PERMINTAAN KERAJAAN
Dalam berita ini kita akan membicarakan Matius 19:1-22, yang merupakan bagian yang di dalamnya Matius menaruh bersama beberapa peristiwa dalam kehidupan Kristus untuk menunjukkan permintaan kerajaan. Dalam 19:3-12 orang-orang Farisi mencobai Tuhan dengan bertanya kepada-Nya tentang perceraian, dan dalam 19:16-22 seorang kaya bertanya kepada-Nya tentang hidup yang kekal. Injil Yohanes tidak menyinggung hal-hal ini. Tetapi dalam Matius, ini semua tidak hanya tercatat, bahkan diletakkan dalam bagian yang sama. Dalam pasal 19 ki-ta nampak masalah perceraian dan mencintai harta kekayaan. Di antara kedua hal ini terdapat masalah menyambut anak-anak kecil (ayat 13-15). Nampaknya ketiga hal ini tidak bersangkut paut. Tetapi bila kita memasuki kedalaman makna hal-hal ini, kita nampak semuanya bersangkutan untuk memasuki Keraja-an Surga. Sebab itu semuanya merupakan permintaan kerajaan.
I. TERSINGKAPKAN DI DAERAH YUDEA
SEBERANG SUNGAI YORDAN
DENGAN KUASA PENYEMBUHAN
Matius 19:1-2 mengatakan, “Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. Orang banyak ber-bondong-bondong mengikuti Dia dan Ia pun menyembuhkan mereka di sana.” Karena penolakan orang Yahudi, Raja surgawi meninggalkan mereka dan pergi ke Galilea di utara. Kini Ia kembali ke Yerusalem untuk menggenapi nubuat kematian dan kebangkitan-Nya, sebagaimana yang telah Ia katakan dalam 16:21 dan 17:22-23, bagi pendirian kerajaan. Ia kembali masih dengan kuasa penyembuhan menunjukkan bahwa se-bagai Raja Kerajaan Surga, Ia berkuasa mengatasi hal-hal negatif yang merusak ciptaan Allah.
II. DARI HUKUM TAURAT YANG TERTULIS
KEMBALI KE KETENTUAN ALLAH
YANG SEBERMULA
A. Menanggulangi Hawa Nafsu
Jika kita serius terhadap Tuhan bagi kerajaan, kita ha-rus menanggulangi hawa nafsu, kesombongan, dan cinta akan harta kekayaan. Injil Yohanes tidak mengatakan apa pun tentang menanggulangi hawa nafsu, sebab Yohanes adalah sebuah kitab hayat. Tetapi karena Matius adalah kitab ten-tang kerajaan, ia berbicara tentang menanggulangi hawa nafsu dan hal-hal lain. Kerajaan merupakan masalah pelatihan dan sebagian besar pelatihan ini melibatkan berbagai macam penanggulangan. Hawa nafsu, kesombongan, dan cinta akan harta kekayaan menghalang-halangi kita untuk memasuki kerajaan. Cinta akan harta jelas bersangkutan dengan diri (ego). Secara alamiah, kita semua mencintai uang untuk diri sendiri. Namun jika kita ingin memasuki Kerajaan Surga, kita harus menanggulangi cinta akan uang ini. Sekali demi sekali Injil Matius menanggulangi hawa nafsu. Dalam konstitusi Kerajaan Surga, Raja dengan nyata menyinggung masalah penanggulangan hawa nafsu. Perkataan tentang mencungkil mata kita atau memenggal tangan kita dalam Matius 5:29-30 menunjukkan betapa tegas dan seriusnya keharusan kita menangani hal ini. Jika tidak, tidak ada jalan masuk Kerajaan Surga. Penanggulangan hawa nafsu seluruhnya telah diabai-kan oleh orang Kristen hari ini. Sangat sedikit orang Kristen yang pernah mendengar perkataan yang jelas dari Matius 5 dan 19 tentang hawa nafsu. Karena kekurangan itu, tidak ada hidup gereja (church life) yang murni atau Kerajaan Surga di antara orang Kristen hari ini. Alangkah perlunya Tuhan akan adanya kesaksian di bumi! Bagi kesaksian-Nya, Tuhan harus mempunyai pemulihan. Kita tidak mempedulikan jum-lahnya. Pada masa Elia, Tuhan hanya mempunyai tujuh ribu orang. Andaikata Tuhan mempunyai tujuh ribu orang dalam negeri ini, Ia akan mempunyai kesaksian yang unggul dalam melawan semua perkara perzinaan.
