RAJA SURGAWI DIUJI (1)
I. DALAM MINGGU TERAKHIR
HIDUP-NYA DI BUMI
Peristiwa dalam pasal 21 terjadi selama minggu terakhir hidup Tuhan di bumi (Yoh. 12:1). Pada periode waktu ini Ia rela menyerahkan diri-Nya kepada umat Israel untuk pengujian menyeluruh.
II. SEBAGAI ANAK DOMBA PASKAH,
DIPERIKSA SEBELUM PASKAH
Kita telah nampak bahwa pada saat-saat terakhir Tuhan Yesus datang ke Yerusalem, Ia datang bukan untuk bekerja, melainkan untuk menyerahkan diri-Nya kepada mereka yang akan menyembelih-Nya. Dalam 21:23—22:46 Tuhan diuji dan diperiksa. Menurut Keluaran 12, Anak Domba Paskah wajib diperiksa empat hari penuh. Dalam kalender orang Yahudi empat hari dapat pula dianggap enam hari, sebab sebagian dari satu hari dihitung sebagai satu hari penuh. Sebab itu Matius mengatakan bahwa Kristus naik ke Gunung Perubahan setelah enam hari, tetapi Lukas mengatakan bahwa Ia melakukannya setelah delapan hari (Mat. 17:1; Luk. 9:28). Selama minggu terakhir dalam hidup-Nya, Kristus diperiksa selama enam hari. Kemudian Ia disalibkan pada hari Paskah. Ini menunjukkan bahwa Dialah Anak Domba Paskah yang sejati, sedangkan anak domba dalam Keluaran 12 hanyalah suatu lambang.
III. OLEH IMAM KEPALA DAN TUA-TUA UMAT
A. Bertanya Kepada-Nya tentang Sumber Kekuasaan-Nya
Pertama-tama Tuhan diperiksa oleh imam-imam kepala dan tua-tua. Matius 21:23 mengatakan, “Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya, ‘Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?’” Imam-imam kepala mewakili penguasa agama dan tua-tua umat me-wakili penguasa sipil. Kedua penguasa ini datang bersama untuk menguji Kristus yang berdiri di hadapan mereka se-bagai Anak Domba Paskah yang diperiksa oleh umat Israel. Para pemimpin orang Yahudi bertanya kepada Tuhan, dari mana ia menerima kekuasaan-Nya dan siapa yang membe-rikannya kepada Dia. Tuhan Yesus menjawab mereka tidak secara langsung, tetapi dengan pertanyaan lain.
B. Kristus Bertanya Kepada Mereka tentang Yohanes Pembaptis
Dalam ayat 24 kita nampak jawaban Tuhan, “Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?” Ini merupakan sebuah pertanyaan yang sulit bagi imam-imam kepala dan tua-tua untuk mereka jawab. Jika mereka berkata bahwa Yohanes pembaptis itu dari surga, Tuhan akan bertanya kepada mereka mengapa mereka tidak percaya kepadanya. Tetapi karena mereka takut banyak orang yang menganggap Yohanes sebagai nabi, mereka tidak berani mengatakan bahwa ia berasal dari manusia.
C. Imam-imam Kepala dan Penatua
Berbohong Kepada-Nya
Imam-imam kepala dan tua-tua berkata kepada Tuhan Yesus bahwa mereka tidak tahu apakah Yohanes Pembaptis datang dari surga atau dari manusia (ayat 27). Jawaban mereka adalah bohong. Anak kecil sering kali berbohong dengan mengatakan tidak tahu. Ini jalan yang paling baik bagi mereka untuk menghindari tuduhan. Anak kecil tidak di-suruh berbohong sedemikian, mereka melakukannya secara alamiah. Sebab itu imam-imam kepala dan tua-tua berlaku seperti anak kecil yang berbohong dengan mengatakan bahwa mereka tidak tahu.
