MENGENAL KEHENDAK ALLAH
Sekarang kita sampai pada pelajaran mengenai mengenal kehendak Allah atau pimpinan Tuhan. Pelajaran ini erat hubungannya dengan pengalaman pengajaran pengurapan. Tujuan pengurapan adalah mengurapkan unsur Allah ke dalam kita agar kita dapat mencapai tujuan perbauran Allah dengan manusia. Selain itu, pengajaran pengurapan diberikan agar kita dapat mengenal pimpinan dan maksud hati-Nya terhadap kita. Pimpinan dan maksud hati Tuhan adalah kehendak Allah. Karena itu, jika kita ingin mengenal kehendak Allah, kita harus memiliki pengalaman menaati pengajaran pengurapan. Hanya mereka yang mengalami pengurapan yang mampu mengenal kehendak Allah. Mereka yang tidak mengalami pengurapan, hampir tidak mungkin mengenal kehendak Allah.
Tetapi, ketika kita membicarakan pelajaran mengenai mengenal kehendak Allah ini, kita tidak dapat memulai dari pengajaran pengurapan, karena pengurapan meneliankan pergerakan Roh Kudus di dalam kita dan bukan kehendak Allah itu sendiri. Selain itu, kehendak Allah adalah perkara yang terlalu besar dan tidak dapat sekadar dibicarakan sebagai bagian dari pengajaran pengurapan.
Karena itu, kita harus menyediakan satu pelajaran penuh untuk membicarakannya secara terperinci.
1. DASAR ALKITAB
Efesus 5:17, "Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan."
Kolose 1:9, ". . . Kami meminta, supaya kamu dipenuhi dengan segala hikmat dari pengertian rohani untuk mengetahui kehendak Tuhan."
Roma 12:1-2, "Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan, Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah : Itulah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pernbaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah : Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.
Ibrani 10:5, 7, "Karena itu, ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata ... Sungguh, Aku datang; ... untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku."
Matius 6:10, "…jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga."
Ibrani 13:21, "…untuk melakukan kehendak-Nya…"
II. APAKAH KEHENDAK ALLAH
Apakah sesungguhnya kehendak Allah itu? Orang Kristen sering menyebutkan kehendak Allah dalam hubungannya dengan hal-hal yang kecil seperti pekerjaan dan pernikahan mereka. Mereka menggunakan istilah ini secara sambil lalu saja, dengan demikian meremehkan dan menyepelekan kehendak Allah. Jika kita mempelajari kehendak Allah di seluruh Perjanjian Baru secara teliti, kita aknn menemukan bahwa kehendak Allah mengacu kepada perkara yang sangat besar dan agung. Sebagai contoh, Efesus 5:17, "... supaya kamu mengerti kehendak Tuhan", kelihatannya hanyalah frase yang biasa saja, tetapi konteks Kitab Efesus mewahyukan bahwa frase ini sangatlah dalam. Kitab Efesus adalah kitab yang sangat istimewa dalam Alkitab; banyak perkataan dan prinsip yang disinggung dari Allah, dari kekekalan. Karena itu, kehendak Allah yang disebutkan di sana tidak mungkin sekadar mengacu kepada perkara yang sangat biasa dan tidak bermakna. Selain itu, Efesus 5 berdasar pada pasal-pasal sebelumnya. Pasal 1 membicarakan rahasia kehendak Tuhan (ayat 9), dan pasal 3 membicarakan maksud abadi Allah yang dilaksanakan dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (ayat 11); keduanya mengacu kepada perkara-perkara yang luar biasa besar. Kemudian pasal 5 menasihati kita untuk mengenal kehendak Allah, dengan sendirinya hal ini mengacu kepada perkara- perkara besar yang telah disebutkan sebelumnya, bukan perkara- perkara kecil dalam hidup kita.
Demikian juga dengan Kitab Kolose. Setelah Kitab Kolose 1:9 membicarakan diri kita yang dipenuhi dengan pengetahuan akan kehendak Tuhan, pasal selanjutnya menyebutkan rahasia Allah di dalam Kristus, rencana Allah mengenai Kristus, kedambaan Allah agar Kristus menjadi yang paling utama dalam segala sesuatu dan menjadi semua dan di dalam segala sesuatu. Karena itu, ketika Roh Kudus membicarakan kehendak Allah dalam pasal 1, juga pasti mengacu kepada perkara yang luar biasa besar.
Roma 12:2 menasihati kita untuk membedakan kehendak Allah, ayat 3 sampai 5 melanjutkan membicarakan berbagai fungsi kita dan koordinasi kita di dalam tubuh Kristus. Karena itu, kehendak Allah yang disebutkan di sini juga adalah sesuatu yang sangat besar.
Ibrani 10:7 dikutip langsung dari perkataan Tuhan sendiri, "Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Konteks ayat ini adalah inkarnasi Tuhan Yesus, perkara yang sangat besar; karena itu, ketika Ia memproklamirkan ketaatan-Nya kepada kehendak Allah, Ia tidak sekadar mengacu kepada perkara-perkara kecil seperti pakaian, makanan, tempat tinggal, dan perkara-perkara kehidupan lain yang kecil, tetapi kepada seluruh pergerakan-Nya di bumi dalam merampungkan rencana kekal Allah. Ini adalah perkara yang sangat bermakna.
Di dalam Matius 6:10, Tuhan mengajar kita untuk berdoa agar kehendak Bapa terjadi di bumi sama seperti di surga. Ini berarti Tuhan menginginkan kehendak Allah yang terjadi di surga dirampungkan di bumi - sekali lagi ini sangatlah besar.
Ibrani 13:20-21 membicarakan Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, memperlengkapi kita dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya. Karena Allah yang membuat kita melakukan kehendakNya adalah Allah yang begitu besar, kehendak-Nya pasti juga adalah perkara yang besar dan agung.
Ayat-ayat ini membicarakan kehendak Allah sebagai sesuatu yang berasal dari Allah dan yang datang kepada kita baik dari kekekalan ke hari ini maupun dari surga ke bumi. Jadi, kehendak Allah yang disebutkan dalam Alkitab adalah perihal yang luar biasa besar. Betapa berbedanya hal ini dengan konsepsi lama kita mengenai kehendak Allah! Semoga Tuhan membuka mata kita dan mengubah konsepsi kita.
Jadi apakah kehendak Allah itu? Kita akan membahas hal ini dari tiga aspek :
1. Kehendak Allah adalah Hasrat Hati-Nya
Ketika kita membicarakan kehendak Allah, kita harus menelusuri-Nya sampai kepada hasrat hati-Nya. Efesus 1:5-12 adalah salah satu bagian yang sangat penting dalam Alkitab mengenai kehendak Allah. Ayat-ayat ini mengatakan bahwa Allah dalam kekekalan yang lampau mempunyai rencana yang sesuai dengan kerelaan (perkenan) kehendak-Nya. Bagian ini menyebutkan tiga hal yang berhubungan : "rencana", "perkenan", dan "kehendak". Perkenan berasal dari hati, karena hati adalah organ yang berhubungan dengan kesenangan. Allah mempunyai hati sama seperti manusia. Karena itu, Allah juga mempunyai perkenan-Nya, kesenangan-Nya, dan kesayangan-Nya, yaitu kesenangan hati-Nya yang ingin Dia dapatkan.
Demi mencapai perkenan-Nya, Ia mempunyai rencana yang telah ditetapkan-Nya untuk digenapkan agar mencapai sasaran-Nya. Apa yang telah ditetapkan-Nya ini adalah kehendak-Nya. Karena itu, kehendak Allah dan hasrat hati-Nya itu sama. Segala sesuatu yang tidak berkenaan dengan hasrat hati-Nya, bukanlah kehendak- Nya.
Sebagai contoh, Alkitab mewahyukan bahwa hasrat hati Allah dari kekekalan adalah mendapatlian sekelompok orang sebagai pasangan Putra-Nya. Demi mencapai sasaran ini, Allah merencanakan penciptaan langit, bumi, dan manusia sesuai dengan perkenan-Nya. Kemudian, Ia menciptakan segala sesuatu sesuai dengan rencana-Nya. Pada saat itu, penciptaan menjadi kehendak-Nya.
Secara sederhana, kehendak Allah adalah hasrat hati-Nya, direncanakan menurut perkenan-Nya. Dari sudut pandang-Nya, segala sesuatu yang tersembunyi dalam, Allah adalah hasrat hati-Nya. Dari sudut pandang kita, ketika hasrat hati-Nya dilaksanakan di atas diri kita, itu menjadi kehendak-Nya. Karena itu, kehendak Allah yang terjadi di atas diri kita adalah hasrat hati-Nya, karena kehendak-Nya berasal dari hasrat hati-Nya.
2. Kehendak Allah adalah
Perbauran antara Allah dengan Manusia
Karena kehendak Allah adalah hasrat hati-Nya, kita harus mempelajari apakah hasrat-Nya itu. Hasrat-Nya adalah perbauran antara Allah dengan manusia. Berbaur dengan manusia adalah hasrat Allah, juga adalah kehendak Allah.
Mempelajari Alkitab secara menyeluruh akan membantu kita menemukan fakta yang menakjubkan bahwa di dalam kekekalan, menurut rencana yang sesuai dengan hasrat hati-Nya, Allah mempunyai satu tujuan, yakni membaurkan diri-Nya dengan manusia. Dalam alam semesta, Allah hanya mempunyai satu tujuan ini : menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia dan memaurkan diri-Nya sendiri dengan manusia. Penciptaan, penebusan, dan pengudusan-Nya, serta semua aspek lain dari pekerjaan-Nya adalah untuk satu tujuan ini. Inilah satu-satunya hasrat hati-Nya dalam alam semesta : satu-satunya sasaran dan prinsip dasar dari semua pekerjaanNya dalam Perjanjian Baru. Karena itu, untuk melihat apakah sesuatu itu kehendak Allah atau bukan, pertama-tama, kita harus melihat apakah hal itu menghasilkan perbauran antara diri Allah dengan kita. Tanpa perbauran ini, walaupun hal itu sangat baik atau menyenangkan, itu bukan kehendak Allah. Ini sungguh satu tolok ukur yang hebat!
Kehidupan Tuhan Yesus di bumi adalah ekspresi yang sempurna dari prinsip ini. Tuhan berkata, "Sungguh, Aku datang; ... untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku" (Ibr. 10:7, 9), dan, "…Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku" (Yoh. 5:30). Kita nampak bahwa perilaku Tuhan di bumi adalah menurut kehendak Allah. Bagi Dia, seluruh kehidupan-Nya di bumi adalah kehendak Allah. Tetapi, Ia juga mengatakan, "Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya" (Yoh. 14:10). Ini berarti bahwa ketika Ia berada di bumi, perkataan-Nya, perilaku-Nya, dan semua kehidupan-Nya tidak berasal dari diri-Nya sendiri, tetapi dari Bapa, yang tinggal di dalam Dia, berbaur dengan Dia, dan bekerja melalui Dia. Dari ketiga kutipan ayat Alkitab ini kita nampak bahwa kehidupan Tuhan di bumi adalah taat kepada kehendak Allah dan merupakan kehidupan perbauran antara Allah dengan manusia.
