PEPERANGAN ROHANI
Mengenai tahap keempat darl hayat rohani, kita telah nampak tiga pengalaman yang pertama: mengenal Tubuh, mengenal kenaikan, dan memerintah. Sekarang kita akan melanjutkan melihat pengalaman keempat dari tahap ini, yaitu peperangan rohani. Ini adalah satu pengalaman penting dalam tahap keempat. Kita harus mengenal Tubuh, mengenal kenaikan, dan memerintah adalah agar kita bisa melakukan peperangan rohani. Jadi, tahap keempat ini disebut tahap peperangan rohani.
I. DASAR ALKITAB
Tujuan dari peperangan rohani adalah mendatangkan Kerajaan Allah. Ini adalah satu topik yang besar dalam Alkitab. Kita akan mengambil dua tempat yang paling penting sebagai dasar.
Terlebih dulu mari kita membaca Matius 12:26, 28-29 : "Demikianlah juga kalau, Iblis mengusir Iblis, ia pun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Tetapi jika Aku mengusir setan dengan Roh Allah (Tl.), maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Atau bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu? Sesudah diikatnya barulah ia dapat merampok rumah itu." Dalam bagian firman Tuhan ini terdapat beberapa butir penting yang berhubungan dengan peperangan rohani. Pertama, di sini Tuhan berkata bahwa Iblis memiliki kerajaannya. Di alam semesta ini bukan hanya ada Kerajaan Allah, tetapi juga ada kerajaan Iblis. Kedua, Tuhan berkata bahwa jika Dia mengusir setan dengan Roh Allah, maka Kerajaan Allah sudah datang kepada manusia. Di sini kita nampak bahwa mengusir setan dengan Roh Allah berarti mendatangkan Kerajaan Allah, juga berarti ada peperangan roham. Ketiga, karena mengusir setan bersandarkan Roh Allah adalah mendatangkan Kerajaan Allah, maka sebelum setan-setan diusir, kerajaan Iblislah yang memerintah. Melalui setan-setan, Iblis merampas manusia dan memerintah manusia. Keempat, orang kuat yang Tuhan sebutkan di sini adalah Iblis. Iblis adalah orang kuat; ia mempunyai rampasan dan tawanan. Kelima, di sini dikatakan tentang kerajaan Iblis dan rumah orang kuat itu. Kerajaan Iblis adalah rumah orang kuat itu. Karena itu, orang-orang di dunia ini, di satu pihak adalah umat dalam kerajaan Iblis, di pihak lain adalah harta benda di dalam rumah Iblis. Di sini dikatakan bahwa ada orang yang masuk ke dalam rumah orang kuat itu dan merampas harta bendanya. Ini mengacu kepada kedatangan Tuhan ke kerajaan Iblis untuk menyelamatkan manusia dari perampasan dan kepemilikan Iblis. Keenam, di sini juga dikatakan bahwa bila seseorang ingin merampas barang-barang milik orang yang kuat itu, terlebih dulu ia harus mengikat orang kuat itu. Berarti ketika Tuhan datang untuk menyelamatkan kita, Dia harus terlebih dulu mengalahkan Iblis dan mengikatnya.
Sekarang mari kita baca Matius 6:9-10: "Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga." Juga ayat 13b : "Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin" Bagian perkataan Tuhan mengenai doa ini sangat besar maknanya di dalam Alkitab. Arti yang terkandung di dalamnya sangat erat hubungannya dengan peperangan rohani.
Ketika Tuhan mengajar kita berdoa, Dia memulainya dengan tiga kata permintam "Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga." Ketiga kata permintaan ini menunjukkan arti utama dari apa yang Tuhan ingin kita doakan. Sampai kesimpulannya, Dia berkata, "Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan." Di sini kembali tiga faktor diwahyukan. Ketiga kata permintaan di permulaan dan ketiga faktor di kesimpulan menunjukkan kepada kita apa sasaran peperangan rohani.
"Dikuduskanlah nama-Mu"dalam bahasa aslinya berarti "disisihkanlah nama-Mu ke dalam kekudusan". Alkitab menampakkan kepada kita bahwa nama Allah adalah satu perkara besar. Setelah kejatuhan manusia, pada zaman Enos, manusia mulai memanggil (menyeru) nama Tuhan (Kej. 4:26). Allah ingin di bumi ini hanya ada nama-Nya, sehingga manusia hanya menyeru nama-Nya. Tetapi ketika manusia membangun menara Babel; bersama-sama memberontak terhadap Allah, mereka mengesampingkan nama Allah dan mencari nama bagi mereka sendiri (Kej. 11:4). Kehendak Allah adalah agar nama-Nya dikuduskan di bumi dan menjadi satu-satunya nama yang layak menerima semua hormat. Namun, Iblis mengumpulkan umat manusia pemberontak untuk mengesampingkan nama Allah dan menggantinya dengan banyak nama lain. Demikianlah, nama Allah dijadikan biasa saja. Karena itu, hari ini di bumi nama Allah tidak dikuduskan oleh manusia, tidak dihormati dengan kudus oleh manusia, ini adalah akibat jahat dari penguasaan Iblis.
Kita tahu bahwa nama berhubungan dengan otoritas. Nama juga sangat mewakili otoritas. Sampai di mana otoritas seseorang, namanya pasti juga mencapai tempat tersebut. Fakta bahwa nama seseorang ada di suatu tempat membuktikan bahwa otoritasnya juga ada di sana. Secara umum, nama yang tampak pada satu obyek tertentu menyatakan bahwa obyek tersebut milik nama tersebut. Jika nama Allah ada di bumi, berarti bumi mengakui hak milik Allah atasnya. Jika nama Allah ditolak di bumi, berarti bumi menyangkal Allah sebagai pemiliknya. Karena bumi diciptakan oleh Allah, maka di bumi harus ada nama Allah, harus mengakui hak kepemilikan Allah. Tetapi Iblis mengambil kepemilikan atas manusia dengan menyuruh manusia memberontak kepada Allah. Dengan demikian, nama Allah ditinggalkan dan tidak lagi dikuduskan.
