← Daftar isi Kelahiran Kembali · bab 12/19

MENERIMA PENDISIPLINAN ROH KUDUS

Sekarang kita akan melihat pengalaman kedua belas dalam hayat rohani kita, yaitu menerima pendisiplinan Roh Kudus.

I. MAKNA PENDISIPLINAN ROH KUDUS

Pendisiplinan Roh Kudus yang kita bahas ini bukan mengacu kepada Roh Kudus mendisiplin kita di dalam kita, itu adalah fungsi Roh Kudus di dalam kita sebagai pengurapan. Pendisiplinan Roh Kudus ini mengacu kepada apa yang Roh Kudus lakukan di lingkungan luar kita, mengacu kepada pengaturan-Nya atas setiap manusia, benda, dan perkara, yang melaluinya kita didisiplinkan.

Pekerjaan Allah yang utama atas kita melalui Roh Kudus, selain sebagai minyak urapan di dalam kita, adalah pendisiplinan-Nya di luar. Kedua aspek ini hampir meliputi semua pekerjaan Roh Kudus. Misalnya, Roma 8, yang khusus membicarakan pekerjaan Roh Kudus, di bagian depan memberi tahu kita bagaimana Roh Kudus yang mencakup hukum hayat mampu memerdekakan kita dari dosa, sehingga kita boleh bersandarkan Dia mematikan perbuatan-perbuatan daging. Pasal ini juga mengatakan bagaimana Roh Kudus memimpin kita agar kita hidup menurut Dia, dan bagaimana Ia membantu kelemahan kita serta berdoa bagi kita. Semua ini adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam kita sebagai pengurapan. Pada bagian belakang pasal ini mengatakan, "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia" (ayat 28). Ini membicarakan pekerjaan pendisiplinan Roh Kudus dalam lingkungan di luar kita. Pekerjaan pendisiplinan di luar ini bekerja sama dengan pergerakan dan pimpinan-Nya di dalam. Roh Kudus mengatur dan menentukan semua yang menimpa kita menurut kehendak Allah. Meskipun dalam banyak kesempatan hal ini untuk sementara menyebabkan penderitaan dan kesusahan, tetapi pada akhirnya mendatangkan kebaikan rohani bagi orang yang mengasihi Allah, yaitu mereka dapat diserupakan dengan gambar Anak-Nya yang mulia. Pengaturan inilah yang kita sebut dengan pendisiplinan Roh Kudus.

Mengapa pekerjaan Roh Kudus di dalam kita memerlukan kerja sama pendisiplinan di luar? Karena kalau hanya ada pekerjaan Roh Kudus yang di dalam saja, terhadap kita belum cukup. Boleh dikatakan bahwa pekerjaan Roh Kudus di dalam kebanyakan untuk orang-orang yang taat, dan pekerjaan pendisiplinan Roh Kudus di luar kebanyakan untuk orang-orang yang tegar tengkuk. Ketika Roh Kudus bergerak dan mengurapi di dalam kita dan kita menaati perasaan yang Ia berikan, kehendak Allah akan digenapkan pada diri kita, dan unsur Allah akan makin bertambah di dalam kita. Karena itu, atas orang yang taat, sudahlah cukup dengan adanya pengurapan Roh Kudus di dalam. Namun, jika kita keras kepala, jika kita tidak menaati pengurapan yang di dalam dan selalu memberontak, maka Roh Kudus terpaksa membangkitkan satu lingkungan untuk menghajar kita, mendisiplinkan kita, supaya kita tunduk. Jadi, pengurapan Roh Kudus di dalam kita adalah suatu tindakan yang manis dari kasih Allah terhadap kita dan merupakan hasrat hati-Nya yang semula, sedangkan pendisiplinan Roh Kudus di luar adalah tindakan tangan Allah, tindakan yang terpaksa Ia lakukan, adalah suatu tindakan tambahan.

Jadi, baik dalam hasrat semula Allah dan dalam pengajaran Perjanjian Baru, posisi pendisiplinan Roh Kudus tidak sepenting pengurapan Roh Kudus. Dalam firman Allah, banyak dikatakan mengenai Roh Kudus sebagai pengurapan, seperti pimpinan Roh Kudus, pergerakan Roh Kudus, penerangan Roh Kudus, juga keharusan kita untuk hidup menurut Roh Kudus, berperilaku bersandar Roh Kudus, menghasilkan buah-buah Roh Kudus, dan lain-lain. Namun, Alkitab sangat sedikit menyebutkan dengan tegas mengenai pendisiphnan Roh Kudus; dan sebenarnya dalam ABdtab tidak mencantumkan istilah ini. Ini karena pendisiplinan Roh Kudus bukanlah perkara yang menyenangkan perasaan Allah. Keadaan itu dapat disamakan dengan kenyataan bahwa umumnya orang tua selalu menyiapkan hal-hal yang baik untuk anak-anak mereka, bukan cambuk dan tongkat. Dalam banyak keluarga, orang tua terpaksa menggunakan teguran dan cambukan karena kekeraskepalaan dan pemberontakan anak-anak. Sebenarnya, bagi perasaan orang tua, semua hajaran itu tidak pernah menyenangkan. Demikian pula, yang Allah siapkan bagi kita dalam Perjanjian Baru selalu positif, tetapi karena kedegilan, ketegaran, kedurhakaan, dan ketidaktaatan kita, Allah terpaksa mendisiplinkan kita. Dalam situasi yang normal di antara kaum saleh dalam gereja, pengurapan Roh Kudus harus selalu melampaui pendisiplinan Roh Kudus; tidak seharusnya sering ada pendisiphnan. Jika anak-anak dalam suatu keluarga selalu dihajar setiap hari, itu pasti tidak normal.

Karena itu, ketika kita menerima pendisiplinan Roh Kudus, kita tidak boleh menganggapnya sebagai sesuatu yang menyenangkan. Beberapa saudara saudari sepertinya merasa mulia ketika mempersaksikan pengalaman mereka sewaktu didisiplin oleh Roh Kudus. Seharusnya tidak demikian. Tak ada seorang anak pun yang bangga setelah dihukum orang tuanya. Demikian juga, kita harus malu ketika kita menerima pendisiplinan Roh Kudus. Kita harus sadar akan kedegilan, ketegaran, kedurhakaan, dan ketidaktaatan kita sendiri, yang menyebabkan penghajaran dari Allah Bapa kita. Tak diragukan, Ia memukul kita karena Ia mengasihi kita, tetapi ketika kita membicarakan penghukuman-Nya, itu bukanlah kemuliaan kita! Itu karena kita sangat pemberontak dan keras kepala, seperti keledai tanpa pengertian, sehingga Allah terpaksa mendisiphn kita. Ini adalah aib kita. Karena itu, kita seharusnya tidak bangga terhadap pendisiplinan yang kita terima. Orang yang bangga karena pendisiplinan Roh Kudus adalah orang yang tidak mengenal sifat pendisiplinan Roh Kudus.

