DIHAKIMI, DISALIBKAN, DAN DIKUBURKAN
Dalam berita ini kita sampai pada Injil Matius 27. Nampaknya pasal ini tidak berhubungan dengan Kerajaan Surga, tetapi sesungguhnya hubungannya sangat erat. Jika kita tidak membaca pasal ini dalam terang Kerajaan Surga, kita tidak akan memahami sepenuhnya.
Ayat pertama pasal 27 dimulai dengan kata “ketika”. Ini menunjukkan bahwa suatu hal telah digenapkan dan yang lain akan menyusul. Kita mungkin mengira bahwa pa-sal 27 hanya merupakan lanjutan pasal 26. Tetapi dalam makna rohaninya pasal 27 sangat berbeda dengan pasal 26. Makna rohani pasal 26 ialah mewahyukan hayat yang ber-hasil bagi kerajaan, dan menyingkapkan hayat yang tidak berhasil. Makna rohani pasal 27 berhubungan dengan kebe-naran. Dalam 27:19, istri Pilatus mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah orang yang benar, dan dalam ayat 24 Pilatus sendiri juga menyebut Dia sebagai orang yang benar. Namun dalam pasal ini Tuhan Yesus diperlakukan dengan sangat tidak adil.
I. DIHAKIMI OLEH PILATUS
A. Yesus Diserahkan oleh Pemimpin Agama Yahudi
kepada Pilatus, Pemerintah Romawi
Ayat 1-2 mewahyukan bahwa para pemimpin agama Yahudilah yang menyerahkan Tuhan Yesus kepada Pilatus. Pilatus, wakil dari Kaisar Tiberius, adalah hakim Romawi di Yudea (Palestina) dari pemerintahan Kaisar Tiberius, pada tahun 26-35 Masehi. Tidak lama setelah dia menyerahkan Tuhan Yesus secara tidak adil untuk disalibkan, kekuasa-annya berakhir dengan mendadak. Dia dibuang dan kemudi-an bunuh diri. Dalam komplotan kejahatan mereka, kaum agamawan Yahudi membujuk politikus kafir bekerja sama dengan mereka untuk membunuh Tuhan Yesus.
B. Nasib Yudas
Dalam ayat 3-10 kita membaca mengenai nasib Yudas. Ketika saya muda, saya merasa sulit menerima fakta dican-tumkannya nasib Yudas dalam kisah penghakiman Pilatus atas Kristus. Saya tidak mampu melihat hubungan antara kedua perkara ini. Ayat 1 dan 2 mengisahkan diserahkannya Tuhan Yesus kepada Pilatus oleh pemimpin agama. Kemu-dian ayat 3 dimulai dengan kisah Yudas yang menggantung diri. Ayat 3-4 mengatakan bahwa Yudas “mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua”, dengan mengatakan bahwa ia “telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Ke-mudian Yudas melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan mempergunakannya untuk membeli sebidang tanah yang akan dipergunakan un-tuk makam orang asing, karena mereka sadar bahwa uang itu adalah uang darah yang tidak layak untuk dimasukkan ke dalam peti persembahan (ayat 6-7). Mereka tidak mau me-nerima kembali uang darah. Pada hakikatnya apa yang me-reka perbuat atas Tuhan Yesus lebih jahat daripada perbu-atan Yudas. Setelah menyajikan kisah ini, kemudian dalam ayat 11 Matius menyimpulkannya dengan kisah dihakiminya Kristus oleh Pilatus.
Matius menyisipkan kisah nasib Yudas ke dalam kisah penghakiman Pilatus atas Kristus. Hal ini sangat bermakna. Kisah Yudas mempersaksikan kebenaran. Bahkan seorang yang telah mengkhianati Tuhan Yesus pun akhirnya menge-tahui bahwa Tuhan adalah orang yang benar, dan apa yang ia lakukan terhadap-Nya sangatlah tidak benar. Dalam usa-hanya untuk menjadi benar, ia melemparkan tiga puluh uang perak itu, sebab hati nuraninya tidak menyukai dia untuk menyimpannya. Ini merupakan suatu kebenaran. Ketika Yudas mengembalikan uang itu, para pemimpin agama seolah-olah berkata, “Kami tidak dapat menyimpan uang ini, uang da-rah, untuk dipersembahkan kepada Allah. Lebih baik kami menggunakannya untuk membeli tanah Tukang Periuk untuk kami jadikan tempat pekuburan bagi orang asing.” Ini me-nunjukkan bahwa pemimpin agama pun memiliki kebenaran formal. Jadi, konsepsi di sini berkaitan dengan kebenaran.
