← Daftar isi Kelahiran Kembali · bab 16/19

MENGENAL KENAIKAN

Sekarang kita melihat pengalaman hayat keenam belas, yaitu mengenal kenaikan (keterangkatan). Meskipun pelajaran ini sangat tinggi dan dalam, tetapi tidak sukar untuk dimengerti. Kita akan membahas hal ini dalam beberapa butir besar.

I. PERLU MENGENAL PENEBUSAN KRISTUS

Untuk mengenal kenaikan, mula-mula kita perlu mengenal penebusan Kristus, karena kenaikan termasuk di dalam penebusan Kristus. Terhadap penebusan Kristus, banyak orang memahaminya hanya sebagai Kristus yang tersalib, mati bagi kita. Ada yang memahami lebih dalam, nampak bahwa penebusan Kristus juga mencakup kebangkitan. Tetapi jika kita kembali membaca Alkitab dengan cermat dan memeriksa pengalaman- pengalaman kita, kita akan menemukan bahwa penebusan-Nya juga mencakup kenaikan. Dalam penebusan Kristus, boleh dikatakan terdiri atas tiga bagian besar : mati, bangkit, dan naik (terangkat). Jika kekurangan salah satu bagian, penebusan Kristus tidak dapat dianggap lengkap.

Dalam ketiga bagian besar dari penebusan Kristus ini, kematian Kristus menekankan aspek kebebasan dari hal-hal negatif, yaitu menyelamatkan kita terlepas dari dosa, dunia, daging, alamiah, dan semua hal yang tidak sesuai dengan Allah. Kebangkitan Kristus menekankan aspek jalan masuk ke dalam hal-hal positif, yaitu membawa kita ke dalam segala kekayaan ciptaan baru Allah di dalam Kristus. Dan kenaikan Kristus merupakan hasil akhir (kesimpulan) yang mulia dari kematian dan kebangkitan-Nya. Hasil akhir dari penebusan-Nya bukanlah kematian atau kebangkitan, melainkan kenaikan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa Kristus berhenti ketika Dia bangkit dari kematian. Kristus tidak berhenti pada kematian, juga tidak berhenti pada kebangkitan; Dia berhenti pada kenaikan. Alkitab tidak mengatakan bahwa Tuhan duduk dalam kebangkitan, melainkan Dia duduk di surga (Ef. 2:6). Duduk menyatakan bahwa pekerjaan telah dirampungkan. Karena itu, pekerjaan penebusan Tuhan baru dianggap rampung saat Dia naik ke surga (langit). Boleh dikatakan bahwa kematian dan kebangkitan hanya merupakan pos-pos dalam proses penebusan Tuhan, kenaikan baru merupakan sasaran akhir penebusan-Nya. Kematian dan kebangkitan Tuhan hanyalah jalan menuju kenaikan-Nya; kenaikan barulah hasil akhir dari kematian dan kebangkitan-Nya.

Karena kenaikan Tuhan adalah hasil akhir dari kematian dan kebangkitan-Nya, maka ketiga tahap ini sangat erat kaitannya. Begitu Tuhan bangkit dari kematian dan masuk ke dalam kebangkitan, Dia telah mencapai puncak surgawi, batas dari segala langit. Setelah kematian dan kebangkitan, segera diikuti oleh kenaikan. Dalam kekristenan ada suatu pengertian yang tidak tepat, yaitu mengira bahwa kenaikan Kristus terjadi empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya. Sebenarnya, pada pagi hari kebangkitanNya, Tuhan telah naik ke surga (atas segala langit). Pagi itu, Tuhan menampakkan diri kepada Maria Magdalena dan berkata kepadanya, "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum naik kepada Bapa ..." (Tl). Dan Dia melanjutkan berkata, "Aku akan pergi kepada Bapa-Ku ..." (Yoh. 20:17). Malam hari di hari yang sama, Tuhan kembali menampakkan diri kepada murid-murid dan berkata, "... rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, …" (Luk. 24:39). Pada saat ini Tuhan memperbolehkan manusia menjamah Dia. Hal ini mewahyukan bahwa sebelum ini, Dia telah naik ke surga dan mempersembahkan kepada Allah kesegaran kebangkitan-Nya. Karena itu, sebelum kenaikan-Nya yang dalam pandangan murid-murid-Nya terjadi empat puluh hari kemudian, Dia dapat berkata, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di. bumi." Kekuasaan atau otoritas ini diperoleh dari Allah ketika Dia naik ke surga pada pagi hari kebangkitan-Nya. Jadi kita nampak bahwa kematian dan kebangkitan Kristus berkaitan dengan kenaikan-Nya; ketiganya tidak dapat dipisahkan. Sama seperti tamat sekolah tidak dapat dipisahkan dari lulus sekolah. Ketika seseorang menyelesaikan pelaiaran sekolahnya, ia pun lulus sekolah. Demikian juga, ketika Tuhan bangkit dari kematian, Dia pun naik ke surga.