Karena pendisiplinan Roh Kudus adalah hal yang tidak menyenangkan, maka dalam pemikiran-Nya yang semula, Allah lebih menekankan pengurapan yang di dalam, yang bersifat positif, daripada pendisiplinan yang di luar, yang bersifat negatif. Tetapi ditinjau dari kondisi kita, pendisiplinan Roh Kudus adalah yang paling diperlukan, karena pada dasarnya kita bersifat pemberontak durhaka, dan tidak taat. Kita sering mengabaikan dan tidak menaati pergerakan dan terang Roh Kudus. Sepertinya pengurapan-Nya, yang adalah tindakan-Nya yang manis, tidak cukup untuk merampungkan tujuan-Nya, sehingga kita perlu tambahan pendisiplinan di luar sebagai faktor yang bekerja sama untuk memukul dan menanggulangi kita agar kita tunduk. Karena itu, dalam pengalaman kita, pendisiplinan Roh Kudus adalah satu perkara yang tidak boleh diabaikan.

II. TUJUAN PENDISIPLINAN ROH KUDUS

Tujuan pendisplinan Roh Kudus terhadap kita dapat dibagi menjadi tiga aspek : hajaran, didikan, dan peremukan.

1. Hajaran

Ibrani 12:10 mengatakan bahwa Bapa segala roh menghajar kita "untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya" Hajaran yang disebutkan di sini adalah tujuan pertama dari pendisiplinan Roh Kudus.

Penghajaran adalah penghukuman. Adanya penghukuman dikarenakan adanya pemberontakan, kekeraskepalaan, dan ketidaktaatan kita. Sering kali dalam pengalaman kita, Roh Kudus telah berbicara di dalam kita dan telah mengurapi kita agar mengetahui kehendak Allah, tetapi karena kekeraskepalaan, ketegaran, atau beberapa alasan lain, kita tidak mau mendengarkan suara Allah dan mengabaikan perasaan Roh Kudus. Karena itu, Allah terpaksa mengatur situasi lingkungan melalui Roh Kudus untuk membuat kita merasa susah, sakit, tertekan, dan gelisah, sehingga kita dapat dihukum dan dihajar.

MisaInya, ada saudara yang atas keuangan memperoleh pendapatan dengan cara yang tidak wajar. Roh Kudus meneranginya untuk menanggulangi hal ini. Akan tetapi, karena kesombongannya atau karena kekhawatirannya akan kerugian harta benda, ia tidak mau menaati kehendak Allah atas hal ini. Meskipun Roh Kudus berulang kali bergerak dan mendorongnya, ia tetap tidak mau taat. Pada saat ini Allah tidak memiliki pilihan lain kecuali menggunakan lingkungan di luar untuk menghajar dia. Mungkin ia tertabrak oleh mobil; walaupun tidak sampai meninggal atau luka berat, tetapi ia menderita kesakitan. Sementara ia berbaring di rumah sakit, mengeluh dalam penderitaan, Roh Kudus berbicara lagi kepadanya, mengingatkannya akan permintaan yang dahulu. Ia menjadi rendah hati, tunduk, dan bersedia menanggulanginya menurut kehendak Allah. Setelah ia menaati dan menerima penanggulangan, lukanya secara bertahap segera sembuh. Inilah pendisiplinan lingkungan yang diatur oleh Roh Kudus menurut kehendak Allah dan juga menurut keperluan manusia, terutama untuk menanggulangi kekeraskepalaan dan ketidaktaatan manusia.

Tujuan penghajaran secara rinci dapat dibagi menjadi dua. Satu adalah untuk menanggulangi pemberontakan. Ini murni pemukulan dan penghukuman, untuk mengatasi pemberontakan manusia. Yang lain adalah untuk berpaling dari kesalahan kita. Yaitu ketika manusia jatuh ke dalam kesalahan, Roh Kudus memberinya perasaan, namun ia tidak mau berpaling; atau ketika manusia akan melakukan suatu kesalahan, Roh Kudus memberikan perasaan, namun ia tetap menuju ke kesalahan itu; maka Roh Kudus terpaksa membangkitkan suatu lingkungan sebagai pukulan untuk memperingatkan manusia, agar ia berpaling dari kesalahan atau dari keadaan yang hampir jatuh ke dalam kesalahan. Semua ini terhitung sebagai pendisiplinan.

2. Didikan

Tujuan kedua atau kategori kedua dari pendisiplinan Roh Kudus adalah didikan. Sebenarnya hajaran yang kita sebutkan di depan boleh juga dipandang sebagai suatu didikan. Namun, didikan yang bersifat penghajaran adalah penghukuman, disebabkan oleh kesalahan manusia. Sedangkan pendisiplinan didikan murni bukan karena penghukuman atau karena kesalahan manusia. Sekalipun manusia sedikit pun tidak berbuat salah, ia masih memerlukan didikan. Karena itu, dalam aspek ini, pendisiplinan Roh Kudus sungguh diperlukan oleh setiap manusia.

Didikan yang diberikan oleh pendisiplinan Roh Kudus adalah untuk bekerja sama dengan pekerjaan pengurapan Roh Kudus di dalam kita, guna mencapai tujuan perbauran Allah dengan kita. Kita sudah sering mengatakan bahwa tujuan pengurapan Roh Kudus di dalam kita adalah unt-uk mengurapkan unsur Allah ke dalam kita. Akan tetapi, di dalam kita masih terdapat banyak unsur diri sendiri, yang menggantikan unsur Allah dan yang berlawanan dengannya, menjadi suatu kesulitan yang besar bagi Allah. Karena itu, didikan pendisiplinan Roh Kudus ini diberikan untuk meruntuhkan unsur diri kita sendiri melalui membangkitkan hngkungan sehingga unsur Allah dapat diurapkan ke dalam kita. Jadi, pendisiplinan hajaran adalah menanggulangi kesalahan manusia dan berhubungan dengan masalah tingkah laku luaran manusia, sedangkan pendisiplinan didikan menanggulangi unsur manusia dan berhubungan dengan masalah sifat batini manusia. Tak peduli apakah tingkah laku manusia di luar baik atau buruk, sifat manusia di dalam selalu berlawanan dengan Allah.

