← Daftar isi Matius (4) · bab 11/20

NUBUAT KERAJAAN (3)

Matius 24:32—25:30 membicarakan mengenai gereja. Dalam bagian firman ini, setiap perkara yang dikatakan oleh Tuhan bersangkutan dengan dua hal: berjaga-jaga dan bersiap sedia serta setia dan bijaksana. Dalam pasal 24 ber-jaga-jaga dan bersiap sedia tercakup dalam ayat 32-44, dan setia serta bijaksana dalam ayat 45-51. Dalam pasal 25, perumpamaan anak dara menyatakan kesiapsediaan, dan per-umpamaan talenta menyatakan kesetiaan. Semuanya ini ber-hubungan dengan kita. Kita perlu berjaga-jaga dan bersiap sedia bagi kedatangan Tuhan kembali sehingga kita dapat terangkat lebih awal. Kita pun perlu setia dan bijaksana dalam melayani Tuhan sehingga kita dapat menerima pahala. Se-bab itu, berjaga-jaga adalah agar terangkat lebih awal, dan setia agar memperoleh pahala. Inilah garis besar yang sangat jelas dari 24:32—25:30.

II. MENGENAI GEREJA

A. Berjaga-jaga dan Bersiap Sedia

Kata “tetapi” (Tl.) pada permulaan ayat 32 menunjukkan bahwa dari ayat 32 sampai 25:30 adalah bagian lain me-ngenai gereja. Kata “tetapi” menunjukkan bahwa dalam nu-buat-Nya Tuhan beralih dari orang Yahudi kepada orang beriman.

1. Negara Israel yang Terpulihkan sebagai Tanda Akhir Zaman Ini dan Tanda bagi Orang Beriman

Ayat 32 mengatakan, “Tariklah pelajaran dari perum-pamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya me-lembut dan mulai bertunas, kamu tahu bahwa musim panas sudah dekat.” Pohon ara, yang melambangkan bangsa Israel, dikutuk dalam 21:19. Pohon ini melewati musim dingin yang panjang, dari abad pertama sampai tahun 1948, ketika Israel dipulihkan sebagai suatu bangsa dan negara. Pada saat itu-lah ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas. Bagi kaum beriman, pohon ara ini adalah tanda kesudahan za-man ini. Melembut melambangkan pemulihan hayat dan mulai bertunas melambangkan aktivitas lahiriah. Musim dingin melambangkan masa kering, masa kesusahan besar (24:7-21). Musim panas melambangkan zaman kerajaan yang dipulihkan (Luk. 21:30-31), yang akan dimulai pada keda-tangan Tuhan kali kedua.

Ayat 33 mengatakan, “Demikian juga, jika kamu meli-hat semuanya ini, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.” Semuanya ini mengacu kepada hal-hal yang dinubuatkan dalam ayat 7-32. “Waktunya” meng-acu kepada pemulihan kerajaan Israel (Kis. 1:6), yang dilam-bangkan dengan musim panas dalam ayat 32.

Kita telah menunjukkan bahwa pohon ara melambangkan bangsa Israel, sedangkan Israel merupakan suatu tanda un-tuk kita, sama seperti pemberitaan Injil kerajaan adalah tanda untuk orang Yahudi. Ketika orang Yahudi nampak pembe-ritaan Injil kerajaan, mereka seharusnya menyadari bahwa itulah tanda kesusahan besar yang akan datang. Demikian pula bangsa Israel sebagai pohon ara ialah tanda bagi kita tentang kedatangan Tuhan. Murid-murid telah bertanya kepada Tuhan tentang tanda kedatangan-Nya serta tanda ak-hir zaman. Dalam bagian terdahulu Tuhan telah memberi tanda akhir zaman. Tanda ini ialah pemberitaan Injil Kerajaan. Kini Tuhan memberi tanda lain, tanda kedatangan-Nya. Tanda ini ialah pohon ara. Ketika ranting-rantingnya menjadi lembut dan mulai bertunas, kita tahu bahwa musim panas segera tiba, pemulihan penuh Kerajaan Mesias sudah dekat.

Hari ini pemulihan Israel masih belum penuh. Dilihat dari keadaan penduduk dan wilayahnya, nyatalah bahwa pemulihan Israel belum penuh. Orang Israel dan bangsa Arab bertengkar tentang wilayah barat sampai Yordan dan datar-an tinggi Golan. Menurut Alkitab dataran tinggi Golan dekat dengan Gunung Hermon, dan daerah barat Yordan terma-suk wilayah tanah permai yang akan dimiliki oleh Israel. Tuhan itu berdaulat dan Dia mengetahui situasi antara Israel dan Arab. Dia mengetahui bahwa pemulihan bangsa Israel belum penuh. Pemulihan bangsa Israel semakin lama sema-kin penuh, yang akan mencapai kepenuhan total menjelang tibanya Kerajaan Seribu Tahun.

