← Daftar isi Kelahiran Kembali · bab 17/19

MEMERINTAH

Dalam bab sebelumnya kita telah melihat perkara mengenal kenaikan, sekarang kita akan melibat perkara memerintah. Dalam pengalaman, kedua pelajaran ini sangat erat kaitannya.

I. DEFINISI MEMERINTAH

Secara sederhana, memerintah adalah menggunakan otoritas (kekuasaan) bagi Allah - mengatur segala sesuatu, khususnya menanggulangi musuh-Nya. Kita telah berulang-ulang mengatakan sebelumnya bahwa dalam penciptaan manusia, Allah memiliki hasrat dan tujuan yang beraspek ganda. Di satu aspek, Allah menghendaki manusia memiliki gambar-Nya, supaya manusia dapat mengelispresikan Allah sendiri. Di aspek lain, Allah menghendaki manusia mewakih Dia, dengan otoritas-Nya menanggulangi musuh-Nya. Karena itu, ketika Allah menciptakan manusia, di satu pihak, Dia menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya supaya manusia dapat serupa denganNya; di pihak lain, Allah menyuruh manusia "berkuasa atas ikan di laut dan burung- burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. (Kej. 1:26). Ini berarti Allah memberi manusia otoritas, supaya manusia dapat memerintah .bagi-Nya.

Setelah Adam, Perjanjian Lama mencatat banyak contoh manusia yang memerintah bagi Allah. Keluaran 14 mengatakan tentang Allah menghendaki Musa mengangkat tongkat dan mengulurkannya untuk membelah Laut Merah. Yosua 10 mengatakan tentang Yosua berdoa kepada Allah supaya matahari berhenti di langit. Satu Raja-raja 17-18 mengatakan tentang Elia berdoa untuk mengendalikan turunnya hujan. Daniel 6 mengatakan tentang Daniel menutup mulut singa di dalam gua. Semua contoh ini menunjukkan kepada kita bahwa di sepanjang zaman, asal ada orang yang mau hidup bagi Allah, Allah pun mau memberikan otoritas kepada mereka, supaya segala sesuatu berada di bawah kekuasaan mereka.

Dalam Perjanjian Baru, hal ini lebih ternyata jelas. Orang pertama dalam Perjanjian Baru yang berkuasa untuk Allah adalah Tuhan Yesus. Dia memerintahkan penyakit untuk pergi, mengusir roh-roh jahat, menghardik dan meneduhkan badai ombak. Semua ini adalah cerita pemerintahan-Nya. Kemudian, ketika para rasul melanjutkan pekerjaan Tuhan, mereka juga memiliki banyak pengalaman memerintah bagi Allah dengan menyembuhkan penyakit dan mengusir roh-roh jahat. Sampai hari ini, pengalaman semacam ini sering terjadi di dalam gereja. Hingga kelak dalam kerajaan, para pemenang akan memerintah bersama Kristus dan berkuasa atas bangsa-bangsa (Why. 2:26-27). Akhirnya dalam kekekalan, semua orang yang beroleh selamat akan memerintah sebagai raja untuk selama-lamanya (Why. 22:5). Pada saat itu kita akan benar-benar dan sepenuhnya menikmati berkat memerintah bagi Allah.

Semua contoh ini menampakkan kepada kita bahwa sejak sebermula sampai kekekalan, kehendak Allah satu-satunya adalah supaya Dia bisa mendapatkan manusia memerintah bagi-Nya di alam semesta. Ini adalah satu aspek dari maksud Allah menciptakan manusia. Lebih lagi, ini adalah satu aspek dari maksud Allah dalam menebus manusia.

