← Daftar isi Kelahiran Kembali · bab 9/19

MENANGGULANGI DAGING

Butir pertama dari tahap ketiga dalam pengalaman hayat rohani kita adalah salib menanggulangi daging. Seperti telah kita katakan, menanggulangi dosa adalah ibarat membersihkan noda dari baju, menanggulangi dunia ibarat membersihkan cetakan-cetakan warna-warni dari baju, dan menanggulangi hati nurani ibarat membersihkan bakteri dari baju. Demikianlah baju itu baru sepenuhnya dibersihkan. Dari sudut pandang manusia, sudahlah cukup menanggulangi sampai tahap ini. Tetapi tidak bagi Allah. Allah masih perlu dengan gunting memotong-motong baju ini menjadi potongan-potongan kecil. Inilah menanggulangi daging. Tampaknya ini tidak masuk akal, namun inilah yang terjadi dalam pengalaman rohani kita. Setelah kita menanggulangi dosa, menanggulangi dunia, dan menanggulangi hati nurani, meskipun semua kenajisan dari luar sudah dibersihkan, tetapi jika Tuhan menerangi kita, kita akan menemukan bahwa hayat Allah pada diri kita masih menghadapi satu kesulitan yang paling besar, yakni hayat alamiah kita, yang juga adalah diri kita sendiri. Meskipun kita telah menanggulangi ketidakbenaran, ketidakkudusan, dan semua perasaan dalam hati nurani, kita masih hidup berdasarkan hayat alamiah kita, bukan berdasarkan hayat Allah; kita masih hidup dalam diri kita sendiri, bukan dalam Roh Kudus. Karena itu, kita masih jiwani, bukan rohani. Jika kita ingin diselamatkan dari kesulitan ini, satu-satunya jalan keselamatan adalah salib. Hanya ketika kita menerima salib untuk menghancurkan hayat alamiah kita, baru bisa mengekspresikan dan mengahrkan hayat Allah. Hanya ketika kita mematikan diri kita, baru bisa membiarkan Roh Kudus mempercepat pekerjaan di dalam kita. Ketika bani Israel menyeberangi Sungai Yordan, pengembaraan di padang gurun berakhir; mereka memasuki dunia kehidupan yang baru, bisa menikmati hasil tanah permai, dan berperang bagi Allah untuk membawa masuk kerajaan. Bani Israel menyeberangi Sungai Yordan melambangkan kita mengalami kematian Kristus, agar kita terlepas dari daging dan memasuki kekayaan hayat Allah. Jika kita memperoleh belas kasihan Allah dan dengan setia terus maju di jalan hayat, suatu hari, kita juga akan sepenuhnya mengalami salib mematikan daging kita dan diserupakan dengan kematian-Nya. Hanya ketika kita mengalami penyelamatan salib mematikan daging kita, baru kita bisa terlepas dari dunia yang kersang dan jatuh, untuk masuk ke dalam kekayaan dan perhentian Kristus, dan bisa di dalam alam surgawi berperang bagi Allah dan mendatangkan Kerajaan Allah. Karena itu, pada diri orang Kristen, pengalaman tahap penanggulangan salib ini adalah suatu pos yang sangat penting. Berbahagialah mereka yang bisa mengalaminya dengan tuntas dan menyeluruh, karena mereka sudah mendekati tahap kematangan dalam hayat rohani mereka, dan Kristus akan bertumbuh dan terbentuk dalam mereka.

I. DASAR ALKITAB

1. Roma 8:7-8, "Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena keinginan itu tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." Membicarakan keadaan perseteruan daging dengan Allah. Seorang karnal (milik daging) tidak mungkin berkenan kepada Allah atau diterima Allah.

2. Roma 6:6, "Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubult dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa." Manusia lama adalah sebutan bagi daging ketika tidak diekspresikan. Bagian ini menyatakan bahwa manusia lama kita, atau daging kita, telah disalibkan bersama Kristus, dan ini adalah fakta yang sudah rampung sejak dulu.

3. Galatia 5:24, "Siapa saja yang menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." Dalam pandangan Allah, penanggulangan daging juga adalah suatu fakta yang telah rampung sejak dulu. Karena itu, kita tidak boleh hidup oleh daging lagi.

4. Roma 8:13, "Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematiUkan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." Di sini menyuruh kita untuk mematikan perbuatan daging bersandarkan Roh, dengan demikian secara riil mengalami penanggulangan salib.

II. DEFINISI DAGING

Dalam Alkitab, sedikitnya kita dapat menemukan tiga definisi dari daging :

1. Tubuh yang Telah Rusak

Definisi pertama dari daging dalam Alkitab adalah tubuh yang telah rusak. Ketika Allah sebermula menciptakan manusia, manusia hanya memiliki tubuh jasmani, bukan daging. Saat itu, tidak ada dosa atau hawa nafsu dalam tubuh manusia; polos murni sebagai tubuh yang diciptakan. Sampai ketika Iblis menipu manusia untuk memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, maka Iblis, yang dilambangkan dengan buah itu, beserta hayat dosanya masuk ke dalam tubuh manusia, menyebabkan tubuh manusia berubah dan rusak sehingga menjadi daging. Karena itu, hari ini daging manusia jauh lebih rumit daripada tubuh manusia yang sebermula, karena di dalamnya ada dosa, hawa nafsu, dan banyak unsur lainnya dari Iblis.

Dengan mudah kita dapat menemukan dasar Alkitab untuk menunjukkan bahwa daging adalah tubuh yang telah rusak. Misalnya, Roma 6:6 mengatakan, "tubuh dosa", tubuh dosa adalah tubuh yang berdosa. Roma 7:24 menyebutkan, "tubuh maut", tubuh maut juga berarti tubuh yang mati. Tubuh yang berdosa dan mati ini mengacu kepada tubuh yang telah rusak, atau daging. Dosa dan maut adalah karakteristik (ciri-ciri khusus) hayat Iblis. Karena tubuh ini telah mengandung dosa dan maut, maka telah menjadi daging. Itulah sebabnya dalam Roma 7:18 rasul berkata, "Di dalam aku, yaitu di dalam dagingku, tidak ada sesuatu yang baik (Tl.), juga ayat 20 mengatakan, "Tetapi dosa yang unggal di dalam aku," dan lagi, ayat 21 mengatakan, "Yang jahat itu ada padaku." Ayat-ayat ini memberi tahu kita bahwa "dosa" atau "jahat" yang ada di dalam kita itu ada di dalam daging kita. Dalam ayat 23 rasul menyebutkan pula "hukum dosa yang ada di dalam, anggota-anggota tubuhku". Ini secara lebih konkret menunjukkan bahwa hukum dosa ada di dalam anggota-anggota tubuh. Semua ini menyatakan bahwa tubuh kita telah dirusak karena bercampur dengan racun Iblis.

Galatia 5:19-21 membuat daftar perbuatan daging, seperti percabulan, kecemaran, hawa nafsu, dan lain-lain, semua berasal dari tubuh kita yang telah rusak. Jadi, definisi pertama dari daging ialah tubuh kita yang telah rusak.

2. Seluruh Manusia yang Jatuh

Definisi kedua dari daging dalam Alkitab adalah seluruh diri kita yang iatuh. Roma 3:20 mengatakan, "Sebab ttdak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat." Galatia 2:16 mengatakan, "Tidak seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat." Dalam kedua bagian ini, kata "tidak seorang pun" dalam bahasa aslinya adalah "tidak ada daging". Ini menampakkan kepada kita bahwa Allah menyebut manusia sebagai daging. Dalam pandangan-Nya, manusia tidak hanya memiliki daging, tetapi juga adalah daging.

Bagaimana manusia jatuh sehingga menjadi daging? Sesudah manusia diciptakan, tubuh manusia patuh kepada pengaturan jiwa, dan jiwa patuh kepada pengaturan roh. Di satu pihak, manusia berdasarkan roh memiliki persekutuan dengan Allah, memahami kehendak Allah; di pihak lain, manusia menggunakan rohnya untuk mengatur seluruh dirinya patuh kepada kehendak Allah. Karena itu, pada saat itu, manusia hidup oleh roh dan dikontrol oleh roh. Setelah manusia tertipu oleh Iblis dan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, manusia jatuh dari roh dan tidak lagi hidup oleh roh. Pada saat yang sama, karena tubuh manusia telah diracuni oleh Iblis, maka mutunya telah berubah, menjadi daging. Inilah langkah pertama kejatuhan manusia. Setelah itu, Kain berdosa dan jatuh, ditolak oleh Allah karena dia melayani Allah menurut kesenangan dan pendapatnya sendiri. Demikianlah, manusia sepenuhnya jatuh ke dalam jiwa, hidup berdasarkan jiwa dan menjadi manusia jiwani. Setelah Kain, kejatuhan manusia makin lama makin dalam, makin berat dalam berbuat dosa. Akibatnya, roh manusia makin layu, kering, sedangkan dagingnya makin kuat dan besar, bahkan sampai merampas posisi roh yang mengontrol seluruh dirinya. Demikianlah manusia sepenuhnya jatuh ke dalam daging dan hidup oleh daging. Itulah sebabnya sebelum penghakiman air bah, Allah berkata bahwa manusia itu "adalah daging" (Kej. 6:3). Juga dikatakan, "Semua manusia (daging) menjalankan hidup yang rusak di bumi" (Kej. 6:12). Pada saat itu, dalam pandangan Allah, manusia tidak hanya daging, bahkan adalah daging itu. Mereka yang jahat adalah daging, mereka yang baik juga adalah daging; mereka yang membenci adalah daging, mereka yang mengasihi juga adalah daging. Semua orang di dunia ini adalah daging. Karena itu, dalam Alkitab, daging juga mengacu kepada seluruh diri manusia yang jatuh.