Dalam kenaikan-Nya, Kristus membawa semua yang telah Dia rampungkan dalam kematian dan kebangkitanNya ke surga, membawa hasil dari semua pekerjaan penebusan ke dalam alam surgawi. Jadi, hari ini Tuhan juga di dalam posisi kenaikan-Nya menerapkan khasiat penebusanNya kepada manusia. Tentu saja, pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita berdasar pada darah-Nya yang tercucur di atas salib. Tetapi jika Dia tidak naik ke surga, Dia tidak akan dapat meneraplian kematian-Nya atau darah-Nya. Dia menggenapkan penebusan di atas salib, tetapi dalam kenaikan-Nya, Dia memberi manusia karunia keselamatan. Sesungguhnya, segala anugerah penebusan yang dialami oleh gereja, dari pengampunan dosa hingga mengalami kenaikan dan memperoleh berbagai macam karunia, semuanya diteraplian oleh Tuhan dalam kenaikan-Nya. Karena itu, dalam penebusan Kristus, hal kenaikan ini menempati posisi yang sangat penting. Semua yang telah Kristus rampunglian melalui kematian dan kebangkitan-Nya, dibawa ke dalam kenalkan untuk penerapan. Tanpa kenaikan, tidak ada keselamatan Kristus yang dapat diterapkan kepada kita secara riil.

II. PERLU MENGENAL POSISI

KESELAMATAN KITA

Untuk mengenal kenaikan, kedua kita perlu mengenal posisi keselamatan kita. Meskipun ketika kita diselamatkan, kita diselamatkan dari penghukuman dosa ke dalam pengampunan dosa, dari kondisi yang mati ke dalam kondisi yang hidup dengan memperoleh hayat Allah. Namun, baik pengampunan dosa maupun perolehan hayat Allah tidak dapat dianggap sebagai posisi keselamatan kita. Efesus 2:5-6 memberi tahu kita bahwa Allah "telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita ... dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat (mendudukkan kita) bersama-sama dengan Dia di surga." Ini menampakkan kepada kita bahwa setiap orang yang beroleh selamat, bukan hanya sebagai orang yang dosa-dosanya telah diampuni, bukan hanya telah dihidupkan dari maut dan memiliki hayat Allah, tetapi juga telah duduk di surga, sebagai manusia di dalam kenaikan. Kristus menyelamatkan kita adalah agar kita bersama-sama dengan Dia mengalami kenaikan dan kemudian duduk di surga. Jacii, kenaikan justru adalah posisi akhir dari keselamatan kita.

Posisi kenaikan yang kita peroleh bukan hanya berhenti pada fakta kenaikan yang telah Allah rampungkan dalam Kristus, tetapi juga pada hayat kenaikan yang telah kita peroleh di dalam kita. Dalam Kolose 3:1-4, rasul meminta kita memikirkan perkara-perkara yang di atas. Ini berdasar pada fakta bahwa Kristus adalah hayat kita. Kristus duduk di surga di sebelah kanan Allah. Karena kita memiliki Dia sebagai hayat kita, kita juga tersembunyi dengan Dia di dalam Allah. Ini mewahyukan bahwa Kristus membuat kita memperoleh hayat atau Kristus menjadi hayat kita bukan dalam kematian-Nya maupun dalam kebangkitan-Nya, tetapi dalam kenaikan-Nya. Meskipun hayat ini telah melalui kematian dan kebangkitan, tetapi Kristus memberikan hayat ini kepada kita di dalam posisi kenaikan. Hayat ini telah mengalami kenaikan dan bersifat surgawi, dan diberikan dari surga. Ini adalah hayat yang menembus surga. Karena itu, begitu kita memperoleh hayat ini, kita memiliki persekutuan dengan surga dan berhubungan dengan surga. Meskipun menurut kondisi luaran kita masih hidup di bumi, tetapi menurut hayat batin, kita sudah berada di surga. Sama seperti ketika Tuhan masih berada di bumi. Dia berkata bahwa meskipun Dia "telah turun dari surga," Dia tetap ada "di surga" (Yoh. 3:13). Ini dikarenakan hayat-Nya itu surgawi dan berhubungan dengan surga.