Untuk alasan ini, maka ketika Allah bekerja di bumi, Dia terus-menerus memperhatikan perkara nama-Nya dikuduskan. Ketika Allah membawa bangsa Israel ke Tanah Kanaan, Dia menyuruh mereka berkumpul bersama- sama di satu tempat untuk beribadah kepada-Nya; tempat itulah yang Dia pilih untuk menegakkan nama-Nya (Ul. 12:5-6). Allah melakukan hal ini supaya hanya nama-Nya saja yang dikuduskan di tengah-tengah umat-Nya. Hari ini, dalam zaman Perjanjian Baru, di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang Allah berikan kepada manusia, yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:12). Ketika kita dibaptis, kita dibaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Ketika kita berdoa, kita berdoa dalam, nama Tuhan (Yoh. 14:13-14; 16:23-24). Ketika kita bersidang, juga bersidang dalam nama Tuhan (Mat. 18:20). Karena itu, kita adalah orang- orang milik nama Tuhan, dan nama-Nya dikuduskan atas diri kita. Tuhan Yesus datang ke bumi adalah untuk mendapatkan manusia di bumi ini, melalui manusia Dia hendak memuhhkan bumi kembali ke bawah otoritas Allah, sehingga nama Allah di bumi ini kembali menjadi satu-satunya nama yang dikuduskan. Pada hari itu, manusia akan benar-benar memuji Allah, mengatakan, "Ia TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi" (Mzm. 8:1).
Mengikuti nama, ada kerajaan. Butir kedua yang Tuhan ingin kita perhatikan ketika berdoa adalah menghendaki Kerajaan Allah datang. Ini membuktikan bahwa hari ini Kerajaan Allah belum ada di bumi. Apakah Kerajaan Allah? Kerajaan Allah adalah ruang lingkup di mana Allah berkuasa. Kerajaan atau negara apa pun, besar atau kecil, merupakan suatu ruang lingkup pemerintahan. Jika bumi tidak mengakui nama Allah, pemerintahan Allah juga tidak ada di bumi. Jika nama Allah dikuduskan di bumi, Kerajaan Allah atau pemerintahan Allah datang ke bumi ini. Karena itu, setelah Tuhan berkata, "Dikuduskanlah nama-Mu," Dia berkata, "Datanglah kerajaan-Mu."
Alkitab mewahyukan bahwa ada tiga bagian penting di alam semesta : surga, bumi, dan langit (angkasa). Sejak Iblis memberontak kepada Allah, langit dan bumi diduduki oleh Iblis; hanya tersisa surga sebagai tempat Allah berkuasa. Jadi, Iblis menjadi penguasa kerajaan angkasa (Ef. 2:2), dan melalui utusan-utusan di bawah tangannya, Iblis menguasai langit dan seluruh bumi (Ef. 6:12). Akibatnya, orang-orang di bumi mengabaikan nama Allah dan menolak pemerintahan-Nya.
Meskipun Allah belum memiliki kerajaan-Nya di bumi, Dia tidak mengabaikan bumi. Mulai dari Kejadian, kita nampak garis pekerjaan Allah yang berkesinambungan di bumi, dari generasi ke generasi, untuk mendirikan kerajaan-Nya dan memerintah di bunn. Tujuan Allah memanggil Abraham adalah untuk mendapatkan suatu keluarga dan darinya menghasilkan suatu bangsa (Kej. 12:1-2). Kemudian Allah membebaskan bangsa Israel, keturunan Abraham, keluar dari Mesir, agar mereka dapat menjadi suatu kerajaan (Kel. 19:4-6), dan melalui tabernakel, Dia memerintah di tengah-tengah mereka.
Setelah bangsa Israel memasuki Kanaan, pada suatu hari, mereka kembali menolak Allah dan pemerintahan-Nya. Mereka lebih suka mengikuti bangsa-bangsa di bumi, menghendaki manusia memerintah atas mereka (1 Sam. 8:4-7). Menanggapi itu, Allah sangat tidak senang; itu adalah suatu kemunduran bagi kerajaan-Nya di bumi, sehingga tidak memberikan tempat kepada-Nya untuk memerintah di bumi. Setelah Saul mati, Daud dibangkitkan. Daud adalah seorang yang berkenan di hati Allah; demikianlah Allah dapat berkuasa di tengah-tengah bangsa Israel melalui Daud. Namun, setelah Salomo, bangsa Israel kembali jatuh. Sejak masa itu, Allah tidak mendapatkan suatu kerajaan di bumi di mana Dia dapat memerintah dengan bebas.
Di bawah situasi sedemikian, Allah mengutus seorang yang disebut Yohanes Pembaptis. Ketika dia mulai memberitakan, perkataan pertamanya adalah : "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat" (Mat. 3:1-2). Kemudian, ketika Tuhan Yesus datang memberitakan, perkataan pertamaNya juga adalah "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat" (Mat. 4:17). Selanjutnya, ketika Tuhan mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil, Dia memerintahkan mereka untuk memberitakan, "Kerajaan Surga sudah dekat" (Mat. 10:5-7). Akhirnya, yang Tuhan inginkan agar gereja-Nya memberitakan ke seluruh bumi tetap adalah "Injil Kerajaan" (Mat. 24:14; Kis. 8:12; 28:31). Selama dua ribu tahun berselang, Allah telah mengutus orang-orang untuk memberitakan Injil dengan tujuan mendapatkan suatu ruang lingkup bagi-Nya untuk memerintah di bumi, dengan demikian mendirikan kerajaan-Nya. Inilah arti perkataan permintaan kedua : "datanglah kerajaan-Mu", dalam doa yang Tuhan ajarkan kepada kita.
