← Daftar isi Kelahiran Kembali · bab 13/19

MENANGGULANGI ROH

Setelah kita melihat pendisiplinan Roh Kudus, sekarang kita akan melihat butir menanggulangi roh. Kita menjajarkan kedua pelajaran ini karena mereka berhubungan erat dalam pengalaman rohani kita. Sering kali roh kita tidak lurus, tidak benar, karena kita belum menerima pendisiplinan Roh Kudus. Karena itu, pendisiplinan Roh Kudus sering bisa menyatakan kondisi roh kita. Lagi pula, hanya setelah kita baik-baik menanggulangi roh kita, barulah kita dapat menerima penanggulangan Roh Kudus dari dalam batin kita.

I. DASAR ALKITAB

Mazmur 51:12 - ". . . dan perbaharuilah batinku dengan roh yang lurus"(Tl.). Di sini dikatakan tentang roh yang lurus. Roh yang lurus bukanlah yang kita miliki dari semula, tetapi sering merupakan hasil dari lawatan dan penanggulangan Allah atas diri kita.

Dua Timotius 1:7 - "Sebab Allah memberikan kepada ... yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban." Di sini dikatakan adanya semacam roh yang kuat, yang mengasihi, dan yang memiliki ketertiban; roh semacam inilah yang diberikan oleh Allah.

Galatia 6:1 - "...dalam roh lemah lembut..." Di sini dikatakan tentang roh yang lemah lembut. Roh semacam ini, yang dapat memulihkan orang yang dikalahkan oleh pelanggaran dan yang dimiliki oleh manusia rohani, pasti merupakan hasil dari manusia melewati penanggulangan Allah.

Satu Petrus 3:4 - "perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram ..." Di sini dikatakan semacam roh yang tidak hanya lemah lembut, tetapi juga tenteram. Ini merupakan perhiasan yang paling berharga di pandangan Allah. Ini juga harus merupakan hasil dari manusia melewati penanggulangan Allah.

Amsal 16:19 - "lebih baik memiliki roh yang rendah…" (Tl). Adanya satu roh yang rendah, roh yang tidak sombong, tentu juga karena telah melewati kesukaran dan penanggulangan.

Matius 5:3 - "… miskin di di dalam roh" (Tl). Ini berarti tidak merasa puas diri atau benar diri di dalam roh. Roh yang seperti ini pun ada karena telah melewati pukulan dan pendisiplinan.

Dua Korintus 7:1 - marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemarandaging dan roh ..." (Tl.). Ayat ini membicarakan penanggulangan roh dengan membuang semua pencemaran agar kita dapat memiliki roh yang bersih.

II. MAKNA ROH

Jika kita ingin menanggulangi roh, terlebih dulu kita harus jelas apakah roh itu. Manusia terdiri atas tiga bagian : tubuh, jiwa, dan roh. Roh manusia adalah bagian batiniah manusia, yang juga adalah bagian yang paling dalam dan paling tinggi. Di sini kita juga harus menunjukkan secara khusus bahwa roh adalah bagian manusia yang paling sejati. Kita dapat mengatakan bahwa rdi adalah kesejatian manusia, adalah aku yang sejati.

Roh lebih dalam daripada hati. Karena itu, roh lebih sejati daripada hati. Kehidupan dan tingkah laku kita harus berdasarkan roh, demikian baru bisa sejati. Bila kita berbicara berdasarkan roh, barulah kita dapat berbicara dengan sejati. Berdasarkan roh memperlakukan orang lain, barulah terhitung dengan sejati memperlakukan orang lain. Bahkan dalam, aktivitas rohani kita, seperti berdoa, bersekutu, dan memberitakan firman, juga harus dilakukan di dalam roh, demikian baru sejati. Setiap aktivitas yang tanpa pergerakan roh adalah yang luaran, dangkal, dan boleh dikatakan sebagai yang palsu. Apa pun yang tidak berasal dari bagian yang paling dalam, tidak sejati. Ini bukanlah dibuatbuat atau kepura-puraan yang disengaja, melainkan penggunaan organ yang salah. Karena itu, kita harus belajar memakai roh, berdasarkan roh menjadi orang yang sejati.

Umumnya kesejatian seseorang tersingkapkan ketika ia sedang marah- marah, karena pada saat ia marah-marah, rohnya juga terbawa keluar. Ketika seseorang tidak sedang marah, ia tertutupi oleh suatu aturan atau etika tertentu di luar; situasinya yang sejati tersembunyi di dalam. Tetapi ketika ia sangat marah, tidak dapat menahan atau menyembunyikan lagi, ia akan meledak tanpa menghiraukan apa pun. Apa yang ia rasakan di dalam, ia tumpahkan ke luar; bagaimana marahnya di dalam, diekspresikannya ke luar; tindakannya di luar menggambarkan keadaan yang sejati di dalam. Saat inilah, rohnya, yaitu kesejatiannya ternyata keluar. Karena itu, orang yang penampilannya lembut dan jarang marah, sering kali adalah palsu, sebaliknya orang yang mudah marah, sering kali adalah sejati. Kesejatiannya terletak pada rohnya yang bebas. Pendek kata, bagian terdalam dan yang paling sejati dari manusia adalah roh, dan roh adalah kesejatian manusia.