Sebagai contoh, sebuah bola lampu listrik bisa bersinar karena ada ahran listrik di dalamnya. Ahran listrik ini berasal dari pusat pembangkit tenaga listrik dan berhubungan dengan pusat pembangkit tenaga listrik. Jadi, secara penampilan luaran, terangnya bersinar dalam ruangan ini. Tetapi, berkenaan dengan ahran listrik di dalam bola lampu, posisinya adalah di pusat pembangkit tenaga listrik. Demikian juga, kita sebagai orang-orang yang diselamatican dalam zaman ini dapat dinyatakan sebagai terang yang bercahaya (F1p. 2:15; Mat. 5:14-16) karena hayat kenaikan yang menyelamatkan kita dan yang sekarang ada di dalam kita. Hayat ini mengalir ke dalam kita dari surga, dan juga membawa kita ke surga. Dengan hayat yang berhubungan dengan surga ini, kita juga adalah orang yang berhubungan dengan surga. Karena itu, dari sudut pandang Kristus, kenaikan adalah hasil akhir dari penebusan-Nya; dari sudut pandang kita, kenaikan adalah posisi keselamatan kita.

III. PERLU MENGENAL FUNGSI-FUNGSI ROHANI

Untuk mengenal kenaikan, ketiga kita perlu mengenal fungsi-fungsi rohani. Semua karunia rohani orang Kristen diberikan oleh Tuhan dalam kenaikan (Ef. 4:8), juga untuk kita terapkan dalam posisi kenaikan. Karena itu, jika kita tidak mengenal dasar kenaikan dan berdiri teguh di atasnya, kita tidak akan dapat menerapkan karunia roh. Fungsi-fungsi karunia rohani hanya dapat dinyatakan di atas dasar kenaikan.

Kejadian 1:17 memberi tahu kita bahwa Allah menaruh benda-benda terang di langit untuk menerangi bumi. Firman ini penuh makna simbolis. Matahari, bulan, dan bintang-bintang dapat menyinari bumi karena mereka ditaruh di langit. Begitu sebuah bintang jatuh dari langit, fungsinya akan hilang. Fungsinya yang memancarkan terang itu mutlak tergantung pada posisinya di langit. Demikian juga, entah kita memberitakan Injil, menjenguk orang, merawat kaum saleh, atau melayani gereja, fungsi yang sejati sepenuhnya tergantung pada posisi kenaikan kita. Begitu kita kehilangan posisi kenaikan, kita akan kehilangan fungsifungsi rohani.

Sebagai contoh, banyak saudara saudari yang menjenguk orang lain tanpa menghasilkan apa-apa, karena mereka telah jatuh dari posisi kenaikan dan hidup dalam suasana di bumi. Jika kita. ingin menjenguk orang dengan berhasil, belum tentu harus banyak bicara, banyak membicarakan doktrin. Asal dalam kehidupan sehari-hari kita tidak kehilangan posisi kenaikan, dalam batin terus-menerus menjamah surga dan hidup dalam suasana surgawi, di atas diri kita dengan sendirinya ada semacam suasana surgawi, yang begitu dijamah oleh orang, orang akan memperoleh suplai surgawi. Demikian juga dengan doa-doa yang diucapkan dalam sidang. Banyak doa saudara saudari yang memberikan perasaan kosong dan usang kepada orang lain, ini dikarenakan mereka telah kehilangan posisi kenaikan. Perkataan doa mereka mungkin menarik, tetapi di hadapan Allah dan di hadapan Iblis tidak berbobot, juga tidak berpengaruh dalam alam rohani. Namun, ada saudara saudari yang tidak demikian. Mereka berdiri dengan teguh pada posisi kenaikan dan menempuh hidup surgawi. Kehidupan mereka sehari- hari adalah dari surga; karena itu, doa-doa mereka juga dari surga. Ketika mereka membuka mulut, mereka memberi cita rasa surgawi. Hanya doa semacam ini yang dapat menjamah takhta di surga dan mengguncangkan gerbang neraka, dengan demikian menghasilkan khasiat rohani. Karena itu, tak peduli fungsi rohani apa yang kita. miliki, kita harus menerapkannya dalam posisi surgawi dan mengekspresikannya dalam alam surgawi.

