NUBUAT KERAJAAN (6)
Dalam berita ini kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang perumpamaan kesetiaan (25:14-30).
7. Tuan Hamba-hamba Itu Pulang Lalu Mengadakan Perhitungan dengan Mereka
Ayat 19 mengatakan, “Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.” “Lama sesudah itu” menerangkan seluruh zaman ge-reja, dan “pulanglah” melambangkan turunnya Tuhan ke angkasa (1 Tes. 4:16) dalam parousia-Nya. “Mengadakan perhitungan” melambangkan penghakiman Tuhan di takhta penghakiman-Nya (2 Kor. 5:10; Rm. 14:10) “di angkasa” (dalam parousia-Nya). Di takhta itu akan dihakimi kehidupan, sikap, dan pekerjaan kaum beriman untuk diberi pahala atau ganjaran (1 Kor. 4:5; Mat. 16:27; Why. 22:12; 1 Kor. 3:13-15).
8. Yang Bertalenta Lima dan Bertalenta Dua Menerima Pahala
Ayat 20 mengatakan, “Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, ka-tanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.” Kedatangan orang yang memiliki laba lima talenta menunjukkan datang kepada takhta penghakiman Kristus. Memperoleh laba lima talenta adalah hasil menggunakan karunia lima talenta semaksimal mungkin.
Ayat 21 mengatakan, “Lalu kata tuannya itu kepada-nya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan mem-berikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” “Hal kecil” melambangkan pekerjaan Tuhan pada zaman ini. “Da-lam” menunjukkan kuasa memerintah dalam kerajaan yang akan datang. “Kebahagiaan tuanmu” melambangkan kenik-matan atas Tuhan dalam kerajaan yang akan datang. Ini mengacu kepada kepuasan batiniah, bukan kedudukan la-hiriah. Berbagian dalam kebahagiaan Tuhan adalah pahala yang paling besar, lebih baik daripada kemuliaan dan kedu-dukan dalam kerajaan. Di sini kita nampak dua aspek pa-hala yang diberikan kepada hamba yang setia: kekuasaan dan kebahagiaan. Yang setia akan langsung masuk ke da-lam hadirat Tuhan dalam manifestasi kerajaan.
Pahala yang diberikan kepada hamba yang bertalenta dua sama seperti yang diberikan kepada yang bertalenta lima. Ketika hamba yang bertalenta dua datang dan berkata bah-wa ia telah memperoleh laba dua talenta, Tuhan mengatakan perkara yang sama kepadanya seperti apa yang telah Dia ka-takan kepada hamba yang bertalenta lima (22:23). Meskipun karunia yang diberikan kepada yang memiliki dua talenta itu lebih sedikit daripada yang diberikan kepada orang yang memiliki lima talenta, pujian dan pahala Tuhan kepada mereka berdua itu sama. Ini menunjukkan bahwa pujian dan pahala Tuhan tidak berhubungan dengan ukuran dan jumlah pekerjaan kita, melainkan berhubungan dengan kesetiaan kita dalam menggunakan karunia-Nya semaksimal mungkin. Pujian dan pahala yang sama akan diberikan juga kepada orang yang memiliki satu talenta jika dia setia.
9. Hamba yang Bertalenta Satu Dicela dan Dihukum
Ayat 24 mengatakan, “Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bah-wa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana Tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam.” Orang yang menerima satu talenta, yang tidak mendapatkan laba apa pun bagi Tuhan, juga dibawa ke takhta penghakiman Kristus di angkasa. Ini membuktikan bahwa dia tidak hanya diselamatkan, te-tapi juga diangkat ke angkasa. Tidak ada orang yang tidak beroleh selamat dapat diangkat dan datang ke takhta peng-hakiman Kristus.
