← Daftar isi Matius (4) · bab 8/20

MENGECAM AGAMAWAN YAHUDI DAN MENINGGALKAN YERUSALEM BESERTA BAIT SUCINYA

Setelah Tuhan diperiksa dan diuji oleh para pemimpin agama, di dalam hikmat-Nya, Ia membungkam mulut mereka. Pada akhirnya, Ia sampai pada tahap di mana Ia tidak berbi-cara kepada mereka lagi. Sebaliknya dalam pasal 23, Ia mem-beri mereka kata-kata yang terakhir. Dalam berita ini kita akan berbicara mengenai kecaman Tuhan terhadap kaum aga-mawan Yahudi dan ditinggalkannya Yerusalem beserta Bait Sucinya.

I. MENGECAM KAUM AGAMAWAN

A. Kemunafikan Mereka

Dalam kecaman-Nya terhadap kaum agamawan, terlebih dulu Tuhan berbicara mengenai kemunafikan mereka (23:1-12).

1. Menduduki Kursi Musa dan Mengajarkannya tetapi Tidak Melakukannya

Dalam ayat 2-3 Tuhan berkata, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajar-kan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengatakan hal-hal tertentu mengenai hukum Taurat, tetapi mereka tidak melakukannya. Karena itu Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya untuk melakukan segala sesuatu yang dikatakan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, karena perkataan mereka adalah menurut Alkitab. Namun, Ia berkata kepada murid-murid-Nya agar jangan mengikuti apa yang mereka lakukan, sebab perbuatan mereka itu munafik.

2. Mengikat Beban-beban Berat dan Meletakkannya

di Atas Bahu Orang, tetapi Mereka Sendiri Tidak Mau Menyentuhnya

Ayat 4 mengatakan, “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendi-ri tidak mau menyentuhnya.” Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi meletakkan beban-beban hukum Taurat di atas bahu orang lain, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

3. Mereka Melakukan Semua Pekerjaan dengan Maksud Dilihat Orang

Dalam ayat 5 Tuhan berkata, “Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang.” Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi melakukan segala sesuatu untuk pamer secara lahiriah agar orang lain melihat-nya. Mereka melakukan itu karena kesombongan mereka, keinginan untuk dipuji.

4. Memperlebar Tali Sembahyang dan Memperpanjang Jumbai Jubah Mereka

Ayat 5 juga mengatakan, “Mereka memakai tali sembah-yang yang lebar dan jumbai yang panjang.” Tali sembahyang di sini adalah kotak kulit kecil yang berisi bagian-bagian dari hukum Taurat yang ditulis dalam perkamen. Menurut Ulangan 6:8 dan 11:18, tali sembahyang itu diikatkan di dahi sebagai ikat kepala dan tanda di lengan kiri. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi melebarkan tali sembahyang itu dan menganggapnya sebagai perhiasan yang memikat orang. Me-reka pun melebarkannya dengan maksud memamerkan be-tapa mereka menyukai hukum Taurat, untuk hukum Taurat, dan menaati hukum Taurat. Ini menyingkapkan kedambaan mereka mempertahankan penampilan yang bagus dalam pan-dangan orang lain.

Hukum Taurat menuntut orang-orang Israel membuat jumbai di ujung pakaian mereka dengan pita biru. Jumbai ju-bah itu melambangkan bahwa perbuatan mereka (yang dilam-bangkan oleh pakaian mereka) diatur dengan aturan surgawi (yang ditunjukkan dengan pita biru) dan jumbai jubah itu akan mengingatkan mereka untuk menuruti perintah Allah (Bil. 15:38-39). Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mem-perbesar jumbai jubah mereka, seolah-olah mereka menuruti perintah-perintah Allah dan diatur oleh perintah Allah sampai tingkat yang tinggi. Mereka melakukan hal ini untuk me-muliakan diri mereka.

5. Menyukai Tempat Terhormat dalam Perjamuan dan Tempat Terbaik di Rumah Ibadat

Ayat 6 mengatakan bahwa “Mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat.” Ini menunjukkan bahwa mereka senang berada di atas orang lain dan mereka damba menjadi yang besar di antara orang banyak.