Kita tidak dapat memisahkan kehendak Allah dari hasrat hati Allah; kita juga tidak dapat memisahkan kehendak Allah dari diri Allah sendiri. Jika kita terpisah dari hasrat hati-Nya, kita tidak dapat mengenal kehendak-Nya. Demikian juga, ketika kita terpisah dari diri Allah, kita tidak mempunyai kehendak-Nya. Anda mungkin merasa bahwa Anda harus mengerti dan menaati kehendak-Nya, namun jika Anda tidak menjamah Allah sendiri, Allah tetap adalah Allah dan Anda tetap adalah Anda; tidak ada perbauran apa pun antara Anda dengan Dia, dan Anda harus tidak hanya harus tahu bahwa apa yang Anda kira sebagai kehendak-Nya pasti bukan kehendak-Nya. Orang Kristen dalam menaati kehendak Allah haruslah seperti Tuhan Yesus. Dalam segala hal, kita bukan hanya harus bisa mengatakan bahwa ini bukan kehendak kita tetapi kehendak Allah; kita juga harus dapat mengatakan bahwa bukan kita yang bekerja tetapi Allah yang bekerja di dalam kita. Tidak cukup hanya mengatakan bahwa kita tahu sesuatu mengenai kehendak Allah. Kita juga harus mengatakan bahwa ketika kita melakukan perkara ini, ini adalah Allah yang bekerja di dalam kita. Kita harus menanyakan dua hal, "Pekerjaan siapakah ini, Allah atau kita?" dan, "Siapakah yang melakukan hal ini, Allah atau kita?" Jika kita hanya dapat mengajukan pertanyaan yang pertama dan bukan yang kedua, pengenalan kita terhadap kehendak-Nya masih diragukan. Segala sesuatu yang kita lakukan pasti bukan kehendak Allah; hanya apa yang Dia lakukan adalah kehendak-Nya. p( i.urapan-Nya. Setiap kali kita merasakan pengurapan
Misalnya, seorang saudara mungkin berencana untuk pergi ke suatu tempat. Jika ia hanya dapat berkata, "Aku jelas bahwa kepergianku adalah kehendak Tuhan," hal ini tidak cukup. Ia masih harus yakin bahwa dalam kepergian nya kali ini, Allah pergi bersamanya dan lebih banyak ber baur dengannya. Contoh lain, pada saat kita mempersem bahkan uang di hari Tuhan, kita tidak seharusnya bertanya, "Apakah persembahan ini adalah kehendak Allah?" te tapi kita juga harus bertanya, "Yang mempersembahkan uang ini diriku sendiri atau Allah yang mempersembahkannya melalui aku?" Karena itu, dalam setiap perkara, kita tidak hanya harus tahu apa itu perkenan dan hasrat hati Allah, tetapi kita juga harus dapat menentukan secara pasti apakah kita memiliki penyertaan Allah dan apakah Allah berbaur dan bekerja bersama kita. Tidak cukup hanya mengatakan bahwa kita sedang mengerjakan pekerjaan Allah. Kita juga harus dapat mengatakan bahwa ini adalah Allah yang berbaur dengan kita yang melakukan pekerjaan-Nya. Inilah kehendak-Nya.
Dari sudut pandang Allah, perihal kehendak Allah sebagai hasrat hati-Nya sukar untuk kita mengerti. Tetapi dari sudut pandang manusia, perihal kehendak Allah yang adalah perbauran-Nya dengan manusia benar-benar subyektif dan mudah dimengerti, karena Allah berbaur dengan kita melalui pengurapan. Setiap kali ada pengurapan, maka ada juga perbauran Allah dan penyertaan Allah. Tanpa pengurapan, tidak mungkin ada perbauran-Nya dengan manusia dan tidak mungkin ada penyertaan-Nya. Karena itu, untuk mengerti kehendak-Nya kita harus menjamah pengurapan-Nya. Setiap kali kita merasakan pengurapan batin dan penyertaan Allah, kita berada dalam kehendakNya; jika tidak, kita tidak berada dalam kehendak Allah.
Selama bertahun-tahun, kita telah membicarakan mengenai kehendak Allah, tetapi kita tetap saja merasa jauh dan samar-samar. Sekarang, kita percaya bahwa Allah telah memberi kami terang, yang menyebabkan kita mempunyai penglihatan yang lebih jelas, dan Ia telah memungkinkan kita untuk menyampaikannnya secara lebih konkret. Sekarang, kehendak Allah telah ternyata; tidak lagi kabur dan abstrak. Allah yang kita percayai bukan hanya benar dan hidup, bahkan Ia hidup di dalam kita. Dalam segala hal yang merupakan kehendak-Nya, Ia ada di dalam kita, mengurapkan dan membaurkan diri-Nya, membuat kehadiran-Nya dapat dirasakan di dalam kita. Jadi, setiap hal yang bisa membuat kita menjamah Allah di dalam batin, bisa membuat unsur-Nya bertambah di dalam kita, dan ada perbauran antara Allah dengan kita, ini pasti kehendak Allah; dan kita boleh dengan lega hati maju terus.
Meskipun kehendak Allah adalah perihal yang luar biasa besar, namun berbicara dari sudut pandang Allah membaurkan diri-Nya dengan manusia, tidak terlalu sulit bagi kita untuk menjamahnya, dan juga bukan perkara yang tidak dapat diduga. Jika kita dapat memahami butir ini secara keseluruhan, maka kita bukan hanya dapat menjamah kehendak-Nya sebagai sesuatu yang mulia dan dalam, tetapi juga dapat dengan mudah mengenal kehendak-Nya.
3. Kehendak Allah adalah Perampungan Rencana-Nya
Kehendak Allah bukan hanya hasrat hati-Nya dan perbauran- Nya dengan manusia, tetapi juga adalah perampungan rencana-Nya. Pada umumnya, kita biasa meremehkan dan menyepelekan kehendak Allah. Banyak orang bertanya, "Apakah ini adalah kehendak Allah, jika hari ini aku pergi ke suatu tempat? Apakah ini kehendak-Nya, jika aku pergi ke dokter karena penyakitku? Aku mencari pekerjaan, apakah ini sesuai dengan kehendak Allah?" Ketika kita menyebutkan kehendak Allah, kita yang kasihan ini, selalu tidak lupa untuk mengaitkannya dengan diri kita sendiri! Tidak terlepas dari perkara-perkara keeil dalam hidup sehari-hari kita! Kita selalu memandang kehendak Allah dari sudut pandang duniawi, dari keadaan kita hari ini, dan dari diri kita sendiri. Sesungguhnya, kehendak Allah bukan satu pun dari perkara-perkara kecil dalam hidup kita sehari-hari! Betapa besar dan betapa agungnya kehendak Allah itu! Kehendak Allah merampungkan rencana kekal-Nya!
Kitab Efesus mewahyukan hasrat hati Allah dan rencana Allah kepada kita. Rencana Allah di dalam Kristus berasal dari hasrat hati-Nya. Dalam kekekalan, Allah mempunyai rencana yang telah ditetapkan-Nya untuk dirampungkan. Rencana ini adalah kehendak Allah. Karena itu, kehendak Allah adalah bagi perampungan rencana-Nya. Semua pekerjaan Allah dalam alam semesta adalah menurut kehendak-Nya dan bagi perampungan rencana-Nya.
Karena itu, jika kita ingin mengerti kehendak Allah, syarat pertama adalah kita harus mengenal rencana kekal Allah. Kita harus jelas, apa yang hendak Allah kerjakan di bumi pada zaman ini? Apa yang hendak Allah kerjakan di lokal ini? Jika kita jelas mengenai hal ini, baru kita bersyarat untuk menjamah kehendak Allah dan menemukan apa kehendak-Nya terhadap kita pada hari ini.
Ada saudara saudari yang benar-benar telah dilahirkan kembali dan tahu bahwa mereka adalah anak-anak Allah, tetapi mereka tidak tahu dan juga tidak memperhatikan apa yang sedang Allah kerjakan dalam alam semesta, apakah ekonomi-Nya di bumi, dan untuk apa pergerakan-Nya hari ini. Diri mereka, hidup sehari-hari mereka, dan pekerjaan mereka semuanya adalah untuk diri mereka sendiri, bukan untuk Allah. Mereka sepenuhnya berada di luar ekonomi Allah. Tetapi setiap hari mereka berdoa untuk kehendak Allah dalam kehidupan, perilaku, dan pekerjaan mereka sendiri. Akibatnya, hasil dari doa ini mutlak adalah sesuatu yang berasal dari kehendak mereka sendiri, bukan kehendak Allah. Mereka bukan hanya tidak tahu, tetapi juga tidak berada dalam rencana Allah. Orang semacam ini tidak munikin mengenal kehendak Allah.
Untuk mengerti kehendak Allah, masalah dasar yang harus kita selesaikan adalah menyadari bahwa Allah yang memiliki kita dan yang kita layani, mempunyai rencana yang besar dalam alam semesta. Ia menginginkan sekelompok orang bagi pembangunan Tubuh Kristus dan manusia korporat untuk menjadi mempelai rahasia Putra-Nya. Selain itu, kita perlu mengetahui apa yang ingin Allah lakukan di lokal kita. Jika kita menjamah rencana Allah dan menempatkan diri sendiri ke dalam rencana Allah secara demikian, kita menerima pekerjaan Allah sebagai pekerjaan kita. Jadi, ketika kita berusaha dalam bisnis, mengaiar, atau apa saja yang kita lakukan, kita adalah bagi pekerjaan Allah; seluruh hidup kita dan seluruh pergerakan kita adalah bagi pekerjaan-Nya. Dengan demikian, kita akan mempunyai kedudukan dan bersyarat untuk menjamah kehendak Allah dan menjadi jelas mengenai pimpinan-Nya berkenaan dengan semua hal dalam hidup kita sehari-hari.
Karena itu, setiap orang di antara kita pertama-tama harus bertanya pada diri sendiri : Apakah aku nampak pekerjaan Allah di atas bumi dengan jelas? Apakah aku benar-benar nampak apa yang ingin Allah kerjakan di lokal ini pada hari ini? Meskipun kita menuntut pertumbuhan hayat, persekutuan dalam hayat, dan penyertaan Tuhan, namun tanpa mengetahui pekerjaan-Nya, hal ini hanya memberi kita sedikit kenikmatan rohani bagi diri sendiri, tetapi jauh dari kehendak Allah.
Sebelum kita nampak rencana Allah, meskipun Ia mengatur keadaan dan kehidupan kita, kita hanya berada di bawah pemeliharaan Allah, bukan di bawah kehendakNya. Ketika kita nampak rencana Allah, kita tidak berani menggunakan istilah "kehendak Allah" secara sembarangan. Kita tidak akan secara sembarangan menyebutkan keadaan-keadaan remeh sebagai kehendak Allah. Kita hanya dapat mengatakan bahwa perkara-perkara itu pada umumnya adalah pemeliharaan atau perawatan Allah atas diri kita.
III. SARANA UNTUK MENGETAHUI
KEHENDAK ALLAH
Bagaimana Allah menunjukkan rencana-Nya kepada kita? Dengan sarana apa kita dapat mengenal kehendak Allah? Pada dasarnya, ada lima kelompok yang melaluinya kita dapat mengenal kehendak Allah.
1. Penciptaan
Pertama, kita perlu mengetahui kehendak Allah melalui penciptaan-Nya atas segala sesuatu, termasuk perkara, alam, dan umat manusia. Wahyu 4:11 mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan menurut kehendak-Nya. Ini menampakkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam semesta dan keberadaannya menyatakan sebagian dari kehendak Allah. Semua hal di surga dan di bumi mengandung unsur-unsur tertentu yang memungkinkan kita mengetahui kehendak Allah. Karena itu, untuk mengetahui kehendak Allah kita tidak bisa tidak memperhatikan segala sesuatu yang Ia ciptakan dalam alam semesta. Mereka adalah seperti buku yang kita pelajari; karena itu kita harus menyelidiki dan menemukan mengapa Allah perlu menciptakan segala sesuatu di surga dan di bumi. Apakah tujuan-Nya menciptakan manusia? Mengapa umat manusia tersebar di seluruh bumi? Jika kita telah mempelajari perihal penciptaan dengan seksama, keagungan kehendak Allah dalam alam semesta akan kita pahami.
