NUBUAT KERAJAAN (4)
Kita telah nampak bahwa bagian nubuat kerajaan ten-tang gereja mencakup dua aspek: aspek berjaga-jaga dan bersiap sedia, serta aspek setia dan bijaksana. Berjaga-jaga dan bersiap sedia berkaitan dengan hayat kristiani kita. Kita semua perlu berjaga-jaga dan bersiap sedia bagi keda-tangan Tuhan. Namun orang Kristen yang tepat tidak hanya harus memperhatikan aspek hayat, tetapi juga aspek pela-yanan. Untuk pelayanan, kita perlu setia dan bijaksana. Kita perlu setia terhadap Tuhan dan bijaksana terhadap orang-orang beriman yang menjadi mitra kita. Sebagaimana kita nampak, pasal 24 mencakup kedua aspek ini. Dalam hayat kita, kita perlu berjaga-jaga dan bersiap sedia, dan dalam pe-layanan kita, kita perlu setia dan bijaksana.
Sekalipun kedua aspek ini tercakup dalam pasal 24, na-mun belum tercakup sepenuhnya. Sebab itu dalam pasal 25 perlu ada kata-kata pelengkap untuk setiap aspek yang ter-cakup dalam pasal 24. Matius 25:1-30 melengkapi bagian dalam pasal 24 tentang kaum beriman. Perumpamaan tentang gadis (25:1-13) melengkapi perkara berjaga-jaga dan bersiap sedia. Kita harus bagaimana berjaga-jaga dan bersiap sedia, hal ini diwahyukan dalam perumpamaan tentang gadis. Matius 25:13, ayat terakhir perumpamaan tentang gadis berkata, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari mau-pun saatnya.” Perkataan ini sama seperti dalam 24:42, menunjukkan bahwa 25:1-13 adalah pelengkap 24:40-44, bagian yang menyinggung keadaan kaum beriman yang ber-jaga-jaga, supaya mereka dapat diangkat.
Matius 24:32-44 ialah bagian tentang berjaga-jaga dan bersiap sedia. Matius 25:1-13 juga bagian tentang berjaga-jaga dan bersiap sedia yang merupakan pelengkap dari bagian sebelumnya. Dalam prinsip yang sama, baik 24:45-51 maupun 25:14-30 adalah bagian-bagian mengenai kesetiaan dan kebi-jaksanaan. Matius 25:30 yang mengatakan tentang mencam-pakkan hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, sejajar dengan 24:51. Hal ini menunjukkan bahwa 25:14-30 merupakan pelengkap 24:45-51, yang ber-kaitan dengan kesetiaan dalam pekerjaan Tuhan. Matius 24:45-51 menanggulangi hamba yang tidak setia dalam me-rampungkan amanat Tuhan. Matius 25:14-30 tetap diperlu-kan untuk menanggulangi ketidaksetiaan para hamba dalam menggunakan talenta Tuhan. Walau 24:45-51 memberi tahu kita untuk setia dan bijaksana, tetapi tidak menunjukkan kepada kita bagaimana cara kita untuk menjadi setia dan bi-jaksana. Hal ini baru diwahyukan dalam perumpamaan ten-tang talenta.
Jalan untuk berjaga-jaga ialah dipenuhi oleh Roh Kudus, yaitu memiliki bagian minyak ekstra. Berdasarkan diri kita sendiri, kita tidak mampu berjaga-jaga juga tidak mampu bersiap sedia. Jalan satu-satunya untuk memiliki bagian minyak ekstra ialah dipenuhi Roh Kudus. Inilah jalan bagi kita untuk berjaga-jaga dan bersiap sedia. Sama halnya, ja-lan untuk setia dan bijaksana dalam pelayanan kepada Tuhan ialah melalui karunia rohani. Tanpa karunia rohani, kita tidak akan memiliki kemampuan untuk menjadi setia dan bijaksana. Kesetiaan dan kebijaksanaan kita tergantung pada karunia yang kita terima dari Tuhan. Sebab itu dalam pasal 25 terdapat kepenuhan Roh itu dan karunia Roh itu. Roh itu membuat kita penuh dengan hayat, juga memberi kita ka-runia untuk melayani. Semua ini tergantung pada Roh itu. Bagaimana kita dapat berjaga-jaga? Hanya oleh kepenuhan Roh Kudus. Bagaimana kita dapat setia? Hanya oleh karunia Roh Kudus.
