← Daftar isi Matius (4) · bab 2/20

PAHALA KERAJAAN DAN PERUMPAMAAN PAHALA KERAJAAN

Dalam Matius 19:1-22 terdapat permintaan kerajaan, dan dalam 19:23-30 terdapat pahala kerajaan; sedangkan Matius 20:1-16 ialah perumpamaan pahala kerajaan. Dalam berita ini kita akan membicarakan pahala kerajaan dan perumpamaan pahala kerajaan.

I. ORANG KAYA MUSTAHIL MASUK

KE DALAM KERAJAAN

Ayat 23-24 mengatakan, “Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.’” Kerajaan Allah digunakan dalam ayat 24 sebagai ganti Kerajaan Surga yang disebutkan dalam ayat 23. Pada butir ini, Kerajaan Surga belum datang, tetapi kerajaan Allah sudah ada. Karena itu, Tuhan memakai istilah Kerajaan Allah.

Firman Tuhan yang mengatakan bahwa lebih mudah ba-gi seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah menunjukkan kemus-tahilan masuk ke dalam Kerajaan Allah bersandarkan hayat alamiah kita.

II. YANG TIDAK MUNGKIN

MENJADI MUNGKIN BAGI ALLAH

Ayat 25 mengatakan, “Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, ‘Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?’” Seperti yang dilaku-kan oleh kebanyakan orang Kristen hari ini, murid-murid mengacaukan keselamatan dengan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Perkataan Tuhan kepada orang muda menyinggung perkara masuk ke dalam Kerajaan Surga, tetapi murid-murid mengira itu mengacu kepada keselamatan. Konsepsi mereka mengenai keselamatan bersifat alamiah dan umum. Mere-ka tidak mengerti wahyu Tuhan tentang masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Dalam ayat 26 Tuhan berkata kepada mereka, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Berdasarkan hayat manusia kita, tidak mungkin kita masuk ke dalam Kerajaan Surga, tetapi hal itu mungkin terjadi berdasarkan hayat ilahi Allah, yaitu Kristus sendiri yang disalurkan ke dalam kita sehingga kita dapat menempuh kehidupan kerajaan. Dengan Kristus yang menguatkan kita untuk melakukan segala sesuatu (Flp. 4:13), kita dapat menggenapkan permintaan kera-jaan.

III. PAHALA KERAJAAN

Dalam ayat 27 Petrus berkata kepada Tuhan, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Petrus seolah-olah berkata, “Tidak peduli betapa sulit masuk ke dalam kerajaan, kita ini seperti unta yang telah melalui lubang jarum. Kami telah meninggalkan semuanya dan mengikuti Engkau, apa yang akan kami peroleh?” Konsepsi Petrus sangat komersial. Tuhan menjawabnya seperti biasa, secara jelas dan tegas.

A. Menerima Seratus Kali Lipat pada Zaman Ini

Pahala kerajaan mempunyai dua bagian. Bagian perta-ma ada pada zaman ini dan bagian kedua pada zaman yang akan datang. Bagian pertama pahala kerajaan terutama berkaitan dengan benda-benda materi dan hal-hal alamiah. Jika demi kepentingan kerajaan, atau demi kepentingan nama Tuhan, kita meninggalkan semua benda ini, Tuhan akan mem-balas seratus kali lipat. Dalam ayat 29 Tuhan berkata, “Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, sau-daranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” Menerima seratus kali lipat rumah, ladang, dan sanak keluarga adalah menerima pahala zaman ini (Mrk. 10:30). Ini mengacu kepada kenikmatan kita hari ini atas saudara laki-laki dan saudara perempuan di dalam Tuhan dengan se-gala milik mereka hari ini. Saya dapat bersaksi bahwa saya telah meninggalkan segala sesuatu, termasuk kerabat saya, untuk mengikuti Tuhan. Saya hampir-hampir tidak memiliki seorang teman pun di luar gereja lokal. Tetapi saya mempu-nyai beratus-ratus orang saudara, saudari, dan ibu. Dalam hi-dup gereja kita memiliki banyak ibu, saudara, dan saudari. Dalam suatu arti, mereka yang dalam hidup gereja mengasihi saya lebih daripada kerabat saya. Inilah suatu pahala. Kita perlu percaya akan janji Tuhan bahwa jika kita meninggal-kan segala sesuatu di belakang kita untuk mengikuti Dia, kita akan menerima pahala, bahkan pada zaman ini juga.

