← Daftar isi Kelahiran Kembali · bab 10/19

MENANGGULANGI DIRI

Sekarang kita akan melihat masalah menanggulangi diri. Pengalaman ini sangat erat berkaitan dengan menanggulangi daging. Ini adalah pengalaman yang penting dalam tahap salib.

I. DEFINISI DIRI

Jika kita ingin menanggulangi diri, terlebih dulu kita perlu mendefinisikan apakah diri itu. Banyak istilah rohani yang sering kita pakai, tetapi kalau kita menanyakan arti yang sesungguhnya, sukar untuk menjelaskannya. Demikian juga dengan "diri" ini. Kita sering mendengar orang berbicara mengenai "diri", tetapi jarang yang dapat mendefinisikannya. Sebenarnya, apakah "diri" itu? Secara sederhana diri adalah "hayat jiwa" dengan penekanan pada pikiran manusia, opini manusia. Kita dapat menemukan ini dari Alkitab, di mana diri dengan jelas disebutkan.

Terlebih dulu marilah kita membaca Matius 16:21-25, "Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, Ialu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! (atau, kasihanilah diri-Mu sendiri!). Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau. Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, 'Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.' Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ‘Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus mentyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.’"

Dalam bagian ini, Tuhan terlebih dulu dalam ayat 21 menunjukkan kepada murid-murid-Nya bagaimana Ia harus menderita, dibunuh, dan dibangkitkan. Semua yang Tuhan katakan di sini adalah kehendak Allah, karena salib Tuhan adalah kehendak yang telah Allah tetepkan dalam kekekalan. Tetapi dalam ayat 22 Petrus memiliki opini, ia mencegah Tuhan dan berkata, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!" Karena itu, Tuhan di ayat 23 menegurnya bahwa ia tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah, tetapi memikirkan apa yang dipikirkan manusia. Yang dipikirkan Allah adalah kehendak Allah, dan ini adalah salib. Yang dipikirkan manusia adalah mengasihani diri sendiri dan tidak mau menerima salib. Yang Tuhan inginkan adalah kehendak Allah, tetapi yang Petrus perhatikan adalah pikiran manusia. Karena itu, dalam ayat 24 Tuhan menyuruh murid-murid untuk menyangkal diri sendiri, memikul salib, dan mengikuti-Nya. Jika kita membandingkan perkataan ini dengan ayat yang sebelumnya, kita akan paham bahwa diri yang perlu disangkal ini adalah apa yang dipikirkan manusia, maksud manusia. Tuhan menyuruh murid-murid menyangkal diri, berarti menyuruh mereka mengesampingkan maksud diri mereka sendiri. Ketika Tuhan menyuruh murid-murid menerima salib, itu berarti mereka harus menerima pikiran Allah atau kehendak Allah. Jadi, di sini Tuhan menyuruh murid-murid untuk mengesampingkan maksud mereka sendiri dan menerima salib, yang juga berarti menerima kehendak Allah.

Di sini kita nampak bahwa "diri" dititikberatkan pada maksud manusia. Tetapi tidak dapat dikatakan bahwa diri adalah maksud manusia; dan maksud manusia bukanlah diri itu. Maka dalam ayat 25 Tuhan melanjutkan berkata bahwa siapa yang mau menyelamatkan nyawanya (jiwanya) akan kehilangan nyawanya, dan siapa yang kehilangan nyawanya karena Tuhan, ia akan memperolehnya. Kata "nyawa" atau "jiwa" di sini dalam bahasa aslinya mengaeu kepada hayat jiwa. Di depan dikatakan harus menyangkal diri, selanjutnya dikatakan harus kehilangan hayat jiwa. Ini memberi tahu kita bahwa diri yang di depan adalah hayat jiwa yang di belakang. Hayat jiwa adalah hakiki diri itu.

Dalam bagian ini, perkataan Tuhan maju selangkah demi selangkah. Dalam ayat 22 Petrus menasihati Tuhan untuk mengasihani diri-Nya sendiri; dalam ayat 23 Tuhan menunjukkan bahwa itu adalah pemikiran manusia atau opini manusia. Dalam ayat 24 Tuhan menelusuri hal ini dengan mengatakan bahwa pemikiran ini adalah diri, karena itu kita perlu mengesampingkannya, menyangkalnya. Sampai ayat 25 Tuhan lebih menelusuri lagi sampai ke akarnya dengan menunjukkan kepada kita bahwa diri itu adalah hayat jiwa. Jika telah mematikan hayat jiwa, berarti telah menyangkal diri; telah menyangkal diri, berarti tidak ada lagi opini manusia. Maka dalam bagian ini, ayat 23 membicarakan opini, ayat 24 membicarakan diri, dan ayat 25 membicarakan hayat jiwa. Setiap ayat menyebutkan satu masalah, selangkah demi selangkah maju, sangat jelas.

Jadi, kita dapat menemukan satu definisi dari diri bahwa hakiki diri adalah hayat jiwa, dan terekspresinya diri adalah opini. Diri, hayat jiwa, dan opini adalah tiga aspek dari satu hal. Ini seperti hakiki Kristus adalah Allah, dan pernyataan Kristus adalah Roh Kudus. Ketiganya adalah tritunggal. Allah berinkarnasi dan terekspresi sebagai Kristus. Sedangkan hayat jiwa yang terekspresi adalah diri. Ketika Kristus terekspresi di hadapan manusia dan dijamah oleh manusia, Ia adalah Roh Kudus. Demikian juga, diri yang terekspresi di hadapan manusia dan dijamah oleh manusia, adalah opini manusia, pendapat manusia. Ketika kita menjamah Roh Kudus, kita menjamah Kristus, menjamah Allah; demikian juga, ketika kita menjamah opini, pendapat manusia, kita menjamah diri, menjamah hayat jiwa.

Mari kita membaca Yohanes 5:30, "Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. "

Perkataan Tuhan ini menampakkan kepada kita bahwa tidak hanya atas diri kita masalah "diri" ini dititikberatkan pada opini, di atas diri Tuhan Yesus juga demikian. Di sini terlebih dulu Tuhan berkata bahwa dari diri-Nya sendiri Ia tidak dapat melakukan apa-apa. kemudian Ia berkata bahwa Ia tidak menuruti kehendak-Nya sendiri. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa "diri-Ku sendiri" dan "kehendak-Ku sendiri" itu sama. Ia tidak melakukan apa-apa berdasarkan diri-Nya sendiri berarti Ia tidak menuruti kehendak-Nya sendiri. Karena itu, jelas bahwa diri dititikberatkan pada pemikiran (maksud), opini. Diri dinyatakan dalam opini, dan opini adalah ekspresi dari diri. Misalnya, jika dalam suatu sidang persekutuan pelayanan ada seorang saudara terus-menerus menyatakan opininya, terus-menerus mengajukan pendapatnya, kita tidak dapat mengatakan itu adalah dosa, dunia, atau daging. Tetapi kita dapat dengan spontan mengatakan bahwa itu adalah diri, karena diri ternyatakan dalam opini-opini. Orang yang penuh dengan opini, penuh dengan pendapat, ia pasti penuh dengan diri, penuh dengan ekspresi diri.

Mari kita membaca Ayub 38:1-2, "Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub : Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan?"

