DIPENUHI ROH KUDUS
Sekarang kita sampai pada pengalaman hayat yang keempat belas, yaitu dipenuhi Roh Kudus. Ini adalah topik yang sangat rumit, karena ini adalah satu subyek yang sangat besar dalam Alkitab. Selama dua ribu tahun ini, para ahli Alkitab dan orang-orang yang menuntut kerohanian memiliki pandangan yang berbeda dan penjelasan yang beragam mengenai hal ini. Karena itu, sampai hari ini, banyak orang yang tidak dapat menemukan definisinya secara umum, merasa bingung terhadap hal ini. Namun jika kita menerima firman Tuhan dengan hati yang polos murni dan membandingkannya dengan pengalaman kita, kita akan merasakan bahwa hal ini sangat sederhana. Hari ini ketika kita membahas hal ini, kita akan membahasnya secara sangat sederhana, sepenuhnya terlepas dari sifat menyelidik, dan hanya membicarakan mengenai pengalaman kami berdasarkan Alkitab.
Menyinggung hal dipenuhi Roh Kudus atau pekerjaan Roh Kudus di atas diri kita, kita harus sangat jelas bahwa seturut Alkitab, hal ini dibagi menjadi dua masa: masa Perjanjian Lama dan masa Perjanjian Baru; dan menurut pengalaman kita, dibagi menjadi dua aspek besar: yang di luar dan yang di dalam.
I. CIRI KHAS PEKERJAAN ROH KUDUS
DALAM DUA MASA BESAR,
PERJANJIAN LAMA DAN BARU
1. Dalam Perjanjian Lama Tercurah ke atas Diri
Manusia di Luar, dalam Perjanjian Baru
Tinggal di Dalam Diri Manusia
Ciri khas pekerjaan Roh Kudus atas diri manusia dalam dua masa, Perjanjian Lama dan Baru adalah : pertama, dalam Perjanjian Lama Roh Allah tercurah di atas manusia di luar, dan dalam Perjanjian Baru Roh Kudus tinggal di dalam manusia. Perjanjian Lama sering kali mencantumkan perkataan seperti, "Roh Allah (Roh TUHAN) turun (tercurah) atas" orang tertentu. Itu menyiratkan bahwa Roh Allah datang ke atas diri manusia, menggerakkan manusia untuk melakukan pekerjaan tertentu. Meskipun dalam, Perjanjian Lama Roh Allah turun atas manusia untuk menggerakkan manusia agar bekerja bagi-Nya cukup sering terjadi, tetapi dalam prinsipnya, saat itu Roh Allah belum masuk ke dalam manusia dan tinggal di dalam manusia untuk berbaur dengan manusia. Saat itu Roh Allah hanya turun ke atas manusia, karena itu bisa saja "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia" (Kej. 6:3), dan adakalanya Ia bisa "mengambil Roh-Mu" (Mzm. 51:13). Sampai masa Perjanjian Baru, Roh Kudus baru mulai masuk ke dalam manusia dan berbaur dengan manusia, bahkan selamanya tinggal di dalam manusia, tidak terpisah lagi dari manusia; manusia pun bisa selamanya menilimati berkat Roh Kudus. Jadi, tinggalnya Roh Kudus di dalam diri manusia adalah ciri khas yang paling besar dari pekerjaan Roh Kudus dalam masa Perjanjian Baru.
2. Dalam Perjanjian Lama Menekankan
Memberikan Kekuatan, dalarn Perjanjian Baru
Menekankan Menjadi Hayat (sifat)
Kedua, kita harus nampak dengan jelas dari terang Alkitab bahwa dalam masa Perjanjian Lama, Roh Allah turun atas manusia untuk menggerakkan manusia agar melakukan pekerjaan Allah; penekanannya adalah menjadi kekuatan manusia. Dalam Perjanjian Lama, generasi demi generasi, Roh Allah berulang-ulang turun atas manusia sebagai kekuatan ilahi yang menggerakkan manusia untuk bekerja, berperang, dan berbicara bagi Allah, atau sebagai hikmat yang unggul yang memampukan manusia untuk menangani perkara-perkara bagi Allah. Misalnya, setelah Roh Allah turun ke atas Musa, ia mampu berperang melawan Firaun, berbicara bagi Allah. Roh Allah pada dirinya juga menjadi hikmatnya, membuat ia mampu mengurus perkara-perkara bagi Allah, bertanggung jawab atas rumah Allah, memimpin bani Israel, memerintah umat Allah, dan membangun tabernakel bagi Allah. Semua pekerjaan yang dilakukan oleh Musa ini tidak berasal dari kekuatan atau hikmatnya sendiri, tetapi merupakan hasil dari turunnya Roh Allah ke atas dirinya.
Meskipun orang-orang dalam Perjanjian Lama menerima Roh Allah atas diri mereka sebagai kekuatan atau hikmat, tetapi dalam prinsipnya mereka tidak menerima Roh Allah masuk ke dalam mereka untuk berbaur dengan mereka dan menjadi hayat mereka. Karena pada masa Perjanjian Lama, Roh Allah hanya turun ke atas manusia sebagai kekuatan, tetapi tidak masuk ke dalam manusia sebagai hayat; Ia hanya memberikan kuasa ilahi kepada manusia, tidak memberikan sifat ilahi kepada manusia. Karena itu, dalam Perjanjian Lama kita melihat beberapa orang yang memiliki kekuatan Allah, tetapi sama sekali tidak memiliki sifat Allah. Simson adalah contoh yang paling baik (Hak. 14-16). Dirinya memiliki kekuatan adikodrati Allah, tetapi pada saat yang sama ia sama sekali tidak memiliki sifat Allah. Di sini ada orang perkasa yang kekuatannya tidak terukur, tetapi sifatnya benar-benar tidak sesuai dengan Allah. Agak sukar untuk menemukan orang dalam Perjanjian Lama yang lebih kuat daripada Simson; menyinggung kekuatan, tidak diragukan Simson adalah manusia super. Tetapi mengenai sifat dan hayatnya, Simson adalah orang yang paling kasihan di antara semua orang yang dipakai Allah dalam, Perjanjian Lama. Dalam hayat dan sifat, Musa dan Daud memiliki sesuatu yang agak mirip dengan kehadiran Roh Allah, tetapi pada Simson, keadaan itu tidak ada sama sekali. Karena itu, ditinjau dari sudut kekuatan, Simson penuh dengan Roh Allah; tetapi ditinjau dari sudut hayat, ia sama sekali tidak memiliki Roh Allah. Ini karena dalam masa Perjanjian Lama, Roh Allah turun ke atas manusia sebagai kekuatan, bukan sebagai hayat. Ia turun ke atas manusia sehingga manusia bisa memiliki kekuatan Allah, tetapi bukan sifat-Nya. Baru pada masa Perjanjian Baru, Roh Kudus benar-benar masuk ke dalam manusia dan menjadi hayat manusia, sehingga manusia memiliki sifat Allah.