Hamba yang memiliki satu talenta mengatakan bahwa Tuhan adalah orang yang kejam, yang menuai di tempat di mana ia tidak menabur dan memungut dari tempat di mana ia tidak menanam. Nampaknya, Tuhan kejam atau keras da-lam keseriusan-Nya, Dia meminta kita semaksimal mungkin menggunakan karunia-Nya untuk pekerjaan-Nya. Pekerjaan-Nya memerlukan kemutlakan kita. Nampaknya, pekerjaan Tuhan selalu dimulai dari nol. Seakan-akan Dia menuntut kita bekerja bagi-Nya dalam keadaan tanpa apa-apa. Ini tidak seharusnya menjadi alasan bagi orang yang memiliki satu talenta untuk tidak menggunakan karunianya; sebaliknya, hal ini seharusnya memaksa dia melatih imannya sehingga dia dapat menggunakan karunianya semaksimal mungkin.
Ayat 25 mengatakan, “Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah.” Takut adalah sikap yang negatif. Kita seharusnya bersikap positif dan agresif dalam menggunakan karunia Tuhan. Jika kita setia, kita tidak akan takut apa pun.
Hamba yang bertalenta satu pergi dan menyembunyikan talenta di dalam tanah. Dengan berbuat demikian ia terlalu pasif. Kita seharusnya aktif dalam pekerjaan Tuhan. Karena ia telah menyembunyikan talentanya, maka ia ha-nya dapat mengembalikannya kepada Tuhan sebanyak yang semula. Hanya menyimpan karunia Tuhan dan tidak meng-hilangkannya tidaklah cukup; kita harus mendapatkan laba dengan menggunakannya. Hamba yang memiliki satu talenta seolah-olah berkata, “Tuan, cobalah lihat, ini kepunyaan tuan. Aku tidak menghilangkannya. Aku setia menyimpan apa yang engkau berikan kepadaku.” Ayat 26 mengatakan, “Tuannya itu menjawab: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?” Di sini Tuhan mengakui bahwa Dia sangat ketat dalam menuntut hamba-hamba-Nya untuk pekerjaan-Nya. Di satu aspek Tuhan itu kejam. Dia selalu menuai di tempat di mana Dia tidak menabur, dan memu-ngut dari tempat di mana Dia tidak menanam. Lihatlah fakta akan pemulihan Tuhan yang dimulai dari tanpa ada sesuatu.
Dalam suatu arti, perkataan hamba tentang Tuhan menuai di tempat di mana Dia tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Dia tidak menanam itu memang benar; tetapi dalam arti lain, tidaklah demikian. Kita tidak boleh mengatakan bahwa Tuhan tidak menabur, sebab Dia telah memberi kita masing-masing paling sedikit satu talenta. Pemberian talenta-Nya kepada kita itulah penaburan dan penanaman-Nya. Kini Tuhan menyuruh kita memungut di tempat di mana Dia tidak menanam dan menuai dari tempat di mana Dia tidak menabur. Tidak seorang pun di antara kita dapat mengatakan bahwa Tuhan tidak memberikan sesuatu pun kepada kita. Paling sedikit kita mempunyai satu talenta. Talenta inilah benih untuk ditabur dan milik untuk ditanam. Sebab itu kita perlu menuai di mana Dia tidak menanam. Apa yang Tuhan berikan kepada Anda mengandung unsur yang berproduksi. Ke mana pun Anda pergi dengan talenta Anda, talenta itu akan produktif. Namun produktifitas ini tergantung pada praktek dan cara Anda menggunakan talenta itu. Jika Anda menggunakannya, maka talenta itu akan produktif. Tetapi jika Anda menyembunyikannya, talenta itu tidak akan menghasilkan apa pun.
Menyembunyikan talenta di dalam tanah berarti meli-batkan diri dengan sesuatu yang duniawi, dengan sesuatu yang bukan Roh itu. Mengobrol itulah sebuah contoh keterlibatan ini. Ada orang berkata tidak ada waktu untuk menjenguk kaum beriman, tetapi mempunyai banyak waktu untuk me-ngobrol. Jika Anda menengadah kepada belas kasihan dan anugerah Tuhan, Anda akan berhenti mengobrol, sehingga banyak waktu akan dihemat, dan Anda akan dapat menggu-nakan waktu itu untuk memperhatikan kaum beriman.