Selanjutnya, Tuhan menghendaki kita memiliki yang ketiga : "jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga". Kehendak Allah dan pemerintahan- Nya tidak dapat dipisahkan. Di mana Allah bisa memerintah, di sanalah kehendakNya bisa terlaksana. Kehendak Allah hanya dapat terlaksana di surga, belum dapat terlaksana di bumi, karena di bumi belum ada kerajaan di mana Allah dapat memerintah. Dan Kerajaan Allah tidak ada di bumi karena nama-Nya tidak dikuduskan di bumi. Di mana nama Allah dikuduskan, disana ada pemerintahan-Nya; di mana Dia memerintah, di sana kehendak-Nya terlaksana. Karena itu, yang Tuhan perhatikan ketika Dia mengajar kita berdoa ialah agar nama Allah, pemerintahan Allah - Kerajaan Allah, dan kehendak Allah bisa terlaksana di bumi.
Dalam doa yang Tuhan ajarkan kepada kita, terakhir masih ada satu penutupan, yaitu "karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuhaan". Kerajaan adalah suatu ruang lingkup untuk memerintah. Allah melaksanakan otoritas atau kuasa-Nya dalam kerajaan-Nya. Dan kemuliaan diekspresikan melalui pemerintahan-Nya. Ketiga hal ini - kerajaan, kuasa, dan kemuliaan - adalah milik Allah selama-lamanya. Berdasarkan ketiga faktor inilah Tuhan berdoa agar nama Allah dikuduskan, kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya dilaksanakan di bumi seperti di surga.
Hari ini, meskipun Kerajaan Allah belum sepenuhnya datang ke bumi, meskipun Allah belum mendapatkan suatu ruang lingkup di mana Dia dapat sepenuhnya memerintah, dan meskipun kemuliaan-Nya belum sepenuhnya diekspresikan, tetapi syukur kepada Tuhan, di suatu tempat yang kecil, di suatu ruang lingkup yang kecil, masih ada sebagian keadaan di mana Allah memerintah, masih bisa membiarkan Allah mengekspresikan sebagian kemuliaan-Nya. Inilah gereja. Hari ini gereja adalah suatu model pemerintahan Allah. Hari im yang Allah kehendaki adalah memperluas ruang lingkup pemerintahan-Nya menurut model ini dan melalui model ini. Melalui gereja Allah akan mengikat Iblis dan menghancurkan kekuatannya. Demikianlah, nama-Nya akan dihormati di seluruh bumi, kerajaan-Nya berdiri, dan kehendak-Nya terlaksana. Inilah amanat gereja, juga adalah tujuan peperangan rohani gereja.
II. KERAJAAN ALLAH LAWAN KERAJAAN IBLIS
Telah kita katakan bahwa di alam semesta ada Kerajaan Allah dan ada kerajaan Iblis. Peperangan rohani yang kita bicarakan adalah peperangan antara kedua kerajaan ini. Karena itu, untuk berbagian dalam peperangan rohani, kita terlebih dulu harus tahu pertentangan antara Kerajaan Allah dengan kerajaan Iblis.
Kerajaan Allah itu kekal, baik dalam waktu maupun ruang. Sebagaimana Allah adalah dari kekekalan sampai kepada kekekalan, kerajaan-Nya juga dari kekekalan sampai kepada kekekalan. Lagi pula, karena Allah adalah terang, maka Kerajaan Allah berada di dalam terang.
Kerajaan Iblis tidaklah kekal. Ditinjau menurut waktu, ia terbatas dalam waktu; menurut tempat, ia dibatasi oleh langit dan bumi. Lagi pula, kerajaan Iblis berada dalam kegelapan. Sungguh berlawanan dengan Kerajaan Allah.
Selain itu, masih ada satu perbedaan yang sangat besar, yaitu Kerajaan Allah adalah legal (sah), sedangkan kerajaan Iblis ilegal. Seluruh alam semesta diciptakan oleh Allah dan adalah milik-Nya; karena itu, Allah memiliki hak yang sah untuk memerintah. Sebaliknya, kerajaan Iblis didirikan karena Iblis memberontak melawan Allah; karena itu, kerajaan Iblis mutlak ilegal.
Dalam Yesaya 14:12-15 dan Yehezkiel 28:11-17, melalui raja Babel dan raja Tirus (keduanya merupakan alat yang dipakal Iblis), Allah memperlihatkan proses pemberontakan Iblis. Iblis pada mulanya adalah kerub yang diurapi, penghulu malaikat yang memiliki kedudukan khusus di hadapan Allah. Karena ia sombong dalam hati dan berhasrat untuk memegahkan dirinya sehingga sama dengan Allah, dia memberontak terhadap Allah dan berusaha menggulingkan otoritas Allah, dengan demikian mendirikan otoritasnya sendiri. Sejak itu, muncullah kerajaan Iblis yang ilegal di alam semesta.
Kerajaan Iblis adalah ruang hngkup pemerintahan Iblis. Tuhan Yesus menyebut Iblis sebagai "penguasa dunia" (Yoh. 14:30). Ini mewahyukan bahwa Iblis tidak hanya memiliki kerajaan, tetapi juga memerintah dalam kerajaannya. Di dalam kerajaannya terdapat para utusannya dengan berbagai tingkatan, semuanya adalah para malaikat yang mengikuti Iblis dalam memberontak kepada Allah. Hari ini mereka adalah pemerintah- pemerintah, penguasa-penguasa, kuasa-kuasa dunia, dan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12; 2:2; 1:2 1).