III. MAKNA PENANGGULANGAN ROH

Kita harus mempelajari pelajaran mengenai roh dalam dua aspek; pertama ialah membiarkan roh keluar, dan kedua adalah membiarkan roh keluar dengan bersih.

Tujuan pelajaran terdahulu mengenai menanggulangi daging, menanggulangi diri, dan menanggulangi alamiah adalah membiarkan roh keluar. Hasil penanggulangan-penanggulangan ini adalah agar roh dapat dibebaskan.

Dalam pengaturan sebermula Allah bagi manusia, Ia menempatkan roh manusia di atas jiwa dan tubuh, agar manusia hidup berdasarkan roh, di satu pihak menggunakan roh untuk berkontak dengan Allah dan diatur oleh Allah, di pihak lain menggunakan roh untuk menguasai seluruh dirinya. Tetapi setelah kejatuhan, tubuh dan jiwa mengambil alih kedudukan roh, manusia tidak lagi hidup oleh roh, tetapi menurut daging dan jiwa. Demikianlah roh manusia menjadi layu kering dan mati. Karena itu, sampai hari ini, semua orang yang belum beroleh selamat, hidup di dalam daging dan di dalam jiwa. Roh di dalam mereka kelihatannya ada, tetapi hampir- hampir tidak berfungsi. Lebih jauh, tubuh manusia telah menjadi daging karena dosa, jiwa manusia telah menjadi diri karena opini diri dan telah menjadi alamiah karena kemampuan alamiah. Daging, opini diri, dan alamiah dengan ketat dan kuat mengelilingi roh. Ketika Allah datang menyelamatkan manusia, Roh-Nya masuk ke dalam roh manusia sehingga roh manusia dapat dihidupkan dan dikuatkan kembali, agar manusia kembali hidup berdasarkan roh. Namun, roh manusia kini telah dikelilingi oleh daging, opini diri, dan alamiah, ditambah fakta bahwa manusia sangat terbiasa hidup oleh hal-hal itu. Maka Allah menghendaki manusia melalui khasiat pembunuhan dari salib Tuhan, mematikan semua itu, menanggulanginya, meremukkannya, sehingga timbul retakan dan celah agar roh bisa keluar. Ketika roh manusia keluar, Roh Allah pun terbawa keluar. Demikian manusia bisa hidup berdasarkan roh, berdasarkan roh menggunakan jiwa, berdasarkan roh mengendalikan tubuh, berdasarkan roh menjadi orang yang sejati, berdasarkan roh hidup dan berperilaku, berdasarkan roh menyembah dan melayani Allah. Karena itu, menanggulangi daging, diri, dan alamiah, yang telah kita bicarakan di depan adalah untuk peremukan daging dan jiwa manusia agar roh bisa keluar. Inilah aspek pertama dari pelajaran yang harus kita pelajari mengenai menanggulangi roh.

Namun, tidaklah cukup jika kita hanya mengalami peremukan hal-hal yang menyelimuti roh sehingga roh dapat dibebaskan. Karena ketika roh keluar, apakah keadaan sekeliling benar, lurus, murni, adakah campuran, semua itu adalah masalah yang lain lagi. Pengalaman kita menyatakan bahwa ada saudara saudari benar-benar menyangkal diri, menanggulangi alamiah, agar roh mereka dapat keluar. Namun, ketika roh keluar, ia membawa serta beberapa keadaan yang tidak tepat, atau kasar, angkuh, bengkok, atau tidak seimbang, dan lain-lain. Itu membuktikan bahwa di dalam roh mereka ada banyak campuran yang tidak berkenan kepada Allah.

Sebagai contoh, kita telah mengatakan bahwa ketika manusia marah- marah, rohnya mudah keluar. Tetapi roh yang keluar pada saat itu, tidak diragukan lagi, pasti kejam, penuh kebencian, dan kasar. Itulah keadaan roh yang tidak tepat. Contoh yang lain, seorang saudara hendak pergi ke suatu tempat untuk berkhotbah. Ia telah sedikit belajar, tahu bahwa dalam berkhotbah ia tidak dapat mengandalkan manusia lahiriahnya, harus membebaskan rohnya; karena itu, ia baik-baik menyangkal diri dan menolak alamiah. Hasilnya, hari itu rohnya benar-benar bebas, Roh Kudus yang di dalam. rohnya juga terbebaskan, orang-orang sangat terjamah. Namun, pada waktu ia berbicara, ada sedikit keinginan untuk memamerkan diri sendiri dan mendapatlian pujian manusia, juga ada sedikit keinginan untuk bersaing dengan orang lain dan melampaui orang lain. Ketika rohnya keluar, keadaan membanggakan diri yang tidak tepat ini juga ikut ternyata keluar. Tidak diragukan rohnya bebas pada saat itu, tetapi keadaan keluarnya tidak benar dan tidak murni.