B. Memperoleh Hidup Kekal pada Zaman yang Akan Datang

Dalam ayat 29, Tuhan juga menyinggung tentang memperoleh (mewarisi) hidup yang kekal. Memperoleh (mewarisi) hidup yang kekal adalah menerima pahala pada zaman yang akan datang (Luk. 18:29-30), dalam manifestasi Kerajaan Surga, dengan kenikmatan atas hayat ilahi yang lebih limpah daripada kenikmatan pada zaman ini. Dalam manifestasi kerajaan, kita akan berbagian dalam kenikmatan hidup yang kekal dalam Kerajaan Seribu Tahun beserta Tuhan Yesus. Ini akan lebih besar daripada aspek pertama dari pahala kerajaan yang kita peroleh pada zaman ini.

C. Pada Waktu Penciptaan Kembali

Kita Meraja Bersama dengan Kristus

Dalam ayat 28 Tuhan berkata, “Sesungguhnya Aku ber-kata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” Penciptaan kembali ialah pemulihan pada zaman kerajaan yang akan datang (Kis. 3:21) setelah kedatangan Tuhan kali kedua. Da-lam kerajaan yang akan datang, para pemenang akan duduk di takhta untuk memerintah atas bumi (Why. 20:4). Dua belas rasul yang pertama, termasuk Petrus, akan mengha-kimi kedua belas suku Israel, dan para pemenang lain akan berkuasa atas bangsa-bangsa.

D. Bukan Suatu Perkara Hukum Taurat

Setelah mendengar jawaban Tuhan, Petrus tak dapat ber-kata lagi. Mulutnya terkatup. Tetapi Tuhan selanjutnya ber-kata, “Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama” (ayat 30). Banyak orang Kristen menggunakan ayat ini, te-tapi kebanyakan menggunakannya secara tidak benar. Saya khawatir bahwa banyak di antara kita pun tidak mengerti ayat ini secara memadai. Ada sebagian orang berkata bahwa orang yang baru saja diselamatkan tetapi telah banyak ber-pengalaman merupakan sebuah contoh sebagai yang terakhir menjadi pertama. Ini adalah tafsiran alamiah. Yang lain ber-kata bahwa orang muda yang terakhir telah menjadi yang terdahulu, dan bahwa kita yang lebih dewasa telah ketinggalan dan menjadi yang terakhir. Ini juga pengertian yang alamiah. Mengetahui bahwa kita akan menerima perkataan-Nya secara alamiah, Tuhan memberi perumpamaan dalam 20:1-16 untuk menjelaskan makna ayat ini. Kata “adapun” pada per-mulaan 20:1 menunjukkan bahwa perumpamaan ini ialah penjelasan 19:30. Selain itu, dalam 20:16 Tuhan sekali lagi berkata bahwa yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. Ini pun membuktikan bahwa perumpamaan itu merupakan penjelasan firman Tuhan.

Untuk memahami 19:30 dan perumpamaan dalam 20:1-16, kita perlu nampak bahwa Petrus mempunyai otak yang ko-mersial. Otak komersialnya tersingkap dalam 19:27, ketika ia bertanya, “Jadi apakah yang akan kami peroleh?” Dengan perkataan lain, Petrus berkata, “Tuhan, kita telah memba-yar harga. Sekarang apa yang akan Engkau berikan kepada kami?” Di supermarket kita membayar sejumlah harga dan sebagai imbalannya kita menerima sesuatu sesuai dengan harga itu. Kita memperoleh apa yang kita bayar. Inilah kon-sepsi Petrus. Ia berkata bahwa mereka telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Tuhan, berarti mereka telah membayar harga penuh. Kini ia ingin mengetahui apa yang akan ia peroleh sebagai imbalan harga yang telah ia bayar. Tuhan Yesus sangat adil. Ia menjawab Petrus dengan jelas dalam 19:28-29. Tuhan seolah-olah berkata, “Ketika Aku duduk di atas takhta kemuliaan-Ku, kamu akan duduk di atas dua belas takhta. Petrus, untuk inilah kamu telah bayar harganya. Setiap orang yang telah meninggalkan rumah atau sanak saudaranya demi nama-Ku, akan menerima dua bagian pahala, bagian pertama pada zaman ini dan bagian kedua pada zaman yang akan datang. Pada zaman ini kamu akan menerima seratus kali lipat untuk menggantikan benda-benda materi yang kamu tinggalkan. Pada zaman yang akan datang kamu akan mempunyai kenikmatan hidup yang kekal secara penuh.” Jawaban Tuhan jelas dan adil, dan saya yakin Petrus pun sangat puas.