Misalnya, kita akan lebih sukar mengoleskan lapisan cat tambahan pada satu meja kecil yang sebelumnya telah dicat tebal dengan cat mengkilap. Permukaan yang demikian tidak mudah menyerap cat yang baru. Dengan kata lain, unsur semulanya menjadi berlawanan dengan unsur yang akan ditambahkan. Karena itu, kita harus mengamplas dan menyingkirkan cat yang semula, demikian permukaannya menjadi kasar dan lebih mudah menyerap cat yang baru. Demikian juga, jika kita dipenuhi unsur diri, Roh Kudus sukar untuk mengurapi kita dengan pergerakan dan pengurapan-Nya di dalam. Karena itu, Roh Kudus perlu membangkitkan suasana yang bertindak sebagai amplas bagi kita. Pengamplasan seperti ini bukan untuk menghukum kita karena pemberontakan, juga bukan untuk mengoreksi kesalahan kita, tetapi untuk membuat kita yang sebelumnya menglulap, belum diproses, dan keras, menjadi lebih kasar, sehingga Roh Kudus bisa mengurapkan unsur Allah ke dalam kita.

Banyak saudara saudari yang seperti gelas, licin dan keras. Walaupun Roh Kudus sering berbicara kepada mereka, mereka tidak mau mendengar. Mereka telah mendengar banyak berita; sesungguhnya mereka telah menjadi seorang 'profesional tua' atas berita-berita itu. Tidak peduli berita itu mengenai apa, walaupun baru mendengarkan bagian depannya, mereka sudah tahu kelanjutannya. Namun sebenarnya, mereka sama sekali belum menjamah realitas berita itu. Orang semacam ini hanya dapat ditanggulangi oleh Roh Kudus melalui berbagai kesulitan dalam hngkungan yang memotong dan mengupas di sana sini; demikian baru mereka mau mendengarkan berita-berita itu dengan serius. Pada saat itu, perkataan Roh Kudus, pengurapan dan pergerakan Roh Kudus baru menjadi efektif. Karena itu, tujuan kedua pendisiplinan Roh Kudus adalah untuk bekerja sama dengan pengurapan Roh Kudus di dalam., dengan demikian mendidik kita sehingga kita bisa menerima pekerjaan Roh Kudus.

Untuk menyiapkan telur goreng berbumbu, kulit telur itu harus dipecahkan agar bumbunya dapat meresap ke dalam telur. Ketika Allah ingin meresap ke dalam. kita melalui Roh Kudus, sifat kita yang seperti kulit telur yang mengkilap, perlu dipecahkan sebagai proses kerja sama bagi pekerjaan peresapan Allah. Inilah tujuan didikan dari pendisiplinan Roh Kudus.

Untuk tujuan pendidikan, pendisiplinan Roh Kudus tidak hanya diberikan untuk memecahkan kita sehingga unsur Allah dapat lebih terbaur dengan diri kita, tetapi juga untuk memasak kita, karena sifat kita begitu mentah dan liar. Kita menanak nasi, bukan karena berasnya bersalah dan perlu dikoreksi. Kita menaruh beras itu di dalam dandang dan memasaknya dengan air di atas api adalah agar beras itu, yang tadinya mentah dan keras, dapat menjadi matang dan lunak, sedap dan enak untuk dimakan. Demikian juga, sebelum ditanggulangi Allah, kita semua mentah, liar, dan keras. Kita perlu pendisiplinan Allah melalui Roh Kudus dan melalui lingkungan membakar dan memasak kita. Proses masak yang demikian akan membuat kita menderita dan sakit, sepertinya kita melewati api dan air, tetapi itu dilakukan agar keadaan kita yang mentah dan keras dapat menjadi matang dan lunak, dan agar kita dapat memperoleh keharuman kematangan, bisa menyuplai dan mengenyangkan manusia.

Seorang yang mentah, ia bukan hanya liar dan keras, tetapi juga memiliki bau yang tidak sedap, seperti ikan atau daging yang belum dimasak, tak peduli sebaik apa pun mutunya. Seorang saudara atau saudari yang mentah mungkin mempunyai banyak kebajikan alamiah; ia mungkin sangat ramah dan lemah lembut, mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan, bahkan dengan tulus melayani Tuhan. Ini semua baik. Namun karena la masih mentah, belum matang, masih alamiah, belum dibangkitkan, maka semua kebajikannya membawa bau insani yang tidak sedap, tidak bisa membuat orang mencium aroma Kristus. Namun jika saudara atau saudari yang demikian telah melewati kesulitan untuk sejangka waktu atau telah melewati sakit yang serius, kita akan menemukan bahwa mereka tetap ramah dan lembut, tetap mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan, dan melayani Tuhan, tetapi aromanya telah berbeda; bau yang mentah dan tidak sedap itu telah jauh berkurang, sedangkan aroma yang harum mulai menyebar dari dirinya. Jika demikian, kita harus menyembah Tuhan dan berkata bahwa saudara atau saudari ini benar-benar telah dididik oleh pendisiplinan Roh Kudus.

3. Peremukan

Tujuan ketiga dari pendisiplinan Roh Kudus adalah penghancuran atau peremukan. Kita sudah berulang kali mengatakan bahwa tujuan inti pekerjaan Allah di dalam kita adalah untuk pembauran dan pembangunan unsurNya ke dalam kita. Untuk mencapai tujuan ini, terleblh dulu manusia kita ini harus dihancurkan. Tujuan didikan yang telah kita bicarakan di depan itu remeh dan kecil jika dibandingkan dengan ini. Pendisiplinan didikan hanya membuat satu pembukaan atau pecahan kedl atas kita, sedangkan peremukan memecahkan dan menghancurkan kita seluruhnya, sampai akhirnya semua yang berasal dari alamiah dan ciptaan lama pada diri kita benar-benar hancur. Karena itu, peremukan adalah langkah yang paling hebat, juga merupakan tujuan akhir dalam pendisiplinan Roh Kudus.

Akan tetapi, hingga hari ini, di tengah-tengah kita tidak banyak orang yang telah didisiplin oleh Roh Kudus secara demikian hebat; di antara kita juga tidak banyak yang mengenal pendisiplinan Roh Kudus sampai tingkat yang demikian. Sebaliknya, kita nampak beberapa orang yang ketika mengalami pendisiplinan Roh Kudus, mereka malah menjadi semakin keras dan semakin terbangun dalam diri sendiri. Itu adalah keadaan yang salah. Normalnya, semakin seseorang didisiplin oleh Roh Kudus, ia semakin diakhiri. Hasil, akhir dari pendisiplinan Roh Kudus selalu akan membuat manusia kita dihancurkan, diremukkan, dan dikurangi sampai habis. Melalui pendisiplinan Roh Kuduslah Allah benar-benar menghancurkan ciptaan lama kita sehingga unsur ciptaan baru-Nya dapat dibangun di dalam kita.