3. Dalam Perjanjian Lama Roh Allah
Dipakai oleh Manusia, dalam Perjanjian Baru
Roh Kudus Adalah Tuhan di Dalam Manusia
Berdasarkan kedua butir di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Roh Allah yang turun ke atas manusia dalam Perjanjian Lama tidak datang dalam persona-Nya untuk menjadi Tuhan agar dipatuhi manusia, tetapi sebagai kekuatan untuk dipakai manusia. Kita tahu bahwa Roh Kudus memiliki persona; tetapi pada masa Perjanjian Lama Roh Allah tidak turun ke atas manusia dalam persona-Nya. Jika Ia turun ke atas manusia dalam persona-Nya, Ia akan datang sebagai Tuhan, dan manusia harus menaati-Nya. Namun pada masa Perjanjian Lama, la turun sebagai kekuatan tanpa persona-Nya; karena itu, sepertinya Ia menuruti manusia dan dipakai deh manusia.
Sebagai contoh, bensin di dalam mobil tidak memiliki persona, bensin bukanlah tuan dari mobil untuk dituruti oleh mobil. Karena mobil itu tidak memiliki kekuatan sebagai bahan bakar untuk bergerak, maka mobil itu diisi dengan bensin. Bensin adalah kekuatan yang menggerakkan mobil dan digunakan oleh mobil. Demikian juga, Allah ingin agar Musa membawa bani Israel keluar dari Mesir dan memimpin mereka ke Tanah Kanaan, tetapi Musa sadar bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan tersebut. Ia tidak memiliki kekuatan untuk berbicara kepada Firaun bagi Allah, juga tidak memiliki kekuatan untuk memimpin beberapa juta orang Israel melalui padang belantara. Ia tidak memiliki kekuatan untuk mengatur bani Israel, tidak memiliki kekuatan untuk membangun tabernakel bagi Allah menurut pola surgawi. Tidak salah, Musa pernah mempelajari semua hikmat Mesir, ia sangat cakap; tetapi pendidikan dan kecakapannya yang sedikit itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tugas besar ini. Karena itu, Roh Allah datang bukan untuk menjadi tuannya agar ditaati, tetapi untuk menambahkan kekuatannya dan dipakai olehnya. Musa sama ibarat sepeda yang dapat melaju hanya 15 kilometer per jam, dan Roh Allah sama seperti motor yang ditambahkan pada sepeda itu yang meningkatkan kecepatannya menjadi 45 kilometer per jam. Sebenarnya, dalam Perjanjian Lama Roh Allah turun ke atas manusia bagaikan sebuah motor yang ditambahkan pada sepeda, tujuannya bukan untuk menjadi tuan bagi sepeda itu atau untuk menguasainya, melainkan untuk menjadi kekuatan penggeraknya dan meningkatkan keefektifannya. Inilah arti sebenarnya dari visi semak yang terbakar, yang dilihat Musa ketika ia dipanggil (Kel. 3:2-3). Semak itu adalah Musa, dan api itu adalah Roh Allah yang turun ke atasnya. Semak itu hanya sedikit kegunaannya, tetapi api yang membakarnya itulah yang menjadi kekuatannya.
Karena itu, kita harus, selalu ingat prinsip ini, dalam masa Perjanjian Lama, walaupun Roh Allah turun ke atas manusia dan menjadi kekuatan penggerak yang besar bagi manusia, tetapi Ia tidak turun dalam persona-Nya untuk menjadi Tuhan bagi manusia agar ditaati manusia; melainkan turun ke atas manusia sebagai kekuatan untuk dipakai manusia.
Namun sampai Perjanjian Baru, prinsip pekerjaan Roh Kudus mutlak berbeda. Pada saat ini, ketika Ia turun untuk bekerja atas manusia, Ia tidak hanya turun ke atas manusia untuk menjadi kekuatan manusia, tetapi juga tinggal di dalam manusia dan berbaur menjadi satu dengan manusia, menjadi hayat manusia, serta membaurkan sifat Allah ke dalam manusia. Ini berarti, sekarang Ia datang dalam persona-Nya untuk tinggal di dalam manusia. Karena Ia datang dalam persona-Nya untuk tinggal di dalam manusia, maka Ia datang untuk menjadi Tuhan bagi manusia, menuntut manusia untuk menaati-Nya. Sungguh menakjubkan bahwa tidak ada satu kalimat pun dalam Perjanjian Lama yang mengatakan bahwa manusia harus menaati Roh Allah. Tetapi dalam Perjanjian Baru sering dikatakan bahwa kita harus menaati-Nya. Misalnya, dalam Kitab Galatia banyak dikatakan bahwa kita harus hidup (berjalan) menurut Roh (Gal. 5:25). Dua Korintus 3:18 menyebut Roh Kudus sebagai "Tuhan Roh" (Tl.). Roh Kudus hari ini adalah Tuhan, satu persona. Ia tinggal di dalam kita, menjadi Tuhan kita; karena itu kita harus mempercayakan diri kita kepada-Nya dan menaati hukum-Nya. Ia bukan hanya menjadi kekuatan kita, lebih-lebih menjadi Tuhan kita. Ia bukan hanya bensin dalam mobil, lebih-lebih adalah pengemudinya. Ia bukan hanya motor sepeda itu, lebih-lebih adalah pemilik yang mengemudikannya. Tidak hanya kekuatan penggerak kita sebagai mobil itu tergantung pada-Nya, tetapi kapan mobil itu berhenti, berjalan, maju atau mundur, semua ada di bawah pengendaraan dan pengarahan-Nya. Sifat dan hayat kita berasal dari-Nya. la adalah hayat kita, sifat kita, dan Tuhan kita.