2. Semua Perkara

yang Dinubuatkan tentang Israel Terjadi

Ayat 34 mengatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: orang-orang zaman (angkatan) ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.” Semuanya ini me-nerangkan pohon ara menjadi lembut dan mulai bertunas. Semuanya ini akan terjadi sebelum angkatan ini berlalu.

Angkatan di sini bukan angkatan berdasarkan zaman atau orang, seperti “keturunan” yang disebutkan dalam 1:17, melainkan mengacu kepada angkatan berdasarkan keadaan moral orang, seperti angkatan dalam 11:16; 12:39, 41-42, 45, dan Amsal 30:11-14. Ini berarti bahwa sejak Tuhan Yesus menyampaikan nubuat ini sampai pemulihan penuh Israel, moral situasi angkatan itu tidak akan berubah. Angkatan ini tidak akan berlalu sampai terjadi pemulihan penuh bang-sa Israel. Kemudian angkatan itu akan berubah, dan situasi moral akan berubah dari jahat menjadi baik.

3. Tak Seorang pun Mengetahui Hari Itu dan Saat Itu Kecuali Bapa

Ayat 36 mengatakan, “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” Anak ber-diri pada posisi Anak Manusia (ayat 37), tidak mengetahui hari dan saat kedatangan-Nya kembali.

4. Kedatangan Kristus Sebagaimana Halnya pada Zaman Nuh

Ayat 37 mengatakan, “Sebab sebagaimana halnya pada zaman (hari-hari) Nuh, demikian pula halnya kelak pada ke-datangan Anak Manusia.” Banyak orang Kristen salah mengerti ayat ini. Kedatangan (parousia) Tuhan akan seperti pada zaman (hari-hari) Nuh. Ini menunjukkan bahwa menjelang parousia Tuhan, hari-hari akan seperti hari-hari Nuh, yaitu keadaan sebelum kedatangan Tuhan akan seperti pada hari-hari Nuh.

Ayat 38-39 mengatakan, “Sebagaimana (sebab) mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu apa-apa, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.” Kata “sebab” pada awal ayat ini menunjukkan bahwa ayat ini adalah pen-jelasan tentang mengapa dan bagaimana parousia Tuhan akan seperti hari-hari Nuh. Pada hari-hari Nuh, terdapat keadaan-keadaan ini: orang-orang berkecimpung dalam hal makan, minum, kawin, dan mengawinkan; dan mereka tidak tahu bahwa penghakiman akan tiba sampai air bah datang, dan menghanyutkan mereka. Ketika parousia Tuhan segera datang, orang-orang juga akan berkecimpung dalam keper-luan hidup ini dan tidak akan tahu bahwa penghakiman Allah (yang dilambangkan dengan air bah) akan menimpa mereka oleh kedatangan Tuhan. Namun kaum beriman ha-rus disadarkan dan harus dengan jelas mengetahui bahwa Kristus sedang datang guna melaksanakan penghakiman Allah atas dunia yang bobrok ini.

Makan, minum, dan kawin asalnya ditetapkan oleh Allah untuk eksistensi manusia. Tetapi karena hawa nafsu manu-sia, Iblis memperalat kebutuhan hidup manusia ini untuk menindas manusia sehingga mereka menjauhkan diri dari ke-pentingan Allah. Menjelang akhir zaman, situasi ini akan lebih intensif lagi dan akan mencapai klimaksnya menjelang parousia Tuhan.

Keadaan khusus yang paling nyata pada zaman sebelum air bah ialah makan, minum, kawin, dan dikawinkan. Ini me-nunjukkan bahwa orang-orang pada zaman itu dimabukkan oleh daging dan kenikmatan duniawi mereka. Hal yang sama terjadi dalam masyarakat hari ini. Musuh Allah, Iblis, mem-pergunakan kebutuhan hidup untuk meracuni manusia cip-taan Allah. Seluruh umat manusia telah diracuni. Namun ini bukan berarti bahwa kita tidak perlu makan, minum, atau kawin. Semuanya ini perlu untuk eksistensi kita. Tetapi kita tidak boleh membiarkan semua ini menyebabkan kita mabuk dan membuat perasaan kita tumpul. Dalam masyarakat hari ini perasaan setiap orang, tinggi atau ren-dah, tua atau muda, semuanya sudah menjadi tumpul. Ini menunjukkan bahwa masyarakat telah diracuni oleh cara zaman ini dalam hal makan, minum, kawin, dan mengawin-kan. Inilah situasi pada zaman Nuh, dan inilah pula situasi pada saat parousia Tuhan.