Karena itu, dari sudut pandang otoritas, memerintah adalah tujuan akhir keselamatan Allah. Ini adalah puncak pengalaman hayat rohani kita. Bagi Allah, jika Dia tidak bisa menyelamatkan kita sampai tingkat kita dapat memerintah untuk-Nya dalam alam surgawi, tujuan keselamatan-Nya tidak dapat dianggap sepenuhnya rampung. Lagi pula, meskipun hal memerintah ini baru sepenuhnya termanifestasikan pada masa kerajaan dan kekekalan, tetapi hari ini Allah ingin kita memiliki suatu permulaan di bumi. Bagi kita, jika orang Kristen belum mencapai tahap memerintah bagi Allah, ia belum memenuhi standar. Orang Kristen yang memenuhi standar bukan hanya telah terlepas dari dosa, menang atas dunia, telah menanggulangi daging, telah meremukkan alamiah, telah dipenuhi dengan Roh Kudus, dan telah duduk di alam surgawi, lebih lagi ia memerintah bersama Kristus dalam segala sesuatu. Baik dalam pekerjaan Allah, dalam gereja, dalam keluarga, atau dalam setiap peristiwa yang dijumpai, ia dapat memerintah dan berkuasa atas semua yang Allah kehendaki untuk diaturnya. Harus ada orang yang demikian yang didapatkan Allah, baru melalui mereka otoritas Allah bisa dilaksanakan dan Kerajaan Allah bisa datang ke bumi.

II. PENGALAMAN MEMERINTAH

Kita harus menuntut pengalaman memerintah. Untuk ini, ada dua hal yang tidak boleh kurang.

1. Mengenal Posisi

Pertama, kita harus terlebih dulu mengenal posisi. Dalam bab Mengenal Kenaikan telah kita bahas bahwa dasar otoritas rohani adalah posisi kenaikan. Memiliki kekuatantergantung pada kondisi seorang, tetapi memiliki otoritas tergantung pada posisi seseorang. Sebuah mobil dengan bensin cukup dan tenaga besar akan memiliki kekuatan. Ini adalah masalah kondisi. Tetapi seorang polisi lalu lintas yang berdiri di pos tugasnya memiliki otoritas untuk mengatur mobil-mobil, supaya orang taat kepada peraturan. Ini adalah perkara posisi. Karena itu, otoritas sepenuhnya tergantung pada posisi. Aka kita berada dalam posisi kenaikan, kita memiliki otoritas dan dapat memerintah. Aka kita tidak berada dalam posisi kenaikan, kita tidak memiliki otoritas dan tidak dapat memerintah.

Demikian juga pada diri Tuhan Yesus, dasar Ia memerintah adalah terletak pada posisi kenaikan-Nya. Setelah Dia bangkit dan naik ke surga, Dia memperoleh semua otoritas di surga dan di bumi (Mat. 28:18) dan memiliki kuasa atas segala sesuatu (Ef. 1:20-22). Karena itu, jika kita ingin memerintah, kita harus berada dalam posisi kenaikan.

Tetapi jika kita ingin berada dalam posisi kenaikan dan memerintah bagi Allah, kita perlu menerima berbagai penanggulangan salib, supaya kita bisa melewati kematian dan kebangkitan, dan mencapai kenaikan. Dengan kata lain, pengalaman memerintah adalah hasil dari semua pengalaman sebelumnya. Setelah kita mengalami kematian, kebangkitan, dan kenaikan, barulah kita bisa memperoleh pengalaman memerintah.

Hari ini, anak-anak Allah sangat sedikit menunjukkan realitas memerintah. Penyebab utamanya adalah karena tidak berada dalam posisi kenaikan. Banyak yang masih hidup dalam suasana bumiah, masih terlibat dengan dosa dan dunia. Mereka belum terlepas dari daging dan temperamen mereka, belum menyangkal diri, alamiah mereka belum diremukkan. Meskipun ada beberapa yang telah terlepas dari semua itu dan telah memiliki sedikit pengalaman kenaikan, tetapi karena tidak dapat terus hidup di dalam pengalaman ini, maka kembali tercemar oleh perkara-perkara yang berhubungan dengan ciptaan lama, dan kehilangan posisi kenaikan. Kedua keadaan ini dapat menyebabkan orang Kristen kehilangan dasar memerintah, dan akibatnya tidak dapat memerintah bagi Allah. Pernah ada seorang saudara yang terus-menerus dihalangi oleh istrinya untuk dekat kepada Allah dan melayani Allah. Suatu hari ia tidak tahan lagi; dalam kemarahannya ia menegur dan memukul istrinya, katanya, "Hari ini, Tuhan menghendaki aku untuk benar-benar mendisplinkanmu." Tentu saja, ini bukanlah memerintah. Karena begitu ia marah, ia kehilangan posisi kenaikan dan jatuh ke dalam tangan musuh. Bagaimana ia dapat menanggulangi musuh? Karena itu. untuk memerintah, kita harus mengenal dan mempertahankan posisi kenaikan.