Dalam pemulihan Tuhan, kita tidak mempunyai pendeta untuk melakukan pekerjaan memperhatikan kaum beriman. Penggembalaan semacam ini berasal dari kekristenan yang telah jatuh. Dalam pemulihan Tuhan setiap saudara dan saudari wajib menanggung beban untuk memperhatikan orang lain, terutama yang muda dan yang baru percaya. Setelah sidang, banyak orang yang terbiasa hanya menemui atau ber-bicara dengan orang-orang tertentu, padahal mereka seha-rusnya mengambil kesempatan itu untuk berkontak dengan kaum beriman baru, orang-orang muda, dan bahkan orang-orang yang tadinya mundur, yaitu orang-orang yang mereka doakan sebelumnya. Jika kita semua berbuat demikian, maka semua orang muda dan orang yang lemah akan terpelihara. Sekalipun Anda sangat sibuk, Anda masih dapat memperha-tikan satu orang jika Anda berminat berbuat demikian dan mau menggunakan talenta Anda. Dengan memakai waktu bahkan hanya sepuluh menit terhadap seseorang, kita dapat memberinya banyak sekali peneguhan iman. Setelah seseorang dibangunkan dengan cara ini, ia akan merasa hangat dan tahu bahwa ia diperhatikan. Kemudian ia semakin damba menerima lebih banyak bantuan. Jika kita semua mem-praktekkan hal ini, tidak seorang pun akan terlalaikan. Pena-tua tidak akan perlu lagi “memborong” segala sesuatu, sebab setiap orang bisa berfungsi untuk memperhatikan orang lain.
Namun banyak orang mengira bahwa berfungsi semata-mata adalah masalah berbicara di dalam sidang. Tetapi fungsi yang tepat dari anggota Tuhan ialah melayankan suplai hayat kepada orang lain dengan jalan memperhatikan me-reka. Aspek utama pelayanan bukan hanya membersihkan balai sidang atau merawat taman. Kita di sini adalah untuk perkara rumah Allah.
Tidak semua orang mempunyai kemampuan berbicara dalam sidang. Saya ingin menyampaikan sepatah kata untuk menghibur mereka yang tidak berbakat untuk berbicara dengan baik. Anda tidak perlu berbicara di dalam sidang. De-ngan maksud berpamer, kadang kala penatua berusaha mem-buat orang berfungsi. Penatua mungkin berkata, “Jika Anda tidak berfungsi, Anda tidak berada dalam arus. Anda ke-tinggalan zaman.” Perkataan semacam ini merupakan ken-dala bagi mereka yang tidak dapat berbicara dengan baik ketika datang bersidang. Mereka akan takut datang bersi-dang sebab penatua mungkin memaksa mereka “berfungsi”. Dengan demikan timbullah suatu anggapan bahwa tidak ber-bicara dalam sidang itu memalukan, tetapi jika mau berbi-cara, itu mulia. Memang beberapa tahun yang lalu saya ber-kata bahwa kita semua dapat bertutur-sabda satu per satu. Pada saat itu, saya dengan tulus berbeban mendorong setiap orang berbicara. Tetapi sejak saat itu timbullah suatu sikap yang menyesatkan tentang berfungsi dalam sidang. Sekalipun saya tidak ingin menghentikan setiap orang berbicara, tetapi saya ingin menunjukkan bahwa berfungsi dalam hidup gereja bukan hanya masalah berbicara.
