← Daftar isi Kelahiran Kembali · bab 15/19

MENGENAL TUBUH

Setiap orang yang ingin berbagian dalam peperangan rohani terlebih dulu harus mengenal Tubuh. Boleh dikatakan, tidak ada hal yang begitu mendesak kita untuk mengenal Tubuh seperti peperangan rohani, karena peperangan rohani bukanlah perkara individu, melainkan perkara Tubuh. Tidak ada orang beriman individu yang dapat berperang melawan musuh; ini memerlukan seluruh Tubuh. Karena itu, menyinggung tentang peperangan rohani, terlebih dulu kita harus mengenal Tubuh.

Mengapa kita harus menunggu sampai tahap keempat dari hayat rohani baru berbicara mengenai mengenal Tubuh? Karena Tubuh di sini mengacu kepada Tubuh Kristus yang mistikal, yaitu gereja. Tubuh ini tersusun dari hayat Kristus yang ada di dalam kita masing-masing, dan yang berbaur dengan kita. Ketika pengalaman hayat kita masih berada di tahap kedua atau ketiga, kita masih hidup dalam hayat kita sendiri; karena itu, kita tidak dapat mengenal hayat yang berbaur yang membentuk Tubuh. Hanya ketika hayat diri kita telah sepenuhnya dibereskan, memiliki pengalaman menyeberangi Sungai Yordan, dan memasuki tahap keempat, baru kita dapat menjamah realitas hayat Tubuh ini dan mengenal Tubuh.

Setiap orang yang telah beroleh selamat adalah satu anggota dari Tubuh Kristus. Apakah hayat di dalam kita masing-masing adalah hayat yang berhubungan dengan perlu tunjangan Tubuh. Semakin kita hidup anggota-anggotaatau dengan Tubuh? Alidtab dan pengalaman kita membuktikan bahwa meskipun kita masing-masing adalah satu anggota Kristus, tetapi hayat di dalam kita masing-masing bukan hayat anggota, melainkan hayat Tubuh. Semua anggota tubuh kita berbagian atas satu hayat. Setiap anggota berbagian atas hayat yang sama bersama semua anggota lainnya, yaitu hayat seluruh tubuh. Sebagai contoh, telinga, kecuali dipotong, berbagian atas darah yang sama yang mengalir melalui mata, hidung, dan seluruh tubuh. Demikian juga, dalam Tubuh Kristus, ketika seorang anggota bergabung dengan Tubuh atau memiliki persekutuan dengan Tubuh, hayatnya adalah hayat Tubuh, dan hayat Tubuh adalah hayatnya. Dia tidak bisa terpisah dari anggota-anggota lainnya, atau sebaliknya, anggota-anggota lain tidak dapat terpisah darinya. Karena hayat yang ada di dalamnya maupun di dalam anggota-anggota lainnya berasal dari satu Tubuh; ini tidak dapat dibedakan maupun dipisahkan. Hayat inilah yang menyatukan kita bersama-sama menjadi Tubuh Kristus. Dikatakan dengan lebih tepat dan tegas, hayat inilah yang berbaur dengan kita untuk menjadi Tubuli Kristus.

Namun, kita tidak dapat dengan tegas mengalaminya sebelum kita menanggulangi hingga bersih semua kesulitan yang ada pada diri kita sendiri. Jika kita masih hidup menurut daging, masih hidup dalam diri sendiri, masih melayani Tuhan dalam kekuatan alamiah, maka hayat Tubuh,

yaitu Kristus sendiri di dalam kita, tidak memiliki jalan untuk diekspresikan, dan kita tidak mungkin mengenal Tubuh. Semakin kita hidup oleh daging, kita akan semakin merasa tidak perlu tunjangan Tubuh. Semakin kita hidup oleh opini diri, kita. akan semakin merasa tidak perlu topangan gereja. Semakin kita melayani berdasarkan alamiah kita, kita akan semakin merasa tidak perlu koordinasi antar anggota. Jika daging kita telah ditanggulangi, opini diri telah diremukkan, dan hayat alamiah telah dipukul, barulah hayat di dalam lita akan memberi kita perasaan bahwa kita hanyalah salah satu dari anggota-anggota Tubuh dan bahwa hayat di dalam kita tidak dapat merdeka sendiri. Karena itu, hayat ini menuntut kita bersekutu dengan semua anggota lainnya dan bersatu dengan mereka. Saat ini, barulah kita mulai mengenal sedikit mengenai Tubuh dan baru memenuhi syarat untuk menjamah peperangan rohani.

Di satu pihak, kita katakan bahwa jika kita ingin berbagian dalam peperangan rohani dan membereskan kesulitan Allah, terlebih dulu kita harus menanggulangi daging, diri, dan hayat jiwa kita, membereskan kesulitan-kesulitan kita sendiri. Di pihak lain, kita katakan bahwa untuk berbagian dalam peperangan rohani, terlebih dulu kita harus mengenal Tubuh, dan untuk mengenal Tubuh dan hidup dalam Tubuh, kita harus terlebih dulu menanggulangi daging, diri, dan hayat jiwa kita. Karena itu, apakah kita berbicara dari sudut peperangan rohani atau dari sudut mengenal Tubuh, kita semua harus melalui tiga tahap penanggulangan sebelumnya - menanggulangi daging, diri, dan hayat jiwa - untuk mencapai tahap keempat dari pengalaman hayat.

Sekarang kita akan melihat perkara mengenal Tubuh dari beberapa aspek; dimulai dari rencana Allah.

I. RENCANA ALLAH

Sejak kekekalan Allah telah memiliki satu rencana, yaitu ingin mendapatkan sekelompok orang untuk berbagian dengan hayat-Nya, memiliki gambar-Nya, dan menjadi satu dengan-Nya. Sasaran dalam rencana ini, khususnya ada dua butir yang harus kita perhatikan ketika kita membicarakan perihal mengenal Tubuh.