Hari ini orang-orang giat bekerja dan mengadakan pe-nyelidikan dengan tujuan dapat menikmati makanan yang baik, minuman yang baik, dan pernikahan yang baik. Mereka tidak memikirkan perkara Allah. Betapa umumnya keadaan yang kekurangan perasaan akan Allah pada hari ini! Ini nyata sekali terutama dalam lingkungan pendidikan dan lingkungan dagang. Begitu banyak orang dalam universi-tas telah diracuni oleh pengejaran mereka akan pendidikan. Pendidikan mereka semata-mata untuk makan, minum, dan kawin. Mereka yang di dalam bidang perdagangan di-racuni pula oleh kedambaan mencari uang, juga untuk ma-kan, minum, dan kawin yang lebih baik. Ini telah menye-babkan banyak perceraian. Ketika seorang pemuda dalam keadaan miskin, ia hanya menikah dengan seorang perem-puan. Tetapi ketika ia memperoleh banyak uang, ia mungkin menceraikan istrinya dan menikah dengan orang lain menu-rut seleranya dengan harapan mendapatkan istri yang lebih baik. Situasi ini akan terus berlangsung sampai pada kli-maksnya menjelang parousia Tuhan. Sepanjang zaman Nuh, klimaks ini dicapai sejenak sebelum air bah yang datang bersama dengan penghakiman Allah. Air bah mendatangkan penghakiman atas orang-orang yang diracuni pada zaman Nuh. Parousia akan mendatangkan penghakiman Allah atas dunia yang telah rusak ini. Kristus akan turun ke atas bumi untuk melaksanakan penghakiman adil Allah atas dunia yang telah diracuni dan yang memberontak.

5. Sebelum Kedatangan Kristus, Seorang Akan Dibawa dan yang Lain Akan Ditinggalkan

Ayat 40-41 mengatakan, “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu giling, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” “Pada waktu itu” di sini menun-jukkan bahwa sementara orang dunia berkecimpung dalam benda-benda materi dan tidak merasakan adanya pengha-kiman yang akan datang, beberapa orang beriman yang bijak-sana dan berjaga-jaga akan diangkat. Bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia dan mati rasa, hal ini akan men-jadi tanda kedatangan Kristus.

Dua orang laki-laki dalam ayat 40 pasti adalah saudarasaudara di dalam Kristus, dan dua orang perempuan dalam ayat 41 pasti juga saudari-saudari dalam Tuhan. Ini ditunjukkan oleh ayat 42 yang memberi tahu kita supaya berjaga-jaga, sebab kita tidak tahu pada hari apa Tuhan kita datang. Ke-dua kata “sebab itu berjaga-jagalah” dan “Tuhanmu” mem-buktikan bahwa dua orang laki-laki dan dua orang perempuan dalam ayat 40 dan 41 adalah kaum beriman. Tuhan tidak me-nyuruh orang yang belum beroleh selamat untuk berjaga-jaga, Dia pun bukan Tuhan orang-orang yang tidak beroleh selamat.

Dibawa pergi berarti diangkat sebelum kesusahan besar. Pengangkatan ini adalah tanda kedatangan Tuhan dan tanda bagi orang-orang Yahudi. Melihat dua orang laki-laki sedang bekerja di ladang dan dua orang perempuan sedang memutar batu giling sangatlah menarik. Baik bekerja di ladang maupun memutar batu giling adalah untuk mencari nafkah. Terda-pat perbedaan antara nafkah kita dan nafkah orang dunia. Orang dunia belajar dan bekerja dan kita pun belajar dan bekerja. Namun orang dunia telah dimabukkan, tetapi kita tidak. Sebaliknya kita semata-mata menunaikan tugas kita untuk penghidupan. Hidup kita bukan untuk makan, minum, dan kawin, melainkan untuk mempertahankan eksistensi kita dalam menempuh jalan salib guna menggenapkan mak-sud tujuan Allah. Kepentingan kita bukan untuk pendidikan kita, pekerjaan, atau usaha kita.