3. Aspek yang Baik dari Manusia

Biasanya ketika kita menyebutkan daging, kita berpikir bahwa daging adalah rusak dan jahat, seperti yang disebutIcan di dalam Galatia 5:19-21. Tetapi Alkitab menampakkan kepada kita bahwa daging bukan hanya memiliki aspek yang jahat, tetapi juga memiliki aspek yang baik. Daging dalam aspek yang baik ini ingin melakukan perbuatan yang baik, bahIcan menyembah dan melayani Allah. Dalam Filipi 13-6 mengatakan bahwa ada orang-orang yang menyembah Allah dalam daging dan membanggakan daging mereka. Daging yang dikatakan oleh rasul di sana tidak disangsikan adalah daging di aspek yang baik, yang dengannya manusia menyembah Allah dan manusia membanggakannya.

Mengapa manusia, atau daging, masih memiliki aspek yang baik? Karena meskipun kita adalah orang-orang yang jatuh sedemikian dalam, kita masih memiliki sedikit unsur baik yang semula diciptakan Allah. Karena itu, kita sering ingin berbuat baik dan melayani Allah. Tetapi sesungguhnya aspek yang baik dari manusia atau daging ini adalah lemah dan tidak berdaya; ingin berbuat baik atau melayani Allah, tetapi tidak mampu melakukannya. Dalam pandangan Allah, kita, manusia yang jatuh, dikontrol oleh daging, seluruhnya menjadi daging. Semua yang berasal dari diri kita, baik atau buruk, semuanya berasal dari daging, semuanya tidak berkenan kepada Allah. Karena itu, tidak hanya temperamen, kebencian, atau penentangan terhadap Allah yang berdasarkan diri kita berasal dari daging, tetapi juga kebajikan, kasih, dan bahkan melayani Allah yang berdasarkan diri kita berasal dari daging. Apa pun yang berasal dari diri kita, baik atau jahat, semua adalah dari daging. Asal itu milik kita, baik atau jahat, juga adalah milik daging. Kita harus mengenal daging sampal tahap sedemikian, baru kita benar-benar menjamah makna dari daging, mengenal apakah daging itu. Karena itu, dalam Alkitab, daging juga menunjukkan aspek yang baik dari manusia.

III. KEDUDUKAN DAGING DI HADAPAN ALLAH

Bagaimana kedudukan daging di hadapan Allah? Bagaimana sikap Allah terhadap daging? Hal ini dengan jelas disebutkan di banyak bagian dalam Alkitab; di sini kita hanya membahas beberapa bagian yang paling penting saja.

1. Allah Tidak Dapat Berbaur dengan Daging

Keluaran 30:31-32, "Kepada daging orang janganlah minyak itu (minyak urapan yang kudus) dicurahkan" (Tl.). Minyak urapan yang kudus melambangkan Roh Kudus, dan Roh Kudus adalah Allah sendiri. Karena itu, minyak urapan yang kudus tidak boleh dicurahkan ke atas daging orang berarti Allah mutlak tidak dapat berbaur dengan daging.

2. Allah dan Daging Tidak Dapat Saling Eksis

Keluaran 17:14, 16, "Kemudian berfirmanlah Tuhan kepada Musa ... Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit ... Ia berkata : ... Tuhan berperang melawan Amalek turun-temurun." Mengapa Allah berketetapan untuk menghapuskan Amalek dan berperang dengannya turun-temurun? Karena di dalam Alkitab Amalek melambangkan daging kita.

Bani Israel adalah keturunan Yakub, melambangkan bagian dalam kita, yang terpilih dan dilahirkan kembali, yaitu manusia baru dalam roh milik Kristus. Bangsa Amalek adalah keturunan Esau melambangkan bagian alamiah manusia kita yang jatuh, yaitu manusia lama dalam daging milik Adam. Esau dan Yakub adalah saudara kembar, tetapi keturunan mereka, bangsa Amalek dan bangsa Israel, saling bermusuhan; mereka tidak dapat rukun. Demikian juga, manusia lama daging kita sangat dekat dengan manusia baru rohani kita; keduanya juga saling bermusuhan dan tidak dapat rukun. Fakta bahwa Allah akan berperang melawan Amalek menunjukkan betapa Allah sangat membenci daging dan mau menghapusnya. Jika daging tidak dihapuskan, tidak ditanggulangi, hayat rohani tidak berdaya bertumbuh. Keduanya tidak dapat saling berkompromi dan saling eksis.

Karena itu, ketika Saul menjadi raja Israel, Allah memerintahkan dia untuk mengalahkan orang Amalek, menumpas segala yang ada pada mereka, dan jangan membelaskasihani mereka (1 Sam. 15). Namun Saul membelaskasihani Agag, raja orang Amalek, domba-domba dan lembu- 1embu terbaik, dan semua barang-barang yang indah. Semua yang baik tidak ia musnahkan, tetapi semua yang buruk ia musnahkan. Karena Saul tidak sepenuhnya menaati perintah Allah, Allah meninggalkannya dan ia kehilangan takhtanya. Hal ini menyatakan jika manusia tidak sepenuhnya menolak daging, tetapi menahan apa yang baik dan berharga dalam pandangan manusia, dia tidak dapat berkenan kepada Allah, karena antara Allah dan daging tidak ada kompromi.

Dalam Kitab Ester, Mordekhai memilih mati daripada bersujud kepada Haman, orang Agag, keturunan Amalek. Karena Mordekhai tetap teguh tidak mau bersujud kepadanya, ia berkenan kepada Allah dan akhirnya menyelamatkan seluruh orang Yahudi. Inilah bukti lebih jauh bahwa hanya ketika kita tidak menyerah terhadap daging, meskipun sampai mati, kita baru bisa berkenan kepada Allah dan menjadi bejana yang cocok bagi-Nya. Allah dan daging tidak dapat saling eksis!

3. Allah Berketetapan Menyingkirkan Daging

Dalam Perjanjian Lama Allah masih melakukan satu tindakan untuk menyatakan sikap-Nya terhadap daging, yaitu menetapkan sunat. Orang pertama yang Allah perintahkan untuk disunat adalah Abraham. (Kej. 17). Allah berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut. Tetapi ketika janji Allah belum juga terpenuhi, Abraham mengambil Hagar sebagai istrinya dan melahirkan Ismael. Demikianlah, dia menggunakan kekuatan dagingnya untuk memenuhi janji Allah. Allah tidak berkenan kepadanya, dan selama 13 tahun Allah tersembunyi terhadap-Nya. Hingga Abraham, berumur 99 tahun, barulah Allah menampakkan diri lagi kepadanya (Kej. 16:15; 17:1). Pada penampakan kali ini, Allah memerintahkan Abraham dan semua orang yang ada padanya disunat. Berarti Allah menghendaki daging disingkirkan, supaya mereka tidak lagi menyembah Allah dalam daging.

Perkara sunat disebut untuk kali kedua dalam Alkitab adalah dalam Keluaran 4. Ketika Musa menjawab panggilan Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir; Allah bertemu dengannya di tengah jalan dan ingin membunuhnya, karena kedua anaknya belum disunat. Kemudian, Zipora, istri Musa, menyunat anak-anaknya. Dari sini kita nampak bahwa jika seseorang ingin melayani Allah, sebelumnya ia harus menyingkirkan dagingnya; kalau tidak, meskipun ia menyerahkan semuanya kepada Allah, Dia tidak akan berkenan kepada Allah.

Perkara sunat disebut untuk kali ketiga dalam Alkitab adalah berkenaan dengan penyunatan di Gilgal, setelah bani Israel menyeberang Sungai Yordan (Yos. 4-5). Pada hari Paskah, bani Israel mengubur dosa-dosa mereka di bawah darah anak domba. Ketika mereka meninggalkan Mesir, mereka mengubur musuhnya, pasukan Mesir, di Laut Merah. Ketika mereka memasuki tanah Kanaan, mereka menguburkan diri mereka, atau daging mereka, di dalam air Sungai Yordan. Dengan kata lain, mereka membereskan dosa-dosa mereka dengan paskah; membereskan dunia dengan Laut Merah; tetapi daging mereka tetap belum tertanggulangi, dan karenanya mereka mengembara selama 40 tahun di padang gurun sampai mereka menyeberang Sungai Yordan, di mana bani Israel ciptaan lama, yaitu daging, dibereskan. Ketika mereka menyeberang sungai, mereka mengambil dua belas batu dari dasar sungai itu dan membawanya ke sisi seberang sungai; kemudian mereka mengambil dua belas batu lainnya dan menaruhnya di dasar Sungai Yordan. Hal ini menyatakan bahwa manusia lama mereka dikubur di dasar sungai, dan yang masuk ke tanah Kanaan adalah orang Ismael yang baru. Karena itu, begitu mereka menyeberang Sungai Yordan, mereka semuanya disunat, secara resmi dan formal menyingkirkan daging. Sejak itu, mereka dapat berperang bagi Allah dan mendatangkan kerajaan-Nya.