1. Allah Hendak Menggarapkan Diri-Nya Sendiri

ke Dalam Manusia dan

Menjadikan Manusia Sarna seperti Diri-Nya

Hal ini mutlak berhubungan dengan Putra-Nya. Alkitab mewahyukan kepada kita bahwa Allah berada di dalam Putra-Nya. Apa adanya Allah dan apa yang Allah miliki, semua kepenuhan ke-Allahan, tinggal di dalam Putra (Kol. 2:9). Dapat kita katakan bahwa jika tidak ada Putra Allah, tidak juga ada Allah.

Konsepsi umum mengenai seorang putra ditekankan pada seorang putra yang dilahirkan oleh seorang bapa, dan putra dan bapa eksis secara terpisah. Tetapi Alkitab menekankan hubungan Allah dengan Putra Allah bahwa Dia adalah ekspresi Allah dan tidak dapat terpisah dari Allah. Yohanes 1: 18 mengatakan, "Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak (Putra) Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya." Ayat ini menyatakan bahwa Putra Allah adalah ekspresi Allah, atau Allah yang terekspresi. Tidak seorang pun pernah melihat Allah, tetapi sekarang Putra Allah telah menyatakanNya; ketika manusia melihat Putra Allah, ia melihat Allah. Ini seperti semua manusia pada hari ini adalah keturunan Adam, juga adalah pernyataan Adam. Di satu pihak, hari ini tidak ada seorang pun yang pernah melihat Adam, tetapi di pihak lain, di mana-mana kita bisa melihat Adam, karena Adam berada di dalam keturunannya yang banyak itu. Karena itu, ketika kita melihat umat manusia di bumi ini, kita tidak bisa menyanglial keberadaan Adam. Bersamaan dengan ini, dari diri umat manusia tersebut, kita pun mengenal segala cerita yang ada di dalam Adam. Demikian juga, Putra Allah adalah ekspresi Allah dan pernyataan Allah. Di luar Putra-Nya, Allah tidak memiliki ekspresi maupun pernyataan. Jadi, Allah dan Putra-Nya tidak dapat dipisahkan.

Karena Allah tidak dapat dipisahkan dari Putra-Nya, maka sasaran rencana Allah juga tidak dapat dipisahkan dari Putra-Nya. Allah hendak menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia, ini berarti Allah hendak menggarapkan Putra-Nya ke dalam manusia. Allah hendak membuat manusia serupa dengan diri-Nya, ini berarti Allah hendak membuat manusia serupa dengan Putra-Nya. Allah ingin agar manusia bersatu dengan diri-Nya, ini berarti Allah ingin agar manusia bersatu dengan Putra-Nya. Karena itu, meskipun dalam Kejadian 1:26 secara perlambangan ditunjukkan bahwa dalam penciptaan Allah menghendaki manusia serupa Dia dengan memiliki gambar dan rupa-Nya, tetapi sampai Perjanjian Baru ditunjukkan dengan jelas dan konkret bahwa Allah menghendaki manusia memiliki gambar-Nya, yaitu Dia menghendaki mereka "menjadi serupa dengan gambaran Putra-Nya" (Rm. 8:29). Ketika manusia diserupakan dengan gambar Putra-Nya, mereka memiliki gambar Allah, karena Putra adalah gambar Allah (Kol. 1:15).

2. Bukan Sejumlah Individu,

Melainkan Korporat, Suatu Kesatuan

Sekelompok orang ini, yang Dia kehendaki menjadi satu dengan Putra-Nya dan memiliki gambar Putra-Nya, dalam pandangan-Nya bukan sejumlah individu, melainkan yang korporat, satu kesatuan. Kita bisa nampak pemikiran ini dari tiga sebutan yang Alkitab katakan mengenai hubungan kita dengan Putra-Nya:

a. Saudara-saudara Putra Allah

Pertama, kita adalah saudara-saudara Putra Allah (Ibr. 2:11; Rm. 8:29). Dilihat dari aspek ini, kelihatannya kita masing-masing, individu-individu, adalah saudara-saudara Putra Allah; tetapi penekanan Alkitab dalam aspek ini adalah kita dan Kristus bersama-sama mengekspresikan Allah. Sebelum Kristus datang dalam daging, di alam semesta ini Allah hanya memiliki seorang Putra dan satu ekspresi. Setelah Kristus datang ke bumi dan menjadi daging, Dia menyalurkan hayat-Nya ke dalam kita sehingga kita dapat menjadi anak-anak (putra-putra) Allah dan saudarasaudara-Nya. Dengan demikian, Allah memiliki banyak putra di alam semesta. Karena Putra yang satu ini adalah ekspresi Allah, maka banyak putra yang lain juga adalah ekspresi Allah. Karena itu, mengatakan kita adalah saudara-saudara Kristus, penekanannya ialah kita dan Kristus bersama-sama adalah putra- putra Allah dan bersama-sama menjadi ekspresi Allah. Meskipun demikian, Alkitab tidak menyebut kita sebagai sejumlah individu yang terpisah. Karena meskipun kita menjadi saudara-saudara Kristus satu demi satu, tetapi Alkitab lebih jauh menyatakan bahwa kita adalah "keluarga Allah" (1Tim. 3:15). Meskipun kita adalah banyak putra Allah, putra yang individu bukanlah unitnya. Unitnya adalah kesatuan yang korporat dari semua putra, yang bersama-sama menjadi satu rumah, satu keluarga.

b. Mempelai Perempuan Kristus

Kedua, kita adalah mempelai perempuan Kristus (Ef. 5:31-32; 2 Kor. 11:2). Mungkin ada yang berpikir bahwa berjuta-juta orang yang beroleh selamat, mungkin Kristus juga memiliki berjuta-juta mempelai perempuan, seperti dalam sistem poligami. Tetapi Alkitab menunjukkan bahwa Kristus hanya memiliki satu mempelai perempuan - gereja, yang terdiri dari berjuta-juta orang yang beroleh selamat.