Kita semua perlu belajar menggunakan talenta kita untuk melipatgandakan harta Tuhan. Tuhan telah memberi kita masing-masing bagian dari milik-Nya sebagai talenta, kini beban, kewajiban, dan tugas kita tak lain adalah ber-usaha agar talenta ini berlipat ganda. Jangan memaafkan diri sendiri dan jangan pula berkata bahwa Anda tidak ada waktu untuk memperhatikan orang lain. Tak peduli betapa sibuknya Anda, masih mungkin menggunakan fungsi Anda dengan jalan memperhatikan orang lain, bahkan jika Anda hanya mampu bersidang seminggu sekali. Jangan mengira bahwa Anda sangat lemah. Boleh jadi Anda lemah, namun orang lain bahkan lebih lemah, dan mereka memerlukan ban-tuan Anda. Jalan yang paling baik untuk menggunakan ta-lenta Anda ialah memperhatikan orang lain, tertarik dengan orang lain, dan memikirkan mereka. Ini bukan berarti bah-wa Anda wajib tertarik dengan urusan orang lain. Tuhan memakai Anda bukan untuk tujuan ini, melainkan untuk memperhatikan orang lain.
Jika Anda menerima satu talenta, Anda perlu menggu-nakannya. Sebelum datang bersidang, Anda perlu berdoa, “Tuhan, aku percaya bahwa aku mempunyai satu talenta. Aku tidak mau mengubur talentaku dengan terlibat dalam perkara dunia. Sebaliknya, aku ingin menggunakannya untuk memperhatikan orang lain.” Tunjukkanlah kasih kepada mereka yang hatinya telah menjadi dingin. Kunjungilah me-reka atau mengundang mereka ke rumah Anda. Tatkala Anda meluangkan waktu bersama Tuhan dan terbuka kepada-Nya tentang siapa yang harus Anda perhatikan, Ia akan memberi beban kepada Anda. Ketika Anda berkontak dengan orang lain dan bersekutu dengan mereka, dengan spontan Anda akan menggunakan talenta Anda. Janganlah berkata, “Tuhan, Engkau seorang yang kejam, menuai di tempat di mana Engkau tidak menabur dan mengumpulkan dari tempat di mana Engkau tidak menanam.” Sebaliknya, Tuhan menabur dan menanam banyak sekali. Banyak sekali yang akan Anda tuai dan Anda kumpulkan. Oh, tuaian itu banyak, tetapi pekerja sedikit! Anda tidak perlu menabur, Anda hanya perlu menuai. Setiap kali usai sidang selalu ada waktu bagi Anda untuk menuai dan mengumpulkan. Dengan berbuat demikian, kita akan menggunakan talenta kita. Dengan cara demikian, satu talenta akan menjadi dua, dua talenta akan menjadi empat, dan lima talenta akan menjadi sepuluh. Ta-lenta yang adalah harta Allah yang telah dipercayakan kepada kita akan menjadi banyak. Jika kita semua setia melaksa-nakan hal ini, pemulihan Tuhan benar-benar akan berlipat ganda.
Ayat 27 mengatakan, “Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan ke bank, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya.” Memberikan uang kepada orang yang menjalankan uang berarti menggunakan karunia Tuhan untuk menyelamatkan orang dan melayankan kekayaan-Nya kepada mereka. Bunga melambangkan hasil yang bermanfaat yang kita peroleh untuk pekerjaan Tuhan dengan menggunakan karunia-Nya.
Dalam suatu arti kita boleh berkata bahwa orang yang menjalankan uang di sini adalah orang yang baru percaya, orang yang lemah, orang yang muda, dan orang yang mun-dur. Kita perlu mendepositkan harta Tuhan kepada pejalan-pejalan uang ini. Pejalan-pejalan ini bukanlah saudara pemimpin, melainkan orang yang lemah, mereka yang mem-punyai masalah. Misalnya seorang saudara berlainan paham dan berkata secara negatif tentang gereja. Mereka yang ber-kata secara negatif tentang gereja, akan selalu mengatakan sesuatu yang negatif tentang penatua. Orang yang begitu pasti berbicara demikian untuk membenarkan dirinya sendiri. Jika gereja salah, maka ia benar, tetapi jika gereja benar, maka ia salah. Jika penatua khususnya yang salah, maka ia sungguh-sungguh dibenarkan. Namun orang-orang yang berlainan paham itu tetap adalah saudara dan mereka pun mengasihi Tuhan. Alangkah baiknya jika saudara yang menyimpang itu dihubungi, tidak oleh salah seorang penatua, melainkan oleh saudara lain di dalam gereja yang mengasihi dia dan memperhatikannya. Jika seorang saudara yang me-nyimpang dihubungi oleh banyak saudara yang lain, pada akhirnya ia akan kembali ke gereja dan memuji Tuhan ka-rena gereja.
