MENANGGULANGI ALAMIAH
Sekarang kita sampai pada pengalaman hayat kesebelas – menanggulangi alamiah.
I. DEFINISI ALAMIAH
Dalam Alkitab tidak disebutkan istilah "alamiak' ini, dan istilah ini juga jarang disebutkan di antara orang Kristen. Namun dalam pengalaman kita benar-benar ada hal alamiah ini. Ini adalah satu ciri khas dari manusia jlwani dan juga merupakan suatu ekspresi yang diperhidupkan oleh manusia lama kita. Jika kita menuntut pengalaman salib, kita tidak dapat mengabaikan penanggulangan di aspek ini. Itulah sebabnya di sini kita secara khusus membahas pelajaran menanggulangi alamiah.
Telah kita katakan bahwa ketika manusia lama diperhidupkan, ia memiliki berbagai macam ekspresi, seperti temperamen, daging, diri, dan juga alamiah. Ada orang mudah kehilangan kesabaran dan cepat marah- marah, itu berarti temperamennya tinggi. Ada orang sangat senang berbicara dan selalu menyatakan opini, itu berarti diri mereka sangat kuat. Ada orang mungkin tidak marah-marah dan tidak banyak bicara, tetapi mereka sangat cekatan, ketika bekerja, ia memiliki banyak cara, itu adalah alamiahnya yang sangat kuat. Maka, alamiah adalah satu bagian ekspresi yang diperhidupkan oleh manusia lama yang berkaitan dengan kekuatan, kemampuan, hikmat, kepandaian, siasat, muslihat, dan lain sebagainya.
Membicarakan diri, kita dapat menggunakan Ayub yang menganggap dirinya benar dan banyak bicara sebagai suatu contoh. Tetapi membicarakan alamiah, Yakub dalam Kitab Kejadian adalah tokoh wakil yang paling baik. Pada umumnya kita berpikir bahwa catatan tentang Yakub menunjukkan kelicikannya. Tetapi sebenarnya, titik yang paling menonjol dalam seluruh hidup Yakub adalah usaha dan cara atau siasat alamiahnya. Semua orang yang banyak cara sulit tidak menjadi orang yang baik. Demikian juga Yakub. Kelicikannya hanyalah ekspresi luaran, hayat alamiahnya barulah ciri khasnya yang terpendam. Sebelum Yakub menjadi matang, semua cerita kehidupannya menampakkan kepada kita alamiahnya. Ia memiliki kekuatan, cara, kepandaian, kemampuan, dan siasat; ia benar-benar adalah orang yang sangat kuat alamiahnya.
Alamiah Yakub sudah dinyatakan bahkan sebelum ia dilahirkan. Di dalam rahim ibunya, ia sudah memegang tumit Esau, bergumul ingin keluar lebih dulu. Ketika ia besar, ia dengan cerdik bersiasat untuk memperoleh suatu posisi yang menguntungkan. Dengan cara yang cerdik ia menipu kakaknya dan merebut hak kesulungan. Juga dengan tipu muslihat ia memperoleh berkat anak sulung dari ayahnya. Ketika ia meninggalkan rumah dan sedang dalsm perjalanan, Allah menampakkan diri kepadanya di Betel dan berjanji untuk memberkatinya; bahkan terhadap Allah pun Yakub bersiasat (tawar-menawar). Ia berkata, "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu"(Kej. 28:20-22). Sebelumnya Allah telah berjanji akan memberkatinya tanpa syarat apa pun, namun Yakub malah mengajukan syarat kepada Allah, membuat "perhitungan"' dengan Allah. Semua ini membuktikan bahwa ia adalah orang yang sangat cerdik dan banyak akal.
Ketika ia bersama Laban, pamannya, ia masih memakai cara dan siasat berdasarkan kepandaian alamiahnya. Lewat sejangka waktu, ia sangat sukses, memiliki banyak ternak, budak, unta, dan keledai. Kemudian, di tempat penyeberangan Sungai Yabok, Allah menanggulanginya dengan memukul sendi pangkal pahanya, sehingga ia menjadi pincang. Tetapi begitu menyeberangi sungai untuk menemui kakaknya, Esau, ia masih menggunakan siasat dan akalnya sendiri. Masih menurut rencananya yang semula, yaitu membagi orang-orangnya, kambing, domba, lembu, dan untanya menjadi dua pasukan, menempatkan istrinya yang terkasih, Rahel, dan anaknya terkasih, Yusuf, di barisan paling belakang, supaya andaikata diserang oleh kakaknya, mereka dapat meloloskan diri.
Yakub penuh siasat, karena alamiahnya terlalu kuat. Maka, seumur hidupnya, Allah terutama menanggulangi alamiahnya. Semua gesekan, pukulan, dan penderitaan yang menimpanya bertujuan meremukkan alamiahnya. Titik balik yang hebat terjadi dalam hidupnya ketika Allah memukul. sendi panglial pahanya di Pniel. Akhirnya sampai Kejathan 35, Allah menyuruhnya pergi ke Betel dan di sana menctirikan mezbah serta mempersembahkan kurban bagi Allah yang telah menampakkan diri kepadanya ketika ia melarikan diri dari saudaranya. Sejak itu, akal dan siasat Yakub terhentilah, manusia alamiahnya pun runtuh. Karena itu, ketika anaknya, Ruben, mencemarkan tempat tidurnya, meskipun ia mengetahui hal itu, ia tidak berbuat apaapa. Ketika anak-anaknya menipunya dengan menjual Yusuf yang ia kasihi ke Mesir, ia hanya bisa menderita karenanya. Akhirnya, ia menghadapi bencana kelaparan, ia harus memohon anak-anaknya untuk membeli makanan untuknya. Semua kekuatan, cara, kepandaian, dan talentanya, sepertinya telah hilang dan terhenti. Seluruh dirinya telah mutlak berubah.