Namun Tuhan tidak membiarkan Petrus berlalu, sebab ia perlu pelajaran yang lebih lanjut. Karena itu, Tuhan berkata bahwa banyak (tetapi tidak semua) yang pertama akan men-jadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama. Ini menunjukkan bahwa banyak orang yang se-perti Petrus, yang pertama akan menjadi yang terakhir me-nerima pahala. Tuhan berkata demikian untuk mengubah otak komersil Petrus. Tuhan seolah-olah berkata kepada Petrus, “Mereka yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan mereka yang terakhir akan menjadi yang pertama. Aku ber-kata demikian untuk menunjukkan kepadamu bahwa yang Aku berikan kepadamu bukan berdasarkan pengertian komer-sialmu. Walau kamu harus membayar harga untuk menerima pahala kerajaan, tetapi menerima pahala bukan masalah ko-mersial. Sesungguhnya harga yang telah kamu bayar tidak berarti apa-apa.”

Sudah tentu, demikian pula kita hari ini. Apa yang telah kita tinggalkan tidak berarti apa pun. Bahkan andaikata Presiden Amerika Serikat meninggalkan kepresidenannya untuk memperoleh pahala kerajaan, itu tidak akan berarti apa-apa. Namun, apa yang Tuhan berikan bermakna sangat besar. Jika Anda membayar satu dolar untuk sesuatu di toko serba ada, Anda akan menerima sesuatu yang berharga satu dolar dan jika Anda membayar seratus dolar, Anda akan me-nerima sesuatu yang berharga seratus dolar. Tetapi dalam pandangan Tuhan, harga yang kita bayar untuk pahala itu hanya beberapa sen saja, tetapi pahala yang Dia berikan ber-harga jutaan. Apa yang dapat kita bayar untuk menerima kenikmatan penuh hidup kekal? Kenikmatan penuh hidup kekal dalam manifestasi kerajaan tiada tara harganya. Harga yang kita bayar tidak dapat kita bandingkan dengan pahala yang akan kita terima. Menerima pahala bukan suatu jual beli komersial. Bukan masalah membayar sejumlah harga dan menerima sesuatu yang harganya sepadan dengannya.

Pada hakikatnya, apa yang kita bayar adalah sampah (Flp. 3:8). Segala sesuatu selain Kristus ialah sampah. Tuhan seolah-olah berkata kepada Petrus, “Petrus, dalam kerajaan kamu akan duduk di atas takhta memerintah umat Israel. Inilah kerajaan. Petrus, semua yang telah kamu tinggalkan untuk memperoleh ini adalah sampah. Apakah kamu mengira bahwa kamu dapat membeli kerajaan dengan sampah? Jika kamu berusaha membayar-Ku dengan sampah, Aku tidak bisa menerimanya. Sebaliknya Aku akan memberi tahu kamu untuk menyingkirkan barang-barang itu. Sekalipun harga yang kamu bayar itu sampah, Aku akan membalasmu de-ngan kerajaan.” Petrus, yang mempunyai otak komersial perlu diajari lagi oleh Tuhan Yesus. Tuhan sangat berhik-mat dan bersabar terhadap dia, memberi dia perumpamaan yang panjang untuk menjelaskan apa yang Dia maksudkan ketika Dia berkata bahwa yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.