IV. PERLU MENGENAL POSISI PEPERANGAN

Untuk mengenal kenaikan, keempat kita perlu mengenal posisi peperangan. Posisi peperangan rohani mutlak berada di tempat kenaikan. Begitu kita kehilangan posisi kenaikan, saat itu juga kita tidak bisa melakukan peperangan rohani. Di medan perang, semua strategi militer memperhatikan masalah posisi. Siapa yang menduduki tempat tinggi guna melawan tempat rendah, bisa memenangkan peperangan. Di medan perang rohani, prinsip ini bahkan lebih penting. Kita dapat mengatakan bahwa peperangan rohani sangat tergantung pada masalah posisi. Jika kita ingin menang dalam peperangan, posisi kenaikan tentu harus diketahui dan dipertahankan.

Kita harus nampak fakta bahwa peperangan rohani yang disebutkan dalam Efesus 6 berdasar pada posisi kenaikan dalam Efesus 2. Efesus 2 terlebih dulu menampakkan kepada kita bahwa kita telah duduk bersama- sama Kristus di surga. Selanjutnya Efesus 6:12 membicarakan bahwa kita berperang melawan roh-roh jahat di udara (angkasa). Ini berarti mula-mula kita harus menjadi manusia surgawi dengan posisi kenaikan, baru kita bisa dari atas menyerang musuh di udara. Jika kita adalah manusia bumiah dan kehilangan posisi kenaikan, kita akan jatuh ke dalam tangan musuh dan tidak dapat berperang melawannya. Karena itu, posisi peperangan rohani mutlak ada di surga.

Kejadian 3:14 memberi tahu kita bahwa setelah ular menipu Hawa, Allah menghakiminya dengan mengutuknya berjalan dengan perut dan makan debu tanah untuk seumur hidupnya. Berjalan dengan perutnya membatasi ruang geraknya; ia hanya dapat melata di atas tanah. Makan debu tanah membatasi sasaran makanannya, ia hanya dapat memakan benda-benda milik tanah sebagai makanan. Ular dalam Kejadian 3 adalah perwujudan Iblis. Karena itu, penghakiman atas ular juga adalah penghakiman atas Iblis. Hari ini, ruang gerak Iblis adalah bumi, dan sasaran makanannya adalah manusia bumiah. Satu Korintus 15:47-48 memberi tahu kita bahwa Adam dan mereka semua yang menjadi miliknya bersifat bumiah. Karena itu, kapan kala kita hidup dalam hayat bumiah Adam, kita bersifat bumiah dan juga berada di bumi. Kita bukan hanya tidak dapat melawan Iblis, malahan jatuh ke dalam ruang geraknya dan menjadi sasaran makanannya. Sebaliknya, kapan kala kita hidup dalam hayat surgawi Kristus, kita bersifat surgawi dan berada di surga. Jadi kita melampaui ruang gerak Iblis dan bukan lagi sasaran makanannya. Karena itu, kita dapat melawannya dan menang atasnya.

Prinsip peperangan ini juga sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Baik kita di balai sidang, di rumah, atau di tempat kerja, begitu kita dicemari dosa, mengasihi dunia, bertemperamen buruk, bersiasat, atau hidup dalam hayat bumiah, kita tidak bisa perkasa di hadapan musuh dan tidak bisa bertempur melawannya. Pada saat demikian, kita bersifat bumiah dan telah jatuh ke dalam tangan musuh. Sebaliknya, jika kita sering bersekutu dengan Tuhan, hidup di dalam roh, dan hidup dalam hayat surgawi, kita. bersifat surgawi dan tinggal dalam posisi kenaikan, demikian kita baru bisa "dari tempat yang tinggi melawan tempat yang lebih rendah" dan menanggulangi Iblis. Pada saat ini, jika dalam gereja ada kesulitan, kita bisa memiliki doa yang hebat di hadapan Allah, meminta Allah keluar menghakimi musuh-Nya. Kita bisa bangkit untuk mengekspresikan sikap Allah, mengatakan, "Kami tidak akan membiarkan perkara-perkara ini terjadi di dalam gereja." Kita juga dapat berkata dengan tegas kepada Iblis, "Kami membenci hal. ini. Kami menentangnya." Begitu kita membuat pernyataan yang tegas dan ekspresi yang kuat, seluruh laskar Iblis akan melarikan diri. Pekerjaannya juga akan sepenuhnya dimusnahkan. Tetapi jika kita hidup dalam hayat bumiah, menggunakan cara dan siasat alamiah, kita tidak mungldn dapat menyelesaikan masalahnya. Kita telah jatuh dari surga dan kehilangan posisi peperangan; kita tidak berdaya menanggulangi musuh Allah dan memusnahkan pekerjaannya.