Selain itu, dalam kerajaan Iblis masih terdapat banyak setan, roh jahat, yang melayani sebagai pelayannya. Berdasarkan berbagai catatan dalam Alkitab, kita dapat memastikan bahwa sebelum pekerjaan pemulihan enam hari atas langit dan bumi (Kej. 1), terdapat suatu dunia yang di dalamnya hidup, sekelompok makhluk hidup yang memiliki roh. Ketika Iblis memberontak kepada Allah, makhlukmakhluk itu bersama-sama mengikuti Iblis memberontak. Karena itu, Allah menghakimi dunia. Di satu pihak memadamkan matahari dan bulan di langit sehingga tidak lagi bercahaya, di pihak lain menenggelamkan bumi dan semua makhluk hidup itu di bawah air. Makhluk-makhluk hidup itu, karena menerima penghakiman penenggelaman oleh air, rohnya terpisah dengan tubuhnya, sehingga menjadi roh-roh yang tidak bertubuh, mereka tinggal di dalam air yang menghakimi mereka. Mereka adalah setan-setan atau rohroh jahat yang disebutkan di dalam Alkitab.
Jadi, pada mulanya, ada tiga kelompok makhluk dalam kerajaan Iblis. Pertama, Iblis, sang kepala, sang penguasa; kedua, para malaikat yang mengikuti Iblis dalam memberontak kepada Allah dan melayani sebagai pemerintah atau penguasa baginya di langit; ketiga, roh yang tidak bertubuh, atau setan-setan, roh-roh jahat, yang bertindak sebagai pelayan- pelayan Iblis untuk menjalankan perintahnya di bumi.
Kemudian, setelah manusia diciptakan, Iblis datang memperdaya manusia dan berhasil menipu mereka; manusia menjadi umat dalam kerajaannya, dipermainkan dan disalahgunakan olehnya. Maka, hari ini ada empat jenis makhluk dalam kerajaan Iblis. Di langit ada Iblis dan para utusannya, di bumi ada pelayan-pelayan dan umatnya, yakni setan-setan yang tidak terhitung dan berjuta-juta orang dunia. Ketika Tuhan Yesus memberitakan Injil di bumi, di mana-mana Dia bertemu dengan orang- orang yang dirasuk setan-setan. Hari ini masih ada kawanan setan yang mengganggu dan mempermainkan orang-orang di dunia. Meskipun tempat kediaman mereka adalah di dalam laut, tetapi mereka ingin mencari suatu tubuh di mana mereka dapat tinggal di dalamnya. Ketika kita mengatakan bahwa seseorang dirasuk setan, kita biasanya mengacu kepada tubuh manusia yang dirasuk setan.
Ringkasnya, kerajaan Iblis terdiri dari keempat jenis makhluk. Mereka terorganisasi menjadi suatu sistem, dengan Iblis yang melalui menduduki langit dan bumi hendak menggulingkan otoritas Allah dan mendirikan kerajaannya sendiri. Karena itu, kerajaan yang diorganisir oleh kuasa pemberontakan Iblis ini mutlak ilegal.
Demikian sampai empat ribu tahun setelah kejatuhan manusia, dimulailah zaman Perjanjian Baru. Tuhan Yesus keluar melayani dan menyatakan, "Bertobatlah, Kerajaan Surga sudah dekat." Maksud Tuhan ialah : sebelumnya di sini ada kerajaan bumi, kerajaan Iblis, Iblis berkuasa di dalamnya; sekarang Kerajaan surgawi, yaitu Kerajam Allah segera datang, Allah akan datang ke bumi ini untuk memerintah. Kemudian, Dia mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa, "Datanglah kerajaan-Mu." Perampungan perkara ini terjadi pada saat peniupan sangkakala ketujuh di masa yang akan datang (Why. 11:15). Saat itu kerajaan dunia ini akan menjadi Kerajaan Allah dan Kristus. Demikianlah, Kerajaan Allah akan secara konkret dan sempurna datang ke atas bumi.
Potongan waktu atau masa sebelum hari itu tiba adalah waktu bagi umat Allah berperang bagi-Nya di bumi. Sejak Tuhan Yesus keluar menunaikan ministri-Nya sampai kedatangan-Nya kali kedua, semua pekerjaan yang dilakukan umat Allah merupakan peperangan rohani. Allah akan melalui orang-orang mihk-Nya merebut kembali dan menyelamatkan orang-orang yang ditawan Iblis, dan mendapatkan kembali bumi yang diduduld Iblis. Penyelamatan dan perebutan kembali ini, menurut apa yang Tuhan perlihatkan kepada kita dalam Matius 12, adalah peperangan antara Kerajaan Allah dengan kerajaan Iblis.
III. SEMUA PEKERJAAN ROHANI
ADALAH SUATU PEPERANGAN
Karena ada peperangan antara Kerajaan Allah dengan kerajaan Iblis, maka semua pekerjaan rohani yang kita lakukan bagi Allah, dalam bentuk apa pun, selama menjamah hal-hal di alam rohani, adalah suatu peperangan. Sebagai contoh, memberitakan Injil, menurut Kisah Para Rasul 26:18 adalah "untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah" Ini menunjukkan bahwa pemberitaan Injil tidak hanya membuka mata manusia dan memalingkan mereka dari kegelapan kepada terang, tetapi juga membebaskan mereka dari kuasa Iblis. Lagi, Kolose 1:13 mengatakan, "Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih." Dilepaskan dari kuasa kegelapan adalah dilepaskan dari kuasa Iblis atau kerajaan Iblis. Dan dipindahkan ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih adalah dipindahkan ke dalam Kerajaan Allah. Jadi, pemberitaan Injil mutlak merupakan suatu peperangan rohani untuk mengusir kuasa Iblis dalam manusia dan mendatangkan Kerajaan Allah. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan pasti menolak nama Allah, tidak memiliki pemerintahan Allah atas dirinya, dan tidak berkaitan dengan kehendak Allah. Sebaliknya, ia sepenuhnya di bawah kuasa Iblis, dan seluruh dirinya berada di dalam kerajaan gelap Iblis. Ketika seseorang beroleh selamat, pertama dia percaya kepada nama Tuhan, kedua dia menyeru nama Tuhan, dan ketiga dia adalah untuk nama Tuhan, milik nama Tuhan. Sejak itu dia terlepas dari kuasa Iblis dan berada di bawah nama Tuhan, menjadi milik nama Tuhan. Begitu nama Tuhan ada pada dirinya, otoritas Tuhan pun mengikutinya. Begitu otoritas Tuhan ada pada dirinya, otoritas Iblis tersingkirkan. Jadi, sesungguhnya, memberitakan Injil, membawa keselamatan kepada orang, dan memimpin orang kepada Tuhan, adalah suatu peperangan rohani.
