← Daftar isi Matius (4) · bab 4/20

SAMBUTAN HANGAT BAGI RAJA SURGAWI, PEMBERSIHAN BAIT SUCI, DAN PENGUTUKAN POHON ARA

Dalam berita ini kita akan membicarakan Matius 21:1-22 yang mencakup tiga masalah: sambutan terhadap Raja yang lemah lembut (ayat 1-11); pembersihan Bait Suci (ayat 12-27); dan pengutukan pohon ara (ayat 18-22).

Pasal 16 merupakan titik belok yang sangat menentu-kan dalam Injil Matius. Sebelum pasal ini, Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem beberapa kali. Tetapi dalam pasal 16, Dia mem-bawa murid-murid-Nya ke utara, jauh dari Yerusalem, pusat kota suci, di wilayah Benyamin. Setelah pasal 16, Tuhan lam-bat laun kembali dari utara ke Yerusalem.

Dalam 16:13—23:39, Matius memberi kita kisah jalan setapak ditolaknya Tuhan. Dalam bagian ini kita nampak aktivitas Tuhan di berbagai daerah: sebelum pergi ke Yudea (16:13—18:35); dari Galilea ke Yudea (19:1—20:16); di per-jalanan menuju Yerusalem (20:17—21:11); dan di Yerusalem (21:12—23:39). Sebab itu Matius 21:1 mengatakan, “Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah mendekati Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun.” Mereka memulai perjalanan dari Galilea dalam 19:1. Mereka berada dalam perjalanan dalam 20:17 dan melewati Yerikho dalam 20:29. Kini dalam pasal 21 mereka sampai di Bukit Zaitun, di luar Kota Yerusalem, di dekat kota itu. Pasal ini menandakan permulaan minggu terakhir Tuhan di bumi.

Tuhan dengan sengaja kembali ke Yerusalem bukan untuk melayani, berkhotbah, mengajar, atau melakukan mukjizat, melainkan untuk memberikan diri-Nya sebagai Domba Allah untuk disembelih, untuk disalibkan.

I. SAMBUTAN HANGAT BAGI RAJA

YANG LEMAH LEMBUT

A. Kedatangan Raja yang Lemah Lembut

Menurut keempat Injil, Tuhan Yesus tidak melakukan hal-hal dengan maksud agar Dia mendapat sambutan yang hangat. Sebaliknya, Dia selalu siap menerima penolakan. Tetapi dalam 21:1-11 Dia telah mempersiapkan segala sesuatu untuk disambut dengan hangat.

1. Di Bawah Kedaulatan Tuhan

Penyambutan yang diberikan kepada Tuhan di sini ber-langsung di bawah kedaulatan-Nya. Dalam ayat 2-3, Tuhan berkata kepada kedua murid-Nya: “Pergilah ke desa yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada di dekat-nya. Lepaskanlah kedua keledai itu dan bawalah kepada-Ku. Jikalau ada orang menegur kamu, katakanlah: Tuhan me-merlukannya. Ia akan segera mengembalikannya.” Andaikata saya ada di sana, saya akan berkata, “Tuhan, bagaimana Engkau tahu di sana ada keledai yang tertambat dan anak-nya ada di dekatnya? Dan bagaimana Engkau tahu bahwa orang itu akan mengizinkan kami untuk mengambilnya?” Di sini kita nampak Tuhan yang Mahatahu dan kuasa ke-daulatan-Nya. Dia mau agar murid-murid-Nya mengetahui bahwa Dialah Raja Mahakuasa yang memiliki segala sesu-atu. Jadi, keledai dan anaknya pun adalah milik-Nya. Tuhan menunjukkan kepada mereka bahwa Dia Mahatahu, sebab Dia dapat nampak sesuatu dengan jelas tanpa melihat dengan indra jasmani. Dalam melaksanakan kekuasaan-Nya seba-gai Raja, Tuhan Mahatahu juga berdaulat atas segalanya.

