← Daftar isi Matius (4) · bab 3/20

TAKHTA KERAJAAN DAN CAWAN SALIB

Setelah Tuhan berbicara tentang permintaan kerajaan dan pahala kerajaan, Ia masih memperhatikan situasi rohani para pengikut-Nya. Sebab itu setelah memberi murid-murid-Nya definisi tentang pahala kerajaan, Ia berkata lagi kepada me-reka tentang penyaliban dan kebangkitan-Nya yang segera akan terjadi. Tuhan pun mengetahui situasi riil kita hari ini. Walaupun mungkin kita tidak berpikir bahwa kita me-merlukan firman yang lebih lanjut, tetapi Tuhan tahu ke-perluan kita.

I. MENGENAL PENYALIBAN DAN

KEBANGKITAN KRISTUS

Dalam Matius 20:17-19 untuk ketiga kalinya Tuhan mewahyukan penyaliban dan kebangkitan-Nya. Yang pertama adalah di Kaisarea Filipi sebelum transfigurasi-Nya (16:13, 21). Yang kedua adalah di Galilea setelah transfigurasi-Nya (17:22). Kali ini dalam perjalanan ke Yerusalem. Wahyu ini adalah suatu nubuat, sama sekali asing bagi konsepsi alamiah murid-murid itu; tetapi tidak lama kemudian akan digenapi secara harfiah dalam setiap rinciannya.

Bagi saya sangatlah janggal bahwa setelah definisi tentang pahala kerajaan, Tuhan sekali lagi mengungkapkan penya-liban dan kebangkitan-Nya. Kelihatannya hal ini tidak ber-arti. Namun jika Anda memasuki kedalaman kitab ini, Anda akan nampak bahwa ini merupakan suatu kelanjutan yang sangat berarti. Untuk menerima pahala kerajaan, kita perlu mengalami penyaliban dan kebangkitan. Sekalipun kita mung-kin mengetahui segala sesuatu tentang kerajaan, kita masih harus mempunyai pengertian yang memadai tentang penya-liban dan kebangkitan Tuhan. Tidak mengalami penyaliban Tuhan dan kebangkitan Tuhan mustahil mengalami hayat Tuhan untuk pahala kerajaan. Dalam Filipi 3 Paulus ber-kata bahwa karena Kristus, ia menganggap semuanya itu sampah. Kemudian ia mengatakan bahwa ia damba untuk me-ngenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya agar ia menjadi serupa dengan Dia dalam kematian Kristus. Paulus mempu-nyai pengertian yang penuh tentang kematian dan kebangkit-an Tuhan. Bagi kita, pemahaman ini adalah untuk mengalami Kristus sebagai hayat bagi kerajaan. Bagi pahala kerajaan, kita perlu mengalami penyaliban dan kebangkitan Tuhan. Ja-di, Matius 20:17-19 merupakan kelanjutan bab yang sebelum-nya.

Sudah tiga kali Tuhan mewahyukan penyaliban dan ke-bangkitan-Nya kepada murid-murid-Nya. Ketika Ia pergi ke Yerusalem, Ia membawa serta kedua belas murid dan mem-beri tahu mereka tentang penyaliban dan kebangkitan-Nya kelak. Tuhan pasti mempunyai tujuan yang khusus dengan berbuat demikian. Ia khusus memberi tahu dua belas murid-Nya bahwa Ia perlu pergi ke Yerusalem, diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli Taurat, dijatuhi hukuman mati, diserahkan kepada orang kafir, diolok-olok, disesah, dan disa-libkan serta dibangkitkan pada hari ketiga. Ia berkata kepada murid-murid-Nya tentang kematian dan kebangkitan-Nya secara rinci.

