KETIDAKBENARAN MANUSIA DAN KEBENARAN ALLAH
Dalam Matius 27 kita nampak suatu kontras antara ketidakbenaran manusia dan kebenaran Allah. Dalam hal penyaliban Kristus, ketidakbenaran manusia beralih menjadi kebenaran Allah. Kita perlu nampak hal ini dengan sangat jelas.
KETIDAKBENARAN MANUSIA
Sebagaimana telah kita tunjukkan dalam berita di depan, Tuhan Yesus berada di atas salib selama enam jam. Pada tiga jam yang pertama, Ia ditanggulangi oleh manusia dan tiga jam kemudian Ia ditanggulangi oleh Allah. Segala sesuatu yang manusia perbuat atas diri Tuhan Yesus dalam pasal 27 tidaklah benar. Bukan hanya Pilatus yang tidak benar terhadap Tuhan Yesus, tetapi juga para pemimpin Yahudi tidak benar terhadap-Nya. Mereka menahan Kristus secara tidak benar dan mereka menghakimi dan memborgol-Nya secara tidak benar. Segala sesuatu yang tua-tua agama lakukan atas diri Tuhan tidak benar. Tentu saja Yudas juga tidak benar mengkhianati Tuhan Yesus. Serdadu Roma pun memperlakukan-Nya secara tidak benar. Cemooh, ludahan, dan pukulan mereka tidak benar. Tambahan pula, mereka secara tidak benar memaksa Simon dari Kirene untuk memikul salib Tuhan. Jadi di pihak manusia, semuanya tidak ada yang benar.
KETIDAKBENARAN MANUSIA BERALIH MENJADI KEBENARAN ALLAH
Puji Allah bahwa ketidakbenaran manusia beralih menjadi kebenaran Allah. Hanya itulah yang mampu dilakukan manusia terhadap-Nya; menganiaya Tuhan dan menyalibkan-Nya sebagai Anak Domba Paskah. Segala sesuatu yang manusia lakukan atas diri Tuhan Yesus menyediakan keadaan bagi masuknya kebenaran Allah. Di pihak manusia segala sesuatunya serba hitam, tetapi di pihak Allah, semuanya serba putih. Di pihak manusia, segala sesuatunya tidak benar, tetapi di pihak Allah, segalanya benar. Ketidakbenaran manusia menyediakan jalan bagi kebenaran Allah untuk dimanifestasikan sepenuhnya. Dengan demikian, ketidakbenaran manusia beralih menjadi kebenaran Allah. Dalam penyaliban Kristus, ketidakbenaran manusia diungkapkan seluruhnya; namun mendatangkan kebenaran Allah. Jadi, terbunuhnya Kristus merupakan jalan pertama bagi datangnya kebenaran Allah.
KRISTUS MENYINGKAPKAN
KETIDAKBENARAN MANUSIA
Namun ini bukan jalan dasar. Jalan dasar di mana ketidakbenaran manusia menjadi kebenaran Allah ialah melalui Kristus sendiri. Dalam hal ketidakbenaran manusia beralih menjadi kebenaran Allah, Kristus terlebih dulu menyingkapkan ketidakbenaran manusia sampai puncaknya. Dalam seluruh sejarah manusia tidak ada satu perkara di mana ketidakbenaran manusia disingkapkan sedemikian rupa seperti dalam penyaliban Kristus. Sebagaimana kita semua tahu, banyak terdapat ketidakbenaran dalam bidang per-adilan pemerintahan duniawi mana pun. Tetapi tidak ada peradilan duniawi yang nampak ketidakbenaran sebagaimana yang disingkapkan dalam hal penganiayaan dan penyaliban Tuhan Yesus. Tuhan Yesus secara mutlak menyingkapkan ketidakbenaran manusia. Kita telah nampak bahwa peng-khianatan Yudas terhadap Tuhan itu tidak benar. Tua-tua, imam kepala, serta mahkamah agama semuanya tidak benar. Sebab itu, peristiwa penyaliban Kristus benar-benar khusus dan penuh dengan ketidakbenaran. Hampir semua orang yang terlibat dalam perkara-Nya itu tidak benar. Dalam setiap aspek dan semua cara juga tidak benar. Kehadiran Kristus yang sejati dalam situasi yang tidak benar ini adalah penyingkapan penuh terhadap ketidakbenaran manusia.