Matius 19:3 mengatakan, “Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, ‘Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?’” Kaum agamawan tidak membiarkan Tuhan pergi, sekali demi sekali mereka datang untuk mencobai-Nya. Namun pencobaan mereka selalu memberi Tuhan kesempatan untuk menyatakan diri-Nya dan ekonomi Allah. Di sini penentangan kaum agamawan memberi Tuhan kesempatan untuk menyingkapkan seriusnya perceraian. Sumber perceraian ialah hawa nafsu. Jika tidak ada hawa nafsu, tidak akan terjadi perceraian.
Firman Tuhan dalam 19:4-6 tidak hanya mengakui terciptanya manusia oleh Allah, tetapi juga menegaskan keten-tuan Allah tentang pernikahan, yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan dipersatukan dan dijadikan satu daging yang tidak dapat diceraikan oleh manusia. Pernikahan adalah kesatuan seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Inilah ketentuan Allah, sangat serius, tidak boleh dilanggar oleh manusia. Ketentuan Allah di sini tidak hanya melibatkan perkara-perkara jasmani, tetapi juga perkara-perkara rohani, sebab kesatuan seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam pernikahan melambangkan keesaan antara Kristus dan gereja. Sebagaimana seorang suami untuk seorang istri, demikian pula satu Kristus untuk satu gereja. Jangan sampai lebih dari seorang istri untuk seorang suami, atau lebih dari seorang suami untuk seorang istri. Alangkah seriusnya jika ada satu Kristus dan banyak gereja, atau satu gereja dan lebih dari satu Kristus! Ketentuan Allah ialah satu Kristus satu gereja. Dalam gambar dan bayang-bayang, seharusnya hanya seorang istri untuk seorang suami. Inilah ketentuan Allah dalam ciptaan yang jelas tercatat dalam Alkitab.
Dalam ayat 7 orang-orang Farisi bertanya kepada Tuhan, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Perintah ini bukan sebagian dari hukum dasar, melainkan suatu tambahan kepada hukum itu. Perintah ini diberikan oleh Musa bukan berdasarkan ketetapan Allah dari semula, melainkan sebagai sesuatu yang sementara, karena kekerasan hati manusia.
Tuhan tidak bertengkar dengan orang-orang Farisi; Tuhan berkata, “Karena kekerasan hatimu, Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.” Perintah yang diberikan oleh Musa tentang perceraian adalah penyimpangan dari ketentuan semula Allah mengenai pernikahan; tetapi bagi Kerajaan Surga, Kristus sebagai Raja surgawi memulihkan pernikahan pada keadaan yang semula. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Surga, yang berhubungan dengan ketentuan Allah dari semula, tidak mengizinkan perceraian.
Dalam ayat 8 kita nampak prinsip pemulihan. Pemulihan berarti kembali kepada yang semula. Kita perlu kembali kepada yang semula. Pada waktu semula, Allah menentukan seorang suami dan seorang istri, tidak ada perceraian. Karena kekerasan hati mereka, Musa memperbolehkan perceraian dan mengizinkan seorang menceraikan istrinya dengan memberi dia surat cerai. Tuhan bertanya kepada orang Farisi apakah mereka ingin memperhatikan ketentuan Allah atau kekerasan hati manusia. Setiap pencari Tuhan harus berkata, “Oh, Tuhan, belas kasihanilah aku agar aku memperhatikan ketentuan semula-Mu. Aku tidak mau mempedulikan kekerasan hatiku. Aku menyalahkan dan menolak kekerasan hatiku dan kembali pada ketentuan-Mu yang semula.” Inilah arti pemulihan.