Sesungguhnya, di dalam roh kita masih terdapat banyak unsur yang tidak murni, seperti sombong, bangga diri, bengkok, tidak adil, licik, rumit, berontak, tegar tengkuk, dan lain-lain. Keadaan ini lebih rumit dan sulit daripada apa yang kita bayangkan. Karena itu, apakah roh kita bisa keluar adalah satu masalah, tetapi masalah yang lebih besar adalah apakah roh itu berslh pada saat keluar. Mengenai roh, kita tidak hanya harus membebaskannya tanpa halangan, tetapi juga harus membuatnya menjadi bersih, murni, dan tepat ketika keluar. Inilah aspek kedua dari pelajaran yang perlu kita pelajari mengenai roh, yang juga kita sebut sebagai menanggulangi roh. Pendek kata, mengenai roh, di satu pihak kita harus diremukkan agar roh keluar; di pihak lain kita perlu ditanggulangi agar roh kita bersih. Agar roh kita bersih inilah yang dimaksud dengan menanggulangi roh.

IV. ROH ITU SENDIRI TIDAK CEMAR

Walaupun kita di depan mengatakan bahwa roh kita harus bersih, tetapi sebenarnya roh itu sendiri tidak cemar. Memang benar, 2 Korintus 7:1 mengatakan "... marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran ... daging dan roh (Tl.),tetapi pencemaran ini bukanlah dari roh itu sendiri, melainkan pencemaran yang disebabkan oleh jiwa dan tubuh.

Penilaian kita mengenai hal ini didasarkan pada proses kejatuhan manusia dalam A1kitab. Kejadian 3 memperlihatkan kepada kita, ketika manusia jatuh, manusia terlebih dulu menerima usul Iblis dengan jiwanya; sebab itu jiwa manusia telah tercemar oleh kebejatan Iblis. Lagi pula, dengan tubuhnya manusia memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat; karena itu tubuh manusia terinjeksi dengan unsur Iblis dan juga tercemar. Tetapi pada saat itu roh manusia tidak terlibat. Saat pertama manusia melakukan dosa, roh tidak berbagian. Karena itu, setelah kejatuhan manusia, walaupun roh manusia meniadi mati oleh pengaruh pencemaran jiwa dan tubuh, tetapi tidak ada pembauran unsur Iblis ke dalam roh. Jadi, roh itu sendiri tidak tercemar.

Misalnya, hati nurani kita adakalanya tercemar dan timbul perasaan berhutang; tetapi hati nurani itu sendiri tidak bermasalah. Karena itu, sampai hari ini, bahkan pada diri orang yang belum beroleh selamat, pada saat roh mereka digugah atau hati nurani mereka disentuh, mereka lalu berdiri di pihak Allah, mampu membedakan yang baik dengan yang jahat, dan bagian persekutuan dalam roh mereka masih bisa memiliki sedikit konsepsi menyembah Allah. Bahkan orang ateis yang paling kuat, yang menyangkal keberadaan Allah, tetap, masih memiliki perasaan tentang Allah di dalam batinnya. Masih adanya fungsi roh ini membuktikan bahwa roh itu sendiri bersih.

V. BAGIAN YANG DILEWATI ROH ITU YANG CEMAR

Jilia roh itu sendiri tidak cemar, mengapa kadang-kadang ia tertampil dalam keadaan yang tidak bersih dan tidak tepat? Ini dikarenakan ketika roh keluar, ia harus melewati banyak bagian dari diri kita. Bagian dalam diri kita itu cemar, maka ketika roh melewatinya, ia pun tercemar, dan kecemaran itu ikut muncul. Karena itu, ketika roh keluar dan dinyatakan, ternyatalah keadaan yang cemar dan tidak tepat itu.

Sebagai contoh, air dari mata air panas sering mengandung aroma belerang. Sebenarnya air itu sendiri bersih dan tidak berbau, tetapi begitu la mengalir keluar, ia melewati kandungan belerang dan membawa unsur belerang bersamanya. Karena ada unsur belerang dalam air, ia menjadi air belerang, dan ketika ia mengalir keluar ia berbau belerang.