Tidak hanya demikian, Perjanjian Baru juga menyinggung tentang sunat bagi orang Kristen. Kolose 2:11 mengatakan, "Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh Manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh daging" (Tl). Di sini lebih jelas memperlihatkan kepada kita bahwa makna rohani dari sunat adalah menyingkirkan daging. Sunat, tanda perjanjian Allah dengan umat-Nya, menyatakan bahwa Allah menghendaki umat-Nya menyingkirkan daging, sehingga dapat hidup di depan-Nya.

4. Kesimpulan Alkitab terhadap Daging

Roma 8:8 mengatakan, "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." Alkitab telah banyak membicarakan daging, dan pada butir ini Alkitab memberi satu kesimpulan terhadap daging bahwa orang yang milik daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Jika seseorang itu milik daging, memikirkan daging, dan hidup berdasarkan daging, maka apa pun yang dia lakukan, baik atau jahat, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

5. Kedudukan yang Seharusnya dari Daging

Galatia 5:24, "Siapa saja yang menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." Kedudukan yang seharusnya dari daging ialah di atas salib. Nasib akhir dari daging di hadapan Allah ialah maut. Ketetapan Allah terhadap daging adalah harus dimatikan! Setelah daging dimatikan, dibereskan, barulah Allah di atas diri manusia memiliki kedudukan, memiliki jalan.

Setelah melihat kelima butir di atas, kita tahu bahwa seluruh Alkitab membuktikan bahwa daging adalah suatu benda yang dibenci Allah dan yang akan dimusnahkan untuk selama-lamanya. Alasan utama Allah sangat membenci daging ialah karena Iblis tinggal di dalam daging. Daging adalah kemah yang besar dari musuh Allah, adalah dasar yang paling besar dari pekerjaan musuh Allah. Kita dapat berkata bahwa semua pekerjaan Iblis atas diri manusia berdasarkan daging manusia. Dan semua pekerjaannya yang berdasarkan daging manusia ini merusak rencana dan tujuan Allah. Karena itu, Allah sangat membenci daging sama seperti Dia sangat membend Iblis; sebagaimana Dia hendak memusnahkan Iblis, demikian juga Dia hendak memusnahkan daging. Allah dan daging selamanya tidak bisa berdampingan.

IV. HUBUNGAN ANTARA

DAGING DAN MANUSIA LAMA

Alkitab menyinggung tentang daging, juga menyinggung tentang manusia lama. Apakah hubungan antara daging dan manusia lama? Di mana perbedaan antara keduanya? Secara sederhana dapat dikatakan, daging adalah diperhidupkannya manusia lama; daging dan manusia lama adalah dwitunggal. Dalam ciptaan lama kita adalah manusia lama; ketika manusia lama diperhidupkan dan diekspresikan, itulah daging. Jadi, manusia lama dan daging sesungguhnya mengacu kepada diri kita. Hanya, manusia lama adalah sebutan di aspek fakta obyektif kita, dan daging adalah sebutan di aspek pengalaman subyektif kita.

Hal ini dengan jelas dinyatakan dalam Kitab Roma. Roma 5 membicarakan warisan yang kita terima dalam Adam, Roma 6 membicarakan apa yang kita dapatkan dalam Kristus, Roma 7 membicarakan ikatan (belenggu) kita dalam daging, dan Roma 8 membicarakan pembebasan (kemerdekaan) kita dalam Roh Kudus. Pasal 5 dan 6 membicarakan fakta obyektif mengenai Kristus dan manusia lama; sedangkan pasal 7 dan 8 membicarakan pengalaman subyektif mengenai Roh Kudus, mengenai daging, bagaimana hubungan Kristus dengan Roh Kudus, juga bagaimana hubungan manusia lama dan daging. Tanpa Roh Kudus, Kristus tidak dapat dialami; demikian juga tanpa daging, manusia lama tidak dapat dialami. Kristus diperhidupkan dalam Roh Kudus; demikian juga, manusia lama diperhidupkan dalam daging. Misalnya, Alkitab mengatakan bahwa manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus. Ini adalah fakta yang telah rampung lebih dari 1.900 tahun yang lalu; meskipun pada saat itu kita belum lahir, dan manusia lama kita belum ada. Hingga hari ini, lebih dari 1.900 tahun kemudian, kita dilahirkan; kita bisa berbohong, bisa marah, inilah manusia lama yang diperhidupkan, dan kita menyebutnya daging. Jadi, yang disalibkan bersama Kristus pada hari itu adalah manusia lama kita, yang saat itu belum diperhidupkan; sedangkan yang ditanggulangi hari ini adalah daging, yang saat ini kita perhidupkan. Jadi, daging adalah diperhidupkannya manusia lama, ekspresi manusia lama, juga adalah pengalaman kita atas manusia lama.

Dari sini kita dapat melihat dengan jelas, ketika Alkitab mengatakan bahwa manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus, ini mengacu kepada fakta obyektif di masa lampau, dan ketika mengatakan bahwa daging kita. disalibkan, ini mengacu kepada pengalaman subyektif pada hari ini. Jadi, penanggulangan daging mutlak adalah suatu perkara pengalaman.

V. PENANGGULANGAN DAGING

Telah kita katakan sebelumnya bahwa ada tiga aspek definisi daging, karena itu, ketika kita menanggulangi daging, harus menanggulangi ketiga aspek tersebut. Pertama, harus menanggulangi sifat jahat, hawa nafsu, kesombongan, keegoisan, kelicikan, ketamakan, pertengkaran, iri hati, dan unsur-unsur buruk lainnya yang ada dalam daging. Kedua, harus menanggulangi manusia karnal (milik daging) kita. Manusia kita telah jatuh ke dalam daging, dikekang dan dikendalikan oleh daging, seluruh diri kita telah. menjadi daging. Karena itu, seluruh diri kita. harus melewati penanggulangan yang tuntas dari salib. Ketiga, khusus masih harus menanggulangi aspek yang baik dari daging. Semua kebaikan alamiah kita, kebajikan bawaan, yang dipandang indah oleh manusia, adalah yang dibenci Allah; semua itu juga harus ditanggulangi.

Jadi, apa pun milik manusia kita, yang milik daging, perlu ditanggulangi. Tetapi bagaimana kita menanggulangi daging? Ini akan kita bicarakan dalam dua aspek : fakta obyektif dan pengalaman subyektif.

1. Fakta Obyektif

Fakta obyektif dalam menangulangi daging sepenuhnya berkaitan dengan Kristus. Galatia 2:19 mengatakan, "Aku telah disalibkan dengan Kristus." Roma 6:6 mengatakan, "Manusia lama kita telah turut disalibkan" (bersama Kristus). Dua ayat Alkitab ini dengan jelas memperlihatkan kepada kita bahwa ketika Kristus dipaku di atas salib, kita telah disalibkan bersama Dia. Manusia kita yang milik daging ini telah dibereskan di atas salib Kristus. Ini adalah fakta yang telah. dirampungkan di masa lampau di alam semesta ini. Fakta bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus adalah dasar penanggulangan kita atas daging. Jika kita tidak pernah disalibkan bersama Kristus, tidak ada seorang pun dari kita yang dapat menanggulangi daging. Penanggulangan kita atas daging hanyalah menampilkan fakta dalam pengalaman bahwa kita telah mati bersama Kristus. Karena itu, langkah pertama kita dalam menanggulangi daging adalah mohon Tuhan menerangi kita agar kita memperoleh wahyu untuk nampak fakta bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus. Roma 6:11 mengatakan, "Demikianlah hendaknya kamu memandangnya (menghitungnya). Bahwa kamu telah mati terhadap dosa." Memandang di sini adalah masalah melihat. Setelah kita. nampak fakta bahwa kita. telah disalibkan bersama Kristus, dengan sendirinya kita dapat menghitung diri sendiri mati.

2. Pengalaman Subyektif

Pengalaman subyektif dalam menanggulangi daging sepenuhnya berkaitan dengan Roh Kudus. Sekadar memiliki mati bersama yang telah dirampungkan Kristus, itu hanyalah satu fakta di hadapan Allah; bagi kita, hal itu masihlah obyektif. Perlu Roh Kudus bekerja atas diri kita melaksanakan (menerapkan) fakta yang telah Kristus rampungkan di atas salib, demikian baru perkara mati bersama Kristus dapat menjadi pengalaman subyektif kita. Pekerjaan yang sangat utama dan mendasar dari Roh Kudus yang berhuni di dalam kita adalah menggarapkan fakta Kristus telah menyalibkan daging di atas salib ke dalam kita. Dengan kata lain, pekerjaan Roh Kudus adalah menggarapkan salib di Golgota ke atas diri kita, sehingga menjadi salib di dalam kita. Karena itu, pengalaman subyektif kita dalam, menanggulangi daging adalah dilaksanakan oleh Roh Kudus di dalam kita.