Ketika alamiah Yakub demikian tuntas diremukkan, hayatnya dalam Allah mencapai tahap kelimpahan kematangan. Ia bukan lagi Yakub, melainkan Israel. Ia bukan lagi yang merebut (arti nama "Yakub"), melainkan pangeran Allah (arti nama "Israel"). Karena itu, ia dapat memberkati Firaun dan juga memberikan berkat yang berlimpah kepada anak-anaknya sebelum ia mati.
Jadi, dari catatan kehidupan Yakub kita bisa nampak bahwa Kejadian 35 adalah sebuah titik balik yang besar. Sebelum pasal 35, semua kekuatan, cars, hikmat, kemampuan, yang Yakub ekspresikan adalah yang alamiah, yang diperhiduplian dari manusia lamanya. Setelah pasal 35, ia tidak lagi memakai kekuatan, cara, hikmat, kemampuan alamiahnya; karena alamiahnya mutlak telah ditanggulangi, dan ia menjadi orang yang hidup di dalam Allah. Secara rohani, pada saat ini ia telah sepenuhnya terlepas dari alamiah, dan masuk ke dalam kebangkitan. Dalam seumur hidupnya ia menderita dan ditanggulangi oleh Allah secara demikian supaya alamiahnya dapat diremukkan, dan ia dapat menjadi orang yang bangkit. Manusia alamiah tidak berguna di hadapan Allah, hanya orang yang bangkit yang berguna di hadapan Allah. Inilah alasannya mengapa alamiah perlu diremukkan dan ditanggulangi.
II. PERBEDAAN ANTARA ALAMIAH
DENGAN KEBANGKITAN
Kita menyebut kekuatan, kemampuan, hikmat, dan kepandaian bawaan manusia sebagai alamiah karena semuanya ini berasal dari hayat alamiah manusia, bukan berasal dari hayat kebangkitan Allah. Semuanya ini ada dari bawaan alamiah manusia, bukan dari manusia melewati peremukan dan kebangkitan dalam Kristus. Alamiah dan hayat kebangkitan mutlak berbeda. Penanggulangan kita terhadap alamiah bertujuan agar kekuatan, kemampuan, hikmat, dan kepandaian bawaan kita bisa melalui kematian salib, kemudian dibangkitkan, kemudian baru bisa berkenan kepada Allah, dipakai oleh Allah.
Ada orang begitu mendengar tentang menanggulangi alamiah, mereka mengira bahwa Allah tidak menginginkan kepandaian dan kemampuan kita. Konsepsi itu salah. Kepandaian dan kemampuan manusia masih sangat diperlukan untuk dipakai oleh Allah.
Dari wahyu Alkitab, dengan jelas kita nampak bahwa pekerjaan Allah di bumi ini memerlukan kerja sama manusia. Mustahil manusia bekerja sama dengan Allah tanpa memiliki kepandaian dan kemampuan apa-apa. Seperti halnya kayu dan batu tidak dapat bekerja sama dengan Allah, demikian juga orang-orang yang bodoh dan tidak bisa apaapa, tidak dapat bekerja sama dengan Allah. Kita sering berkata bahwa orang yang pandai itu tidak berguna, tetapi orang yang bodoh lebih tidak berguna. Kita juga berkata bahwa orang yang berkemampuan itu tidak berguna, tetapi orang yang tidak berkemampuan itu lebih tidak berguna. Sebenarnya, orang yang tidak berguna di dunia ini juga tidak berguna di tangan Allah. Sepanjang sejarah, orangorang yang dipakai Allah adalah orang-orang yang berkemampuan yang diperebutkan dari dunia. Kita harus mengakui bahwa Musa adalah seorang yang sangat cakap; ia berkemampuan, berwawasan, berhikmat, dan berkepandaian; karena itu, Allah baru dapat memakainya untuk melepaskan bangsa Israel dari Mesir. Juga melalui Musa, kitab-kitab yang paling penting dan Perjanjian Lama, Pentateukh, ditulis. Kita juga harus mengakui bahwa Paulus adalah seorang yang cakap yang memiliki pendidikan yang tinggi, kuat dalam pemikiran; karena itu, ia mampu menerima wahyu dari Allah dan mampu menulis kebenaran yang dalam dan tinggi dalam, Perjanjian Baru. Meskipun Petrus dan Yohanes hanyalah nelayan-nelayan dari Galilea, mereka tentunya adalah nelayan-nelayan yang terbaik dan bukannya sekadar manusia biasa.