2. Menggenapi Nubuat

Ayat 4-5 mengatakan, “Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui nabi, ‘Katakanlah kepada putri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai betina, dan seekor keledai beban yang muda.’” Cara Raja masuk ke Yerusalem meng-genapkan nubuat Zakharia 9:9. Istilah “putri” Sion dalam 21:5 mengacu kepada orang-orang Yerusalem (Mzm. 137:8; 45:12). Nubuat ini digenapi terhadap mereka.

3. Mengendarai Seekor Keledai Betina dan Seekor Keledai Muda

Ayat 5 mengatakan bahwa Raja datang “mengendarai seekor keledai betina, dan seekor keledai beban yang muda.” Ini melambangkan keadaan yang rendah yang dengan rela diterima dan dijalani oleh Raja kerajaan surgawi. Tuhan tidak memberi tahu murid-murid untuk mencari kereta, melainkan keledai-keledai muda. Dia bahkan tidak memilih menunggang kuda, tetapi seekor keledai muda. Saya telah menghabiskan banyak waktu untuk mencari alasan me-ngapa Tuhan menyebutnya seekor keledai betina dan seekor keledai beban yang muda? Sebenarnya Tuhan Yesus menung-gang keledai betina atau keledai beban yang muda? Mengapa Tuhan memerlukan keledai betina dan anak keledai? Keledai beban yang muda pasti seekor anak keledai. Keledai itu mung-kin induknya, dan keledai beban yang muda adalah anaknya. Baik sang induk dan anaknya bekerja sama untuk menang-gung Sang Raja, sebab Dia menunggang di atas seekor ke-ledai dan seekor keledai beban yang muda. Boleh jadi per-tama-tama, Tuhan mengendarai keledai, kemudian pindah ke anak keledai ketika Dia sudah mendekati kota. Markus dan Lukas hanya menyebutkan anak keledai, bukan keledai (Mrk. 11:1-10; Luk. 19:29-38), sedangkan Yohanes membicarakan seekor keledai muda (Yoh. 12:14-15). Sebab itu, titik berat ke-empat Injil itu nampaknya pada anak keledai muda.

Keledai dan anak keledai, keduanya memberi kita kesan kelemahlembutan dan kerendahan hati. Andaikata Tuhan ha-nya mengendarai keledai, kesan kelemahlembutan tidak akan begitu nyata. Misalkan saja seorang saudari kecil berdiri di depan kita dengan menggendong seorang bayi mungil, ini akan memberi kita kesan “kecil” yang mendalam, karena bayi kecil mungil itu akan memperkuat kesan kecil. Makna Tuhan mengendarai keledai bukan kecil namun lemah lembut. Raja surgawi datang tidak dengan kemuliaan yang megah, tetapi dengan kerendahan hati dan lemah lembut. Kesan ke-lemahlembutan ini diperkuat oleh anak keledai yang menema-ni keledai untuk dikendarai oleh Raja yang lemah lembut.

Tuhan Yesus tidak menunggang kuda masuk Yerusalem de-ngan megah. Dia datang dengan mengendarai keledai kecil, bahkan anak keledai yang kecil. Tidak ada seorang raja du-niawi yang mau berbuat demikian. Tuhan Yesus seolah-olah berkata kepada murid-murid-Nya, “Bawalah keledai dan anak keledai yang kecil. Aku akan mengendarai keledai beban yang muda tetapi anaknya pun harus ikut serta untuk me-nunjukkan kelemahlembutan-Ku. Ini akan membantu orang-orang nampak alangkah lemah lembutnya Raja surgawi ini.”

Tuhan Yesus datang tidak untuk berjuang atau bersaing, melainkan untuk menjadi Raja yang lemah lembut. Keha-diran anak keledai membuktikan bahwa Tuhan tidak ingin berjuang atau bersaing dengan siapa pun. Sebaliknya Dia rendah hati dan lemah lembut. Saya percaya bahwa inilah kesan yang ingin Tuhan Yesus sampaikan kepada orang-orang. Memang, Dia Raja surgawi, tetapi Dia bermaksud datang tidak sebagai Raja besar yang berjuang dan bersaing dengan orang lain. Sebaliknya, Dia datang sebagai Raja yang lemah lembut yang tidak berperang melawan siapa pun atau ber-saing dengan siapa pun.