6. Menyukai Penghormatan di Pasar dan Dipanggil Rabi oleh Orang-orang

Ayat 7 menunjukkan bahwa mereka menyukai “penghor-matan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi’”. Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi suka dihormati orang di pasar. Me-reka pun menikmati panggilan Rabi, sebutan penghormatan yang berarti guru, tuan.

7. Berkebalikan dengan Kerendahan Hati Umat Kerajaan

Tingkah laku ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berkebalikan dengan kerendahan hati umat kerajaan. Umat kerajaan harus mutlak berlawanan dengan mereka. Sebagai contoh, dalam ayat 8 Tuhan berkata, “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.” Ini menunjukkan bahwa Kristus ada-lah guru dan tuan kita. Ayat 9 mengatakan, “Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga.” Ayat ini mewahyukan bahwa Allah adalah Bapa kita satu-satunya. Kita semua me-miliki satu Bapa surgawi dan itu adalah Allah sendiri. Dalam ayat 10 kita nampak bahwa Kristus adalah satu-satunya Pemimpin, Pembimbing, Penganjur, dan Pengarah kita. Ayat ini mengatakan, “Janganlah kamu disebut pemimpin, ka-rena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” Kata Yunani menerangkan “pemimpin” dapat pula diterjemahkan “pemandu”, “pengajar”, “pengarah”. Dalam ayat 11 dan 12 kita nampak bahwa yang terbesar di antara kita wajib menjadi hamba kita, siapa meninggikan dirinya akan direndahkan, dan siapa merendahkan dirinya akan ditinggikan. Karena itu, orang yang meninggikan diri akan direndahkan dan orang yang merendahkan diri akan ditinggikan.

B. Celaka Delapan Ganda Mereka

Dalam 23:13-36 Tuhan mengumumkan celaka delapan ganda pada ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Dalam pasal 5 kita memiliki berkat sembilan ganda, tetapi di sini terdapat celaka delapan ganda.

1. Celaka yang Pertama

Ayat 13 mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, ka-rena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merin-tangi mereka yang berusaha untuk masuk.” Orang-orang Farisi menutup pintu-pintu Kerajaan Surga. Mereka sendiri tidak masuk, namun mereka merintangi orang-orang yang berusaha untuk masuk. Di antara orang Kristen hari ini, be-berapa orang sama seperti ini. Mereka tidak berminat masuk ke dalam Kerajaan Surga dan pada saat yang sama, mereka merintangi orang lain yang berusaha untuk masuk. Hampir semua penentang kita bukan dari orang yang tak beriman, melainkan dari orang Kristen berkebaktian yang hendak meng-gagalkan orang-orang yang ingin masuk. Dalam pandangan Tuhan, ini suatu perkara yang sangat licik.

2. Celaka yang Kedua

Ayat 14 mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, se-bab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengela-bui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.” Ketika mereka pura-pura berdoa panjang, mereka menelan rumah janda-janda.

3. Celaka Ketiga

Ayat 15 mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, se-bab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, un-tuk membuat satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon peng-huni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sen-diri.” Ini juga terjadi pada hari ini. Di Timur Jauh saya me-lihat bahwa orang kekristenan tertentu menobatkan beberapa penganut Buddha hanya untuk menjadikan mereka orang neraka, yang dua kali lebih jahat daripada mereka.

4. Celaka Keempat

Ayat 16 mengatakan, “Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.” Kebutaan mereka tersingkapkan di sini. Dalam ayat 17 Tuhan melanjutkan, “Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih pen-ting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?” Menguduskan emas berarti membuat emas itu kudus secara posisi dengan mengubah posisinya dari tempat yang umum ke tempat yang kudus. Bait Suci itu lebih besar daripada emas sebab Bait Suci menguduskan emas. Pengudusan ada dua apek, aspek posisi dan aspek hakiki. Di sini kita nampak bahwa emas dikuduskan oleh Bait Suci. Ini pengudusan po-sisi, bukan hakiki. Boleh jadi emas dahulunya terdapat di pasar, yang merupakan emas biasa, tidak kudus, tidak di-pisahkan bagi Allah. Tetapi ketika emas itu diambil dari pasar emas dan dimasukkan ke dalam Bait Suci, secara po-sisi emas itu dikuduskan dengan diletakkan di dalam Bait Suci. Sebelumnya emas ini adalah emas biasa yang berada di pasar; kini emas ini adalah emas yang dikuduskan dalam Bait Allah. Sekalipun posisi emas telah berubah, namun ha-kikinya tetap sama. Inilah pengudusan posisi.