Kalau kita menganggap pendisiplinan Roh Kudus hanya sebagai penghajaran atau pendidikan rohani, maka pendisiplinan semacam itu hanya akan membuat manusianya semakin dibangun dan diperlengkapi. Sepertinya seseorang yang tadinya belum lengkap kini telah menjadi lengkap setelah melalui didisiplinkan Roh Kudus; atau seseorang yang sebelumnya berada dalam keadaan yang kasihan, setelah didisiplin oleh Roh Kudus, kini telah memiliki bentuk. Namun pendisiplinan Roh Kudus selamanya tidak bertujuan semacam itu. Sebaliknya, pendisiplinan Roh Kudus diberikan untuk meremukkan dan menghancurkan orang yang utuh dan untuk memporakporandakan orang yang memiliki bentuk. Tujuan yang sejati dari pendisiplinan Roh Kudus bukan untuk membangun manusia kita, melainkan untuk meremukkan kita. Karena itu, terhadap orang yang selalu ramah, Roh Kudus akan menggarap dia sampai satu taraf di mana ia tidak dapat lagi menjadi ramah; terhadap orang yang tidak pernah berebut dengan orang lain, Roh Kudus akan menggarap dia sampai satu taraf sehingga ia tidak bisa tidak berebut. Sekali-kali jangan mengira bahwa karena seseorang tidak ramah, maka ia didisiplin oleh Roh Kudus. Ada orang selalu ramah, tetapi Roh Kudus membangkitkan suasana untuk "mengganggu" mereka, sehingga mereka tidak bisa lagi menjadi ramah, bahkan mereka akan sangat emosi dan marah-marah. Marah-marah sedemikian itu adalah peremukan bagi mereka.

Alasan Allah meremukkan kita adalah semua unsur alamiah kita tidak mempunyai tempat di hadapan Allah. Keramahan, ketaatan, dan beberapa kebaikan lainnya dari banyak orang adalah alamiah dan adalah bawaan sejak lahir. Ada orang yang sifat bawaannya tidak bisa marah-marah, untuk itu ia dipuji orang lain dan ia juga, merasa dirinya patut dipuji. Siapa tahu, kebaikan alamiahnya itu justru menjadi penghalang terbesar bagi pekerjaan Roh Kudus di atas dirinya, yang membuat hayat rohaninya tidak bisa bertumbuh. Karena itu, Roh Kudus terpaksa sekali demi sekall membangkitkan suasana. untuk mengganggu orang ini dan membuatnya kehilangan kesabarannya. Sampai suatu hari, ia tidak akan dapat lagi menahan semua gangguan itu; ia akan kehilangan kesabarannya dan meledaklah amarahnya dengan hebat. Setelah peristiwa itu, ia akan merasa putus asa, merasa bahwa ia telah kehilangan kesabarannya, penuh nafsu daging, ia tak dapat lagi melayani Tuhan. Karena telah dengan hebat marah- marah, bukankah semuanya telah berakhir? Siapa tahu, ketika ia takut diakhiri, Roh Kudus justru "takut" kalau ia tidak diakhiri. Alasan Roh Kudus terus-menerus mengganggu dan menekan dirinya adalah agar ia dapat diakhiri. Inilah kehebatan pendisiplinan Roh Kudus.

Jika kita di hadapan Tuhan sedikit lebih banyak pengalaman, kita akan mengakui bahwa pendisiplinan yang diberikan kepada kita oleh Roh Kudus, entah itu hajaran atau didikan, adalah untuk peremukan kita. Sesungguhnya, tidak ada hajaran atau didikan, semua pendisiplinan Roh Kudus adalah untuk penghancuran dan peremukan. Hanya ketika kita mendefinisikannya, kita menggolongkannya menjadi tiga aspek: hajaran, didikan, dan peremukan. Sesungguhnya, pendisiplinan Roh Kudus hanya memiliki satu tujuan, yaitu untuk menghancurkan dan meremukkan kita.

Karena tujuan utama pendisiplinan Roh Kudus adalah untuk peremukan, maka adanya pendisiplinan ini belum tentu dikarenakan adanya kesalahan manusia. Kita bersalah, Ia mendisiplin kita; kita tidak bersalah, Ia tetap mendisiplin kita. Kita tidak taat, Ia akan menanggulangi; kita taat, Ia tetap akan menanggulangi. Tujuannya bukan hanya untuk memperbaiki kita atau membuat kita lebih taat, tetapi untuk meremukkan kita. Tujuan dasar pendisiplinan-Nya adalah peremukan. Semakin utuh seseorang, ia semakin perlu dihancurkan. Sepertinya orang-orang yang kelakuannya sangat tidak karuan tidak perlu peremukan pendisiplinan-Nya; karena pada diri mereka sudah penuh luka, suatu hari begitu mereka diterangi, mereka sungguhsungguh bertobat, itu cukuplah. Sebaliknya, orang yang tidak pernah melakukan kesalahan atau belum pernah jatuh, yang sangat utuh dan berperilaku baik, ia perlu hantaman, pukulan, penanggulangan, dan peremukan Roh Kudus melalui lingkungan sampai ia benar-benar hancur dan remuk.

Keselamatan Allah itu sangat istimewa. Di satu pihak Ia memerlukan aspek yang baik dari manusia, di pihak lain Ia meremukkannya. Menurut sudut pandang manusia, ini benar-benar sangat berlawanan. Ketika seseorang tidak taat, Allah ingin agar ia taat; tetapi ketika ia taat, Allah menghancurkan ketaatannya. Jika seseorang tidak ramah, Allah ingin agar dia ramah; tetapi ketika ia menjadi ramah, Allah menghancurkan keramahannya. Ketika kita tidak bergairah mengasihi Dia, Ia ingin kita bergairah, Ia akan menarik kita untuk mengasihi Dia; tetapi ketika kita dengan gairah mengasihi, Ia kembali menghancurkan kita berkeping- keping. Dalam pimpinan Allah, sering kali kelihatannya kontradiksi. Tetapi kontradiksi ini benar-benar merupakan pekerjaan peremukan dari pendisiplinan Roh Kudus di dalam kita.

Karena itu, dalam pelajaran ini kita harus menaruh perhatian khusus pada aspek peremukan. Kita perlu nampak bahwa walaupun pendisiplinan Roh Kudus memiliki aspek hajaran dan didikan, tetapi tujuan utamanya adalah peremukan. Singkatnya, semua pendisiplinan Roh Kudus adalah untuk peremukan manusia kita. Ia meremukkan kita tak peduli kita benar atau salah. Ia meremukkan kita tak peduli kita taat atau tidak. Ia meremukkan kita tak peduli kita pemberontak atau tidak. Di hadapan Allah, keburukan kita tidak terhitung apa-apa, kebaikan kita juga tidak ada harganya; salah tidak bernilai, betul juga tidak bernilai; tidak taat tidak berharga, taat juga tidak berharga; memberontak tidak berharga, takluk juga tidak berharga. Semuanya ini hanya perlu diremukkan. Pendisiplinan Roh Kudus bukan untuk membangun manusia. Pendisiplinan Roh Kudus di luar seluruhnya adalah untuk peremukan manusia.