IV. SEORANG PEMILIK KEBUN ANGGUR

MENCARI PEKERJA-PEKERJA UNTUK KEBUN ANGGURNYA

A. Pagi-pagi Benar

Matius 20:1-2 berkata, “Adapun hal Kerajaan Surga sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.” Pemilik kebun anggur itu mengacu kepada Kristus. Pagi-pagi benar di sini adalah pukul 06.00, menunjukkan bagian paling awal dari zaman gereja, ketika Kristus datang untuk memang-gil murid-murid-Nya ke dalam kerajaan. Pekerja-pekerja meng-acu kepada murid-murid dan kebun anggur mengacu kepada kerajaan. Kesepakatan yang dikatakan dalam ayat 2 meng-acu kepada persetujuan yang dibuat Tuhan dalam 19:27-29. Dinar di sini mengacu kepada upah (pahala) yang Tuhan be-rikan kepada Petrus dalam persetujuan antara Dia dengan Petrus dalam 19:27-29.

B. Kira-kira Pukul Sembilan

Ayat 3-4 mengatakan, “Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain meng-anggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi.” Pukul sembilan pagi me-nunjukkan bagian kedua zaman gereja. Kata “menganggur” menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak bekerja dalam Ke-rajaan Surga adalah orang yang menganggur di dunia, yang disebut pasar.

C. Kira-kira Pukul Dua Belas dan Pukul Tiga Petang

Ayat 5 mengatakan, “Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi.” Pukul dua belas siang menunjukkan bagian pertengahan dari zaman gereja dan pukul tiga petang menunjukkan bagian keempat dari zaman gereja.

D. Kira-kira Pukul Lima Petang

Ayat 6-7 mengatakan, “Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu ka-tanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.” Pukul lima petang me-nunjukkan bagian kelima dari zaman gereja. Mereka yang dicari pada pukul lima petang mengatakan bahwa mereka berdiri, menganggur sebab tidak ada orang yang mengupah mereka. Di luar kerajaan, tidak ada manusia yang dipeker-jakan oleh Allah. Sekalipun sudah petang, Tuhan masih me-nyuruh mereka masuk dalam kebun anggur. Bahkan menje-lang akhir zaman gereja, Tuhan masih memanggil orang.

V. PEMILIK KEBUN MEMBERI UPAH

KEPADA PEKERJA

A. Pada Malam Hari

Menurut ayat 8, pemilik kebun memberi upah pekerja pada malam hari, yaitu pada pukul 06.00 petang. Ini menunjukkan akhir zaman gereja.

B. Mulai dari yang Masuk Terakhir

Hingga yang Masuk Pertama

Ayat 8 mengatakan, “Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggilah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama.” Tuhan membayar sama kepada mereka, mulai dari yang terakhir hingga yang pertama, ini bertentangan dengan konsepsi ala-miah dan komersial. Ini menunjukkan bahwa upah yang di-bayarkan kepada pekerja yang terakhir, tidak disesuaikan dengan pekerjaan mereka, melainkan dengan keinginan anu-gerah Tuan kebun anggur itu.

C.Yang Terakhir dan yang Pertama

Menerima Pahala yang Sama

Ayat 9-10 berkata, “Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.” Di sini kita nampak bahwa yang terakhir dan yang pertama menerima upah yang sama. Para pekerja yang datang per-tama yang disebutkan dalam ayat 10, termasuk Petrus yang mengadakan perhitungan dengan Tuhan dalam 19:27-29.

D. Yang Pertama Bersungut-sungut

Berdasarkan Hukum

Mereka yang pertama (terdahulu) bekerja sangat terke-jut karena yang bekerja terakhir justru yang pertama me-nerima upah, sekalipun mereka bekerja hanya satu jam, tidak menderita panas teriknya matahari. Sebab itu, ketika pekerja yang pertama nampak bahwa yang terakhir menerima satu dinar, mereka berharap akan menerima lebih banyak. Namun, mereka juga menerima satu dinar. Ayat 11-12 me-ngatakan, “Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.” Mereka yang pertama bekerja tidak mengenal Roma 9:14-15 dan 20. Tidak ada ketidakbenaran pada diri Tuhan. Dia akan mem-belaskasihani orang yang diinginkan-Nya. Siapakah mereka, sehingga membantah Tuhan? Konsepsi alamiah Petrus yang mewakili konsepsi semua orang beriman bersifat komersial. Dia tidak mengetahui keinginan anugerah Tuhan. Sebab itu ia bersungut-sungut kepada Tuhan berdasarkan legalitas.