Roma 6 dan 8 memperlihatkan dengan jelas tentang kematian yang telah dirampungkan Kristus dan kematian yang sedang dilaksanakan oleh Roh Kudus. Setelah Roma 6 membicarakan fakta kita telah disalibkan bersama Kristus, Roma 8:13 mengatakan, "Oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." Pasal 6 mengatakan bahwa kita telah mati, mengapa pasal 8 mengatakan bahwa kita perlu mematikan? Ini karena hal kematian yang disebutkan dalam kedua pasal ini berbeda. Kematian dalam pasal 6 merupakan kematian yang dirampungkan di dalam Kristus, sedangkan kematian dalam pasal. 8 merupakan kematian yang sedang dilaksanakan di dalam Roh Kudus. Pasal 6 membicarakan kematian obyektif, pasal. 8 membicarakan kematian subyektif, pasal 6 membicarakan fakta mati bersama, pasal 8 membicarakan pengalaman mati bersama; pasal 6 membicarakan kematian manusia lama, pasal 8 membicarakan kematian daging. Kematian dalam. pasal 6 memerlukan iman kita; kematian dalam pasal 8 memerlukan persekutuan, yaitu persekutuan hidup di dalam Roh Kudus. Karena itu, kita memerlukan kedua aspek kematian ini. Beberapa orang berpikir, karena masalah daging kita telah dibereskan di atas salib di masa lampau, maka cukuplah jika kita percaya fakta ini dan menerima kebenaran ini, tidak perlu mengeluarkan waktu untuk menanggulangi. Yang lain berpikir bahwa menanggulangi daging sepenuhnya adalah tanggung jawab kita dan kita perlu setiap, hari mengeluarkan tenaga untuk menanggulanginya satu demi satu. Kedua cara berpikir tersebut hanya menekankan satu aspek; sehingga keduanya tidak seimbang dan menyimpang. Kalau kita benar-benar ingin mendapatkan pengalaman sejati dalam menanggulangi daging, kita perlu kedua aspeknya.

VI. PROSES MENGALAMI

PENANGGULANGAN DAGING

Sekarang kita akan membahas proses riil mengalami penanggulangan daging.

1. Mendambakan Kehidupan Tanpa Dosa

Ketika seseorang mau menanggulangi dagingnya, langkah pertama selalu dimulai dengan adanya kedambaan terhadap kehidupan tanpa dosa. Bagian dari daging yang paling mudah dikenali adalah pada aspek yang rusak. Karena itu, dalam menanggulangi daging, selalu dimulai dari aspek yang rusak. Namun daging yang rusak yang dimaksud di sini mencakup ruang lingkup yang lebih luas dan lebih dalam daripada menanggulangi dosa. Boleh dikatakan bahwa semua yang tersembunyi di dalam manusia yang tidak berkenan kepada Allah, yang tidak berkaitan dengan hasrat hati Allah, dan yang tidak dapat mencapai kehendak Allah, adalah daging yang rusak. Ketika manusia tertarik oleh Tuhan untuk menuntut Dia, dengan sendirinya ia akan nampak betapa daging itu cemar dan patut dibenci, dengan sendirinya damba bisa terlepas dari semua itu, dan bisa menempuh satu kehidupan yang kudus, tanpa dosa, dan menang.

2. Menemukan Kesulitan Daging

Begitu seseorang mendambakan kehidupan tanpa dosa dan di hadapan Tuhan terlepas dari kekangan dosa, secara otomatis dia akan memakai kekuatannya sendiri untuk menanggulangi dosa yang disadarinya, dan dia juga akan mohon Tuhan memberi kekuatan, menolongnya menanggulangi dosa. Tetapi hasilnya sangat mengecewakan dia, karena meskipun dia bisa menanggulangi beberapa perbuatan dosa, tetapi dia tidak mampu menanggulangi sifat yang di dalam yang condong terhadap dosa; dengan sekuatnya dia telah menanggulangi satu dosa, tetapi dari dalam muncul lagi sepuluh dosa lainnya. Kelihatannya semakin dia menanggulangi, semakin besar kekuatan dosa, akibatnya dia sering mengalami kegagalan. Di dalam melewati semua kegagalan ini, perlahan-lahan ia menemukan bahwa di dalam dirinya ada daging yang rusak, dan tahu bahwa semua dosa berasal dari daging yang rusak ini. Dosa hanyalah kerusakan yang terekspresikan; daging adalah akar sesungguhnya dari semua kerusakan ini. Hanya menanggulangi dosa tanpa menanggulangi daging adalah penanggulangan yang menanggulangi akibatnya, bukan menanggulangi penyebabnya, hasilnya pasti sia-sia. Mustahil memperhidupkan kehidupan yang tanpa dosa tanpa ada penanggulangan yang tuntas terhadap daging. Demikianlah, dia akhirnya menemukan bahwa daging merupakan kesulitan yang paling besar.

Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa pengalaman penanggulangan kita terhadap daging juga demikian. Pertama, Roma 6 memberi tahu kita bahwa kita yang telah dibaptis di dalam Kristus tidak lagi hidup di dalam dosa, tidak bisa lagi menyerahkan anggota tubuh kita kepada dosa. Karena itu, kita perlu menanggulangi dosa dan menyerahkan angota-anggota tubuh kita sebagai senjata-senjata kebenaran. Kemudian pasal 7 memberi tahu kita bahwa orang yang menanggulangi dosa menemukan bahwa dosa dan daging tak dapat dipisahkan. Daging adalah tubuh dosa, tidak ada kebaikan di dalamnya. Alasan mengapa orang berbuat dosa adalah karena ia milik daging. Karena itu, sampai pasal 8, di satu pihak mengatakan fakta hukum Roh hayat telah memerdekakan kita dalam Kristus Yesus, dan di lain pihak mengatakan perkara penanggulangan daging. Hanya ketika daging ditanggulangi, maka kita bisa dibebaskan dari belitan (belenggu) dosa. Jadi, setelah seseorang damba memiliki kehidupan tanpa dosa, berangsur-angsur ia akan menemukan kesulitan-kesulitan dalam daging, mengetahui bahwa kita, manusia ciptaan lama, adalah daging; dan seluruh kesulitan kita adalah terletak pada diri manusia kita. Kalau manusia kita ini tidak dibereskan, maka daging tidak akan terbereskan, akibatnya, kita tidak dapat menempuh kehidupan yang kudus dan tanpa dosa.

3. Nampak Daging Telah Disalibkan dengan Kristus

Ketika kita benar-benar di dalam terang Allah nampak kesulitan daging, juga nampak berdasarkan diri sendiri kita mutlak tidak mampu menanggulangi daging, sehingga kita sepenuhnya putus asa terhadap diri sendiri, Roh Kudus akan memberi kita wahyu mengenai penyelamatan salib seperti yang dikatakan dalam Roma 6:6, "Manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa." Perkataan "hilang kuasanya" menurut bahasa ashnya berarti "menganggur, tuna karya". Roh Kudus akan memberi tahu kita bahwa manusia lama milik daging kita telah disalibkan dengan Kristus, sekarang tubuh dosa kita telah tersingkirkan, telah kehilangan khasiatnya, mengapa kita masih berada di bawah kekangannya? Dalam Roma 6 disebutkan lagi bahwa kita telah mati terhadap dosa, kita telah dilepaskan dari dosa, dosa tidak lagi berkuasa atas kita. Kita telah dibebaskan dari dosa. Begitu kita berada di dalam terang firman Allah dan menerima fakta ini melalui iman, firman ini meniadi deklarasi pembebasan kita, menjadi kidung kemenangan kita. Kita dapat memandang diri kita telah mati terhadap dosa, namun hidup terhadap Allah dalam Kristus Yesus. Ini adalah anugerah yang yang betapa limpah!

4. Membiarkan Roh Kudus

Melaksanakan Kematian Kristus

Setelah kita melihat dan menerima fakta manusia lama kita telah disalibkan dengan Kristus, kita. harus membiarkan Roh Kudus melaksanakan fakta ini ke dalam diri kita. Kristus telah merampungkan fakta obyektif bagi kita, tetapi kita bertanggung jawab atas pengalaman subyektif bersandar Roh Kudus. Semua pengalaman penanggulangan daging haruslah dialami secara subyektif, ini baru riil. Siapa saja yang hanya pereaya akan fakta mati bersama di atas salib, ia tidak akan memiliki pengalaman yang riil terhadap penanggulangan daging. Ketika Tuhan mati di atas salib, tirai terbelah dua; tirai itu adalah daging-Nya. Dia mengenakan daging kita dan memakunya di atas salib. Bagi Dia ini adalah pengalaman yang subyektif, tetapi bagi kita ini adalah fakta yang obyektif. Kita masih harus membiarkan Roh Kudus menerapkan ini ke dalam kita, barulah bisa menjadi pengalaman subyektif kita yang riil.

Galatia 5:24 mengatakan, "Siapa saja yang menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." Bagian ini mewahyukan bahwa kita yang telah diselamatkan dan menjadi milik Kristus Yesus, adalah pelaku (secara aktif) dari penyaliban daging. Di sini tidak dikatakan bahwa Tuhan menyalibkan daging kita, melainkan kita sendiri yang harus menyalibkan daging kita. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa kita memikul tanggung jawab untuk mengambil inisiatif dalam menyalibkan daging. Menyalibkan manusia lama adalah tanggung jawab Allah, tetapi menyalibkan daging adalah tanggung jawab kita.