III. KEDUDUKAN PENDISIPLINAN ROH KUDUS

Kedudukan pendisiplinan Roh Kudus dalam seluruh pekerjaan Allah pertama-tama adalah di luar, bukan di dalam. Walaupun pendisiplinan Roh Kudus menanggulangi hal-hal di dalam kita, pendisiplinan itu sendiri ada di lingkungan luar kita. Roh Kudus memakai berbagai macam lingkungan di luar untuk mendisiplin dan meremukkan kita.

Kedua, pendisiplinan Roh Kudus itu negatif, bukan positif. Kita telah mengatakan bahwa pekerjaan Allah di aspek positif ialah pengurapan, pimpinan, penerangan, penguatan, dan lain-lain dari Roh Kudus di dalam, kita. Alkitab banyak membicarakan aspek-aspek ini, yang semuanya adalah mulia, manis, dan sangat penting di mata Allah. Namun, karena pada kita masih ada banyak unsur alamiah yang harus disingkirkan, maka dalam pekerjaan Allah ada bagian pelengkap yang berupa penanggulangan atau pendisiplinan lingkungan. Ditinjau dari pengalaman kita, meskipun ini sangat diperlukan, namun ini menyakitkan dan memalukan; ditinjau dari Allah, ini bukan yang paling penting, ini adalah yang negatif.

Lagi pula, pekerjaan positif Roh Kudus di dalam kita selalu digenapkan melaliu Roh Allah, sedangkan pendisiplinan negatif Roh Kudus di lingkungan kita adalah memakai perbuatan Iblis. Semua orang, perkara, dan benda yang dipakai dalam pendisiplinan Roh Kudus adalah manipulasi Iblis. Misalnya, ada orang menentang kita, mempersulit kita. Tentangan dan kesulitan ini sesungguhnya bukan langsung berasal dari Allah, tetapi langsung dari Iblis. Misalnya lagi, seorang pencuri mencuri pakaian kita, atau terjadi kebakaran pada rumah kita. Semua ini pasti bukan langsung datang dari Allah, melainkan langsung dikirim oleh Iblis. Contoh lagi, ada orang yang tegar tengkuk, memberontak dan berdosa terhadap Allah, kemudian ia menderita sakit yang serius, penyakit ini juga bukan dikirim. langsung dari Allah, tetapi dari Iblis. Karena itu, semua orang, perkara, dan benda, yang dipakai dalam pendisiplinan Roh Kudus meskipun diukurkan kepada kita oleh Allah menurut keperluan kita, dan diizinkan menimpa kita sehingga membuat kita menderita, tetapi yang bertindak di belakang orang, perkara, dan benda itu adalah Iblis. Inilah satu alasan mengapa kita berkata bahwa pendisiplinan Roh Kudus tidaklah manis.

Karena kedudukan pendisiplinan, Roh Kudus adalah di luar dan negatif, maka kita tidak boleh menganggapnya lebih penting daripada pengurapan Roh Kudus di dalam yang positif. Tujuan kita mengalami pendisiplinan Roh Kudus adalah agar kita dapat mengalami pengurapan Roh Kudus. Jika hanya ada pendisiplinan Roh Kudus, tetapi tidak ada pengurapan Roh Kudus, itu tidak ada artinya.

IV. SIFAT PENDISIPLINAN ROH KUDUS

Ada dua sifat pendisiplinan Roh Kudus; pertama bersifat sementara, kedua bersifat jangka panjang. Pendisiplinan sementara hanya untuk waktu yang pendek dan biasanya datang secara tiba-tiba dan cepat berlalu. Sebagai contoh, seseorang ditabrak mobil dan luka-luka, tetapi tidak meninggal. Setelah dua minggu di rumah sakit, ia sembuh, pendisiplinan pun berakhir. Inilah pendisiplinan bersifat sementara.

Pendisiplinan bersifat jangka panjang adalah yang memakan waktu lama, sedikitnya berlangsung beberapa tahun, dan yang paling lama adalah mengikuti kita seumur hidup kita. Karena itu, kesedihannya besar dan peremukannya hebat. Misalnya, kepada seorang saudara, Allah memberinya seorang istri yang senang bertengkar, atau memberi seorang suami yang paling tidak rasional kepada seorang saudari, setiap hari mereka menderita karenanya, rasanya tidak dapat tahan lagi. Namun sebagai orang Kristen, mereka tidak boleh bercerai; sang istri menjadi pendisiplinan seumur hidup bagi sang suami, demikian pula sebahknya, sang suami bagi sang istri.

Pendisiplinan janglia panjang umumnya ada dalam lingkungan sehari- hari kita, seperti keluarga, pekerjaan, gereja, sanak famili, dan sebagainya. Khususnya pendisiplinan keluarga, akan berlangsung paling lama dan paling hebat. Ada orang berkata bahwa "keluarga adalah suatu pasungan". Ini sangat berarti. Orang-orang di dunia ini menganggap pernikahan adalah suatu kenikmatan, tetapi sesungguhnya, ketika kita menikah, kita menerima penanggulangan penderitaan dan kita harus siap untuk setiap saat membawa pasungan yang memasung kita itu. Tidak ada yang lebih mengikat manusia daripada keluarga. Orang yang berkeluarga adalah orang yang menerima ikatan dan pendisiplinan Allah. Suami adalah pendisiplinan seumur hidup bagi istri, dan istri adalah pendisiplinan seumur hidup bagi suami.

Anak-anak dalam keluarga juga adalah satu pendisiplinan yang hebat. Mereka yang tidak mempunyai anak selalu ingin mempunyai anak, tetapi tak peduli berapa besar keinginan orang, beberapa orang tetap tidak mempunyai anak. Yang lain, yang sudah mempunyai banyak anak, tidak ingin melahirkan anak lagi; tetapi semakin tidak ingin melahirkan anak, semakin banyak anak yang rnereka dapat. Seorang saudari mungkin ingin memiliki anak lembut seperti Yakub, tetapi yang dilahirkan justru anak yang liar seperti Esau, yang setiap hari menimbulkan banyak kesulitan dalam rumah, sehingga ia merasa bahwa rumahnya seperti perapian. Kalau pembantu dapat diberhentikan, tetapi anak, tetap harus dipelihara entah ia suka atau tidak. Hal ini mengikutinya seumur hidupnya dan baginya berfungsi sebagai pendisiplinan jangka panjang.