Demikian juga, roh dalam bagian batin kita itu murni dan tidak cemar. Namun, jiwa dan tubuh mengelilingi jiwa, keduanya telah bercampur dengan unsur jahat Iblis dan karenanya cemar dan rusak. Sebab itu, ketika roh keluar dan melewati jiwa dan tubuh, la dicemari dengan kecemaran dan kerusakan itu. Maka, ketika dinyatakan, roh mengandung kecemaran, kerusakan, ketidakmurnian, ketidaktepatan, dan berbagai macam keadaan yang tidak seharusnya. Jika seseorang sombong dalam jiwanya, maka roh yang dinyatakan keluar juga sombong; jika seseorang marah dalam daging, rohnya yang keluar juga membawa serta kemarahan itu. Kita sering menjumpai roh yang cemas, roh yang cemburu, roh yang bengkok, atau roh yang kasar, dan lainnya, semuanya bukan masalah dari roh itu sendiri, tetapi karena pengaruh pencemaran dari unsur yang tidak baik dari jiwa dan tubuh atas roh ketika roh itu melewati mereka. Unsur apa yang mencemari, yang keluar adalah semacam roh unsur itu. Karena itu, orang macam apa, memiliki roh macam apa juga.

Roh manusia membawa keluar kecemaran jiwa dan tubuh, ini benar- benar perkara yang mengerikan! Sepertinya ketika roh itu tidak bergerak, kecemaran jiwa dan tubuh tidak begitu parah, tetapi ketika roh itu keluar dan membawa serta kecemaran jiwa dan tubuh, itu sangat serius. Keadaan ini seperti dinamit yang tidak berbahaya ketika disimpan di gudang. Tetapi ketika ada api yang menembus gudang, timbullah ledakan, dan keadaannya sangat serius. Api itu sendiri tidak memiliki daya ledak, tetapi ketika ia melewati dinamit, keduanya akan meledak bersama. Demikian juga, jika seseorang membenci orang lain hanya di dalam jiwa, itu tidak terlalu serius; tetapi jika rohnya keluar sementara ia membenci orang lain, ia akan membawa kebencian jiwa bersamanya, dan itu menjadi roh kebencian. Ini sangat serius.

Jadi, tidaklah cukup bagi kita hanya sekadar belajar membebaskan roh, kita harus benar-benar menanggulangi semua campuran dalam roh kita, sehingga ketika roh itu dibebaskan, ia tidak akan berbahaya atau menyebabkan kesukaran bagi orang lain.

VI. PENCAKUPAN BAGIAN YANG DILEWATI OLEH ROH

Bagian yang dilewati oleh roh, singkatnya, adalah jiwa dan tubuh; tetapi jika ditelaah secara rinci, bagian ini meliputi : keinginan hati, motivasi, tujuan, maksud, hati, suasana hati, kemauan, daging, dan lain-lain. Keinginan hati adalah masalah hati, sedangkan motivasi, maksud, dan lainlain, dapat berada di dalam hati maupun di dalam jiwa. Daging adalah masalah tubuh fisik.

Karena semua bagian yang akan dilewati oleh roh mengelilingi (menyelubungi) roh, maka ketika roh keluar dan melewati mereka, tidak bisa tidak terpengaruh oleh mereka, dan juga membawa unsur dan keadaan mereka. Karena itu, bagaimana keadaan mereka, demikian juga keadaan roh yang tertampil keluar. Jika motivasi kita tidak murni, roh yang keluar juga tidak murni; jika maksud kita tidak bersih, roh yang keluar juga tidak bersih.

Demikianlah contoh sebelumnya mengenai berkhotbah dengan maksud untuk pamer dan bersaing. Seorang saudara berkhotbah, rohnya bebas, tetapi disertai aroma pamer dan bersaing, sebab dalam keinginan hati dan motivasinya ada unsur pamer dan bersaing. Dia memiliki keinginan hati untuk kemuhaan diri sendiri, hasilnya adalah roh yang suka pamer dan berbangga diri; dia memiliki motivasi bersaing, maka yang dijamah orang lain adalah roh yang bersaing.

Karena itu, roh manusia, benar-benar adalah bagian yang paling sejati dari manusia. Tak peduli bagaimana keadaan seseorang, itu akan ternyatakan ketika rohnya keluar. Ketika kita berkontak dengan orang lain, membantu orang lain dalam masalah rohani, kita harus menjamah rohnya dan mengetahui keinginan, motivasi, dan lain-lain dari orang tersebut. Demikian, baru kita bisa mengetahui keadaan sesungguhnya dari batiniah seseorang.