Hari ini banyak orang Kristen bertengkar mengenai beberapa hal tertentu. Karena kekerasan hati manusia yang telah jatuh, Tuhan membiarkan hal itu. Apakah kita harus menyetujui pertengkaran ini dan kekerasan hati manusia? Tentu tidak. Sebaliknya, kita harus menerima anugerah Tuhan untuk kembali pada ketentuan Allah yang semula. Kita harus kembali ke yang semula.
Ayat 9 mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzina.” Kata Yunani untuk “perzinaan” berarti persundalan. Ini lebih buruk daripada perzinaan. Perkataan Tuhan di sini menunjukkan dengan tegas bahwa selain perzinaan, tidak ada yang bisa memutuskan ikatan pernikahan. (Tentu saja, kematian dengan sen-dirinya memutuskannya). Karena itu, selain karena perzinaan, tidak ada alasan untuk bercerai.
B. Oleh Karunia Allah
Ayat 10 mengatakan, “Murid-murid itu berkata kepada-Nya, ‘Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.’” Kini murid-murid menyadari bahwa menurut ketentuan Allah, pernikahan adalah ikatan yang paling ketat. Begitu seseorang menikah, dia sepenuhnya terikat, tidak ada jalan untuk melepaskan diri, kecuali jika pasangannya berbuat zina atau meninggal. Pemahaman yang demikian menyebabkan murid-murid itu mengira bahwa tidak menikah itu lebih baik. Namun hal ini di luar kendali mereka.
Dalam ayat 11 Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.” Tidak semua orang, tetapi ha-nya mereka yang dikaruniai Allah yang mampu tidak menikah. Tanpa karunia Allah, siapa pun yang mencoba tidak menikah akan menghadapi godaan.
Ayat 12 melanjutkan, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” Orang-orang yang tidak me-nikah karena Kerajaan Surga adalah orang-orang yang sudah menerima karunia dari Allah untuk tidak menikah karena Kerajaan Surga. Paulus adalah orang yang demikian (1 Kor. 7:7-8; 9:5).
Berdasarkan diri kita, kita tidak dapat memelihara ke-tentuan Allah yang semula. Untuk ini kita perlu karunia, kita perlu karunia Allah. Hanya mereka yang telah menerima karunia yang dapat menerima perkataan Tuhan tentang ketentuan semula Allah.
Orang yang tidak menikah (membujang) ialah orang yang menanggulangi nafsu daging seluruhnya. Untuk dapat menjadi seorang rohaniawan yang tidak menikah, kita perlu karunia. Hanya karunialah yang dapat memberi kita kekuatan dan suplai untuk menanggulangi nafsu daging secara menyeluruh. Hawa nafsu itu suatu masalah yang besar dalam kehidupan kita. Karena dalam diri kita, kita tidak mampu menanggulangi “kalajengking” ini, kita perlu menengadah kepada Tuhan dan berdoa, “Tuhan belas kasihanilah aku dan berilah karunia yang aku perlukan.” Bersandar karunia kita dapat menanggulangi “kalajengking” hawa nafsu yang licik dan jahat yang merusak kehidupan kita.