Contoh mengenai perkara-perkara ini dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama. Ada orang-orang yang mempelajari sebagian dari rencana Allah melalui segala sesuatu yang Ia ciptakan. Mazmur 8 adalah contoh yang sangat bagus. Mazmur ini, yang adalah mazmur rohani, meliputi penciptaan, zaman ini, dan kerajaan. Tuhan Yesus mengutip mazmur ini dalam Matius 21:16, dan mazmur ini dikutip lagi dalam Ibrani 2. Penulisnya mendapat ilham untuk menulis mazmur ini ketika ia sedang mengamati langit dan bumi. Ketika Ia memperhatikan langit, buatan jari Allah, dan bulan serta bintang-bintang yang Tuhan tempatkan, ia memuji Tuhan, "Ya Tuhan, Tuhan kaini, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan." Ia nampak bahwa langit menyatakan kemuliaan Allah dan bumi memberitahukan kemanisan nama-Nya. Melalui benda-benda ciptaan, ia mengenal Allah dan kehendak-Nya terhadap seluruh bumi.
Contoh yang lain, pemazmur dalam Mazmur 19 menemukan bahwa meskipun dalam alam semesta sama sekali, "Tidak ada berita dan tidak ada kata, namun suara mereka terdengar" (ayat 4, Sept). "Gema mereka terpencar ke seluruh dunia dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi" (ayat 5). Karena itu, langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. Hal ini menunjukkan bagaimana pemazmur mengenal kehendak Allah melalui ciptaan-Nya.
Jika kita damba mengenal kehendak Allah, kita tidak dapat mengabaikan ciptaan-Nya. Kita harus diperluas sedemikian rupa sampai kita mengenal bahwa Allah berbicara kepada kita melalui segala sesuatu. Setiap orang yang mencintai Allah dan menuntut Dia pasti suatu saat akan dibawa ke suatu taraf sehingga ia dapat mengenal kehendak Allah dari dalam alam semesta. Pertama, pemahaman yang demikian terhadap ciptaan akan memperluas hatinya. Alam semesta akan memperluas dia menjadi manusia universal. Jadi, ia dapat membaca kehendak Allah dari dasar yang tinggi dan mulia dan dari kekekalan. Kedua, ia tidak akan memperhatikan perkara-perkara yang tidak begitu penting. Ia tidak akan berdebat dengan orang demi mendapatkan uang dalam bisnis, ia juga tidak akan mengabaikan pekerjaan Allah di seluruh bumi hanya karena memperhatikan keadaan dan keperluan dalam gereja di tempat ia berada. Ia akan dapat berkata seperti pemazmur dalam Mazmur 8, "Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!" Setiap hari, ia akan berjerih lelah dengan setia demi gereja di tempat ia berada, namun hatinya akan diperbesar untuk mencakup beban semua gereja-gereja di bumi. Ketiga, ketika memperhatikan pekerjaan dan pergerakan Tuhan, ia dapat dipimpin kapan pun dan ke mana pun - seluruh bumi adalah ladangnya, dan semua jiwa adalah sasaran pekerjaannya. Ia dapat dipimpin untuk memperhatikan gereja yang jauh sama seperti memperhatikan gereja yang dekat. Pekerjaan Allah dalam seluruh bumi menjadi sasaran perhatiannya.
Sayang sekali, hari ini banyak saudara saudari yang tidak pernah secara demikian membaca ciptaan Allah, tidak pernah melalui alam semesta mengenal kehendak-Nya. Sebaliknya, setiap hari mereka memperhatikan kejadiankejadian dalam lingkaran kecil mereka sendiri. Diri mereka adalah alam semesta mereka, segala sesuatu mereka. Mereka benar-benar terperangkap dalam dirinya sendiri. Karena itu, setiap kali mereka ingin memahami kehendak Allah, diri mereka sendiri yang kecil itu adalah titik awal dan dasarnya. Apa yang mereka tanyakan adalah : Haruskah aku mengajar di sekolah tertentu? Haruskah aku mempertimbangkan untuk menikahi saudari itu? Sebaiknya aku naik kereta api atau pesawat terbang untuk pergi ke suatu tempat? Untuk penyakit ringanku ini, sebaiknya aku pergi ke dokter atau ke rumah sakit? Sepanjang hari, anak-anak Allah bertanya-tanya mengenai kehendak Allah dalam perkara-perkara hidup sehari-hari seperti itu. Sesungguhnya hal-hal itu tidak pantas dimasukkan dalam daftar kelompok kehandak Allah. Hal-hal itu bukan kehendak Allah. Apakah kehandak Allah berurusan dengan makanan dan pakaian kita, pernikahan dan pekerjaan kita, kesembuhan kita dan kehidupan kita yang penuh damai sejahtera? Jika mata kita dicelikkan oleh Tuhan, kita akan nampak bahwa pembicaraan kita yang biasanya mengenai kehendak Allah itu tidak ada hubungannya dengan Allah sendiri. Hal-hal itu pasti bukan kehendak Allah yang disebutkan dalam Alkitab.
Perkara yang aneh adalah, hari ini orang-orang Kristen diduduki oleh banyak hal yang tidak disebutkan dalam Alkitab. Sebaliknya, banyak hal yang disebutkan dalam Alkitab tidak diketahui oleh mereka. Inilah kasus pada kebanyakan orang dalam mengenal kehendak Allah. Alkitab tidak pernah memberi tahu kita untuk terus-menerus memperhatikan penyakit, pekerjaan, transportasi, dan perkara-perkara lain yang berhubungan dengan hidup kita, dan mempelajari kehendak Allah mengenai hal-hal itu. Tetapi, kebanyakan orang Kristen diduduki sepenuhnya dengan perkara-perkara itu. Setiap kali kehendak Allah disebutkan dalam Alkitab, ia menjamah hasrat hati Allah, rencana Allah, pekerjaan Allah di bumi, gereja Allah, Tubuh Kristus, dan lain-lain, semuanya itu adalah perkara-perkara yang luar biasa penting dan bernilai kekal. Di antara anak-anak Allah, kita jarang melihat atau mendengar hal-hal ini disebutkan.
Sebagai contoh, seorang saudara mungkin bersaksi mengenai barang miliknya; barang itu telah lama sekali dipinjam orang dan belum dikembalikan. Karena itu, ia berdoa kepada Tuhan, beberapa hari kemudian, barang itu dikembalikan. Ia sangat gembira dan memuji Tuhan dengan sangat. Ketika kami mendengar kesaksian ini, hati kami berkesah. Saudara ini belum melihat langit maupun bumi. Ia benar-benar terselubung dalam dirinya sendiri. Semua yang dilihatnya adalah keuntungan duniawinya yang kecil. Ketika ia mencari kehendak Allah, ia tidak pernah melupakan dirinya atau terlepas dari kepentingannya yang egois untuk mendapatkan keuntungan. Orang semacam ini tidak bersyarat untuk membicarakan kehendak Allah.
Jika seseorang ingin membicarakan kehendak Allah, pertama- tama ia harus keluar dari dirinya sendiri. Selain itu, untuk keluar dari dirinya sendiri dan mengenal kehendak Allah yang kekal dan mulia, ia harus mempelajari ciptaan Allah dengan seksama. Orang-orang harus mempelajari ciptaan secara keseluruhan untuk diperluas, keluar dari diri sendiri, menjamah sedikit mengenai hasrat dan rencana Allah dalam alam semesta, dan mengerti kehendak Allah. Semakin rohani seseorang, ia alian semakin mengenal Allah dalam segala sesuatu. Semakin dalam ia hidup di dalam Tuhan, ia akan semakin mengerti kehendak Allah melalui ciptaan.
Allah berjanji kepada Abraham bahwa ia akan menjadi suatu bangsa yang besar dan keturunannya akan seperti pasir di laut. Tetapi Abraham, masih di dalam dirinya sendiri, tidak dapat mempercayai perkataan Allah. Ia masih mengira bahwa pelayannya, Eliezer orang Damsyik yang akan menjadi ahli warisnya. Karena itu, Allah memimpin ia keluar dan mengatakan, "Coba lihat ke langit, dan hitunglah bintang-bintang" (Kej. 15:1-6). Kemudian, Allah berjanji kepadanya bahwa keturunannya akan sangat banyak. Ketika Abraham melihat, ia percaya. Karena ia melihat ciptaan Allah dan menyadari apa yang dilakukan Allah, ia menemukan iman. Pada saat itu, Allah berkenan kepadanya, dan ia dianggap benar dalam mata Allah.
Gambaran selanjutnya adalah kisah Ayub. Meskipun Ayub berulang kali menerima pukulan, namun ia tidak mengenal maksud Allah; karena ia sepenuhnya berada di dalam dirinya sendiri. Perkataannya penuh dengan "aku", penuh dengan diri sendiri. Karena itu, untuk membawa ia keluar dari dirinya sendiri, Allah menunjukkan kepadanya ciptaan-Nya. Dari ayub 38 sampai 41, Allah berulang kali bertanya kepada Ayub mengenai benda-benda ciptaan dalam alam semesta. Melalui hal ini, ia akhirnya melihat kebesaran dan keunggulan Allah dan keluar dari dirinya sendiri, berkata dengan penuh penyesalan dari dalam hati, "Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan?" (Ayb. 42:3). Pada mulanya, karena ia hidup dalam dirinya sendiri, kehendak Allah kabur baginya. Sekarang, sejak ia dibawa keluar dari dirinya, ia melihat Allah dengan matanya sendiri dan mengenal kehendak-Nya. Jadi, melalui ciptaan Allah itulah Ayub dilepaskan dari dirinya sendiri dan menjamah kehendak Allah.
Karena pemahaman akan kehendak Allah sangat erat hubungannya dengan pengenalan kita akan ciptaan Allah, kita perlu membuat rencana untuk mempelajari ciptaan Allah, seperti masuk sekolah. Kita harus meluangkan waktu untuk membuka diri kepada alam agar dapat memahami kehendak Allah. Mempelajari astronomi maupun geografi alian terbukti sangat membantu.
2. Alkitab
Cara lain untuk mengenal kehendak Allah adalah melalui Alkitab. Ciptaan Allah hanyalah bagian keeil dari pekerlaan Allah; karena itu tidak cukup jelas mewahyukan kehendak-Nya. Alkitab sebagai Firman Allah memberi tahu kita apa yang ingin Allah lakukan dalam alam semesta dan apa tujuan-Nya secara menyeluruh dan jelas. Karena itu, Alkitab adalah wahyu yang paling jelas mengenai kehendak Allah. Kita seharusnya membaca Alkitab dan menjadi akrab dengan Alkitab untuk mengerti kehendak-Nya.
Tetapi, melalui membaca Alkitab, banyak orang tidak dapat menemukan kehendak Allah. Kadang-kadang, mereka mempunyai sedikit terang mengenai kehendak-Nya, tetapi hanya dalam perkara-perkara kecil. Sebagai contoh, mereka ineringlias butir-butir kecil dari Kitab Efesus : seorang yang mencuri seharusnya tidak boleh mencuri lagi, istri harus menaati suaminya, suami seharusnya mengasihi istrinya, anak-anak seharusnya menaati orang tua mereka, dan orang tua seharusnya tidak membangkitkan amarah anak-anak mereka. Tetapi, perkara-perkara yang penting seperti rencana Allah, rahasia Kristus, dan lain-lain, tidak pernah mereka temukan. Ini dikarenakan orang yang membaca Alkitab terlalu sempit dan terlalu banyak berada di dalam diri sendiri. Ia membaca firman Allah dari sudut pandangnya yang miskin, dan sebagai hasilnya, ia seperti seorang yang melihat langit dari dasar lubang sumur yang dalam - pandangannya terbatas oleh ruang lingkup dirinya yang sempit.