Sebagai contoh, misalkan seorang saudara datang kepada penatua dan berkata, "Aku dan Saudara A bersama-sama terlibat dalam suatu bisnis, dan ia telah merugikan aku. Aku datang bukan untuk mendakwa dia, tetapi hanya untuk bersekutu dengan saudara pewajib." Walaupun di mulut la mengatakan bahwa ia datang bukan untuk mendakwa Saudara A, tetapi rohnya menyatakan sebahknya; motivasi dan maksudnya dalam bersekutu adalah untuk mendakwa saudaranya. Begitu kita menjamah rohnya, motivasi dan maksudnya tidak dapat disembunyikan.

Keinginan hati, motivasi, dan lainnya yang terkandung dalam roh manusia sama seperti aksen seseorang, sangat sukar untuk disamarkan. Misalnya, orang yang berasal dari Selatan bersikeras mengatakan bahwa ia berasal dari Utara. Jika ia diam, tidak ada masalah, tetapi semakin ia berdebat, aksennya semakin mengungkapkan bahwa ia, berasal dari Selatan. Pada saat Petrus berada di halaman rumah Imam Besar, semakin la mempertahankan diri dengan berkata bahwa ia bukan salah seorang dari orang Nazaret, aksen Galileanya semakin menyingkapkan dirinya (Mat. 26:69-73). Demikian juga, seseorang mungkin mengatakan bahwa ia rendah hati, tetapi rohnya menyingkapkan kesombongannya. Seseorang dapat mengatakan bahwa ia sangat jujur, tetapi rohnya menyebabkan kita merasakan kebaikannya. Ada orang mungkin berkata bahwa ia akan senang membantu jika ada kesempatan, tetapi Anda menjamah roh yang tidak bersedia membantu. Yang lain mungkin berkata bahwa ia benar-benar ingin taat, tetapi karena kesulitan tertentu ia tidak dapat taat; namun dari rohnya kita dapat mengetahui bahwa dari awalnya ia sudah tidak pernah ingin taat. Cerita dalam roh manusia lebih kompleks daripada ekspresi lahiriah. Karena itu, kita harus menentukan menurut roh manusia, bukan menurut perkataan manusia.

Semua saudara saudari yang melayani Tuhan dan gereja harus mempelajari pelajaran ini. Jika kita hanya mengamati sikap orang secara luaran dan mendengarkan perkataannya, kita akan sangat mudah tertipu. Namun, jika kita belajar menjamah rohnya, keinginan hati, motivasi, tujuan, dan maksudnya tidak dapat terlepas dari pengamatan kita. Karena semua itu adalah yang dilewati oleh rohnya, dan ketika roh keluar, pasti semua itu ikut terbawa keluar. Bagaimana keadaan rohnya menyatakan keadaan batinnya. Boleh dikatakan: Tidak ada perkecualian untuk hal ini.

VII. MENANGGULANGI ROH

ADALAH MENANGGULANGI BAGIAN

YANG DILEWATI OLEH ROH

Karena pencemaran roh disebabkan oleh bagian yang dilewati oleh roh (yaitu keinginan hati, motivasi, tujuan, maksud, dan lain-lain), maka menanggulangi roh bukanlah menanggulangi roh itu sendiri, tetapi menanggulangi keinginan hati, motivasi, tujuan, maksud, dan lain-lain. Setiap kali kita ingin bertindak atau berbicara, tidak hanya perlu bertanya apakah yang akan kita lakukan itu salah atau benar, baik atau buruk, tetapi juga perlu menelusuri memeriksa apakah maksud kita bersih, motivasi kita murni, dan tujuan kita sepenuhnya untuk Allah? Apakah ada maksud untuk din sendin? Apakah ada kecenderungan diri sendiri? Penanggulangan semacam ini adalah penanggulangan roh.

Misalkan, saudara tertentu bertentangan dengan Anda, dan Anda sangat marah dan jengkel terhadapnya. KetikaAnda menyinggung tentang dirinya kepada orang lain, walaupun di luar Anda bereakap-cakap secara ringan seperti tidak terjadi apa-apa, tetapi kata-kata Anda pasti membuat orang lain sedikit merasakan roh yang menghakimi dan jengkel. Hingga suatu hari, ketika sedang bersidang atau berdoa, Anda menerima belas kasihan Tuhan dan nampak bahwa karena Tuhan telah mengampuni Anda, maka Anda juga harus mengampuni saudara Anda. Pada saat ini, dari lubuk yang paling dalam, Anda menanggulangi tujuan dan maksud Anda yang tidak memaafkan secara tuntas. Kemudian, ketika Anda menyinggung lagi saudara ini kepada orang lain, walaupun Anda menyentuh masalah pertentangan masa lalu, roh Anda tidak berat sebelah, roh Anda tetap lurus. Pada saat ini, tidak hanya roh Anda keluar, tetapi ia keluar dengan bersih, tanpa ada maksud lain.