Hawa nafsu tidak hanya merusak kehidupan kerajaan dan hidup gereja, tetapi juga kehidupan manusia. Hawa nafsu menghancurkan pernikahan dan masyarakat, merusak roh, mental, dan tubuh. Setiap orang yang berada di bawah pe-nguasaan “kalajengking” hawa nafsu akan menghancurkan kehidupan manusiawi, kehidupan keluarga, kehidupan masya-rakat, kehidupan gereja, dan kehidupan kerajaannya yang tepat. Hawa nafsu merusak setiap jenis kehidupan. Kebobrokan dalam masyarakat hari ini terutama berasal dari hawa nafsu. Jika hawa nafsu ditanggulangi, sebagian besar dari kebobrokan ini akan lenyap. Dalam hidup gereja kita harus menanggulangi hawa nafsu dengan serius. Untuk itu kita harus bersandar pada anugerah Tuhan.
Pencobaan kaum agamawan di sini memberi kesempatan kepada Tuhan untuk mewahyukan lebih lanjut perkara Kerajaan Surga. Pasal 18 menyingkapkan bagaimana kita harus menanggulangi saudara-saudara sehingga kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga, sedangkan pasal 19 mewahyukan bahwa hidup pernikahan (ayat 3-12) dan sikap terhadap kekayaan (ayat 16-30) berhubungan dengan Kerajaan Surga. Hidup pernikahan menyinggung perkara hawa nafsu, dan sikap kita terhadap kekayaan menyinggung perkara keserakahan. Kerajaan Surga menghapus setiap jejak hawa nafsu dan keserakahan kita.
III. BERKAT KERAJAAN DATANG
MELALUI KERENDAHAN HATI
Ketika murid-murid mencela mereka yang membawa anak-anak kecil kepada Tuhan, Tuhan Yesus berkata, “Biar-kanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga” (19:14). Kemudian Ia menaruh tangan-Nya di atas mereka. Di sini Tuhan menekankan lagi bahwa untuk berbagian dalam Kerajaan Surga, kita harus menjadi seperti anak kecil.
Secara lahiriah, 19:13-15 nampaknya seolah-olah berbicara mengenai masalah yang tidak penting. Sesungguhnya ayat-ayat ini menyangkut tentang kesombongan. Tuhan seakan-akan berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu tidak boleh menolak anak-anak kecil ini, sebaliknya, kamu harus berubah men-jadi anak kecil. Kesombongan tersembunyi di dalam kamu. Kamu harus menyalahkan dan menolak kesombonganmu. Jika kamu menolak kesombonganmu dan menjadi seperti anak kecil, kamu akan berada dalam Kerajaan Surga.”
Matius menempatkan penanggulangan kesombongan di antara penanggulangan hawa nafsu dan uang. Pengaturan de-mikian ini sangat berarti. Setiap orang yang bersifat daging dan pencinta uang adalah orang yang sombong. Kesombongan selalu dijumpai di antara hawa nafsu dan pencinta uang.
IV. LEBIH TINGGI DARIPADA HUKUM TAURAT
Ayat 16 mengatakan, “Ada seseorang datang kepada Yesus, dan berkata, ‘Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuper-buat untuk memperoleh hidup (hayat) yang kekal?’” Memper-oleh hayat yang kekal dalam Injil Matius berbeda dengan mem-peroleh hayat yang kekal seperti yang dibicarakan dalam Injil Yohanes. Injil Matius membahas kerajaan, sedangkan Injil Yohanes membahas hayat. Dalam Injil Yohanes, memperoleh hayat yang kekal adalah diselamatkan oleh hayat Allah yang bukan ciptaan, agar kita dapat hidup dengan hayat itu pada hari ini dan sampai selamanya; tetapi dalam Injil Matius, memperoleh hayat yang kekal adalah berbagian dalam realitas Kerajaan Surga dalam zaman ini dengan hayat kekal Allah dan berbagian dalam manifestasi kerajaan pada zaman yang akan datang, yang dengannya kita menikmati hayat kekal Allah dengan lebih limpah.