Ketika Alkitab mengatakan kita adalah mempelai perempuan Kristus, penekanannya adalah kita berasal dari Kristus, adalah bagian dari Kristus, sama seperti Hawa berasal dari Adam dan adalah bagian dari Adam. Sejak semula Adam tidak memiliki banyak rusuk untuk dikeluarkan, melainkan hanya satu, yaitu rusuk yang menjadi Hawa. Demikian juga, Kristus tidak memiliki banyak bagian untuk dikeluarkan (seperti sebuah bagian untuk seorang saudara beroleh selamat, bagian yang lain untuk seorang saudari beroleh selamat, dan seterusnya), melainkan hanya satu bagian yang diambil dari-Nya, dan itu adalah untuk penyelamatan gereja. Gereja adalah bagian satu-satunya yang berasal dari Kristus. Ketika kita mengatakan bahwa kita adalah mempelai perempuan Kristus, pemikiran korporat diekspresikan lebih khusus daripada mengacu kita sebagai saudara-saudara Kristus.

c. Tubuh Kristus

Kita adalah Tubuh, Kristus. Efesus 1:23 mengatakan, "Jemaat yang adalah tubuh-Nya." Dalam 1 Korintus 12:27 mengatakan, "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya." Pasal 10:17 mengatakan, "Kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh." Ayat-ayat ini memperlihatkan kepada kita bahwa kita adalah Tubuh Kristus, bukan berarti kita masing-masing secara individu membentuk Tubuh Kristus. Kita bersama-sama bersatu menjadi Tubuh Kristus yang mistikal, dan kita masing-masing adalah anggota-anggota Tubuh ini. Jadi, sebutan tubuh ini adalah paling dapat mengelespresikan kita adalah yang korporat, satu kesatuan.

Penekanan sebutan kita sebagai mempelai perempuan Kristus adalah gereja berasal dari Kristus. Ketika kita mengatakan kita sebagai Tubuh Kristus, penekanannya adalah gereja dan Kristus adalah satu. Sama seperti Hawa berasal dari Adam dan dipersembahIcan kepada Adam untuk menjadi satu daging dengan Adam, demikian juga gereja berasal dari Kristus, dipersembahkan kepada Kristus untuk menjadi satu dengan Kristus. Kristus adalah Kepala; gereja adalah Tubuh. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Jadi, gereja sendiri adalah satu; gereja dan Kristus juga adalah satu. Hal ini lebih jelas menyatakan apa yang Allah kehendaki untuk Putra-Nya, yaitu sekelompok orang yang korporat, bukan sejumlah individu yang terpisah- pisah.

Ringkasnya, kita dapat melihat lima butir dalam rencana Allah : 1) Allah hendak menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia, bersatu dengan manusia, agar manusia dapat serupa dengan-Nya. 2) Allah berada di dalam Putra-Nya. Karena itu, ketika Dia hendak menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia, berarti Dia hendak menggarapkan Putra-Nya ke dalam manusia; ketika Dia menghendaki manusia bersatu dengan-Nya, berarti Dia menghendaki manusia bersatu dengan Putra-Nya. 3) Orang-orang yang ingin Allah dapatkan dan bersatu dengan Putra-Nya adalah saudara-saudara Putra-Nya, mereka berbagian atas keputraan bersama dengan Putra-Nya, dan bersama Putra-Nya mengekspresikan Dia. 4) Sekelompok orang ini juga adalah mempelai perempuan Putra-Nya, bagian dari Putra-Nya, diambil dari Putra-Nya. 5) Mempelai perempuan ini bukan hanya berasal dari Putra-Nya, tetapi juga dipersembahkan kepada Putra-Nya untuk menjadi Tubuh Putra-Nya. Ketika Tubuh ini muncul, rencana Allah tergenapkan. Pendek kata, rencana Allah adalah memiliki Tubuh bagi Putra-Nya, dan Tubuh ini adalah gereja. Gereja adalah Tubuh Kristus, yaitu satu-satunya sasaran rencana Allah. Penciptaan Allah adalah untuk ini, penebusan-Nya untuk ini, pekerjaan-Nya di sepanjang zaman juga untuk ini. Ketika sasaran ini tercapai; Tubuh Kristus muncul, mempelai perempuan juga muncul, dan saudara-saudara pun muncul. Saat itu, kehendak dan tujuan Allah tercapai, rencana Allah pun tergenap. Jadi, jika kita ingin mengenal Tubuh, kita harus mengenal rencana Allah.

II. PENCIPTAA.N ALLAH

Kedua, kita akan melihat penciptaan Allah. Telah kita katakan bahwa hasrat hati Allah ialah mendapatkan sekelompok orang yang memiliki hayat-Nya dan mengekspresikan-Nya. Untuk tujuan ini, Allah melakukan penciptaan. Tetapi ketika Allah menciptakan manusia, Allah tidak menciptakan banyak manusia, melainkan hanya satu – Adam. Jika Allah dapat menciptakan seorang manusia, Dia juga dapat menciptakan berjuta- juta manusia. Lalu mengapa Allah tidak berbuat demikian? Mengapa Allah tidak menciptakan berjuta-juta manusia dalam. waktu yang bersamaan? Mengapa Allah hanya menciptakan satu Adam, dan kemudian dari Adam keluar berjuta-juta manusia? Alasannya ialah karena pemikiran Allah hanya satu.

Sejak adanya sejarah, jumlah manusia sangat banyak dan tidak terhitung, tetapi karena mereka semua berasal dari Adam, maka dalam pandangan Allah hanya ada satu manusia. Dalam pandangan Allah, di alam semesta ini hanya ada satu manusia, bukan berjuta-juta atau bermilyar- milyar manusia. Kita dapat membuktikan hal ini dengan 1 Korintus 15:45, 47. Dalam bagian ini rasul berbicara mengenai Adam dan Kristus sebagai "manusia pertama" dan "manusia kedua". Manusia kedua juga adalah yang "terakhir". Karena itu, selak penciptaan sampai sekarang, dalam. pandangan Allah, hanya ada seorang manusia lain di samping Kristus. Untuk mencapai tujuan-Nya dan menggenapkan rencana-Nya, Allah hanya menciptakan satu manusia. Allah tidak bermaksud untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam banyak individu. Hasrat-Nya adalah menggarapkan diri-Nya ke dalam satu manusia korporat dan mengekspresikan diri-Nya sendiri melalui satu manusia korporat ini.