Mengapa posisi kenaikan bisa membuat kita menang dalam peperangan? Karena hanya dalam posisi kenaikan kita dapat memiliki otoritas surgawi. Untuk memenangkan peperangan rohani, harus bersandar pada otoritas surgawi. Hanya ada satu tempat di mana kita dapat memperoleh otoritas surgawi; tempat ini adalah surga. Aka kita melewati kematian dan kebangkitan untuk mencapai alam surgawi, kita pasti memperoleh otoritas surgawi. Demikian, kita pasti menang dalam peperangan.

Hari ini, banyak orang Kristen sangat memperhatikan masalah kekuatan. Tetapi Tuhan telah menyelamatkan kita bukan hanya untuk memiliki kekuatan, tetapi juga memiliki kekuasaan (otoritas). Orang yang berada di alam surgawi tidak hanya memiliki kekuatan, tetapi juga memiliki otoritas. Orang yang memiliki otoritas, tidak hanya bisa menggerakkan orang lain, tetapi juga disegani dan ditakuti. Misalnya, ada saudara saudari yang mengasihi dunia dan hidup menurut daging. Ketika mereka melihat seorang saudara atau saudari mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan, dan hidup dalam roh, mereka akan mendambakannya dan tergerak. Ini adalah perkara kekuatan. Tetapi jika mereka bertemu dengan saudara atau saudari lainnya yang hidup di alam kenaikan, mereka tidak hanya merasa ada suatu kekuatan yang membuat mereka tergerak, tetapi juga membuat mereka merasa bahwa di atas diri saudara atau saudari tersebut ada sesuatu yang patut disegani dan ditakuti. Pada diri saudara atau saudari demikian penuh realitas surgawi, karena itu, mereka juga penuh otoritas surgawi. Maka, ketika mereka berjalan di tengah-tengah orang, mereka membawa suatu penampilan yang menggentarkan, sehingga disegani orang lain.

Ketika kita membaca Kidung Agung di Perjanjian Lama, kita akan nampak bahwa orang yang mencari (menuntut) Tuhan bertumbuh dalam hayat sampai tingkat yang sedemikian rupa sehingga ekspresinya sangat disegani dan ditakuti. Kidung Agung 6:10 mengatakan, "Siapakah dia yang muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya, dahsyat seperti bala tentara dengan panji-panjinya?" Di sini fajar merekah, bulan, dan matahari adalah benda-benda yang ada di langit. Karena itu, saat ini keadaan orang ini sepenuhnya surgawi. Dengan kata lain, pengalaman hayatnya telah mencapai alam kenaikan. Jadi, keadaannya memberikan perasaan penuh kegentaran kepada orang lain. Ini karena ia berada dalam posisi kenaikan dan memiliki otoritas surgawi. Otoritas inilah yang menyebabkan orang lain menjadi sangat gentar dan hormat.

Otoritas yang kita peroleh dalam posisi kenaikan adalah dasar kita menanggulangi Iblis, dan menang atasnya. Dalam, Lukas 10:19 Tuhan berkata, "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuk sehingga tidak ada yang akart mem bahayakan kamu." Ular yang disebutkan oleh Tuhan mengacu kepada Iblis, dan kalajengking mengacu kepada roh-roh jahat, utusan Iblis. Mereka adalah musuh-musuh kita. Yang mereka miliki adalah kekuatan tetapi Tuhan memberikan otoritaskepada kita. Tuhan memberi kita otoritas untuk menanggulangi kekuatan musuh. Kita dapat menggambarkannya dengan sebuah mobil yang bergerak di jalan. Meskipun mobil ini penuh kekuatan, tetapi seorang polisi lalu lintas memiliki otoritas atasnya. Ketika ia mengangkat tangannya, mobil harus berhenti. Begitu juga suatu pasukan. Meskipun ia memiliki kekuatan yang besar, tetapi kepala pasukan memiliki otoritas atasnya. Ketika ia memberikan suatu perintah, pasukan itu harus menaati. Ini membuktikan bahwa otoritas melampaui kekuatan dan dapat mengendalikan kekuatan. Karena itu, otoritas lebih besar daripada kekuatan.