II. TAKHTA KERAJAAN

Bagaimana reaksi murid-murid terhadap pengungkapan penuh tentang penyaliban dan kebangkitan Tuhan? Mereka tidak mengatakan, “Amin Tuhan. Kali pertama dan kali ke-dua kami belum nampak hal ini. Terima kasih Tuhan, kali ini Tuhan membawa serta kami, khusus memberitahukan hal ini kepada kami. Kini kami memahami bahwa Engkau harus melalui kematian dan kebangkitan. Tidak diragukan lagi bah-wa hal ini juga termasuk kami semua. Pada akhirnya kami pun akan mengalami kematian dan kebangkitan yang sangat indah ini.” Murid-murid tentu tidak bereaksi demikian. Se-baliknya ayat 20-21 mengatakan, “Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, ‘Apa yang kaukehendaki?’ Jawabnya, ‘Be-rilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.’” Ibu anak-anak Zebedeus itu ialah bibi Tuhan, saudara perempuan ibu-Nya, dan anak-anak Zebedeus, Yakobus dan Yohanes ialah saudara sepupu-Nya. Sebab itu, terdapat hubungan alamiah antara mereka dengan Tuhan. Segera setelah Tuhan mengungkapkan ke-matian dan kebangkitan-Nya untuk kali ketiga, ibu Yakobus dan Yohanes datang kepada-Nya memohon agar kedua anaknya boleh duduk di sebelah kanan-Nya dan di sebelah kiri-Nya da-lam kerajaan. Sekalipun Tuhan telah mengatakan tentang pe-nyaliban dan kebangkitan, pikiran mereka masih tertancap pada takhta. Sering kali kita sama seperti Yakobus dan Yohanes. Berkali-kali mereka mendengar tentang penyaliban dan kebangkitan. Tetapi di dalam mereka dan di dalam ibu mereka terdapat kedambaan akan takhta. Inilah ambisi akan kedudukan. Ibu Yakobus dan Yohanes, mungkin berkata ke-pada dirinya sendiri, “Pada suatu hari ketika Tuhan naik takhta, mungkin salah seorang anakku akan duduk di sebe-lah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. Alangkah mulianya hal ini!” Inilah reaksi mereka terhadap firman Tuhan tentang kematian dan kebangkitan-Nya.

III. CAWAN SALIB

Dalam ayat 22-23 Tuhan menjawab, “‘Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?’ Kata mereka kepada-Nya, ‘Kami dapat.’ Yesus berkata kepada mereka, ‘Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.’” Jika kita minta duduk di takhta dalam kerajaan, kita harus siap meminum cawan penderi-taan. Memikul salib adalah jalan untuk masuk ke dalam ke-rajaan (Kis. 14:22). Permintaan egoistis dari ibu Yohanes dan Yakobus memberi Tuhan kesempatan untuk mewahyukan jalan memasuki kerajaan.

Tuhan menjawab ibu Yakobus dan Yohanes, kata-Nya, “tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya”

(ayat 23). Perkataan ini menunjukkan bahwa Tuhan mem-punyai roh penurut. Ia tidak mengukuhi hak atas segala se-suatu, tetapi memberi tempat kepada Bapa. Dengan berdiri pada kedudukan manusia, Tuhan sepenuhnya tunduk kepada Bapa; Dia tidak mempertahankan hak untuk melakukan se-suatu di luar Bapa. Kita semua perlu belajar menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Tidak pada tempatnya kita me-ngatakan sesuatu pun tentang kedudukan.

IV. PERSAINGAN MURID-MURID

SECARA DAGING

Dalam ayat 24 kita nampak persaingan murid-murid secara daging, “Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.” Murid-murid itu ti-dak hanya merasa kesal, bahkan marah, seolah-olah takut tidak ada sesuatu yang tertinggal untuk mereka. Ambisi ke-dua belas murid terhadap kedudukan sudah meluber sehingga tidak ada sesuatu pun tentang kematian dan kebangkitan Tuhan yang menduduki hati mereka. Alangkah kasihannya situasi ini! Jika hal ini terjadi pada pasal 4, kita mungkin bersimpati kepada mereka. Tetapi inilah reaksi mereka se-telah pengumuman konstitusi kerajaan, setelah begitu banyak wahyu tentang Kristus, setelah pengungkapan rahasia kera-jaan dan setelah mengalami banyak faktor negatif pada jalan yang menuju kemuliaan. Setelah semuanya ini, kedua belas murid masih dijenuhi oleh masalah kedudukan. Lukas 22:24 mengatakan bahwa murid-murid sedang memperjuangkan di antara mereka siapa yang akan menjadi yang terbesar. Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, dan murid-murid lainnya berjuang untuk kedudukan.

Matius menyebutkan persaingan antara murid-murid untuk menyingkapkan bahwa ambisi terhadap kedudukan seperti ini masih tersembunyi di dalam kita hari ini, walau-pun kita sudah berada di dalam gereja. Ada sebagian orang yang berambisi menjadi penatua dan diaken. Jika mereka ti-dak dapat menjadi penatua dan diaken, paling tidak mereka berharap dapat menjadi pemimpin kelompok.