Ayub 3-37 adalah catatan perkataan-perkataan dan opini-opini manusia. Dalam 35 pasal yang panjang ini, Ayub dan ketiga temannya, dan kemudian ditambah Elihu, terus-menerus berbicara, berdebat, dan menyatakan opiniopini mereka. Karena itu, setelah mereka selesai mengutarakan perkataan mereka, Allah datang dan menegur mereka, berkata, "Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan?" Setelah Ayub diterangi oleh Allah, ia berkata dalam pasal 42:3-6, "Firman-Mu : Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu : Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberi tahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Eitgkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu." Tadinya Ayub telah berkata- kata tanpa pengetahuan dan menyatakan opininya sendiri, tetapi akhirnya ia merasa benci kepada dirinya sendiri dan bertobat dalam debu dan abu. Dari sini kita nampak bahwa opini Ayub adalah dirinya yang dia benci. Opininya adalah ekspresi dirinya.

Dalam seluruh Alkitab, orang yang paling banyak berbicara adalah Ayub. Allah telah "memukul" dia melalui situasi sekeliling dan mengatur agar ia dikelilingi oleh empat orang temannya. Dengan demikian semua perkataan yang ada di dalam dirinya dikeluarkan. Ia memiliki pendapatnya sendiri, memiliki opininya sendiri, dan tidak mau tunduk kepada perkataan orang lain. Ia merasa bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan dan karenanya ia tidak perlu menanggulangi dosa, dunia, atau hati nurani. Karena itu, ia menepuk dada, ingin berdebat dengan Sang benar. Kesulitan Ayub bukanlah dosa, dunia, atau hati nurani; kesulitannya ialah dirinya. Dirinya yang belum remuk adalah kesulitan yang menghalanginya untuk mengenal Allah.

Di dalam gereja, tidak sedikit orang yang seperti Ayub; mereka mempunyai banyak perkataan. Sebenarnya, orang yang berdosa, atau orang yang mengasihi dunia, tidak banyak bicara, karena ia sadar akan kesalahan dan kekurangannya. Hati nurani orang yang bersalah itu bercela, karena itu ia tidak mampu mengangkat kepalanya. Maka, mereka tidak banyak bicara dan lebih mudah untuk ditolong dan dipimpin. Hanya mereka yang seperti Ayub, sepertinya tidak tertular dosa, juga sepertinya tidak mengasihi dunia; tetapi mereka sangat membenarkan diri sendiri, selalu merasa benar diri; terhadap, hal-hal mengenai gereja dan hal-hal Allah, mereka memiliki banyak ide dan opini. Sepanjang hari mereka berbicara mengenai ini dan itu, berbicara mengenai hal-hal yang tidak mereka ketahui. Orang-orang semacam ini paling sukar untuk ditolong dan dipimpin; mereka membuat orang lain tak berdaya.

Orang yang penuh dengan "diri" selalu mendatangkan banyak kesulitan bagi gereja. Hari ini begitu banyak perpecahan dalam kekristenan, sesungguhnya, penyebabnya bukan hanya karena kedosaan dan keduniawian manusia, lebih-lebih karena diri manusia. Banyak orang melayani Tuhan, memimpin saudara saudari, namun sebenarnya mereka ingin orang lain mengikuti opini dan ide mereka, ingin orang lain mengikuti pandangan dan cara mereka; akibatnya, timbul banyak perpecahan dalam gereja. Martin Luther pernah berkata, "Di dalam diriku ada paus yang lebih besar daripada yang ada di Roma, yakni 'diri'-ku." Dalam gereja, jika diri seseorang tidak diremukkan, setiap orang adalah paus, dan setiap orang akan menjadi satu denominasi.

Dalam Alkitab, selain Ayub, Petrus juga merupakan contoh dari orang yang penuh dengan diri. Diri Petrus sangat nampak karena ia adalah yang paling banyak berbicara dan banyak opini. Dalam banyak kesempatan di dalam kitab Injil, Petrus berbicara dan menyatakan opininya. Tidak ada satu perkara yang tanpa opininya. Karena itu, setiap kali Tuhan menanggulangi dirinya, Ia menanggulangi opini dan idenya. Pengajaran penyangkalan diri dalam Matius 16 diutarakan Tuhan karena Petrus. Pada malam Tuhan Yesus dijual, Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Malam ini kamu semua akan terguncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis : Aku akan membuntuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai." Ketika Petrus mendengar hal ini, "diri"-nya segera muncul, dan ia berkata, "Biarpun mereka semua terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak." Kesudahannya, Petrus tiga kali menyangkal Tuhan, ia mengalami kegagalan yang luar biasa (Mat. 26:31-33, 69-75). Itu merupakan suatu peremukan dan penanggulangan yang besar bagi Petrus. Tetapi bahkan setelah penanggulangan yang demikian, ketika para murid berkumpul bersama setelah kebangkitan Tuhan, masih dia juga yang mengajukan usul dan berkata, "Aku mau pergi menangkap ikan" (Yoh. 21:3). Petrus benar-benar seorang yang mengikat pinggangnya sendiri dan berjalan ke mana ia kehendaki (Yoh. 21:18).

Dalam Perjanjian Baru, masih ada seseorang yang boleh dijadikan wakil dari diri, yaitu Marta. Setiap kali ia disebutkan dalam kitab Injil, ia selalu berbicara dan memberikan opininya. Yohanes 11 sangat jelas menggambarkan karakteristiknya - banyak perkataan dan banyak opini. Di sana kita membaca bahwa saudaranya Lazarus meninggal, dan setelah empat hari Tuhan Yesus datang. Begitu melihat Tuhan; ia menyalahkan Tuhan, katanya, "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." Ini adalah opininya. Tuhan berkata, "Saudaramu akan bangkit." Segera Marta berkata kepada-Nya, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Sekali lagi ini adalah penjelasannya menurut opininya sendiri terhadap perkataan Tuhan. Tuhan menjawab, "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Marta menjawab, "Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah." Yang ia jawab bukanlah yang Tuhan tanyakan; pengertiannya akan apa yang Tuhan katakan benar- benar jauh menyimpang. Setelah mengatakannya, Marta tidak peduli apakah Tuhan telah selesai berbicara dengannya; ia segera balik ke rumah, memanggil saudara perempuannya Maria dan berkata, "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." Ini sekali lagi merupakan perkataan rekaan Marta, ia beropini untuk Tuhan. Hingga ketika mereka sampai di kuburan dan Tuhan menyuruh orang mengangkat batu penutup kubur, sekali lagi Marta beropini, "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." Kisah ini mengungkapkan opini dan ide Marta. Ia memiliki banyak opini dan banyak ide, yang menandakan dirinya sangat kuat.

Dari kisah orang-orang yang disebutkan dalam Alkitab ini, kita dapat nampak dengan jelas bahwa ekspresi diri adalah opini dan ide manusia. Karena itu, orang yang penuh dengan opini, penuh dengan ide, adalah orang yang penuh dengan diri.

II. PERBEDAAN KETUJUH HAL

Setelah kita nampak dengan jelas definisi diri, kita perlu melihat perbedaan antara ketujuh hal : manusia lama, aku, hayat jiwa, daging, temperamen, diri, dan alamiah. Jika kita ingin menuntut pengalaman salib, kita harus tahu definisi dan perbedaan ketujuh hal ini dengan jelas, karena hal-hal ini adalah sasaran dari penanggulangan salib.

Terlebih dulu mari kita memberikan definisi sederhana untuk ketujuh hal ini :

"Manusia lama" adalah manusia kita, yakni manusia kita yang diciptakan dan yang telah jatuh ini.