Prinsip terbesar dalam pelayanan rohani ialah manusia bekerja sama dengan Allah. Meskipun segala sesuatunya dilakukan oleh Allah, tetapi dalam segala sesuatu Allah memerlukan manusia untuk bekerja sama dengan-Nya. Tidak mungkin orang yang bodoh, yang tidak bisa melakukan apa pun, yang tidak mau melakukan apa pun, dapat dipakai. oleh Allah. Kita sering mendengar saudara saudari berkata, "Aku percaya Allah mampu melakukan," tetapi mereka sendiri tidak melakukan apa-apa untuk bekerja sama. Iman semacam itu sia-sia belaka. Tidak perlu diragukan, Allah bisa melakukan, tetapi juga perlu manusia bisa melakukan. Jika manusia tidak bisa melakukan, meskipun Allah bisa, Allah tidak akan melakukannya. Allah harus mencari orang yang bisa dan mau bekerja sama dengan-Nya. Sejauh mana manusia bisa melakukan, sejauh itu Allah akan melakukan; sejauh mana manusia bekerja sama dengan Allah, sejauh itu Allah akan melakukan. Karena itu, kita harus bisa melakukan, mampu melakukan, belajar menjadi orang yang berguna dalam setiap aspek; baru kita bisa sesuai dipakai oleh Allah.
Akan tetapi, Allah tetap tidak dapat memakai orang yang hanya memiliki kemampuan alamiah saja. Kalau kemampuan alamiah itu belum melewati peremukan, itu malah akan menjadi penghambat bagi Allah. Harus melewati peremukan, harus melewati kematian, menjadi milik kebangkitan, baru bisa dipakai oleh Allah. Kemampuan alainiah seperti besi mentah, terlalu keras dan juga terlalu rapuh; di satu pihak tidak cocok untuk dipakai, di pihak lain mudah patah. Kemampuan yang telah dibangkitkan itu seperti baja tempaan, kokoh tetapi lunak (bisa ditempa), pas dipakai dan tidak mudah patah. Karena itu, Allah tidak dapat memakai orang yang tidak berkemampuan, namun juga tidak dapat memakai orang yang berkemampuan tetapi belum melewati peremukan. Setiap orang yang berguna di tangan Allah adalah orang yang berkemampuan dan juga telah diremukkan. Jika kita memperhatikan orang-orang yang telah dipakai oleh Allah sepanjang sejarah, hampir semuanya sangat berkemampuan, sangat kuat dalam jiwa, berpandangan jauh, pandai, dan pada saat yang sama mereka telah diremukkan Allah.
Contoh yang paling menonjol dalam Alkitab adalah Yakub, yang telah kita bicarakan di depan. Secara alamiah, ia memiliki kemampuan dan siasat. Hingga suatu hari ia diremukkan oleh Allah dan ia menjadi Israel; ia pun kehilangan kemampuan dan siasatnya. Namun, ketika ia memberkati kedua anak Yusuf, kita nampak ia sedikit pun tidak kabur, ia adalah orang yang sangat jernih dan memiliki pandangan jauh ke depan. Tidak hanya demikian, pemberkatan yang ia berikan kepada anak-anaknya dalam Kejadian 49 merupakan nubuat besar dalam Alkitab. Kata-kata itu sangat tinggi dan hebat. Jika Yakub adalah orang yang bodoh dan tidak berpandangan jauh, bagaimana ia dapat mengucapkan perkataan itu? Di satu pihak, jika Yakub hanya bersandarkan otak, pikiran, dan kemampuan alamiahnya saja, ia tidak akan mampu mengucapkan perkataan itu. Karena otak, pikiran, dan kemampuan alamiahnya telah diremukkan oleh Allah, telah bangkit dan menjadi rohani, maka ia baru dapat dipakai oleh Allah untuk mengucapkan nubuat-nubuat besar itu.
Sama prinsipnya jika kita ingin memahami kehendak Allah. Allah adalah Allah yang sangat hikmat dan pandai. Karena itu, untuk memahami kehendak-Nya, diperlukan hikmat dan kepandaian manusia. Boleh dikatakan bahwa orang yang otaknya tumpul tidak mungkin dapat memahami kehendak Allah. Namun, orang yang hanya bersandar kepada hikmat dan kepandaiannya sendiri juga tidak dapat memahami kehendak Allah. Seseorang perlu memiliki otak, kepandaian, dan pikiran yang baik, dan kemudian otak, kepandaian, dan pikiran itu ditaruh di bawah salib, membiarkan salib membubuhkan cap kematian padanya. Orang yang demikian, meskipun memiliki otak, kepandaian, dan pikirannya sendiri, tetapi ia tidak melakukan apa-apa berdasarkan dirinya sendiri, untuk dirinya sendiri, atau bersandar dirinya sendiri; ia hanya memakainya berdasarkan Allah, untuk Allah, dan bersandar kepada Allah. Ia tidak memiliki tujuannya sendiri atau unsur-unsur dirinya sendiri, lebihlebili tidak ada tangan siasatnya sendiri. Ia hanya bersandar kepada belas kasihan Allah; ia menunggu lawatan-Nya dan mencari wahyu-Nya. Orang sedemikianlah yang dapat memahami kehendak Allah dan jelas, akan pimpinan-Nya.
Dari sini kita tahu bahwa kemampuan dan keeakapan alamiah bukan lenyap setelah ditanggulangi. Peremukan dan kematian oleh salib atas, kita bukanlah langkah terakhir. Kematian salib yang sejati selalu mendatangkan kebangkitan. Yesus dari Nazaret dimatikan di atas salib, tetapi Kristus dibangkitkan. Setelah Kejadian 35, Yakub sepenuhnya ditanggulangi dan rebah, tetapi Israel yang matang muncullah. Karena itu, penanggulangan oleh salib selalu mendatangkan kebangkitan. Semakin kemampuan seseorang diremukkan oleh salib, ia semakin berkemampuan. Semakin hikmat seseorang diremukkan okh salib, ia semakin berhikmat. Bahkan, kemampuan dan hikmat ini kini berada di dalam kebangkitan.