Jika Anda menggunakan talenta Anda dengan cara ini untuk memperhatikan orang lain, Anda tidak akan hanya melipatgandakan talenta, tetapi diri Anda juga akan berada di surga tingkat ketiga dan akan cepat bertumbuh serta ce-pat diubah. Anda akan diperbarui di dalam roh dan pikiran, dan di antara kita akan terdapat kesaksian Tubuh yang amat indah kepada seluruh alam semesta. Alam semesta akan nampak bahwa kita bukan perkumpulan agamis, melainkan satu Tubuh yang hidup. Untuk ini kita semua perlu meng-gunakan talenta kita yang adalah harta Tuhan. Hasilnya akan dilipatgandakan. Saya dapat bersaksi bahwa semakin kita memperhatikan kaum beriman dan gereja, semakin kita menjadi kaya.
Ayat 28 mengatakan, “Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai se-puluh talenta itu.” Mengambil talenta menunjukkan bahwa dalam kerajaan yang akan datang, karunia Tuhan akan di-ambil dari kaum beriman yang malas. Pemberian talenta kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta menunjuk-kan bahwa karunia yang diberikan kepada kaum beriman yang setia akan ditambah.
Ayat 29 melanjutkan, “Karena setiap orang yang mempu-nyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia.” Kepada setiap orang yang mendapatkan keuntungan dalam zaman gereja, akan dibe-rikan karunia yang lebih banyak dalam zaman kerajaan yang akan datang; tetapi mengenai orang yang tidak mendapatkan keuntungan dalam zaman gereja, bahkan karunia yang di-milikinya akan diambil darinya dalam zaman kerajaan yang akan datang.
Ayat 30 mengatakan, “Sedangkan hamba yang tidak ber-guna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Perkataan ini sama seperti perkataan dalam 24:51, me-nunjukkan bahwa 25:14-30 merupakan pelengkap 24:45-51. Kedua bagian ini menyinggung kesetiaan untuk pekerjaan Tuhan. Matius 24:45-51 menanggulangi ketidaksetiaan hamba itu dalam menggenapi amanat Tuhan, tetapi 25:14-30 diper-lukan supaya ketidaksetiaan hamba itu dalam menggunakan talenta Tuhan dapat ditanggulangi.
Dalam kedua pasal 24 dan 25 ini kita nampak masalah pahala dan hukuman. Menurut 24:47, pahala kepada hamba-hamba yang setia dan bijaksana adalah Tuhan akan menyerahkan seluruh harta-Nya kepadanya untuk diurus. Hamba jahat yang memukul hamba lain serta makan dan minum bersama pemabuk, akan dikerat dan dibuat senasib dengan orang-orang munafik, di sana akan terdapat ratapan dan kertakan gigi (24:49-51). Dalam pasal 25 hamba yang bertalenta lima dan yang bertalenta dua diberi pahala dengan diserahi banyak perkara dan masuk ke dalam kebahagiaan Tuhan. Namun, hamba jahat yang bertalenta satu itu dihukum dengan dilemparkan ke dalam kegelapan yang di luar. Bagi kebanyakan guru Kristen, dicampakkan ke dalam kegelapan yang di luar berarti binasa kekal bagi kaum beriman yang palsu. Tetapi dari konteks kalimatnya membuktikan bahwa itu bukan pengertian yang tepat. Itu bukan hukuman bagi kaum beriman yang palsu, melainkan bagi kaum beriman se-jati yang tidak setia. Ini bukan mengacu kepada binasa ke-kal, melainkan hukuman menjelang zaman kerajaan yang akan datang.