Ketika beberapa orang muda mendengar ini, mereka mungkin akan berkata, “Alangkah gembira kita mendengar perkataan ini! Kita tidak perlu lagi mempedulikan pelajaran atau pekerjaan. Biarlah kita menghabiskan seluruh waktu kita untuk berdoa dan saling bersekutu.” Sikap sedemikian ini salah. Ingatlah, menurut ayat 40, saudara di ladang dan menurut ayat 41, saudari menggiling. Menggiling gandum merupakan pekerjaan yang berat. Ini menunjukkan bahwa kita sebagai orang Kristen tidak seharusnya mengambil pe-kerjaan yang ringan. Kita perlu bekerja keras untuk hidup. Makan dan minum dalam ayat 38 itu duniawi, tetapi bekerja di ladang dan menggiling dalam ayat 40 dan 41 itu kudus. Jika orang yang dibawa tidak mengerjakan sesuatu yang kudus, mereka tidak akan diangkat. Apakah Anda tahu bahwa bercocok tanam itu mungkin kudus, sedangkan bekerja se-bagai “pendeta” itu mungkin amat duniawi? Seorang guru Alkitab mungkin saja duniawi, namun seorang saudari yang menggiling gandum itu kudus. Banyak saudari yang mela-yani bagian konsumsi adalah saudari-saudari yang kudus. Mereka yang membicarakan tentang kudus belum tentu kudus. Adakalanya saudari-saudari tertentu semakin membi-carakan kekudusan, mereka semakin tidak kudus. Saudari-saudari yang demikian lebih baik menggunakan lebih banyak waktu untuk memasak, menyediakan makanan yang lezat bagi suami mereka, anak-anak, dan para tamu yang mereka terima. Saudari yang berbuat demikian akan menjadi kudus. Ada beberapa saudari tahu bagaimana bersekutu menjadi kudus, tetapi mereka tidak tahu bagaimana bekerja dengan baik dalam hal memasak. Mereka selalu memasak makan-an yang hambar bagi keluarga mereka, sambil memaafkan diri sendiri dengan mengatakan bahwa tidaklah perlu mem-buang waktu untuk memasak. Akan tetapi setelah sejangka waktu, suami dan anak-anaknya tidak puas dengan masak-annya. Semakin saudari-saudari ini membicarakan kekudusan, suami-suami dan anak-anak mereka semakin tidak kudus. Mereka membicarakan kekudusan, tetapi mereka tidak benar-benar memperhatikan keluarga mereka. Kita memerlukan lebih banyak saudari memutar batu giling untuk menghasilkan tepung yang baik. Kita tidak mabuk, tetapi kita sungguh perlu mendapat gizi yang tepat.

Prinsipnya sama dengan saudara dalam pekerjaan mere-ka. Seorang saudara tidak seharusnya membicarakan kekudus-an, tetapi melalaikan pekerjaan mereka. Jika ia berbuat demikian, ia akan terbakar. Perhatikanlah, pengangkatan oleh Tuhan tidak terjadi ketika dua orang saudara dan dua orang saudari sedang berdoa, melainkan ketika mereka se-dang bekerja. Ketika saya masih muda, saya diberi tahu be-tapa indahnya jika kita diangkat oleh Tuhan ketika kita sedang berdoa atau membaca Alkitab. Namun Tuhan Yesus tidak mengatakan demikian. Sebaliknya, Dia berkata bahwa dua orang sedang bekerja di ladang dan dua orang perempuan sedang memutar batu giling. Mereka tidak berpuasa, berdoa, atau membaca Alkitab, mereka melakukan pekerjaan rutin mereka.

Sudah pasti Tuhan Yesus mengatakan perkataan ini dengan tujuan tertentu. Dia ingin menunjukkan kepada kita bahwa ketika kita menunggu kedatangan-Nya dan mengha-rapkan keterangkatan, kita harus sangat setia dalam kewa-jiban kita tiap hari. Kita perlu sebaik mungkin bekerja di ladang dan sebaik mungkin memutar batu giling. Kita perlu kehidupan manusiawi yang tepat dan seimbang, bukan kehi-dupan “rahib” yang mencurahkan dirinya kepada perkara-perkara rohani dan berharap agar orang lain memperhatikan penghidupan mereka. Saudara yang bekerja di ladang dan saudari yang memutar batu giling itulah yang akan Tuhan angkat.