D. Tuhan Menjawab Mereka, Menyingkapkan Kebohongan Mereka, dan Menghindari Pertanyaan Mereka
Ayat 27 mengatakan, “Jika demikian, Aku juga tidak me-ngatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” Ini menunjukkan bahwa Tuhan tahu para pe-mimpin Yahudi tidak mau mengatakan kepada-Nya apa yang mereka ketahui; karena itu, dia juga tidak mau mengata-kan kepada mereka apa yang mereka tanyakan. Mereka berdusta kepada Tuhan dengan mengatakan, “Kami tidak tahu.” Tetapi Tuhan mengatakan yang sesungguhnya dengan bijaksana kepada mereka, menyingkapkan dusta mereka dan menghindar dari pertanyaan mereka. Dengan demikian, Tuhan Yesus melalui ujian yang pertama tanpa cela.
E. Perumpamaan Dua Orang Anak
Setelah Tuhan Yesus menghadapi imam-imam kepala dan tua-tua secara berhikmat, Ia memberi mereka perumpama-an tentang seorang yang mempunyai dua orang anak (ayat 28-32). Orang itu memberi tahu anak yang pertama agar bekerja di kebun anggur. Pada mulanya anak itu menolak, tetapi kemudian ia menyesalinya dan pergi. Orang itu memberi tahu anak yang kedua untuk melakukan hal yang sama. Te-tapi setelah mengatakan bahwa ia mau, akhirnya ia tidak pergi. Lalu Tuhan Yesus bertanya kepada para pendengar-Nya, mana di antara kedua orang itu yang melakukan kehen-dak Bapa mereka. Ketika mereka mengatakan yang pertama, Tuhan berkata kepada mereka “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-pe-rempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (ayat 31).
Dalam Lukas 15:1-2, 11-32, Tuhan mengibaratkan para pemimpin agama Yahudi sebagai anak sulung, dan para pe-mungut cukai dan orang berdosa sebagai anak kedua; tetapi di sini Tuhan mengibaratkan mereka secara berkebalikan. Ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi adalah anak sulung Allah (Kel. 4:22), dan memiliki hak kesulungan. Na-mun, karena ketidakpercayaan mereka, hak kesulungan itu dialihkan kepada gereja, yang telah menjadi anak sulung Allah (Ibr. 12:23). Jadi firman Tuhan di sini menyiratkan pengalihan hak kesulungan. Dalam ekonomi Allah, hak ke-sulungan telah dialihkan dari orang Israel kepada orang-orang lain, orang-orang yang terdiri atas orang berdosa dan pe-mungut cukai yang telah diselamatkan. Ini berarti bahwa hak kesulungan Allah telah dialihkan dari Israel kepada gereja.
Ayat 32 mengatakan, “Sebab Yohanes datang untuk me-nunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak per-caya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan pe-rempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” Tuhan seolah-olah ber-kata, “Kalian imam-imam kepala dan tua-tua adalah anak yang kedua. Nampaknya kalian menaati Allah, tetapi sesungguh-nya kalian murtad. Dalam pandangan Allah, orang berdosa, pemungut cukai, dan perempuan sundal jauh lebih baik daripada kalian, karena mereka menerima jalan kebenaran yang diberitakan oleh Yohanes, sehingga mereka akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, tetapi kalian akan ditutup di luar.” Ini berarti bahwa hak kesulungan telah dialihkan dari Israel kepada orang-orang berdosa yang telah beroleh selamat, ber-tobat, dan diampuni, yang menyusun gereja.
Ayat 32 mengatakan tentang jalan kebenaran. Injil Matius sebagai kitab mengenai kerajaan menekankan perkara kebenaran, karena hayat kerajaan adalah hayat yang memi-liki kebenaran yang ketat, yang harus kita cari (5:20; 6:33).
Yohanes Pembaptis datang dengan kebenaran semacam itu, dan Tuhan Yesus rela dibaptis oleh Yohanes untuk memenuhi kebenaran semacam itu (3:15).
F. Perumpamaan Kebun Anggur
1. Tuan Tanah Membuka Kebun Anggur
dan Menyewakannya kepada Penggarap-penggarap
Dalam ayat 33-46, Tuhan melanjutkan dengan perum-pamaan lain tentang penyerahan Kerajaan Allah. Ayat 33 mengatakan, “Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.” Tuan tanah itu adalah Allah, kebun anggur adalah Kota Yerusalem (Yes. 5:1) dan penggarap-penggarap adalah para pemimpin Israel (21:45).