Karena itu, membaca ciptaan dan Alkitab tidak dapat dipisahkan. Jika kita ingin membaca Alkitab, pertama-tama kita harus membaca ciptaan dan membiarkan alam semesta memperluas kita; dengan demikian kita dapat memahami perkara-perkara yang luar biasa dalam Alkitab. Sebenarnya, Alkitab itu sendiri sangat berkaitan dengan segala teouatu dalam alam seniesta. Pada mulanya, kita membaca tentang Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan pada akhirnya, kita membaca tentang langit baru dan bumi baru. Semua pekerjaan dan kehendak Allah seperti yang diwahyukan dalam Alkitab sangat berhubungan dengan alam semesta. Karena itu, pertama-tama alam semesta seharuanya dibaca sehingga hati kita dapat diperluas; kemudian Alkitab seharusnya dibaca sehingga pandangan kita dapat diperluas. Dengan demikian, kita akan menjadi orang yang lebih memahami kehendak Allah.
Hal-hal yang harus dibaca juga meliputi buku-buku rohani, berita-berita, persekutuan rohani, kata-kata nasihat, kesaksian orang- orang kudus, dan lain-lain. Semua ini berasal dari Alkitab dan digunakan oleh Allah sebagai sarana untuk mewahyukan kehendak-Nya.
3. Lingkungan
Cara ketiga untuk mengetahui kehendak Allah adalah melalui lingkungan kita. Ketika membicarakan ciptaan Allah, kita memberikan penekanan pada matahari, bulan, bintang-bintang, segala benda di langit dan di bumi, serta kebesaran ciptaan-Nya. Tetapi ketika kita membicarakan lingkungan, yang kita maksudkan adalah keadaan sekitar kita saat ini, termasuk manusia, perkara, dan benda. Agar kita memahami dan menaati kehendak-Nya, Allah mengatur dan mengendalikan lingkungan kita. Karena itu, kita perlu
mempelajari keduanya, kehendak Allah dan pimpinan-Nya dalam lingkungan kita.
Ketika kami datang ke Taiwan untuk kali pertama, kelihatannya tidak ada sesuatu yang menjanjikan bagi pekerjaan Tuhan. Kemudian, Tuhan membuka mata kami: kami nampak bahwa di waktu-waktu lampau, sangat sulit untuk memberitakan Injil pada banyak propinsi di daratan China. Tetapi, sekarang situasi politik telah berubah, dan orang-orang yang berasal dari berbagai propinsi telah berkumpul di Taiwan di depan mata kami. Bukankah ini adalah kesempatan emas bagi Injil? Jika kami membantu orang- orang itu untuk diselamatkan, bukankah mereka akan menyebarkan Injil ke seluruh China saat mereka kembah ke propinsi mereka? Dengan visi ini, kami berusaha sekuatnya dalam pekerjaan Injil. Hasilnya, ada peningkatan orang percaya baru dengan cepat yang meliputi orang-orang dari semua propinsi. Asalnya, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mendengar Injil juga tidak tertarik terhadap Injil; sekarang, lingkungan mereka memaksa mereka untuk datang ke Taiwan. Akibatnya, mereka diselamatkan. Inilah contoh yang baik, bagaimana Allah merampungkan kehendak-Nya melalui perubahan lingkungan. Ketika kita cermat terhadap lingkungan di sekitar kita, sering kah kita dapat menjamah kehendak Allah dan mengetahui pergerakan-Nya hari ini.
4. Hati, Roh, dan Pikiran
Cara keempat agar kita mengetahui kehendak Allah adalah melalui hati, roh, dan pikiran kita. Allah menciptakan organ-organ ini terutama agar kita mengerti kehendak.Nya. Jika kita seperti kursi, tidak memiliki hati, roh, atau pikiran, kita pasti tetap tidak mengerti kehendak-Nya, meskipun Allah telah menyiapkan segala sesuatu dalam alam semesta, termasuk lingkungan di sekitar kita, dan juga telah memberi kita Alkitab. Karena itu, ketiga organ - hati, roh, dan pikiran - sangat penting bagi kita untuk memahami kehendak Tuhan. Ciptaan, Alkitab, dan lingkungan adalah sarana bagi Allah untuk menyingkapban kehendak-Nya kepada kita; jadi, hati, roh, dan pikiran adalah organ-organ kita untuk mengerti kehendak-Nya.
Tentu, ketika kita membicarakan ketiga organ ini, yang kita maksudkan adalah bagian-bagian dari ciptaan baru. Karena hati adalah hati yang baru, maka hati condong kepada Allah, mencintai Dia, mencari Dia, dan memilih Dia. Karena roh adalah roh yang baru, roh dapat berhubungan dengan Allah dan dapat bersekutu dengan Dia. Karena pikiran adalah pikiran yang diperbarui, memiliki pengertian yang diperbarui, pikiran dapat memahami dan menafsirkan perasaan-perasaan yang diperoleh ketika bersekutu, dan dengan demikian mengerti kehendak Allah. Jika hati kita tidak baru, roh kita tidak peka, dan pikiran kita tidak jernih, kita akan sangat terhalang untuk mengerti kehendak Allah. Orang-orang yang dipakai Allah secara besar-besaran di sepanjang generasi adalah orang-orang yang ketiga organnya telah diperbarui, lebih peka, dan lebih jernih.
5. Roh Kudus
Cara kelima agar kita mengerti kehendak Allah adalah melalui Roh Kudus.
Ciptaan dan lingkungan kita berada di luar diri kita, agak kabur, dan tidak mudah dimengerti. Alkitab dan buku-buku rohani yang menyinggung firman Allah lebih konkret, tetapi masih obyektif. Tetapi Roh Kudus masuk ke dalam diri kita untuk mewahyukan kehendak Allah di dalam kita; karena itu Roh Kudus sangat konkret dan subyektif. Selain itu, keempat cara untuk mengerti kehendak Allah yang disebutkan di atas sepenuhnya tergantung pada pekerjaan Roh Kudus. Jika Roh Kudus tidak mendorong kita dari batin, meskipun hati, roh, dan pikiran kita dalam keadaan yang sempurna, kita masih tidak dapat mengerti kehendak Allah melalui ciptaan dan lingkungan. Kita juga tidak akan mengerti wahyu yang telah diberikan Allah dalam Alkitab. Ciptaan, lingkungan, dan Alkitab adalah sarana-sarana materi yang digunakan Allah untuk menyingkapkan diri-Nya sendiri, tetapi Roh Kuduslah yang membuat semuanya itu berarti bagi kita. Hati, roh, dan pikiran kita adalah organ-organ yang kita gunakan untuk mengerti kehendak Allah, tetapi hanya melalui Roh Kudus baru organ-organ ini dapat berfungsi secara tepat. Karena itu, tanpa Roh Kudus, keempat cara yang telah kita sebutkan akan tidak efektif dalam mewahyukan kehendak Allah.
Tidak ada cara lain yang dapat kita gunakan untuk mengerti kehendak Allah selain kelima cara yang telah kita sebutkan di atas. Mimpi-mimpi dan visi-visi yang disebutkan dalam Alkitab termasuk kelompok Roh Kudus, dan tidak akan dibahas secara terpisah.
Agar mengenal kehendak Allah, kita perlu mengenal kelima kelompok ini : (1) ciptaan Allah, (2) firman-Nya, (3) lingkungan kita, (4) hati, roh, dan pikiran kita, serta (5) Roh Kudus. Pengenalan yang sempurna terhadap hal-hal ini sakan membuat kita mengenal kehendak Allah yang agung den kekal. Kita akan dapat menemukan bahwa rencana kekal Allah adalah memakai alam semesta sebagai ruang lingkup dan segala sesuatu sebagai sarana untuk mendapatkan sekelompok orang menjadi Tubuh misteri PutraNya, untuk mengekspresikan kemuliaan-Nya. Ia telah menernpatkan kita ke dalam inti rencana-Nya sehingga kita boteh memiliki kedudukan dalam Tubuh Putra-Nya dan menjadi anggota-anggota-Nya. Melalui mengetahui hal ini, kita akan memandang saat ini dari kekekalan dan dari pandangan Allah; kemudian kita akan segera bertanya pada diri sendiri, "Apakah aku merupakan bagian dari rencana ini? Anggota macam apakah aku ini di dalam Tubuh?" Dengan demikian, kita akan dapat mengerti kehendak Allah.
Sayang sekali, banyak saudara saudari bukan hanya tidak memperhatikan kelima sarana ini, mereka bahkan tidak mempunyai pengetahuan apa pun mengenainya. Mereka bukan hanya tidak memperhatikan rencana Allah dalam alam semesta dan wahyu Allah dalam Alkitab, tetapi juga tidak memperhatikan pimpinan-Nya di dalam mereka melalui Roh Kudus. Yang mereka perhatikan hanyalah mempunyai kehidupan yang menyenangkan dan penuh damai sejahtera bagi diri sendiri. Yang mereka pertanyakan hanyalah, "Haruskah aku pergi ke tempat itu?" atau, "Hal-hal yang kulakukan ini apakah kehendak Allah." Bagaimana mungkin orang semacam itu dapat mengerti kehendak Allah? Ini sama sekali bukan memahami kehendak Allah seperti yang disebutkan dalam Alkitab. Apa yang disebutkan dalam Alkitab adalah kehendak-Nya yang agung dan kekal, yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang mengetahui kelima sarana ini. Semoga Allah membelaskasihani kita sehingga kita dapat mempunyai perubahan yang drastis dalam konsepsi kita terhadap kehendak-Nya.
Selain itu, kita perlu menerapkan sarana-sarana ini. Pertama, kita perlu membaca ciptaan. Kita harus sering meninggalkan keadaan kita saat ini dan membuka diri terhadap alam semesta, mempelajari dan mengamatinya dengan seksama. Jika mungkin, kita harus melakukan perjalanan ke mana-mana untuk memperluas wawasan kita dan juga visi kita.
Kedua, kita perlu membaca Alkitab. Kita harus membaca kebenaran dan wahyu yang sangat penting, memberikan perhatian khusus kepada bagian-bagian yang berhubungan dengan kehendak kekal Allah dan rencana rahasiaNya.
Ketiga, kita harus membaca lingkungan kita. Selalu berusaha untuk membaca arti lingkungan beserta keadaannya. Tahu mengapa Allah menempatkan Anda di tempat seperti itu dan menghadapi orang-orang jenis tertentu di bawah keadaan tertentu. Kita perlu mempelajari semua keadaan sekitar kita dan juga situasi dunia untuk mengerti kehendak Allah dalam zaman ini.
Keempat, mengenai hati, roh, dan pikiran, pertamatama kita harus memohon kepada Allah untuk memberi kita hati yang mengasihi Dia, tertarik oleh-Nya, dan damba kepada-Nya. Kemudian, kita harus selalu menyembah Dia di dalam roh kita, datang mendekat kepada-Nya, dan bersekutu dengan Dia. Selain itu, kita perlu memperbarui pikiran. Kita harus belajar meninggalkan sudut pandang orang-orang dunia, dan juga sudut pandang diri sendiri, untuk mengerti pikiran Allah dan sudut pandang-Nya. Ada saudara saudari yang pikirannya diduduki oleh perkara uang, pakalan, bisnis, dan anak-anak; mereka tidak pernah memusatkan perhatian pada perkara-perkara yang berkenaan dengan Allah. Karena itu, pengertian mereka terhadap kehendak Allah sangat tumpul dan lamban. Sungguh mayang sekali. Pikiran kita harus selalu diletakkan pada perkara-perkara Allah sehingga kita dapat diajar oleh Allah dan Roh itu dapat lebih menjenuhi pikiran kita, sehingga menjadikannya pikiran rohani. Hasilnya, kita akan mudah memahami perasaan-perasaan dalam roh kita dan mengerti perkara-perkara rohani. Tetapi, hal ini tergantung pada latihan yang terus-menerus.