Dahulu ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa seseorang yang menjadi pengkhotbah, dia tidak berguna lagi. Alasannya ialah dia tidak perlu bekerja mencari nafkah. Sebaliknya, beban penghidupan mereka diletakkan pada orang lain. Berbuat demikian bagi kita sangat memalukan. Kita perlu bekerja dengan rajin dan melakukan tugas kita secara wajar. Ketika kita di ladang atau di pabrik, kita mungkin terangkat. Saudari yang sebagai istri dan ibu wajib mela-kukan penggilingan yang terbaik dan belajar bagaimana menyiapkan makanan yang paling sehat untuk keluarga me-reka. Hai, saudari, jika suami dan anak-anak Anda tidak sehat, Anda yang bertanggung jawab akan hal ini di hadapan Tuhan. Jika Anda memperhatikan masalah ini di hadapan Tuhan, Anda akan benar-benar kudus. Janganlah mengha-biskan waktu Anda untuk membicarakan kekudusan, tetapi gunakanlah untuk memasak makanan yang sehat, mudah dicerna, dan lezat. Anda perlu menyiapkan makanan yang baik untuk memelihara hayat suami Anda dan membangun kesehatan anak-anak Anda. Perkara ini tercakup dalam petunjuk Tuhan mengenai memutar batu giling.

Saudara yang sebagai ayah dan suami juga perlu beker-ja dengan rajin pada pekerjaan mereka untuk mencari uang guna memelihara keluarga mereka. Mereka yang bekerja ha-nya untuk sejumlah uang dalam bank sudah terbius. Tetapi kita perlu berjerih lelah untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi anak-anak kita. Jika tidak, kita tidak setia ke-pada Allah maupun kepada anak-anak kita. Sebagai orang tua, kita wajib berusaha mendidik anak-anak kita. Kita ja-ngan beranggapan bahwa mereka sudah cukup baik asalkan mereka sudah lulus dari Sekolah Menengah Atas dan bekerja dalam pekerjaan yang kasar. Berada di ladang berarti bahwa kita memperhatikan anak-anak kita untuk bisa mendapatkan makanan yang baik dan terdidik dengan baik pula. Kita jangan menjadi orang yang mengasihi dunia dan bekerja mencari uang bagi diri sendiri. Tetapi kita seharusnya giat bekerja mencari uang bagi keluarga kita. Sebagai orang yang memiliki sifat insani yang telah jatuh, kita mudah mema-afkan diri kita untuk tidak menggunakan begitu banyak waktu di ladang atau di penggilingan. Jika Anda berlaku de-mikian, Anda tidak akan terangkat. Saya ulangi, Anda akan terangkat ketika Anda sedang bekerja atau sedang menggiling gandum.

Dari dua orang di ladang, seorang akan diambil dan yang seorang akan ditinggalkan; dari dua orang perempuan yang memutar batu giling, seorang diambil dan yang lain akan ditinggalkan. Alasannya ialah adanya perbedaan di antara mereka dalam masalah hayat. Saya percaya bahwa orang yang diambil itu telah matang dan yang ditinggal itu belum ma-tang. Hayat membuat perbedaan. Keterangkatan para peme-nang, yaitu mereka yang matang dalam hayat merupakan peringatan bagi mereka yang ditinggalkan. Misalkan, Anda bekerja di ladang beserta seorang saudara dan saudara itu tiba-tiba diangkat ke surga, itu sudah tentu suatu peringatan bagi orang-orang yang ditinggalkan!

6. Berjaga-jaga dan Bersiap Sedia, Sebab Kristus Akan Datang Bagaikan Pencuri

Dalam ayat 42 Tuhan memberi tahu kita supaya ber-jaga-jaga, sebab kita tidak tahu pada hari mana Tuhan da-tang, kemudian ayat 43 mengatakan, “Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.” Tuan rumah mengacu kepada orang beriman dan rumah mengacu kepa-da sikap dan pekerjaan yang sudah didirikan oleh orang ber-iman dalam kehidupannya sebagai orang Kristen. Pencuri datang pada saat yang tidak diketahui untuk mencuri barang berharga. Tuhan akan datang secara diam-diam, seperti se-orang pencuri kepada orang yang mengasihi Dia, dan akan mengambil mereka sebagai mustika-Nya. Karena itu, kita ha-rus berjaga-jaga. Sebagaimana Tuhan katakan dalam ayat 44,

“Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Ini adalah kedatangan Tuhan secara rahasia bagi para pemenang yang berjaga-jaga.