Kerajaan Surga didirikan di atas kebenaran. Dalam 5:10 Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga” (Tl.), dan dalam 5:20 Ia berkata, “Aku berkata ke-padamu: Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Tl.). Dalam 6:33 Tuhan berkata, “Carilah dahulu kerajaan dan kebenaran Allah” (Tl.). Ayat-ayat ini mewahyukan bahwa kebenaran berkaitan de-ngan kerajaan dan kerajaan dibangun di atas dasar kebenaran. Kita perlu mengerti dengan jelas akan hal ini jika kita ingin memasuki kedalaman pasal 27.
Pada saat Kristus disalibkan, orang Yahudi tidak ber-hak menghakimi Dia atau mempersalahkan Dia. Sekalipun mereka dapat mengamati Tuhan Yesus dalam beberapa per-kara, namun mereka tidak memiliki wewenang pemerintahan untuk menghakimi seseorang. Mereka hanya merupakan kelompok agama dan pemerintahan tidak di bawah kekua-saan mereka. Sebab itu Mahkamah agama Yahudi tidak mem-punyai kekuasaan pemerintahan dan tidak berhak memutus-kan benar salahnya seseorang berdasarkan hukum. Mereka hanya dapat menyatakan opini agama. Sebab itu penghakim-an sesungguhnya atas diri Tuhan Yesus tidak terjadi dalam pasal 26, melainkan dalam pasal 27.
C. Yesus di Depan Pilatus
Dalam jawaban Yesus kepada Pilatus, Yesus mengakui bahwa Ia adalah Raja orang Yahudi (ayat 11). Tetapi terhadap tuduhan para pemimpin Yahudi, Ia tidak menjawab apa pun.
Pilatus, pemerintahan Romawi, berhak menghakimi Kristus. Dalam prinsipnya, ia wajib menghakimi Dia menu-rut kebenaran. Kerajaan Surga berdasarkan kebenaran, teta-pi pasal 27 menampakkan bahwa kerajaan dunia mutlak tidak benar. Pasal ini menampilkan suatu keadaan yang kontras antara kebenaran dan ketidakbenaran. Pemerintahan dunia, kerajaan dunia ini, tidak benar, tetapi Kerajaan Surga adalah benar. Tuhan Yesus berdiri di depan Pilatus sebagai orang benar yang unik, namun Ia divonis mati oleh peme-rintahan duniawi yang tidak benar. Kemudian kita akan nam-pak bahwa pada hakikatnya Kristus dihukum dan dibunuh oleh Allah yang benar, walaupun kelihatannya Ia dihukum mati oleh pemerintahan duniawi yang tidak benar. Vonis ini tidak benar. Sesungguhnya, Ia divonis mati oleh Allah. Vonis ini benar.
Konsepsi dalam pasal 27 ini agak mendalam. Dalam pa-sal 26 kita nampak suatu kontras antara hayat yang mampu dan tidak mampu bagi kerajaan. Kini dalam pasal 27 ter-dapat suatu kontras antara kebenaran dan ketidakbenaran. Makna pasal 27 ialah menunjukkan kontras antara kerajaan dunia dan Kerajaan Surga. Di aspek kerajaan dunia ada ke-tidakbenaran; tetapi di aspek Kerajaan Surga ada kebenaran. Di satu pihak, Yesus dihakimi, disalahkan, dan dihukum mati di atas salib, ini tidak benar; di lain pihak, Dia mene-rima penghakiman dan dihukum mati, adalah benar. Penya-liban Tuhan Yesus itu tepat (benar), juga tidak benar (salah). Ia secara salah divonis oleh pemerintahan duniawi yang tidak benar. Ia benar dan tidak bersalah, seperti yang dikatakan oleh pengkhianat-Nya. Pilatus pun mempersaksikan bahwa Kristus adalah orang yang benar, bahkan membasuh tangan-nya untuk menunjukkan bahwa ia tidak mau terlibat da-lam ketidakbenaran apa pun. Sebagaimana akan kita lihat, Tuhan divonis secara benar, sebab Ia divonis mati oleh Allah yang benar. Jadi, pasal 27 ialah sebuah pasal tentang keti-dakbenaran dan kebenaran.