V. PELAKSANAAN KEHIDUPAN KERAJAAN

Adakalanya Alkitab kelihatannya kontradiksi sendiri. Sebagai contoh, dalam Matius 23 Tuhan berkata bahwa kita tidak boleh disebut guru. Tetapi dalam Efesus 4 Paulus ber-kata bahwa Kristus memberikan beberapa pengajar. Lagi, Matius 23 mengatakan bahwa di antara kita tidak boleh ada pemimpin. Tetapi dalam surat para rasul dikatakan bahwa ada pemimpin dalam gereja (Ibr. 13:17, 24). Namun sebenar-nya dalam Alkitab tidak ada kontradiksi. Kita perlu nampak bahwa apa yang terdapat dalam pikiran Tuhan sama sekali berbeda dengan apa yang terdapat dalam otak alamiah kita. Dalam pikiran Tuhan, para penatua atau pemimpin tidak boleh mengontrol orang lain. Dalam hidup gereja seharusnya tidak ada pengontrolan apa pun. Tetapi ini tidak berarti bah-wa tidak ada kepengurusan. Mengurus itu suatu hal dan me-ngontrol itu suatu hal yang lain. Semua pemimpin dalam ge-reja wajib mengerti jelas akan hal ini. Dalam gereja Tuhan perlu adanya kepengurusan, tetapi bukan pengontrolan.

Pada butir ini kita perlu membaca 1 Korintus 12:28, “Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mukjizat, untuk menyembuhkan, untuk mela-yani, untuk memimpin dan untuk berkata-kata dalam ber-bagai jenis bahasa lidah.” “Melayani” yang disebutkan dalam ayat ini menunjukkan pelayanan diaken. “Pelayanan” ini di-sebutkan sebelum “memimpin” yang menunjukkan fungsi penatua. Sebab itu, dalam Perjanjian Baru terdapat ayat yang memberi tahu kita bahwa kepemimpinan penatua lebih ren-dah daripada pelayanan diaken. Anda mungkin merasa sangat heran menjumpai fakta ini. Menurut konsepsi alamiah kita, penatua jauh lebih tinggi daripada diaken. Tetapi Rasul Paulus, di bawah wahyu Allah, mengurutkan fungsi penatua setelah fungsi diaken. Dalam ayat ini, Paulus sengaja membalikkan urutan penatua dan diaken, dengan mencantumkan jabatan penatua pada bagian yang terakhir, yakni berbahasa lidah. Ketika Paulus menulis kitab ini di Efesus, Korintus merupakan persemaian aliran Pentakosta. Dalam menuliskan kitab ini, ia sengaja menghapus makna berbahasa lidah dengan mena-ruhnya pada bagian yang terakhir dan mencantumkan fungsi penatua setelah diaken.

Setiap orang yang dimasukkan dalam kepenatuaan men-jadi budak. Penatua-penatua itu bukan raja, mereka adalah budak-budak. Sebagai seorang dalam ministri Tuhan, saya pun budak. Orang lain dapat menikmati kebebasan mereka, te-tapi saya tidak berkebebasan, sebab saya telah dibeli untuk dijadikan budak. Demikian pula, setiap penatua adalah bu-dak. Dalam dunia, berkedudukan berarti mempunyai kemu-liaan. Tetapi dalam gereja, berkedudukan berarti berada dalam perbudakan. Dalam kekristenan tertentu terdapat susunan imam, uskup, uskup agung, kardinal, dan paus, semuanya ini di atas orang awam. Inilah kemuliaan yang kosong. Dalam gereja tidak ada kemuliaan yang kosong itu, sebaliknya terdapat “perbudakan”.

Sangatlah memalukan bila ada orang yang berambisi ter-hadap kedudukan untuk memperoleh kehormatan dan kemu-liaan. Inilah “kalajengking” yang menyusup ke dalam hidup gereja. Andaikata bukan masalah fungsi, saya tidak mau du-duk di kursi deretan depan. Janganlah mengatakan bahwa duduk di depan itu mulia. Saya jauh lebih suka duduk di be-lakang. Namun, jika penatua mulai duduk di deretan be-lakang, dalam pandangan Anda tempat duduk di deretan be-lakang menjadi yang terhormat. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan di mana penatua duduk, baik di depan maupun di belakang, sebab kehormatan tempat duduk mereka hanya terwujud dalam mentalitas kita. Oh, betapa pikiran kita perlu diperbarui! Sebagai insan baru, kita perlu diper-barui dalam roh pikiran dan membuang konsepsi milik me-reka tersebut.

Bertahun-tahun saya bersama Saudara Watchman Nee, saya mengamati bahwa tidak ada seorang pun yang berambisi menjadi penatua, diangkat menjadi penatua. Bagi kehidupan kerajaan, kita harus membunuh ambisi terhadap kedudukan. Membicarakan kedudukan, membicarakan siapa yang lebih tinggi, itu memalukan. Mencari kedudukan dalam hidup gereja bukan suatu kemuliaan, tetapi suatu aib.