Ungkapan “ratap dan kertak gigi” digunakan enam kali dalam Injil Matius. Kebinasaan orang beriman palsu (13:42) dan orang jahat (13:50) digunakan dua kali. Matius 13:42 mengenai lalang, yakni kaum beriman palsu akan dicampak-kan ke dalam dapur api. Dapur api itu bukan kegelapan yang di luar, melainkan lautan api. Matius 13:50 mengenai orang kafir yang jahat, ikan-ikan yang rusak, sama dengan kambing-kambing dalam pasal 25. Mereka pun akan dicam-pakkan ke dalam dapur api. Karena itu, mereka yang binasa dalam api yang kekal akan menangis dan menggertak gigi.
Matius 8:12 mengatakan, “Sedangkan anak-anak Kera-jaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Karena anak-anak kerajaan pasti adalah orang-orang yang telah diselamatkan, maka mereka tidak akan dicampakkan ke dalam dapur api. Sebaliknya, mereka akan dimasukkan dalam kegelapan yang di luar. Saya tidak percaya akan ada-nya kegelapan dalam dapur api. Meskipun orang-orang yang binasa dan kaum beriman yang gagal akan meratap dan meng-gertakkan gigi, tetapi orang-orang beriman yang gagal tidak akan dicampakkan ke dalam lautan api, melainkan ke dalam kegelapan luar di luar wilayah kemuliaan hadirat Tuhan.
Matius 22:13 mengatakan, “Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campak-kanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Ini dituju-kan kepada orang yang tidak memiliki jubah pernikahan. Sudah tentu hal ini bukan ditujukan kepada orang yang ti-dak percaya, melainkan kepada orang yang telah beroleh selamat. Orang yang telah selamat ini takkan dicampakkan ke dalam lautan api, tetapi ke dalam kegelapan yang di luar. Ungkapan ini digunakan dua kali lagi, dalam 24:51 dan 25:30. Menurut 24:51, hamba yang jahat akan dikerat dari hadirat Tuhan dan nasibnya adalah bersama dengan orang munafik, di mana akan terdapat ratap dan kertak gigi. Ayat yang sepadan, 25:30 mengatakan bahwa hamba yang jahat akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang di luar di mana terdapat ratap dan kertak gigi. Dengan membaca semua ayat ini, kita nampak bahwa kaum beriman palsu, lalang, dan kafir jahat akan dilemparkan dalam dapur api, yakni lautan api, di mana terdapat ratap dan kertak gigi. Namum kaum beriman yang gagal, seperti anak-anak kerajaan dalam pasal 8, yaitu mereka yang tidak mengenakan jubah perni-kahan dalam pasal 22, dan hamba yang tidak setia dalam pasal 24 dan 25, akan dicampakkan ke dalam kegelapan luar, di sanalah mereka akan meratap dan menggertak gigi. Ini tidak menerangkan kebinasaan kekal, melainkan hukuman khusus. Di samping keselamatan, masih ada perkara pahala dan hukuman yang akan diterima selama zaman kerajaan yang akan datang. Jika kita setia terhadap Tuhan, kita akan diberi pahala pada zaman yang akan datang. Tetapi jika kita tidak setia kepada-Nya, kita akan menerima hukuman. Ini amat jelas dalam firman Allah yang kudus.
Di dalam berita yang lalu dan dalam berita ini kita te-lah nampak masalah hayat dan pelayanan. Untuk hayat, kita perlu kepenuhan Roh Kudus dan untuk pelayanan, kita perlu karunia Roh Kudus. Dalam hayat kita perlu ber-jaga-jaga dan dalam pelayanan kita perlu setia. Kesiapsediaan kita dalam hayat berhubungan dengan keterangkatan lebih dulu dan kesetiaan kita dalam pelayanan berhubungan de-ngan pahala. Jika kita berjaga-jaga dan setia, kita akan ter-angkat lebih dulu dan kita akan diberi pahala ketika Tuhan kembali. Terangkat lebih dulu ialah berbagian dalam keba-hagiaan pesta perkawinan dan diberi pahala ialah berbagian dalam kekuasaan pada zaman yang akan datang.