B. Sambutan Hangat dari Orang Banyak

1. Menghamparkan Pakaiannya di Jalan

Dalam ayat 7 kita nampak bahwa murid-murid meng-alasi keledai itu dengan pakaian mereka, dan ayat 8 menga-takan, “Orang banyak yang sangat besar jumlahnya meng-hamparkan pakaiannya di jalan.” Pakaian melambangkan kebajikan manusia dalam perilaku. Murid-murid meng-hormati Raja yang rendah hati dengan menaruh pakaian mereka pada keledai dan anak keledai untuk ditunggangi oleh-Nya, dan orang banyak menghormati Dia dengan meng-hamparkan pakaian mereka di jalan yang akan dilintasi-Nya. Orang-orang menghormati Tuhan dengan pakaiannya, ber-arti dengan segala sesuatu yang mereka miliki. Tidak peduli betapa miskinnya seseorang, paling tidak ia pasti mempunyai pakaian untuk menutupi dirinya. Kita perlu menghormati Tuhan, Raja yang lemah lembut, dengan apa adanya kita. Tidak peduli bagaimana keadaan kita, kita tentu memiliki se-suatu untuk menghormati Dia. Saya tidak percaya bahwa pakaian-pakaian yang ditaruh di atas keledai dan di jalan itu sangat indah dan bagus. Namun, orang-orang menggunakan apa saja yang mereka miliki. Walau kita ini berdosa, kasihan, dan bahkan jahat, Tuhan dihormati dengan apa adanya kita. Bahkan orang berdosa pun, jika mereka memiliki hati untuk menghormati-Nya, dapat menghormati Tuhan dengan apa ada-nya mereka.

2. Menyebarkan Ranting-ranting di Jalan

Ayat 8 juga mengatakan, “Ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.” Ranting-ranting di sini adalah ranting-ranting pohon palem (Yoh. 12-13), yang melambangkan hayat yang menang (Why. 7:9) dan kepuasan dari menikmati hasil yang kaya dari hayat itu, seperti yang dilambangkan oleh hari raya Pondok Daun (Im. 23:40; Neh. 8:15). Orang banyak itu menggunakan pakaian mereka dan ranting-ranting dari pohon palem untuk menyambut kedatangan Raja yang rendah hati. Pohon palem melambangkan hayat kemenangan, berakar dengan dalam di kedalaman mata air dalam tanah dan pokok pohonnya tumbuh menjulang ke angkasa dengan megah. Ini melambangkan hayat kemenangan. Orang-orang menghormati Raja yang lemah lembut menggunakan apa adanya mereka, mengenal bahwa Dialah satu-satunya persona yang memiliki hayat yang menang.

3. Berseru Hosana bagi Anak Daud

Ayat 9 mengatakan, “Orang banyak yang berjalan di de-pan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, ‘Hosana bagi Anak Daud, terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!’” Kata Ibrani Hosana berarti “selamatkanlah sekarang” (Mzm. 118:25). Gelar “Anak Daud” merupakan sebuah gelar kerajaan bagi Raja yang rendah hati. Dalam penyambutan hangat terha-dap Raja surgawi, orang banyak bersorak-sorak dengan ka-limat kutipan dari Mazmur 118: “Diberkatilah Dia yang da-tang dalam nama Tuhan” (ayat 26). Menurut Mazmur 118, hanya orang yang datang dalam nama Tuhanlah yang ber-syarat dipuji sedemikian. Sebab itu, pujian rakyat secara spontan ini menunjukkan bahwa Raja yang lemah lembut ini datang bukan dalam nama-Nya sendiri, melainkan dalam nama Yehova (TUHAN). Dari pujian orang yang menyambut Sang Raja, jelaslah bagi kita bahwa Dialah persona yang di-utus oleh Allah, yaitu orang yang datang dalam nama Tuhan.