Karena itu, yang dibicarakan Galatia 5:24 adalah pengalaman subyektif kita menyalibkan daging, bukan fakta obyektif Kristus menyalibkan manusia lama bagi kita, sebagaimana anggapan banyak orang. Alasannya adalah : pertama, penyaliban daging yang dikatakan di sini adalah suatu tindakan aktif dari kita sendiri, bukan apa yang Kristus lakukan bagi kita. Kedua, yang dikatakan di sini adalah menyalibkan daging, bukan menyalibkan manusia lama. Kita telah mengatakan bahwa manusia lama adalah sebutan di aspek obyektif, sedangkan daging adalah sebutan di aspek pengalaman subyektif. Apa lagi ayat yang sama menyebutkan keinginan dan hawa nafsu, yang adalah hal-hal yang nyata dalam kehidupan sehari- hari. Ketiga, semua ayat sebelum dan sesudah ayat ini berbicara mengenai pekerjaan Roh Kudus, maka menyalibkan daging yang dikatakan di sini pastilah sesuatu yang kita lakukan bersandarkan Roh Kudus. Karena kita lakukan bersandarkan Roh Kudus, maka ini merupakan pengalaman subyektif kita. Berdasarkan ketiga butir ini, kita dapat memastikan bahwa ayat ini mutlak membicarakan aspek pengalaman subyektif kita.

Namun, mengapa di sini dikatakan bahwa siapa saja yang menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan daging? Mengapa hal menyalibkan daging ini dikatakan sebagai suatu fakta yang telah rampung? Bagaimana hal ini bisa bersesuaian dengan pengalaman kebanyakan orang? Bukankah kebanyakan orang Kristen masih tetap hidup di dalam daging? Jawabannya ialah rasul berbicara seturut dengan pekerjaan Roh Kudus yang normal. Normalnya, semua milik Kristus telah menyalibkan daging bersandarkan Roh Kudus. Orang milik Tuhan namun tidak menyalibkan daging bersandarkan Roh Kudus, adalah tidak normal! Pada masa itu, banyak orang Kristen di Galatia yang tidak normal. Meskipun mereka telah beroleh selamat dan menjadi milik Kristus, namun mereka tetap hidup berdasarkan daging dan tidak menyalibkan daging bersandarkan Roh Kudus. Rasul sepertinya memberi tahu orang-orang Galatia, "Secara normal, semua orang milik Kristus telah menyalibkan daging mereka. Kamu adalah milik Kristus, bagaimana kamu masih bisa hidup berdasarkan daging? Karena Allah telah menyalibkan manusia lamamu bersama Kristus, kamu juga harus menyalibkan daging bersandarkan Roh Kudus. Karena itu, kamu tidak boleh hidup berdasarkan daging lagi dan mengumbar hawa nafsu dagingmu." Inilah makna perkataan rasul dalam Galatia 5:24.

Ada orang mengira bahwa "disalibkan ... dengan" dalam ayat ini berarti "disalibkan dengan Kristus". Namun kalau kita membaca kata-kata rasul dengan teliti, kita akan nampak bahwa ini berarti "menyalibkan daging dengan segala keinginan dan hawa nafsunya". Jadi, ini bukan menyinggung tentang fakta obyektif telah disalibkan dengan Kristus, melainkan menyinggung tentang pengalaman subyektif penyaliban daging bersandarkan Roh Kudus.

Tujuan utama dari membahas arti sebenarnya dari ayat ini adalah agar kita bisa nampak bahwa dalam, hal menanggulangi daging, kita juga memiliki tanggung jawab yang harus kita tunaikan. Tidak cukup hanya mempercayai fakta manusia lama kita telah disalibkan dengan Kristus, kita sendiri masih harus mengambil inisiatif untuk menyalibkan daging bersandarkan Roh Kudus. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita harus menyalibkan manusia lama kita, karena hal ini adalah fakta yang telah dirampungkan oleh Kristus. Alkitab juga tidak pernah mengatakan bahwa Kristus telah menyalibkan daging kita, karena hal ini adalah tanggung jawab kita bersandarkan Roh Kudus.

Pengalaman memberi tahu kita hal ini. Mungkin setengah tahun yang lalu kita dengan sangat jelas nampak fakta manusia lama kita telah disalibkan dalam Kristus. Namun jika kita tidak mematikan daging kita bersandarkan Roh Kudus, maka hingga saat ini, kita masih hidup berdasarkan daging. Karena itu, setelah kita nampak fakta manusia lama telah disalibkan di atas salib, kita masih perlu bersandarkan Roh Kudus, menggunakan salib sebagai pisau untuk membunuh daging kita. Kita perlu mematikan daging kita setiap hari bersandarkan Roh Kudus. Demiklan, baru kita bisa memiliki pengalaman yang riil atas menyalibkan daging.

Memang, kita harus menyalibkan daging, namun salib ini bukan milik kita. Dalam alam semesta ini hanya ada satu salib yang terhitung di mata Allah, yang berkhasiat, yaitu salib Kristus. Karena itu, penanggulangan yang subyektif adalah didasarkan pada penyaliban yang obyektif. Ketika kita nampak bahwa diri kita, ciptaan lama, manusia lama, telah dibereskan oleh Allah pada salib Kristus, dan bahwa diri kita, ciptaan lama, manusia lama ini masih hidup lagi di dalam daging kita, saat ini kita baru bisa selangkah demi selangkah membiarkan Roh Kudus melaksanakan salib Kristus ke atas diri kita dalam realitas kehidupan sehari-hari, selangkah demi selangkah mematikan daging kita bersandarkan Roh Kudus. Inilah dengan riil mengalami pekerjaan penyaliban Roh Kudus di dalam kita. Sekali kita nampak bahwa Kristus telah membereskan semua masalah kita di atas salib, kita harus segera membiarkan Roh Kudus membuat fakta ini berkhasiat atas diri kita. Berkhasiatnya fakta ini adalah pengalaman subyektif kita.

Ketika Allah memerintahkan Saul untuk menumpas orang-orang Amalek, Allah tidak mau melakukannya sendiri; Saul sendirilah yang harus menumpas orang-orang Amalek itu. Namun kuasa yang olehnya Saul menumpas orang-orang Amalek bukan dari dirinya sendiri, melainkan dari Allah. Ketika Roh Allah turun ke atas Saul, Dia memberinya kekuatan untuk membinasakan seluruh orang Amalek. Hari ini, dalam menanggulangi daging, prinsipnya juga sama. Di satu pihak, Allah tidak menanggulangi daging kita; kita sendirilah yang harus menanggulangi daging kita dan mematikannya. Di lain pihak, kita mutlak bersandarkan kekuatan Allah menanggulangi daging, bukan seperti yang dilakukan para agamawan kafir yang dengan kekuatan tenaga manusia berusaha menundukkan daging. Dengan kata lain, tanggung jawab menanggulangi daging ada pada kita, namun kekuatannya adalah pemberian Allah. Demikianlah kita mematikan daging bersandarkan kekuatan Roh Kudus.

Pendek kata, penyaliban "aku", "diri" kita dirampungkan di dalam. Kristus. Namun penyaliban daging kita dirampungkan di dalam Roh Kudus. Penyaliban "aku:', "manusia lama" adalah fakta obyektif yang dirampungkan Tuhan di Golgota; dan ketika Roh Kudus menerapkan salib ini pada daging kita, itu menjadi pengalaman subyektif kita. Pengalaman subyektif inilah yang dikatakan Galatia 5:24,"telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya," Roma 8:13, "Oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu," dan Kolose 3:5, "matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi."

VII. PENERAPAN PENANGGULANGAN DAGING

Setelah kita melewati proses yang di atas, kita mulai mengalami penanggulangan daging. Namun pengalaman penanggulangan seperti ini bukan terjadi satu kali untuk selamanya. Kita perlu menerapkan pengalaman dan penanggulangan ini dalam kehidupan riil kita, terus- menerus membiarkan Roh Kudus melaksanakan pembunuhan di dalam, kita, sehingga dalam segala aspek kita bisa mengalami penanggulangan daging. Pengalaman yang terus-menerus inilah yang dimaksud dengan penerapan penanggulangan daging. Kita boleh membagi hal ini ke dalam tiga butir :

1. Dalam Persekutuan Roh Kudus

Penerapan penanggulangan daging adalah perkara yang mutlak di dalam Roh Kudus. Tidak ada yang dapat mengalami penanggulangan salib di luar persekutuan Roh Kudus. Karena itu, untuk mengalami dan menerapkan penanggulangan daging secara terus-menerus, permintaan yang paling mendasar ialah hidup di dalam persekutuan atau hidup di dalam Roh Kudus. Begitu kita tidak berada di dalam persekutuan Roh Kudus, kita segera kehilangan realitas penanggulangan daging.