Mengenai masalah ambisi akan kedudukan, dua perkara sudah jelas: pertama, dalam 1 Korintus 12:28 Paulus mencantumkan fungsi penatua setelah fungsi diaken; kedua, menjadi penatua berarti menjadi budak. Masalah pemimpin yang menjadi budak berhubungan dengan firman Tuhan da-lam 20:25-27: “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, ‘Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di an-tara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.’” Ini mutlak berlawanan dengan pi-kiran alamiah dan egois! Kepenatuaan merupakan bentuk perbudakan. Setiap pemimpin harus menjadi budak. Sebab itu tidak boleh ada susunan kepemimpinan di antara kita. Sebaliknya, kita semua adalah saudara pada tingkat yang sama. Kemarahan sepuluh orang murid itu memberi Tuhan kesempatan mewahyukan jalan untuk hidup di dalam keraja-an: rela melayani orang lain seperti seorang hamba, bahkan seperti seorang budak, bukan memerintah atas orang lain.

Ayat 28 mengatakan, “Sama seperti Anak Manusia da-tang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Dalam kitab ini, kitab mengenai kerajaan, Tuhan se-lalu berdiri pada kedudukan manusia. Meskipun Kerajaan Surga tersusun atas hayat ilahi, tetapi dilaksanakan di dalam keinsanian.

Nampak perbedaan antara kepengurusan dan pengon-trolan itu sangat membantu kita. Mengontrol orang lain ber-arti membuat keputusan bagi mereka dan memberi tahu apa yang boleh mereka lakukan dan yang tidak boleh mereka la-kukan. Ini berarti menaruh orang di bawah petunjuk Anda. Dalam pemulihan Tuhan, kita harus membenci pengontrolan semacam ini. Tidak seorang pun boleh melakukan pengontrol-an, sebab kita semua berada di bawah tangan Tuhan yang satu itu dan memiliki satu Roh yang hidup di dalam kita, yang memimpin kita. Namun, perlu adanya kepengurusan. Jika di dalam sidang kaum beriman diberi tahu apa yang ha-rus dilakukan, itu pengontrolan. Tetapi dalam persidangan perlu adanya suatu kepengurusan. Misalkan saja seseorang menyembah berhala dan merasa bebas berbuat demikian. Ini harus disingkirkan. Bahkan kita perlu suatu kepengurusan untuk memutuskan waktu-waktu sidang. Jika kita demokratis dan tidak ada kepengurusan, beberapa orang mungkin me-netapkan sidang pada pukul 04.30 pagi, sedangkan yang lain mungkin ingin bersidang pada waktu-waktu yang sama-sama tidak memadai pada sore hari. Sebab itu para penatua perlu datang kepada Tuhan dalam doa, bersekutu dengan kaum beriman, dan menggunakan “hidung” rohani mereka untuk membedakan perasaan kaum beriman, sehingga mereka da-pat menetapkan waktu apa yang terbaik untuk persidang-an. Kemudian para penatua harus membuat keputusan. Ini bukan pengontrolan melainkan kepengurusan.

Menjadi penatua tidak mudah. Untuk menjadi penatua, Anda perlu mempunyai hidung rohani yang baik supaya me-ngetahui situasi kaum beriman. Anda pun perlu mempunyai roh yang hidup lagi tajam dengan intuisi yang tajam pula untuk mengetahui kehendak Allah, barulah Anda dapat membuat keputusan yang benar. Kadang kala para penatua membuat keputusan tentang waktu-waktu sidang menurut kenyamanan diri sendiri. Itu suatu kesalahan. Waktu-waktu sidang seharusnya ditetapkan tidak menurut kenyamanan penatua, melainkan menurut situasi kaum beriman. Untuk ini, Anda wajib mengarahkan intuisi Anda kepada Allah untuk mengetahui apa yang Dia kehendaki.

Keputusan itu ditetapkan oleh penatua, sebab kepengu-rusan ada di tangan mereka. Tetapi jangan mengira bahwa mengurus itu lebih tinggi daripada membantu. Konsepsi kita tentang ini perlu dirombak. Kita perlu mempunyai penger-tian rohani dan konsepsi surgawi tentang urusan-urusan gereja. Apa yang diwahyukan dalam Alkitab mutlak berbe-da dengan pengertian alamiah kita. Janganlah mengira bahwa menjadi penatua itu menduduki posisi yang tinggi. Saya ulangi, menjadi penatua berarti menjadi budak. Ketika se-orang saudara dijadikan penatua, ia wajib berkata, “Aku telah diokulasikan dalam kepenatuaan, dan aku tidak ada pilihan lain. Aku tidak mau menjadi penatua, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Tuhan telah menyuruh aku dan menjadikan aku penatua.” Saudari yang suaminya menjadi penatua wa-jib berkata, “Ketika suamiku menjadi penatua, ia menjadi budak. Tetapi aku gembira bahwa Tuhan telah menyuruhnya demikian secara surgawi.” Jika konsepsi kita telah dirombak seluruhnya, aib yang berambisi terhadap kedudukan akan dimatikan.