4. Dalam Perjanjian Lama Memiliki Satu Aspek,
dalam, Perjanjian Baru Memiliki Dua Aspek
Kita yang berada di zaman Perjanjian Baru menikmati berkat ganda dari Roh Kudus, yaitu, aspek Dia menjadi kekuatan kita, dan aspek Dia menjadi hayat dan sifat kita. Orang-orang yang hidup di zaman Perjanjian Lama menikmati Roh Allah hanya sebagai kekuatan di luar, sedangkan orang-orang yang berada dalam Perjanjian Baru juga menikmati Roh Kudus sebagai hayat di dalam. Ini tidak berarti bahwa dalam masa Perjanjian Baru Allah mengakhiri aspek pekerjaan yang dilakukan dalam Perjanjian Lama, tetapi sebaliknya, Ia melanjutkan aspek ini lebih jauh dan menambahkan aspek lain. Dalam Perjanjian Lama hanya ada satu, aspek, tetapi dalam Perjanjian Baru ada dua aspek; dalam Perjanjian Lama hanya ada yang di luar, tetapi dalam Perjanjian Baru ada yang di luar dan di dalam. Karena itu, dalam Perjanjian Baru, kita tidak hanya bisa bersandar pada Roh Kudus sebagai kekuatan di luar untuk melakukan pekerjaan yang Allah amanatkan kepada kita, tetapi juga bisa melalui Roh Kudus sebagai hayat di dalam kita berbaur menjadi satu dengan Allah. Ini sungguh merupakan anugerah Allah yang mulia!
II. PERBEDAAN MENGALAMI
ROH KUDUS DI DALAM DAN DI LUAR
Kita telah melihat ciri khas pekerjaan Roh Kudus dalam dua masa besar, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sekarang kita akan melihat pengalaman kita atas Roh Kudus di dalam dan di luar.
1. Terlebih Dulu Mengalami yang di Dalam
Kemudian Mengalami yang di Luar
Orang-orang dalam masa Perjanjian Lama tidak mengalami Roh Kudus tinggal di dalam diri mereka, tetapi hanya mengalami turunnya Roh Allah secara luaran. Namun dalam masa Perjanjian Baru, manusia dapat mengalami kedua aspeknya. Akan tetapi, terlebih dulu manusia harus mengalami tinggalnya Roh Kudus di dalam, baru kemudian mengalami turunnya Roh Kudus di luar. Karena itu, dalam masa Perjanjian Baru, tinggaInya Roh Kudus menjadi dasar untuk turunnya Roh Kudus ke atas manusia di luar.
a. Tuhan Yesus sebagai Model
Manusia pertama dalam Perjanjian Baru yang mengalami tinggalnya Roh Kudus adalah Yesus darl Nazaret, Tinggalnya Roh Kudus di dalam Yesus dari Nazaret merupakan tindakan yang besar dari Allah yang menandai perubahan zaman. Sejak sejarah umat manusia dimulai, walaup un banyak yang telah mengalami turunnya Roh Allah ke atas diri mereka, menggerakkan mereka untuk melakukan pekerjaan Allah, tidak ada seorang pun di antara mereka yang memiliki Roh Kudus tinggal di dalam diri mereka, berbaur dengan mereka, dan menjadi hayat dan sifat mereka. Musa atau Daud bukan orang yang demikian; Elia dan Daniel juga tidak. Selama empat ribu tahun, tidak pernah ada orang yang demikian. Setelah empat ribu tahun berlalu, baru Yesus dari Nazaret muncul, di dalam-Nya Roh Kudus berhuni dan berbaur dan menjadi hayat dan sifatNya. Ini karena hayat yang ada di dalam-Nya berasal dari Roh Kudus.
Karena Tuhan Yesus adalah orang pertama yang mengalami tinggalnya Roh Kudus, dan karena Ia adalah Kepala dari kaum beriman Perjanjian Baru dan gereja, maka cara pekerjaan Roh Kudus dalam kaum beriman Perjanjian Baru sama dengan yang terjadi pada-Nya; Roh Kudus bekerja di atas Tubuh dengan cara yang sama dengan Ia bekerja di atas Kepala. Pengalaman Kepala (Tuhan Yesus) terhadap Roh Kudus, menjadi model atau pola bagi kita (kaum beriman Perjanjian Baru) dalam mengalami Roh Kudus.
Pengalaman Tuhan Yesus terhadap Roh Kudus dengan jelas terbagi dalam dua aspek: pertama, pengalaman Roh Kudus di dalam sebagai hayat, dan kedua, pengalaman Roh Kudus di luar sebagai kekuatan. Ia mulai mengalami Roh Kudus sebagai hayat di dalam ketika sedang dikandung. Tuhan Yesus dikandung oleh Roh Kudus (Mat. 1:20). Roh Kudus masuk ke dalam Maria, seorang dari ciptaan lama; dan dari Maria lahir Yesus orang Nazaret. Karena itu, sejak Tuhan Yesus dikandung, hayat dan sifat di dalam-Nya berasal dari Roh Kudus. Dengan kata lain, kita dapat berkata bahwa dari hari Ia dilahirkan, Ia selalu dipenuhi dengan Roh Kudus.