2. Tuan Tanah Berkali-kali Mengutus Hamba-hamba-Nya untuk Menerima Hasilnya,
tetapi Penggarappenggarap Itu Memukul dan Membunuh Mereka
Ketika tuan tanah mengutus hamba-hamba-Nya kepada penggarap-penggarap untuk menerima hasilnya, penggarap-penggarap itu memukul dan membunuh mereka (ayat 34–46). Hamba-hamba ini ialah nabi-nabi yang diutus oleh Allah (2 Taw. 24:19; 36:15). Pemukulan, pembunuhan, dan pelemparan batu yang disebutkan dalam ayat 35 adalah penganiayaan yang diderita oleh nabi-nabi Perjanjian Lama (Yer. 37:15; Neh. 9:26; 2 Taw. 24:21).
3. Kemudian Tuan Tanah Mengutus Anak-Nya,
tetapi Penggarap-penggarap Melempar-Nya ke Luar dari Kebun Anggur dan Membunuh Dia
Kemudian, tuan tanah mengutus anaknya. Sudah tentu anak ini adalah Kristus. Ketika para penggarap nampak anak itu, mereka berkata, “Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita” (ayat 38). Pernyataan ini menunjukkan bahwa para pemimpin orang Yahudi ingin mempertahankan kedudukan mereka yang sa-lah, iri hati kepada Kristus karena hak-hak yang dimiliki-Nya. Sebab itu, “mereka menangkapnya dan melemparkan-nya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya” (ayat 39). Ini menunjukkan bahwa Kristus dibunuh di luar Kota Yerusalem (Ibr. 13:12).
4. Tuan Tanah Membinasakan Penggarap-penggarap yang Jahat
dan Menyerahkan Kebun Anggur Itu kepada Penggarap-penggarap Lain
Ayat 40-41 mengatakan, “‘Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan pengga-rap-penggarap itu?’ Kata mereka kepada-Nya, ‘Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.’” Ayat 41 tergenapi ketika Titus, Pangeran Roma dan pasuk-annya menghancurkan Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Penggarap lain yang dikatakan dalam ayat ini ialah para rasul.
5. Kristus sebagai Batu Penjuru Ditolak oleh Tukang-tukang Bangunan Yahudi
Dalam ayat 42 Tuhan Yesus berkata, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu ter-jadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Batu di sini ialah Kristus untuk bangunan Allah (Yes. 28:16; Za. 3:9; 1 Ptr. 2:4), dan tukang-tukang bangunan adalah pe-mimpin orang Yahudi, yang tentu sudah menggarap ba-ngunan Allah. Dalam ayat ini Tuhan berkata bahwa batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Kristus bukan hanya batu dasar (Yes. 28:16) dan batu utama (Za. 4:7), tetapi juga batu penjuru.
6. Kerajaan Allah Diambil Alih
dari Orang Yahudi dan Diberikan kepada Gereja
Ayat 43 mengatakan, “Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan di-berikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” Kerajaan Allah sudah ada di antara orang Israel, tetapi Kerajaan Surga hanya sudah dekat (3:2; 4:17). Ini mem-buktikan bahwa Kerajaan Surga berbeda dengan Kerajaan Allah. Dalam ayat ini Tuhan berkata bahwa Kerajaan Allah akan diberikan kepada bangsa lain yaitu gereja.
7. Orang Yahudi Tersandung pada Kristus sehingga Hancur Remuk
Bagian pertama ayat 44 mengatakan, “Siapa saja yang ja-tuh ke atas batu itu, ia akan hancur.” Ini menunjukkan bahwa orang Yahudi telah tersandung pada Kristus sehingga hancur remuk (Yes. 8:15; Rm. 9:32).
8. Kristus sebagai Batu Bangunan Allah Menimpa Bangsa Kafir
Bagian terakhir dari ayat 44 mengatakan, “Siapa saja yang ditimpa batu itu, ia akan remuk.” Ini mengacu kepa-da bangsa-bangsa yang akan dipukul dan dihancurkan Kristus pada saat kedatangan-Nya kembali (Dan. 2:34-35). Bagi ka-um beriman, Kristus adalah batu dasar, yang mereka perca-ya dan sandari (Yes. 28:16); bagi orang Yahudi yang per-caya, Dia adalah batu sandungan (Yes. 8:14; Rm. 9:33); dan bagi bangsa-bangsa, Dia akan menjadi batu yang menghan-curkan.