Tetapi otoritas sepenuhnya tergantung kepada posisi. Ada posisi, baru ada otoritas; tanpa posisi, tidak ada otoritas. Seorang polisi yang tanpa, seragam dan tidak berada pada posisinya, tidak memiliki otoritas untuk mengatur lalu lintas di jalan. Seorang kepala pasukan yang mengambil cuti dan tugasnya, tidak memiliki otoritas untuk memerintah pasukannya. Sama halnya, otoritas surgawi sepenuhnya tergantung pada posisi kenaikan kita. Setiap kali kita kehilangan posisi kenaikan, kita juga kehilangan otoritas rohani. Karena itu, untuk memiliki peperangan rohani, pertama-tama harus mengenal posisi kenaikan, dan kedua harus memelihara posisi kenaikan. Hanya dengan demikian baru kita bisa menanggulangi musuh.

Dalam perjalanan Paulus kali kedua, ketika ia sedang memberitakan di Filipi, seorang hamba perempuan dengan roh tenung mengikutinya dari belakang dan berseru-seru. Paulus, merasa terganggu, berpaling, dan berkata kepada rob. itu, "Dalam nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini." Seketika itu juga keluarlah roh itu (Kis. 16:16-18). Paulus di sini berdiri pada posisi kenaikan dan menggunakan otoritas surgawi untuk mengusir kekuatan musuh yang mengganggu. Demikian juga, hari ini, jika kita, berdiri pada posisi kenaikan, secara langsung kita dapat memerintah lingkungan, menghardik kesulitan- kesulitan, dan membinasakan semua pekerjaan musuh.

Sayang, doa-doa gereja hari ini terlalu sedikit yang mengandung perintah berotoritas. Sebaliknya, sebagian besar doa-doa merupakan permintaan yang kasihan, karena itu, tidak dapat menanggulangi musuh, hanya dapat meminta belas kasihan Allah. Ini membuktikan bahwa posisi kita sebenarnya masih berada di bumi dan belum naik ke surga. Karena kita tidak dalam posisi kenaikan, maka kita tidak memiliki otoritas surgawi. Kita tidak dapat berpura-pura dalam perkara ini. Akan tetapi, begitu seseorang memiliki realitas kenaikan, ia tidak perlu mempertontonkan atau mengadakan suatu pertunjukkan kekuatan, secara alami ia dinaungi dengan suatu penampilan surgawi, penuh dengan atmosfer surgawi, dan berhias dengan kecantikan seperti bulan dan cerah seperti matahari. Ini menyebabkan orang lain merasa hormat dan gentar. Tidak hanya manusia yang gentar kepadanya, bahkan roh-roh jahat pun gentar kepadanya. Hanya orang semacam inilah yang dapat berdiri dalam posisi kenaikan, menggunakan otoritas surgawi, dan terlibat dalam peperangan rohani. Karena itu, untuk mengenal kenaikan, kita juga harus mengenal posisi peperangan.

V. PENGALAMAN KENAIKAN

Begitu kita beroleh selamat, kita sudah memperoleh posisi kenaikan, tetapi bagaimana kita mengalami kenaikan? Secara sederhana, pengalaman kenaikan adalah hasil kita mengalami kematian dan kebangkitan. Seperti Kristus mencapai kenaikan melalui kematian dan kebangkitan, kita juga bisa mengalami kenaikan melalui kematian dan kebangkitan.