Prinsipnya sama dengan mezbah dan persembahan dalam ayat 18-19. Pengudusan persembahan oleh mezbah juga se-macam pengudusan posisi. Pengudusan persembahan dilaku-kan melalui pengubahan lokasi persembahan dari tempat yang awam ke tempat yang kudus. Karena mezbah lebih besar daripada persembahan, maka mezbah menguduskan persembahan. Sebagai contoh, ketika seekor anak domba ber-ada di antara kawanan domba, itu adalah anak domba awam yang tidak dipisahkan untuk Allah atau dikuduskan. Tetapi begitu anak domba ini dipersembahkan di atas mezbah, mezbah menguduskan anak domba ini bagi Allah. Namun, sebagaimana dengan emas, hakiki anak domba tetap masih sama, hanya posisi lahiriahnya yang berubah. Sebelumnya anak domba ini berada di antara kawanan domba, kini ber-ada di mezbah bagi Allah. Pengudusan semacam ini adalah pengudusan posisi yang tidak mempengaruhi hakiki kita. Namun pengudusan yang dikatakan dalam Roma 6 adalah pengudusan hakiki, yang menyentuh apa adanya kita, hakiki batiniah kita.

Dalam ayat 20-22 Tuhan berkata bahwa siapa bersumpah demi mezbah ia bersumpah demi mezbah dan juga demi se-gala sesuatu yang terletak di atasnya; siapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia yang tinggal di situ; dan siapa bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang ber-semayam di atasnya.

5. Celaka Kelima

Ayat 23-24 berisikan celaka yang kelima. Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi membayar persepuluhan dari selasih, adas manis, dan jintan, tetapi mengabaikan masalah yang ter-penting dalam hukum Taurat yaitu: keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Tuhan mengatakan mereka itu pemimpin-pemimpin buta yang menyaring nyamuk, tetapi menelan unta.

6. Celaka Keenam

Ayat 25-26 mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang mu-nafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan ke-rakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.” Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi hanya mem-perhatikan yang di luar. Situasinya sama dengan pasal 15. Sekalipun mereka membasuh tangan mereka, namun batiniah mereka penuh dengan perampokan dan kelemahan diri. Pe-rampokan berkaitan dengan cinta uang dan kelemahan diri berkaitan dengan nafsu daging. Sebab itu, sekalipun ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membersihkan diri secara lahiriah, secara batiniah mereka penuh dengan cinta akan uang dan nafsu daging.

7. Celaka Ketujuh

Ayat 27-28 mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang mu-nafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tam-paknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman.” Orang-orang Farisi se-perti kuburan. Pernahkah Anda memikirkan bahwa orang yang telah jatuh itu seperti kuburan? Secara lahiriah me-reka mungkin indah dan tampaknya benar dalam pandangan manusia, tetapi di dalam batin mereka penuh dengan tulang dan kenajisan orang mati, penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan.