Dalam gereja, orang yang benar-benar dapat menyuplai orang lain dan memperlengkapi saudara saudari adalah orang yang mempunyai roh yang bersih melalui penanggulangan yang sedemikian. Jika roh seseorang tidak pernah ditanggulangi, bahkan saat ia memuji orang lain, juga akan membuat orang merasa tidak nyaman. Karena rohnya tidak bersih, atau ada maksud mencari muka atau ingin mendapatkan balasan dari orang lain. Sebaliknya, ada orang yang rohnya telah ditanggulangi, sekalipun ia menegur orang lain dengan keras dan tegas, membuat mereka yang ditegur merasa sedih dalam jiwanya, tetapi roh mereka justru menerima suplaian dan mendapatkan sorotan terang, dan karenanya merasa disegarkan dan dipuaskan. Ini dikarenakan rohnya bersih dan murni, tidak memiliki maksud lain.

Jadi, kita tidak hanya perlu meremukkan daging, diri, dan alamiah, agar roh kita bisa keluar, tetapi kita juga harus maju selangkah lagi dan menanggulangi dengan tuntas semua motivasi yang tidak murni, maksud yang tidak seharusnya ada, kecenderungan yang tidak tulus, tekad yang tidak tepat, emosi yang campur aduk, dan sebagainya, demikian selanjutnya roh tidak hanya hisa keluar, bahkan keluar dengan lurus, bersih, dan murni. Karena itu kita perlu memiliki dua tahap penanggulangan. Pertama adalah penanggulangan peremukan untuk membebaskan roh; kedua adalah penanggulangan unsur dalam bagian yang dilewati roh, agar roh dapat keluar dengan bersih. Penanggulangan unsur ini adalah menanggulangi bagian yang dilewati oleh roh, juga adalah menanggulangi roh.

Karena bagian yang dilewati oleh roh mencakup semua bagian diri kita, maka menanggulangi roh berarti menanggulangi semua bagian diri kita. Penanggulangan ini lebih dalam dan lebih halus daripada berbagai penanggulangan yang disebutkan sebelumnya. Jika kita mengibaratkan menanggulangi dosa dan menanggulangi dunia seperti mencuci pakaian, menanggulangi hati nurani seperti mandi, menanggulangi daging seperti mencukur rambut, menanggulangi diri seperti menguliti, menanggulangi alamiah seperti memotong daging, lalu menanggulangi roh dapat diibaratkan seperti mengambil semua sel darah untuk diperiksa dan dibersihkan satu per satu. Dimulai dengan menanggulangi dosa, setahap demi setahap menanggulangi, makin menanggulangi makin dalam, makin menanggulangi makin halus. Sampai menanggulangi alamiah, kita benar- benar ditanggulangi luar dan dalam. Bagian yang tertinggal ialah campuran yang keluar bersama keluarnya roh. Ketika roh kita pun ditanggulangi dan dibersihkan dari semua percampuran, sekarang tidak hanya roh bisa keluar, bahkan roh itu keluar sebagai roh yang bersih, murni, dan lurus. Demikian sduruh diri kita ditanggulangi dengan lengkap dan tuntas. Selanjutnya adalah dipenuhi oleh Roh Kudus. Ketika semua unsur ciptaan lama kita telah ditanggulangi, Roh Kudus bisa menduduki dan memenuhi seluruh diri kita.

VIII. PERBEDAAN ANTARA MENANGGULANGI ROH

DAN MENANGGULANGI HATI NURANI

Menanggulangi hati nurani dan menanggulangi roh adalah penanggulangan yang sangat halus di dalam kita dan sepertinya sukar dibedakan. Namun jika kita membandingkannya dengan teliti, kita akan tahu bahwa sasaran penanggulangannya berbeda. Menanggulangi roh menekankan menanggulangi maksud, motivasi yang tidak murni, dan berbagai percampuran di dalam kita; sedangkan menanggulangi hati nurani menekankan menanggulangi perasaan hati nurani terhadap semua percampuran.

Misalnya, seorang saudari memberi tahu suatu perkara kepada orang lain. Ketika ia berbicara, ada motivasi yang tidak baik tersembunyi di dalamnya. Setelah itu, hati nuraninya menegurnya, menyebabkan ia merasa bahwa memberi tahu orang dengan motivasi yang tidak baik adalah hal yang tidak patut. Kemudian ia mengaku dosa kepada Allah dan menanggulanginya di hadapan orang. Pada taraf ini, ia telah menanggulangi perbuatan memberi tahu orang lain dengan motivasi yang tidak baik, dan ia memiliki damai sejahtera dalam hati nuraninya. Tetapi ia belum menanggulangi motivasi tidak baik itu sendiri. Maka, unsur itu, campuran itu tetap tinggal di dalamnya. Kalau ia tidak berbicara, rohnya tidak keluar, unsur itu tidak ternyatakan. Namun, begitu ia menyinggung masalah yang sama, rohnya keluar, motivasi itu, campuran itu, secara otomatis akan terbawa keluar lagi. Setelah itu, ia beroleh sorotan terang dan nampak betapa motivasi tersebut sangat rendah, tidak seharusnya tinggal di dalam dirinya; kemudian ia menanggulangi dan menyingkirkan motivasi yang tidak baik itu bersandarkan kekuatan Roh Kudus. Pada saat ini, ia tidak hanya menanggulangi tindakan luaran yang tidak benar, tetapi juga campuran dalam dirinya itu. Dalam menanggulangi tingkah laku di luar, ditinjau dari sudut tingkah laku, itu adalah menanggulangi dosa; ditinjau dari sudut perasaan hati nurani terhadap tingkah laku, itu adalah menanggulangi hati nurani; sedangkan menanggulangi campuran yang di dalam, itu adalah menanggulangi roh.