Kontras ini menyiratkan bahwa kerajaan dunia tidak dapat bertahan, sebab kerajaan dunia tidak dibangun di atas kebenaran. Namun Kerajaan Surga dan Kerajaan Allah mut-lak benar. Kerajaan Allah dibangun di atas kebenaran. Kare-na ketidakbenaran pemerintahan kerajaan dunia ini, Kristus secara salah divonis mati. Namun pada hakikatnya, Ia se-cara sah divonis mati oleh kebenaran pemerintahan Allah.
Menurut hukum Roma, Mahkamah Agama bertindak ilegal ketika menahan Kristus. Jika Pilatus adil, ia akan men-cegah Mahkamah Agama berbuat demikian. Ia akan berkata, “Kamu sekalian tidak berhak berbuat demikian, sebab kamu hanyalah suatu perkumpulan keagamaan. Kamu tidak berhak menahan orang, lebih-lebih tidak berhak menghakiminya. Ini tidak sah.” Pilatus tidak berkata demikian, sebab ia tidak benar dan pengecut. Pilatus takut kepada pemimpin agama Yahudi; demikian ia bertindak melawan hukum Roma yang amat kuat. Kerajaan Roma sangat termashyur hukum-nya. Tetapi walau hukum itu kuat, pelaksana hukumnya lemah. Pilatus bahkan tidak sebenar Yudas. Jika pengkhi-anat Tuhan Yesus dapat mengatakan bahwa ia telah men-jual darah orang yang tak berdosa, pemerintahan kerajaan seharusnya bahkan lebih benar. Namun Pilatus “membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata, ‘Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!’” (ayat 24). Ini adalah pengunduran diri yang pe-ngecut dan tidak bertanggung jawab. Ayat 26 mengatakan, “Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus dicambuknya lalu diserahkannya untuk disalibkan.” Ini sepenuhnya menyingkapkan kegelapan dan ketidakadilan politik! Ketidakadilan ini menggenapkan Yesaya 53:5 dan 8.
Ketika Yesus muncul di depan Pilatus, istri Pilatus “mengirim pesan kepadanya, ‘Jangan engkau mencampuri per-kara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat mende-rita dalam mimpi tadi malam’” (ayat 19). Mimpi ini berada di bawah kedaulatan Allah. Istri Pilatus tidak menghendaki Pilatus terlibat dalam perkara yang tidak benar ini. Menurut hati nuraninya, Pilatus mengetahui pula bahwa Yesus itu benar dan orang-orang Yahudi tidak benar dalam menahan-Nya. Ia pun tahu bahwa ia seharusnya membebaskan orang benar ini, tetapi ia takut berbuat demikian. Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya atas pilihan orang banyak, Pilatus bertanya, “‘Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?’ Kata mereka ‘Barabas’” (ayat 21). Barabas seorang kriminal yang sangat berdosa. Tidak disangsikan, Pilatus sebenarnya ingin membebaskan Yesus dan menahan Barabas. Tetapi khalayak menginginkan dia membebaskan Barabas dan menyalibkan Yesus. Pilatus se-olah-olah berkata, “Kalian meminta aku membebaskan kri-minal yang paling berdosa dan menyalibkan Dia yang tidak berdosa.” Ayat 23 mengatakan, “‘Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?’ Namun mereka makin keras berteriak, ‘Ia harus disalibkan!’” Pilatus ditaklukkan oleh suara khalayak. Untuk meredakan hati nuraninya, ia mengambil air dan mem-basuh tangannya di hadapan banyak orang dan berkata, “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sen-diri” (ayat 24). Dan seluruh rakyat itu menjawab, “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” (ayat 25). Sebab itu Pilatus membebaskan Barabas, tetapi menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Sungguh-sungguh ini adalah sebuah gambaran tentang ketidakbenaran!
Hukuman mati orang Yahudi dilaksanakan dengan me-rajam (Im. 20:2, 27; 24:14; Ul. 13:10; 17:5). Penyaliban ada-lah praktek kafir (Ezr. 6:11), yang diambil oleh orang Romawi untuk menghukum mati budak dan pelaku kejahatan yang berat saja. Penyaliban Tuhan Yesus bukan hanya mengge-napkan nubuat Perjanjian Lama (Ul. 21:23; Gal. 3:13; Bil. 21:8-9), tetapi juga menggenapkan firman Tuhan tentang cara meninggal-Nya (Yoh. 3:14; 8:28; 12:32). Ini tidak digenapkan dengan dirajam.