Kita telah mengatakan bahwa Roma 6 menyinggung tentang fakta manusia lama telah disalibkan di dalam Kristus, sedanglian Roma 8 menyinggung tentang pengalaman penanggulangan daging di dalam Roh Kudus. Roma 6 menyinggung tentang kematian Kristus telah membereskan dosa dan kebangkitan Kristus membereskan kematian; namun semua ini adalah fakta obyektif yang hanya akan menjadi pengalaman kita di dalam hukum Roh hayat dalam Roma 8. Karena itu, dengan berat kami katakan : Fakta dalam Roma 6 tidak akan pernah dialami kecuali ditempatkan bersama dengan Roh Kudus dalam pasal 8. Sangat mungkin seseorang nampak dengan jelas fakta yang disebutkan dalam pasal 6 dan juga menerimanya dengan iman, tetapi jika ia tidak hidup dalam persekutuan Roh Kudus dalam pasal 8, fakta ini tidak bisa menjadi pengalamannya. Di lain pihak, banyak orang sakh selama berabad-abad tidak mengetahui kebenaran dalam pasal 6 secara jelas, namun mereka tinggal di dalam persekutuan dalam pasal 8; hasilnya, mereka secara spontan mengalami dibebaskan dari daging. Karena itu, persekutuan dalam Roma 8 mutlak perlu dalam penerapan penanggulangan daging.

Ketika kita memiliki persekutuan dengan Roh Kudus yang berhuni dan membiarkan Dia bergerak bebas dalam, persekutuan kita, kita akan menjamah hayat Tuhan di dalam Roh Kudus. Salah satu unsur dari hayat ini, yakni kematian salib atau unsur kematian, akan diterapkan ke dalam kita secara riil. Semakin Roh Kudus bergerak di dalam kita, unsur kematian Kristus akan semakin merampungkan pekerjaan pembunuhan di dalam kita. Pembunuhan ini adalah penerapan salib atau penerapan penanggulangan daging. Karena itu, jika kita ingin menerapkan penanggulangan daging, kita perlu terus-menerus hidup di dalam persekutuan Roh Kudus.

2. Membiarkan Roh Kudus Melaksanakan

Kematian Kristus atas Seluruh Tindakan Kita

Kita berada dalam persekutuan Roh Kudus, membiarkan Dia menerapkan kematian Kristus di dalam kita, pada awalnya hanya terbatas pada beberapa tindakan kita saja, dan hanya terjadi pada saat tertentu saja. Ketika pengalaman kita berangsur-angsur makin dalam, kematian ini akan secara umum diterapkan ke atas setiap tindakan kita. Dulu, saat menemukan daging, baru ada tindakan penanggulangan; kini, terlebih dulu membiarkan Roh Kudus dengan kematian salib menyaring seluruh tindakan kita, yang baik atau buruk. Hasilnya, setiap hal yang berasal dari alamiah, ciptaan lama, diri sendiri, dibereskan oleh salib. Yang tertinggal hanyalah yang berasal dari Allah dan unsur hayatNya.

Misalnya, kita ingin mengunjungi kaum saleh, atau mempersembahkan harta. Meskipun hal-hal ini dalam pandangan kita adalah hal yang baik dan rohani, namun kita juga harus terlebih dulu membiarkan Roh Kudus menerapkan kematian Kristus atasnya. Demikian kita baru bisa jelas apakah kita harus pergi mengunjungi atau memberikan persembahan. Daging kita paling takut akan salib, karena begitu bertemu salib, tamatlah ia. Namun Allah dan hayatNya justru akan semakin hidup begitu bertemu dengan salib. Salib Kristus adalah garis pembatas antara ciptaan lama dan ciptaan baru. Kalau kita tidak pernah melewati salib Kristus, kita tidak bisa membedakan ciptaan baru dengan ciptaan lama, Roh Kudus dengan daging, atau hayat kebangkitan dengan hayat alamiah. Khususnya atas hal-hal yang dipandang baik, atau hal-hal yang rohani; keduanya bercampur baur dan sulit dibedakan. Namun begitu melewati kematian salib, yang baru dan lama segera terpisah. Semua yang jatuh dan habis itulah ciptaan lama, milik daging, alamiah. Semua yang bertahan dan tetap tinggal itulah ciptaan baru, milik Roh Kudus, milik kebangkitan. Karena itu, salib adalah saringan yang terbaik, agar daging dan segala milik daging tertahan di sini, sedangkan Allah dan segala milik Allah terbebaskan.

Kalau kita bisa terus-menerus meneraplian pengalaman salib dan membiarkan Roh Kudus meneraplian kematian salib ke atas setiap tindakan kita, daging akan semakin tertanggulangi, semakin layu kering. Jilia kita senantiasa hidup di bawah bayang-bayang salib, daging selamanya tidak akan ada jalan untuk muncul. Hanya dengan jalan ini kita di dalam gereja tidak akan menimbulkan masalah dan terjalin dengan saudara saudari sebagai satu Tubuh bagi pelayanan terbaik terhadap Tuhan.

Puji Tuhan, dalam tahun-tahun belakangan ini, di antara kita terdapat banyak sekerja yang bersama-sama melayani Tuhan, namun di antara kita tidak ada perselisihan, tidak ada perpecahan. Secara lahiriah ini tentu dikarenakan kita semua sehati menuntut Tuhan, mengasihi Tuhan, dan bagi Tuhan; tetapi secara batiniah, yang terpendam, dikarenakan sedikit banyak kita semua telah belajar pelajaran salib menanggulangi daging. Salib di dalam kita telah membunuh semua perontaan, nafsu, iri, benci dari daging, sehingga kita tidak bisa bertengkar, tidak bisa berpecah belah.

3. Hidup Menurut Hukum Roh Hayat

Jika kita menerapkan penanggulangan daging atas semua tindakan kita, akhirnya kita akan hidup menurut hukum Roh hayat. Roma 8 menunjukkan pada kita bahwa menang atas daging adalah hasil dari menaati Roh Kudus. Pergerakan Roh Kudus di dalam kita adalah sebuah hukum, yakni hukum Roh hayat. Dengan kata lain, ketika kita berada dalam persekutuan, bersandarkan kekuatan Roh Kudus menerapkan kematian salib ke atas setiap, bagian kehidupan kita, penerapan ini adalah menaati hukum Roh Kudus di dalam kita, yang juga adalah membiarkan Roh Kudus memiliki pergerakan yang spontan. Karena itu, penanggulangan kita atas daging dan mematikannya bersandarkan Roh Kudus memiliki hubungan yang mutlak dengan bekerjanya hukum Roh hayat secara spontan di dalam kita. Orang yang benar-benar mengalami penanggulangan daging adalah orang yang membiarkan Roh Kudus bergerak di dalam dirinya, yakni membiarkan hukum Roh hayat bergerak di dalam dirinya.

Ketika kita demikian mutlak menaati hukum Roh hayat, kita tidak meletakkan pikiran di atas daging, tetapi di atas Roh, setiap saat mematikan perbuatan tubuh, tidak memberikan tempat bergerak bagi daging, tidak hanya tidak berbuat dosa menurut daging, tidak berbuat salah berdasarkan daging, juga tidak menjamah perkara-perkara rohani, atau melayani Allah di dalam daging. Hanya dengan demikian kita akan memiliki penanggulangan yang tuntas atas daging kita dalam cara yang riil, sepenuhnya terbebaskan dari daging dan hidup di dalam Roh Kudus.

VIII. RINGKASAN

Sekarang marilah kita membuat sebuah kesimpulan atau ringkasan atas butir-butir pembahasan kita di atas.

Butir pertama dalam menanggulangi daging ialah harus mengenal apakah daging itu dan merasakan bagian mana pada diri kita adalah daging. Dalam pengalaman rohani, semua penanggulangan didasarkan pada pengenalan dan perasaan kita terhadap hal-hal itu. Sejauh mana kita mengenal, sejauh itu kita menanggulanginya. Ketuntasan dan kedalaman penanggulangan kita sesuai dengan pengenalan dan perasaan kita atas hal tersebut. Karena itu, kalau kita ingin memiliki pengalaman yang tegas dan riil dalam menanggulangi daging, kita perlu terlebih dulu memiliki pengenalan dan perasaan yang jelas terhadap daging.

Makna daging ada tiga aspek, yaitu : daging yang telah rusak, seluruh manusia yang jatuh, dan aspek yang baik dari manusia. Mengenai daging adalah tubuh yang telah rusak, yaitu di aspek rusaknya daging, ini lebih mudah kita kenal; karena itu tahap pertama dalam penanggulangan kita terhadap daging lebih banyak di aspek ini. Namun semakin kita maju di dalam Tuhan, kita perlu memiliki pengenalan dan penanggulangan yang lebih dalam terhadap dua aspek lain dari daging. Kita tidak hanya perlu mengenal bahwa berbuat dosa, marah-marah, melakukan hal-hal jahat adalah daging, tetapi juga harus mengenal bahwa bahkan dalam hal menyembah Allah, melayani Allah, dan hal-hal ibadah, juga bisa penuh dengan unsur daging. Singkatnya, apa pun yang kita lakukan, kalau tidak di dalam persekutuan menjamah Tuhan, menjamah Roh, dan bersandar kepada Allah, tidak peduli betapa baiknya itu, kita harus menghakiminya sebagai yang berasal dari daging.