Sebuah petunjuk yang menyatakan bahwa perumpa-maan dalam pasal 25 adalah pelengkap 24:32-51 terdapat pada angka dua dan sepuluh. Matius 25:1 berkata, “Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis.” Sepuluh adalah bagian yang besar dari dua belas (Kej. 42:3-4; 1 Raj. 11:30-31; Mat. 20:24). Karena itu, sepuluh gadis me-wakili mayoritas orang beriman yang sudah mati sebelum kedatangan Tuhan. Dua orang laki-laki atau dua orang perem-puan dalam 24:40-41 mewakili sisa kaum beriman yang masih hidup sampai kedatangan Tuhan.
Dua orang di ladang atau dua perempuan yang sedang memutar batu giling mewakili kaum beriman yang masih hidup. Namun, ketika parousia Tuhan datang, mayoritas orang beriman telah meninggal. Dalam pasal 24 terdapat pengangkatan kaum beriman yang hidup, tetapi pasal ini tidak mengatakan apa pun tentang kaum beriman yang telah meninggal. Hal ini tercakup dalam perumpamaan tentang gadis dalam 25:1-13. Fakta bahwa gadis-gadis “mengantuk dan tertidur” (ayat 5) menunjukkan bahwa mereka telah meninggal. Dalam pandangan Tuhan, seorang beriman me-ninggal berarti ia tidur. Sebab itu, sepuluh gadis yang semua-nya tertidur mewakili kaum beriman yang meninggal.
Dalam Alkitab, umat Allah dilambangkan dengan angka dua belas, sebab angka ini mewakili keseluruhan umat Allah. Dalam Alkitab salah satu cara terbentuknya angka dua belas ialah dari sepuluh ditambah dua. Sepuluh menunjukkan ma-yoritas dua belas dan dua melambangkan yang tersisa. Seba-gai contoh, dua di antara dua belas rasul meminta kepada Tuhan untuk mendudukkan mereka di sisi kanan-Nya dan di sisi kiri-Nya, sedangkan sepuluh lainnya menjadi gusar. Dalam Perjanjian Lama sepuluh suku memberontak melawan keluarga Daud, hanya dua suku yang tetap setia. Prinsipnya di sini sama dengan dalam pasal 24 dan 25. Dalam pasal 25 terdapat bilangan dua dan dalam pasal 25 terdapat bilangan sepuluh. Jika sepuluh dan dua dijadikan satu, terdapat ke-seluruhan kaum beriman. Pada saat Tuhan datang, mayo-ritas orang beriman telah meninggal. Hanya sejumlah kecil, yang tersisa diwakili oleh dua orang di ladang atau dua pe-rempuan yang sedang menggiling yang masih hidup. Karena itu 25:1-13 merupakan pelengkap (24:40-41).
Petunjuk lain bahwa pasal 25 merupakan pelengkap pasal 24 terdapat dalam fakta bahwa seorang di antara dua orang dan seorang di antara dua perempuan dibawa pergi dan seorang yang lain, perempuan yang lain, ditinggalkan. Mengapa yang satu dibawa dan yang lain ditinggalkan? Jawabannya tidak terdapat dalam pasal 24, melainkan dalam pasal 25. Yang seorang dibawa pergi karena orang itu dipenuhi oleh Roh Kudus dan yang seorang ditinggalkan karena ia kekurangan bagian minyak yang ekstra. Mari kita sekarang membahas perumpamaan tentang gadis, perumpamaan untuk berjaga-jaga, ayat demi ayat.
C. Perumpamaan Untuk Berjaga-jaga
1. Sepuluh Gadis
Matius 25:1 mengatakan, “Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempelai laki-laki.” Kata “pada waktu itu” di sini berarti pada waktu parousia. Ketika parousia yang digambarkan dalam pasal 24 terjadi, banyak perkara akan terjadi. Pada waktu itu Kerajaan Surga akan diumpa-makan sepuluh gadis.
Gadis-gadis melambangkan kaum beriman dalam aspek hayat (2 Kor. 11:2). Kaum beriman, yang adalah umat ke-rajaan, seperti gadis yang suci. Sebagai gadis-gadis, mereka mengemban kesaksian Tuhan (pelita) dalam zaman yang gelap dan keluar dari dunia untuk menyambut Tuhan. Untuk ini mereka tidak hanya memerlukan Roh Kudus menghuni mereka, tetapi juga memenuhi mereka.