"Aku" adalah sebutan manusia lama terhadap dirinya sendiri. Manusia lama adalah aku, dan aku adalah manusia lama.

"Hayat jiwa" adalah hayat manusia lama. Hayat yang dimiliki manusia lama adalah hayat jiwa.

Ketiga hal ini - manusia lama, aku, dan hayat jiwa - adalah satu hal. Manusia lama adalah manusia ciptaan lama yang ada di dalam Adam. Hayat jiwa adalah hayat manusia lama ini. Dan aku adalah sebutan yang dipakai manusia lama untuk menyebut dirinya sendiri.

"Daging" adalah diperhidupkannya manusia lama, juga boleh dikatakan sebagai kehidupan dari manusia lama. Sebelum hayat jiwa dihidupkan, itu adalah manusia lama, tetapi begitu diperhidupkan, itulah daging.

"Temperamen" dalam bahasa aslinya tidak disebutkan demikian. Misalnya, Roma 3:20 menyebutkan "seorang", menurut bahasa aslinya seharusnya diterjemahkan "daging". Demikian juga dengan "manusia duniawi" dalam 1 Korintus 2:14, menurut bahasa aslinya seharusnya diterjemahkan "manusia jiwani". Di sini mengacu kepada watak alamiah, khususnya temperamen buruk manusia. Ada orang mudah marah-marah, umumnya disebut sebagai bertemperamen tinggi.

"Diri" adalah seperti yang telah kita bahas, yaitu hayat jiwa, dan dititikberatkan kepada opini dan ide manusia.

"Alamiah" adalah kemampuan, bakat, cara manusia.

Jika kita menggabungkan ketujuh hal ini bersama-sama, kita dapat mengatakan hal berikut : ada seorang manusia ciptaan yang jatuh yang namanya adalah manusia lama. Ia menyebut dirinya sendiri "aku". Hayat di dalam dirinya adalah hayat jiwa, yang ketika diperhidupkan adalah daging. Dalam daging ini ada bagian yang buruk, mudah tersinggung dan marah- marah yang disebut temperamen. Dalam daging juga ada bagian yang baik, opini dan ide yang disebut diri, serta kemampuan dan bakat yang disebut alamiah.

Ketujuh hal ini adalah sasaran penanggulangan salib. Tetapi penanggulangan ini ada seluk-beluknya masing-masing. Dalam seluruh Alkitab kita tidak menemukan bagian yang mengatakan bahwa Tuhan telah menaruh hayat jiwa kita, daging kita, temperamen kita, diri kita, atau alamiah kita di atas salib. Kita hanya dapat menemukan bahwa manusia lama kita telah disalibkan dengan Tuhan di atas salib (Rm. 6:6). Apa yang telah disalibkan Tuhan dan diakhiri di atas salib adalah manusia lama kita. Inilah fakta yang telah digenapkan Tuhan. Ketika kita melihat fakta ini dan mengakui bahwa Tuhan telah membereskan manusia lama di atas salib, kita dapat mengatakan, "Aku telah disalibkan dengan Kristus" (Gal. 2:19b; 6:14). Dua ayat ini mengakui apa yang telah Tuhan lakukan untuk kita. Setelah pengakuan ini, kita harus mengalami salib dalam menanggulangi kelima hal terakhir : hayat jiwa, daging, temperamen, diri, dan alamiah kita.

Karena itu, seluruh pengalaman salib mencakup tiga langkah berikut : pertama, Kristus menyalibkan manusia lama di atas salib; itu adalah satu fakta obyektif yang telah genap. Kedua, ketika kita mengakui dan menerima fakta ini, inilah aku disalibkan bersama dengan Kristus. Ketiga, ketika kita mengalami fakta ini secara subyektif, ada lima butir yang berbeda, yang dikarenakan lima seluk-beluk manusia lama yang berbeda. Pertama, manusia lama memiliki hayat jiwa. Ketika hayat jiwa ini diperhidupkan, muncullah daging, temperamen, diri, dan alamiah. Saat kita menerapkan tersalib bersama dengan Kristus dalam pengalaman kita bersandarkan Roh Kudus pada hayat jiwa kita, inilah menanggulangi hayat jiwa. Kedua, ketika kita menerapkan kematian atas salib pada apa pun yang diperhidupkan dari hayat jiwa kita, tidak peduli itu baik atau buruk, inilah menanggulangi daging. Ketiga, di dalam menanggulangi daging tercakup menanggulangi temperamen. Ketika kita menerapkan kematian atas salib pada opini dan ide kita, inilah menanggulangi diri, atau disebut juga sebagai memikul salib. Kelima, ketika kita menerapkan kematian atas salib pada pergerakan, kemampuan, bakat, metode, kepandaian, dan hikmat kita, inilah menanggulangi alamiah, atau disebut juga sebagai peremukan salib.

III. PENANGGULANGAN DIRI

Bagaimana diri dapat ditanggulangi? Dengan kata lain, bagaimana seharusnya kita menanggulangi diri? Kita telah mengatakan bahwa Alkitab hanya mengatakan bahwa manusia lama kita telah disalibkan dengan Kristus. Alkitab tidak pernah mengatakan secara khusus bahwa diri kita telah disalibkan dengan Tuhan. Meskipun demikian, jalan untuk menanggulangi diri tetaplah salib, sama seperti jalan untuk menanggulangi daging adalah salib. Mengenai hal ini, kita akan membaginya ke dalam fakta obyektif dan pengalaman subyektif.

1. Fakta Obyektif

Fakta obyektif menanggulangi diri sama seperti menanggulangi daging, adalah di dalam Kristus; yaitu manusia lama kita telah disalibkan bersama- Nya. Ini karena diri adalah bagian dari ekspresi manusia lama. Dalam pandangan Allah, manusia lama telah dibereskan, maka diri juga telah dibereskan di dalam manusia lama. Karena itu, di aspek obyektif, hanya ada satu fakta manusia lama telah disalibkan; tetapi di aspek subyektif, ada beberapa seluk-beluk. Itu ibarat masakan daging ayam untuk makan malam. Yang dipotong adalah seekor ayam, tetapi ketika dihidangkan di atas meja, ada banyak bagian yang berbeda - dada, paha, sayap, dan lain-lain. Demikian juga, ketika Tuhan disalibkan, Ia membereskan masalah manusia lama kita, namun ketika kita mengalaminya, karena manusia lama memiliki berbagai seluk-beluk, maka pengalaman penanggulangan juga memiliki berbagai aspek. Ada yang mematikan hayat jiwa, ada yang menanggulangi daging, ada yang menanggulangi temperamen, ada yang menanggulangi diri, dan ada yang meremukkan alamiah. Semua ini adalah pengalaman kita atas salib.

2. Pengalaman Subyektif

Pengalaman subyektif menanggulangi diri juga seperti menanggulangi daging, adalah di dalam Roh Kudus. Setelah kita nampak fakta manusia lama telah disalibkan, jika dalam kehidupan sehari-hari juga menemukan munculnya opini dan ide, kita harus membiarkan Roh Kudus beroperasi menerapkan kematian salib atas opini dan ide itu untuk mematikan mereka. Inilah pengalaman subyektif kita dalam menanggulangi diri.

IV. PROSES MENGALAMI MENANGGULANGI DIRI

1. Nampak Manusia Lama Telah Disalibkan

Proses menanggulangi diri agak sama dengan menanggulangi daging. Pertama, nampak fakta manusia lama kita telah disalibkan. Ini berarti mendapatkan wahyu di hadapan Allah, nampak bahwa manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus.