Terakhir, kita harus sering belajar menjamah pergerakan Roh Kudus di dalam kita, dan mengerti wahyu Roh Kudus di dalam kita. Keadaan. kita harus selalu benar di hadapan Tuhan sehingga Roh Kudus dapat berbicara dan mewahyukan diri-Nya kepada kita. Hanya melalui Roh Kudus, Allah menyatakan makna alam semesta dan menyingkapkan kebenaran-kebenaran Alkitab kepada kita. Dengan meminta Dia untuk melakukan hal ini, kita akan mengetahui pikiran-Nya dan kedudukan kita dalam rencana-Nya.
Untuk semua kelompok ini, kita perlu melatihnya terus-menerus dan tak henti-hentinya belajar menggunakannya sebagai sarana memahami kehendak Allah dalam pengalaman kita.
IV. JALAN UNTUK MENGENAL KEHENDAK ALLAH
Kita telah melihat definisi kehendak Allah dan sarana yang dipakai Allah untuk mewahyukan kehendak-Nya. Sekarang, kita akan membahas jalan yang memimpin kita untuk mengenal kehendak Allah. Dengan kata lain, bagaimana kita dapat mengerti kehendak Allah? Kita akan membahasnya menjadi delapan langkah di bawah ini :
1. Mempersembahkan Diri sebagai Kurban
Langkah pertama adalah mempersembahkan diri sebagai kurban.
Dua ayat pertama dalam Roma 12 menunjukkan jalan yang paling jelas untuk mengetahui kehendak Allah : "Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah ... sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah : Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna." Di sini, mempersembahkan tubuh dan mengenal kehendak-Nya digabungkan dalam satu bagian, karena mempersembahkan diri sebagai kurban adalah syarat utama untuk mengenal kehendak Allah. Ketika seseorang mempersembahkan dirinya sebagai kurban, ia bersyarat dan mempunyai dasar untuk mengenal kehendak Allah.
Mengapa seseorang harus mempersembahkan dirinya sebagai kurban untuk mengenal kehendak Allah? Ketika seseorang belum mempersembahkan dirinya sebagai kurban, dirinya adalah pusat kehidupannya juga inisiator dari semua perilaku dan kegiatannya. Ia memikirkan dan mengasihi dirinya sendiri; meskipun ia memiliki sedikit penuntutan rohani di depan Allah, itu pun untuk kesenangan den kenikmatannya sendiri, untuk pahala masa depannya. Tetapi, ia mengabaikan apa yang ingin Allah lakukan dalam alam semesta dan tidak pernah mendalami tujuan keselamatan Allah bagi dirinya. Kelihatannya, ia mencari kehandak Allah, tetapi sesungguhnya ia mengharapkan bahwa kehendak Allah akan menggenapkan kepuasannya sendiri. Ketika ia sakit, ia bertanya kepada Allah apakah ia harus pergi ke dokter, karena ia percaya, jika kepergiannya ke dokter adalah kehendak Allah, penyakitnya akan segera disembuhkan. Sebelum melakukan perjalanan bisnis, ia bertanya kepada Allah, apakah ia harus pergi, karena ia mengira, jika perjalanan ini adalah kehendak Allah, ia akan diberkati dan segala sesuatu akan lancar. Orang-orang seperti ini hanya dapat mengenal kehendaknya sendiri dan bukan kehendak Allah; mereka lebih-lebih tidak dapat mengerti kehendak-Nya yang agung dan kekal. Karena itu, jika seseorang ingin mengenal kehendak Allah, pertamatama ia harus meletakkan dirinya sendiri dan segala sesuatunya di atas mezbah sebagai kurban yang dipersembahkan kepada Allah. Ini bukan bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Allah. Ia meletakkan karirnya sendiri dan maauk ke dalam pekerjaan Allah. Dengan demikian, ia dapat mengenal kehendak Allah. Mezbah adalah satu-satunya tempat dan satu-satunya dasar yang di atasnya manusia dapat mengenal kehendak Allah.
Pengalaman kita mengikuti Tuhan meliputi dua tahap persembahan diri yang berbeda. Pada tahap pertama, kita
biasanya mempersembahkan diri karena dijamah dan ditarik oleh kasih Tuhan. Dari aspek emosi, persembahan diri semacam ini benar dan diperkenan oleh Tuhan, tetapi ditinjau dari persembahan diri itu sendiri, hal ini tidak memadai. Karena persembahan diri dalam tahap awal ini kebanyakan merupakan perkara emosi, maka persembahan diri macam ini dapat berubah-ubah seturut suasana hati kita. Karena itu, persembahan diri macam ini tidak teguh.
Hanya setelah sejangka waktu tertentu, ketika hayat kita sudah bertumbuh, roh kita diterangi, dan pandangan kita diperluas, baru berangsur-angsur kita akan melihat rencana Allah dalam alam semesta dan mengenal pekerjaan Allah pada zaman ini. Kemudian, dengan sendirinya kita akan memiliki persembahan diri yang lebih dalam dengan menempatkan diri kita dalam rencana dan pekerjaan-Nya untuk memenuhi kebutuhan-Nya dan menjawab panggilanNya pada zaman ini. Inilah tahap kedua dari persembahan diri; persembahan diri ini lebih dalam, dan lebih tinggi daripada yang pertama. Persembahan diri ini melampaui emosi kita dan membawa kita ke dalam realitas persembahan diri. Jika kita ingin mengenal kehendak Allah, kita perlu persembahan diri yang lebih dalam ini. Manusia harus melihat kebutuhan Allah untuk rencana dan pekerjaan-Nya dan mempersembahkan dirinya kepada Allah, baru ia memiliki dasar untuk mengenal kehendak Allah.
Inilah jenis persembahan diri yang dibicarakan dalam Roma 12, yaitu mempersembahkan tubuh kita kepada Allah. Inilah persembahan diri yang riil. Karena keberadaan kita ada di dalam tubuh, kita harus mempersembahkan tubuh sehingga seluruh diri kita dapat diberikan kepada Allah accara riil. Banyak orang ingin mempersembahkan diri sendiri, tetapi karena tubuh jasmani mereka belum dipersembahkan, persembahan diri mereka tidak berguna. Persembahan diri yang sejati berarti tubuh kita diserahkan, bukan sekadar keinginan atau slogan-slogan, tetapi penyerahan diri kita kepada Allah sepenuhnya dan secara riil.
Tujuan mempersembahkan tubuh kita adalah menjadi kurban yang hidup. Secara negatif, hal ini berarti terputus dari semua aktivitas kita yang lampau. Sebagai contoh, dalam Perjanjian Lama, sebelum seekor lembu dibawa sebagai kurban, ia ada di tempatnya sendiri dan berbuat menurut kehendaknya sendiri. Begitu ia ditempatkan di atas mezbah, ia tidak lagi bergerak menurut kehendaknya sendiri, aktivitas-aktivitasnya juga berhenti. Ketika kita menjadi kurban yang hidup, prinsipnya juga sama. Sebelum kita dipersembahkan kepada Allah, kita seperti lembu atau domba liar yang hidup di padang belantara; kita sepenuhnya bertindak menurut kehendak sendiri. Hanya ketika kita menjadi kurban yang hidup untuk Allah, baru kita berhenti dari aktivitas-aktivitas kita sendiri untuk menunggu perintah Allah.
Makna positif dari kurban yang hidup adalah hidup bagi Allah dan dipakai oleh Allah. Dalam Perjanjian Lama, begitu binatang kurban menjadi kurban persembahan, ia disembelih lalu dibakar habis. Kita boleh mengatakan bahwa itu adalah kurban yang mati. Tetapi, dalam kasus kita, setelah kita mempersembahkan diri sendiri, kita masih hidup; kita adalah kurban yang hidup. Perbedaannya adalah, di waktu yang lampau, kita hidup bagi diri sendiri, tetapi sekarang, kita hidup bagi Allah. Sebelumnya, kita mencari keuntungan diri sendiri; sekarang, kita mencari perkenan-Nya. Dulu, kita tertarik kepada urusan-urusan kita sendiri; sekarang, perhatian kita ada pada pekerjaan Allah.
Jika seseorang mempersembahkan dirinya sebagai kurban yang hidup dan hidup bagi Allah, maka Allah akan berkenan mewahyukan kehendak-Nya di dalam dia sehingga dia dapat mengenal kehendak-Nya.
2. Menyangkal Diri
Langkah kedua dalam jalan mengenal kehendak Allah adalah menyangkal diri sendiri.
Dua baglan yang paling penting yang berhubungan dengan pengenalan kehendak Allah adalah Roma 12 dan Matius 16. Yang pertama membicarakan hubungan antara menjadi kurban persembahan dengan mengenal kehendak Allah; yang kedua membicarakan hubungan antara kehendak Allah dengan menyangkal diri. Menjadi kurban persembahan adalah membereskan masalah hidup untuk diri sendiri. Menyangkal diri adalah membereskan masalah hidup menurut diri sendiri. Jika kita hanya sekadar kurban persembahan dan tidak menyangkal diri, meskipun kita hidup bagi Allah, kita masih hidup menurut opini dan ideide kita sendiri. Dengan demikian, kita tidak dapat mengenal kehendak-Nya. Karena itu, menyangkal diri sendiri juga adalah permintaan dasar untuk mengenal kehendak Allah.
Matius 16:21-24 memperlihatkan tiga bagian yang berhubungan dengan menyangkal diri sendiri. Yang pertama terdiri dari ayat 21 dan 22, di sana Tuhan menunjukkan kepada murid-murid bahwa ia harus pergi ke atas salib dan mati. Petrus menegur Tuhan, mengatakan, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau" "Kiranya Allah menjauhkan hal itu" dalam terjemahan lain adalah "Kasihanilah dirimu sendiri." Petrus bermaksud agar Tuhan mengasihi diri-Nya sendiri dan tidak menerima salib. Tuhan menyebutkan salib, tetapi Petrus menyebutkan diri sendiri. Keduanya saling berlawanan. Menerima salib berarti menghapus diri sendiri. Setiap kali kita mengasihani diri sendiri, kita mengesampingkan salib.
Karena itu, pada bagian kedua, Tuhan menegur Petrus dan berkata, "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia" (ayat 23). "Apa yang dipikirkan Allah" berarti kehendak Allah. Teguran ini paling sedikit mengandung dua penjelasan : Pertama, jika kita mengasihani diri sendiri, mengesampingkan salib, tidak diragukan lagi, itu adalah pekerjaan Iblis di dalam kita. Iblis menyebabkan manusia mengasihani diri sendiri dan menolak salib. Kedua, Tuhan menyingkapkan dua hal yang berlawanan - kehendak Allah dan pemikiran manusia. Karena teguran Tuhan ada pada ayat-ayat ini, maka kehendak Allah berarti salib, dan pemikiran manusia berarti diri sendiri. Ketika manusia menerima usulan Iblis, mengasihani diri sendiri dan menolak salib, hasilnya, ia bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, tetapi apa yang dipikirkan manusia.
Karena itu, Tuhan menyimpulkannya pada bagian ketiga : "Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus mentyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku" (ayat 24). Di sini, sekali lagi Tuhan menekankan pertentangan antara diri dengan salib. Jika kita ingin mengikuti Tuhan dan menaati kehendak-Nya, di satu pihak, kita harus menyangkal diri sendiri, bukan memikirkan apa yang dipikirkan manusia, dan di pihak lain, memikul salib dan memikirkan apa yang dipikirkan Allah.