II. DISALIBKAN ORANG
A. Diolok oleh Serdadu-serdadu Roma
Ayat 27-32 menunjukkan bagaimana Tuhan Yesus di-olok-olok oleh para serdadu kafir. Mereka menanggalkan pa-kaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya (ayat 28). Ayat 29 mengatakan, “Mereka menganyam sebuah mah-kota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu membe-rikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olok Dia, katanya, ‘Salam, hai Raja orang Yahudi!’” Duri ialah lambang kutukan (Kej. 3:17-18). Di atas salib, Tuhan Yesus menjadi kutuk bagi kita (Gal. 3:13). Setelah meludahi Tuhan, memu-kul kepala-Nya, dan mengolok-olok Dia, mereka menanggal-kan jubah-Nya, mengenakan lagi pakaian-Nya, kemudian membawa-Nya untuk disalibkan (ayat 30-31). Tuhan, sebagai Anak Domba Paskah, harus dikurbankan bagi dosa-dosa kita, dibawa seperti anak domba ke pembantaian, menggenap-kan Yesaya 53:7-8.
B. Simon Orang dari Kirene
Dipaksa Memikul Salib Yesus
Ayat 32 mengatakan, “Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang ber-nama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.” Kirene adalah kota jajahan Yunani, ibukota Kirenaika di Afrika Utara. Kelihatannya Simon adalah orang Yahudi dari Kirene.
C. Dibawa ke Golgota
Ayat 34-44 memperlihatkan bagaimana Tuhan diolok-olok oleh orang dan dibunuh. Ayat 33 mengatakan, “Kemudian sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.” Golgota adalah kata Ibrani (Yoh. 19:17) yang berarti tengkorak (Mrk. 15:22). Ini sepadan de-ngan kata “calvaria” dalam bahasa Latin, yang diserap ke dalam bahasa Inggris sebagai calvary (Luk. 23:33). Kata ini tidak berarti tempat tengkorak orang mati, melainkan hanya berarti tengkorak.
D. Diberi Anggur yang Dicampur Empedu
Ayat 34 mengatakan, “Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya.” Anggur yang dicampur dengan empedu (dan juga dengan mur — Mrk. 15:23) dipakai sebagai minum-an pembius, pemati rasa. Tetapi Tuhan tak mau dibius, Dia mau minum cawan pahit itu sampai habis.
E. Disalibkan
Ayat 35 mengatakan, “Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi.” Tuhan dirampok habis-habisan oleh orang berdosa, menggenapkan Mazmur 22:19. Hal ini juga menyingkapkan kegelapan politik Romawi.
F. Diberi Tanda Raja Orang Yahudi sebagai Dakwaan
Sekalipun para pemimpin Yahudi menolak Tuhan Yesus sebagai Raja mereka, namun oleh kedaulatan Allah mereka memasang tanda “Raja orang Yahudi” di atas kepalanya sebagai suatu dakwaan (ayat 37).
G. Dua Orang Penyamun di Sisi-Nya
Ayat 38 mengatakan, “Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.” Ini menggenapkan Yesaya 53:9.
H. Dihujat dan Diolok-olok
Ayat 39-40 mengatakan, “Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata, ‘Hai Engkau yang mau meruntuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu dan selamatkanlah di-ri-Mu!’” Ini adalah pengulangan cobaan Iblis di padang gurun. Imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua mengolok-olok Dia dan berkata, “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Jika Ia Raja Israel, baiklah Ia turun dari salib itu, maka kami akan percaya ke-pada-Nya” (ayat 42). Jika Dia menyelamatkan diri-Nya, Dia tidak dapat menyelamatkan kita.
I. Dicela oleh Penyamun-penyamun yang Disalibkan Bersama dengan Dia
Ketika Tuhan disalibkan, penyamun-penyamun yang di-salibkan bersama-sama dengan Dia pun mencela-Nya seperti orang lain mencela Dia. Dalam 27:1-44 kita nampak betapa orang-orang yang tidak benar memperlakukan orang yang benar. Ia dicemooh, dipukul, dan disalibkan. Pilatus dan semua orang yang mengolok-olok dan menghukum Dia adalah ti-dak benar. Bahkan serdadu-serdadu kerajaan Roma pun tidak benar. Andaikata salah seorang di antara mereka benar, nis-caya mereka tidak akan berbuat apa pun tehadap Tuhan Yesus. Fakta bahwa mereka berbuat sesuatu terhadap orang benar ini membuktikan bahwa mereka tidak benar.