Dalam Injil Yohanes hayat kekal terutama untuk kelahiran kembali, untuk kelahiran baru. Karena kelahiran kembali kita menjadi anak-anak Allah. Selain itu, Injil Yohanes me-wahyukan bahwa oleh hidup kekal — hayat Allah yang di dalam kita, kita mampu berbuah. Jadi, hidup kekal dalam Yohanes adalah untuk produksi ulang. Tetapi dalam Injil Matius, hidup kekal bukan untuk kelahiran baru, melainkan untuk kerajaan. Banyak orang Kristen bingung dengan hidup kekal dalam Matius. Hidup kekal dalam Yohanes maupun da-lam Matius, kedua-duanya itu sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda. Saya ulangi, dalam Yohanes hayat kekal adalah untuk kelahiran baru, tetapi dalam Matius adalah untuk kerajaan. Tak seorang pun dapat memiliki hayat kerajaan tanpa hayat kekal Allah.
A. Mengetahui Hanya Allah yang Baik
Dalam ayat 17 Tuhan menjawab orang yang menanyakan perbuatan baik apa yang harus ia perbuat untuk memperoleh hidup kekal: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik.” Satu ini ada-lah Allah. Hanya Allah yang baik. Ini bukan hanya menun-jukkan bahwa orang muda yang mengajukan pertanyaan itu tidak baik, tetapi juga menunjukkan bahwa Tuhan Yesus ada-lah Allah yang baik. Jika Dia bukan Allah, Dia juga tidak baik.
B. Menuruti Perintah Allah
Tuhan berkata kepada orang muda ini, “Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup (hayat), turutilah segala perin-tah Allah.” Di sini Tuhan berbincang tentang masuk ke da-lam hidup. Masuk ke dalam hidup berarti masuk ke dalam Kerajaan Surga (ayat 23). Kerajaan Surga adalah ruang ling-kup hayat kekal Allah. Karena itu, ketika kita masuk ke dalamnya, kita masuk ke dalam hayat Allah. Ini berbeda de-ngan beroleh selamat. Beroleh selamat adalah memperoleh hayat Allah yang masuk ke dalam kita, menjadi hayat kita, sedangkan masuk ke dalam Kerajaan Surga adalah masuk ke dalam hayat Allah untuk menikmati kekayaan hayat Allah. Yang pertama adalah ditebus dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus, yang dengannya kita menerima hayat Allah, yang membuat kita hidup dan bertindak oleh hayat Allah; yang terakhir adalah hidup dan berperilaku berdasarkan hayat Allah. Yang satu adalah perkara hayat; yang lain adalah perkara kehidupan.
Menurut Injil Yohanes, memperoleh hayat kekal ialah me-nerima hayat kekal ke dalam kita. Tetapi menurut Matius, memperoleh hayat kekal ialah masuk ke dalam hayat yang kekal. Hayat kekal masuk ke dalam kita, memberi kita ke-lahiran baru sehingga kita menjadi anak-anak Allah. Kemu-dian kita masuk ke dalam hayat kekal, menempuh kehi-dupan kerajaan. Jadi, dalam Yohanes hayat kekal meliputi keselamatan, tetapi dalam Matius tidak berhubungan dengan keselamatan.
Tuhan berkata kepada orang muda itu, “Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Menuruti perintah bukan syarat untuk beroleh selamat, me-lainkan berhubungan dengan memasuki Kerajaan Surga. Me-nurut konstitusi Kerajaan Surga, masuk ke dalam Kerajaan Surga menuntut kita bukan hanya memenuhi standar hukum lama, tetapi juga memenuhi standar hukum baru peleng-kap yang diberikan oleh Raja (5:17-48). Keselamatan hanya menuntut kita beriman, sedangkan Kerajaan Surga menuntut kebenaran yang melampaui (unggul) hasil dari pemeliharaan hukum lama dan hukum pelengkap yang diberikan oleh Raja surgawi.