Kita memerintah bukan hanya berdasar pada posisi kenaikan, tetapi juga pada posisi susunan yang diatur oleh Allah. Karena itu, jika kita ingin memerintah bagi Allah, kita tidak hanya perlu berada dalam posisi kenaikan, tetapi juga harus mempertaharikan posisi susunan yang Allah berikan kepada kita - yaitu tunduk kepada otoritas yang kepadanya kita harus tunduk. Semua otoritas polisi lalu lintas yang kita sebutkan di depan tidak hanya tergantung pada ia berdiri di pos tugasnya, tetapi juga pada ketundukannya terhadap atasannya. Jika ia meninggalkan pos tugasnya, ia tidak akan dapat mengatur mobil-mobil; jika ia memberontak melawan atasannya, ia bahkan akan kehilangan hak-hak kekuasaannya. Karena itu, seorang polisi bisa melaksanakan otoritasnya, di satu pihak tergantung pada ia mempertahankan posisi tugasnya, dan di pihak lain ia mempertahankan posisi tingkatannya. Posisi tugasnya sama dengan posisi kenaikan kita, dan posisi tingkatannya sama dengan posisi susunan kita.

Matius 8:5-13 memberi tahu kita tentang seorang perwira yang datang kepada Tuhan untuk meminta Tuhan menyembuhkan penyakit hambanya. Imannya berdasar pada pengetahuan posisi susunannya. Ia berkata, "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu : Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi : Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku : Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." la sendiri tunduk di bawah otoritas orang lain, maka ia, dapat memerintah orang-orang yang berada di bawahnya. Karena itu, ia percaya bahwa Tuhan hanya perlu menggunakan otoritas-Nya dan memberikan satu perintah, dan hal itu akan terjadi. Ia benar-henar mengenal hubungan antara posisi susunan dan otoritas. Ia tahu bahwa untuk memerintah, terlebih dulu ia harus tunduk kepada otorias. Untuk menjadi otoritas, terlebih dulu ia harus tunduk kepada otoritas.

Ketika pada mulanya Allah menciptakan manusia, Allah memberi manusia otoritas untuk berkuasa atas semua makhluk hidup - di laut, di udara, dan di bumi. Pada, saat itu, manusia tunduk kepada otoritas Allah; maka otoritas Allah ada di atas diri manusia, dan semua makhluk ciptaan tunduk kepada manusia. Tetapi begitu manusia jatuh dan memberontak melawan Allah, tidak mau tunduk kepada otoritas Allah, maka manusia kehilangan otoritas Allah. Aldbatnya, semua makhluk ciptsan di bawah manusia tidak lagi tunduk kepada otoritas manusia. Karena itu, hari ini tidak hanya ada ular beracun dan binatang buas yang dapat menyakiti manusia; bahkan nyamuk dan kutu yang kedl dapat menyakiti manusia. Ini menunjukkan bahwa seluruh alam semesta yang jatuh telah penuh dengan pemberontakan dan ketidaktundukan makhluk ciptaan.

Tetapi dalam alam semesta yang memberontak dan kacau ini, kapan saja masih ada orang yang mau menerima otoritas Allah, mau tunduk di bawah otoritas Allah, maka otoritas Allah akan ternyata atas dirinya supaya ia dapat memerintah. Musa adalah satu contoh. Ia adalah orang yang tunduk kepada otoritas Allah dan yang memerintah bagi Allah. Setiap kali ia berhadapan dengan pemberontakan dan penentangan bani Israel, ia selalu menundukkan dirinya kepada otoritas Allah. Terutama pada saat Korah, Datan, Abiram, dan orang-orang yang memberontak bersama bergabung memberontak melawannya, ia bahican lebih tunduk lagi. Orang-orang itu menyerang Musa dan Harun, mengatakan, "Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?" (Bil. 16:3). Perkataan mereka menjamah perkara otoritas Musa, mereka ingin mengguhngkan otoritasnya. Pada saat itu, Musa tidak menganggap dirinya sebagai otoritas atau mencari cara penyelesaian masalah itu berdasarkan diri sendiri. Sebaliknya, ia bersujud di hadapan Allah dan membiarkan Allah yang menyatakannya. Musa sujud di hadapan Allah berarti dia memelihara susunan posisi. Ia tahu bahwa otoritas tidak ada dalam dirinya, melainkan dalam Allah. Ketundukannya kepada otoritas Allah menyebabkan orang lain juga tunduk kepada otoritas Allah. Karena itu, hasil dari setiap tindakannya itu justru lebih menyatakan bahwa otoritas Allah ada di atas dirinya.