Kita sebagai orang Kristen, pertama-tama adalah gadis. Menjadi gadis bukan masalah pekerjaan, pelayanan, atau ak-tivitas, melainkan masalah hayat. Selain itu, kita bukan ha-nya gadis, tetapi juga gadis yang suci, murni. Menjadi gadis bukan masalah apa yang kita lakukan atau kecakapan kita, tetapi mutlak adalah masalah apa adanya kita. Baik laki-laki maupun perempuan, kita semua adalah gadis. Walau saya seorang tua, saya memperlakukan diri saya seperti gadis. Status saya sebagai gadis tidak pernah saya jual. Bahkan di hadapan musuh, saya pun seorang gadis.
a. Membawa Pelita Mereka
Ayat 1 berkata bahwa gadis-gadis ini membawa pelita keluar menyambut mempelai laki-laki. Pelita melambangkan roh orang beriman (Ams. 20:27) yang menampung Roh Allah sebagai minyak (Rm. 8:16). Kaum beriman memancarkan terang Roh Allah dari dalam roh mereka. Jadi, mereka men-jadi terang dunia dan bersinar seperti pelita dalam kegelapan zaman ini (Mat. 5:14-16; Flp. 2:15-16), mengemban kesaksian Tuhan untuk memuliakan Allah. Jadi, sebagai gadis, kita tidak mengambil senjata untuk berperang atau olahraga untuk bermain, melainkan pelita untuk bersaksi, bersinar, dan menerangi. Dalam tangan kita terdapat pelita yang bersinar bagi kesaksian Tuhan.
b. Pergi
Gadis-gadis pergi, melambangkan bahwa kaum beriman keluar dari dunia untuk menyambut Kristus yang akan da-tang. Gadis-gadis tidak berlambat-lambatan atau berhenti di suatu tempat, sebaliknya mereka keluar dari dunia. Dalam sebuah karyanya D. M. Panton berkata bahwa dunia ha-nyalah jalan baginya dan di ujung jalan ini bisa terdapat kuburan. Jika Tuhan menunda kedatangan-Nya, dunia akhir-nya hanya akan menyediakan baginya sebuah tempat istira-hat, kuburan untuk berbaring guna menunggu Tuhan da-tang. Kita bukan menetap di dunia ini. Kita sedang keluar dari dunia.
c. Menyambut Mempelai Laki-laki
Mempelai laki-laki melambangkan Kristus sebagai per-sona yang menyenangkan dan menarik (Yoh. 3:29; Mat. 9:15). Alangkah baiknya dalam perumpamaan ini Tuhan tidak mengibaratkan diri-Nya sebagai jenderal yang menang atau kepala komandan yang perkasa, melainkan sebagai mempe-lai laki-laki, seorang yang paling menyenangkan. Sebab itu kita adalah gadis-gadis yang pergi dan Dialah Mempelai Laki-laki yang datang.
2. Lima Gadis yang Bodoh Tidak Membawa Minyak
Ayat 2 mengatakan, “Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.” Lima tersusun dari empat ditambah satu, melam-bangkan manusia (dilambangkan dengan angka empat) di-tambah dengan Allah (dilambangkan dengan angka satu) memikul tanggung jawab. Fakta bahwa kelima gadis itu bo-doh dan kelima gadis yang lain bijaksana, tidak menunjuk-kan bahwa separuh kaum beriman adalah bodoh dan separuh lagi bijaksana, melainkan menunjukkan bahwa semua orang beriman memikul tanggung jawab untuk dipenuhi dengan Roh Kudus.
Perjanjian Lama jelas mewahyukan bahwa lima adalah angka tanggung jawab. Sebagai contoh, kesepuluh perintah Tuhan dibagi menjadi dua kelompok lima. Sama halnya, bi-langan lima sering muncul dalam pembahasan mengenai tabernakel dan perabotnya. Lima merupakan faktor dasar dimensi banyak hal.
Kelima jari pada tangan kita menunjukkan bagaimana angka lima tersusun dalam Alkitab. Terjadi dari empat ditambah satu. Sebagaimana telah kita tunjukkan, angka empat melambangkan tercipta dan angka satu pencipta. Tercipta ditambah pencipta memberi kemampuan untuk menanggung kewajiban. Jika kita hanya mempunyai empat jari tanpa ibu jari, sulit untuk berbuat sesuatu. Hal ini berarti bahwa bersandarkan diri kita sebagai angka empat, kita tidak dapat bertanggung jawab. Tetapi jika Allah ditambahkan kepada kita, kita dapat bertanggung jawab.