2. Nampak Opini Adalah Satu Aspek

dari Ekspresi Manusia Lama

Kedua, nampak bahwa satu aspek dari ekspresi manusia lama adalah opini kita. Manusia lama mengekspresikan dirinya tidak hanya di dalam daging, tetapi juga di dalam opini, yang adalah diri. Jika seseorang hanya nampak bahwa manusia lama telah disalibkan tetapi tidak mengenal di aspek mana manusia lama diekspresikan, la masih belum dapat memiliki pengalaman yang subyektif. Karena itu, tahap pertama dalam penanggulangan diri secara subyektif adalah nampak bahwa opini adalah satu aspek dari ekspresi manusia lama.

3. Menerapkan Penyaliban Kristus pada Opini Kita

Begitu kita mengetahui bahwa manusia lama kita telah disalibkan dan telah dibereskan di dalam Kristus, dan begitu kita nampak bahwa opini dan ide adalah ekspresi manusia lama, dengan sendirinya kita tidak akan membiarkan manusia lama mengekspresikan dirinya lagi dalam opini. Karena itu, kita akan menerapkan penyaliban Kristus bersandarkan Roh Kudus pada opini kita. Inilah pengalaman subyektif kita dalam menanggulangi diri. Ini juga yang Tuhan maksudkan dalam Matius 16 sebagai menyangkal diri dan memikul salib.

Hari ini, dalam kekristenan yang telah merosot, banyak kebenaran telah disalahartikan. Kebenaran memikul salib adalah salah satu contoh. Banyak orang salah mengartikan memikul salib sebagai penderitaan. Ini adalah konsepsi yang salah. Kita harus tahu bahwa salib sama sekali tidak dititikberatkan pada penderitam melainkan kematian. Seseorang pergi ke salib, penekanannya bukan untuk menderita, melainkan untuk mati. Seperti hari ini kita menyebutkan eksekusi di depan regu tembak, kita tahu bahwa itu berarti mati. Demikian juga, di zaman Tuhan Yesus, setiap kali salib disebutkan, pengertian orang atas hal ini adalah mati. Jadi, salib bukan hanya hukuman yang membuat orang menderita, lebih-lebih hukuman mati. Sesungguhnya, salib tidak menaruh orang ke dalam penderitaan, salib menaruh orang ke dalam kematian. Demikian juga, memikul salib bukanlah masalah menderita, melainkan masalah kematian; bukan berdiri di tempat penderitaan, melainkan berdiri di tempat kematian. Memikul salib bukanlah memikul penderitam, melainkan memikul kematian; bukan menaruh diri kita di bawah penderitaan, melainkan menaruh diri kita di bawah kematian. Ada perbedaan yang sangat besar antara keduanya.

Jadi, memikul salib adalah suatu pemyataan bahwa di alam semesta ini ada satu kematian salib yang telah digenapkan oleh Kristus. Ketika Roh Kudus melalui firman Allah mewahyukan salib ini kepada kita, kita menerimanya dengan iman, menerapkan kematian salib ini pada diri kita, bahkan kita berdiri pada kedudukan ini dan tidak meninggalkannya, tidak mengabaikannya. Inilah yang disebut memikul salib. Dengan kata lain, memikul salib berarti memikul kematian Kristus di atas diri kita, terus- menerus membiarkan kematian Kristus bekerja di atas diri kita untuk mematikan diri kita.

Memikul salib berbeda dari penyaliban. Ditinjau dari salib sebagai satu fakta yang telah digenapkan oleh Kristus, ini adalah penyaliban; ditinjau dari salib menjadi pengalaman sehari-hari kita, ini adalah memikul salib. Jadi, penyaliban adalah yang digenapkan oleh Tuhan bagi kita, dan memikul salib adalah tanggung jawab kita untuk mengalaminya. Penyaliban di Golgota telah digenapkan oleh Tuhan sekali untuk selamanya, dan ketika kita menerima salib yang telah Tuhan genapkan, kita menerimanya sekali untuk selamanya. Tetapi ketika kita mengalami salib ini, kita memikulnya terus-menerus. Tidak hanya memikulnya setiap hari dan setiap saat, tetapi juga memikulnya di ana saja dan di setiap tempat.

Di pihak Tuhan Yesus, terlebih dulu. Ia memikul salib dan kemudian disalibkan. Di pihak kita, terlebih dulu disalibkan dan kemudian memikul salib. Sepanjang hidupnya, Tuhan memikul salib. Dalam kehidupan dan pekerjaan-Nya selama lebih dari tiga puluh tahun, sedikitnya sejak Dia dibaptis, ada salib yang tak terlihat yang diletakkan di atas diri-Nya. Dia menempuh kehidupan-Nya dan pekerjaan-Nya dengan memikul salib. Sampai ketika Ia berjalan menuju ke Gunung Golgota, Ia pun memikul salib yang kelihatan (Yoh. 19:17). Akhirnya Ia dipaku di atas salib tersebut. Tuhan tidak hanya menerima penderitaan di bawah salib, tetapi juga menerima kematian. Meskipun Ia hanya mengenakan bentuk tubuh yang berdosa, tanpa realitas daging, dan meskipun diri-Nya sendiri kudus, tetapi Ia menerima kematian salib ke atas diri-Nya sendiri dan membiarkan kematian itu mematikan diri-Nya. Akhirnya, Dia mati tersalib di Golgota, lebih-lebih menaruh seluruh diri-Nya ke dalam kematian. Jadi, bagi Tuhan, terlebih dulu memikul dan kemudian disalibkan.

Setelah memikul salib dan disalibkan, Tuhan bangkit. Sejak itu, ditinjau dari diri-Nya, Tuhan telah terlepas dari salib; tetapi ditinjau dari hayat-Nya, karena Dia telah melewati salib, maka ada unsur salib dalam, hayat-Nya. Karena itu, ketika Dia bangkit, di dalam Roh masuk ke dalam kita, dengan sendirinya Ia membawa fakta salib dan unsur kematian ke dalam, kita, demikianlah kita dapat berbagian dengan penyaliban-Nya.

Semuanya ini di satu pihak telah digenapkan Tuhan bagi kita, tetapi di pihak kita, perlu Roh Kudus membuka mata kita sehingga kita nampak bahwa salib Kristus tidak hanya menyalibkan Tuhan, tetapi pada saat yang sama manusia lama kita juga telah disalibkan dan dibereskan di sana. Kita benar-benar telah mati bersama Kristus. Begitu kita menerima fakta ini, Roh Kudus akan lebih lanjut mewahyukan kepada kita bahwa ide dan opini kita adalah ekspresi dari manusia lama. Karena Tuhan telah menyalibkan manusia lama kita, mengapa kita membiarkan manusia lama memiliki ekspresinya? Hasilnya, kita akan menerapkan kematian salib ke atas diri kita. Setiap kali kita menemukan bahwa ide dan opini hendak muncul, dengan segera kita akan menyangkalnya dan menaruhnya di bawah kematian salib. Inilah memikul salib. Jadi, bagi kita, terlebih dulu disalibkan, kemudian memikul salib.