Mari kita melihat Daud. Sepanjang hidupnya, Daud bukan hanya tunduk kepada otontas Allah, tetapi juga mutlak tunduk kepada susunan otoritas. Ia tahu bahwa Saul adalah orang yang diurapi Allah, Saul berada dalam posisi raja, dan Saul diatur oleh Allah untuk menjadi otoritasnya. Ia tahu bahwa ia hanyalah bawahan Saul. Karena itu, bagaimanapun Saul menganiaya dan membencinya seperti seorang musuh, ia tidak pernah berani memberontak melawannya. Dengan cara ini, ia selalu menjaga susunan posisi dan menjadi orang yang tunduk kepada otoritas. Hingga suatu hari, Allah juga mengurapinya sebagai raja, supaya ia dapat memerintah bagi Allah atas bangsa Israel.

Meskipun demikian, orang-orang yang tunduk kepada Allah ini, tetap tidak terhindar dari kekurangan dan kelemahan mereka sendiri. Sampai Tuhan Yesus datang sebagai "Firman menjadi daging", dalam alam semesta yang memberontak ini baru ada satu orang yang mutlak tunduk kepada otoritas Allah. Dalam kehidupan Tuhan Yesus, setiap perkataan, tindakan, pergerakan, atau tinggal diam, semuanya menurut kehendak Allah dan dalam ketundukan kepada otoritas Allah. Filipi 2 mengatakan, "Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." Karena itu, Allah juga meninggikan Dia, supaya bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi, dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan (ayat 8-11). Karena Tuhan Yesus tunduk kepada otoritas Allah Bapa dan menjaga susunan posisi, Ia memperoleh otoritas dan dapat memerintah bagi Allah.

Kini, Tuhan pun telah memberikan otoritas ini kepada gereja-Nya, yaitu kepada kita. Karena itu, kita juga harus sama seperti Tuhan Yesus, tunduk kepada otoritas Allah, dan masing-masing orang dari kita tunduk kepada susunan otoritas yang diatur oleh Allah, yaitu tunduk kepada perwakilan otoritas Allah. Demikian kita, gereja, baru dapat menggunakan otoritas Tuhan ini untuk mengatur se gala sesuatu dan memerintah bagi Allah. Hari ini dalam alam semesta yang memberontak dan kacau ini, kita melanjutkan Tuhan Yesus menjadi kesaksian yang tunduk kepada otoritas; orang yang lebih muda tunduk kepada orang. yang lebih tua, orang yang diajar tunduk kepada mereka yang mengajar, dan kita semua tunduk satu sama lain, demikian kita tunduk kepada otoritas Allah. Ketika kita berdiri pada susunan posisi kita masing-masing, tunduk kepada otoritas Allah, otoritas Allah akan dinyatakan di tengah-tengah kita. Demikianlah kita akan dapat memerintah bagi Allah.. Jadi, otoritas dalam gereja bukan berasal dari diri sendiri atau anggapan diri sendiri, melainkan timbul melalui ketundukan, ketaatan. Sebagai contoh, para penatua tidak seharuanya terus- menerus merasa bahwa diri mereka lebih matang dan lebih tua daripada yang lainnya; jika begitu, mereka akan memanfaatkan posisi dan gelar mereka dalam menanggulangi saudara saudari atau mengatur mereka. Mereka harus seperti Musa. Begitu ada perkara di tengah-tengah saudara saudari, mereka harus segera bersujud di hadapan Allah, tunduk kepada susunan posisi. Dengan tunduknya mereka kepada otoritas Allah, otoritas Allah akan beserta mereka, dan mereka akan dapat memerintah dan berkuasa bagi Allah di atas segala hal. Jika mereka sendiri tidak tunduk kepada otoritas Allah, tetapi memakai posisi kepenatuaan menyuruh orang lain tunduk kepada mereka, itu adalah kerusakan daging, bukan memerintah; orang lain akan sulit tunduk kepada mereka.