Ayat 2 mengatakan bahwa lima gadis bodoh dan yang lima bijaksana. Tuhan Yesus menyinggung terlebih dulu yang bodoh sebab dalam hal bertanggung jawab masalahnya bukan dengan yang bijaksana, melainkan dengan yang bodoh.
Bodoh bukan berarti kelima gadis ini palsu. Dalam sifat, mereka sama dengan kelima gadis yang bijaksana itu.
Ayat 3 memberi tahu kita mengapa mereka bodoh: “Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi ti-dak membawa minyak.” Minyak melambangkan Roh Kudus (Yes. 61:1; Ibr. 1:9). Gadis-gadis itu bodoh sebab mereka ha-nya mempunyai minyak dalam pelita, tetapi tidak mempunyai bagian minyak ekstra dalam bejana. Di samping Roh kela-hiran kembali, mereka tidak mempunyai kepenuhan Roh, bagian Roh Kudus yang ekstra.
3. Kelima Gadis yang Bijaksana Membawa Minyak dalam Bejana Mereka
Ayat 4 mengatakan, “Sedangkan gadis-gadis yang bijak-sana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol (bejana) mereka.” Manusia adalah bejana yang dibuat untuk Allah (Rm. 9:21, 23-24), dan kepribadian manusia ada di dalam jiwanya. Karena itu, bejana di sini melambangkan jiwa orang beriman. Kelima gadis yang bijaksana itu bukan hanya memiliki minyak dalam pelita mereka, tetapi juga membawa minyak dalam bejana mereka. Memiliki minyak dalam pelita mereka melambangkan bahwa mereka memiliki Roh Allah berhuni di dalam roh mereka (Rm. 8:9, 16), dan mereka membawa minyak dalam bejana mereka melambang-kan bahwa mereka memiliki Roh Allah yang memenuhi dan menjenuhi jiwa mereka.
Kita perlu mengerti jelas tentang pelita dan bejana. Me-nurut Ibrani 1, Amsal 20:27 dikatakan bahwa roh manusia ialah pelita Tuhan. Di dalam pelita terdapat minyak yaitu Roh Kudus. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa roh kita ialah tempat berdiamnya Roh Kudus. Menurut Roma 9 kita adalah bejana yang diciptakan oleh Allah. Apa adanya kita, kepribadian kita, terdapat dalam jiwa kita. Sebab itu, bejana dalam ayat ini melambangkan jiwa kita. Melalui ke-lahiran kembali, kita mempunyai Roh Allah di dalam roh kita. Hal ini menyebabkan pelita kita menyala. Tetapi per-soalannya ialah apakah kita memiliki bagian ekstra Roh Kudus memenuhi jiwa kita atau tidak. Sekalipun kita me-miliki minyak dalam pelita kita, kita perlu ekstra bagian minyak dalam jiwa kita. Ini menandakan bahwa Roh harus meluas dari dalam roh kita ke setiap bagian jiwa kita. Ke-mudian di dalam jiwa, kita akan memiliki sejumlah ekstra Roh Kudus. Jika kita mempunyai bagian yang ekstra ini, kita bijaksana. Jika kita tidak memilikinya, kita ini bodoh. De-ngan kata lain, jika kita acuh tak acuh terhadap kepenuh-an Roh Kudus, kita bodoh. Jika kita bijaksana, kita akan berdoa, “Tuhan, belas kasihanilah aku. Aku ingin memiliki Roh-Mu tidak hanya di dalam rohku, tetapi juga di dalam jiwaku. Tuhan, aku perlu kepenuhan Roh. Aku perlu bagian ekstra Roh Kudus untuk memenuhi seluruh diriku.” Tanpa bagian ekstra Roh ini, kita tidak dapat berjaga-jaga atau bersiap sedia. Untuk dapat berjaga-jaga dan bersiap-sedia, kita perlu kepenuhan Roh Kudus yaitu perluasan Roh itu sendiri dari roh kita ke setiap bagian apa adanya diri kita.
4. Mempelai Terlambat
Ayat 5 mengatakan bahwa Mempelai itu lama tidak datang-datang. Tuhan Yesus sungguh menunda kedatangan-Nya kembali. Dalam Kitab Wahyu Dia berjanji segera datang, tetapi hampir dua ribu tahun telah berlalu, Dia masih belum datang.