E. Jawaban Pemilik Kebun Menunjukkan

Anugerah Menurut Keinginan-Nya

Ayat 13 mengatakan, “Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?” Dengan “seorang dari mereka” pasti mengacu kepada Petrus. Kesepakatan dalam ayat ini ialah kesepakatan yang dibuat oleh Tuhan bersama Petrus dalam 19:27-29. Di sini Tuhan seolah-olah berkata, “Petrus, kita menandatangani kesepakat-an. Aku tidak berhutang apa pun kepadamu, sebab Aku telah memberimu apa yang Aku janjikan. Namun, aku ingin me-nunjukkan kepadamu bahwa upah-Ku bukan perkara komer-sial, melainkan perkara anugerah (kasih karunia). Petrus, kamu perlu belajar pelajaran anugerah. Pahala merupakan masalah anugerah menurut keinginan-Ku. Berasal dari anu-gerah, Aku ingin memberi upah kepada mereka yang bekerja terakhir sama dengan yang Aku janjikan kepadamu. Apa salahnya hal ini?”

Ayat 14 mengatakan, “Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.” Ini adalah jawaban yang tegas bagi Petrus dari Tuhan, yang menunjukkan bahwa Tuhan telah memberikan kepada Petrus apa yang menurut dia patut di-terimanya. Tetapi Tuhan berhak memberi upah yang sama kepada pekerja yang terakhir menurut keinginan-Nya sen-diri, bukan dalam prinsip pekerjaan, melainkan dalam prinsip anugerah. Hal ini menghancurkan pikiran Petrus yang alamiah dan komersial, mengoreksi konsepsinya.

Ayat 15 mengatakan, “Tidakkah aku bebas mempergu-nakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” Dalam menghadapi Tuhan dalam 19:27, konsepsi Petrus benar-benar komersial, menurut prinsip pekerjaan, bukan anugerah. Dalam jawaban-Nya ke-pada Petrus, Tuhan dengan tegas menunjukkan bahwa upah-Nya kepada para pengikut-Nya bukanlah perkara komersial, melainkan perkara yang sesuai dengan keinginan-Nya dan anugerah-Nya. Untuk mendapatkan Kerajaan Surga, murid-murid perlu meninggalkan segalanya dan mengikuti Tuhan; tetapi yang akan diberikan-Nya kepada mereka sebagai pa-hala melebihi apa yang sepatutnya mereka terima. Ini tidak menurut prinsip komersial, melainkan menurut kesenangan hati Tuhan. Ini adalah perangsang bagi para pengikut-Nya.

F. Bukan Masalah Hukum

Melainkan Masalah Anugerah

Dalam ayat 16 Tuhan menyimpulkan perumpamaan ini: “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang per-tama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir.” Orang yang terakhir adalah pekerja yang terakhir masuk, dan orang yang pertama adalah pekerja yang masuk paling awal. Dalam pekerjaan, yang datang lebih awal berada di depan, tetapi da-lam menerima pahala, yang terakhir menjadi yang pertama. Dengan demikian Tuhan membuat yang terakhir menjadi yang pertama dan yang pertama menjadi yang terakhir. Se-bab itu, pahala bukan masalah legal melainkan masalah kasih karunia.

Kita tidak boleh berpikiran komersial. Keselamatan itu berdasarkan anugerah. Tuhan Yesus telah melakukan segala sesuatu bagi kita dan kita tidak perlu berupaya untuk itu. Namun, pahala kerajaan diberikan berdasarkan pekerjaan kita, menurut harga yang kita bayar. Jika kita membayar harga, Tuhan akan memberi kita pahala. Seolah-olah pahala itu dibeli oleh pekerjaan kita. Jika kita berpikir demikian, ki-ta akan sama seperti Petrus yang berotak komersial. Kita perlu diajar kembali agar nampak bahwa pahala pun berda-sarkan anugerah. Jalan untuk menerima pahala bukan mem-bayar harga melainkan menikmati anugerah.