Dalam Matius 16, "diri" ditujukan kepada apa yang dipikirkan oleh manusia. Apa yang dipikirkan oleh manusia meliputi berbagai ragam ide, pandangan, tanggapan, dan opini. Ketika manusia menjamah ide, pandangan, tanggapan, dan opini, ia menjamah "diri".
Alamiah kita penuh dengan diri beserta ide-ide dan opini- opininya. Meskipun kita tekun mengasihi Tuhan dan mempersembahkan segala sesuatu kita kepada Tuhan untuk melayani Dia, namun kita penuh dengan ide dan opini kita sendiri. Kita selalu ingin melakukan ini dan itu bagi Tuhan; kita tidak pernah berhenti untuk memeriksa, sebenarnya Dia ingin kita melakukan apa dan bagaimana melakukannya? Konsepsi manusia selalu mengatakan bahwa dengan tekun melayani Tuhan itu adalah perkara yang baik, tetapi menurut Matius 16, semangat semacam ini dapat berasal dari Iblis. Ketika Petrus menarik Tuhan Yesus dan berkata, "Tuhan, kasihanilah diri-Mu sendiri," ia bukan sedang menentang Tuhan, tetapi mengasihi Tuhan. Tetapi, teguran Tuhan menyingkapkan bahwa hal itu adalah pekerjaan Iblis. Ketika manusia melayani Allah dengan kegairahannya sendiri, dalam pandangan Allah, hal ini mengerikan dan buruk sekali. Karena Iblis bersembunyi di dalam manusia, maka kehendak manusia selamanya berlawanan dengan kehendak Allah. Ketika seseorang hidup di dalam dirinya sendiri dan melakukan sesuatu bagi Allah sesuai dengan ide dan opininya sendiri, ia sama sekali tidak mungkin mengenal kehendak Allah.
Sekali lagi, firman Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa kehendak Allah dan kehendak manusia saling berlawanan. Kehendak manusia adalah dirinya, dan kehendak Allah adalah salib. Setiap kali kehendak Allah dinyatakan kepada manusia, hal itu seperti salib yang meletakkan manusia pada kematian. Pertama- tama, kehendak Allah mematikan diri di dalam manusia. Kehendak Allah mematikan ide, pandangan, tanggapan, dan opini manusia. Karena itu, kehendak Allah dan diri manusia selamanya saling bertentangan. Jika kita ada di dalam diri, kita di luar kehendak Allah. Tidak mungkin kita mempunyai kehendak-Nya sambil tetap mempertahankan diri. Setiap kali kita menerima kehendak Allah, maka kehendak Allah itu akan mematikan diri. Jika kita berdiri di atas dasar kematian, menerima salib, kita akan mengenal kehendak Allah. Semua orang yang tidak menerima atau tidak bersedia menerima pembunuhan salib, tidak dapat memahami atau menerima kehendak Allah.
M.E. Barber mengatakan, "Jika seseorang bersedia menyangkal dan menolak dirinya, ia sudah sembilan puluh sembilan persen melewati jalan mengenal kehendak Allah, dan satu persen sisanya hanya untuk mengenalnya. Hal ini terbukti benar dalam pengalaman kita. Tanpa menyangkal diri, tidak ada jalan lain bagi kita untuk mengenal kehendak Allah."
3. Membereskan Hati
Syarat mendasar untuk mengenal kehendak Allah adalah mempersembahkan diri kita sebagai kurban persembahan dan menyanglial diri. Langkah berikutnya adalah menanggulangi hati. Meskipun langkah ini tidaklah mendasar seperti dua syarat pertama, tetapi juga sangat penting dalam perkara mengenal kehendak Allah.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hati, roh, dan pikiran adalah organ-organ kita untuk mengenal kehendak Allah. Keadaan hati, entah mengarah ke arah yang benar atau diduduki oleh berbagai hal, sangat menentukan pengenalan kita terhadap kehendak Allah.
Empat kutipan berikut dari Alkitab dengan jelas menunjukkan hubungan antara hati dengan pengenalan akan kehendak Allah, khususnya pentingnya menanggulangi hati kita.
1. Dua Korintus 3:16, "Tetapi apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari orang itu." Jika hati kita tidak berpaling kepada Tuhan, itu menjadi selubung yang menutupi kita dan membuat kita tidak dapat melihat terang; karena itu, kita tidak mungkin mengenal kehendak Allah. Jika hati kita tidak berpaling kepada Allah, kita tidak dapat melihat. Tetapi, jika kita memalingkan hati kita kepada Allah, kita.akan melihat. Karena itu, hati kita tidak boleh tidak berpaling kepada Allah secara mutlak.
2. Dua Korintus 11:3, "Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati (ketulusan dan kemurnian) kepada Kristus, . . ." Tanpa ketulusan dan kemurnian berarti disesatkan dan mempunyai sasaran lain selain Allah. Hanya Allah yang seharusnya menjadi sasaran kita. Begitu kita lebih memperhatikan manusia, perkara, dan benda lain, segera hati kita disesatkan sehingga kehilangan ketulusan dan kemurniannya. Akibatnya, kita tidak dapat mengenal kehendak Allah. Sekali lagi kita diberi tahu bahwa hati kita harus mutlak berpaling kepada Allah.
3. Matius 6:21-23, "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu." Mula-mula, ayat-ayat ini mengatakan bahwa hati kita mengikuti harta, kemudian dilanjutkan dengan terang dan gelap yang berkaitan dengan mata. Jika hati kita ada pada Allah, penglihatan (visi) kita jelas; jika hati kita ada pada perkara- perkara lain, mata kita jahat dan tidak dapat melihat kehendak Allah. Sekali lagi, ini merupakan nasihat agar hati kita mutlak berpaling kepada Allah.
4. Matius 5:8, "Berbahagialah orang yang suci (murni) hatinya, karena mereka akan melihat Allah." Orang yang murni hatinya berarti tidak ada campur aduk dalam hatinya. Hatinya tulus dan murni, tidak menginginkan yang lain kecuali Allah. Banyak orang yang mencari dan menginginkan sesuatu yang lain selain Allah sendiri. Karena itu, jika tidak memiliki hati yang murni, mereka tidak dapat melihat Allah atau pun mengenal kehendak Allah. Melalui ini kita nampak bahwa hati kita harus sepenuhnya berpaling kepada Allah dan tidak menginginkan yang lain selain Allah.
Keempat bagian ini menunjukkan bahwa hubungan antara hati dan pengenalan akan kehendak Allah ditentukan oleh keadaan hati - apakah hati kita mutlak berpaling kepada Allah. Sama seperti kompas, tidak peduli perubahan apa pun yang terjadi di sekitar kita, konipas selalu menunjuk arah utara, demikian juga, hati kita seharusnya selalu mengarah kepada Allah dan menerima Allah sebagai sasaran kita. Dengan demikian, kita dapat mengenal kehendak-Nya. Sayang sekali, di antara anak-anak Allah, hanya ada sedikit orang yang mempunyai hati mutlak berpaling kepada Allah. Kebanyakan hati berpaling ke kiri atau ke kanan, tidak pernah mutlak berpaling kepada Allah dalam ketulusan. Orang-orang ini bukan hanya tidak dapat melihat Allah, tetapi juga bermasalah dalam persembahan diri dan penyangkalan diri mereka. Karena hati mereka tidak benar terhadap Allah, persembahan diri mereka penuh dengan syarat, diri mereka dengan sekuat tenaga mempertahankan ide-ide dan opini-opininya. Karena itu, mereka tidak mungkin mengenal kehendak Allah.
Penanggulangan hati, meskipun tidak mendasar seperti persembahan diri dan penyangkalan diri, tetapi sangat halus dan dalam. Kita harus membawa semua rincian dan wilayah yang tersembunyi dalam hati kita kepada terang Allah, membiarkan Roh Kudus menguji serta mengoreksi kita sampai hati kita sepenuhnya berpaling kepada Allah, dan hanya menginginkan serta memiliki Allah.
4. Melatih Roh
Begitu hati kita mempunyai Allah sebagai sasarannya, kita dapat menjamah kehendak Allah dengan riil. Pada saat ini, kita perlu melatih roh kita. Karena Allah dan kehendak-Nya tidak dapat dipisahkan, dan karena Allah tinggal di dalam roh kita sebagai Roh Kudus, latihan pertama kita untuk mengenal kehendak Allah haruslah melatih roh kita untuk menjamah perasaan Roh Kudus di dalam roh kita. Dalam keadaan normal, perasaan di dalam roh kita ini adalah kehendak Allah.
Tetapi, masalah kita bukan hanya hati kita tidak mutlak, roh kita juga terlalu lemah. Hati yang tidak mutlak menyebabkan kita bingung dan tidak jelas mengenai kehendak Allah. Roh kita yang lemah menyebabkan kita mati rasa dan tumpul dalam mengenal kehendak Allah. Itulah sebabnya ketika kehendak Tuhan disingkapkan ke atas diri kita, kita sering kali tidak menyadarinya.
Karena itu, untuk mengenal kehendak Allah, roh kita harus dikuatkan dengan cara melatihnya terus-menerus. Cara terbaik untuk melakukan hal ini adalah mempunyai banyak persekutuan dengan Tuhan dan doa. Jika kita dapat meluangkan satu jam setiap hari untuk masuk ke dalam mahligai guna berdoa dan bersekutu dengan Tulian, setelah sejangka waktu, roh kita pasti akan dikuatkan dan menjadi peka.
Selain menentukan waktu tertentu untuk berdoa dan bersekutu dengan Tulian, kita perlu melatili roh kita atas segala hal dalam hidup sehari-hari kita. Di satu pihak, kita perlu menyangkal diri untuk merasakan perasaan Roh Kudus; di pihak lain, kita perlu berjalan di dalam ketaatan perasaan ini. Sebagai contoh, seseorang membicarakan bisnis dengan kita, watak alamiah kita akan segera mengekspresikan perasaan dan opini kita. Tetapi, jika kita melatih
roh kita untuk menolak perasaan dan opini kita serta mencari apa yang dipikirkan Allah dalam roh kita, kita akan menjamah perasaan Allah terhadap hal-hal itu. Begitu kita mendapatkan perasaan ini dan jelas mengenai kehendak Allah, kita akan berbicara dan bertindak sesuai dengan perasaan ini. Kita tidak akan melakukan kelicikan atau tipu muslihat, tetapi hanya bertindak dengan benar menurut roh. Hasilnya, latihan roh yang sedemikian akan mengakibatkan roh lebih kuat dan peka. Selanjutnya, mengenal kehendak Allah tidaklah sulit.
5. Melatih Pikiran
Setelah menjamah Allah dan mendapatkan perasaan di dalam roh kita, kita masih memerlukan pikiran kita untuk menerjemahkan dan memahami kehendak-Nya secara konkret. Jika tidak, perasaan di dalam roh kita hanyalah berupa beban yang tidak diketahui dan tidak dapat dipahami; akibatnya, kita tidak jelas akan kehendak Allah. Sebagai contoh, jika kita mendengarkan pidato yang disampaikan dalam bahasa asing, kita hanya mendengar suara, kecuali pikiran kita pernah terlatih untuk mempelajari bahasa tersebut, maka kita tidak akan dapat menerjemahkan maknanya dan tidak mengerti maksud pembicaranya. Jadi, penerjemahan pikiran adalah faktor yang sangat penting untuk mengenal kehendak Allah. Jika pikiran kita belum pernah terlatih dalam perkara-perkara rohani, kita tidak mempunyai jalan masuk ke dalam alam ini dan tidak mungkin mengenal kehendak Allah.