Pendek kata, untuk memperoleh pengalaman memerintah, kita harus terlebih dulu membereskan masalah posisi. Kita harus mengenal dan menjaga posisi kenaikan, kita juga harus mengenal dan memelihara susunan posisi. Mengenal posisi kenaikan adalah pengalaman mengenal kenaikan yang dibahas di depan. Mengenal susunan posisi adalah pengalaman mengenal Tubuh yang juga dibahas di depan. Kita harus mengenal dan mengalami kedua aspek ini, baru kita dapat memerintah bagi Allah. Kita harus mengenal posisi kenaikan yang kita peroleh karena Tuhan dalam keselamatan-Nya, dan susunan posisi yang telah disusun oleh-Nya untuk kita dalam Tubuh-Nya, baru kita dapat menggunakan otoritas-Nya dan memerintah bagi Allah. Singkatnya, kita harus berada dalam posisi kenaikan dan dalam susunan posisi dalam Tubuh, baru kita bisa memiliki pengalaman memerintah.

2. Mau Memerintah

Kedua, kita harus mau memerintah. Ini berarti kita harus secara positif dan aktif memerintah bagi Allah, mengatur segala sesuatu. Begitu kita memiliki posisi kenaikan dan susunan, kita boleh memerintah. Jika pengalaman kita telah mencapai tahap ini, kita juga seharusnya memerintah. Tetapi ada saudara saudari yang tidak ingin memerintah, juga tidak mau memerintah. Roh mereka kendur dan malas. Ketika di dalam gereja timbul kesulitan, mereka tidak mempedulikannya, dalam pekerjaan Tuhan ada masalah, mereka juga tidak mempertanyakannya; mereka membiarkan Iblis bekerja dan merusak. Jika demikian, meskipun menurut pertumbuhan hayat mereka mampu memerintah, tetapi dalam realitas, karena kekenduran dan keengganan mereka untuk memerintah, mereka tetap tidak dapat memperoleh pengalaman memerintah. Karena itu, orang yang mau memerintah, rohnya tidak boleh kendur dan takut, melainkan mau secara positif dan aktif menggunakan otoritas Allah untuk menanggulangi segala pekerjaan musuh. Demikian, otoritas Allah akan segera dimanifestasikan di dalam gereja, dan banyak perkara yang memberontak dan tidak sesuai dalam gereja akan ditundukkan.

Hari ini di dalam gereja kekurangan orang yang mau memerintah. Akibatuya, banyak muncul perkara yang tidak seharusnya muncul. Misalnya, adanya sidang persekutuan dan sidang pemecahan roti yang lemah dan kacau. Ada orang yang seharusnya berdoa, tetapi tidak berdoa; ada orang yang seharusnya berbicara, tetapi tidak berbicara. Sebaliknya, banyak doa yang tidak perlu dan kesaksian yang tidak berarti disampaikan, sehingga sidang-sidang itu terganggu, saudara saudari tidak terbina, dan akibatnya timbul tawar hati terhadap sidang. Keadaan ini terutama disebabkan oleh mereka yang seharusnya memerintah tidak memerintah. Mereka hanya bersikap sebagai penonton, membiarkan orang lain berbuat apa pun yang mereka suka. Mereka malah menganggap sedemildan ini sangat rohani, bukan dari perbuatan manusia, melainkan dari pergerakan Roh. Akibatnya, gereja mengalami kerugian besar.

Kita sering berkata bahwa sidang-sidang tertentu sangat mati dan tertekan. Tekanan semacam itu berasal dari Iblis, karena Iblis adalah si jahat yang memiliki otoritas maut. Karena itu, kapan kala sebuah sidang mati dan tertekan, itu berarti Iblis memerintah di sana sebagai raja. Pada saat itu, harus ada orang yang bangkit, memerintah bagi Allah, entah oleh sepatah kata, sebuah kidung, atau sebuah doa untuk mengendalikan sidang, mengubah atmosfer, dan membebaskan hayat Allah, dengan demikian menelan maut yang berasal dari Iblis.

Iblis bukan hanya bekerja atas sidang gereja, tetapi juga atas diri banyak orang. Adakalanya Iblis mengirimkan kemiskinan atau penyakit yang tidak perlu. Jika kita hidup dalam alam kenaikan, kita dapat mengetahui kemiskinan atau penyakit mana yang diizinkan oleh Allah dan mana yang diberikan oleh Iblis. Begitu kita mengenal jelas hal ini, kita harus belajar memerintah dengan menyangkal dan melawan kemiskinan atau penyakit yang diberikan oleh Iblis.