Diselamatkan berarti menerima anugerah dan memperoleh pahala berarti menikmati anugerah yang telah kita terima. Ketika kita percaya dalam Tuhan, kita menerima anugerah dan diselamatkan. Setelah menerima anugerah kita harus belajar menikmati anugerah. Meninggalkan segala sesuatu di belakang kita dan mengikuti Tuhan — bukan membayar har-ga, melainkan menikmati anugerah yang telah kita terima. Jangan mengira Anda telah mengurbankan semuanya. Apa yang Anda kurbankan hanyalah sampah, sia-sia di bawah ke-sia-siaan. Segala sesuatu yang berada di bawah sinar matahari adalah sia-sia. Pendidikan Anda, kedudukan, dan masa depan Anda, semuanya sia-sia. Sampah tidak dapat dianggap se-bagai sesuatu yang berharga. Meninggalkan segala sesuatu di belakang kita berarti melepaskan pikulan berat dan dibe-baskan. Anda dibebani oleh kedudukan, kekayaan, dan ke-khawatiran akan masa depan Anda. Sebab itu perlu ter-lucut dari pikulan berat dan cara terlucutnya Anda ialah menikmati anugerah. Anugerah melucuti pikulan berat kita. Dilucuti dari memikul pikulan berat adalah dengan jalan menikmati anugerah, bukan dengan membayar harga. Seba-liknya, kita menikmati kebebasan. Haleluya, saya telah dibe-baskan! Saya telah dibebaskan dari sanak saudara saya, ke-tenaran, posisi, masa depan saya, dan segala sesuatu saya, saya bebas mutlak. Saya bukan membayar harga — saya menikmati anugerah.

Kita semua perlu menghilangkan otak komersial. Bebe-rapa orang beriman berkata, “Aku telah meninggalkan segala sesuatu bagi gereja. Aku sudah banyak menderita dan kini aku tidak memiliki apa pun.” Setiap kali saya mendengar ke-luhan demikian, di dalam batin saya berkata, “Anda tidak da-pat menerima apa pun sebab pelucutan Anda akan segala sesuatu dan penderitaan Anda tidak Anda lakukan dalam roh yang tepat. Jika Anda berada dalam roh yang tepat, Anda akan bersyukur, bergembira, dan memuji Tuhan bahwa Anda tidak lagi menanggung pikulan berat.” Jika kita telah me-lepaskan segala sesuatu bagi Tuhan dalam roh yang tepat, kita akan berkata, “Oh Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu bahwa aku tidak menanggung pikulan berat yang berupa ke-dudukan, ambisi, atau kekhawatiran akan masa depan. Semua orang yang suka keduniawian berada di bawah pikulan berat. Tetapi Tuhan aku memuji-Mu bahwa aku telah dilepaskan dan dibebaskan. Aku bukan membayar harga — aku tiap hari menikmati anugerah. Tuhan, apa pun yang Engkau berikan kepadaku bukan pengganti yang telah kubayarkan, tetapi kenikmatan lebih lanjut akan diri-Mu.”

Saya percaya bahwa kita berada dalam kelompok pe-kerjaan yang terakhir, yang dipekerjakan pada pukul lima petang. Tetapi kita akan lebih dulu diberi pahala, walau kita tidak bekerja lama seperti Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Paulus yang telah bekerja hampir 20 abad. Mereka telah bekerja sehari suntuk, menanggung panas terik matahari. Tetapi kita hanya bekerja dalam waktu yang pendek, paling banyak beberapa tahun. Boleh jadi Yohanes akan berkata kepada Petrus, “Petrus, bersabarlah. Jika orang-orang yang terakhir ini menerima pahala sebanyak itu, kita pasti akan menerima lebih banyak.” Namun Petrus dan Yohanes mungkin heran ketika mereka menerima upah yang sama banyaknya dengan mereka yang dipekerjakan terakhir. Tetapi Tuhan mungkin berkata kepada Petrus dan semua orang yang di-pekerjakan terdahulu, “Bukankah Aku telah sepakat de-nganmu? Bukankah janjiku sudah memuaskan? Janganlah bersungut-sungut, ambillah upahmu dan pergi ke takhta. Bukankah Aku berhak berbuat menurut kehendak-Ku? Apa-kah Aku salah karena bermurah hati?” Pada suatu hari, kita akan menerima upah yang sama banyaknya seperti Petrus dan kita akan menerimanya lebih dulu. Upah Petrus sedinar dan kita pun sama-sama mendapat upah sedinar. Dinar ini me-nunjukkan kenikmatan penuh atas hayat ilahi dalam kemu-liaan manifestasi kerajaan. Inilah pahala kita.