Dalam Matius 23 Tuhan Yesus berkata bahwa di anta-ra kita seharusnya tidak ada guru atau pemimpin, dan kita semua seharusnya sebagai saudara. Tetapi ketika Rasul Paulus menyinggung soal guru dan pemimpin, ia bukan mengarti-kan tentang raja-raja atau hierarki. Sebab itu, baik Tuhan Yesus maupun Rasul Paulus membicarakan hal yang sama, dan dalam Alkitab tidak ada kontradiksi. Saya bersyukur atas perkataan Paulus dalam 1 Korintus 12:28 dan atas firman Tuhan yang mengatakan bahwa mereka yang memimpin harus menjadi budak. Karena ambisi kedudukan membunuh kehidupan kerajaan, kita perlu membunuh konsepsi kedudukan dan hierarki.

VI. YANG BUTA PERLU DICELIKKAN

Dalam Matius 20:29-34 terdapat catatan tentang pe-nyembuhan dua orang buta. Fakta bahwa peristiwa ini terja-di segera setelah catatan mengenai ibu Yakobus dan Yohanes, menunjukkan bahwa Yakobus dan Yohanes itu buta. Mereka mungkin mengira bahwa mereka mengikuti Kristus, tetapi pada hakikatnya mereka berada di pinggir jalan, sebab me-reka belum nampak jalan itu. Mereka tidak mempunyai pe-mahaman yang tepat terhadap penyaliban dan kebangkitan Tuhan, sebaliknya mereka masih mencari kedudukan. Ka-rena mereka buta, mereka perlu disembuhkan.

Menurut Perjanjian Lama, penyembuhan terhadap ke-butaan bersangkutan dengan masa seribu tahun. Prinsipnya pun sama dalam Perjanjian Baru. Kisah Para Rasul 26:18 berkata, “Untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah.” Ini menunjukkan bahwa penyembuhan terha-dap kebutaan adalah untuk kerajaan. Tidak ada orang buta yang berada di jalan menuju kerajaan. Yakobus dan Yohanes kelihatannya sudah berada di jalan, sebenarnya mereka buta dan berada di pingir jalan. Mata mereka belum dicelikkan untuk nampak jalan salib.

Dalam 20:17-34 kita nampak tiga hal: penyingkapan salib dan kebangkitan, reaksi yang kasihan dari murid-murid karena ambisi mereka terhadap kedudukan, dan kesembuhan dua orang buta. Setiap orang yang berambisi itu buta. Asalkan kita berambisi, kita berada di pinggir jalan dan perlu kesem-buhan. Segera setelah kedua orang buta itu melihat kembali, mereka ikut Tuhan di jalan. Ini menunjukkan bahwa keti-ka nampak salib dan kebangkitan, kita berada di jalan untuk mengikuti Tuhan. Ketika kedua orang buta yang disembuh-kan mulai ikut Tuhan Yesus, mereka berada di jalan itu, tidak lagi berada di pinggir jalan. Sejak dua orang ini di-sembuhkan, Yakobus dan Yohanes mulai ikut Tuhan.

Tuhan bertanya kepada mereka apakah mereka dapat minum cawan yang akan Dia minum, dan mereka menga-takan bahwa mereka dapat (Mat. 20:22). Firman Tuhan di sini dapat dipandang sebagai nubuat. Minum cawan salib berarti menjadi martir. Yakobus adalah orang pertama di antara kedua belas murid yang mati martir dan Yohanes yang terakhir.

Salib dan kebangkitan sangat berarti bagi kita, tetapi ambisi terhadap kedudukan wajib disalibkan. Jika kita ber-ambisi, berarti kita masih buta dan berada di pinggir jalan; tidak berada di jalan yang mengikuti Kristus. Karena kita buta, kita perlu disembuhkan. Dalam pemulihan Tuhan kita bukan untuk memperoleh kedudukan, melainkan kita di sini mengikuti Dia ke salib. Kita tidak membicarakan takhta, kita rela minum cawan salib dan bersiap-siap untuk mati martir.