Sangat disayangkan, banyak saudara saudari sangat kurang melatih pikirannya dalam alam rohani. Beberapa saudara mempunyai pikiran yang sangat pandai jika meramal fluktuasi dalam bursa saham serta menghitung keuntungan dan kerugian. Selain itu, beberapa saudari ketika ngobrol dengan tetangganya, terbukti mempunyai pikiran yang aktif. Tetapi, ketika mereka duduk dalam sidang dan mendengarkan berita, mereka tidak mampu memahaminya. Bukan karena mereka tidak bersedia mendengarkan atau beritanya terlalu dalam, tetapi pikiran mereka tidak dapat menyerap perkara-perkara rohani. Meskipun mereka berusaha untuk berkonsentrasi, tidak lama kemudian mereka menjadi sangat ngantuk dan bahkan tertidur. Pikiran mereka belum terlatih dalam perkara-perkara rohani; karena itu, mereka sangat acuh dan tumpul.
Melatih pikiran adalah pekerjaan Roh Kudus. Semakin Roh Kudus memperbarui pikiran, pikiran menjadi semakin rohani dan dapat bekerja sama dengan roh kita. Kita juga bertanggung jawab untuk melatih pikiran kita dalam perkara-perkara rohani, meletakkan pikiran kita di atasnya, dan selalu berbalik ke dalam roh, memperhatikan gerakan-gerakan di dalamnya. Dengan demikian, karena pikiran kita selalu berhubungan dengan alam rohani, pikiran kita menjadi peka dan hidup dalam pemahaman perasaan roh kita, dan karenanya mengenal kehendak Allah.
6. Bersekutu dengan Allah dan Membaca Perasaan
Pemahaman dil terhadap kehendak Allah dalam hidup kita sehari-hari memerlukan persekutuan dengan Allah. Mereka yang kekurangan persekutuan dengan Allah tidak dapat memahami ciptaan dan Alkitab. Selain itu, mereka tidak dapat mempunyal hati, roh, dan pikiran yang normal; mereka juga tidak dapat menjamah perasaan Roh Kudus atau dipimpin oleh-Nya. Bersekutu dengan Allah adalah salah satu kund utama untuk mengenal kehendak-Nya. Orang yang mengenal kehendak Allah pasti adalah orang yang senantiasa memiliki persekutuan dengan Allah.
Hanya menentukan waktu-waktu tertentu untuk berdoa dan bersekutu dengan Tulian tidaklah cukup, kita masih harus terus- menerus memiliki persekutuan dalam hidup kita sehari-hari. Selain itu, kita perlu bertumbuh dan semakin menjamah Tuhan melalui persekutuan ini.
Ketika kita menjamah Tuhan dalam persekutuan, kita akan mempunyai perasaan batiniah. Kita seharusnya membaca perasaan ini agar mengenal kehendak Allah. Tetapi, biasanya kita mempunyai kesulitan yang menyebabkan kita tidak dapat memahami perasaan atau memahaminya secara tepat. Masalahnya adalah kita tidak mempercayai apa yang kita rasakan. Sering kali kita menganalisis perasaan secara berlebihan, takut jika perasaan itu tidak berasal dari Allah atau perasaan itu salah. Sering kali ketakutan kita bukan karena kita takut salah dan berdosa terhadap Allah, tetapi kita takut hasilnya tidak menguntungkan kita. Ketakutan semacam ini membuktikan bahwa kita masih mempertimbangkan keuntungan dan kerugian diri sendiri. Jika memang demikian, sangat sukar bagi kita untuk mengenal kehendak Allah.
Karena itu, setiap kali kita menjamah perasaan dari persekutuan kita dengan Allah, selama hal itu jelas-jelas tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab, kita harus percaya dan menerimanya sebagai sesuatu yang berasal dari Allah. Meskipun, karena keadaan kita yang kekanak-kanakan, kita kadang-kadang salah menerima perasaan, kita masih harus pereaya bahwa kita bersalah dalam tangan Tuhan, dan Allah masih akan memelihara kita. Meskipun kita mungkin saja salah dalam perkara tertentu, namun diri kita dan roh kita masih benar, dan Allah masih berkenan kepada kita.
Selain itu, masih ada faktor lain di dalam kita yang menghalangi kita memahami perasaan tersebut; yaitu, diri, yang meliputi opini, ide, prasangka, dan konsepsi kita. Perkara-perkara usang di dalam kita ini sering membuat kita tidak bisa dengan murni membaca dan mempelajari perasaan yang kita peroleh saat bersekutu, sehingga membuat kita tidak memiliki tanggapan yang jelas akan kehendak Allah. Karena itu, kita harus secara serius menanggulanginya sehingga kita tidak terikat atau terpengaruh oleh diri. Hal ini membuat Roh Kudus bebas memberi kita perasaan dan bimbingan dari kehendak Allah secara nyata dan tidak terbatas.
7. Membaca Alkitab
Cara lain untuk mengenal kehendak Allah adalah membaca Alkitab, karena Allah telah mewahyukan diri-Nya sendiri dan kehendak-Nya melalui firman-Nya. Kita perlu membaca wahyu agung Allah yang tercantum dalam Alkitab dengan seksama, seperti rencana rahasia-Nya, Tubuh Kristus, dan lain-lain. Kita juga perlu membaca prinsip-prinsip yang kecil dalam Alkitab, seperti perihal pakaian, makanan, memakai uang, dan lain-lain; juga ajaran-ajaran, ilustrasi-ilustrasi, contoh-contoh, nubuat-nubuat, dan lambang- lambang. Kita tidak seharusnya hanya membaca Alkitab setiap hari, tetapi juga harus membaca dan menerapkannya ketika menemui perkara. Misalnya, seorang saudara atau saudari yang membaca Alkitab setiap hari bermaksud untuk menikah, ia seharusnya juga membaca prinsip-prinsip, ajaran-ajaran rinci, dan contoh-contoh pernikahan yang diberikan dalam Alkitab. Kemudian ia perlu menerapkannya sehingga ia dapat mengetahui kehendak Allah mengenai pernikahan.
Selain itu, kita seharusnya memperhatikan berita-berita yang disampaikan dalam sidang, membaca buku-buku rohani, dan memperhatikan berbagai persekutuan dan pembagian nikmat (sharing). Karena sumber mereka adalah dari Alkitab, bisa diterapkan dan sangat konkret dalam menyingkapkan kehendak Allah, maka mereka seharusnya diperhatikan.
Tidak cukup jika kita hanya mengenal kehendak Allah seperti yang diwahyukan dalam, firman-Nya. Kita juga harus menerapkan prinsip-prinsip dan rincian-rincian dalam hidup sehari-hari kita. Tentu saja, ketika kita menerapkan prinsip-prinsipnya, kita perlu pengurapan. Dengan demikian, kita tidak sekadar mengikuti peraturan-peraturan harfiah, tetapi dalam terang hayat berjalan menurut roh.
8. Mempelajari Lingkungan
Untuk mengenal kehendak Allah, kita juga perlu mempelajari lingkungan. Lingkungan juga adalah sarana yang dipakai Allah guna menyatakan kehendak-Nya. Ketika Allah membimbing dan memimpin kita sesuai dengan kehendak-Nya, Ia biasanya mengatur lingkungan yang cocok untuk tujuan itu. Misalnya, setelah Yakub tinggal selama dua puluh tahun dengan pamannya, Laban, Allah menghendaki dia kembali ke rumah ayahnya. Karena itu, Ia membuat anak-anak Laban mengucapkan perkataan-perkataan yang menentang Yakub sehingga muka Laban berubah terhadapnya (Kej. 31:1-3). Melalui hal ini, Allah menyatakan kehendak-Nya kepada Yakub. Lingkungan selalu merupakan sarana yang digunakan Allah untuk menyingkapkan kehendak-Nya dan juga merupakan pernyataan kehendak-Nya. Karena itu, jika kita ingin mengetahui kehendak Allah, kita perlu mengamati lingkungan yang diatur-Nya untuk kita.
Lingkungan itu sangat nyata dan terdiri dari banyak tahap; karena itu, kita perlu mencari makna rohani dan kehendak Allah melalui tahap-tahap itu. Lingkungan yang sangat nyata meliputi orang-orang di sekitar kita dan situasi yang ada serta berbagai ragam variasinya. Orang Kristen yang berusaha mencari kehendak Allah tidak seharusnya hanya mempelajari perasaannya yang di dalam dan Andtab yang di luar, tetapi juga lingkungan di sekitarnya. Jika seseorang berusaha mempelajari ketiga aspek ini dengan tuntas, ia sepenuhnya berada dalam kehendak Allah.
KESIMPULAN
Dimulai dari menaati pengajaran pengurapan, pengalaman rohani orang Kristen maju secara bertahap hingga tingkat yang lebih tinggi. Saat kita sampai pada pengalaman mengenal kehendak Allah, maka diperlukan pertumbuhan rohani dan penanggulangan yang ketat terhadap diri jauh melebihi semua pelajaran terdahulu. Jika seseorang masih hidup di dalam diri dan melakukan segala sesuatu bagi dirinya, ia tidak mungkin mengenal kehendak Allah. Karena kehendak Allah itu agung dan kekal, manusia harus keluar dari lingkaran kecilnya sendiri dan masuk ke dalam lingkaran besar Allah. Itu sama seperti ia dibawa ke dalam lingkaran besar Allah sehingga ia dapat melihat rencana kekal Allah dan bagiannya di dalam rencana Allah. Hal ini akan membuat dia menyangkal diri dan mengesampingkan dirinya untuk menggenapkan kehendak Allah.
Begitu pengenalan yang agung ini ada dalam hidup seseorang, hal itu akan membereskan semua kesulitan dasar dalam mengenal kehendak Allah. Jadi, ia dapat diatur oleh kehendak Allah dalam kehidupan riil sehari-hari - misalnya, Allah ingin dia melakukan apa dan bagaimana ia seharusnya hidup dan berperilaku. Karena ia dipersembahkan kepada Tuhan dan telah menyerahkan dirinya ke dalam rencana kekal-Nya, ketika ia bersekutu dengan Allah, dengan sendirinya ia akan mengalami pengurapan dan mengetahui apa yang harus ia lakukan. Dengan demikian, semua perasaan yang ia alami saat bersekutu dengan Allah dapat dihitung sebagai kehendak-Nya. Ia tidak hanya mempelajari wahyu agung dan kebenaran-kebenaran dalam Alkitab, tetapi juga mempelajari ajaran-ajaran dan prinsip-prinsip yang kecil dari kehidupan kaum beriman dan bertindak seperti itu juga, sehingga ia dapat mengenal kehendak Allah dalam segala sesuatu. Selain itu, ia selalu mengamati lingkungannya dan pengaturan kedaulatan Allah atasnya. Setelah ia menjajarkan semua faktor ini, ia dapat mengenal kehendak Allah dengan jelas.
PENGALAMAN HAYAT
(2)
BAB
9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
TAHAP KETIGA –
KRISTUS TINGGAL DI DALAM
Sekarang kita akan membahas tahap ketiga dari keempat tahap dalam pengalaman hayat rohani kita, yaitu "Kristus tinggal di dalamku", atau pengalaman "tahap salib".
Setelah seorang Kristen mempersembahkan dirinya kepada Tuhan, jika ia dengan tuntas menanggulangi semua yang tidak benar, tidak kudus, dan perasaan hati nurani, juga memiliki pengalaman-pengalaman tertentu dalam menaati pengajaran pengurapan minyak dan memahami kehendak Allah, saat ini Tuhan akan memimpinnya menerima penanggulangan salib. Demikianlah ia akan mengalami pengalaman tahap salib.