Inilah sebabnya, di satu aspek, kita mendorong orang untuk menelaah Alkitab, membaca buku-buku rohani, melatih pikiran dan pandangan mereka, belajar bagaimana berperilaku sebagai manusia, bagaimana menangani perkara-perkara, dan bagaimana bekerja, agar menjadi orang yang berkemampuan. Di aspek lain, kita selalu memberi tahu orang bahwa pendidikan dan kemampuan itu tidak berguna. Ketika kita mengatakan bahwa itu tidak berguna, yang kita maksudkan adalah hal-hal itu harus melewati peremukan dan menjadi hal-hal di dalam kebangkitan. Kedua aspek ini, dalam pandangan manusia awam tampaknya saling berlawanan, tetapi bagi kita hal-hal ini adalah riil, karena itu mutlak diperlukan.
Bagaimana kita membedakan antara kemampuan alamiah dan kemampuan kebangkitan? Bagaimana kita tahu bahwa itu adalah kemampuan bawaan atau kemampuan yang telah melewati peremukan? Hal ini dapat dibagi menjadi tujuh butir perbandingan. Terlebih dulu kita akan melihat kemampuan alamiah :
Pertama, semua kemampuan alamiah adalah egois; semua cara dan siasatnya adalah untuk diri sendiri. Kedua, di dalam kemampuan alamiah pasti terkandung daging, temperamen, jika tidak disetujui oleh orang lain, timbul rasa gusar. Ketiga, semua kemampuan alamiah selalu disertai kelicikan, bahkan tipu muslihat. Keempat, semua kemampuan alamiah mengandung kesombongan, merasa diri sendiri mampu, diri sendiri bisa, timbul rasa bangga diri dan mulia diri. Kelima, semua kemampuan alamiah tidak berada di bawah kendali Roh Kudus dan sangat berani dalam melakukan sesuatu. Keenam, semua kemampuan alamiah mengabaikan atau tidak memperhatikan kehendak Allah, jika ingin melakukan, segera melakukan, ingin bekerja, segera bekerja, sama sekali berdasarkan kemauan diri sendiri. Ketujuh, kemampuan alamiah tidak bersandar kepada Allah dan tidak perlu bersandar kepada Allah, seluruhnya hanya bersandarkan diri sendiri.
Kemampuan kebangkitan sangat bertolak belakang dengan kemampuan alamiah. Pertama, semua kemampuan yang telah diremukkan dan dibangkitkan bukan untuk diri sendiri, juga tidak ada unsur ego. Kedua, semua kemampuan kebangkitan tidak terkandung temperamen. Ketiga, kemampuan kebangkitan tidak bersiasat. Keempat, kemampuan kebangkitan tidak sombong, tidak membanggakan diri sendiri. Kelima, kemampuan kebangkitan dikendalikan oleh Roh Kudus dan tidak berani bertindak menurut kemauan diri sendiri. Keenam, kemampuan kebangkitan dilakukan di dalam kehendak Allah. Ketujuh, kemampuan kebangkitan bersandar kepada Allah dan tidak berani melakukan menurut diri sendiri, meskipun sebenarnya ia benar-benar mampu dan bisa melakukannya.
Kita telah jelas akan perbedaan antara kemampuan alamiah dengan kemampuan kebangkitan, kini kita harus memeriksa diri dalam hal pengalaman. Ketika kita menggunakan kemampuan kita, apakah itu untuk diri sendiri atau untuk Allah? Apakah membuat keputusan berdasarkan diri sendiri, bertindak secara pribadi dan egosentris, atau apakah tahan terhadap kritik dan tentangan orang lain? Apakah memakai siasat diri sendiri atau menengadah kepada anugerah Allah? Apakah memberikan kemuliaan kepada Allah, atau apakah bangga dan mulia dalam diri sendiri? Apakah dikendalikan oleh Roh Kudus atau bertindak semau sendiri? Apakah menggenapkan kemauan diri sendiri, atau memperhatikan kehendak Allah? Apakah berusaha mencapai tujuan dengan segala cara atau menyerahkan segala hasilnya ke dalam tangan Allah? Apakah hanya bersandar kepada kemampuan diri sendiri atau bersandar kepada Allah dengan takut dan gentar? Jika kita memeriksa diri sendiri dengan demikian serius, kita akan menemukan bahwa dalam kehidupan dan pelayanan kita, banyak hal yang masih alamiah, masih ciptaan lama; karena itu, tidak dapat menghasilkan buah-buah kebangkitan. Karena itu, penanggulangan alamiah adalah penyelamatan yang sangat kita perlukan.
III. PENANGGULANGAN ALAMIAH
1. Fakta yang Obyektif
Menanggulangi alamiah sama halnya menanggulangi daging dan diri, yaitu berdasarkan fakta yang obyektif. Karena manusia lama kita telah disalibkan bersama dengan Kristus, maka alamiah kita juga telah dibereskan dalam manusia lama. Dalam pandangan Allah ini adalah fakta yang telah rampung. Kita juga harus nampak fakta ini dalam Roh Kudus. Hanya mereka yang nampak fakta yang obyektif ini yang bisa memiliki pengalaman penanggulangan yang subyektif.