Gereja juga merupakan tempat orang didisiplin secara hebat. Allah menetapkan bahwa kita tidak boleh menjadi orang Kristen individual; kita harus berada di dalam gereja dan di dalam Tubuh, melayani Tuhan dan bekerja sama dengan saudara saudari. Namun, Allah juga mengatur beberapa saudara saudari yang "antik" untuk mendampingi kita. Mereka mengasihi Allah dan mempersembahkan diri, tetapi mereka memiliki watak yang "antik". Mereka selalu bermasalah dengan kita dan membuat kita menderita. Ini juga merupakan pendisiplinan Roh Kudus dalam jangka panjang.

Sepanjang penempuhan hidup kita ada banyak contoh pendisiplinan yang seperti ini. Beberapa orang, seperti Paulus, hidup dengan ada duri pada tubuhnya, bisa berupa kelemahan tubuh fisik atau ketidakmampuan tertentu. Inilah pendisiplinan jangka panjang. Pendisiplinan sementara hanya berlangsung untuk jangka waktu pendek, sehingga kita dapat mengharapkan kebebasan; tetapi pendisiplinan jangka panjang memakan waktu lama dan tidak berhenti atau berubah cita rasanya, selalu begitu. Karena itu, ketika pendisiplinan jangka panjang menimpa kita, kita tidak perlu berharap hal itu berlalu, sebaliknya kita harus menghentikan semua harapan kita dan bersedia menerimanya seumur hidup kita. Sebenarnya, pendisiplinan jangka panjang itulah yang paling berharga, yang dapat memberi kita peremukan yang lama dan tuntas. Pelajaran-pelajaran yang berharga dapat dipelajari dari pendisiplinan jangka panjang. Karena itu, kita harus menaruh perhatian bukan hanya pada pendisiplinan sementara, lebih-lebih pada pendisiplinan jangka panjang.

V. RUANG LINGKUP

PENDISIPLINAN ROH KUDUS

Ruang lingkup pendisiplinan Roh Kudus ini universal. Berapa besar ruang lingkup alam semesta, sebesar itu ruang lingkup penanggulangan. Semua yang ada di alam semesta ini tercakup dalam ruang lingkup ini. Karena itu, semua yang menimpa kita, termasuk orang, perkara, dan benda, besar atau kecil, adalah pendisiplinan Roh Kudus. Kita harus percaya bahwa segala sesuatu yang dihadapi orang Kristen bukanlah apa yang disebut orang dunia kebetulan atau keberuntungan, melainkan berasal dari pengaturan dan pendisiplinan Roh Kudus. Bukan aspek-aspek tertentu, jenis benda tertentu, atau hal-hal tertentu saja yang termasuk dalam pendisiplinan dan pengaturan Roh Kudus, sedangkan yang lainnya tidak, melainkan segala sesuatu dalam kehidupan kita merupakan pendisiplinan Roh Kudus. Saat ini Anda bisa mempunyai kesempatan kerja yang demikian adalah karena pendisiplinan Roh Kudus. Anda bertemu dengan saudara atau saudari macam tertentu juga karena pendisiplinan Roh Kudus. Anda berharap bahwa Anda sehat, tetapi Anda justru lemah; ini adalah pendisiplinan Roh Kudus. Anda mengharapkan pekerjaan Anda berkembang sehingga Anda dapat melayani Tuhan dengan baik, tetapi Anda malah menghadapi banyak persoalan sehingga Anda tidak dapat bergerak sama sekali; ini juga pendisiplinan Roh Kudus. Anda bisa memiliki istri yang bijaksana atau menikah dengan suami yang Anda inginkan, semua terletak pada pendisiplinan Roh Kudus. Apakah Anda memiliki kehidupan rumah tangga yang sempurna atau tidak, juga terletak pada pendisplinan Roh Kudus. Anda tidak mengharapkan hanyak anak, tetapi Anda justru banyak anak; inilah pendisiplinan Roh Kudus. Atau, Anda berharap memiliki anak; tetapi Anda tidak juga mempunyai anak; inilah pendisiplinan Roh Kudus. Bahkan. kehilangan harta benda, teledor mengatur masalah, bahkan kegagalan dalam masalah rohani, juga adalah pendisiplinan Roh Kudus. Kita harus menerapkan pendisiplinan Roh Kudus pada semua kehidupan kita, pada semua lingkungan kita. Khususnya terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan, kita. harus mengakui bahwa itu berada di dalam ruang lingkup pendisiplinan Roh Kudus. Demikian, kita baru bisa belajar pelajaran ini dengan tuntas.

VI. PENERIMAAN PENDISIPLINAN ROH KUDUS

Untuk menerima pendisiplinan Roh Kudus kita harus memperhatikan butir-butir berikut :

1. Mengakui Ini Adalah Pendisiplinan

Mengakui adalah perintis dari menerima. Ketika kita mau menerima Tuhan sebagai Juruselamat kita, terlebih dulu kita harus mengakui bahwa Ia adalah Juruselamat. Demikian juga, dalam menerima pendisiplinan Roh Kudus, terlebih dulu kita harus mengakui bahwa semua perkara yang menimpa kita adalah pendisiplinan Roh Kudus. Dengan kata lain, setiap kali kita menghadapi sesuatu, kita harus segera paham bahwa ini adalah dari Roh Kudus dan mengakui bahwa ini adalah pendisiplinan Roh Kudus.

Sebelumnya kita telah menyinggung Roma 8:28, yang mengatakan bahwa "segala sesuatu" bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan kita. Matius 10:29-30 juga mengatakan, "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bqpamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya." Bagian ini menunjukkan bahwa semua perkara yang menimpa kita, bahkan masalah sepele seperti rontoknya rambut, telah diizinkan dan diukur Allah untuk bekerja sama bagi faedah rohani kita. Karena itu, terhadap semuanya ini, kita harus mengakui itu adalah pendisiplinan Roh Kudus bagi kita.

2. Menemukan Tujuannya

Karena kita mengakui bahwa apa pun yang menimpa kita adalah pendisiplinan Roh Kudus, maka kita harus menemukan apakah tujuannya. Misalnya, seseorang ditabrak mobil, ia tidak seharusnya dengan "ceroboh" berpikir bahwa karena itu adalah pendisiplinan Roh Kudus, maka ia cukup hanya memuji Tuhan. Jika demikian, ia tidak bisa mendapat manfaatnya. Ia harus bertanya, mengapa aku ditabrak mobil? Apa tujuan Roh Kudus memberikan pendisiplinan ini? Apakah ini untuk hajaran, didikan, atau peremukan? Ia harus mempunyai hati yang menengadah dan roh yang berdoa, tenang di hadapan Tuhan, baik-baik mencari, sampai ia jelas bahwa ada masalah atau keperluan tertentu yang membuat ia tertimpa pendisiplinan Roh Kudus. Dengan cara ini ia dapat mempelajari pelajaran rohani dan mendapatkan manfaat yang konkret.