5. Gadis-gadis Mengantuk dan Tertidur
Karena Mempelai menunda kedatangan-Nya, gadis-gadis “mengantuk dan tertidur”. Mengantuk melambangkan sakit (Kis. 9:38; 1 Kor. 11:30) dan tertidur melambangkan me-ninggal (1 Tes. 4:13-16; Yoh. 11:11-13). Bila Tuhan menunda kedatangan-Nya kembali, mayoritas orang beriman akan men-derita sakit dan meninggal.
6. Seruan di Waktu Tengah Malam
Ayat 6 mengatakan, “Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia!” Tengah malam melambangkan masa paling gelap dari zaman yang gelap ini (malam hari). Masa atau saat itu akan me-rupakan akhir zaman ini, masa kesusahan besar. Seruan ini melambangkan suara penghulu malaikat (1 Tes. 4:16).
7. Gadis-gadis Terbangun
Ayat 7 mengatakan, “Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.” “Bangun” melam-bangkan kebangkitan dari antara orang mati (1 Tes. 4:14). Ini adalah kebangkitan yang dinubuatkan dalam 1 Tesalonika 4:16 dan 1 Korintus 15:52.
8. Membereskan Pelita Mereka
Setelah gadis-gadis bangkit, mereka “membereskan pelita mereka”. Ini melambangkan mereka menanggulangi kesaksian kehidupan diri sendiri. Ini menunjukkan jika kehidupan kita untuk kesaksian Tuhan belum sempurna sebelum kita meninggal, setelah kebangkitan kita masih akan ditanggulangi.
9. Gadis-gadis yang Bodoh Ingin Meminjam Minyak dari yang Bijaksana
Ayat 8 mengatakan, “Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.” Per-kataan ini menyiratkan bahwa setelah mereka dibangkitkan, kaum beriman yang bodoh masih perlu dipenuhi Roh Kudus. “Hampir padam” membuktikan bahwa pelita gadis yang bodoh telah dinyalakan, diisi minyak, tetapi tidak memiliki suplai yang memadai. Gadis yang bodoh mewakili kaum beriman yang telah dilahirkan kembali oleh Roh Allah dan dihuni oleh Roh Allah, tetapi tidak dipenuhi dengan Dia secara me-madai sampai seluruh diri mereka dijenuhi oleh-Nya.
10. Jawaban Gadis yang Bijaksana
Ayat 9 mengatakan, “Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan un-tuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.” Ini menunjukkan bahwa tidak seorang pun bisa mendapatkan kepenuhan Roh Kudus bagi orang lain. Kita dapat meminjam banyak barang, tetapi kita tidak da-pat meminjam kepenuhan Roh kudus. Hal ini seperti makan. Tidak seorang pun dapat memakan sesuatu bagi Anda.
Gadis-gadis yang bijaksana berkata kepada yang bodoh agar pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Mereka yang menjual minyak pasti adalah dua orang saksi yang me-nampakkan diri selama kesusahan besar, dua pohon zaitun dan dua anak minyak (Why. 11:3-4; Za. 4:11-14). Selama kesusahan besar, kedua orang yang diurapi, Musa dan Elia, akan datang membantu umat Allah.
Membeli menunjukkan harus membayar harga. Untuk dipenuhi oleh Roh Kudus harus membayar harga, seperti me-ninggalkan dunia, menanggulangi diri, mengasihi Tuhan lebih daripada segalanya, dan menganggap segala sesuatu rugi ka-rena Kristus. Jika kita tidak membayar harga ini hari ini, kita tetap harus membayarnya setelah kebangkitan. Mereka yang tidak membayar harga tidak memiliki ekstra bagian Roh Kudus. Pada akhirnya, gadis-gadis yang bodoh akan menya-dari bahwa mereka perlu mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan segenap jiwa mereka. Mereka akan nampak bahwa mereka perlu melepaskan dunia dan menanggulangi diri.