Walaupun masalah memikul salib dan menanggulangi diri di atas kita sajikan secara sederhana, tetapi saya percaya ini sangat jelas bagi kita. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika kami menuntut Tuhan, kami tidak jelas akan arti salib, memikul salib, dan menanggulangi diri. Pada saat itu kami benar-benar meraba-raba dalam kegelapan. Kita menyembah Tuhan bahwa dalam tahun-tahun ini Tuhan benar-benar membelaskasihani gereja-Nya dan terus-menerus memberi kita terang, sehingga kita dapat menjelaskan hal-hal rohani ini secara rinci. Karena itu, hari ini asal anak- anak Allah memiliki hati yang menuntut, sangatlah mudah bagi mereka untuk mengenal dan mengalami semua ini.

V. MENERAPKAN PENGALAMAN

MENANGGULANGI DIRI

1. Di Dalam Persekutuan Roh Kudus

Penerapan pengalaman menanggulangi diri, pertama-tama ialah di dalam persekutuan Roh Kudus. Meskipun kita mengerti penyaliban manusia lama dan mengetahui bahwa opini adalah ekspresi diri, tetapi jika kita tidak hidup di dalam persekutuan Roh Kudus, itu hanya sekadar doktrin kosong dan tidak bisa membuat kita memiliki pengalaman yang riil. Jika kita tidak hidup di dalam persekutuan Roh Kudus, tetapi berusaha menanggulangi diri, itu akan menjadi semacam "tirakat" yang dipraktekkan oleh penganut ajaran-ajaran tertentu; itu bukan pengalaman rohani. Hanya Roh Kudus yang adalah Roh kebenaran, Roh realitas; maka hanya ketika kita hidup di dalam Roh Kudus, barulah penampakan kita itu sejati, dan pengalaman kita itu sejati. Jadi, jika kita ingin terus-menerus hidup dalam pengalaman penanggulangan diri, syarat yang paling mendasar adalah hidup di dalam persekutuan Roh Kudus.

2. Membiarkan Roh Kudus

Melaksanakan Penyaliban Kristus

Jika kita hidup dalam persekutuan Roh Kudus dan menjamah Roh Kudus, kita harus membiarkan Roh Kudus melaksanakan penyaliban Kristus terhadap semua aktivitas kehidupan kita. "Membiarkan" ini adalah kerja sama kita dengan Roh Kudus. Ketika kita membiarkan Roh Kudus melaksanakan pekerjaan-Nya di dalam kita, ini berarti kita bekerja sama dengan diri-Nya. Di satu pihak, kita menerapkan penyaliban Kristus bersandarkan Roh Kudus; di pihak lain, kita membiarkan Roh Kudus melaksanakan penyaliban Kristus di dalam diri kita. Di satu pihak itu adalah tindakan kita; di pihak lain itu pun adalah pekerjaan Roh Kudus. Tindakan di dalam Roh Kudus ini sangat sulit dipisah-pisahkan. Pada saat ini, kita adalah orang-orang yang hidup di dalam hukum Roh hayat seperti yang dikatakan dalam Roma 8; kita menaruh semua ekspresi manusia lama dalam kematian bersandarkan Roh Kudus.

Jika seseorang yang mengasihi Allah memiliki tekad yang taat dan lembut, mau bekerja sama dengan Roh Kudus, Roh Kudus akan membawanya lebih dalam lagi ke arah salib dan dengan tuntas mematikan diri orang tersebut.

VI. HUBUNGAN ANTARA IBLIS DAN OPINI DIRI

Di depan, kita telah mengatakan bahwa opini adalah pernyataan dan ekspresi manusia lama. Tetapi dalam pengalaman menanggulangi diri, kita masih harus memperhatikan satu hal, yaitu hubungan antara diri dan Iblis. Sangat sedikit orang yang memperhatikan hal ini, dan jarang yang menyadari bahwa Iblis memiliki posisi yang khusus di dalam diri, yakni di dalam opini-opini. Karena itu, kita masih perlu memiliki pembahasan yang memadai atas hal ini.

Iblis bersembunyi di dalam diri manusia. Iblis bukan hanya sebagai dosa di dalam tubuh kita, tetapi juga sebagai opini yang baik di dalam diri kita. Menyinggung tentang dosa, banyak orang tahu akan kebobrokannya, maka tidak ada orang yang tidak membenci dan menghakimi dosa. Tetapi menyinggung tentang opini, banyak orang mengira hal itu baik. Mereka tidak hanya merasa bahwa opininya lebih baik daripada opini orang lain, bahkan merasa bahwa opininya itu baik secara esensi. Karena itu, tidak ada seorang pun yang membenci opininya sendiri, tidak ada seorang pun yang tidak menghargai opininya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang tidak merasa bahwa opininya indah dan baik. Walaupun demikian, Alkitab justru mewahyukan bahwa bukan hanya dosa yang berasal dari Iblis, bahkan opini yang manusia anggap baik itu juga berasal dari Iblis. Sebagaimana dosa di dalam tubuh kita adalah jelmaan Iblis, opini di dalam jiwa kita juga adalah jelmaan Iblis. Boleh dikatakan bahwa "penjelmaan" Iblis di dalam diri kita di satu pihak merupakan dosa di dalam tubuh kita, dan di pihak lain merupakan opini di dalam jiwa kita.

Karena Iblis memiliki posisi yang demikian khusus di dalam tubuh dan jiwa kita, maka ketika ia menduduki, mendapatkan, dan merusak manusia, ia bekerja dalam dua bagian kita ini. Di satu pihak ia membangkitkan nafsu anggota-anggota tubuh, dan di pihak lain ia membangkitkan opini-opini dalam pikiran. Lebih jauh lagi, ketika Iblis bekerja, ia bekerja dalam kedua bagian ini secara bersamaan. Setiap kali Iblis menggoda manusia, sering kali membuat manusia memiliki opini di dalam jiwanya, kemudian membuat tubuh berbuat dosa.

Inilah kisah kejatuhan manusia pada sebermula. ketika Iblis menggoda Hawa, terlebih dulu ia datang untuk menggerakkan pikiran Hawa dengan memberikan usulan kepadanya. Dengan kata lain, melalui pertanyaan yang licik ia menyebabkan pikiran Hawa merasa ragu, sehingga timbul opini. Dr. Haldeman dari Amerika mengatakan bahwa pada mulanya, ketika ular itu bertanya kepada Hawa di taman, "Tentulah Allah berfirman ...?", kemungkinan tubuhnya membentuk tanda tanya dengan kepala yang dinaikkan dan tubuh yang dibengkokkan. Ini sungguh berarti. Karena itu, jika kita mengenal prinsip rohani dari kejatuhan manusia, kita akan nampak bahwa langkah pertama kejatuhan adalah manusia memiliki opini, dan opini ini berasal dari Iblis.

Opini dari Iblis yang diinjeksikan kepada manusia itu adalah opini pertama manusia. Ketika manusia pertama diciptakan, sebelum ia digoda Iblis, ia hidup dengan cara yang sangat sederhana di hadapan Allah, tanpa keraguan atau opini. Opini pertama yang dimiliki manusia berasal dari usulan Iblis yang diinjeksikan ke dalam pikiran manusia. Jadi, kita nampak bahwa tahap pertama masuknya Iblis ke dalam manusia bukanlah melalui buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, tetapi melalui opini yang dipanahkan ke dalam jiwa manusia. Ketika jiwa manusia digerakkan dan menerima usulan Iblis, tubuhnya mengikuti, dan ia makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu.