Sejak hari Tuhan dilahirkan sampai la keluar untuk bekerja bagi Allah, selama tiga puluh tahun ini, Ia hidup di hadirat Allah melalui Roh Kudus sebagai hayat di dalamNya. Yesaya 53:2 mengatakan, "Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering." Ini mengacu kepada kehidupan-Nya sebelum Ia berumur tiga puluh tahun. Selama tiga puluh tahun tersebut, di satu pihak Ia bisa dengan merendah hidup sebagai seorang anak manusia di satu keluarga tukang kayu yang miskin, di pihak lain Ia bisa hidup menurut hukum Allah. Ini mutlak bersandarkan Roh Kudus memenuhi Dia sebagai hayatNya.
Ketika Ia berumur tiga puluh tahun dan mulai bekerja bagi Allah, peristiwa pertama yang terjadi ialah sementara Ia dibaptis di Sungai Yordan, Roh Kudus turun ke atas-Nya seperti burung merpati, dan Ia dipenuhi oleh Roh Kudus. Setelah melewati empat puluh hari pencobaan di padang gurun, Ia bahkan lebih dipenuhi oleh kekuatan Roh Kudus dan bekerja bagi Allah di berbagai daerah yang berbeda di sekitar Galilea (lihat Mat. 3:16; Luk. 3:21-23; 4:1-15). Kita melihat bahwa keadaan-Nya ini benar-benar mirip dengan orang-orang dalam Perjanjian Lama yang mengalami Roh Allah. Ketika Yehezkiel berada di tepi Sungai Kebar, Roh TUHAN turun ke atasnya, ia kemudian berbicara bagi Allah (Yeh. 1:1-3). Demikian juga, ketika Tuhan Yesus berada di Sungai Yordan, Roh Kudus turun ke atas-Nya, dan Ia pun kemudian memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Surga. Ini membuktikan bahwa Tuhan Yesus pada saat ini mengalami aspek lain dari pekerjaan Roh Kudus; turunnya Roh Kudus ke atas diri-Nya sebagai kekuatan ilahi, membuat-Nya mampu bekerja bagi Allah.
Karena itu, kita melihat bahwa Tuhan Yesus mengalami Roh Kudus dalam dua aspek : pengalaman Roh Kudus di dalam, sebagai hayat sehingga Ia dapat memiliki sifat Allah, dan pengalaman Roh Kudus di luar sebagai kekuatan, membuat Ia mampu melakukan pekerjaan Allah. Pertama-tama Ia mengalami Roh Kudus di dalam sebagai hayat ketika Ia dikandung; setelah itu, ketika la dibaptis, Ia mengalami Roh Kudus di luar sebagai kekuatan. Pada saat ini, Ia dipenuhi oleh Roh Kudus baik di dalam maupun di luar.
Ada orang mengira bahwa Yohanes Pembaptis adalah orang pertama yang dipenuhi oleh Roh Kudus dalam Perjanjian Baru. Sebenarnya tidak demikian. Mengenai Yohanes Pembaptis, Lukas 1:15 mengatakan, "...ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya." Namun, dalam teks aslinya "penuh" di sini mengacu pada aspek kekuatan di luar, dalam prinsip yang sama dengan Roh Allah turun ke atas para nabi pada Perjanjian Lama. Walaupun secara waktu, ia telah mendapatkan-Nya ketika ia berada di dalam rahim ibunya, tetapi ini tetap hanya satu aspek, yaitu aspek kekuatan yang di luar. Itu tidaklah sama dengan apa yang diterima umat Perjanjian Baru, yang terdiri dari dua aspek, yaitu terlebih dulu yang di dalam dan kemudian yang di luar, aspek hayat dan aspek kekuatan. Walaupun Yohanes adalah yang terbesar dari antara para nabi, Tuhan berkata bahwa yang terkecil dari Kerajaan Surga lebih besar daripada dia (Mat. 11:11). Karena itu, menurut prinsip pengalaman atas pekerjaan Roh Kudus, ia adalah seorang dalam Perjanjian Lama, pengalamannya tidak dapat digolongkan dalam Perjanjian Baru.
b. Pengalaman para Rasul
Segera setelah Tuhan Yesus, para rasul merupakan kelompok pertama yang mengalami Roh Kudus. Mereka juga terlebih dulu mengalami tinggaInya Roh Kudus di dalam, dan kemudian turunnya Roh Kudus di luar.
Pada Yohanes 14, Tuhan sejak dini sudah menjanjikan murid- murid-Nya bahwa Ia akan meminta Bapa untuk mengirimkan Penghibur yang lain, yaitu Roh kebenaran, untuk tinggal di dalam mereka sehingga mereka dapat hidup seperti Tuhan hidup (ayat 16-20). Perkataan Tuhan ini menyatakan bahwa mereka akan mengalami Roh Kudus di dalam sebagai hayat.
Pada malam kebangkitan, sementara murid-murid berkumpul, Tuhan datang di tengah-tengah mereka dan "menghembusi mereka dan berkata, Terimalah Roh Kudus- (Yoh. 20:22). Ini adalah penggenapan janji Tuhan agar mereka memiliki Roh Kudus masuk ke dalam mereka dan menjadi hayat mereka. Pada hari Allah menciptakan Adam dari debu tanah, Ia menghembuskan nafas hidup kepadanya supaya manusia mendapatkan hayat dan menjadi manusia hidup yang memiliki roh. Sekarang, dengan cara yang sama, Tuhan menghembusi murid-murid supaya mereka mendapatkan hayat dan menjadi manusia yang dilahirkan kembali. Namun, yang Allah hembuskan ke dalam manusia pada saat penciptaan bukanlah Roh Allah; karena itu, apa yang manusia dapatkan hanyalah rohnya sendiri, ditambah hayat ciptaan. Pada malam kebangkitan, apa yang Tuhan hembuskan ke dalam murid-murid-Nya adalah Roh-Nya sendiri; karena itu, murid-murid mendapatkan Roh Kudus ditambah hayat yang bukan ciptaan dan kekal, sehingga mereka dapat hidup selamanya sebagaimana Tuhan sendiri hidup. Jadi, secara tegas, tepat, dan riil dapat dikatakan bahwa Petrus, Yakobus, Yohanes, dan para rasul lainnya dilahirkan kembali melalui mendapatkan hayat Allah pada malam kebangkitan. Hembusan (nafas) yang Tuhan hembuskan ke dalam mereka adalah nafas hayat, ini mutlak untuk hayat, bukan untuk kekuatan.
