah kemuliaan dan semua orang beriman akan terangkat ke sisi-Nya dalam kemuliaan-Nya. Di angkasa, Tuhan akan mendirikan takhta penghakiman-Nya, setelah orang beriman diadili, yang gagal akan dimasukkan dalam kegelapan yang paling gelap. Ini menunjukkan kegelapan yang di luar area kemuliaan Tuhan. Karena itu, Tuhan menggunakan kata “di luar” untuk mengiaskan kegelapan itu.

Dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap bukan untuk menderita kebinasaan kekal. Perjanjian baru mewahyukan bahwa begitu seseorang diselamatkan, ia selamat selama-lamanya dan tidak akan binasa. Namun mereka yang disebut teologi Armenian mengajarkan bahwa seseorang dapat beroleh selamat dan kemudian kehilangan keselamatan lagi. Tetapi hal ini berlawanan dengan Alkitab. Meskipun kita tidak akan kehilangan keselamatan, Allah mungkin menanggulangi kita secara zaman. Pada masa lampau beberapa orang bertengkar dengan saya mengenai hal ini dan berkata, “Bagaimana bisa seseorang yang telah dibasuh dengan darah dan ditebus, masih dihukum oleh Allah?” Jawab saya, “Setelah Anda dibasuh oleh darah Tuhan dan ditebus, tidakkah Anda mengalami penghajaran Allah karena perbuatan Anda yang salah? Tidakkah Allah menghukum Anda?” Mengetahui bahwa Allah akan menghajar mereka yang berdosa setelah mereka diselamatkan, membuat mereka diam seribu bahasa. Yang lain mendebat bahwa Allah hanya menghajar kita pada zaman ini, ketika kita berada dalam daging; setelah Tuhan kembali dan kita terangkat, mereka mengira tidak akan ada masalah. Untuk ini saya berkata, “Janganlah berpegang pada konsepsi ini. Janganlah mengira tidak akan ada masalah setelah kebangkitan dan keterangkatan. Setelah orang berdosa meninggal dan dibangkitkan, mereka akan dibawa ke takhta putih untuk dihakimi. Ini membuktikan bahwa kebangkitan tidak memecahkan semua masalah. Janganlah mengira bahwa kematian dan kebangkitan akan secara otomatis menyelamatkan Anda dari masalah-masalah pada waktu yang akan datang. Allah masih akan menanggulangi Anda setelah kebangkitan Anda. Janganlah tertipu.” Kebanyakan orang Kristen hari ini menolak ajaran tentang hukuman sezaman terhadap kaum beriman. Inilah sebabnya begitu banyak orang kendur dan sembarangan dalam kehidupan mereka setiap hari. Mereka tidak takut terhadap hukuman sezaman Allah, sebaliknya berkata, “Aku telah beroleh selamat, darah telah membasuhku. Jika aku berbuat salah, Tuhan akan mengoreksiku sedikit. Tetapi tidak akan ada masalah bagiku pada masa yang akan datang.” Alangkah kelirunya bila Anda berpegang pada konsepsi yang begitu berlawanan dengan firman Allah yang murni! Ketika kita kembali kepada firman yang murni, kita akan tampak bahwa hadir di perjamuan kawin tanpa pakaian pesta adalah perkara yang serius.

Kita perlu membaca Kitab Matius dengan pikiran yang jernih dan mempertimbangkan pengajarannya secara serius. Sekalipun kitab ini telah terkubur selama berabad-abad, Tuhan telah membukakannya bagi kita. Ada sebagian orang mungkin mendebat bahwa kita belum cukup mengenal kasih Allah dan bahwa kita menampilkan Allah sebagai tokoh yang terlalu keras dan bengis. Tetapi jika Allah mengasihi menurut konsepsi mereka, bagaimana Ia dapat mengutus pasukan untuk menghancurkan Kota Yerusalem? Dalam Roma 11 Paulus berkata bahwa Allah itu baik, tetapi juga serius dan kita perlu serius terhadap Dia. Ketika Allah itu baik, Ia betul-betul baik; dan ketika Ia serius, Ia pun sangat serius. Allah pernah serius terhadap orang Yahudi dan Ia pun akan serius terhadap kita.

Hari ini banyak sekali ajaran yang dilapisi gula dalam agama Kristen. Beberapa pemberita tidak berani mengajarkan apa yang pernah mereka tampak dalam Alkitab, sebab mereka khawatir kehilangan pendengar mereka atau menyakiti hati orang lain. Sebab itu mereka melapisi banyak ajaran mereka dengan gula. Tetapi kita harus menghapus lapisan-lapisan gula, dan kembali ke firman yang murni untuk tampak apa yang Tuhan katakan. Kita perlu firman yang jelas yang terdapat dalam Injil Matius. Ingatlah, pada suatu hari Anda akan diuji untuk dilihat apakah Anda berpakaian yang kedua yaitu lenan halus putih, kebenaran yang lebih unggul. Kiranya Tuhan membelaskasihani kita untuk hal ini!

Beban saya dalam berita ini bukan untuk menakut-nakuti Anda, melainkan untuk membuka firman murni dan memberi Anda obat yang tepat yang tidak berlapis gula. Kita semua bertanggung jawab untuk membaca firman Tuhan dan mempertimbangkannya dengan saksama. Perumpamaan Tuhan dalam 22:1-14 sangat bermakna. Segala sesuatu yang diberikan dalam perumpamaan sangat penting. Tuhan tidak akan memberi perumpamaan ini jika apa yang terkandung di dalamnya tidak bermakna.

8. Banyak yang Dipanggil, tetapi Sedikit yang Dipilih

Dalam ayat 14 Tuhan menyimpulkan: “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Dipanggil adalah menerima keselamatan (Rm. 1:7; 1 Kor. 1:2; Ef. 4:1), sedangkan dipilih adalah menerima pahala. Semua orang beriman telah dipanggil, tetapi sedikit yang akan dipilih untuk menerima pahala. Para pemenang, kaum yang terpilih, akan menerima pahala dan bersyarat untuk berbagian dalam perjamuan kawin Anak Domba.