Butir kedua dalam menanggulangi daging ialah harus mengenal kedudukan daging di hadapan Allah. Kita harusmenerima terang dari Alkitab, nampak betapa daging menentang Allah, menjadi musuh Allah, betapa sifat daging tidak cocok dengan Allah, dan betapa Allah menolak daging, membenci daging, dan memutuskan untuk menyingkirkandaging, tidak bisa saling eksis dengan daging. Wahyu ini bisa membuat kita memiliki pandangan Allah, bisa menghakimi apa yang Allah hakimi, dan menyingkirkan apa yang Allah singkirkan. Demikian baru kita bisa memiliki tuntutan untuk terlepas dari daging, bekerja sama dengan Allah, dan membiarkan Roh Kudus mematikan daging kita. yang kita inginkan, sering tidak dapat kita lakukan; apa

Butir ketiga dalam menanggulangi daging ialah harus mengenal hubungan dan perbedaan antara daging dan manusia lama. Kita harus nampak bahwa manusia lama, atau "aku" yang lama, diri daging secara fakta, sedangkan daging adalah ekspresi dari manusia lama atau aku yang lama. Ketika manusia lama atau aku yang lama diperhidupkan dalam pengalaman kita, itulah daging. Karena itu, menanggulangi daging mutlak adalah masalah pengalaman – perkara secara riil mengalami manusia lama ditanggulangi. menghalangi kita dari perbauran yang lebih dalam dengan

Butir keempat dalam menanggulangi daging ialah harus mengenal penanggulangan daging itu sendiri. Penanggulangan ini memiliki dua aspek: fakta yang obyektif dan pengalaman yang subyektif. Kedua aspek ini sama-sama diperlukan, tidak boleh kekurangan salah satu. Di aspek fakta yang obyektif, telah Allah rampungkan bagi kita dalam Kristus; sedangkan di aspek pengalaman yang subyektif, memerlukan tanggung jawab kita untuk bekerja sama dengan Allah dalam Roh Kudus.

Setelah kita memiliki empat butir pengenalan dasar dalam menanggulangi daging, kita akan memiliki pengalaman dalam menanggulangi daging. Proses pengalaman kita dalam menanggulangi daging selalu dimulai dengan kedambaan dan penuntutan yang lebih dalam akan hal-hal rohani. Begitu kita mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan, dengan sendirinya kita berharap bisa lebih dalam hidup di dalam Tuhan, juga berharap Tuhan akan lebih dalam tinggal di dalam kita. Tetapi dalam kenyataannya, kedambaan kita ini sering menemui kegagalan dan kita kalah. Apa yang kita inginkan, sering tidak dapat kita lakukan; apa yang tidak kita inginkan, malah sering kita lakukan. Akibat dari kegagalan demi kegagalan yang kita alami ini menempatkan kita ke dalam suasana penderitaan dan keputusasaan. Walaupun kita sering mencari pertolongan Tuhan, namun tidak menemukan jalan untuk mendapatkan pertolongan itu. Pada saat ini, Roh Kudus akan berangsur-angsur memperlihatkan kepada kita bahwa penyebab kegagalan kita adalah karena kita hidup di dalam daging. Yang paling menghalangi kita dari perbauran yang lebih dalam dengan Tuhan dan menghalangi Tuhan untuk lebih dalam tinggaldi dalam kita adalah daging kita. Pada waktu yang sama, Roh Kudus juga memperlihatkan kepada kita betapa kotor, bobrok, jahat, dan liciknya daging kita; jangan katakan daging di aspek yang jahat, bahkan apa yang sehari-hari kita anggap baik, bajik, juga penuh dengan unsur manusia dan diri sendiri. Ini mutlak dihakimi oleh Allah dan tidak dapat diterima oleh Allah. Ketika kita nampak hal ini, dengan sendirinya kita akan di dalam terang Roh Kudus membenci daging kita. Pada saat ini Roh Kudus akan dengan spontan "mencetak" fakta mati bersama di atas salib, bagaikan lembaran foto, ke dalam diri kita, agar kita nampak bahwa daging kita, yakni "aku" lama kita, manusia lama kita, telah mati tersalib di atas salib Tuhan Yesus, telah dibereskan. Begitu terang ini masuk, segera menghasilkan khasiat pembunuhan yang membuat manusia lama atau aku yang lama kita dengan spontan dilumpuhkan dan dinonaktifkan, sehingga kedudukan dan kuasanya hilang. Demikian, semua unsur yang bersifat daging di dalam kehidupan kita secara otomatis akan disingkirkan. Semakin kita membiarkan terang Roh Kudus menyoroti di dalam, kita, maka aku yang lama atau manusia lama semakin kehilangan kedudukannya, dan semua unsur daging dalam kehidupan kita perlahan-lahan akan berkurang dan tersingkirkan. Pada saat ini, kita akan memiliki sedikit pengalaman yang subyektif dalam hal menanggulangi daging melalui kematian salib.

Akan tetapi penanggulangan kita atas daging tidak boleh berhenti di sini. Kita masih perlu di dalam persekutuan, bersandarkan Roh Kudus yang berhuni di dalam kita yang membuat kita berbagian dalam kematian Tuhan, saat demi saat, selangkah demi selangliah, di dalam kehidupan sehari-hari kita mematikan setiap daging yang terekspresi, mematikan setiap daging yang ternyatakan. Ini adalah penerapan kematian bersama atas salib bersandarkan Roh Kudus. Ini juga apa yang dikatakan Galatia 5:24-25 mengenai pengalaman subyektif dari penyaliban daging dengan segala nafsu dan keinginannya bersandarkan Roh Kudus. Pada saat ini, karena kita memberi Roh Kudus kesempatan dan kedudukan, juga karena kita bekerja sama dengan Roh Kudus yang membawa kita mematikan daging, maka kita dapat menempuh kehidupan yang Allah inginkan untuk kita tempuh, dan melakukan apa yang Allah inginkan untuk kita lakukan. Pada saat ini, kita bukan hanya beroleh hidup bersandarkan Roh Kudus, tetapi juga bertindak bersandarkan Roh; sehingga kita bukan lagi hidup secara karnal (milik daging), tetapi secara rohani.

Kita seharusnya sering menguji diri sendiri dengan proses penanggulangan daging yang harus dialami, apakah kita benar-benar telah nampak fakta yang obyektif? Apakah kita membiarkan Roh Kudus mencetakkan fakta ini ke dalam kita? Berapa banyak pengalaman subyektif yang kita miliki? Berapa banyak kita meneraplian kematian salib dalam, kehidupan sehari-hari kita? Setelah kita menguji diri kita secara serius, kita akan jelas di mana tingliat pengalaman yang telah kita capai dan mengharap Tuhan untuk memimpin lebih lanjut.

Proses penanggulangan daging di atas tidak dapat dialami secara tuntas dalam waktu yang singkat, perlu selangliah demi selangkah makin dalam. Banyak hal dari daging yang tidak kita sadari pada awalnya; karena itu, kita tidak berdaya menanggulanginya. Hanya setelah pengalaman rohani kita bertumbuh semakin dalam, barulah kita berangsur-angsur mengenal dan memiliki penanggulangan selanjutnya. Karena itu, dalam penanggulangan daging, terlebih dulu kita menanggulangi aspek yang rusak dari daging, kemudian baru menanggulangi aspek yang baik dari daging, akhirnya, kita meletakkan seluruh diri kita di bawah kematian salib dan menanggulangi daging secara menyeluruh.

Dipandang dari pengalaman menanggulangi daging dari banyak saudara saudari, ada sejumlah penanggulangan di aspek negatif dari daging, tetapi sangat sedikit penanggulangan di aspek positif dari daging. Kita semua memiliki konsepsi alamiah mengenai daging, yakni hanya mengenal aspek negatif dari daging. Karena itu penanggulangan kita terhadap daging hanya cenderung pada aspek tersebut. Misalnya, seorang saudara dapat bersaksi bahwa adakalanya sewaktu berdiri di mimbar menyampaikan berita bagi Tuhan, jika waktu itu dia berbicara dengan cukup baik dan juga ada penyertaan Tuhan, setelah berbicara, dalam hati muncul perasaan bangga. Dia menghakimi perasaan bangga itu karena ada unsur kesombongan; itu adalah daging. Penghakiman ini tentu benar dan perlu, tetapi penanggulangan semacam ini bukan penanggulangan yang utama. Yang utama ialah sewaktu dia menyampaikan berita, apakah dia sendiri yang berbicara atau Roh Kudus yang berbicara melalui dia? Inilah yang harus kita hakimi. Bukan masalah berbicara dengan baik atau tidak baik, melainkan siapa yang berbicara. Mungkin Anda telah berbicara dengan baik dan karenanya banyak orang terbantu, namun jika Anda sendiri yang berbicara, menurut apa yang Anda tahu dan Anda ingat, itu adalah daging dan itu harus dihakimi.

Seorang saudara juga dapat bersaksi bahwa suatu kali dia marah-marah ketika sedang bersama dengan seorang saudara. Kemudian, dia menyesal karena merasa telah mengumbar daging; dia lalu menghakimi dan menanggulanginya. Ini juga adalah penanggulangan yang dangkal. Jika kita telah mempelajari pelajaran yang lebih dalam atas pengalaman penanggulangan daging, kita akan merasa bahwa sekalipun kita tidak marah-marah, sebaliknya ramah terhadap orang lain, menolong dan bahkan berdoa bersama mereka, namun jika hal itu tidak dilakukan di dalam Roh Kudus, itu hanyalah perbuatan baik dari diri kita sendiri. Kemudian, kita masili tetap merasa bahwa kita berada di dalam daging. Jika kita bisa menanggulangi daging sampai sedemikian dalam, barulah terhitung benar-benar menanggulangi daging.