Pada hari Pentakosta, para rasul mengalami aspek lain dari pekerjaan Roh Kudus, yaitu aspek Roh Kudus sebagai kekuatan. Kisah Para Rasul 2:1-4 mengatakan, "Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti titipan angin keras yang memenuhi selurith rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka sentua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan." Sejak saat itu, para rasul memberitakan Injil dengan kekuatan besar, membawa ribuan orang beroleh selamat.
Jika kita membandingkan kedua contoh pengalaman para rasul menerima Roh Kudus, kita dapat melihat perbedaannya. Roh Kudus dalam aspek hayat mereka alami pada malam kebangkitan, dilambangkan dengan "nafas", sedangkan Roh Kudus dalam aspek kekuatan mereka alami pada saat Pentakosta, dilambangkan dengan tiga hal : "angin", "api", dan "lidah-lidah". Baik angin dan api melambangkan kekuatan, sedangkan lidah adalah untuk berbicara dan juga berhubungan dengan kekuatan. Lebih lanjut, pada saat Pentakosta, Roh Kudus "hinggap pada mereka masing- masing"; Ia tidak masuk ke dalam mereka. Jadi, apa yang mereka alami pada saat itu adalah Roh Kudus turun ke atas mereka sebagai kekuatan di luar. Bersandarkan kekuatan Roh Kudus yang di luar inilah mereka mampu berbicara dalam bahasa-bahasa berbagai bangsa, memberitakan Injil, dan kemudian pergi ke berbagai daerah untuk bekerja bagi Tuhan.
Jadi, dari pengalaman para rasul kita juga dapat nampak kedua aspek pekerjaan Roh Kudus, dan bahwa mereka terlebih dulu mengalami yang di dalam., kemudian baru yang di luar.
2. Pada Saat yang Sama Mengalami
yang di Dalam dan di Luar
Setelah Pentakosta, pengalaman terhadap Roh Kudus, baik yang di dalam. atau yang di luar, telah digenapkan dalam Kepala (Tuhan Yesus), dan juga dalam Tubuh (diwakili oleh para rasul). Sejak itu, semua yang mengalami pekerjaan Roh Kudus dapat pada saat yang sama mengalami baik tinggaInya di dalam maupun turunnya di luar. Bukti hal ini dapat dilihat atas keluarga Kornelius.
Kisah Para Rasul 10 menampakkan kepada kita bahwa Petrus diutus untuk memberitakan Injil ke rumah Kornelius, dan sementara ia memberitakan, Roh Kudus turun ke atas semua orang yang mendengar, membuat mereka tidak hanya menerima Roh Kudus yang tinggal di dalam. sebagai hayat, tetapi juga sebagai kekuatan yang turun ke atas mereka di luar. Karena itu, dimulai dari keluarga Kornelius dan berlanjut sampai hari ini, manusia bisa mengalami pekerjaan Roh Kudus di dalam dan di luar pada saat yang sama. Roh Kudus di dalam adalah dasar bagi Roh Kudus di luar; Roh Kudus di luar adalah bukti dari Roh Kudus di dalam. Inilah keadaan yang paling normal.
Tentu saja, dari generasi ke generasi, ada banyak orang yang hanya mengalami Roh Kudus sebagai hayat di dalam ketika mereka diselamatkan; setelah sejangka waktu kemudian, baru mereka mengalami Roh Kudus sebagai kekuatan di luar. Ada juga yang tidak pernah mengalami Roh Kudus di luar sebagai kekuatan. Dalam kasus apa pun, dalam zaman Perjanjian Baru, tidak ada seorang pun yang dapat mengalami Roh Kudus di luar sebagai kekuatan tanpa mengalami Dia sebagai hayat di dalam. Kasus sedemikian tidak pernah terjadi dalam zaman Perjanjian Baru.
III. CARA UNTUK DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS
1. Perampungan Fakta Obyektif
Untuk dipenuhi Roh Kudus, terlebih dulu kita harus mengenal bahwa menurut fakta obyektif, baik aspek di dalam maupun aspek di luar telah dirampungkan Allah. Roh Kudus sebagai hayat di dalam diberikan pada malam kebangkitan, sedangkan Roh Kudus sebagai kekuatan di luar turun pada hari Pentakosta. Koor dari sebuah Kidung yang dikarang oleh A. B. Simpson mengatakan, "Jangan ragukan Roh itu, yang diberikan sejak dulu kala." Turunnya Roh Kudus seperti penyaliban Tuhan Yesus, keduanya adalah fakta yang telah rampung. Hari ini Tuhan Yesus tidak perlu disalibkan lagi; demikian juga Roh Kudus tidak perlu turun lagi. Allah tidak perlu memberikan Tuhan Yesus lagi kepada manusia untuk disalibkan bagi manusia; Allah juga tidak perlu menurunkan Roh Kudus lagi untuk memenuhi manusia di dalam dan di luar. Allah telah merampungkan semua itu. Jadi, masalahnya sekarang adalah terletak pada penerimaan kita oleh iman. Hari ini, untuk mendapatkan Kristus dan mengalami Kristus, kita hanya perlu menerima; demikian juga, untuk mendapatkan Roh Kudus, entah di dalam atau di luar, kita hanya perlu menerima. Berapa besar kapasitas kita menerima Roh Kudus, sebesar itu kapasitas Roh Kudus memenuhi kita. Sekarang marilah kita mempelajari cara menerima kepenuhan Roh Kudus dalam edua aspek tersebut.