Membina kaum saleh juga merupakan suatu peperangan rohani. Karena membina kaum saleh berarti melepaskan kaum saleh dari penguasaan Iblis melalui dosa, dunia, daging, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ciptaan lama, sehingga mereka lebih banyak terlepas dari kuasa Iblis, lebih banyak mengenal nama Tuhan, dan lebih banyak membiarkan Tuhan memerintah atas diri mereka, ini juga berarti lebih banyak mendatangkan Kerajaan Allah atas din mereka.
Dua Korintus 10:3-5 mengatakan, "Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala piktran dan menaklukkannya kepada Kristus." Perkataan ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang sudah beroleh selamat, mungkin sebagian besar dari pikiran dan pemikirannya masih merupakan benteng-benteng Iblis, dan banyak ide dan konsepsinya masih berfungsi seperti kubu yang diduduki oleh Iblis. Karena itu, ketika para rasul membina kaum saleh, tujuan mereka adalah melalui peperangan meruntuhkan semua benteng dan kubu Iblis di dalam kaum saleh dan akhirnya menawan pildran mereka, menaklukkannya kepada Kristus. Jadi, membina kaum saleh juga merupakan suatu peperangan rohani.
Tidak hanya demikian, mengurus gereja juga adalah suatu peperangan. Karena tujuan mengurus gereja adalah agar gereja makin terlepas dari kuasa kegelapan, lebih membiarkan Allah mendapatkan kedudukan untuk memerintah di dalam gereja, lebih membiarkan nama Allah ditinggikan dalam gereja, lebih membiarkan kehendak Allah terlaksana di dalam gereja, dan lebih membiarkan kemuliaan Allah terekspresikan di dalam gereja. Jadi, mengurus gereja juga merupakan suatu macam peperangan.
Bahkan doa-doa kita, entah itu untuk diri kita, untuk keluarga, untuk kebangunan gereja, atau untuk hal-hal lainnya, semua bertujuan agar kita terlepas dari kuasa gelap Iblis. Jadi, ini juga merupakan suatu peperangan.
Jika mata kita dicelikkan oleh Tuhan, kita akan nampak bahwa seluruh sifat pekerjaan kita dalam melayani Tuhan adalah peperangan. Seluruh pekerjaan rohani kita, baik itu melepaskan manusia dari dosa, dari dunia, dari sakit, atau dari masalah, semuanya memiliki suatu tujuan akhir: menyelamatkan manusia dari kuasa Iblis dan mengusir kuasa kegelapan Iblis dari dalam manusia, sehingga manusia bisa didapatkan oleh Allah. Demikianlah, nama Allah bisa dikuduskan atas manusia, Kerajaan Allah bisa datang atas manusia, dan kehendak-Nya bisa terlaksana atas manusia, dan karenanya kemuliaan Allah bisa diekspresikan atas manusia. Jadi, sifat semua pekerjaan ini adalah peperangan rohani.
IV. PRINSIP-PRINSIP PEPERANGAN ROHANI
Ketika kita secara riil mengalami peperangan rohani, ada beberapa prinsip dasar yang harus kita pegang atau jaga :
1. Tidak Bisa Menggunakan Senjata Milik Daging
Prinsip pertama dalam peperangan rohani ialah tidak bisa menggunakan senjata milik daging. Dalam 2 Korintus 10:3-5 yang telah kita kutip di depan, Rasul Paulus dengan jelas memberi tahu kita. Dia mengatakan, "Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi (daging), karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi (milik daging)." Senjata milik daging ini tidak hanya mengacu kepada marah-marah, juga mencakup semua siasat dan cara alamiah manusia. Misalnya, kita mungkin merasa bahwa seorang saudara tertentu telah berbuat salah dan kesalahan itu sudah menjadi suatu masalah dalam gereja. Kita ingin mengoreksi dia, tetapi kita merasa sulit berkenaan dengan hubungan emosi. Kemudian kita ingat bahwa ada saudara lain yang hubungannya agak akrab dengannya; lalu kita meminta saudara, itu untuk berbicara dengannya. Siasat berputar semacam ini juga adalah suatu senjata milik daging; akhirnya pasti tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut. Dalam masyarakat dan dunia bisnis, banyak dipakai siasat sedemikian. Tetapi dalam peperangan rohani, kita tidak boleh memakai siasat. Karena begitu kita memakai siasat daging, kita sendiri segera jatuh ke tangan musuh. Jika demikian, bagaimana kita bisa melepaskan orang lain dari tangan musuh?
Kita lihat diri Paulus, dia adalah orang yang tidak pernah menggunakan senjata milik daging. Dalam hubungannya dengan gereja dan kontaknya dengan orang-orang kudus, dia selalu lurus. Dia lebih baik diperlakukan seperti orang bodoh daripada menggunakan tangan kotor. Itulah sebabnya dia dapat menjadi "senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup meruntuhkan benteng-benteng", dan meraih kemenangan dalam peperangan rohani.