Dalam ayat 25 murid-murid bertanya, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Pertanyaan ini menun-jukkan bahwa mereka masuk ke dalam Kerajaan Surga sama dengan diselamatkan. Banyak orang Kristen hari ini mem-punyai konsepsi yang sama. Mereka hanya mengetahui ke-selamatan, mereka tidak tahu apa pun tentang Kerajaan Surga. Ketika kami kali pertama memberitakan kerajaan lebih dari empat puluh tahun yang lalu, kami memproklamir-kan jaminan keselamatan. Sekalipun para utusan Injil telah berada di daratan China seratus tahun lebih, mereka tidak menjelaskan jaminan keselamatan kepada kaum beriman di China. Sebab itu ke mana pun kami pergi, kami berusaha membantu kaum beriman untuk yakin terhadap jaminan keselamatan mereka. Ketika kami memberikan jaminan ke-selamatan, banyak pastor menentang dan menuduh kami sombong. Ada yang berkata, “Walaupun kami telah bertahun-tahun menjadi pastor, kami tidak berani mengatakan bahwa kami telah diselamatkan. Bagaimana kamu berani menya-takan bahwa kamu telah diselamatkan? Kamu terlalu som-bong. Kita semua harus percaya kepada Tuhan Yesus, berke-lakuan baik, dan menunggu sampai kita mati, pergi kepada Tuhan. Kemudian Tuhan akan memberi tahu kita apakah kita beroleh selamat atau tidak.” Tetapi kami berjuang dalam peperangan bagi jaminan keselamatan dengan memberi orang-orang ayat demi ayat untuk membuktikan bahwa kita da-pat mengetahui bahwa kita telah diselamatkan tanpa perlu menunggu sampai kita mati dan pergi kepada Tuhan. Setelah beberapa tahun berjuang, kami menang.
Setelah menang dalam peperangan ini, kami berkhot-bah mengenai pahala kerajaan. Kami mulai berkata kepada orang-orang, “Memang benar, tidak disangsikan lagi bahwa Anda telah beroleh selamat. Tetapi diselamatkan adalah satu hal dan menerima pahala kerajaan adalah hal lain.” Walaupun perkataan ini tidak menyinggung hati banyak pastor, tetapi menyinggung banyak orang Kristen yang acuh tak acuh. Ke-tika kami memberitakan jaminan keselamatan, semua orang Kristen yang acuh tak acuh gembira dan berkata, “Haleluya, kami telah diselamatkan! Alkitab memberi tahu kami demi-kian. Asalkan kami percaya dalam Tuhan Yesus, kami telah diselamatkan.” Tetapi kegirangan mereka tidak bertahan la-ma, sebab orang yang memberitakan kepada mereka jaminan keselamatan kemudian berkata kepada mereka bahwa me-reka mungkin masih mempunyai masalah akan kehilangan pahala kerajaan dan didisiplinkan. Tidak satu pun orang Kristen yang duniawi, orang Kristen yang acuh tak acuh, mendengarkan ini. Setelah mendengar berita tentang kera-jaan, pada suatu kali seorang perempuan yang kaya berkata kepada saya, “Saudara Lee, apakah yang Anda bicarakan itu bersangkutan dengan masuknya aku ke surga? Aku tidak peduli apa pun. Jika aku dapat menjadi penjaga pintu saja di pintu gerbang surga, aku sudah puas.” Banyak orang Kristen mempunyai pemikiran seperti itu. Asalkan mereka diselamatkan dan terikat bagi surga, mereka sudah girang. Mereka yang berkata demikian telah diracuni, sehingga hanya memperhatikan keselamatan dan surga. Tetapi dalam Matius 19 Tuhan berbicara tentang masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekalipun Anda mungkin sudah diselamatkan, Anda mungkin berada dalam bahaya tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sudah pasti bahwa firman Tuhan mengenai lebih mu-dah bagi seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah tidak berhu-bungan dengan keselamatan. Perkataan ini berhubungan de-ngan Kerajaan Surga. Bagi orang yang mencintai kekayaan sulit sekali masuk ke dalam Kerajaan Surga.