Pada akhir perumpamaan ini, Tuhan Yesus tidak saja menunjukkan bahwa kerajaan akan diambil alih dari Israel dan diberikan kepada gereja; Ia juga membicarakan pem-bangunan Allah. Jarang sekali orang Kristen hari ini yang mengerti jelas tentang bangunan Allah. Sekalipun Anda mung-kin telah berada dalam agama Kristen bertahun-tahun dan telah mendengar Kristus adalah Anak Allah, Penyelamat, Penebus, dan bahkan hayat Anda, namun boleh jadi Anda belum pernah mendengar bahwa Kristus adalah batu ba-ngunan Allah. Sebagaimana telah saya sebutkan bahwa Ia adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang batu. Para pemimpin Yahudi pasti tercengang mendengar bahwa Kristus adalah batu. Kristus berbicara dengan mereka tentang ke-bun anggur, dengan itu menunjukkan bahwa Ia adalah putra pemilik kebun anggur, dan akhirnya Kristus menyatakan bahwa diri-Nya adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan. Hari ini, hampir-hampir tidak ada orang Kristen berkonsepsi bahwa Penyelamat kita adalah batu bagi bangunan Allah.
Dalam Kisah Para Rasul 4:10-11, Petrus menerangkan bahwa Yesus Kristus orang Nazaret adalah batu yang dibu-ang oleh tukang-tukang bangunan. Kemudian dalam ayat 12 ia berkata “Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Orang Kristen sering menggunakan Kisah Para Rasul 4:12 dalam memberitakan Injil, tetapi jarang sekali mereka memberi tahu orang bahwa Kristus bukan hanya Juruselamat, tetapi juga batu. Juruselamat kita itu adalah batu, ini mewahyukan fakta bahwa penyela-matan Allah adalah untuk pembangunan Allah. Penyelamat berhubungan dengan keselamatan, dan batu berhubungan dengan pembangunan. Tetapi orang Kristen hari ini belum nampak perkara ini secara memadai. Maksud hati Allah di bumi tidak hanya ingin mempunyai kebun anggur, tetapi juga suatu bangunan. Pada zaman dahulu bangsa Israel ialah kebun anggur; namun hari ini gereja bukan hanya kebun anggur, tetapi juga suatu bangunan. Gereja ialah ladang yang menghasilkan bahan-bahan untuk pembangunan Allah (1 Kor. 3:9). Apa pun yang ditumbuhkan ladang ini adalah untuk pembangunan. Sekalipun perkara ini telah hilang di antara orang Yahudi dan orang Kristen, terang itu telah da-tang kepada kita pada masa-masa akhir ini, sehingga fakta ini dapat dipulihkan. Kita telah mengetahui bahwa Kristus bukan hanya Penyelamat, tetapi juga batu.
Dalam Pelajaran-Hayat Surat Wahyu, kita telah nampak bahwa Kristus adalah Singa-Anak Domba. Ia adalah Singa untuk kemenangan, Anak Domba untuk penebusan, dan batu untuk pembangunan. Dalam suatu arti, baik orang Yahudi maupun orang-orang Kristen nampak perkara penebusan, namun mereka belum maju untuk nampak pembangunan. Orang Kristen hari ini tidak menyadari bahwa Kristus ada-lah batu. Dalam ayat 42 Tuhan berkata bahwa batu, bukan Penyelamat, yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan. Pada akhirnya, dalam kebangkitan, batu yang dibuang ini menjadi batu penjuru. Hal ini nampak jelas dalam Kisah Para Rasul 4, sebuah pasal yang bersangkutan dengan ke-bangkitan Kristus.