B. Setia dan Bijaksana

1. Hamba yang Setia dan Bijaksana yang Memberi

Makanan kepada Orang-orang dalam Rumah Tuannya pada Waktunya

Ayat 45-51 berkaitan dengan kesetiaan dan kebijaksa-naan. Ayat 45 mengatakan, “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orang-nya (seisi rumahnya) untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?” Kesetiaan ditujukan kepada Tuhan, kebijak-sanaan ditujukan kepada kaum beriman. Berjaga-jaga adalah agar bisa diangkat ke dalam penyertaan Tuhan; kesetiaan adalah untuk memerintah dalam kerajaan.

Orang-orangnya (seisi rumahnya) yang dikatakan dalam ayat 45 mengacu kepada kaum beriman (Ef. 2:19), yaitu gereja (1 Tim. 3:15). Memberi mereka makanan mengacu kepada melayankan firman Allah dan Kristus sebagai suplai hayat kepada kaum beriman di dalam gereja. Kita semua harus belajar bagaimana melayankan suplai hayat dalam rumah Tuhan tepat pada waktunya.

Ayat 46-47 mengatakan, “Berbahagialah hamba yang di-dapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.” Berbahagia di sini berarti diberi pahala dengan kuasa untuk memerintah dalam manifestasi kerajaan. Hamba Tuhan yang setia akan diangkat menjadi pengawas segala milik-Nya se-bagai pahala dalam manifestasi Kerajaan Surga.

2. Hamba yang Jahat Memukul Hamba-hamba Lain, Makan Minum Bersama-sama Pemabuk-pemabuk,

Akan Dikerat oleh Tuhan dari Kemuliaan-Nya yang Akan Datang

Ayat 48-49 mengatakan, “Akan tetapi, apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang.” Hamba yang jahat ini adalah orang beriman, karena ia diangkat oleh Tuhan, dan ia pun menyebut Tuhan “Tuanku”, dan ia percaya bahwa Tuhan akan datang. Ayat 49 lebih lanjut mengatakan bahwa hamba yang jahat memukul ham-ba-hamba lain, makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk. Memukul hamba-hamba lain berarti menganiaya sesama orang beriman; makan dan minum bersama-sama pemabuk berarti menjalin hubungan dengan orang-orang duniawi yang mabuk dengan hal-hal duniawi.

Ayat 50-51 mengatakan, “Maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh (mengerat) dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Masalah hamba yang jahat bukan ia tidak mengetahui bahwa Tuhan akan datang, melainkan ia tidak mengharapkan-Nya. Ia tidak suka menempuh kehidupan yang mempersiapkan ke-datangan Tuhan. Sebab itu, ketika Tuhan datang kembali, Dia akan mengeratnya dan membuatnya senasib dengan orang-orang munafik. Mengerat di sini mengacu kepada dikerat dari Kristus yang mulia, dari kemuliaan kerajaan-Nya, dan dari penyertaan-Nya yang mulia dalam kerajaan-Nya, tidak dapat berbagian dalam Kristus dan kemuliaan kerajaan-Nya dalam manifestasi kerajaan yang akan dinikmati oleh hamba-hamba-Nya yang setia (ayat 45; 25:21, 23). Ini berhubungan dengan dibuang ke dalam kegelapan yang paling gelap dalam kesimpulan perumpamaan talenta (25:14-30), yang meleng-kapi bagian ini. Tuhan tidak akan membunuh hamba yang jahat itu hingga berkeping-keping, sebaliknya Dia akan me-ngeratnya dari kemuliaan di mana Dia sendiri berada. Ini sa-ma dengan dicampakkan ke dalam kegelapan yang di luar.

Siapa pun yang dicampakkan ke dalam kegelapan yang di luar akan dikerat dari Tuhan, dari hadirat-Nya, dari persekutuan-Nya, dan dari lingkungan kemuliaan di mana Tuhan berada. Ini bukan dibinasakan kekal, tetapi dibuang secara terhukum. Siapa dapat mengatakan bahwa hamba yang jahat ini bukan orang beriman yang sejati? Andaikan ia bukan seorang saudara, bagaimana Tuhan rela menyerah-kan tugas itu kepadanya. Tuhan tidak akan menugaskan kewajiban kepada seorang beriman palsu. Sudah pasti hamba yang jahat ini adalah orang yang telah diselamatkan. Dalam Matius sebagai kitab kerajaan, kasih yang terkandung di da-lamnya bukan keselamatan, melainkan kerajaan, yaitu apakah kita akan menerima pahala masuk kerajaan atau kehilangan pahala, kehilangan kenikmatan kerajaan, dan menderita hu-kuman serta didisiplinkan di sana dengan ratapan dan kertak-an gigi.