C. Menjadi Sempurna dengan Menyimpan Harta Kekayaan di Surga dan Mengikuti Kristus
Ketika orang muda itu berkata kepada Tuhan bahwa ia telah menuruti semua perintah itu, Tuhan berkata kepadanya, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (ayat 21). Meskipun orang muda itu telah menuruti perintah-perintah hukum Taurat yang lama, seperti anggapannya sendiri, dia masih belum sempurna, ti-dak memenuhi standar permintaan hukum baru pelengkap, karena dia tidak rela menjual miliknya dan menyimpan har-ta di surga, seperti yang dituntut oleh konstitusi kerajaan (6:19-21). Mengikuti Tuhan adalah mengasihi Dia lebih dari-pada segala sesuatu (10:37-38). Ini adalah permintaan yang tertinggi untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Ayat 22 mengatakan, “Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya.” Men-cintai harta benda melebihi Tuhan membuat orang berduka, tetapi orang yang mengasihi Kristus melebihi segala sesuatu tetap bersukacita walaupun kehilangan harta benda (Ibr. 10:34).
Ada dua macam orang kaya: orang yang kaya dengan ba-nyak harta benda dan orang yang mimpi menjadi kaya (mes-kipun sebenarnya ia tidak kaya). Pada masa lampau, bebe-rapa di antara kami mungkin bermimpi menjadi jutawan. Dalam hal memimpikan kekayaan, setiap orang adalah har-tawan. Pengharapan beberapa wanita muda ialah menikah dengan orang yang kaya; ini mimpi mereka. Jika Anda bukan orang kaya yang pertama, boleh jadi Anda adalah yang kedua.
Tuhan berkata bahwa lebih sulit bagi seseorang yang mencintai uang masuk ke dalam kerajaan daripada seekor unta masuk melalui lubang jarum. Ilustrasi ini mewah-yukan seriusnya cinta akan uang berkaitan dengan kerajaan. Cinta akan uang merupakan halangan terbesar untuk masuk ke dalam kerajaan.
Dalam pasal 19 Tuhan dengan sangat berhikmat me-nanggulangi orang muda itu. Orang muda itu datang kepada Tuhan dan bertanya kepada-Nya apa yang harus ia perbuat agar beroleh hidup yang kekal, yaitu hidup dalam kerajaan. Mengetahui hati orang muda itu, Tuhan memberi tahu dia untuk menuruti segala perintah Allah. Ketika Tuhan ditanyai tentang perintah-perintah yang mana, Ia menyebutkan enam di antaranya: Perintah mengenai pembunuhan, perzinaan, pencurian, mengucapkan saksi dusta, menghormati ayah ibu, dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (ayat 18-19). Kemudian kata orang muda itu, “Semuanya itu telah ku-turuti, apa lagi yang masih kurang?” Tuhan telah siap men-jawabnya dan memberi tahu dia apa yang harus ia lakukan agar menjadi sempurna. Dalam jawabannya Tuhan seolah-olah berkata, “Bahkan jika kamu telah menuruti segala perintah, kamu masih belum sempurna. Kamu mungkin sempurna me-nurut hukum Taurat Musa, tetapi tidak menurut konstitusi Kerajaan Surga. Menjadi sempurna menurut konstitusi ke-rajaan, kamu harus menjual milikmu, memberikannya ke-pada orang-orang miskin dan mengikut Aku.” Ini merupakan perkataan yang mematikan. Ketika Tuhan menyebutkan ke-enam perintah, orang muda itu sangat bersemangat, sebab ia seorang yang menuruti hukum Taurat. Tetapi ketika Tuhan memberi tahu dia untuk mencabut cintanya terhadap uang, kemudian mengikuti Dia, ia pergi dengan sedih.