Demikian juga, jika kita ingin menang dalam semua pekerjaan rohani kita dan berhasil, kita harus meninggalkan semua senjata daging. Misalnya, dalam memberitakan Injil tidaklah masalah jika menggunakan traktat sebagal ilustrasi bantuan untuk presentasi, tetapi jika kita terus-menerus bersandar pada berbagai metode atau menggunakan keuntungan materi untuk menarik orang, itu adalah menggunakan senjata daging; paling banyak hanya dapat membuat orang menjadi anggota gereja, tidak dapat melepaskan orang dari tangan Iblis. Karena itu, prinsip pertama dalam, peperangan rohani adalah meninggalkan semua senjata milik daging.
2. Menjaga Posisi Kenaikan
Prinsip kedua dalam peperangan rohani ialah menjaga posisi kenaikan. Kita telah banyak membicarakan peperangan rohani; namun sesungguhnya, hanya ada satu macam orang yang dapat turut serta dalam peperangan rohani, yaitu orang yang telah menerima keselamatan, yang telah dibangkitkan dari maut, dan yang sekarang duduk bersama Kristus di surga. Hanya orang semacam ini yang dapat menyerang musuh di udara (angkasa) dari satu posisi yang sangat tinggi di surga. Karena itu, untuk ikut serta dalam peperangan rohani harus terlebih dulu menjaga posisi surgawi. Begitu kita tidak surgawi, kita segera kehilangan keadaan surgawi kita, dan semuanya akan habis. Jika Injil kita tidak berkekuatan, itu karena kita tidak cukup surgawi. Kita sendiri bumiah, lalu memakai cara-cara bumiah, memakai senjata milik daging, untuk memberitakan Injil. Hasilnya, kita mungkin mendapatkan beberapa orang diselamatkan, tetapi kondisi mereka bagaikan orang yang berjalan menyeret lumpur, tidak sepenuhnya terlepas dari kuasa Iblis. Jika kita benar-benar ingin melepaskan manusia dari kuasa Iblis, agar mereka tidak hanya diselamatkan, tetapi juga sepenuhnya terlepas dari kuasa Iblis, orang yang memberitakan Injil harus menjadi orang yang duduk di surga dan menjaga posisi kenaikan.
Demikian juga dalam hal membina kaum saleh. Jika kita kehilangan posisi kenaikan, kita tidak dapat menyuplai maupun membantu kaum saleh. Jika pemberitaan kita hanyalah doktrin dan persekutuan kita hanyalah pengetahuan, di dalamnya tidak ada unsur peperangan, yang dapat kita berikan kepada orang hanyalah ajaran untuk mental dan mengendalikan emosi; kita tidak dapat dengan riil melepaskan orang-orang dari Iblis dan memalingkan mereka kepada Allah. Karena itu, jika ingin pekerjaan kita memiliki fungsi peperangan, mampu melepaskan orang dari tangan Iblis, kita harus menjaga posisi kenaikan dan terus-menerus hidup dalam kondisi surgawi. Inilah rahasia yang sangat penting.
Akan tetapi, banyak orang di antara kita yang belum mencapai alam kenaikan dalam pengalaman, lalu mengapa kita masih dapat memimpin orang untuk diselamatkan dan mengasihi Tuhan? Ini dikarenakan bagaimanapun masih ada suatu bagian pada diri kita yang surgawi atau menampilkan kondisi surgawi; berdasarkan bagian itulah kita dapat membantu orang lain dan membina mereka. Meskipun kita tercemar oleh dosa, mencintai dunia, dan bersimpati kepada daging, tetapi masih ada bagian dari diri kita yang surgawi; demikianlah, kita masih dapat mengusir bagian kuasa kegelapan dalam manusia dan menyebabkan mereka berpaling kepada Tuhan dan mengasihi-Nya. Jadi, prinsipnya masih tetap sama. Yaitu, hanya mereka yang hidup dalam alam surga yang dapat menanggulangi kuasa kegelapan di udara dan mengusir setan. Penyelamatan dan pertolongan yang kita berikan kepada orang lain tergantung pada bagian yang bersifat surgawi di dalam kita. Berapa banyak kondisi surgawi kita, sebanyak itu kita mampu mengusir kuasa kegelapan. Jika kita memiliki lebih banyak unsur surgawi, kita dapat lebih banyak turut serta dalam peperangan rohani. Jika kita hanya memiliki sedikit unsur surgawi, dari sudut apa pun kita tidak banyak memiliki unsur peperangan rohani. Keduanya berbanding lurus satu sama lainnya. Ketika seseorang sepenuhnya mencapai alam surgawi, seluruh dirinya, kehidupannya, pekerjaannya, dan tindakannya, adalah peperangan rohani. Dia mampu mengusir kuasa kegelapan dari setiap tempat yang dia datangi dan dari setiap orang yang dia temui. Karena itu, ketika dalam pengalaman kita telah mencapai posisi kenaikan dan mampu memerintah, itulah saatnya kita dapat berperang bagi Kerajaan Allah, memuhhkan bumi yang hilang bagi Allah, dan membawa masuk Kerajaan Allah.
3. Menggunakan Senjata Rohani
Prinsip ketiga dalam peperangan rohani ialah harus menggunakan senjata rohani. Ketika turut serta dalam peperangan rohani, tidak eukup dengan hanya menjaga posisi surgawi, juga harus dapat menggunakan senjata rohani secara aktif. Senjata rohani mengacu kepada "seluruh perlengkapan senjata" yang disebutkan dalam Efeaus 6:10-17, termasuk ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera, perisai iman, ketopong keselamatan, dan pedang Roh. Semua senjata ini bersifat rohani, dan ketika kita menggunakannya kita harus berada di dalam roh. Kita dapat mengatakan bahwa prinsip dasar penggunaan senjata rohani adalah semua aktivitas kita harus dari roh. Memberitakan Injil, membina kaum saleh, dan mengurus gereja adalah dari roh. Apa pun aktivitas kita, harus dari roh dan harus membebaskan roh. Semua yang tidak dari roh, semua yang menurut pandangan, ide, dan kepandaian kita sendiri, pasti adalah cara manusia, adalah senjata milik daging, bukan senjata rohani. Karena itu, ketika kita berperang, segala aktivitas kita harus dari roh, menjamah peraaaan itu dari dalam roh. Ini juga adalah satu prinsip yang sangat mendasar.