Pengalaman tahap salib berbeda dalam banyak hal dari pengalaman hayat sebelumnya. Kedua tahap pertama dari pengalaman hayat, secara serius, hanya dapat dihitung sebagai pengalaman satu tahap, karena. semua penanggulangan itu bisa dialami ketika orang beroleh selamat. Seseorang yang beroleh selamat dengan tuntas, begitu beroleh selamat ia segera bisa mulai menanggulangi perkara-perkara yang lampau, menanggulangi dosa, menanggulangi dunia, dan menanggulangi hati nurani; bahkan terhadap pelajaran-pelajaran yang lebih dalam, seperti menaati pengajaran pengurapan minyak dan memahami kehendak Allah, juga bisa ia alami secara awal dan dangkal. Karena itu, pengalaman-pengalaman ini sebenarnya adalah milik tahap keselamatan. Namun, begitu sampai pada tahap ketiga, sangatlah berbeda. Tahap, ini benar-benar adalah tahap permulaan dari aspek lain dalam pengalaman orang Kristen, juga benar- benar adalah suatu perpalingan yang besar bagi orang Kristen di hadapan Tuhan. Nyonya Penn-Lewis menyebut ini tahap, "jalan salib". Dia memakai istilah "Jalan" untuk menunjukkan bahwa pada tahap inilah seorang Kristen mulai secara resmi berjalan di jalan salib, memiliki pengalaman salib, dan seluruhnya berjalan di bawah salib. Karena itu, sejak saat ini dan seterusnya, jalan rohaninya memasuki suatu tahap yang baru.
Tidak hanya demikian, semua penanggulangan pada kedua tahap, pertama, seperti ketidakbenaran, ketidakkudusan, dan bahkan perasaan tidak damai sejahtera dalam hati nurani, berhubungan dengan perkara-perkara di luar kita dan bukan dengan diri kita sendiri. Saat itu, kita mengira bahwa masalah atau kesulitan pada diri kita ialah hal-hal yang berhubungan dengan dosa dan dunia, dan jika kita bisa menanggulanginya, kita tidak akan ada masalah lagi. Akan tetapi, begitu kita sungguh-sungguh mau dengan mutlak mempersembahkan diri kepada Tuhan dan menaatiNya, serta maju dalam Tuhan untuk memasuki tahap ketiga, kita berangsur- angsur akan menemukan bahwa dalam mengikuti Tuhan, kita tidak hanya memiliki masalah yang berhubungan dengan perkara-perkara yang di luar kita, tetapi juga masalah-masalah di dalam diri kita sendiri, seperti daging, diri, dan alamiah kita; dan hal-hal inilah yang justru paling menghalangi dan paling bersalah kepada Tuhan. Pada saat ini kita akan dipimpin oleh Tuhan untuk melihat bagaimana salib dapat membereskan semua kesulitan diri kita, dan atas hal-hal ini kita memiliki satu tahap penanggulangan yang lebih dalam. Inilah sebabnya kita mengatakan bahwa jika seorang Kristen dapat memasuki tahap ketiga pengalaman salib ini, terhadap hayatnya, ini benar-benar merupakan satu titik belok yang besar, juga merupakan satu permulaan yang baru.
Peristiwa pentahiran orang kusta dalam Imamat 14:29 merupakan satu lambang yang sangat cocok mengenai dua macam penanggulangan yang berbeda terhadap hal-hal yang di luar kita dan di dalam diri kita. Dalam Alkitab, orang kusta selalu melambangkan manusia kita yang jatuh dan berdosa. Masalah orang kusta sebenarnya bukanlah kenajisan dan kejelekan lahiriahnya, melainkan racun penydkit yang ada di dalam dirinya. Demikian juga, masalah utama kita sebagai orang-orang berdosa yang jatuh sebenarnya bukanlah perbuatan dosa kita yang di luar, melainkan sifat dosa yang di dalam kita, yang berasal dari hayat jahat Iblis. Karena itu, lambang orang kusta benar-benar adalah suatu gambaran yang sangat tepat dan menyeluruh dari keadaan kita yang berdosa di hadapan Allah. Maka, jalan pentahiran terhadap, orang kusta yang tercatat dalam Imamat, juga merupakan jalan penanggulangan dan pentahiran diri kita di hadapan Allah.
Tindakan pertama dalam pentahiran seorang kusta ialah orang tersebut harus "dibawa kepada imam" Imam di sini melambangkan Tuhan Yesus. "Imam harus pergi ke luar perkemahan" untuk memeriksa orang kusta itu, karena orang kusta tidak dapat masuk ke dalam perkemahan, melainkan harus tetap tinggal di luar perkemahan. Ini berarti, kita, orang-orang berdosa, tidak dapat masuk ke tengah-tengah umat Allah, tidak dapat masuk ke ruang lingkup di mana Allah menyatakan anugerah-Nya. Akan tetapi Tuhan Yesus telah keluar untuk memeriksa kita. Jika kita benar-benar bertobat dan dalam hati, kita, dalam pandangan Allah, ini adalah penyakit kusta yang telah disembuhkan. Karena telah sembuh, "maka imam harus memerintahkan, supaya bagi orang yang akan ditahirkan itu diambil dua ekor burung yang hidup dan yang tidak haram, juga kayu aras, kain kirmizi dan hisop. Imam harus memerintahkan supaya burung yang seekor disembelih di atas belanga tanah berisi air mengalir. Tetapi burung yang masih hidup haruslah diambilnya bersama-sama dengan kayu aras, kain kirmizi dan hisop, lalu bersama-sama dengan burung itu semuanya harus dicelupkannya ke dalam darah burung yang sudah disembelih di atas air mengalir itu. Kemudian ia harus memercik tujuh kali kepada orang yang akan ditahirkan dari kusta ltu dan dengan demikian mentahirkan dia, lalu burung yang hidup itu haruslah dilepaskannya ke padang" Kenajisan seorang kusta adalah suatu dosa di hadapan Allah; karena itu, menuntut pentahiran dari pemercikan darah. Bukan untuk pentahiran dari sifat dosa, tetapi untuk menghapuskan semua catatan dosa di hadapan Allah. Prosedur pemercikan darah ialah mempersiapkan dua ekor burung : seekor disembelih di atas belanga tanah yang berisi air mengalir; seekor lainnya, yang masih hidup, dicelupkan ke dalam darah dan kemudian memercikkanya kepada orang kusta itu. Burung yang disembelih melambangkan Tuhan Yesus mengalirkan darah-Nya dan mati; burung yang hidup melambangkan Tuhan Yesus bangkit dari kematian; dan air mengalir melambangkan hayat Tuhan yang kekal. Jadi, ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus mengalirkan darah-Nya dan mati bagi kita dalam hayat-Nya yang kekal, dan darah yang teralir karena kematian-Nya beserta hayat-Nya yang kekal, dibawa kembali kepada kita dan menimbulkan khasiat di dalam kita melalui kebangkitan-Nya. Dipercikkan sebanyak tujuh kali menunjukkan pentahiran darah Tuhan adalah sempurna, dapat menyingkirkan semua kasus dosa kita di hadapan Allah, sehingga kita bisa diperkenan Allah. Sesudah itu, "burung yang hidup itu harus dilepaskan ke padang" Ini berarti bahwa begitu seseorang menerima kematian Tuhan Yesus yang menggantikannya, begitu darah Tuhan berkhasiat atas dirinya, segera kuasa kebangkitan Tuhan dimamfestasikan di atas dirinya dan membebaskannya.
Ketika seseorang dibangkitkan dan dihebaskan melalui kematian dan kebangkitan Tuhan, dia beroleh selamat. Sejak saat ini dan seterusnya, dia harus mentahirkan semua kenajisan, yaitu menanggulangi semua masalah di dalam dan di luar dirinya.
"Orang yang akan ditahirkan itu haruslah mencuci pakaiannya." Pakaian adalah sesuatu yang dikenakan pada tubuh manusia, dalam Alkitab mengacu kepada semua perilaku dan tindakan manusia. Jadi, mencuci pakaian mengacu kepada menanggulangi dengan tuntas semua tingkah laku yang tidak pantas dan tidak tepat dalam kehidupan. Ini mencakup semua yang telah disebutican dalam kedua tahap pengalaman hayat di depan - penyelesaian perkaraperkara lampau, menanggulangi dosa, menanggulangi dunia, dan menanggulangi hati nurani.
Selanjutnya, orang kusta itu harus "mencukur seluruh rambutnya dan membasuh tubuhnya dengan air, maka ia menjadi tahir" Rambut adalah sesuatu yang tumbuh dari tubuh manusia, melambangkan masalah dalam diri manusia. Jadi, mencukur rambut berarti menanggulangi masalah dalam diri manusia, yaitu mengacu pekerjaan penanggulangan salib atas diri manusia. Setelah seseorang melewati penanggulangan salib, seluruh dirinya baru bisa mendapatkan pentahiran yang riil. Namun penanggulangan ini bukan sekali sudah beres, harus diulangi lagi dan lagi baru dapat tuntas. Karena itu, "pada hari yang ketujuh ia harus mencukur seluruh rambutnya : rambut kepala, janggut, alis, bahkan segala bulunya harus dicukur, pakaiannya dicuci, dan tubuhnya dibasuh dengan air; maka ia menjadi tahir". Penanggulangan lanjutan ini bukan hanya menyeluruh, tetapi juga lebih terperinci; yaitu, tidak hanya mencukur rambut pada umumnya, tetapi juga membedakan antara rambut kepala, janggut, alis, dan bulu di seluruh tubuhnya. Semuanya harus ditanggulangi satu per satu, dan dicukur bersih.
Dalam Alkitab, setiap macam rambut memiliki perlambangannya sendiri. Rambut kepala mengacu kepada kemuliaan manusia, janggut mengacu kepada kehormatan manusia, alis menegacu kepada kecantikan manusia, dan bulu di seluruh tubuh mengacu kepada kekuatan alamiah manusia. Setiap orang memiliki bagian kebanggaannya masing-masing. Ada yang membanggakan leluhurnya, ada yang membanggakan pendidikannya, ada yang membanggakan kebajikannya, ada juga yang membanggakan gairah mereka dalam mengasihi Tuhan. Setiap orang dapat mencari sesuatu dari dirinya untuk dibanggakan, untuk memuliakan dirinya sendiri, dan untuk memamerkannya kepada manusia; inilah rambut kepalanya. Setiap orang juga menganggap dirinya sendiri berharga. Ada orang menghargai kedudukannya, ada orang menghargai sanak keluarganya, atau kerohaniannya, selalu merasa bahwa dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Inilah janggutnya. Pada saat yang sama, pada diri manusia juga ada beberapa kecantikan alamiah, yaitu kelebihan dan kebaikan alamiah. Semua ini bukanlah yang ditambahkan Allah dalam keselamatan-Nya, melainkan telah ada sejak kelahiran manusia. Inilah ahsnya. Akhirnya, manusia masih penuh dengan kekuatan alamiah, cara, dan pendapat, mengira mampu melakukan ini atau itu bagi Tuhan, dan mampu melakukan segalanya. Ini berarti manusia masih memiliki rambut yang sangat panjang di seluruh tubuhnya, belum dicukur habis. Semuanya ini bukanlah pencemaran yang diterima dari luar, tetapi masalah dari kelahiran alamiah manusia. Pencemaran dari luar, asal dicuci dengan air, sudahlah cukup. Tetapi masalah alamiah kita sendiri harus dicukur dengan pisau cukur, yang berarti harus ditanggulangi dengan salib. Penanggulangan ini dalam dan berat, yang melukai di dalam kita, dan membuat kita sangat menderita.
Yang akan kita libat pada tahap ketiga ini ialah pengalaman "pencukuran rambut", yaitu pengalaman menanggulangi diri kita sendiri. Kita membaginya sebagai berikut : menanggulangi daging, menanggulangi diri, dan menanggulangi alamiah. Semua ini adalah pengalaman- pengalaman utama dari penanggulangan pada tahap ketiga atas pengalaman hayat.