Sesungguhnya, jika penanggulangan kita terhadap daging hanya terbatas pada aspek yang jahat saja, maka itu tidak berbeda jauh dari penanggulangan terhadap dosa, di dalamnya tidak begitu ada unsur penanggulangan daging, jika kita benar-benar ingin menanggulangi daging, kita perlu memperhatikan penanggulangan aspek yang baik dari daging dan balikan seluruh manusia milik daging. Tidak hanya atas hal-hal kecil yang biasa perlu ditanggulangi, tetapi juga atas hal-hal ibadah, rohani, dan penyembahan kepada Tuhan; kita perlu bertanya apakah aku sendiri yang melakukan hal ini, atau aku melakukannya dengan tinggal di dalam Tuhan? Apakah aku melakukan ini menurut kehendakku sendiri, atau apakah aku dipimpin oleh Roh Kudus? Jika kita tidak tinggal di dalam Tuhan, tidak bersekutu dengan Tuhan, maka semua yang telah kita lakukan, walaupun dilakukan dengan sangat baik, itu masih tetap daging dan harus dihakimi.

Kita tidak hanya perlu menanggulangi yang "dilakukan" oleh daging, tetapi juga yang "tidak dilakukan" oleh daging. Ada saudara saudari yang telah memiliki sejumlah pengenalan terhadap aspek yang baik dari daging, Roh Kudus juga menampakkan kepada mereka bahwa sedikit banyak dari pelayanan mereka, seperti mengunjungi orang, perbincangan, mereka lakukan menurut diri dan alamiah mereka sendiri, tidak di dalam persekutuan bersandarkan Roh Kudus. Karena itu, mereka memutuskan bahwa sejak itu mereka tidak akan melayani lagi, tidak akan mengunjungi orang atau berbincang-bincang lagi. Tetapi jika ketidakaktifan ini bukan berasal dari persekutuan dengan Roh Kudus, melainkan dari keputusan mereka sendiri, itu adalah daging yang lebih buruk. Demikian juga dengan doa-doa dalam sidang pemecahan roti. Ada saudara saudari yang diterangi dan nampak bahwa doa-doa mereka yang lalu itu milik daging, kemudian mereka tidak mau berdoa lagi. Tetapi mereka tidak tahu bahwa tidak berdoanya mereka bahkan lebih mengekspresikan daging. Jadi, "tidak melakukan" bukan merupakan jalan untuk terlepas dari daging! Sebaliknya, banyak orang yang telah terlepas daging adalah orang-orang yang paling mampu "melakukan". Alkitab menyingkapkan bahwa Allah adalah Allah yang bekerja, Allah terus bekerja sampai sekarang. Selama beberapa ribu tahun ini, Dia terus berbicara, terus bekerja, dan tidak pernah menghentikan pekerjaan-Nya di antara manusia. Demikian juga, semua orang yang hidup di dalam Roh Kudus tidak pernah dapat berhenti bekerja, karena Roh Kudus adalah motor mereka, membuat mereka lebih banyak bekerja. Karena itu, kita tidak boleh mengira bahwa tidak melakukan berarti tidak milik daging, tidak melakukan berarti di dalam Roh; tidak melakukan bisa menjadi bukan milik daging, tidak melakukan bisa menjadi rohani. Semua orang yang demikian tidak melakukan, adalah orang-orang yang lebih-lebih milik daging. Daging tidak lain ialah Anda yang membuat keputusan, Anda yang beropini, Anda yang terhitung, Anda yang bekerja. Karena itu, menanggulangi daging berarti bahwa diriku telah disalibkan di atas salib; hari ini bukan aku yang menentukan apakah harus berkhotbah atau berdoa, tetapi Tuhan yang menentukan bagiku. Apa yang Dia kerjakan, aku kerjakan; apa yang tidak Dia kerjakan, juga tidak aku kerjakan. Orang yang benar-benar telah menanggulangi daging, segalanya tidak akan berdasarkan dirinya sendiri, baik melakukan atau tidak melakukan, semua tidak berdasarkan diri sendiri. Orang demikian akan senantiasa hidup dalam persekutuan dan tinggal di dalam Tuhan, selalu memiliki hati yang tidak menaruh percaya kepada diri sendiri melainkan memiliki roh yang senantiasa bersandar kepada Roh Kudus. Roh yang bersandar, sikap yang selalu bersandar adalah tanda-tanda bahwa daging telah ditanggulangi.

Sekali lagi, marilah kita menggunakan ilustrasi dari ministri firman. Sering kali ketika seorang saudara berkhotbah, ia memiliki keyakinan yang mantap, tahu apa yang harus ia katakan, juga tahu harus bagaimana mengatakannya. Dia menyiapkan segala yang harus ia katakan, namun justru mengesampingkan Tuhan; sepertinya kalau tidak ada Tuhan di alam semesta. ini, dia masih tetap dapat menyampaikan berita dengan baik. Situasi ini membuktikan bahwa ia menyampaikan berita di dalam daging. Tidak demikian halnya dengan orang yang dagingnya telah ditanggulangi. Walaupun dia juga mempersiapkan dirinya untuk menyampaikan berita, namun dia telah belajar pelajaran menolak daging untuk bersandar kepada Roh. Mungkin saja pada mulanya dia menyiapkan diri untuk berbicara tentang pembenaran, tetapi ketika dia berdiri untuk berbicara, Roh Kudus dengan tiba-tiba menggerakkan dia untuk berbicara mengenai pengudusan, dia akan mengubah topik pembicaraannya dengan tanpa ragu. Atau sebelum dia berbicara, Tuhan tidak menunjukkan kepadanya topik yang harus dia layankan. Pada hari Tuhan, sidang mulai pukul 10.00. Pada pukul 09.50 dia masih tidak tahu apa yang harus dia bicarakan. Mungkin setelah menyanyikan kidung dan berdoa, dia tetap tidak tahu apa yang harus dia katakan; tetapi saat itu dia tetap tidak mengambil keputusan berdasarkan diri sendiri. Dia tetap menengadah kepada pimpinan Allah di dalam batinnya. Mungkin sampai dia berdiri, membuka Alkitab dan berkata, "Mari kita membaca . . . " baru dia tahu kitab apa yang harus dibaca dan topik apa yang harus dia suplaikan. Juga adakalanya ketika sudah memulai berbicara, dia masih belum menjamah sesuatu, maka sambil berbicara dia tetap berusaha menjamah Tuhan di dalam batin, perlahan-lahan setelah berbicara beberapa saat, dia menjamah sumbernya, ini seperti menggali sumur dan menemukan sumber air, ada ahran air hidup yang telah dia jamah, demikianlah selanjutnya ia berbicara bagaikan aliran yang mengalir lancar. Inilah keadaan dari orang yang telah ditanggulangi dagingnya.

Kehidupan Tuhan di bumi menampakkan kepada kita bahwa Dia adalah seorang yang mutlak bersandar kepada Allah. Tuhan kita sedikit pun tidak pernah berbuat dosa, Dia tanpa kesalahan, tetapi Dia berkata, "Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri" (Yoh. 5:30). Ketika Dia berada di bumi, Dia tidak pernah bertindak atau berkata-kata dari diri-Nya sendiri. Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia. Dia mengerjakan segala sesuatu dan mengatakan segala sesuatu melalui persekutuan dengan Bapa. Ini adalah teladan penanggulangan daging bagi kita. Kita harus tinggal di dalam Tuhan, membiarkan Tuhan bekerja di dalam kita, baru kemudian kita bekerja di luar; membiarkan Tuhan berbicara di dalam kita, baru kemudian kita berbicara di luar. Demikian baru bukan daging.

Roma 8 membicarakan tentang menanggulangi daging, juga berbicara tentang berjalan menurut Roh Kudus atau bersimpati kepada Roh Kudus. Keduanya selalu berjalan seiring. Kapan kala kita tidak berjalan menurut Roh Kudus, tidak bersimpati kepada Roh Kudus, tidak hidup di dalam Roh Kudus, kita berada di dalam daging. Ketika kita menanggulangi daging, penekanan kita bukan pada penanggulangan kecemburuan, egoistis, atau kesombongan, tetapi pada pekerjaan dan kegiatan kita, tingkah laku dan cara hidup yang di luar Roh Kudus. Asalkan itu ada di luar Roh Kudus, asalkan itu tidak di dalam Roh Kudus, dilakukan adalah daging, tidak dilakukan juga adalah daging; bergerak adalah daging, tidak bergerak juga adalah daging. Karena itu, tidak peduli cara apa, tidak peduli bagaimana melakukan, semua tidak bisa melepaskan kita dari daging, hanya Roh Kudus yang bisa menyelamatkan kita terlepas dari daging. Hanya dengan berjalan menurut Roh Kudus, bersimpati kepada Roh Kudus, dan hidup di dalam Roh Kudus, baru kita bisa terlepas dari daging. Jadi, hasil akhir dari menanggulangi daging ialah kita hidup dalam hukum Roh hayat, berdasarkan Roh Kudus dalam segala perkara, dan mutlak tidak berdasarkan diri sendiri. Ketika kita mencapai tahap ini barulah terhitung dengan sepenuhnya mengalami penangguiangan daging. Kiranya Tuhan merahmati kita.