Prinsip yang sama juga terdapat pada penciptaan perempuan. Dalam penciptaan, Allah hanya menciptakan seorang perempuan, yaitu Hawa. Kita tahu bahwa Hawa mewakili gereja. Allah hanya menciptakan seorang perempuan, ini berarti Allah hanya menghendaki seorang manusia korporat, yaitu gereja, untuk menjadi mempelai perempuan Kristus. Pendek kata, dalam penciptaan Allah, pemikiranNya adalah satu, dan kesatuan ini adalah Tubuh yang sedang kita bicarakan.

III. PENEBUSAN ALLAH

Ketiga, mari kita melihat penebusan Allah. Dalam penebusan Allah, pemikiran-Nya masih tetap satu. Meskipun dalam pengalaman kita, ada orang yang baru berokh selamat, ada yang sudah beroleh selamat beberapa tahun yang lalu, atau beberapa ratus tahun yang lalu, ada yang dibaptis di dalam negeri, ada yang di luar negeri; sepertinya terjadi dalam waktu dan tempat yang berbeda. Namun dari sudut pandang Allah, Dia tidak pernah menyelamatkan perorangan secara individu. Ketika Dia menyelamatkan, Dia menyelamatkan seluruh gereja.

Mengenai hal ini, lambang keluarnya bani Israel dari Mesir dengan jelas menyatakannya. Saat itu, seluruh bani Israel keluar dari Mesir, memakan anak domba dan mengoleskan darahnya pada waktu dan tempat yang sama. Kemudian pada waktu dan tempat yang sama mereka menyeberangi Laut Merah. Dari sudut pandang kita yang sempit, ada yang makan daging dan mengoleskan darah di suatu tempat, sedangkan yang lainnya makan daging dan mengoleskan darah di tempat lain yang mungkin berjarak beberapa ratus rumah jauhnya. Ketika menyeberangi Laut Merah, ada yang berada di depan dalam iring-iringan, ada yang di belakang; mereka mungkin berbeda jarak beberapa ribu meter jauhnya, terpisah beberapa menit lamanya. Tetapi dalam sudut pandang Allah, mereka makan daging dan mengoleskan darah secara serentak di Raamses (Kel. 12:37), dan penyeberangan mereka menyeberangi Laut Merah (Kel. 14:29) juga adalah suatu tindakan yang serentak.

Sebagai contoh, ketika seekor semut mengangkut makanannya dari satu sudut ruangan ke sudut lainnya, ia beranggapan bahwa ia telah berjalan cukup jauh, tetapi dalam pandangan kita, ia hanya bergerak di dalam sebuah ruangan. Sama halnya, dalam pengertian kita, keselamatan datang leblh cepat atau lebih lambat, di sini atau di sana, tetapi dalam pandangan Allah, seribu tahun sama seperti satu hari (2 Ptr. 3:8). Karena itu dalam pandangan kekekalan Allah, kita semua diselamatkan sekaligus. Dia tidak menyelamatkan kita satu per satu secara individu; Dia menyelamatkan kita secara korporat, sebagai seorang manusia. Jadi, dalam penebusan-Nya, sama seperti dalam, rencana-Nya dan dalam penciptaan-Nya, pemikiran- Nya tetap hanya satu. Dia tidak berencana agar Putra-Nya memiliki dua tubuh, melainkan hanya satu; Dia tidak menciptakan dua orang untuk Putra-Nya, melainkan hanya satu; Dia juga tidak menyelamatkan dua orang, hanya menyelamatkan satu orang. Baik dalam rencana Allah, dalam penciptaan-Nya, atau dalam penebusan-Nya, pemikiran itu satu dan hanya satu, dan kesatuan ini adalah Tubuh.

IV. DALAM KRISTUS

Setelah kita ditebus ke dalam Kristus, posisi kita dalam Kristus tetap satu. Di dalam diri kita sendiri, masingmasing kita adalah banyak, tetapi dalam Kristus kita hanya satu. Dalam Kristus hanya ada satu gereja. Dalam Kristus hanya ada satu Tubuh yang mistikal. Tubuh Kristus yang mistikal ini adalah satu. Makna rohani dari Tubuh adalah satu. Kapan kala kita sebagai orang-orang Kristen tidak lagi satu, kita tidak di dalam Tubuh, dan membuktikan bahwa kita belum melihat apakah Tubuh itu.

Surat kepada orang-orang Efesus terutama membicarakan gereja; dikatakan bahwa gereja adalah Tubuh Kristus yang mistikal. Namun Surat Efesus juga merupakan sebuah kitab yang paling banyak menyebutkan perkara "satu". Buku ini menyebutkan ketujuh "satu" : satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, dan satu Allah (Ef. 4:4-6). Tujuh adalah angka yang sempurna. Jadi "satu" yang sempurna ini adalah di dalam Tubuh, dan "satu" yang sempurna ini adalah Tubuh Kristus yang mistikal.

V. DALAM ROH KUDUS

Dalam Kristus adalah satu, dalam Roh Kudus lebih-lebih adalah satu. Kesatuan dalam Roh Kudus adalah yang biasa kita sebut persekutuan. Jika kita hidup dalam Roh Kudus, kita memiliki persekutuan ini, kita memiliki kesatuan ini, yaitu realitas Tubuh. Begitu kita kehilangan persekutuan dalam Roh Kudus, kita tidak memiliki kesatuan, dan kita tidak memiliki Tubuh.

VI. DALAM HAYAT

Dalam hayat kita masih tetap satu. Telah kita katakan bahwa hayat di dalam kita bukanlah hayat yang sebagian dan terbagi-bagi, melainkan hayat yang lengkap dan utuh. Karena persekutuan Roh Kudus, hayat dalam kita masing-masing itu lengkap utuh dan bukan sebagian dan terbagi-bagi. Hayat di dalam saya adalah hayat di dalam Anda dan juga adalah hayat di dalam Allah. Karena itu, hayat yang ada di dalam kita semua adalah satu, kita semua adalah satu dalam hayat ini. Bukan hanya orang-orang Kristen yang baik adalah satu dengan kita dalam hayat, tetapi juga orang-orang Kristen yang tidak baik, yang gagal, yang lemah. Kesatuan dalam hayat ini juga adalah Tubuh Kristus yang mistikal itu.