4. Harus Ada Doa Peperangan
Prinsip keempat dalam peperangan rohani ialah harus ada doa peperangan. Setelah rasul menyebutkan seluruh perlengkapan senjata Allah dalam Efesus 6, selanjutnya dia, "Berdoalah setiap waktu di dalam roh" (ayat 18 Tl). Peperangan rohani tidak dapat mengabaikan doa, karena peperangan rohani sebagian besar tergantung pada doa. Boleh dikatakan, yang paling ditakuti oleh Iblis adalah kaum saleh yang berlutut di hadapan Tuhan, yaitu doa gereja di hadapan Allah. Bahkan di dalam Perjanjian Lama kita dapat melihat beberapa contoh doa peperangan. Misalnya, begitu Daniel mulai berdoa, di atas takhta timbul suatu pergerakan. Tetapi ketika jawaban itu turun dari takhta, ia menemui hambatan di angkasa. Daniel berdoa terus-menerus. Doanya adalah semacam, peperangan. Orang yang menjaga posisi kenaikan, ia memerintah di surga. Ia juga dapat menggunakan senjata rohani, dan doa yang diucapkan sangat berkhasiat, dapat menjamah takhta Allah dan mempengaruhi kuasa Iblis. Allah justru menghendaki kaum saleh-Nya memiliki doa semacam ini untuk bekerja sama dengan-Nya dan berperang bagi-Nya.
5. Oleh Darah dan Perkataan Kesaksian,
dan Tidak Mengasihi Nyawa
Dalam peperangan rohani, selain menolak senjata daging, menjaga posisi kenaikan, menggunakan senjata rohani, dan ada doa peperangan, juga harus menerapkan darah, bersaksi, dan tidak mengasihi nyawa sendiri (Why. 12:11). Hal ini juga adalah satu prinsip yang sangat penting dalam peperangan rohani.
Bersandar atau oleh darah berarti menerapkan darah Tuhan menutupi kita, menerapkan darah Tuhan untuk menghadapi setiap, dakwaan dan serangan Iblis. Karena hingga hari ini kita masih berada di bumi, masih hidup di dalam tubuh daging; kita tidak dapat menghindar dari kecemaran, kerusakan, kelemahan, kekurangan, dan keadaan-keadaan lain yang tidak seharusnya ada. Ketika kita berperang melawan Iblis, hal pertama yang dia lakukan ialah dalam, hati nurani kita menunjukkan semua kelemahan dan kekurangan kita untuk kemudian mendakwa dan menyerang kita. Dakwaan Iblis tidak hanya di dalam; kadang-kadang dibicarakan di luar. Dahulu, pernah ketika seseorang sedang mengusir setan, setan menunjukkan kelemahannya yang tersembunyi dan menyatakannya secara umum melalui orang yang dirasukinya. Peristiwa semacam ini juga tercatat dalam Perjanjian Lama. Zakharia 3:1-5 membicarakan Yosua yang mengenakan pakaian kotor dan Iblis datang menentang dan menyerangnya. Hal-hal inilah yang pasti dilakukan Iblis dalam, peperangan rohani. Pada saat demikian, kita perlu mengetahui kuasa dan khasiat darah, meneraplian darah untuk menjawab semua dakwaan Iblis. Kita dapat berkata kepadanya, "Meskipun kami memiliki kelemahan-kelemahan itu, tetapi darah Tuhan telah teralir untuk itu, dan Allah telah dipuaskan." Demikian barulah kita dapat dengan perkasa dan berani berperang melawan musuh.
Kedua, kita harus bersaksi, yaitu kita harus mengumumkan atau mendeklarasikan apa yang telah Tuhan rampunglian, kemenangan salib, pencapaian kebangkitan, dan posisi kenaikan. Ini bukan berkhotbah, melainkan mempersaksikan dan mengumumkan dengan perkataan.
Iblis sungguh-sungguh adalah pendakwa yang sangat licik. Adakalanya, ketika kita mulai berbicara tentang mengalahkan dunia, dia segera mendakwa di dalam kita, mengatakan, "Bukankah kamu masih mengasihi dunia?" Begitu dia menyela dengan pertanyaan semacam ini, di dalam kita terasa lemah. Saat ini kita harus segera mengumumkan kemenangan Tuhan. Kita harus berkata, "Walaupun aku belum terlepas dari dunia, tetapi Tuhan Yesus telah mengalahkan dunia." Demikianlah kita dapat menang melawan serangannya.
Ketiga, kita tidak boleh mengasihi nyawa diri sendiri; tidak mengasihi diri sendiri dan memperhatikan diri sendiri. Mengasihi dan memperhatikan diri sendiri akan menyebabkan kita kehilangan posisi peperangan dan kita tidak dapat berperang. Jadi, untuk berperang, kita tidak boleh mengasihi nyawa kita, bahkan sampai menghadapi maut.
Ringkasnya, semua pekerjaan rohani adalah suatu peperangan rohani. Tidak ada satu kali pun ketika kita bangkit bekerja, yang tidak menghadapi serangan musuh. Ketika Nehemia membangun kembali kota Yerusalem, karena gangguan musuh, maka setiap orang "melakukan pekerjaannya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang senjata" (Neh. 4:17). Demikian juga, kita yang hari ini melayani Tuhan harus bekerja dengan satu tangan, dan berperang dengan tangan yang lainnya. Kita tidak boleh memperhatikan pendapatan atau kerugian kita, tetapi oleh darah, dalam posisi kenaikan, kita mengumumkan kemenangan Tuhan, menggunakan berbagai senjata rohani untuk menanggulangi Iblis, menggulingkan kekuasaannya dan membawa masuk Kerajaan Allah. Ketika kita secara riil berperang dalam peperangan rohani, kita tidak boleh mengabaikan satu pun dari prinsip-prinsip ini.