4. Masih Saja Mengenal Dia sebagai Nabi dari Nazaret di Galilea

Ketika Raja surgawi masuk Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu, tetapi orang banyak itu masih saja berkata, “Inilah Nabi Yesus dari Nazaret di Galilea” (ayat 11). Di satu pihak, orang banyak memuji Dia sebagai Anak Daud, Orang yang datang dalam nama Tuhan, di lain pihak ada yang masih saja mengenal Dia secara alamiah sebagai nabi dari kota yang diremehkan.

II. MEMBERSIHKAN BAIT ALLAH

Ayat 12 mengatakan, “Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati.” Ketika Tuhan masuk ke Kota Yerusalem, perkara pertama yang Dia lakukan ialah mem-bersihkan Bait Allah. Setiap raja duniawi, ketika masuk ke ibukota, akan segera naik takhta. Tetapi Tuhan tidak ber-buat demikian, sebab Dia bukan untuk kepentingan-Nya sendiri, melainkan untuk kepentingan Allah. Hati-Nya bukan untuk kerajaan-Nya, melainkan untuk rumah Allah.

Prinsipnya sama dengan hari ini. Ketika kita menyambut Tuhan ke dalam kita sebagai Raja kita, Dia tidak langsung pergi ke takhta, sebaliknya Dia pergi ke roh kita dan mem-bersihkannya. Banyak di antara kita telah mengalami hal ini. Ketika kita menerima Tuhan sebagai hayat, kita pun menerima Dia sebagai Raja. Pada hari Dia masuk ke dalam kita menjadi hayat dan Raja kita, Dia tidak mentakhtakan diri-Nya, tetapi membersihkan Bait Allah, yang hari ini adalah roh kita, tempat kediaman Allah (Ef. 2:22).

A. Membersihkan, Menyembuhkan, dan Memuji

Roh kita harus menjadi rumah doa, tetapi karena telah jatuh, roh kita dijadikan sarang penyamun. Tetapi ketika Yesus masuk ke dalam kita, Dia mengusir semua penyamun dan membersihkan Bait Suci roh kita. Setelah pembersihan, Tuhan menyembuhkan orang buta dan orang timpang dalam Bait Allah (ayat 14). Ini menunjukkan bahwa pembersihan Bait Allah membuat orang mempunyai daya lihat untuk me-lihat dan mempunyai kekuatan untuk bergerak. Sama hal-nya dengan kita hari ini. Ayat 15 mengatakan bahwa anak-anak “berseru dalam Bait Allah: ‘Hosana bagi Anak Daud!’” Paling sedikit beberapa kali Injil Matius menyebutkan anak-anak, sebab kitab ini menekankan bahwa umat kerajaan perlu menjadi serupa anak-anak. Hanya mereka yang men-jadi anak-anak yang akan memuji Allah. Ini terjadi setelah kesembuhan orang buta dan orang lumpuh. Pada saat kebu-taan dan kelumpuhan kita disembuhkan, kita akan memuji Tuhan seperti anak-anak kecil.

B. Umat Agama Tersinggung

Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang keras kepala sangat jengkel, lebih-lebih setelah mereka melihat perbuatan ajaib yang dilakukan oleh Raja yang rendah hati. Kejengkelan mereka disebabkan oleh kesombongan mereka dan iri hati mereka, yang membutakan mereka sehingga mereka tidak nampak visi apa pun tentang Raja surgawi.

C. Raja Surgawi Meninggalkan Yerusalem dan Bermalam di Betania

Ayat 17 mengatakan, “Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ.” Dalam kunjungan terakhir Tuhan ke Yerusalem, Ia menunaikan ministri-Nya hanya pada siang hari; setiap malam Dia pergi bermalam di Betania, di lereng timur Bukit Zaitun (Mrk. 11:19; Luk. 21:37), lokasi rumah Maria, Marta, dan Lazarus, dan ru-mah Simon (Yoh. 11:1; Mat. 26:6). Di Yerusalem Dia ditolak oleh para pemimpin agama Yahudi, tetapi di Betania Dia di-sambut oleh orang-orang yang mengasihi diri-Nya.