2. Pengalaman yang Subyektif
Daging, diri, dan alamiah, ketiganya adalah ekspresi dari manusia lama. Karena itu, prinsip penanggulangannya juga sama : di satu pihak kita memiliki fakta yang obyektif, dan di pihak lain kita memerlukan pengalaman yang subyektif. Fakta yang obyektif adalah Kristus telah menyalibkan manusia lama kita, sedangkan pengalaman yang subyektif adalah penerapan kematian Kristus bersandarkan Roh Kudus atas diri kita. Jika kita menerapkannya pada daging, ini adalah menanggulangi daging; jika kita menerapkannya pada opini kita, ini adalah menanggulangi diri; dan jika kita menerapkannya pada kemampuan dan kekuatan kita, ini adalah menanggulangi alamiah.
IV. PROSES PENGALAMAN
MENANGGULANGI ALAMIAH
Proses pengalaman menanggulangi alamiah mirip dengan menanggulangi daging.
1. Nampak Manusia Lama Kita
Telah Disalibkan dengan Kristus
Penampakan rohani ini adalah langkah pertama dari pengalaman menanggulangi alamiah. Kita harus nampak bahwa manusia lama telah disalibkan dengan Kristus, baru bisa menghasilkan penanggulangan selanjutnya.
2. Nampak Alamiah Adalah
Ekspresi yang Kuat dari Manusia Lama
Ini juga adalah satu penampakan rohani. Tentu saja, ini juga termasuk nampak mengacu kepada apa alamiah itu dan apa ekspresi-ekspresinya pada diri kita.
3. Menerima Penyaliban Kristus atas Alamiah
Setelah kita nimpak kedua butir pertama di depan, dengan sendirinya kita akan menerima penyaliban Kristus atas alamiah kita, yaitu kita menerapkan penyaliban Kristus bersandarkan kekuatan Roh Kudus pada ekspresi alamiah kita. Begitu kita menerima dan menerapkannya, semua kemampuan alamiah kita akan memiliki "cap" kematian dan menjadi layu dan memudar. Penerimaan ini adalah titik krisis rohani yang besar dalam hidup kita; mungkin men jadi Pniel kita dalam pengalaman. Di sinilah kekuatan dan kemampuan alamiah kita dijamah oleh Allah, dan sendi pangkal paha, tempat kekuatan tubuh kita, menjadi pincang. Selanjutnya, kita tidak bisa seperti dulu dengan semau sendiri memakai kekuatan dan kemampuan kita. Ini berarti kita telah melalui pos menanggulangi alamiah, telah memiliki satu pengalaman yang subyektif.
V. PENERAPAN PENGALAMAN
MENANGGULANG1 ALAMIAH
1. Dalam Persekutuan Roh Kudus
Butir pertama dalam penerapan pengalaman penanggulangan alamiah, ialah kita harus di dalam persekutuan Roh Kudus. Baik menanggulangi daging atau menanggulangi alamiah, jika kita ingin memiliki pengalaman yang terus-menerus, kita harus hidup di dalam persekutuan Roh Kudus. Untuk menerapkan pengalaman ini, kita perlu menerapkan kematian salib bersandarkan Roh Kudus. Jika kita tidak hidup di dalam persekutuan Roh Kudus, kita tidak dapat hidup bersandarkan Roh Kudus, tidak dapat menerapkan kematian salib.
2. Membiarkan Roh Kudus Menerapkan
Penyaliban Kristus atas Setiap Hal dari
Alamiah Kita yang Ditemukan
Jika kita hidup di dalam persekutuan Roh Kudus, kita perlu membiarkan Roh Kudus menerapkan penyaliban Kristus atas setiap hal dari alamiah kita yang kita temukan. Dengan kata lain, setiap kali kita menemukan siasat, cara, dan kekuatan kita, kita harus segera menerapkan kematian salib pada hal-hal itu, menerapkan cap kematian salib pada semua ekspresi konkret dari alamiah tersebut. Ini bukan penerimaan sekali untuk selamanya, melainkan harus menjadi penerapan sehari-hari. Kita harus menerapkan salib pada alamiah kita hari demi hari dan waktu demi waktu. Sejak semula, ketika kita menerima pekerjaan salib, kita harus belajar di dalam persekutuan Roh Kudus membiarkan Allah menjamah setiap, ekspresi alamiah kita. Kita mungkin kaya dalam pikiran dan kemampuan, tetapi kita harus menjadi orang yang menerima salib dan memikul salib; salib harus terus-menerus meremukkan kita. Jika Tuhan merahmati, setelah sejangka waktu, semua alamiah kita lambat laun akan melewati kematian dan timbullah keadaan dalam kebangkitan.
KATA PENUTUP
Menanggulangi daging dan menanggulangi alamiah adalah pengalaman-pengalaman yang lebih dalam dari tahap salib. Karena itu, setelah melibat kedua pengalaman ini, kita masih perlu membicarakannya secara ringkas.
Menanggulangi daging dan menanggulangi alamiah adalah dua pengalaman yang sangat penting dalam perkara rohani. Ini tidak hanya berkaitan dengan hayat, tetapi juga berkaitan dengan pelayanan. Penanggulangan diri dan alamiah adalah persiapan-persiapan bagi pelayanan kita terhadap Allah. Jika kita mau memiliki pelayanan yang sesuai dengan hasrat hati Allah, penanggulangan diri dan alamiah adalah suatu keharusan. Tegasnya, orang yang diri dan alamiahnya belum ditanggulangi, tidak dapat melayani Allah.