Itulah sebabnya kita mengatakan bahwa opini dan dosa selalu berhubungan. Begitu opini kita dinyatakan, delapan atau sembilan dari sepuluh opini kita itu berhubungan dengan dosa; karena opini bukanlah berasal dari diri kita sendiri, melainkan berasal dari pembuat dosa, yaitu Iblis. Iblis bersembunyi di dalam opini, dan kita dapat mengatakan bahwa opini adalah jelmaan Iblis.

Dari Matius 16:21-25 kita nampak dengan jelas hubungan antara opini diri dan Iblis. Ketika Tuhan Yesus menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menerima mati, saat itu Petrus mempunyai opininya sendiri, ia menarik Tuhan ke samping dan berkata, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau." Tetapi Tuhan berpaling dan menghardik Petrus, "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Di sini Tuhan secara langsung menghardik Petrus sebagai Iblis, karena Tuhan tahu bahwa Iblis bersembunyi di belakang opini Petrus. Meskipun opini Petrus ini adalah opini yang mengasihi Tuhan, adalah opini yang baik, dan adalah opini yang dipikirkan untuk Tuhan, tetapi opini ini sesungguhnya adalah jelmaan Iblis. Kita mengira bahwa opini yang buruk berasal dari Iblis, tetapi dalaiii pandangan Tuhan, tak peduli opini itu buruk atau baik, asal itu adalah opini, itu berasal dari Iblis. Dalam pandangan Allah, opini manusia yang terbaik sekalipun tetap merupakan jelmaan Iblis. Kita harus diperingatkan terhadap hal ini!

Dalam Alkitab masih ada satu tempat yang dengan jelas membicarakan hubungan Iblis dan opini diri. Efesus 2:2-3 mengatakan, "Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, kamu menaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kita semua juga termasuk di antara mereka, ketika kita hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kita yang jahat…" Bagian firman ini memperlihatkan kepada kita bahwa semua perbuatan manusia hari ini adalah menurut roh Iblis yang bekerja di dalam mereka. Selanjutnya memperlihatkan kepada kita hasil pekerjaan Iblis adalah membuat manusia. hidup di dalam nafsu daging mereka, mengerjakan keinginan daging mereka dan pikiran mereka. Di satu pihak mereka memenuhi keinginan nafsu daging, dan di pihak lain mereka memenuhi keinginan pikiran mereka. Jadi, pekerjaan Iblis di dalam manusia terdiri darl dua aspek : dalam daging manusia dan dalam pikiran manusia. Ketika Iblis bekerja di dalam daging kita, hasilnya adalah nafsu daging, yaitu dosa; ketika ia bekerja di dalam pikiran kita, hasilnya adalah opini, atau diri.

Ada seorang saudara bersaksi bahwa ketika ia menghadapi suatu perkara, di dalam dirinya segera timbul suatu opini yang ingin dinyatakan, jika ia tidak menyatakannya, ia akan merasa sangat "gatal" di dalam. Ini memang benar. Perasaan gatal itu adalah keinginannya di dalamnya. Seorang pencandu opium begitu melihat opium, ia segera merasa gatal; seorang penjudi begitu melihat peralatan judi, segera merasa gatal. Demikian juga, ketika Iblis bekerja di dalam pikiran manusia dan memberi manusia satu opini, di dalam manusia juga terasa gatal dan tidak dapat tidak mengutarakannya. Karena itu, sama seperti dosa adalah hasil keinginan daging manusia, demikian juga opini adalah hasil keinginan pikiran manusia. Keduanya adalah hasil pekerjaan Iblis di dalam manusia.

Sayang, dahulu kami hanya memiliki sedikit pengetahuan terhadap opini diri sendiri. Sangat sedikit orang yang menghakimi opini diri sendiri; lebih sedikit lagi yang mengenal bahwa opini mereka sendiri sebenarnya adalah jelmaan Iblis. Setiap orang sangat menghargai opininya sendiri, memustikakan opininya sendiri, dan merasa sangat manis ketika memikirkannya. Kita semua mengasihi anak-anak kita. Namun saya rasa, kita jauh lebih mengasihi opini kita daripada anak-anak kita. Dalam perasaan kita, opini adalah hal yang paling indah!

Kita benar-benar perlu mohon Tuhan mengubah konsepsi kita secara hebat dalam terang kata-kata ini. Kita harus nampak bahwa dosa itu menakutkan, opini kita lebih menakutkan. Untuk melawan musuh, kita perlu melawan dosa, lebih-lebih perlu menyangkal opini kita sendiri. Kita perlu menaruh semua opini kita pada kematian melalui salib. Demikian barulah menyangkal diri yang konkret, juga baru secara tuntas menyangkal kedudukan Iblis atas diri kita, mendongkel pondasi Iblis di dalam diri kita.

VI. PERBEDAAN ANTARA MENANGGULANG1

DIRI DAN MENGENDALIKAN DIRI

Penanggulangan diri yang kita bicarakan sama sekali berbeda dengan pengendalian diri yang umum dibicarakan di antara orang-orang duniawi. Kita menanggulangi diri dikarenakan kita nampak bahwa opini itu bukan hanya merupakan ekspresi manusia lama, tetapi juga karena opini adalah jelmaan Iblis. Karena itu, kita menerapkan salib pada opini kita dan dengan demikian menaruhnya pada kematian. Begitu opini dimatikan, diri pun ditanggulangi. Tetapi, ini berbeda dengan orang yang mengendalikan diri, Orang-orang yang mengendalikan diri, ketika bergaul dengan orang lain, tidak menyebabkan masalah dengan menyatakan opininya. Mereka berusaha mempertahankan kedamaian dengan orang lain, sehingga dalam segala sesuatu sepertinya mereka sangat sopan dan tidak pernah bertengkar. Tetapi dalam segala perkara sebenarnya mereka memiliki opini dan ide sendiri. Dalam perasaan mereka, opini orang lain tidak sebaik opini mereka. Tetapi jika orang lain tidak menerima opini mereka, mereka bisa mengendalikan diri dan tidak mengutarakannya; mereka tidak memaksa orang lain untuk menerima. Bahkan secara luaran mereka akan menuruti opini orang lain dan mengikuti cara orang lain melakukan suatu pekerjaan. Demikian, tidak timbul ketidakharmonisan dengan orang lain. Jadi, di luaran mereka memiliki satu corak, di dalam memiliki corak yang lain. Di luar mereka tidak bersikeras atas sesuatu, tetapi di dalam mereka juga tidak melepaskan opini mereka; mereka memegang erat opini mereka. Itulah tindakan mengendalikan diri.

Mengendalikan diri semacam itu jelas bukan menanggulangi opini, bukan menangaulangi diri; sebaliknya, itu akan memupuk opini bertumbuh besar. Begitu opini bertumbuh besar, diri juga bertumbuh besar; karena diri manusia bertumbuh di dalam opini manusia. Opini adalah pupuk yang paling baik dan ranjang yang hangat untuk diri. Semakin banyak opini manusia, semakin dibiarkan dan dipelihara, diri manusia akan semakin bertumbuh. Sebaliknya, menanggulangi opini manusia sama dengan mematikan diri. Manusia tidak mau meletakkan opininya, karena manusia tidak mau menyangkal dirinya. Sepanjang sejarah kita nampak ada orang-orang yang dirinya begitu kuat sehingga orang lain boleh memenggal kepalanya, tetapi tidak pernah dapat membuat mereka melepaskan opininya. Karena itu, menanggulangi opini, menyangkal diri, adalah perkara yang sangat sulit!