Setelah Tuhan Yesus masuk ke dalam kita dan member-sihkan roh kita, mungkin saja kita merasa bahwa Dia me-ninggalkan kita, sama seperti Dia meninggalkan Yerusalem ke Betania setelah membersihkan Bait Allah. Mungkin saja Tuhan masuk ke dalam Anda, membersihkan roh Anda, yakni Bait Allah, kemudian pergi ke tempat lain. Boleh jadi Anda akan berkata, “Ini bukan pengalamanku. Pengalamanku ialah setelah Tuhan Yesus membersihkan rohku, Dia tetap tinggal bersamaku.” Jika ini sungguh-sungguh pengalaman Anda, pastilah Anda salah seorang di antara para pencinta Yesus seperti Maria, Marta, Lazarus, atau Simon. Namun, banyak orang Kristen setelah menerima Kristus ke dalam me-reka dan mengalami pembasuhan-Nya dalam roh mereka, me-reka tidak mencintai-Nya. Sebab itu dalam pengalaman me-reka Tuhan meninggalkan mereka dan bermalam di tempat lain, tempat yang disebut Betania.

Menurut Perjanjian Baru, Betania ialah tempat para pencinta Tuhan. Dalam Perjanjian Baru kita membaca dua rumah di Betania: rumah Maria, Marta, Lazarus, dan rumah Simon si kusta. Semua orang yang terkasih ini adalah pen-cinta Tuhan Yesus. Selama minggu terakhir hidup-Nya di bumi, Tuhan pergi ke Yerusalem setiap hari, tetapi setiap malam Dia keluar dari Yerusalem dan bermalam di Betania. Yerusalem adalah tempat Dia dicobai, diuji, dan disembelih, tetapi Betania ialah tempat penginapan-Nya.

Dalam arti yang jelas, agama hari ini adalah Yerusalem bagi Tuhan Yesus, bukan tempat Dia bermalam. Pencinta Kristus bukan di Yerusalem, melainkan di Betania. Anda di Yerusalem atau di Betania? Kita tidak seharusnya menjadi umat Yerusalem, melainkan pencinta di Betania. Jika Anda di antara umat Yerusalem, Yesus akan datang diuji dan di-cobai oleh Anda. Tetapi jika Anda ada di antara pengikut-Nya di Betania, Dia akan datang bermalam dengan Anda. Jika setelah Tuhan Yesus masuk ke dalam Anda dan membersih-kan roh Anda, Anda masih tidak mencintai-Nya, itu berarti Anda tetap di antara umat di Yerusalem. Anda bukan se-orang di antara para pencinta di Betania. Sekalipun Dia telah membersihkan Bait Allah di Yerusalem, Dia tidak berma-lam di sana. Sebaliknya Dia keluar kota itu, dan bermalam di Betania. Alangkah bermaknanya hal ini!

III. MENGUTUK POHON ARA

A. Kristus Lapar

Ayat 18 mengatakan, “Pada pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar.” Ini menyatakan bahwa Tuhan lapar akan buah dari orang Israel, agar Allah dapat dipuaskan.

B. Pohon Ara — Bangsa Israel — Berdaun, tetapi Tidak Berbuah

Ayat 19 mengatakan, “Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak menemukan apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja.” Sama seperti burung raja-wali adalah simbol Negara Amerika Serikat, pohon ara di sini merupakan simbol bangsa Israel (Yer. 24:2, 5, 8). Pohon ara yang Tuhan lihat penuh dengan daun tetapi tidak ada bu-ahnya; ini melambangkan bahwa pada saat itu bangsa Israel penuh dengan penampilan lahir, tetapi tidak memiliki apa-apa untuk memuaskan Allah. Menurut Alkitab, daun meru-pakan penampilan lahiriah, tetapi buah merupakan sesuatu yang riil dan padat untuk memuaskan Allah dan manusia. Pada saat itu, Tuhan Yesus datang dari Allah kepada Israel dan lapar akan buah-buah untuk memuaskan kelaparan Allah. Namun Dia hanya menemukan daun, bukan buah.