V. HASIL PEPERANGAN ROHANI
Hasil pertama dari peperangan rohani adalah mendatangkan otoritas Allah. Sampai tahap apa kita berperang, sampai tahap itulah otoritas Allah akan didatangkan; sampai di mana kita berperang, sampai di sanalah otoritas Allah dapat dilaksanakan. Jika peperangan ini terjadi pada seseorang secara individu, maka otoritas Allah akan mencapai individu itu; jika peperangan berlangsung dalam satu keluarga, maka otoritas Allah akan mencapai keluarga itu; jika terjadi di dalam gereja, maka otoritas Allah akan mencapai gereja. Jadi, hasil pertama dari peperangan rohani adalah mendatangkan otoritas Allah.
Hasil kedua dari peperangan rohani ialah Iblis diusir. Ini juga berlaku atas individu, atas keluarga, atas gereja; bahkan di langit dan di bumi pun demikian. Sampai di mana kaum saleh melakukan peperangan rohani, sampai tempat itulah otoritas Allah didatangkan; hasilnya, Iblis diusir dari tempat itu.
Hari ini Iblis masih berkuasa di langit (angkasa) dan di bumi, karena di antara anak-anak Allah tidak banyak yang berbagian dalam peperangan rohani, unsur peperangan rohani juga sangat sedikit. Ketika pengalaman rohani kita dangkal, perasaan peperangan rohani kita sangat ringan. Kita masih merasa bahwa persoalan kita adalah dosa, dunia, daging, diri, dan alamiah. Hanya setelah kita menanggulangi semua ini, memasuki tahap keempat hayat rohani, pengalaman kita diperdalam, dan kita juga nampak Tubuh yang Allah pergunakan di alam semesta adalah gereja, saat ini barulah kita memiliki perasaan yang berat terhadap peperangan rohani, mengetahui bahwa apa pun yang kita lakukan, setiap tindakan, perkataan, dan sikap kita, selalu mempengaruhi Iblis, selalu menyerang Iblis. Pada saat ini, kita baru merasakan dengan kuat bahwa masalah kita satu-satunya adalah Iblis, dan kita di sini adalah laskar untuk menanggulangi musuh Allah ini. Kita akan nampak bahwa pemberitaan Injil kita tidak sekadar untuk menyelamatkan jiwa, tetapi juga untuk mengusir Iblis; kita membina kaum saleh, mengurus gereja, tidak sekadar untuk membangun gereja, tetapi juga untuk berperang bagi Allah dan mengusir kuasa kegelapan yang menduduki manusia. Demikianlah otoritas Allah akan mencapai kelompok orang atau perkara-perkara tertentu dan Allah memerintah atas mereka. Sampai tahap ini, baik kita memberitakan Injil, membina kaum saleh, maupun mengurus gereja, sikap kita selalu tertuju kepada Iblis sebagai sasaran penanggulangan kita. Kita tahu bahwa yang menghalangi Injil bukanlah hngkungan di luar, melainkan Iblis. Kita tahu bahwa yang merampas manusia dan menyebabkan mereka tidak mengasihi Tuhan bukanlah ikatan manusia, dunia, atau daging, melainkan kuasa kegelapan Iblis. Kita juga tahu bahwa alasan dari segala kekacauan, pergumulan, ketidakacuhan, dan kerusakan dalam gereja bukan karena yang lain, melainkan Iblis. Karena itu, kita tidak menanggulangi apa pun yang ada di permukaan, tetapi melalui posisi dan otoritas kenaikan, kita menanggulangi kuasa kegelapan yang sebagai dalang di balik semua perkara itu. Demikianlah kita mendatangkan Kerajam Allah di bumi.
Wahyu 12 menampakkan kepada kita, begitu anak laki-laki itu (yang melambangkan para pemenang) diangkat ke surga, segera terjadi peperangan. Begitu mereka diangkat ke surga, mereka segera berperang melawan Iblis, dan mereka melemparkan Iblis ke bawah, dari langit ke bumi. Kemudian, Tuhan Yesus membawa mereka bersama-Nya turun ke bumi dan kembali melempar Iblis yang ada di bumi itu ke dalam lubang yang tak berdasar. Pada waktu itu kuasa kegelapan di langit dan di bumi akan sepenuhnya dicampakkan, dan tidak ditemukan lagi jejak Iblis baik di langit maupun di bumi; demikianlah Kerajaan Allah akan datang secara konkret. Saat itu, kaum saleh yang menang akan menjadi raja bersama Kristus dan memerintah bagi Allah selama seribu tahun.
Terakhir, pada akhir masa Kerajaan Seribu. Tahun, musuh akan dilepaskan untuk sementara dan ia akan memberontak untuk kali terakhir. Tetapi ia akan ditanggulangi kembali oleh Tuhan beserta para pemenang, dan akan dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang. Semua milik musuh pun akan binasa bersamanya sampai selama-lamanya. Pada saat itu, langit dan bumi yang lama akan berlalu, dan satu langit baru dan bumi baru akan muncul. Di sana, di langit baru dan bumi baru, nama Allah akan secara unik dihormati, semua makhluk akan tunduk di bawah otoritas Allah, kehendak Allah akan dilaksanakan di seluruh alam semesta, dan kemuliaan Allah akan sepenuhnya diekspresikan. Demikianlah, melalui peperangan rohani, tujuan kekal Allah sepenuhnya tercapai.