KRISTUS MENANGGUNG
KETIDAKBENARAN MANUSIA
Selanjutnya, Kristus yang menyingkapkan ketidakbenaran manusia sampai puncaknya menanggung pula semua ketidakbenaran yang Dia singkapkan. Terlebih dulu Ia menyingkapkan ketidakbenaran manusia, kemudian Ia menanggungnya di atas salib. Ini seperti pembersihan rumah. Kalau Anda tidak membersihkannya, Anda tak dapat melihat debu yang tersembunyi di sela-sela perabot-perabot. Ketika kita membersihkan ruangan, terlebih dulu debu itu harus disingkapkan, kemudian disapu, dan dimasukkan ke dalam keranjang debu. Demikian pula, pada hari Paskah, Tuhan Yesus terlebih dulu menunjukkan semua “debu”, yakni semua ketidakbenaran manusia. Kemudian Ia membersihkan “debu” yang telah ditunjukkan-Nya. Oh, kehadiran Tuhan Yesus menyingkapkan setiap partikel “debu” yang tersembunyi di seluruh pelosok alam semesta. Pada akhirnya, Tuhan Yesus Kristus sendiri menjadi “keranjang debu” dan semua “debu” terkumpul pada-Nya. Selama tiga jam yang pertama Ia berada di atas salib, saat manusia menanggulangi Dia. Semua dosa, segala ketidakbenaran, seluruh “debu” alam semesta ditimpakan di atas diri Tuhan. Ketika Ia tergantung di atas salib, Dialah “keranjang debu” alam semesta yang menghimpun semua “debu” alam semesta. Sebab itu, setelah semua ketidakbenaran manusia tersingkapkan, semua itu kemudian ditanggung oleh Kristus di atas salib. Hal ini membuat segalanya siap bagi kebenaran Allah untuk datang menghakimi orang yang tidak benar beserta seluruh ketidakbenaran mereka.
Tanpa ada yang hitam, yang putih takkan tertampil jelas. Karena semua “debu”, semua ketidakbenaran manusia ditaruh di atas salib, maka langkah ini mempersiapkan jalan bagi pewahyuan kebenaran Allah. Andaikata tidak ada begitu banyak ketidakbenaran, maka tidak mungkin ada begitu banyak kebenaran dinyatakan. Semua ketidakbenaran umat manusia ditumpuk pada diri-Nya di atas salib, dengan demikian kebenaran Allah dapat dimanifestasikan. Allah yang benar masuk untuk melaksanakan kebenaran-Nya dengan menghakimi semua ketidakbenaran ini. Inilah sebabnya melalui Kristus ketidakbenaran manusia akhirnya beralih menjadi kebenaran Allah. Dengan cara inilah kita diselamatkan.
Kristus itulah titik peralihan. Ketidakbenaran manusia beralih menjadi kebenaran Allah melalui Kristus. Terlebih dulu Kristus menyingkapkan ketidakbenaran manusia, kemu-dian mengadilinya dengan kebenaran Allah. Ia sendiri menang-gung semua ketidakbenaran manusia yang telah Dia sing-kapkan. Hari ini Anda masih berada dalam ketidakbenaran manusia, atau di dalam kebenaran Allah? Haleluya, kita yang telah diselamatkan berada di dalam kebenaran Allah.
KEBENARAN ALLAH DALAM INJIL
Masalah kebenaran ini adalah aspek yang sangat penting dari kebenaran Injil. Hal ini sangat mendasar, karena meru-pakan dasar dan fondasi kita untuk diselamatkan. Keselamatan kita berdiri di atas batu karang kukuh kebenaran Allah. Roma 1:16-17 mengatakan, “Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya di-nyatakan pembenaran oleh Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman.’” Karena kebenaran Allah, Injil berkuasa menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Injil Kristus begitu berkuasa bukan karena kasih Allah atau karena anugerah Allah, melainkan karena kebenaran Allah.
Secara hukum, baik kasih maupun anugerah dapat berubah, tetapi kebenaran, terutama kebenaran Allah, tidak demikian. Madame Guyon pernah mengatakan bahwa seka-lipun Allah hendak berubah pikiran (hati) mengenai keselamatannya, Allah tidak dapat melakukannya, sebab Ia telah menghakiminya di atas salib. Melalui Kristus sebagai pengganti kita, kita telah dihakimi menurut kebenaran yang terlaksana di atas salib. Jadi, Allah harus menyelamatkan kita. Allah adalah Allah yang adil. Karena Ia sudah secara benar menanggulangi kita menurut hukum, Ia kini harus menyelamatkan kita. Kita dapat berkata dengan berani kepada-Nya, “Ya Allah, aku kini tidak mengatakan tentang kasih-Mu atau anugerah-Mu, melainkan kebenaran-Mu. Aku mohon kepada-Mu tentang kebenaran-Mu. Menurut kebenaran-Mu, Engkau harus menyelamatkan aku. Jika Engkau tidak menyelamatkan aku, itu berarti Engkau tidak benar.” Jika kita mengatakan demikian kepada Allah, Ia akan menyahut, “Aku pasti menyelamatkanmu.”