11. Mempelai Datang dan yang Telah Siap
Masuk Bersama-sama dengan Dia
ke Ruang Perjamuan Kawin
Ayat 10 mengatakan, “Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan me-reka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.” Kata “datang” menerangkan kedatangan Tuhan ke angkasa (1 Tes. 4:16), sebagian dari parousia-Nya. Mereka yang telah siap sedia pas-ti adalah orang-orang yang diundang ke Perjamuan Kawin Anak Domba (Why. 19:9). Kita harus siap sedia (24:44), se-lalu memiliki minyak dalam bejana kita, selalu dipenuhi dengan Roh Allah dalam seluruh diri kita. Berjaga-jaga dan siap sedia seharusnya menjadi latihan kita sehari-hari untuk parousia Tuhan.
Masuk bersama-sama dengan-Nya adalah keterangkatan kaum beriman yang dibangkitkan ke angkasa (1 Tes. 4:17), pada saat kedatangan Tuhan ke angkasa. Perjamuan Kawin dalam ayat 10 adalah perjamuan kawin Anak Domba (Why. 19:9), yang akan digelar di angkasa (1 Tes. 4:17) pada masa kedatangan Tuhan. Hal itu akan terjadi sebelum manifes-tasi kerajaan dan akan menjadi pahala kenikmatan bersama dengan Tuhan, pahala yang akan diberikan kepada kaum beriman yang siap sedia, yang diperlengkapi dengan peme-nuhan Roh Kudus sebelum mereka meninggal.
Setelah mereka yang telah siap masuk bersama-sama dengan Mempelai ke perjamuan kawin, pintu ditutup. Ini bu-kan pintu keselamatan, melainkan pintu masuk ke dalam kenikmatan atas perjamuan kawin Tuhan.
12. Gadis-gadis yang Bodoh Datang Terlambat, tetapi Mempelai Tidak Mengenal Mereka
Ayat 11-12 mengatakan, “Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah pintu
bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Aku tidak mengenal kamu.” Gadis-gadis bodoh yang datang kemudian menunjukkan kedatangan kaum beriman yang dibangkitkan di hadapan Tuhan pada saat yang lebih lambat; hal ini terjadi belakangan karena mereka tidak si-ap sedia. Mereka membayar harga untuk bagian ekstra mi-nyak, tetapi mereka terlalu lambat memperolehnya. Waktu penting sekali di sini, sebab ketika mereka datang, pintu sudah tertutup.
Ketika mereka mohon Tuhan membukakan pintu bagi mereka, Dia berkata “Aku tidak mengenal kamu.” Tidak me-ngenal di sini mengacu kepada tidak mengakui, tidak mela-yakkan, seperti dalam Lukas 13:25. Pelita gadis yang bodoh telah menyala, mereka pergi menyambut Tuhan, mati, dan dibangkitkan, juga diangkat, tetapi terlambat dalam mem-bayar harga untuk pemenuhan Roh Kudus. Karena itu, Tuhan tidak mengakui mereka, tidak mengenal mereka, dan tidak melayakkan mereka mengambil bagian dalam perjamuan kawin-Nya. Mereka kehilangan pahala sezaman ini, tetapi tidak kehilangan keselamatan kekal mereka.
Ketika berkata kepada mereka bahwa Dia tidak mengenal mereka, Tuhan seolah-olah berkata, “Aku tidak menghargai kamu atau mengenal kamu dan aku tidak melayakkan kamu datang terlambat.” Sebab itu, mereka ditolak dari kenikmatan perjamuan kerajaan.
13. Berjaga-jaga
Ayat 13 menyimpulkan, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya.” Pasal 24:40-44 menerangkan bahwa pengangkatan hanya bagi kaum beriman yang masih hidup dan yang telah siap sedia. Pasal 25:1-13 diperlukan untuk mencakup pengangkatan mereka yang telah mati dan yang dibangkitkan. Ketika kita membaca bagian firman ini, kita nampak betapa kita perlu berjaga-jaga. Berjaga-jaga dan siap sedia adalah perkara yang sangat serius.
Tidak ada kitab lain yang memperingatkan kita ber-ulang-ulang seperti Kitab Matius ini. Saya dapat bersaksi di hadapan Tuhan bahwa lebih dari empat puluh tahun saya diperingatkan oleh kitab ini. Kapan saja saya sedikit lalai, saya ingat peringatan-peringatan yang terdapat dalam Matius. Ya, kita semua adalah para gadis, entah bodoh entah bijak-sana. Kita semua perlu menjawab pertanyaan ini bagi diri kita sendiri. Kita bijaksana atau tidak bergantung pada apa-kah kita mempunyai bagian ekstra Roh Kudus di dalam bejana kita atau tidak.