Contoh lain lagi, seorang saudara sangat tidak puas terhadap, seorang saudara lain dan menyimpan banyak perasaan kritikan dan keluhan. Walaupun perasaan-perasaan ini belum dinyatakan, tetapi dalam hati nuraninya ia merasakan bahwa ini tidak benar; karena itu, ia mengakuinya sebagai dosa di hadapan Allah. Inilah penanggulangannya untuk hati nuraninya. Walaupun demikian, ia belum mau melewatkan perasaan- perasaan tidak puas ini dan menanggulangi percampuran ini. Karena itu, setiap, kali ia teringat akan saudara itu atau menyebutkan saudara itu, rohnya tetap mengandung percampuran ini dan tetap merupakan roh yang tidak puas, penuh kritikan. Sampai taraf ini, ia hanya menanggulangi peraaaan hati nuraninya saja, tetapi belum menanggulangi percampuran dalam rohnya. Ia hanya memiliki pengalaman menanggulangi hati nurani, tetapi bukan penanggulangan roh. Karena itu, ia mungkin merasa damai dalam hati nuraninya, tetapi percampuran dalam rohnya belum disingkirkan. Sampai ia menerima belas kasihan lagi dan melewatkan ketidakpuasan yang tersembunyi jauh dalam batinnya, sehingga tidak ada percampuran itu lagi dalam rohnya, barulah ia telah mempelajari satu pelajaran menanggulangi roh.

Pendek kata, menanggulangi hati nurani adalah masalah menanggulangi perasaan. Kita harus menanggulangi roh barulah menanggulangi hakiki yang di dalam. Bila hakiki yang di dalam telah ditanggulangi, masalah itu baru terhitung telah ditanggulangi sepenuhnya. Karena itu, menanggulangi roh adalah lebih dalam dan leblh tegas dari pada menanggulangi hati nurani. Menanggulangi hati nurani adalah pelajaran dalam tahap kedua pengalaman hayat rohani, sedangkan menanggulangi roh hanya dapat dialami pada akhir tahap ketiga pengalaman hayat rohani.

IX. CARA MENANGGULANGI ROH

1. Keaktifan Kita

Cara konkret untuk menanggulangi roh sama dengan berbagai penanggulangan yang disebutkan sebelumnya. Pertama, kita perlu menghakimi percampuran itu, dan kedua, menyingkirkannya bersandarkan kekuatan Roh Kudus. Contoh, kita memiliki roh yang bengkok. Pertama kita harus menghakimi kebengkokan ini sebagai dosa. Kedua, kita harus menyingkirkan kebengkokan ini dari dalam kita bersandarkan kekuatan Roh Kudus. Walaupun penghakiman dan penyingkiran ini terlaksana bersandarkan kekuatan Roh Kudus, tetapi karena keaktifan kita, kita bersedia, kita mau, demikian kita dapat menggunakan kekuatan Roh Kudus. Roh Kudus harus mendapatkan kerja sama tekad kita, baru kita mendapatkan kekuatan untuk menanggulangi. Inilah prinsip yang paling mendasar dari penanggulangan kita dalam hayat.

Kata "mematikan" yang disebutkan dalam Roma 8:13 berarti kita secara aktif mematikan, bukan Roh Kudus melakukannya untuk kita. Sarananya adalah Roh Kudus, tetapi yang aktif adalah kita. Yang menyuplaikan kekuatan adalah Roh Kudus, tetapi yang aktif dan berdasarkan kekuatan Roh Kudus mematikan perbuatan-perbuatan tubuh adalah kita. Kita pernah menyinggung sebelumnya dalam Galatia 5:24, yang mengatakan bahwa kita yang adalah milik Kristus telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Penyaliban ini juga berasal dari keaktifan kita, bukan keaktifan Tuhan. Tidak salah bahwa penyaliban digenapkan oleh Tuhan, tetapi itu hanya dasar yang obyektif, kita secara aktif mematikan barulah penerapan yang subyektif. Kita harus secara aktif menerapkan salib untuk mematikan bagian-bagian yang dilewati oleh roh, yang meliputi daging, diri, alamiah, keinginan, motivasi, tujuan, kecenderungan, dan lain-lain.