Batu penjuru ialah batu yang mengikat dinding yang satu dengan dinding lainnya. Sebagai batu penjuru, Kristus menghubungkan orang Yahudi dengan orang kafir. Melalui Kristus sebagai batu penjuru, orang beriman Yahudi dan orang beriman kafir disatukan sebagai satu bangunan bagi Allah. Sebab itu Kristus tidak hanya sebagai batu dasar untuk me-nopang bangunan, tetapi juga batu penjuru untuk menghu-bungkan kedua dinding utama.
Dalam ayat 44 kita nampak Kristus bukan hanya batu bangunan, tetapi juga batu sandungan. Siapa saja yang di-timpa oleh batu ini akan hancur. Dalam Roma 9:32 Paulus berkata bahwa orang Yahudi “tersandung pada batu san-dungan”. Orang Yahudi yang membuang Tuhan Yesus telah ditimpa oleh batu ini dan hancur remuk.
Dalam ayat 44 Tuhan juga berkata bahwa siapa yang ditimpa batu itu, ia akan remuk. Sebab itu Tuhan juga ada-lah batu yang memukul dan menghancurkan bagi orang kafir. Daniel 2:34-35 mengatakan, “Sementara tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan ma-nusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk. Maka dengan sekaligus diremukkannyalah juga besi, tanah liat, tembaga, perak dan emas itu, dan semuanya menjadi seperti sekam di tempat pengirikan pada musim panas.” Ayat-ayat ini menun-jukkan bahwa ketika Kristus datang untuk kali kedua, Ia akan menjadi batu yang tanpa perbuatan tangan manusia jatuh dari surga menimpa patung yang besar. Daniel 2:35 mengatakan pula, “Tetapi batu yang menimpa patung itu men-jadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.” Patung besar melambangkan kekuasaan duniawi dari Babilon turun kepada kesepuluh kerajaan dari Kerajaan Roma yang terpu-lihkan, yang akan terwujud pada masa kedatangan Kristus kembali. Kristus akan menjadi batu yang memukul, yang akan menghancurkan semua bangsa sehingga remuk seperti sekam. Kemudian ia akan menjadi gunung besar, yakni Ke-rajaan Allah di bumi.
Sebab itu, Kristus merupakan batu bagi tiga kategori orang: bagi orang beriman, Dia itu batu bangunan; bagi orang Yahudi yang menolak, Dia itu batu sandungan; dan bagi orang kafir, Dia itu batu yang menghancurkan. Jika Anda percaya di dalam-Nya, Ia akan menjadi batu bangunan bagi Anda. Jika Anda seorang Yahudi dan menolak Dia dan tersan-dung oleh-Nya, Anda akan mengalami Dia sebagai batu yang menyandung dan menghancurkan Anda berkeping-keping. Jika Anda seorang kafir yang tidak mau percaya dan yang melawan Allah, pada suatu hari Anda akan mengenal-Nya se-bagai batu yang memukul, sebab Ia akan memukul Anda dan menghancurkan Anda seperti sekam yang ditiup oleh angin.
Sebagai seorang beriman, Kristus bagi Anda adalah batu bangunan. Tetapi secara riil, berapa banyak pembangunan yang telah Anda alami? Sekalipun kita, kaum beriman, dan walaupun Kristus merupakan batu bangunan, mungkin kita tidak banyak mengalami pembangunan. Beberapa orang ber-iman yang sejati tersandung pada Kristus. Di satu pihak, mereka percaya kepada Kristus, tetapi di pihak lain, mereka mengatakan bahwa mereka tidak dapat menempuh jalan Kristus, dan menggelengkan kepala terhadap Dia. Dengan kata lain, mereka tersandung pada-Nya. Sebab itu mereka bukan dibangunkan oleh Kristus, melainkan tersandung oleh-Nya. Di samping itu, beberapa orang beriman sejati telah di-pukul oleh Kristus dan ditiup berserakan seperti sekam. Jarang sekali kita temukan orang beriman sejati yang benar-benar dibangunkan bersama. Pembangunan semacam ini tidak da-pat kita jumpai dalam “agama Kristen” hari ini. Jika Anda mencarinya dalam kekristenan tertentu, Anda akan menjumpai hal-hal yang membencikan dan hal-hal percabulan, bukan pembangunan. Pembangunan juga tidak dapat kita jumpai dalam denominasi. Sebaliknya, dalam dunia kekristenan hari ini penuh dengan ketersandungan dan kehancuran. Memang banyak orang telah dibawa kepada Tuhan dalam agama Kristen dan denominasi. Tetapi setelah mereka dibawa kepada Tuhan, mereka rusak. Mereka tersandung atau terpukul, bukan ter-bangun.