Jadi, mengendalikan diri bukanlah menanggulangi diri. Orang yang mengendalikan diri tidak pernah menghakimi opininya sendiri, tidak menanggulangi opininya sendiri; ia selalu merasa bahwa opininya adalah yang paling benar dan paling baik. Satu-satunya alasan mengapa ia tidak bersikeras akan opininya sendiri adalah karena ia bertoleransi terhadap orang, berlapang dada terhadap, orang lain. Ia seperti peribahasa mengatakan "berhati seluas laut", yakni menunjukkan bahwa dirinya sangat lapang dan bisa merangkum orang lain. Orang yang demikian merasa dirinya sangat bijaksana, merasa opininya yang paling benar; ketika orang lain tidak menerima opininya, ia bisa menerimanya, bisa mengendalikan diri.

Orang-orang semacam ini kelihatannya sangat lembut, tetapi sebenarnya selalu menganggap diri sendiri benar; kelihatannya rendah hati, tetapi sebenarnya adalah orang yang paling angkuh. Mereka berada dalam kegelapan total dan orang yang paling buta. Mereka seperti orang-orang Farisi pada waktu itu, membenarkan diri sendiri dan merasa diri benar, yang ditegur Tuhan sebagai yang berada dalam kegelapan dan kebutaan. Semakin sukses seseorang mengendalikan dirinya, ia semakin menjadi orang yang tersekat dalam hal-hal rohani. Ia sedikit pun tidak mendapatkan terang Allah, tidak menjamah maksud Allah, tidak memiliki pengertian rohani. Keseluruhan dirinya bagaikan tembok kuningan dan besi. Orang yang paling bisa mengendalikan diri, paling bisa berlapang dada, paling bisa merangkul, ia akan paling tidak bisa bertumbuli dalam hayat rohani. Pengendalian diri orang semacam ini berasal dari upaya manusia; karena itu, semakin mengendalikan diri, semakin kuat dan besar dirinya. Orang yang melakukan pengendalian diri tidak menyangkal dirinya; sebaliknya, ia mengakumulasikan dirinya, sampai suatu hari, ia akan membuka mulutnya dan menuangkan semua opini yang terpendam di dalam; ia akan sama seperti Ayub. Ia merasa bahwa ia adalah ayah anak-anak yatim piatu, mata bagi yang buta, kaki bagi yang lumpuli, selalu menolong orang lain dan merangkul orang lain. Itu membuktikan bahwa dirinya termeterai dan tidak goyah, tidak pernah berkurang sedikit pun.

Mutlak berbeda dengan menanggulangi diri. Mengendalikan diri adalah menyembunyikan opini, tetapi menanggulangi diri adalah menolak opini. Mengendalikan diri adalah untuk sementara menelan opini, tetapi menanggulangi diri adalah menyerahkan opini pada salib yang tuntas mematikan. Karena itu, orang yang benar-benar telah belajar menanggulangi diri di satu pihak memiliki pandangan yang tegas di dalam rohnya, di piliak lain, karena ia telah diremukkan, sepertinya ia tidak memiliki opini apa-apa. Jika Allah melakukan sesuatu menurut caranya, ia mengaminkan; jika Allah melakukan sebaliknya, ia menganggap opininya tidak berarti apa-apa. Karena diri telah diremukkan oleh salib, maka sekalipun ia menginginkannya, ia tidak dapat lepas kendali ataupun mengendalikan diri. Di dalam dirinya ada sesuatu yang telah remuk. Demikian, ia bisa memiliki terang. Karena itu, kita meliliat orang-orang yang kelihatannya liar, temperamennya tinggi, banyak opini dan mudah mengutarakannya, mereka justru lebih mudah mendapatkan penyelamatan daripada mereka yang disebut orang baik, orang yang bisa mengendalikan diri dan merangkul orang lain. Karena diri mereka telah disingkapkan, maka begitu mereka diremukkan oleh salib, diri mereka pun ditanggulangi, hasilnya, opini mereka benar-benar tersingkirkan.

Karena itu, kita sama sekali tidak boleh memahami menanggulangi diri sebagai mengendalikan diri, dan kemudian kita menjadi orang yang mengendalikan diri. Kita harus jelas membedakan menanggulangi diri dengan mengendalikan diri dan menjaga diri agar tidak jatuh ke dalam tindakan mengendalikan diri. Sebagai contoh, dalam gereja atau dalam keluarga, begitu kita menemukan bahwa kita memiliki opini, kita tidak seharusnya membiarkan hal itu lewat begitu saja, atau dengan tanpa ribut menarik kembali opini kita dan menganggapnya selesai. Sikap bertoleransi akan memberikan lebih banyak pertumbuhan kepada opini kita. Kita harus nampak bahwa kita telah disalibkan bersama Tuhan di salib, jadi setiap kali opini dan diri muncul, kita harus menerapkan pembunuhan salib bersandarkan kekuatan Roh Kudus untuk mematikan opini dan diri kita. Hanya melalui berulang kali menerapkan kematian ini, maka diri kita secara bertahap berkurang dan hayat Kristus secara bertahap bertumbuh di dalam kita.

VII. KATA PENUTUP

Di antara orang-orang Kristen, sedikit sekali yang menanggulangi diri dan menanggulangi opini. Mengenai menanggulangi daging dan menanggulangi temperamen, setiap orang yang menuntut hal-hal rohani pasti memiliki beberapa pengalaman. Tetapi, sedikit sekali saudara saudari yang memperhatikan bahwa diri perlu ditanggulangi. Ini dikarenakan kita tidak tahu "diri" ini ditujukan kepada apa, kita juga tidak tahu bahwa opini adalah ekspresi dari diri, jelmaan diri. Tetapi alasan yang paling besar ialah karena kita mengira opini adalah perkara yang baik. Setiap orang yang beropini selalu mengira opininya itu balk, mengira opininya itu indah dan patut dihargai. Tidak tahunya, diri bersembunyi di dalam opini. Kita telah beberapa kali mengatakan bahwa dalam Matius 16 opini Petrus adalah opini yang baik, opini yang mengasihi Tuhan; siapa tahu, diri bersembunyi di dalamnya, Iblis juga bersembunyi di dalamnya. Hanya orang yang diterangi Tuhan yang bisa nampak bahwa opini manusia adalah musuh kehendak Allah, opini manusia adalah lawan salib. Orang yang memperhatikan opini manusia, pasti akan mengabaikan kehendak Allah; orang yang bersimpati kepada maksud manusia, tidak akan bersimpati kepada maksud Allah. Opini kita berhasil, adalah diri yang bertumbuh besar. Opini adalah tanah yang subur, dan diri justru tertanam di dalamnya. Orang yang memiliki opini paling banyak adalah orang yang memiliki diri paling besar. Karena itu, ketika kita bersama dengan saudara-saudari muda, kita perlu memegang prinsip ini dan tidak membiarkan opini mereka mendapat tempat. Memberikan tempat kepada opini mereka berarti memberikan tanah yang subur bagi pertumbuhan diri mereka.