VII. DALAM PERSEKUTUAN

Persekutuan yang kita katakan di sini ialah persekutuan hayat. Karena kita semua adalah satu dalam hayat, maka persekutuan yang berasal dari hayat ini tentu adalah satu. Ada kesatuan, ada persekutuan; tidak ada kesatuan, tidak ada persekutuan. Karena itu, ketika kita dalam persekutuan, kita adalah satu. Hari ini, dalam kekristenan, orang-orang sering menyarankan persatuan. Hal itu membuktikan bahwa mereka tidak satu dan tidak di dalam persekutuan; itulah sebabnya persatuan perlu bagi mereka. Jika kita hidup dalam persekutuan, persatuan tidak diperlukan, karena kita sudah bersatu, kita adalah satu. Kesatuan ini adalah Tubuh Kristus.

VIII. DALAM PENGALAMAN

Karena ketujuh butir di atas adalah satu, maka dalam pengalaman kita, juga seharusnya satu. Jika dalam pengalaman kita, kita adalah satu, merasakan satu, dan menjamah satu, itu berarti kita telah mengenal Tubuh dan hidup dalam Tubuh. Tetapi faktanya tidaklah sederhana. Dalam rencana Allah, dalam penciptaan Allah, dalam penebusan Allah, dalam Kristus, dalam Roh Kudus, dalam hayat, dan dalam persekutuan, semua adalah satu. Semua ini adalah fakta-fakta yang telah digenapkan di pihak Allah, semua ini tidak menjadi masalah. Tetapi di pihak kita, apakah kita bisa satu dalam pengalaman, masing-masing orang berbeda. Ada yang telah memiliki sedikit pengalaman, ada yang belum. Yang akan kita tekankan di sini adalah kesatuan ini dalam pengalaman kita.

Pertama, kita harus tahu bahwa pengenalan dan pengalaman kita terhadap "satu" ini sangat berkaitan dengan umur rohani kita. Bagi orang yang masih hijau dan dangkal, pengenalan dan perasaan mereka akan kesatuan ini dangkal dan ringan; bagi orang yang kawakan dan matang, pengenalan dan perasaan mereka akan "kesatuan" ini dalam dan berat. Sebagai contoh, seorang saudara yang baru beroleh selamat merasa bahwa ia jauh ketinggalan dari saudara-saudara lainnya yang telah beroleh selamat lima atau sepuluh tahun. Sampai suatu hari ia memiliki sedikit kasih kepada Tuhan, ia cenderung merasa bahwa saudara saudari lainnya yang tidak mengasihi Tuhan tidak dapat dibandingkan dengannya. Ketika ia mempelajari beberapa pelajaran rohani, ia lalu merasa bahwa ia lebih kuat dibandingkan saudara dan saudari lainnya yang belum mempelajarinya. Adakalanya, ketika bersidang bersama saudara saudari muda, ia merasa bahwa doa mereka itu kurang, isi dan penuturannya tidak memadai, karena itu, ia tidak mau membuka mulutnya. Demikian terus-menerus merasa berbeda dengan yang lain, ini menyatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan kesatuan, juga membuktikan bahwa sebenarnya ia masih berada di dalam tahap yang belum matang, belum mengenal apakah Tubuh itu.

Namun, saudara saudari yang lebih matang tidak demikian. Ada dua aspek yang sepertinya berlawanan dengan perasaan mereka. Di satu pihak, mereka merasa bahwa saudara saudari yang lebih muda benar-benar tertinggal di belakang mereka; tetapi di pibak lain, mereka merasa bahwa mereka sama seperti semua saudara saudari. Saudara saudari merasakan apa, ia juga merasakan apa. Orang yang belum matang selalu merasa dirinya berbeda dari yang lainnya, tetapi orang yang makin matang dalam Tuhan dan makin tinggi dalam pengalaman rohani, ia makin tidak merasakan perbedaan itu. Karena itu, kita tidak dapat menjadi satu dalam pengalaman kita dikarenakan kita belum matang dan masih dangkal. Jika dalam pengalaman hayat kita sudah mencapai tahap keempat, tidak akan ada perasaan berbeda, melainkan ada perasaan kesatuan. Inilah mengenal Tubuh.

Jika berbicara mengenai penanggulangan, mengenal Tubuh juga adalah semacam penanggulangan, yaitu penanggulangan terhadap individualisme. Semua orang yang tidak mengenal Tubuh adalah orang-orang yang individual. Pandangan, tindakan, kehidupan, dan pekerjaan mereka itu bersifat individu. Semua individualisme itu dikarenakan mereka masih hidup dalam daging, diri, dan alamiah. Serupa dengan tumbuhan parasit, yang merambat di sekeliling pohon dan mati hanya jika pohon daging, diri, dan alamiah seluruhnya telah ditanggulangi. Jika daging, diri, dan alamiah ditanggulangi dengan tegas, individualisme akan terhapus. Orang yang tidak lagi hidup sebagai individual, akan sampai pada pengenalan Tubuh.

Karena itu, mengenal Tubuh bukanlah suatu doktrin yang dengan membicarakan atau mendengarkan sudah bisa membuat Anda mengerti. Mengenal Tubuh adalah hasil dari banyak pengalaman yang lalu. Setelah melewati semua pengalaman tersebut, akhirnya sampailah pada pengenalan Tubuh. Ini bagaikan kita hendak mengunjungi suatu daerah wisata tertentu, setelah kita menempuh sepotongan perjalanan, kita pun tiba di tempat tujuan dan dapat melihat obyek wisata tersebut. Demikian juga dengan mengenal Tubuh. Jika kita berharap dapat mengenal Tubuh dan menjamah realitas Tubuh dalam pengalaman, kita harus dengan baik menempuh suatu jarak tertentu dan mendaki bukit-bukit tertentu, dalam kehidupan rohani. Kita harus mulai dari pengalaman penanggulangan masa lampau dan melewati pengalaman-pengalaman menanggulangi dosa, dunia, dan hati nurani, dengan rajin mendaki dari satu tahap ke tahap berikutnya. Kita harus serius dalam mempelajari pelajaran satu per satu, terutama dalam menanggulangi daging, diri, dan alamiah. Jika kita sudah mengalami ketiga tahap pertama dari hayat rohani kita dan mencapai tahap keempat, baru kita dengan sendirinya akan mencapai satu tahap di mana kita dapat mengenal rahasia Tubuh Kristus.