2. Cara untuk Dipenub,i Roh Kudus di Dalam
Cara untuk dipenuhi Roh Kudus di dalam adalah :
a. Mengosongkan Diri
Untuk menerima kelahiran kembali dari Roh Kudus, terlebih dulu kita harus mengaku dosa, bertobat, dan menerima fakta bahwa Kristus telah mati bagi kita. Demikian juga, untuk menerima pemenuhan Roh Kudus, terlebih dulu kita harus menerima fakta bahwa kita telah mati dengan Kristus. Kemudian kita harus menanggulangi dosa, dunia, daging, opini diri, dan kekuatan alamiah kita, sampai akhirnya kita dapat mengosongkan diri kita sepenuhnya dari hal-hal itu, tidak mengizinkan satu pun dari hal-hal itu memiliki kedudukan di dalam diri kita lagi, sebaliknya kita membiarkan Roh Kudus mendapatkan semua kedudukan di dalam kita. Jika kita bisa memenuhi semua tuntutan Roh Kudus, membuang semua yang harus dibuang dan menolak apa yang harus ditolak, mengosongkan diri kita, dan membiarkan Roh Kudus memiliki semua kedudukan dan otoritas di dalam kita, maka secara otomatis, Roh Kudus akan memenuhi kita, dan kita akan mengalami dan menikmati pemenuhan Roh Kudus secara subyektif. Inilah alasan mengapa kita menempatkan pelajaran dipenuhi Roh Kudus setelah semua pengalaman penanggulangan.
b. Percaya
Setelah kita menanggulangi semuanya dan mengosongkan diri kita, kita harus percaya bahwa Roh Kudus di dalam kita sudah memenuhi kita. Kita hanya perlu percaya kepada pemenuhan Roh Kudus, tanpa perlu merasa apakah kita telah dipenuhi atau tidak. Iman yang sejati tidak tergantung pada perasaan. Jika kita mau demikian percaya, Tuhan akan membuat pemenuhan Roh Kudus menjadi pengalaman diri kita.
3. Cara untuk Dipenuhi Roh Kudus di Luar
Cara untuk dipenuhi Roh.Kudus di luar adalah :
a. Bersedia Dipakai Allah
Kita telah mengatakan sebelumnya bahwa Roh Allah turun ke atas manusia sebagai kekuatan adalah untuk memberikan tenaga, sehingga manusia mampu melakukan pekerjaan yang diberikan Allah dan agar dia dapat dipakai Allah. Sejak Perjanjian Lama, orang yang benar-benar bersedia dipakai Allah, mengalami turunnya Roh Allah ke atas dirinya sebagai kekuatan. Musa adalah orang yang demikian, demikian juga Simson, Daud, Elia, Elisa, Yehezkiel, dan nabi-nabi lainnya.
Sampai Perjanjian Baru, prinsipnya tetap sama. Contoh pertama dalam Perjanjian Baru mengenai orang yang ke atasnya Roh Kudus turun adalah Tuhan Yesus. Alasan Roh Kudus turun ke atas Tuhan pada hari Ia dibaptis adalah Tuhan bersaksi kepada langit dan bumi melalui baptisan bahwa sejak hari itu la secara resmi akan dipakai oleh Allah. Pada saat orang-orang di dunia ini tidak memperhatikan kehendak Allah atau pekerjaan Allah, hanya hidup untuk diri mereka sendiri, Yesus dari Nazaret berdiri di hadapan seluruh alam semesta, menyatakan bahwa Ia ingin hidup bagi Allah, dipakai oleh Allah, dan bekerja untuk Allah. Pada saat inilah Roh Kudus turun ke atas diri-Nya.
Demikian juga dengan kelompok para rasul yang pertama. Sebenarnya mereka adalah nelayan, tetapi mereka meninggalkan ikan dan perahu mereka, dan dengan sepenuh hati mereka bersedia dipakai oleh Allah. Mereka ingin melanjutkan pekerjaan Tuhan guna menggenaplian pekerjaan Allah di mulia bumi. Keinginan dan sikap mereka menyiapkan jalan bagi Allah untuk mencurahlian Roh Kudus ke atas diri mereka pada hari Pentakosta.
Contoh seperti ini tidak terhitung banyaknya dalam sejarah gereja. Sekitar dua ratus tahun yang Ialu, gereja di Moravia mendapat pencurahan Roh Kudus yang hebat. Sebelumnya, mereka juga telah siap untuk dipakai oleh Allah; karena itu, pada suatu sidang pemecahan roti, Roh Kudus memenuhi mereka secara besar-besaran. Setelah itu mereka dipakai oleh Allah dengan cara yang luar biasa.
Sebenarnya, jika setiap orang begitu diselamatlian sudah bersedia menyerahkan segala sesuatu bagi Tuhan untuk dipakai oleh Tuhan, maka pada saat diselamatkan setiap orang akan berada dalam posisi menerima kedua aspek pemenuhan Roh Kudus secara bersamaan, seperti yang terjadi di rumah Kornelius. Sayang, hari ini sangat sedikit orang yang bersedia dipakai Allah begitu beroleh selamat! Kebanyakan orang puas dengan hanya memiliki hayat yang kekal dan tidak akan binasa. Mereka sama sekali tidak menghiraukan pekerjaan Allah atau rencana Allah. Mereka juga tidak ingin memiliki kekuatan untuk bekerja bagi Allah dan merampungkan rencana Allah. Walaupun setiap orang yang beroleh selamat sedikit atau banyak memiliki gerakan Roh Kudus dan minat bekerja bagi Allah, tetapi karena mereka tidak bersedia mempersembahkan diri mereka untuk dipakai Allah, mereka menekan gerakan Roh Kudus dan minat mereka. Walaupun Roh Kudus di dalam berulang kali menggerakkan mereka dan menaruh permintaan atas mereka, mereka tetap tidak mau menjawab. Ketika Ribka akan dinikahkan dengan Ishak, ia tidak menunda-nunda, dengan segera meninggalkan rumah bapaknya, mengikuti hamba tua itu, lalu memberikan dirinya kepada Ishak (Kej. 24). Hari ini banyak orang telah percaya Kristus dan telah beroleh selamat, tetapi mereka menolak menyerahkan diri mereka kepada Kristus. Mereka tetap pada posisi awal mereka, tidak rela membiarkan Tuhan memakai mereka. Karena itu, Tuhan kita nampaknya sering "ditipu" manusia! Ia memberikan keselamatan kepada manusia, tetapi manusia memalingkan mulia dari-Nya, tidak mau memberikan diri mereka kepada-Nya. Keadaan sedemikian menyebablian manusia tidak dapat menerima pemenuhan Roh Kudus di luar setelah mereka beroleh selamat.