Tidak ada yang lebih mengikat Allah dibanding kebenaran-Nya. Mazmur 89:15 berkata, “Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu.” Jika keadilan Allah dapat disingkirkan, takhta-Nya akan runtuh. Kita dapat berkata, “Puji Tuhan! Bahkan jika Allah ingin berubah pikiran, Ia tidak dapat melakukannya, sebab Ia adalah Allah yang adil!” Alangkah bermaknanya hal ini!
KEBENARAN, KASIH, DAN KARUNIA
Kebenaran atau keadilan merupakan masalah hukum. Sebaliknya, kasih merupakan masalah emosi. Jika saya me-ngasihi Anda, saya boleh memperhatikan Anda. Tetapi jika saya tidak mengasihi Anda, saya boleh melupakan Anda. Banyak orang Kristen suka mengutip Yohanes 3:16, ayat yang mengatakan bahwa Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia memberikan Anak tunggal-Nya yang Dia kasihi itu. Benar, Allah begitu mengasihi dunia ini, tetapi kasih-Nya tidak sekokoh kebenaran-Nya. Allah tentu saja tidak akan mengubah kasih-Nya. Namun andaikata kasih Allah berubah; Allah mempunyai hak untuk mengubah kasih-Nya, tetapi Ia tidak mempunyai hak untuk mengubah kebenar-an-Nya. Tidak peduli Allah mengasihi kita atau melepaskan kita, Dia tidak salah. Dia juga tidak akan salah dalam memberikan anugerah-Nya kepada kita atau tidak. Anugerah adalah masalah kehendak Allah. Dalam Matius 20 Tuhan berkata kepada Petrus bahwa Ia akan memberi pahala yang sama kepada yang terakhir seperti kepada yang pertama. Ini merupakan masalah kehendak Tuhan, tidak ada salahnya demikian. Tetapi kebenaran bukan perihal emosi atau ke-hendak, melainkan masalah hukum. Masalah hukum berhubungan dengan pelaksanaan hukum Taurat, undang-undang. Injil Allah mutlak merupakan masalah hukum, masalah undang-undang ilahi. Allah telah menyelamatkan kita berdasarkan hukum. Sudah tentu penyelamatan Allah bermula dari kasih-Nya dan digenapkan melalui anugerah-Nya. Namun, pada akhirnya memancarkan kebenaran-Nya. Jadi, keselamatan yang kita terima hari ini bukan hanya masalah kasih atau anugerah, tetapi juga masalah kebenaran Allah yang mempunyai landasan hukum. Keselamatan kita telah dimeteraikan dan dibenarkan oleh kebenaran Allah. Sekarang bahkan Allah sendiri pun tidak dapat mengubah keselamat-an kita.
KERAJAAN ALLAH DIBANGUN
DI ATAS KEBENARAN
Berdasarkan kebenaran inilah Kerajaan Allah dibangun. Sudahkah Anda nampak kontras antara kebenaran manu-sia dan kebenaran Allah, antara kerajaan manusia dan Kerajaan Allah? Kerajaan Manusia tidak dibangun di atas kebenaran. Fakta ini tersingkap sepenuhnya dalam cara Pilatus, pemerintah Romawi, menanggulangi Tuhan Yesus. Dalam pasal 26 Matius sepenuhnya menyingkapkan kelemahan hayat alamiah Petrus dan dalam pasal 27 ia menyingkapkan ketidakbenaran manusia. Bahkan setelah penguburan Kristus, juga tertampak ketidakbenaran manusia. Imam kepala dan orang-orang Farisi berhimpun untuk bersama-sama menghasut Pilatus, “Tuan, kami ingat bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. Karena itu, perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya daripada yang pertama” (27:63-64). Kata Pilatus: “Ini penjaga-penjaga bagi-mu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya” (ayat 65). Jawaban Pilatus kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi itu adalah tidak benar. Kemudian dalam 28:11-15, imam-imam kepala dan tua-tua menyuap para serdadu itu, membayar mereka untuk berdusta tentang kebangkitan Kristus. Ini menunjukkan bahwa serdadu Roma pun tidak benar. Jadi, mengenai pemerintahan manusia, kisah ini penuh dengan ketidakbenaran. Ini mengungkapkan fakta bahwa pemerintahan manusia dibangun di atas ketidakbenaran. Tetapi pemerintahan Allah dibangun di atas kebenaran. Kebenaran adalah fondasi yang kokoh bagi Kerajaan Allah. Kita diselamatkan di dalam kebenaran Allah. Sebab itu, fondasi keselamatan kita sangatlah kokoh.
Dalam pasal 27 kita nampak ketidakbenaran manusia dan kebenaran Allah. Puji Tuhan, pada akhirnya ketidak-benaran manusia beralih menjadi kebenaran Allah! Kita dulu berada di dalam ketidakbenaran manusia, tetapi kini kita berada di dalam kebenaran Allah dan dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah ialah kerajaan kebenaran, dan kita adalah umat yang benar dalam kerajaan-Nya.