Mari kita melihat sejarah bani Israel masuk Tanah Kanaan. Begitu mereka meninggalkan pengembaraan padang gurun dan menyeberangi Sungai Yordan, mereka masuk ke Tanah Kanaan. Tanah Kanaan melambangkan Kristus yang almuhit di alam surgawi. Pada saat yang sama, ia juga melambangkan alam surgawi. Karena itu, ketika bani Israel masuk ke Tanah Kanaan, secara lambang, mereka masuk ke alam surgawi. Ketika mereka menyeberangi Sungai Yordan, mereka mengubur dua belas batu di dasar sungai, melambangkan kematian dan penguburan mereka. Kemudian mereka memindahkan dua belas batu dari dasar sungai, melambangkan kebangkitan mereka. Mereka membawa kedua belas batu ini ke Tanah Kanaan, melambangkan mereka meialui kematian dan kebangkitan dan memasuki alam surgawi. Karena itu, masuknya mereka ke Tanah Kanaan setelah menyeberangi Sungai Yordan melambangkan pengalanian kenaikan kita melalui keniatian dan kebangkitan. Kapan kala kita mengalami kematian dan kebangkitan, kita mencapai alam kenaikan.

Mari kita kenibah melihat orang yang mencari Tuhan dalam Kidung Agung. Ia juga melalui pengalaman kematian dan kebangkitan, berangsur- angsur mencapai alam kenaikan. Dalam Kidung Agung 1:9, Tuhan memujinya untuk kali pertama, mengatakan bahwa ia seperti "kuda betina dari pada kereta-kereta Firaun." Kuda dari kereta-kereta Firaun adalah kuda Mesir. Meskipun cepat dan kuat, tetap berasal dari Mesir, yang melambangkan dunia. Ini menunjukkan bahwa meskipun pada saat itu la sangat cepat dan penuh kekuatan dalam pencariannya kepada Tuhan dan mengikuti-Nya, ia masih duniawi. Sampai pasal 2:2, Tuhan memujinya dengan mengatakan bahwa ia "seperti bunga bakung di antara duri-duri." Ini berarti meskipun ia menempuh kehidupan yang bersih dan yang menerima pemeliharaan Allah, seperti bunga bakung, tetapi ia masih bertumbuh di bumi. Sampai pada pasal 3:6, Tuhan membicarakannya seperti seorang "yang membubung dari padang gurun seperti gumpalan-gumpalan asap tersaput dengan harum mur dan kemenyan dan bau segala macam serbuk wangi dari pedagang." Padang gurun melambangkan keadaan pengembaraan rohani orang Kristen. Tadinya ia mengembara di padang gurun, sekarang la datang dari padang gurun. Ini berarti ia telah terlepas dari kehidupan pengembaraan. Pada saat yang sama, ia tersaput dengan harum mur dan kemenyan dan bau segala macam serbuk wangi dari pedagang. Mur melambangkan kematian Kristus, kemenyan melambangkan kebangkitan Kristus, dan serbuk wangi dari pedagang melambangkan kekayaan rohani yang diperoleh dengan harga tertentu. Sekarang karena ia telah membayar harga dalam pencariannya, ia tersaput dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Karena itu, keadaannya seperti gumpalan-gumpalan asap yang naik dari bumi, Ia telah melalui kematian dan kebangkitan dan telah mulai memiliki sedikit pengalaman kenaikan. Selanjutnya, dalam pasal 6:10, pujian Tuhan terhadapnya semuanya surgawi. Pada saat ini, keadaan rohaninya laksana fajar merekah, bagaikan bulan purnama, dan bagaikan surya. Ia benar-benar berpadanan dengan surya, bulan, dan bintang-bintang dalam Kejadian 1:16-17, terletak di langit dan menyinari seluruh bumi, supaya orang-orang di bumi dapat menerima suplai-Nya. Pada saat yang sama ia ju'ga memiliki otoritas surgawi, ia dihormati dan ditakuti. Sekarang ia telah sepenuhnya mengalami kenaikan.

Kesimpulannya, kenaikan adalah hasil dari mati dan bangkit. Begitu kita melewati kematian salib dan masuk ke dalam kebangkitan, kita mencapai puncak kenaikan. Jadi, jika kita ingin mengalami kenaikan, terlebih dulu kita harus mencari pengalaman mati dan bangkit. Dengan tegas kita harus mematikan segala sesuatu yang berasal dari dosa, dunia, temperamen, daging, diri, dan alamiah dengan salib Tuhan dan masuk ke dalam kebangkitan Tuhan melalui Roh Kudus. Kemudian, kita dapat memiliki pengalaman kenaikan dan menjadi umat surgawi dalam alam kenaikan.