Hal ini dengan jelas diperlihatkan kepada kita dalam diri Musa. Sebelum Allah memakainya, pekerjaan yang Allah lakukan atasnya adalah menanggulangi diri dan alamiahnya. Ketika ia berusia 40 tahun, ia sangat kuat dalam alamiahnya. Ia "dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya" (Kis. 7:22). Karena itu, ia ingin memakai kekuatannya sendiri untuk menyelamatkan bani Israel. Suatu hari, ketika ia melihat seorang Mesir memukul seorang Ibrani, salah seorang dari saudara-saudaranya, ia memukul mati orang Mesir itu dan menyembunyikan mayatnya di dalam pasir. Itu adalah kekuatan alamiahnya atau muslihatnya. Bagaimanapun, alamiahnya tidak dapat Allah pakai. Allah tidak dapat memakai orang yang bekerja untuk-Nya dengan berdasarkan alamiahnya. Karena itu, Allah membangkitkan suatu lingkungan yang memaksanya lari ke padang gurun, dan selama 40 tahun Allah mengikisnya, menanggulanginya, untuk membereskan alamiahnya. Ketika Musa menulis Mazmur 90, ia berkata, "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun " (ayat 10). Ketika ia berusia 80 tahun, yang menurut perhitungannya sendiri adalah waktu hari-hari yang lemah dan saatnya mati, Allah memanggil dan memakainya. Dan, pada saat Allah memanggilnya, Allah menampakkan kepadanya visi semak-semak yang menyala, tetapi tidak hangus terbakar, suatu petunjuk bagi Musa bahwa meskipun kekuatan pekerjaan Allah terekspresi melalui dirinya, tetapi tidak memakai apa yang semula ada padanya, yaitu alamiah, sebagai bahan bakar.
Ketika kita menelaah kehidupan Musa, kita nampak bahwa sejak ia dipanggil oleh Allah, ia tidak pernah lagi memakai kekuatan dan kemampuannya sendiri dalam bekerja untuk-Nya. Sejak kali pertama ia melihat Firaun di Mesir sampal saat kematiannya di Gunung Nebo, selama 40 tahun, meskipun ia masih memiliki kemampuan, tetapi itu bukan lagi yang alamiah, melainkan yang telah melewati peremukan dan kebangkitan.
Menanggulangi alamiah berkaitan dengan menanggulangi diri. Orang yang mampu dan banyak cara selalu memiliki banyak opini. Jika orang yang tidak memiliki opini atau ide, adalah orang yang tidak memiliki kemampuan. Karena kemampuan alamiah Musa telah ditanggulangi, maka selama 40 tahun ia melayani Tuhan, ia tidak memiliki opini atau idenya sendiri. Meskipun ia berdoa kepada Allah, ia hanya mencari pimpinan-Nya, ia tidak pernah menyatakan opini atau idenya; kecuali satu-satunya saat ia terusik oleh bangsa Israel, ia berbicara dengan gusar dan dua kali memukul batu. Ia melayani Allah tidak berdasarkan kekuatannya sendiri atau opininya sendiri. Ia adalah seorang yang benar-benar telah sepenuhnya dibebaskan dari diri dan alamiah. Karena itu, ia menjadi orang yang paling dipakai oleh Allah pada zaman Perjanjian Lama.
Dengan prinsip yang sama Allah memimpin bani Israel untuk melayani Dia di padang gurun. Ketika bani Israel dipimpin ke padang gurun, tempat yang Allah kehendaki agar mereka melayani Dia, pelajaran pertama untuk mereka adalah menampakkan kepada mereka bahwa kekuatan mereka harus dikesampinglian, opini mereka juga perlu dikesampingkan. Mereka tidak dapat melayani Allah dengan kekuatan mereka, juga tidak dapat melayani Allah menurut opini mereka. Sarana yang mereka pakai untuk melayani Allah adalah tabernakel dan sandaran mereka melayani Allah adalah kurban persembahan. Tabernakel menyatakan bahwa semua cara dan pengaturan mereka mengenai pelayanan Allah harus berdasarkan contoh yang ditunjukkan di atas gunung, menurut petunjuk Allah, dan mutlak tidak dapat menurut opini mereka sendiri. Kurban persembahan menyatakan bahwa pelayanan mereka harus sepenuhnya bersandar kepada kurban-kurban persembahan, bukan bersandarkan kekuatan dan kemampuan mereka, demikian baru bisa berkenan kepada Allah, memuaskan Allah. Karena itu, ketika Allah di Gunung Sinai mempersiapkan bani Israel untuk melayani- Nya, di satu aspek, Dia memberi mereka tabernakel, menunjukkan bahwa mereka perlu mengesampinglian ide mereka, dan di aspek lain memberi mereka kurban persembahan, menunjukkan bahwa mereka perlu mengesampingkan alamiah mereka. Pelayanan mereka melalui tabernakel berarti pelayanan yang tanpa opini diri; pelayanan mereka melalui kurban persembahan berarti pelayanan yang tanpa alamiah. Karena tabernakel dan kurban persembahan melambangkan Kristus, maka kita harus dengan Kristus sebagai hikmat dan cara kita sebagai kekuatan dan kemampuan kita, membiarkan Dia menggantikan opini dan alamiah kita. Demikian, baru kita dapat melayani Allah.