Tidak hanya demikian, jika kita telah memiliki beberapa pengalaman dalam peperangan rohani, kita dapat nampak bahwa segala hal yang merusak pekerjaan Allah atau mengganggu gereja, entah itu besar atau keeil, semua adalah perbuatan setan (roh jahat). Sebagal contoh, kadang- kadang dalam sidang ada yang mendengkur, ada yang pikirannya mengembara, atau anak-anak berlari-lari; semuanya itu adalah pekerjaan setan. Bahkan ada doa atau berita yang merupakan pekerjaan setan. Sebenarnya, segala sesuatu di dalam dunia ini, kecuali yang digerakkan oleh Roh Kudus, dapat dianggap berasal dari roh jahat. Karena itu, sangat perlu ada orang yang mau bangkit dan berdiri pada posisi kenaikan dan susunan, secara positif dan aktif menggunakan otoritas bagi Allah untuk mengendalikan situasi yang kacau dan tidak seharusnya ada, menghancurkan semua pekerjaan musuh yang berlawanan! Kita tidak boleh seperti Eli tua dalam 1 Samuel 3 yang begitu acuh tak acuh dan tertidur. Orang yang acuh tak acuh dan tertidur tidak dapat memerintah bagi Allah. Jika kita ingin memerintah, roh kita harus kuat dan positif. Roh yang memerintah haruslah roh yang kuat, hidup, aktif dan tidak pasif, positif dan tidak negatif, rajin dan tidak malas. Orang yang memiliki roh sedemikian bukan hanya menjaga susunan posisi dan tunduk kepada otoritas Allah, tetapi juga memiliki iman yang kuat dan terus-menerus dalam posisi kenaikan menerapkan otoritas Allah untuk memerintah dan berkuasa atas lingkungannya, atas pekerjaannya, atas semua sidang dan urusan dalam gereja.

Untuk memerintah, kita harus menyatakan sikap kita terhadap tiga arah. Pertama, terhadap Allah; kedua, terhadap Iblis; dan ketiga, terhadap orang, perkara, dan benda yang berkaitan. MisaInya, ada seorang saudara yang berperilaku tidak pantas dalam gereja. Orang-orang yang memerintah harus datang ke hadapan Allah dan menyatakan sikap dengan mengatakan, "Tuhan, saudara ini berperilaku kurang pantas dalam gereja, kami tidak menyetujuinya, tidak mau menerimanya." Mereka juga perlu menyatakan kepada Iblis bahwa ini berasal dari gangguannya, dan mereka menolak serta menghakiminya. Terakhir, jika perlu, mereka perlu dengan khidmat menyatakan sikap terhadap orang, perkara, dan benda yang berkaitan, mengatakan, "Kami tidak setuju dan tidak bisa membiarkan hal ini terjadi." Begitu kita menyatakan sikap-sikap ini, Allah akan bekerja dan menyatakan otoritas-Nya. Sering kali pekerjaan Allah tergantung pada sikap yang kita nyatakan terhadap-Nya. Ketika seseorang hidup dalam dosa dan dunia, Allah tidak akan menghargai pandangannya. Tetapi ketika seorang telah mencapai posisi kenaikan, pandangannya akan sangat dihargai oleh Allah. Ketika seorang mencapai posisi kenaikan, pandangannya hampir sama dengan maksud Allah. Karena itu, ia boleh sedikit aktif dan menyatakan sikapnya. Allah juga menghormatinya, mempercayainya, dan akan memerintah melaluinya.

Jadi, ditinjau dari tujuan keselamatan Allah, kita perlu memerintah bagi-Nya; ditinjau dari pertumbuhan hayat kita, kita perlu mencapai tahap memerintah; ditinjau dari ketidakbenaran Iblis, kita lebih perlu lagi bangkit dan memerintah. Semuanya ini seharusnya membuat kita dengan baik-baik memperhatikan pelajaran ini. Meskipun pengalaman ini sangat tinggi dan dalam, tetapi karena kita telah memiliki permulaan dalam tahap kedua dan ketiga, jika kita terus giat menuntut, Tuhan akan membawa kita masuk ke dalam alam memerintah. Semoga Tuhan merahmati kita!