Karena manusia tidak rela dipakai Allah, maka sedikit sekali orang yang mendapatlian pemenuhan Roh Kudus di luar, juga membuat perkara ini menjadi misterius dan jarang. Sebenarnya, aspek Roh Kudus di luar tidak lebih berharga atau tidak lebih sukar untuk diperoleh daripada aspek Roh Kudus di dalam; syarat yang diperlukan hanyalah kita bersedia dipakai Allah.
b. Percaya
Begitu kita mempersembahkan diri kita dan bersedia sepenuhnya dipakai oleh Allah, kita harus percaya pada pemenuban yang di luar, yaitu pencurahan Roh Kudus. Ini juga harus diterima dengan iman, bukan dengan perasaan. Jika kita benar-benar rela dipakai Allah dan kita percaya akan pencurahan Roh Kudus, maka kekuatan Roh Kudus di luar akan ternyata atas kita.
Karena itu, tidak perlu lagi meminta pemenuhan Roh Kudus di luar. Asal mau bangkit menjawab pranggilan Tuhan, berserah diri kepada Tuhan untuk dipakai oleh-Nya, dan berkata kepada-Nya, "Tuhan, aku tahu, Engkau menyelamatkan aku adalah agar Engkau dapat memakai aku. Sekarang aku menaruh semuanya dalam tangan-Mu untuk Kau pakai menurut kehendak- Mu. Aku juga tabu, berdasarkan kekuatanku sendiri aku tidak dapat melakukan apaapa. Karena itu, aku memerlukan Roh-Mu. Aku pun tahu bahwa Roh-Mu telah diberikan, aku di sini menerimanya demi iman." Dengan demikian, mendapatkan pencurahan Roh Kudus di luar bukanlah masalah yang sukar. Mengenai masalah penyataan pemenuhan di luar, kita perlu membiarkan Roh Kudus untuk bertanggung jawab. Beberapa orang mengagumi penyataan luaran orang lain, dan bersikeras bahwa mereka juga berbahasa lidah, menangis atau tertawa seperti yang orang lain lakukan; jika begitu, apa yang sesungguhnya, mereka inginkan adalah berbahasa lidah, menangis atau tertawa, bukan pencurahan Roh Kudus. Orang lain bersikeras untuk tidak menangis atau tertawa, karena mereka takut dikuasai roh jahat. Itu juga konsepsi yang salah. Kekerasan kita sering membatasi pekerjaan bebas Roh Kudus. Karena itu, ketika kita mengalami pencurahan Roh Kudus, kita perlu memberikan kebebasan penuh kepada Roh Kudus, tidak bersikeras atas apa pun atau menolak apa pun.
Kesimpulannya, pemenuhan Roh Kudus di dalam dan di luar adalah berkat yang mulia di bawah Perjanjian Baru, ini juga adalah penggenapan dari berkat yang dijanjikan kepada Abraham oleh Allah (Gal. 3:14). Semoga kita di satu pihak lebih banyak mengosongkan diri kita agar Roh Kudus bersama kepenuhan ke-Allahan dapat memenuhi kita dari dalam, sehingga memampukan kita untuk memperhidupkan gambar mulia Allah. Di pihak lain, kita perlu lebih banyak memberikan diri kita kepada Tuhan untuk dipakai oleh-Nya, sehingga Roh Kudus dapat turun ke atas kita dengan limpahnya, agar kita memiliki kekuatan dan memiliki karunia, bisa dengan baik-baik melayani Allah, menanggulangi musuh Allah, dan mendatangkan Kerajaan Allah!
TAHAP KEEMPAT –
KRISTUS BERTUMBUH DEWASA DI DALAM KITA
Sekarang kita akan melihat tahap, keempat pengalaman hayat rohani kita. Inilah tahap yang paling akhir dan paling tinggi dari hayat rohani kita - Kristus bertumbuh dewasa di dalam kita.
Setelah kita melewati berbagai penanggulangan dalam tahap-tahap di depan, semua kesulitan di dalam kita yang berhubungan dengan dosa, dunia, pelanggaran hati nurani, daging, diri, dan alamiah dan lainnya telah ditanggulangi dan dibersihkan, tidak ada lagi satu pun hal yang di luar Allah. Sekarang Allah telah mendapatican kedudukan yang mutlak di dalam kita, dan seluruh diri kita di dalam dan di luar telah dipenuhi oleh Roh Kudus. Sekarang kita memasuki tahap tertinggi hayat rohm yaitu Kristus bertumbuh dan matang di dalam kita. Karena itu, kita menyebut tahap tertinggi ini sebagai "Kristus bertumbuh dewasa di dalam kita".
Tahap hayat rohani ini bokh juga disebut sebagai tahap peperangan rohani. Karena pada tahap ini, meskipun semua kesubtan pada diri kita telah dibereskan, tetapi di alam semesta ini masih ada satu kesulitan, bisa dikatakan bukan kesulitan kita, melainkan kesulitan Allah, yaitu musuh Allah, Iblis, Satan, belum dibereskan. Lagi pula, karena kesulitan kita sendiri telah dibereskan, tidak ada lagi kedudukan bagi kekuasaan Iblis di roh maupun di jiwa kita, maka kita pun mencapai satu ruang lingkup rohani, di atas kedudukan keterangkatan menanggulangi musuh bagi Allah, dengan demikian mengalami peperangan rohani. Karena itu, peperangan rohani juga adalah pengalaman yang sangat penting dalam tahap keempat hayat rohani.