III. DIHAKIMI OLEH ALLAH
A. Ditinggalkan oleh Allah
Walaupun manusia tidak benar, mulai ayat 45 Allah ma-suk secara benar. Ayat ini mengatakan, “Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.” Tuhan tersalib dari jam 09.00 (Mrk. 15:25), sampai jam 15.00. Dia menderita selama 6 jam di kayu salib. Dalam tiga jam yang pertama, Dia dianiaya oleh manusia karena melaku-kan kehendak Allah; dalam tiga jam yang terakhir, Dia diha-kimi oleh Allah untuk merampungkan penebusan bagi kita. Pada saat itulah Allah menganggap Dia sebagai Pengganti kita, yang menderita karena dosa kita (Yes. 53:10). Kegelapan meliputi seluruh daerah itu (ayat 45) karena sifat dosa dan perbuatan dosa kita, serta segala hal negatif, dibereskan di sana; dan karena dosa kita, Allah meninggalkan Dia (ayat 46).
Sampai ayat 45, orang-orang telah sedapat mungkin me-lakukan segala sesuatu. Pada saat ini, Allah datang meng-hakimi Penyelamat yang disalibkan ini dan meninggalkan Dia. Ayat 46 mengatakan, “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, ‘Eli, Eli, lema sabakhtani?’ Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Allah meninggalkan Kristus di atas salib karena Dia meng-ambil alih tempat orang berdosa (1 Ptr. 3:18), menanggung dosa-dosa kita (1 Ptr. 2:24; Yes. 53:6) dan dijadikan dosa ka-rena kita (2 Kor. 5:21).
Menurut keempat kitab Injil, Tuhan Yesus berada di atas salib selama enam jam tepat. Selama tiga jam yang pertama, orang-orang melakukan banyak hal yang tidak benar pada-Nya. Mereka menganiaya dan mengolok-olok Dia. Sebab itu, dalam tiga jam yang pertama, Tuhan menderita atas per-buatan tidak benar manusia. Tetapi pada jam dua belas, Allah datang, dan kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga sore. Kegelapan ini ialah perbuatan Allah. Di tengah-tengah kegelapan ini, Tuhan berseru dengan kata-kata yang dikutip dalam ayat 46. Ketika Tuhan menderita aniaya ma-nusia, Allah beserta dengan Dia dan Ia menikmati penyer-taan Allah. Tetapi pada akhir tiga jam yang pertama, Allah meninggalkan Dia, dan tibalah kegelapan. Karena tak mam-pu menahan ini, Tuhan berseru dengan nyaring, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Sebagaimana telah kita tunjukkan, Allah meninggalkan Dia sebab Dia ada-lah pengganti kita dalam menanggung dosa-dosa kita. Yesaya 53 mewahyukan bahwa inilah saatnya Allah menanggungkan dosa-dosa kita pada-Nya. Dalam tiga jam, dari jam dua belas siang sampai jam tiga sore, Allah yang benar menanggungkan semua dosa kita kepada Pengganti ini dan menghakimi-Nya secara adil bagi dosa-dosa kita. Allah meninggalkan Dia ka-rena sepanjang tiga jam itu Dia adalah orang berdosa di atas salib; Ia bahkan dibuat menjadi dosa. Di satu pihak, Tuhan menanggung dosa kita, di pihak lain, Dia dibuat menjadi dosa karena kita, sehingga Allah menghakimi Dia. Ini mutlak masalah kebenaran.
B. Dicemooh dengan Diberi Cuka untuk Meleraikan Dahaga-Nya
Menjelang akhir penyaliban-Nya, orang masih mencemooh Dia dengan memberi-Nya cuka untuk meleraikan dahaga-Nya (ayat 48-49; Yoh. 19:28-30; Luk. 23:36).
C. Menyerahkan Nyawa-Nya
Ayat 50 mengatakan, “Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.” Ini adalah penyerahan Roh-Nya (Yoh. 19:30), menunjukkan bahwa Tuhan dengan sukarela menyerahkan hayat-Nya (Mrk. 15:37; Luk. 23:46). Tuhan Yesus tidak dibunuh, melainkan dengan rela menye-rahkan nyawa-Nya. Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, Ia mati bagi kita.