Sesungguhnya, semua pengenalan rohani yang sejati tidak dapat dipisahkan dari pengalaman, semuanya ada berdasarkan pengalaman. Pengenalan rohani yang sejati tidak melampaui pelajaran-pelajaran yang telah kita alami. Sebagai contoh, ada suatu kebenaran Alkitab yang pada awalnya kita tidak dapat mengenalnya dengan tuntas karena pengalaman kita yang terbatas; kita hanya memiliki sedikit perasaan terhadapnya. Namun, jika kita dapat mengikuti perasaan itu dan dengan baik-baik mengalaminya, suatu hari, kebenaran ini akan bersinar di dalam kita. Di satu pihak, kebenaran mengkonfirmasi pengalaman; di pihak lain, karena pengalaman, kita mengenal kebenaran. Dengan demikian kita sampai pada pengenalan rohani yang sejati.

Misalnya lagi jika seseorang belum memiliki pengalaman persekutuan dalam hayat, ia tidak bisa memahami arti tinggal di dalam. Tuhan. Jika seseorang tidak memiliki pengalaman hidup menurut Roh, ia tidak bisa mengetahui pengajaran pengurapan minyak. Demikian juga, jika daging belum ditanggulangi, diri belum disangkal, dan alamiah belum diremukkan, orang ini tidak bisa mengenal apakah Tubuh. Ia mungkin mengenal sedikit doktrin Tubuh, tetapi ia tidak dapat menjamah baik kenyataan maupun realitas Tubuh. Tubuh Kristus bukanlah suatu doktrin; Tubuh Kristus adalah realitas. Orang harus mendaki bukit-bukit pengalaman tertentu sebelum dapat melihat dan menjamah Tubuh. Mengenal Tubuh tidak tergantung pada permohonan kita yang rendah. hati. Berdoa puasa selama tiga hari tiga

malam tidak akan membuat kita melihat Tubuh. Itu tidak ada gunanya. Pengenalan terhadap Tubuh adalah hasil pengalaman kita dan penempuhan rohani. Setelah pengalaman kita. cukup, kita sampai pada suatu tempat di mana kita dengan sendirinya mengenal Tubuh.

Saya tidak pernah melupakan berita yang disampaikan oleh Saudara Watchman Nee dalam sebuah sidang istimewa. Ia berulang-ulang menekankan bahwa sebelum Roma 12 terlebih dulu harus ada Roma 8. Seseorang harus melalui mematikan daging di Roma 8 baru dapat mencapai pengenalan Tubuh di Roma 12. Karena itu, sejak awal kita harus tegas dalam menanggulangi, terutama ketika menanggulangi daging, diri, dan alamiah, kita harus lebih serius, lebih hebat, sampai kita memiliki pengalaman mematikan daging dalam Roma 8, baru kita dapat mengenal Tubuh dalam Roma 12. Ketika tubuh (daging) kita telah dimatikan, maka Tubuh Kristus akan dinyatakan. Ini adalah. Realitas rohani yang di dalamnya tidak ada kepura-puraan dan tidak dapat berpura-pura. Mungkin ada kepura-puraan di bagian rohani lainnya, seperti kerendahan hati, lemah lembut, iman, dan kasih. Kita bahkan mungkin berpura-pura menjadi rohani. Tetapi kita tidak mungkin dapat berpura-pura mengenal Tubuh. Aka pengalaman kita mencapai tingkat mengenal Tubuh, kita. mengenalnya. Jika dalam pengalaman kita belum mencapai tingkat ini, kita tidak mengenalnya. Mendengar banyak pemberitaan tentang topik ini tidak akan menghasilkan apa-apa.

IX. BUKTI-BUKTI BAHWA KITA MENGENAL TUBUH

Karena mengenal Tubuh adalah hal yang sangat riil, bagaimana kita dapat mengetahui seseorang sudah mengenal Tubuh atau belum? Kita dapat membuktikannya paling sedikit dengan tiga cara.

1. Tidak Dapat Individualistis

Bukti pertama dari orang yang mengenal Tubuh adalah tidak dapat individualistis. Dalam ketujuh butir yang telah kita sebutkan - dalam rencana Allah, dalam penciptaan Allah, dalam penebusan Allah, dalam Kristus, dalam Roh Kudus, dalam hayat, dan dalam persekutuan - semuanya merupakan kesatuan, tidak dapat dipisahkan, tidak dapat individualistis. Karena itu, jika kita benar-benar telah mengenal Tubuh, benar-benar telah memiliki tujuh butir kesatuan, hasilnya pasti tidak dapat individualistis. Sebelum seseorang mengenal Tubuh, ia adalah seorang yang individu dan bisa individualistis. Secara luaran ia tampak menjadi satu dengan saudara saudari lainnya, tetapi tidak ada koordinasi dan jalinan yang sejati. Ketika ia bertumbuh dalam hayat dan mengenal Tubuh sampai tingkat tertentu, barulah ia nampak bahwa menjadi orang Kristen adalah perkara korporat. Jika ia. ingin terus hidup di dalam Tuhan, ia tidak dapat kehilangan persekutuan Tubuh, juga tidak bisa meninggalkan koordinasi para anggota. Saat ini, Tubuh Kristus menjadi hal yang riil baginya. Dalam gereja ia tidak dapat lagi sendirian melayani. Dari dalam lubuk batinnya ia merasa bahwa ia memerlukan orang lain untuk bersama-sama menjadi orang Kristen. Tidak hanya dalam pergerakan dan pekerjaan besar ia memerlukan saudara saudari, tetapi juga dalam pembacaan Alkitab dan berdoa, ia tidak dapat tanpa anggota-anggota lainnya. Ia tidak dapat bekerja tanpa koordinasi saudara saudari, dan ia tidak dapat hidup tanpa dukungan gereja. Pada tahap ini dengan sendirinya ia. berkoordinasi dengan kaum saleh menjadi satu Tubuh, dan tidak dapat dipisahkan. Karena itu, orang yang masih dapat individualistis, ia belum mengenal Tubuh; setiap orang yang benar-benar mengenal Tubuh, pasti tidak dapat individualistis.