Kita perlu menguji diri sendiri dan bertanya berapa banyak pembangunan yang terdapat di antara kita. Matius adalah satu-satunya di antara keempat penulis Injil yang memberi kita kisah yang jelas tentang Kristus sebagai batu. Kisah-Nya lengkap. Tidak ada bagian dalam Alkitab di mana kita dapat menjumpai Kristus yang ditampilkan sebagai batu dalam tiga aspek: batu bangunan, batu sandungan, dan batu penghancur. Ketiga aspek ini terdapat dalam Injil Matius yang membahas tentang kerajaan.
Gereja ialah denyut jantung kerajaan. Ini berarti sama seperti tubuh mati ketika denyut jantung berhenti, maka kerajaan seluruhnya tergantung pada gereja. Gereja sebaliknya tergantung pada pembangunan. Tanpa pembangunan, tidak akan ada hidup gereja yang riil. Hidup gereja bukan se-mata-mata masalah berhimpun bersama atau ada sedikit persekutuan. Di lokalitas mana pun kita berada, kita perlu di-bangunkan. Untuk ini kita harus menikmati dan mengalami Kristus kita sebagai batu. Ia bukan hanya batu dasar yang menopang kita, tetapi juga batu penjuru yang menyatukan kita. Di dalam Dia dan melalui Dia kita dibangunkan bersama.
Tanpa pembangunan sedemikian, gereja menjadi ko-song; tanpa gereja, kerajaan tidak ada hayat. Gereja adalah hayat kerajaan, realitas gereja adalah pembangunan. Betapa kita perlu mengalami Kristus sebagai batu bangunan! Dialah unsur pembangunan, hayat pembangunan. Kristus menjadi hayat bagi kita tidak hanya untuk kemenangan, lebih-lebih untuk pembangunan. Orang-orang aliran hayat batiniah te-lah banyak sekali membicarakan Kristus adalah hayat ke-menangan. Tetapi saya tidak pernah mendengar satu pun di antara mereka yang memberitakan Kristus adalah hayat pembangunan. Ia bukan hanya hayat kemenangan, tetapi juga hayat pembangunan. Jika Anda hanya mengalami kemenang-an melalui Kristus sebagai hayat, pengalaman Anda belum cukup. Anda harus maju terus untuk mengalami hayat pem-bangunan Kristus. Yang terakhir, Kristus sebagai hayat di dalam kita adalah untuk pembangunan Allah. Anda mungkin menang, tetapi belum terbangunkan. Kita perlu dibangunkan. Jika kita terbangun, kita akan mempunyai realitas hidup gereja dan gereja akan menjadi denyut jantung kerajaan. Kemudian kerajaan akan secara riil ada di sini.
Saya ulangi, kesejatian kerajaan ialah gereja, dan realitas gereja ialah kerajaan. Dengan kata lain, kerajaan tergantung pada gereja dan gereja tergantung pada pembangunan. Kita perlu mempertimbangkan sampai sejauh mana kita mengalami Kristus sebagai batu bangunan. Saya yakin pada hari-hari menjelang kedatangan Tuhan, Ia akan lebih banyak menun-jukkan kepada kita tentang pembangunan. Pembangunan ini amat erat bersangkutan dengan manusia baru. Di satu pihak, manusia baru telah diciptakan, tetapi di pihak lain, ma-nusia baru sedang dibangunkan. Untuk mempunyai manusia baru ini, kita perlu mengalami Kristus sebagai batu bangunan.
9. Pemimpin Yahudi Berusaha Menangkap Raja Surgawi
Setelah pewahyuan yang begitu indah, para pemimpin Yahudi berusaha menangkap Raja surgawi agar dapat mem-bunuh-Nya (ayat 45-46). Ini menunjukkan bahwa mereka sebagai tukang-tukang bangunan, sepenuhnya membuang Kristus yang adalah batu pembangunan Allah.