3. Mengaku Dosa atas Hal Tujuan Penanggulangan

Begitu kita menemukan tujuan pendisiplinan Roh Kudus adalah satu masalah tertentu, kita harus mengaku dosa atas hal itu secara serius di hadapan Tuhan. Karena jika bukan untuk masalah atau kesulitan itu, kita tidak perlu mengalami pendisiplinan Roh Kudus. Karena Roh Kudus mengatur lingkungan untuk mendisiplinkan kita mengenai hal tertentu, kita harus sadar bahwa atas hal itulah kita bermasalah di hadapan Allah, entah karena kita keras kepala atau sombong, tegar tengkuk atau tidak taat, tidak bersedia membayar harga atau tidak bersedia menyangkal diri, ada yang harus dibuang atau ada yang harus diremukkan, ada yang harus ditanggulangi atau ada yang harus dihancurkan. Pokoknya, ada masalah- Kita harus ingat bahwa pendisiplinan Roh Kudus tidak pernah menyebabkan kita menderita tanpa alasan; sebaliknya, selalu karena ada sesuatu dalam kita yang perlu dibereskan. Mungkin Roh Kudus telah sering kali mengurapi kita, tetapi kita tidak taat; karena itu, Ia mengatur pendisiplinan yang sedemikian untuk mendukung pengurapan-Nya yang di dalam. Karena itu, begitu kita menemukan tujuan pendisiplinan Roh Kudus, kita harus memiliki pengakuan dosa yang tuntas mengenai hal tersebut.

4.Tunduk

Setelah kita mengakui dosa kita, kita harus tunduk bersandarkan Roh Kudus. Tunduk menyatakan penerimaan. Setelah kita nampak bahwa tujuan pendisiplinan ini adalah untuk membereskan hal tertentu, kita harus tunduk dalam hal tertentu itu. Hanya dengan demikian barulah terhitung menerima pendisiplinan Roh Kudus.

5. Menyembah

Setelah kita menerima pendisiplinan Roh Kudus, kita masih perlu menyembah Allah. Menyembah adalah bentuk terima kasih yang paling tinggi. Kita harus menyembah Allah untuk pekerjaan-Nya dan jalan-Nya atas diri kita. Untuk penanggulangan-Nya atas diri kita, untuk jalan-Nya dalam hidup kita, dan untuk peremukan kita yang demikian, kita tidak hanya harus berterima kasih kepada-Nya, tetapi juga harus menyembah- Nya.

Dalam Alkitab, perkara menyembah Allah terlihat jelas pada diri Yakub. Menjelang kematiannya, ia menyembah Allah sambil bersandar pada tongkatnya. Tongkat itu adalah tongkat yang dibawanya seumur hidupnya; di satu pihak menyatakan pengalaman seumur hidupnya, di pihak lain menyatakan kehidupannya di bumi sebagai pengembara. Dari dua aspek ini, aspek pengalaman seumur hidupnya lebih ditekankan, karena di dalamnya mencakup kehidupannya sebagai pengembara. Sebab itu, Yakub menyembah Allah dengan bersandar pada tongkatnya, itu berarti ia menyembah Allah menurut pengalamannya. Jika seseorang memiliki pengalaman dipimpin Allah, barulah ia bisa menyembah kepada Allah. Jika seseorang tidak pernah memiliki sejarah ditanggulangi oleh Allah, ia tidak bisa menyembah kepada Allah. Semua penyembahan manusia kepada Allah adalah berdasar pada pengalaman manusia terhadap Allah. Karena itu, setelah kita menerima suatu pendisiplinan, di hadapan Allah, kita harus memiliki penyembahan yang sangat jelas, pasti, dan serius. Pada saat ini, kita benar-benar dengan solid menerima pendisiplinan Allah.

Adakalanya sepertinya kita telah menerima satu pendisiplinan di hadapan Allah, tetapi kita tidak mengaku dosa dengan tuntas dan tidak menerima pendisiplinan itu dan menyembah-Nya dengan serius. Sepertinya telah menerima, tetapi juga seperti tidak menerima; penerimaan semacam ini tidak solid. Semoga sejak kini, ketika kita menerima pendisiplinan Roh Kudus, kita harus dengan serius terlebih dulu menemukan tujuannya, kemudian mengakui kekurangan dan kelemahan kita, tunduk dari dalam, dan akhirnya, menyembah kepada Allah. Demikian, baru bisa memiliki satu penerimaan yang sangat solid.

VII. PENERAPAN PENDISIPLINAN ROH KUDUS

Penerapan berarti penerimaan terus-menerus. Jika pendisiplinan bersifat sementara, ia berlalu begitu kita menerimanya. Jika pendisiplinan bersifat lama dan berjangka panjang, kita tidak hanya perlu menerimanya, tetapi juga perlu menerapkannya.

Sebagai contoh, ilustrasi yang kita berikan di depan tentang keedakaan mobil. Itu adalah pendisiplinan sementara. Ketika saudara yang ditabrak mobil itu terbaring di rumah sakit, ia menyadari penyebab ia didisiplin dan mau tunduk. Tidak lama kemudian, ia sembuh, dan pendisiplinan itu pun berlalu. Namun, seorang istri atau suami, atau seorang sekerja yang Allah sediakan bagi kita, setiap hari berada di samping kita, ini bukan sekali diterima sudah beres, tetapi perlu diterapkan terus-menerus. Menerapkan berarti kita bekerja sama dengan Roh Kudus dan membantuNya untuk mendisiplin dan menanggulangi diri kita. Ketika seorang anak kecil menerima obat, adakalanya memerlukan orang dewasa untuk menekan hidungnya dan menyuapkan obat itu. Tidak demikian dengan orang dewasa menerima obat; walaupun obat itu pahit, mereka harus memakannya sendiri. Karena itu, dalam menerapkan pendisiplinan Roh Kudus, kita jangan seperti anak keeil yang memakan obat, harus dipaksa Allah untuk memakannya; sebaliknya, dengan sukarela kita menerima dan menerapkannya.