8. Celaka Kedelapan

Dalam ayat 29-36 terdapat celaka kedelapan. Ayat 29 mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh.” Tugu di sini menunjukkan kuburan orang-orang saleh. Di luar Yerusalem terdapat sejumlah tugu. Orang-orang Farisi merombak kuburan nabi-nabi dan memperindahnya untuk pamer. Tuhan berkata bahwa dengan demikian me-reka membuktikan bahwa mereka adalah keturunan dari orang-orang yang membunuh nabi-nabi (ayat 31). Maka Tuhan menyebut mereka “ular” dan “keturunan ular beludak” (ayat 33). Sebagaimana ayat 34 menunjukkan, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kemudian menganiaya dan membunuh rasul-rasul Perjanjian Baru yang diutus oleh Tuhan. Kecaman Tuhan terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi memberi kita gambaran yang tepat mengenai agama hari ini. Segala sesuatu yang terdapat dalam 23:1-36 menyerupai situasi hari ini. Ingatlah, kecaman ini terdapat dalam kitab kerajaan. Maksud Matius membentangkan hal yang negatif ini adalah untuk mewahyukan kepada kita hal yang positif. Kehidupan kerajaan haruslah merupakan kehidupan yang berkebalikan dengan apa yang dibentang-kan dalam 23:1-36, dan harus merupakan kehidupan yang berlawanan mutlak dengan gambaran yang hitam dari neraka tersebut. Hanya bersandar belas kasihan dan anugerah Tuhan kita dapat melarikan diri dari situasi yang dilukiskan di sini. Untuk ini kita semua perlu berdoa, “Ya Tuhan, selamat-kanlah aku! Tolonglah aku! Jauhkanlah aku dari situasi yang mengerikan ini.”

II. MENINGGALKAN YERUSALEM BESERTA

BAIT SUCINYA

Setelah Tuhan diuji dan diperiksa, dan setelah Ia menge-cam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Ia meninggal-kan Yerusalem beserta Bait Sucinya. Dalam 23:37-39 Tuhan mengatakan perkataan yang terakhir terhadap Yerusalem. Setelah perkataan ini, Tuhan tidak lagi mengurusinya.

A. Yerusalem Membunuh Nabi-nabi

Ayat 37 mengatakan, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!” Yerusalem dan anak-anak-nya dipilih Allah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Namun ketika Allah mengutus nabi-nabi-Nya kepada mereka, mere-ka membunuhnya.

B. Tuhan Seperti Induk Ayam

yang Rindu Mengumpulkan Anak-anak-Nya di Bawah sayap-Nya

Ayat 37 mengatakan pula, “Berkali-kali Aku rindu me-ngumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam me-ngumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Allahlah yang selalu memperhatikan Yerusalem, seperti burung yang mengepak-ngepakkan sayapnya di atas anak-anaknya (Yes. 31:5: Ul. 32:11-12). Karena itu, ketika Tuhan Yesus berkata, “Aku rindu mengumpulkan anak-anak-mu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya.” Dia menunjukkan bahwa Dia adalah Allah sendiri. Tuhan seperti burung yang penuh kasih, me-ngitari, mengerami anak-anak-Nya. Sering kali Ia rindu me-ngumpulkan anak-anak Yerusalem, tetapi mereka tidak mau. Sebagaimana Tuhan Yesus mengumumkan perkataan yang terakhir ini kepada mereka, Ia masih seperti induk ayam yang mengasihi, membentangkan sayap-Nya untuk melindungi anak-anak-Nya yang kecil. Tetapi mereka tidak mau dikum-pulkan di bawah sayap-Nya.

C. Rumah — Bait Suci — Menjadi Sunyi

Dalam ayat 38 Tuhan berkata, “Lihatlah, rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” Karena “rumah” di sini berbentuk tunggal, tentu mengacu kepada rumah Allah yang adalah Bait Suci (21:12-13). Dulu rumah ini disebut rumah Allah, tetapi sekarang disebut “rumahmu”, karena orang-orang Yahudi membuatnya menjadi sarang penyamun (21:13). Nubuat tentang rumah menjadi sunyi itu berhubungan de-ngan nubuat yang terdapat dalam 24:2, yang digenapi ketika Titus dan tentara Romawi menghancurkan Yerusalem pada tahun 70 Masehi.

Menurut konteks seluruh Alkitab, rumah di sini mengacu kepada Bait Suci, rumah yang unik, rumah Allah. Tetapi pada saat ini, rumah Allah telah menjadi “rumahmu”; bu-kan lagi rumah Allah, melainkan sarang penyamun. Ketika Tuhan membersihkan Bait Suci, Ia berkata, “Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang pe-nyamun” (21:13).