C. Pohon Ara Dikutuk

Ayat 19 juga mengatakan, “Kata-Nya kepada pohon itu, ‘Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya! Seketika itu juga keringlah pohon ara itu.’” Ini melambangkan kutuk atas bangsa Israel. Sejak saat itu, bangsa Israel benar-be-nar kering. Menurut sejarah, pada beberapa hari terakhir Tuhan Yesus di bumi, terdapat kutukan atas bangsa Israel. Sebagaimana kita akan nampak, pohon ara disebutkan lagi dalam pasal 24, yang melambangkan pemulihan Israel. Ini terjadi pada tahun 1948.

Menurut pengalaman kita, kita dapat bersaksi bahwa pertama-tama Raja yang lemah lembut masuk ke dalam kita dan kita menyambut-Nya. Namun Dia masuk bukan untuk bertakhta, melainkan membersihkan bait Allah, sebab Dia memperhatikan rumah Allah. Dia pun memperhatikan kepuasan Allah, dan mendambakan buah-buahan dari umat Allah. Tetapi kebanyakan umat-Nya tidak dapat menyediakan untuk Dia buah apa pun. Sebagai akibatnya, mereka menjadi kering. Banyak di antara kita telah mengalami hal ini. Raja yang lemah lembut masuk ke dalam kita, kita me-nyambut Dia dan Dia membersihkan Bait Allah. Tetapi oleh karena kita tidak berbuah, kita menjadi kering. Anda mungkin berkata, “Bukankah Tuhan penuh belas kasihan dan anugerah (kasih karunia), bagaimana Dia dapat mengu-tuk kita sedemikian?” Namun, jika kita tidak berbuah, kita akan kering.

Kebanyakan orang Kristen hari ini telah menjadi kering. Sekalipun mereka telah menyambut Raja surgawi dan Dia te-lah membersihkan bait mereka, tetapi mereka tidak berbuah untuk kepuasan Allah, karena itu mereka menjadi kering. Ada berapa banyak orang Kristen hari ini yang hidup dan berbuah? Sangat sedikit! Ketika seseorang menjadi kering, maka rohnya tidak berfungsi. Sebab itu tidak ada bait dan tidak ada buah, tidak ada penyembahan yang wajar dan ke-puasan Allah.

Raja yang lemah lembut memperhatikan rumah Allah dan kepuasan Allah. Dia membersihkan kita agar kita dapat memberi penyembahan yang tepat kepada Allah dan Dia menanggulangi kita agar kita dapat berbuah bagi kepuasan Allah. Dalam kehidupan kerajaan yang riil dalam gereja hari ini, Kristus harus disambut sebagai Raja. Kemudian Dia ha-rus membersihkan Bait Allah, yang berarti bahwa Dia harus menguduskan roh kita. Selanjutnya kita sebagai umat ke-rajaan akan berbuah bagi kepuasan Allah. Jika tidak, kita akan dikutuk sampai pada hari pemulihan. Inilah situasi bangsa Israel ketika Tuhan di bumi dan inilah situasi di antara orang Kristen hari ini. Karena bangsa Israel sudah menjadi kering, kerajaan diambil alih dari mereka dan diberikan kepada bangsa lain. Jika roh kita tidak dibersihkan untuk memberi Allah penyembahan yang tepat dan berbuah bagi kepuasaan-Nya, kerajaan juga akan diambil dari kita dan diberikan kepada orang lain.

D. Gunung yang Menghalangi Dipindahkan oleh Doa yang Penuh Iman

Ayat 20-22 menunjukkan bahwa Tuhan mengutuk pohon ara oleh iman. Doa yang penuh iman dapat memindahkan gu-nung yang menghalangi.