2. Mengetahui Orang Lain Tidak di Dalam Tubuh

Bukti kedua kita mengenal Tubuh adalah kemampuan untuk mengetahui apakah orang lain di dalam Tubuh atau tidak. Orang yang telah mengenal Tubuh tidak hanya dirinya sendiri dengan sangat riil hidup di dalam Tubuh, tetapi juga dapat dengan jelas membedakan apakah orang lain hidup di dalam Tubuh atau tidak.

Kemampuan membedakan yang dimiliki seseorang setelah ia mengenal Tubuh mutlak dikarenakan persekutuannya dalam Tuhan telah mencapai tahap yang sangat dalam. Kita tahu, persekutuan kita dengan Tuhan makin bertambah dalam seiring dengan pengalaman hayat kita, dimulai dengan tahap pertama dari pengalaman rohani kita dan berlanjut sampai tahap keempat. Ketika kita maju dalam pengalaman hayat, tingkat persekutuan kita akan sangat berbeda, makin lama makin dalam. Bila dua orang yang berbeda tingkat persekutuannya dengan Tuhan berkumpul bersama, orang yang memiliki pengalaman lebih dalam dapat bersama-sama dengan orang yang memiliki pengalaman lebih dangkal dan bersekutu dengannya, tetapi persekutuan itu terbatas dalam tingkatan pengalaman orang yang lebih dangkal. Jika persekutuan ini melewati batas, akan ternyata tidak dapat masuk dan tidak dapat dipahami oleh orang yang lebih dangkal. Orang yang memiliki pengalaman lebih dalam dapat berjalan dengan orang yang memiliki pengalaman lebih dangkal, tetapi orang yang lebih dangkal tidak dapat "mengimbangi" orang yang lebih dalam. Ini adalah satu prinsip besar dalam persekutuan rohani.

Karena prinsip inilah, maka orang yang "dalam" dalam Tuhan bisa mengenal orang yang "dangkal", tetapi orang yang dangkal dalam Tuhan tidak mengenal mereka yang dalam. Jika kita dibawa Tuhan ke tahap keempat dan memiliki persekutuan yang dalam pada tahap, ini, ketika kita bersekutu dengan orang lain, melalui persekutuan kita bisa mengetahui apakah orang lain itu telah mencapai tahap, keempat, telah mengenal Tubuh atau belum. Tetapi jika kita sendiri belum mencapai tahap keempat dan tidak mengenal Tubuh, kita tidak berdaya membedakan orang lain.

Mari kita ambil satu contoh yang paling dangkal. Ketika orang lain berbicara mengenai kelahiran kembali sebelum kita dilahirkan kembali, hal itu "asing" bagi kita. Selain itu, kita tidak dapat mengetahui apakah orang lain telah dilahirkan kembali atau belum. Jika kita sudah dilahirkan kembali, kita bukan hanya dapat berbicara dengan orang lain tentang kelahiran kembali, tetapi juga dapat dengan mudah mengetahui apakah orang lain itu sudah dilahirkan kembali atau belum. Hal ini membuktikan bahwa kita benar-benar telah dilahirkan kembali.

Contoh lain, jika kita telah mempersembahkan diri dan telah memiliki pengalaman menanggulangi dosa, kita dapat mengenal orang-orang yang belum mengalami pengalaman ini. Karena persekutuan mereka dengan Tuhan belum mencapai tahap, ini, mereka tidak tahu apa yang kita bicarakan, juga tidak dapat menanggapinya. Sebaliknya, jika kita tidak memiliki pengalaman ini, kita juga tidak akan mampu mengetahui apakah mereka telah mempersembahkan diri atau telah menanggulangi dosa.

Melalui persekutuan, kita tidak hanya dapat memastikan apakah seseorang mengenal Tubuh atau tidak, bahkan pengalaman mengenal Tubuh itu sendiri juga boleh dikatakan adalah perkara persekutuan. Di dalam Tubuh, berarti di dalam persekutuan; tidak di dalam Tubuh, tidak dalam persekutuan. Banyak orang Kristen yang telah kehilangan kedudukan persekutuan, telah kehilangan realitas persekutuan. Ini berarti mereka tidak melihat Tubuh dan tidak hidup di dalam Tubuh. Karena itu, kita dapat di dalam persekutuan membuktikan apakah kita-di dalam Tubuh atau tidak. Aka, kita benar-benar mengenal Tubuh, kita dapat memastikan apakah orang lain di dalam Tubuh atau tidak. Karena jika orang lain tidak hidup dalam realitas Tubuh, mereka tidak di dalam persekutuan Tubuh, maka tidak mungkin ada persekutuan antara mereka dengan kita mengenai butir ini. Jadi, begitu berkontak, segera mengetahuinya. Sebaliknya, jika kita tidak pernah merasa bahwa orang lain tidak di dalam Tubuh, itu membuktikan bahwa kita juga tidak di dalam Tubuh; kita masih belum mengenal Tubuh. Karena itu, melalui perasaan kita ketika mengontak orang lain, dapat juga diketahui apakah kita mengenal Tubuh atau tidak.

3. Mengenal Otoritas

Bukti ketiga mengenal Tubuh adalah pengenalan terhadap otoritas (kekuasaan). Seseorang mengenal Tubuh atau tidak dapat dilihat apakah ia mengenal otoritas atau tidak. Orang yang benar-benar mengenal Tubuh, pasti mengenal otoritas; orang yang tidak mengenal otoritas, tidak mengenal

Tubuh. Mengenal Tubuh dan mengenal otoritas tidak dapat dipisahkan.