Semasih muda, saya merasa dipersulit oleh perkataan Tuhan dalam pasal 18 mengenai pengampunan. Saya meng-anggapnya sebagai suatu perkataan yang tegas dan meneri-manya dengan serius. Saya bertanya kepada diri sendiri, re-lakah saya mengampuni setiap orang. Ketika sampai pada pasal 19, saya bertanya kepada diri sendiri, apakah saya dapat mencabut akar cinta uang dalam saya. Seperti kebanyakan murid di daratan China pada saat itu, saya sangat miskin. Tetapi sekalipun saya seorang murid yang miskin, saya juga dapat bermimpi menjadi kaya. Pada saat itu saya tidak be-rani berkata, “Ya Tuhan, aku dapat mencabut cinta akan uang.” Saya menyadari bahwa mungkin saya tidak akan ber-hasil berbuat demikian. Cinta uang menyingkapkan banyak orang kristen yang sudah menyimpang jauh hari ini. Bagi mereka, Injil Matius hanyalah sebuah buku cerita. Ketika me-reka membacanya, tidak ada sesuatu pun yang menyentuh mereka. Tetapi kita harus tersentuh oleh perkataan Tuhan yang jelas dalam pasal 19 tentang permintaan kerajaan. Apakah Anda serius terhadap Tuhan dan bagi kerajaan-Nya? Jika demikian, bagaimana dengan cinta Anda akan uang? Masih adakah tempat di dalam Anda bagi cinta akan uang? Ini satu perkara yang serius.
Hanya berdasarkan hayat ilahi kita mampu memenuhi permintaan kerajaan. Jika kita mempunyai anugerah untuk berbuat demikian, mudah memenuhi permintaan ini. Berda-sarkan hayat insani kita mustahil, tetapi berdasarkan hayat ilahi dengan anugerah ilahi itu mudah. Pada hakikatnya ini adalah suatu sukacita. Alangkah girangnya menyimpan harta benda di surga!
Kita, umat dalam kerajaan, mutlak berbeda dengan umat duniawi. Kita bahkan berbeda dengan mereka yang ada dalam “agama” Kristen. Hati kita terjamah dan kita serius dengan Tuhan tentang kerajaan-Nya. Kekayaan dan harta benda tak banyak berarti bagi kita. Berdasarkan hayat ala-miah, kita sangat sulit mempunyai sikap yang demikian terhadap kekayaan. Tetapi berdasarkan hayat ilahi dengan anugerah ilahi, kita mampu berkata bahwa kita menyimpan harta benda di surga merupakan suatu sukacita.
Kita telah nampak tiga permintaan untuk masuk ke dalam kerajaan surga: menanggulangi hawa nafsu, menang-gulangi kesombongan, dan menanggulangi cinta akan harta. Menanggulangi cinta akan uang berarti menanggulangi diri (ego). Mereka yang cinta akan uang mempunyai dua alasan: untuk keamanan dan untuk kesenangan. Orang-orang dalam negeri ini mengkhawatirkan keamanan mereka. Mereka khawatir akan hari depan mereka, karena itu mereka me-nabung banyak-banyak untuk keamanan dan hari tua mereka. Yang lain cinta akan uang karena kesenangan yang dida-pat dari uang mereka. Mereka senang menghitung berapa banyak uang yang mereka miliki di bank. Baik keamanan maupun kesenangan bersangkutan dengan ego. Jadi, cinta akan uang merupakan masalah ego. Menanggulangi cinta akan uang berarti menanggulangi ego, sekalipun ego ditanggulangi secara tidak langsung.
Perkataan tegas dari Tuhan mengenai permintaan kerajaan seharusnya tidak hanya menjadi doktrin bagi kita. Kita perlu menerima firman Tuhan secara serius dan membuka diri kita kepada Tuhan tentang hawa nafsu, kesombongan, dan cinta akan uang yang tersembunyi demi kepentingan ego. Kiranya Tuhan membelaskasihani kita, dengan memberi kita penanggulangan yang mutlak terhadap perkara-perkara ini bagi Kerajaan Surga.