Pada zaman dahulu, menurut Kitab Yehezkiel, Allah pernah meninggalkan Bait Suci-Nya. Perkara yang sama terjadi di sini. Dalam pasal 10, Yehezkiel dalam visi nampak kemuliaan Allah meninggalkan Bait Suci. Karena itu Bait Suci ditinggalkan dan menjadi sunyi bagi umat Yahudi yang memberontak, dan pada akhirnya bait itu dibakar dan runtuh. Di sini, dalam Matius 23, Tuhan sekali lagi menyinggung ten-tang meninggalkan rumah itu menjadi sunyi. Tak lama ke-mudian, Bait Suci itu dihancurkan oleh pasukan Romawi di bawah pimpinan Titus. Karena itu 23:38 berpadanan dengan 24:2 yang menunjukkan bahwa tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu lain. Kedua ayat ini menunjukkan ditinggalkannya Bait Suci di Yerusalem dan menjadi sunyi. Pada saat Bait Suci diruntuhkan, bukan lagi Rumah Allah, melainkan menjadi rumah pemberontak.

D. Tidak Melihat Tuhan Sampai

Kedatangan-Nya Kembali

Ayat 39 mengatakan, “Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, sampai kamu berkata: Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” Ini akan terjadi pada kedatangan Tuhan kali kedua, ketika semua sisa orang Israel akan berpaling dan akan percaya ke-pada-Nya dan diselamatkan (Rm. 11:23, 26). Yehezkiel nam-pak kemuliaan meninggalkan Bait Suci. Kemuliaan ini me-lambangkan Tuhan Yesus, yang adalah kemuliaan yang sejati, manifestasi Allah. Israel tidak akan melihat Dia lagi sampai kedatangan-Nya kali kedua. Menurut Zakharia 12, sisa umat Israel akan bertobat ketika Tuhan kembali. Ke-mudian mereka akan berkata kepada-Nya, “Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.”

Perkataan Tuhan di sini singkat, tetapi mencakup se-jumlah hal yang dimulai dari runtuhnya Yerusalem hingga kedatangan Tuhan kali kedua. Di sini Tuhan membuat peng-umuman yang jelas bahwa Ia, kemuliaan sejati Allah, me-ninggalkan bangsa Israel dan mereka tidak akan melihat Dia sampai kedatangan-Nya kembali. Sejak hampir dua ribu tahun yang silam hingga sekarang, Israel masih belum me-lihat Tuhan Yesus. Ada orang mungkin akan bertanya, “Apakah ini berarti bahwa orang Yahudi tidak ada kesem-patan percaya dalam Tuhan Yesus?” Secara individual, orang Yahudi masih ada kesempatan untuk percaya, tetapi sebagai bangsa, mereka tidak mempunyai kesempatan ini hari ini. Sebagai bangsa, Israel sudah putus hubungan dengan Tuhan. Syukur kepada Tuhan ia masih membelaskasihani orang Yahudi. Sekalipun Ia telah meninggalkan bangsa Israel, pintu belakang masih terbuka bagi orang Yahudi individual untuk datang kepada-Nya. Hari ini tidak ada seorang pun dari orang Yahudi yang berkedudukan untuk datang kepada Allah sebagai wakil bangsanya. Tetapi ketika orang Yahudi dianiaya oleh musuh mereka pada akhir zaman ini, mereka akan berseru-seru kepada Allah, maka Kristus akan turun dan menjejakkan kaki-Nya di atas Gunung Zaitun, yang akan direkahkan seperti air Laut Merah. Ini akan memungkin-kan orang Yahudi menghindari aniaya. Pada saat itu mereka akan bertobat kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya se-hingga bangsa itu akan diselamatkan. Keselamatan ini ti-dak hanya untuk individual, tetapi juga untuk keseluruhan bangsa. Namun, sebelum kedatangan Tuhan kembali, bangsa Israel mustahil bertobat. Tetapi, sebagaimana telah kita tun-jukkan, orang Yahudi individual masih dapat bertobat hari ini dan masuk ke dalam anugerah Allah.