V. DAMPAK KEMATIAN-NYA
A. Tirai Bait Suci Terbelah dari Atas Sampai ke Bawah
Ayat 51-56 memperlihatkan dampak penyaliban Kristus. Ayat 51 mengatakan, “Lihatlah, tirai Bait Suci terkoyak men-jadi dua dari atas sampai ke bawah.” Ini menandakan bahwa pemisah antara Allah dan manusia telah dilenyapkan, karena daging dosa (yang dilambangkan dengan tirai) yang telah di-kenakan oleh Kristus (Rm. 8:3) telah disalibkan (Ibr. 10:20). Perkataan “dari atas sampai ke bawah” menunjukkan bahwa terkoyaknya tirai (tabir) itu adalah perbuatan dari atas oleh Allah. Karena dosa telah dihukum dan daging dosa telah di-salibkan maka pemisah antara Allah dan manusia telah dihapus. Kini jalan masuk ke hadirat Allah terbuka bagi kita. Inilah dampak kematian Tuhan yang alangkah indah! Kematian-Nya bukanlah mati martir, melainkan tindakan penebusan.
B. Terjadi Gempa Bumi
dan Bukit-bukit Batu Terbelah
Ayat 51 mengatakan pula bahwa “terjadilah gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah.” Terjadinya gempa bumi me-nandakan bahwa dasar pemberontakan Iblis diguncangkan; bukit-bukit batu terbelah menandakan bahwa kubu kerajaan Iblis di bumi dihancurkan. Haleluya, kematian Tuhan me-ngoyakkan tirai, mengguncangkan dasar pemberontakan Iblis, dan menghancurkan kubu kerajaan Iblis! Kematian yang alangkah hebat! Puji Tuhan karena kematian-Nya! Karena kebenaran Allah telah dipuaskan sepenuhnya, maka kema-tian Kristus dapat begitu efektif.
C. Kuburan-kuburan Terbuka dan Banyak
Orang Kudus yang Telah Meninggal Bangkit
Ayat 52-53 mengatakan, “Kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal dibangkitkan. Se-sudah kebangkitan Yesus, mereka keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.” Kuburan-kuburan terbuka menandakan bahwa kuasa maut dan alam maut telah ditaklukkan dan ditundukkan; orang-orang kudus yang telah meninggal dibangkitkan menandakan kuasa pembebas dari kematian Kristus. Ayat 53 mengata-kan bahwa mereka keluar dari kubur setelah kebangkitan-Nya, kemudian masuk ke dalam kota kudus dan menam-pakkan diri kepada banyak orang. Dalam perlambangan, buah bungar dari tuaian bukanlah satu mayang gandum, mela-inkan satu berkas gandum, yang melambangkan bukan hanya Kristus yang bangkit, melainkan juga orang-orang kudus yang bangkit dari kematian setelah kebangkitan-Nya, se-perti yang diwahyukan di sini. Ke mana kaum beriman itu pergi setelah mereka menampakkan diri kepada banyak orang, kita tidak bisa melacaknya. Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus mempersaksikan bahwa Yesus benar-benar Anak Allah ketika mereka nampak apa yang terjadi pada kematian Kristus (ayat 54). Banyak wanita, termasuk Maria Magdalena, Maria ibu Tuhan Yesus, ibu Anak-anak Zebedeus, dan lain-lainnya, menyaksikan kejadian ini.
V. DIKUBURKAN OLEH SEORANG KAYA
Ayat 57-66 mewahyukan bahwa Tuhan Yesus dikuburkan oleh seorang kaya. Tuhan Yesus dibungkus dengan kain lenan yang putih bersih, lalu dibaringkan di dalam kuburnya yang baru (ayat 59-60). Maria Magdalena dan Maria lainnya duduk di depan kuburan itu menyaksikan penguburan itu. Penguburan macam ini menggenapkan Yesaya 53:9. Orang yang benar ini sungguh patut menerima penguburan yang demikian.
Setelah Tuhan Yesus dikubur, imam-imam kepala dan orang-orang Farisi datang kepada Pilatus dan memohon dia untuk menjaga kubur itu sampai hari ketiga (ayat 62-64). Ayat 65-66 mengatakan, “Kata Pilatus kepada mereka, ‘Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya.’ Lalu pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya.” Ini dimaksudkan oleh para pemimpin Yahudi yang menentang sebagai tindakan pencegahan yang negatif, tetapi justru ber-balik menjadi kesaksian positif yang kuat bagi kebangkitan Tuhan. Tanpa pemeteraian tersebut, kebangkitan Kristus takkan bermakna sedemikian kuat.