Orang yang dirinya telah disangkal dan alamiahnya telah diremukkan di hadapan Allah, maka ia menjadi orang yang lemah dan pudar, sebaliknya Kristus makin membesar di dalamnya. Ini tidak hanya suatu titik belok yang besar dalam hayat dan pelayanan rohaninya, tetapi juga merupakan satu perkara yang besar dalam pandangan Allah. Sepanjang zaman Allah memimpin kaum saleh-Nya adalah agar mereka melewati tahap peremukan alamiah untuk mencapai kepenuhan perawakan Kristus. Kita dapat melihat hal ini dalam Alkitab pada banyak orang yang dipimpin oleh Allah. Bukan hanya berlaku pada Musa, tetapi juga pada Abraham dan Yakub. Sebelum dan sesudah kelahiran Ismael dalam hidup Abraham dan 20 tahun pengembaraan Yakub di Padan-Aram, sama dengan 40 tahun Musa di padang gurun, semua itu menggambarkan keadaan manusia yang hidup dalam, alamiah. Hingga Abraham disunat, sendi pangkal paha Yakub dijamah dan ia menjadi pincang, serta Musa mencapai usia delapan puluh, barulah keadaan mereka menggambarkan bagaimana alamiah mereka telah diremukkan. Melalui peremukan itu, ada suatu perubahan besar dalam keadaan mereka di hadapan Allah.
Allah tidak hanya memimpin kaum saleh Perjanjian Lama secara demikian, tetapi juga memakai banyak perkara dan benda dalam Alkitab untuk melambangkan hal ini. Sebagai contoh, susunan Kemah Pertemuan (tabernakel) dan perjalanan bani Israel di padang gurun, semuanya melambangkan pengalaman rohani orang Kristen, di mana peremukan alamiah menduduki tempat yang penting.
Terlebih dulu marilah kita membahas perlambangan susunan tabernakel. Tabernakel terdiri atas tiga bagian : pelataran luar, tempat kudus, dan tempat maha kudus. Ketiga bagian ini menunjukkan ketiga tahap pengalaman rohani kita. Di pelataran luar ada mezbah dan bejana pembasuhan. Mezbah melambangkan penebusan salib, dengan penekanan pada pemberesan masalah dosa sehingga kita beroleh selamat. Bejana pembasuhan melambangkan pencucian Roh Kudus, dengan penekanan pada pencucian semua pencemaran duniawi pada diri kita, sehingga kita diperbarui. Karena itu, pelataran luar melambangkan tahap awal keselamatan kita, yang sama dengan kedua tahap pertama dari pengalaman hayat rohani kita.
Di tempat kudus ada meja roti sajian, kaki pelita emas, dan mezbah pembakaran ukupan emas. Roti sajian melambangkan Kristus sebagai suplai hayat kita untuk kepuasan dan kenikmatan kita. Kaki pelita emas melambangkan Kristus sebagai terang kita sehingga kita memperoleh penerangan. Mezbah pembakaran ukupan emas melambangkan Kristus sebagal perkenanan kita di hadapan Allah, sehingga kita boleh memiliki damai sejahtera dan sukacita. Ini semua adalah keadaan dari mengalami Kristus sebagai hayat kita, sama dengan tahap ketiga dari pengalaman hayat rohani kita, tahap yang lebih dalam. Namun dalam pengalaman-pengalaman ini masih ada unsur perasaan dalam jiwa. Karena itu, keadaan rohani orang-orang yang berada dalam tahap ini naik turun dan tidak begitu stabil.
Setelah tempat kudus, masuk lebih dalam adalah tempat maha kudus. Dalam tempat maha kudus hanya ada sebuah tabut yang di dalamnya tersimpan loh-loh batu yang berisi perjanjian, buli-buli emas berisi manna, dan tongkat Harun yang pernah bertunas (Ibr. 9:4). Loh-loh batu melambangkan Kristus sebagal terang, berpadanan dengan kaki pelita emas di tempat kudus. Manna yang tersembunyi itu melambangkan Kristus sebagai suplai hayat, berpadanan dengan roti sajian di tempat kudus. Tongkat Harun yang pernah bertunas melambangkan Kristus sebagai yang memperkenan kita di hadapan Allah, berpadanan dengan mezbah pembakaran ukupan di tempat kudus. Jadi, ketiga benda dalam tabut ini sama sifat hakikinya dalam perlambangan seperti ketiga benda dalam tempat kudus; tetapi, keadaannya berbeda. Di tempat kudus, roti sajian disajikan, terang dari kaki pelita emas memancar, dan mezbah pembakaran ukupan emas menyebarkan keharuman, semuanya terpamerkan. Namun, di dalam tempat maha kudus, ketiga benda itu tersembunyi. Roti sajian yang disajikan menjadi manna yang tersembunyi, kaki pelita yang bersinar menjadi hukum yang tersembunyi, dan mezbah pembakaran ukupan yang harum menjadi tongkat bertunas yang tersembunyi.
Keadaan di tempat maha kudus melambangkan keadaan di dalam roh kita. Ketika seseorang berpaling kepada rohnya, ia masuk ke dalam tempat maha kudus. Ia tidak lagi hidup menurut perasaan jiwanya, atau memamerkan sesuatu di hadapan manusia. Semuanya tersembunyi; tidak lagi di permukaan, tetapi jauh di dalam. Pada saat ini, hayat rohaninya mencapai tahap kematangan. Karena itu, keadaan di tempat maha kudus melambangkan tahap keempat dari pengalaman hayat rohani kita.