Ketika kita nampak bahwa diri ini menakutkan, dan kita menerima pelajaran menanggulangi diri dalam kehidupan sehari-hari, ada satu hal yang harus kita waspadai untuk dihindari yaitu sekali-kali kita tidak boleh menempuh jalan pengendahan diri; karena pengendalian diri mutlak berlawanan dengan tujuan penanggulangan diri. Sayang, pengenalan kita terhadap kebenaran ini kurang jelas, sering kali tanpa sadar kita jatuh ke dalam pengendahan diri. Ketika kita bersama-sama dengan orang lain, adakalanya di dalam kita timbul opini, tetapi agar tidak bertengkar dengan orang lain, kita tidak menyatakan opini kita. Atau di rumah, kita melihat banyak situasi yang tidak sesuai dengan opini kita, tetapi kita merasa tidak ada gunanya sekalipun kita menyinggungnya, lalu kita menelan opini kita dan tinggal diam. Hari ini, di banyak gereja dan banyak rumah terdapat banyak situasi demikian. Menurut manusia, keadaan ini lebih baik daripada pertengkaran. Tetapi ditinjau dari sudut hayat, keadaan ini jauh lebih sukar ditanggulangi daripada pertengkaran. Pertengkaran menyingkapkan kebobrokan manusia; begitu manusia diterangi oleh Roh Kudus, ia akan rebah di hadapan Allah. Akan tetapi orang yang mengendalikan diri dan tidak pernah bertengkar tidak mudah untuk diterangi, Roh Kudus sukar menjamahnya, tidak mudah menyorotinya. Orang yang sering menelan opininya, sering pula mencari terang Tuhan untuk orang lain. Sebenarnya dirinya sendiri yang paling memerlukan terang. Walaupun orang yang mengendalikan diri akan menarik kembali opininya ketika ditolak orang lain; tetapi ia tetap menganggap dirinya yang paling benar dan opininya yang patut dipuji. Ia terus hidup di dalam diri tanpa sadar bahwa diri adalah musuh Allah yang paling besar. Karena itu, mengendalikan diri tidak membuat kita mengalami peremukan, sebaliknya membuat diri kita bertumbuh dan menjadi keras.

Tidak demikian dengan menanggulangi diri. Dalam menanggulangi diri kita harus nampak bahwa selama kita hidup dan bertumbuh di dalam diri kita sendiri, Kristus tidak akan mempunyai jalan untuk hidup dan bertumbuh. Karena kita hidup dalam opini kita, kita harus menghakiminya, menaruhnya dalam kematian, yaitu menaruh diri kita dalam kematian. Inilah pekerjaan salib, yang menghasilkan Kristus bertambah di dalam kita. Kita tidak menempuh jalan pengendalian diri, melainkan menempuh jalan menaruh diri dalam kematian, membiarkan Kristus memiliki tempat untuk bertumbuh dan terbentuk di dalam kita.

Mengenai penerapan pengalaman salib, kita harus tahu bahwa semua penanggulangan daging dan diri berlangsung terus-menerus, bukan sekali untuk selamanya. Semua fakta obyektif di dalam Kristus digenapkan sekali untuk selamanya, tetapi semua pengalaman subyektif di dalam Roh Kudus adalah terus-menerus. Opini kita tidak dapat disalibkan satu kali untuk selamanya; demikian juga dalam menanggulangi daging. Petani menyiangi ladang, hari ini semua rumput dibuang, beberapa hari kemudian rumput itu tumbuh lagi dan petani harus menyianginya lagi; ia tidak pernah dapat sekali berjerih lelah kemudian selamanya tenang. Demikian juga, hari ini kita masih berada di dalam ciptaan lama, dan manusia lama tidak dapat tidak menyatakan dirinya dalam berbagai aspek. Karena itu, ketika kita menerapkan penanggulangan salib bersandarkan persekutuan Roh Kudus, satu kali penerapan saja tidak cukup; kita harus menerapkannya pada pagi hari, siang hari, dan malam hari. Ketika pengalaman-pengalaman yang subyektif ini menjadi matang dan dalam, kita akan bisa menerapkan penyaliban terakhir yang menyeluruh terhadap penyataan tertentu manusia lama, dan mengakhirinya. Tetapi, dalam tahap awal pengalaman kita, kita harus menerapkan penanggulangan itu saat demi saat, sekali demi sekali. Karena itu, ketika membicarakan penanggulangan yang subyektif, Tuhan berkata bahwa kita harus memikul salib, berarti bahwa kita tidak dapat berpisah dari salib. Ketika sedang bersidang, seorang saudara mungkin mempunyai satu opini; ia menghakiminya dan tidak mengutarakannya. Tetapi selesai sidang, secara pribadi, ia mengatakannya; ini bukanlah memikul salib. Bukan ketika bersidang Anda memiliki opini lalu Anda memakunya di salib, tetapi seusai sidang, Anda boleh terlepas dari salib. Kita harus selalu berada di atas salib dan selalu memikul salib. Arti memikul salib adalah tidak terpisah dari salib.

Sepanjang sejarah, semua orang yang memiliki pengalaman memikul salib, seperti Saudara Lawrence dan Saudari Guyon, setuju bahwa orang yang memikul salib tidak dapat dipisahkan dari salib. Orang yang memikul salib adalah satu dengan salib, ia tidak dapat dipisahkan dari salib. Ketika ia nampak fakta kematian salib, ia menerima tanda kematian sebagai meterai atas dirinya, dan setelah itu, ia terus menerapkan fakta. kematian ini pada realitas kehidupan sehari-hari. Inilah yang disebut memikul salib. Jadi, bukan sekali menerima sudah beres, bukan satu kali disatukan sudah beres, melainkan terus-menerus memikul salib.

Menyinggung tentang menanggulangi diri, Tuhan berkata perlunya memikul salib, bukan disalibkan atau penyaliban. Disalibkan memiliki dua arti : pertama adalah dipaku di atas salib; kedua adalah diakhiri. Banyak orang mengira, sekali kita menerima salib, diri kita sudah diakhiri dan kita tidak perlu memikul salib lagi. Tetapi Tuhan justru menyuruh kita memikul salib. Dari sini ternyatalah bahwa diri kita belum diakhiri hanya dengan menerima salib, kita masih tetap harus memikul salib, masih tidak bisa terpisah dari salib. Ketika kita menerima fakta. kematian salib, itulah penyaliban; tetapi ketika kita mengalami penyaliban ini, itulah memikul salib.

Ketika Tuhan Yesus menempuh hidup sebagai seorang manusia di bumi, terlebih dulu Ia memikul salib, Ia memikulnya sampai pada satu hari Ia pergi ke Golgota dan dipaku di atas salib. Itulah yang disebut penyaliban. Ketika Tuhan disalibkan di atas salib, Ia mati dan diakhiri. Setelah Ia mati, barulah Ia dipisahkan dari salib. Demikian juga seharusnya di atas diri kita. Menurut fakta, Tuhan menyalibkan kita bersama-Nya di atas salib, tetapi menurut pengalaman, kita belum mati, karena itu, kita perlu senantiasa memikul salib sampai kita terangkat dan ditransfigurasi, pada saat itu barulah kita dapat terpisah dari salib. Sebenarnya, betapapun rohaninya seorang Kristen, ia tidak dapat sesaat pun terpisah dari salib. Setiap kali ia terpisah dari salib, ia segera hidup di dalam dagingnya dan oleh dirinya. Ketika kita bersandarkan Roh Kudus senantiasa menerapkan salib ke atas diri kita, supaya senantiasa ada tanda salib pada diri kita, inilah memikul salib. Karena itu, menanggulangi diri adalah pelajaran seumur hidup kita. Seumur hidup kita, kita harus menerapkan kematian salib pada diri kita dan menjadi orang yang menyangkal diri dan memikul salib.