Mari kita melihat lambang Perjanjian Lama, yaitu kisah keluarnya bani Israel dari Mesir dan masuknya mereka ke Tanah Kanaan. Pada awal perjalanan, melalui menyeberangi Laut Merah mereka meninggalkan tanah perbudakan Mesir, sedanglian Firaun beserta tentaranya terkubur dalam laut. Sejak saat itu, dunia dan kekuatan penjajahannya telah terlepas dari diri mereka. Setelah itu, mereka berperang melawan orang Amalek, itu melambangkan mereka mulai menanggulangi daging. Kemudian bani Israel berkelana di padang gurun selama empat puluh tahun. Angka empat puluh dalam Alkitab melambangkan pengujian, penderitaan. Allah memimpin mereka berjalan melalui padang gurun selama empat puluh tahun, supaya melalui banyak pengujian dan penderitaan menyingkapkan berbagai kebobrokan daging mereka, agar daging dapat sepenuhnya ditanggulangi. Pengalaman kita juga sama. Setelah kita dibaptis, tidak cukup membereskan daging sekali saja; kita harus dibereskan dalam tangan Allah selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Adakalanya Allah memimpin kita melalui padang belantara, bukan hanya kehidupan kita mengalami kesukaran, bahkan roh kita kering, lembam, tertekan, dan menderita. Tujuan semuanya itu adalah untuk menguji kita, menekan kita, agar daging kita dapat ditanggulangi.
Ketika masa pengembaraan bani Israel telah penuh, Allah memimpin mereka menyeberangi Sungai Yordan, dan mereka disunat di Gilgal. Sejak saat itu, di satu pihak mereka dengan riil memasuki tanah perjanjian yaitu Tanah Kanaan; di pihak lain mereka menghadapi tujuh bangsa Kanaan, perlu melalui peperangan menyingkirkan mereka dan mendirikan Kerajaan Allah. Semua ini melambangkan ketika hari-hari pengujian kita secara rohani di padang gurun telah usai dan kita telah belajar membiarkan daging kita ditanggulangi sampai tingkat tertentu, Allah akan memimpin kita menyeberangi Sungai Yordan rohani, di mana daging akan dengan tuntas digulung, dilindas (Gilgal berarti digulung, dilindas), dan ditanggalkan (Kol. 2:11). Sejak itu, kita akan secara dil mengalami ruang lingkup surgawi, dan mewarisi semua kepenuhan Kristus. Lebih lanjut lagi, pada saat inilah kita bisa menjamah roh jahat di udara (langit) dan mulai memiliki pengalaman peperangan rohani.
Dalam perjalanan mereka, bani Israel melewati dua aliran air: Laut Merah dan Sungai Yordan. Laut Merah adalah untuk mengubur Firaun dan tentaranya, sedangkan Sungai Yordan adalah untuk mengubur orang Israel itu sendiri. Ketika mereka melewati Sungai Yordan, mereka membawa dua belas batu dari tengah-tengah sungai ke seberang bersama mereka, juga mendirikan dua belas batu lain di tengah-tengah sungai. Kedua kelompok dua belas batu ini mewakili kedua belas suku Israel. Ini menyatakan bahwa kedua belas suku yang lama diakhiri di Sungai Yordan, dan kedua belas suku yang baru lahir menyeberang ke sisi lain sungai untuk masuk ke tanah yang dijanjikan. Kedua aliran air yang mereka lewati ini melambangkan kematian Kristus. Air Laut Merah adalah lambang aspek kematian Kristus yang mengakhiri kuasa dunia. Air Sungai Yordan mewakili aspek kematian Kristus yang mengakhiri manusia lama kita. Ketika bani Israel melewati Laut Merah, mereka hanya bisa berperang melawan orang Amalek; setelah melewati Sungai Yordan, mereka baru dapat berperang melawan ketujuh bangsa di Kanaan. Ini berarti dalam awal kehidupan rohani kita, setelah pembaptisan kita, kita hanya dapat berperang melawan daging (Gal. 5:17). Setelah kerohanian kita mencapai puncaknya, daging telah sepenuhnya dikubur, dilindas, dan semua kesulitan di dalam telah dibereskan, barulah kita mulai mampu menanggulangi musuh yang di luar dan berbagian dalam peperangan rohani.
Menurut lambang ini kita tahu bahwa ketiga tahap pertama dari hayat rohani kita telah terjadi sebelum kita melalui Sungai Yordan. Tahap keempat terjadi setelah kita melewati Sungai Yordan dan masuk ke tanah Kanaan. Semua kesulitan kita telah ditanggulangi di sisi lain Sungai Yordan dan di dalam Sungai Yordan. Sekarang kita sampai ke sisi lain sungai untuk membereskan kesulitan Allah, berperang melawan ketujuh bangsa Kanaan yang menduduki tanah perjanjian Allah - kuasa-kuasa dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12) -, dan mengenyahkan mereka. Jadi, peperangan rohani harus ditempatkan di tahap yang paling akhir dan paling tinggi dari hayat rohani kita. Hanya dengan melewati berbagai penanggulangan dan telah membereskan berbagai kesulitan pada diri sendiri, baru kita bisa berbagian dalam peperangan rohani.
Dari sudut pandang lain, Allah mempunyai dua tujuan atas semua orang tebusan-Nya. Pertama, dan yang paling penting, adalah kita dipenuhi diri Allah sendiri dan mengekspresikan kemuliaan-Nya. Kedua, kita memerintah bagi Allah dan menanggulangi musuh-Nya. Ketika kita mencapai akhir tahap ketiga hayat rohani kita, kita dipenuhi Roh Kudus, yaitu dipenuhi diri Allah sendiri, tujuan Allah yang pertama dan paling penting ini boleh dikatakan telah tergenapi. Pada saat inilah Allah ingin kita belajar berperang bagi-Nya dan menanggulangi musuh-Nya sehingga tujuan kedua-Nya dapat tergenapi di dalam kita. Inilah yang akan kita alami dalam tahap keempat dari hayat rohani kita.
Dalam tahap keempat ini, kita akan membahas lima pengalaman : 1) mengenal Tubuh, 2) mengenal keterangkatan, 3) meraja bersama Kristus, 4) peperangan rohani, atau mendatangkan Kerajaan Allah, dan 5) penuh dengan perawakan Kristus. Sekarang marilah kita melihat pengalaman pertama dari tahap ini, yaitu mengenal Tubuh.