Bagaimana kita bisa dari pengalaman yang dangkal di pelataran luar masuk ke dalam pengalaman yang lebih dalam di tempat maha kudus? Ini perlu melewati dua pos. Pertama, kita, perlu melewati tirai yang memisahkan pelataran luar dengan tempat kudus. Tirai ini, menurut Alkitab, bukanlah sebuah pemisah yang sangat besar dan tidak terlalu sulit untuk dilewati. Kedua, untuk masuk ke dalam tempat maha kudus dari tempat kudus, kita perlu melewati tabir. Tabir ini adalah satu pos yang sangat besar. Untuk masuk ke dalam tempat maha kudus, tabir ini harus dikoyakkan. Terkoyaknya tabir ini melambangkan teremukkannya diri kita. Jadi, lambang ini menunjukkan kepada kita bahwa diri kita harus dikoyakkan; setelah diri dan alamiah kita diremukkan, barulah kita dapat terlepas dari keadaan kita yang dangkal dan masuk ke kedalaman roh, memiliki persekutuan dengan Allah muka dengan muka dan hidup dalam hadirat Allah, yaitu hidup di dalam Allah. Karena itu, peremukan alamiah benar-benar adalah satu titik belok yang besar dalam tahapan hayat rohani kita.
Perjalanan bani Israel memasuki Tanah Kanaan juga melambangkan proses perjalanan rohani orang Kristen. Tanah Kanaan mengacu kepada alam surgawi dan berpadanan dengan tempat maha kudus. Mereka yang di Tanah Kanaan adalah mereka yang hidup di tempat maha kudus. Mereka mengembara di padang gurun selama 40 tahun, sampai semua ciptaan lama berangsur-angsur lenyap. Hingga menyeberangi Sungai Yordan, itu berpadanan dengan terkoyaknya tabir. Sejak itu, daging mereka disingkirkan.
Karena itu, kita harus mulai dari mezbah terus maju ke depan, sampai suatu hari kita mengalami pengoyakan tabir dan masuk ke dalam tempat maha kudus. Kita juga harus memulai perjalanan kita dari Gunung Sinai dan maju ke depan sampai kita mencapai Sungai Yordan, tempat ciptaan lama kita dibereskan, baru kita dapat masuk ke Tanah Kanaan. Orang-orang usang dari bani Israel melambangkan barang-barang ciptaan lama di dalam kita, yaitu daging, diri, dan alamiah kita. Karena itu, makna rohani Allah menolak orang-orang usang dari bani Israel ialah Allah menolak segala sesuatu milik ciptaan lama di dalam kita. Sejak saat kita mulai belajar melayani Allah, Dia menyuruh kita setiap hari mengalami kematian untuk mematikan dan menyingkirkan semua ciptaan lama di dalam kita. Allah memakai waktu yang lama dan perjalanan yang panjang untuk memimpin kita, "Yakub-Yakub" yang telah diperkenan di hadapan Allah dan "bani Israel" yang telah ditebus, sampai akhirnya semua hal dari daging, opini diri, dan alamiah kita bisa disingkapkan satu demi satu dalam pengalaman riil kita, kemudian Dia mematikannya satu demi satu bagi kita. Karena itu, ketika adakalanya kita nampak daging dan opini disingkapkan di dalam gereja, kita tidak perlu takut atau merasa kecewa, karena tanpa disingkapkan, hal-hal itu akan tetap ada secara tersembunyi, tetapi begitu hal-hal itu disingkapkan, akan datang penyelamatan.
Tentu saja, menanggulangi daging, diri, dan alamiah memerlukan waktu yang lama. Bani Israel di padang gurun tidak melakukan apa-apa selama 40 tahun dan hanya melayani Allah. Ada yang mengangkut kemah, ada yang menyembelih domba dan lembu, dan ada yang menata roti sajian di dalam tempat kudus. Setiap kali tiang awan membubung dan sangkakala ditiup, mereka pun bergerak maju. Mereka hidup dengan cara ini selama 40 tahun, barulah angkatan yang lama diakhiri. Demikian juga, kita sebagai orang Kristen hari ini harus membayar harga, membuang dunia, menuntut Tuhan, memikul kesaksian Allah, setiap hari melayani Allah, dan berjalan bersama-Nya. Demikian, peristiwa di Tabera (Bil. 11:1-3), pemberontakan Korah dan Datan, dan tidak patuhnya Miriam kepada otoritas, ditambah sejumlah keadaan rumit lainnya di dalam kita yang tidak kita sadari, secara bertahap akan disingkapkan. Semakin banyak kita disingkapkan, semakin kita diakhiri. Jika kita terus berjalan dengan cara demikian, jika kita memerlukan delapan sampai sepuluh tahun untuk melewati Sungai Yordan dan mengakhiri ciptaan lama, itu adalah anugerah yang sangat besar dari Tuhan. Sebaliknya, jika kita tetap meletakkan hati kita di dalam dunia, apa yang kita pikirkan dan lakukan adalah hal-hal yang di luar Allah, walaupun kita juga bersidang atau. adakalanya membaca Alkitab, setelah lima puluh tahun kita tidak akan bisa menyeberangi Sungai Yordan; juga tidak akan dapat melakukannya bahkan sampai hari kita meninggalkan dunia ini. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, supaya kita nampak jalan ini dan mau menempuh jalan ini.