2. Salib sebagai Dasarnya

Penanggulangan secara aktif semacam ini berbeda dengan tirakat buatan manusia. Tirakat buatan manusia murni berasal dari pekerjaan manusia, sedangkan keaktifan kita menanggulangi adalah didasarkan pada fakta salib. Karena Tuhan telah menghakimi dosa di atas salib, maka kita dapat menanggulangi dosa. Karena Tuhan telah menghakimi dunia, maka kita dapat menanggulangi dunia. Demikian juga, karena Tuhan telah membereskan manusia lama kita di atas salib, dan juga daging, temperamen, diri, alamiah kita, dan semua campuran lain, maka kita dapat menggunakan fakta tersebut sebagai dasar untuk menanggulangi daging, temperamen, tekad diri, kekuatan alamiah, dan semua percampuran dalam roh kita.

3. Fungsi Hayat

Dalam menanggulangi roh, kita tidak hanya memiliki fakta yang telah digenapkan oleh Tuhan di salib sebagai dasar, tetapi juga memiliki hayat kematian dan kebangkitan Tuhan sebagai kekuatan. Karena hayat ini keluar dari kematian di atas salib, maka di dalamnya terkandung unsur kematian salib. Karena itu, ketika hayat ini mengalir masuk ke dalam kita, ia membawa kita kembali kepada kematian salib untuk menyatukan kita dengan kematian salib, dengan demikian menyatukan kita dengan salib. Ini seperti arus listrik yang mengahr ke bola lampu, yang menghubungkan bola lampu dengan pembangkit tenaga listrik; pada saat yang sama arus listrik dari pembangkit tenaga listrik dapat menyatakan fungsinya dengan membuat bola lampu itu menyala. Demikian juga, ketika hayat kematian dan kebangkitan Tuhan masuk ke dalam kita dan bergerak di dalam kita, juga menghasilkan fungsi. mematikan, yang membuat kita bisa memiliki berbagai macam penanggulangan untuk mematikan. Hayat di dalam kita ini secara spontan memberi kita perasaan yang menuntut kita menanggulangi dosa, dunia, perasaan hati nurani, kesombongan dan keinginan daging, opini din, kekuatan hayat alamiah, dan semua percampuran dalam berbagai bagian dari diri kita. Semua penanggulangan ini adalah fakta yang sudah dirampungkan Kristus di salib, dan sekarang di dalam Roh Kudus menjadi pengalaman kita.

Begitu kita memiliki perasaan yang berasal dari hayat Tuhan di dalam kita, kita perlu memakai tekad kita untuk bekerja sama dengan hayat-Nya, dan dengan segera secara aktif menanggulangi. Jika kita bekerja sama secara demikian, perasaan hayat ini akan berubah menjadi kekuatan yang mematikan, membuat kita memiliki pengalaman kematian salib. Pada saat ini, pembunuhan salib akan ternyata dalam kehidupan kita, secara riil, konkret, menyingkirkan ketidakbenaran, ketidakkudusan, pelanggaran dalam hati nurani, daging, temperamen, opini diri, alamiah, dan semua percampuran dalam berbagai bagian diri kita. Pada saat ini, seluruh diri kita tidak hanya diremukkan agar roh kita dapat dibebaskan, tetapi juga dimurnikan sehingga roh yang dibebaskan itu bersih dan lurus, lembut dan normal.

4. Standar Damai Sejahtera

Standar penanggulangan rob. kita tetap adalah "hayat dan damai sejahtera". Kita hanya perlu menanggulangi sampai taraf memiliki damai sejahtera di dalam; ini sudah cukup. Namun sampai taraf apa penanggulangan kita baru memperoleh damai sejahtera, Roh Kudus akan bertanggung jawab untuk berbicara kepada kita dan memberi kita perasaan yang jelas. Sering kali pembicaraan Roh Kudus di dalam memiliki standar yang lebih tinggi daripada tuntutan di luar. Jika pertumbuhan hayat kita mencapai tingkat menanggulangi roh, maka tuntutan Roh Kudus di dalam kita tidak hanya akan lebih tinggi daripada hukum dunia ini, bahkan lebih tinggi dan lebih hebat daripada hukum dalam huruf-huruf di Alkitab. Karena itu, asal perasaan di dalam terasa tembus, itu sudah cukup. Jika di dalam tidak tembus, di dalam merasa tidak damai, janganlah mendengarkan alasan yang di luar. Kita harus, memperhatikan permintaan Roh Kudus yang di dalam dan mencapai standar yang diminta oleh Roh Kudus di dalam kita.