Mengenal otoritas juga berkaitan dengan apa yang telah kita bahas di depan mengenai tidak dapat individualistis. Boleh dikatakan mengenal otoritas, berarti tidak dapat menjadi individuahstis. Apakah seseorang mengenal otoritas atau tidak, dapat dilihat dari apakah ia masih dapat individualistis. Jika ia masih dapat hidup secara individualistis dan merasa bahwa ia dapat melayani Allah sendirian tanpa berkoordinasi dengan orang lain, berarti ia tidak mengenal otoritas, juga tidak mengenal Tubuh. Otoritas hanya dapat dinyatakan di dalam Tubuh dan di dalam koordinasi. Jilia seorang anggota bersikap individualistis dan menyendiri, ia tidak memiliki hubungan otoritas dengan orang lain. Tetapi jika kita nampak bahwa Allah menghendaki Tubuh, dan kita sebagai anggota-anggota Tubuh tidak dapat eksis sendirian, (karena begitu menyendiri kita segera terlepas dari Tubuh), kita harus baik-baik mengenal otoritas, berdiri pada kedudukan masing- masing dalam Tubuh, dan berkoordinasi dengan semua saudara saudari.

Jadi, apakah otoritas itu? Secara sederhana, otoritas adalah otoritas (kekuasaan) Kristus Sang Kepala, yang ternyatakan dalam susunan atau urutan Tubuh. Misalnya, tubuh fisik kita, kepala adalah yang paling atas dan kepala adalah otoritas dari seluruh tubuh, dan ini ternyatakan melalui susunan seluruh tubuh. Di bawah kepala ada badan, tangan, dan kaki; semua anggota tubuh mengikuti susunan yang pasti. Karena itu, anggota mana pun kecuali menyendiri dan terputus, ia tidak bisa tidak berada dalam susunan ini. Anggota mana pun yang berada di dalam Tubuh tentu berada di bawah susunan ini. Di satu pihak, ia berada di bawah otoritas beberapa anggota; di pihak lain, beberapa anggota lain berada di bawah otoritasnya. Sebagai contoh, di atas telapak tangan ada siku, sedangkan di bawahnya ada jari-jari tangan; siku memihki otoritas atas telapak tangan, dan telapak tangan memiliki otoritas atas jari-jari tangan. Otoritas ini sesuai dengan susunan mereka pada tubuh dan otoritas kepala ditunjukkan dalam susunan para anggotanya. Otoritas yang kita bicarakan di sini ditujukan kepada otoritas Kristus yang dinyatakan melalui susunan Tubuh-Nya. Karena kita semua adalah anggota Tubuh Kristus, dengan sendirinya kita memiliki posisi dan susunan yang tertentu. Jika kita telah dilatih dalam roh kita dan telah benar-benar dipimpin oleh Allah untuk mengenal daging, telah menanggulangi diri, telah meremukkan hayat alamiah, dengan segera kita akan mengenali susunan diri sendiri ketika kita berada di antara saudara saudari. Kita akan mengetahui siapa yang di depan kita dan siapa yang di belakang kita, siapa otoritas kita dan kita otoritas siapa. Otoritas Sang Kepala di dalam saya dan otoritas Sang Kepala di dalam orang lain menjelaskan siapa yang di atas saya dan s'apa yang di bawah saya. Sama seperti dalam satu keluarga, para anggota keluarga pasti mengetahui susunan mereka masing-masing, siapa harus tunduk kepada siapa dan siapa memiliki otoritas atas siapa. Otoritas semacam ini bukan dikira-kira atau ada melalui pemilihan, melainkan susunan alami dalam hayat, yang dinyatakan oleh Kristus Sang Kepala di dalam. semua anggota Tubuh-Nya. Hanya orang yang hidup dalam daging, hidup menurut opini diri dan alamiah, dapat terlibat dalam konflik yang buruk satu sama lain. Orang yang benar-benar telah belajar pelajaran otoritas, ia bisa mengenal otoritas Kepala atas Tubuh dan dapat memiliki perhentian pada posisi yang seharusnya mereka duduki dengan sangat wajar dan penuh rasa puas; tanpa ada kaitannya dengan rendah diri atau bangga diri. Berada di bawah otoritas adalah hal yang sangat alami, bukan memaksa diri sambil menggertakkan gigi. Orang yang demikian barulah orang yang mengenal otoritas dan mengenal Tubuh, karena mengenal otoritas sama dengan mengenal Tubuh. Karena itu, perkara mengenal Tubuh ini boleh juga disebut sebagai mengenal otoritas.

Jika kita masih belum. mengenal susunan kita di dalam Tubuh, berarti dalam, pengalaman hayat kita, ini membuktikan bahwa keadaan hayat kita belum mencapai tahap, keempat. Jika dalam, tahap, pertama, kedua, dan ketiga kita telah melalui berbagai penanggulangan, khususnya kita menanggulangi dengan tuntas akan daging, opini diri, dan alamiah, maka Roh Kudus di dalam kita dengan spontan akan memimpin kita mengenal susunan kita masing-masing di dalam. Tubuh Kristus, sehingga kehidupan dan pelayanan kita penuh cita rasa koordinasi Tubuh. Demikian, Tubuh Kristus berangsur-angsur akan ternyata di tengah-tengah kita.

Kesimpulannya, apakah kita mengenal Tubuh, kita sendiri dapat mengetahuinya. Meskipun kita mungkin tidak tahu kapan kita mulai memiliki pengenalan ini, tetapi jika kita memilikinya, kita mengetahuinya. Sama halnya dengan sembuh dari suatu penyakit. Saat yang tepat dari sembuhnya itu sulit diketahui, tetapi kita tahu bahwa kita telah sembuh, karena penampilan dan perasaan kita berbeda.

Demikian juga, dalam semua pengenalan rohani yang sejati, tidak mudah untuk mengatakan dengan tepat pada hari apa, jam berapa, atau menit ke berapa kita mulai mengenal, tetapi penampilan selanjutnya dengan jelas terlihat.

Karena itu, jika seseorang benar-benar telah mengenal Tubuh, cepat atau lambat ia akan menyatakan tiga keadaan yang telah kita bahas di depan. Pertama, ia tidak akan dapat menjadi orang yang individualistis. Kedua, ia dapat merasakan bahwa orang lain tidak berada di dalam Tubuh.

Ketiga, di antara saudara saudari ia mengenal dengan jelas susunannya sendiri dalam Tubuh tanpa usaha khusus apapun - siapa otoritasnya dan dia otoritas siapa, juga tahu pada diri siapa terletak otoritas Kepala. Ketiga butir ini adalah bukti-bukti pengenalan terhadap Tubuh.