Kita harus percaya bahwa semua situasi sekeliling yang kita hadapi bukanlah pengaturan Roh Kudus yang sementara dan kebetulan, tetapi telah diatur jauh sebelumnya oleh Roh Kudus dalam rencana Allah. Sebelum kita beroleh selamat, bahkan sebelum kita dilahirkan, Allah telah mengatur orang tua, suami atau istri, anak-anak, gereja, atau sekerja bagi kita. Di alam semesta, Allah telah menggunakan kebijaksanaan-Nya dengan luar biasa untuk mencari semua pendispilinan yang menakjubkan ini yang diukur untuk menanggulangi kita. Karena itu, kita tidak boleh selalu mengharapkan Allah mengubah orang yang berlawanan dengan kita atau lingkungan kita. Kita harus terus menerima dan menerapkan pendisiplinan-Nya sampai kita hancur dan remuk.

VIII. PEMERIKSAAN HASIL

Setelah kita menerima pendisiplinan Roh Kudus sejangka waktu lamanya, kita perlu menengok ke belakang untuk memeriksa berapa banyak hasil yang telah kita peroleh dari pendisiplinan itu. Ada orang telah didisiplin terus-menerus, tetapi tidak ada hasilnya sama sekali. Seseorang mungkin telah melewati pendisiplinan selama sepuluh atau dua puluh tahun, kehilangan pekerjaan, menjadi miskin, terserang penyakit, tertekan, mengecap berbagai kepahitan hidup, manusia; tetapi padanya tidak ada retakan, tidak ada luka, tidak ada peremukan sedikit pun. Ia seperti biji besi yang tidak dapat dipecahkan. Tak peduli berapa banyak penanggulangan yang telah ia Ialui, ia tetap tidak berubah, tanpa ada hasil penanggulangan. Hal ini sangat disayangkan!

Jangan berpikir bahwa kita tidak memiliki bekas luka karena tidak pernah ada pendisiplinan. Sebenarnya, tidak seorang pun di antara kita yang tidak pernah didisiplin. Allah kita tidak pernah salah; tangan-Nya ada di dalam semua peristiwa yang kita, hadapi. Karena itu, menurut yang seharusnya, pada diri setiap orang di antara kita ada hasil peremukan, ada hasil pendisiplinan. Semakin lama seorang saudara berada di dalam gereja, semakin banyak peremukan yang seharusnya ia miliki. Penghancuran adalah peremukan. Peremukan demi peremukan, alamiah seseorang akan disingkirkan. Jika kita, melewati pendisiplinan tetapi tidak pernah diremukkan, atau menunjukkan bekasbekas pernah dipukul atau diliancurkan, itu dikarenakan kita kurang menerima, lebih-lebih kurang dengan sebaiknya menerapkan pendisiplinan Roh Kudus. Kita hanya berserah kepada nasib dan membiarkan keadaan kita berlalu begitu saja tanpa arti.

Karena itu, setiap orang di antara kita harus sering menengok ke belakang dan memeriksa hasil yang kita dapat dari pendisiplinan. Semua hasil pendisiplinan menunjukkan keadaan rohani kita, kaya atau miskin. Semakin banyak kita menerima pendisiplinan Roh Kudus, hasilnya akan semakin banyak dan keadaan rohani kita juga semakin kaya. Jika kita hanya menerima sedikit, hasil pendisiplinan juga akan sedikit, dan keadaan rohani kita akan miskin.

IX. PENGUJIAN PENDISIPLINAN ROH KUDUS

Pendisiplinan Roh Kudus diberikan bukan hanya untuk menanggulangi kita atau meremukkan kita, tetapi juga untuk menguji kita.

Ada orang tadinya berada dalam pencobaan yang membuatnya menderita, setelah sejangka waktu, penderitaan mereka lewat dan hidup terasa menyenangkan. Tidak ada kritik, hanya ada pujian; tidak ada tekanan, hanya ada sanjungan; semuanya berjalan lancar. Lingkungan yang nyaman ini merupakan suatu ujian yang menguji di mana kita berada.

Karena itu, pendisiplinan Roh Kudus tidak hanya ada pencobaan penderitaan, tetapi juga ada ujian kelancaran. Ada saudara saudari yang dapat menahan pencobaan kemiskinan, tetapi tidak dapat melewati ujian kekayaan; dapat menahan kritikan dan serangan, tetapi tidak dapat melewati ujian pujian dan sanjungan. Ada orang yang tidak pernah menjamah batangan emas atau mata uang dolar, ia berkata bahwa dirinya tidak mencintai uang; itu tidak dapat diandalkan. Jika ada emas dan uang dolar di tangannya, saat itu baru bisa menyatakan apakah ia benar-benar mengasihi uang atau tidak. Ada orang mengatakan bahwa ia tidak mengasihi istrinya, tetapi itu karena ia tidak mempunyai istri yang menarik; kalau saja ia mempunyai seorang istri yang menarik, akan ternyata apakah ia mengasihi istrinya atau tidak. Untuk menyatakan keadaan yang ada di dalam kita, Roh Kudus tidak hanya perlu memakai pencobaan penderitaan lingkungan, tetapi juga perlu meletakkan kita dalam lingkungan yang lancar untuk menguji kita. Karena itu, pendisiplinan Roh Kudus bekerja baik melalui pencobaan maupun pengujian. Tetapi umumnya pendisiplinan Roh Kudus melalui pencobaan penderitaan lebih sering daripada pengujian kelancaran.

X. KATA PENUTUP

Pendisiplinan Roh Kudus adalah pelaJaran yang sangat penting bagi kaum saleh. Ada banyak pelajaran di aspek positif bagi kaum saleh, tetapi inilah satu-satunya pelajaran yang di aspek negatif. Walaupun ada pelajaran penanggulangan lain di aspek negatif, tetapi semuanya itu memerlukan kerja sama pendisiplinan Roh Kudus. Karena itu, para nenek moyang dalam Alkitab dan semua pemenang yang menempuh jalan hayat dalam, sejarah gereja memiliki pengalaman yang kaya dan nyata dalam garis ini. Walaupun mereka tidak menggunakan istilah "pendisiplinan Roh Kudus" ini, tetapi fakta membuktikan dengan tegas bahwa mereka mengalami berbagai macam situasi yang menimpa mereka sebagai pencobaan dan pengujian. Rasul Paulus dalam Filipi 4 mengatakan bahwa ia tahu apa itu berkekurangan dan apa itu berkelimpahan; itu karena ia mempelajari pelajaran pendisiplinan Roh Kudus di dalam berbagai keadaan. Kita yang menuntut pertumbuhan hayat harus terlebih lagi menaruh perhatian penuh pada pelajaran ini, bukan hanya harus mengenal dengan jelas, tetapi juga harus menerima dengan tuntas. Demikian, kita mengizinkan tangan Sang Penjunan untuk membuat dan membentuk kita, segumpal tanah liat, sehingga kita dapat menjadi bejana yang sesuai, penuh dengan gambar mulia Putra-Nya.